Anda di halaman 1dari 25

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG Penyakit kanker kulit dewasa ini cenderung mengalami peningkatan jumlahnya terutama di kawasan Amerika, Australia dan Inggris. Berdasarkan beberapa penelitian, mereka orang-orang kulit putih yang lebih banyak menderita jenis kanker kulit ini. Hal tersebut diprediksikan sebagai akibat seringnya mereka terkena (banyak terpajan) cahaya matahari. Di Indonesia penderita kanker kulit terbilang sangat sedikit dibandingkan ke-3 negara tersebut, namun demikian kanker kulit perlu dipahami karena selain menyebabkan kecacatan (merusak penampilan) juga pada stadium lanjut dapat berakibat fatal bagi penderita. Kanker ini dapat dilihat secara visual langsung dan dengan mengadakan pemeriksaan biopsi, diagnosis dapat ditegakkan dengan cepat. Oleh karena itu sebelumnya kanker kulit dapat dideteksi secara dini. Tetapi kenyataannya masih banyak pasien datang berobat untuk kanker kulit berada dalam stadium lanjut, disertai kerusakan-kerusakan setempat yang sulit diobati atau dengan anak sebar. Hal ini sangat disayangkan oleh karena kalau dideteksi sedini mungkin dapat segera dilakukan tindakan pengobatan, maka hasilnya akan sangat memuaskan. Oleh karena itu pengetahuan mengenai tandatanda dini dari kanker kulit sangat penting, baik untuk pasien, maupun untuk para praktisi dokter dan petugas kesehatan. Jenis tumor ganas kulit yang banyak ditemukan diseluruh dunia ialah karsinoma sel basal (basalioma), karsinoma sel skuamosa, yang tergolong non melanoma dan melanoma maligna. Karsinoma sel basal adalah paling umum. Di Amerika, sekitar 800.000 orang mengidap kanker ini setiap tahun, 75% kanker kulit adalah kanker sel basal. Karsinoma sel skuamosa juga didapati pada 200.000 orang Amerika setiap tahun. Melanoma adalah yang paling jarang dijumpai tetapi menyebabkan paling banyak kematian. Menurut WHO, sebanyak 160.000 orang mengidap melanoma setiap tahun dan sebanyak 48.000 kematian dilaporkan setiap tahun. Kanker merupakan penyebab kematian yang ke enam di Indonesia, sedangkan pada negara-negara maju merupakan penyebab kematian yang kedua setelah penyakit-penyakit kardiovaskuler. Kanker diderita oleh semua golongan
1

masyarakat. Golongan social yang ekonominya kurang umumnya berobat pada stadium lanjut, sehingga sangat sukar untuk menyembuhkannya walaupun dengan cara-cara pengobatan yang mutakhir seperti sekarang ini. Berdasarkan informasi di atas, sebagai tenaga kesehatan, kami memaparkan lebih lanjut mengenai kanker sel basal di makalah ini, beserta dengan usaha-usaha pencegahan yang dapat dilakukan.

1.2 RUMUSAN MASALAH 1. Apa yang dimaksud dengan anatomi dan fisiologi kulit ? 2. Apa yang dimaksud dengan defisini Basalioma ? 3. Apa yang dimaksud dengan etiologi Basalioma ? 4. Apa yang dimaksud dengan patofisiologi Basalioma ? 5. Apa yang dimaksud dengan WOC Basalioma ? 6. Apa yang dimaksud dengan manifestasi klinik Basalioma ? 7. Apa yang dimaksud dengan pemeriksaan diganostik Basalioma ? 8. Apa yang dimaksud dengan penatalaksanaan Basalioma ? 9. Apa yang dimaksud dengan Asuhan Keperawatan Basalioma ?

1.3 TUJUAN 1. Menjelaskan yang dimaksud dengan anatomi dan fisiologi kulit 2. Menjelaskan yang dimaksud dengan defisini Basalioma 3. Menjelaskan yang dimaksud dengan etiologi Basalioma 4. Menjelaskan yang dimaksud dengan patofisiologi Basalioma 5. Menjelaskan yang dimaksud dengan WOC Basalioma 6. Menjelaskan yang dimaksud dengan manifestasi klinik Basalioma 7. Menjelaskan yang dimaksud dengan pemeriksaan diagnostik Basalioma 8. Menjelaskan yang dimaksud dengan penatalaksanaan Basalioma 9. Menjelaskan yang dimaksud dengan Asuhan Keperawatan Basalioma

BAB 2 TINJAUAN TEORI

2.1 ANATOMI FISIOLOGI KULIT Sistem integumen merupakan bagian dari tubuh manusia, khusunya organ yang menutupi permukaan atau bagian luat tubuh manusia yang sering disebut kulit. Kulite merupakan organ yang paling besar pada tubuh manusia dan terletak paling luar sehungga mudahh mnegalami trauma atau terkontaminasi oleh mikroorganisme serta mudah dilihat individu maupun orang lain. Kulit merupakan jalinan pemebuluh darah, saraf, dan kelenjar yang tidak berujung, semuanya memiliki potensi untuk terserang penyakit. Luas kulit orang dewasa 1,5 m2 dengan berat kira-kira 15% dari berat badan. Secara mikroskopis, struktur kulit terdiri dari 3 lapisan, yaitu lapisan epidermis, lapisan dermis, dan lapisan subkutis.

A. LAPISAN EPIDERMIS Lapisan epidermis adalah lapisan paling atas dari kulit serta tidak mengandung pembuluh darah dan saraf. Tebalnya di kulit biasa 0,3 mm. Ditelapak tangan dan kaki tebalnya 1,5 mm. Waktu yang diperlukan dari lapisan yang paling bawah menjadi paling luar 30 hari.

Bagian-bagian lapisan epidermis : 1. Stratum korneum Adalah lapisan tanduk yang berada paling luar, terdiri atas beberapa lapis sel gepeng yang mati dan tidak berinti dan mengandung zat keratin. 2. Stratum lucidum Adalah lapisan yang terdapat langsung dibawah lapisan korneum, merupakan lapisan sel gepeng tanpa ini dengan proroplasma yang berubah menjadi protein yang disebut eleiden. 3. Stratum granulosum

Merupakan lapisan epidermis yang mempunyai fungsi penting dalam pemebntukan protein dan ikatan kimia stratum korneum. Selnya gepeng, berinti dan protoplasma berbutir besar. 4. Stratum spinosum Adalah lapisan yang mengalami proses mitosis. Protoplasmanya jernih karena mengandung glikogen dan inti selnya di tengah-tengah. Sel bentuk dan besarnya berbeda karena proses mitosis. 5. Stratum basale Merupakan lapisan epidermis yang paling bawah. Terdiri atas sel-sel berbentuk kubus (kolumnar) yang berbaris seperti pagar (palisade). Didalam lapisan ini terdpat melanosit, sel pembentuk melanini (melanosit) merupakan sel-sel berwarna muda menganding pigmen-pigmen melanosom. B. LAPISAN DERMIS Adalah lapisan kulit dibawah epidermis yang terbagi menjadi 2 bagian, yaitu : 1. Pars Papilaris (stratum papilar) Yaitu bagian yang menonjol ke epidermis. Bagian ini berisi ujung serabut saraf dan pembuluh darah yang menyokong dan memberi nutrisi pada epidermis. Lapisan papila hampir tidak mengandung jaringan ikat, memiliki serabut kolagen yang tipis. Lapisan ini dikenal dengan lapisan subepitel karena dibawah lapisan epitel epidermis. Lapisan ini disebut juga lapisan papila karena terdapat papila (keci, seperti jari-jari) yang berikatan dengan epidermis. Papila dengan serabut saraf doble ditelapak tangan dan kaki membentuk sidik jari. 2. Pars Retikularis (stratum retikularis) Lapisan retikuler terdiri dari jaringan ikat, memiliki serabut kolagen yang kasar dan berkas serabut yang saling bersilangan membentuk seperti jaring. Garisgaris serabut tersebut membentuk Cleavage yang penting dalam proses pembedahan. Sayatan bedah yang memotong garis cleavage lebih sulit sembuh daripada yang paralel dengan garis ini. Lapoisan reticular sangat banyak mengandung pembuluh darah, syaraf, ujung-ujung syaraf bebas, sel-sel adiposa (lemak), kelenjar minyak dan akar rambut, reseptor untuk tekanan dalam. Bagian terbawah lapisan ini mengandung serabut otot polos (khususnya di dada dan puting susu genital) dan folikel rambut. Disekitar pembuluh darah yang kecil terdapat limfosit, histiosit, sel mast, dan leukosit yang melindungi tubuh dari infeksi dan invasi benda-benda asing. Di
4

samping itu, di dalam lapisan dermis juga terdapat akar rambut dan kelenjar keringat. Ada 2 macam kelenjar keringat, yaitu : a. Kelenjar ekrin, yang berukuran kecil, terletak di bagian dangkal dermis dengan secret yang encer. Kelenjar ini langsung bermuara di permukaan kulit. Kelenjar ini terdapat di seluruh permukaan kulit, terbanyak pada bagian dahi, tangan, kaki, dan aksila. b. Kelenjar apokrin, yang lebih besar, terletak lebih dalam dan sekretnya lebih kental. Kelenjar apokrin diperngaruhi oleh saraf adrenargi, terdapat di aksila, aerola mammae, pubis, labia minora dan saluran telinga luar. Manusia memiliki 2 jenis rambut, yaitu : 1. Rambut lanugo, dengan ciri pendek, tidak berpigmen, halus, dan akarnya di dalam dermis. Contohnya, rambut yang ada di pipi, rambut yang aa pada tubuh bayi (biasanya akan hilang setelah lahir). 2. Rambut terminal, dengan ciri lebih panjang, lebih kasar, berpigmen, berkumpul di daerah tertentu, dan akrnya di dalam subkutis. Rambut ini memiliki siklus pertumbuhan yang lebih cepat, kurang lebih 1 cm perbulan (misal, rambut kepala).

C. LAPISAN SUBKUTIS Lapisan hypodermis atau lapisan subkutan terdiri dari jaringan adipose, nayak mengandung pembuluh darah darah, pembuluh limfe dan syaraf juga terdapat gulungan kelenjar keringat dandasar dari folikel rambut. Tidak seperti epidermis dand ermis, batas dermis dengan lapisan ini tidak jelas. Pada bagian yang banyak bergerak jaringan hipodermis kurang, pada bagian yang melapisi otot atau tulang mengandung anyaman serabut yang kuat. Pada area tertentu yang berfungsi sebagai bantalan (payudara dan tumit) terdapat lapisan sel-sel lemak yang tipis. Distribusi lemak pada lapisan ini banyak berperan dalam pembentukan bentuk tubuh terutama pada wanita.

D. FUNGSI KULIT 1. Menutupi dan melindungi organ-organ dibawahnya 2. Melindungi tubuh dari masuknya mikroorganisme dan benda asing yang dapat membahayakan tubuh. Fungsi ini merupakan fungsi perlindungan pasif. Selain fungsi perlindungan pasif, lapisan dermis berperan dalam proses menyiapkan limfosit yang di produksi oleh sumsum tulang sebelum benar-benar dipakai untuk mnyerang berbagai mikroorganisme penyebab penyakit. Peran kulit dalam hal ini merupakan peran aktif dalam perlindungan tubuh. 3. Pengaturan suhu. Kulit, jaringan sub kutan dan lemak merupakan penyekat panas dari tubuh. Lemak menyalurkan panas sepertiga kecepatan jaringan lain atau dalam kata lain lemak menghambat pengeluaran panas dari tubuh. Kecepatan aliran darah ke kulit menyebabkan konduksi panas sangat efisien. Konduksi panas ke kulit diatur oleh sistem saraf simpatis. Saraf simpatis mengatur kecepatan aliran darah dengan mesntimulasi vasokonstriksi dan vasodilatasi. 4. Eskresi. Melalui respirasi atau berkeringat, membuang sejumlah kecil urea. 5. Sintesis. Konversi 7-dehydrocholesterol menjadi vit D3 (cholecalciferol) dengan bantuan sinar UV . kekurangan UV dan Vit D mengakibatkan absorpsi Ca dari intestinal ke darah menurun. 6. Sensori persepsi. Mengandung reseptor terhadap oanas, dingin, nyeri, sentuhan/raba, tekanan. Juga mengandung ujung-ujung saraf bebas yang berfungsi sebagai homeostatis.

2.2 DEFINISI Basalioma atau karsinoma sel basal merupakan kanker kulit yang paling sering ditemukan. Berasal dari sel-sel epidermis sepanjang lapisan basal. Basalioma adalah merupakan kanker kulit yang timbul dari lapisan sel basal epidermis atau folikel rambut ; yang paling umum dan jarang bermetastasis ; kekambuhan umum terjadi (Brunner and Suddarth, 2000).

2.3 ETIOLOGI Penyebab pasti masih belum diketahui, tetapi ada berbagai faktor yang menjadi presdiposisi terjadinya basalioma. 1. Spektrum sinar matahari yang bersifat karsinogenik adalah sinar yang memiliki panjang gelombang berkisar antara 280 sampai 320 nm. Spektrum ini terutama bertanggung jawab dalam membakar dan membuat kulit menjadi cokelat. Pemakaian bahan-bahan yang melindungi kulit dari sinar matahari sangat dianjurkan pada setiap orang yang dalam keluarganya ada yang menderita kanker kulit, dan pada orang-orang yang berkulit peka sehingga mudah sekali menderita luka bakar karena sinar matahari. 2. Orang yang tidak memproduksi (pigmen) melanin dengan jumlah yang cukup di dalam kulit untuk melindungi jaringan di bawahnya sangat rentan terhadap kerusakan akibat sinar matahari. Orang yang paling berisiko itu adalah orang yang berkulit cerah, bermata biru, berambut merah yang nenek moyangnya berdarah Celtic, atau orang dengan warna kulit yang merah muda atau cerah di samping orang yang sudah lama terkena sinar matahari tanpa terjadi perubahan kulit menjadi cokelat kekuningan. 3. Para pekerja yang mengalami kontak dengan zat-zat kimia tertentu (senyawa arsen, nitrat, batubara, ter dan aspal, serta paraffin). 4. Xeroderma pigmentosum: penyakit ini merupakan penyakit resesif autosomal yang menjadi presdiposisi untuk penuaan dini pada kulit, dimulai dengan perubahan pigmen dan berubah menjadi karsinoma sel basal, karsinoma sel skuamosa, dan melanoma maligna. Efek dari Xeroderma pigmentosum adalah ketidakmampuan untuk memperbaiki kerusakan DNA akibat sinar ultraviolet dari matahari. 5. Orang yang menderita kanker sikatriks akibat luka bakar yang berat dapat mengalami kanker kulit setelah 20 hingga 40 tahun kemudian. 6. Trauma

2.3 PATOFISIOLOGI Basalioma merupakan kanker kulit yang paling sering ditemukan. Basalioma berasal dari sel epidermis sepanjang lamina basalis. Kanker sel basal terjadi pada daerah terbuka yang biasanya terpapar sinar matahari, seperti wajah, kepala, dan leher. Untungnya
7

tumor ini jarang sekali bermetastasis. Pasien dengan kanker sel basal tunggal lebih mudah mendapat kanker kulit. Spektrum sinar matahari yang bersifat karsinogen adalah sinar yang panjang gelombangnya, bekisar antara 280 samapi 320 mm. Spektrum inilah yang membakar dan membuat kulit menjadi cacat. Selain itu, pasien yang memiliki riwayat kanker sel basal harus menggunakan tabir surya atau pakaian pelindung untuk menghindari sinar karsinogen yang terdapat di dalam sinar matahari. Penyebab lain basalioma adalah riwayat pengobatan, radiologi, sebelumnya untuk menyembuhkan penyakit kulit lain. Sinar ultraviolet panjang (UVA) yang dipancarkan oleh alat untuk membuat kulit kecoklatan seperti terbakar sinar matahari juga merusak epidermis dan di anggap sebagai karsinogen. Tumor ini ditandai oleh nodul eritromatosa, halus dan seperti mutiara, bagian tengah mengalami ulserasi dan perdarahan, meninggi dan memiliki pembuluh telangiektatik pada permukannya.

2.5 WOC
Sinar uv, orang yg tidak/kurang pigmen, kontak lama dengan zat2 toksik, sering terpapar dng sinar radiasi, mengalami trauma fisik yg berulang, ps yg dpt pengobatan utk menekan reaksi imun, pembentukknya siktarik yg meluas, genetik, terjadinya melanosti nevi yg brhubungan dengan kelainan genetik/lingkungan.

Terapi imuno supresi

Pada imun yang lemah akan menimbulkan kulit meradang

Lesi di kulit

Lesi, kemerahan timbul nodul

Lama kelamaan timbul plak dan nodul

Kemudian berpoliferasi

Nodul ulserasi

Nodul ulserasi yang menimbulkan ulkus

Tipe papilen yg menonjol di atas kulit seperti kemabng kol

Mengalir melalui aliran limfatik dan aliran darah

Mengalir melalui aliran limfatik dan aliran darah

Pertumbuhan sel-sel yg lebih agresif

Karsinoma sel basal Seperti nodul kecil dengan tepi yang tergulung, translusen dan mngilap

Ulserasi

Pasien cemas dengan keadaannya

Lesi pada kulit

Lesi yang diabaikan dapat menyebabkan hilangnya hidung, telinga dan bibir

ansietas

Inflamasi

Nyeri Perubahan citra tubuh

10

2.6 MANIFESTASI KLINIK Tanda dan gejala yang menyertai penyakit basalioma adalah predileksinya terutama pada wajah (pipi, dahi, hidung, lipat nasolabial, daerah periorbital), leher. Meskipun jarang dapat pula dijumpai pada lengan, tangan, badan, tungkai, kaki dan kulit kepala. Gambaran klinik basalioma bervariasi terbagi menjadi 5 bentuk : 1. Tipe Nodulo-ulseratif, termasuk ulkus rodens, merupakan jenis yang paling sering dijumpai. Lesi biasanya tampak sebagai lesi tunggal. Paling sering mengenai wajah, terutama pipi, lipat nasolabial, dahi dan tepi kelopak mata. Pada awalnya tampak papul atau nodul kecil, transparan seperti mutiara, berdiameter kurang dari 2 cm, denggan tepi meninggi. Permukaannya tampak mengkilat, sering dijumpai adanya teleangiektasis dan kadang-kadang dengan skuama yang halus atau krusta tipis. Berwarna seperti mutiara, kadang-kadang seperti kulit normal sampai eritem yang pucat. Lesi membesar secara perlahan dan suatu saat bagian tengah lesi menjadi cekung, meninggalkan tepi yang meninggi, keras. Jika terabaikan, lesi-lesi ini akan mengalami ulserasi (disebut ulkus rodens), dengan destruksi jaringan di sekitarnya. 2. Tipe Berpigmen, gambaran klinisnya sama dengan yang tipe nodulo-ulseratif. Bedanya, pada jenis ini berwarna coklat atau hitam berbintik-bintik atau homogen, yang secara klinis dapat menyerupai melanoma. 3. Tipe Morfea atau fibrosing atau sklerosing, biasanya terjadi pada kepala dan leher. Lesi tampak sebagai plak sklerotik yang cekung, berwarna putih kekuningan dengan batas tidak jelas. Lesi tampak sebagai bercak sklerodermatosa dan tidak member kesan karsinoma sel basal bila dilihat oleh mata yang tidak berpengalaman. Pertumbuhan perifer diikuti oleh perluasan sklerosis di tengahnya. 4. Tipe Superfisial, lesi biasanya multipel, mengenai badan. Secara klinis tampak sebagai plak transparan, eritematosa sampai berpigmen terang, berbentuk oval sampai ireguler dengan tepi berbatas tegas, sedikit meninggi, seperti benang atau kawat. Biasanya dihubungkan dengan ingesti arsenik kronis. 5. Tipe Fibroepitelioma, paling sering terjadi pada punggung bawah. Secara klinis, lesi berupa papul kecil yang tidak bertangkai atau bertangkai pendek, dengan permukaan halus atau noduler, dengan warna yang bervariasi.

11

Disamping itu terdapat pula 3 sindroma klinis, dimana epitelioma sel basal berperan penting, yaitu: 1. Sindroma Epitelioma Sel Basalnevoid, dikenal pula sebagai sindroma GorlinGoltz. Merupakan kelainan autosomal dominan dengan penetrasi yang bervariasi, ditandai oleh 5 gejala mayor yaitu : a. Karsinoma sel basal multipel yang terjadi pada usia muda. b. Cekungan-cekungan pada telapak tangan dan telapak kaki. c. Kelainan pada tulang, terutama tulang rusuk. d. e. Kista pada tulang rahang. Kalsifikasi ektopik dari falks serebri dan struktur lainnya.

Disamping gejala mayor ini, dijumpai banyak kelainan sistem organ multipel yang berhubungan dengan sindroma ini. 2. Nevus sel basal unilateral linier, merupakan jenis yang sangat jarang dijumpai. Lesi berupa nodul dan komedo, dengan daerah atrofi bentuk striae, distribusi zosteriformis atau linier, unilateral. Lesi biasa dijumpai sejak lahir dan lesi ini tidak meluas dengan meningkatnya usia. 3. Sindroma bazex, sindroma ini digambarkan pertama kalinya oleh Bazex, diturunkan secara dominan, dengan cirri khas sebagai berikut : a. Atrofoderma folikuler, yang ditandai oleh folikuler yang terbuka lebar, seperti ice-pick marks, terutama pada ekstremitas. b. Epitelioma sel basal kecil, multipel pada wajah, biasanya timbul pertama kali pada saat remaja atau awal dewasa. Namun kadang-kadang dapat juga timbul pada akhir masa anak-anak.

Disamping itu dapat pula dijumpai anhidrosis lokal atau hipohidrosis generalisata, hipotrikosis kongenital pada kulit kepala dan daerah lainnya.

12

Gambar penderita basalioma :

2.7 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Menurut Baughman, CD & Hackley J.C, 2000, pemeriksaan diagnostik yang biasa dilakukan pada penderita. Basalioma adalah : a. Evaluasi histologist b. Biopsi

2.8 PENATALAKSANAAN Terdapat banyak alternatif pengobatan pada karsinoma sel basal yaitu : 1. Kuretase dan elektrodesikasi Keuntungan : a. Tehniknya sederhana. b. Meninggalkan luka yang teratur dan kering.

Kerugian : a. Tidak efektif untuk tumor primer yang luas atau residif. b. Tidak didapat konfirmasi batas tepi pembuangan jaringan yang adekuat. 2. Bedah eksisi Keuntungan : a. Penyembuhannya cepat dengan luka yang teratur dan kering. b. Dari segi kosmetik baik, memungkinkan pengambilan jaringan tumor secara menyeluruh dan dapat ditentukan batas eksisi dengan pemeriksaan histopatologi.
13

Kerugian : a. Membutuhkan waktu. b. Biaya mahal. c. Memerlukan pengalaman yang luas. d. Pengambilan jaringan normal dapat berlebihan 3. Radioterapi Keuntungan : a. Bermanfaat pada daerah anatomis yang sulit diterapi dengan metode pembedahan. b. Bermanfaat bagi penderita dengan lesi yang luas yang tidak memungkinkan untuk dilakukan anestesi umum. c. Pada umumnya karsinoma sel basal sangat radio-sensitif. Kerugian : a. Memerlukan peralatan yang mahal. b. Memerlukan kunjungan yang berulang kali. c. Memberikan efek samping yang signifikan. 4. Bedah beku Keuntungan : a. Tehniknya cepat. b. Peralatan yang dibutuhkan sederhana. c. Tidak mempengaruhi syaraf, pembuluh darah besar, tulang rawan, dan sistem saluran air mata.

d. Bermanfaat pada daerah tumor yang sulit diterapkan dengan metode pengobatan lainnya, seperti kelopak mata. e. Dapat dikombinasi dengan metode lainnya, seperti kuretase. f. Dapat digunakan untuk pengobatan tumor yang luas bagi penderita rawat jalan. Kerugian : a. Rasa nyeri dan edema. b. Timbul bula, edema, dan lesi yang basah. c. Dapat terjadi hipopigmentasi. d. Batas tepi tumor perlu ditentukan terlebih dahulu. e. Resisten untuk jenis morfea atau jenis adenoid.
14

5. Bedah mikrografik Mohs Keuntungan : a. Evaluasi histopatologi pada tepi irisan mendekati 100% dibandingkan dengan tehnik seksi vertikal tradisional. b. Dengan analisa tepi irisan yang lengkap dapat diketahui dan ditelusuri semua fokus-fokus tumor yang masih tertinggal. c. Reseksi hanya pada daerah tumor, sehingga dapat menghemat jaringan atau meminimalkan jaringan yang hilang. Kerugian : a. Memerlukan dokter dan petugas laboratorium histopatologi yang terlatih. b. Biayanya mahal. 6. Beberapa cara pengobatan baru meliputi : 5-fluorourasil yang dikombinasi dengan kuretase ringan; retinoat; interferon; terapi fotodinamik.

Tiap metode tersebut pada umumnya memberikan hasil penyembuhan yang hampir sama baiknya. Tiap klinik mempunyai cara pengobatan tertentu, sesuai fasilitas dan pengalamannya masing-masing. Dalam memilih metode pengobatan yang tepat untuk karsinoma sel basal, perlu diperhatikan beberapa faktor berikut : a) Faktor penderita : keadaan umum dan usia penderita, sosio-ekonomi penderita. b) Faktor tumor 1. Lokasi dan hubungannya dengan jaringan sekitarnya (perlekatan dengan tulang rawan, tulang, daerah mata, bibir). 2. Ukuran tumor. 3. Jenis histologi. 4. Riwayat tumor (rekurensi, pengobatan sebelumnya). 5. Terjadinya metastasis. c) Faktor fasilitas: peralatan yang ada, pengalaman dan keahlian dokter yang mengobati. d) Faktor metode yang akan digunakan 1. Mempertimbangkan kemungkinan komplikasi yang terjadi, terutama daerah wajah. 2. Memilih metode yang telah dikuasai dengan angka kesembuhan yang tinggi

15

BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 PENGKAJIAN 1. Keluhan Utama Anamnesis biasanya ada keluhan berupa lesi pada kulit. 2. Riwayat Penyakit Sekarang Kontak lama dengan sinar ultraviolet matahri, kontak dengan agen arsenik. 3. Pemeriksaan Fisik Umumnya karsinoma sel basal timbuk di daerah tubuh yang terpajan sinar matahari dan lebih prevalen pada kawasan tempat populasi penduduk mengalami pajanan sinar matahari yang intensif serta ekstensif. Insiden tersebut berbanding lurus dengan usia pasien (rata-rata 60 tahun) serta jumlah total pajanan sinar matahari, dan berbanding terbalik dengan jumlah pigmen melanin dalam kulit. Karsinoma basal biasanya dijumpai : a. Dimulai sebagai nodul kecil seperti malam (lilin) dengan tepi yang tergulung, transulen dan mengilap; pembuluh darah yang mengalami telangiektasia dapat dijumpai. b. Dengan tumbunya karsinoma sel basal akan terjadi ulserasi pada bagian tengahnya dan kadang terdapat pembentukan krusta. c. Dapat timbul sebagai plak yang mengilap, datar, berwarna kelabu atau kekuningan. d. Ciri khas dari tumor ini adalah berbentuk nodula eritematosa, halus, dan seperti mutiara. Tepi tumor sering kali meninggi dan memiliki pembuluh telangiektatik pada permukaannya. Tumor ini sering kali berdarah, menginvasi dermis, dan merusak jaringan normal.

16

3.2 DIAGNOSIS KEPERAWATAN 1. Nyeri b.d kerusakan jaringan lunak, erosi jaringan lunak efek metastasi kanker basal, respons sekunder intervensi pascabedah. 2. Kecemasan b.d kondisi penyakit, prognosis kanker pada jaringan kulit. 3. Gangguan citra tubuh b.d kecacatan

17

3.3 RENCANA KEPERAWATAN Sasaran utama bagi pasien dapat mencakup penurunan respon nyeri dan berkurangnya ansietas atau kecemasan.

No 1

Diagnosa Keperawatan Nyeri jaringan jaringan metastasi respons b.d

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi 1. Kaji nyeri dengan PQRST.

Rasional 1. Menjadi parameter dasar untuk melihat sejauh mana rencana intervensi yang diperlukan dan sebagai evaluasi keberhasilan

kerusakan Dalam waktu 1 x 24 jam erosi nyeri berkurang/ hilang efek atau teradaptasi. Dengan basal, kriteria : subjektif nyeri

lunak, lunak kanker

sekunder a. Secara melaporkan

dari intervensi manajemen nyeri keperawatan. dengan relaksasi dan

intervensi pascabedah.

berkurang atau dapat 2. Jelaskan dan bantu pasien dengan 2. Pendekatan diadaptasi. Skala nyeri 0-1 (0-4). b. Dapat mengindentifikasi aktivitas meningkatkan menurunkan nyeri. c. Pasien tidak gelisah. yang 3. Lakukan atau manajemen tindakan pereda nyeri menggunakan nonfarmakologi

nonfarmakologi dan noninvasif.

lainnya telah

menunjukkan keefektifan dalam mengurangi nyeri. nyeri 3. a. Posisi fisiologis akan

keperawatan. a. Atur posisi fisiologis dan imobilisasi ekstrimitas yang mengalami selulitis.

meningkatkan asupan O2 ke jaringan peradangan Pengaturan adalah posisi arah yang mengalami subkutan. idealnya yang

pada

18

berlawanan dengan letak dari selulitis. Bagian tubuh yang mengalami inflamasi lokal dilakukan

imobilisasi untuk menurunkan respons peradangan dan

meningkatkan kesembuhan. b. Istirahatkan klien. b. Istirahat diperlukan selama fase akut. Kondisi ini akan meningkatkan suplai darah pada jaringan peradangan. c. Manajemen lingkungan: c. Lingkungan menurunkan eksternal pengunjung meningkatkan tenang akan nyeri yang mengalami

lingkungan tenang dan batasi pengunjung.

stimulus dan akan

pembatasan membantu O2

kondisi

ruangan yang akan berkurang apabila banyak pengunjung yang berada di ruangan. d. Meningkatkan asupan O2

19

d. Ajarkan

teknik

relaksasi

segingga akan menurunkan nyeri sekunder dari peradangan. e. Distraksi (pengalihan menurunkan dengan

pernapasan dalam.

e. Ajarkan teknik distraksi pada saat nyeri.

perhatian) stimulus mekanisme

dapat

internal

peningkatan

produksi endorfin dan enkefalin yang dapat memblok reseptor nyeri untuk tidak dikirimkan ke korteks serebri sehingga

menurunkan persepsi nyeri. 4. Analgetik 4. Kolaborasi dengan dokter, nyeri memblok nyeri lintasan akan

sehingga

pemberian analgetik. 2 Kecemasan b.d kondisi Dalam waktu 1 x 24 jam

berkurang.

1. Kaji tanda verbal dan nonverbal 1. Rekasi verbal/nonverbal dapat kecemasan. Dampingi pasien dan lakukan tindakan bila menunjukkan rasa agitasi,

penyakit, prognosis kanker kecemasan pasien akan pada jaringan kulit. berkurang. Dengan kriteria: a. Pasien menyatakan

marah, dan gelisah.

menunjukkan perilaku merusak.

kecemasan berkurang, 2. Hindari konfrontasi. mengenal

2. Konfrintasi dapat meningkatkan rasa marah, menurunkan kerja

20

perasaannya b. Dapat mengindetifikasi penyebab atau faktor yang memengaruhinya c. Kooperatif tindakan d. Wajah rileks. terhadap 4. Bina hubungan saling percaya.

sama

dan

mungkin

memperlambat penyembuhan. 3. Mulai melakukan tindakan untuk 3. Mengurangi mengurangi lingkungan kecemasan. yang tenang Beri dan rangsangan

eksternal yang tidak perlu.

suasana penuh istirahat.

4. Pasien harus didorong untuk mengekspresikan perasaan

terhadap seorang yang mereka percayai. Mendengarkan

keprihatinan mereka dan selalu siap untuk memberikan

perawatan yang terampil serta penuh kehangatan merupakan intervensi yang penting untuk mengurangi ansietas.

5. Orientasikan

pasien

terhadap 5. Orientasi kecemasan.

dapat

menurunkan

prosedur rutin dan aktivitas yang diharapkan.

21

6. Beri kesempatan kepada pasien 6. Dapat untuk ansietasnya. mengungkapkan ketegangan kekhawatiran diekspresikan.

menghilangkan terhadap yang tidak

7. Berikan privasi untuk pasien dan 7. Memberi orang terdekat.

waktu

untuk perasaan,

mengekspresikan menghilangkan perilaku

cemas

dan

adaptasi.

Adanya

keluarga dan teman-teman yang dipilih pasien melayani aktivitas dan pengalihan akan (misalnya: menurunkan

membaca

perasaan terisolasi). Pengaturan keluarga dan agar setiap anggota teman

dekatnya untuk lebuh banyak mencurahkan waktu mereka

bersama pasien dapat menjadi upaya yang bersifat supportif.

22

8. Kolaborasi : berikan anti cemas 8. Meningkatkan sesuai indikasi contuhnya :

relaksasi

dan

menurunkan kecemasan.

diazepam 3 Gangguan citra tubuh b.d Klien dapat menerima kecacatan keadaannya. Dengan kriteria hasil : perasaan negatif tentang diri sendiri tidak terjadi 2. Bersikap pengobatan. positif 1. Kaji perubahan atau kehilangan 1. Episode pada pasien. traumatik membuat

perasaan kehilangan aktual yang dirasakan. selama 2. Meningkatkan kepercayaan dengan perawat. antara hubungan pasien

3. Berikan

kelompok

pendukung 3. Meningkatkan memungkinkan

perasaan respons

dan yang

untuk orang terdekat.

lebih membantu pasien.

23

BAB 4 PENUTUP

Kesimpulan Tumor ganas kulit adalah proses keganasan yang timbul dipermukaan kulit dan berasal dari sel epitel, sel pluripotensial atau dari sel melanin di dalam kulit. Menurut jenis sel yang berdiferensiasi, tumor ganas kulit diklasifikasikan sebagai berikut: karsinoma sel basal (KSB), karsinoma sel skuamosa (KSS) dan melanoma maligna (MM). Menurut etiologinya, tumor ganas kulit dapat disebabkan oleh (1) faktor ekstrinsik berupa paparan sinar ultraviolet, paparan sinar-X, pemakaian bahan kimia dan adanya jaringan parut yang luas dan lama; (2) faktor intrinsik berupa genetik, sistem imun yang rendah dan ras. Karsinoma sel basal biasanya terdapat pada wajah dan leher dengan gejala klinis berupa nodul ulseratif, berpigmen, morfea, superfisial dan fibroepitelioma. Biasanya ditandai dengan tepi ulkus yang meninggi tanpa adanya metastasis jauh. Diagnosis tumor ganas kulit ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan penunjang. Penanganan KSB dan KSS biasanya dengan mengangkat tumor, baik dengan cara kuretase dan elektrodesikasi maupun memotongnya dengan pisau bedah. Sedangkan penanganan MM prinsipnya adalah melakukan eksisi yang pada awalnya dilakukan pengukuran ketebalan invasi terlebih dahulu dengan teknik Breslow thickness. Prognosa dari KSB adalah baik dengan angka kesembuhan skitar 95% sedangkan pada KSS tergantung dari lokasi, ukuran, tingkat diferensiasi sel-sel dan kedalaman perluasannya, dan pada MM prognosa ditentukan oleh sifat tumor, stadium klinis, lokasi metastase dan faktor penderita.

24

DAFTAR PUSTAKA

Muttaqin, Arif dan Kumala Sari. 2011. Askep Gangguan Sistem Integumen. Jakarta : Salemba Medika. Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G. Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth Edisi 8 Volume 3. Jakarta : EGC.

Price, Wilson, 1995. Patofisiologi, Konsep Klinis Proses-proses Penyakit.EGC: Jakarta.

25

Anda mungkin juga menyukai