Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM BIOKIMIA KLINIK TES KOMBINASI BILIRUBIN (Metode Kolorimetri)

SENIN / PUKUL 13.00 16.00 Kelompok 1:

Putri Aryuni Hana Nopia Sri Rahayu Evrilia Aprilya Eka P Veni Alviany Ahmad Hanif Santosa Ulfa Tri Wahyuni Arvenda Rezky P. M. Rizki Pamula

260110100001 260110100002 260110100003 260110100004 260110100005 260110100006 260110100007 260110100008 260110100011

(Tujuan, Prinsip) (Data Pengamatan) (Alat Bahan, Prosedur) (Teori) (Pembahasan) (Pembahasan) (Editor) (Pembahasan) (Perhitungan)

LABORATORIUM BIOKIMIA KLINIK FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS PADJADJARAN 2013

TES KOMBINASI BILIRUBIN (Metode Kolorimetri)

I. 1. 2.

TUJUAN Melakukan pemeriksaan fungsi hati melalui tes kombinasi bilirubin. Menginterprestasikan hasil pemeriksaan yang diperoleh.

II.

PRINSIP Tes kombinasi bilirubin ini menggunakan metode Jendrassik, L. et.al. (1938), yang menyatakan bahwa bilirubin total akan diazotasi dengan asam sulfanilat yang dengan adanya kofein menjadi zat warna azo. Sedangkan pemeriksaan bilirubin direk dilakukan tanpa penambahan kofein.

III. TEORI DASAR Hati (liver) merupakan organ terbesar dalam tubuh manusia. Di dalam hati terjadi proses-proses penting bagi kehidupan, yaitu proses penyimpanan energi, pembentukan protein dan asam empedu, pengaturan metabolisme kolesterol, dan penetralan racun/obat yang masuk dalam tubuh kita (Hadikusumo, 2008). Hati disebut organ ekskresi karena mengeluarkan zat sisa yang berupa empedu. Empedu merupakan cairan hasil perombakan sel-sel darah yang sudah tua atau mati. Cairan empedu yang masih bermanfaat akan dipergunakan lagi oleh tubuh untuk pembentukan sel darah yang baru, sedangkan yang sudah tidak terpakai lagi akan dibuang melalui ginjal (memberi warna urin) dan melalui usus (memberi warna feses) (Hadikusumo, 2008). Beberapa penyakit hati, antara lain : 1. Penyakit hati karena infeksi (misalnya hepatitis virus) 2. Penyakit hati karena racun (misalnya karena alkohol atau obat tertentu). 3. Genetika atau keturunan (misalnya hemochromatosis) 4. Gangguan imun (misalnya hepatitis autoimun) 5. Kanker (misalnya Hepatocellular carcinoma) (Hadikusumo, 2008).

Tes Fungsi Hati Tes fungsi hati untuk mengukur kemampuan hati melakukan fungsi normal, misalnya: albumin serum untuk mengukur sintesis protein, waktu protrombin untuk mengukur faktor pembekuan, bilirubin untuk mengukur konjugasi dan ekskresi garam empedu, atau pengukuran enzim hati (alkali fosfatase, transminase), yang merupakan indikator kerusakan hati 1. 2. Kadar Enzim Plasma Pengujian Bilirubin (Suwandhi, 2011).

Bilirubin Sekitar 75% produksi bilirubin pada neonatus berasal dari katabolisme hemoglobin dimana 1 gram hemoglobin akan menghasilkan 34 mg bilirubin, 25% sisanya berasal dari pelepasan hemoglobin karena eritropoesis yang tidak efektif di dalam sumsum tulang, jaringan yang mengandung protein heme (mioglobin, katalase, peroksidase, sitokrom), dan heme bebas. Mula-mula heme dilepaskan dari hemoglobin eritrosit yang mengalami hemolisis di sel-sel retikuloendotelial juga dari hemoprotein lain (mioglobin, katalase, peroksidase, sitokrom, nitrit oksida sintase) yang terdapat di berbagai organ dan jaringan. Selanjutnya, globin akan diuraikan menjadi unsur-unsur asam amino pembentuk semula untuk digunakan kembali, zat besi dari heme memasuki depot zat besi untuk pemakaian kembali, sedangkan heme akan dikatabolisme melalui serangkaian proses enzimatik. Bagian porfirin tanpa besi pada heme juga diuraikan, terutama di dalam sel-sel retikuloendotelial pada hati, limpa, dan sumsum tulang (Dennery, et al., 2001). Heme yang dilepaskan oleh hemoglobin didegradasi secara enzimatis dalam fraksi mikrosom sel retikuloendetelial. Proses ini dikatalisir oleh enzim heme oksigenase, yaitu enzim pertama dan enzim pembatas-kecepatan (a rate-limiting enzyme) yang bekerja dalam suatu reaksi dua tahap dengan melibatkan nicotinamide adenine dinucleotide phosphate (NADPH) dan oksigen (O2). Heme direduksi oleh NADPH, O2 ditambahkan pada jembatan -metenil antara pirol I dan II porfirin, penambahan lebih banyak oksigen, ion fero (Fe2+) dilepaskan,

menghasilkan karbon monoksida (CO) dan biliverdin IX- dengan jumlah ekuimolar dari pemecahan cincin tetrapirol (Murray, 1997). Proses selanjutnya, CO mengaktivasi GC (guanylyl cyclase) menghasilkan pembentukan cGMP (cyclic guanosine monophosphate). CO juga dapat menggeser O2 dari oksi hemoglobin (HbO) atau diekshalasi. Reaksi ini melepaskan O2 dan menghasilkan karboksi hemoglobin (COHb). Selanjutnya COHb dapat bereaksi kembali dengan oksigen, menghasilkan oksi hemoglobin (HbO2) dan CO yang diekshalasi (Dennery, et al., 2001). Biliverdin dari hasil degradasi heme direduksi menjadi bilirubin oleh enzim biliverdin reduktase dalam sitosol. Bilirubin inilah (suatu pigmen berwarna kuning) yang disebut sebagai bilirubin indirek, dalam jaringan perifer diikat oleh albumin, diangkut oleh plasma ke dalam hati. Peristiwa metabolisme ini dapat dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu: 1. Pengambilan bilirubin oleh sel parenkim hati 2. Konjugasi bilirubin dalam retikulum endoplasma halus 3. Sekresi bilirubin direk (conjugated bilirubin) ke dalam empedu (Oski, 1996). Penjabaran proses di atas dapat diketahui bahwa produksi bilirubin sebagian besar dihasilkan dari pemecahan hemoglobin yang berasal dari adanya hemolisis eritrosit. Dapat dikatakan, kadar bilirubin pada neonatus dapat dipakai sebagai petunjuk adanya hemolisis eritrosit (Dennery, et al., 2001). Selama masa hidup eritrosit yang 120 hari, eritrosit berjalan sekitar 200 sampai 300 mil. Dalam proses penuaan, terjadi penurunan lambat metabolisme sel darah merah. Sewaktu sel tua disingkirkan, molekul hemoglobin diuraikan menjadi komponen-komponennya. Sekitar lima sampai tujuh gram hemoglobin dikatabolisme setiap hari. Besi digunakan kembali. Bagian globin dari molekul hemoglobin diuraikan menjadi asam-asam amino yang diresirkulasi ke kompartemen asam amino. Komponen porfirin dari molekul heme diuraikan oleh serangkaian reaksi katabolik menjadi senyawa yang disebut bilirubin, yaitu pigmen kuning kecoklatan (Sacher & McPherson, 2004).

Metabolisme Bilirubin Bilirubin adalah produk dari eritrosit yang rusak. Kerusakan eritrosit akan menyebabkan keluarnya bilirubin. Bilirubin ini adalah bilirubin tak terkonjugasi yang tidak larut dalam air. Bilirubin tak terkonjugasi ini diikat oleh albumin dan protein lain, kemudian beredar melalui peredaran darah. Setibanya di dalam hepar, bilirubin tak terkonjugasi dilepas oleh hepar dari albumin, kemudian bergabung dengan glukoronid sehingga dapat melarut dalam air dan disebut bilirubin terkonjugasi. Melalui kanakuli, bilirubin terkonjugasi ikut dengan empedu dan masuk ke vesika felea dan duodenum. Dalam duodenum, bilirubin terkonjugasi diubah menjadi urobilinogen. Sebagian urobilinogen ini dikeluarkan melalui feses dalam bentuk sterkobilin, yang memberi warna pada feses dan sebagian lagi diabsorpsi. Setelah itu, direabsorpsi. Setibanya di dalam hepar, dilepaskan ke dalam darah untuk diambil kembali, yang lain dikeluarkan melalui urine (Baradero, et al., 2008). Bilirubin I (indirek) bersifat lebih sukar larut dalam air dibandingkan dengan biliverdin. Efektivitas bilirubin yang terikat pada albumin kira-kira 1/10 kali dibandingkan asam askorbat dalam perlindungan terhadap peroksida yang larut dalam air. Lebih bermakna lagi, bilirubin merupakan anti oksidan yang kuat dalam membran, bersaing dengan vitamin E (Pratita, 2010). Di hati, bilirubin I (indirek) yang terikat pada albumin diambil pada permukaan sinusoid hepatosit oleh suatu protein pembawa yaitu ligandin. Sistem transport difasilitasi ini mempunyai kapasitas yang sangat besar tetapi penggambilan bilirubin akan tergantung pada kelancaran proses yang akan dilewati bilirubin berikutnya. Bilirubin nonpolar (I / indirek) akan menetap dalam sel jika tidak diubah menjadi bentuk larut (II / direk). Hepatosit akan mengubah bilirubin menjadi bentuk larut (II /direk) yang dapat diekskresikan dengan mudah ke dalam kandung empedu. Proses perubahan tersebut melibatkan asam glukoronat yang dikonjugasikan dengan bilirubin, dikatalisis oleh enzim bilirubin glukoronosiltransferase. Hati mengandung sedikitnya dua isoform enzim glukoronosiltransferase yang terdapat terutama pada reticulum endoplasma. Reaksi konjugasi ini berlangsung dua tahap, memerlukan UDP asam glukoronat

sebagai

donor

glukoronat.

Tahap

pertama

akan

membentuk

bilirubin

monoglukoronida sebagai senyawa antara yang kemudian dikonversi menjadi bilirubin diglukoronida yang larut pada tahap kedua (Pratita, 2010). Hiperbilirubinemia neonatal atau ikterus fisiologis, suatu kadar bilirubin serum total yang lebih dari 5mg/dl, desebabkan oleh predisposisi neonatal untuk memproduksi bilirubin dan keterbatasan kemampuannya untuk mengekskresinya. Warna kuning pada kulit dan membran mukosa adalah karena deposisi pigmen bilirubin tak terkonjugasi. Sumber utama bilirubin adalah dari pemecahan hemoglobin yang sudah tua atau sel darah merah yang mengalami hemolisis. Pada neonates, sel darah merah mengalami pergantian yang lebih tingi dan waktu hidup yang lebih pendek, yang meningkatkan kecepatan produksi bilirubin lebih tinggi. Ketidakmatangan hepar neonatal merupakan faktor yang membatasi ekskresi bilirubin (Betz & Sowden, 2009). Hiperbilirubinemia terkonjugasi yang berkepanjangan, seperti pada ikterus obstruktif, menyebabkan terjadinya penggabungan kovalen bilirubin terkonjugasi dengan albumin. Jenis bilirubin ini adalah bilirubin delta, yang bermigrasi lebih cepat daripada albumin normal sehingga memperlebar pita albumin ke arah anoda. Bilirubin delta memilki waktu paruh plasma lebih lama dari pada bilirubin terkonjugasi lain karena berikatan kovalen dengan albumin sehingga tertahan lebih lama dalam sirkulasi (Sacher & McPherson, 2004).

Pemeriksaan Laboratorium Beberapa pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui fungsi hepar meliputi: 1. Kolesterol total serum Normal : 140-220 mg/100ml darah Menurun : pada penyakit hepatoselular Meningkat 2. Albumin Normal Menurun : 3,4-5,0 mg/100ml : pada penyakit hepatoselular : pada obstruksi traktus bilier

3. Kadar Normal : < 75 g Meningkat : pada penyakit hepatoselular karena obstruksi sirkulasi portal. 4. Conjugated bilirubin Meningkat : pada penyakit hepatoselular dan obstruksi bilier.

5. Unconjugated bilirubin Meningkat : pada penyakit hepatoselular dan homolisis eritrosit.

6. Bilirubin urine Normal : tidak ada. Adanya bilirubin urin menunjukkan penyakit hepatoselular atau obstruksi bilier. Warna urinnya adalah cokelat kemerahan dan berbuih jika dikocok. 7. Urobilinogen urine Normal Menurun Meningkat : 0,2-1,2 unit : pada obstruksi bilier : pada penyakit hepatoselular

8. Urobilinogen fekal Normal Meningkat : 90-280 mg/hari : pada hemolisis eritrosit (Baradero, et al., 2008).

IV. ALAT DAN BAHAN A. Alat : 1. Pipet piston 2. Kuvet 3. Spektrofotometer

B. Bahan : 1. Alkohol 70% 2. Blangko sampel 3. NaCl fisiologis 3. Reagen 1, 2, 3, 4 4. Sampel serum

V.

PROSEDUR

1. Bilirubin Direk Untuk pemeriksaan bilirubin direk, dipipetkan ke dalam tabung reaksi : Blanko Sampel Larutan 2 Larutan 1 Sodium (9g/L) Sampel 200 l 200 l chloride 200 l 200 l Sampel 50 l 200 l 200 l

Setelah itu dicampurkan sesuai jumlah tabel diatas lalu diamkan selama 5 menit pada suhu 20-25 derajat C. Kemudian absorban sampel diukur terhadap blanko pada panjang gelombang 546 nm. 2. Bilirubin Total Untuk pemeriksaan bilirubin total, dipipetkan ke dalam tabung reaksi : Blanko Sampel Larutan 2 Larutan 1 Larutan 3 Larutan 4 Sampel 200 l 200 l 200 l 200 l Sampel 50 l 200 l 200 l 200 l 200 l

Setelah itu dicampurkan sesuai jumlah tabel diatas lalu diamkan selama 5-30 menit pada suhu 20-25 derajat C. Kemudian absorban sampel diukur terhadap blanko pada panjang gelombang 578 nm Setelah absorbansi sampel diukur dan dihitung terhadap absorbansi blanko sampel (A = Asampel Ablanko sampel), kemudian dilakukan perhitungan konsentrasi sampel dengan rumus : C = A x 13 (mg/dL) atau C = A x 17 (mol/L)

VI.

DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN

Tabel 6.1 Pengukuran Absorbansi ABT Blanko Sampel 1 Sampel 2 A 0 0,089 0,082 0,0855 ABD 0 0,081 0,085 0,083 A 0 0,085 0,0835 0,084

C bilirubin total C = 10,5 x ABT I. C= 10,5 x 0,089 = 0,9345 mg/dl II. C= 10,5 x 0,082 = 0,861 mg/dl C rata-rata = = 0,898 mg/dl

C = 180 x ABT I. C = 180 x 0,089 = 16,02 II. /L

C = 180 x 0,082 = 14,76 /L

C rata-rata = = 15,89 /L

C bilirubin direk C = 14,0 x ABD I. C = 14,0 x 0,081 = 1,134 mg/dl II. C = 14,0 x 0,085 = 1,19 mg/dl C rata-rata = = 1.162 mg/dl

C=240 x ABD I. C= 240 x 0,081 = 19,44 II. C=240 x 0,085 = 20,4 C rata-rata = = 19,92 C bilirubin indirek C = CBT - CBD I. II. C = 0,898 1.162 = -0,264 mg/dl C = 15,39 19,92 = -4,53 /L /L /L /L

VII.

PEMBAHASAN

Praktikum kali ini pada dasarnya bertujuan agar praktikan dapat melakukan pemeriksaan fungsi hati melalui tes kombinasi bilirubin dan menginterpretasikan hasil pemeriksaan yang diperoleh. Bilirubin adalah produk hasil pemecahan heme dari sel darah merah. Bilirubin ini adalah bilirubin tak terkonjugasi yang tidak larut dalam air. Bilirubin tak terkonjugasi ini diikat oleh albumin dan protein lain, kemudian beredar melalui peredaran darah. Setibanya di dalam hepar, bilirubin tak terkonjugasi dilepas oleh hepar dari albumin, kemudian mengalami konjugasi di hati dengan asam glukoronat dengan batuan enzim uridyl diphosphate glucoronyl transferase (UDGPT) sehingga dapat melarut dalam air dan disebut bilirubin terkonjugasi (bilirubin direk). Melalui kanakuli, bilirubin terkonjugasi ikut dengan empedu dan masuk ke vesika felea dan duodenum. Dalam duodenum, bilirubin terkonjugasi diubah menjadi urobilinogen. Sebagian urobilinogen ini dikeluarkan melalui feses dalam bentuk sterkobilin, yang memberi warna pada feses, dan sebagian diabsorbsi. Setelah itu, direabsorbsi, setibanya di dalam hepar, hepar melepaskannya ke dalam darah untuk diambil kembali, yang lain dikeluarkan melalui urin.

Gambar 7.1 Mekanisme Terjadinya Bilirubin

Gambar 7. 2 Struktur Bilirubin

Apabila ada gangguan fungsi hati, jumlah bilirubin indirek (hasil pemecahan heme) akan banyak atau berkurang dalam di darah, sedangkan jumlah bilirubin direk sedikit terbentuk. Jika terjadi peningkatan kadar bilirubin direk maka peningkatan tersebut menunjukkan adanya gangguan pada hati (kerusakan sel hati) atau saluran empedu (batu atau tumor). Peningkatan kadar bilirubin direk dapat disebabkan oleh penyakit

ikterik obstruktif karena batu atau neoplasma, hepatitis, sirosis hati, mononucleosis infeksiosa, metastasis (kanker) hati, penyakit Wilson. Obat-obatan yang sering digunakan adalah antibiotik (amfoterisin B, klindamisin, eritromisin, gentamisin, linkomisin, oksasilin, tetrasiklin), sulfonamide, obat antituberkulosis (asam paraaminosalisilat, isoniazid), alopurinol, diuretik (asetazolamid, asam etakrinat), mitramisin, dekstran, diazepam (valium), barbiturat, narkotik (kodein, morfin, meperidin), flurazepam, indometasin, metotreksat, metildopa, papaverin,

prokainamid, steroid, kontrasepsi oral, tolbutamid, vitamin A, C, K. Sedangkan penurunan kadar bilirubin direk juga dapat disebabkan oleh penyakit anemia (defisiensi besi). Obat-obat yang digunakan antara lain barbiturat, salisilat (aspirin), penisilin, kafein dalam dosis tinggi. Peningkatan kadar bilirubin indirek sering dikaitkan dengan peningkatan destruksi eritrosit (hemolisis), seperti pada penyakit hemolitik oleh autoimun, transfusi, atau eritroblastosis fatalis. Peningkatan destruksi eritrosit tidak diimbangi dengan kecepatan kunjugasi dan ekskresi ke saluran empedu sehingga terjadi peningkatan kadar bilirubin indirek. Peningkatan kadar bilirubin indirek juga dapat disebabkan oleh penyakit eritroblastosis fetalis, anemia sel sabit, reaksi transfuse, malaria, anemia pernisiosa, septicemia, anemia hemolitik, talasemia, CHF, sirosis terdekompensasi, dan hepatitis. Obat-obat yang digunakan antara lain aspirin, rifampin, dan fenotiazin. Prinsip yang digunakan dalam percobaan ini adalah metode Jendrassik, L. et al. (1938). Serum atau plasma ditambahkan ke larutan natrium asetat dan kafein-natrium benzoat. Natrium asetat digunakan sebagai dapar pH dalam reaksi diazotasi, sementara kafein-natrium benzoat mempercepat ikatan antara bilirubin dan asam sulfanilat. Warna azobilirubin akan muncul dalam 10 menit. Untuk pemeriksaan bilirubin direk dilakukan tanpa penambahan kafein. Sedangkan bilirubin indirek merupakan bilirubin bebas yang terikat albumin harus lebih dulu dicampur dengan alkohol, kafein atau pelarut lain sebelum dapat bereaksi. Azobilirubin kemudian diukur intensitasnya menggunakan spektrofotometer

Prosedur kerja tes bilirubin total adalah sebagai berikut; Pertama siapkan blanko dengan cara memipet reagen 1 sebanyak 200 L, reagen 3 sebanyak 1000 L, sampel sebanyak 200 L ke dalam kuvet. campur dan inkubasi pada suhu 25oC selama 15 menit. Kemudian tambahkan reagen 4 sebanyak 1000 L. untuk penyiapan sampel dengan cara memipet reagen 2 sebanyak 50 L, reagen 1 sebanyak 200 L, reagen 3 sebanyak 1000 L kedalam kuvet, diinkubasi selama 15 menit pada suhu 25oC, dan tambahkan reagen 4 sebanyak 1000 L, inkubasi pada suhu 25oC selama 10 menit dan ukur absorbansi blanko dan sampel. Perlakukan terhadap sampel dilakukan duplo. Prosedur kerja tes bilirubin direk adalah sebagai berikut: pertama siapkan blanko dengan cara tambahkan reagen 1 sebanyak 200 L, tambahkan larutan NaCl sebanyak 2000 L, dan tambahkan sampel sebanyak 200 L, inkubasikan pada suhu 25oC, diamkan selama 5 menit. Penyiapan sampel dilakukan dengan menambahkan reagen 2 sebanyak 50 L, tambahkan reagen 1 sebanyak 200 L, tambahkan larutan NaCl sebanyak 2000 L, dan tambahkan sampel sebanyak 200 L, inkubasikan pada suhu 25oC diamkan selama 5 menit. Masing-masing larutan dihitung absorbansinya dan sampel di lakukan duplo Pada percobaan ini kadar bilirubin yang akan diukur adalah bilirubin total dan bilirubin direk. Serum darah yang digunakan diperoleh dari darah yang telah disentrifugasi dan diambil supernatannya. Pemipetan dilakukan dengan menggunakan pipet piston karena ketelitiannya besar sehingga perbedaan pengukuran dapat dihindari. Perbedaan pengukuran ini sangat tidak diinginkan karena konsentrasi sampel maupun standar yang digunakan sangat kecil sehingga perbedaan kurang lebih 2% memberikan hasil yang jauh berbeda dari hasil sebenarnya. Blanko, blanko yang ditambah sampel dan sampel, yang dibaca absorbansinya dengan menggunakan spektroskopi UV-Vis dengan panjang gelombang 546 nm. Sebelum mengukur absorbansi sampel terlebih dahulu diukur absorbansi blanko yang ditambah sampel dan nilai dibuat jadi nol dahulu agar aborbansi reagen tidak mempengaruhi absorbansi sampel yang diukur.

Spektrofotometer

UV-Vis

bekerja

dengan

prinsip

absorpsi

radiasi

elektromagnetik oleh sampel. Jadi, ketika sampel diberikan radiasi elektromagnetik yang berasal dari sumber cahaya, gugus kromofor pada sampel akan mengabsorpsi radiasi elektromagnetik tersebut. Sesuai hukum Lambert-Beer, A=.b.c, artinya jumlah cahaya yang diabsorpsi sebanding dengan konsentrasi larutan. Dengan demikian, semakin besar konsentrasi sampel, maka semakin besar jumlah radiasi elektromagnetik yang terabsorpsi (berbanding lurus dengan A) namun semakin rendah jumlah radiasi elektromagnetik yang diteruskan (berbanding terbalik secara logaritmik dengan %T). Keuntungan pengukuran dengan menggunakan spektrofotometer UV-vis, yaitu mempunyai sensitivitas yang relatif tinggi, pengerjaannya mudah sehingga pengukuran yang dilakukan cepat, dan mempunyai spesifisitas yang relatif tinggi. Spektrofotometer UV-vis dapat mengukur absorbansi karena adanya serapan dari gugus kromofor pada suatu senyawa. Gugus kromofor ialah gugus-gugus atau atom dalam senyawa organik yang mampu menyerap sinar UV dan sinar tampak. Selain itu juga ada yang dinamakan gugus ausokrom yang merupakan gugus fungsional yang mempunyai elekton bebas seperti OH-, O-, dan CH3O- yang memberikan transisi n *. Terikatnya gugus ausokrom pada gugus kromofor akan mengakibatkan pergeseran pita absorbs menuju ke panjang gelombang yang lebih besar (batochromic) disertai dengan peningkatan intensitas yang disebut hiperkromik. Pada Spektrofotometer UV-vis berlaku hukum lambert-beer yang menyatakan bahwa konsentrasi suatu zat berbanding lurus dengan jumlah cahaya yang diabsorpsi, atau berbanding terbalik dengan logaritma cahaya yang ditransmisikan.

Dimana : A = absorban = absorptivitas b = jalannya sinar pada larutan

c = konsentrasi T = Transmitan (rasio cahaya yang ditransmisikan (I) terhadap cahaya yang datang (Io)) Kadar bilirubin total dapat diketahui dengan perhitungan: atau

Kadar bilirubin direk dapat diketahui dengan perhitungan

atau

Dari perhitungan yang diperoleh, dapat diketahui bahwa kadar bilirubin indirek dalam sampel normal (0.1-1.0mg/dl). Kadar bilirubin normal adalah sebagai berikut: Dewasa: total: 0.1 1.2 mg/dL, direk: 0.1 0.3 mg/dL, indirek: 0.1 1.0 mg/dL Anak: total: 0.2 0.8 mg/dL, indirek: sama dengan dewasa. Bayi baru lahir: total: 1 12 mg/dL, indirek: sama dengan dewasa.

Hasil pemeriksaan kadar bilirubin total rata-rata sebesar 0.898 mg/dL atau 15.39 mol/L yang menunjukkan bahwa hasil tersebut masih berada pada rentang bilirubin total normal yang bernilai 1 mg/dL atau 17 mol/L dan untuk pemeriksaan kadar bilirubin direk rata-rata sebesar 1.162 mg/dL atau 19.92 mol/L yang menunjukkan bahwa hasil tersebut di atas rentang normal bilirubin direk normal yang bernilai 0,25 mg/dL atau 4,3 mol/L. Hal ini mengindikasikan bahwa pasien mengalami kelainan fungsi hati karena bilirubin total dan bilirubin direk berada di atas normal bilirubin total dan bilirubin direk.

Pada pemeriksaan bilirubin, ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium, antara lain:

Makan malam yang mengandung tinggi lemak sebelum pemeriksaan dapat mempengaruhi kadar bilirubin.

Wortel dan ubi jalar dapat meningkatkan kadar bilirubin. Hemolisis pada sampel darah dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan. Sampel darah yang terpapar sinar matahari atau terang lampu, kandungan pigmen empedunya akan menurun.

Obat-obatan tertentu dapat meningkatkan atau menurunkan kadar bilirubin

VIII. SIMPULAN Pemeriksaan fungsi hati dapat dilakukan dengan tes kombinasi bilirubin dengan Metode Jendrasikk. Hasil pemeriksaan kadar bilirubin total rata-rata sebesar 0.898 mg/dL atau 15.39 mol/L yang menunjukkan bahwa hasil tersebut masih berada pada rentang bilirubin total normal yang bernilai 1 mg/dL atau 17 mol/L dan untuk pemeriksaan kadar bilirubin direk rata-rata sebesar 1.162 mg/dL atau 19.92 mol/L yang menunjukkan bahwa hasil tersebut di atas rentang normal bilirubin direk normal yang bernilai 0,25 mg/dL atau 4,3 mol/L.

DAFTAR PUSTAKA

Baradero, M, M.W Dayrit dan Y Siswadi. 2008. Klien Gangguan Hati: Seri Asuhan Keperawatan. Kedokteran EGC. Jakarta. Betz, C.L dan L.A Sowden. 2009. Buku Saku Keperawatan Pediatrik. Edisi 5. Kedokteran EGC. Jakarta. Dennery, PA, Seidman DS, Stevenson DK. 2001. Neonatal Hyperbilirubinemia. Medical Eng. London. Hadikusumo. 2008. Penyebab Kerusakan Hati. Available online at:

http://pptapaksuci.org/kesehatan-rubrikmenu-79/147-penyebab-kerusakanorgan-hati.html [Diakses tanggal 22 April 2013]. Murray, R.K. 1997. Porfirin dan Pigmen Empedu. Kedokteran EGC. Jakarta. Oski, F.A. 1996. Other Conjugated Hyperbilirubinemias. WB Saunders.

Philadelphia. Pratita, Winra. 2010. Perbandingan Efektifitas Jarak Fototerapi Pada Neonatus Dengan Hiperbilirubinemia Indirek. Available online at

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20333/4/Chapter%20II.pdf [22 April 2013] Sacher, R.A, dan R.A McPherson. 2004. Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan, Laboratorium. Edisi 11. Kedokteran EGC. Jakarta. Suwandhi, dr.,widjaya. 2011. Gangguan Faal (Fungsi) Hati yang sering Ditanyakan oleh Pasien. http://www.medistra.com/index.php?option=com content & view =article&id=106 [Diakses tanggal 22 April 2013].