Anda di halaman 1dari 3

E.

Dasar Teori Phylum Echinodermata merupakan filum yang diberi nama demikian karena keberadaan duri ataupun jendolan jendolan pada permukaan tubuhnya. Seluruh anggota dari filum ini memiliki endoskeleton yang berkapur baik dalam bentuk pelat maupun bentuk ossikula yang tersebar. Karakteristik yang paling menonjol dari filum ini diantaranya adalah memiliki endoskeleton berbentuk pelat yang berduri, memiliki sistem pembuluh air, memiliki branchia dermal, dan pada fase dewasanya memiliki bentuk dasar pentaradial. Bentuk dasar pentaradial berarti bentuk tubuhnya cenderung segilima ataupun menjadi lima bagian yang serupa. Tidak ada phylum lain yang memiliki organ kompleks namun simetri tubuhnya radial seperti pada Echinodermata (Hickman, 2008). Anggota phylum Echinodermata memiliki sistem pembuluh air yang khusus. Sistem pembuluh air ini pada awalnya merupakan rongga coelomik yang terulur dari permukaan tubuh sebagai untaian projeksi yang tersebar ke seluruh tubuh. Keberadaan sistem pembuluh air ini membantu pergerakan organisme tersebut dengan menambahkan tekanan fluida (cairan) dalam pembuluh air sehingga struktur seperti tentakel akan terdorong keluar dan membantu organisme dalam berjalan. Biasanya keberadaan sistem pembuluh air ini disokong oleh struktur madreporit yang membantu pemasukan atau pengeluaran air. Keberadaan sistem pembuluh air ini juga mengindikasikan organisme pada filum ini untuk hidup bebas dalam perairan, sebab struktur pembuluh air hanya dapat menguntungkan apabila organisme ini berada dalam lingkungan perairan (Hickman, 2008). Tubuh anggota phylum Echinodermata tidak bersegmen segmen (nonmetamerik) dengan simetri pentaradial. Tubuhnya dapat berbentuk bulat, silindris, ataupun bintang, dengan lima atau lebih struktur amburakral, yang memanjang dari bagian tengah ke seluruh sudut tubuh. Bagian ambulakral ini berselingan dengan area interambulakral. Pada Echinodermata tidak ada cephalisasi sehingga tidak ditemukan struktur yang lebih terspesialisasi menjadi bagian kepala (Hickman, 2008). Echinodermata berdasarkan perkembangan zigotnya, seluruh anggotanya triploblastik. Seluruh bagian tubuhnya tersusun dari tiga lapisan yaitu ektodermis, mesodermis, dan endodermis. Coelom pada Echinodermata cukup luas, membentuk rongga perivisceral dan rongga dari sistem pembuluh air. Coelomnya merupakan tipe enterocoelom, dan memiliki cairan coelomik dengan amebocytes (Hickman, 2008).

Echinodermata memiliki osikula berkapur pada bagian dermis dengan duri, atau dapat juga berupa spikula berkapur pada bagian dermisnya. Bagian endoskeleton berkapur ini pada beberapa bagian ditutup oleh lapisan epidermis yang pada umumnya bersilia. Pada beberapa organisme, terdapat pedicellaria yaitu bagian seperti penjepit yang berfungsi sebagai pelindung dermis dari Echinodermata. Bagian pertulangan pada Echinodermata terhubung dengan ligamen dari jaringan kolagen yang dibawah kontrol saraf. Dengan kehendak kontrol dari saraf, ligamen ini dapat terkunci menjadi postur yang kaku maupun direlaksasikan sehingga dapat terjadi pergerakan yang bebas. Pergerakan pada Echinodermata dapat terjadi oleh struktur kaki tabung yang keluar dari area ambulakral, pergerakan dengan duri pda tubuhnya, atau dengan pergerakan dari tangan yang terproyeksikan dari bagian sentral dari tubuh Echinodermata (Hickman, 2008). Sistem saraf pada Echinodermata terdiri dari cincin circumoral dan saraf radial, biasanya terdiri dari dua atau tiga jaringan sistem yang berlokasi pada tingkat ketinggian berbeda di tubuhnya. Hal ini bervariasi tergantung pada derajat perkembangan berdasarkan kelompok taksonominya. Echinodermata tidak memiliki otak, namun memiliki beberapa organ yang sudah terspesialisasi diantaranya adalah sistem sensori yang terdiri dari reseptor taktil dan kemoreseptor, podia, tentakel terminal, photoreseptor, dan statokista untuk menjaga keseimbangan (Hickman, 2008). Sistem pencernaan pada Echinodermata biasanya lengkap, strukturnya dapat aksial maupun menggulung. Namun pada classis Ophiuridae tidak memiliki anus. Echinodermata tidak memiliki organ ekskretori. Respirasi pada Echinodermata dengan menggunakan struktur papula, kaki tabung, pohon respirasi (pada Holothuroidae) dan bursae (pada Ophiuroidae). Sistem pembuluh darah (hemal) pada Echinodermata banyak tereduksi, hanya memiliki sedikit peran dalam sirkulasi, dan dikelilingi oleh perluasan coelom (sinus perihermal). Sirkulasi utama dari cairan tubuh atau cairan coelomic dilakukan dengan silia peritoneal (Hickman, 2008) Echinodermata dapat melakukan autotomi, yaitu dapat beregenerasi apabila bagian tubuhnya hilang karena sebab tertentu. Beberapa Echinodermata dapat melakukan reproduksi aseksual dengan cara fragmentasi. Kelamin pada Echinodermata sudah terpisah, hanya beberapa jenis yang hermaprodit. Echinodermata memiliki gonad yang besar, tunggal pada Holothuroidea, sedangkan dominannya majemuk. Saluran kelaminnya sederhana, tanpa memiliki struktur kopulasi yang rumit ataupun struktur seksual sekunder. Fertilisasi biasanya

eksternal, pada beberapa jenis telurnya dierami. Perkembangan dengan fase larva yang bebas berenang di air dan memiliki simetri bilateral. Larva berkembang dengan metamorfosis menjadi fase dewasa yang radial (Hickman, 2008). \\