Anda di halaman 1dari 8

BAB 2 Sejarah Manajemen

2.1 Menguraikan latar belakang histories ilmu manajemen 2.2 Menjelaskan berbagai teori dalam pendekatan klasik 2.3 Menguraikan pendekatan kuantitatif 2.4 Membahas pembangunan dan menggunakan pendekatan perilaku (behavioral approach) 2.5 Membahas berbagai teori dalam pendekatan kontemporer

2.1 Latar Belakang Sejarah Manajemen


Manajemen telah dipraktikkan sejak lama. Usaha-usaha terorganisasi yang diarahkan dan diatur oleh orang-orang yang bertanggung jawab menjalankan fungsi perencanaan, penataan, kepemimpinan, dan pengendalian telah ada sejak ribuan tahun silam. Bangunan piramida di mesir, merupakan bukti nyata yang menunjukkan bahwa pembangunan piramida ini melibatkan lebih dari 100.000 orang pekerja yang berlangsung selama 20 tahun. Yang bertanggung jawab atas pekerjaan orang tersebut adalah manajer. Terlepas dari apa sebutan mereka pada masa itu, orang-orang ini harus merencanakan pekerjaan apa yang akan diselesaikan, menata orang-orang dan bahan baku, memimpin dan mengarahkan para pekerja, dan menerapkan suatu bentuk kontrol yang memastikan segala sesuatu sesuai rencana. Ada dua kejadian yang mendapat perhatian khusus dalam sejarah manejemen. Pertama, pada tahun 1776, Adam Smith menerbitkan karyanya yang berjudul The Wealth of Nations, ia menggagas manfaat yang dapat diperoleh organisasi dan masyarakat pada umumnya dari penerapan pembagian kerja (division of labor) yaitu pemisahan tugas dan tanggung jawab ke dalam bidang-bidang sempit dan khusus, serta di lakukan secara berulang-ulang. Pembagian pekerjaan masih terus digunakan hingga kini. Sebagai contoh, tugas-tugas spesifik yang dijalankan oleh posisi pemain dalam sebuah kesebelasan sepak bola. Kedua, revolusi industri yang berdampak pada menjadi ekonomisnya produksi barang di pabrik-pabrik daripada rumah-rumah melalui proses manufaktur. Dalam keadaan ini dibutuhkan manajer untuk mengelola pabrik-pabrik tersebut, dan para manajer membutuhkan teori-teori manajemen formal untuk dijadikan panduan dalam mengelola. Ada empat pendekatan utama dalam ilmu manajemen teoritis yaitu pendekatan klasik, pendekatan kuantitatif, pendekatan perilaku (behavioral), dan pendekatan kontemporer. Keempat, pendekatan ini merupakan faset dari manajemen secara keseluruhan dan secara bersama-sama dapat menyumbangkan pemahaman yang utuh dan menyeluruh bagi kita mengenai manajemen. Tetapi secara sendiri-sendiri masing-masing pendekatan ini hanya memberikan gambaran terbatas mengenai manajemen.

2.2 Pendekatan Klasik


Pengkajian formal manajemen baru dimulai pada awal abad kesepuluh. Kajian awal manajemen, yang dikenal sebagai pendekatan klasik, berfokus pada rasionalitas dan berusaha menjadikan organisasi dan para pekerja berfungsi seefisien mungkin. Dua teori utama pendekatan klasik adalah manajemen ilmiah dan administratif umum. Manajemen Ilmiah manajemen ilmiah adalah sebuah pendekatan manajemen yang menerapkan metodemetode ilmiah dalam rangka menemukan "satu cara terbaik" untuk melakukan sebuah pekerjaan.

teori manajemen modern lahir pada tahun 1911, yang pada tahun ini karya Frederick Winslow Taylor yang berjudul Principles of Scientific Manajemen (Prinsip-Prinsip Manajemen Ilmiah) pertama kali di terbitkan. Taylor bekerja di Midvale dan Bethlehem Steel Company di Pennsylvania, A.S. Sebagai seorang insinyur teknik menin. Ia melihat tidak efisiensinya para pekerja, mereka menggunakan teknik yang berbeda satu sama lain dalam mengerjakan tugas yang sama,mereka sering 'bersantai dan menyepelekan' tugas mereka. Taylor percaya bahwa output yang akan dihasilkanhanya sepertiga dari apa yang sebenarnya dapat diperoleh. Kemudian Taylor memperbaiki situasi ini dengan menyusun aturan-aturan kerja baku guna memperbaiki efisiensi produksi, ia menggagas empat prinsip manajemen, yang dapat membawa kesejahteraan baik bagi pekerja dan manajemen. prinsip-prinsip manajemen ilmiah Taylor: 1. Mengembangkan sebuah pendekatan ilmiah untuk tiap unsur-unsur dalam sebuah pekerjaan untuk mengganti metode lama yang didasarkan pada kebiasaan. 2. Secara ilmiah memilih pekerja yang paling tepat, dan kemudian melatih, mendidik, dan membina pekerja tersebut. 3. Bekerja sama secara sungguh-sungguh dengan para pekerja demi memastikan bahwa mereka menjalankan semua tugas sesuai dengan aturan-aturan kerja yang telah dikembangkan secara ilmiah. 4. Membagi beban kerja dan tanggung jawab secara hampir merata di antara manajemen dan pekerja. Taylor yang dikenal sebagai Bapak Manajemen Ilmiah, menelaah penerapan metodemetode ilmiah dalam berbagai pekerjaan manual, ia menyusun sebuah panduan untuk memeperbaiki efesiensi produksi demi menemukan "salah satu cara terbaik" untuk melakukan setiap pekerjaan. Diantara para pengikut pemikiran Taylor yang paling terkemuka terdapat Frank dan Lilian Gilbreth yang menemukan gerakan-gerakan tangan dan tubuh yang paling efisien dan merancang berbagai peralatan tepat untuk mengoptimalkan kinerja pekerjaan, Teori Administrasi Umum Teori administrasi umum adalah pendekatan manajemen yang menitiberatkan pada menjabarkan hal-hal yang dikerjakan seorang manajer dan praktik-praktik manajemen yang baik. Hendrik Fayol fayol menguraikan bahwa praktik manajemen merupakan hal yang berbeda dengan akuntansi, keuangan, produksi, distribusi dan fungsi-fungsi bisnis lainnya. Ia percaya bahwa manajemen merupakan aktivitas yang secara garis besar sama di dalam organisasi,baik bisnis,pemerintah, bahkan rumah tangga. Ia mengembangkan 14 prinsip manajemen yang telah menurunkan banyak konsep manajemen yang dikenal saat ini yaitu: 1. Pembagian kerja 2. Kewenangan 3. Disiplin

4. Kesatuan Pemerintah 5. Kesatuan Arahan 6. Pendudukan kepentingan pribadi di bawah kepentingan umum 7. Remunerasi (balas jasa) 8. Pemusatan (sentralisasi) 9. Rantai Skalar 10. Keteraturan 11. Keselayakan (ekuitas) 12. Kestabilan posisi dan jabatan karyawan 13. Inisiatif 14. Esprit de corps (semangat kekeluargaan) Max Weber Max Weber adalah sosiolog kebangsaan Jerman yang mendalami bidang organisasi. Ia menggagas dan mengembangkan sebuah teori mengenai struktur otoritas dan hubungan-hubungan kewenangan berdasarkan sebuah model organisasi ideal yang dinamakan birokrasi. Suatu birokrasi yang ideal dicirikan adanya pembagian kerja, hierarki kewenangan, pemilihan formal, arahan dan peraturan formal, impersonalitas, dan orientasi karier. weber mengakui "birokrasi ideal" ini tidak ada di dalam dunia nyata. Ia memaksudkan hanya sebagai suatu landasan berpijak (model) baginya untuk berteori mengenai bagaimana pekerjaan dilakukan di dalam kumpulan-kumpulan besar manusia. Birokrasi weber ini sampai saat ini masih dijadikan acuan oleh banyak organisasi, dan menjadi bukti pentingnya ide-ide tersebut dalam ranah manajemen. Bagaimana para manajer masa kini menerapkan manjemen ilmiah dan teori administrasi umum Para manajer masa kini memanfaatkan konsep-konsep manajemen ilmiah ketika mereka menganalisis tugas-tugas pekerjaan dasar, menggunakan hasil-hasil kajian waktu dan gerakan untuk menghilangkan gerakan-gerakan yang sia-sia di dalam pekerjaan, memperkerjakan orang-orang dengan kualifikasi yang paling tepat untuk pekerjaan mereka, merancang sistem yang intensif berdasarkan output kerja. Para manajer dalam memanfaatkan teori administrasi umum dalam menjalankan fungsifungsi manajemen dan dalam menata organisasi mereka untuk menjadikan penggunaan sumber-sumber daya efisiensi dan efektif.

2.3 Menguraikan Pendekatan Kuantitatif


Pendekatan Kuantitatif Meskipun bagi para penumpang, saling berdesakan dan bertubrukan saat mencari tempat duduk mereka di sebuah pesawat terbang mungkin hal yang biasa, bagi perusahaan penerbangan hal ini bias dipandang sebagai masalah serius. Itu disebabkan akan terjadinya antrian yang memperlambat pesawat untuk kembali mengudara. Dengan memanfaatkan penelitian di bidang geometri ruang-waktu, perusahaan America West

Airlines baru-baru ini merancang sebuah proses inovatif untuk menaikkan penumpang ke dalam pesawat terbang disebut piramida terbalik (reverse-pyramid), yang terbukti berhasil memotong waktu tunggu pesawat paling tidak 2 menit dalam menaikkan penumpang. Hal ini merupakan salah satu contoh penerapan penerapan kuantitatif, yang menerapkan teknik-teknik kuantitatif untuk memperbaiki proses pengambilan keputusan yang dikenal sebagai sains manajemen (management science). Sejumlah Kontribusi Penting Pendekatan kuantitatif lahir dan berkembang dari solusi-solusi matematika dan statistika yang diciptakan untuk memecahkan masalah militer dalam Perang Dunia II. Setelah berkahirnya perang, banyak di antara teknik-teknik yang sebelumnya diperuntukkan bagi kepentingan militer ini kemudian diterapkan ke dalam bisnis. Apa tepatnya pendekatan kuantitatif itu? Pendekatan ini melibatkan penggunaan statistika, model-model optimasi, model-model informasi, simulasi komputer, dan berbagai teknik kuantitatif lainnya dalam aktivitas-aktivitas manajemen. Pemograman linier misalnya adalah sebuah teknik yang digunakan para manajer untuk membantu mereka mengambil keputusan yang terkait dengan alokasi sumber daya. Model kuantitas pemesanan ekonomis dapat membantu para manajer menentukan jumlah barang persediaan yang optimal. Masing-masing dari hal yang disebutkan ini adalah contoh penggunaan teknik kuantitatif dalam membantu proses pengambilan keputusan. Manajemen Mutu Total Manajemen mutu total (total uality management, TQM) adalah sebuah falsafah manajemen yang sepenuhnya berfokus pada upaya-upaya perbaikan secara terus-menerus dan kemampuan menjawab dengan cepat berbagai kebutuhan dan harapan pelanggan. Istilah pelanggan di sini bias berarti siapa saja yang berinteraksi dengan produk-produk dan layanan organisasi, baik secara internal maupun eksternal. Artinya, pelanggan meliputi karyawan organisasi itu sendiri, para mitra pemasok organisasi, dan orang-orang yang membeli produk dan layanan organisasi. Perbaikan berkesinambungan (continuous improvement) tidak mungkin diwujudkan tanpa adanya metode pengukuran yang akurat, yang mempersyaratkan penggunaan teknik statistik untuk mengukur variabel di dalam berbagai proses kerja organisasi. TQM merupakan sebuah pengkhianatan terhadap pendekatan manajemen terdahulu yang terlalu berpegang teguh pada keyakinan bahwa menekan biaya adalah satu-satunya cara untuk meningkatkan produktivitas. Industri mobil A.S. seringkali digunakan sebagai contoh untuk menggambarkan apa jadinya bila para manajer terlalu terobsesi dengan usaha meredam biaya semata. Perusahaan Jepang berhasil membuktikan bahwa menjadi pabrikan berkualitas prima dan sekaligus produsen yang termasuk berbiaya paling rendah bukanlah hal yang mustahil. Banyak perusahaan pabrikan dari berbagai industri telah menyadari arti penting manajemen mutu dan menerapkan banyak komponen-komponen dasar pendekatan ini.

Bagaimana Para Manajer Masa Kini Menerapkan Pendekatan Kuantitatif Pendekatan kuantitatif memberikan kontribusi langsung dalam proses pengambilan keputusan manajemen, khususnya dalam bidang perencanaan dan pengendalian. Sebagai contoh, ketika seorang manajer melakukan penyusunananggaran, penjadwalan, peengendalian mutu, dan pengambilan keputusan lain semacamnya, ia biasanya mengandalkan bantuan teknik-teknik kuantitatif. Tersedianya beragam perangkat lunak pendukung telah menjadikan teknik-teknik ini tidak lagi nampak begitu menggetarkan bagi para manajer, mseki banyak di antara mereka masih tetap merasa jeri menggunakannya.

2.4 Membahas Pembangunan Dan Menggunakan Pendekatan Perilaku (Behavioral Approach)


Pendekatan Perilaku Seperti yang kita ketahui, para manjer menyelesaikan berbagai pekerjaan dengan bekerja bersama orang-orang lain. Hal ini menjelaskan mengapa sebagian peneliti memilih mengkaji manajemen dengan melihat orang-orang di dalam organisasi. Bidang studi khusus yang mempelajari secara mendalam tindakan-tindakan (perilaku) orang yang bekerja di sebuah organisasi dikenal sebagai perilaku organisasi (organizational behavior, OB). Banyak di antara hal-hal yang dikerjakan oleh para manjer kini dalam mengelola orang-memotivasi, memimpin, membangun kepercayaan, bekerja di dalam tim, mengelola konflik, dsb._merupakan sumbangsih dari berbagai penelitian OB. Para Pendukung Awal Studi Perilaku Organisasi Meskipun sejumlah kalangan di awal abad kedua puluh mengakui pentingnya peranan manusia (orang) dalam menentukan keberhasilan sebuah organisasi, empat nama pemikir mencuat jauh di atas yang lainnya sebagai pendukung awal pendekatan OB: TRobert Owen, Hugo Munsterberg, Mary Parker Follett, dan Chester barnard. Mereka semua meyakini bahwa manusia merupakan kekayaan terpenting yang dimiliki sebuah organisasi, oleh sebab itu harus dikelola secara baik dan benar. Gagasan-gagasan mereka kemudian menjadi landasan bagi praktik manajemen semisal prosedur pemilihan karyawan, program-program motivasi, dan bekerja dalam tim. Kajian-Kajian Hawthorne Kontrbusi terpenting di bidang OB diberikan oleh Kajian-kajian hawthorne, yaitu serangkaian studi yang dilakukan di perusahaan Western Electric Company Works di kota Cicero, Illinois, A.S. kajian ini, pada awalnya dirancang dan dijalankan oleh para insinyur di Western Electric sebagai sebuah eksperimen manajemen ilmiah. Mereka berminat mengetahui pengaruh intensitas penerangan (cahaya) yang berbeda-beda pada produktivitas kerja. Dalam sebuah percobaan ilmiah yang baik, dibentuklah kelompokkelompokpekerja untuk berperan sebagai variabel kendali dan variabel uji, di mana para pekerja yang tergabung dalam kelompok variabel uji diminta untuk bekerja di bawah intensitas penerangan yang berbeda-beda, sedangkan para pekerja kelompok variabel kendali berada di bawah intensitas cahaya yang tetap.

Pada 1927, para insinyur Western Electric meminta seorang professor dan para rekannya untuk bergabung di dalam proyek Kajian Hathorne sebagai konsultan. Maka, dimulailah sebuah kolaborasi yang berlangsung hingga tahun 1932 dan membuahkan banyak hasil eksperimen berkenaan dengan pendefinisian ulang desain pekerjaan (job design), perubahan-perubahan panjang hari kerja (workday) dan minggu kerja (workweek), penetapan aktu istirahat kerja, dan perancangan skema upah individu versus upah kelompok kerja. Para sarjana pada umumnya sependapat bahwa kajian-kajian Hawthorne telah membawa dampak yang dramatis pada pandangan manajemen terhadap peranan manusia di dalam organisasi. Mayo menyimpulkan bahwa perilaku dan sikap seseorang terkait erat dengan orang-orang di sekitarnya, bahwa faktor-faktor kelompok sangat mempengaruhi perilaku individu bahwa aturan-aturan kelompok menetukan output seorang pekerja, dan bahwa ketimbang aturan-aturan kelompok, sikap kelompok, dan rasa aman di dalam kelompok, uang meruapakan faktor yang tidak terlalu berperan dalam meningkatkan output pekerja. Bagaimana Para Manajer Masa Kini Menerapkan Pendekatan Peilaku Pendekatan perilaku telah berperan besar dalam membentuk wajah manajemen organisasi masa kini. Mulai dari cara para manajer mendefinisikan desain pekerjaan. Hingga cara mereka bekerja dengan para karyawan atau tim-tim karyawan hingga cara mereka berkomunikasi, kita dapat menyaksikan adanya berbagai unsure pendekatan perilaku. Ada banyak gagasan yang diusung oleh para pendukung awal OB dan kesimpulan kajian Hawthorne telah dijadikan fondasi bagi perkembangan teori-teori motivasi, kepemimpinan, perilaku dan pembentukan kelompok, serta beragam pendekatan perilaku lainnya yang kita kenal saat ini.

2.5 Pendekatan Kontemporer


Teori Sistem Teori sistem adalah suatu teori dasar di dalam ilmu fisika yang di masa lampau belum pernah diterapkan di dalam organisasi-organisasi manusia. Sebuah sistem adalah sekumpulan bagian yang saling terkait dan saling bergantung antara satu dan lainnya. Yang ditata sedemikian rupa hingga membentuk sebuah kesatuan yang utuh. Dua tipe dasar sistem adalah sistem tertutup dan sistem terbuka. Sistem tertutup tidak dipengaruhi dan tidak pula berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya Sistem terbuka dipengaruhi dan berinteraksi dengan lingkungan tempatnya berada. Pendekatan Sistem bagi Para Manajer Pendekatan sistem mengakui bahwa organisasi tidak sepenuhnya mandiri dan tidak dapat mencukupi dirinya sendiri. Organisasi bergantung pada lingkungannya untuk memperoleh input yang dibutuhkan dan untuk menyerap output yang dihasilkannya

Pendekatan Situasional (contigency approach) Pendekatan ini menyatakan bahwa setiap organisasi bersifat unik, menghadapi situasi-situasi yang berlainan (contigencies), dan membutuhkan dan membutuhkan cara pengelolaan yang berbeda.