Anda di halaman 1dari 39

1

USULAN PRAKTEK MAGANG

TEKNIK PEMBENIHAN ABALON (Haliotis asinina) DI BALAI BUDIDAYA LAUT BATAM PROVINSI KEPULAUAN RIAU

OLEH

ATIKA

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS RIAU PEKANBARU 2012

TEKNIK PEMBENIHAN ABALON (Haliotis asinina) DI BALAI BUDIDAYA LAUT BATAM PROVINSI KEPULAUAN RIAU

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menempuh Ujian Praktek Magang Pada Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan Universitas Riau

OLEH

ATIKA

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS RIAU PEKANBARU 2012

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS RIAU FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

PENGESAHAN PRAKTEK UMUM/MAGANG

Judul

: Teknik Pembenihan Abalon (Haliotis asinina) di Balai Budidaya Laut Batam Provinsi Kepulauan Riau : Atika : 1004114235 : Budidaya Perairan : Budidaya Perairan

Nama Nomor Mahasiswa Jurusan Program Studi

Disetujui Oleh :

Ketua Jurusan Budidaya Perairan

Dosen Pembimbing

Ir. Mulyadi, M.Phil NIP. 1961 1231 1987 02 1009

Ir. Niken Ayu Pamukas, M.Si NIP. 1965 1205 1995 12 2001

KATA PENGANTAR

Alhamdulilah puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat rahmat dan petunjuknya penulis dapat menyelesaikan usulan praktek magang dengan judul Teknik Pembenihan Abalon (Haliotis asinina) di Balai Budidaya Laut Batam Provinsi Kepulauan Riau. Usulan praktek magang ini dibuat sebagai pedoman untuk melakukan praktek magang di Balai Budidaya Laut Batam Provinsi Kepulauan Riau. Penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada Ibuk Ir. Niken Ayu Pamukas, M.Si yang telah bersedia membimbing dalam penyusunan usulan praktek magang ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada seluruh pihak dan rekan-rekan yang telah banyak membantu dalam penyusunan usulan praktek magang ini. Di samping itu, penulis juga mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun untuk kesempurnaan penyusunan usulan praktek magang ini ke arah yang lebih baik. Harapan penulis semoga laporan ini memberi manfaat kepada penulis khususnya dan pembaca umumnya.

Pekanbaru, 26 Desember 2012

ATIKA

ii

DAFTAR ISI

Isi

Halaman i ii iii iv v 1 1 3 3 4 4 5 6 6 7 10 11 11 12 14 14 14 14 15 15 15 19

KATA PENGANTAR .................................................................................... DAFTAR ISI ................................................................................................... DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... DAFTAR TABEL .......................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. I. PENDAHULUAN ..................................................................................... 1.1. Latar Belakang .................................................................................. 1.2. Tujuan Praktek Magang .................................................................... 1.3. Manfaat Praktek Magang .................................................................. II. TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................... 2.1. Biologi dan Taksonomi Abalon (Haliotis asinina) ........................... 2.2. Habitat dan penyebaran Abalon (Haliotis asinina) .......................... 2.3. Pembenihan Abalon (Haliotis asinina).............................................. 2.3.1. Pemeliharaan dan Seleksi Induk ........................................... 2.3.2. Pemijahan .............................................................................. 2.3.3. Pemeliharaan Larva ................................................................ 2.3.4. Pakan dan Kebiasaan Makan Abalon (Haliotis asinina) ....... 2.3.5. Kualitas Air ............................................................................ 2.3.6. Hama dan Penyakit ................................................................ III. METODE PRAKTEK............................................................................. 3.1. 3.2. 3.3. 3.4. 3.5. Waktu dan Tempat ............................................................................ Bahan dan Alat .................................................................................. Metode Praktek ................................................................................. Teknik Pengumpulan Data ................................................................ Analisa Data ...................................................................................... 3.5.1. Data Primer ............................................................................ ........................................................................................................... 3.5.2. Data Sekunder ........................................................................

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

iii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Morfologi Abalon (Haliotis asinina) .........................................................

Halaman 4

iv

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman 15 16 16 16 17 18 18 19 19 20 20 20 21

1. Jumlah Induk Abalon yang dipijahkan di BBL Batam. ........................ 2. Asal Induk Abalon yang dipijahkan di BBL Batam ............................. 3. Tingkah Laku Pemijahan Abalon di BBL Batam ................................. 4. Tingkat Keberhasilan Pemijahan Abalon Secara Alami di BBL Batam .................................................................................................... 5. Parameter Kualitas Air Pada Bak-Bak Pemeliharaan Induk Abalon di BBL Batam............................................................................................ 6. Parameter Kualitas Air Pada Bak-Bak Pemijahan Abalon di BBL Batam .................................................................................................... 7. Parameter Kualitas Air Pada Bak-Bak Pemeliharaan Larva Abalon di BBL Batam............................................................................................ 8. Pemberian Pakan Abalon Pada Tahap Pendederan di BBL Batam ...... 9. Tingkat Pendidikan Tenaga Pelaksana di BBL Batam ......................... 10. Jumlah Pegawai dan Status Kepegawaian di BBL Batam ................... 11. Tingkat Keahlian Tenaga Pelaksana di BBL Batam ............................. 12. Jumlah dan Luas Keramba/Kolam di BBL Batam ............................... 13. Keadaan Sarana dan Prasarana yang Ada di BBL Batam .....................

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Organisasi Praktek Magang .................................................................. 2. Anggaran Biaya ..................................................................................... 3. Jadwal Praktek ...................................................................................... 4. Outline Sementara ................................................................................. 5. Quisioner ...............................................................................................

Halaman 24 25 26 27 28

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Keanekaragaman hayati yang dimiliki bangsa Indonesia dan ketersediaan teknologi memungkinkan dihasilkannya berbagai jenis produk hasil laut melalui akuakultur. Akuakultur bisa diartikan sebagai budidaya jasad perairan, seperti ikan, kerang-kerangan, crustasea dan tanaman air. Dalam budidaya tersebut ada intervensi dalam proses pemeliharaan untuk peningkatan produksi, seperti pembenihan, pemberian pakan, dan pemberantasan hama dan penyakit. Akuakultur atau budidaya perairan dibagi berdasarkan ekosistem perairan, yaitu budidaya air tawar, budidaya air payau dan budidaya air laut. Istilah dari budidaya laut atau marikultur adalah kegiatan budidaya biota akuatik yang dilakukan di laut. Sudradjat (2008) menyatakan bahwa perkembangan budidaya laut di Indonesia dimulai dengan adanya keberhasilan budidaya mutiara oleh perusahaan Jepang pada tahun 1928 di Buton-Sulawesi Tenggara. Selanjutnya, awal tahun 1970-an dilakukan percobaan dan pengembangan budidaya rumput laut (Euchema sp.) di Pulau Samaringa-Sulawesi Tengah, dengan adanya kerja sama antara Lembaga Penelitian Perikanan Laut dan Perusahaan Denmark. Sementara itu, awal tahun 1980-an banyak pengusaha ekspor ikan kerapu hidup di Kepulauan Riau membuat keramba jaring tancap maupun keramba jaring apung sebagai tempat penampungan ikan hidup hasil tangkapan sebelum di ekspor ke Singapura dan Hongkong.

Di dalam Perairan Indonesia hidup berbagai jenis biota laut. Banyak di antaranya yang potensial untuk dibudidayakan karena harga jualnya cukup tinggi dan memiliki pertumbuhan yang relatif cepat. Selain itu, kegiatan budidaya laut yang relatif baru kini mulai berkembang. Komoditas yang dibudidayakan meliputi jenis ikan khususnya ikan kerapu, kakap putih, kakap merah, ikan kuwe, bawal bintang, bawal putih dan bandeng. Selain ikan, di budidayakan jenis crustacea (udang barong), kekerangan (moluska), jenis Echinodermata (teripang), dan rumput laut. Saat ini pengembangan budidaya laut lebih banyak mengarah kepada ikanikan ekonomis tinggi dan tiram mutiara, sementara diperairan Indonesia masih banyak biota-biota laut yang masih bisa dikembangkan dan mempunyai nilai ekonomis tinggi, salah satunya adalah kerang abalon (Haliotis asinina). Pengembangan usaha budidaya kerang abalon dimasa datang mempunyai prospek cukup cerah, mengingat beberapa keunggulan yang dimilikinya baik dari teknik budidaya sampai dengan pemasaran. Abalon termasuk jenis kerang univalve (Cholik et al., 2005) yang dagingnya mempunyai nilai gizi cukup tinggi dengan kandungan protein sebesar 71,99%, dan lemak 3,20%, bahkan harga abalon dipasaran mencapai Rp. 200.000/kg. Cangkangnya juga mempunyai nilai estetika yang dapat digunakan untuk perhiasan, pembuatan kancing baju dan berbagai bentuk barang kerajinan lainnya. Tahang, Imran dan Bangun (2006) menyatakan dengan meningkatnya kebutuhan akan abalon dapat mendorong usaha penangkapan secara intensif sehingga produksi abalon di alam berkurang sementara pertumbuhan abalon

sangat lambat. Hal ini dapat mengakibatkan penurunan populasi abalon secara drastis di alam. Oleh karena itu upaya peningkatan produksi abalon perlu dikembangkan melalui usaha budidaya. Kegiatan magang ini merupakan langkah awal yang tepat bagi mahasiswa perikanan khususnya Program Studi Budidaya Perairan untuk memperoleh pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan mengenai teknik pembenihan abalon yang diharapkan dapat bermanfaat bagi kelangsungan hidup populasi abalon di masa mendatang. 1.2. Tujuan Praktek Magang Tujuan dari praktek magang ini adalah untuk mengetahui dan mempelajari teknik pembenihan abalon (Haliotis asinina) di Balai Budidaya Laut Batam sehingga penulis bisa mengaplikasikan. Selain itu untuk mengetahui permasalahan yang muncul selama kegiatan pembenihan dan mencari alternatif pemecahannya. 1.3. Manfaat Praktek Magang Dari hasil praktek magang ini diharapkan dapat menambah pengetahuan, pengalaman dan keterampilan penulis serta memberikan informasi yang tepat tentang teknik pembenihan abalon (Haliotis asinina), sehingga dapat menerapkan ilmu tersebut di masyarakat dan dapat membuka peluang kerja bagi masyarakat.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Biologi dan Taksonomi Abalon (Haliotis asinina) Menurut Darmawan (1998) dalam Cholik et al (2005) Klasifikasi Abalon adalah sebagai berikut : Kingdom Phylum Class Sub Class : Animalia : Mollusca : Gastropoda : Archaeogastropoda

Super Family : Pleuromariaceae Family Genus Spesies : Haliotidae : Haliotis : Haliotis asinina

Gambar 1. Morfologi Abalon (Haliotis asinina)


Sumber: my.opera.com

Abalon memiliki satu cangkang yang terletak pada bagian atas tubuh, cangkang berbentuk seperti telinga yang menutupi bagian tubuh yang lunak. Cangkang abalon bewarna abu-abu sampai warna merah sesuai dengan tipe karang di habitatnya (FAO, 1995). Sudradjat (2008) menambahkan cangkang abalon bebentuk telinga, rata, dan tidak memiliki operculum. Bagian cangkang sebelah dalam berwarna putih mengilap, seperti perak. Siput ini memiliki mata tujuh (Gambar 1).

Cangkang Abalon berbentuk spiral dengan spiral sangat tipis. Pada cangkang tersebut terdapat lubang-lubang dalam jumlah yang sesuai dengan ukuran abalon, semakin besar ukuran abalon maka semakin banyak lubang yang terdapat pada cangkang yang tertata rapi mulai dari ujung depan sampai belakang cangkang (Tahang et al., 2006). Lubang pada cangkang abalon berfungsi untuk respirasi, mengeluarkan kotoran, dan bahkan untuk mengeluarkan sperma atau ovum (Sorta, 2012). Ukuran tubuh (otot) abalon sangat besar dibandingkan cangkangnya. Kepala berwarna kehijauan dan pada pinggir sekitar kepala berwarna hijau dengan bintik-bintik hijau gelap dan coklat. Kakinya berwarna krem kelihatan berbintik kecoklatan. Cangkang berbentuk seperti telinga dan berwarna kemerah-merahan sampai coklat dengan gelombang cincin pertumbuhan pada permukaannya. Terdapat sirip hitam dan kekuningan pada permukaan dorsal dan warna kehijauan sampai keunguan pada strip otot jalannya. Kerang abalon juga mempunyai mulut dan sungut yang terletak dibawah cangkang serta sepasang mata (Sorta, 2012). 2.2. Habitat dan Penyebaran Abalon (Haliotis asinina) Siput Abalon ditemukan di perairan dangkal pada daerah yang berkarang atau berbatu yang sekaligus dipergunakan sebagai tempat menempel. Abalon bergerak dan berpindah tempat dengan menggunakan satu organ yaitu kaki. Gerakan kaki abalon sangat lambat, sehingga memudahkan predator untuk memangsanya (Tahang et al., 2006). Tahang et al. (2006) menambahkan bahwa penyebaran siput Abalon sangat terbatas, tidak semua pantai yang berkarang atau berbatu terdapat siput Abalon. Secara umum siput Abalon tidak ditemukan di daerah estuaria, hal ini

berkaitan dengan fluktuasi salinitas dan tingkat kekeruhan yang tinggi dan konsentrasi DO yang rendah. Pada siang hari atau suasana terang, siput Abalon lebih cenderung sembunyi di karang atau batu. Sedangkan pada suasana malam atau gelap lebih aktif melakukan gerakan berpindah tempat (bersifat nocturnal). 2.3. Pembenihan Abalon (Haliotis asinina) 2.3.1. Pemeliharaan dan Seleksi Induk Penyediaan induk Abalon yang matang gonad dan siap dipijahkan merupa kan faktor utama dalam kegiatan pembenihan dan ketersediaannya baik kuantitas maupun kualitas menjadi tolak ukur keberhasilan produksi benih. Secara teknis tahapan pematangan Abalon telah dihasilkan akan tetapi tahapan lain yang cukup membutuhkan pemikiran adalah memperoleh telur yang terbuahi dan menetas menjadi larva hingga benih (Khoironi, 2012). Khoironi (2012) menambahkan bahwa syarat Abalone yang akan dijadikan induk dalam kegiatan pembenihan perlu dilakukan pengamatan. Induk Abalone yang sehat dapat dilihat dari warna tubuh kerang Abalone dan tidak terserang hama penyakit dan gerakannya sangat agresif. Perbedaan induk jantan dan induk betina dapat dilihat dari warna gonadnya yaitu jantan gonadnya berwarna cream/putih sedangkan betina warna gonadnya hijau/cokelat kadang kebiruan. Penanganan induk kerang Abalone baik jantan maupun betina harus dipelihara terpisah untuk menghindari spontaniosis spawning atau biasa disebut mijah maling. Pengecekan gonad dilakukan 3 hari sebelum bulan gelap dan bulan terang dan tingkat kematangan gonadnya minimal untuk dipijahkan 75%. Induk Abalon yang telah diseleksi tingkat kematangan gonadnya (jantan dan betina) ditampung dalam keranjang plastik dan dipelihara dalam bak terpisah

pada bangunan tertutup (indoor). Ketinggian air bak diatur antara 50 60 cm. Abalon berada dalam kondisi 12 jam terang dan 12 jam gelap dan bak terbuka selama pemeliharaan. Selama pagi hingga sore hari, air segar dialirkan secara terus menerus (sistem sirkulasi). Sebaliknya selama malam hari, air tandon yang telah ditingkatkan suhunya dengan heater (1000 watt) dialirkan terus menerus (resirkulasi) ke dalam bak pemeliharaan induk. Selama malam hari air di dalam bak tandon tetap diberikan alat pemanas (heater) (Soleh dan Suwoyo 2008). Selanjutnya Soleh dan Suwoyo (2008) menambahkan bahwa pakan yang diberikan selama pemeliharaan induk abalon adalah rumput laut Gracillaria sp dengan dosis adlibitum. Pemberian pakan dilakukan pada pagi hari setelah kegiatan pembersihan kotoran. Untuk induk yang akan dipijahkan, sebelumnya tetap diberikan hingga menjelang waktu pemijahan. Pembersihan kotoran pakan dan kotoran dari abalon dilakukan 2 kali dalam sehari (pagi dan sore). Kegiatan seleksi dilakukan untuk mengetahui tingkat perkembangan gonad baik jantan maupun betina selama masa pemeliharaan induk. Individu dewasa diseleksi tingkat kematangan gonadnya dengan cara membuka cangkang dan selanjutnya dipelihara dalam tempat terpisah. Kriteria kematangan gonad akhir adalah berwarna kuning-oranye (induk jantan) dan berwarna hijau kecoklatan (induk betina). Ciri lain dalam seleksi kematangan gonad adalah melihat kantong gonad yang menonjol keluar cangkang. 2.3.2. Pemijahan Abalon bersifat gonokoris, memiliki satu gonad (jantan atau betina) yang berada di sebelah kanan tubuh. Abalon mengalami matang gonad setelah berumur 6-8 bulan dengan panjang cangkang 35-40 mm (Riyadi, 2008). Jenis kelamin

Abalon mudah dikenali, yaitu ketika gonad telah masak testes berubah warna menjadi cream dan ovari menjadi kehijauan. Fertilisasi eksternal terjadi saat jantan dan betina mengeluarkan gamet langsung ke kolom air. Ukuran telur sangat kecil, sekitar 0,2 mm dan berjumlah sangat banyak (Faisal, 2005). Pemijahan pada Haliotis asinina menurut Counihan et al (2001) sangat teratur dibandingkan famili Haliotid dan invetebrata laut lainnya, di mana periode pemijahan cenderung serentak (syncronous). Peristiwa yang terjadi ini dipengaruhi lebih dari satu faktor lingkugan. Musim pemijahan abalon di Heron Reef Australia berlangsung dari Oktober April yang berhubungan erat dengan temperatur air. Pengeluaran gamet terjadi dalam 2 malam setiap 2 minggu pada periode bulan gelap dan purnama. Hubungan antara pemijahan dengan periode bulan (lunar periode) belum diketahui secara pasti. Secara umum Abalon tropis hampir memijah sepanjang tahun kecuali pada bulan Mei Juni yang merupakan masa istirahat. Pada musim-musim dimana suhu air rendah maka periode pemijahan akan menurun dan kondisi tersebut umumnya terjadi antara bulan April Juni (Capinpin, Encena dan Bayona, 1998). Musim pemijahan abalon di Korea menurut RAS (1990) mulai bulan Juli/Agustus ketika air laut sekitar 20 C dan pada beberapa kasus hingga akhir September dan Oktober. Pada pemijahan alami, Abalon yang telah matang gonad dapat memijah dengan rangsangan perubahan suhu secara tiba-tiba oleh sebab pasang-surut. Pengamatan di laboratorium menunjukkan bahwa pemijahan alami di bak dari abalon hasil tangkapan diketahui bertepatan dengan fase bulan muda dan purnama selama 2 bulan pertama dengan pemijahan berikutnya terjadi kira-kira intervalnya

2 minggu atau interval antara 13-15 hari (Capinpin et al., 1998). Pada awal pemijahan, abalon jantan dan betina dipisah dan dilanjutkan dengan pengeluaran produk genital (RAS, 1990). Selain pemijahan alami, induk abalon yang matang gonad dapat dipijahkan secara buatan. Pada pemijahan buatan, induk abalon dapat dirangsang dengan beberapa cara berdasarkan metode RAS (1990) : (1) kejut suhu, (2) metode pengeringan, (3) pencahayaan ultra violet (UV), (4) penambahan bahan kimia (hidrogen peroksida) dan (5) kombinasi. Pada Abalon jantan memijah dahulu dan sperma dalam bak pemijahan memicu betina untuk memijah. Telur terbuahi dalam satu jam periode pemijahan. Telur yang terbuahi berdiameter 180 m dan berbentuk spherical. Telur-telur segera menyerap air dan tenggelam ke dasar (Najmudeen dan Vector, 2003). Selanjutnya Soleh dan Suwoyo (2008) menyatakan bahwa telur yang terbuahi akan cepat megendap di dasar wadah dibanding telur yang tidak terbuahi atau abnormal (di lapisan atas). Setelah dibuahi, telur diinkubasi pada wadah inkubasi sampai menetas menjadi trochopora dalam waktu 10 -12 jam. Trochopora kemudian dipanen dengan cara disiphon dilakukan pada pagi hari. Setelah trochopora dipanen

kemudian ditebar dengan padat penebaran untuk bak 1,5 ton 300.000 500.000 ekor. Penebaran dilakukan pada bak pemeliharaan larva yang dilengkapi dengan feeder plate yang mengandung Nitzchia. Trochopora akan melayang dalam badan air selama 4 7 hari kemudian menempel pada feeder plate (Khoironi, 2012).

10

2.3.3. Pemeliharaan Larva Kegiatan pemeliharaan larva meliputi : penyiapan pakan awal larva, pemeliharaan larva (stadia trochopora, veliger, torson, settlemen), dan

pemanenan larva. Pakan alami plankton yang biasa diberikan untuk larva yaitu: Nannochloropsis sp, Dunaliella salina, Pavlova sp, Isocrysis galbana, Isocrysis tahiti, Tetraselmis chuii, Nitzschia sp, Chaetoceros simplex dan Chaetoceros gracillis. Pemberian pakan dengan pakan alami tersebut di atas biasanya diberikan sehari 3 kali. Untuk tingkat konsentrasi pakan alami tersebut. minimal 10 ekor/cc plankton yang selalu tersedia pada bak pemeliharaan larva. Pemanenan larva abalone dilakukan pada umur 3-4 bulan karena lebih aman dilakukan ukuran benihnya sudah berkembang (Khoironi, 2012). Setyono (2011) menjelaskan bahwa selama proses embriogenesis hingga telur menetas menjadi larva veliger, air di dalam bak penetasan tidak diganti. Aerasi dipasang pada level sangat rendah (halus) untuk mencegah jangan sampai telur dan larva rusak atau mati karena benturan. Larva akan menempel dan bermetamorfosa (berubah bentuk), memulai hidupnya sebagai hewan bentik. Laju dan tingkat keberhasilan penempelan larva pada substrat dipengaruhi oleh ketersediaan pakan (diatom) yang tumbuh dipermukaan substrat serta kodisi lingkungan (kualitas air). Setelah larva menempel pada substrat, air didalam bak pemeliharaan diganti sekitar 50% volume setiap 3 4 hari. Setelah juvenil berumur 1 bulan, penggantia air dilakukan setiap dua hari sebanyak 50% volume.

11

2.3.4. Pakan dan Kebiasaan Makan Abalon (Haliotis asinina) Siput abalon merupakan hewan herbivora pemakan makroalga (seaweeds) dan mikroalga. Jenis alga yang biasa di makan yaitu alga merah (Corallina, Lithothamium, Gracillarla, Porphya), alga coklat (Laminaria, Macrocysis, Sargasum), dan alga hijau (Ulva) (Tahang et al., 2006). Jenis pakan kerang abalone adalah seaweed yang biasa disebut makroalga, namun tidak semua dapat dimanfaatkan dengan baik sebagai sumber makanan. Saat ini, pakan yang terbaik yang diberikan adalah Gracilaria sp yang merupakan makanan favorit untuk kerang abalone. Selain Gracilaria sp, jenis seaweed yang yang lain juga dapat diberikan, seperti Ulva sp. Saat pemberian pakan, perlu diperhatikan kebersihan dan kesegaran pakan. Hal ini bertujuan untuk menghindari adanya predator-predator yang terbawa dan menghindari pakan yang hampir/telah mati yang nantinya akan membusuk dan menimbulkan racun bagi kerang abalone (Anonim, 2008). Juvenile abalon (Haliotis asinina) mengkonsumsi makroalga segar (Gracillaria sp.) 20-30% dari bobot tubuhnya setiap hari. Abalon mengkonsumsi sekitar 10% dari berat tubuhnya per hari (rumput laut basah), dan selama masa pertumbuhan, abalon dapat mengkonsumsi hingga 20% dari bobot tubuhnya. Juvenile Haliotis asinina (16-20 mm) mengkonsumsi 35-40% rumput laut dari bobot tubuhnya, sedangkan untuk ukuran yang lebih besar (>50 mm) konsumsi pakan hanya mencapai 5-10% dari bobot tubuhnya (Sorta, 2012). 2.3.5. Kualitas Air Ditinjau dari segi perairan, kehidupan siput abalon sangat dipengaruhi oleh kualitas air. Haliotos asinina dapat hidup dalam air bersuhu tinggi sampai 30C,

12

parameter kualitas air yang berpengaruh yaitu pH antara 7-8, salinitas 31-32 ppt, H2S dan NH3 kurang dari 1 ppm (Tahang et al., 2006). Sedangkan menurut Sudradjat (2008) Nilai parameter kualitas air untuk budidaya abalon untuk suhu 27-30C, salinitas 29-33 , pH antara 7,6-8,1 dan DO 3,27-6,28 ppm. Pengelolaan kualitas air dilakukan dengan penggantian wadah atau waring setiap sebulan sekali. Organisme penempel diwaring perlu dibersihkan agar tidak mengganggu kondisi perairan pemeliharaan abalone. Waring yang lama di angkat diganti dengan waring yang baru, pengontrolan pakan yang busuk karena mengandung NH3 yang menempel (Khoironi, 2012). 2.3.6. Hama dan Penyakit Hama merupakan hewan pengganggu dan pemangsa dalam budidaya abalon. Jenis predator dalam budidaya abalon adalah kepiting laut. Upaya pencegahan dengan cara membersihkan hama-hama tersebut dengan cara manual pada periode waktu tertentu. Kematian massal abalon pernah terjadi di dalam tangki pembesaran yang diatasi dengan penggunaan streptomysin dan neomysin. Adapun patogen yang diduga sebagai penyebab kematian abalon adalah bakteri (Sudradjat, 2008). Jenis predator yang sering dijumpai dalam wadah budidaya kerang abalone adalah kepiting-kepiting laut. Sedangkan hama yang lain seperti udang-udangan dan kerang-kerang laut menjadi pengganggu dan penyaing ruang gerak serta makanan contoh teritip. Teritip harus selalu dibersihkan sebagai tindakan pencegahan akan terjadinya luka, karena cangkangnya yang runcing dan tajam. Teritip akan menjadi masalah jika terdapat dalam jumlah banyak pada substrat,

13

selain sebagai penyaing oksigen juga akan menyulitkan kerang abalone untuk bergerak leluasa dan bahkan dapat tumbuh pada cangkang kerang abalone. Penyakit yang menyerang kerang abalone, saat masih terus di identifikasi untuk mengetahui penyebabnya. Salah satu gejala yang ditimbulkan adalah timbulnya warna merah seperti karat pada bagian selaput gonad (bagian bawah cangkang). Kerang abalone yang mengalami gejala ini, dalam waktu 5-6 hari lapisan selaput akan sobek, nampak lemas dan jika dipegang sangat lembek (tidak dapat merespon ransangan luar) yang akhirnya mengalami kematian. Tindakan pencegahan yang telah dilakukan saat ini adalah tindakan karantina atau pemisahan pada tempat khusus sebelum selaput gonad sobek/terpisah dari cangkang, kemudian dilakukan tindakan pengobatan dengan cara pengolesan acriflavin atau betadine dalam dosis tinggi (500ppm) pada selaput tersebut secara kontinyu selama 3 hari. Tindakan ini juga dilakukan pada kerang abalone yang mengalami luka (Anonim, 2008)

14

III. METODE PRAKTEK

3.1. Waktu dan Tempat Praktek magang ini akan dilakukan pada Bulan Januari sampai dengan Februari 2013 di Balai Budidaya Laut Batam yang terletak di Jl.Raya Barelang Jembatan III P.Setoko PO.BOX.60 Sekupang, Batam, Provinsi Kepulauan Riau. 3.2. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam praktek magang ini adalah induk Abalon yang sudah matang gonad dan medianya serta seluruh faktor penunjang yang terdapat di Balai Budidaya Laut Batam. Sedangkan untuk pengukuran kualitas air menggunakan pH meter untuk mengukur derajat keasaman air (pH), thermometer untuk mengukur suhu, DO meter untuk menghitung oksigen terlarut, spektrofotometer untuk mengukur amoniak, titrasi untuk mengukur hardness, aquarium, aerator dan alat-alat tulis seperti buku tulis, pena, pensil, penggaris, dan qusioner serta kamera sebagai dokumentasi dari kegiatan magang ini. 3.3. Metode Praktek Metode yang digunakan dalam praktek magang ini adalah praktek langsung yaitu melakukan pengamatan langsung di lapangan pada objek-objek pembenihan Abalon (Haliotis asinina) serta wawancara secara langsung dengan pegawai di Balai Budidaya Laut Batam.

15

3.4. Teknik Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh langsung dari wawancara dengan pegawai Balai Budidaya Laut Batam dan pengamatan langsung. Data sekunder diperoleh dari Dinas Perikanan, Kepala Desa setempat, serta instansi terkait yang berhubungan dengan data yang diperlukan, serta ditambah dengan literatur yang mendukung kelengkapan dan kejelasan mengenai data yang didapatkan tersebut. 3.5. Analisis Data Data yang diperoleh dari Balai Budidaya Laut Batam dikumpulkan dan ditabulasikan dalam bentuk tabel serta dianalisis secara deskriptif untuk memberikan gambaran tentang keadaan Balai Budidaya Laut Batam dan masalah yang dihadapi dicari alternatif pemecahannya. 3.5.1. Data Primer Data primer yang didapatkan melalui wawancara dengan pegawai Balai Budidaya Laut Batam. Selanjutnya data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui keadaan Balai Budidaya Laut Batam serta permasalahan dan prospek pengembanganya di masa yang akan datang. Tabel 1. Jumlah Induk Abalon yang dipijahkan di BBL Batam. Media Berat Sampel Induk (gram No Induk Pemijahan 1 2 3 1 Jantan 2 Betina Berdasarkan Tabel 1 dapat di peroleh rata-rata berat induk yang di jadikan sebagai induk dalam proses pemijahan.

16

Tabel 2. Asal Induk Abalon yang Dipijahkan di BBL Batam. Pakan No Induk Asal Induk Dosis Frekuensi Waktu Alami Buatan 1 Jantan 2 Betina Berdasarkan Tabel 2 kita dapat mengetahui latar belakang induk dan jenis makanan yang di berikan pada saat pemeliharaan induk untuk memperoleh kualitas telur yang bagus. Tabel 3. Tingkah Laku Pemijahan Abalon di BBL Batam. Induk Ikan Jantan Tingkah Laku Pemijahan

Betina

Berdasarkan Tabel 3 kita dapat mengetahui tingkah laku dan kebiasaan ikan sebelum memijah dari hasil pengamatan yang telah dilakukan. Tabel 4. Tingkat Keberhasilan Pemijahan Abalon Secara Alami di BBL Batam. No 1 2 3 Pasangan Induk 1 2 3 Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui tingkat keberhasilan pemijahan abalon (Haliotis asinina) secara alami yang dilakukan di Balai Budidaya Laut Batam. Larva yang telah menetas dari telur yang dihasilkan dikumpulkan antara pukul 6 7 pagi. Hal ini dilakukan setelah larva mengeluarkan veliger atau kaki renang. Telur yang dibuahi di siphon dengan menggunakan selang (0,5 0,75 inci) dan % FR % HR % SR

17

ditampung dalam toples yang dilengkapi saringan mesh zise 60. Adapun perhitungan FR, HR dan SR adalah sebagai berikut: - Perhitungan % FR %FR = Telur Terbuahi x 100 % Total Telur - Penghitungan % HR %HR= Telur Menetas x 100 % Telur Terbuahi
-

Penghitungan % SR %SR = Larva Hidup x 100 % Telur Menetas

Kualitas air pada bak-bak pemeliharaan induk perlu di ukur guna untuk mengetahui kondisi perairan di Balai Budidaya Laut Batam terhadap kelangsungan hidup induk Abalon (tabel 5). Tabel 5. Parameter Kualitas Air Pada Bak-Bak Pemeliharaan Induk Abalon di BBL Batam. No 1 2 3 4 5 Ph DO Suhu Hardness Amoniak Parameter Alat Pengukur pH meter DO meter Thermometer Tetrasi Spektrofotometer Hasil Pengukuran

Kualitas air pada bak-bak pemijahan perlu di ukur guna untuk mengetahui kondisi perairan di Balai Budidaya Laut Batam terhadap kelangsungan pemijahan Abalon (tabel 6).

18

Tabel 6. Parameter Kualitas Air Pada Bak-Bak Pemijahan Abalon di BBL Batam. No 1 2 3 4 5 pH DO Suhu Hardness Amoniak Parameter Alat Pengukur pH meter DO meter Thermometer Tetrasi Spektrofotometer Hasil Pengukuran

Kualitas air pada bak-bak pemeliharaan larva perlu di ukur guna untuk mengetahui kondisi perairan di Balai Budidaya Laut Batam terhadap kelangsungan hidup larva Abalon (tabel 7). Tabel 7. Parameter Kualitas Air Pada Bak-Bak Pemeliharaan Larva Abalon di BBL Batam. No 1 2 3 4 5 pH DO Suhu Hardness Amoniak Parameter Alat Pengukur pH meter DO meter Thermometer Tetrasi Spektrofotometer Hasil Pengukuran

Sehingga berdasarkan Tabel 5, 6 dan 7 dapat diketahui parameter kualitas air pada berbagai wadah seperti bak pemeliharaan induk, bak pemijahan dan bak pemeliharaan larva. Pengukuran kualitas air ini akan menentukan bahwa apakah kondisi perairan di Balai Budidaya Laut Batam memenuhi syarat untuk dijadikan tempat Pengembangan dan usaha budidaya abalon.

19

Tabel 8. Pemberian Pakan Abalon Pada Tahap Pendederan di BBL Batam. Jenis pakan Alami Buatan No Dosis Frekuensi Waktu

Dari Tabel 8 dapat diketahui tentang pemberian pakan pada budidaya abalon. Selanjutnya kita dapat memperoleh gambaran hubungan pemberian pakan tersebut dengan produksi abalon di Balai Budidaya Laut Batam. 3.4.2. Data Sekunder Data yang diperoleh dari wawancara ditabulasikan dalam tabel. Data yang diperoleh dianalisis dan akan ditarik kesimpulan. Adapun tabel yang diperlukan adalah sebagai berikut: Tabel 9. Tingkat Pendidikan Tenaga Pelaksana di BBL Batam. No 1 2 3 4 5 Tingkat Pendidikan Magister Sarjana Diploma SLTA SLTP Dari Tabel 9 dapat diketahui tingkat pendidikan tenaga pelaksana di Balai Budidaya Laut. Ini berguna untuk mengetahui perkembangan pendidikan pekerjapekerja di BBL Batam dalam usaha pengembangan pada masa yang akan mendatang. Jumlah Persentase

20

Tabel 10. Jumlah Pegawai dan Status Kepegawaian di BBL Batam. No 1 2 3 4 Status Kepegawaian Teknisi Pegawai Tata Usaha Dll Jumlah Jumlah Persentase

Berdasarkan Tabel 10 dapat diketahui status kepegawaian dan jumlah pegawai yang ada di BBL Batam Status kepegawaian yang didata meliputi teknisi, pegawai, tata usaha dan lain-lainnya. Dari tabel ini juga dapat diketahui jumlah keseluruhan pegawai yang ada dan persentasenya di BBL Batam. Tabel 11. Tingkat Keahlian Tenaga Pelaksana di BBL Batam. No 1 2 3 Tingkat Pendidikan Tenaga Ahli Tenaga Terampil Tenaga Pembantu Berdasarkan Tabel 11 dapat diketahui keahlian tenaga pelaksana di BBL Batam, sehingga mempunyai bidang keahlian massing-masing untuk Jumlah Persentase

Pengembangan abalon yang intensif untuk mencapai hasil budidaya yang optimal. Tabel 12. Jumlah dan Luas Keramba/kolam di BBL Batam. No 1 2 Dst Jumlah Jenis Keramba Jumlah Bentuk Ukuran Luas

21

Dari Tabel 12 dapat diketahui berapa jumlah, bentuk, ukuran, dan luas keramba yang ada dan perkembangannya, hal ini erat kaitannya dengan kegiatan budidaya abalon di BBL Batam. Tabel 13. Keadaan Sarana dan Prasarana yang Ada di BBL Batam. No 1 2 3 Dst Jumlah Berdasarkan Tabel 13 dapat diketahui keadaan sarana dan prasarana yang ada di BBL Batam. Sarana dan prasarana yang ada merupakan fasilitas yang dapat mendukung semua kegiatan yang ada di BBL Batam. Sarana dan Prasarana Jumlah (unit) Keadaan

22

DAFTAR PUSTAKA

Anonim,

2008. Teknik Budidaya Abalone (Haliotis asinina). http://kekerangan.blogspot.com/2008/09/teknik-budidaya-abalonehaliotis.html . [di akses tanggal 30 Noember 2012].

Capinpin Jr. E.C.; V.C.Encena II and N.C Bayona.1998. Studies on the Reproductive Biology of the Donkeys ear Abalone, Haliotis asinina Linne. Elsevier,Aquculture 166 (1998) 141 150. Cholik F, Ateng G, Jagatraya, Poernomo RP, Ahmad A. 2005. Akuakultur tumpuan harapan masa depan bangsa. Kerjasama Masyarakat Perikanan Nusantara dan Taman Akuarium Air Tawar, Taman Mini Indonesia Indah. Jakarta. Counihan, R.T., D.C. McNamara, D.C. Souter, E.J. Jebreen, N.P. Preston, C.R. Johnson, B.M. Degnan. 2001. Pattern, synchrony and predictability of spawning of tropical abalone Haliotis asinina from Heron Reef, Australia. Marine Ecology Progress Series. 213: 193-202 Faisal, F. 2005. Embriogenesis dan perkembangan larva abalon mata tujuh (Haliotis asinina Lin.). IPB. Skripsi. Tidak dipublikasikan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Imstitut Pertanian Bogor. FAO. 1995. Synopsis of Biologycal Data on The European Abalon (Ormer) Haliotis asinina Linnaeus. 1758 (Gastropoda : Haliotidae). FaO Fisheries Synopsis. 156: 1-22 Imai T. 1997. Aquaculture in shallows seas; progress in shallow sea culture. Oxford and IBH. New Delhi. Khoironi, 2012. Budidaya Kerang Abalon (Haliotis asinina). http://vedca.siap.web.id/2012/03/21/budidaya-kerang-abalone-healitosassinina-oleh-khoironi-s-pi-m-si-widyaiswara-pppptk-pertanian-danbaik-r/ . [di akses tanggal 01 Desember 2012].

My.opera.com. 2012. Sea Commodity. http://my.opera.com/palugadainltrader/albums/showpic.dml?album=66 82962&picture=101131462 . [di akses pada tanggal 26 desember 2012]. Najmudeen, T.M. and A.C.C. Victor. 2004. Seed Production and Juvenile Rearing of the Tropical Abalon (Haliotis varia Linnaeus 1758). Elsevier, Aquaculture 234 (2004) 277-292. RAS. 1990. Training Manual on Artificial Breeding of Abalone (haliotis discuss hannai) in Korea DPR. FAO, UNDP and Shallow Seafarming Research Institute in kosong Democratic Peoples Republic of Korea. Organized

23

by the Regional Seafarming Development and Demonstration Project. 83 pp. Ryadi, S. 2008. Beberapa Aspek Reproduksi Abalon (Haliotis asinina Lin.) di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. IPB. Skripsi. Tidak dipublikasikan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Setyono, D.E.D. 2011. Teknik Produksi Benih Abalon Tropis. Jurnal Oseana, Volume XXXVI, Nomor 3, 2011 : 11 22. ISSN 0216-1877. Soleh, M dan Suwoyo, D. 2008. Rangsangan Kejut Suhu Sistem Basah Dalam Proses Pemijahan Massal Abalone (Haliotis sp). Anggaran Kegiatan Program Perekayasaan Teknologi Pengembangan Budidaya Air Payau. BBPBAP Jepara. Sorta, R.R.T. 2012. Kerang Abalon Mata http://www.scribd.com/doc/87437150/r-Roro-Theresia-Sortab1j008065-Biola-2011 . [di akses tanggal 02 desember 2012]. Tujuh.

Sudradjat, A. 2008. Budi Daya 23 Komoditas Laut Menguntungkan. PT Penebar Swadaya, Jakarta. Tahang, M., Imran, dan Bangun. 2006. Pemeliharan siput abalone (Haliotis asinina) dengan metode pen-culture (kurungan tancap) dan kerarnba jaring apung. Departemen Kelautan dan Perikanan. Indonesia. 30 h.

24

LAMPIRAN

25

ORGANISASI PRAKTEK MAGANG

1. Pelaksana Praktek Magang Nama Lengkap NIM Pekerjaan Alamat : Atika : 1004114235 : Mahasiswi : Jl. Bina Krida Villa Putri Pratama 1, Panam, Pekanbaru

2. Dosen Pembimbing Nama Lengkap NIP Pekerjaan : Ir. Niken Ayu Pamukas, M.Si : 196512051995122001 : Dosen Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan Universitas Riau Alamat : Kampus Bina Widya KM 12,5 Panam, Pekanbaru

26

ANGGARAN BIAYA MAGANG

1. Biaya persiapan a. Pengetikan proposal b. Memperbanyak proposal c. Kertas dan alat tulis Rp 70.000,00 Rp 60.000,00 Rp 56.000,00 Rp156.000,00

2. Biaya pelaksanaan a. Transportasi Pekanbaru-Batam (PP) b. Sewa kamar selama magang c. Biaya hidup selama magang d. Dokumentasi Rp 600.000,00 Rp 200.000,00 Rp 700.000,00 Rp 100.000,00 Rp1.600.000,00

3. Biaya penulisan laporan a. Pengetikan laporan b. Perbanyakan laporan c. Biaya ujian Rp 150.000,00 Rp 200.000,00 Rp 400.000,00 Rp 750.000,00

Total biaya seluruhnya

Rp 2.456.000,00

Terbilang : Dua Juta Empat Ratus Lima Puluh Enam Ribu Rupiah

27

JADWAL PRAKTEK

Praktek magang ini direncanakan akan dilaksanankan selama 8 minggu. Tahap persiapan dan pengurusan izin data selama 2 minggu, tahap pengamatan dan pengambilan data selama 4 minggu dan tahap pengolahan serta pembuatan laporan selama 2 minggu. Adapun jadwal praktek dari awal sampai akhir magang ini adalah sebagai berikut : No Kegiatan Bulan Januari Februari 1 2 3 4 1 2 3

1 2 3

Persiapan Pelaksanaan praktek Penyelesaian Laporan

28

OUT LINE SEMENTARA

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Tujuan Praktek Magang 1.3 Manfaat Praktek Magang II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Biologi dan Taksonomi Abalon (Haliotis asinina) 2.2 Habitat dan penyebaran Abalon (Haliotis asinina) 2.3 Pembenihan Abalon (Haliotis asinina) 2.3.1 Pemeliharaan dan Seleksi Induk 2.3.2 Pemijahan 2.3.3 Pemeliharaan Larva 2.3.4 Pakan dan Kebiasaan Makan Abalon (Haliotis asinina) 2.3.5 Kualitas Air 2.3.6 Hama dan Penyakit III. METODE PRAKTEK 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Alat dan Bahan 3.3 Prosedur Kerja 3.4 Pengumpulan Data IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.2 Pembahasan

V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan 5.2 Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

29

QUISIONER 1. SUMBER DATA 2. LUAS DAERAH 3. LETAK GEOGRAFIS : .. :Km :.LU LU BT.. BT 4. BATAS DAERAH - Sebelah Barat -Sebelah Timur -Sebelah Utara -Sebelah Selatan : :.......... :.......... :.......... :..

5. Sejarah Berdirinya Balai Budidya Laut Batam - Sejarah berdirinya - Apa latar belakang dan tujuannya - Alasan pemilihan lokasi ... - Hasil penelitian apa saja yang sudah didapat............... - Dan bidang apa saja . 6. Lokasi Praktek Magang - Lokasi balai penelitian terletak di Desa. Kecamatan ... - Kabupaten Propinsi . - Bagaimana topografi lokasi balai budi daya - Curah Hujan dan Temperatur dilokasi penelitian - Jarak dari jalan raya ..... - Dari pemukiman penduduk .............................................................................. - Dari laut ...... - Mata pencarian penduduk di sekitar lokasi.. - Bagaimana prospek usaha budidaya perikanan air laut di daerah tersebut... . Dan berapa luas area budidayanya .. KM 7. Sarana Dan Prasarana - Alat-alat apa saja yang digunakan ... - Apa saja perangkat laboratorium yang digunakan .. - Ada berapa kolam bak yang digunakan untuk kegiatan pemijahan. - Berapa luas area yang diperuntukkan untuk budidaya

30

- Berapa jumlah bangunan yang ada . Apa fungsinya - Sumber listrik yang dipakai berasal dari .. biaya per bulan . - Sumber air yang digunakan berasal dari .. - Alat yang digunakan berapa jumlahnya.. - Sarana transportasi yang ada berapa jumlahnya . 8. Metode yang digunakan - Asal induk......................................................................................................... - Metode Pemijahan Induk . - Bahan dan alat yang digunakan ....... - Cara pemijahan induk jantan................................................ - Cara pemijahan induk betina........................................................................ - Cara penetasan telur......................................................................................... 9. Pemeliharaan Larva - Cara mengontrol pemeliharaan terhadap faktor-faktor yang dapat merugikan pemeliharaan larva............................................................................................ - Padat tebar sistem pengairan ........................... - Berapa kali pengontrolan selama pemeliharaan ...................................... - Zat-zat yang digunakan untuk mengatur pertumbuhan.................................... - Apa namanya...............................dan dihasilkan dari mana............................. - Cara pemeliharaan larva................................................................................... 10. Pengendalian Hama dan Penyakit - Jenis penyakit dan hama yang sering menyerang induk dan larva abalon....... - Ciri-ciri induk yang terserang penyakit ............................... 11. Pemberian Pakan - Jenis pakan yang diberikan............................................................................... - Berapa pemberian pakan perhari.............. - Waktu pemberian pakan .................. - Penyakit yang disebabkan karena pakan.......................................................... - Apakah ada pengaruh umur, ukuran dan komposisi kandungan protein, lemak, mineral yang terkandung pada pakan yang diberikan sehingga apakah ada perubahan pakan yang diberikan terhadap system perubahan umur, ukuran, berat ................................................................................

31

- Fekunditas pemberian pakan............................................................................ - Bahan makanan................................................................................................. - Analisa proksimat pakan................................................................................... 12. Parameter Kualitas Air -Parameter kualitas air yang diukur: suhu.. C, salinitas ppt - DO .ppm, warna air .. pH .......................... - Sistem pengukuran pada sistem parameter . - Alat yang digunakan - Berapa kali pengukuran dalam waktu tertentu 13. Kendala Yang Dihadapi - Apa saja kendala yang dihadapi dalam teknik pembenihan Abalon (Haliotis asinina)............................................................................................................. - Bagaimana permodalannya pemasarannya .. - Solusi yang dapat digunakan . - Apa ada prospek untuk mengembangkan usaha tersebut ..