Anda di halaman 1dari 127

STUDI KOMPARASI HASIL BELAJAR MATA KULIAH ILMU UKUR TANAH ANTARA MAHASISWA YANG DIAJAR DENGAN MENGGUNAKAN

MEDIA OHP DAN MEDIA AUDIO-VISUAL PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK BANGUNAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

SKRIPSI
Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Universitas Negeri Semarang

Oleh Agus Dwi Budiyarto NIM 5114000017

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2005

PERSETUJUAN PEMBIMBING
Skripsi ini telah disetujui oleh Pembimbing untuk diajukan ke sidang panitia ujian skripsi pada : Semarang, 20 Juni 2005 Pembimbing I Pembimbing II

Ir. Ispen Safrel, M.Si NIP. 131 781 327

Drs. FR. Sri Sartono, M.Pd NIP. 130 515 780

ii

PENGESAHAN KELULUSAN

Skipsi ini telah dipertahankan didalam Sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang pada : Hari Tanggal : Senin : 20 Juni 2005

Panitia ujian : Ketua Sekretaris

Prof. Dr. Soesanto NIP. 130 875 753

Drs. Supriyono NIP. 131 571 560

Penguji I

Penguji II

Ir. Ispen Safrel, M.Si NIP. 131 781 327

Drs. FR. Sri Sartono, M.Pd NIP. 130 515 780

Penguji III

Ir. Saratri Wilonoyudho, M.Si NIP. 131 781 317

iii

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya orang lain, baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang, 20 Juni 2005

Agus Dwi Budiyarto NIM. 5114000017

iv

SARI

Budiyarto, Agus Dwi. 2005. Studi Komparasi Hasil Belajar Mata Kuliah Ilmu Ukur Tanah Antara Mahasiswa Yang Diajar Dengan Menggunakan Media OHP dan Media Audio-visual Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Semarang. Pembimbing : I. Ir. Ispen Safrel, M.Si, II. Drs. FR. Sri Sartono, M.Pd. Skripsi : Pendidikan Teknik Bangunan Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang. Pengajar sebagai komponen pengajaran harus dapat memilih penggunaan media yang tepat dalam proses belajar mengajar. Pemilihan penggunaan media yang tepat akan memperbesar minat belajar, meningkatkan motivasi belajar dan dapat meningkatkan hasil belajar. Tujuan penelitian ini adalah : Untuk mengetahui apakah ada perbedaan hasil belajar mata kuliah ilmu ukur tanah antara mahasiswa yang diajar dengan menggunakan media OHP dan media audio-visual Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Semarang. Jika terdapat perbedaan, untuk mengetahui seberapa besar hasil belajar mahasiswa yang diajar dengan menggunakan media OHP dan media audio-visual. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Semarang semester 2 (dua) tahun ajaran 2004/2005 keseluruhan populasi dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok kontrol (media OHP) dan kelompok eksperimen (media audio-visual). Pembagian kelompok dilakukan dengan menggunakan pola matching group design. Dasar pembagian kelas yang digunakan adalah nilai hasil pretest yang diujikan pada keseluruhan populasi. Masing-masing kelompok diberi perlakuan sebanyak 3 (tiga) kali pertemuan dan pada tiap akhir perlakuan dilakukan pengambilan data . Pengambilan data menggunakan metode test dengan bentuk pilihan ganda yang terdiri dari 4 (empat) pilihan jawaban. Analisis data penelitian untuk menguji hipotesis digunakan rumus uji-t, dari analisis data diperoleh t-hitung 3,010 dan t-tabel 2,07 dengan = 5 % dan dk = 23. karena t-hitung > t-tabel maka Ho ditolak, yang berarti ada perbedaan hasil belajar antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Analisis uji selisih rata-rata digunakan rumus estimasi. Dari analisis data diperoleh besarnya selisih rata-rata hasil belajar mata kuliah ilmu ukur tanah pokok bahasan pengukuran sipat datar pada kelompok kontrol (media OHP) dan kelompok eksperimen (media audio-visual) adalah antara 0,241 sampai 1,298 atau antara 2,41% sampai 12,98%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar kelompok eksperimen (media audio-visual) lebih baik daripada kelompok kontrol (media OHP). Penggunaan media audio-visual ternyata lebih baik dan lebih menarik perhatian mahasiswa dalam meningkatkan hasil belajar, maka alangkah baiknya dapat memanfaatkan media audio-visual dalam proses belajar mengajar pada mata kuliah ilmu ukur tanah pokok bahasan pengukuran sipat datar.
v

MOTTO DAN PERSEMBAHAN


MOTTO 1. Sesungguhnya Sesudah Kesulitan Itu Ada Kemudahan (Qs. Alam Nasyroh:6). 2. Berdoa dan berusaha adalah 2 (dua) kunci keberhasilan, sedangkan tawakkal adalah awal dari sebuah kesempurnaan. 3. Cinta mampu mengubah pikiran manusia menjadi lebih bijak dalam menilai manusia dan perilakunya, menjadikan manusia lebih peka untuk mengasihi sesama manusia. 4. Pandanglah hari ini sebab kemarin hanyalah bayangan, tapi hari ini sungguh ada.

PERSEMBAHAN 1. Bapak dan Ibu tercinta atas segala cinta, kasih sayang dan doa-doanya dalam membimbing dan membesarkanku selama ini 2. Kakakku Eko Windiarto (kegagalan bukan akhir dari segalanya, teruslah berjuang demi masa depanmu dan keluargamu ) 3. Kekasihku tercinta Yunia Iswandari (Cinta dan kasih sayangmu selama ini mengiringi

keberhasilanku sekarang dan selamanya) 4. Teman seperjuanganku : Roby, Ayu dan Eko 5. Teman-teman PTB angkatan 2000 6. Teman-teman kos TM 7. Almamaterku

vi

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga skripsi dapat diselesaikan dengan baik. Skripsi ini disusun untuk memenuhi sebagian syarat-syarat memperoleh gelar sarjana Pendidikan Teknik Bangunan di Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang. Pada kesempatan ini, penyusun dengan kerendahan hati mengucapkan terima kasih kepada : 1. Dr. H. A.T Soegito. S.H, M.M., Rektor Universitas Negeri Semarang. 2. Prof. Dr. Soesanto. Dekan Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang. 3. Drs. Lashari, MT. Ketua Jurusan Teknik Sipil Universitas Negeri Semarang. 4. Ir. Ispen Safrel, M.Si. Dosen Pembimbing Skripsi I, yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam penyusunan skripsi ini. 5. Drs. FR. Sri Sartono, M.Pd. Dosen Pembimbing Skripsi II, yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam penyusunan skripsi ini. 6. Mas Budi, Mas Mundhir dan Darmoyo yang telah membantu terselesaikannya pembuatan media audio-visual. 7. Semua pihak yang turut membantu penyusun dalam menyelesaikan Skripsi ini

vii

Semoga amal beliau mendapat pahala yang sebesar-besarnya dari Allah SWT. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Semarang, 20 Juni 2005

Agus Dwi Budiyarto NIM. 51114000017

viii

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ................................................................................... PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................................. PENGESAHAN KELULUSAN ................................................................... PERNYATAAN ........................................................................................... SARI ............................................................................................................ MOTTO dan PERSEMBAHAN .................................................................. KATA PENGANTAR ................................................................................. DAFTAR ISI ................................................................................................ DAFTAR TABEL ........................................................................................ DAFTAR GAMBAR ................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................ BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Balakang Masalah .......................................................... 1.2 Permasalahan........................................................................... 1.3 Penegasan Judul ...................................................................... 1.4 Tujuan Penelitian..................................................................... 1.5 Manfaat Penelitian................................................................... 1.6 Sistematika Skripsi .................................................................. BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Hakikat Belajar dan Mengajar.................................................. 2.1.1 Belajar .......................................................................... 2.1.2 Mengajar ........................................................................ 2.2 Proses Belajar Mengajar .......................................................... 2.3 Hasil Belajar ...........................................................................
ix

i ii iii iv v vi vii ix xiii xiv xvi

1 4 5 6 6 7

9 9 11 12 13

2.4 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar ................... 2.5 Peranan Media Dalam Proses Pembelajaran ............................ 2.6 Media Pembelajaran ............................................................... 2.6.1 Media OHP .................................................................... 2.6.2 Media Audio-visual ....................................................... 2.7 Ringkasan Materi Pokok Bahasan Pengukuran Sipat Datar ..... 2.8 Kerangka Berpikir .................................................................. 2.9 Hipotesis ................................................................................. BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian ............................................... 3.1.1 Jenis Penelitian .............................................................. 3.1.2 Rancangan Penelitian ..................................................... 3.1.2.1 Rancangan Eksperimen ..................................... 3.1.2.2 Pola Eksperimen ................................................ 3.1.2.3 Validitas Eksperimen ......................................... 3.2 Populasi dan Sampel Penelitian .............................................. 3.2.1 Populasi ......................................................................... 3.2.2 Sampel ........................................................................... 3.3 Variabel Penelitian .................................................................. 3.3.1 Variabel Bebas ............................................................... 3.3.2 variabel Terikat .............................................................. 3.4 Teknik Pengumpulan Data....................................................... 3.4.1 Jenis Metode Yang DigunakanValiditas ......................... 3.4.1.1 Metode Dokumentasi .........................................
x

19 26 29 29 31 32 39 41

42 42 42 43 43 44 46 46 46 46 46 46 47 47 47

3.4.1.2 Metode Tes ........................................................ 3.4.2 Konstruksi Alat Pengumpul Data .................................. 3.4.3 Pengujian Alat Pengumpul Data .................................... 3.4.3.1 Pengujian Alat Pengumpul Data Pretest Untuk Pembagian Kelompok .................................... 3.4.3.2 Pengujian Alat Pengumpul Data Postest ......... 3.5 Teknik Analisis Data ............................................................... 3.5.1 Deskripsi Data ............................................................... 3.5.2 Uji Prasyarat Analisis..................................................... 3.5.2.1 Uji Prasyarat Analisis Kesepadanan Sampel Dengan Pola Matching Group Design ............ 3.5.2.2 Uji Normalitas Sampel ................................... 3.5.3 Uji Hipotesis ................................................................. 3.5.4 Uji Selisih Rata-Rata ..................................................... BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Data ........................................................................ 4.1.1 Hasil Pretest Pembagian Kelompok................................ 4.1.2 Hasil Belajar Pertemuan I (Pertama) .............................. 4.1.3 Hasil Belajar Pertemuan II (Kedua) ............................... 4.1.4 Hasil Belajar Pertemuan III (Ketiga) ............................. 4.1.5 Hasil Belajar Keseluruhan Materi .................................. 4.2 Tingkat Kecenderungan ........................................................... 4.2.1 Tingkat Kecenderungan Pada Kelompok Kontrol .......... 4.2.1.1 Distribusi Tingkat Kecenderungan Data Pada Pertemuan I (Pertama) ...........................

47 47 49

49 53 57 57 58

58 61 62 63

64 64 65 67 69 70 72 72

72

xi

4.2.1.2 Distribusi Tingkat Kecenderungan Data Pada Pertemuan II (Kedua) ............................

73

4.2.1.3 Distribusi Tingkat Kecenderungan Data Pada Pertemuan III (Ketiga) ........................... 4.2.1.4 Distribusi Tingkat Kecenderungan Data Keseluruhan Materi ....................................... 4.2.2 Tingkat Kecenderungan Pada Kelompok Eksperimen ... 4.2.2.1 Distribusi Tingkat Kecenderungan Data Pada Pertemuan I (Pertama) ........................... 4.2.2.2 Distribusi Tingkat Kecenderungan Data Pada Pertemuan II (Kedua) ............................ 4.2.2.3 Distribusi Tingkat Kecenderungan Data Pada Pertemuan III (Ketiga) ........................... 4.2.2.4 Distribusi Tingkat Kecenderungan Data Keseluruhan Materi ....................................... 4.3 Pengujian Prasyarat Analisis.................................................... 4.3.1 Uji Normalitas Data ....................................................... 4.4 Pengujian Hipotesis ................................................................. 4.5 Analisis Uji Selisih Rata-rata ................................................... 4.6 Pembahasan Hasil Penelitian .................................................. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ............................................................................. 5.2 Saran ......................................................................................

75

76 78

78

80

81

83 84 84 85 85 86

96 97

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. LAMPIRAN-LAMPIRAN

99

xii

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 1 Rancangan Eksperimen ................................................................ Tabel 2 Tabel 3 Kriteria Hasil Belajar ................................................................... Daftar Kelompo 65 66 68 69 71 43 57

k Kontrol dan Eksperimen ............................................................................ Tabel 4 Tabel 5 Tabel 6 Tabel 7 Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Pertemuan I (Pertama)............. Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Pertemuan II (Kedua) .............. Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Pertemuan III (Ketiga)............. Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Keseluruhan Materi ................

Tabel 8 Distribusi Tingkat Kecenderungan Data Kelompok Kontrol Pertemuan I (Pertama) ................................................................... Tabel 9 Distribusi Tingkat Kecenderungan Data Kelompok Kontrol Pertemuan II (Kedua) .................................................................... Tabel 10 Distribusi Tingkat Kecenderungan Data Kelompok Kontrol Pertemuan III (Ketiga)................................................................... Tabel 11 Distribusi Tingkat Kecenderungan Data Kelompok Kontrol Keseluruhan Materi ...................................................................... Tabel 12 Distribusi Tingkat Kecenderungan Data Kelompok Eksperimen Pertemuan I (Pertama) ................................................................... Tabel 13 Distribusi Tingkat Kecenderungan Data Kelompok Eksperimen Pertemuan II (Kedua) .................................................................... Tabel 14 Distribusi Tingkat Kecenderungan Data Kelompok Eksperimen Pertemuan III (Ketiga)................................................................... Tabel 15 Distribusi Tingkat Kecenderungan Data Kelompok Eksperimen Keseluruhan Materi ...................................................................... Tabel 16 Hasil Pengamatan Proses (Respons Mahasiswa) ...........................
xiii

72

74

75

77

79

80

82

83 90

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 1 Cara Sipat Datar ......................................................................... Gambar 2 Cara Trigonometris .................................................................... Gambar 3 Prinsip Penentuan Beda Tinggi................................................... Gambar 4 Penyipat Datar Dari sebuah Bejana ............................................ Gambar 5 Penyipat Datar Dari Selang Plastik ............................................ Gambar 6 Penyipat Datar Dari Kayu / Logam ............................................ Gambar 7 Penyipat Datar Optik ................................................................ Gambar 8 Pengukuran Sipat Datar Profil Memanjang ................................ Gambar 9 Pengukuran Sipat Datar Profil Melintang .................................. Gambar 10 Pengukuran Sipat Datar Luas ................................................... Gambar 11 Pengukuran Sipat Datar Resiprokal .......................................... Gambar 12 Pengukuran Sipat Datar Teliti ................................................... Gambar 13 Histogram Distribusi Hasil Belajar Pertemuan I (Pertama) ....... Gambar 14 Histogram Distribusi Hasil Belajar Pertemuan II (Kedua) ......... Gambar 15 Histogram Distribusi Hasil Belajar Pertemuan III (Ketiga) ....... Gambar 16 Histogram Distribusi Hasil Belajar Keseluruhan Materi .......... Gambar 17 Grafik Tingkat Kecenderungan Data Hasil Belajar Kelompok Kontrol Pertemuan I (Pertama) ................................................... Gambar 18 Grafik Tingkat Kecenderungan Data Hasil Belajar Kelompok Kontrol Pertemuan II (Kedua) .................................................... 33 34 35 35 36 36 36 37 38 38 39 39 67 68 70 71

73

75

xiv

Gambar 19 Grafik Tingkat Kecenderungan Data Hasil Belajar Kelompok Kontrol Pertemuan III (Ketiga) ................................................... Gambar 20 Grafik Tingkat Kecenderungan Data Hasil Belajar Kelompok Kontrol Pada Keseluruhan Materi ............................................... Gambar 21 Grafik Tingkat Kecenderungan Data Hasil Belajar Kelompok Eksperimen Pertemuan I (Pertama) ............................................. Gambar 22 Grafik Tingkat Kecenderungan Data Hasil Belajar Kelompok Eksperimen Pertemuan II (Kedua) .............................................. Gambar 23 Grafik Tingkat Kecenderungan Data Hasil Belajar Kelompok Eksperimen Pertemuan III (Ketiga) ............................................. Gambar 24 Grafik Tingkat Kecenderungan Data Hasil Belajar Kelompok Eksperimen Pada Keseluruhan Materi ........................................

76

78

80

81

83

84

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Kisi-kisi uji instrumen untuk membagi kelompok Lampiran 2. Soal-soal uji instrumen untuk membagi kelompok Lampiran 3. Lembar jawaban Lampiran 4. Kunci jawaban Lampiran 5. Hasil analisis uji coba soal Lampiran 6. Perhitungan validitas butir soal Lampiran 7. Perhitungan reliabilitas soal Lampiran 8. Perhitungan daya pembeda soal Lampiran 9. Perhitungan tingkat kesukaran soal Lampiran 10. Kriteria soal yang dipergunakan Lampiran 11. Kisi-kisi soal untuk membagi kelompok Lampiran 12. Soal-soal instrumen penelitian Lampiran 13. Lembar jawaban Lampiran 14. Kunci jawaban Lampiran 15. Hasil analisis uji coba soal Lampiran 16. Uji kesepadanan sampel dengan pola matching group design Lampiran 17. Uji t-matching Lampiran 18. Daftar kelompok kontrol dan eksperimen Lampiran 19. Kisi-kisi uji coba soal instrumen penelitian Lampiran 20. Soal-soal uji coba instrumen Lampiran 21. Lembar jawaban Lampiran 22. Kunci jawaban

xvi

Lampiran 23. Hasil analisis uji coba soal instrumen Lampiran 24. Perhitungan validitas butir soal Lampiran 25. Perhitungan reliabilitas soal Lampiran 26. Perhitungan daya pembeda soal Lampiran 27. Perhitungan tingkat kesukaran soal Lampiran 28. Kriteria soal yang dipergunakan Lampiran 29. Kisi-kisi soal instrumen penelitian Lampiran 30. soal-soal instrumen penelitian Lampiran 31. Lembar jawaban Lampiran 32. Kunci jawaban Lampiran 33. Hasil analisis soal instrumen penelitian Lampiran 34. Data hasil belajar pokok bahasan pengukuran sipat datar Lampiran 35. Uji normalitas data kelompok kontrol Lampiran 36. Uji normalitas data kelompok eksperimen Lampiran 37. Uji perbedaan dua rata-rata Lampiran 38. Tabel kritik uji t Lampiran 39. Estimasi Selisih rata-rata Lampiran 40. Surat tugas pembimbing Lampiran 41. Naskah Audio-Visual Lampiran 42. Transparansi

xvii

Budiyarto, Agus Dwi. 2005. Studi Komparasi Hasil Belajar Mata Kuliah Ilmu Ukur Tanah Antara Mahasiswa Yang Diajar Dengan Menggunakan Media OHP dan Media Audio-visual Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Semarang Skipsi : Pendidikan Teknik Bangunan Fakultas Teknik Universitas Negeri semarang.

xviii

PELAKSANAAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI (KBK) BIDANG STUDI GEOGRAFI KELAS X MATERI POKOK LITOSFER TAHUN AJARAN 2004 / 2005 DI SMA NEGERI 2 REMBANG

SKRIPSI
Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Universitas Negeri Semarang

Oleh

xix

Yunia Iswandari NIM 3201401009

FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2005 LEMBAR BIMBINGAN Skripsi : Studi Komparasi Hasil Belajar mata Kuliah Ilmu Ukur Tanah Antara Mahasiswa Yang Diajar Dengan Menggunakan Media OHP dan Media Audio-Visual Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Semarang
Nama : Agus Dwi Budiyarto NIM : 5114000017 Prodi : PTB No Tanggal Keterangan Paraf

xx

Pembimbing I

Ir. Ispen Safrel, M.Si NIP. 131 781 327

LEMBAR BIMBINGAN Skripsi : Studi Komparasi Hasil Belajar mata Kuliah Ilmu Ukur Tanah Antara Mahasiswa Yang Diajar Dengan Menggunakan Media OHP dan Media Audio-Visual Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Semarang
Nama : Agus Dwi Budiyarto NIM : 5114000017 Prodi : PTB

No

Tanggal

Keterangan

Paraf

xxi

Penguji II

Drs. FR. Sri Sartono, M.Pd NIP. 130 515 780

LEMBAR BIMBINGAN Skripsi : Studi Komparasi Hasil Belajar mata Kuliah Ilmu Ukur Tanah Antara Mahasiswa Yang Diajar Dengan Menggunakan Media OHP dan Media Audio-Visual Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Semarang
Nama : Agus Dwi Budiyarto NIM : 5114000017 Prodi : PTB

No

Tanggal

Keterangan

Paraf

xxii

Penguji III

Ir. Saratri Wilonoyudho, M.Si NIP. 131 781 317

xxiii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) mata kuliah ilmu ukur tanah menyebutkan bahwa mata kuliah ini adalah mata kuliah yang membahas dasardasar pengukuran tanah. Secara tradisional pengukuran tanah didefinisikan sebagai ilmu dan seni menentukan letak nisbi dari titik-titik di atas, pada dan di bawah permukaan bumi, sedangkan secara umum dianggap sebagai ilmu yang meliputi semua metode untuk pengumpulan dan pemrosesan informasi tentang bumi dan lingkungan fisis (Brinker 1986:3). Materi ilmu ukur tanah mencakup empat pokok bahasan yaitu pengenalan ilmu ukur tanah, pengukuran sipat datar, pengukuran poligon dan pemetaan. Proses belajar mengajar atau proses pengajaran merupakan suatu kegiatan melaksanakan kurikulum suatu lembaga, agar dapat mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Sedangkan tujuan dari pengajaran mata kuliah ilmu ukur tanah yang terdapat dalam GBPP adalah agar mahasiswa dapat mengetahui dan menguraikan cara pengukuran tanah yang meliputi pengukuran titik kontrol horizontal, pengukuran titik kontrol tinggi dan pemetaan situasi. Untuk mencapai apa yang diharapkan GBPP maka, proses belajar mengajar di kampus selalu diupayakan perbaikan agar diperoleh hasil yang sebaikbaiknya. Hasil yang baik dapat dicapai apabila didukung semua

1
xxiv

komponen proses belajar mengajar yang baik. Komponen-komponen belajar mengajar tersebut merupakan lingkungan pengajaran yang dibuat oleh pengajar, meliputi tujuan pengajaran, bahan pengajaran, metodologi pengajaran dan penilaian akhir (evaluasi). Tujuan pengajaran adalah rumusan kemampuan yang diharapkan dimiliki para siswa setelah menempuh berbagai pengalaman belajar (pada akhir pengajaran). Bahan pengajaran adalah seperangkat materi keilmuan yang terdiri atas fakta, konsep, prinsip dan generalisasi suatu ilmu pengetahuan yang bersumber dari kurikulum dan dapat menunjang tercapainya pengajaran. Metodologi pengajaran adalah metode dan teknik yang digunakan pengajar dalam melakukan interaksi dengan siswa agar bahan pengajaran sampai kepada siswa, sehingga siswa menguasai tujuan pengajaran. Dalam metodologi pengajaran ada dua aspek yang paling menonjol yaitu metode dan media pengajaran sebagai alat bantu mengajar. Sedangkan penilaian pengajaran (evaluasi) adalah alat untuk mengukur atau menentukan taraf tercapai-tidaknya tujuan pengajaran. Dari beberapa penelitian yang dilakukan oleh Safrel dan Luthfi pada mahasiswa Pendidikan Teknik Bangunan, diantaranya adalah : 1. Safrel, Ispen. 1989. Hambatan Bagi Mahasiswa Jurusan Pendidikan Teknik Bangunan FPTK IKIP Semarang Dalam Melaksanakan Praktek Ilmu Ukur Tanah. Intisari : Hasil penelitian menunjukkan bahwa hambatan dari dalam diri mahasiswa sendiri adalah sebagai berikut : yang merasa sangat banyak hambatan

xxv

8,33 %, banyak hambatan 47,22 %, sedikit hambatan 30,56 % dan tidak ada hambatan 8,33 %. Sedangkan hambatan dari luar mahasiswa menunjukkan yang merasa sangat banyak hambatan 2,78 %, banyak hambatan 44,44 %, sedikit hambatan 44,44 % dan tidak ada hambatan 8,33 %. 2. Safrel, Ispen. 2001. Meningkatkan Ketrampilan Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik UNNES Dalam Praktek Ilmu Ukur Tanah Melalui Strategi CUL (Contoh Latihan Uraian) Aplikatif. Intisari : Hasil analisa data pretest dan postest menunjukkan bahwa kenaikan materi praktek sipat datar sebesar 3,46 % termasuk kategori sangat kurang. 3. Luthfi, Abdullah. 2003. Penggunaan Sistem Tutorial Pada Praktek Ilmu Ukur Tanah Materi Poligon dan Sipat Datar Memanjang Terhadap Hasil Belajar Mahasiswa Pendidikan Teknik Bangunan Semester Gasal Tahun 2002 Universitas Negeri Semarang. Intisari : Hasil data analisa pretest dan postest pada siklus pertama menunjukkan kenaikan hasil belajar sebesar 1,33 dan kenaikan hasil belajar pada siklus kedua sebesar 2,05. Pada pembahasan juga dijelaskan bahwa selama kegiatan praktek di lapangan banyak mahasiswa yang belum paham tentang cara-cara penggunaan. Dari beberapa hasil penelitian di atas dapat diketahui bahwa pada mata kuliah praktek ilmu ukur tanah terdapat mahasiswa yang belum bisa mendapatkan hasil belajar maksimal serta masih rendahnya

pengetahuan mahasiswa tentang materi ilmu ukur tanah. Rendahnya

xxvi

pengetahuan mahasiswa sangat berkaitan dengan pembelajaran semester sebelumnya yaitu teori ilmu ukur tanah. Mahasiswa belum bisa menyerap materi mata kuliah ilmu ukur tanah dengan baik sehingga dalam praktek banyak mahasiswa yang masih kesulitan mangaplikasikan teori kedalam kegiatan praktek di lapangan. Pada Jurusan Teknik Sipil Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Semarang, pengajaran mata kuliah Ilmu Ukur Tanah disampaikan dengan menggunakan media OHP. Penggunaan media audio-visual sebenarnya juga dapat digunakan mengingat peralatan audio-visual berupa televisi dan VCD player juga tersedia. Namun kenyataannya penggunaan media audiovisual masih jarang dipakai. Oleh karenanya perlu dicoba menggunakan media lain selain media OHP. Bertolak dari paparan diatas, penulis bermaksud melakukan penelitian dengan judul STUDI KOMPARASI HASIL BELAJAR MATA KULIAH ILMU UKUR TANAH ANTARA MAHASISWA YANG DIAJAR DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA OHP DAN MEDIA AUDIO-VISUAL PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK BANGUNAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

xxvii

1.2 Permasalahan

Berdasarkan hal-hal yang diuraikan pada latar belakang masalah maka timbul permasalahan yaitu adakah perbedaan hasil belajar mata kuliah ilmu ukur tanah antara mahasiswa yang diajar dengan menggunakan media OHP dan media audio-visual Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Semarang

1.3 Penegasan Judul Agar tidak terjadi penafsiran yang berbeda dalam rangka membatasi ruang lingkup permasalahan terhadap judul skripsi, maka penulis memberikan penegasan judul sebagai berikut : 1. Studi Komparasi Menurut Arikunto (1998:28) studi komparasi adalah suatu penyelidikan untuk membandingkan dua perkara atau lebih. Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan studi komparasi adalah membandingkan hasil belajar mahasiswa yang diajar dengan menggunakan media OHP dan media audio-visual. 2. Hasil Belajar Hasil belajar adalah hasil belajar akademik yang ditunjukkan dengan nilai tes, yang merupakan hasil belajar berupa kemampuan kognitif atau perubahan kemampuan siswa setelah mengalami proses belajar mengajar dalam waktu tertentu (Sudjana 1989:22).

xxviii

3. Ilmu Ukur Tanah

Ilmu yang mempelajari tentang pengukuran-pengukuran yang diperlukan untuk menentukan letak relatif titik-titik diatas, pada atau dibawah permukaan tanah atau sebaliknya dengan memasang titik-titik tersebut dilapangan (Brinker 1986:3). Dalam penelitian ini materi yang dijadikan penelitian dibatasi pada pokok bahasan pengukuran sipat datar.

4. Media OHP Media OHP adalah media komunikasi visual yang dipergunakan untuk memproyeksikan obyek yang tidak bergerak (diam) yang tembus cahaya (transparan) yang diletakkan merata pada alas transparansi untuk

memproyeksikan pada layar (Daryanto 1993:143). 5. Media Audio-Visual

Media audio-visual adalah media komunikasi yang audible artinya dapat didengar dan visible artinya dapat dilihat (Suleiman 1981:11). Dalam penelitian ini media audio-visual yang akan digunakan berwujud VCD.

xxix

1.4 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada-tidaknya perbedaan hasil belajar mata kuliah ilmu ukur tanah antara mahasiswa yang diajar dengan menggunakan media OHP dan media audio-visual Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Semarang.

1.5 Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi :

1.5.1 Dosen Sebagai bahan pertimbangan tentang pemilihan metode dan media pengajaran yang tepat pada mata kuliah ilmu ukur tanah.

1.5.2 Mahasiswa 1. Untuk mempermudah pemahaman mahasiswa terhadap materi mata kuliah Ilmu Ukur Tanah sehingga dapat memacu prestasi belajar mahasiswa. 2. Dengan kemudahan memahami konsep materi mata kuliah Ilmu Ukur Tanah diharapkan mahasiswa dapat mengetahui dan menguraikan cara pengukuran tanah.

1.6 Sistematika Skripsi Untuk memudahkan dalam memahami isi skripsi ini, maka perlu disusun sebuah sistematika. Sistematika ini terdiri dari tiga bagian yaitu bagian pendahuluan, bagian inti dan bagian akhir skripsi.
xxx

1.6.1 Bagian pendahuluan skripsi yang berisi : Halaman judul, halaman pengesahan, motto dan persembahan, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar dan daftar lampiran. 1.6.2 Bagian inti skripsi yang terdiri atas :

1.6.2.1 Pendahuluan yang berisi : Latar belakang masalah, permasalahan, penegasan judul, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika skripsi. 1.6.2.2 Landasan Teori yang berisi : Hakikat belajar mengajar, proses belajar mengajar, hasil belajar, faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar, peranan media dalam proses pembelajaran, media pembelajaran, ringkasan materi pokok bahasan pengukuran sipat datar, kerangka berpikir dan hipotesis. 1.6.2.3 Metodologi Penelitian yang berisi : Jenis penelitian, rancangan penelitian, populasi dan sampel, variabel penelitian, teknik pengumpulan data, analisis perangkat instrumen, teknik analisis data dan uji hipotesis. 1.6.2.4 Hasil Penelitian dan Pembahasan yang berisi : Hasil penelitian dan pembahasan. 1.6.2.5 Penutup yang berisi : Kesimpulan dan saran. 1.6.3 Bagian akhir skripsi yang berisi : Daftar pustaka, yaitu tentang buku-buku yang digunakan sebagai sumber. Lampiran-lampiran berupa bahan pendukung
xxxi

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Hakikat Belajar dan Mengajar

2.1.1 Belajar Menurut Jamarah (2002:13) belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotor. Namun demikian, tidak semua perolehan yang baru pada tingkah laku manusia dapat disebut sebagai hasil belajar, maka sesuatu yang baru pada tingkah laku itu harus memenuhi ciri-ciri sebagai berikut : 1. Perubahan yang terjadi secara sadar Ini berarti individu yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan itu atau sekurang-kurangnya individu merasakan telah terjadi adanya suatu perubahan dalam dirinya. 2. Perubahan dalam belajar bersifat fungsional Sebagai hasil belajar, perubahan yang terjadi dalam diri individu berlangsung terus menerus dan tidak statis. Suatu perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya dan akan berguna bagi kehidupan ataupun proses belajar mengajar berikutnya. 3. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif

xxxii

Dalam perbuatan belajar, perubahan-perubahan itu selalu bertambah dan tertuju untuk memperoleh sesuatu Dengan demikian, makin banyak 9 yang lebih baik dari sebelumnya. usaha belajar itu dilakukan, makin

banyak dan makin baik perubahan yang diperoleh. Perubahan yang bersifat aktif artinya bahwa perubahan itu tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan karena usaha individu sendiri. 4. Perubahan dalam belajar tidak bersifat sementara Perubahan yang bersifat sementara (temporer) yang terjadi hanya untuk beberapa saat saja, seperti berkeringat, keluar air mata, menangis dan sebagainya tidak dapat digolongkan sebagai perubahan dalam pengertian belajar. Perubahan yang terjadi karena proses belajar bersifat menetap atau permanen. 5. Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah Ini berarti perubahan tingkah laku itu terjadi karena ada tujuan yang akan dicapai. Perubahan belajar terarah pada perubahan tingkah laku yang benar-benar disadari. 6. Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku Perubahan yang diperoleh individu setelah melalui suatu proses belajar meliputi perubahan secara keseluruhan tingkah laku. Jika seseorang belajar sesuatu, sebagai hasilnya dia akan mengalami perubahan tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap kebiasaan, ketrampilan, pengetahuan dan sebagainya. Menurut W.H. Burton yang dikutip Usman dan Setiawati (1993:4) mengatakan bahwa belajar sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya sehingga mereka lebih mampu berinteraksi dengan lingkungannya. Nasution
xxxiii

(1984:67) juga menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses yang kompleks, terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup sejak dia masih bayi hingga keliang lahat nanti. Dengan demikian belajar dapat diartikan sebagai serangkaian kegiatan jiwa dan raga untuk memperoleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari hubungan dengan individu atau dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotor serta berlangsung seumur hidup.

2.1.2 Mengajar Mengajar adalah menyajikan ide, problem atau pengetahuan dalam bentuk yang sederhana sehingga dapat dipahami oleh setiap siswa. Pendapat ini dikemukakan oleh Jerome S. Bruner yang dikutip Usman dan Setiawati (1993:5). Sedangkan menurut W. H. Burton, mengajar adalah membimbing siswa dalam kegiatan belajar mengajar (Usman 1993:6). Dari pendapat kedua pakar tadi dapat dikatakan bahwa mengajar pada prinsipnya adalah membimbing siswa dalam kegiatan belajar mengajar yang disajikan berupa ide, problem atau pengetahuan yang sederhana sehingga mudah dipahami siswa. Jadi mengajar bukan sekedar proses penyampaian ilmu pengetahuan saja, melainkan mengandung makna yang lebih luas dan komplek, yaitu terjadinya komunikasi dan interaksi manusiawi dalam berbagai aspeknya, sehingga seorang pengajar dituntut untuk dapat berperan sebagai organisator kegiatan belajar mengajar siswa yang mampu memanfaatkan lingkungan, baik yang terdapat didalam kelas maupun diluar kelas. Pemahaman akan pengertian dan pandangan pengajar terhadap mengajar akan mempengaruhi peranan dan aktivitasnya dalam mengajar. Sebaliknya, aktivitas pengajar dalam mengajar serta aktivitas siswa dalam belajar bergantung pula pada

xxxiv

pemahaman pengajar terhadap mengajar. Untuk dapat melakukan pengajaran dengan baik diperlukan metodologi pengajaran yang merupakan metode dan teknik yang digunakan pengajar dalam melakukan interaksinya dengan siswa agar bahan ajar sampai kepada siswa, sehingga siswa menguasai tujuan pengajaran. Dalam metodologi pengajaran terdapat dua aspek yaitu metode mengajar dan media pengajaran sebagai alat bantu mengajar. Dapat dikatakan bahwa media pengajaran mempunyai kedudukan sebagai alat bantu mengajar dalam komponen metodologi pengajaran, sebagai salah satu lingkungan belajar yang diatur oleh pengajar (Sudjana dan Rivai 1989:1). Untuk itu pemilihan media pengajaran yang tepat akan dapat menunjang metode mengajar yang dipergunakan pengajar sehingga bisa didapatkan hasil belajar yang baik sesuai dengan tujuan pengajaran.

2.2 Proses Belajar Mengajar Pengajaran atau proses belajar mengajar (PBM) pada hakekatnya adalah pelaksanaan kurikulum oleh guru dalam lingkup yang lebih khusus dan terbatas. Belajar dan mengajar merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain dalam proses pengajaran. Interaksi belajar mengajar yang menjadi persoalan utama adalah adanya proses belajar pada siswa yaitu proses perubahan tingkah laku siswa melalui berbagai pengalaman yang diperolehnya. Mengajar adalah kegiatan dan pekerjaan yang harus dilakukan oleh guru dalam proses pengajaran. Pada hakekatnya juga suatu proses mengatur, mengorganisasikan lingkungan yang ada disekitar siswa sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong siswa melakukan proses belajar mengajar. Dalam hal ini guru juga merupakan sebagai aktifator dan dinamisator agar siswa dapat

xxxv

berhasil dalam belajarnya. Dalam proses belajar mengajar harus dipenuhi empat komponen utama yaitu : tujuan, bahan, metode dan alat penilaian. Keempat komponen tersebut tidak berdiri sendiri tetapi saling berhubungan dan saling mempengaruhi satu sama lain (Sudjana 1989:30). Tujuan dalam proses belajar mengajar merupakan komponen yang harus ditetapkan dalam pengajaran. Tujuan berfungsi sebagai indikator keberhasilan pengajaran. Tujuan ini pada dasarnya merupakan rumusan tingkah laku kemampuan yang hendak dicapai setelah siswa menyeleksi pengalaman dalam proses pengajaran. Isi tujuan pengajaran pada hakekatnya adalah hasil belajar yang diharapkan. Bahan pelajaran merupakan sesuatu yang diharapkan dapat mewarnai tujuan, mendukung tercapainya tujuan atau tingkah laku yang diharapkan dimiliki siswa. Metode dan alat berfungsi sebagai jembatan dan media transformasi pelajaran terhadap tujuan yang ingin dicapai serta alat yang digunakan harus benar-benar efektif dan efisien. Jadi pemilihan alat pengajaran khususnya media harus memerlukan pertimbangan yang seksama agar lebih efektif. Sedangkan penilaian berperan sebagai barometer untuk mengukur tercapai tidaknya tujuan pengajaran.

2.3 Hasil belajar Hasil belajar merupakan hasil belajar akademik yang ditunjukkan dengan nilai tes (Sudjana 1989:22). Hasil belajar mencakup tiga ranah (domain) atau sasaran yaitu ranah kognitif (pengetahuan), ranah afektif (sikap) dan ranah psikomotor (ketrampilan). Menurut Bloom yang dikutip Sudjana (1989:49), ranah kognitif meliputi :

xxxvi

1. Pengetahuan (knowledge) Pengetahuan didefinisikan sebagai perilaku mengingat atau mengenali informasi (materi pelajaran) yang telah dipelajari sebelumnya. Pengetahuan ini meliputi pengingatan kembali tentang rentangan materi yang luas, mulai dari fakta spesifik sampai teori yang kompleks. Pengetahuan mencerminkan tingkat hasil belajar paling rendah pada ranah kognitif. 2. Pemahaman (comprehension) Pemahaman didefinisikan sebagai kemampuan memperoleh makna dari materi pelajaran. Hal ini ditunjukkan melalui penerjemahan materi pembelajaran dan melalui mengestimasikan kecenderungan masa depan. Hasil belajar ini berada pada satu tahap diatas pengingatan materi sederhana dan mencerminkan tingkat pemahaman yang paling rendah. 3. Penerapan (aplication) Penerapan mengacu pada kemampuan menggunakan materi pembelajaran yang telah dipelajari didalam situasi baru dan konkrit. Hal ini mencakup penerapan hal-hal seperti aturan, metode, konsep, prinsip-prinsip, dalil dan teori. Hasil belajar dibidang ini memerlukan tingkat pemahaman yang lebih tinggi daripada tingkat pemahaman paling rendah. 4. Analisis (analysis) Analisis mengacu pada kemampuan memecahkan material kedalam bagian-bagian sehingga dapat dipahami struktur organisasinya. Hal ini mencakup identifikasi bagian-bagian, analisis hubungan antar bagian dan mengenali prinsip-

xxxvii

prinsip pengorganisasian. Hasil belajar ini mencerminkan tingkat intelektual lebih tinggi daripada pemahaman dan penarapan, karena memerlukan pemahaman isi dan bentuk struktural materi pembelajaran yang telah dipelajari. 5. Sintesis (synthesis) Sintesis mengacu pada kemampuan menggabungkan bagian-bagian dalam rangka membentuk struktur yang baru. Hal ini mencakup produksi komunikasi yang unik (tema atau percakapan), perencanaan operasional, atau seperangkat hubungan yang abstrak (skema untuk mengklasifikasi informasi). Hasil belajar bidang ini menekankan perilaku kreatif, dengan penekanan dasar pada pembentukan struktur atau pola-pola baru. 6. Penilaian (evaluation) Penilaian mengacu pada kemampuan membuat keputusan tentang nilai materi pembelajaran untuk tujuan tertentu. Keputusan itu didasarkan pada kriteria tertentu. Kriteria itu mungkin berupa kriteria internal (organisasi) atau kriteria eksternal (relevansi terhadap tujuan) dan pembelajar dapat menetapkan kriteria sendiri. Hasil belajar dibidang ini adalah paling tinggi didalam hierarki kognitif karena berisi unsur-unsur seluruh kategori tersebut dan ditambah dengan keputusan tentang nilai yang didasarkan pada secara jelas. Hasil belajar Ranah Afektif (sikap), menurut Kratwohl yang dikutip Purwanto (1989:47), merupakan hasil belajar yang paling sukar diukur. Tujuan kriteria yang telah ditetapkan

xxxviii

pembelajaran ini berhubungan dengan perasaan, sikap, minat dan nilai. Tujuan pembelajaran ranah afektif meliputi : 1. Penerimaan (receiving) Penerimaan mengacu pada keinginan siswa untuk menghadirkan rangsangan atau fenomena tertentu. Dari sudut pandang pembelajaran, ia berkaitan dengan memperoleh, menangani dan mengarahkan perhatian siswa. Hasil belajar ini berentangan dari kesadaran sederhana tentang adanya sesuatu sampai pada perhatian selektif yang menjadi bagian milik individu siswa. Penerimaan ini mencerminkan tingkat hasil belajar paling rendah dalam ranah afektif. 2. Penanggapan (responding) Penanggapan mengacu pada partisipasi aktif pada diri siswa. Pada tingkat ini siswa tidak hanya menghadirkan fenomena tertentu tetapi juga mereaksinya dengan berbagai cara. Hasil belajar dibidang ini adalah penekanan pada kemahiran merespon, keinginan merespon, atau kepuasan dalam merespon . tingkat yang lebih tinggi dari kategori ini adalah mencakup tujuan pembelajaran yang umumnya diklasifikasikan kedalam minat siswa, yakni minat yang menekankan pencarian dan penikmatan kegiatan tertentu. 3. Penilaian (valuing) Penilaian berkaitan dengan harga atau nilai yang melekat pada objek, fenomena atau perilaku tertentu pada diri siswa. Penilaian ini berentangan dari penerimaan nilai yang lebih sederhana, sampai pada tingkat kesepakatan yang kompleks. Penilaian didasarkan pada internalisasi seperangkat nilai tertentu,

xxxix

namun menunjukkan nilai-nilai yang diungkapkan didalam perilaku yang ditampakkan oleh siswa. Hasil belajar dibidang ini dikaitkan dengan perilaku yang konsisten dan cukup stabil didalam membuat nilai yang dapat dikenali secara jelas. Tujuan pembelajaran ini diklasifikasi kedalam sikap dan apresiasi akan masuk kedalam kategori ini. 4. Pengorganisasian (organization) pengorganisasian berkaitan dengan perangkaian nilai-nilai yang berbeda, memecahkan kembali konflik-konflik antar nilai dan mulai menciptakan sistem nilai yang konsisten secara internal. Hasil belajar dapat berkaitan dengan konseptualisasi nilai atau pengorganisasian sistem nilai. Tujuan pembelajar yang yang berkaitan dengan pengembangan pandangan hidup dapat dimasukkan dalam kategori ini. 5. Pembentukan pola hidup (organization by a value complex) Pada tingkat ranah afektif ini, individu siswa memiliki sistem nilai yang telah mengendalikan perilakunya dalam waktu cukup lama sehingga mampu mengembangkannya manjadi karakteristik gaya hidupnya. Perilaku pada tingkat ini adalah bersifat persuasif, konsisten dan dapat diramalkan. Hasil belajar pada tingkat ini mencakup pelbagai aktivitas yang luas, namun penekanan dasarnya adalah pada kekhasan perilaku siswa atau siswa memiliki karakteristik yang khas. Hasil belajar Ranah Psikomotor (ketrampilan) menurut Simpson yang dikutip Sudjana (1989:49) menunjukkan adanya kemampuan fisik seperti

xl

kemampuan motorik dan syaraf, manipulasi objek dan koordinasi syaraf. Tujuan pembelajaran ranah psikomotor meliputi : 1. Persepsi (perception) Persepsi ini berkaitan dengan penggunaan organ penginderaan untuk memperoleh petunjuk yang memandu kegiatan motorik. Kategori ini berentangan dari rangsangan penginderaan melalui memberi petunjuk pemilihan sampai penerjemahan . 2. Kesiapan (set) Kesiapan mengacu pada pengambilan tipe kegiatan tertentu. Kategori ini mencakup kesiapan mental, kesiapan jasmani dan kesiapan mental. Pada tingkat ini persepsi terhadap petunjuk itu menjadi prasyarat penting. 3. Gerakan terbimbing (guided response) Gerakan terbimbing berkaitan dengan tahap-tahap awal didalam belajar ketrampilan kompleks. Ia meliputi peniruan dan mencoba-coba. Kecukupan unjuk kerja ditentukan oleh guru atau oleh seperangkat kriteria tertentu. 4. Gerakan terbiasa (mechanism) Gerakan terbiasa berkaitan dengan tindakan unjuk kerja dimana gerakan yang telah dipelajari itu telah menjadi biasa dan gerakan dapat dilakukan dengan sangat meyakinkan dan mahir. Hasil belajar pada tingkat ini berkaitan dengan ketrampilan unjuk kerja dari pelbagai tipe, namun pola-pola gerakannya kurang kompleks dibandingkan dengan tingkatan berikutnya yang lebih tinggi. 5. Gerakan kompleks (complex overt response)

xli

Gerakan kompleks berkaitan dengan kemahiran unjuk kerja dari tindakan motorik yang mencakup pola-pola gerakan yang kompleks. Kecakapan ditunjukkan melalui kecepatan, kehalusan, keakuratan dan yang memerlukan energi minimum. Kategori ini mencakup pemecahan hal-hal yang tidak menentu dan unjuk kerja otomatis. Hasil belajar pada tingkat ini mencakup kegiatan motorik yang sangat terkoordinasi. 6. Penyesuaian (adaption) Penyesuaian berkaitan dengan ketrampilan yang dikembangkan sangat baik sehingga individu siswa dapat memodifikasi pola-pola gerakan sesuai dengan persyaratan-persyaratan baru atau ketika menemui situasi/ masalah baru. 7. Kreativitas (originality) Kreativitas mengacu pada penciptaan pola-pola gerakan baru untuk disesuaikan dengan situasi tertentu atau masalah-masalah tertentu. Hasil belajar pada tingkat ini menekankan aktivitas yang didasarkan pada ketrampilan yang benar-benar telah dikembangkan. Mengingat sukarnya menilai semua ranah hasil belajar dan keterbatasan peneliti, maka dalam penelitian ini tingkat keberhasilan yang diukur dibatasi dalam tiga kemampuan kognitif yaitu pengetahuan, pemahaman dan penerapan (aplikasi).

2.4 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar Menurut Jamarah (2002:143), secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar diikhtisarkan sebagai berikut :

xlii

Fisiologis

- Konsisi fisiologi umum - Kondisi panca indra


Kecerdasan Bakat Minat Motivasi Emosi Kemampuan kognitif

Dalam

Psikologis Faktor Lingkungan Luar Instrumental

- Alami - Sosial
Kurikulum Program Sarana dan Fasilitas Tenaga pengajar

Faktor-faktor tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Faktor Dalam, yaitu faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan belajar yang berasal dari diri siswa yang sedang belajar. Faktor ini meliputi: a. Kondisi Fisiologis Kondisi fisiologis umumnya sangat berpengaruh terhadap belajarnya seseorang. Dalam keadaan segar jasmaninya, biasanya orang akan dapat belajar lebih baik dibandingkan dengan orang yang sedang sakit atau lelah. Demikian juga orang yang yang kekurangan gizi akan cepat lelah kemampuan belajarnya. Selain kondisi fisiologis umum itu, kondisi panca indra akan sangat besar pengaruhnya terhadap kemampuan belajar terutama indra penglihatan dan indra
xliii

pendengaran. Faktor-faktor ini akan sangat menghambat proses keberhasilan belajar. b. Kondisi Psikologis Dapat dipahami bahwa keadaan fisiologis akan berpengaruh pada proses belajar yang bersifat psikologis. Beberapa faktor psikologis yang mempengaruhi proses dan hasil belajar adalah : a). Kecerdasan. Faktor ini besar peranannya terhadap keberhasilan belajar seseorang. Orang yang lebih cerdas pada umumnya akan lebih mampu belajar dari pada orang yang kurang cerdas. Dapat dikatakan bahwa orang yang lebih cerdas akan lebih cepat menguasai pelajaran dibandingkan orang yang kurang cerdas, meskipun fasilitas dan materi yang dipelajari sama. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa ada hubungan yang erat antara kecerdasan (yang dinyatakan dalam bentuk IQ) dengan hasil belajar di sekolah. b). Bakat. Disamping kecerdasan, bakat merupakan faktor yang berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar seseorang. Apabila belajar sesuai dengan bidangnya maka kemungkinan berhasil akan besar. c). Minat. Apabila seseorang mempelajari sesuatu dengan minat yang tinggi, maka dapat diharapkan bahwa hasilnya akan lebih baik. Namun sebaliknya,

xliv

apabila seseorang tidak berminat untuk mempelajari sesuatu, jangan diharapkan akan berhasil dengan baik dalam mempelajari hal itu. d). Motivasi. Merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Jadi motivasi untuk belajar adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk belajar. Umumnya persoalan mengenai motivasi untuk belajar adalah bagaimana mengatur agar motivasi dapat ditingkatkan supaya hasil belajar dapat optimal sesuai dengan kemampuan yang ada pada diri individu. Ada dua macam motivasi yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ektrinsik. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang timbul dari dalam orang yang bersangkutan, sedangkan motivasi ektrinsik adalah motivasi yang timbul akibat rangsangan dari luar, biasanya oleh orang lain. e). Emosi. Perasaan emosi yang labil, seperti mudah marah mudah tersinggung merasa tertekan, merasa tidak aman dapat mengganggu keberhasilan anak dalam belajar. Sebaliknya perasaan aman, gembira, bebas merupakan aspek yang mendukung dalam kegiatan belajar. f). Kemampuan Kognitif. Yang dimaksud dengan kemampuan kognitif disini adalah

kemampuan menalar atau penalaran yang dimiliki oleh para siswa. Kemampuan penalaran yang tinggi akan memungkinkan siswa dapat belajar lebih baik daripada siswa yang memiliki kemampuan menalar yang sedang.

xlv

Kemampuan ini bisa berkembang dengan baik apabila dibiasakan dengan latihan. 2. Faktor Luar, yaitu faktor-faktor yang berasal dari luar diri siswa yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar. Faktor-faktor tersebut antara lain : a. Faktor Lingkungan a). Lingkungan Alami Lingkungan alami yaitu kondisi alami yang dapat berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar, seperti suhu udara, cuaca, musim yang sedang berlangsung, termasuk didalamnya kejadian-kejadian alam yang ada. Udara yang segar akan memberikan kondisi yang lebih baik untuk belajar. b). Lingkungan Sosial Lingkungan sosial yang dimaksud yaitu berwujud manusia dan representasinya (wakilnya) maupun Wujud lain yang langsung berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar, seperti hubungan antara anak dan orang tua, representasi manusia seperti potret, tulisan dan rekaman atau gambar. b. Faktor Instrumental Merupakan faktor yang adanya dan penggunaannya dirancang sesuai dengan hasil belajar yang diharapkan. Faktor inilah yang dapat dimanipulasikan untuk mencapai tujuan belajar yang telah dirancang. Faktor-faktor ini antara lain : a). Kurikulum

xlvi

Kurikulum universitas yang belum mantap, sering adanya perubahan dapat mengganggu proses belajar siswa. Kurikulum yang baik, jelas dan mantap memungkinkan para siswa untuk dapat belajar lebih baik. b). Program Program pendidikan dan pengajaran di kampus yang telah dirinci dalam suatu kegiatan yang jelas, akan memudahkan siswa dalam mengikuti program tersebut. Program-program yang jelas tujuannya, sasarannya, waktunya, kegiatannya dan dapat dilaksanakan dengan mudah akan membantu siswa dalam belajar. c). Sarana dan fasilitas Keadaan tempat belajar siswa, termasuk didalamnya penerangan, ventilasi, tempat duduk dapat mempengaruhi keberhasilan belajar. Demikian juga alat-alat pelajaran yang lengkap, perpustakaan yang memadai merupakan faktor penunjang keberhasilan belajar. d). Dosen/ Tenaga Pengajar Kelengkapan jumlah dan kualitas tenaga pengajar tersebut akan mempengaruhi keberhasilan siswa dalam belajar. Disamping itu, cara pengajar mengajar akan mempengaruhi proses dan hasil belajar. Kelengkapan jumlah guru, kemampuan, kedisiplinan dan cara mengajar yang baik akan memungkinkan para siswa dapat belajar secara baik. Dalam proses belajar

xlvii

mengajar, pengajar merupakan komponen penting terhadap keberhasilan belajar siswa, terutama dalam pengajaran klasikal. Menurut Usman dan Setiawati (1993:10), faktor-faktor yang

mempengaruhi hasil belajar siswa adalah : 1. Faktor yang berasal dari diri sendiri (internal), meliputi : a. Faktor jasmaniah (fisiologis) Yang termasuk faktor ini adalah pancaindra yang tidak berfungsi sebagai mana mestinya, seperti mengalami sakit, cacat tubuh atau perkembangan yang tidak sempurna. Siswa yang tidak mempunyai cacat tubuh diharapkan akan lebih baik hasil belajarnya dibandingkan dengan siswa yang mempunyai cacat tubuh. b. Faktor psikologis baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh, terdiri atas : a). Faktor intelektif yang meliputi faktor potensial, kecerdasan dan bakat serta kecakapan nyata, yaitu prestasi yang dimiliki. Siswa yang lebih cerdas sangat dimungkinkan prestasinya lebih baik di banding anak yang kurang cerdas. b). Faktor non intelektif yaitu unsur-unsur kepribadian tertentu seperti sikap, kebiasaan, minat kebutuhan, motivasi, emosi dan penyesuaian diri. Siswa yang mempunyai kepribadian yang baik dan matang, prestasi belajarnya kemungkinan lebih baik dibanding anak yang mempunyai kepribadian yang kurang baik.

xlviii

c). Faktor kematangan fisik maupun psikis. Siswa yang mempunyai kematangan fisik maupun psikis kemungkinan berhasil menempuh belajar tentu lebih besar dari siswa yang kematangan fisik dan psikisnya kurang. 2. Faktor yang berasal dari luar diri (eksternal), meliputi : a. Faktor sosial yang terdiri dari : a). Lingkungan keluarga b). Lingkungan sekolah c). Lingkungan masyarakat d). Lingkungan kelompok b. Faktor budaya, seperti adat istiadat, ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian. c. Faktor lingkungan fisik, seperti fasilitas rumah dan fasilitas belajar. d. Faktor lingkungan spiritual atau keagamaan.

2.5 Peranan Media Dalam Proses Pembelajaran Sudjana dan Rivai (1989:47), menyatakan bahwa apa saja yang ditangkap oleh indra penglihatan akan memberikan kesan yang mendalam pada diri anak, terlebih kalau yang dilihat itu berupa hal-hal yang konkrit. Sadiman (1987:12) juga menyatakan bahwa penggunaan media dalam proses pembelajaran siswa merupakan salah satu cara penyampaian informasi berdasarkan prinsip psikologis yang menyatakan bahwa seseorang akan memperoleh pengertian lebih baik dari suatu yang dilihat daripada hanya mendengar atau membaca. Para ahli psikologi modern yang dikutip Purwanto (1989:48) menegaskan bahwa pada dasarnya manusia itu merupakan kesatuan jiwa raga yang berkaitan

xlix

dengan keseluruhan. Maksudnya yaitu apabila seseorang sedang melihat sesuatu, maka yang terjadi pada dirinya bukan hanya proses melihat melalui indra penglihatan saja, melainkan dengan seluruh minat dan perhatian yang dicurahkan pada benda atau obyek yang dilihat. Dalam buku psikologi belajar dijelaskan bahwa pada diri manusia itu terdapat unsur-unsur psikologis yang apabila dimanfaatkan secara optimal dalam belajar akan membuat hasil belajar yang diperoleh menjadi lebih baik (Purwanto 1989:71). Unsur-unsur psikologis tersebut antara lain : 1. Perhatian Menurut kenneth E. Anderson, adanya perhatian selalu disertai oleh adanya aktifitas psikis yang berupa kesadaran. Untuk itu perlu adanya stimulus dari obyek yang diperhatikan. Dengan demikian semua aktifitas belajar yang disertai perhatian intensif akan lebih berhasil dalam arti prestasinya meningkat. 2. Pengamatan Dari hasil penelitian para ahli sistem persekolahan yang ada sekarang ini menunjukkan bahwa pada umumnya para siswa masih menggunakan modalitas pengamatan (penglihatan dan pendengaran) sebagai modal utama belajar. 3. Tanggapan

Tanggapan biasanya didefinisikan sebagai gambaran yang tinggal dalam ingatan seseorang setelah melakukan pengamatan dan akan mempengaruhi hasil belajar pada masa mendatang. 4. Fantasi Fantasi merupakan kemampuan untuk membentuk tanggapan-tanggapan baru berdasarkan tanggapan yang sudah ada. 5. Ingatan Ingatan merupakan kemampuan untuk menerima, menyimpan dan

memproduksi kesan-kesan. Dalam kaitannya dengan sosialisasi, ingatan dinyatakan sebagai proses kegiatan yang saling berhubungan antara tanggapan yang satu dengan yang lainnya. (Purwanto 1989:79-81) Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa media mempunyai peranan yang sangat penting dalam pengajaran, karena dapat membantu siswa mempermudah menyerap materi pelajaran. Peranan media pendidikan dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut : 1. Meletakkan dasar-dasar yang konkrit untuk berpikir dalam upaya mengurangi verbalisme. 2. Memperbesar perhatian siswa 3. Meletakkan selanjutnya. 4. Membantu tumbuhnya pengertian, dengan demikian membantu perkembangan kemampuan berbahasa. dasar-dasar yang penting untuk perkembangan belajar

li

5. Efisiensi dan pemahaman yang mendalam serta beragam yang lebih banyak dalam belajar. Tahza dan Yahya (1982:23) menerangkan bahwa media dalam proses pembelajaran akan memberikan beberapa kelebihan sebagai berikut : 1. Menambah kegiatan belajar siswa. 2. Menghemat waktu belajar. 3. Membantu anak-anak yang ketinggalan dalam belajar. 4. Merangsang siswa agar semakin giat dalam belajar dengan jalan membangkitkan minat, perhatian, motivasi aktifitas membaca serta turut dalam keaktifan-keaktifan di kelas. Dari beberapa pendapat di atas, dapat dinyatakan bahwa media yang tepat dalam pembelajaran akan : 1. Memperbesar perhatian siswa terhadap materi pelajaran. 2. Membantu memberikan pengalaman belajar yang sulit diperoleh dengan cara lain. 3. Mengurangi verbalisme. 4. Mengatasi batas-batas ruang dan waktu. 5. Menjadikan pelajaran mudah dipahami.

2.6 Media Pembelajaran

2.6.1 Media OHP Overhead transparancy termasuk media proyeksi yang memerlukan bahan transparan untuk diproyeksikan dan
lii

memerlukan

perangkat

untuk

memproyeksikan media pengajaran. Setiap media pengajaran memiliki kelebihan dan kekurangan, demikian juga OHP. Ada beberapa kelebihan media pengajaran OHP (Sudjana dan Rivai 1989:97), antara lain : 1. Praktis, karena dapat digunakan disemua ruangan, yaitu dapat digunakan pada ruang besar maupun kecil. 2. Memberikan kemungkinan tatap muka dan mengamati respon siswa, terutama pada saat siswa sedang mencatat hal-hal penting dari layar. 3. Memberi kemungkinan siswa untuk mencatat. Dengan menggunakan media pengajaran OHP dapat memberi kesempatan siswa untuk mencatat dan biasanya susunan catatannya lebih rapi karena sudah direncanakan lebih dulu. 4. Mempunyai variasi teknik penyajian yang menarik dan tidak membosankan. 5. Memungkinkan penyajian dengan berbagai alternatif kombinasi penyajian, seperti tanya jawab, demonstrasi dan bahkan praktikum, sebagai pengantar pelajaran, inti pelajaran maupun pada saat penarikan kesimpulan suatu pokok bahasan. 6. Dapat digunakan kembali berulang-ulang, setelah dibuat seperangkat transparan akan dapat digunakan pada waktu yang akan datang. 7. Dapat disusun kembali berdasar urutan-urutan atau sekuens belajar. 8. Tidak diperlukan operator pembantu khusus, karena seorang pengajar secara sendirian dapat menggunakan metode ini. Selain kelebihan yang ada, OHP juga mempunyai kekurangan (Sudjana dan Rivai 1989:98), seperti :

liii

1. Memerlukan perangkat keras yang khusus untuk memproyeksikan pesan yang ada pada transparan yaitu OHP. 2. Memerlukan persiapan yang matang dan terencana, untuk menggunakan media pengajaran OHP maka seorang pengajar harus merencanakan apa yang akan diajarkan dengan membuat ringkasan bahan ajar pada transparan OHP. 3. Dalam penggunaannya memerlukan ketrampilan khusus dalam

mengoperasikan OHP. 4. Menuntut pengaturan ruang yang baik, apabila pengaturan ruang untuk belajar mengajar tidak baik, terutama berkaitan dengan efek pencahayaan maka akan sangat menyilaukan bagi siswa yang berada pada posisi silau. 5. Menuntut cara kerja yang sistematis dan terarah, agar diperoleh hasil yang sebaik-baiknya. Sebelum menggunakan media OHP pengajar harus

mengetahui dan menyusun hal-hal yang akan dilakukan pada saat akan, sedang dan sesudah menggunakan media OHP.

2.6.2 Media Audio-Visual Media audio-visual yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan film yang diwujudkan dalam bentuk VCD yang diputar dengan peralatan VCD player dan televisi. Seperti halnya media OHP, media audio-visual juga memiliki kelebihan dan kekurangan (Suleiman 1981:17). Kelebihan media audio-visual adalah : 1. Selain bergerak dan bersuara, film itu dapat menggambarkan suatu proses. 2. Dapat menimbulkan kesan tentang ruang dan waktu.
liv

3. Tiga dimensional dalam penggambarannya. 4. Suara yang dihasilkan dapat menimbulkan realita pada gambar dalam bentuk impresi yang murni. 5. Jika film itu tentang sesuatu, dapat menyampaikan suara seorang ahli dan sekaligus memperlihatkan penampilannya. 6. Kalau film itu berwarna, jika autentik dapat menambahkan realitas kepada medium yang sudah realistis itu. 7. Dapat menggambarkan teori sains dengan teknik animasi. Kekurangan dari media audio-visual, adalah : 1. Film bersuara tidak dapat diseling dengan keterangan-keterangan yang diucapkan selagi film diputar. Memang film dapat dihentikan sementara waktu untuk memberi penjelasan, namun hal itu akan dapat mengganggu keasyikan menonton. 2. Jalan film terlalu cepat, tidak semua orang dapat mengikutinya dengan baik. Lebih-lebih kalau film dipertunjukkan kepada orang yang kurang

pendidikannya. Mereka tidak dapat mencerna apa yang berlalu dihadapan mata mereka dalam tempo yang begitu cepat. 3. Apa yang sudah lewat tidak dapat diulang kalau ada bagian film yang harus mendapat perhatian kembali. Atau seluruh film harus diputar kembali. Biaya pembuatan film tinggi dan peralatannya mahal.

2.7 Ringkasan Materi Pokok Bahasan Pengukuran Sipat Datar 1. Pengertian-Pengertian

lv

a. Pegukuran tinggi adalah menentukan beda tinggi antara titik-titik dipermukaan bumi serta menentukan ketinggian terhadap suatu bidang referensi (bidang datum) ketinggian tertentu. b. Bidang nivo adalah suatu permukaan, dimana arah gaya berat pada setiap titiknya selalu tegak lurus. Contoh : permukaan air dalam keadaan tenang. c. Garis nivo adalah garis yang terletak pada bidang nivo. Oleh karenanya arah gaya berat disetiap titik pada garis nivo akan tegak lurus. d. Bidang mendatar adalah bidang yang menyinggung disalah satu titik pada garis nivo. e. Garis tegak adalah garis lurus yang tegak lurus terhadap bidang nivo. f. Bidang referensi/ bidang datum adalah suatu bidang nivo tertentu, sebagai dasar dimana ketinggian titik-titik mulai dihitung. g. Ketinggian adalah jarak tegak dibawah atau diatas dari bidang referensi. h. Beda tinggi adalah jarak tegak antara dua bidang nivo yang melalui kedua titik tersebut. i. Sudut tegak adalah sudut antara garis lurus yang terletak pada bidang tegak. j. Bench Mark (BM) adalah suatu titik tetap yang diketahui ketinggiannya terhadap suatu bidang referensi tertentu. 2. Metode/ Cara Pengukuran Tinggi a. Cara Sipat Datar

lvi

Gambar 1. Cara Sipat Datar b. Cara Trigonometris

h=ab

h = D.tan m h = D/ tan z Keterangan : Z = sudut Zenith Gambar 2. Cara Trigonometris c. Cara Barometris Alat yang digunakan adalah barometer. Makin tinggi tempatnya, makin kecil tekanan udaranya.

lvii

Rumus : h = -k
dp p

Keterangan : h dp k p = beda tinggi = perubahan tekanan udara = konstanta = tekanan udara

3. Maksud Pengukuran Penyipat Datar Yang dimaksud dengan pengukuran menyipat datar yaitu suatu pengukuran yang dilakukan untuk menentukan beda tinggi antara titik-titik yang ada dipermukaan tanah atau terhadap suatu ketinggian referensi tertentu. Letak yang ditentukan beda tingginya dapat : a. Terletak pada permukaan tanah b. Terletak diatas permukaan tanah c. Terletak dibawah permukaan tanah Prinsip dari penentuan beda tinggi ini adalah :

Gambar 3. Prinsip Penentuan Beda Tinggi Perbedaan tinggi antara titik A dan B adalah perbedaan tinggi bidang horizontal yang melalui titik A dan bidang horizontal yang melalui titik B.

lviii

Jika jarak titik A terhadap garis bidik = a jarak titik B terhadap garis bidik = b Jarak titik C terhadap garis bidik = c maka, beda tinggi antara A dan B = t1 = b a B dan C = t2 = b - c A dan C = t3 = a c a. Macam-Macam Alat Peyipat Datar a. Penyipat datar dari sebuah bejana

Gambar 4. Penyipat Datar Dari Sebuah Bejana b. Penyipat datar dari selang plastik

h=ab

Gambar 5. Penyipat Datar Dari Selang Plastik 4. Metode/ Cara Pengukuran Tinggi d. Cara Sipat Datar
lix

h=a-b

Gambar 1. Cara Sipat Datar e. Cara Trigonometris

h=ab

h = D.tan m h = D/ tan z Keterangan : Z = sudut Zenith Gambar 2. Cara Trigonometris f. Cara Barometris Alat yang digunakan adalah barometer. Makin tinggi tempatnya, makin kecil tekanan udaranya.

lx

Rumus : h = -k
dp p

Keterangan : h dp k p = beda tinggi = perubahan tekanan udara = konstanta = tekanan udara

5. Maksud Pengukuran Penyipat Datar Yang dimaksud dengan pengukuran menyipat datar yaitu suatu pengukuran yang dilakukan untuk menentukan beda tinggi antara titik-titik yang ada dipermukaan tanah atau terhadap suatu ketinggian referensi tertentu. Letak yang ditentukan beda tingginya dapat : d. Terletak pada permukaan tanah e. Terletak diatas permukaan tanah f. Terletak dibawah permukaan tanah Prinsip dari penentuan beda tinggi ini adalah :

Gambar 3. Prinsip Penentuan Beda Tinggi Perbedaan tinggi antara titik A dan B adalah perbedaan tinggi bidang horizontal yang melalui titik A dan bidang horizontal yang melalui titik B.

lxi

Jika jarak titik A terhadap garis bidik = a jarak titik B terhadap garis bidik = b Jarak titik C terhadap garis bidik = c maka, beda tinggi antara A dan B = t1 = b a B dan C = t2 = b - c A dan C = t3 = a c a. Macam-Macam Alat Peyipat Datar c. Penyipat datar dari sebuah bejana

Gambar 4. Penyipat Datar Dari Sebuah Bejana d. Penyipat datar dari selang plastik

h=ab

Gambar 5. Penyipat Datar Dari Selang Plastik e. Penyipat datar dari kayu / logam

h=a-b

lxii

Gambar 6. Penyipat Datar Dari Kayu atau Logam f. Penyipat datar optik

h=ab

Gambar 7. Penyipat Datar Optik b. Macam-Macam Pengukuran Menyipat Datar a. Pengukuran sipat datar memanjang (differensial levelling/ fly levelling) Pengukuran ini digunakan apabila jarak antara dua stasiun yang ditentukan beda tingginya sangat berjauhan (berada diluar jangkauan jarak pandang). Macamnya : pengukuran sipat datar memanjang berantai, pergi pulang, double stand dan keliling. a) Pengukuran sipat datar profil memanjang (profile levelling/ longitudinal
sectioning)

Pengukuran ini digunakan untuk menentukan ketinggian titik-titik sepanjang garis ukur atau as proyek.

lxiii

Gambar 8. Pengukuran Sipat Datar Profil Memanjang

b) Pengukuran sipat datar profil melintang (cross sectioning) Pengukuran ini digunakan untuk menentukan ketinggian titik-titik sepanjang garis tegak lurus as proyek.

Gambar 9. Pengukuran Sipat Datar Profil Melintang c) Pengukuran sipat datar luas Pengukuran ini digunakan untuk menentukan ketinggian titik-titik yang menyebar dengan kerapatan tertentu untuk membuat garis-garis ketinggian (kontur).

lxiv

Gambar 10. Pengukuran Sipat Datar Luas d) Pengukuran sipat datar resiprokal (resiprokal levelling) Pengukuran ini digunakan apabila alat sipat datar tidak dapat didirikan/ ditempatkan diantara dua stasiun.

Gambar 11. Pengukuran Sipat Datar Resiprokal e) Pengukuran sipat datar teliti (precise levelling)

H = . [(a b) + (a b)]

Pengukuran ini dilakukan dengan menggunakan alat sipat datar yang teliti (precicion level).

2.8 Kerangka Berpikir

lxv

Hasil belajar merupakan indikator suatu keberhasilan suatu proses pembelajaran, banyak faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa, diantaranya faktor intern dan ekstern. Salah satu faktor pendukung keberhasilan belajar yaitu dengan memanfaatkan atau menggunakan media belajar dalam proses pembelajaran. Media belajar mempunyai peran sangat penting dalam proses

pembelajaran, karena dapat membantu siswa mempermudah menyerap materi pelajaran. Penggunaan media pembelajaran yang baik dapat memperbaiki hasil belajar siswa, menimbulkan gairah belajar dan tidak membosankan. Banyak media pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran dan pemilihan media yang disesuaikan dengan materi pelajaran dan pokok bahasan yang disampaikan, untuk menyampaikan materi ilmu ukur tanah pokok bahasan pengukuran sipat datar, media yang digunakan dalam penelitian ini adalah media OHP dan media audio-visual. Media OHP adalah media komunikasi visual yang dipergunakan untuk memproyeksikan obyek yang tidak bergerak (diam) yang tembus cahaya (transparan) yang diletakkan merata pada alas transparansi untuk

memproyeksikan pada layar (Daryanto 1993:143). Pengaruh pembelajaran dengan media OHP terhadap hasil belajar siswa yaitu pembelajaran melalui media dengan bentuk gambar mati, sulit untuk dibayangkan bila tidak ada hubungan pengalaman yang dimiliki sebelumnya dan pelajaran mudah terlupakan. Sehingga hal ini dimungkinkan kecil pula materi pelajaran yang diingat, yang akibatnya siswa kesulitan mentransfer hasil belajarnya kesituasi baru. Mata kuliah ilmu ukur tanah pokok bahasaan pengukuran sipat datar sebagai bagian dari sains dan teknologi yang mempelajari penentuan beda tinggi tanah yang nantinya dapat dipergunakan sebagai dasar perencanaan cut and fill

lxvi

dalam suatu proyek, dapat pula diajarkan menggunakan media audio-visual. Dengan media audio-visual dapat menyampaikan pengertian atau informasi dengan cara yang lebih konkrit atau lebih nyata daripada yang disampaikan melalui media pembelajaran yang dicetak atau ditulis. Melalui media audio-visual merupakan upaya mendapatkan hasil belajar yang lebih baik dalam proses pembelajaran, sehingga siswa mampu mengembangkan daya nalar serta rekaannya. Dengan menggunakan media audio-visual siswa dapat melakukan pengamatan lebih cermat sehingga mendapat kesan yang mendalam. Dua macam media pembelajaran yang dibicarakan di atas, yaitu media OHP dan media audio-visual dapat dipergunakan pada proses pembelajaran mata kuliah ilmu ukur tanah pokok bahasan pengukuran sipat datar di Jurusan Sipil Universitas Negeri Semarang. Media audio-visual dipilih sebagai media utama, karena media OHP dirasa telah umum digunakan dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu dengan adanya penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah ada perbedaan hasil belajar mahasiswa melalui media OHP dengan media audio-visual. Jika terdapat perbedaan, hasil belajar manakah yang lebih baik antara kelompok kontrol (media OHP) dengan kelompok eksperimen (media audio-visual). 2.9 Hipotesis Untuk memberikan jawaban yang sifatnya sementara terhadap

permasalahan penelitian, maka dalam penelitian ini perlu dirumuskan hipotesis yang kebenarannya nanti akan diuji secara empiris. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : Ho : Tidak ada perbedaan yang signifikan hasil belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan pada mata kuliah ilmu ukur tanah pokok

lxvii

bahasan pengukuran sipat datar antara yang diajar dengan menggunakan media OHP dan media audio-visual. Ha : Ada perbedaan yang signifikan hasil belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan pada mata kuliah ilmu ukur tanah pokok bahasan pengukuran sipat datar antara yang diajar dengan menggunakan media OHP dan media audio-visual.

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian

3.1.1 Jenis Penelitian Penelitian ini bersifat kuantitatif, yang akan mencari adakah perbedaan hasil belajar ilmu ukur tanah antara mahasiswa yang diajar dengan media OHP dan media audio-visual Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Semarang.

3.1.2 Rancangan Penelitian Rancangan penelitian digunakan untuk menjawab hipotesis yang telah dirumuskan. Untuk memperoleh data-data dalam penelitian dapat menggunakan berbagai metode antara lain metode observasi dan eksperimen. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode eksperimen. Dalam metode eksperimen dapat menggunakan pola eksperimen. Pola-pola eksperimen antara lain : Simple

lxviii

Randomized Designs, Treatmens by Level Designs, Treatmens by Subject Designs, Random relicaton Designs, Factorial Designs, Group Within Treatmens Designs,Matched Group Designs dan Matched Subject Designs (Hadi 2000:441).

Dalam penelitian ini digunakan pola eksperimen matching group


designs yaitu bertitik tolak pada group matching (Hadi 2000:475). Alasan

menggunakan pola eksperimen matching group designs yaitu dalam penyamaan group dapat menggunakan data awal yang telah diperoleh masing-masing group. Untuk memudahkan pemahaman sebagai 42 dalam penelitian ini perlu adanya berikut :

rancangan

eksperimen

3.1.2.1 Rancangan Eksperimen Dalam penelitian ini digunakan pola rancangan penelitian dengan matching group designs. Adapun rancangan eksperimen dapat digambarkan sebagai berikut : Tabel 1. Rancangan eksperimen
Kemampuan Kelompok Uji Bagi Klmpk Awal X Kontrol Pretest V1 OHP1 OHP2 Y Eksperimen Pretest V1 VCD 1 VCD 2 VCD 3 V2 OHP3 V2 Perlakuan Hasil Postest

Keterangan : V1 X Y = Nilai hasil pretest kelompok kontrol dan eksperimen = Perlakuan dengan media OHP = Perlakuan dengan media audio-visual
lxix

V2

= Hasil belajar test perlakuan

3.1.2.2 Pola Eksperimen Adapun pola yang digunakan dalam eksperimen ini adalah matched group
designs atau disebut dengan pola M-G yang bertolak pada group matching.

Sebelum eksperimen dilakukan antara group kontrol dan group eksperimen diseimbangkan lebih dahulu sehingga dua-duanya berangkat dari titik tolak yang sama (Hadi 2000:475). Dalam penelitian ini yang diseimbangkan yaitu kemampuan awal yang ditunjukkan dengan nilai hasil pretest. Setelah diketahui bahwa masing-masing kelompok mempunyai kemampuan awal yang sama, maka dilakukan perlakuan. Adapun perlakuan dalam penelitian ini adalah proses pembelajaran yang menggunakan media OHP dengan pembelajaran yang menggunakan media audio-visual. Pembelajaran dengan media OHP sebagai kelompok kontrol dan pembelajaran dengan VCD sebagai kelompok eksperimen.

3.1.2.3 Validitas Eksperimen 1. Perlakuan pada kelompok penelitian (kontrol dan eksperimen) Perlakuan kelompok dalam penelitian ini dilakukan secara berurutan yaitu kelompok kontrol diajar di dalam ruangan yang tertutup, kemudian setelah pembelajaran dan evaluasi selesai dilanjutkan kelompok eksperimen langsung memasuki ruangan. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kedua kelompok tidak melakukan komunikasi sehingga kevalidan penelitian benar-benar didapatkan dari perlakuan. 2. Design penelitian a. Langkah pelaksanaan pembelajaran pada media OHP :
lxx

a). Pembukaan b). Dosen menampilkan transparansi pada OHP c). Mahasiswa mencatat materi d). Dosen membahas atau menjelaskan materi yang terdapat pada transparansi e). Dosen memberi kesempatan bertanya pada mahasiswa atau sebaliknya dosen yang bertanya f). Kegiatan berikutnya dilakukan sama seperti pada poin b s/d e hingga semua materi tersampaikan. g). Penutup h). evaluasi b. Langkah pelaksanaan pada media audio-visual a). Pembukaan b). Pemutaran media audio-visual secara keseluruhan c). Mahasiswa memperhatikan materi yang terdapat dalam media audiovisual d). Pemutaran media dilakukan kembali dan sesekali dihentikan e). Selama pemutaran video dihentikan, dosen menerangkan kembali materi yang sudah ditayangkan f). Dosen memberi kesempatan bertanya pada mahasiswa atau sebaliknya dosen yang bertanya

lxxi

g). Kegiatan selanjutnya sama seperti poin e dan f hingga semua materi tersampaikan. h). Penutup i). Evaluasi

3.2 Populasi dan Sampel Penelitian

3.2.1 Populasi Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian (Arikunto 1998:102). Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa semester II (dua) program studi Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Semarang yang belum pernah menempuh mata kuliah ilmu ukur tanah, sebanyak 25 mahasiswa.

3.2.2 Sampel Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti (Arikunto 1993:104). Dalam penelitian ini populasi yang ada sekaligus dianggap sebagai sampel, maka penelitian yang dilakukan adalah penelitian populasi bukan penelitian sampel. Populasi yang berasal dari mahasiswa program studi PTB dibagi menjadi dua kelompok yaitu 12 orang sebagai kelompok kontrol (media OHP) dan 13 orang sebagai kelompok eksperimen (media audio-visual).

3.3 Variabel Penelitian

3.3.1 Variabel bebas dalam penelitian ini, yaitu pengajaran dengan : (1) menggunakan media OHP dan (2) menggunakan media audio-visual.

lxxii

3.3.2 Variabel terikat penelitian ini adalah hasil belajar mahasiswa dalam menyelesaikan soal-soal pokok bahasan pengukuran sipat datar pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Semarang.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

3.4.1 Jenis metode yang digunakan Untuk memperoleh data yang akan diteliti dalam penelitian ini digunakan alat pengumpul data, yaitu :

3.4.1.1 Metode Dokumentasi Metode ini digunakan untuk mendapatkan nama-nama mahasiswa yang akan dijadikan subjek penelitian.

3.4.1.2 Metode tes Untuk memperoleh data hasil belajar kedua kelompok diberi perlakuan yang berbeda yaitu satu kelompok diajar dengan menggunakan media OHP dan satu kelompok diajar dengan media audio-visual. Pengambilan data dilakukan dengan tes setelah masing-masing kelompok mendapat perlakuan. Soal-soal tes sebagai instrumen diuji lebih dulu mengenai validitas, reliabilitas, daya pembeda soal dan tingkat kesukaran soal.

3.4.2 Konstruksi alat pengumpul data

lxxiii

Soal tes yang akan digunakan untuk memperoleh data dari kelompok kontrol dan eksperimen adalah tes objektif. Tes objektif adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara objektif (Arikunto 2003:164). Untuk mengetahui hasil belajar mahasiswa dalam proses pembelajaran mata kuliah ilmu ukur tanah pada kelompok kontrol dan eksperimen dipergunakan seperangkat tes sebagai alat pengumpul data. Adapun langkah-langkah dalam penyusunan seperangkat tes sebagai berikut : 1. Pembatasan terhadap bahan yang akan diteskan. Dengan perangkat tes pokok bahasan pengukuran sipat datar antara lain pengenalan peralatan sipat datar, pengoperasian dan cara penggunaan alat dan macam-macam pengukuran sipat datar. 2. Menentukan alokasi waktu dan jumlah soal. Dalam penelitian ini dilakukan dua kali uji coba soal yaitu uji coba soal untuk pretest pembagian kelompok serta uji coba soal postest untuk mengetahui hasil belajar mahasiswa setelah diberi perlakuan. Uji coba soal pretest disediakan waktu 60 menit untuk 30 soal, sedangkan waktu yang disediakan untuk mengerjakan postest yaitu 20 menit untuk pertemuan pertama dengan 20 butir soal, 20 menit untuk pertemuan kedua dengan 15 butir soal dan 20 menit untuk pertemuan ketiga dengan 16 butir soal. Total waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan keseluruhan soal postest adalah 60 menit untuk 51 butir soal. Tipe soal pilihan ganda (objektif) dengan empat alternatif jawaban (option). 3. Uji perangkat tes

lxxiv

Setelah perangkat test disusun kemudian diuji cobakan kepada mahasiswa yang pernah mengikuti mata kuliah ilmu ukur tanah untuk mengetahui derajat kesahihan dan reliabilitas. Hasil dari uji coba soal : a. Jumlah butir soal pretest yang diuji cobakan sebanyak 30 soal yang gugur dua soal yaitu soal nomor 16 dan 24. b. Jumlah butir soal pertemuan pertama 20, jumlah butir soal yang gugur 3 soal yaitu soal nomor 10,14 dan 15, Jumlah butir soal pertemuan kedua 15 yang gugur 2 soal yaitu soal nomor 25 dan 32, Jumlah butir soal pertemuan ketiga 16, jumlah butir soal yang gugur 4 soal yaitu soal nomor 38, 41, 43 dan 51. Total jumlah soal yang dipakai adalah 42 soal.

3.4.3 Pengujian Alat Pengumpul data Pengujian perangkat test dalam hal ini pengujian validitas, reliabilitas, daya pembeda soal dan tingkat kesukaran soal. Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :

3.4.3.1 Pengujian Alat Pengumpul Data Pretest Untuk Pembagian Kelompok 1. Validitas Soal Instrumen dapat dikatakan valid apabila instrumen tersebut dapat mengukur apa yang hendak diukur. Dalam menentukan validitas soal digunakan rumus product moment, yaitu :
rxy =

N . XY ( X )( Y ) {N . X 2 ( X 2 )}{ N . Y 2 ( Y 2 )}

Keterangan :
lxxv

N = jumlah mahasiswa X = jumlah skor item Y = jumlah skor total (Arikunto 1998:162) Setelah diperoleh harga rXY , kemudian dikonsultasikan dengan harga r product moment. Apabila rXY > rtabel , maka dapat dikatakan butir soal tersebut valid. Hasil perhitungan validitas soal dapat diketahui bahwa soal yang valid adalah soal nomor : 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 25, 26, 27, 28, 29, dan 30. sedangkan soal yang tidak valid adalah soal nomor 16 dan 24 (perhitungan dapat dilihat pada lampiran 6). 2. Reliabilitas Soal Instrumen dapat dikatakan reliabel apabila instrumen tersebut dapat memberikan hasil yang tetap. Maksudnya, apabila instrumen tersebut digunakan pada subyek yang sama dilain waktu, maka instrumen tersebut akan memberikan hasil yang tetap. Dalam menentukan reliabilitas dalam penelitian digunakan rumus KR-20, yaitu :

r11

={

K V pq }{ t } K 1 Vt

Keterangan : r11 K Vt p q = reliabilitas instrumen = banyaknya butir soal = banyaknya varian total = proporsi subyek yang menjawab benar (benar = 1) = proporsi subyek yang menjawab salah (salah = 0)

lxxvi

Setelah diperoleh harga r11 , kemudian dikonsultasikan dengan harga r product moment. Apabila r11 > rtabel , maka dapat dikatakan butir soal tersebut reliabel (Arikunto 1998:182). Dari hasil perhitungan didapat r11 = 0.8962 dan rtabel = 0.444. karena r11 > rtabel maka dapat disimpulkan bahwa instrumen tersebut reliabel (perhitungan dapat dilihat pada lampiran 7).

3. Menentukan daya pembeda Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan siswa yang memang pandai dengan siswa yang kurang pandai. Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut indek diskriminasi yang disingkat D. apabila suatu soal dapat dijawab benar oleh kelompok siswa yang pandai maupun yang kurang pandai maka dapat dikatakan bahwa soal tersebut tidak baik, karena soal itu tidak dapat membedakan siswa yang pandai dan yang kurang pandai. Soal baik ditunjukkan dengan angka indek diskriminasi yang besar. Untuk menentukan daya pembeda dalam penelitian digunakan rumus : DP = BA BB JA JB

Keterangan : DP BA BB JA JB = = = = = daya pembeda banyaknya peserta tes kelompok atas yang menjawab benar. banyaknya peserta tes kelompok bawah yang menjawab benar. banyaknya peserta tes kelompok atas. banyaknya peserta tes kelompok bawah.

Adapun klasifikasi daya pembeda soal adalah sebagai berikut :

lxxvii

DP : 0,00 0,20 = jelek DP : 0,20 0,40 = cukup DP : 0,40 0,70 = baik DP : 0,70 1,00 = baik sekali (Arikunto 2003:213) Sedangkan yang dipakai dalam penelitian ini adalah DP = 0,30 0,80. Hasil perhitungan daya pembeda soal didapatkan : Soal yang baik ada 8 butir, yaitu : 2, 6, 15, 17, 18, 19, 20 dan 26. Soal yang cukup ada 20 butir, yaitu soal nomor : 1, 3, 4, 5, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 21, 22, 23,25, 27, 28, 29 dan 30. Soal yang jelek ada 2 butir, yaitu soal nomor : 16 dan 24. Perhitungan secara lengkap dapat dilihat pada lampiran 8). 4. Tingkat Kesukaran Soal Untuk menentukan tingkat kesukaran soal digunakan rumus : TK = JB JS

Keterangan: TK JB JS = tingkat kesukaran = jumlah siswa yang menjawab benar = jumlah siswa Untuk mendapatkan tingkat kesukaran soal digunakan kriteria sebagai berikut :

lxxviii

TK = 0,00 0,30 adalah soal sukar TK = 0,30 0,70 adalah soal sedang TK = 0,70 1,00 adalah soal mudah (Arikunto 2003:208) Sedangkan yang digunakan dalam penelitian ini adalah TK = 0,30 0,85.

Dari hasil perhitungan tingkat kesukaran soal didapatkan : - Soal yang sukar ada 5 butir, yaitu soal nomor : 2, 3, 14, 20 dan 30. - Soal yang sedang ada 16 butir, yaitu soal nomor : 5, 6, 8, 9, 13, 15, 17, 18, 19, 21, 23, 24, 25, 26, 27 dan 29. - Soal yang mudah ada 9 butir, yaitu soal nomor : 1, 4, 7, 10, 11, 12, 16, 22 dan 28. Perhitungan tingkat kesukaran soal dapat dilihat pada lampiran 9.

3.4.3.1 Pengujian Alat Pengumpul Data Postest 1. Validitas soal Instrumen dapat dikatakan valid apabila instrumen tersebut dapat mengukur apa yang hendak diukur. Dalam menentukan validitas soal digunakan rumus product moment, yaitu :

rxy =

N . XY ( X )( Y ) {N . X 2 ( X 2 )}{ N . Y 2 ( Y 2 )}

Keterangan : N = jumlah mahasiswa X = jumlah skor item Y = jumlah skor total

lxxix

(Arikunto 1998:162) Setelah diperoleh harga rXY , kemudian dikonsultasikan dengan harga r product moment. Apabila rXY > rtabel , maka dapat dikatakan butir soal tersebut valid. Hasil perhitungan validitas soal dapat diketahui bahwa soal yang valid adalah soal nomor : 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 11, 12, 13, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 33, 34, 35, 36, 37, 39, 40, 42, 44, 45, 46, 47, 48, 49, dan 50. sedangkan soal yang tidak valid adalah soal nomor 10, 14, 15, 25, 32, 38, 41, 43, dan 51 (perhitungan dapat dilihat pada lampiran 23). 2. Reliabilitas Soal Instrumen dapat dikatakan reliabel apabila instrumen tersebut dapat memberikan hasil yang tetap. Maksudnya, apabila instrumen tersebut digunakan pada subyek yang sama dilain waktu, maka instrumen tersebut akan memberikan hasil yang tetap. Dalam menentukan reliabilitas dalam penelitian digunakan rumus KR-20, yaitu :

r11

={

K V pq }{ t } K 1 Vt

Keterangan :

r11
K Vt p

= reliabilitas instrumen = banyaknya butir soal = banyaknya varian total = proporsi subyek yang menjawab benar (benar = 1)
lxxx

= proporsi subyek yang menjawab salah (salah = 0) Setelah diperoleh harga r11 , kemudian dikonsultasikan dengan harga r

product moment. Apabila r11 > rtabel , maka dapat dikatakan butir soal tersebut reliabel (Arikunto 1998:182). Dari hasil perhitungan didapat r11 = 0.9330 dan rtabel = 0.444. karena r11 > rtabel maka dapat disimpulkan bahwa instrumen tersebut reliabel (perhitungan dapat dilihat pada lampiran 24). 3. Menentukan daya pembeda Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan siswa yang memang pandai dengan siswa yang kurang pandai. Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut indek diskriminasi yang disingkat D. apabila suatu soal dapat dijawab benar oleh kelompok siswa yang pandai maupun yang kurang pandai maka dapat dikatakan bahwa soal tersebut tidak baik, karena soal itu tidak dapat membedakan siswa yang pandai dan yang kurang pandai. Soal baik ditunjukkan dengan angka indek diskriminasi yang besar. Untuk menentukan daya pembeda dalam penelitian digunakan rumus : DP =

BA BB JA JB

Keterangan : DP BA BB JA JB = = = = = daya pembeda banyaknya peserta tes kelompok atas yang menjawab benar. banyaknya peserta tes kelompok bawah yang menjawab benar. banyaknya peserta tes kelompok atas. banyaknya peserta tes kelompok bawah.

Adapun klasifikasi daya pembeda soal adalah sebagai berikut : DP : 0,00 0,20 = jelek

lxxxi

DP : 0,20 0,40 = cukup DP : 0,40 0,70 = baik DP : 0,70 1,00 = baik sekali (Arikunto 2003:213) Sedangkan yang dipakai dalam penelitian ini adalah DP = 0,30 0,80. Hasil perhitungan daya pembeda sopal didapatkan : Soal yang baik ada 20 butir, yaitu : 2, 3, 4, 5, 8, 11, 12, 13, 21, 22, 23, 24, 30, 35, 37, 40, 45, 47, 48 dan 50. Soal yang cukup ada 22 butir, yaitu soal nomor : 1, 6, 7, 9, 16, 17, 18, 19, 20, 26, 27, 28, 29, 31, 33, 34, 36, 39, 42, 44, 46 dan 49. Soal yang jelek ada 9 butir, yaitu soal nomor : 10, 14, 15, 25, 32, 38, 41, 43 dan 51. Perhitungan secara lengkap dapat dilihat pada lampiran 25. 4. Tingkat Kesukaran Soal Untuk menentukan tingkat kesukaran soal digunakan rumus : TK =

JB JS

Keterangan: TK JB JS = tingkat kesukaran = jumlah siswa yang menjawab benar = jumlah siswa Untuk mendapatkan tingkat kesukaran soal digunakan kriteria sebagai berikut : TK = 0,00 0,30 adalah soal sukar TK = 0,30 0,70 adalah soal sedang
lxxxii

TK = 0,70 1,00 adalah soal mudah (Arikunto 2003:208) Sedangkan yang dipakai dalam penelitian ini TK = 0,30 0,85

Dari hasil perhitungan tingkat kesukaran soal didapatkan : Soal yang sukar ada 10 butir, yaitu soal nomor : 15, 18, 20, 21, 31, 41, 42, 44, 48, dan 49. Soal yang sedang ada 27 butir, yaitu soal nomor : 2, 3, 4, 5, 8, 10, 11, 12, 14, 19, 24, 25, 26, 29, 30, 33, 35, 37, 38, 39, 40, 43, 45, 46, 47, 50 dan 51. Soal yang mudah ada 14 butir, yaitu soal nomor : 1, 6, 7, 9, 13, 16, 17, 22, 23, 27, 28, 32, 34, dan 36. Perhitungan tingkat kesukaran soal dapat dilihat pada lampiran 26.

Teknik Analisis Data


3.5.1 Deskripsi Data Dalam menganalisa kecenderungan masing-masing variabel dengan menggunakan kategori sebagai berikut :

Tabel 2. Kriteria hasil belajar Rentang Angka


> 85 100 > 80 85 > 70 80 > 65 70

Kriteria
Baik sekali Lebih dari baik Baik Lebih dari cukup

Nilai Huruf
A AB B BC

lxxxiii

> 60 65 > 55 60 > 50 55 < 55

Cukup Kurang dari cukup Kurang Gagal

C CD D E

Sumber : Pedoman Akademik UNNES 2003-2004


Hasil perhitungan dengan memperhatikan kategori diatas, hasil belajar dengan media OHP sebesar : pertemuan I = 6,91 berada pada kategori lebih dari cukup, pertemuan II = 8,21 berada pada kategori lebih dari baik, pertemuan III = 5,49 berada pada kategori kurang dan hasil belajar rata-rata dari keseluruhan materi = 6,87 berada pada kategori lebih dari cukup. Sedangkan media audiovisual sebesar : pertemuan I = 7,51 berada pada kategori baik, pertemuan II = 8,28 berada pada kategori lebih dari baik, pertemuan III = 7,12 berada pada kategori baik dan hasil belajar rata-rata dari keseluruhan materi = 7,64 berada pada kategori baik.

3.5.2 Uji Prasyarat Analisis 3.5.2.1 Uji prasyarat analisisis kesepadanan sampel dengan pola matching group designs. Uji prasyarat ini dilakukan untuk mengetahui apakah kedua kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen berawal dari titik awal yang sama. Adapun langkah-langkahnya perhitungannya adalah sebagai berikut : 1. Mean Matching Mencari mean masing-masing kelompok.

lxxxiv

M=

X
N Apabila diperoleh mean yang hampir sama antar kelompok kontrol dan

kelompok eksperimen dapat dikatakan data di matched. Namun dengan demikian hal itu belum menjamin bahwa kedua kelompok telah mempunyai variabilitas yang sama, untuk itu selanjutnya dilakukan uji variabilitas. Dari perhitungan didapatkan mean kelompok kontrol = 15,33 dan mean kelompok eksperimen = 14,69. karena perbedaan mean tidak terlalu banyak maka dapat dianggap sama. 2. Uji Kesamaan Variabilitas Uji variabilitas dilakukan untuk menyamakan variabilitas kedua

kelompok. Hal ini dilakukan untuk menguji apakah kelompok kontrol dan kelompok eksperimen yang ditetapkan berasal dari populasi yang memiliki varian yang relatif sama. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut : F (nb 1),(nk 1) = Keterangan : Vb Vk nb nk = Varian yang paling besar = Varian yang lebih kecil = Jumlah subyek dalam distribusi yang V-nya lebih besar. = Jumlah subyek dalam distribusi yang V-nya lebih kecil. Dari F hitung yang didapatkan kemudian dikonsultasikan dengan F tabel yang mempunyai dk pembilang sebesar (n - 1) dan dk penyebut sebesar (n - 1) dengan taraf signifikan 5%. Dalam hal ini apabila Fhitung < Ftabel maka disimpulkan Vb Vk

lxxxv

bahwa kelompok eksperimen dan kelompok kontrol keduanya berasal dari populasi yang memiliki varian yang relatif sama. Dari hasil perhitungan didapatkan Fhitung = 3,029 dan Ftabel = 3,43 dengan = 5%, dk pembilang = 12 dan dk penyebut = 11, karena Fhitung < Ftabel maka dapat disimpulkan bahwa kedua kelompok mempunyai varian yang sama.

3. t- Matching t-matching digunakan untuk menguji apakah kelompok kontrol dan kelompok eksperimen mempunyai perbedaan mean dan varian yang signifikan. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut : t= Mk Me SD 2 mk SD 2 me (Hadi 2000:264-268)

Dengan : SD2mk =

SD 2 k Nk 1 SD 2e Ne 1

SD2me =

Mk

Xk
N

Me

Xe
N

Keterangan : Me = nilai rata-rata kelompok eksperimen. Mk = nilai rata-rata kelompok kontrol. SD2me = varian kelompok eksperimen. SD2mk = varian kelompok kontrol. Ne = jumlah subyek kelompok eksperimen. Nk = jumlah subyek kelompok kontrol.

lxxxvi

Dari t-hitung yang didapatkan kemudian dikonsultasikan dengan derajat kebebasan (nk 1)+(ne 1) 1 dan taraf signifikansinya 5 %. Jika thitung < ttabel maka dikatakan kedua kelompok tersebut tidak ada perbedaan secara nyata. Dari hasil perhitungan didapatkan thitung = 0,0016 dan ttabel = 2,07 dengan = 5%, dan dk = 23. karena thitung < ttabel maka dapat disimpulkan bahwa kedua kelompok mempunyai kondisi awal yang sama. 3.5.2.2 Uji Normalitas Sampel Uji normalitas sampel dilakukan untuk mengetahui apakah sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak. Untuk kegiatan tersebut dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: 1. pengamatan X1, X2,, Xn dijadikan bilangan baku Z1, Z2, , Zn dengan menggunakan rumus Zi =

Xi X (X dan s masing-masing merupakan ratas

rata dan simpangan baku nsampel). 2. untuk tiap bilangan baku ini dan menggunakan daftar distribusi normal baku, kemudian dihitung peluang F(Zi) = P(Z<Zi). 3. selanjutnya dihitung proporsi Z1, Z2, , Zn yang lebih kecil atau sama dengan Z . Jika proporsi ini
.

dinyatakan

oleh

S(Zi),maka

S(Zi)

banyaknyaZ1 , Z 2 ,..., Z n yang < Z i n

4. Hitung selisih F(Zi) S(Si) Kemudian tentukan harga mutlaknya. 5. Ambil harga yang paling besar diantara harga-harga selisih mutlak tersebut, sebutlah harga terbesar ini Lo. Untuk menentukan kriteria pengujian digunakan distribusi uji liliefors. Jika Lo < L maka populasi berdistribusi normal dan bila Lo > L maka populasi

lxxxvii

tidak berdistribusi normal. Hasil perhitungan uji normalitas didapatkan : Kelompok kontrol Lo = 0,1404 dan L = 0,242. karena Lo < L maka data berdistribusi normal, sedangkan pada kelompok eksperimen didapatkan Lo = 0.1697 dan L = 0.234. karena Lo < L maka data pada kelompok eksperimen juga berdistribusi normal (perhitungan uji normalitas dapat dilihat pada lampiran 35 dan 36). 3.5.3 Uji Hipotesis Setelah dilakukan perlakuan yang berbeda pada masing-masing kelompok tersebut, kemudian diberikan postest untuk mengambil data dari hasil eksperimen. Hasil dari kedua kelompok tersebut dibandingkan dengan menggunakan uji perbedaan dua mean atau uji t-test satu sektor sebagai berikut : T=

Me Mk 1 1 S ne nk

dan S2 =

(ne 1) Se + (nk 1) S k ne + nk 2

(Sudjana 1989:239) Keterangan : Me Mk Se2 Sk2 ne nk = nilai rata-rata kelompok eksperimen = nilai rata-rata kelompok kontrol = simpangan baku kelompok eksperimen = simpangan baku kelompok kontrol = jumlah subyek kelompok eksperimen = jumlah subyek kelompok control Setelah data diolah dengan pola rumus diatas kemudian ditentukan

hipotesis dengan kriteria pengujian : Ho diterima jika, thitung lebih kecil atau sama dengan ttabel pada taraf signifikansi 0,05 untuk derajat kebebasan db = ne + nk 2

lxxxviii

dan tolak Ho jika thitung mempunyai harga lain. Hasil perhitungan dengan menggunakan uji-t diperoleh thitung = 3,010 dan ttabel = 2,07 dengan = 5% dan dk = 23. karena thitung > ttabel maka Ho ditolak yang juga berarti bahwa ada perbedaan hasil belajar antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (perhitungan uji hipotesis dapat dilihat pada lampiran 38). 3.5.4 Uji Selisih Rata-rata Untuk menaksir selisih rata-rata hasil belajar mata kuliah ukur tanah pokok bahasan pengukuran sipat datar antara kedua kelompok dalam bentuk persentase digunakan rumus estimasi sebagai berikut :

[X k X e ] t p .s
Keterangan : Xe Xk tp s

1 1 1 1 + < k e < [X k X e ] + t p .s nk ne nk ne

hasil belajar kelompok eksperimen = Rata-rata hasil belajar kelompok kontrol = Nilai ttabel untuk dk = n1 + n2-2 =

= Rata-rata

(ne 1)s1

+ (nk 1)s2

n1 + n2 2 (Sudjana 1989:208) Dari hasil perhitungan didapatkan selisih rata-rata antara 0,241 sampai dengan 1,298 atau antara 2,41% sampai 12,98% (perhitungan uji selisih rata-rata dapat dilihat pada lampiran 39).

lxxxix

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan disampaikan hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian.

4.1 Deskripsi Data

4.1.1 Hasil pretest pembagian kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dengan pola Group Matching Design. Dari hasil perhitungan data pretest yang telah diujikan pada populasi kemudian dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok yang sudah dibagi disamakan mean dan variannya untuk kemudian dilakukan uji-t. Pada kelompok yang dianggap sebagai kelompok kontrol (media OHP) didapatkan mean 15,33 dan pada kelompok eksperiman (media audio-visual) didapatkan mean 14,69. mean yang didapat pada kedua kelompok tidak berbeda jauh sehingga dapat dianggap memiliki rata-rata sama. Varians kelompok kontrol sebesar 0,6146 dan varians kelompok eksperimen sebesar 1,8313 sehingga didapatkan Fhitung = 3,029 dan Ftabel = 3,43 dengan = 5%, dk pembilang = 12 dan dk penyebut 11. karena Fhitung
xc

64

< Ftabel maka dapat disimpulkan bahwa kedua kelompok memiliki varians yang sama. Selanjutnya dilakukan uji-t, dari perhitungan didapatkan thitung = 0,016 dan ttabel = 2,07 pada = 5% dan dk = 23. Karena thitung < ttabel dan t berada pada daerah penerimaan Ho, maka dapat disimpulkan kedua kelompok memiliki kondisi awal yang sama.

Tabel 3. Daftar Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen No


1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

Kelompok Kontrol Nama


Fasiatun Phoethoet Whijaya Riesa Rusmalinda Khuznu Rozak Umar Khasan Agus Munir Noor Wachid Maranthika Dwi. A Ratna Yuliasanti Priyo. H Bambang Wijanarko Munadhirin

Kelompok Eksperimen Nama


Ilma Millatunnasihah Nunung Maria Adhy Dwi. R Kamal Mukharor Ardhiansyah Andaru Wulan Fitri. S Asip Ariful. F M. Fauzani Fenom Fadli Fatwa. I M. Yusuf Latif. M Benum Mulyo. S Tanjung Wibowo Muhammad Dinar

Sumber : Hasil Pembagian Kelompok Dengan Pola Matching Group Design

4.1.2 Hasil belajar pada pertemuan I (pertama) antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen sub pokok bahasan pengenalan peralatan sipat datar. Nilai tertinggi pada kelompok kontrol = 8,24, nilai terendah = 5,29, varians = 0,64 dan standart deviasi = 0,80. sedangkan pada kelompok eksperimen

xci

nilai tertinggi =8,82, nilai terendah = 6,47, varians = 0,59 dan standart deviasi = 0,77, maka kategorinya sebagai berikut :

85 100 80 85

= Baik sekali = Lebih dari baik

(A) (AB)

70 80
65 70 60 65 55 60 50 55 < 50

= Baik
(BC) (C)

(B)

= Lebih dari cukup = Cukup

= Kurang dari cukup (CD) = Kurang = Gagal (D) (E)

Dengan memperhatikan kategori penilaian, maka hasil belajar kelompok kontrol sebesar 6,91 berarti pada interval 65 70 yang berarti termasuk kategori lebih dari cukup. Sedangkan hasil belajar pada kelompok eksperimen sebesar 7,51 terdapat pada interval 70 80 yang berarti termasuk pada kategori baik. Dari hasil belajar kelompok kontrol dan eksperimen pertemuan I (pertama) dapat dijelaskan pada distribusi frekuensi hasil belajar dan histogram hasil belajar sebagai berikut :

Tabel 4. Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen pada Pertemuan I Kelompok kontrol Kelompok eksperimen
Interval nilai 85 100 80 85 70 80 65 70 60 65 55 60 50 55 < 50 (A) (AB) (B) (BC) (C) (CD) (D) (E) Frek. Frek. Frek. Frek. Frek. Frek. Absolut Prosentase Komulatif Absolut Prosentase Komulatif 0 1 7 0 2 1 1 0 0 8.33 58.33 0 16.33 8.33 8.33 0 0 8.33 66.66 66.66 83.33 91.66 100.00 100.00 1 3 6 0 3 0 0 0 7.69 23.08 46.15 0 23.08 0 0 0 7.69 30.77 76.92 76.92 100.00 100.00 100.00 100.00

xcii

Jumlah

12

100.00

13

100.00

Sumber : Hasil Perhitungan Statistik

Gambar 13. Histogram Distribusi Hasil Belajar Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen pada Pertemuan I

4.1.3 Hasil belajar pada pertemuan II (kedua) antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen sub pokok pengoperasian dan cara penggunaan alat sipat datar. Nilai tertinggi pada kelompok kontrol = 9,23, nilai terendah = 6,92, varians = 0,68 dan standart deviasi = 0,83. sedangkan pada kelompok eksperimen nilai tertinggi = 10, nilai terendah = 7,69, varians = 0,40 dan standart deviasi = 0,64. Berdasarkan kategori diatas, maka hasil belajar kelompok kontrol sebesar 8,21 berarti pada interval 80 - 85 yang berarti termasuk kategori lebih dari baik. Sedangkan hasil belajar pada kelompok eksperimen sebesar 8,28 terdapat pada interval 80 85 yang berarti termasuk pada kategori lebih dari baik. Dari hasil

xciii

belajar kelompok kontrol dan eksperimen pertemuan II (kedua) dapat dijelaskan pada distribusi frekuensi hasil belajar dan histogram hasil belajar sebagai berikut :

Tabel 5.

Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen pada Pertemuan II Kelompok kontrol Kelompok eksperimen

Interval nilai

Frek. Frek. Frek. Frek. Frek. Frek. Absolut Prosentase Komulatif Absolut Prosentase Komulatif 3 4 3 2 0 0 0 0 12 25.00 33.33 25.00 16.67 00.00 00.00 00.00 00.00 100.00 25.00 58.33 83.33 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 1 7 5 0 0 0 0 0 13 7.69 53.85 38.46 00.00 00.00 00.00 00.00 00.00 100.00 7.69 61.54 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00

85 100 80 85 70 80 65 70 60 65 55 60 50 55 < 50

(A) (AB) (B) (BC) (C) (CD) (D) (E)

Jumlah

Sumber : Hasil Perhitungan Statistik

Gambar 14. Histogram Distribusi Hasil Belajar Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen pada Pertemuan II

xciv

4.1.4 Hasil belajar pada pertemuan III (ketiga) antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen sub pokok macam-macam pengukuran sipat datar. Nilai tertinggi pada kelompok kontrol = 6,67, nilai terendah = 4,17 varians = 1,06 dan standart deviasi = 1,03. sedangkan pada kelompok eksperimen nilai tertinggi = 9,17, nilai terendah = 5,83, varians = 0,76 dan standart deviasi = 0,88. Berdasarkan kategori diatas, maka hasil belajar kelompok kontrol sebesar 5,49 berarti pada interval 50 - 55 yang berarti termasuk kategori kurang. Sedangkan hasil belajar pada kelompok eksperimen sebesar 7,12 terrdapat pada interval 70 80 yang berarti termasuk pada kategori baik. Dari hasil belajar kelompok kontrol dan eksperimen pertemuan III (ketiga) dapat dijelaskan pada distribusi frekuensi hasil belajar dan histogram hasil belajar sebagai berikut :

Tabel 6. Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen pada Pertemuan III
Kelompok kontrol Interval nilai Kelompok eksperimen

Frek. Frek. Frek. Frek. Frek. Frek. Absolut Prosentase Komulatif Absolut Prosentase Komulatif 0 0 0 4 0 2 3 3 12 0.00 0.00 0.00 33.33 0.00 16.67 25.00 25.00 100.00 0.00 0.00 0.00 33.33 33.33 50.00 75.00 100.00 1 0 6 4 0 2 0 0 13 7.69 0.00 46.15 30.77 0.00 15.38 0.00 0.00 100.00 7.69 7.69 53.84 84.61 84.61 100.00 100.00 100.00

85 100 80 85 70 80 65 70 60 65 55 60 50 55 < 50

(A) (AB) (B) (BC) (C) (CD) (D) (E) Jumlah

Sumber : Hasil Perhitungan Statistik

xcv

Gambar 15. Histogram Distribusi Hasil Belajar Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen pada Pertemuan III

4.1.5 Hasil belajar Keseluruhan materi pengukuran sipat datar antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Nilai tertinggi pada kelompok kontrol = 7,77, nilai terendah = 5,72 varians = 0,39 dan standart deviasi = 0,63. sedangkan pada kelompok eksperimen nilai tertinggi = 8,82, nilai terendah = 6,67, varians = 0,41 dan standart deviasi = 0,64. Berdasarkan kategori diatas, maka hasil belajar kelompok kontrol sebesar 6,87 berarti pada interval 65 - 70 yang berarti termasuk kategori lebih dari cukup. Sedangkan hasil belajar pada kelompok eksperimen sebesar 7,64 terrdapat pada interval 70 80 yang berarti termasuk pada kategori baik. Dari hasil belajar kelompok kontrol dan eksperimen keseluruhan materi dapat dijelaskan pada distribusi frekuensi hasil belajar dan histogram hasil belajar sebagai berikut :

Tabel 7. Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Keseluruhan Materi Pengukuran Sipat Datar Antara Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen
xcvi

Kelompok kontrol Interval nilai

Kelompok eksperimen

Frek. Frek. Frek. Frek. Frek. Frek. Absolut Prosentase Komulatif Absolut Prosentase Komulatif 85 100 80 85 70 80 65 70 60 65 55 60 50 55 < 50 (A) (AB) (B) (BC) (C) (CD) (D) (E) 0 0 5 4 2 1 0 0 12 0.00 0.00 41.67 33.33 16.67 8.33 0.00 0.00 100.00 0.00 0.00 41.67 75.00 91.67 100.00 100.00 100.00 2 2 7 2 0 0 0 0 13 15.38 15.38 53.85 15.38 0.00 0.00 0.00 0.00 100.00 15.38 30.76 84.61 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00

Jumlah

Sumber : Hasil Perhitungan Statistik

Gambar 16. Histogram Distribusi Hasil Belajar Keseluruhan Materi Pengukuran Sipat Datar Antara Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen

4.2 Tingkat Kecenderungan

xcvii

4.2.1 Tingkat kecenderungan pada kelompok kontrol

4.2.1.1 Distribusi tingkat kecenderungan data pada pertemuan I (sub pokok bahasan pengenalan peralatan sipat datar).
Tingkat kecenderungan masing-masing kategori hasil belajar dapat dibuat dengan tabel distribusi gambar sebagai berikut :

Tabel 8. Distribusi Tingkat Kecenderungan Data Hasil Belajar Sub Pokok Bahasan Pengenalan Peralatan Sipat Datar Frekuensi Frekuensi Interval Nilai Kategori Absolut Relative 85 100 (A) Baik sekali 0 0 80 85 (AB) Lebih dari baik 1 8.33 70 80 (B) Baik 7 66.66 65 70 (BC) Lebih dari cukup 0 0 60 65 (C) Cukup 2 16.33 55 60 (CD) Kurang dari cukup 1 8.33 50 55 (D) Kurang 1 8.33 < 50 (E) Gagal 0 0 Jumlah 12 100 Sumber : Hasil Perhitungan Statistik
Berdasarkan tabel 8 dapat diketahui bahwa, tingkat kecenderungan data hasil belajar pengukuran sipat datar sub pokok bahasan pengenalan peralatan sipat datar dengan kategori lebih dari baik sebanyak 1 orang atau 8,33%, kategori baik sebanyak 7 orang atau 66,66%, kategori cukup sebanyak 2 orang atau 16,33%, kategori kurang dari cukup sebanyak 1 orang atau 8,33% dan kategori kurang sebanyak 1 orang atau 8,33%, maka dapat dibuat grafik tingkat kecenderungan data hasil belajar sub pokok bahasan pengenalan peralatan sipat datar sebagai berikut :

xcviii

Gambar 17. Grafik Tingkat Kecenderungan Data Hasil Belajar Kelompok Kontrol Pada pertemuan I

4.2.1.2 Distribusi tingkat kecenderungan data pada pertemuan II (sub pokok bahasan pengoperasian dan cara penggunaan alat).
Tingkat kecenderungan masing-masing kategori hasil belajar dapat dibuat dengan tabel distribusi gambar sebagai berikut :

Tabel 9. Distribusi Tingkat Kecenderungan Data Hasil Belajar Sub Pokok Bahasan Pengoperasian dan Cara Penggunaan Alat
Interval Nilai 85 100 (A) Frekuensi Absolut 3 Frekuensi relatif 25.00

Kategori Baik sekali

xcix

80 85 (AB) Lebih dari baik 70 80 (B) Baik 65 70 (BC) Lebih dari cukup 60 65 (C) Cukup 55 60 (CD) Kurang dari cukup 50 55 (D) Kurang < 50 (E) Gagal Jumlah Sumber : Hasil Perhitungan Statistik

4 3 2 0 0 0 0 12

33.33 25.00 16.67 0.00 0.00 0.00 0.00 100.00

Berdasarkan tabel 9 dapat diketahui bahwa, tingkat kecenderungan data hasil belajar pengukuran sipat datar sub pokok bahasan pengoperasian dan cara penggunaan alat dengan kategori baik sekali sebanyak 3 orang atau 25%, kategori lebih dari baik sebanyak 4 orang atau 33,33%, kategori baik sebanyak 3 orang atau 25% dan kategori lebih dari cukup sebanyak 2 orang atau 16,67%, maka dapat dibuat grafik tingkat kecenderungan data hasil belajar sub pokok bahasan pengoperasian dan cara penggunaan alat sebagai berikut :

Gambar 18. Grafik Tingkat Kecenderungan Data Hasil Belajar Kelompok Kontrol Pada Pertemuan II

4.2.1.3 Distribusi tingkat kecenderungan data pada pertemuan III (sub pokok bahasan macam-macam pengukuran sipat datar).
Tingkat kecenderungan masing-masing kategori hasil belajar dapat dibuat dengan tabel distribusi gambar sebagai berikut :

Tabel 10. Distribusi Tingkat Kecenderungan Data Hasil Belajar Sub Pokok Bahasan Macam-Macam Pengukuran Sipat Datar Interval Nilai Frekuensi Frekuensi Kategori Absolut relatif 85 100 (A) Baik sekali 0 0.00 80 85 (AB) Lebih dari baik 0 0.00 70 80 (B) Baik 0 0.00 65 70 (BC) Lebih dari cukup 4 33.33 60 65 (C) Cukup 0 0.00 55 60 (CD) Kurang dari cukup 2 16.67 50 55 (D) Kurang 3 25.00 < 50 (E) Gagal 3 25.00 Jumlah 12 100.00 Sumber : Hasil Perhitungan Statistik
Berdasarkan tabel 10 dapat diketahui bahwa, tingkat kecenderungan data hasil belajar pengukuran sipat datar sub pokok bahasan macam-macam pengukuran sipat datar dengan kategori lebihdari cukup sebanyak 4 orang atau 33,33%, kategori kurang dari baik sebanyak 2 orang atau 16,67%, kategori kurang sebanyak 3 orang atau 25% dan kategori gagal sebanyak 3 orang atau 25%, maka dapat dibuat grafik tingkat kecenderungan data hasil belajar sub pokok bahasan macam-macam pengukuran sipat datar sebagai berikut :

ci

Gambar 19. Grafik Tingkat Kecenderungan Data Hasil Belajar Kelompok Kontrol Pada Pertemuan III

4.2.1.4 Distribusi

tingkat

kecenderungan

data

keseluruhan

materi

pengukuran sipat datar.


Tingkat kecenderungan masing-masing kategori hasil belajar dapat dibuat dengan tabel distribusi gambar sebagai berikut :

Tabel 11. Distribusi Tingkat Kecenderungan Data Hasil Belajar Keseluruhan Materi Pengukuran Sipat Datar
Interval Nilai 85 100 (A) 80 85 (AB) 70 80 (B) 65 70 (BC) 60 65 (C) 55 60 (CD) 50 55 (D) < 50 (E) Jumlah Kategori Baik sekali Lebih dari baik Baik Lebih dari cukup Cukup Kurang dari cukup Kurang Gagal Frekuensi Absolut 0 0 5 4 2 1 0 0 12 Frekuensi relatif 0.00 0.00 41.67 33.33 16.67 8.33 0.00 0.00 100.00

Sumber : Hasil Perhitungan Statistik

cii

Berdasarkan tabel 11 dapat diketahui bahwa, tingkat kecenderungan data hasil belajar keseluruhan materi pengukuran sipat datar dengan kategori baik sebanyak 5 orang atau 41,67%, kategori lebih dari cukup baik sebanyak 4 orang atau 33,33%, kategori cukup sebanyak 2 orang atau 16,67% dan kategori kurang dari cukup sebanyak 1 orang atau 8,33%, maka dapat dibuat grafik tingkat kecenderungan data hasil belajar keseluruhan materi pengukuran sipat datar sebagai berikut :

Gambar 20. Grafik Tingkat Kecenderungan Data Hasil Belajar Keseluruhan Materi Pengukuran Sipat Datar Kelompok Kontrol

4.2.2 Tingkat kecenderungan pada kelompok eksperimen

4.2.2.1 Distribusi tingkat kecenderungan data pada pertemuan I (sub pokok bahasan pengenalan peralatan sipat datar).
Tingkat kecenderungan masing-masing kategori hasil belajar dapat dibuat dengan tabel distribusi gambar sebagai berikut :

ciii

Tabel 12.

Distribusi Tingkat Kecenderungan Data Hasil Belajar Sub Pokok Bahasan Pengenalan Peralatan Sipat Datar Interval Nilai Frekuensi Frekuensi Kategori Absolut relatif 85 100 (A) Baik sekali 1 7.69 80 85 (AB) Lebih dari baik 3 23.08 70 80 (B) Baik 6 46.15 65 70 (BC) Lebih dari cukup 0 0.00 60 65 (C) Cukup 3 23.08 55 60 (CD) Kurang dari cukup 0 0.00 50 55 (D) Kurang 0 0.00 < 50 (E) Gagal 0 0.00 Jumlah 13 100.00

Sumber : Hasil Perhitungan Statistik


Berdasarkan tabel 12 dapat diketahui bahwa, tingkat kecenderungan data hasil belajar pengukuran sipat datar sub pokok bahasan pengenalan peralatan sipat datar dengan kategori baik sekali sebanyak 1 orang atau 7,69%, kategori lebih dari baik sebanyak 3 orang atau 23,08%, kategori baik sebanyak 6 orang atau 46,15% dan kategori cukup sebanyak 3 orang atau 23,08%, maka dapat dibuat grafik tingkat kecenderungan data hasil belajar sub pokok bahasan pengenalan peralatan sipat datar sebagai berikut :

civ

Gambar 21. Grafik Tingkat Kecenderungan Data Hasil Belajar Kelompok Eksperimen Pada Pertemuan I

4.2.2.2 Distribusi tingkat kecenderungan data pada pertemuan II (sub pokok bahasan pengoperasian dan cara penggunaan alat). Tingkat kecenderungan masing-masing kategori hasil belajar dapat dibuat dengan tabel distribusi gambar sebagai berikut :

Tabel 13. Distribusi Tingkat Kecenderungan Data Hasil Belajar Sub Pokok Bahasan Pengoperasian dan Cara Penggunaan Alat Interval Nilai Frekuensi Frekuensi Kategori Absolut relatif 85 100 (A) Baik sekali 1 7.69 80 85 (AB) Lebih dari baik 7 53.85 70 80 (B) Baik 5 38.46 65 70 (BC) Lebih dari cukup 0 0.00 60 65 (C) Cukup 0 0.00 55 60 (CD) Kurang dari cukup 0 0.00 050 55 (D) Kurang 0 0.00 < 50 (E) Gagal 0 0.00 Jumlah 13 100.00 Sumber : Hasil Perhitungan Statistik
Berdasarkan tabel 13 dapat diketahui bahwa, tingkat kecenderungan data hasil belajar pengukuran sipat datar sub pokok bahasan pengoperasian dan cara
cv

penggunaan alat dengan kategori baik sekali sebanyak 1 orang atau 7,69%, kategori lebih dari baik sebanyak 7 orang atau 53,85% dan kategori baik sebanyak 5 orang atau 38,46%, maka dapat dibuat grafik tingkat kecenderungan data hasil belajar sub pokok bahasan pengoperasian dan cara penggunaan alat sebagai berikut :

Gambar 22. Grafik Tingkat Kecenderungan Data Hasil Belajar Kelompok Eksperimen Pada Pertemuan II

4.2.2.3 Distribusi tingkat kecenderungan data pada pertemuan III (sub pokok bahasan macam-macam pengukuran sipat datar). Tingkat kecenderungan masing-masing kategori hasil belajar dapat dibuat dengan tabel distribusi gambar sebagai berikut :

Tabel 14.

Distribusi Tingkat Kecenderungan Data Hasil Belajar Sub Pokok Bahasan Macam-Macam Pengukuran Sipat Datar Interval Nilai Frekuensi Frekuensi Kategori Absolut relatif 85 100 (A) 1 Baik sekali 7.69 80 85 (AB) 0 Lebih dari baik 0.00

cvi

70 80 65 70 60 65 55 60 50 55 < 50

(B) (BC) (C) (CD) (D) (E)

Baik Lebih dari cukup Cukup Kurang dari cukup Kurang Gagal

6 4 0 2 0 0

Jumlah

13

46.15 30.77 0.00 15.38 0.00 0.00 100.00

Sumber : Hasil Perhitungan Statistik


Berdasarkan tabel 14 dapat diketahui bahwa, tingkat kecenderungan data hasil belajar pengukuran sipat datar sub pokok bahasan macam-macam pengukuran sipat datar dengan kategori baik sekali sebanyak 1 orang atau 7,69%, kategori baik sebanyak 6 orang atau 46,15%, kategori lebih dari cukup sebanyak 4 orang atau 30,77% dan kategori kurang dari cukup sebanyak 2 orang atau 15,38%, maka dapat dibuat grafik tingkat kecenderungan data hasil belajar sub pokok bahasan macam-macam pengukuran sipat datar sebagai berikut :

Gambar 23. Grafik Tingkat Kecenderungan Data Hasil Belajar Kelompok Eksperimen Pada Pertemuan III

cvii

4.2.2.4 Distribusi tingkat kecenderungan data keseluruhan materi pengukuran sipat datar. Tingkat kecenderungan masing-masing kategori hasil belajar dapat dibuat dengan tabel distribusi gambar sebagai berikut :

Tabel 15. Distribusi Tingkat Kecenderungan Data Hasil Belajar Keseluruhan Materi Pengukuran Sipat Datar Interval Nilai Frekuensi Frekuensi Kategori Absolut relatif 85 100 (A) 2 Baik sekali 15.38 80 85 (AB) 2 Lebih dari baik 15.38 70 80 (B) 7 Baik 53.85 65 70 (BC) 2 Lebih dari cukup 15.38 60 65 (C) 0 Cukup 0.00 55 60 (CD) 0 Kurang dari cukup 0.00 50 55 (D) 0 Kurang 0.00 < 50 (E) 0 Gagal 0.00 Jumlah 13 100.00 Sumber : Hasil Perhitungan Statistik
Berdasarkan tabel 15 dapat diketahui bahwa, tingkat kecenderungan data hasil belajar keseluruhan materi pengukuran sipat datar dengan kategori baik sekali sebanyak 2 orang atau 15,38%, kategori lebih dari baik sebanyak 2 orang atau 15,38%, kategori baik sebanyak 7 orang atau 53,85% dan kategori lebih dari cukup sebanyak 2 orang atau 15,38%, maka dapat dibuat grafik tingkat kecenderungan data hasil belajar keseluruhan materi pengukuran sipat datar sebagai berikut :

cviii

Gambar 24. Grafik Tingkat Kecenderungan Data hasil Belajar Keseluruhan Materi Pengukuran Sipat Datar kelompok Eksperimen

4.3 Pengujian Prasyarat Analisis

4.3.1 Uji Normalitas Data Sebelum digunakan untuk uji hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas terhadap data yang diperoleh dari kedua kelompok penelitian. Dari hasil perhitungan didapatkan untuk kelompok kontrol dengan 5% didapat Lo = 0,1404 dan L = 0,242. karena Lo < L, maka kelompok kontrol dianggap berdistribusi normal. Kelompok eksperimen didapat Lo = 0,1697 dan L = 0,234, karena Lo < L, maka kelompok eksperimen juga dianggap berdistribusi normal. Hasil perhitungan secara lengkap uji normalitas dapat dilihat pada lampiran 35 dan 36.

4.4 Pengujian Hipotesis

cix

Rumus pengujian hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah ttest. Dari analisis data diperoleh t-hitung = 3,01 dan t- tabel 2,07 dengan = 5% dan dk = 23. karena t-hitung > t- tabel maka Ho ditolak, yang berarti ada perbedaan yang signifikan antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Penolakan Ho membuktikan bahwa ada perbedaan hasil belajar mata kuliah ilmu ukur tanah pokok bahasan pengukuran sipat datar antara siswa yang diajar menggunakan media OHP dan yang diajar menggunakan media audio-visual pada mahasiswa semester II (dua) Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Semarang tahun pelajaran 2004/2005.

4.5 Analisis Uji Selisih Rata-Rata


Analisis uji selisih rata-rata bertujuan untuk mengetahui seberapa besar perbedaan rata-rata prestasi belajar antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Berdasarkan perhitungan lengkap pada lampiran 23 diperoleh ratarata hasil belajar kelompok kontrol adalah 6,87 sedangkan rata-rata prestasi belajar kelompok eksperimen adalah 7,64. Simpangan dari data tersebut dengan menggunakan rumus estimasi didapatkan bahwa selisih rata-rata prestasi belajar kelompok kontrol dan kelompok eksperimen berdasarkan pada populasi dimana skor maksimal adalah 10 dan skor minimal adalah 0 (nol). Sehingga diperoleh selisih rata-rata hasil belajar kelompok kontrol dan kelompok eksperimen yaitu antara 0,241 sampai 1,298 atau antara 2,41% sampai 12,98%.

4.6 Pembahasan Hasil Penelitian


Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan hasil belajar mata kuliah ilmu ukur tanah pokok bahasan pengukuran sipat datar pada mahasiswa
cx

semester II Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Semarang tahun pelajaran 2004/2005. kelompok kontrol diberi perlakuan pengajaran materi pengukuran sipat datar menggunakan media OHP, sementara kelompok eksperimen menggunakan media audio-visual. Dari kedua perlakuan tersebut kemudian hasil belajar kedua kelompok dibandingkan. Kelompok manakah yang lebih baik hasil belajarnya dan seberapa besar perbedaan hasil belajar tersebut. Perlakuan yang dilakukan dalam penelitian ini sudah sudah sesuai dengan prosedur sehingga validitas eksperimen dapat dicapai dan tidak terjadi kebiasan. Diantaranya adalah pengajar yang sama, materi pembelajaran sama dan alat evaluasi yang sama, yang membedakan hanyalah media yang dipergunakan dalam pengajaran. Kegiatan pembelajaran diatur secara berkelanjutan yaitu setelah kelompok satu diberi perlakuan kemudian kelompok kedua langsung masuk keruang kelas untuk diajar dengan menggunakan media yang berbeda. Hal ini dimaksudkan agar kedua kelompok tidak melakukan komunikasi yang bisa mempengaruhi kevalidan eksperimen. Sebelum digunakan dalam penelitian, kedua media yaitu media OHP dan media audio-visual dilakukan studi kelayakan untuk mengetahui kualitas media. Media audio-visual sudah memenuhi standart yang ditentukan yaitu urutan materi yang logis (urut), kualitas gambar yang baik, kesesuaian antara gambar dan narasi serta materi yang terdapat pada media sesuai dengan kurikulum yang berlaku (Suleiman 1981:17). Sedangkan media OHP juga sudah memenuhi kriteria seperti yang diungkapkan oleh Daryanto (1993:147) yaitu untuk jarak < 10 m besar huruf yang digunakan sebesar 5 mm, judul 9 mm, urutan materi disusun secara
cxi

berurutan, format tulisannya jelas dibaca dan penulisan huruf besar untuk penekanan materi tertentu. Dari hasil uji kelayakan yang dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa kedua media memiliki kualitas yang sama sesuai standart yang ditentukan untuk masing-masing media. Setelah diambil data hasil belajar kelompok kontrol mempunyai nilai ratarata 6,87, sedangkan kelompok eksperimen mempunyai nilai rata-rata 7,64. berdasarkan nilai rata-rata yang diperoleh dari kedua kelompok tersebut penulis menyimpulkan bahwa hasil belajar mata kuliah ilmu ukur tanah pokok bahasan pengukuran sipat datar yang diajar dengan menggunakan media audio-visual lebih baik daripada yang diajar menggunakan media OHP pada mahasiswa semester II (dua) program studi Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Semarang tahun pelajaran 2004/2005. Hal ini didukung oleh perhitungan estimasi selisih rata-rata hasil kelompok kontrol dan kelompok eksperimen antara 0,241 sampai 1,298 atau antara 2,41% sampai 12,98%. Hal tersebut dapat terjadi karena dengan menggunakan media audio visual diduga motivasi siswa untuk belajar lebih meningkat. Disamping itu sistem belajar di kelas dengan berbagai rutinitas dapat menyebabkan siswa menjadi bosan. Dengan adanya pemberian materi pengukuran sipat datar menggunakan media audio-visual ternyata dapat memberikan suasana belajar baru yang lebih menarik perhatian siswa. Hasil belajar mahasiswa kelompok kontrol dan kelompok eksperimen pada tiap-tiap sub pokok bahasan (pertemuan) ternyata mempunyai selisih yang

bervariasi. Pada pertemuan pertama, hasil rata-rata kelompok kontrol 6,91 dan kelompok eksperimen 7,51. Dari data ini, ternyata penggunaan media audio-visual

cxii

untuk pengajaran sub pokok bahasan pengenalan peralatan sipat datar menghasilkan perbedaan hasil yang jauh lebih tinggi dari pada pengajaran menggunakan media OHP. Hal ini disebabkan pada materi ini mahasiswa bisa langsung dapat melihat wujud dari peralatan pengukuran sipat datar tanpa harus membayangkannya. Hasil belajar sub pokok bahasan pengoperasian dan cara penggunaan alat didapatkan hasil rata-rata kelompok kontrol 8,21 dan kelompok eksperimen 8,28. Perbedaan hasil rata-rata pada materi ini tidak begitu jauh, hal ini disebabkan muatan materi yang cenderung kearah aplikasi di lapangan. Sehingga penggunaan kedua media tidak begitu memiliki pengaruh yang berarti terhadap perbedaan hasil belajar. Pada pertemuan ketiga hasil rata-rata kelompok kontrol 5,49 dan kelompok eksperimen 7,12. Perbedaan hasil belajar kelompok eksperimen jauh lebih baik dari kelompok kontrol, perbedaan yang mencolok ini disebabkan pada materi ini pada media audio-visual digambarkan secara jelas macam-macam pengukuran sipat datar di lapangan, sehingga mahasiswa jauh lebih memahaminya bila dibandingkan dengan mahasiswa yang diajar dengan media OHP yang hanya berupa gambar diam. Seperti disampaikan oleh Sudjana (1989:39) bahwa hasil belajar yang dicapai dipengaruhi antara lain oleh motivasi belajar, serta minat dan perhatian siswa dalam belajar. Dalam hal ini faktor fasilitas dan sumber belajar yang

cxiii

tersedia juga mempengaruhi hasil belajar siswa. Pengajar bukan satu-satunya sumber belajar di kelas. Berdasarkan hasil pengamatan keseluruhan dari pertemuan satu, dua dan tiga, perbedaan hasil belajar pokok bahasan pengukuran sipat datar yang dibagi menjadi tiga sub pokok bahasan, yaitu pengenalan peralatan sipat datar, pengoperasian dan cara penggunaan alat serta macam-macam pengukuran sipat datar pada kedua kelompok adalah wajar. Hal ini dapat teramati dari gejala-gejala yang dilakukan siswa pada saat pemberian materi menggunakan media audiovisual atau media OHP berlangsung. Gejala-gejala yang teramati selama pemberian materi dengan menggunakan media audio-visual dan media OHP adalah sebagai berikut :

Tabel 16. Pengamatan Proses (Respons Mahasiswa)


Pengamatan Proses 1. Mahasiswa memperhatikan Penjelasan materi melalui media Media OHP MediaAudio-visual

- pertemuan I = 58,33 % - pertemuan I =76,92 % - pertemuan II = 66,67 - pertemuan II =84,61 % % - pertemuan III = 66,67 % - pertemuan III =92,31 %

2. Mahasiswa memperhatikan penjelasan materi dari dosen pengampu

- pertemuan I = 66,67 % - pertemuan I = 76,92 % - pertemuan II = 75,00 - pertemuan II = 84,61 % % - pertemuan III = 66,67 % - pertemuan III = 84,61 %

3. Mahasiswa mencatat

- pertemuan I = 58,33 % - pertemuan I = 53,84 %

cxiv

penjelasan materi perkuliahan

- pertemuan II = 66,67 - pertemuan II = 61,54 % % - pertemuan III = 76,92

- pertemuan III = 58,33 % % 4. Mahasiswa terlibat dalam proses pembelajaran - pertemuan I = 66,67 % - pertemuan I = 76,92 % - pertemuan II = 66,67 - pertemuan II = 92,31 % % - pertemuan III = 92,31

- pertemuan III = 66,67 % % 5. Terjadi hubungan akrab - pertemuan I = 58,33 % - pertemuan I = 61,54 % antara mahasiswa dengan dosen - pertemuan II = 58,33 - pertemuan II = 69,23 % % - pertemuan III = 76,92

- pertemuan III = 58,33 % %

Sumber : Hasil Pengamatan Proses


Dari tabel 16, untuk sub variabel mahasiswa memperhatikan penjelasan materi melalui media, pada pembelajaran menggunakan media OHP didapatkan data pertemuan pertama sebesar 58,33 %, pertemuan kedua dan ketiga sebesar 66,67 %. Kecenderungan mahasiswa untuk memperhatikan materi melalui media termasuk sangat rendah, hal ini disebabkan mahasiswa lebih memfokuskan perhatiannya hanya untuk mencatat materi, disamping itu juga adanya anggapan seperti pada mata kuliah lainnya bahwa mahasiswa akan mendapatkan foto copy materi untuk dipelajari. Berbeda dengan penggunaan media audio-visual, dari data pengamatan didapatkan data pada pertemuan pertama sebesar 76,92 %, pertemuan kedua 84,61 % dan pertemuan ketiga sebesar 92,31 %. Kecenderungan mahasiswa untuk memperhatikan penjelasan materi melalui media terus meningkat pada tiap pertemuan, hal ini disebabkan mahasiswa merasa lebih tertarik untuk

cxv

memperhatikan daripada mencatat, hanya sesekali saja terlihat mahasiswa yang mencatat kesimpulan dari apa yang telah dilihatnya. Pada sub variabel kedua yaitu mahasiswa memperhatikan penjelasan materi dari dosen pengampu respon mahasiswa yang diajar menggunakan media OHP didapatkan data pada pertemuan pertama sebesar 66,67 %, pertemuan kedua 75 % dan pertemuan ketiga sebesar 66,67 %. Pada pertemuan kedua terjadi peningkatan, tetapi pada pertemuan ketiga terjadi penurunan kembali seperti pada pertemuan pertama, hal ini disebabkan pada pertemuan kedua, materi yang disampaikan yaitu pengoperasian dan cara penggunaan alat menjadikan mahasiswa untuk membayangkan peralatan ukur tanah yang dipergunakan dalam pengukuran, mereka belum pernah melihat secara langsung wujud dari peralatan tersebut, sedangkan pada pengajaran menggunakan media audio-visual didapatkan data pertemuan pertama sebesar 76,92 %, pertemuan kedua dan ketiga sebesar 84,61 %. Perbedaan respon mahasiswa terhadap penjelasan dosen lebih tinggi dikarenakan mahasiswa sudah melihat materi melalui pengganti pengalaman langsung yang diwujudkan dalan bentuk gambar hidup, sehingga mahasiswa bisa mengikuti pelajaran yang disampaikan dosen. Sub variabel ketiga yaitu mahasiswa mencatat penjelasan materi perkuliahan. Mencatat yang dimaksud adalah ketika dosen menjelaskan materi perkuliahan. Respon mahasiswa pada penggunaan media OHP didapatkan data pertemuan pertama dan ketiga sebesar 58,33 % dan pertemuan kedua 66,67 %. Pertemuan kedua terjadi peningkatan, peningkatan ini disebabkan mahasiswa merasa belum mengerti secara jelas materi pada pertemuan kedua yang ditampilkan melalui transparansi sehingga mahasiswa merasa perlu menambah
cxvi

sendiri catatannya yang dirangkum melalui penjelasan dosen. Pada penggunaan media audio visual data pada pertemuan pertama sebesar 53,84 %, prosentase ini lebih rendah bila dibandingkan dengan penggunaan media OHP. Rendahnya respon mahasiswa ini disebabkan mahasiswa masih terpaku pada media dan penjelasan dosen, sehingga mahasiswa melupakan kegiatan untuk mencatat materi pelajaran. Pada pertemuan kedua dan ketiga sudah terdapat perubahan yaitu mahasiswa mulai merangkum materi yang didapat baik melalui media maupun dari dosen. Hal ini dapat dilihat dari perubahan prosentase respon yang meningkat sebesar 61,54 % pada pertemuan kedua dan 76,92 pada pertemuan ketiga. Respon mahasiswa yang diajar menggunakan media OHP pada sub variabel mahasiswa terlibat dalam proses pembelajaran cenderung tetap yaitu sebesar 66,67 %. Tidak adanya perubahan pada tiap pertemuan ini dapat dilihat dari sedikitnya mahasiswa yang bertanya atau menjawab pertanyaan serta kurang aktifnya mahasiswa dalam merespon penjelasan dosen. Lain halnya pada pembelajaran menggunakan media audio-visual, dari data didapatkan pertemuan pertama sebesar 76,92 %, pertemuan kedua dan ketiga sebesar 92,31 %. Keterlibatan mahasiswa dapat dilihat dari seringnya mahasiswa meminta dosen untuk menghentikan pemutaran media serta diikuti pertanyaan-pertanyaan mengenai materi yang disampaikan. Pada sub variabel kelima yaitu terjadi hubungan yang akrab antara mahasiswa dengan dosen didapatkan data untuk kelompok media OHP pada tiga pertemuan sebesar 58,33 %, sedangkan pada pembelajaran menggunakan media audio-visual didapatkan data pada pertemuan pertama sebesar 61,54 %, pertemuan kedua 69,23 % dan pertemuan ketiga sebesar 76,92 %. Respon mahasiswa pada
cxvii

kelompok media audio-visual lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok media OHP, hal ini disebabkan pada penggunaan media audio-visual, mahasiswa tidak merasa takut untuk bertanya serta menjawab pertanyaan, adanya komunikasi yang baik antara dosen dan mahasiswa. Suasana seperti ini tidak begitu didapatkan pada pembelajaran dengan media OHP, mahasiswa cenderung diam serta kurang aktif dalam mengikuti perkuliahan. Selain alasan-alasan seperti pada tabel 16, penggunaan media audio-visual membuat mahasiswa lebih mudah memahami materi yang diberikan oleh dosen. Hal ini ditunjukkan banyak siswa dapat menjawab pertanyaan dan mengerjakan soal materi pengukuran sipat datar. Disamping itu, hasil belajar ilmu ukur tanah pokok bahasan pengukuran sipat datar tidak hanya bergantung pada faktor mahasiswanya saja tetapi juga dipengaruhi oleh oleh faktor dosen, diantaranya adalah pemilihan media pengajaran yang tepat dapat meningkatkan aktifitas belajar mahasiswanya, sehingga hasil belajarnya menjadi lebih baik. Jelaslah disini bahwa pemilihan media pengajaran yang tepat sangatlah penting untuk meningkatkan hasil belajar mahasiswa, karena media pengajaran merupakan salah satu komponen yang menunjang proses belajar mengajar. Dengan pemilihan media pengajaran yang tepat, proses belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pengajaran. Meskipun diakui penggunaan media audio-visual dalam pengajaran memberikan kontribusi yang positif pada hasil belajar mahasiswa, tetapi juga perlu disadari bahwa seperti halnya media-media pengajaran yang lain, penggunaan media audio-visual dalam bidang pendidikan juga memiliki

cxviii

keterbatasan seperti yang disampaikan oleh Suleiman (1981:17). Keterbatasan tersebut antara lain : pengajaran dengan media audio-visual relatif masih mahal, oleh karena itu perlu diperhitungkan secara tepat. Sementara itu rancangan dan produksi media audio-visual untuk pengajaran masih relatif sangat sedikit dibanding dengan media penagajaran yang lain. Bagi dosen hal ini akan merupakan beban pekerjaan tersendiri jika harus merancang materi pengajaran dengan menggunakan media audio-visual. Kelemahan lainnya adalah kualifikasi mahasiswa mungkin hanya terpaku pada pengajaran yang disampaikan melalui media audio-visual saja sehingga respon dan keaktifan siswa yang sebenarnya terabaikan. Danim (1995:34) menyatakan bahwa tidak ada satu metodologi (metode dan media) pengajaran yang dipandang paling baik, karena baik tidaknya metode mengajar sangat sangat tergantung pada tujuan pengajaran, materi yang diajarkan, jumlah peserta didik, fasilitas penunjang, kesanggupan individual dan lain-lain. Atas dasar itu maka kegiatan pembelajaran dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan yang sederhana sampai yang kompleks. Seperti halnya pada penelitian kali ini, perbedaan hasil belajar antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen tidak begitu besar meskipun sudah signifikan. Hasil yang diperoleh kelompok eksperimen juga belum begitu maksimal. Hal ini disebabkan keterbatasan media audio-visual yang digunakan, terutama dalam hal isi materi, bentuk runtutan penyajian dan kualitas gambar yang tercakup pada media audio-visual.

cxix

Dari alasan dan uraian tersebut di atas maka secara umum dapat dinyatakan bahwa pengajaran menggunakan media audio-visual pada mata kuliah ilmu ukur tanah pokok bahasan pengukuran sipat datar pada mahasiswa semester II (dua) Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Semarang tahun pelajaran 2004/2005 lebih baik dibandingkan pengajaran yang menggunakan media OHP.

cxx

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dan perhitungan statistik serta pembahasan, maka dapat diambil suatu simpulan sebagai berikut : 1. Ada perbedaan hasil belajar mahasiswa antara yang diajar dengan menggunakan media OHP dan yang diajar menggunakan media audio-visual pada mata kuliah ilmu ukur tanah pokok bahasan pengukuran sipat datar pada mahasiswa program studi Pendidikan Teknik Bangunan Universitas negeri semarang, hal ini ditunjukkan dengan hasil thitung = 3,010 > ttabel = 2,07. 2. Penggunaan media audio visual pada Pembelajaran sub pokok bahasan pengenalan peralatan sipat datar menghasilkan rata-rata hasil belajar yang lebih baik yaitu 7,51 dibandingkan dengan yang menggunakan media OHP yaitu 6,91. 3. Pada pembelajaran sub pokok bahasan pengoperasian dan cara penggunaan alat, rata-rata hasil belajar mahasiswa antara yang diajar menggunakan media OHP dan media audio-visual tidak berbeda jauh yaitu 8,21 dan 8,28. 4. Ada perbedaan yang jauh antara rata-rata hasil belajar mahasiswa yang diajar dengan menggunakan media audio-visual yaitu sebesar 7,12 dibandingkan yang diajar dengan menggunakan media OHP yaitu sebesar 5,49. 5. Kelompok eksperimen yang diajar dengan media audio-visual lebih aktif dalam proses pembelajaran dibandingkan dengan kelompok kontrol yang diajar menggunakan media OHP. 6. Tingkat respon mahasiswa 96
cxxi

yang diajar menggunakan

media audio-visual dari lima sub variabel yang diamati ternyata lebih tinggi daripada mahasiswa yang diajar menggunakan media OHP. Dengan penggunaan media audio-visual dapat memacu keaktifan mahasiswa dalam menyerap materi perkuliahan serta menjadikan suasana pembelajaran lebih hidup bila dibandingkan pembelajaran dengan menggunakan media OHP.

5.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka saran yang dapat dikemukakan adalah sebagai berikut : 1. Mengingat pembelajaran menggunakan media audio-visual lebih berhasil dari pada pembelajaran menggunakan media OHP, maka media audio-visual dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif dalam mengajarkan mata kuliah ilmu ukur tanah pokok bahasan pengukuran sipat datar di Jurusan Teknik Sipil Universitas Negeri Semarang. 2. Pembelajaran sub pokok bahasan pengenalan peralatan sipat datar dan macammacam pengukuran sipat datar sebaiknya digunakan media audio-visual, karena menghasilkan perbedaan hasil belajar yang jauh dibandingkan dengan yang menggunakan media OHP. 3. Penggunaan media audio-visual dan media OHP dapat digunakan pada pembelajaran sub pokok bahasan pengoperasian dan cara penggunaan alat, karena hasil belajar yang dihasilkan pada pengajaran ini tidak terlalu berbeda jauh. 4. Pembuatan media audio-visual masih mengalami hambatan pada penyajian rumus-rumus, sehingga perlu diadakan penyempurnaan dengan

mengaplikasikan program lain agar bisa lebih sempurna.

cxxii

5. Adanya tindak lanjut dalam menyempurnakan media audio-visual yang ada baik dari segi isi materi maupun dari segi penyajiannya sehingga dapat meningkatkan hasil belajar mahasiswa menjadi lebih baik lagi. 6. Bagi Universitas Negeri Semarang hendaknya membentuk lembaga lain selain Lembaga Penelitian (LEMLIT) dan Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) yang khusus menangani tentang media pembelajaran serta fasilitas-fasilitas penunjang dalam kegiatan belajar mengajar.

cxxiii

7. Media audio-visual bisa meningkatkan hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah ilmu ukur tanah pokok bahasan pengukuran sipat datar karena mahasiswa lebih kreatif, aktif dan lebih bersemangat dalam menimba ilmu. 8. Media OHP kurang bisa menghasilkan hasil belajar yang maksimal pada pembelajaran mata kuliah ilmu ukur tanah pokok bahasan pengukuran sipat datar.

cxxiv

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2004. Pedoman Akademik UNNES 2003-2004. Semarang : UNNES Press. Arikunto, suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : PT. Rineka Cipta. Arikunto, Suharsimi. 2003. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : PT. Bumi Aksara Brinker, R.C. dan Wolf, P.R. 1986. Dasar-Dasar Pengukuran Tanah (Surveying) terjemahan oleh Joko Waljatun. Jakarta : Erlangga. Danim. 1995. Media Komputer Pendidikan. Jakarta : PT. Bumi Aksara. Daryanto. 1993. Media Visual Untuk Pengajaran Teknik. Bandung : Tarsito. Hadi, Sutrisno. 2000. Metodologi Research Jilid IV. Yogyakarta : Andi Yogya. Jamarah, Syaiful Bahri. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta. Luthfi, Abdullah. 2003. Penggunaan Sistem Tutorial Pada Praktek Ilmu Ukur Tanah Materi Poligon dan Sipat Datar Memanjang Terhadap Hasil Belajar Mahasiswa Pendidikan Teknik Bangunan Semester Gasal Tahun 2002 Universitas Negeri Semarang. Semarang : Skripsi. Nasution. 1984. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta : PT. Bumi Aksara. Purwanto, B. 1989. Psikologi Belajar. Semarang : IKIP Semarang Press. Sadiman, Arief. S. 1987. Media Pendidikan Dalam Pengertian Pengembangan Dan Pemanfaatannya. Jakarta : Rajawali. Sudjana, Nana. 1989. Metoda Statistika. Bandung : Tarsito. Sudjana, Nana dan Ahmad Rivai. 1989. Media Pengajaran. Bandung : Sinar Baru Bandung.

Safrel, Ispen. 1989a. Hambatan Bagi Mahasiswa Jurusan Pendidikan Teknik Bangunan FPTK IKIP Semarang Dalam Melaksanakan Praktek Ilmu Ukur Tanah. Semarang : LEMLIT.

cxxv

......... 2001b. Meningkatkan Ketrampilan Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik UNNES Dalam Praktek Ilmu Ukur Tanah Melalui Strategi CUL (Contoh Latihan Uraian) Aplikatif. Semarang : LEMLIT. Suleiman, Amir Hamzah. 1981. Media Audio-Visual Untuk Pengajaran, Penerangan dan Penyuluhan. Jakarta : Gramedia. Tahza, Rafiah dan Yahya, Aminah. 1982. Pembuatan Alat Peraga. Jakarta : Depdikbud. Tri Anni, Catharina, dkk. 2004. Psikologi Belajar. Semarang : UNNES Press. Uzman, M. Uzer dan Setiawati, L. 1993. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar. Bandung : Remaja Rosda Karya. Wongsotjitro, Soetomo. 1999. Ilmu Ukur Tanah. Yogyakarta : Kanisius.

cxxvi

cxxvii