Anda di halaman 1dari 81

PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010

LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK


UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
BAB I
PENDAHULUAN

Semua bangunan sipil berdiri atau dibangun di atas tanah dan karenanya
kestabilan dan keamanan bangunan tergantung pada kestabilan fondasinya.
Berdasarkan hal tersebut dapat kita rasakan bahwa langkah pertama adalah
merencanakan fondasi yang baik dan memenuhi syarat. Untuk dapat memenuhi hal
tersebut maka diperlukan pengetahuan dasar tentang mekanika tanah dan geoteknik.
Pengetahuan tentang mekanika tanah meliputi pembagian jenis dan sifat-sifat
mekanis bahan-bahan bawah permukaan.
Perencanaan fondasi yang teliti dapat mengurangi kebutuhan perencanaan yang
berlebihan (ditinjau dari segi ekonomis) dan persoalan perencanaan yang tidak
mencukupi persyaratan.
Sebagai kesimpulan, dapat dilihat bahwa penelitian tanah yang lengkap akan
memberikan keterangan yang cukup bagi perencanaan dalam merencanakan bangunan
yang bersangkutan dan memungkinkan pemilihan bentuk fundasi yang terbaik, memenuhi
syarat dan ekonomis.

1.1 SURVAI PENDAHULUAN
Penelitian dilapangan dapat direncanakan dengan lebih teliti jika data penunjang
sekitar lokasi yang ada dipelajari lebih dahulu sebelum penelitian lapangan
sesungguhnya dilaksanakan, sebagai persiapan.
Persiapan penelitian ini dapat dibagi dalam dua tahap, yaitu :
a. Persiapan di kantor
b. Penelitian di lapangan

1.1.1. Persiapan Di Kantor
Pada tahap ini, disarankan beberapa langkah yang perlu diambil sebagai langkah
awal, antara lain :
- Penelitian pada bangunan-bangunan yang sudah ada :
Pemeriksaan peta situasi yang memuat keterangan tentang bangunan-bangunan
yang ada pada lokasi rencana akan memberikan gambaran awal tentang keadaan
setempat
- Penelitian perencana awal :
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
Kadang-kadang sketsa dan rencana awal tergantung pada data fundasi tetapi jika
perencana awal sudah ada, perencana akan lebih mudah lagi dalam menganalisa
karena telah mendapat gambaran tentang bangunan rencana sehingga lebih mudah
dalam memperkirakan besar beban yang akan bekerja.
- Konsultasi
Jika telah ada bangunan-bangunan disekitar lokasi rencana maka diskusi dan
konsultasi dengan pemilik bangunan atau kontraktor akan sangat membantu terutama
keterangan-keterangan mengenai jenis tanah dan batuan, muka air tanah dan
sebagainya serta jenis fundasi yang telah digunakan.
Perlengkapan yang dibutuhkan antara lain:
a. Peta topografi
Peta topografi sangat dibutuhkan dalam merencanakan dan merupakan
keterangan yang berguna untuk penelitian lapangan. Dari hasil penelitian maka
elevasi titik bor, daerah-daerah longsor dan lain-lain bisa digambarkan pada peta
ini.
b. Peta geologi
Pada peta ini ditunjukkan usia dan nama batuan dan tanah, sehingga dari
peta ini dapat ditentukan formasi khusus tentang jenis tanah yang membentuk
daerah lokasi rencana berada.
Misalnya, lapisan lempung-lempung lunak kemungkinan sehubungan
dengan formasi batu kapur, sehingga juru bor dapat memperkirakan jenis
kebutuhan alat dalam pengambilan contoh tanah.
Keterangan lain yang bisa diperoleh misalnya batuan gunung api yang
telah mengalami proses metamorfosis adalah bahaya longsor. Lapisan dasar
lengkung atau lereng pada formasi endapan dapat mengakibatkan juga daya
dukung yang lemah.
c. Foto udara
Peta foto udara dapat memberikan gambaran keseluruhan dari lokasi
rencana dan sekitarnya dan dapat memberikan keterangan secara kasar tentang
topografi, pertanian, pemukiman dan lain-lain. Juga keadaan tanah dibawah
permukaan dapat memperkirakan setelah mempelajari peta ini.



PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
d. Gambar Penampang Bor
Jika lokasi pernah dilaksanakan pemboran sumur maka gambar
penampang bor yang ada dapat menjadi petunjuk yang berguna akan susunan
jenis tanah yang ada.
Berdasarkan penelitian dikantor dari data petunjuk seperti yang diuraikan
di atas, maka dapat dibuat rencana titik-titik penelitian dilapangan yang akan
dilaksanakan
Rencana penelitian ini termasuk :
- Jenis penelitian lapangan yang harus dilaksanakan
- Lokasi dan jarak antar titik penelitian
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi antara lain :
- Keterangan si perencana
- Kebijaksanaan pemerintah setempat
- Dampak sosial pada daerah lokasi rencana
- Pengetahuan tentang rencana bangunan
Rencana penelitian awal ini kemudian dibawa kelapangan sebagai survai
pendahuluan untuk mendapat rencana yang betul-betul matang.
Jenis, lokasi dan jarak titik penelitian tanah tergantung pada jenis tanah dan keadaan
lapisan tanah.
Lapisan tanah yang homogen dalam daerah yang luas akan memerlukan titik
penelitian yang lebih sedikit dari pada daerah yang tidak homogen. Jenis tanah yang
mengandung batuan kapur memerlukan titik penelitian yang lebih dekat.
Misal : untuk batuan baku yang termetamorfosiskan hanya memerlukan satu lokasi titik
bor, sedang lapisan deposit laut membutuhkan titik bor setiap jarak 20 meter. Untuk
daerah aluvial dan gunung es sukar untuk ditetapkan secara pasti. Dalam hal ini
diperlukan pengetahuan keadaan geologi daerah setempat.
Untuk lapisan tanah dasar yang dangkal, pemboran pada tiap kepala jembatan
sudah cukup sedang pada daerah timbunan yang tinggi dibutuhkan pemboran pada
setiap timbunan untuk mendapatkan data tentang penurunan dan kestabilan timbunan
tersebut.
Kedalaman penelitian akan bervariasi sesuai kebutuhan akan tetapi dalam hal ini
dapat diambil sebagai dasar dalam analisa Westergaard atau Bousinesq, yaitu teori
penyebaran tegangan, dimana dasar pemboran dapat diambil pada kedalaman dimana
tegangan yang terjadi menjadi sebesar 10 % beban yang bekerja pada permukaan.
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
Interval pengambilan contoh tanah tergantung homogenitas bahan yang dibawah
permukaan. Sebagai patokan umum dapat diambil bahwa contoh tanah harus diambil
pada setiap perubahan jenis, konsisten dan kekuatan lapisan tanah. Untuk lapisan yang
berbeda-beda dan tipis dapat disarankan pengambilan contoh menerus, sedangkan untuk
lapisan yang homogen dapat diambil contoh setiap 1,50 meter.
Penelitian dilapangan harus dapat memberikan data yang cukup bagi perencanaan,
karena itu penelitian dilapangan harus mencakup pekerjaan sebagai berikut :
- Pemboran
- Pengambilan contoh tanah
- Penelitian langsung dilapangan
Yang juga bisa ditambahkan dengan :
- Penelitian penampang melintang
- Penelitian gempa
- Penelitian profil bawah permukaan dengan electromagnet
- Dan lain-lain

1.1.2. Survai Lapangan Pendahuluan
Berdasarkan analisa data data yang telah terkumpul maka sebaiknya dilakukan
pengenalan pada daerah-daerah lokasi rencana berupa survai pendahuluan. Sebaiknya
hal ini dilakukan sebelum penelitian lapangan dilaksanakan, sehingga diharapkan tidak
akan terjadi hambatan-hambatan dalam pelaksanaannya.
Tujuan survai lapangan pendahuluan adalah :
- Mengadakan penelitian dan pencatatan keadaan yang mungkin mengganggu
perencanaan atau pelaksanaan penelitian lapangan.
- Mengumpulkan keterangan yang kelak dan mungkin diperlukan oleh regu peneliti
lapangan.
Sehubungan dengan tujuan tersebut, maka beberapa hal yang perlu diteliti dalam
survei ini adalah :
- Lokasi rencana bangunan seperti kepala jembatan, pilar dan lain-lain
- Tanah permukaan
Tanah permukaan dapat dengan mudah diambil dan diidentifikasi sesuai dengan
jenis-jenis tertentu, dan biasanya mengidentifikasi lapisan dibawahnya. Tanah
defosit, sungai dapat mengidentifikasikan sifat-sifat sungai yang ada.
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
Adanya batuan kerakal pada sungai yang besar menunjukkan arus yang deras dan
adanya kemungkinan persoalan gerusan dalam hal ini biasanya menyulitkan
pelaksanaan pemboran dan pemancangan tiang.
- Tebing sungai, giliran timbunan dan lereng
Setiap galian pada daerah sekitar lokasi merupakan jendela untuk mengintip
keadaan lapisan dibawah permukaan, sehingga bisa di data gambaran secara
umum.
- Air permukaan dan air tanah
Adanya air baik dipermukaan maupun air tanah merupakan faktor penting untuk
perencanaan dan pemboran.
- Penelitian terhadap bangunan yang ada
Penelitian terhadap bangunan yang sudah ada terutama tentang jenis fundasi,
penurunan yang terjadi, beban yang bekerja dan usia bangunan itu sendiri
merupakan keterangan yang berharga, disamping dampak bangunan yang ada
terhadap bangunan yang direncanakan.
- Topografi dan jenis tanaman
Topografi penting dalam menentukan lokasi bangunan rencana dan secara tidak
langsung menunjukkan keadaan lapisan bawah permukaan.
Sebagai contoh sungai yang sempit dan terjal biasanya mempunyai lapisan keras
dekat dengan permukaan sedang lembah yang lebar dan datar menunjukkan
lapisan deposit yang dalam.
Peta topografi juga sangat membantu regu pemboran dalam mempersiapkan
peralatan yang dibutuhkan. Jenis tanaman juga dapat menunjukkan jenis tanah
bawah permukaan dan keadaan air.
- Keterangan-keterangan yang dibutuhkan regu pemboran :
Mereka harus mengetahui antara lain :
1. Bagaimana cara mencapai lokasi
2. Peralatan apa saja yang dibutuhkan dan jenisnya serta suku cadang
3. Kesulitan-kesulitan yang mungkin dihadapi
4. Titik-titik patok utama yang ada ( titik BM )
5. Surat-surat ijin dari instansi/pemilik yang bersangkutan
6. Ada atau tidaknya bangunan-bangunan bawah tanah seperti kabel telepon,
pipa PAM dan lain-lain serta lokasinya yang tepat.
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
Sebaiknya survai pendahuluan diikuti dengan survai geofisik sedang survai
secara visual dilapangan bertujuan untuk mendapatkan keterangan tentang geologi
permukaan dan topografi setempat.
Survai geofisik diadakan untuk mendapatkan keterangan dibawah
permukaan yaitu untuk mendapatkan kedalaman tiap lapisan tanah dan batuan
yang ada.
Keterangan-keterangan ini dapat menjadi penunjang bagi rencana penelitian
lapangan yang sesungguhnya.





















PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
BAB II
PENYELIDIKAN GEOLOGI TEKNIK

2.1. UMUM
Setelah survei pendahuluan selesai maka dapat dibuat rencana penelitian
lapangan yang seksama. Penelitian di lapangan merupakan penunjang dasar bagi
perencana dalam merancang bangunan yang stabil, aman dan ekonomis.
Untuk merencanakan hal tersebut si perencana harus mengerti bagaimana reaksi
tanah terhadap rencana bangunannya dan bagaimana bangunannya kelak akan
dipengaruhi oleh keadaan tanah tersebut.
Penelitian lapangan di sini adalah penelitian terhadap lingkungan dan tanah pada
lokasi rencana bangunan, jadi yang dimaksud dangan penelitian lapangan bukan hanya
penyelidikan tanah tetapi juga termasuk penelitian-penelitian lain yang bisa memberikan
keterangan tambahan yang berguna bagi si perencana, misalnya bangunan tidak boleh
runtuh akibat gaya geser atau penurunan tanah, bendung tidak boleh bocor atau
bergerak dan lain-lain.
Yang akan dibicarakan dalam buku ini adalah penyelidikan tanah baik lapangan
maupun laboratorium dimana dalam bab ini akan dibahas tentang penyelidikan tanah di
lapangan.

2.2. PEMETAAN GEOLOGI TEKNIK
Pada mumnya peta adalah sarana guna memperoleh gambaran data ilmiah yang
terdapat diatas permukaan bumi dengan cara menggambarkan berbagai tanda-tanda dan
keterangan-keterangan sehingga dapat dibaca dan dimengerti. Jadi peta dapat diartikan
sebagai gambaran dari seluruh atau sebagian atau sebagian dari permukaan bumi atau
unsur-unsur yang ada kaitannya dengan permukaan bumi yang dipilih dan diskalakan.
Pembuatan peta didasarkan pada kenyataan bahwa pada dasarnya permukaan
bumi bukan merupakan permukaan bidang yang datar, akan tetapi bentuk elips,
berhubungan dengan bentuk kulit bumi yang demikian itu maka telah ditetapkan suatu
karakteristik tersebut untuk permukaan bumi tersebut yaitu perpotongan antara
permukaan bumi dengan bidang datar yang melalui sumbu disebut meridian atau garis
bujur.
Peta geologi adalah peta yang memberikan gambaran mengenai seluruh
penyebaran dan susunan dari lapisan-lapisan batuan dengan memakai warna atau
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
simbul, sedangkan tanda-tanda yang terlihat di dalamnya dapat memberikan
pencerminan dalam tiga dimensi mengenai susunan batuan dibawah permukaan bumi.
Macam-macam peta geologi yang dihasilkan tergantung pada tujuan pemetaan, di
antaranya :
- Keilmuan
- Geologi ekonomi
- Geologi minyak
- Geologi teknik
Peta-peta tersebut walaupun pada dasarnya sama tetapi tiap-tiap macam
mengandung penekanan-penekanan tertentu dan sifat-sifat yang diperlukan dalam tujuan
masing-masing. Sebagai contoh pemetaan untuk lokasi bendungan (geologi teknik), yang
nantinya akan digunakan untuk teknik sipil, tidak ada gunanya bila yang dikemukakan itu
hanya geologi sejarah saja. Peta tersebut akan mendukung apabila di dalamnya
terkandung semua aspek yang berkaitan dengan komunikasi bendungan.
Kegunaan
- Untuk mengetahui morfologi daerah penelitian
- Untuk mengetahui luas daerah telitian
Prosedur pelaksanaannya
Tahap pelaksanaan pemetaan geologi dapat dibagi dalam 3 tahap utama yaitu :
1. Tahapan perencanaan
Perencanaan ini meliputi kegiatan diruang kerja dan perencanaan kerja dilapangan.
Perencanaan kerja antara lain :
a. Pengumpulan data mengenai keadaan daerah (medan)
b. Membuat rencana, tenaga, perlengkapan, biaya.
c. Penyusunan jadual
Setelah dilapangan melakukan penyelidikan untuk dapat mengenali medan, jalan,
sungai, nama kampung, mengetahui secara sepintas jenis-jenis litologi dan membuat
perencanaan mengenai lintasan-lintasan yang akan ditempuh.
2. Tahapan pemetaan dilapangan
Terlebih dulu menyiapkan secara umum seperti :
a. Membiasakan mulai bekerja dilapangan pagi-pagi dan kembali tidak terlalu sore. Ini
sarankan supaya pengambilan data lebih akurat karena keadaan personilnya masih
segar dan kalibrasi akibat sinar matahari yang berlebihan bisa terhindarkan.
b. Persoalan geologi yang tidak bisa dibawa kebasecamp selalu dipecahkan dilapangan.
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010

Pengamatan dilapangan
Semua yang dapat dilihat, bagi pemeta mempunyai arti tertentu yang berfungsi
untuk memberikan informasi yang lebih kepadanya, adalah kewajiban bagi para pemeta
untuk mencatat segala yang diamati, walaupun yang ada pada saat itu mungkin
tampaknya tidak ada gunanya, sebab data tersebut mungkin akan diperlukan saat
mendatang.

Ada 3 hal pokok yang harus direkam di dalam suatu buku lapangan, yaitu :
- Unsur-unsur struktur
Jurus dan kemiringan untuk struktur bidang (misalnya bidang perlapisan, kekar, sesar,
foliasi dan lain-lain), serta arah dan penunjaman struktur gawir (misalnya sumbu
microfold, goresgaris, liniasi mineral).
- Diskripsi litologi
Dilapangan harus di usahakan pada singkapan yang baik serta dapat diharapkan
mewakili satu satuan.
- Membuat sketsa atau potret
Mungkin tujuannya perlu dilakukan sebab dengan foto ada saja kemungkinan gagal
dan pada sketsa dapat memperjelas hal-hal yang ingin ditonjolkan.

2.3. JENIS-JENIS PENELITIAN LAPANGAN
Pasal ini bermaksud memberikan pedoman singkat tentang bentuk-bentuk
penyelidikan tanah yang sesuai untuk suatu keadaan tertentu.
Setelah selesai survai pendahuluan maka akan diperoleh keterangan tentang jenis
tanah, batuan dan keadaan air tanah secara umum. Berdasarkan keterangan-keterangan
ini dan pengetahuan yang ada maka dapat direncanakan jenis percobaan dan peralatan
yang dibutuhkan.
Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan :
1. Ruang lingkup bangunan rencana
2. Jumlah keterangan yang ada
3. Kemungkinan jenis tanah yang ada
4. kemungkinan air tanah yang ada
5. Jenis contoh yang dibutuhkan
6. Jenis pekerjaan dilapangan dan laboratorium yang dibutuhkan
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
7. Tersediaanya peralatan dan perlengkapannya dan kesesuaian dengan keadaan
dilokasi
8. Biaya penyelidikan yang dibutuhkan
9. Kemampuan setiap alat
10. Kebutuhan tenaga manusia, jumlah dan kemampuannya
11. Peta topografi, batasan-batasan pekerjaan penunjang lain yang dibutuhkan
12. Kebutuhan alat penunjang
Di sini akan dijelaskan beberapa metode yang ada, penggunaan dan batasannya
sehingga memungkinkan penentuan jenis pekerjaan.
1. Sumur Uji/Parit Uji
Untuk sumur uji sampai kedalaman 5,00 m digunakan alat backhoe, jika sampai
kedalaman 1,00 1,50 m dapat digunakan tenaga menusia.
Penggunaan umum
Sumur uji berguna untuk daerah timbunan dan secara visual dapat memberikan
gambaran tentang lapisan tanah yang ada. Dengan sumur uji juga dapat dilihat
adanya daerah-daerah patahan, lapisan dasar batuan. Sumur uji daerah diperpanjang
menjadi paritan uji (tranches) untuk mengikuti atau menyilang daerah longsor.
Contoh tanah dan percobaan ditempat
Contoh tanah terganggu bisa diperoleh langsung. Contoh tanah asli bisa
diperoleh dengan menekan tabung contoh pada dasar sumuran.
Percobaan ditempat yang dapat dilaksanakan :
- Percobaan kipas geser (vane test)
- Percobaan penetrometer
- Percobaan daya dukung plat (plate bearing)
Batasan
Untuk tanah yang ada lepas dan adanya muka air tanah yang tinggi maka
percobaan ini sulit dilaksanakan, juga untuk daerah batuan yang keras.

2. Probing
Dalam bentuk yang paling sederhana adalah dengan cara memukul batang baja
yang tajam atau berbentuk peluru ke dalam tanah. Jumlah pukulan yang dibutuhkan
untuk memasukkan batang dapat dikorelasikan dengan kekuatan tanah yang
bersangkutan
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
Penggunaan umum
Percobaan ini adalah percobaan yang mudah, sederhana dan murah dalam
menentukan kedalaman lapisan tanah lepas.
Pengambilan contoh dan percobaan ditempat
Dalam hal ini tidak dapat diambil contoh tanah dan juga tidak dapat dilaksanakan
percobaan ditempat.
Batasan
Alat ini hanya dapat digunakan pada lapisan tanah mengandung kerikil/kerakal
dapat memberikan indikasi lapisan tanah keras yang salah. Hal ini hanya dapat
dilakukan sebagai petunjuk awal lubang bor.

3. Bor Tangan
Metode ini dijalankan dengan tangan untuk membedakan lapisan tanah yang
ada. Hasil yang didapat adalah lubang bor dengan kedalaman maksimum 6,00
10,00 meter dengan dimeter 50- 200 mm
Penggunaan umum
Pemboran tangan adalah metode yang cepat dan murah untuk tanah yang lunak
percobaan ini dapat dilaksanakan pada daerah yang terpencil dan sulit untuk
transportasi alat besar.
Percobaan ini berguna sebagai perencana awal dan dapat digunakan untuk
pencarian muka air tanah dan untuk memasang peralatan-peralatan.
Pengambilan contoh dan percobaan ditempat
Pengambilan contoh dapat dilaksanakan baik asli maupun terganggu. Percobaan
ditempat yang dapat dilaksanakan adalah percobaan kipas geser dan penetrometer.
Batasan
Biasanya jarang digunakan pipa pelindung dan kadang-kadang tanah berguna
dan air dapat menghambat penetrasi, juga batuan atau lempung yang sangat kenyal.


4. Pemboran dengan Tabung tipis
Metode ini menggunakan anjungan ringan yang dikembangkan dari teknik
pemboran kuno dan dirakit oleh Land Rover. Alat ini terdiri dari kaki tidak yang
disambung dangan rantai digunakan untuk menaikkan dan menjatuhkan berbagai alat
kedalam lubang yang biasanya berdiameter 150 200 mm.
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
Peralatan yang digunakan dipilih sesuai dengan keadaan lapisan tanah dan
muka air tanah yang akan ditembus. Sering dikenal sebagai pemboran dengan
tumbukan ringan.
Kadang-kadang dibutuhkan pipa pelindung menjaga tanah untuh atau mencegah
meresapnya air tanah.
Penggunaan umum
Metode ini paling umum digunakan di Inggris. Dapat digunakan untuk segala
macam jenis tanah dan dapat mencapai kedalaman 60,00 m.
Batuan dapat dipahat atau batuan yang sangat keras dapat dibor dengan bor
putar. Alat ini cukup ringan sehingga dapat diletakkan pada permukaan tanah yang
lunak.
Pengambilan contoh dan percobaan ditempat
Dapat diambil contoh tanah terganggu menerus atau contoh tanah asli dengan
diameter 100 mm.
Juga percobaan penetrasi standar (SPT) dapat dilaksanakan dengan
menggunakan palu seberat 63,5 kg.
Batasan
Pengoperasiannya membutuhkan keahlian tersendiri dan dalam pengambilan
contoh asli dan mewakili perlu kecermatan. Butiran halus akan hilang dalam
pemboran dibawah permukaan air tanah.

5. Pemboran putar
Dengan sistem ini batang bor diputar secara mekanis dan putaran ini diteruskan
kemata bor pada dasar mata lubang bor. Anjungan juga memberikan tekanan pada
mata bor. Batangnya bisa dipasang pada pahat mekanis yang berputar atau diputar
dari atas oleh motor hidrolis.
Mata bor dilumasi dan hasil potongannya diangkat kepermukaan dengan
bantuan pelumas (Lumpur, air, udara atau busa). Inti batuan yang terpotong akan
tertinggal dalam tabung inti dan diangkat kepermukaan untuk diuji.
Penggunaan umum
Ini adalah metode umum dalam penyelidikan tanah dan anjungan yang berbeda-
beda mulai dari yang ringan sampai yang berat sehingga memerlukan kran untuk
pemasangan. Mata bornya pun bermacam-macam tergantung dari jenis tanah atau
batuan, alat bor dan kapasitas pemboran yang dikehendaki.
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
Pengambilan contoh dan percobaan ditempat
Dengan teknik pemboran yang benar, seluruh contoh inti dapat terambil untuk
pengujian yang dibutuhkan, juga berbagai macam percobaan ditempat dapat
dilaksanakan.
Batasan
Pipa pelindung mungkin dibutuhkan untuk tanah yang tidak stabil untuk menjaga
supaya lubang tidak tertutup. Pengalaman tertentu dibutuhkan untuk memilih jenis
mata bor, penentuan jumlah media pelumas, kecepatan putaran, tekanan mata bor
dan lain-lain untuk mendapatkan contoh inti yang baik.

6. Pemboran Penumbukkan Berputar dan Lubang Terbuka
Sering pemboran ini dapat ditemukan pada pelaksanaan pengambilan bahan
(quarry) dan peledakan. Alat ini dipasang pada traktor, lori atau crawler dan media
pelumas yang digunakan adalah udara. Kadang-kadang alat ini dikenal sebagai palu
tekan atau bor wagon.
Mata bor tanpa inti dapat digunakan untuk alat bor Ikama untuk menghasilkan
langsung lubang bor yang terbuka.
Penggunaan umum
Metode ini menghasilkan lubang yang cepat dan murah dan sering digunakan
dalam pencarian barang tambang dimana dibutuhkan sejumlah besar lubang dalam
jarak dekat untuk melokasikan rongga-rongga.
Gambaran kasar tentang lapisan yang ada bisa diperoleh dari penetrasi rata-rata
dan dari keadaan dan arna gumpalan-gumpalan kecil tanah yang dihasilkan.
Pengambilan contoh dan percobaan ditempat
Seperti dijelaskan diatas, contoh yang bisa diperoleh hanya debu atau
gumpalan-gumpalan kecil tetapi berbagai percobaan ditempat dapat dilaksanakan.
Batasan
Contoh yang dihasilkan hanya dapat memberikan gambaran tentang lapisan
secara kasar sehingga dibutuhkan pengawasan yang terus menerus. Percobaan ini
menimbulkan suara yang bising dan debu. Untuk tanah yang lepas dibutuhkan pipa
pelindung sehingga ada biaya tambahan.



PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
7. Pemboran Mekanis
Dalam proses ini anjungan yang berputar secara mekanis menekan bor yang
bisa yang berbentuk pipa penuh atau berlubang ditengah. Batang yang penuh hanya
bisa menghasilkan contoh terganggu tetapi batang berlubang bisa menghasilkan baik
contoh asli maupun contoh seni terganggu menerus. Anjungan ini biasanya dipasang
pada lori.
Penggunaan umum
Metode ini pelaksanaannya cepat pada tanah kohesif dan jika diperoleh contoh
menerus hal ini akan sangat berguna dalam mendeteksi perubahan yang kecil pada
tanah misalnya ada lensa pasir yang tipis. Ukuran bor tipikal adalah 150-250 mm dan
kedalaman yang bisa dicapai 50 m. Pada tanah yang bulat dapat digunakan bor yang
bulat yang pendek digunakan untuk memindahkan tanah permukaan. Jika ditemui
lapisan batuan, pemboran dapat dilanjutkan dengan menggunakan pemboran inti
dengan diameter kecil dengan batang yang berlubang.
Pengambilan contoh dan percobaan ditempat
Contoh terganggu dapat diperoleh secara keseluruhan dan berbagai percobaan
di tempat dapat dilaksanakan melalui batang berlubang seperti penetrasi standar dan
kipas geser. Sebagai tambahan, dapat diambil contoh tabung melalui batang
berlubang.
Batasan
Persoalan akan timbul jika digunakan pada lapisan tanah lepas khususnya
dibawah permukaan air tanah atau jika ada kerakal. Anjungan cederung berat karena
dibutuhkan tenaga yang besar dan jalan masuk yang lunak akan menyulitkan.

2.4. METODE-METODE PENELITIAN LAPANGAN YANG BANYAK DIPAKAI.
Seperti telah disebutkan banyak faktor yang mempengaruhi pemilihan jenis
penelitian tanah yang diharapkan akan bisa memberikan data yang cukup lengkap bagi
perencana. Dalam hal ini akan dibicarakan beberapa metode tersebut.
1. Sumur Uji
a. Kegunaan
- Penelitian visual tentang keadaan tanah setempat
- Pengujian detail tentang perbedaan tanah, sruktur dan profil akibat perubahan
cuaca
- Observasi aliran air dan pengukurannya
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
- Pengujian rendaman
- Pencarian benda-benda geologi dan arkeologi atau detail fundasi yang ada
- Penetapan model kelongsoran dari lereng galian, fundasi atau timbunan dengan
melokasikan daerah longsor
- Mencari kelongsoran geologis dengan membuat/memperluas sumur uji menjadi
paritan untuk mendapatkan kedalaman lapisan tanah/batuan
- Mendapatkan cara yang mudah untuk penggalian ditinjau dari segi biaya dan
untuk menetapkan kedalaman lapisan batuan
- Mengadakan percobaan ditempat dalam skala besar termasuk percobaan daya
dukung pelat dan percobaan pembebanan horizontal
- Melokasikan titik bor
- Mendapatkan contoh-contoh tanah
- Menetapkan kestabilan galian
Selain untuk keperluan di atas biasanya sumur uji juga dilaksanakan untuk daerah
yang terpencil dimana peralatan sukar mencapai lokasi.
b. Pelaksanaan
Bagian ini mengungkapkan kebutuhan peralatan untuk percobaan sumur uji
dan prosedur lapangan yang disarankan.
Peralatan yang dibutuhkan antara lain :
- Skop
- Palu biasa
- Pacul
- Kompas
- Tali
Tidak semua peralatan ini dibutuhkan untuk dan kadang dibutuhkan
tambahan. Sebelum pekerjaan dimulai semua peralatan yang dibutuhkan harus
dipersiapkan.
Salah satu langkah pertama adalah pemilihan lokasi yang tepat sehingga
data yang diharapkan bisa diperoleh. Kadang-kadang perlu diperhatikan
kerusakan yang timbul pada lengkungan baik akibat sumur uji itu sendiri maupun
akibat peralatan yang dibawa. Setelah lokasi ditemukan, rencana sumur uji
ditandai dengan patok. Lapisan humus dibuang terlebih dahulu. Setiap penggalian
dilakukan lapis demi lapis setebal kurang lebih 30 cm untuk memungkinkan
pengujian setempat. Untuk sumur uji dengan kedalaman lebih dari 1,50 m harus
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
diberi kemiringan atau diberi turak pelindung tetapi untuk tanah lumpur yang
sangat lunak kadang-kadang diperlukan turak meskipun kedalaman kurang dari
1,50 m. Untuk tanah lempung kenyal kadang-kadang tidak dibutuhkan turak
sampai kedalaman 1,50 m tetapi untuk kedalaman > 1,50 m diperlukan turak.
Tanah pasir dan lanau akan membahayakan terutama jika mengandung air
dan terutama jika berada dibawah permukaan air tanah. Tanah batuan sering-
sering tidak membutuhkan turak hanya perlu diperhatikan bahaya batu jatuh.
Setelah galian selesai maka diadakan pengukuran dan kemudian dapat
dibuat penampang lapisan tanah. Jika tidak dibutuhkan lagi maka sumur uji harus
ditutup kembali tetapi jika masih dibutuhkan untuk penelitian maka sumur uji harus
dijaga agar tidak tertimbun kembali.
c. Pengambilan contoh dan percobaan ditempat
Prosedur pengambilan contoh biasanya tergantung jenis bangunan rencana
tetapi biasanya diambil pada setiap interval 0,5 m atau setiap perubahan lapisan.
Untuk contoh balok harus diambil setelah tanah bersih dan lapisannya rata.
Untuk keperluan percobaan gradasi, klasifikasi dan CBR harus diambil
contoh seberat 25 kg untuk tanah berbutir halus dan 50 kg untuk tanah berbutir
kasar. Untuk percobaan pemandatan atau perencanaan campuran beton diambil
contoh seberat 100 kg. Dapat juga diambil contoh asli untuk percobaan CBR
kedalam tanah. Beberapa percobaan yang dapat dilaksanakan adalah
penetrometer saku dan percobaan kipas manual yang hanya bisa memberikan
nilai secara kasar. Penetrometer konus yang sederhana juga bisa dilaksanakan
dengan cara menekan batang dengan konus kecil pada ujungnya. CBR ditempat
dengan cara menghitung penurunan plunyer yang berbeban, untuk mendapatkan
gambaran harga CBR lapangan secara umum, selain juga percobaan daya
dukung pelat, untuk percobaan kepadatan lapangan dapat diadakan percobaan
konus pasir (sand cone).

2. Pemboran Tangan
Pemboran tangan bisa digunakan untuk pengambilan contoh tanah dalam
lapisan dangkal (<10,00 m).
a. Kegunaan
Untuk mendapatkan keterangan tanah, jenisnya, sifat-sifat fisis dan keadaan
tanah itu sendiri.
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
b. Pelaksanaan
Bor tangan dilaksanakan dengan menggunakan berbagai macam bor (auger)
pada ujung bagian bawah dari stang berbentuk T untuk memutar stang bor.
Sebelum pemboran dilaksanakan perlu diketahui beberapa hal antara lain :
- Letak titik pemboran
- Kedalaman pemboran yang diharapkan
- Jenis contoh yang dikehendaki
- Macam bor yang akan digunakan
c. Peralatan yang dibutuhkan :
- Bor jenis Jarret diameter 10 cm dengan mata bor spiral
- Bor jenis Iwan diameter 10 m dengan mata bor helical
- Kepala pengambilan contoh 6,8 cm dengan kuncinya
- Satu set stang bor
- Tabung contoh ukuran diameter 6,8 cm dan panjangnya 40 cm
- Pemutar stang bor
- Satu set pipa pelindung (casing) dengan sepatu dan dongkrak pencabut pipa
- Kantong plastik
- Lilin atau parafin
- Pisau pemotong contoh
- Kunci pipa dan obeng
- Pita ukur
- Pensil, kertas dan lembaran data
- Alas terpal untuk tempat contoh
d. Prosedur pelaksanaan
Setelah lubang untuk pemeriksa dibuat dan bersih, kemudian bor dimasukkan
kedalam tanah dengan memutar stang bor hingga bor penuh terisi tanah dan
kemudian stang ditarik ke atas. Tanah dalam mata bor dibersihkan dan dimasukkan
kedalam kantong plastik.
- Pengambilan contoh tidak asli
Untuk contoh ini dapat diambil dari contoh tanah dengan bor. Tanah yang
diambil adalah contah dari setiap lapisan yang ditentukan dengan pemeriksaan
visual.
Contoh kemudian dimasukkan dalam kantung plastik dan diberi label.
- Pengambilan contoh asli (undistrubed samples)
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
- Untuk cara ini diperlukan tabung contoh dengan ukuran 6,8 cm dan panjang
40 cm
- Tabung contoh dimasukkan kedalam lubang bor dan kemudian ditekan
perlahan-lahan sampai mencapai kedalaman 40 cm
- Untuk memudahkan pemeriksaan laboraturium minimal 60 % dari tabung
baru berisi tanah
- Stang bor kemudian diputar dengan arah terbalik sehingga contoh tanah
terlepas dari kelilingnya dan contoh dapat diangkat keatas
- Setelah contoh diangkat keluar, dilepas dari kepala tabung. Ujung tanah
diratakan dan dibersihkan kemudian diberi lilin/paraffin pada ujung-ujungnya
sebagai isolator
- Setelah lilin/parafin mengering, contoh diberi label dan ditempatkan pada
tempat yang terlindung.















3. Pemboran putar
a. Kegunaan
- Penyelidikan bahan tabung/endapan mineral
- Mengetahui struktur geologi suatu daerah
- Menyilidiki tanah dasar untuk tujuan teknik sipil, seperti untuk fondasi bangunan
gedung, jalan, jembatan bendungan, pelabuhan, dan lapangan terbang
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
- Pembuatan sumur ekplorasi dan eksploitasi minyak atau air
- Pembuatan lubang udara ventilasi dan lubang pengeringan air dalam tambang
di bawah tanah
- Maksud pemecahan batu dan pembuatan terowongan
b. Peralatan yang dibutuhkan
- Mesin bor dengan alat lengkap dengan alat pengatur geral, alat pemegang bor
dan sebagainya
- Mesin pompa lengkap dengan selang air dan alat penggerak air
- Alat penembus tanah (mata bor) dan stangnya
- Menara atau tripod sebagai pembantu dalam pemasukkan dan pengeluaran
batang bor dari dalam tanah
- Batang bor yang biasa dipakai dengan panjang 2,5 dan 10 feet
- Pipa pelindung dengan panjang 2,3,5, dan 10 feet
- Macam-macam matam bor : straight chopping bit, cross chopping bit, three
cone roller bit, carbide core bit
- Unit cere barrel (penginti)
- Kotak contoh
c. Posedur Pelaksanaan :
- Untuk lapisan permukaan yang terdiri dari lapisan lempung, lanau atau pasir
dapat dimulai dengan bor spiral dari common auger (1 7/8), closed spiral dari
auger (2 1/2") atau open spiral auger, dimana pemboran dengan sistem kering.
Tapi dari pengalaman lebih baik di pakai jenis pertama. Pemboran dari spiral ini
dilakukan tiap 40 cm sampai kedalaman 2 atau 3 meter. Bila ini sudah selesai
dapat diteruskan dengan pencucian (washing) sampai kedalaman bor spiral
tadi. Maksud pencucian disini adalah untuk melebarkan lubang bekas bor spiral
yang maksudnya sebagai persiapan langkah-langkah selanjutnya. Pencucian
dapat dilakukan dengan three cone roller bit yang berdiameter 4 1/2 atau 4
1/8. Maksud penggunaan mata bor yang besar ini adalah sebagai persiapan
untuk memasukkan pipa pelindung dengan diameter luar 4 1/2".
- Untuk lapisan permukaan yang tediri dari campuran kerakal, kerikil dan pasir
yang bersifat lepas, maka langkah pertama adalah membuat lubang dan
langsung dipasang pipa pelindung. Untuk membersihkan lubang dipakai 3 cone
bit yang diameternya lebih kecil dari diameter pipa pelindung. Hasil pemotongan
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
contoh tanah (cutting) dapat diambil sebagai contoh tidak asli. Pengambilan
kotoran dalam pipa pelindung juga dapat dilakukan dengan pompa.
Pengambilan contoh asli
- Pada umumnya dilakukan terhadap contoh tanah dari jenis lempung, lanau,
pasir lempung atau pasir lanauan.
- Alat yang dipakai adalah tabung dinding tipis dengan diameter 75 mm dan
panjang 76 cm
Cara Pengambilan Contoh Asli:
- Bersihkan lubang bor sampai dasarnya dilakukan dengan pemboran basah dan
untuk mengangkat kerikil yang tersisa dapat dikerjakan dengan pompa pasir.
- Pasang tabung contoh dan kepalanya pada batang bor dan turunkan kedasar
lubang.
- Batang bor ditekan dengan mesin bor (secara hidrolis) sehingga tabung masuk
kedalam contoh tanah maksimum sedalam 60 cm.
- Sesudah tabung masuk sampai kedalaman yang diinginkan putar tabung untuk
memisahkan contoh tanah dengan sekitarnya.
- Tabung diangkat dengan hati-hati dan dilapaskan dari kepalanya dan
dibersihkan kedua ujungnya, kemudian ditutup dengan parafin dan diberi label.
Percobaan Penetrasi Standar
Selain pengambilan contoh dilakukan percobaan penetrasi standar untuk
mengetahui kekuatan lapisan tanah yang bersangkutan
Alat yang dibutuhkan :
- Batang bor
- Split spoon sampler
- Penembuk dengan berat 63,5 kg
- Batang peluncur penumbuk dengan panjang minimum 05 cm
- Kepala batang penumbuk
- Ring penumbuk
Pelaksanaan :
- Bersihkan lubang bor sampai dasarnya
- Pasang split spoon pada batang bornya
- Turunkan batang bor sampai ke dasar lubang dan beri tanda 15 cm sebanyak 3
kali pada batang bor yang tersisa di atas permukaan tanah. Pengukuran 3 x 15
cm diukur dari muka tanah keatas
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
- Sambung batang yang tersisa ini dengan unit kepala penumbukan dan
penumbuk serta batangnya
- Dalam pemotongan mesin bor tumbuklah batang ini dengan penumbukan
diatas dengan tinggi jatuh bebas 75 cm. Jumlah tumbukan untuk tiap 15 cm tadi
dicatat, yaitu nilai N
1
, N
2
, dan N
3
.
Yang disebut dengan nilai N SPT adalah N
2
+ N
3
.
- Angkat split spoon perlahan-lahan agar contoh yang didalamnya tidak jatuh
Pemboran mekanis dan lainnya dalam hal ini jarang digunakan sehingga tidak
dibahas dalam buku ini

























PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010


































PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010


































PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010


































PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010


































PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010


































PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010


































PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010























4. Sondir
Kegunaan
Untuk mengetahui kedalamannya lapisan tanah keras serta sifat daya dukung
maupun daya lekat setiap kedalaman.
Pelaksanaan
Alat yang biasa digunakan adalah Dutch Cone Penetrometer dengan bikonus
jenis Gegemann dengan kapasitas maksimum 250 kg/cm
2
Bikonus yang digunakan bekerja ganda sehingga dapat menunjukkan tingkat
kepadatan lapisan tanah yang dicapai sehingga ujung konus dan geseran setempat
yang diukur oleh geseran mantel konus.

PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
Peralatan yang digunakan :
- Mesin sondir
- Satu set (30) buah batang stang sondir lengkap dengan stang dalam yang
panjangnya masing-masing 1,0 meter
- Manometer 2 buah
a. Kapasitas 0-50 kg/cm
2

b. Kapasitas 0-250 kg/cm
2

- Satu buah bikonus dan satu buah paten konus
- Satu set angker
- Peralatan kunci pipa, kunci plunyer, palu, kunci manometer, waterpass dll
- Minyak hidrolik (kastrol Oli, SEA 10).

Prosedur Pelaksanaan
- Pasang mesin tegak lurus pada tempat yang akan diselidiki yang diperkuat dengan
angker yang dipasang dalam tanah.
- Pasang traker, tekan stang dalam. Pada penekanan pertama ujung konus akan
bergerak kebawah sedalam 4 cm, kemudian baca manometer yang menyatakan
perlawanan ujung. Pada penekanan selanjutnya conus dan mantelnya bergerak
kebawah 4 cm. Nilai pada manometer yang terbaca adalah nilai tahanan ujung dan
perlawanan lekat.
- Tekan stang luar sampai kedalaman baru, penekanan stang dilakukan sampai
setiap kedalaman tambahan sebanyak 20 cm
- Pekerjaan sondir dihentikan pada keadaan sebagai berikut :
- Jika bacaan manometer tiga kali berturut-turut menunjukkan nilai > 150 kg/cm
2

- Jika alat sondir terangkat ke atas sedangkan bacaan manometer belum
menunjukkan angka yang maksimum maka alat sondir diberi pemberat

Perhitungan
- Hambatan lekat (HL) dihitung dengan rumus
HL = (JP PK)
PK = perlawanan penetrasi conus (q
c
)
PJ = jumlah perlawanan
- Jumlah hambatan lekat
JHL
i
= E
i
o
HL
A
B
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
dimana i = kedalaman lapisan yang ditinjau
- Grafik yang dibuat :
* Perlawanan penetrasi konus PK pada tiap kedalaman
* Jumlah hambatan pelekat (JHP) pada tiap kedalaman
A = interval pembacaan = 20 cm
B = faktor alat = = 10 cm


Keuntungan alat sondir
a. Dapat dengan cepat menentukan lapisan keras
b. Dapat diperkirakan perbedaan lapisan
c. Dengan rumus empiris hasilnya dapat digunakan untuk menghitung daya dukung
tiang
d. Cukup baik untuk digunakan pada lapisan yang berbutir halus

Kekurangannya
a. Jika terdapat batuan lepas bisa memberikan indikasi lapisan keras yang salah
b. Tidak dapat mengetahui jenis tanah secara langsung
c. Jika alat tidak lurus dan konus tidak bekerja baik maka hasil yang diperoleh bisa
meragukan














luas konus
luas torak
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010


































PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010


































PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010


































PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010


































PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010

5. Percobaan permeabilitas
Untuk mengukur rata-rata aliran air melalui suatu jenis tanah.
Percobaan dengan menurunkan muka air adalah percobaan yang paling
sederhana dan baik untuk tanah berbutir halus sedang cara dengan permukaan tetap
lebih teliti tetapi juga tidak cocok untuk tanah berbutir kasar. Percobaan Packer sering
digunakan pada batuan sedang percobaan dengan pemompaan bisa dilaksanakan
baik tanah maupun batuan dengan permeabilitas tinggi dan biasanya digunakan untuk
mengevaluasi sumber air (aquifer) untuk penyediaan air.

a. Percobaan dengan ujung terbuka
Kegunaan
Untuk mendapatkan harga rata-rata dari permeabilitas (daya rembes dari
suatu lapisan)
Peralatan yang digunakan :
- Alat pembor
- Pipa pelindung
- Meteran air
- Manometer tekanan
- Pompa
- Pipa air dan penyambungnya
Prosedur Pelaksanaan :
- Pipa pelindung ditanamkan sampai kedalaman yang diinginkan
- Jika pipa harus ditanamkan dibawah muka air tanah maka harus diperhatikan
bahwa air harus selalu ada dalam pipa untuk mencegah naiknya tanah
- Lubang kemudian di bersihkan
- Setelah bersih tambahkan air bersih melalui suatu sistem meter untuk menjaga
aliran gravitas pada ketinggian tetap
- Kemudian dicatat tinggi permukaan tetap, aliran rata-rata tetap kedalaman
lubang, ukuran pipa pelindung, ketinggian pipa pelindung sebelah atas dan
bawah.



PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010

Perhitungan:

k = In > 10 r

k = Sin h
1
> 10 r > L > r

k = permeabilitas
Q = aliran rata-rata konstan dalam lubang
L = panjang bagian yang diuji
H = perbedaan tinggi muka air
r = jari-jari lubang yang diuji

b. Metode sumur uji
Kegunaan
Untuk menetapkan permeabilitas tanah ditempat dan biasanya untuk
menghitung aliran pada saluran untuk menetapkan arah saluran.
Peralatan yang digunakan
1. Bor
2. Alat penampung
3. Klep dengan alat pengaturnya
4. Pengapung
5. Pipa pelindung
6. Beban pemberat
Prosedur pelaksanaan :
a. Ukuran sumur uji
Kedalaman sumur uji harus diantara 10 150 x jari-jari. Ukuran praktis terkecil
adalah 10 cm dan kedalaman 60 cm
b. Penyiapan sumur uji
Lubang digali dengan hati-hati dinding harus dibersihkan hingga tidak ada
kemungkinan tanah yang terpadatkan
Jika kedalaman yang akan diuji di bawah permukaan air tanah maka
diperlukan bantuan pipa pelindung yang kelak akan dicabut apabila praktikum
akan dilaksanakan. setelah sumur bersih kemudian diurug dengan pasir bersih
Q
2t LH
Q
2t LH
L
r
L
2r
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
atau kerikil halus sampai ketinggian 15 cm dibawah permukaan air yang
harus dijaga.
Pipa pelindung galvanis berisi ditempatkan secara vertikal pada ruang diatas
pasir dan pasir porus ditempatkan diantara pipa dan pelindung sumur.
c. Pasir untuk sumur uji
Pasir untuk sumur uji mempunyai dua kegunaan :
1. Mengganti pipa pelindung sebagai pencegah longsornya dinding
2. Sebagai alat pengukur tidak langsung jari-jari sumuran
d. Pengaturan peralatan uji
Bak penampung harus ditaruh dalam daerah datar dan pada ketinggian
tertentu. Tabung 1/2 inchi pada sisi pipa pelindung dapat digunakan sebagai
pencatat suhu (termometer) sumuran atau pipa air pleksibel dari klep apung
dapat disambungkan. Panjang rantai ringan dari batang apung kebatang
pengatur klep harus dipasang dan pemberat banding ditempatkan
mengimbangi jika di airi.
e. Suhu Air
Karena adanya kemungkinan perubahan suhu dilapangan dan perubahan
kekentalan air karena suhu, maka perlu dicatat suhu selama percobaan dan
mengoreksi koefisien permeabilitas ke standar 20 C.
f. Pencatatan aliran dan waktu
Uji permeabilitas diadakan dengan mencatat pembacaan pada tabung
manometer pada interval waktu. Dari data ini bisa digambar kurva yang
menunjukkan hubungan akumulatif aliran dengan waktu dan bisa dihitung
aliran rata-rata pada setiap waktu
g. Lama waktu pengujian
Pengujian harus dilaksanakan cukup lama untuk mendapat selimut jenuh pada
tanah tapi tidak perlu cukup lama untuk menghasilkan muka air atau
menghasilkan kejernihan yang berlebihan sehingga timbul kelongsoran.
- Waktu minimum
Waktu minimum adalah waktu yang dibutuhkan untuk memenuhi volume
minimum.



PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010

V min = 2,09
s
[h 2 ]
3
Sin h
-1
(h/r)
-1

V min : Volume minimum, ft
3

s : spesifik tanah
h : tinggi air disumur, ft
r : jari-jari sumuran, ft
- Waktu maksimum
Perhitungan koefisien permeabilitas
k
20
: 525,6 (Sin h
-1
(h/r)-1)Q/2t (U
t
/U
20
)
h
2
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
BAB III
MEKANIKA TANAH

3.1 SEJARAH TERJADINYA TANAH
Pada mulanya bumi berupa bola magma cair yang sangat panas. Karena
pendinginan, permukaannya membeku, maka terjadi batuan beku oleh proses fisika
(panas/dingin, membeku/mencairnya), batu hancur menjadi butir-butir tanah (sifatnya
tetap seperti batu aslinya : kerikil, pasir, lanau). Oleh proses kimia (migrasi, hidrasi,
oksidasi) batu lapuk, sehingga terjadi tanah dengan sifat berubah dari batuan aslinya.
Transported soil adalah merupakan tanah yang lokasinya pindah dari tempat
terjadinya akibat aliran air, angin, dan atau es.
Residual soil adalah merupakan tanah yang tidak pindah lokasi dari tempat
terjadinya.
Oleh proses alam, proses perubahan dapat bermacam-macam dan berulang. Batu
menjadi tanah karena pelapukan dan penghancuran. Tanah dapat menjadi batu lagi
karena pemadatan, sedimentasi, mencair kembali. Batu bisa menjadi batuan jenis lain
karena panas, tekanan, dan larutan.
Tanah terdiri dari butir-butir diantaranya berupa ruang pori. Ruang pori terisi udara
dan atau air. Tanah yang mengandung bahan organik, sisa atau pelapukan tumbuhan
atau hewan disebut tanah organik, jika kandungan bahan organiknya cukup banyak.
Mekanika tanah merupakan ilmu yang mempelajari tanah dari pandangan teknik
sipil. Tanah dianggap sebagai bahan konstruksi teknik, dipelajari sifat-sifat dan perilaku
terhadap pengaruh beban, pengaruh dari rembesan air dan sebagainya. Kekurangannya
jika dibandingkan dengan bahan konstruksi lain adalah tanah tidak dibuat dengan standar
tertentu sehingga kondisinya tidak homogen.
Tabel jenis-jenis tanah (ASTM)
No. FRAKSI-FRAKSI TANAH
J ENIS TANAH BERDASARKAN
UKURAN BUTIR
1. Kerikil (Gravel) > 4,75 mm
2. Pasir (Sand) 4,75 0,075 mm
3. Lanau (Silt) 0,075 0,005 mm
4. Lempung (Clay) < 0,005 mm
5. Koloid (Colloid) < 0,002 mm
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
Butir lempung sangat halus kurang dari 0,002 mm disebut colloid

3.2. PENGUJIAN LABORATORIUM
Uji laboratorium bertujuan untuk mendapatkan sifat-sifat fisik maupun parameter
keteknikan yang diperlukan. Pengujian laboratorium ini dilakukan pada laboratorium
mekanika tanah yang meliputi :
1. Uji laboratorium untuk mendapatkan sifat fisik tanah.
Sifat-sifat yang dimaksud di sini adalah indeks properties dari tanah, antara lain :
a. Kadar air (Water content).
b. Berat jenis (Specific gravity).
c. Batas-batas atterberg (Atterberg limit).
d. Analisa besar butir (Grain size analysis).
e. Pemadatan.
f. Hidrometer.
2. Uji laboratorium untuk mendapatkan sifat keteknikan tanah.
Sifat keteknikan tanah didapatkan antara lain dengan melakukan :
a. Uji geser langsung (Direct shear test).
b. Kuat tekan bebas (Unconfined compressive strength test)

3.2.1 Mekanika Tanah
3.2.1.1 Uji Laboratorium Untuk Mendapatkan Sifat Fisik Tanah
A. Berat Isi Tanah
Kegunaan
Test ini dilakukan untuk mendapatkan berat isi tanah yang merupakan
perbandingan antara berat tanah basah dengan volumenya dalam gr/cm
3
.
Peralatan Yang Digunakan
1. Cincin uji dengan diameter 6 cm dan tinggi 2 cm.
2. Pisau pemotong contoh.
3. Neraca dengan ketelitian 0,01 gram.
4. Jangka sorong.
Prosedur Pelaksanaan
1. Cincin dalam keadaan bersih ditimbang (W
1
).
2. Benda uji (undisturb) disiapkan dengan menekan cincin pada tabung contoh
sampai cincin terisi penuh.
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
3. Ratakan kedua permukaan dan bersihkan cincin sebelah luar.
4. Timbang cincin beserta isinya (W
2
).
5. Hitung volume tanah dengan mengukur ukuran dalam cincin dengan ketelitian
0,01 cm dengan menggunakan jangka sorong.
Perhitungan






B. Kadar Air (Natural Water Content)
Kegunaan
Test ini dilakukan untuk mengetahui kadar air dari contoh tanah. Perbandingan ini
dinyatakan dalam prosentase dari berat air pada suatu massa terhadap berat dari suatu
partikel tanah. Pengukuran dilakukan dengan mengikuti standar ASTM D2216/71.
Peralatan Yang Digunakan
1. Oven pemanas / heater dengan suhu sampai 110
o
C.
2. Cawan kedap udara.
3. Neraca dengan ketelitian 0,01 gram.
4. Desikator.
5. Jangka sorong.
Prosedur Pelaksanaan
1. Tanah yang akan diperiksa baik disturb maupun undisturb ditempatkan dalam
cawan yang bersih, kering, dan telah diketahui beratnya (disturb), dan dalam
cincin (undisturb).
2. Kedua wadah tersebut beserta isinya kemudian ditimbang dan beratnya dicatat
dalam formulir yang tersedia.
3. Kemudian kedua wadah tersebut dipanaskan dalam oven pemanas / heater
sampai berat contoh tanah konstan.
4. Setelah konstan, kedua wadah tersebut didinginkan dalam desikator.
5. Setelah dingin, ditimbang dan beratnya dicatat.
Perhitungan
Berat wadah + tanah basah = W
1
gram.
W
2
W
1

= gram/cm
3

V
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
Berat cawan + tanah kering = W
2
gram.
Berat cawan kosong = W
3
gram.
Berat air = (W
1
W
2
) gram.
Berat tanah kering = (W
2
W
3
) gram.




C. Berat Jenis Tanah (Specific gravity)
Kegunaan
Test ini dilakukan untuk mengetahui dan menentukan berat jenis tanah yang lolos
saringan No. 100 dengan menggunakan labu ukur (piknometer). Test ini diperoleh
dengan membandingkan berat satuan bahan di dalam udara terhadap berat air suling
pada suhu 4
o
C. prosedur pelaksanaannya mengikuti cara ASTM D 855 atau AASHTO T
100.
Peralatan Yang Digunakan
1. Piknometer kapasitas 25 ml.
2. Neraca dengan ketelitian 0,001 gram.
3. Desikator.
4. Oven pemanas / heater.
5. Thermometer kapasitas 0 50
o
C.
6. Wadah untuk merendam.
Prosedur Pelaksanaan
a. Kalibrasi Piknometer
1. Timbang piknometer dalam keadaan bersih dan kering (W
1
)
2. Isi piknometer dengan air suling dengan suhu ruang, kemudian timbang
beratnya (W
a
) dan ukuran suhu air tersebut (t
a
)


Dimana :
W
4
: berat piknometer dan air pada suhu T.
W
a
: berat piknometer dan air pada suhu T
a
.
W
1
: berat piknometer.
W
1
W
2

Kadar air = x 100 %
W
2
W
3

W
4
= k x W
a

PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
K : perbandingan kerapatan air pada suhu standar (25
o
C) dibanding
kerapatan air pada suhu tertentu (suhu ruang).

b. Benda Uji
1. Siapkan contoh (disturb dan undisturb) tanah sebanyak 6,25 gram dan
kemudian keringkan dengan oven.
2. Masukkan contoh tanah.
3. Timbang contoh tanah + piknometer (W
2
).
4. Didihkan contoh tanah tersebut dengan menggunakan larutan gliserin untuk
menghilangkan udara yang terperangkap dalam contoh tanah atau dengan
menghisap udara yang terperangkap dengan pompa vakum.
5. Rendam dan diamkan piknometer sampai mencapai suhu konstan dan tambah
air suling sampai batas leher. Bersihkan bagian luar piknometer dan keringkan
kemudian timbang (W
3
).
Perhitungan






D. Batas Atterberg (Atterberg Limit)
1. Batas Cair (Liquid Limit)
Kegunaan
Batas cair adalah kadar air yang dibutuhkan oleh tanah kering yang ditunjukan
dalam prosen sampai mencapai kondisi plastis. Test ini dilaksanakan dengan mengikuti
ketentuan ASTM D 423/66.
Peralatan Yang Digunakan
1. Cawan porselin | 115 mm untuk mencampur tanah dengan air.
2. Spatula dengan panjang 75 mm dan lebar 20 mm.
3. Cassagrande.
4. Grooving tool.
5. Oven pemanas / heater.
6. Neraca dengan ketelitian 0,01 gram.
W
2
W
1

G
s
=
( W
2
- W
1
) + ( W
4
W
3
)
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
7. Wadah penguap.
Prosedur Pelaksanaan
1. Ambil contoh tanah (disturb) secukupnya.
2. Tempatkan dalam cawan porselin dan campurkan dengan air suling sebanyak 15
20 ml. Campur dengan merata dengan bantuan spatula.
3. Ambil contoh tanah yang telah terampur homogen dan taruh pada cawan alat
cassagrande.
4. Ratakan permukaan contoh tanah dalam cawan sehingga sejajar dengan
permukaan alas cawan.
5. Buat alur di tengah pada contoh tanah tersebut (dibelah) dengan bantuan
grooving tool.
6. Pasang cawan pada rangkaian alat cassagrande kemudian operasikan.
7. Hentikan percobaan apabila alur yang telah dibuat telah menyatu kembali pertama
kali, dan hitung berapa ketukan yang dibutuhkan.
8. Ambil contoh tanah sebagian untuk diperiksa kadar airnya dalam wadah yang
telah diketahui beratnya.
9. Ulangi percobaan di atas dengan kadar air yang berbeda (minimal 4 kali).
Perhitungan
Buat grafik dimana absis adalah jumlah ketukan (N) dan ordinat adalah kadar air
contoh tanah yang bersangkutan. Yang disebut batas cair adalah kadar air dimana N = 25
ketukan.
2. Batas Plastis (Plastic Limit)
Kegunaan
Batas plastis suatu contoh tanah adalah suatu kadar air yang dinyatakan dalam
prosen dari suatu massa tanah pada kondisi kering pada batas antara kondisi plastis dan
setengah cair. Kadar air pada batas ini secara jelas didefinisikan sebagai harga kadar air
terendah dimana contoh tanah dapat digulung sampai | 3,2 mm tanpa mengalami
keretakan. Test ini dilakukan dengan mengikuti standar ASTM D 429/59. secara lebih
jelas dapat dikatakan bahwa test atterberg limit dimaksudkan untuk mengetahui sifat-sifat
karakteristik serta klasifikasi dari tanah berbutir halus.
Peralatan Yang Digunakan
1. Wadah penguap.
2. Spatula.
3. Pelat kaca.
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
4. Cawan pencampur.
5. Neraca dengan ketelitian 0,01 gram.
6. Oven pemanas/heater.
7. Jangka sorong.
Prosedur Pelaksanaan
1. Tempatkan contoh tanah dalam cawan pecampur dan campurkan dengan air
suling sehingga contoh tanah jenuh dan tidak lagi terdapat gelembung udara.
Kadar air yang dibutuhkan minimal sama dengan kadar air pada batas cair.
2. Ambil contoh tanah secukupnya dari cawan pencampur, kemudian buat gulungan
kecil-kecil dengan | 3,2 mm dan panjangnya 8 cm sebanyak 8 buah.
3. Setelah jadi, bagi 2 gulungan tadi dan tempat pada 2 wadah yang berbeda. Berarti
satu wadah terdapat 4 gulungan.
4. Lakukan prosedur penentuan kadar air.
Perhitungan
Sama dengan perhitungan kadar air.

Tabel Klasifikasi Kepadatan Relatif (Terzaghi & Peck, 1967)
KELAS
KEPADATAN
RELATIF
(%)
JUMLAH KETUKAN
(N)
ISTILAH
1 < 15 < 4 Sangat urai
2 15 35 4 10 Urai
3 35 60 10 30 Agak Padat
4 60 85 30 50 Padat
5 > 85 > 50 Sangat Padat







Tabel Klasifikasi Konsistensi (CEGM, 1979)
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
KELAS
IDENTIFIKASI
LAPANGAN
JUMLAH
TUMBUKAN (N)
ISTILAH
1 Keluar diantara jari
bila ditekan
< 2 Sangat lembek
2 Mudah dibentuk oleh
tekanan jari
2 4 Lembek
3 Dapat dibentuk oleh
tekanan kuat jari
4 8 Teguh
4 Tidak dapat dibentuk
oleh tekanan jari
8 15 Kaku
5 Rapuh (getas) atau
sangat liat
15 30 Sangat kaku


Tabel Klasifikasi Kelulusan (CEGM, 1978 dan Lemment)
KELAS
KOEFISIEN
KELULUSAN
(cm/detik)
ISTILAH
UMUMNYA TERDAPAT
TANAH BATU BERKEKAR
1 > 10 Sangat tinggi Kerikil bersih Sangat rapat
2 10 10
-2
Tinggi Pasir kasar
bersih
Rapat
3 10
-2
10
-3
Sedang Pasir halus Sedang
4 10
-3
10
-5
Rendah Pasir lanauan
lanau
Sangat jarang
5 10
-5
10
-7
Sangat
rendah
Lempung Tidak berkekar








PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
















Gambar Alat Cassagrande

E. Pemeriksaan Gradasi/ Analisa Saringan (Grain size analisys)
Kegunaan
Test ini dilakukan untuk mengetahui gradasi dari material dan dilaksanakan baik
dengan menggunakan analisa saringan maupun analisa hidrometer. Test ini merupakan
penentuan kuantitatif dari distribusi ukuran butir 0,075 mm (tertahan saringan No. 200)
yang didapatkan dari penyaringan. Cara-cara pelaksanaan dilakukan dengan mengikuti
standar ASTM D 421/63.
Peralatan Yang Digunakan
1. Neraca dengan ketelitian 0,01 gram.
2. Satu set saringan dengan No. 4, 6, 8, 12, 16, 20, 40, 80, 100, 200, PAN.
3. Oven pemanas/heater.
4. Alat pemisah contoh.
5. Mesin pengguncang saringan.
6. Talam-talam.
7. Kuas, sikat kuningan, sendok.
Prosedur Pelaksanaan
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
1. Benda uji dikeringkan dalam oven/heater.
2. Saringan benda uji lewat uuran saringan dengan ukuran saringan paling besar
ditempatkan paling atas. Saringan diguncang dengan mesin pengguncang selama
15 menit.
3. Benda uji yang tertahan pada masing-masing saringan ditimbang.
Perhitungan
Berat di atas :

Jumlah berat di atas :



Persen di atas :



Persen melalui :

















Berat di atas = (berat mess + isi) berat mess
Jmlh berat di atas = penjumlahan berat di atas tiap-tiap
mess secara kumulatif
Jumlah Berat di atas tiap-tiap mess
Persen di atas = x 100 %
E berat di atas
Persen melalui = 100 % - persen di atas
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
Tabel Klasifikasi Tanah (USCS)
PEMBAGIAN UTAMA SIMBOL JENIS TANAH
T
A
N
A
H

B
E
R
B
U
T
I
R

K
A
S
A
R

L
e
b
i
h

d
a
r
i

s
e
t
e
n
g
a
h

m
a
t
e
r
i
a
l
n
y
a

l
e
b
i
h

k
a
s
a
r

d
a
r
i

m
e
s
s

N
o
.

2
0
0

K
E
R
I
K
I
L

L
e
b
i
h

d
a
r
i

s
e
t
e
n
g
a
h

f
r
a
k
s
i

k
a
s
a
r
n
y
a

l
e
b
i
h

k
a
s
a
r

d
a
r
i

m
e
s
s

N
o
.

4

Kerikil bersih (tanpa
atau sedikit
mengandung bahan
halus)
GW Kerikil, kerikilcampur pasir bergradasi
baik tanpa atau dengan sedikit bahan
halus
GP Kerikil, kerikil campur pasir bergradasi
buruk tanpa atau dengan sedikit bahan
halus
Kerikil dengan bahan
halus (banyak
mengandung bahan
halus)
GM Kerikil lanauan, kerikil campur pasir
dan lanau
GC Kerikil lempungan, kerikil campur pasir
dan lempung
P
A
S
I
R

L
e
b
i
h

d
a
r
i

s
e
t
e
n
g
a
h

f
r
a
k
s
i

k
a
s
a
r
n
y
a

l
e
b
i
h

h
a
l
u
s

d
a
r
i

m
e
s
s

N
o
.

4

Pasir bersih (tanpa
atau sedikit
mengandung bahan
halus)
SW Pasir, pasir krikilan, bergradasi baik
tanpa atay dengan sedikit bahan halus
SP Pasir, pasir krikilan bergradasi buruk
tanpa atau dengan sedikit bahan halus
Pasie dengan bahan
halus (banyak
mengandung bahan
halus)
SM Pasir lanauan, pasir campur lanau
SC Pasir kelempungan, pasir campur
lempung
T
A
N
A
H

B
E
R
B
U
T
I
R

K
A
S
A
R

L
e
b
i
h

d
a
r
i

s
e
t
e
n
g
a
h

m
a
t
e
r
i
a
l
n
y
a

l
e
b
i
h

h
a
l
u
s

d
a
r
i

m
e
s
s

N
0
.

2
0
0

L
A
N
A
U

D
A
N

L
E
M
P
U
N
G

Batas cair kurang dari
50
ML Lanau organic dan pasir sangat halus,
tepung batu, pasir halus kelanauan
atau kelempungan atau lanau
kelempungan sedikit plastis
CL Lempung organic dengan plastisitas
rendah sampai sedang, lempung
krikilan, lempung pasiran, lempung
lanauan, lempung humus
OL Lempung organic dan lempung lanauan
organic dengan plastisitas rendah
Batas cair lebih dari
50
MH Lempung anorganik, tanah pasiran
halus atau tanah lanauan mengandung
mika atau diatome lanau elastis
CH Lempung anorganik dengan plastisitas
tinggi, lempung ekspansif
OH Lempung organic dengan plastisitas
sedang sampai tinggi, lanau organik
TANAH ORGANIK Pt Gambut dan tanah organic lainnya


Tabel Klasifikasi Tanah (USCS)
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
SIMBOL
PROSEDUR IDENTIFIKASI LAPANGAN
(Tidak termasuk partikel yang berukuran lebih dari 3 inch &
berat fraksinya diperkirakan )
KETERANGAN YANG
DIPERLUKAN DALAM
ANALISA TANAH
GW Ukuran butirnya bervariasi dan banyak mengandung partikel
berukuran sedang
Untuk tanah tidak terganggu
diperlukan keterangan
tambahan seperti perlapisan,
tingkat kepadatan, segmentasi,
kondisi kadar air dan
karakteristik drainase. Berikan
nama jenis tanahnya,
perkirakan % pasir dan kerikil,
ukuran butir maksimum, bentuk
butir, kondisi permukaan,
kekerasan tanah berbutir kasar,
nama setempat atau nama
geologi, dan keterangan lain
untuk kepentingan deskripsi
serta symbol huruf kapital
GP Umumnya ukuran butirnya sama atau sedikit mengandung
partikel berukuran sedang
GM Bahan halusnya nonplastik atau plastisitasnya rendah (lihat
prosedur identifikasi ML)
GC Bahan halusnya plastis (lihat prosedur identifikasi CL)
SW Ukuran butirnya bervariasi dan banyak mengandung partikel
ukuran sedang
SP Umumnya ukuran butirnya sama atau sedikit mengandung
partikel berukuran sedang.
SM Bahan halusnya non plastis atau plastisitasnya rendah (lihat
prosedur identifikasi ML)
SC Bahan halusnya plastis (lihat prosedur identifikasi CL)

PROSEDUR IDENTIFIKASI
(Untuk fraksi lebih halus dari saringan No. 4)
Kekuatan kering
(karakteristik
pecah)
Dilatansi (reaksi
thd goncangan)
Keteguhan
(konsistensi
mendekati batas
plastis)
ML Nol rendah Lambat cepat Nol Berikan nama jenis tanahnya,
tingkat dan sifat plastisitas,
jumlah dan ukuran maksimum
dari tanah berbutir kasar,
warna dan kondisi basah, bau
bila ada, nama setempat atau
nama geologi dan keterangan
lainnya untuk deskripsi serta
symbol tanah dengan huruf
kapital. Untuk tanah tidak
terganggu diperlukan
keterangan tambahan seperti
struktur, perlapisan, konsistensi
tidak terganggu dan remasan,
kondisi kadar air dan drainase.
CL Rendah tinggi Lambat Sedang
OL Rendah tinggi Lambat Rendah
MH Rendah
sedang
Tidak bereaksi
sgt lambat
Rendah sedang
CH Tinggi sgt tinggi Tidak bereaksi Tinggi
OH Sedang tinggi Tidak bereaksi
sgt lambat
Rendah sedang
Pt Secara langsung dapat diidentifikasikan dari warna, bau.
Rasanya seperti bunga kerang dan seringkali teksturnya
berbentuk serat.








Tabel Klasifikasi Tanah (USCS)
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
SIMBOL KRITERIA KLASIFIKASI LABORATORIUM
GW
T
e
n
t
u
k
a
n

p
r
o
s
e
n
t
a
s
e

k
e
r
i
k
i
l

d
a
n

p
a
s
i
r

d
a
r
i

k
u
r
v
a

p
e
m
b
a
g
i
a
n

b
u
t
i
r
.

B
e
r
d
a
s
a
r
k
a
n

p
a
d
a

p
r
o
s
e
n
t
a
s
e

b
a
h
a
n

h
a
l
u
s

(
f
r
a
k
s
i

l
e
b
i
h

h
a
l
u
s

d
a
r
i

m
e
s
s

N
o
.

2
0
0
)
.

T
a
n
a
h

b
e
r
b
u
t
i
r

k
a
s
a
r

d
i
k
l
a
s
i
f
i
k
a
s
i
k
a
n

s
e
b
a
g
a
i

b
e
r
i
k
u
t


:

a
.

K
u
r
a
n
g

d
a
r
i

5

%










G
W
,

G
P
,

S
W
,

S
P

b
.

L
e
b
i
h

d
a
r
i

1
2

%











G
M
,

G
C
,

S
M
,

S
C

c
.

5

%


-

1
2

%


















P
a
d
a

g
r
s

b
t
s


D60
Cu = ------ lebih besar dari 4
D10

(D30)
2

Cc = ---------- antara 1 dan 3
D10 x D60
GP Tidak ditemukan semua persyaratan gradasi untuk GW
GM Batas Atterberg di bawah garis A
atau PI kurang dari 4
Di atas garis A dengan PI
antara 4 dan 7 terdapat pada
garis batas dan
menggunakan symbol ganda
GC Batas Atterberg di atas garis A atau
PI lebih besar dari 7
SW D60
C
u
= ------ lebih besar dari 6
D10

(D30)
2

Cc = ---------- antara 1 dan 3
D10 x D60
SP Tidak ditemukan semua persyaratan gradasi untuk SW
SM Batas Atterberg di atas garis A atau
PI lebih besar dari 7
Batas Atterberg yang masuk
pada daerah arsir dengan PI
antara 4 dan 7 disebut kasus
garis batas dengan
menggunakan symbol ganda
SC
ML
CL
OL
MH
CH
OH











F. Hidrometer (Hydrometer Analysis)
Kegunaan
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
Test ini dilakukan untuk mengetahui gradasi dari material dengan | < 0,075 mm.
Cara-cara pelaksanaannya dilakukan dengan metode ASTM D 421/63.


Peralatan Yang Digunakan
1. Hidrometer dengan skala-skala konsentrasi (5 60 gr/lt) atau untuk pembacaan
berat jenis campuran (0,995 1,038).
2. Tabung-tabung gelas ukuran kapasitas 1000 ml, | 6,5 cm.
3. Thermometer 0 50
o
C, ketelitian 0,1
o
C.
4. Pengaduk mekanik dan mangkuk dispersi.
5. Saringan No. 10, 20, 40, 80, 100, dan No. 200.
6. Neraca dengan ketelitian 0,01 gram.
7. Oven pemanas/heater.
8. Tabung-tabung gelas dengan ukuran 50 ml dan 100 ml.
9. Batang pengaduk dari gelas.
10. Jam.
11. Pipet.
Prosedur Pelaksanaan
1. Rendam 50 gram contoh tanah yang lolos saringan No. 200 dengan disversi water
glass. Aduk sampai merata dan biarkan 24 jam.
2. Sesudah perendaman, campuran dipindahkan dalam mangkok pengaduk dan
tambahkan air suling secukupnya. Aduk dengan pengaduk mekanik selama 15
menit.
3. Pindahkan campuran ke dalam tabung gelass ukuran dan tambahkan air suling
sampai 100 ml. Mulut tabung ditutup rapat dengan telapak tangan dan kocok
dalam arah horizontal selama 1 menit.
4. Setelah dikocok, tabing diletakkan dan masukkan hidrometer dengan hati-hjati
dan biarkan terapung bebas, lalu jalankan stop watch/jam. Angka hidrometer
dibaca pada waktu-waktu 0,5 , 1, 2 menit dan dicatat pembacaan-pembacaan itu
sampai 0,5 gr/lt yang terdekat atau mendekati 0,001 berat jenis. Sesudah
pembacaan pada menit kedua, hidrometer diangkat hati-hati. Kemudian dicucii
dengan air suling dan masukan ke dalam tabung yang berisi air suling yang
bersuhu sama seperti suhu tabung percobaan.
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
5. Hidrometer dimasukan kembali dengan hati-hati ke dalam tabung berisi campuran
dan lakukan pembacaan hidrometer pada saat-saat 5, 15, 30 menit, dan 1, 4, 24
jam. Setiap setelah pembacaan, hidrometer dicuci dan dikembalikan ke dalam
tabung air suling. Proses pemasukan dan mengeluarkan hidrometer dilakukan
masing-masing 10 detik.
6. Suhu campuran diukur pada 15 menit pertama dan kemudian pada setiap
pembacaan berikutnya.
7. Sesudah pembacaan yang terakhir, campuran dipindahkan ke dalam saringan No.
200 dan dicuci sampai air pencucian jernih dan biarkan air yang mengalir
terbuang. Fraksi yang tertinggal di atas saringan No. 200 dikeringkan dan
dilakukan Pemeriksaan Analisa Saringan.
Perhitungan
Hitung persen berat dan butiran yang lebih kecil dari diameter dengan rumus :




Tabel Faktor Koreksi a Untuk Hidrometer 152 H Terhadap Berat Jenis Tanah
NO. BERAT J ENIS ( G ) FAKTOR KOREKSI ( a )
1. 2,95 0,94
2. 2,90 0,95
3. 2,85 0,96
4. 2,80 0,97
5. 2,75 0,98
6. 2,70 0,99
7. 2,65 1,00
8. 2,60 1,01
9. 2,55 1.02
10. 2,50 1,03
11. 2,45 1,05

Tabel Penentuan Kedalaman Efektif Hidrometer

a ( Rh + k )
P = x 100 %
W
s

PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
PEMBACAAN
HIDROMETER
(R1 +MENISKUS)
KEDALAMAN EFEKTIF
( L)
(cm)
PEMBACAAN
HIDROMETER
(R1 +MENISKUS)
KEDALAMAN EFEKTIF
( L)
(cm)
0 16.3 31 11.2
1 16.1 32 11.1
2 16.0 33 10.8
3 15.8 34 10.7
4 15.6 35 10.6
5 15.5 36 10.4
6 15.3 37 10.2
7 15.2 38 10.1
8 15.0 39 9.9
9 14.8 40 9.8
10 14.7 41 9.8
11 14.5 42 9.6
12 14.3 43 9.4
13 14.2 44 9.2
14 14.0 45 9.1
15 13.8 46 8.9
16 13.7 47 8.6
17 13.5 48 8.4
18 13.3 49 8.2
19 13.2 50 8.1
20 13.0 51 7.9
21 12.9 52 7.8
22 12.7 53 7.6
23 12.5 54 7.4
24 12.4 55 7.3
25 12.2 56 7.1
26 12.0 57 7.0
27 11.9 58 6.8
28 11.7 59 6.6
29 11.5 60 6.3
30 11.4



Tabel Harga K Untuk Menghitung | Butir Dengan Hidrometer

PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
T (
o
C)
BERAT J ENIS BUTIRAN TANAH
2.45 2.50 2.55 2.60 2.65 2.70 2.75 2.80 2.85
16 0.01510 0.01505 0.01481 0.01457 0.01435 0.01414 0.01394 0.01374 0.01356
17 0.01511 0.01486 0.01462 0.01439 0.01417 0.01396 0.01376 0.01356 0.01338
18 0.01492 0.01467 0.01443 0.01421 0.01399 0.01378 0.01359 0.01339 0.01321
19 0.01474 0.01449 0.01425 0.01403 0.01382 0.01361 0.01342 0.01323 0.01305
20 0.01456 0.01431 0.01408 0.01386 0.01365 0.01344 0.01325 0.01307 0.01289
21 0.01438 0.01414 0.01391 0.01369 0.01348 0.01328 0.01309 0.01291 0.01273
22 0.01421 0.01397 0.01374 0.01353 0.01332 0.01312 0.01294 0.01276 0.01258
23 0.01404 0.01381 0.01358 0.01337 0.01317 0.01297 0.01279 0.01261 0.01243
24 0.01388 0.01365 0.01342 0.01321 0.01301 0.01282 0.01264 0.01246 0.01229
25 0.01372 0.01349 0.01327 0.01306 0.01286 0.01267 0.01249 0.01232 0.01215
26 0.01357 0.01334 0.01312 0.01291 0.01275 0.01253 0.01235 0.01218 0.01201
27 0.01342 0.01319 0.01297 0.01277 0.01258 0.01239 0.01221 0.01204 0.01188
28 0.01327 0.01304 0.01283 0.01264 0.01244 0.01225 0.01208 0.01191 0.01175
29 0.01312 0.01290 0.01269 0.01249 0.01230 0.01212 0.01195 0.02278 0.01162
30 0.01298 0.01276 0.01256 0.01236 0.01217 0.01199 0.01182 0.01165 0.01149


G. Test Pemadatan Standar
Kegunaan
Test ini dilakukan untuk menentukan hubungan antara kadar air dan kepadatan
tanah sehingga bisa diketahui kepadatan maksimum dan kadar air optimum.
Peralatan Yang Digunakan
1. Cetakan (mold) dengan | 102 mm dan tinggi 11,5 cm.


2. Alat tumbuk tangan dengan | 50,8 mm dan berat 2,5 kg serta tinggi jatuh 32 cm
dengan selubung yang mempunyai paling tidak 4 buah lubang udara dengan | 9,5
mm.
3. Alat pengeluar contoh.
4. Timbangan kapasitas 50 kg dengan ketelitian 1 kg.
5. Oven pemanas/heater.
6. Kapi.
7. Saringan No. 4.
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
8. Kuas.
9. Wadah/cawan.
10. Neraca dengan ketelitian 0,01 gram.
Prosedur Pelaksanaan
1. Contoh tanah sebanyak 2 kg (disaring dengan mess No. 4) dikeringkan.
2. Sample tanah dibagi menjadi tiga bagian yang sama, kemudian dicampur dengan
air yang sudah ditentukan dan diaduk sampai rata.
3. Untuk sample yang pertama tidak perlu ditambahkan air, atau dianggap
penambahan air sebanyak 0 ml, selanjutnya penambahan air dilakukan sebanyak
15 ml.
4. Penambahan air pada sample diatur setiap kelipatan 15 ml, sehingga didapatkan
kadar air benda uji masing-masing 1-3 %.
5. Timbang cetakan (mold) dan alasnya dengan ketelitian 5 kg.
6. Mold dan keeping dijadikan satu dan ditempatkan pada alas yang kokoh.
7. Ambil salah satu dari contoh tanah (yang sudah dicampur air dan dibagi menjadi
tiga), lalu dipadatkan dengan cara :
- Pemadatan dilakukan dengan alat penumbuk standart 2,5 kg. Dengan tinggi
jatuh 30,5 cm. Tanah dipadatkan dalam tiga lapisan dan tiap lapisan
didapatkan dengan 25 tumbukan.
8. Potong kelebihan tanah dari bagian keliling leher dengan pisau dan lepeskan
leher sambung.
9. Pergunakan alat perata untuk meratakan kelebihan tanah sehingga betul-betul
rata dengan permukaan cetakan.
10. Timbang cetakan berisi sample uji dengan ketelitian 1 kg.
11. Keluarkan benda uji tersebut dan ambil sebagian kecil untuk pemeriksaan kadar
air.
12. Selanjutnya uji pemadatan dilakukan dengan menambahkan sample dengan
kelipatan 15 ml sampai total air yang ditambahkan pada sample sebanyak 75 ml.
Prosedurnya sama dengan diatas.
Perhitungan
Berat isi tanah :



Berat isi kering :
B
2
B
1

=
V
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010






Dimana :
B
1
: berat mold.
B
2
: berat + berat mold.
V : volume mold
W : kadar air sesudah kompaksi.
3.2.1.2 Uji Laboratorium Untuk Mendapatkan Sifat Keteknikan Tanah
A. Uji Geser Langsung (Direct Shear Test)
Kegunaan
Dimaksudkan untuk menentukan nilai kekuatan geser tanah dengan mengubah-
ubah tegangan axial pada beberapa contoh. Maka diperoleh tegangan gesernya,
kecepatan perubahan contoh tanah pada arah horizontal disesuaikan dengan keadaan
jenis tanahnya. Kecepatan perubahan gerakan ini ditentukan dari waktu yang dicapai
hingga contoh tanah longsor. Dengan ini diperoleh garis yang memberikan hubungan
antara tegangan geser dan tegangan axial. Pada percobaan ini mengikuti metode ASTM
D3080.
Peralatan Yang Digunakan
1. Direct Shear Box
2. Benda Uji
3. Alat pengeluaran contoh
4. Pisau pemotong
5. Dial indicator
6. Proving Ring
7. Stop Watch / Jam
Prosedur Pelaksanaan
1. Siapkan benda uji sebanyak 3 buah (undisturb)
2. Hitung luas dan volume dari benda uji
3. Masukan benda uji kedalam cincin geser yang masih terkunci menjadi satu, posisi
tanah berada pada dua batu pori.
x 100

d
=
( 100 + W )
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
4. Atur posisi setang penekan dalam posisi vertical dan tepat menyentuh bidang
penekan.
5. Putar engkol pendorong sampai tepat menyentuh stang penggeser benda uji.
6. Buka kunci cincin geser.
7. Pasang dial konsolidasi pada posisi Nol (0).
8. Berikan beban normal pertama sesuai dengan beban yang diperlukan.
9. Putar engkol pendorong sehingga tanah mulai menerima benda geser. Baca nilai
proving ring dan dial pergeseran setiap 15 detik sampai terapai beban maksimum
atau deformasi 10 % | benda uji.
10. Berikan beban normal pada benda uji kedua dan ketiga sebesar 2 kali dan 3 kali
beban normal pertama dengan mengulangi prosedur di atas.
Perhitungan
Tegangan normal : Tegangan geser :




Kuat geser :



Dimana :
N : beban (kg).
A : luas contoh (cm
2
).
P : tekanan terbesar (kg/cm
2
).
C : kohesi.
u : sudut geser dalam (
o
).







N
t
n
=
A
P
t =
A
S = C + t
n
tan u
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
Tabel Kuatan Geser Relatif Dari Tanah
NO. KETERANGAN
KUAT GESER
(Kpa)
URAIAN DI LAPANGAN
1. Keras > 288 Getas atau sangat kokoh
2. Sangat kaku 144 288 Tidak dapat diremas dengan jari-
jari tangan
3. Kaku 72 144 Peremasan hanya mungkin jika
jari-jari tangan ditekan dengan
kuat
4. Kokoh 36 72 Memungkinkan peremasan
secara normal
5. Lunak 18 36 Dapat dengan mudah diremas
6. Sangat lunak < 18 Akan ke luar dari sela jari pada
saat diremas

Tabel Nilai-Nilai Khas Untuk Kemungkinan Pemampatan Tanah
NO. JENIS TANAH m
v
(m
2
/MN)
1. Gambut 10,0 2,0
2. Lempung plastis 2,0 0,25
3. Lempung kaku 0,25 0,125
4. Lempung keras (napal-
bongkah)
0,125 0,0625

Tabel Kerapatan Relatif Tanah Berbutir Kasar
NO. KERAPATAN RELATIF KETERANGAN SPT
1. 0 15 Sangat longgar lepas 0 4
2. 15 35 Lepas 4 10
3. 35 65 Cukup rapat 10 30
4. 65 85 Rapat 30 50
5. 85 100 Sangat rapat > 50


PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010

Tabel Kerapatan Relatif, Kerapatan Kering, dan Nilai u Untuk Pasir Kuarsa
NO. KERAPATAN RELATIF NILAI u
KERAPATAN KERING
(mg/m
3
)
1. Sangat lepas < 28 < 1,44
2. Lepas 28 30 1,44 1,60
3. Cukup rapat 30 36 1,44 1,60
4. Rapat 36 41 1,60 1,76
5. Sangat rapat > 41 1,60 1,76

























PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
























Gambar Alat Direct Shear Test

Keterangan :
1. Dial pengeser 8.Box gigi penggerak
2. Bak perendam 9. Meja pudukan
3. Plat beban 10. Engkol pemutar
4. Lengan keseimbangan 11. Skrup pendorong
5. Dial konsolidasi 12. Tiang penekan
6. As pendorong 13. Landasan bawah
7. Proving ring 14. Beban
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
B. Kuat Tekan Bebas (Unconfind Compressive Strenght)
Kegunaan
Pemeriksaan in dimaksudkan untuk mendapatkan besarnya kekuatan tekan bebas
contoh tanah atau batuan yang bersifat kohesif baik dalam keadaan asli mapun buatan
(Remolded). Kecepatan pergerakan perubahan tinggi pada arah vertical 1 %. Hasilnya
merupakan gambar yang memberikan hubungan antara besar tegangan dengan
perubahan tinggi contoh tanah. Prosedur percobaan mengikuti standar ASTM D 2166/66.

Tabel Klasifikasi Tanah Berdasarkan Harga Kuat Tekan Bebas
NO. NILAI q
u
(kg/cm
2
) SIFAT
1. < 0,25 Sangat lembek
2. 0,25 0,50 Lembek
3. 1,5 1,00 Teguh
4. 1,00 2,00 Kenyal
5. 2,00 4,00 Sangat kenyal
6. > 4,00 Keras

3.2.2 Mekanika Batuan
3.2.2.1 Definisi Batuan
Berbagai definisi dari batuan sebagai obyek dari mekanika batuan telah diberikan
oleh ahli dari berbagai disiplin ilmu yang saling berhubungan, antara lain :
1. Menurut para Geologiawan
a. Batuan adalah susunan mineral dan bahan organis yang bersatu membentuk
kulit bumi.
b. Batuan adalah semua material yang membentuk kulit bumi yang dibagi atas :
Batuan yang terkonsolidasi (Consolidated rock).

Batuan yang tidak terkonsolidasi (Uncosolidated rock).
2. Menurut para ahli Teknik Sipil khususnya para ahli Geoteknik
a. Istilah batuan hanya untuk formasi yang keras dan solid dari kulit bumi.
b. Batuan adalah suatu bahan yang keras dan koheren atau yang telah
terkonsolidasi dan tidak dapat digali dengan cara biasa.
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
3. Menurut TALOBRE, orang yang pertama kali memperkenalkan mekanika batuan
di Perancis pada tahun 1948. batuan adalah material yang membentuk kulit bumi
termasuk fluida yang berada di dalamnya (seperti minyak, air, dll).
4. Menurut ASTM, batuan adalah suatu bahan yang terdiri dari mineral padat (solid)
berupa massa yang berukuran besar atau pun berupa fragmen-fragmen.
5. Batuan adalah campuran dari satu atau lebih mineral yang berbeda, tidak
mempunyai komposisi kimia tetap.
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa batuan tidak sama dengan tanah.
Tanah dikenal sebagai material yang mobile, rapuh dan letaknya dekat dengan
permukaan bumi.

3.2.2.2 Definisi Mekanika Batuan
Definisi mekanika batuan telah diberikan oleh beberapa ahli atau komisi-komisi
yang bergerak di bidang ilmu tersebut, antara lain :
1. Menurut TALOBRE
Mekanika batuan adalah sebuah teknik dan juga sains yang tujuannya
adalah mempelajari prilaku (behaviour) batuan di tempat asalnya untuk dapat
mengendalikan pekerjaan-pekerjaan yang dibuat pada batuan tersebut. Untuk
mencapai tujuan tersebut, mekanika batuan merupakan gabungan dari :


Sehingga mekanika batuan tidak sama dengan ilmu geologi yang
didefinisikan oleh TALOBRE sebagai berikut deskriptif yang mengidentifikasikan
batuan dan mempelajari sejarah dari batuan.
2. Menurut COATES
a. Mekanika adalah ilmu yang mempelajari efek dari gaya atau tekanan pada
sebuah benda. Efek ini bermacam-macam, misalnya percepatan, kecepatan,
perpindahan.
b. Mekanika batuan adalah ilmu yang mempelajari efek dari pada gaya terhadap
batuan. Efek utama yang menarik bagi para geologiawan adalah perubahan
bentuk.
3. Bagi para insinyur, mekanika batuan adalah :
a. Analisis dari pada beban atau gaya yang dikenakan pada batuan.
TEORI + PENGALAMAN + TEST LABORATORIUM + TEST IN-SITU
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
b. Analisis dari dampak dalam yang dinyatakan dalam tegangan (stress),
regangan (strain) atau energi yang disimpan.
c. Analisis akibat dari dampak dalam tersebut, yaitu rekahan (fracture), aliran
atau deformasi dari batuan.
4. Menurut US National Committee on Rock Mechanics (1964) :
Mekanika batuan adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang
perilaku (behaviour) batuan baik secara teoritis maupun terapan, merupakan
cabang dari ilmu menkanika yang berkenaan dengan sikap batuan terhadap
medan-medan gaya pada lingkungannya.

3.2.2.3 Beberapa Ciri Mekanika Batuan
Adapun ciri-ciri mekanika batuan adalah sebagai berikut :
1. Dalam ukuran besar, solid, dan massa batuan kuat/keras, maka batuan dapat
dianggap kontinu.
2. Bagaimanapun juga karena keadaan alamiah danlingkungan geologi, maka
batuan tidak kontinu (diskontinu) Karena adanya kekar, fissure, schistocity, cracj,
cavities, dan diskontinuitas lainnya. Untuk kondisi tertentu, dapat dikatakan bahwa
mekanika dari struktur batuan.
3. Secara mekanik, batuan adalah system multiple body.
4. Analisis mekanika tanah dilakukan pada bidang, sedang analisi mekanika batuan
dilakukan pada bidang dan ruang.
5. Mekanika batuan dikembangkan secara terpisah dari mekanika tanah, tetapi ada
beberapa yang tumpang tindih.
6. Mekanika bauan banyak menggunakan :
a. Teori elastisitas.
b. Teori plastisitas.
c. Mempelajari batuan, system struktur batuansecara eksperimen.






PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
Tabel beberapa Sifat Batuan Penting Yang Mudah Diamati Di Lapangan
SIFAT
BATUAN
BATU
TANAH
BERKOHESI TIDAK BERKOHESI
Kebundaran \
Keterpilahan \
Warna \ \ \
Kelapukan \
Permeabilitas \ \ \
Kerapatan \
Kehalusan \
Lebar bukaan \
Isian \
Kepadatan Relatif \
Konsistensi \
Kekuatan \ \ \

3.2.2.4. Sifat Fisik Dan Sifat Mekanik Batuan
Batuan mempunyai sifat-sifat tertentu yang perlu diketahui dalam mekanika batuan
dandapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu :
1. Sifat fisik batuan, seperti bobot isi, specific gravity, porositas, absorbsi, void ratio.
2. Sifat mekanik batuan, seperti kuat tekan, kuat tarik, modulus elastisitas, poissons
ratio.
Kedua sifat tersebut dapat ditentukan baik di laboratorium maupun di lapangan (in
situ). Penentuan di laboratorium pada umumnya dilakukan terhadap percontohan yang
diambil di lapangan. Satu per satu contoh dapat digunakan untuk menentukan kedua sifat
batuan. Pertama-tama adalah penentuan sifat fisik batuan yangmerupakan pengujian
tanpa merusak, kemudian dilanjutkan dengan penentuan sifat mekanik batuan
yangmerupakan pengujian merusak, sehingga percontohan hancur.



PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
3.2.3. Uji Laboratorium Untuk Batuan
3.2.3.1. Sifat-Sifat Fisik Batuan (Basic Properties)
Batuan disusun oleh kandungan mineral yang berbeda pada setiap jenis batuan.
Pada batuan beku misalnya, mineral yang menyususn dominan mineral mafik denan
berat jenis yang lebih besar dari mineraf felsik yang merupakan penyusun dari batuan
beku asam. Kandungan mineral yang berbeda tersebut akan membentuk batuan yang
secara fisik berbeda terhadap batuan yang lain.
Kegunaan
Untuk mengetahui kharakteristik dasar batuan, seperti porositas, kadar air, void
ratio, dan lain-lain.

Peralatan Yang Digunakan
1. Timbangan
2. Desikator
3. Gelas beker
4. Oven pemanas/heater
5. Jangka sorong
6. Benang/tali
7. Neraca dengan ketelitian 0,01 gram
8. Pemberat 500 gram dan 1 kg
Prosedur Pelaksanaan
Sesuai dengan prosedur yang ada di lembar kerja.
Perhitungan
Sesuai dengan perhitungan yang ada dalam lembar kerja.

Tabel Klasifikasi Hard And Soft Rock Berdasarkan Porositas dan Void Ratio
VOID RATIO POROSITY TERM
> 0,43 > 30 Very high
0,43 0,18 30 15 High
0,18 0,05 15 5 Medium
0,05 0,01 5 1 Low
< 0,01 < 1 Very low

PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
Tabel Klasifikasi Degree of Saturation
DEGREE OF
SATURATION
( % )
TERM
0,00 0,25 Naturally dry
0,25 0,50 Wet
0,50 0,80 Very wet
0,80 0,95 Highly saturated
0,95 1,00 Saturated

Tabel Klasifikasi Unit Weight
SOIL ROCK TERM
< 1,40 < 1,80 Very low
1,40 1,70 1,80 2,20 Low
1,70 1,90 2,20 2,55 Moderate
1,90 2,20 2,55 2,75 High
> 2,20 > 2,75 Very high

3.2.3.2. Pengujian Kuat Tekan (Unconfined Compressive Strenght Test)
Dasar Teori
Kuat tekan didefinisikan sebagai harga tekan yang diterima pada saat batuan
pecah akibat ditekan oleh suatu gaya tertentu. Dalam teorinya prinsip penentuan kuat
tekan adalah sangat sederhana, tetapi pada prakteknya sangat jauh dari sederhana,
sebab cukup banyak factor yang mempengaruhi (VUTUKURI et al. 1974), yaitu :
1. Faktor-faktor dalam, antara lain :
a. Mineralogi.
b. Ukuran butir.
c. Porositas.
2. Faktor-faktor luar, antara lain :
a. Gaya gesekan antara bidang pelat penekan (platens) dan permukaan ujung-
ujung contoh batuan.
b. Geometri contoh, yaitu perbandingan antara panjang dan diameter contoh (L/D)
serta ukuran contoh.
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
c. Kecepatan penekanan.
d. Faktor lingkungan, antara lain :
Kadar air.
Jenis cairan.

Temperatur.
Tentang ukuran contoh, ada berbagai pendapat :
1. ISRM, 1972, ukuran standar | disarankan tidak lebih kecil dari contoh inti
berbentuk silinder berukuran 54 mm, sedangkan perbandingan panjang dan |
(L/D) adalah 2,51 sampai 3 : 1.
2. HAWKES dan MELLOR (1970), untuk L/D = 2 : 1 merupakan perbandingan
minimum yang masih bisa diterima (minimum acceptable ratio).
3. VUTUKURI (1974), pengaruh mineralogy kuarsa adalah merupakan yang paling
kuat diantata batuan sedimen.
4. PRICE (1960), makin kecil ukuran butir makin kuat.
5. Brace (1961), makin kecil porositas makin kuat.
Tentang pengaruh bentuk contoh terhadap kuat tekan ada yang mengatakan
bahwa contoh yang berbentuk silinder selalu lebih besar kuat tekannya dari yang
berbentuk kubus. Pengaruh temperatur atas hasil pengujian kuat tekan adalah makin
tinggi temperatur pengeringan akan makin tinggi kuat tekannya (SIMPSON dan PERRUS,
1968 opcit VUTUKURI et al 1974).
Pengujian ini menggunakan mesin tekan (compression machine) untuk menekan
percontohan batuanyang berbentuk silinder, balok atau prisma satuarah (uniaxial).
Penyebaran tegangan di dalam percontohan batuan secara teoritis adalah searah dengan
gaya yang dikenakan pada percontohan tersebut. Tetapi dalam kenyataannya arah
tegangan tidak searah dengan gaya yang dikenakan pada percontohan tersebut karena
ada pengaruh dari plat penekan mesin tekan yang menghimpit percontohan. Sehingga
bentuk pecahan tidak berbentuk bidang pecah yang searah dengan gaya melainkan
berbentuk cone.

Sebagai perilaku pecahnya contoh batuanmenurut HAWKES dan MELLOR (1970)
ada 3 macam, yaitu :
1. Pecahnya secara kataklastik
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
Merupakan peretakan bagian dalam secara umum oleh pembentukan multi
rekahan searah dengan penekanan. Apabila contoh tersebut pecah tampak
tertinggal fragmen berbentuk kerucut diujungnya, bersama-sama dengan
potongan batuan yang panjang dari sekitar keliling contoh tersebut.
2. Pecah searah bidang belah sumbu atau pecah vertical
Memperlihatkan terjadinya satu rekahan utama atau lebih panjang arah
penekanan.
3. Pecah searah bidan geser
Yaitu pecahnya contoh batuan sepanjang bidang miring tunggal.
Kegunaan
Untuk mengetahui kekuatan batuan terhadap tekanan beban, sudut geser dalam,
dan kohesi batuan.
Prosedur Pelaksanaan
1. Contoh batuan diukur panjangdan diameternya dengan jangka sorong.
2. Dihitung luas permukaannya.
3. Tentukan harga perbandingan L/D dengan menggunakan table Concrete Strenght
Coreection Factor Percent.
4. Letakkan contoh batuan diantara pelat penekan, dimana jarun menometer harus
menunjukkan angka nol.
5. Tekan contoh batuan secara perlahan-lahan sampai pecah dan catat harganya.
Harga di sini harga minimum.
6. Ukur sudut pecah pada contoh dengan tujuan untuk mendapatkan harga sudut
geser.
Perhitungan
Dari percobaan didapat harga :
1. Beban maksimum ( P ) lbs.
2. Diameter ( | ) cm.
3. Tinggi contoh ( t ) cm.
4. Sudut pecah ( o )
o
.





PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
Harga ( P ) dikoreksi terlebih dahulu sebelum dihitung.
Koreksi manometer ( X ) lbs :



Manometer terkoreksi ( Y ) lbs :


Manometer efektif ( Q ) lbs :


L/D koreksi :


Beban efektif :


Sudut geser dalam :


Kuat tekan (ultimate) :



Prisma :


Setelah perhitungan di atas, dicari nilai tegangan geser dengan menggunakan Lingkaran
Mohr.



K
X =
P
P = X x P

Q = P ( Y )

R % (lihat tabel)

P
efektif
= Q x 0,4536
( 2o - 90 )
P
efektif

x L/D koreksi
A
Ultimate / 2
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
Tabel L/D Koreksi
L/D .00 .01 .02 .03 .04 .05 .06 .07 .08 .09
1.0 85.8 86.7 86.6 87.0 87.4 87.7 88.0 88.4 88.7 89.0
1.1 89.3 89.6 89.9 90.2 90.5 90.8 91.1 91.4 91.6 91.9
1.2 92.1 92.4 92.7 93.0 93.2 93.5 93.7 94.0 94.2 94.5
1.3 94.6 94.8 95.0 95.2 95.3 95.5 95.6 95.8 95.9 96.1
1.4 96.2 96.3 96.4 96.5 96.7 96.8 96.8 96.9 97.0 97.0
1.5 97.1 97.2 97.3 97.4 97.4 97.5 97.5 97.7 97.8 97.6
1.6 97.8 97.8 97.9 97.9 98.0 98.0 98.1 98.1 98.2 98.2
1.7 98.3 98.4 98.4 98.5 98.6 98.6 98.7 98.7 98.9 98.2
1.8 98.9 99.5 99.0 99.1 99.1 99.2 99.2 99.3 99.3 99.4
1.9 99.5 100.1 99.6 99.6 99.7 99.8 99.8 99.9 99.9 100.0
2.0 100.0 100.7 100.1 100.2 100.2 100.3 100.4 100.4 100.5 100.5
2.1 100.6 101.3 100.8 100.8 100.8 100.9 101.0 101.0 101.1 101.7
2.2 101.2 101.9 101.4 101.4 101.5 101.5 101.6 101.7 101.7 102.3
2.3 102.4 102.5 102.4 102.0 102.1 102.1 102.0 102.2 102.3 102.9
2.4 103.0 103.1 102.6 102.6 102.7 102.7 102.8 102.8 102.9 103.5
2.5 103.0 103.7 103.1 103.2 103.2 103.3 103.4 103.4 103.5 104.1
2.6 104.2 104.3 103.7 103.8 103.9 103.8 104.0 104.1 104.1 104.7
2.7 104.8 104.9 104.3 104.4 104.5 104.0 104.6 104.7 104.7 105.2
2.8 104.8 105.5 104.9 105.0 105.1 104.6 105.2 105.3 105.2 105.3
2.9 105.4 105.5 105.5 105.5 105.7 105.2 105.8 105.8 105.9 105.9





PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
Tabel Koreksi Kalibrasi Manometer
TYPE
PRESSURE
GAUGE
(kg/cm
2
)
( P )
CORRECTION
( K )
TYPE
PRESSURE
GAUGE
(kg/cm
2
)
( P )
CORRECTION
( K )
R
O
C
K

2.900 45
S
O
I
L

25.250 - 218
7.375 - 13 20.200 - 174
12.575 - 59 17.625 - 102
17.600 - 77 12.600 - 84
20.150 - 124 7.400 - 38
25.225 - 193 2.925 - 20
29.750 - 300

Tabel Klasifikasi Kuat Tekan (U.C.S) Menurut Deeres
KELAS U.C.S (Mpa) SKALA KEKUATAN
A > 200 Luar biasa kuat
B 100 200 Sangat kuat
C 50 100 Kuat
D 25 50 Cukup kuat
E < 25 Lemah

Kisaran Nilai-Nilai U.C.S Untuk Batuan Alam Dan Beton
E 25 D 50 C 100 B 200 A










granit
sabak
basalt
skiss
gneis
kuarsit
batupasir
Batu kapur
beton
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
3.2.3.3. Lingkaran Mohr (Mohrs Envelope)
Dasar teori
Mohr adalah seorang insinyur jerman (1835 1918) yang mengembangkan metode
analisa stress dengan gambaran grafis. Pada tahun 1773, COULOMB mengajukan
hiotesa mengenai kekuatan geser tanah sebagai berikut :


S = C + t
n
tg u



C



Dimana :
S : kekuatan geser tanah
C : kohesi tanah
u : sudut geser dalam
t
n
: tegangan normal
t : tegangan geser

Tahun 1925 terjadi perubahan rumus COULOMB dengan memasukan unsur tegangan air
pori (uplift pressure)

S = C + t
n
tg u







Dimana :
t
n

t
u
t = t - u
S
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
C : kohesi tanah kuat
t
n
: tegangan normal efektif
u : tegangan pori air
u : sudut geser dalam efektif

Pada beberapa percobaan kuat tekan bebas dihasilkan pecahan yang mempunyai
sudut dengan bidang datar. Sudut tersebut disebut sudut pecah. Pada bidang pecah
tersebut bekerja gaya-gaya yaitu gaya normal dan gaya geser, sebagai akibat tegangan
utama yang bekerja yaitu T
1
. Sedangkan untuk T
2
dan T
3
= 0.

Lihat gambar :








Untuk penentuan tegangan normal dan tegangan geser pada percobaan ada
sedikit penentuan, yaitu :
1. Karena T
2
dan T
1
= 0, maka dalam pembuatan lingkaran Mohr nilai T
3
= 0, berarti
lingkaran stress bagian kiri menempel pada absis / konsonan Y.
2. Penentuan nilai tegangan normal dan tegangan geser pada bidang geser, dapat
dilihat langsung dengan melihat :
a. Sumbu Y untuk nilai tegangan geser.
b. Sumbu X untuk nilai tegangan normal.
Prosedur Pembuatan Lingkaran Mohr
1. Sediakan kertas millimeter blok dengan ukuran minimal A4.
2. Perhatikan nilai ultimate dan prisma pada percobaan Kuat Tekan Bebas Batuan.
3. Nilai ultimate akan menjadi diameter lingkaran, sedangkan nilai prisma akan
menjadi jari-jari lingkaran.
4. Buat diagram kartesius pada millimeter blok dengan memperhatikan besarnya
nilai ultimate dan prisma. Skala X dan Y harus sama besar ( X : Y = 1 : 1 ).
t
o
t
n

o
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
5. Gambar setengah lingkaran dengan jangka pada diagram kartesius, dimana sisi
kiri lingkaran menempel pada sumbu Y.
6. Kemudian masukkan nilai sudut pecah ( 2o ) dari titik pusat lingkaran. Nol derajat
dimulai dari sisi kanan lingkaran,
7. Buatlah garis lurus (garis a) dari sudut pecah tadi sampai menyinggung garis
lingkaran.
8. Dari titik persinggungan antara garis a dengan lingkaran, buatlah garis tegak lurus
(garis b) terhadap garis a yang menyinggung lingkaran sampai sumbu Y.
9. Titik persinggungan antara garis b dengan sumbu Y adalah sebagai nilai C
(kohesi).
10. Sudut yang dibentuk antara garis b dengan bidang horisontal adalah sudut u.
11. Dari titik persinggungan antara garis a dengan lingkaran, tarik garis horizontal ke
arah sumbu Y, nilai yang didapatkan pada sumbu Y adalah nilai tegangan geser (
t ).
12. Dari titik persinggungan antara garis a dengan lingkaran, tarik garis vertical ke
arah sumbu X, nilai yang didapatkan pada sumbu X adalah nilai tegangan normal
( t
n
).
13. Hitung besarnya kuat geser ( S ).
14. Hasil tegangan normal dan tegangan geser yang didapatkan dari lingkaran Mohr
adalah hasil secara grafis. Cocokan hasil secara grafis tersebut dengan
perhitungan secara matematis terhadap tegangan normal dan tegangan geser.
Dimana besarnya tegangan geser secara matematis adalah :


Sedangkan untuk tegangan normal :









t = r sin 2o
t
n
= r ( 1 + cos 2o )
Y
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010












Gambar Lingkaran Mohr





3.2.3.4. Point Load Test (Test Franklin)
Dasar Teori
Kekuatan batuan terhadap beban tergantung pada keadaan bebanitu sendiri. Jika
beban yang menerpa batuan berupa bidang, maka gaya tekanan dari beban tersebar
merata ke semua permukaan bidang. Tetapi bila beban berupa titik, maka semua gaya
beban bertumpu pada satu titik. Bila dibandingkan, maka batuan yang menerima beban
berupa titik akan hancu terlebih dahulu.
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui kekuatan (strength) dari percontohan
batu secara tidak langsung di lapangan. Percontohan batu dapat berbentuk silinder atau
bentuknya tidak beraturan. Peralatan yang digunakan mudah dibawa, tidak begitu besar
dan cukup ringan. Pengujian cepat, sehingga dnegan cepat dapat diketahui kekuatan
batuan di lapangan, sebelum pengujian di laboratorium di lakukan. Percontohan yang
disarankan untuk pengujian ini adalah berbentuk silinder dengan | 50 mm (nx = 54
mm).


X
2o
C
t
t
n

u
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
Kegunaan
Untuk mengetahui klasifikasi batuan. Prinsip kerja alat point load test adalah menekan
contoh batuan pada sumbunya dari 2 arah dengan penekanan yang berbentuk conical.
Peralatan Yang Digunakan
1. Selipper.
2. Point load test meter.
3. Jangka sorong.
Prosedur Pelaksanaan
1. Contoh batuan diukur dulu panjangnya (L) dan | (D) dengan menggunakan
selipper atau jangka sorong, dan tentu saja metode uji beban titik berdasarkan
syarat-syarat di bawah ini :
a. Diametral test L = 0,7 D
b. Axial test D/L = 1,1 0,05
c. Irregular test D/L = 1,0 sampai 1,4
2. Tempatkan contoh batuan diantara 2 conical, kemudian tekan alat point load test
secara perlahan-lahan dengan melihat pergerakan jarum manometer.
3. Tentukan nilai manometer maksimum, yaitu nilai manometer pada saat batuan
pecah.
Perhitungan
Factor koreksi manometer :


Beban efektif :


Is :


Is
50
:





K / P
K / P x P
P
efektif
/ D
2

Lihat tabel
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
Tabel Penentuan K/P
TYPE
PRESSURE
GAUGE
(kg/cm
2
)
( P )
CORRECTION
( K )
TYPE
PRESSURE
GAUGE
(kg/cm
2
)
( P )
CORRECTION
( K )
R
O
C
K

4 - 2.5
S
O
I
L

29 5
8 - 2.5 25 2.5
12 - 2 20 1
21 - 1.25 17 0
25 0 15 - 3
29 1 7 - 2
34 2.5 3 - 1


Tabel Nilai-Nilai Khas Uji Beban Titik (Bell)
MATERIAL
I
s
(50)
(Mpa)
U.C.S
(Mpa)
Granit eskdale 12.0 198.3
Andesit (somerset) 14.8 204.3
Basalt (derbyshire) 16.9 321.0
Sabak ( north wales) 7.9 96.4
Skiss (aberdeenshire) 7.2 82.7
Gneiss 12.7 162.0
Batupasir aneka warna (edwinstone) 0.7 11.6
Kapur karbon (buxton) 3.5 106.2

3.2.3.5. Kualitas Batuan (Rock Quantity Disignation)
Dasar Teori
Apa yang dinamakan Rock Quantity Designation (RQD) telah dirancang secara
khusus untuk memperoleh petunjuk tidak langsung dari pemboran inti bagi sifat-sifat
batuan. Nilai RQD didasarkan pada hasil yang diperoleh dari pemboran inti (core
recovery). Hasil yang diperoleh dari pemboran inti adalah ratio dari ukuran panjang bor
dan ini bervariasi mulai dari 0% (tiada perolehan) sampai 100% (perolehan penuh). Di sini
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010
RQD merupakan sebuah penyesuaian. Hanya bagian pemboran inti yang utuh saja dan
panjangnya lebih dari 10 cm dapat kita gunakan untuk menghitung perolehan. Sebuan inti
yang lebih kecil seringkali akan patah akibat pemboran itu sendiri sehingga dapat
memberikan sebuah nilai RQD yang salah.
Selain penentuan jarak, kondisi suatu diskontinuitas merupakan hal yang penting
pula. Apakah semua permukaannya licin atau kasar, apakah terdapat kandungan material
(lempung, kalsit, kuarsit) di sela-selanya, apakah telah terjadi pelapukan pada bagian
permukaan, berapakah kelebarannya, dan sebagainya. Selain itu tentu saja orientasi
ruang dari berbagai diskontinuitas merupakan sesuatu yang tidak kalah pentingnya.
Kegunaan
Untuk mengetahui kualitas batuan hasil pemboran inti.
Peralatan Yang Dibutuhkan
1. Core minimal 1 meter.
2. Penggaris / jangka sorong.
3. HCl.
4. Komparator.
5. Loupe.
Prosedur Pelaksanaan
1. Amati core yang telah ditentukan.
2. Deskripsikan masing-masing core yang hanya mempunyai panjang minimal 10
cm.
3. Pendeskripsian adalah merupakan gabungan antara prosedur standar deskripsi
batuan dengan pendeskripsian secara geologi teknik.
4. Catat keseluruhan panjang core, baik yang lebih dari 10 cm atau pun kurang dari
10 cm.

Perhitungan
Core recovery :






E core yang terukur
Core recovery = x 100 %
Core run
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010

RQD :





Tabel Kualitas Batuan ( Stagg and Zienkiewicz, 1974)
NO. R Q D ( % ) KUALITAS BATUAN
1. 0 25 Very poor
2. 25 50 Poor
3. 50 75 Fair
4. 75 90 Good
5. 90 100 Excellent



















DAFTAR PUSTAKA
E core > 10 cm
RQD = x 100 %
Core run
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK 2010




LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK
UPN VETERAN YOYAKARTA 2010

Soil Manual For The Design Of Asphalt Pavement Structure, The Asphalt Institute, MS 10,
1978

Earth Manual, U.S. Departement Of The Interior Berau Of Reclamation,1965

Manual Penyelidikan Geoteknik Untuk Perencanaan Pondasi Jembatan, No. 02/MN/B/1983,
Direktorat Jendral Bina Marga, Departemen Pekerjaan Umum.

Manual Of Foundation Investigation, A.A.S.H.T.O., 1978

Site Investigation Practice, Micheal D. Joyce,1982.

Manual Pemeriksaan Bahan Jalan, No. 01/MN/BM/1976, Direktorat Jendral Bina Marga,
Departemen Pekerjaan Umum.

Highway Material Testing SK Khanna, CEG Justo, 1977.

Soil Testing For Engineers T,W. LAMBE, 1951.

Highway Material, Robert D. Krebbs, Richard D. Walker, 1971.

Anda mungkin juga menyukai