Anda di halaman 1dari 3

Cimbuak - Forum Silaturahmi dan Komunikasi Masyarakat Minangkabau

Gulo Saka
Contributed by Andi Jupardi (Jepe) Sunday, 21 September 2008 Last Updated Sunday, 21 September 2008

Ketika saya dalam perjalanan dari Kota Padang menuju Kota Bukit Tinggi selepas istirahat siang di Sate Mak Syukur, sopir yang baru 3 hari bekerja sama saya menawarkan sebuah ajakan untuk mampir dikampungnya yang terletak dilereng Gunung Merapi tepatnya dusun Bukik Batabuah Canduang, Kecamatan Ampek Angkek, Kabupaten AgamSumatera Barat.

“Ada yang menarik Pak di kampung saya, pemandangan dari Bukik Batabuah menuju lembah dibawahnya dengan sawah ladang serta sungai-sungai kecil didasar lembah sangat indah jika melepaskan pandangan dari arah rumah saya” Doni begitu nama sopir saya ini berpromosi kepada saya, lalu Doni juga bercerita bahwa orang tuanya mempunyai ladang tebu serta pengolahan tebu menjadi Gulo Saka (Indonesia : Gula Jawa/Gula Tebu) diproses dengan cara-cara tradisional.

Ajakan ini tentu sangat menarik bagi saya dan membuat rasa penasaran “bagaimana sih cara membuat gulo saka tersebut” apalagi Doni bercerita tebunya digiling dengan memanfaatkan tenaga kerbau. Menjelang masuk Kota Bukit Tinggi kami belokan mobil kea rah lereng gunung merapi, jalan menuju Bukit Batabuah cukup sempit dan sisi kanan arah kekaki gunung jurang-jurang yang terjal tapi dengan mobil 4WD kami bisa menempuhnya ditambah lagi cuaca yang cukup bersahabat, seandainya hujan maka badan jalan yang masih tanah liat cukup licin dan kami harus berpikir bukan dua atau tiga kali lagi untuk menempuhnya tapi sebaiknya jika tidak mau mengambil resiko jangan cobacoba meneruskan perjalanan sampai ke ladang tebu masyarakat.

Akhirnya kami sampai diujung jalan terakhir yang berada diantara ladang tebu masyarakat, Mobil saya pakir lalu sejenak saya berdiri dibibir jurang menghadap lembah-lembah serta dataran kearah kota Bukit Tinggi, Subhanallah begitu indahnya bentangan alam yang saya lihat setiap sapuan mata saya kesegala penjuru terhampar sawah, ladang, kebun sayur mayur, anak sungai dengan air yang bening, pincuran dengan gemercik air yang menimpa bebatuan, kabut tipis yang melayang manja, udara sejuk yang membelai sekujur tubuh membuat kita terpana dan terpesona. Saya meneruskan perjalanan menuju tempat orang tua Doni menyusuri jalan setapak diantara lorong-lorong tanaman tebu, persis ditengah ladang tebu di Bukit Batabuah disanalah pondok tempat membuat gulo saka keluarga Doni. Saya disambut oleh orang tua Doni dengan ramah, mereka kaget kok tiba-tiba anaknya yang baru 3 hari meninggalkan kampung merantau ke Pekanbaru dan menjadi sopir saya sekarang berada dihadapannya. Doni memperkenalkan saya kepada kedua orang tuanya serta sanak saudaranya yang bekerja di pondok tersebut sambil menjelaskan kenapa kami sampai disini. Sebagai pelepas dahaga kami disuguhi tebu yang telah dikupas dan dipotong-potong kecil,mmm…cukup lelah rasanya gigi memamah tebu tapi rasanya memang manis dan kaya kandungan air. Selesai menikmati beberapa potong tebu saya coba mengitari setiap sudut pondok, mulai dari area terbuka tempat tebu digiling sampai pondok yang beratap dan berdindng dimana terdapat tungku tempat memasak air tebu yang nantinya menjadi gulo saka. Proses membuat gulo saka dari tebu dilakukan secara tradisional dan manual. Tebu-tebu yang telah cukup umur dengan diameter rata-rata 5 cm ditebang lalu dibersihkan dari kotoran yang menempel di batang tebu tersebut. Tebu-tebu tersebut sebelum digiling atau diperas airnya terlebih dahulu dibelah menjadi 2 atau 4 bagian tergantung besar kecilnya diameter tebu. Nah yang paling unik adalah tebu ini digiling dengan memanfaatkan tenaga kerbau dengan alat sederhana berupa dua buah silinder yang berputar dengan mengalihkan tenaga kerbau yang bergerak membentuk lingkaran dengan diameter sekitar 5 meter. Diantara celah dua silinder baja ini yang terletak dipusat lingkaran inilah potongan tebu tadi dimasukan, secara otomatis seiring dengan pergerakan kerbau tebu tadi akan terjepit dan diperas oleh kedua tabung silinder tadi, begitu seterusnya sampai tebu tadi tidak mengeluarkan air lagi atau sudah menjadi ampas.

http://www.cimbuak.net

Powered by Joomla!

Generated: 31 December, 2011, 07:19

Cimbuak - Forum Silaturahmi dan Komunikasi Masyarakat Minangkabau

Pusing berputar ?..kelihatannya begitu yang dirasakan oleh kerbau yang menempuh jalan yang sama berputar-putar membentuk lingkaran, 4 atau 5 kali putaran kerbau tersebut berhenti sejenak dan tuannya juga memaklumi membiarkan kerbau tersebut berdiri ditempat sambil sekali-kali kerbau tersebut mendenguskan napasnya. Salah satu mensiasati kerbau ini jangan terlalu pusing maka matanya ditutup dengan kaca mata yang terbuat dari tempurung kelapa lalu kaca mata ini ditutup lagi dengan kain. Air tebu hasil perasan ditampung dibawah silinder lalu dialirkan ketungku didalam pondok. Setelah penuh wajan dengan air tebu yang nantinya dimasak, sementara si kerbau bisa istirahat sejenak. Air tebu harus segera dimasak tidak boleh ditampung terlalu lama ini akan berakibat terjadi fermentasi (Minang: aia tabu jadi asam) tentunya gulo saka sebagai produk akhir akan menurun kualitas baik dari segi rasa maupun dari segi penampilan fisiknya. Sementara air tebu dimasak diatas tungku yang berbahan bakar kayu serta ampas tebu, kerbau istirahat sejenak kaca mata antik dilepas, saya pikir si kerbau yang tadinya sedikit nanar sekarang pemandangannya terasa lepas ditambah lagi dihadapannya tersedia makanan segar berupa pucuk dan daun tebu serta rumput gajah yang segar. Betapa lahapnya kerbau ini menyantap hidangan lezat tersebut dia tidak peduli lagi dengan “pasangannya” berupa kayu yang selalu menempel dikuduknya seakan dia berkata “saya juga manusia (baca:binatang) yang perlu dikasihi, disayang dan dimanja berikan saya makan yang lezat dan bergizi maka akan saya berikan seluruh tenaga saya buatmu Tuanku, jangan paksa saya bekerja melebihi kemampuan tenaga saya, perjayalah jika tuan memaksa saya tanpa asupan energi, saya akan letih, lelah dan sakit akibatnya tuan tidak bisa lagi memproduksi gulo saka sebagai sumber mata pencaharian”. Air tebu yang dimasak dalam kuali tadi mulai mengental berwarna coklat, cairan kental ini dikenal dengan nama tengguli, saat berada dikuali tengguli ini setiap saat diaduk sampai dingin mencapai suhu kamar lalu disendok dan dimasukan kedalam cetakan yang terbuat dari tempurung kelapa. Akhirnya tengguli yang berada dibatok kelapa ini dengan sendirinya mengeras inilah yang disebut dengan GULO SAKA.

Gulo saka ini dikeluarkan dalam tempurung kelapa dan siap untuk dipasarkan, saat saya berkunjung harga ditingkat petani gulo saka sekitar 7.500 per kilogram. Rata-tara perhari orang tua Doni memproduksi sekitar 150 kilogram Gulo Saka atau setara dengan empat kali memasak air tebu dalam kuali.Tenaga kerja yang terlibat adalah 1 orang pemanen tebu, memotong dan membersihkannya, 1 orang operator kerbau, kedua orang tua Doni di dapur tempat air tebu diolah menjadi saka tentunya 1 ekor kerbau yang siap berputar-putar membentuk lingkaran dengan menempuh jalan yang sama (waduh..pusing dan capek deh). Gulo saka ini sudah merupakan bagian dari kuliner dari berbagai makanan , kue serta panganan khas orang minang untuk memberikan sentuhan rasa manis alami yang khas layaknya gula butiran yang juga terbuat atau berbahan dasar tanaman tebu. Sebut saja panganan seperti kolak, kuah serabi, kue mangkok, bika serta kue-kue basah atau kering lainnya khas ranah Minang. Setelah puas melihat cara pembuatan gulo saka secara tradisional dan berkeliling diseputar lereng gunung merapi saya dan Doni pamit untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Pekanbaru. Apaboleh buat dalam diri saya tidak ada “Ilmu penolak rejeki”, orang tua Doni dengan “penuh paksaan” agar saya bersedia membawa oleh-oleh beberapa potong gulo saka sambil berpesan “Kami titipkan Doni sama Bapak ya, bimbinglah Doni dalam bekerja Pak” serta tidak lupa menasehati anaknya Doni agar dalam membawa mobil selalu berhatihati serta penuh kesabaran jangan ugal-ugalan dijalan raya, ini dapat dimaklumi karena Doni masih berusia muda belia (23 Tahun). Sebelum mobil kami bergerak meninggalkan Bukit Batabuah dari jauh adik Doni berlari-lari kecil sambil berteriak, sejenak kami menoleh kebelakang rupanya masih ada oleh-oleh yang harus dibawa yaitu seikat tebu kualitas super bagian pangkalnya untuk dibawa ke Pekanbaru. Saya hanya bisa mengucapkan terima kasih atas segala perhatian dan keramahan keluarga Doni, sebuah keramahan khas orang Desa, sebuah keramahan dari hati yang tulus bukan karena factor anaknya Doni yang menjadi sopir saya. Mobil kami meluncur dari lereng gunung merapi menuju jalan utama ke Bukit Tinggi, sebuah pengalaman singkat tapi penuh arti yang saya rasakan dan saya berjanji dalam hati suatu saat saya akan kembali lagi kesini tentunya bukan kunjungan singkat dan mendadak seperi ini tapi kalau perlu menginap beberapa hari sambil larut dengan kehidupan petani tebu yang berada di lereng gunung merapi yang indah, sejuk, alami penuh dengan segala limpahan alamnya
http://www.cimbuak.net Powered by Joomla! Generated: 31 December, 2011, 07:19

Cimbuak - Forum Silaturahmi dan Komunikasi Masyarakat Minangkabau

yang subur. Maha besar Allah Swt dengan segala ciptaannya. Pekanbaru, 26 Agustus 2008

http://www.cimbuak.net

Powered by Joomla!

Generated: 31 December, 2011, 07:19