Anda di halaman 1dari 17

SEJARAH PEMIKIRAN EKONOMI ISLAM

PEMIKIRAN EKONOMI ABU UBAID 154 224 H (Deni Lubis, MA)

Boigrafi Singkat
Abu Ubaid al-Qasim bin Salam bin Miskin bin Zaid al-Azdhi, hidup di masa Daulah Abbasiyah pada masa Khalifah Al-Mahdi Abu Ubaid lahir di Bahra di Provinsi Khurasan tahun 154 H dan wafat di Makkah tahun 224 H, beliau ulama yang cerdas dan fasih berbahasa Arab Abu Ubaid membagi malamnya menjadi tiga, sepertiga untuk tidur, sepertiga untuk shalat dan sepertiganya untuk mengarang

Hasil Karya Abu Ubaid

Tidak kurang dari 20 karya yang beliau keluarkan, baik di bidang ilmu Nahwu, Qiraat, fiqh, syair dan lainnya Diantara karyanya yang terkenal adalah kitab al-Amwal dalam bidang fiqh. Kitab fiqh yang berbicara lengkap tentang keuangan negara Islam Isi buku dimulai dengan pembahasan singkat tentang hak penguasa terhadap subjek dan hak subjek yang berhubungan dengan penguasa.

Kitab al-Amwal juga berbicara tentang pendapatan dan pengeluaran negara berdasarkan Al-Quran dan Al-Hadis, juga berbicara tentang sejarah perekonomian dari separuh pertama abad kedua Islam. Buku ini juga merupakan suatu ringkasan tradisi asli dari Nabi Saw dan laporan para sahabat dan pengikutnya tentang masalah ekonomi. Para penulis dan pakar-pakar banyak yang mengutip karyanya dari buku ini

Peranan negara dalam perekonomian


Azas pengelolaan harta didasarkan atas ketakwaan kepada Allah Swt Keberadaan kekayaan pada komunitas kaum muslimin merupakan tanggungjawab seluruhnya, dan kepala negara berhak menggunakannya demi kepentingan seluruh kaum muslimin Pemerintah bertanggungjawab atas keamanan, kesejahteraan, melindungi hak-hak rakyat, mengatur kekayaan publik dan menjamin terpeliharanya maqasid syariah

.
Keadilan menjadi prinsip dasar dalam misi khlaifah Khlaifah (pemerintah) menetapkan hukum berdasarkan Al-Quran dan AsSunnah dan harus menyayangi rakyatnya Negara bertugas menegakan nilai-nilai keadilan sosial, mengatur keuangan negara seefektif mungkin dan menyediakan kebutuhan pokok, fasilitas umum, distribusi pendapatan yang berkeadilan

Sumber Penerimaan Keuangan Negara


Shadaqoh/ Zakat: zakat emas, perak, perniagaan, unta, sapi, kambing, bijibijian, dan buah-buahan. Dari zakat ini dialokasikan untuk delapan kelompok (mustahik zakat) 2. Fai (ar-ruju=kembali) menurut istilah fiqh yaitu sesuatu yang diambil dari harta ahli kitab dengan cara damai tanpa peperangan atau setelah peperangan itu berakhir, disebut fai karena Allah mengembalikan harta tersebut kepada kaum Muslimin
1.

.
Menurut versi Abu Ubaid fai adalah sesuatu yang diambil dari harta dzimmah perdamaian atas jizyah dari mereka, yang sebab itu jiwa mereka dilindungi dan dihormati. Harta fai digunakan untuk kepentingan pemerintah dan kesejahteraan uamat. Bagian fai terdiri dari: kharaj, jizyah, khumus dan usyr

.
Kharaj, penghasilan tanah taklukan kaum muslimin dengan jalan damai yang pemiliknya menawarkan untuk mengolah tanah itu sebagai pengganti sewa tanah dan bersedia memberikan sebahagian dari hasil produksinya. 50:50 Jizyah, pajak tahunan yang wajib diserahkan oleh non-muslim sebagai jaminan atas keamanan jiwa, harta, dan kebebasan beribadah.

.
Besaran jizyah 1 dinar pertahun, atau 30 ekor sapi jizyahnya=1 ekor tabi (sapi umur1 tahun), 40 sapi = 1 ekor musinah Penghasilan dari tanah 10 persen bila diairi dengan air hujan, 5 % bila dengan biaya Kewajiban membayar jizyah akan hilang ketita dia masuk Islam, sedangkan kharaj tidak gugur

.
Khums atau 1/5 dari ghanimah (rampasan perang), rikaz adan luqathah Usyr, menurut fuqoha adalah zakat tanaman dan buah-buahan (QS. AlAnam: 141), kedua usyr adalah sesuatu yang diambil dari harta kafir zimmi yang melintas untuk perdagangan (cukai dagang)

Pembelanjaan Penerimaan Keuangan Publik


Pembelanjaan harta negara harus sesuai dengan Al-Quran dan AsSunnah, transparan dan berkeadilan Banyak mencontoh praktek yang dilakukan oleh Umar bin Khatab

Hukum Pertanahan
Iqtha adalah tanah yang diberikan oleh kepala negara kepada seorang rakyatnya untuk menguasai sebidang tanah dengan mengabaikan yang lainnya. Tanah yang dihuni sebelumnya kemudian ditinggalkan pemiliknya maka tanah tersebut diserahkan ke kepala negara. Iqtha bukanlah tanah jizyah Pemerintah hendaknya tidak mengiqthakan tanah kharaj, karena tanah kharaj biasanya sudah produktif dan sebagai sumber devisa negara.

Ihya al-mawat ada tiga macam


1. Seseorang datang kepada tanah tersebut dan menyuburkannya, kemudian datang orang lain yang memperbaharui tanaman dan bangunan agar tanah itu menjadi hak miliknya. Perbuatan ini disebut dengan al-Irqi al-dzalim; perbuatan atas sesuatu yang bukan haknya dan ingin memilikinya. Hak tanah ini diberikan kepada orang pertama yang mengelola lebih awal

.
2. Kepala negara memberikan iqtha kepada seseorang kemudian dia menelantarkannya, lalu datang orang lain yang mengelolanya dan menyuburkannya karena dia kira tidak ada yang memilikinya 3. Jika seseorang membangun tembok/ pagar atas tanah iqtha tetapi dia tidak mengelolanya, maka maksimal tiga tahun, kemudian tanah tersebut diambil alih oleh negara untuk diserahkan kepada orang lain yang membutuhkannya

Hima

Hima atau perlindungan adalah tanah yang tidak berpenduduk yang dilindungi oleh negara untuk keperluan mengembala binatang ternak oleh seluruh umat Islam Rasulullah bersabda orang muslim bersyarikat dengan muslim adalah saudara dengan muslim yang lainnya, yang memberi mereka keleluasaan air dan rumput

Fungsi uang
Standard nilai (standard of exchange value) Alat Tukar (medium of exchange) Mendukung uang logam dari emas dan perak