Anda di halaman 1dari 25

PRESENTASI KASUS ANEMIA DALAM KEHAMILAN

Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Obstetric dan Ginekologi BRSD Wonosobo

Diajukan Kepada : Dr.H. Agung Suhadi, Sp.OG(K)

Disusun oleh : Luri Aulianti 2007 031 0090

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN OBSTETRI dan GINEKOLOGI PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER BRSD WONOSOBO FAKULTAS KEDOKTERAN dan ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA 2011 HALAMAN PENGESAHAN 1

PRESENTASI KASUS ANEMIA DALAM KEHAMILAN Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Obstetric dan Ginekologi BRSD Wonosobo

Disusun oleh : Luri Aulianti 20070310090

Dipresentasikan pada : November 2011

Mengetahui, Dosen Pembimbing

Dr.H. Agung Suhadi, Sp.OG(K)

BAB I TINJAUAN KASUS

A. IDENTITAS Nama Jenis kelamin Umur Paritas Alamat Agama Pekerjaan Tanggal masuk Waktu Ruang No. RM : Ny. W : Perempuan : 33 th : G5P4A0 : Surodento Rt 3 Rw 6 Sapuran : Islam : Ibu rumah tangga : 26 Oktober 2011 : Pukul 15.35 : Bangsal Edelweis lantai 3 kamar 307E : 511187

B. ANAMNESIS Seorang pasien datang dari IGD diantar bidan Rahayu dengan keterangan G5P4A0 hamil 40+3 minggu dengan anemia gravis Hb 5,6 mg/dL. Pasien merasa hamil 9 bulan. Kenceng-kenceng teratur belum dirasakan, air ketuban dirasa belum keluar, lendir darah dirasa belum keluar. Riwayat perdarahan sebelum & selama hamil (-). Riwayat minum jamu & obat-obatan selama hamil (-). Riwayat menstruasi : menarche (lupa), mens teratur dan menjadi tidak teratur sejak KB suntik, durasi mens 7 hari, dismenorea (-), keputihan (-). Riwayat penyakit hipertensi, DM, jantung, asma disangkal. 3

Riwayat obstetri : 1. , 13 tahun, lahir spontan di bidan, BBL 2800 gr 2. , meninggal usia 2 bulan, BBL 3000 gr 3. , lahir meninggal 4. , 2,5 tahun, lahir spontan di bidan, BBL 3200 gr 5. hamil ini Riwayat ANC teratur di bidan. Riwayat TT 3 kali. Riwayat pernikahan : 3 kali

C. PEMERIKSAAN FISIK KU : sedang, CM, anemis Pernafasan : regular Kepala : CA -/Leher : JVP Palpasi : teraba janin tunggal, letak memanjang, preskep, puki, TFU 28 cm, DJJ (+) 154 kpm, his (-), kepala teraba 4/5 bagian. PD : v/u tenang, dinding vagina licin, servix tebal lunak di belakang, (-)

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG Keterangan hasil lab dari pasien Hb 5,6 g/dL. Hasil lab tanggal 26 Oktober 2011 pukul 15.53 : Hb Leukosit Hmt Eritrosit = 8,2 gr/dL (turun) = 9,0 103/L (normal) = 27% (turun) = 3,7 106/L (turun)

Trombosit MCV MCH MCHC BT CT Gol. Darah HBsAg

= 310 103/l (normal) = 72 fL (turun) = 22 pg (turun) = 31 gr/dL (turun) = 2 menit (normal) = 5 menit (normal) =B = (-)

Hasil USG tanggal 26 Oktober 2011 : Janin tunggal, memanjang, preskep, puki, plasenta di fundus grade II-III, DJJ (+), gerakan (+) BPD = 91,4 AC = 38,7 AFI 1 = 0 AFI 2 = 2,63 AFI 3 = 5,3 AFI 4 = 2,4

FML = 6,98 EFW = 2744 AVG = 36+4

Cek Hb ulang di lab RSUD tanggal 29 Oktober 2011 = 8,8 gr/dL

E. DIAGNOSIS DAN TERAP I Diagnosis : Multigravida hamil posterm dengan anemia belum dalam persalinan Terapi : Perbaikan KU Transfusi PRC 1 kantong/12 jam s/d Hb 10 gr/dL

NST, bila reaktif usul induksi persalinan dengan balon kateter 75 mL Observasi his & DJJ Evaluasi Konsul dr.Agung Suhadi, Sp.OG(K) acc dx/tx

KRONOLOGI 27 Oktober 2011 09.30 : Injeksi dexamethason 1 ampul IV pretransfusi Transfusi PRC/B/I 15.00 : Evaluasi his (-), DJJ (+) 150 kpm Dx : Multigravida hamil posterm dengan anemia belum dalam persalinan Tx : Observasi his & DJJ Evaluasi 4 jam lagi (19.00) 16.00 : Transfusi darah PRC kantong I habis 19.00 : Telah dilakukan NST dengan hasil : FHR baseline : 125-130 kpm Variabilitas : 5 kpm Akselerasi : (+) Deselerasi : (-) Gerakan : (+) Kesimpulan : NST reaktif 19.30 : Telah dilaksanakan balon kateter 75 mL, his (-), DJJ (+) 140 kpm Tx : Observasi his & DJJ

Evaluasi saat balon lepas Amoxicillin 3x500 mg 28 Oktober 2011 06.00 : Balon lepas spontan Evaluasi his 1x/15/L, DJJ (+) 148 kpm PD : servix tipis, lunak di tengah, 3 cm, selket (+), preskep, kepala di S -2 , STLD (+), ak (+) Dx : multigravida hamil posterm dalam persalinan kala I fase laten dalam induksi balon kateter 75 mL a/I posterm Tx : Lanjut drip oxytocin 5 IU/500 mL RL 8-40 tpm s/d his adekuat Observasi his & DJJ Evaluasi 12.00 : Ibu tampak ingin mengedan, vulva & anus terbuka. Ketuban pecah spontan, his : 23/40-45/k, DDJ (+) 140 kpm. PD : serviks tak teraba, lengkap, selket (-), preskep, kepala di S0-1 , STLD (+), ak (+) Dx : Kala II Tx : Pimpin persalinan Siapkan resusitasi bayi 12.05 : Bayi lahir spontan , 3500 gr, PB 49 cm, AS 7/9, inj oxytocin 10 IU. 12.10 : Plasenta lahir spontan, kesan lengkap, kontraksi kuat, TFU 2 jari bawah pusat. Perineum rupture der I JL : satu-satu KU ibu s/s/s persalinan baik.

Dx : Post partum spontan dalam induksi balon kateter 75 mL & oxytocin 5 IU/500 mL RL 16 tpm botol I a/I posterm, P5A0 Tx : Awasi KU & VS Rawat perineum Latihan menyusui Motivasi MOW Amoxycilin 3x500 mg Asam mefenamat 3x500 mg SF 1xI Follow up 29 Oktober 2011 : TD = 110/70, N = 78, R=20, Hb = 8,8 gr/dL Keluhan (-), BAB (+), BAK (+), PPV (+) KU : Baik, CM, tidak anemis Dx : Post partum spontan dalam induksi balon kateter 75 mL & oxytocin 5 IU/500 mL RL 16 tpm botol I a/I posterm P5A0 H1 Tx : Amoxycilin 3x500 mg Asam mefenamat 3x500 mg SF 1xI 30 Oktober 2011 : TD = 110/70, N = 80, R=20 Keluhan (-), BAB (+), BAK (+), PPV (+) KU : Baik, CM, tidak anemis Dx : Post partum spontan dalam induksi balon kateter 75 mL & oxytocin 5 IU/500 mL RL 16 tpm botol I a/I posterm P5A0 H2

Tx : Amoxycilin 3x500 mg Asam mefenamat 3x500 mg SF 1xI BLPL

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI Centers for Disease Control & Prevention 1990 (CDC) mendefinisikan anemia dalam kehamilan sebagai kadar hemoglobin yang lebih rendah dari 11 gr/dL pada trimester pertama dan ketiga, dan kurang dari 10,5 gr/dL pada trimester kedua. Penurunan ringan kadar Hemoglobin selama kehamilan dijumpai pada wanita sehat yang tidak mengalami defisiensi zat besi atau asam folat. Hal ini disebabkan oleh ekspansi volume plasma yang lebih besar daripada peningkatan massa hemoglobin dan volume sel darah merah yang terjadi pada kehamilan normal. Pada awal kehamilan dan menjelang aterm kadar hemoglobin kebanyakan wanita sehat dengan simpanan zat besi adalah 11 gr/dL atau lebih. Konsentrasi hemoglobin lebih rendah pada pertengahan kehamilan (Cunningham,2003). Tabel nilai batas anemia pada perempuan menurut WHO. Status kehamilan Tidak hamil Hamil : Trimester 1 Trimester 2 Trimester 3 Hemoglobin (g/dl) 12,0 11,0 10,5 11,0 Hematokrit (%) 36 33 32 33

Pembagian anemia berdasarkan pemeriksaan hemoglobin menurut Manuaba (2007), adalah : 1.Tidak anemia : Hb 11,00 gr% 2.Anemia ringan : Hb 9,00-10,00 gr%
10

3.Anemia sedang : Hb 7,00-8,00 gr% 4. Anemia berat : Hb < 7,00 gr%


B. ETIOLOGI Semua kelainan yang menyebabkan anemia yang dijumpai pada wanita usia subur dapat menjadi penyulit kehamilan. Klasifikasi yang terutama didasarkan pada etiologi dan mencakup sebagian besar kausa anemia pada wanita hamil diperlihatkan pada tabel berikut. Didapat Anemia defisiensi besi Anemia akibat kehilangan darah akut Anemia pada peradangan atau keganasan Anemia megaloblastik Anemia hemolitik didapat Anemia aplastik atau hipoplastik Herediter Talasemia Hemoglobinopati sel sabit Hemoglobinopati lain Anemia hemolitik herediter

Penyebab anemia tersering adalah defisiensi zat-zat nutrisi. Seringkali defisiensinya bersifat multiple dengan manifestasi klinik yang disertai infeksi, gizi buruk, atau kelainan herediter seperti hemoglobinopati. Namun, penyebab mendasar anemia nutrisional meliputi asupan yang tidak cukup, absorpsi yang tidak adekuat,
11

bertambahnya zat gizi yang hilang, kebutuhan yang berlebihan, dan kurangnya utilisasi neutrisi hemopoetik. Sekitar 75% anemia dalam kehamilan disebabkan oleh defisiensi besi yang memperlihatkan gambaran eritrosit mikrositik hipokrom pada apusan darah tepi. Penyebab tersering kedua adalah anemia megaloblastik yang dapat disebabkan oleh defisiensi asam folat dan defisiensi vitamin B12. Penyebab anemia lainnya yang jarang ditemui antara lain adalah hemoglobinopati, proses inflamasi, toksisitas zat kimia dan keganasan. Menurut Mochtar (1998), disebutkan bahwa penyebab terjadinya anemia adalah :

Kurang Gizi (Malnutrisi), disebabkan karena kurang nutrisi kemungkinan menderita anemia.

Kurang Zat Besi Dalam Diet. Diet berpantang telur, daging, hati atau ikan dapat membuka kemungkinan menderita anemia karena diet.

Malabsorbsi. Penderita gangguan penyerapan zat besi dalam usus dapat menderita anemia. Bisa terjadi karena gangguan pencernaan atau

dikonsumsinya substansi penghambat seperti kopi, teh atau serat makanan tertentu tanpa asupan zat besi yang cukup.

Kehilangan banyak darah : persalinan yang lalu, dan lain-lain

Semakin sering seorang anemia mengalami kehamilan dan melahirkan akan semakin banyak kehilangan zat besi dan akan menjadi anemia. Jika cadangan zat besi minimal, maka setiap kehamian akan menguras persediaan zat besi tubuh dan akan menimbulkan anemia pada kehamilan berikutnya.

12

C. PATOFISIOLOGI

Pada kehamilan kebutuhan oksigen lebih tinggi sehingga memicu peningkatan produksi eritropoeitin. Akibatnya, volume plasma bertambah dan sel darah merah (eritrosit) meningkat. Namun, peningkatan volume plasma terjadi dalam proporsi yang lebih besar jika dibandingkan dengan peningkatan eritrosit sehingga terjadi penurunan konsentrasi hemoglobin (Hb) akibat hemodilusi. Ekspansi volume plasma merupakan penyebab anemia fisiologik pada kehamilan. Volume plasma yang terekspansi menurunkan hematokrit (Ht), konsentrasi hemoglobin darah (Hb) dan hitung eritrosit, tetapi tidak menurunkan jumlah absolute Hb atau eritrosit dalam sirkulasi. Mekanisme yang mendasari perubahan ini belum jelas. Ada spekulasi bahwa anemia fisiologik dalam kehamilan bertujuan menurunkan viskositas darah maternal sehingga

meningkatkan perfusi plasental dan membantu penghantaran oksigen serta nutrisi ke janin. Ekspansi volume plasma mulai pada minggu ke 6 kehamilan dan mencapai maksimum pada minggu ke 24 kehamilan, tetapi dapat terus meningkat sampai minggu ke 37. Pada titik puncaknya, volume plasma sekitar 40% lebih tinggi pada ibu hamil dibandingkan perempuan yang tidak hamil. Penurunan hematokrit, konsentrasi hemoglobin, dan hitung eritrosit biasanya tampak pada minggu ke 7 sampai minggu ke 8 kehamilan dan terus menurun sampai minggu ke 16 sampai ke 22 ketika titik keseimbangan tercapai (Prawirohardjo, 2008).

13

Darah bertambah banyak dalam kehamilan yang lazim disebut hidremia atau hipervolemia, akan tetapi bertambahnya sel-sel darah kurang dibandingkan dengan bertambahnya plasma, sehingga pengenceran darah. Pertambahan tersebut berbanding plasma 30,00%, sel darah merah 18,00% dan Hemoglobin 19,00%. Tetapi pembentukan sel darah merah yang terlalu lambat sehingga menyebabkan kekurangan sel darah merah atau anemia. Pengenceran darah dianggap penyesuaian diri secara fisiologi dalam kehamilan dan bermanfaat bagi wanita, pertama pengenceran dapat meringankan beban jantung yang harus bekerja lebih berat dalam masa kehamilan, karena sebagai akibat hidremia kardiak output untuk meningkatkan kerja jantung lebih ringan apabila viskositas rendah. Resistensi perifer berkurang, sehingga tekanan darah tidak naik, kedua perdarahan waktu persalinan, banyaknya unsur besi yang hilang lebih sedikit dibandingkan dengan apabila darah ibu tetap kental. Tetapi pengenceran darah yang tidak diikuti pembentukan sel darah merah yang seimbang dapat menyebabkan anemia. Bertambahnya volume darah dalam kehamilan dimulai sejak kehamilan 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam kehamilan 32 dan 36 minggu (Setiawan Y, 2006). Suatu penelitian memperlihatkan perubahan konsentrasi Hb sesuai dengan bertambahnya usia kehamilan. Pada trimester pertama, konsentrasi Hb tampak menurun, kecuali pada perempuan yang telah memiliki kadar Hb rendah (<11,5 g/dL). Konsentrasi paling rendah didapatkan pada trimester kedua, yaitu pada usia kehamilan sekitar 30 minggu. Pada trimester ketiga terjadi sedikit
14

peningkatan Hb, kecuali pada perempuan yang sudah memiliki kadar Hb tinggi (>14,6 g/dl) pada pemeriksaan pertama. Anemia secara praktis didefinisikan sebagai kadar Ht, konsentrasi Hb, atau hitung eritrosit di bawah batas normal. Namun, nilai normal yang akurat untuk ibu hamil sulit dipastikan karena ketiga parameter laboratorium tersebut bervariasi selama periode kehamilan. Umumnya ibu hamil dianggap anemic jika kadar hemoglobin di bawah 11 g/dl atau hematokrit kurang dari 33%. Namun, CDC membuat nilai batas khusus berdasarkan trimester kehamilan dan status merokok. Dalam praktik rutin, konsentrasi Hb kurang dari 11 g/dl pada akhir trimester pertama dan <10 g/dl pada trimester kedua dan ketiga diusulkan menjadi batas bawah untuk mencari penyebab anemia dalam kehamilan. Nilainilai ini kurang lebih sama nilai Hb terendah pada ibu hamil yang mendapat suplementasi besi, yaitu 11 g/dl pada trimester pertama dan 10,5 g/dl pada trimester kedua dan ketiga (Prawirohardjo, 2008).
D. JENIS-JENIS ANEMIA 1. Defisiensi besi Defisiensi besi merupakan defisiensi nutrisi yang paling sering ditemukan baik di Negara maju maupun di Negara berkembang. Risikonya meningkat pada kehamilan dan berkaitan dengan asupan besi yang tidak adekuat dibandingkan kebutuhan pertumbuhan janin yang cepat. Anemia defisiensi besi merupakan tahap defisien besi yang paling parah, yang ditandai oleh penurunan cadangan besi, konsentrasi besi serum, dan saturasi

15

transferin yang rendah, dan konsentrasi hemoglobin atau nilai hematokrit yang menurun. Pada kehamilan, kehilangan zat besi terjadi akibat pengalihan besi maternal ke janin untuk eritropoeisis, kehilangan darah saat persalinan dan laktasi yang jumlah keseluruhannya dapat mencapai 900 mg atau setara dengan 2 liter darah. Oleh karena sebagian besar perempuan mengawali kehamilan dengan cadangan besi yang rendah, maka kebutuhan tambahan ini berakibat pada anemia defisiensi besi. Pencegahan anemia defisiensi besi dapat dilakukan dengan suplementasi besi dan asam folat. WHO menganjurkan untuk memberikan 60 mg besi selama 6 bulan untuk memenuhi kebutuhan fisiologik selama kehamilan. Namun, banyak literatur menganjurkan dosis 100 mg besi setiap hari selama 16 minggu atau lebih pada kehamilan. Di wilayah dengan prevalensi anemia yang tinggi, dianjurkan untuk memberikan suplementasi sampai 3 bulan postpartum. Hubungan antara konsentrasi Hb dan kehamilan masih merupakan lahan kontroversi. Di Negara-negara maju misalnya, tidak hanya anemia, tetapi juga konsentrasi hemoglobin yang tinggi selama kehamilan telah dilaporkan

meningkatkan risiko komplikasi seperti kelahiran kecil untuk masa kehamilan (KMK) atau small for gestasional age (SGA), kelahiran premature dan mortalitas perinatal. Kadar Hb yang tinggi terkait dengan infark plasenta sehingga hemodilusi pada kehamilan dapat meningkatkan pertumbuhan janin dengan cara mencegah thrombosis dalam sirkulasi uteroplasental . oleh karena itu jika peningkatan kadar Hb mencerminkan kelebihan besi, maka suplementasi besi secara rutin pada ibu hamil yang tidak anemic perlu ditinjau kembali.

16

Pemberian suplementasi besi setiap hari pada ibu hamil sampai minggu ke-28 kehamilan pada ibu hamil yang belum mendapat besi dan nonanemik (Hb < 11 g/dl dan feritin > 20 mcg/L) menurunkan prevalensi anemia dan bayi berat lahir rendah. Namun, pada ibu hamil dengan kadar Hb yang normal ( 13,2 g/dl) mendapatkan peningkatan risiko defisiensi tembaga dan zink. Selain itu, pemberian suplemetasi besi elemental pada dosis 50 mg berkaitan dengan proporsi bayi KMK dan hipertensi maternal yang lebih tinggi dibandingkan control. 2. Defisiensi asam folat Pada kehamilan, kebutuhan folat meningkat 5-10 kali lipat karena transfer folat dari ibu ke janin yang menyebabkan dilepasnya cadangan folat maternal. Peningkatan lebih besar dapat terjadi karena kehamilan multiple, diet yang buruk, infeksi, adanya anemia hemolitik atau pengobatan antikonvulsi. Kadar estrogen dan progesterone yang tinggi selama kehamilan tampaknya memiliki efek penghambatan terhadap absorpsi folat. Defisiensi asam folat karenanya sangat umum terjadi pada kehamilan dan merupakan penyebab utama anemia megaloblastik pada kehamilan. Anemia tipe megaloblastik karena defisiensi asam folat merupakan penyebab kedua terbanyak anemia defisiensi zat gizi. Anemia megaloblastik adalah kelainan yang disebabkan oleh gangguan sintesis DNA dan ditandai dengan adanya sel-sel megaloblastik yang khas untuk jenis anemia ini. Selain karena difisiensi asam folat, anemia megaloblastik juga dapat terjadi karena defisiensi vitamin B12 (kobalamin). Folat dan turunnya formil FH4 penting untuk sintesis DNA yang memadai dan produksi asam amino. Kadar asam folat yang tidak cukup dapat menyebabkan manifestasi anemia megaloblastik.

17

Gejala-gejala defiensi asam folat sama dengan anemia secara umum ditambah kulit yang kasar dan glositis. Pada pemeriksaan apusan darah tampak precursor eritrosit secara morfologis lebih besar (makrositik) dan perbandingan inti-sitoplasma yang abnormal juga normokrom. MCH dan MCHC biasanya normal, sedangkan MCV yang besar berguna untuk membedakan anemia ini dari perubahan fisiologik kehamilan atau anemia defisiensi besi. Untuk MCV, adanya peningkatan saturasi besi dan transferin serum juga bermanfaat. Netropenia dan trombositopenia adalah akibat maturasi granulosit dan trombosit yang abnormal. Tanda awal defisiensi asam folat serum yang rendah pada beberapa hari sebelumnya yang mungkin meningkat cepat begitu asupan diperbaiki. Indicator status asam folat yang lebih baik adalah folat dalam sirkulasi sehingga dapat mencerminkan laju turnover folat pada 2-3 buan sebelumnya. Folat dalam sel darah merah biasanya rendah pada anemia megaloblastik karena defisiensi folat. Namun, kadarnya juga rendah pada 50% penderita anemia megaloblastik karena defisiensi kobalamin sehingga tidak dapat digunakan untuk membedakan kedua jenis anemia ini. Defisiensi asam folat ringan juga telah dikaitkan dengan anomaly congenital janin, terutama defek pada penutupan tabung neural ( neural tube defect). Selain itu, defisiensi asam folat dapat menyebabkan kelainan jantung, saluran kemih, alat gerak dan organ lainnya. Mutasi gen yang mempengaruhi enzim-enzim metabolisme folat,terutama mutasi 677CT pada gen MTHFR, juga berpredisposisi terhadap kelainan congenital. Penatalaksanaan defisiensi asam folat adalah pemberian folat secara oral sebanyak 1 sampai 5 mg per hari. Pada dosis 1 mg, anemia umumnya dapat dikoreksi

18

meskipun pasien mengalami pula malabsorpsi. Ibu hamil sebaiknya mendapat sedikitnya 400 mcg folat per hari. 3. Anemia aplastik Ada beberapa laporan mengenai anemia aplastik yang terkait dengan kehamilan, tetapi hubungan antara keduanya tidak jelas. Pada beberapa kasus, yang terjadi adalah eksaserbasi anemia aplastik yang telah ada sebelumnya oleh kehamilan dan hanya membaik setelah terminasi kehamilan. Pada kasus-kasus lainnya, aplasia terjadi selama kehamilan dan dapat kambuh pada kehamilan berikutnya. Terminasi kehamilan atau persalinan dapat memperbaiki fungsi sumsum tulang, tetapi penyakit dapat memburuk bahkan menjadi fatal setelah persalinan. Terapi meliputi terminasi kehamilan elektif, terapi suportif, imunosupresi, atau transplantasi sumsum tulang setelah persalinan. 4. Anemia penyakit sel sabit Kehamilan pada perempuan penderita anemia sel sabit ( sickle cell anemia) disertai dengan peningkatan insidens pielonefritis, infark pulmonal, pneumonia, perdarahan antepartum, prematuritas dan kematian janin. Peningkatan anemia megaloblastik yang responsive dengan asam folat, terutama pada akhir masa kehamilan, juga meningkat frekuensinya. Berat lahir bayi dari ibu yang menderita anemia sel sabit di bawah rata-rata dan kematian janin tinggi. Penyebab kematian neonatal tidak jelas, tetapi kadang-kadang disebabkan oleh vasooklusi plasenta, dengan temuan postmortem yang menggambarkan anoksia inpartum. Mortalitas ibu dengan penyakit sel sabit telah menurun dari sekitar 33% menjadi 1,5% pada masa kini karena perbaikan pelayanan prenatal. Di beberapa Negara berkembang angka 19

kematian ibu dan perinatal dapat mencapai 9,2% dan 19,5% berturut-turut. Masa kehamilan dan periode postpartum masih berpotensi berbahaya bagi ibu dengan penyakit sel sabit sehingga harus dipantau ketat selama kehamilan. Pemberian transfuse darah profilaktik belum terbukti efektivitasnya walaupun beberapa pasien tampaknya member hasil yang memuaskan. E. PENGARUH ANEMIA TERHADAP KEHAMILAN Pengaruh anemia terhadap kehamilan, persalinan dan nifas : 1. Abortus / keguguran pada trimester 1 2. Partus prematurus pada trimester 2 3. Inersia uteri (primer & sekunder) dan partus lama, ibu lemah 4. Atonia uteri dan menyebabkan perdarahan 5. Mola hidatidosa 6. Hiperemesis gravidarum 7. Syok 8. Afibrinogenemia dan hipfibrinogenemia 9. Infeksi intrapartum dan dalam nifas 10. Bila terjadi anemia gravis (Hb dibawah 4 gr%) terjadi payah jantung, yang bukan saja menyulitkan kehamilan dan persalinan, bahkan bisa fatal. Pengaruh anemia terhadap hasil konsepsi : Hasil konsepsi (janin, plasenta, darah) membutuhkan zat besi dalam jumlah besar untuk pembuatan butir-butir darah merah dan pertumbuhannya yaitu sebanyak berat besi. Jumlah ini merupakan sepersepuluh dari seluruh besi dalam tubuh. Terjadinya

20

anemia dalam kehamilan bergantung dari jumlah persediaan besi dalam hati, limpa dan sumsum tulang. Selama masih mempunyai cukup persediaan besi, Hb tidak akan turun dan bila persediaan ini habis, Hb akan turun. Ini terjadi pada bulan ke 5-6 kehamilan, pada waktu janin membutuhkan banyak zat besi. Bila terjadi anemia, pengaruhnya terhadap hasil konsepsi adalah : 1. Kematian mudighah (abortus) 2. Kematian janin dalam kandungan (IUFD) 3. Kematian janin waktu lahir (still birth) 4. Kematian perinatal tinggi 5. Prematuritas 6. Dapat terjadi cacat bawaan 7. Cadangan besi kurang F. PENATALAKSANAAN

Kebutuhan tablet besi pada kehamilan menurut Jordan (2003), dijelaskan bahwa pada kehamilan dengan janin tunggal kebutuhan zat besi terdiri dari 200600 mg untuk memenuhi peningkatan massa sel darah merah, 200-370 mg untuk janin yang bergantung pada berat lahirnya, 150-200 mg untuk kehilangan eksternal, 30-170 mg untuk tali pusat dan plasenta, 90-310 mg untuk menggantikan darah yang hilang saat melahirkan. Dengan demikian kebutuhan total zat besi pada kehamilan berkisar antara 440-1050 mg dan 580-1340 mg dimana kebutuhan tersebut akan hilang 200 mg (Walsh V, 2007) melalui ekskresi kulit, usus, urinarius. Untuk mengatasi kehilangan ini, ibu hamil memerlukan
21

rata-rata 30,00-40,00 mg zat besi per hari. Kebutuhan ini akan meningkat secara signifikan pada trimester terakhir, yaitu rata-rata 50,00 mg / hari pada akhir kehamilan menjadi 60,00 mg / hari. Zat besi yang tersedia dalam makanan berkisar 6,00 sampai 9,00 mg / hari, ketersediaan ini bergantung pada cakupan diet. Oleh karena itu, pemenuhan kebutuhan pada kehamilan memerlukan mobilisasi simpanan zat besi dan peningkatan absorbsi. Cara pencegahan anemia dalam kehamilan menurut Sari (2011) antara lain : Olah raga teratur. Tidur cukup. Mengkonsumsi suplemen zat besi dengan kombinasi vitamin C dan sorbitol. Memperhatikan konsumsi yang menghambat penyerapan besi seperti : tanin (teh), Polifenol (kopi), Fitat ( sereal, beras, jagung, gandum), kalsium dan fosfat (susu),dan keasaman lambung. Mengatur jarak kehamilan lebih dari 2 tahun. Memiliki kehamilan maupun persalinan pada usia ideal yaitu usia 20-35 tahun. Memberikan suplemen zat besi untuk wanita hamil (sebaiknya dimulai sebelum masa kehamilan, agar cadangan zat besi mencukupi di saat kehamilan)

22

BAB III PEMBAHASAN

Pada pasien tersebut datang dengan keterangan G5P4A0 hamil 40+3 minggu
dengan anemia gravis Hb 5,6 mg/dL, hal tersebut menunjukkan bahwa dari hasil lab

dapat didiagnosis sebagai anemia berat, namun tiba di RS dicek Hb ulang dan hasilnya adalah 8,2 gr/dL. Didukung oleh data lainnya yaitu pasien merasa sangat lemas, tampak pucat dan pusing memperkuat diagnosis anemia dalam kehamilan. Data anamnesis lainnya adalah selama hamil pasien kurang memperhatikan diet sehari-hari, jarang makan sayur, jarang makan daging, tidak pernah minum susu disertai dengan aktivitas yang cukup berat yaitu tetap bekerja walaupun sedang hamil. Dengan keadaan pasien yang demikian dapat memperbesar resiko menderita anemia dalam kehamilan. Kemungkinan terbesar penyebab anemia tersebut adalah anemia defisiensi besi didukung dengan data lab yaitu terjadi penurunan pada Hb, Hmt, jumlah eritrosit, MCV, MHC, dan MCHC. Semua data lab tersebut yang menurun menunjukkan bahwa zat besi yang dibutuhkan sangat sedikit. Penatalaksanaan yang dilakukan pada pasien tersebut diawali dengan pemberian transfusi darah PRC 1 kolf dengan tujuan untuk meningkatkan Hb sebelum dilakukan induksi untuk menimbulkan persalinan. Seperti yang sudah dipaparkan diatas bahwa persalinan dengan Hb ibu yang rendah memiliki resiko yang berbahaya untuk bersalin baik terhadap ibu ataupun terhadap janinnya. Begitu

23

transfuse PRC 1 kolf selesai dimulai induksi dengan balon kateter dilanjutkan dengan stimulasi oksitosin. Cek Hb ulang post partum adalah 8,8 gr/dL.

24

BAB IV DAFTAR PUSTAKA

Cunningham, F.G. 2003. Williams Obstetrics, 21st Ed.Mc Graw-Hill Companies. Mansjoer A, 2008, Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta : Media Acsulapius Manuaba IBG, 2007, Pengantar Kuliah Obstetri, Jakarta : EGC Prawirohardjo, S. 2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta : PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Ed. Keempat. Sari, Niela Pratama. 2011. Anemia dalam kehamilan. Diambil dari http://www.bubidan.com/541/anemia-pada-kehamilan/ Varney H, 2006, Buku Ajar Asuhan Kebidanan, Jakarta : EGC

25