Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG Pada saat ini insiden Tuberculosis dilaporkan meningkat secara drastis di seluruh dunia termasuk Indonesia. Penyakit ini biasanya banyak terjadi di negara berkembang dan yang mempunyai tingkat sosial ekonomi yang rendah. Penyakit ini termasuk penyakit infeksi yang menyebabkan kematian (mortalitas) tertinggi dan angka kejadian penyakit (morbiditas) tinggi, serta memerlukan diagnosa dan terapi yang cukup lama. Penyakit ini telah diketahui penyebabnya, cara penularannya, faktor yang mempengaruhi dan dapat disembuhkan asalkan diberi pengobatan yang adekuat. Di IndonesiaTBC merupakan penyebab kematian utama dan angka kesakitan dengan urutan teratas setelah ISPA. Indonesia menduduki urutan ketiga setelah India dan China dalam jumah penderita TBC di dunia. Penyakit TBC ini juga dapat mengenai berbagai macam organ di tubuh manusia selain paru-paru, seperti : ginjal, hepar, otak, dll. Mengingat besarnya insiden TBC di Indonesia serta luasnya masalah akibat penyakit ini, semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua.

1.2 RUMUSAN MASALAH Bagaimana cara membuat diagnosa dan memberikan terapi yang sesuai untuk penderita TBC pada keadaan khusus yaitu gagal ginjal.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 DEFINISI Tuberculosis (TBC) adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TBC (Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman TBC menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya seperti menyerang kulit, kelenjar limfe, tulang, ginjal, hepar dan selaput otak. Kuman ini berbentuk batang, yang mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam sehingga disebut dengan Bakteri Tahan Asam (BTA), kuman TBC cepat mati bila terkena sinar matahari langsung, tetapi dapat hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab. Kuman ini juga bersifat aerob yaitu menyukai bagian paru yang banyak mengandung oksigen. Dalam jaringan tubuh, kuman ini dapat dorman selama beberapa tahun. Kuman dapat disebarkan dari penderita TB BTA positif kepada orang yang berada di sekitarnya, terutama yang kontak erat. Gagal Ginjal adalah suatu penyakit dimana fungsi organ ginjal mengalami penurunan hingga akhirnya tidak lagi mampu bekerja sama sekali dalam hal penyaringan pembuangan elektrolit tubuh, menjaga keseimbangan cairan dan zat kimia tubuh seperti sodium dan kalium didalam darah atau produksi urine. Penyakit gagal ginjal ini dapat menyerang siapa saja yang menderita penyakit serius atau terluka dimana hal itu berdampak langsung pada ginjal itu sendiri. Penyakit gagal ginjal lebih sering dialamai mereka yang berusia dewasa, terlebih pada kaum lanjut usia. Gagal ginjal merupakan penyakit sistemik dan merupakan jalur akhir yang umum dari berbagai penyakit traktus urinarius dan ginjal. (Brunner & Suddarth, 2002: 1443). Penyakit gagal ginjal akut adalah suatu penyakit dimana ginjal tidak dapat lagi menjalankan fungsinya sebagai organ pembuangan, ginjal secara relatif mendadak tidak dapat lagi memproduksi cairan urine yang merupakan cairan yang mengandung zat-zat yang sudah tidak diperlukan oleh tubuh dan harus dikeluarkan dari tubuh .Gagal ginjal akut biasanya disertai oliguria (urine < 400 ml / hari ).

2.2 ETIOLOGI
2

Tuberculosis (TBC) merupakan penyakit yang sangat infeksius. Seorang penderita TBC dapat menularkan penyakit kepada 10 orang di sekitarnya. Menurut perkiraan WHO, 1/3 penduduk dunia saat ini telah terinfeksi M. tuberculosis, tetapi orang yang terinfeksi M. tuberculosis tidak selalu menderita penyakit TBC. Dalam hal ini, imunitas tubuh sangan berperan untuk membatasi infeksi sehingga tidak bermanifestasi menjai penyakit TBC. Penyebab kelaian ini adalah nekrotik jaringan paru oleh basil Mycobacterium tuberculosis.

Gagal Ginjal disebabkan oleh penyakit serius yang diderita oleh tubuh yang mana secara perlahan-lahan berdampak pada kerusakan organ ginjal. Adapun beberapa penyakit yang sering berdampak pada kerusakan ginjal adalah :

Penyakit tekanan darah tinggi (Hypertension) Penyakit Diabetes Mellitus (Diabetes Mellitus) Adanya sumbatan pada saluran kemih (batu, tumor, penyempitan/striktur) Kelainan autoimun, misalnya lupus eritematosus sistemik Menderita penyakit kanker (cancer) Kelainan ginjal, dimana terjadi perkembangan banyak kista pada organ ginjal itu sendiri (polycystic kidney disease) Rusaknya sel penyaring pada ginjal baik akibat peradangan oleh infeksi atau dampak penyakit darah tinggi. Istilah kedokterannya disebut sebagai glomerulonephritis.

Adapun penyakit lainnya yang juga dapat menyebabkan kegagalan fungsi ginjal apabila tidak cepat ditangani antara lain adalah ; Kehilangan carian banyak yang mendadak (muntaber, perdarahan, luka bakar), serta penyakit lainnya seperti penyakit Paru (TBC), Sifilis, Malaria, Hepatitis, Preeklampsia, Obat-obatan dan Amiloidosis. Menurut Brunner & Suddarth (2002),menyatakan tiga kategori utama penyebab gagal ginjal akut antara lain: a. Prarenal (hipoperfusi ginjal) Penyebabnya adalah karena kekurangan cairan mendadak (dehidrasi) seperti pada pasien muntaber yang berat atau kehilangan darah yang banyak (Lumenta & Nefro, 2004 :65), vasodilatasi (sepsi dan anafilaksis), gangguan fungsi jantung (infark miokardium, gagal jantung kongestif, syok kardiogenik). b.Intrarenal

Penyebabnya adalah akibat dari kerusakan struktur glomerulus atau tubulus ginjal. Kondisi seperti rasa terbakar, cedera akibat benturan, infeksi, agen nefrotoksik, adanya hemoglobin dan mioglobin akibat cedera terbakar mengakibatkan toksik renal/ iskemia atau keduanya, transfusi terus menerus dan pemakaian obat anti inflamasi nonsteroid (NSAID). c. Pasca renal Yang termasuk kondisi penyebab pascarenal antara lain : Obstruksi traktus urinarius, batu, tumor, BPH, striktur uretra dan bekuan darah.

2.3 EPIDEMIOLOGI Tuberculosis (TBC) merupakan penyakit yang dikenal sebagai penyebab kematian yang paling menakutkan. Sampai saat ini Robert Koch menemukan bahwa penyakit ini masih termasuk penyakit yang mematikan. Istilah saat ini untuk penyakit yang mematikan ini adalah consumption. Sampai saat ini masih menganut paham bahwa penularan TB adalah melalui kebiasaan meludah di sembarang tempat dan ditularkan melalui debu dan lalat. Di negara maju seperti Eropa Barat dan Amerika Utara, angka kesakitan maupun angka kematian TB paru pernah menurun secara tajam. Di Amerika Utara, saat awal orang Eropa berbondonh-bondong bermigrasi ke sana, kematian akibat TB pada tahun 1850 sebesar 650 per 100.000 penduduk, tahun 1860 turun menjadi 400 per 100.000 penduduk, di tahun 1900 menjadi 2100 per 100.000 penduduk, tahun 1920 turun lagi menjadi 100 per 100.000 penduduk dan pada tahun 1969 turun drastic menjadi 4 per 100.000 penduduk per tahun. Angka kematian karena tuberculosis di Amerika Serikat pada tahun 1976 telah turun menjadi 1,4 per 100.000 penduduk. Pada Gagal Ginjal, jumlah penderitanya meningkat akhir-akhir ini. Penanganan Gagal Ginjal memerlukan biaya tinggi namun memiliki hasil akhir yang belum memuaskan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan secara epidemiologi deskriptif pasien Gagal Ginjal yang menjalani hemodialisis (HD) di Instalasi Hemodialisis RS Margono Soekarjo Purwokerto. Penelitian dilakukan dari tanggal 7-26 Maret 2005 dengan 56 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 39,3% berumur 43-<56,69,6% laki-laki, 89,3% berstatus kawin, berpendidikan Perguruan Tinggi 35,7%. Pekerjaan sebagai PNS yaitu 35,7% namun berubah setelah sakit yang tertinggi adalah tidak bekerja sebanyak 44,6%. Penghasilan 2-3 juta perbulan sebanyak 57,1% setelah sakit menjadi 39,3%. Asal Kabupaten Banyumas 44,6%. Tempat tinggal pasien 71,4% daerah pegunungan, dan 60,7% adalah warga pedesaan. Tempat pelayanan kesehatan yang sering digunakan Puskesmas mencapai 57,1%. 58,9% menjalani HD kurang dari 1 tahun, lama sakit yang menyebabkan HD 37,5% di atas 1 tahun, lama sakit yang menyebabkan HD 37,5% di atas 5 tahun. Penyebab menjalani HD 75% Penyakit ginjal, dan 48,2% Nephrosclerosis Hipertensi, 83,9% tidak memiliki riwayat keturunan Penyakit Ginjal. 57,1% sering mengunsumsi obat antipiretik. 62,5% memiliki riwayat hipertensi

dan hanya 17,9% yang mempunyai riwayat kontak denagn zat kimia. Kesimpulan kelompok umur terbanyak adalah 43-56 tahun, laki-laki sehingga mempengaruhi pekerjaan dan penghasilan, mayoritas berasal dari Kabupaten Banyumas dan kasus baru kurang dari 1 tahun. Penyebab tertinggi adalah penyakit ginjal dan nephrosclerosis hipertensi. Sebagian memiliki riwayat konsumsi analgesik/anti piresik. Saran pedeteksian secara dini perlu dilakukan namun orang yang berumur 40 tahun ke atas diharap lebih waspada. 2.4 KLASIFIKASI Pada TBC penentuan klasifikasi dibagi menjadi dua yaitu klasifikasi penyakit dan klasifikasi tipe penderita seperti di bawah ini : 2.4.1 Klasifikasi Penyakit 1. Tuberculosis Paru Tuberculosis paru adalah tuberculosis yang menyerang jaringan paru, tidak termasuk pleura (selaput paru). Berdasarkan pemeriksaan dahak, TB paru dibagi menjadi 2 yaitu : a. Tuberculosis Paru BTA positif b. Tuberculosis Paru BTA negatif 2. Tuberculosis Extra Paru Tuberculosis yang menyerang organ tubuh selain jaringan paru, misalnya pleura, selaput otak, selaput jantung, kelenjar limfe, tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin dan lain-lain. Berdasarkan tingkat keparahannya, TB Extra Paru dibagi menjadi 2 yaitu : a. Tuberculosis Extra Paru Ringan Misal : TB kelenjar limfe, pleuritis eksudatif unilateral, tulang (kecuali tulang belakang), sendi, dan kelenjar adrenal. b. Tuberculosis Extra Paru Berat Misal : meningitis, milier, perikarditis, peritonitis, pleuritis eksudatif dupleks, TB tulang belakang, TB usus, TB Ginjal, TB saluran kencing dan alat kelamin.

2.4.2

Klasifikasi Tipe Penderita

Tipe penderita ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. Asa beberapa tipe penderita, yaitu : 1. Kasus Baru adalah penderita yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari 1 bulan (30 dosis harian). 2. Kambuh (relaps) adalah penderita TB yang sebelumnya pernah mendapatkan terapi TB dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, kemudian kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan darah BTA positif. 3. Pindahan (transfer in) adalah penderita TB yang sedang mendapatkan pengobatan di suatu kabupaten lain dan kemudian pindah berobat ke kabupaten ini. Penderita tersebut harus membawa surat rujukan / pindahan (FORM TB 09). 4. Kasus berobat setelah lalai (pengobatan setelah default / droup out) adalah penderita TB yang kembali berobat dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif setelah putus berobat 2 bulan atau lebih. 5. Gagal terapi Adalah penderita BTa positif yang masih tetap positif atau kembali menjadi positif pada akhir bulan ke-5 atau lebih. Adalah penderita BTA negatif, rongen positif yang menjadi BTA positif pada akhir bulan ke-2 pengobatan.

6. Lain lain Semua penderita lain yang tidak memenuhi persyaratan tersebut diatas. Termasuk dalam kelompok ini adalah kasus kronik (adalah penderita yang masih BTa positif setelah menyelesaikan pengobatan ulang dengan kategori 2).

Gagal Ginjal Kronik (GGK) adalah suatu sindrom klinis yang disebabkan penurunan fungsi ginjal yang bersifat menahun, berlangsung progresif dan cukup lanjut dengan Laju Filtrasi Glomerulus (LFG) kurang dari 50 ml/menit. Gagal ginjal kronik dibedakan menjadi 5 stadium seperti di bawah ini : Stadium 1 2 3 4 Deskripsi Kerusakn ginjal dengan GFR normal atau meningkat Kerusakan ginjal dengan penurunan GFR ringan Penurunan GFR sedang Penurunan GFR berat GFR (ml/mnt/1,73m2) >90 60-89 30-59 15-29
6

Gagal Ginjal

<15 / dialysis

2.5 GEJALA KLINIS dan PEMERIKSAAN FISIK Penderita TBC akan mengalami berbagai gangguan kesehatan, seperti batuk berdahak kronis, demam subfebris, berkeringat tanpa sebab pada malam hari, sesak nafas, nyeri dada, dan penurunan nafsu makan. Semuanya itu dapat menurunkan prouktivitas penderita bahkan kematian. Gejala umum : batuk terus menerus dan berdahak selama 3 minggu atau lebih Gejala lain : dahak bercampur darah batuk darah sesak nafas dan nyeri dada badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun, rasa kurang enak badan (malaise), berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan, demam meriang lebih dari 1 bulan. Pemeriksaan pertama pada TBC mungkin ditemukan konjungtiva mata atau kulit yang pucat karena anemia, suhu demam (subfebris), badan kurus atau berat badan menurun.Pada tempat kelaina lesi TBC perlu di curiai bagia apeks paru. Bila dicurigai infiltrate yang agak luas, maka akan didapatkan perkusi yang redup dan auskutasi bronkial. Akan didapatkan juga suara nafas tambahan berupa ronki basah, kasar, nyaring. Tetapi bila infiltrat ini diliputi oleh penebaan pleura, suara nafasnya menjadi vesikuler lemah.

Pada Gagal Ginjal dapat gejala-gejala yang ditemukan dari anamnesa dan pemeriksaan fisik pasien adalah sebagai berikut : Kencing terasa kurang dibandingkan dengan biasanya. Kencing berubah warna, berbusa, atau sering bangun malam hari untuk kencing.
-

Sering bengkak di kaki, perlangan ,dan muka karena ginjal tidak


bisa membuang air yang berlebihan.

Lekas capai atau lemah, akibat kotoran tidak bisa dibuang oleh ginjal.

Sesak nafa, akibat air mengumpul di paru-paru. Keadaan ini sering disaalahartikan sebagai asma atau kegagalan jantung.

Nafas bau Karena adanya kotoran yang mengumpul di ronga mulut.

Rasa pegal di punggung Gatal di bagian ekstremitas bawa Kehilangan nafsu makan , mual dan muntah.

2.6 PEMERIKSAAN PENUNJANG 2.6.1 Pemeriksaan Penunjang pada pasien TBC adalah sebagai berikut : a. Tuberculine skin test Dilakukan dengan menginjeksi secara intracutaneous 0,1 ml Tween-stabilized liquid PPD pada bagian punggung dari lengan bawah. Dalam waktu 48-72 jam, area yang menonjol (indurasi), bukan eritema, diukur. Ukuran tes Mantoux ini sebesar 5mm diinterpretasikan positif pada kasus-kasus :
8

1. individu yang memiliki atau dicurigai terinfeksi HIV. 2. memiliki kontak yang erat dengan penderita TBc yang infeksius. 3. individu dengan rotgen dada yang abnormal yang mengindikasikan gambaran proses oenyembuhan TBC yang lama, yang sebelumnya tidak mendapatkan terapi OAT yang adekuat. 4. individu yang menggunakan narkoba dan status HIV-nya tidak diketahui. Sedangkan ukuran 10mm uji tuberculin dianggap positif biasanya pada kasus-kasus seperti : 1. individu dengan kondisi kesehatan tertent, kecuali HIV. 2. individu yang menggunakan narkoba (jika status HIV nya negatif). 3. Tidak mendapatkan pelayanan kesehatan, populasi dengan pendapatan yang rendah, termasuk ras dan etnik yang beresiko tinggi. 4. penderita yang lama MRS. 5. anak kecil yang berusia kurang dari 4 tahun. b. Pemeriksaan Radiologis Adanya infeksi primer digambarkan dengan nodul terkalsifikasi pada bagian perifer paru dengan kalsifikasi dari limfe nodus hilus. Sedangkan proes reaktifasi TB akan memberi gambaran : 1. Nekrosis 2. Cavitas (pada posisi apical lordotik) 3. Fibrosis dengan retraksi region hilus

4. Bronchopneumonia 5. Infiltrate interstitial 6. Pola milier TB pleurisy, memberikan gambaran efusi pleura yang biasanya terjadi secara massif. Aktivitas dari kuman TB tidak bisa hanya ditegakkan dengan hanya 1 kai pemeriksaan rotgen dada, tetapi harus dilakukan serial rotgen dada. Tidak hanya melihat apakah penyakit tersebut dalam proses progresi atau regresi.

c. Pemeriksaan Sputum Pemeriksaan sputum adalah penting, karena dengan ditemukannya kuman BTA, diagnosis tuberculosis sudah dapat dipastikan. Kriteria BTA positif adalah bila sekurang-kurangnya ditemukan 3 batang kuman BTA pada satu sediaan.

10

2.6.2 Pemeriksaan Penunjang untuk Gagal Ginjal adalah sebagai berikut : 1.Laboratorium Pemeriksaan laboratorium mencakup: serum elektrolit ( potasium, sodium, kalsium dan pospat), Hb (klien dengan CRA pada umumnya tidak memperlihatkan anemia berat), sedimen urine (sel darah merah), mioglobin atau hemoglobin dan elektrolit lain. 2.Radiologi Radiologi digunakan untuk mengetahui ukuran ginjal, melihat adanya obstruksi di renal pelvis, ureter dan ginjal. CT (Computed tomographic (CT) scans tanpa zat kontras dapat dilakukan untuk mengetahui adanya obstruksi atau tumor. Kontras media dapat digunakan untuk mengetahui adanya trauma ginjal. Arterialangiography mungkin diperlukan untuk mengetahui pembuluh darah ginjal dan aliran darah. 3.Pemeriksaan lain Biopsi ginjal mungkin diperlukan bila penyebab utama belum bisa ditegakkan. 2.7 PENATALAKSANAAN 2.7.1 Penatalaksanaan untuk terapi pasien TBC sebagai berikut : Kategori 1 2RHZE / 4R3H3 2RHZE / 4RH 2RHZE / 6HE

Obat ini diberikan untuk : penderita baru TBC Paru BTA positif, Penderita TBC Paru BTA negatif Rontgen Positif yang sakit berat dan Penderita TBC Extra Paru Berat. Kategori 2 2RHZES / RHZE / 5R3H3E3 2RHZES / RHZE / 5RHE

Obat ini diberikan untuk : penderita kambuh (relaps), penderita gagal (failure), Penderita dengan pengobatan secara lalai (after default). Kategori 3 2RHZ / 4R3H3
11

2RHZ / 4RH 2RHZ / 6HE

Obat ini diberikan untuk : penderita baru BTA negatif dan rontgen positif sakit ringan, pemderita extra paru ringan, yaitu : TBC kelenjar limfe (limfadenitis), pleuritis eksudativa unilateral, TBC kulit, TBC tulang (kecuali tulang belakang), sendi dan kelenjar adrenal. Kategori 4 INH seumur hidup dan vit B6 10 mg Second line OAT, mis : Kanamycin, Quinolon.

Obat ini diberikan untuk : penderita TBC Paru Kronis, BTA positif walau sudah selesai terapi kategori 1, TBC BTA positif setelah retreatment. OAT Sisipan (RHZE) Bila pada akhir tahap intensif katagori 1 atau pengobatan ulanh katagori 2, BTA masih positif, diberikan OAT sisipan selama 1 bulan.

Saat ini telah dilakukan pengobatan TBC secara efektif dan dalam waktu yang relative singkat. Program pengobatan tersebut dikenal dengan nama DOTS (Direct Observed Treatment Shortcourse). Oabat yang digunakan adalah kombinasi Rifampicin, Isoniazid, Pyrazinamid, Ethambutol dan Streptomycin. Pengobatan dilakukan dalam waktu 6-8 bulan secara intensif dengan diawasi seorang PMO (Pengawas Menelan Obat) untuk meningkatkan ketaatan penderita dalam inum obat. 2.7.2 Penatalaksanaan untuk terapi Gagal Ginjal adalah sebagai berikut : Istirahat Diit : Jumlah cairan : 500ml + urine + insensibel loss Keseimbangan elektrolit : Na sampai 500mg/hari , K sebaiknya dihindari. Makanan yang mengandung fosfat dibatasi Kalori cukup : 2000-3000 kalori ( karbohidrat minimal 200gram/hari) Protein dibatasi : 0.3 0.5 gram/kg BB/hari Lemak bebas diberikan. Vitamin B kompleks

Medikamentosa : Antibiotik bila ada infeksi. Dilakukan dialisis bila ada indikasi

12

Dialisis Dialisis dapat dilakukan untuk mencegah komplikasi gagal ginjal akut yang serius, seperti hiperkalemia, perikarditis dan kejang. Perikarditis memperbaiki abnormalitas biokimia ; menyebabkan caiarn, protein dan natrium dapat dikonsumsi secara bebas ; menghilangkan kecendurungan perdarahan ; dan membantu penyembuhan luka. Penanganan hiperkalemia Keseimbangan cairan dan elektrolit merupakan masalah utama pada gagal ginjal akut ; hiperkalemia merupakan kondisi yang paling mengancam jiwa pada gangguan ini. Oleh karena itu pasien dipantau akan adanya hiperkalemia melalui serangkaian pemeriksaan kadar elektrolit serum ( nilai kalium > 5.5 mEq/L ; SI : 5.5 mmol/L), perubahan EKG (tinggi puncak gelombang T rendah atau sangat tinggi), dan perubahan status klinis. Pningkatan kadar kalium dapat dikurangi dengan pemberian ion pengganti resin (Natrium polistriren sulfonat [kayexalatel]), secara oral atau melalui retensi enema.

Mempertahankan keseimbangan cairan Penatalaksanaan keseimbanagan cairan didasarkan pada berat badan harian, pengukuran tekanan vena sentral, konsentrasi urin dan serum, cairan yang hilang, tekanan darah dan status klinis pasien. Masukkan dan haluaran oral dan parentral dari urine, drainase lambung, feses, drainase luka dan perspirasi dihitung dan digunakan sebagai dasar untuk terapi penggantia cairan. Hemodialisis : pengobatan yang paling sering digunakan untuk pasien gagal ginjal. Pasien mengalami dialisis tiga kali seminggu. Dialisis menggantikan 3 fungsi ginjal manusia yakni : 1. Membersihkan darah yang mengandung produk-produk berbahaya. 2. Ekskresi cairan 3. Menyeimbangkan elektrolit Transplantasi Ginjal (cangkok ginjal)

2.7.3 PengobatanTBC dengan Gagal Ginjal Pemilihan OAT seperti Isoniasid (H), Rifampicin (R), dan Pirasinamid (Z) untuk pasien dengan gagal ginjal dianjurkan, karena ketiga obat tersebut dapat di ekskresi melalui empedu dan dapat dicerna menjadi senyawasenyawa yang tidak toksik. OAT jenis ini dapat diberikan dengan dosis standar pada pasien-pasien dengan gangguan ginjal.

13

Sedangkan Streptomicin dan Etambutol diekskresi melalui ginjal, oleh karena itu harus di hindari penggunaannya pada pasien dengan gangguan ginjal. Apabila fasilitas pemantauan faal ginjal tersedia, Etambutol dan Streptomicin tetap dapat diberikan dengan dosis sesuai faal gijal. Panduan OAT yang paling aman untuk pasien dengan gagal ginjal adalah 2RHZ/6RH. 2RHZ artinya pada fase intensif digunahan Rifampicin, INH, dan Pirazinamid, setiap hari selama 2 bulan. 6RH pada fase lanjutan.

BAB III KESIMPULAN

TB adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium Tuberculosis Kuman Mycobacterium Tuberkulosis bebentuk batang, tahan asam, mati apabila terkena sinar matahari, anaerob, dapat bertahan hidup di tempat gelap dan lembab. Penularan : melalui udara droplet infeksi (droplet nuclei) Merupakan penyebab kematian utama oleh penyakit infeksi. Berdasarkan organ tubuh yang terkena TB dibagi menjadi 2 kategori : 1. TB Paru (Pulmonal) : TB yang menyerang jaringan (parenkim) paru. 2. TB Ekstra Paru (Ektra Pulmonal) : TB yang menyerang organ tubuh lain selain paru, misalnya : pleura, selaput otak, selaput jantung (perikardium), kelenjar limfe, tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, dll.

TB yang menyerang ginjal disebut Renal Tuberkulosis.

14

Ginjal terinfeksi oleh penyebaran hematogen basil M. tuberculosa dari infeksi pusat di paru-paru. Lesi TB yang terjadi di paru-paru memiliki kemungkinan untuk dapat masuk ke sistem vaskular oleh erosi dari dinding vena, biasanya pembuluh darah, maka dapat terjadi emboli yang mengandung bakteri sehingga dapat disebarkan ke seluruh tubuh, termasuk ginjal. Tuberculosis dapat menyebabkan gagal ginjal oleh dua mekanisme yang melibatkan infeksi mekanik dalam parekim ginjal atau obstruktif uropati. Gejala :
Batuk produktif > 3 minggu

Anoreksia Berat badan menurun Demam yang bersifat intermitten Keringat malam Urine sedikit Hematuria Nyeri di daerah pinggang.

Pemeriksaan Penunjang : Test Mantoux positif Sputum BTA positif Foto Thorax gambaran infiltrate Pemeriksaan urine menunjukan Pyuria Pemeriksaan GFR kurang dari 40 mlmenit (normal 85135/menit)

PengobatanTBC dengan Gagal Ginjal : Pemilihan OAT seperti Isoniasid (H), Rifampicin (R), dan Pirasinamid (Z) untuk pasien dengan gagal ginjal dianjurkan, karena ketiga obat tersebut dapat di ekskresi melalui empedu dan dapat dicerna menjadi senyawasenyawa yang tidak toksik. OAT jenis ini dapat diberikan dengan dosis standar pada pasien-pasien dengan gangguan ginjal. Sedangkan Streptomicin dan Etambutol diekskresi melalui ginjal, oleh karena itu harus di hindari penggunaannya pada pasien dengan gangguan
15

ginjal. Apabila fasilitas pemantauan faal ginjal tersedia, Etambutol dan Streptomicin tetap dapat diberikan dengan dosis sesuai faal gijal. Panduan OAT yang paling aman untuk pasien dengan gagal ginjal adalah 2RHZ/6RH. 2RHZ artinya pada fase intensif digunahan Rifampicin, INH, dan Pirazinamid, setiap hari selama 2 bulan. 6RH pada fase lanjutan. Hemodialisis : pengobatan yang paling sering digunakan untuk pasien gagal ginjal. Pasien mengalami dialisis tiga kali seminggu. Dialisis menggantikan 3 fungsi ginjal manusia yakni : 4. Membersihkan darah yang mengandung produk-produk berbahaya. 5. Ekskresi cairan 6. Menyeimbangkan elektrolit Transplantasi Ginjal (cangkok ginjal).

DAFTAR PUSTAKA

1. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberculosis, Departemen Kesehatan RI, Jakarta ; 2002.

16

2. Pedoman Diagnosis dan Terapi SMF Ilmu Penyakit Paru, RSU dr. Soetomo, Surabaya ; 2005 3. http://www.slideshare.net/Firla24/tb dan gangguan ginjal 4. http://distributor4lifeindonesia.wordpress.com/2009/03/26/ciri-ciri-tbc-dan-pengobatan -tbc/

17