Anda di halaman 1dari 22

FITHRI WAHYUNI PUTRI/220110100077/RESUME KASUS 1 REPRODUKSI 3

Post partum 1. Adaptasi anatomi dan fisiologi pada periode postnatal Sistem reproduksi dan struktur terkait Uterus (Proses involusi) Proses kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil, dimulai segera setelah plasenta keluar karena kontraksi otot polos uterus. Rahim kembali ke ukuran sebelum hamil lima atau enam minggu setelah melahirkan. Setelah plasenta keluar berat rahim menjadi 1-1,5 kg dan bagian puncak rahim (fundus) teraba di pusat. Dua hari berikutnya ukuran rahim tetap sama kra-kira seukuran jeruk bali dan terasa kencang dan keras. Untuk membantu pengerasan rahim dan mencegah keluarnya darah dalam jumlah banyak dari plasenta, rahim dipijat untuk merangsang kontraksi. Menyusui juga membuat rahim tetap keras. Satu mimggu setelah bayi lahir berat rahim sekitar 0,5-0,75. Setelah 2 minggu rahim terletak di panggul dan beratnya menjadi 0,25 kg. Pada akhir minggu ke 5/6 berat rahim menjadi 60-200 gr dan hampir kembali ke ukuran sebelum hamil. Kontraksi Meningkat secara bermakna setelah lahir sebagai respon penurunan volume intrauterin. Hormon oksigen yang dilepaskan hipofisis memperkuat dan mengatur kontraksi uterus. . untuk mempertahankan kontraksi uterus oksitosin (pitosin) secara intravena atau IM diberikan setelah plasenta lahir. Isapan bayi pada payudara juga merangsang pelepasan oksitosin. After pains Kontraksi uterus kadang menyebabkan nyeri. Nyeri dirasakan di uterus yang terlalu teregang. Menyusui dan oksitosin tambahan dapat meningkatkan nyeri karena merangsang kontraksi uterus. Lokia Selama 2 jam setelah lahir, jumlah cairan yang keluar dari uterus tidak boleh lebih dari jumlah maksimal yang keluar selama menstruasi. Setelah waktu tersebut jumlah lokia berkurang Lokia rubra mengandung darah dan debris desidua serta debris trofoblastik,aliran menyembur, menjadi merah muda atau coklat setelah 3-4 hari. lokia serosa terdiri dari darh lama (old blood), serum leukosit, dan debris jaringan. Sekitar 10 hari warna cairan ini Pengkajian jumlah darah lokia bisa dilkuakn dengan cara menghitung selisih berat tampon setelah dipakai dengan tampon yang bersih. Peningkatan 1 gr setara dengan 1 ml darah. Jumlah lokia biasanya berubah karena aktivitas atau perubahan posisi tubuh. Lokia umumnya banyak keluar ketika berganti posisi dari berbaring ke duduk/berdiri, mneyusui,atau buang aor besar. Tidak semua perdarahan pervagina merupakan lokia. Perdarahan bisa berasal dari laserasi vagina atau serviks. Perdarahan lokia dan bukan lokia Lokia Lokia biasanya menetes dari muara vagina. Aliran yang tetap keluar dalam jumlah lebih besar saat kontraksi uterus Semburan lokia dapat terjadi karena masase pada uterus. Apabila kolia berwarna gelap maka lokia sebelumnya terkumpul di dalam vagina yang relaksasi dan jumlahnya segera berkurang menjadi tetesan lokia berwarna merah terang (puerperium dini) Perdarahan bukan lokia Apabila rabsa darah menyembur dari vagina kemungkinan terdapat robekan pada serviks atau vagina selain dari lokia yang normal Apabila jumlah perdarahan terus berlebihan dan berwarna merah terang, suatu robekan dapat merupakan penyebab. menjadi kuning sampai putih. Lokia alba mengandung leukosit, desidua, sel epitel, mukus, serum, dan bakteri. Lokia alaba bisa bertahan 2-6 minggu setelah bayi lahir.

Serviks Serviks menjadi lunak segera setelah ibu melahirkan. Delapan belas (18) jam pascapartum, serviks memendek dan konsistensinya menjadi lebih padat dan kembali ke bentuk semula. Srviks setinggi segmen bawah uterus tetap edematosa, tipis, dan rapuh selama beberapa hari setelah ibu melahirkan. Ektoserviks (bagian serviks yang menonjol ke vagina) terlihat memar dan ada sedikit laserisasi kecil-kondisi yang optimal untuk perkembangan infeksi. Muara serviks, yang berdilatasi 10 cm sewaktu melahirkan, menutup sacara bertahap. Dua jari mungkin masih dapat dimasukkan ke dalam muara serviks pada hari ke-4 sampai hari ke-6 pascapartum, tetapi hanya tangkai kuret terkecil yang dpat dimasukkan pada akhir minggu kedua. Vagina dan perineum

FITHRI WAHYUNI PUTRI/220110100077/RESUME KASUS 1 REPRODUKSI 3


Penurunan estrogen pascapartum menyebabkan penipisan mukosa dan hilangnya rugae. Pada saat hamil vagina teregang dan kembali ke ukuran sebelum hamil 6-8 minggu setelah bayi lahir. Rugae akan kembali terlihat pada minggu ke 4. Penurunan estrogen juga menyebabkan penurunan jumlah pelumas vagina dan penipisan mukosa vagina. Mukosa tetap atrofik selama wanita menyusui dan sampai menstruasi muncul kembali. Introitus mengalami eritematosa dan edematosa terutama pada daerah bekas jahitan laserasi/episiotomi. Penyembuhan luka episiotomi 2-3 minggu setelah bayi lahir. Ukuran hemoroid akan mengecil beberapa minggu setelah bayi lahir. Topangan otot panggul Jaringan penopang dasar panggul yang robek atau teregang saat ibu melahirkan memerlukan waktu sampai 6 bulan untuk kembali ke tonus semula. Relaksasi panggul berhubungan dengan pemanjangan dan melemahnya topangan permukaan struktur panggul. Sistem Endokrin Hormon Plasenta Pengeluaran plasenta menyebabkan penurunan signifikan hormon-hormon yang diproduksi oleh organ tersebut. Penurunan hormon human plasental lactogen (hPL), estrogen, dan kortisol serta plasental enzym insulinase membalik efek diabetogenik kehamilan sehingga kadar gula darah menurun secara bermakna pada masa puerperium. Kadar estrogen dan progesteron menurun secara mencolok setelah plasenta keluar, kadar terendahnya dicapai kira-kira satu minggu pascapartum. Penurunan kadar estrogen berkaitan dengan pembengkakan payudara dan diuresis cairan ekstraseluler berlebih yang terakumulasi selama masa hamil. Hormon Hipofisis dan Fungsi Ovarium Kadar prolaktin serum yang tinggi pada wanita menyusui tampaknya berperan dalam menekan ovulasi. Karena kadar FSH terbukti sama pada wanita menyusui dan tidak menyusui, disimpulkan ovarium tidak berespons terhadap stimulasi FSH ketika kadar prolaktin meningkat. Pada wanita menyusui, kadar prolaktin tetap meningkat sampai minggu keenam setelah melahirkan. Kadar prolaktin serum dipengaruhi oleh kekerapan menyusui, lama sekali menyusui, dan banyak makanan tambahan yang diberikan. Setelah melahirkan, wanita tidak menyusui mengalami penurunan kadar prolaktin, mencapai rentang sebelum hamil dalam 2 minggu. Sistem muskuloskeletal Adaptasi yang terjadi pascapartum adalah stabilitas sendi, hipermobilitas sendi, dan perubahan pusat berat ibu akibat pembesaran rahim. Stabilitas sendi lengkap pada minggu ke 6-8 setelah melahirkan. Biasanya kaki wanita tidak mengalami perubahan setelah melahirkan sehingga membutuhkan sepatu yang lebih besar. Sistem Urinarius Fungsi ginjal kembali normal dalam waktu satu bulan setelah wanita melahirkan. Diperlukan kira-kira 2 8 minggu supaya hipotonia pada kehamilan dan dilatasi ureter serta pelvis ginjal kembali ke keadaan sebelum hamil. Komponen Urin Glikosuria ginjal yang diinduksi oleh kehamilan menghilang. Laktosuria positif pada ibu menyusui merupakan hal yang normal. BUN (blood urea nitrogen), yang meningkat selama masa pascapartum merupakan akibat otolisis uterus yang berinvolusi. Pemecahan kelebihan protein di dalam sel otot uterus juga menyebabkan proteinuria ringan (+1) selama 1-2 hari setelah wanita melahirkan. Asetonuria bias terjadi pada wanita yang tidak mengalami komplikasi persalinan atau setelah suatu persalinan yang lama dan disertai dehidrasi. Diuresis Pascapartum Dalam 12 jam setelah melahirkan, ibu mulai membuang kelebihan cairan yang tertimbun di jaringan selama ia hamil. Diuresis pascapartum, yang disebabkan oleh penurunan kadar estrogen, hilangnya peningkatan tekanan vena pada tungkai bawah, dan hilangnya peningkatan volume darah akibat kehamilan, merupakan mekanisme lain tubuh untuk mengatasi kelebihan cairan. Uretra dan Kandung Kemih Dinding kandung kemih dapat mengalami hiperemesis dan edema, seringkali disertai daerah-daerah kecil hemoragi akibat proses melahirkan. Kombinasi trauma akibat kelahiran, peningkatan kapasitas kandung kemih setelah bayi lahir, dan efek konduksi anestesi menyebabkan keinginan untuk berkemih menurun. Selain itu, rasa nyeri pada panggul yang timbul akibat dorongan saat melahirkan, laserasi vagina, atau episiotomy menurunkan atau mengubah reflex berkemih. Penurunan berkemih, seiring diuresis pascapartum, bisa menyebabkan distensi kandung kemih. Sistem Pencernaan Nafsu Makan Segera setelah melahirkan atau setelah benar-benar pulih dari efek analgesia, anesthesia, dan keletihan, kebanyakan ibu merasa sangat lapar. Motilitas

FITHRI WAHYUNI PUTRI/220110100077/RESUME KASUS 1 REPRODUKSI 3


Secara khas, penurunan tonus dan motilitas otot traktus cerna menetap selama waktu yang singkat setelah bayi lahir. Kelebihan analgesia dan anastesia bisa memperlambat pengembalian tonus dan motilitas ke keadaan normal. Defekasi BAB secara spontan bisa tertunda selama 2-3 hari setelah ibu melahirkan. Keadaan ini bisa disebabkan karena tonus otot usus menurun selama proses persalinan dan pada awal masa pascapartum, diare sebelum persalinan, enema sebelum melahirkan, kurang makan, atau dehidrasi. Sistem Kardiovaskular Volume Darah Perubahan volume darah tergantung pada beberapa factor misalnya kehilangan darah selama melahirkan dan mobilisasi serta pengeluaran cairan ekstravaskuler. Kehilangan darah merupakan akibat penurunan volume darah total yang cepat tetapi terbatas. Pada minggu ketiga dan keempat setelah bayi lahir, volume darah biasanya menurun sampai mencapai volume sebelum hamil. Hipervolemia yang diakibatkan kehamilan menyebabkan kebanyakan ibu bisa mentoleransi kehilangan darah saat melahirkan. Pasca melahirkan, shunt akan hilang dengan tiba-tiba. Volume darah ibu relatif akan bertambah. Keadaan ini akan menimbulkan dekompensasi kordis pada penderita vitum cordia. Hal ini dapat diatasi dengan mekanisme kompensasi dengan timbulnya hemokonsentrasi sehingga volume darah kembali seperti sediakala. Pada umumnya, hal ini terjadi pada hari ketiga sampai kelima post patum. Tiga perubahan fisiologis pascapartum yang melindungi wanita : Hilangnya sirkulasi uteroplasenta yang mengurangi ukuran pembuluh darah maternal 10%-15%. Hilangnya fungsi endokrin plasenta yang menghilangkan stimulus vasodilatasi. Terjadinya mobilisasi air ekstravaskuler yang disimpan selama wanita hamil. Curah Jantung Denyut jantung, volume sekuncup, dan curah jantung meningkat selama masa hamil. Segera setelah wanita melahirkan, keadaan ini akan meningkat bahkan lebih tinggi selama 30-60 menit karena darah yang biasanya melintasi sirkuit uteroplasenta tiba-tiba kembali ke sirkulasi umum. Suhu Badan Suhu tubuh wanita inpartu tidak lebih dari 37,2 derajat Celcius. Pasca melahirkan, suhu tubuh dapat naik kurang lebih 0,5 derajat Celcius dari keadaan normal. Kenaikan suhu badan ini akibat dari kerja keras sewaktu melahirkan, kehilangan cairan maupun kelelahan. Kurang lebih pada hari ke-4 post partum, suhu badan akan naik lagi. Hal ini diakibatkan ada pembentukan ASI, kemungkinan payudara membengkak, maupun kemungkinan infeksi pada endometrium, mastitis, traktus genetalis ataupun sistem lain. Apabila kenaikan suhu di atas 38 derajat celcius, waspada terhadap infeksi post partum. Nadi Denyut nadi normal pada orang dewasa 60-80 kali per menit. Pasca melahirkan, denyut nadi dapat menjadi bradikardi maupun lebih cepat. Denyut nadi yang melebihi 100 kali per menit, harus waspada kemungkinan infeksi atau perdarahan post partum. Tekanan Darah Tekanan darah adalah tekanan yang dialami darah pada pembuluh arteri ketika darah dipompa oleh jantung ke seluruh anggota tubuh manusia. Tekanan darah normal manusia adalah sistolik antara 90-120 mmHg dan diastolik 60-80 mmHg. Pasca melahirkan pada kasus normal, tekanan darah biasanya tidak berubah. Perubahan tekanan darah menjadi lebih rendah pasca melahirkan dapat diakibatkan oleh perdarahan. Sedangkan tekanan darah tinggi pada post partum merupakan tanda terjadinya pre eklamsia post partum. Namun demikian, hal tersebut sangat jarang terjadi. Sistem Pernafasan Frekuensi pernafasan normal pada orang dewasa adalah 16-24 kali per menit. Pada ibu post partum umumnya pernafasan lambat atau normal. Hal ini dikarenakan ibu dalam keadaan pemulihan atau dalam kondisi istirahat. Keadaan pernafasan selalu berhubungan dengan keadaan suhu dan denyut nadi. Bila suhu nadi tidak normal, pernafasan juga akan mengikutinya, kecuali apabila ada gangguan khusus pada saluran nafas. Bila pernafasan pada masa post partum menjadi lebih cepat, kemungkinan ada tanda-tanda syok.

Komponen Darah Hematokrit dan Hemoglobin Selam 72 jam pertama setelah bayi lahir, volume plasma yang hilang lebih besar daripada sel darah yang hilang. Penurunan volume plasma dan peningkatan sela darah merah dikaitkan dengan peningkatan hematokrit pada hari ketiga sampai hari ketujuh pascapartum. Tidak ada sel darah merah yang rusak selama masa pasca partum, tetapi semua kelebihan sel darah merah akan menurun secara bertahap sesuai dengan usia sel darah merah tersebut. Waktu yang pastikapan volume sel darah merah kembali ke nilai

FITHRI WAHYUNI PUTRI/220110100077/RESUME KASUS 1 REPRODUKSI 3


sebelum hamil tidak diketahui, tetapi volume ini berada dalam batas normal saat dikaji 8 minggu setelah melahirkan. Hitung Sel Darah Putih Leukositosis normal pada kehamilan rata-rata sekitar 12000/mm3. Selama 10 sampai 12 hari pertama setelah bayi lahir, nilai leukosit antara 20000 dan 25000/mm3 merupakan hal yang umum. Netrofil merupakan sel darah putih yang paling banyak. Keberadaan leukositosis disertai peningkatan normal laju endap darah merah dapat membingungkan dalam menegakkan diagnosis infeksi akut selama waktu ini. Faktor Koagulasi Faktor-faktor pembekuan dan fibrinogen biasanya meningkat selam masa hamil dan tetap meningkat pada awal puerperium. Keadaan hiperkoagulasi yang bias diiringi keerusakan pembuluh darah dan imobilitas, mengakibatkan peningkatan risiko tromboembolisme, terutama setelah wanita melahirkan secara sesaria. Aktivitas fibrinolitik juga meningkat selam beberapa hari setelah bayi baru lahir. Varises Varises di tungkai dan disekitar anus (hemoroid) sesring dijumpai pada wanita hamil. Varises bahkan varises vulva yang jarang dijumpai akan mengecil dengan cepat setelah bayi lahir. Opersi varises tidak dipertimbangkan selama masa hamil. Regresi total atau mendekati total diharapkan terjadi setelah melahirkan. Sistem Hematologi Pada hari pertama post partum, kadar fibrinogen dan plasma akan sedikit menurun tetapi darah lebih mengental dengan peningkatan viskositas sehingga meningkatkan faktor pembekuan darah. Leukositosis adalah meningkatnya jumlah sel-sel darah putih sebanyak 15.000 selama persalinan. Jumlah leukosit akan tetap tinggi selama beberapa hari pertama masa post partum. Jumlah sel darah putih akan tetap bisa naik lagi sampai 25.000 hingga 30.000 tanpa adanya kondisi patologis jika wanita tersebut mengalami persalinan lama. Pada awal post partum, jumlah hemoglobin, hematokrit dan eritrosit sangat bervariasi. Hal ini disebabkan volume darah, volume plasenta dan tingkat volume darah yang berubah-ubah. Tingkatan ini dipengaruhi oleh status gizi dan hidarasi dari wanita tersebut. Jika hematokrit pada hari pertama atau kedua lebih rendah dari titik 2 persen atau lebih tinggi daripada saat memasuki persalinan awal, maka pasien dianggap telah kehilangan darah yang cukup banyak. Titik 2 persen kurang lebih sama dengan kehilangan darah 500 ml darah. Jumlah kehilangan darah selama masa persalinan kurang lebih 200500 ml, minggu pertama post partum berkisar 500-800 ml dan selama sisa masa nifas berkisar 500 ml. Sistem Neurologi Perubahan neurologis selama puerperium merupakan kebalikan adaptasi neurologis yang terjadi saat wanita hamil dan disebabkan trauma yang dialami wanita saat bersalin dan melahirkan. Rasa tidak nyaman neurologis yang diinduksi kehamilan akan menghilang setelah wanita melahirkan. Eliminasi edema fisiologis melalui dieresis setelah bayi lahir menghilangkan sindrom carpal tunnel dengan mengurangi kompresi saraf median. Rasa baal dan kesemutan (tingling) periodic pada jari yang dialami 5% wanita hamil biasanya menghilang setelah anak lahir, kecuali jika mengangkat dan memindahkan bayi memperburuk keadaan. Nyeri kepala memerlukan pemeriksaan yang cermat. Nyeri kepala pasca partum bias disebabkan berbagai keadaan termasuk hipertensi akibat kehamilan, sters, dan kebocoran cairan serebrospinalis ke dalam ruang ekstradural selam jarum epidural diletakkan di tulang punggung untuk anestesia. Sistem Integumen Kloasama yang muncul pada masa hamil biasanya menghilang saat kehamilan berakhir. Hiperpigmentasi di areola dan linea nigra tidak menghilang seluruhnya setelah bayi lahir. Pada beberapa wanita, pigmentasi pada daerah tersebut akan menetap. Kulit yang meregang pada payudara, abdomen, paha, dan panggul mungkin memudar, tetapi tidak hilang seluruhnya., Kelainan pembuluh darah seperti spider angioma (nevi), eritema palmar, dan epulis, biasanya berkurang sebagai respons terhadap penurunan kadar estrogen setelah kehamilan berakhir. Pada beberapa wanita sidernevi menetap. Rambut halus yang tumbuh dengan lebat pada waktu hamil biasanya akan menghilang setelah wanita melahirkan, tetapi rambut kasar yang timbul sewaktu hamil biasanya akan menetap. Sistem Imun Kebutuhan ibu untuk mendapatkan vaksinasi rubella atau untuk mencegah isoimunisasi Rh diterapkan 2. Dinamika keluarga setelah anak lahir Adaptasi Maternal Ada 3 fase penyesuaian ibu terhadap perannya sebagai orang tua. Fase-fase penyesuaian maternal ini ditandai oleh perilaku dependen, perilaku dependen-mandiri, dan perilaku interdependen.

FITHRI WAHYUNI PUTRI/220110100077/RESUME KASUS 1 REPRODUKSI 3


Fase Dependen Selama 1 sampai 2 hari pertama setelah melahirkan ketergantungan ibu menonjol. Pada waktu ini ibu mengharapkan segala kebutuhannya dapat dipenuhi oleh orang lain, ibu memindahkan energi psikologisnya kepada anaknya. Rubin (1961) menetapkan periode beberapa hari ini sebagai fase menerima (taking-in phase), sewaktu-waktu dimana ibu baru memerlukan perlindungan dan perawatan. Fase menerima yang kuat hanya terlihat pada 24 jam pertama setelah ibu melahirkan. Fase dependen ialah sewaktu-waktu yang penuh kegembiraaan dan kebanyakan orang tua sangat suka mengomunikasikannya. Mereka merasa perlu menyampaikan pengalaman mereka tentang kehamilan dan kelahiran dengan kata-kata. Kecemasan dan keasyikan terhadap peran barunya sering mempersempit lapangan persepsi ibu. Fase Dependen-Mandiri Dalam fase dependen-mandiri ibu, secara bergantian muncul kebutuhan untuk mendapat perawatan dan penerimaan dari orang lain dan keinginan untuk bisa segala sesuatu secara mandiri. Rubin (1961) menjelaskan keadaan ini sebagai fase taking-hold, yang berlangsung kira-kira 10 hari. Dalam 6 sampai 8 minggu setelah melahirkan, kemampuan ibu untuk menguasai tugas-tugas sebagai orang tua merupakan hal yang penting. Ibu yang kelihatannya memerlukan dukungan tambahan adalah sebagai berikut: Primipara yang belum berpengalaman mengasuh anak Wanita karir Wanita yang tidak punya cukup banyak teman atau keluarga untuk dapat berbagi rasa Ibu yang berusia remaja Wanita yang tidak bersuami Keletihan setelah melahirkan diperburuk oleh tuntutan bayi yang banyak sehingga dengan mudah dapat timbul perasaan depresi. Keadaan fisiologis ini dapat menjelaskan depresi pascapartum ringan (baby-blues) keadaan depresif ini ditandai dengan menarik diri, kehilangan perhatian terhadap sekeliling dan menangis. Diharapkan bahwa pada akhir fase dependen-mandiri, tugas dan penyesuaian rutinitas sehari-hari akan mulai menjadi sesuatu pola yang tetap. Fase Interdependen Tuntutan utama ialah menciptakan suatu gaya hidup yang melibatkan anak, tetapi dalam beberapa hal tidak melibatkan anak. Kebanyakan suami istri memulai lagi hubungan seksualnya pada minggu ke-3 atau ke-4 setelah anak lahir. Fase interdependen (letting-go) merupakan fase yang penuh stres bagi orang tua. Pria dan wanita harus menyelesaikan efek dari perannya masing-masing dalam hal mengasuh anak, mengatur rumah, dan membina karir. Adaptasi Paternal Ayah menunjukkan keterlibatan yang dalam dengan bayi mereka. Greenberg dan Morris (1976) menyebut absorbs, keasyikan dan kesenangan ayah dengan bayinya sebagai engrossmen. Keinginan ayah untuk menemukan hal-hal yang unik maupun yang sama dengan dirinya merupakan karakteristik lain yang berkaitan dengan kebutuhan ayah untuk merasakan bahwa bayi ini adalah miliknya. Respon yang jelas ialah adanya daya tarik yang kuat dari bayi yang baru lahir. Suatu studi yang dilakukan oleh Henderson dan Browse (1991) tentang pengalaman beberapa ayah selama 3 minggu pertama kehidupan bayi menyatakan bahwa para ayah baru ini menjalani 3 tahap proses yang sudah bisa diperkirakan sebelumnya. Tahap pertama meliputi pengalaman prakonsepsi, yakni akan seperti apa rasanya jika mereka membawa bayi pulang ke rumah. Tahap kedua adalah realitas yang tidak menyenangkan tentang menjadi ayah baru. Perasaan sedih dan ragu seringkali menyertai realitas. Tahap ketiga meliputi keputusan yang dilakukan dengan sadar untuk mengontrol dan menjadi lebih aktif terlibat dalam kehidupan bayi mereka. Bantuan yang dibutuhkan meliputi bantuan untuk ayah dalam meninjau kembali harapan pada saat menjadi ayah, memberi informasi yang realistis dan konsisten tentang tingkah laku bayi dan melibatkan ayah yang ingin mengetahui cara perawatan bayi. Adaptasi Sibling Memperkenalkan bayi kepada suatu keluarga dengan satu anak atau lebih bisa menjadi persoalan bagi orang tua. Anak yang lebih tua harus menyusun posisi baru dalam hierarki keluarga. Anak yang tertua harus tetap berada dalam posisi sebagai pemimpin. Kelakuan mundur ke usia yang lebih muda bisa terlihat pada beberapa anak. Mereka bisa kembali mengompol, merengek, dan tidak mau makan sendiri. Reaksi kecemburuan dapat muncul ketika sukacita akan kehadiran bayi di rumah mulai pudar. Ibu dan ayah menghadapi sejumlah tugas yang terkait dengan penyesuaian dan permusuhan antar saudara. Tugas-tugas tersebut adalah: Membuat anak yang lebih tua merasa dikasihi dan diinginkan. Mengatasi rasa bersalah yang timbul dari pemikiran bahwa anak yang lebih tua mendapat perhatian dan waktu yang lebih sedikit. Mengembangkan rasa percaya diri dalam kemampuan mereka mengasuh lebih dari satu anak.

FITHRI WAHYUNI PUTRI/220110100077/RESUME KASUS 1 REPRODUKSI 3


Menyesuaikan waktu dan ruang untuk menampung bayi baru tersebut. Memantau perlakuan anak yang lebih tua terhadap bayi yang lebih lemah dan mengalihkan perilaku yang agresif. Penyesuaian awal anak yang lebih tua terhadap bayi baru lahir membutuhkan waktu. Kasih saudara kandung bertumbuh seperti juga kasih sayang yang lain yaitu melalui kebersamaan yang mereka jalani dan dengan berbagi pengalaman. Adaptasi Kakek-Nenek Nenek dari ibu ialah model yang penting dalam praktik perawatan bayi (Rubin, 1975). Ia bertindak sebagai sumber pengetahuan dan sebagai individu yang mendukung. Dukungan kakek dan nenek dapat menjadi pengaruh yang menstabilkan keluarga yang sedang mengalami krisis perkembangan seperti kehamilan dan menjadi orang tua baru (Newell, 1984). Kakek-nenek dapat membantu anak-anak mereka mempelajari keterampilan menjadi orang tua dan mempertahankan tradisi budaya. Salah satu cara untuk membantu kakek-nenek menjembatani perbedaan generasi ialah dengan menawarkan mereka untuk mengikuti kelas-kelas persiapan (Maloni, 1987). Kelas yang dimaksud meliputi pemberian informasi tentang praktik kehamilan yang baru, terutama cara merawat yang berpusat pada keluarga, perawatan bayi, pemberian makan, tindakan keselamatan dan penggalian peran yang dimainkan orang tua dalam unit keluarga. Adaptasi bayi-orangtua Ditandai oleh suatu rangkaian irama, repertoar perilaku dan pola tanggung jawab (Field, 1978). Interaksi dapat diperbaiki dengan cara modulasi ritme, modifikasi repertoar perilaku dan respon yang mutual Ritme Untuk mengatur ritme, baik orang tua maupun bayi harus mampu untuk saling berinteraksi. Orang tua harus berusaha keras membantu bayi mempertahankan keadaan sadar penuh dalam waktu yang cukup lama dan cukup sering sehingga interaksi dapat terjadi. Ibu multipara menunjukkna rasa sensitif dan mampu memberi respons dengan sangat baik terhadap ritme makan bayinya. Ibu yang sensitif terhadap makan memberi kesempatan pada bayinya untuk berhenti mengisap. Semakin lama bayi dapat melakukan interaksi yang lebih lama menyesuaikan ritme aktivitas, yaitu gerakan anggota gerak, mengisap, mengubah arah pandang dan habituasi. Untuk sementara orang dewasa belajar memahami ritme ini, mengatur dan dengan demikian mempermudah interaksi yang ritmis (Field, 1978). Repertoar Sikap tubuh membentuk sebagian bahasa awal bayi. Bayi memberi salam pada orang tua dengan melambaikan tangannya atau berusaha meraih tangan orang tua. Bayi dapat menaikkan alis untuk memperoleh perhatian sayang. Repertoar orang tua mencakup berbagai perilaku dalam berinteraksi dengan bayi mereka. Salah satu bentuk perilaku ini ialah memandang bayi secara konstan dan memperhatikan perilaku bayi tersebut. Orang tua juga menggunakan ekspresi wajah sebagai media dalam berinteraksi. Seperti ekspresi kejutan, kebahagiaan, dan kebingungan dalam mengomunikasikan hal tersebut pada bayi. Orang tua juga dapat meniru perilaku bayi. Apabila bayi tersenyum orang tua juga akan tersenyum. Respon Kesatuan respon ialah respon yang terjadi pada waktu tertentu dan bentuknya sama dengan perilaku stimulus. Dengan kata lain respon tersebut berfungsi sebagai umpan balik positif. Orang dewasa melihat perilaku bayi seperti tersenyum, bersuara dan melakukan kontak mata. Respon-respon ini berfungsi sebagai imbalan bagi individu yang memberi stimulus. Apabila orang dewasa meniru bayi, bayi tampak menikmati respon tersebut. Faktor yang Memengaruhi Respon Orangtua Usia maternal lebih dari 35 tahun. Masalah dan kekuatiran yang terkait dengan kelompok ibu berusia lebih dari 35 tahun semakin banyak muncul pada dekade terakhir ini. Penelitian menunjukkan beberapa faktor tertentu yang mempengaruhi respon orang tua pada kelompok yang lebih tua ini: keletihan dan kebutuhan untuk lebih banyak istirahat tampaknya telah menjadi masalah utama pada orang tua yang sudah berusia ini (Queenan, 1987). Tindakan yang bertujuan membantu ibu memperoleh kembali kekuatan dan vanus otot misalnya latihan senam prenatal dan pascapartum sangat dianjurkan. Jaringan Sosial Repertoar bayi meliputi perilaku memandang, bersuara dan ekspresi wajah. Bayi mampu fokus dan mengikuti wajah manusia sejak lahir. Bayi juga mampu mengubah arah pandangnya. Kemampuan ini dikontrol secara volunter. Bayi tampak menjauhkan pandangannya dari wajah ibu saat diberi stimulus untuk mengatur tingkat kesadarannya dan memproses stimulasi yang ia terima (Field, 1978). Brazelton, dkk (1974) mengatakan bahwa salah satu kunci respon yang harus dipelajari orang tua adalah kesadaran akan kapasitas bayi untuk mendapatkan perhatian dan sebaliknya.

FITHRI WAHYUNI PUTRI/220110100077/RESUME KASUS 1 REPRODUKSI 3


Primipara dan multipara memiliki kebutuhan yang berbeda. Multipara akan lebih realistis dalam mengantisipasi keterbatasan fisiknya dan dapat lebih mudah beradapatasi terhadap peran dan interaksi sosial. Primipara mungkin memerlukan dukungan yang lebih besar dan tindak lanjut yang mencakup rujukan ke badan bantuan dalam masyarakat. Jaringan sosial memberi sistem dukungan, dimana orang tua dapat meminta bantuan (Crawfort, 1985). Jaringan sosial meningkatkan potensi pertumbuhan anak dan mencegah kekeliruan dalam perlakuan anak. Mercer (1982) dan Crawfort (1985) menemukan bahwa jaringan sosial memberi dukungan dan juga menjadi sumber persoalan. Kadang kala jaringan kekerabatan yang luas menimbulkan masalah karena nasihat yang diterima oleh orang tua baru saling bertentangan. Budaya Kepercayaan dan praktik budaya menjadi determinan penting dalam perilaku orang tua. Kedua hal tersebut mempengaruhi interaksi orang tua dan bayi. Pengetahuan tentang keyakinan budaya dapat membantu perawat membuat pengkajian yang lebih akurat dan menegakkan diagnosis tentang perilaku orang tua. Karena tidak semua orang selalu percaya pada praktik tradisional ini, sangat penting untuk memastikan praktik budaya yang masih dianggap penting pada setiap pasangan orang tua. Kondisi Sosial Ekonomi Kondisi sosial ekonomi seringkali menjadi jalan untuk mendapat bantuan. Keluarga yang menemukan kelahiran seorang bayi sebagai suatu beban finansial dapat mengalami peningkatan stres. Stres ini dapat mengganggu perilaku orang tua sehingga membuat masa transisi untuk memasuki masa menjadi orang tua jadi lebih sulit. Intervensi keperawatan yang dirancang untuk membantu individu yang mengalami stres karena keadaan ekonomi antara lain merujuk orang tua tersebut ke badan-badan bantuan ekonomi dan sosial dalam masyarakat atau badan-badan kesehatan. Aspirasi Personal Beberapa wanita menjadi orang tua mengganggu kebebasan pribadi atau kemajuan karir mereka. Rasa kecewa yang tidak terselesaikan berdampak pada cara mereka merawat dan mengasuh bayinya dan bahkan mereka menelantarkan bayinya. Intervensi keperawatan dilakukan dengan memberi kesempatan pada orang tua untuk mengungkapkan perasaan mereka dengan bebas kepada seorang pendengar yang objektif, untuk membahas tindakan yang bisa memberi peluang untuk pertumbuhan pribadi. Proses menjadi orang tua Selama periode prenatal ibu ialah salah satunya pihak yng membentuk lingkungan tempat janin berkembang dan bertumbuh. Tugas, tanggung jawab dan sikap yang membentuk peran menjadi orang tua dirumuskan oleh Steele dan Pollack (1968) sebagai fungsi menjadi ibu (mothering function). Ini merupakan proses orang dewasa (pribadi yang matang, penyayang, mampu dan mandiri) mulai mengasuh seorang bayi (kepribadian tidak matang, tidak berdaya, dependen). Steele dan Pollack (1968) menyatakan bahwa menjadi orang tua merupakan satu proses yang terdiri dari dua komponen. Komponen pertama bersifat praktis atau mekanis, melibatkan keterampilan kognitif dan motorik; komponen kedua, bersifat emosional, melibatkan keterampilan afektif dan kognitif. Kedua komponen ini penting untuk perkembamgan dan keberadaan bayi. Keterampilan Kognitif-Motorik Komponen pertama dalam proses menjadi orang tua melibatkan aktivitas perawatan anak, seperti memberi makan, menggendong, mengenakan pakaian, dan membersihkan bayi, menjaganya dari bahaya, dan memungkinkannya untuk bisa bergerak Steele dan Pollack (1968) kemampuan orang tua dalam hal ini dipengaruhi oleh pengalaman pribadi dan budayanya. Keterampilan Kognitif-Afektif Komponen psikologis dalam menjadi orang tua, sifat keibuan atau kebapakan tampaknya berakar dari pengalaman orang tua di masa kecil saat mengalami dan menerima kasih sayang dari ibunya. Keterampilan kognitif-afektif menjadi orang tua ini meliputi sikap yang lembut, waspada dan memberi perhatian terhadap kebutuhan dan keinginan anak. Suatu hubungan orang tua anak yang positif ialah saling memberi satu sama lain. Konsep Ericson (1959, 1964) tentang dasar kepercayaan juga hampir sama. Ia mengatakan bahwa perkembangan rasa percaya ini akan menentukan respon baik selama hidupnya. Untuk orang yang mengalami hubungan orang tua anak yang positif cenderung lebih mudah bersosialisasi dan terbuka serta mampu meminta bantuan dan menerima bantuan dari orang lain. Perkenalan, ikatan dan kasih sayang dalam menjadi orang tua Proses ini sering disebut attachment (kasih sayang) atau bonding (ikatan), istilah yang sering tertukar pemakaiannya walaupun sebenarnya memiliki definisi yang berbeda. Bonding, didefinisikan brazelton (1978) sebagai sesuatu ketertarikan mutual pertama antar individu. Attachment terjadi pada periode kritis seperti pada kelahiran atau adopsi. Proses kasih sayang dijelaskan sebagai sesuatu yang linear, dimulai saat ibu hamil,

FITHRI WAHYUNI PUTRI/220110100077/RESUME KASUS 1 REPRODUKSI 3


semakin menguat pada awal periode pascapartum dan begitu terbentuk akan menjadi konstan dan konsisten. Mercer (1982) menulis lima prakondisi yang mempengaruhi ikatan sebagai berikut: Kesehatan emosional orang tua (termasuk kemampuan untuk mempercaya orang lain). Sistem dukungan sosial meliputi pasangan hidup, teman dan keluarga. Suatu tingkat keterampilan dalam berkomunikasi dan dalam memberi asuhan yang kompeten. Kedekatan orang tua dengan bayi. Kecocokan orang tua bayi (termasuk keadaan, temperamen dan jenis kelamin bayi). Menurut Stainton (1983); ikatan ialah pertukaran perasaan karena adanya ketertarikan, respon, dan kepuasan dan intensitasnya bisa berubah bila kadar berubah seiring berjalan waktu. Ikatan berkembang dan dipertahankan oleh kedekatan dan interaksi. Mercer (1982) mencatat bahwa ikatan dipermudah oleh adanya umpan balik positif: umpan balik positif meliputi respon sosial, respon verbal dan bukan verbal, baik yang sejati atau bukan, yang menunjukkan penerimaan satu sama lain. Bayi menunjukkan perilaku penanda (signaling behaviour) seperti menangis, tersenyum dan mengeluarkan suara yang menginisiasikan kontak dan membuat ibu mendekati anaknya. Perilaku ini kemudian diikuti oleh perilaku eksekutif, seperti rooting, menggengam dan penyesuaian postur untuk mempertahankan kontak. Bagian penting dari ikatan ialah perkenalan (Klaus, 1982). Orang tua melakukan kontak mata, menyentuh, berbicara, dan mengekplorasi segera setelah mereka mengenai bayinya. Komunikasi Orang tua-Anak Ikatan diperkuat melalui penggunaan respon sensual atau kemampuan oleh kedua pasangan dalam melakukan interaksi orang tua-anak. Respon dan kemampuan yang dipakai dalam komunikasi antara orang tua dan anak meliputi hal berikut: Sentuhan Sentuhan atau indera peraba dipakai secara ekstensif oleh orang tua dan pengaruh lain sebagai suatu sarana untuk mengenali bayi baru lahir. Banyak ibu yang ingin segera meraih anaknya saat ia baru dilahirkan dan tali pusar dipotong. Mereka mengangkat bayi ke dada, merangkulnya ke dalam pelukan, dan mengayun-ngayunnya. Gerakan-gerakan lembut dipakai untuk menenangkan bayi. Ibu menepuk atau mengusap lembut bayi mereka di punggung setelah menyusuinya. Bayi menepuk dada ibunya sewaktu menyusu. Orang tua dan bayi tampaknya senang dan saling menikmati kehangatan tubuh masing-masing. Kontak Mata Kesenangan untuk melakukan kontak mata diperlihatkan berulang-ulang orang tua menghabiskan waktu yang lama untuk membuka mata dan melihat mereka. En face (bertatap muka) ialah suatu posisi dimana kedua wajah terpisah kira-kira 20 cm pada bidang pandang yang sama. Suara

Orang tua menunggu tangisan pertama bayi dengan tegang. Saat suara yamg membuat mereka yakin bayinya dalam keadaan sehat terdengar, mereka mulai melakukan tindakan untuk menghibur. Aroma Ibu berkomentar terhadap aroma bayi mereka ketika baru lahir dan megetahui bahwa setiap anak memiliki aroma yang unik (porter, 1983). Bayi belajar dengan cepat untuk membedakan aroma susu ibunya (Stainton, 1985). Entraiment Bayi baru lahir bergerak-gerak sesuai dengan struktur pembicaraan orang dewasa (Condon, 1974). Mereka menggoyang tangan, mengangkat kepala, menendangnendangkan kaki. Hal ini berarti bayi telah mengembangkan irama muncul akibat kebiasaan jauh sebelum ia mampu berkomunikasi dengan kata-kata. Entraimen terjadi saat anak-anak berbicara. Irama ini juga berfungsi memberi umpan balik positif kepada orang tua dan menegakkan suatu pola komunikasi efektif yang positif. Bioritme Setelah lahir bayi yang menangis dapat ditenangkan dengan dipeluk dalam posisi sedemikian sehingga ia dapat mendengar denyut jantung ibunya atau mendengar suara denyut jantung yang direkam. Orang tua dapat membantu proses ini dengan memberi kasih sayang yang konsisten dan dengan memanfaatkan waktu saat bayi mengembangkan perilaku yang responsif. Kontak dini Keuntungan fisiologis kontak dini antara ibu dan bayi telah didokumentasikan (klaus, 1982). Pada ibu, kadar oksitosin meningkat; pada bayi refleks mengisap dialakukan dini. Kontak dekat yang dini bisa mempercepat proses ikatan antara oang tua dan anak. Kontak secara luas Salah satu metode perawatan yang berpusat ialah memberi fasilitas rungan bagi perawatan ibu dan bayi. Ayah dianjurkan mengunjungi dan berpartisipasi dalm

FITHRI WAHYUNI PUTRI/220110100077/RESUME KASUS 1 REPRODUKSI 3


perawatan bayi. Saudara kandung dan kakek-nenek juga dianjurkan melakukan kunjungan dan mengenali bayi. Perawatan ibu-bayi merupakan bentuk lain perawatan ibu yang diberikan oleh perawatan yang mendukung kesatuan keluarga. Orang tua lebih memiliki rasa percaya diri dalam merawat dan ikatan maternal serta peran maternal ditingkatkan (NAAGOC, 1989). Peran orang tua setelah bayi lahir Pada periode awal orang tua harus mengenali hubungan mereka dengan bayinya. Periode ini ditandai oleh masa pembelajaran yang intensif dan tuntutan untuk mengasuh. Lama periode ini bervariasi, biasanya berlangsung sekitar 4 minggu. Periode berikutnya mencerminkan suatu waktu untuk bersama-sama membangun kesatuan keluarga. periode waktu berkonsolidasi ini meliputi peran negosiasi juga meliputi stabilisasi tugas-tugas seiring upaya untuk menetapkan komitmen. Orangtua mendemonstrasikan kompetensi yang semakin tinggi dalam merawat bayi dan menjadi lebih sensitif terhadap makna perilaku bayi mereka. Periode ini berlangsung sekitar 2 bulan yang dikenal dengan istilah trimester keempat. Tugas dan tanggung jawab orangtua Orangtua harus menerima keadaan anak yang sebenarnya dan tidak terus terbawa dengan khayalan dan impian yang dimilikinta tentang figur anak idealnya. Orangtua harus meyakini bahwa bayi yang dilahirkan adalah bagian yang terpisah dari dirinya, artinya bayi mereka memiliki banyak kebutuhan dan peralatan. Orangtua harus bisa mengusasai cara merawat bayi. Orangtua harus menetapkan kriteria evaluasi yang baik dan dapt dipakai untuk menila kesuksesan atau kegagalan hal yang dilakukan pada bayi. Orangtua harus menetapkan suatu tempat bagi bayi baru lahir di dalam keluarga Orangtua perlu menetapkan keunggulan hubungan dewasa mereka untuk mempertahankan keluarga sebagai suatu kelompok. 3. Penatalaksanaan pada periode postnatal 1. Mencegah perdarahan berlebih Penyebab perdarahan setelah melahirkan yang paling sering ialah atoni uterus, kegagalan otot rahim untuk berkontraksi dengan kuat. Pada palpasi rahim teraba lunak. Mempertahankan tonus rahim Intervensi utama untuk mempertahankan tonus yang baik ialah menstimulasi dengan pijatan lembut di bagian fundus rahim sampai rahim teraba keras. Pijatan pada fundus bisa menyebabkan perdarahan vagina meningkat untuk sementara. Perdarahan ini terlihat sebagai bekuan darah yang keluar dari rahim. Bekuan darah ini bisa didorong keluar. Pemberian pengajaran kepada pasien sangat penting untuk mempertahankan tonus rahim. Pijatan fundus bisa merupakan prosedur yang membuat pasien tidak nyaman. Pemahaman tentang penyebab dan bahaya atoni rahim dan tujuan pemijatan fundus dapat membuat ibu lebih bersedia untuk bekerjasama. Mengajarkan ibu melakukan pijatan fundus sendiri membuatnya mampu mempertahankan kendali dan megurangi rasa cemas. Rahim bisa tetap lunak walaupun sudah dipijat dan bekuan sudah dikeluarkan. Apabila hal ini terjadi, sangat penting bagi perawat untuk tetap bersama pasien dan memberi pertolongan. Dokter jaga harus segera diberitahu. Intervensi lain yang sangat dapat dilakuakn adalah memberikan cairan intravena dan obat-obat oksitosik (obat-obat yang meransang kontraksi otot polos rahim) Mencegah distensi kandung kemih Kandung kemih yang penuh membuat rahim terdorong ke atas umbilicus dan ke salah satu sisi abdomen. Keadaan ini juga mencegah uterus berkontraksi secara normal. Intervensi perawat difokuskan untuk membantu ibu mengosongkan kandung kemihnya secara spontan sesegera mungkin. Prioritas pertama ialah membantu ibu ke kamar kecil atau berkemih di bedpan jika ia tidak mampu berjalan. Membiarkan ibu mendengar bunyi air mengalir, merendam tangannya di dalam air hangat, atau memercik air dari botol ke perineumnya bisa meransang berkemih. Teknik lain dengan membantu ibu mandi atau melakukan sitz bath dan menganjurkan ibu berkemih atau meletakkan minyak peppermint di dalam bedpan di bawah ibu. Uap minyak ini dapat merelaksasi meatus urinarius dan membuat ibu berkemih secara spontan. Apabila tindakan ini tidak berhasil, sebuah kateter steril dimasukkan untuk mengeluarkan urin. 2. Mencegah infeksi Salah satu cara penting untuk mencegah infeksi ialah mempertahankan lingkungan yang bersih. Penutup tempat tidur harus diganti setiap hari, tampon atau pelapis sekali pakai perlu diganti lebih sering. Pasien diusahakan untuk tidak berjalan di dalam rumah sakit tanpa menggunakan alas kaki untuk menghindari kontaminasi tempat tidur. Supervisi penggunaan fasilitas untuk mencegah kontaminasi silang juga diperlukan. Misalnya, tempat duduk untuk mandi atau lampu pemanas harus dicuci bersih sebelum digunakan oleh ibu yang lain. Tindakan pencegahan secara universal harus dilakukan. Anggota staf yang pilek, batuk, dan memiliki infeksi kulit, misalnya herpes di bibir harus mengikuti protocol RS jika kontak dengan pasien pascapartum.

FITHRI WAHYUNI PUTRI/220110100077/RESUME KASUS 1 REPRODUKSI 3


Perawatan tempat episiotomi dan setiap laserasi perineum dilakukan dengan baik mencegah infeksi pada dearah genitourinara dan mempercepat proses penyembuhan. Ajari ibu membersihkan perineum dari arah depan ke belakang (uretra ke anus) setelah berkemih atau defekasi. Dibanyak RS, dipakai botol percik yang diisi air hangat atau larutan betadin untuk membersihkan daerah perineum setipa kali selesai berkemih. Pasien juga perlu diajari mengganti pelapis perineumnya dari arah depan ke belakang setiap kali selesai berkemih atau defekasi dan untuk mencuci tangannya sampai bersih sebelum dan sesudah melakukan hal tersebut. 3. Pemenuhan kebutuhan rasa nyaman Kebanyakan ibu mengalami nyeri segera setelah memasuki masa nifas. Penyebab umum nyeri meliputi nyeri pasca melahirkan (afterbirth), episiotomy atau laserasi perineum, hemoroid, dan pembesaran (engorgement) payudara. Penjelasan ibu tentang jenis dan berat nyeri adalah pedoman terbaik bagi perawat untuk memilih intervensi yang harus dilakuakn. Untuk memastikan lokasi dan luas penyebaran nyeri, perawat bisa melakukan inspeksi dan palpasi di daerah nyeri, memperhatikan kemerahan, pembengkakan, adanya cairan dan panas, dan observasi posisi tubuh, gerakan, dan ekspresi wajah. Tekanan darah, nadi, dan pernapasan bisa meningkat sebagai respon terhadap nyeri akut. Intervensi keperawatan ditujukan untuk mengeliminasi sensasi nyeri secara keseluruhan atau menguranginya sampai pada tingkat yang dapat diterima ibu. Intervensi nonfarmakologis Nyeri postpartum dalah nyeri yang dirasakan seperti kram menstruasi oelh banyak ibu saat uterus berkontraksi setelah melahirkan. Kompres hangat, distraksi, membayangkan sesuatu, sentuhan terapeutik, relaksasi dan interaksi dengan bayi bisa mengurangi nyeri yang ditimbulkan kontraksi rahim. Intervensi sederhana untuk mengurangi nyeri akibat episiotomy atau laserasi pada perineum ialah endorong ibu berbaring pada salah satu sisinya dan menggunakan bantal saat duduk. Kompres es yang dikemas (ice pack), obat salep (jika diresepkan dokter), aplikasi panas kering, membersihkan dengan botol percik atau Surgi-Gator, dan sitz bath. Rasa tidak nyaman akibat pembesaran payudara bisa dikurangi dengan kompres es atau panas pada payudara dan menggunakan bra yang menopang payudara dengan baik. Intervensi farmakologis Kebanyakan dokter secara rutin memprogramkan pemberian obat analgetik, jika diperlukan, termasuk obat narkotik dan bukan narkotik sekaligus dosis dan waktu penggunaannya. Upaya patient controlled analgesia (PCA) dan pemberian infus analgesic epidural secara kontiniu adalah dua teknologi baru yang sering digunakan. Apabila akan member analgesic, perawat harus melakukan pengkajian klinis tentang jeis, dosis, dan frekuensi pemberian obat yang diprogramkan. Ibu harus diberitahu tentang analgesic yang diberikan dan efek samping yang sering timbul. Apabila nyeri pada tingkat tertentu tidak juga dicapai dalam waktu satu jam dan pada pemeriksaan awal tidak ada suatu perubahan, perawat mugkin perlu menghubungi dokter untuk memperoleh obat penurun nyeri tambahan atau untuk memperoleh petunjuk lebih lanjut. Nyeri yang tidak hilang akan menimbulkan keletihan, kecemasan, dan persepsi nyeri semkain memburuk. Keadaan ini juga menunjukkan adanya masalah sebelumnya yang tidak diobati atau tidak diketahui. Pemeriksaan dan pengobatan lebih lanut perlu dilakukan untuk menentukan penyebab nyeri dan upaya penanganan. 4. Pemenuhan kebutuhan nutrisi dan cairan Pendidikan untuk Ibu menyusui harus: Mengkonsumsi tambahan 500 kalori setiap hari Minum sedikitnya 3 liter air setiap hari (anjurkan ibu untuk minum setiap kali menyusui) Tablet zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi setidaknya selama 40 hari pasca bersalin Minum kapsul vit. A (200.000 unit) agar bisa memberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASInya. 5. Pemenuhan kebutuhan ambulasi Ambulasi dini terbukti bermanfaat untuk mengurangi insiden tromboembolisme dan mempercepat pemulihan kekuatan ibu. Tirah baring tidak diperlukan oleh ibu yang mendapat anestesi umum, anestesi epidural atau spinal, atau mendapat anestesi local, seperti blok pudendal. Ibu dapat bergerak bebas setelah pengaruh anestesi hilang, kecuali bila ia diberi analgetik. Setelah periode istirahat vital pertama berakhir, ibu didorong untuk sering berjalan-jalan. 6. Pemenuhan kebutuhan eliminasi Setelah melahitkan, ibu harus berkemih dengan spontan dalam 6 samai 8 jam post partum, kalau dalam 8 jam post partum belum dapat kencing atau sekali kencing belum melebihi 100 cc, maka dilakukan kateterisasi akan tetapi, bila kandungan kencing penuh, tidak usah menunggu sampai 8 jam untuk kateterisasi. Urin yang dikeluarkan dari beberapa perkemihan pertama harus diukur untuk mengetahui apakah pengosongan kandung kemih adekuat. Diharapkan setipa kali berkemih, urine

FITHRI WAHYUNI PUTRI/220110100077/RESUME KASUS 1 REPRODUKSI 3


yang keluar adalah 150 ml. Beberapa wanita mengalami kesulitan untuk mengosongkan kandung kemihnya. Sebab-sebab retensi urin post partum antara lain: Tekanan intra abdominal berkurang Otot-otot perut masih lemas Edema dari uretra Dinding kandung kencing kurang sensitif 7. Pemenuhan kebutuhan seksual Secara fisik aman untuk memulai hubungan suami istri begitu darah merah berhenti dan ibu dapat memasukkan satu atau dua jarinya ke dalam vagina tanpa rasa nyeri. Begitu darah merah berhenti dan tidak merasakan ketidaknyamanan, aman untuk memulai melakukan hubungan suami istri kapan saja ibu siap. Banyak budaya mempunyai tradisi menunda hubungan suami istri sampai masa waktu tertentu, misalnya setelah 40 hari atau 6 minggu setelah persalinan. Keputusan tergantung pada pasangan yang bersangkutan. 8. Pemenuhan Kebutuhan Istirahat Tidur Kegembiraan yang dialami setelah melahirkan seorang bayi bisa membuat ibu sulit beristirahaat. Ibu baru seringkali cemas akan kemampuannya dalam merawat bayinya atau seering merasa nyeri. Hal ini bisa membuatnya sukar tidur. Ada hari-hari selanjutnya tuntutan dari bayi, pengaruh lingkungan, dan rutinitas di rumah sakit juga akan mengganggu pola tidur ibu tersebut. Intervensi harus direncanakan untuk memenuhi kebutuhan ibu akan tidur dan istirahat. Menggosok-gosok punggung, tindakan lain yang memmberi kenikmatan, dan pemberian obat tdur mugkin diperlukan selama beberapa malam pertama. Rutinitas rumah sakit dan perawat bisa juga disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan individu. Selain itu, perawat dapat membantu keluarga ini membatasi pengunjung dan memberi kursi yang nyaman atau tempat tidur untuk pasangan. 4. Nilai dan keyakinan pada periode postnatal Komponen terakhir pengkajian psikososial adalah keyakinan dan nilai-nilai yang dimilki klien. Banyak perilaku ibu postpartum yang dipengaruhi oleh latar belakang budaya ibu tersebut. Perawat harus ingat bahwa semua budaya mengembangkan metode pengamanan dan pencapaian kepuasan sendiri dalam perawatan ibu dan bayi. Hanya dengan memahami dan menghargai nilai keyakinan setiap wanita, perawat dapat merancang rencana perawatan untuk memeny=uhi kebutuhan pribadinya. Beberapa contoh nilai dan keyakinan di beberapa negara pascamelahirkan adalah Vietnam Setelah melahirkan ibu tetap berada di tempat tidur selama 10 hari dan bahaya terbesar bagi kesehatannya adalah terkena flu. Bayi berada di ruang yang sama dengan ibunya tetapi perawatan sepenuhnya dilakukan oleh nenek atau perawat Cina, meksiko, korea dan Asia tenggara Ibu hanya mau mengkonsumsi makanan yang hangat untuk mengganti darah yang keluar dan mengembalikan keseimbangan panas dan dingin dalam tubuh mereka. Ibu ini tetap berada dalam keadaan hangat dan tidak mau mencuci rambut 7-30 hari setelah melahirkan. Merawat diri sendiri bukan prioritas dan lebih suka jika dilakukan oleh orang lain. Ibu menggunakan gurita di perut. Mereka biasanya tidak memberikan kolostrum pada bayinya. Haiti Meminta plasenta untuk dibawa pulang dikubur atau dikremasi. 5. Discharge Planning Pemulangan dini pascapartum adalam memulangkan pasien dalam 48 jam atau kurang setelah melahirkan, dengan kriteria Ibu: Bayi Bayi aterm (38-41 mimggu) dengan berat 2500-4500 gr Temuan normal pada pemfis dilakukan oleh dokter Data lab normal, termasuk Coombs negatif, Ht:40-65 % Tanda vital stabil Temperatur stabil Makan dengan baik:mengisap dan menelan dengan normal Nilai apgar >7 pada menit pertama dan kelima Berkemih dan defekasi normal Tes skrining dan PKU telah dilakukan, tes Pku ulang dijadwalkan pada minggu ke dua. Kehamilan, persalinan, kelahiran dan masa pascapartum tanpa komplikasi. Tidak ada bukti ketuban pecah dini. Tekanan darah stabil, suhu tubuh <38 C Mampu berjalan sendiri Membuang air kecil tanpa kesulitan Perineum uth tanpa robekan perineum derajat ketiga atau keempat. Hb:>10 g Tidak ada perdarahan pervagina yang berarti

FITHRI WAHYUNI PUTRI/220110100077/RESUME KASUS 1 REPRODUKSI 3


Keuntungan pemulangan pascapartum dini: Memperkuat konsep kelaihiran sebagai suatu peristiwa yang fisiologis dan normal Mempersingkat masa pisah ibu dan anak Memperluas kemampuan kontrol dan partisipasi pasangan setelah kelahiran itu sendiri Memberi rasa aman karena berada di lingkungan rumah selama masa awal menjadi orangtua yang diwarnai stressor Mengurangi pajanan patogen yang tidak perlu di rumah sakit Membuat tempat tidur di layanan maternitas dipakai dengan efektif ( pertukaran pasien yang cepat atau penyediaan tempat tidur untuk seseorang yang mengalami komplikasi) Meningkatkan jumlah kelahiran tanpa penggunaan obat Membuat keluarga dan anggota keluarga lebih memiliki banyak waktu bersama Menciptakan gangguan yang lebih sedikit Kerugian potensial rawat inap maternitas singkat Risiko komplikasi yang tidak terdeteksi, serangan penyakit yang potensial dan potensi krisis yang mudah timbul pada orangtua dan keluarga. goer (1990) mengutip dari ACOG tentang pemulihan 96 jam untuk kelahiran sectio dan 48 jam untuk kelahiran pervagina. Alur perawatan Alur perawatan menggambarkan apa yang harus terjadi pada rencana pengajaran atau pemulangan pada waktu tertentu. Perawat rata-rata memilki waktu 24 jam untuk menyipakan ibu pascapartum untuk dipulangkan. Contoh pelaksanaan pengajaran perawatan ibu postpartum adalah 1. sejak didaftarkan di unit pascapartum atau dua jam setelah melahirkan jika ibu tetap tinggal di ruang LDRP sampai akhir 8 jam pertama ibu dibantu untuk melakukan ambulasi, perawatan perineum, mencuci tangan, involusi, perdarahan (lokia). Jika bayi bersama ibu ajarkan cara menopang kepala bayi, posis yang tepat untuk menyusui, menepuk-nepuk punggung bayi untuk bersendawa. Jika ibu menyusui ajarkan cara merawat payudara dan puting susu. Ajarkan tentang keamanan cara penggunaan pengisap, posisi bayi dan menemani bayi 2. pada 8 jam kledua ajari ibu tentang diet, aktivitas, istirahat, eliminasi, dan medikasi. Jika bayi bersama ibu ajari tentang kasih sayang (bonding), ikatan 9attachment), kekhawatiran orangtua yang umum, karakteristik normal bayi baru lahir, cara mengganti popok, merawat tali pusar, waktu menyusui, pemakaian air untuk makanan,dot dan pola mengisap 3. pada 8 jam terakhir iby diminta kembali mepalorkan tanda vitalnya jika terdapat bahaya. Jika yang ada ingin dikonsultasikan oleh ibu, dilakukan sebelum dipulangkan. Instruksi persiapan pemulangan dini Rencana ajar penting untuk memastikan bahwa semua informasi yang penting sudah disampaikan. Rencana ajar juga menawarkan informasi yang diberikan. Rencana ajar didsarkan pada pengkajian sistematis kebutuhan ibu untuk belajar dan bukan terhadap persepsi perawat tentang apa yang dianggap penting 6. Home visitting (kunjungan rumah) Banyak program pemulangan dini menggunakan home visitting sebagai tindakan tambahan pemeriksaan pascapartum lanjutan. 1. Pengkajian Perawat melakukan pengkajian yang sistematis terhadap ibu dan bayi untuk menentukan penyesuaian fisiologis dan untuk mengidentifikasi setiap komplikasi yang potensial. pengkajian juga difokuskan pada penyesuaian emosional ibu, termasuk faktor-faktor keseimbangan (persepsi, koping, dan dukungan) yang mencegah krisis dan pengetahuan ibu tentang perawatan sendiri dan perawatan bayi. Idealnya ayah juga hadir saat kunjungan rumah sehingga penyesuaian pasangan dalam menjadi orang tua dapat dikaji. Pada saat kunjungan rumah perawat juga mengobservasi interaksi antar anggota keluarga. 2. Intervensi Intervensi primer perawatan primer selama kunjungan rumah adalah konseling suportif, pedoman petunjuk, pengajaran atau rujukan dan perawatan fisik juga dapat dilakukan. Seperti, berdasarkan program dokter perawat bisa mengangkat jahitan atau penjepit dari luka operasi di perut inu, mengganti kasa pembalut, atau menganjurkan fototerapi untuk ibu di rumah. Atau untuk keperluan lab perawat bisa mengambil darah bayi atau ibu dengan menggunakan teknik yang cermat untuk mencegah penyebaran patogen. 3. Dokumentasi Perawat mendokumentasikan hasil pemeriksaan fisik yang didapatkan dan tindakan yang dilakuakn.

FITHRI WAHYUNI PUTRI/220110100077/RESUME KASUS 1 REPRODUKSI 3


4. rencana pakunjungan Untuk kenyamanan klien atau perawat, perawat dapat menghubung keluarga terlebih dahulu untuk memastikan apakah jadwal kunjungan sesuai dengan kenyamanan keluarga. perawat harus menunjukaan rasa hormat kepada keluarga seperti menanyakan tempat pemeriksaan fisik yang dapat menjaga ketenangan ibu dan meminta izin jika menggunakan fasilitas keluarga. Kunjungan keluarga akan mendapat lebih banyak kemajuan bila direncanakan dan diatur dengan baik. Perawat meninjau kembali catatan pulang dari RS, rencana pengajaran, catatan lain seperti program dari dokter yang bisa dipakai sebagai dasar wawancara, pemeriksaan fisik, serta pemerian perawatan lanjutan yang sudah diberikan. Setelah kunjungan direncanakan perawat mengumpulkan semua peralatan yang diperlukan, materi instruksi, dan keterangan ynag dapat diberikan kepada keluarga yang akan dikunjungi. 5. Masalah keamanan Untuk kunjungan rumah mungkin perawat akan mengunjungi atau melewati daerah yang rawan. Maka hal yang harus diperhatikan oleh perawat adalah pergi dengan rekan yang lain, tidak sembarangan memarkir kendaraan, tidak memasuki gedung kosong sendiri, tidak memberi tumpangan pada orang yang tidak dikenal, tidak berjalan di dekat kelompok yang tidak dikenal, menghubungi rumah sakit secara berkala dll. 6. keuntungan dan keterbatasan Keuntungan : pengunjung dapt melihat dan berinteraksi dengan anggota keluarga secara alami dan aman. Perawat mampu mengkaji kecukupan sumber daya yang ada di rumah. Pengajaran yang tidak mungkin dilakukan selama masa inap di RS dapat dilanjutkan sesuai prioritas. Keterbatasan: biaya untuk mengunjungi keluarga yang jaraknya jauh, terbatasnya jumlah perawat yang berpengalaman dalam memberi pelayanan maternitas dan perawatan bayi baru lahir dan kekhawatiran tentang keamanan untuk mendatangi keluarga di daerah tertentu. 7. Asuhan keperawatan post partum 1. Pengkajian 9. 6. 7. 8. 1. Biodata Klien : Nama, Umur, Pendidikan, Pekerjaan, Suku, Agama, Alamat, No. Medical Record, Nama Suami, Umur, Pendidikan, Pekerjaan , Suku, Agama, Alamat, Tanggal Pengkajian. Keluhan Utama Riwayat Haid : Umur Menarche pertama kali, Lama haid, jumlah darah yang keluar, konsistensi, siklus haid, hari pertama haid terakhir, perkiraan tanggal partus. Riwayat Perkawinan Riwayat Obstetri : Riwayat kehamilan Riwayat persalinan

2. 3.

4. 5.

Riwayat KB dan Perencanaan Keluarga Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat Psikososial-Kultural : Adaptasi psikologi ibu setelah melahirkan, pengalaman tentang melahirkan, apakah ibu pasif atau cerewet, atau sangat kalm. Riwayat Kesehatan Keluarga : Adakah anggota keluarga yang menderita penyakit yang diturunkan secara genetic, menular, kelainan congenital atau gangguan kejiwaan yang pernah diderita oleh keluarga.

10. Profil Keluarga : Kebutuhan informasi pada keluarga, dukungan orang terdekat, sibling, type rumah, community seeting, penghasilan keluarga, hubungan social & keterlibatan dalam kegiatan masyarakat. 11. Kebiasaan Sehari-hari : Pola nutrisi, Pola istirahat dan tidur, Pola eliminasi, Personal Hygiene, Aktifitas, Rekreasi dan hiburan. 12. Seksual 13. Konsep Diri 14. Peran

FITHRI WAHYUNI PUTRI/220110100077/RESUME KASUS 1 REPRODUKSI 3


15. Pemeriksaan Fisik : Keadaan Umum, BB, TB, LLA, Tanda Vital normal, Kepala, Breast, Abdomen, Genitalia, Muskoloskeletal 16. Pemeriksaan Laboratorium : Darah (Hemoglobin dan Hematokrit), Klien dengan Dower Cateter diperlukan culture urine. PEMERIKSAAN FISIK a. Keadaan Umum : Tingkat energi,self esteem, tingkat kesadaran. b. BB, TB, LLA, Tanda Vital normal (RR konsisten, Nadi cenderung bradicardy, suhu 36,238, Respirasi 16-24) c. Kepala : Rambut, Wajah, Mata(conjunctiva), hidung, Mulut, Fungsi pengecapan; pendengaran, dan leher. d. Breast : Pembesaran, simetris,pigmentasi, warna kulit, keadaan areola danputing susu, stimulation nepple erexi. Kepenuhan atau pembengkakan, benjolan, nyeri, produksi laktasi/kolostrum. Perabaan pembesaran kelenjar getah beningdiketiak. e. Abdomen : teraba lembut , tekstur Doughy (kenyal), musculus rectus abdominal utuh (intact) atau terdapat diastasis, distensi, striae. Tinggi fundus uterus, konsistensi (keras, lunak, boggy), lokasi, kontraksi uterus, nyeri, perabaan distensi blas. f. Anogenital Lihat struktur, regangan, udema vagina, keadaan liang vagina (licin, kendur/lemah) adakah hematom, nyeri, tegang. Perineum : Keadaan luka episiotomy, echimosis, edema, kemerahan, eritema, drainage. Lochia (warna, jumlah, bau, bekuan darah atau konsistensi , 1-3 hr rubra, 4-10 hr serosa, > 10 hr alba), Anus : hemoroid dan trombosis pada anus. g. Muskoloskeletal : Tanda Homan, edema, tekstur kulit, nyeri bila dipalpasi, kekuatan otot. PEMERIKSAAN LABORATORIUM 1. Darah : Hemoglobin dan Hematokrit 12- 24 jam post partum (jika Hb < 10 g% dibutuhkan suplemen FE), eritrosit, leukosit, Trombosit. 2. Klien dengan Dower Kateter diperlukan culture urine. Napas pertama yang dilakuakn bayi baru lahir membuat paru-paru berkembang dan menurunkan resistensi vaskuler pulmoner, sehingga darah paru mengalir. Tekanan arteri pulmoner menurun dan menyebabkan tekanan atrium kanan menurun. Aliran darah pulmoner kembali meningkat ke jantung dan masuk ke jantung bagian kiri sehingga tekanan atrium kiri meningkat. Perubahan tekanan ini menyebabkan foramen ovale menutup. Selama beberapa hari pertama kehidupan tangisan dapat mengembalikan aliran darah melaui foramen ovale untuk sementara dan menyebabkan sianosis ringan. Bila tekanan pO2 dalam arteri mencapai 50 mmHg, duktus arteriosus akan kontriksi (PO2 janin:27 mmHg). Kemudian duktus arteriosus akan menutup dan menjadi ligamnetum. Tindakan mengklem dan memotong tali pusat membuat arteri umbilikalis, vena umbilikalis dan duktus venosus segera menutup dan menjadi ligamentum. Arteri hipogastrik juga menutup dan menjadi ligamen. Bunyi dan denyut jantung Kisaran 120-160 x/mnt. Frekuensi berbeda saat tidur dan bangun. Pada usia satu minggu frekuensi denyut jantung bayi rata-rata adalah 128x/mnt saat tidur dan 163x/mnt saat bangun. Bunyi jantung terdengar sebagai suara lub,dub,lub,dub. Bunyi lub dikaitkan dengan penutupan katup mitral dan trikuspid pada permulaan sistol dan bunyi dub dikaitkan dengan penutupan katup aortik dan katup pulmoner pada akhir sistol. . bunyi jantung selama neonatal bernada tinggi (high pitch), lebih cepat (short in duration) dan memiliki intensitas yang lebih besar dari bunyi jantung orang dewasa. Bunyi jantung pertama lebih keras dan lebih redup sedangkan bunyi jantung kedua lebih tajam. Kebanyakan bunyi murmur yang terdengar pada periode nonatal tidak bermakana patologis dan lebih dari separuhnya menghilang setelah bayi berusia 6 bulan. Volume dan tekanan darah Rata-rata 78/42 x/mnt. Menangis dan bergerak menyebabkan peningkatan sistol. Volume darah 80-110 ml.kg Bbdan meningkat dua kali lipata pada akhir tahun pertama. Secara proporsional bayi baru lahir memiliki volume darah 10% lebih besar dan memiliki eritrosit 20% lebih banyak dari orang dewasa. Bayi prematur memiliki volume darah relatif lebih banyak dibanding bayi lahir cukup bulan. Karena volume plasma yang lebih banyak bukan h=jumlah eritrosit yang banyak. Pengkleman tali pusat mengubah dinamika sirkukasi darah bayi baru lahir. Tindakan klem yang terlambat akan meningkatkan volume darah dari transfusi plasenta. Keadaan ini menyebabkan ukuran jantung, tekanan darah sistolik dan kecepatan pernapasan meningkat. Sistem hematopoiesis

BAYI BARU LAHIR 1. Adaptasi bayi di luar kandungan Sistem kardiovaskuler Foramen ovale, duktus arteriosus dak dkutus venosus menutup. Arteri umbilikal, vena umbilikalis dan arteri hepatika menjadi ligamen.

FITHRI WAHYUNI PUTRI/220110100077/RESUME KASUS 1 REPRODUKSI 3


Hb: 14,5-22,5 g/dL. Ht: 44-72%, eritrosit:7,5 juta/mm3. Hb da eritrosit menurun 11-17 g/dL dan 4,2-5,2 juta/mm3 pada akhir bulan pertama.darah bayi baru lahir mengandung 80% hb janin. Tindakan klem yang terlambat menebabkan hb, ht, dan eritrosit meningkat. Jumlah darah kapiler lebih banayk dari darah vena. Leukosit janin dengan nilai hitung sel darah putih sekitar 18.000/mm3 merupakan nilai yang normal pada saat bayi lahir. Meningkat pada hari pertama setelah bayi lahir sekitar 23.00024.000. kadar sel darah putih neonatal dipertahankan pada angka11.500. bila janin terinfeksi maka peningkatan SDP tidak meningkat secara bermakna. Kecendrungan perdarahan pada bayi baru lahir jarang terjadi, pembekuan darah cukup untuk mencegah perdarahan hanya jikaterjadi defisiensi vit K berat. Sistem reproduksi Wanita Pada saat lahir ovarium berisi beribu sel germinal primitif. Sel-sel ini mengandung komplemen pelengkap ova yang matur karena tidak berbentukm oogonia lagi setelah bayi cukup bulan lahir. Korteks ovarium yang terutama terdiri dari korteks primordial membentuk bagian ovarium yang lebih tebal pada bayi baru lahir daripada orang dewasa. Jumlah ovum berkurang sekitar 90% sejak bayi lahir sampai dewasa. Peningkatan kadar estrogen selama hamil yang diikuti penurunan setelah bayi lahir mengakibatkan penegluaran cairan mukoid atau kadang pengeluaran bercak merah melalui vagina (pseudomenstruasi). Genitalia eksterna biasanya edematosa disertai pigmentasi yang lebih banyak. Bayi cukup bulan, labia mayora dan minora menutupi vestibulum. Bayi prematur klitoris menonjol dan labia mayora kecil dan terbuka. Tag pada vagina atau himen sering ditemukan, tapi tidak memiliki makna klinis Pria Testis turun ke skrotum pada 90% abyi baru lahir. Prepusium yang ketat banyak ditemukan pada bayi baru lahir. Muara uretra dapat tertutup prepusium dan dapat ditarik ke belakang selama 3-4 bulan. Sebagai respon terhadap estrogen ibu genitalia eksterna ukurannya meningkat dan dapat terjadi hiperpigmentasi. Terdapat rugae yang melapisi kantong skrotum. Hidrokel 9penimbunan cairan dalam testis) dapat terjadi dan dapat menghilang tanpa pengobatan. Pada kedua jenis kelamin payudara dapat emmbengkak karena respon terhadap estrogen ibu. Pada beberapa bayi ditemukan witchs milk. Te muan ini tidak memiliki makna klinis dan tidak perlu diobati. Sistem perkemihan Biasanya sejumlah kecil urin terdapat pada keandung kemih bayi pada saat alhir. Tapi bayi baru lahir mungkin tidak mengeluarkan urin selama 12-24 jam. Berkemih sering terjadi setelah periode ini sekitar 6-10 x dengan warna urin pucat menunjukkan masukan cairan yang cukup. Umumnya bayi cukup bulan mengeluarkan 15-60 ml/kg BB urin per hari. Perbedaan keseimbangan cairan dan elektrolit bayi baru lahir dari respon fisiologis orang dewasa adalah Sekitar 40% berat badan BBL tdd cairan ekstrasel, sedangkan pada orang dewasa 20% Setiap hari BBL memasukkan dan mengeluarkan 600-700 ml air yang ekivalen dengan 20% total cairan tubuh atau 50% cairan ekstrasel. Sebaliknya orang dewasa menukar 2 L air yang ekivalen 5% total cairan tubuh dan 14 % cairan ekstrasel. Konsentrasi natrium. Fosfat, klorida dan asam organik lebih tinggi dan konsentrasi ion bikarbonat lebih rendah pada BBL.. data ini menunjukkkan BBL berada dalam kondisi asidosis terkompensasi. GFR bayi 30%. Hal ini menyebabkan kemampuan untuk mengeluarkan senyawa yang mengandung nitrogen dan sampah lain menurun. Akan tetapi pencernaan bayi memetabolisme hampir semua protein pertumbuhan. Penurunan kemampuan untuk mengekresiakan kelebihan natrium menyebabkan urin hipotonik dibanding plasma. Reabsorbsi natrium menurun akibat aktivitas ATP ase rendah BBL dapat mengencerkan urin sampai 50 miliosmol. Kapasitas mengencerkan urin melampaui kapasitas untuk mengonsentrasikannnya. Terdapat keterbatasan kemampuan untuk meningkatkan volume urin. BBL dapat mengonsentrasikan urin 600-700 miliosmol sedangkan orang dewasa sampai 1400 miliosmol. BJ urin BBL 1,005-1,015 BBL memiliki ambang glukosa yang lebih tinggi. Sistem integumen Bayi cukup bulan memiliki kulit kemerahan pada saat lahir setealh itu memucat menjadi normal. Kulitbtampak bebercak terutama bagian ekstremitas. Tangan dan kaki tampak sianotik ini disebabkan oleh ketidakstabilan vasomotor, stasis kapiler, dan kadar HB yang tinggi. keadaan ini bersifat sementara sampai 10 hari terutama bila terpajan udara dingin. Pengelupasan kulit tidak terjadi setelah beberapa hari. jika terjadi merupakan indikasi pascamaturitas. Kelenjar keringat sudah ada saat bayi lahir, tapi kelenjar ini belum berespon terhadap peningkatan suhu tubuh. Terjadi sedikit hiperplasia kelenjar sabasea (lemak) dan

FITHRI WAHYUNI PUTRI/220110100077/RESUME KASUS 1 REPRODUKSI 3


sekresi sebum akibat pengaruh hormon saat hamil. Verniks kaseosa, suatu substansi seperti keju merupakan produk kelenjar sabasea. Distensi kelenjar sabasea yang terlihat pada BBL terutama di daerah dagu dan hidung dikenal dengan milia. Kelenjar ini mulai aktif ketika diproduksinya hormon androgen. Sistem skeletal Pada BBl lutut saling berjauhan saat kaki diluruskan dan tumit disatukan, sehingga tungkai dibawah terlihat agak melengkung. Saat baru lahir, tidak terlihat lengkungan oada telapak kaki. Ekstremitas harus simetris. Harus terdapat kuku jari tangan dan kuku jari kaki. Garis telapak tangan dankaki sudah terlihat Sistem neurologi Aktivitas motorik spontan dapat muncul dalam bentuk tremor sementara di mulut dan di dagu, terutama saat menangis dan pada ekstremitas terutama pada lengan dan tangan. Tremor ini normal. Tapi tremor yang persisten dan mengenai seluruh tubuh dapat mengenai indikasi yang patologis. Gerakan tonik dan klonik yang mencolok serta kedutan di wajah merupakan tanda konvulsi. Kontrol neuromuskular pada BBL dapat ditemukan. Apabila bayi diletakkan di atas permukaan yang keras dan wajah menghadap kebawah bayi akan berusaha mmemutar kepalanya kesamping untuk mempertahankan jalan napas Sistem pencernaan BBL cukup bulan mampu memetabolisme, menelan, dan mengabsorbsi karbohidrat dan protein serta mengemulsi lemak. Pengeluaran air liur sering terlihat selama beberapa jam pertama setelah bayi lahir. Suatu mekanisme khusus yang terdapat pada BBL normal dengan BB lebih dari 1500 gr mengoordinasi refleks pernafasan, refleks menghisap, dan refleks menelan yang diperlukan pada pemberian makanan bayi. BBL memerlukan 3-4 hisapan kecil setiap menghisap. Pd BBL cukup bulan isapan lebih lama dan efisien berlangsung setelah abyi lahir. BBL tidak mampu memindahkan makanan dari bibir ke faring sehingga puting susu harus masuk cukup dalam ke mulut bayi. Aktivitas peristaltis esofagus belum dikoordinasi selama beberapa hari pertama kehidupan. Bising usus dapat didengar satu jam setelah bayi lahir. Kapasitas lambung sekitar 30-90 ml, tergantung ukuran bayi. Keasaman lambung bayi akan menurun dalam satu minggu dan tetap rendah selama 2-3 bulan. Penurunan keasaman lambung dapat menyebabkan kolik. Bayi yang mengalami kolik tidak dapat tidur, menangis dan tampak distres pada waktu makan. Gejala ini akan hilang dalam waktu 3 bulan. Kemampuan bayi baru lahir untuk emncerna karbohidrat, lemak, dan protein diatur oleh beberapa enzim. Kebanyakan enzim telah berfungsi pada saat bayi lahir kecuali enzim amilase yang diproduksi kelenjar saliva ketika bayi berusia 3 bulan dan oleh pankreas pada saat bayi berusia 6 bulan. . Mekonium yang dibentuk selama janin dalam kandungan yang berasal dari cairan amnion dan unsur-unsurnya dari sekresi usus dan sel mukosa. Mekonium berwarna hijau kehitaman, kental dan mengandung darah samar. Mekonium pertama yang keluar steril. Sekitar 69% bayi normal yang cukup bulan mengeluarkan mekonium dalam 12 jam pertama kehidupan, 94% dalam 24 jam dan 99,8% dalam 48 jam. Sistem termogenik Mekanisme produksi panas dengan cara menggigil jarang terjadi pada BBL. Menggigil dapat dicapai dengan adanya lemak coklat yang unik pada bayi. Dan dibentuk akibat peningkatan aktivitas metabolisme di otak, jantung, dan hati. Lemak coklat terdapat dalam cadangan permukaan yaitu di interskapula, dan aksila, serta bagian yang lebih dalam yaitu pintu masuk toraks di sepanjang kolumna vertebralis dan sekitar ginjal. Lemak coklat memiki persyarafan dan vaksularisasi yang lebih kaya dibanding lemak biasa. Cadangan lemak coklat ini biasanya bertahan selama beberapa minggu setealh bayi lahir dan mnurun dengan cepa jika terjadi stres dingin. Bayi normal mungkin mencoba untuk mengingkatkan suhu tubuh dengan menangis atau meningkatkan aktivitas motorik. Stres dingin meneybabkan kecepatan pernafasan meningkat sebagai respon kebutuhan oksigen ketika konsumsi oksigen meningkat.oksigen yang awalnya digunakan otak jantung dan lain-lain digunakan sebagai respon peningkatan kebutuhan oksigen karena stres dingin, terjadi vasokontriksi perifer dan pumoner sehingga ambilan oksigen paru sedikit dan oksigen ke jaringan menurun yang akan menyebabkan terjadinya asidosis respiratorik. Sistem imun Selama 3 bulan pertama kehidupan bayi menerima sistem kekebalan pasif dari ibu (kolostrum). Tingkat perlindungannya tergantung pada usia dan kematangan bayi serta imunitas yang dimilki ibu. Sistem hepatika Pada BBL hati dapat dipalpasi 1 cm dibawah iga kanan dan menempati 40 % rongga abdomen. Hati janin mulai menyimpan zat besi sejak dalam kandungan. Jika ibu mendapat asupan zat besi selama hamil dengan cukup bayi akan memiliki simpanan zat besi yang dapt bertahan sampai bulan kelima kehidupannya di luar rahim.

FITHRI WAHYUNI PUTRI/220110100077/RESUME KASUS 1 REPRODUKSI 3


Ikterik yang terjadi karena ASI biasanya terjadi pada hari ke 5/6 dan bersifat fisiologis.. 2. Penatalaksanaan bayi baru lahir Suhu Suhu aksila diukur setiap jam sampai temperatur menjadi stabil. Pada tahap awal temperatur sering turun sampai 36 C. Pada jam ke 12 temperatir BBL harus tetap stabil dan berada dalam rentang normal. Perawat dapat menstabilkan temperatur BBL dengan beberapa cara. Temperatur ruangan sebaiknya 24 C. Bayi baru lahir dikeringkan dan dibungkus dengan selimut hangat segera stelah lahir. Bayi dapat diletakkan segera diatas abdomen ibu, dikeringkan dan dibungkus selimut hangat. Apabila tidak bersama orang tua selama 1-2 jam setelah lahir bayi dapt dikeringkan diatas pemanas dengan tubuh telanjang dan suhu stabil. Mandi pertama ditunda hingga temperatrur kulit mencapai 36,5. Menghangatkan bayi Profilaksis mata Proses penghangatan bayi ditinjau secara perlahan selama 2-4 jam. Suplai oksigen Kondisi yang penting untuk mempertahankan suplai oksigen yang adekuat adalah Jalan napas bersih Usaha bernapas Sistem kardiopulmoner berfungsi Dukungan panas (pemaparan pada stres dingin meningkatkan kebutuhan oksigen) Menilai APGAR Nilai Apgar digunakan apakah resusitasi akan dilakuakan atau tidak Tanda Appearance colour (warna kulit) Pulse (nadi) Grimace (reaksi terhadap Cara memeriksa Dis=deskripsikan sebagai pucat, sianotik atau merah muda Auskultasi dengan stetoskop Respon terhadap tepukan halus Nilai 0 Biru,pucat Nilai 1 Tubuh merah muda, ekstremitas biru Lambat <100 ada menyeringai Nilai 2 Merah muda seluruhnya Pemberian salep eritromisin merupakan pengobatan profilaktik mata yang resmi untuk Neisseria Gonnorrhoea yang dapat menginfeksi BBL selama persalinan. Imunisasi Jenis imunisasi yang diberikan langsung setelah lahir adalah imunisasi hepatitis B. 3. KARAKTERISTIK PERILAKU BBL Siklus tidur terjaga (terlampir) Faktor Lain yang Mempengaruhi Perilaku Neonatus Beberapa variable lain, selain keadaan tidur-terjaga, mempengaruhi respon BBL. Variable-variabel ini akan di bahas berikut ini. Usia gestasi bayi dan tingkat kematangan SSP akan mempengaruhi perilaku yang terlihat. Bayi yang SSP nya tidak matang, seluruh tubuhnya akan berespons terhadap tusukan peniti di kaki. Bayi yang matang hanya akan menarik kakinya. Ketidakmatangan SSP juga akan terlihat pada perkembangan refleks dan siklus tidur-terjaga. Lama waktu untuk memulihkan dii akibat persalinan dan melahirkan akan mempengaruhi perilaku BBL saat mereka mulai terorganisasi. Jarak waktu antara pemberian makan terakhir dan waktu tertentu dapat mempengaruhi respon BBL. rangsangan) activity pada kaki Derajat fleksi dan pergerakan ekstremita Pengamatan gerakan dada Lemah Ekstremitas sedikit fleksi Lambat, menangis lemah Fleksi dengan baik Menangis dengan baik

Respiration

Tidak ada

0-3: distres berat 4-6:kesulitan moderat 7-10:bayi tidak kesulitan untuk menyesuaikan kehidupan diluar rahim Dievaluasi pada menit pertama dan kelima

Tidak ada Tidak respon

>100 menangis

FITHRI WAHYUNI PUTRI/220110100077/RESUME KASUS 1 REPRODUKSI 3


Kejadian di lingkungan dan stimulus akan mempengaruhi respon perilaku BBL. Perawat yang bertugas di bagian perawatan intensif bayi mengobservasi respon bayi terhadap bunyi keras, cahaya terang, alarm monitor, dan ketegangan di dalam ruangan tersebut. Tercatat dengan baik bahwa BBL dari ibu yang tegang melakukan lebih banyak aktivitas otot dan kecepatan DJJ bayi tersebut menjadi sama dengan ibunya saat bayi diberi susu. Selain itu, BBL memperlihatkan respon yang berbeda terhadap stimulus aktif dan stimulus tidak aktif. Ada kontroversi tentang efek obat-obatan matrernal yang diberikan selama persalinan kepada BBL (analgesic dan anestesi). Beberapa ahli mencatat bahwa bayi dari ibu yang diberi obat dapat tetap berada dalam organisasi yang buruk sampai lebih dari lima hari setelah lahir (Kangas, Saarela, dkk, 1989). Ahli lain percaya bahwa obat-obatan tersebut tidak memberi pengaruh apapun. Bayi baru lahir memilki sistem kecap yang berkembang baik Larutan yang hambar tidak membuat bayi berespons, sedangakan larutan yang manis membuat bayi mengisap dengan bersemangat. Larutan asam membuat bayi menggerakkan bibirnya dan larutan pahit membuat bayi marah. Penciuman Indera penciuman bayi baru lahir sudah berkembang baik saat bayi lahir dengan memberi reaksi yang sama dengan reaksi orang dewasa, bila diberi bau yang menyenangkan. Bayi yang disusui mampu membaui ASI dan dapat membedakan ibunya dari ibu yang lain yang juga menyusui. Respon Terhadap Stimulus Lingkungan Temperamen Hasil penelitian Chess (1969) menghasilkan tiga gaya perilaku utama atau pola tempramen: h. Anak yang menunjukkan keteraturan fungsi tubuh dan beradaptasi terhadap perubahan dengan mudah, pada umumnya, memiliki mood yang positif, ambang sensoris yang moderat, dan menghadapi situasi atau obyek baru dengan suatu respons yang berintensitas moderat. i. Anak yang lambat menjadi panas, yaitu anak yang memiliki tingkat aktivitas yang rendah, menarik diri ketika menjumpai stimulus baru untuk pertama kali, lambat beradaptasi, berespons dengan intensitas lambat, dan dalam beberapa hal memiliki mood yang negatif. j. Anak yang tidak tenang, yaitu anak yang fungsi tubuhnya tidak teratur, tegang dalam bereaksi, memiliki mood yang negative, resisten terhadap perubahan atau stimulus baru, dan seringkali memangis keras selama waktu yang lam Habituasi Merupakan mekanisme proteksi, membuat bayi terbiasa dengan stimulus lingkungan. Habituasi adalah suatu fenomena psikologis dan fisiologis, dimana respon terhadap stimulus yang tetap atau berulang menurun. Konsolasi Korner (1971) melaporkan beberapa penelitian yang menjelaskan variasi kemampuan bayi baru lahir dalam menghibur diri mereka atau kemampuan untuk dihibur. Menangis merupakan salah satu inisiatif bayi dalam mengurangi stress yang dialaminya. Gerakan tangan kea rah mulut umum

Perilaku Sensori Penglihatan Pupil bayi bereaksi terhadap rangsangan cahaya sehingga refleks mengedip mudah. Kelenjar air mata biasanya belum berfungsi sampai bayi berusia 2-4 minggu. Jarak pandang paling jelas17-20 cm BBL sensitif tehadap cahaya dengan mengerutkan wajah bila suatu cahaya terang diarahkan ke wajahnya dan akan memalingkan kepala ke cahaya yang teduh. Respon terhadap gerakan dilihat bila suatu obyek yang terang (bahkan pada usia 15 menit), mereka akan mengikuti objek tersebut dengan matanya dan sebagian bayi akan memalingkan kepalanya untuk melakukan hal tersebut Pendengaran 1 menit setelah bayi lahir cairan ammnion keluar dari telinga, pendengaran bayi sama dengan pendengaran orang dewasa. Bayi berespon terhadap suara ibunya. Sentuhan Wajah, terutama mulut, tangan dan telapak kaki merupakan daerah yang paling sensitif terhadap sentuhan, misalnya sentuhan ujung jari, mengusap-usap wajah dengan lembut, dan memijat punggung. Refleks dapat ditunjukkan dengan memukul-mukul. Trauma atau stress lahir serta obat-obatan depresan yang dipakai ibu mmenggurangi sensitivitas bayi terhadap stimulus sentuhan atau stimulus nyeri. Pengecap

FITHRI WAHYUNI PUTRI/220110100077/RESUME KASUS 1 REPRODUKSI 3


dilakukan bayi, dengan atau tanpa menghisap. Bayi juga terjaga jika diberi stimulus suara, bunyi, atau stimulus visual. Menggendong bayi Sangatlah penting bagi orang tua baru untuk menggendong bayi karena mereka dapat mengukur kemampuan mereka dalam merawat bayi baru lahir dengan melihat respons bayi tersebut terhadap tindakan mereka. Iritabilitas Beberapa bayi mempunya ambang sensoris rendah (mereka mudah marah akibat suara asing, lapar, basah, dan mereka berespons dengan intens) dan sisanya tinggi (membutuhkan lebih banyak stimulus dan lebih banyak variasi stimulus untuk mencapai tingkat kesadaran aktif). Menangis Menangis pada bayi berarti berkomunikasi dan bisa menunjukkan rasa lapar, nyeri, keinginan untuk diperhatikan, atau rasa tidak puas. Tangisan karena lapar biasanya keras dan lama tidak berhenti sampai diberi makan, tangisan karena nyeri memiliki nada yang lebih tinggi dan melengking, menangis karena merasa tidak puas bernada lebih rendah dan memiliki intensitas yang lebih rendah dan bervariasi. Polusi akibat lingkungan yang penuh asap. Orang yang menderita infeksi saluran napas atas. Sufokasi. Pneumonia yang dapat terjadi setelah menggunakan su bstansi seperti bedak yang biasanya mengandung campuran talkum silikan magnesium yang mengandung air. Tanda-tanda yang mengindikasikan selesma. Beri bayi makanan dalam jumlah lebih sedikit, tetapi lebih sering supaya bayi tidak menjadi terlalu lemah. Gendong bayi dalam posisi tegak. Beri air steril atau waktu perawtan ekstra. Saat tidur, tinggikan kepala dan dada bayi. Hindari angin dan jangan mengenakan terlalu banyak pakaian pada bayi. Gunakan hanya obat yang diresepka dokter. Lindungi bibir atas dengan sebuah pelapis tipis dari bahan petroleum untuk meminimalakan ekskoriasi akibat sekresi hidung. 3. eliminasi Hal-hal yang perlu ditinjau kembali Perubahan apa yang orangtua dapat harapkan tentang warna feses, jumlah defekasi, dan bau tinja yang mendapat air susu ibu atau bayi yang mendapat susu botol. Warna urin normal yang seharusnya dan berapa jumlah berkemih yang orangtua dapat harapkan dari bayi dalam sehari. 4. keamanan Tindakan-tindakan berikut perlu dikaji ulang Cara melindungi bayi dari trauma, antara lain: menjauhkan obyek, seperti peniti dan gunting dari jangkauan bayi. Melindungi bayi supaya tidak jatuh dengan mengajarkan orangtua untuk memegang bayi dengan cara yang aman. Untuk memasangkan sabuk pengaman di tempat duduk dan kereta dorong bayi, untuk meninggikan sisi tempat tidur di tempat tidur bayi, untuk tidak pernah meninggalkan bayi sendiri di atas meja atau di atas tempat tidur bayi. Cara mencegah bayi merasakan panas yang berlebihan atau supaya bayi tidak menggigil Hal-hal yang harus diperhatikan saat memindahkan bayi terutama jika menggunakan kendaraan Pentingnya mensupervisi perhatian saudara kandung yang lebih besar terhadap bayi baru.

4. Pedoman antisipasi dalam merawat bayi 1. temperatur Tinjau kemabi topik-topik berikut Peningkatan temperatur tubuh (menangis, stress dingin yang menyebabkan vasokonstriksi, infeksi), dan respons lingkungan yang ekstrem. Tanda yang perlu dilaporkan, seperti temperature tinggi dan rendah, hidung tersumbat, letargi, iritabilitas, tidak mau makan dan menangis. Cara menurunkan suhu tubuh, memandikan dengan air hangat kuku, mengenakan pakaian yang sesuai dengan temperature ruangan pada bayi, dan lindungi bayi dari paparan sinar matahari yang lama. Pentingnya memakaikan bayi pembungkus hangat atau selimut ekstra jika udara dingin. Cara membaca thermometer dan mengukur aksila bayi. 2. pernapasan Tinaju kembali hal-hal berikut Berapa variasi normal frekuensi dan irama pernapasan. Refleks apa yang dilakukan bayi untuk membersihkan jalan napas, misalnya, bersin. Perlunya melindungi bayi dari hal-hal berikut :

FITHRI WAHYUNI PUTRI/220110100077/RESUME KASUS 1 REPRODUKSI 3


Cara mengantisipasi keadaan jika bayi tanpa sengaja menelan bahan beracun 5. Perawatan bayi baru lahir Merawat Tali Pusat Perawatan tali pusat sama dengan perawatan luka operasi lain. Tujuanya adalah mencegah dan mengidentifikasi perdarahan atau infeksi secara dini. Petunjuk tentang teknik perawatan tali pusat , memebersihkan tali pusat dan kulit sekitar dengan obat yangs udah diresepkan dokter misalnya erotromisin, dan setiap hari melakukan pemeriksaan untuk menemukan tanda-tanda infeksi. Klem pada tali pusat dilepas setelah 24 jam ketika tali pusat mengering. Memandikan Bayi Mandi merupakan kesempatan untuk : membersihkan seluruh tubuh bayi mengobservasi keadaan memberi rasa nyaman mensosialisasi anak-orangtua-keluarga. Mandi yang pertama ditunda sampai temperatur kulit bayi stabil apad 36,5o C atau sampai temperatr tubuh stabil pada 37oC selama dua jam.pertamakali mandi bayi menggunakan sabun ringan untuk membersihkan darah dan cairan amnion. Membersihkan genitalia cukup tiga sampai 4 hari pertama. Mandi dengan air hangat baik pada minggu pertama kemudian dapat menggunakan sabun ringan. Bayi bar lahir tidak perlu mandi setiap hari. Daerah lipatan yang ditutupi popok perlu dibersihkan dan diperhatikan. Apabila terjadi infeksi stafilokokus pada kulit bayi dimandika dengan deterjen hexaclorophene. Sabun alkali seperti minyak bedak dan losion tidak boleh dipakia karena kan meningkatkan keasaman.sehingga bakteri mudah masuk. Ruam Pengobatan ruam akibat popok dilakukan dengan membiarkan ruam terkena panas dan udara. Membersihkan dan mengeringkan daerah yang terkena air kemih atau tinja dalam mengganti popok setiap kali bayi berkemih atau defekasi mencegah dan membantu mnegatasi ruam akibat popok. Hindari popok sekali pakai atau celana plastik. Panas yang didapat dari senuah lampu berkekuatan 25 watt diletakan sekitar 45 cm di daerah yang sakit. Pakaian Aturan pemakaian pakaian pada bayi sama seperti pada orang dewasa. Sebuah baju atas dan popok untuk bayi kecil cukup. Sebuah topi mngkin diperlukan untuk melindungi kulit epala bayi dari panas. Membungkus bayi dengan selimut, menjaga temperatur tubuh dan meningkatkan rasa aman. Jangan menggunakan baju yang terlalu banyak pada saat udara panas dapata menimbulkan biang keringat dan rasa tidak nyaman. Penggunaan baju yang terlalu tipis pada sat udara dingin juga menimbulkan rasa tidak nyaman. astikan pakaian bayi terbuat dari bahan alami, seperti katun 100%, yang menyerap keringat, mudah dicuci dan disetrika. Panduan berbusana untuk bepergian lain lagi. Kenakan mantel atau cardigan, kaos kaki, sepatu dan topi pada bayi untuk mencegah dia masuk angin. Perawatan Linen Bayi Membersihkan pakain dilakuakn untuk mengurangi infeksi silang dan membuang sisa sabun. Dirumah, pakai bayi harus dicuci dengan detejen ringan dan air hangat. Membilas pakain dua kali biasanya menghilangkan sisa sisa air kemih atau tinja. Keringkan pakain atau linen di bawah sinar matahari langsung untuk menetralkan residu. Linen tempat tidur perlu sering diganti. Matras pelapis plastik yang biasa diletakan di lapisan paling atas harus sering dicuci, dan tempat tidur juga harus sering dibersihkan dari debu. Peralatan kamar mandi bayi disimpan dalam satu kotak tersendiri. Pemberian nutrisi Berikan asi seserig keinginan bayi atau kebutuhan ibu (jika payudara ibu penuh) Frekuensi menyusui setiap 2-3 jam Pastikan bayi mendapat cukup colostrum selama 24 jam. Colostrum memberikan zat perlindungan terhadap infeksi dan membantu pengeluaran mekonium. Berikan ASI saja sampai umur 6 bulan

6. Aspek budaya laktasi Morse dkk menemukan bahwa dari 120 kebudayaan, 50 diantaranya menahan kolostrum skurang-kurangnya dua hari. Orang filipina, amerika-meksiko, vietnam dan beberapa orang nigeria tidak emmberikan kolostrum pada bayi mereka. Ibu mulai menyusui ketika keluar asi yang sebenanrnya. Oarang amerika-meksiko cenderumg menyusui bayi mereka secara berlebihan karena mereka beranggapan bahwa bayi yang gemuk adalah bayi yang sehat.

FITHRI WAHYUNI PUTRI/220110100077/RESUME KASUS 1 REPRODUKSI 3


Di filipina untuk meningkatkan produksi ASI ibu mengkinsumsi ayam yang dimasak dengan daun pepaya dan santan, makan sup kerang dengan jahe, memakai obat tradisional yang pedas untuk merangsang ASI. Orang filipina percaya bahwa mengangkat tangan di atas kepala saat berbaring akan mengurangu atau bahakan menghentikan laktasi. Ibu di korea memakan sup rumput laut dengan nasi untk meningkatkan produksi ASI 7. Asuhan keperawatan Pengkajian fisik 1. kepala Palpasi dan pantau fontanel. Fontanel belakang berbentuk segitiga. Sutura sagital (terletak pada bagian paling atas kepala, dari depan ke belakang) merupakan area yang lembut dan tanpa hubungan. Variasi umum:penonjolan fontanel (peningkatan tekanan intrakranial), fontanel yang tertekan (dehidrasi), penonjolan sutura sagital (molding), kaput sucedaneum (edema pada jaringan akibat trauma), sefalhemtoma(perdarahan di rongga periosteum). Waspada terhadap penurunan prematur pada sutura anterior dan posterior yang memerlukan pengkajian lebih lanjut. 2. mata Inspeksi mata dan kelopak. Mata harus bersih, tanpa drainase, dan kelopak tidak bengkak. Perdarahan subkonjungtiva meungkin ada. Variasi umum: pembengkakan kelopak mata (trauma kelahiran, reaksi terhadap propilaksis mata) Waspada terhadap drainase purulen, ini menunjukkan untuk pengkajian lebih lanjut terhadap adanya infeksi pengobatan. 3. telinga Inspeksi telinga luar. Bayi cukup usia mempunyai 2/3 ujung pinna yang tidak melengkung. Ujung atas telinga harus berada di atas garis imajiner yang itarik dari kantus bagian dalam ke kantus mata bagian paling luar dan melebar mengelilingi telinga. Rotasi telinga harus ada di garis tengah, dan tidak mengenai bagian depan atau belakang. Waspada terhadap telinga yang letaknya rendah yang berhubungan dengan masalah kongenital yang beragam. 4. hidung Inspeksi, lubang hidung harus didapati bersih dan tanpa mukus. Waspada terhadap adanya pernapasan cuping hidung. Jika ada kaji frekuensi napas, retraksi dan bungu mengorok, serta warna kulit. Penentuan karakteristik nadi dengan menggunakan oksimetri dapat memberikan keterangan lebih lanjut. 5. mulut Palatum atas dan bawah biasanya tidak utuh (bisa dilihat pada saat bayi menangis atau bisa dipalpasi dengan jariyang dibungkus sarung tangan bersih, terbukanya palatum mengindikasikan celah palatum).inspeksi gigi untuk jumlah gigi kelebihan. Variasi umum:gigi kelebihan dan Epsteins pearls Waspada terhadap terbukanya palatum (celah palatum), yang memerlukan pengevaluasian cepat. Adanya bercak putih pada membran mukosa yang tampak seperti tumpukan susu yang tidak bisa dihilangkan mengindikasikan jamur Candida Albicans. Mukus yang berlebihan dapat mengindikasikan atresia esofagus. 6. dada Inspeksi, dada harus simetris. Mamae dapat berbentuk datar atau melebar karena efek estrogen ibu. Hitung frekuensi napas lebih dari satu menit. Variasi umum puting kelebihan. Waspada terhadap retraksi (interkostal dan sternal). Jika ada kaji frekuensi napas dan temtukan kebutuhan oksigen bayi. 7. jantung Auskultasi. Frekuensi nadi apikal 120-160 x/mnt. Kisaran ini dapat menjadi lebih rendah pada saat tidur ,100 x/mnt. Auskultasi frekuensi nadi apikal selama 1 menit penuh pada saat bayi tidur. Palpasi nadi brakialis, radialis, femoralis, dan pedalis. Bandingkan brakialis dan femoralis. Variasi yang umum murmur yang tidak menetap dapat didengar pada beberapa jam kehidupan. Waspada terhadap bradikardi >100 x/mnt atau takikardi (>160x/mnt) 8. abdomen

FITHRI WAHYUNI PUTRI/220110100077/RESUME KASUS 1 REPRODUKSI 3


Inspeksi, auskultasi dan palpasi. Abdomen harus berbentuk datar hingga sedikit melingkar dan bising usus dapat didengarkan di setiap kuadran. Tali pusat dalam keadaan kering tidak ada kemerahan, rabas atau perdarahan. 9. genital 1. refleks moro Inspeksi, genital biasanya dapat dibedakan secara jelas. Kedua testis harus dapat diraba pada skrotum. Variasi umum menstruasi palsu, muskus jernih pada vagina, tanda pada kulit vagina. Waspada terhadap saluran urin pada penis bagian bawah (hipospadia) 10. punggung Inspeksi, biasanya punggung halus, tidak ada tumpukan rambut pada punggung bawah. Variasi umum: bintik mongolia pada punggung bawah. 11. paha Inspeksi dan lakukan gerakan ortolani untuk menemukan adanya dislokasi kongenital pada paha. Tungkai harus sama panjang, lipatan kulit pada paha harus simetris. Untuk dapat menlakukan gerakan ortolani bayi harus dibaringkan telentang 12. ekstremitas Inspeksi seluruh ekstremitas seharusnya simetris dan bergerak dengan serentak. Hitung jumlah jari kaki dan tangan inspeksi keriput telapak tangan dan cekungan kaki. Catat adanya dempet (sidaktili) 13. warna kulit Pastikan sama dengan ras orang tua. Pantau tanda-tanda jaundice. Jaundice dapat dideteksi pada wajah, mukosa membran mulut dan sklera. Variasi umum milia akan tampak pada hidung. Waspada terhadap sianosis bila ada maka memerlukan pengkajian dan pengobatan segera. Jaundice yang tampak sebelum usia 24 jam dilaporkan. 14. eliminasi Bayi baru lahir sebaiknya berkemih dan memiliki pergerakan usus dalam 24 jam setelah kelahiran. Waspada jika bayi tidak berkemih dalam 24 jam. Kaji jumlah cairan yang dikonsumsi dan bukaaan uretra. Jika tidak ada feses kaji distensi abdomen dan bising usus. 15. perilakubayi dengan dapat mudah mengisap, dipeluk dan diselimuti. Bergerak sepanjang fase tidur terjaga. Ketika diletakkan di depan orang bayi akan bergerak ke arah sumber Didapatkan dengan cara memberikan isyarat kepada bayi, dengan satu teriakan kencang atau gerakan yang mendadak. Respon BBL berupa menghentakkan tangan dan kaki lurus ke arah luar, sedangkan lutut fleksi. Tangan kemudian akan kembali ke arah dada seperti posisi bayi dalam pelukan. Jari-jari nampak terpisah, membentuk huruf C dan bayi mungkin menangis. 2, refleks menggenggam Menstimulasi telapak tangan bayi dengan sebuah objek atau dengan jari pemeriksa. Respon bayi berupa menggenggam dan memegang erat, sehingga dapat diangkat sebentar dari tempat tidur. 3. refleks mengisap Didapat saat sisi mulut atau dagu disentuh. Bayi akan menoleh untuk mencari objek dan membuka mulutnya untuk mengisap. suara. Waspada terhadap tangisan yang berlebihan, kesakitan, ketidakmampuan untuk berdiam diri, yang memungkinkan berhubungan dengan gejala putus obat neonatus Pengkajian refleks

Anda mungkin juga menyukai