Anda di halaman 1dari 13

1. E. HIPOTESIS SAPIR WHORF Bahasa dipandang saling berpautan dengan kebudayaan, sudah sejak sangat lama dibincangkan orang.

. Demikianpun fakta bahwa bahasa, budaya, dan cara berpikir seseorang dianggap bertali-temali erat, sudah lama diperdebatkan banyak kalangan[21]. Pandangan yang ditarik dari postulasi hipotesis kebudayaannya Sapir-Whorf, yang lantas dikenal dengan teori relativitas dan determinasi kebudayaan . Dengan hipotesisnya itu, Sapir-Whorf mempostulasikan, bahwa bahasa berpengaruh besar terhadap kebudayaan. Di dalam banyak hal, bahasa menentukan wujud-wujud dari kebudayaannya. Bahasa dipandang berpengaruh besar terhadap kultur yang mewadahi lantaran bahasa menjadi penentu cara berpikir individu-individunya. Kreatif tidak kreatifnya setiap warga masyarakat, sangat dipengaruhi oleh sosok bahasa yang dikuasainya. Gagasan inilah yang kemudian dikenal sebagai versi lemahnya teori kebudayaan Sapir-Whorf. Adalah yang dianggap versi kuatnya adalah, bahwa bahasa tidak saja berpengaruh terhadap cara berpikir warga masyarakat, tidak saja memiliki sumbangan minimal terhadap wujud kebudayaan yang mewadahinya, tetapi lebih dari semua itu bahasa sebagai penentu pokoknya wujud-wujud kebudayaan[22]. Bahasa menentukan corak suatu masyarakat, ataukah masyarakat menentukan corak suatu bahasa. Pada umumnya orang lebih cenderung untuk memilih gagasan yang kedua. Akan tetapi lain halnya dengan Whorf dan Sapir. Dua ahli ini menentukan suatu hipotesis yang terkenal dengan nama Hipotesis Whorf-Sapir. Menurut hipotesis ini bahasalah yang menentukan corak suatu masyarakat[23]. Di dalam hipotesis itu dikemukakan bahwa bahasa bukan hanya menentukan corak budaya, tetapi juga menetukan cara dan jalan pikiran manusia; dan oleh karena itu mempengaruhi pula tindak lakunya . Dengan kata lain, suatu bangsa yang berbeda bahasanya dari bangsa yang lain, akan mempunyai corak budaya dan jalan pikiran yang berbeda pula. Jadi, perbedaan-perbedaan budaya dan jalan

pikiran manusia itu bersumber dari perbedaan bahasa, atau tanpa adanya bahasa manusia tidak dapat mempunyai jalan pikiran sama sekali. Kalau bahasa itu mempengaruhi kebudayaan dan jalan pikiran manusia, maka ciri-ciri yang ada dalam suatu bahasa akan tercermin pada sikap dan budaya penuturnya[24]. Edward Sapir (1884 1939) linguis Amerika memiliki pendapat yang hampir sama dengan Von Humboldt. Sapir mengatakan bahwa manusia hidup di dunia ini dibawah belas kasih bahasanya yang telah menjadi alat pengantar dalam kehidupannya bermasyarakat. Menurut Sapir telah menjadi fakta bahwa suatu masyarakat sebagian didirikan di atas tabiat-tabiat dan sifat-sifat bahasa itu. Karena itulah, tidak ada dua buah bahasa yang sama sehingga dapat dianggap mewakili satu masyarakat yang sama [25]. Dengan tegas Sapir juga mengatakan apa yang kita lihat, kita dengar, kita alami, dan kita perbuat sekarang ini adalah karena sifat-sifat (tabiat-tabiat) bahasa kita telah menggariskannya terlebih dahulu[26]. Benjamin Lee Whorf (1897 1941), murid Sapir, menolak pandangan klasik mengenai hubungan bahasa dan berpikir yang mengatakan bahwa bahasa dan berpikir merupakan dua hal yang berdiri sendiri-sendiri. Pandangan klasik juga mengatakan meskipun setiap bahasa mempunyai bunyi-bunyi yang berbeda-beda, tetapi semuanya menyatakan rumusan-rumusan yang sama yang didasarkan pada pemikiran dan pengamatan yang sama. Dengan demikian semua bahasa itu merupakan cara-cara pernyataan pikiran yang sejajar dan saling dapat diterjemahkan satu sama lain[27]. Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf adalah ahli linguistik yang mempunyai hipotesis kira-kira berbunyi demikian: bahasa ibu (native languange; mother tongue ) seorang penutur membentuk kategori-kategori yang bertindak sebagai sejenis jeruji (kisikisi). Melalui kisi-kisi itu si penutur melihat dunia luar (dunia di luar dirinya). Karena penglihatan si penutur terhalang oleh kisi-kisi, pandangannya ke dunia luar menjadi seolah-olah diatur oleh kisi-kisi itu. Kisi-kisi itu memaksa si penutur menggolong-golongkan dan membentuk konsep tentang berbagai gejala dalam

dunia luar itu berdasarkan bahasa ibunya. Dengan demikian maka bahasa ibu dapat mempengaruhi bahkan mengendalikan pandangan penutur-penuturnya terhadap dunia luar[28]. Hipotesis Sapir Whorf ini yang menyatakan perbedaan berpikir disebabkan oleh adanya perbedaan bahasa ini, akan menyebabkan orang Arab akan melihat kenyataan (realitas) secara berbeda dengan orang Jepang, sebab bahasa Arab tidak sama dengan bahasa Jepang. Whorf menegaskan realitas itu tidaklah terpampang begitu saja di depan kita, lalu kemudian kita memberinya nama satu per satu. Yang terjadi sebenarnya menurut Whorf adalah sebaliknya, kita membuat peta realitas itu, yang dilakukan atas dasar bahasa yang kita, dan bukan atas dasar realitas itu. Umpamanya jenis warna di seluruh dunia ini sama, tetapi mengapa setiap bangsa yang berbeda bahasanya melihat sebagai sesuatu yang berbeda. Orang Inggeris misalnya, mengenal warna dasar white, red, green, yellow, blue, brown, purple, pink, orange, dan grey; tetapi penutur bahasa Hunaco di Filipina hanya mengenal empat warna saja, yaitu mabiru, hitam dan warna gelap lain, melangit putih dan warna merah cerah, meramar kelompok warna merah, dan malatuy kuning, hijau muda, dan coklat muda[29]. Meskipun gagasan-gagasan yang dikemukakan oleh Sapir dan Whorf adalah hasil penelitian yang lama dan dikemukakan dalam karangan yang bobot ilmiahnya sangat tinggi, ternyata gagasan mereka yang disebut dalam hipotesisnya sangat kontroversial dengan pendapat sebgaian besar sarjana [30]. 1. F. GAMBARAN HIPOTESIS SAPIR-WHORF DALAM BAHASA-BAHASA DI INDONESIA Bahasa Indonesia menempati kedudukan yang fundamental, hal ini membuat secara konstitusional dengan didudukkannya bahasa Indonesia sebagai bahasa negara. Dalam UUD 1945, Konstitusi RIS 1949, dan UUDS 1950, pemberlakuan kembali UUD 1945 tahun 1959, hingga UUD 1945 yang diamandemen kedudukan bahasa indonesia sebagai bahasa negara tidak berubah. Dinamika fungsi yang diembannya mencakup lima butir, yakni sebagai (1) bahasa resmi dalam penyelenggaraan kehidupan negara

dan pemerintahan, (2) bahasa pengantar pada semua jenis dan jenjang pendidikan, (dengan catatan tambahan tentang dijadikannya bahasa Indonesia sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah dasar sampai perguruan tinggi), (3) bahasa perhubungan nasional (terutama dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional), (4) sarana pengembangan ipteks, dan (5) sarana pengembangan kebudayaan[31]. Berdasarkan bahasa negara itu, kedudukan bahasa Indonesia sebagai media pengembang ipteks dan budaya dikukuhkan, dibina, dan dikembangkan. Pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia sebagai bahasa ipteks diorientasikan pada dua hal, yakni (i) terbentuknya bahasa Indonesia yang memiliki daya ungkap terhadap berbagai konsep ipteks, dan (ii) terbentuknya rasa bangga bahasa pengguna bahasa Indonesia sebagai representasi tumbuhnya kepribadian nasional[32]. Cara berpikir masyarakat benar-benar ditentukan oleh bahasa. Misalnya, seorang anak jawa sejak kecil sudah belajar (melalui bahasa jawa), jaran (kuda) itu berbeda dengan belo (anak kuda). Penggolongan atas satu hal atau satu jenis binatang ini menjadi kisi-kisi dalam benaknya. Kelak jika ia belajar bahasa Indonesia, ada kemungkinan ia selalu bertanya, Apa bahasa Indonesianya belo? juga kalau kelak belajar bahasa Inggris [33]. Orang-orang jawa yang konon suka bersikap dan berperilaku halus, tentu saja dalam kondisi yang wajar, juga akan memiliki wujud-wujud bahasa yang serba halus sifatnya. Orang bertutur dalam masyarakat jawa, perlu mempertimbangkan tingkatan-tingkatan kehalusannya, dengan piranti tingkat tutur ( speech level) atau kesantunan yang sosiolinguistik sifatnya[34]. Perbedaan bahasa, dalam beberapa hal, dapat mengakibatkan perbedaan pandangan tentang dunia. Misalnya, orang Hopi (Indian) mempunyai kebiasaan menganggapi alam sekitarnya dengan cara yang agak berbeda denga penutur bahasa Inggris. Orang Indonesia akan mengucapkan Selamat malam jika malam sudah tiba atau masih gelap, apakah pada pukul 19.00 atau pukul 01.00, karena dalam benak mereka gelap ada kaitannya dengan malam. Orang inggris untuk masing-masing waktu

tersebut akan mengucapkan Good evening (selamat petang) dan Good morning (selamat pagi). Konsep tentang waktu memang berbeda bagi orang Indonesia dan orang Inggris. Memang hal ini bisa menimbulkan sedikit kesulitan bagi kedua belah pihak untuk saling memahami ekspresi-ekspresi mereka. Tetapi mereka pasti bisa mengatasi[35]. Di suatu media massa (Abadi, 1971) seorang bernama Kang En (mungkin nama samaran) menulis sebuah artikel yang isinya agak provokatif, yaitu: Bahasa yang Merusak Mental Bangsa. Hal ini perlu diketengahkan sebab tulisan itu tampaknya beranjak dari hipotesis Whorf-Sapir. Ada tiga persoalan dalam bahasa Indonesia yang dikemukakan oleh Kang-En, yaitu: (1) masalah kata sapaan, (2) masalah kala ( tenses), dan (3) salam (greeting)[36]. 1. Masalah Kata Sapaan Di sana dikemukakan oleh kang En bahwa kata sapaan dalam bahasa Indonesia (Bapak, Ibu, Saudara) meminjam kata dari perbendaharaan hubungan kekerabatan/famili (bapak, ibu, saudara). Hal ini tampaknya ada suatu dampak yang signifikan, yakni mengakibatkan masyarakat pemakaiannya memiliki sifat familier dan nepotis. Mungkinkah berkembangnya nepotisme di negeri ini disebabkan oleh perilaku bahasa? Jawabanya masih harus dikaji secara cermat dengan data yang lengkap[37]. 1. Masalah Kala (tenses) Masalah kedua yang juga dikemukakan oleh Kang En adalah perihal kala ( tenses). Bahasa Indonesia sebagai bahasa tipe aglunatif memang tidak mengenal tenses (kala). Hal ini telah mengakibatkan masyarakatnya kurang begitu peduli waktu dan kurang menghargai waktu atau kurang disiplin dalam masalah waktu. Kenyataan memang banyak yang menunjukkan kebenaran prasangka demikian. Jam karet memang hampir merupakan budaya bangsa. Akan tetapi apakah penyebabnya memang betul dari perilaku bahasa Indonesia yang tidak mengenal tenses? Apakah bahasa-bahasa lain yang setipe dengan bahasa Indonesia perilaku bangsanya juga sama dengan perilaku

bangsa Indonesia? Jawabnya sudah barang tentu tidak hanya spontanitas, tetapi harus diteliti dan dibuktikan dengan data yang lengkap dan otentik[38]. 1. Masalah Salam (greeting) Salam kita yang paling populer adalah Apa kabar? Atau Hallo, apa kabar? Yang menjadi persoalan ialah, samakah perilaku bangsa yang menggunakan salam Apa kabar? Dengan perilaku bangsa yang menggunakan salam How do you do! Dampak pemakaian kata do tampaknya berbeda dengan pemakaian kata apa kabar. Kata do memiliki sugesti untuk berbuat sesuatu, sedangkan apa kabar memiliki sugesti untuk memburu berita. Bangsa yang menggunakan How do you do! Sangat terbiasa bekerja dan bekerja, misalnya di dalam perjalanan dengan bus atau kereta api selalu tidak luput dari aktivitas membaca buku. Sebaliknya bangsa yang menggunakan salam Apa kabar! sangat umum dijumpai selalu ngobrol di dalam perjalanan sejenis. Apakah ini merupakan bukti bahwa perilaku bangsa ini telah ditentukan oleh perilaku bahasanya, khususnya dalam menggunakan salam? Jawabnya harus diteliti lebih lanjut, agar ketahuan benar salahnya hipotesis Whorf-Sapir tersebut [39]. Bertolak dari gagasan Koentjaraningrat (1974), ada tiga sikap budaya yang erat kaitannya dengan sikap bahasa yang positif. Bahkan sikap bahasa itu boleh dikatakan terjabar dari sikap budaya yang perlu dikembangkan dan dikukuhkan. Sikap budaya itu dapat juga diusahakan menjadi ciri jati diri warga negara Indonesia. Perincian sika budaya tersebut ialah sebagai berikut[40]:
1. Kebanggaan kepada produk Indonesia dapat lambat-laun membawa serta

kebanggaan kepada bahasa Indonesia dan bahasa etnis Nusantara[41].


2. Kesetiaan kepada prinsip hidup manusia Indonesia dapat bermuara pada

kesetiaan kepada bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional[42].


3. Kesadaran akan norma moralitas, hukum, dan disiplin akan menumbuhkan

kesadaran akan norma bahasa yang adab[43]. Namun disisi lain adapula beberapa sikap budaya yang menjadi segi negatif ciri jati diri bangsa Indonesia dan sangat perlu diubah, diantaranya sebagai berikut:

1. Sikap budaya tuna-harga-diri terhadap bangsa asing yang menulari sikap

terhadap bahasa indonesia sebagai bahasa yang belum bermartabat. Salah satu sikap itu terlihat selama konferensi internasional Uni Parlemen di Jakarta baru-baru ini. pada dinding yang melatari meja pimpinan sidang terpampang nama kongres dalam berbagai bahasa. Yang menyimpang dari kebiasaan internasional ialah pemasangan nama konferensi dalam bahasa Indonesia, justru di tempat yang paling bawah. Ini namanya tidak menjunjung bahasa persatuan[44].
2. Sikap budaya yang meremehkan mutu yang berakibat tumbuhnya sikap

kepuasan terhadap bahasa yang asal jadi. Contohnya dapat disaksikan jika orang yang harus memakai bahasa Indonesia di muka umum, memagari dirinya sambil berdalih maaf, jika bahasa saya kurang baik; maklum, saya bukan ahli bahasa. Apakah hanya ahli bahasa saja yang harus berbahasa dengan baik?[45]
3. Sikap budaya yang suka berlaku latah yang tercermin dalam sikap bahasa

untuk membenarkan salah kaprah dalam pemakaian bahasa. Sikap bahasa ini akan membenarkan pemakaian kata nominator sebagai padanan kata nominee yang sebenarnya harus menjadi ternominasi atau calonan. Salah kaprah yang berasal dari kelatahan itu dianggap tidak perlu dibetulkan lagi[46].
4. Sikap budaya suka menerabas/jalan pintas yang sejalan dengan anggapan

bahwa kemahiran berbahasa dapat dicapai tanpa bertekun[47].


5. Sikap budaya menjauhi disiplin sejalan dengan pendirian bahwa kaidah

bahasa tidak perlu dipatuhi karena bahasa itu untuk manusia, bukan sebaliknya manusia untuk bahasa[48].
6. Sikap budaya enggan bertanggung jawab sejalan dengan pikiran bahwa

urusan bahasa bukan tanggung jawab masyarakat, melainkan tanggung jawab ahli bahasa[49].

Dengan kenyataan yang demikian ini, maka dapat ditegaskan dari teori relativitas bahasa milik Sapir-Whorf yakni bahwa bahasa yang selama ini hanya dipandang sebagai peranti pentransmisi kebudayaan, terbukti memiliki peran besar sekali karena justru sebagai penentu kebudayaan itu sendiri[50].

KESIMPULAN Sudah sejak sangat lama diperbincangkan oleh banyak orang jika bahasa itu dipandang saling berpautan dengan kebudayaan. Dari fungsi bahasa sebagai alat komunikasi manusia disini membuat bahasa benar-benar menentukan cara berpikir masyarakat, demikian pula dengan perbedaan bahasa juga dapat mengakibatkan perbedaan pandangan tentang dunia dalam beberapa hal . Hipotesis Sapir-Whorf yang biasa dikenal dengan teori relativitas bahasa dan determinasi kebudayaan disitu menyatakan jika perbedaan berpikir disebabkan oleh perbedaan bahasa, jika dibuat untuk menilik ke bahasa Indonesia khususnya serta beberapa bahasa yang ada di negara Indonesia memang ada beberapa hal yang bisa dibuat menjadi rujukan atas hipotesis ini, namun dengan hipotesis ini pun bangsa Indonesia khususnya serta yang mempergunakan bahasa-bahasa di Indonesia bisa dijadikan suatu pelajaran berharga sebab berangkat dari hipotesis ini bahwasannya bahasa dipandang berpengaruh besar terhadap kultur yang mewadahi lantaran bahasa menjadi penentu cara berpikir individu-individunya, bahasa berpengaruh besar terhadap kebudayaan serta menentukan wujud-wujud dari kebudayaannya.

DAFTAR PUSTAKA Aslinda dan Leni Syafyahya. Pengantar Sosiolinguistik (Bandung: PT. Refika Aditama, 2007).

Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. Sosiolinguistik Pekenalan Awal (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004). Chaer, Abdul. Psikolinguistik : Kajian Teoritik (Jakarta: Rineka Cipta, 2009). Finoza, Lamuddin. Komposisi Bahasa Indonesia (Jakarta: Diksi Insan Mulia, 2007). Indah, Rohmani Nur dan Abdurrahman. Psikolinguistik, Konsep & Isu Umum (Malang: UIN-Malang Press, 2008). Purwo, Bambang Kaswanti Dkk., Peneroka Hakikat Bahasa (Yogyakarta: Penerbit USD, 2010). Rahardi, Kunjana. Dimensi Dimensi Kebahasaan; Aneka Masalah Bahasa Indonesia Terkini (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2006). Rusmaji, Oscar. Aspek Aspek Linguistik (Malang: Penerbit IKIP Malang, 1995). Samsuri. Analisa Bahasa; memahami bahasa secara ilmiah (Jakarta: Erlangga, 1978). Soeparno. Dasar Dasar Linguistik Umum (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2002). Sumarsono dan Paina Partana. Sosiolinguistik (Yogyakarta: Sabda, 2007). Suwignyo, Heri dan Anang Santoso. Bahasa Indonesia Keilmuan; Berbasis Area isi dan Ilmu (Malang: UMM Press, 2008).

[1] Lamuddin Finoza, Komposisi Bahasa Indonesia (Jakarta: Diksi Insan Mulia, 2007), 1. [2] Rohmani Nur Indah dan Abdurrahman, Psikolinguistik, Konsep & Isu Umum (Malang: UIN-Malang Press, 2008), 46. [3] Abdul Chaer, Psikolinguistik : Kajian Teoritik (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), 52.

[4] Kunjana Rahardi, Dimensi Dimensi Kebahasaan; Aneka Masalah Bahasa Indonesia Terkini (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2006), 60. [5] Oscar Rusmaji, Aspek Aspek Linguistik (Malang: Penerbit IKIP Malang, 1995), 1. [6] Soeparno, Dasar Dasar Linguistik Umum (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2002), 5. [7] Rohmani Nur Indah dan Abdurrahman, Psikolinguistik, Konsep & Isu Umum (Malang: UIN-Malang Press, 2008), 46. [8] Soeparno, Dasar Dasar Linguistik Umum (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2002), 1. [9] Aslinda dan Leni Syafyahya, Pengantar Sosiolinguistik (Bandung: PT. Refika Aditama, 2007), 1-2. [10] Rohmani Nur Indah dan Abdurrahman, Psikolinguistik, Konsep & Isu Umum (Malang: UIN-Malang Press, 2008), 30-31. [11] Samsuri, Analisa Bahasa; memahami bahasa secara ilmiah (Jakarta: Erlangga, 1978), 4-5. [12] Abdul Chaer, Psikolinguistik : Kajian Teoritik (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), 5. [13] Oscar Rusmaji, Aspek Aspek Linguistik (Malang: Penerbit IKIP Malang, 1995), 14-15. [14] Abdul Chaer, Psikolinguistik : Kajian Teoritik (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), 5. [15] Rohmani Nur Indah dan Abdurrahman, Psikolinguistik, Konsep & Isu Umum (Malang: UIN-Malang Press, 2008), 18. [16] Rohmani Nur Indah dan Abdurrahman, Psikolinguistik, Konsep & Isu Umum (Malang: UIN-Malang Press, 2008), 18.

[17] Abdul Chaer, Psikolinguistik : Kajian Teoritik (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), 5. [18] Abdul Chaer, Psikolinguistik : Kajian Teoritik (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), 5-6. [19] Ibid, 6. [20] Abdul Chaer dan Leonie Agustina, Sosiolinguistik Pekenalan Awal (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004), 166. [21] Kunjana Rahardi, Dimensi Dimensi Kebahasaan; Aneka Masalah Bahasa Indonesia Terkini (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2006), 60. [22] Kunjana Rahardi, Dimensi Dimensi Kebahasaan; Aneka Masalah Bahasa Indonesia Terkini (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2006), 143. [23] Soeparno, Dasar Dasar Linguistik Umum (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2002), 5. [24] Abdul Chaer dan Leonie Agustina, Sosiolinguistik Pekenalan Awal (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004), 166-167. [25] Abdul Chaer, Psikolinguistik : Kajian Teoritik (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), 52. [26] Ibid, 52. [27] Ibid, 52-53. [28] Sumarsono dan Paina Partana, Sosiolinguistik (Yogyakarta: Sabda, 2007), 59. [29] Abdul Chaer dan Leonie Agustina, Sosiolinguistik Pekenalan Awal (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004), 167. [30] Aslinda dan Leni Syafyahya, Pengantar Sosiolinguistik (Bandung: PT. Refika Aditama, 2007), 94.

[31] Heri Suwignyo dan Anang Santoso, Bahasa Indonesia Keilmuan; Berbasis Area isi dan Ilmu (Malang: UMM Press, 2008), 2. [32] Ibid, 3. [33] Sumarsono dan Paina Partana, Sosiolinguistik (Yogyakarta: Sabda, 2007), 59. [34] Kunjana Rahardi, Dimensi Dimensi Kebahasaan; Aneka Masalah Bahasa Indonesia Terkini (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2006), 144. [35] Sumarsono dan Paina Partana, Sosiolinguistik (Yogyakarta: Sabda, 2007), 60-61. [36] Soeparno, Dasar Dasar Linguistik Umum (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2002), 6. [37] Ibid, 6. [38] Ibid, 6-7. [39] Soeparno, Dasar Dasar Linguistik Umum (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2002), 7. [40] Bambang Kaswanti Purwo Dkk., Peneroka Hakikat Bahasa (Yogyakarta: Penerbit USD, 2010), 201. [41] Ibid, 201. [42] Ibid, 201. [43] Ibid, 201. [44] Bambang Kaswanti Purwo Dkk., Peneroka Hakikat Bahasa (Yogyakarta: Penerbit USD, 2010), 201. [45] Ibid, 201.

[46] Ibid, 201. [47] Ibid, 201. [48] Bambang Kaswanti Purwo Dkk., Peneroka Hakikat Bahasa (Yogyakarta: Penerbit USD, 2010), 201. [49] Ibid, 201. [50] Kunjana Rahardi, Dimensi Dimensi Kebahasaan; Aneka Masalah Bahasa Indonesia Terkini (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2006), 143.

Anda mungkin juga menyukai