Anda di halaman 1dari 3

. 1.

1.

2. 3. 4. 5. 6.

Alquran sebagai Sumber Hukum Pertama Pengertian Alquran Secara etimologis, Alquran adalah bentuk mashdar dari kata qa-ra-a ( )se-wazan dengan kata fulan (), artinya: bacaan; berbicara tentang apa yang ditulis padanya; atau melihat dan menelaah. Dalam pengertian ini, kata berarti , yaitu isim maful objek dari kata .[4] Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat alQiyamah (75): 17-18; Artinya: Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila kami Telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu. Arti Alquran secara terminology ditemukan dalam beberapa rumusan defenisi sebagai berikut: Menurut Syaltut, Alquran adalah; lafaz Arabi yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw., dinukilkan kepada kita secara mutawatir. Sesungguhnya Alquran ini memberikan petunjuk kapada (jalan) yang lebih lurus. Al-Syakauni mengartikan Alquran dengan; Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw., tertulis dalam mushaf, dinukilkan secara mutawatir. Dafenisi Alquran yang dikemukakan Abu Zahrah ialah; Kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. Menurut al-Sarkhisi, Alquran adalah; Kitab yang diturunkan kapada Nabi Muhammad Saw., ditulis dalam mushaf, diturunkan dengan huruf yang tujuh masyhur dan dinukilkan secara mutawatir. Al-Amidi memberi defenisi Alquran; Al-kitab adalah Alquran yang diturunkan. Ibn Subki mendefenisikan Alquran; lafaz yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw., mengandung mukzijat setiap suratnya, yang beribadah membacanya. Dengan menganalisis unsur-unsur setiap definisi di atas dan membandingkan antara satu definisi dengan lainnya, dapat ditarik suatu rumusan mengenai definisi Alquran, yaitu; lafaz berbahasa Arab yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad Saw., yang dinukilkan secara mutawatir.[5] Kehujjahan Alquran Tidak ada perselisihan pendapat diantara kaum muslimin tentang Alquran itu sebagai Argumentasi yang kuat bagi mereka dan bahwa ia serta hukum-hukum yang wajib ditaati itu datang dari sisi Allah. Sebagai bukti bahwa Alquran itu datang dari sisi Allah ialah ketidaksanggupan orang-orang membuat tandingannya, biar mereka itu adalah sastrawan sekalipun. Ketika Rasulullah Saw berada di Makkah, beliau diperintahkan oleh Allah agar menjelaskan kepada orang banyak perihal Alquran dan bahwa ia adalah diluar batas kemampuan manusia. Artinya; Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan Dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain". Tetapi orang-orang kafir melancarkan tuduhan kepada Nabi Muhammad bahwa beliaulah yang membuat Alquran itu. Kemudian Allah memerintahkan menantang mereka dalam firmanNya; Artinya: Atau (patutkah) mereka mengatakan "Muhammad membuat-buatnya." Katakanlah: "(Kalau benar yang kamu katakan itu), Maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar." [6] Hukum-Hukum yang terkandung dalam Alquran Sesuai dengan definisi hukum syara sebagaimana telah dijelaskan, hanya sebagian kecil dari ayat-ayat Alquran yang mengandung hukum, yaitu yang menyangkut perbuatan mukalaf dalam bentuk tuntutan, pilihan berbuat, dan ketentuan yang diterapkan. Hukum-hukum tersebut mengatur kehidupan manusia, baik dalam hubungan dengan Allah Swt. Maupun dalam hubungannya dengan manusia dan alam sekitarnya. Secara garis besar hukum-hukum dalam Alquran dapat dibahi tiga macam. Hukum-hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Allah Swt. Mengenai apa-apa yang harus diyakini dan yang harus dihindari sehubungan dengan keyakinannya, seperti keharusan mengesakan Allah dan larangan mempersekutukan-Nya. Hukum yang menyangkut keyakinan ini disebut hukum Itiqadiyah yang dikaji dalam ilmu tauhid atau ushuluddin. Hukum-hukum yang mengatur hubungan pergaulan manusia mengenai sifat-sifat baik yang harus dimiliki dan sifatsifat buruk yang harus dijauhi dalam kehidupan bermasyarakat. Hukum dalam bentuk ini disebut hukum khuluqiyah yang kemudian dikembangkan dalam ilmu Akhlak. Hukum-hukum yang menyangkut tindak tanduk manusia dan tingkah laku lahirnya dalam hubungan dengan Allah SWT., dalam hubungan dengan sesame manusia, dan dalam bentuk apa-apa yang harus dilakukan atau harus dijauhi. Hukum ini disebut hukum amaliyah yang pembahasannya dikembangkan ilmu Akhlak. [7] Dalalah Alquran

2.

3.

1.

2.

3.

4.

a.

Yang dimaksud dengan dalalah dalam konteks pemahaman makna atau pengertian dari nas ialah petunjuk yang dapat dijadikan pegangan untuk membawa kepada pengertian yang dikehendaki. Dengan kata lain, dalalah berkaitan dengan bagaimana pengertian atau makna yang ditunjukkan oleh nas dapat dipahami. Dalam kajian ushul fiqh, untuk dapat memahami nas apakah pengertian yang ditunjukkan oleh unsur-unsur lafalnya itu jelas, pasti atau tidak. Para ulama ushul menggunakan pendekatan apa yang dikenal dengan istilah qathi dan zhanny. [8] Nas yang qathi dalalahnya ialah nas yang menunjukkan kepada makna yang bisa dipahami secara tertentu, tidak ada kemungkinan ditawilkan, Seperti firman Allah SWT: Artinya: dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak.. (QS>An-Nisa 4:12) Ayat tersebut adalah qathi dalalahnya. Artinya bahwa bagian suami dalam keadaan seperti ini adalah seperdua, tidak yang lain.

b.

Nas yang zhanny dalalahnya ialah nas yang menunjukkan atas makna yang memungkinkan untuk d itawilkan atau dipalingkan dari makna asalnya kepada makna yang lain, Seperti firman Allah SWT: Artinya: wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) t iga kali quru' ((QS>Al-Baqarah 2:228) Padahal lafadaz quru itu dalam bahasa Arab mempunyai dua arti yaitu suci dan haid. Maka ada kemungkinan bahwa yang dimaksud ayat tersebut tiga kali suci atau tiga kali haid. Jadi ini berarti dhanni (tidak pasti) dalalahnya atas satu makna dari dua makna tersebut.[9]

C. Hadis sebagai Sumber Hukum Kedua 1. Pengertian Hadis Sunnah atau hadis artinya adalah cara yang dibiasakan atau cara yang dipuji. Sedangkan menurut istilah bahwa hadis adalah perkataan Nabi, perbuatannya dan taqrirnya (yakni ucapan dan perbuatan sahabat yang beliau diamkan dengan arti membenarkannya). Dengan demikian sunnah Nabi dapat berupa: sunnah Qauliyah (perkataan), Sunnah Filiyah (perbuatan), Sunnah Taqriryah (ketetapan). [10] 2. Macam-macam dan pembagian Hadits Hadits dapat dibedakan kepada dua macam, yaitu: a. Hadits mutawatir Hadits mutawatir ialah hadits yang diriwayat oleh rawi yang banyak dan tidak mungkin mereka mufakat berbuat dusta pada hadits itu, mengingat banyaknya jumlah mereka. 1) Pembagian hadits mutawatir Mutawatir lafzi, ialah hadits yang serupa lafaz dan maknanya dari setiap rawi. Mutawatir maknawi, ialah hadits yang berbagai-bagai lafaz dan makna, akan tetapi didalamnya ada satu bagian yang sama bagian yang sama tujuannya.[11] b. Hadits ahad Hadits ahad ialah hadits yang diriwayatkan oleh seorang atau lebih tidak kebatasan hadits mutawatir. [12] Hadits ini tidak sampai kederajat mutawatir yaitu Shahih, hasan, dhaif. a. Pembagian hadits ahad Hadits shahih ialah hadits yang berhubungan sanadnya, diriwayatkan oleh yang adil dan dhabith dari orang yang seumpanya, terpelihara dari perjanjian bersih dari cacat yang memburukkan. [13] Hadits hasan ialah hadits yang dihubungkan sanad diriwayatkan oleh orang yang adil yang kurang dhabitnya, terpelihara dari perjanjian dan bersih dari cacat yang memburukkan. [14] Hadits dhaif ialah hadits yang kurang satu syarat atau lebih diantara syarat-syarat hadits shahih dan hasan atau dalam sanadnya ada orang yang bercacat.[15] 3. Kedudukan dan kehujjahan Hadits Tidak ada perbedaan pendapat jumhur (ahlusunah wal jamaah), ulamak tentang hadits Rasul sebagai sumber hukum yang kedua sesudah Al-quran dalam menentukan suatu keputusan hukum, seperti menghalalkan

atau mengharamkan sesuatu. kekuatannya sama dengan Al-Quran. Oleh karena itu, wajib bagi umat Islam menerima dan mengamalkan apa-apa yang tercandung di dalamnya selama hadits itu sah dari Rasulullah SAW. Lain halnya dengan golongan Syiah yang tidak mengakui semua hadits yang dipandang sah oleh golongan ahlu sunnah sebab mereka hanya mengakui sahnya suatu hadits atau khabar kalau diriwayatkan oleh imam-imam dan ahli hadits mereka sendiri. Berbeda dengan ahli zahir mereka masih dapat menerimanya selama hadits itu sah menurut kriteria ilmu hadits. Kehujjahan sunnah berdasarkan beberapa ayat Al-Quran dan sunnah Rasulullah Saw., diantaranya: Artinya apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. (QS.Alhas Artinya: Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), (QS. An-Nisa: 59). Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia Telah mentaati Allah. dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. (QS. An-Nisa: 80).[16] 4. Hubungan Hadits dan Alquran Al-hadits didefinisikan oleh pada umumnya ulama seperti definisi Al-Sunnah sebagai Segala sesuatu yang dinisbahkan kepada Muhammad saw., baik ucapan, perbuatan dan taqrir (ketetapan), maupun sifat fisik dan psikis, baik sebelum beliau menjadi nabi maupun sesudahnya. Ulama ushul fiqh, membatasi pengertian hadis hanya pada ucapan-ucapan Nabi Muhammad saw. yang berkaitan dengan hukum; sedangkan bila mencakup pula perbuatan dan taqrir beliau yang berkaitan dengan hukum, maka ketiga hal ini mereka namai Al-Sunnah. Pengertian hadis seperti yang dikemukakan oleh ulama ushul tersebut, dapat dikatakan sebagai bagian dari wahyu Allah SWT yang tidak berbeda dari segi kewajiban menaatinya dengan ketetapan-ketetapan hukum yang bersumber dari wahyu AlQuran.[17] Adapun fungsi As-Sunnah terhadap Alquran ditinjau dari segi penggunaan hujjah dan pengambilan hukumhukum syariat bahwa As-Sunnah itu sebagai sumber hukum yang sederajat lebih rendah dari Alquran. Adapun fungsi As-Sunnah./hadis terhadap Alquran dari segi materi hukum yang terkandung di dalamnya Ada tiga macam, yakni: Menguatkan (muakkid) hukum suatu peristiwa yang telah ditetapkan h ukumnya di dalam Alquran. Memberikan keterangan (bayan) terhadap ayat-ayat Alquran. Menciptakan hukum baru yang tiada terdapat didalam Alquran.

a. b. c.