Anda di halaman 1dari 15

ASPEK MEDIKOLEGAL KORBAN LUKA AKIBAT TRAUMA TUMPUL

LAPORAN KASUS Dessy Darmayani Harianja

Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

I. PENDAHULUAN Secara definisi, trauma tumpul (blunt force trauma) adalah suatu ruda paksa yang diakibatkan oleh benda tumpul pada permukaan tubuh dan mengakibatkan luka. Trauma tumpul ini, disebabkan oleh benda-benda yang mempunyai permukaan tumpul seperti batu, kayu, martil, kepalan tinju dan sebagainya, dimana termasuk juga jatuh dari tempat yang tinggi, kecelakaan lalu lintas, luka tembak (dengan peluru karet/ bukan peluru tajam) dan lain-lain.(3,4,5) Sebuah luka karena kekuatan mekanik (benda tumpul) dapat berakibat pada keadaan seperti : 1. Abrasion (luka lecet/ luka kikis) 2. Laceration (luka robek) 3. Contusion or rupture (luka memar atau patah/ pecah) 4. Fracture (patah) 5. Compression (tertekan) 6. Bleeding (perdarahan)

(Terkikis, abrasion) Luka lecet Hilangnya atau rusaknya permukaan epitel sel pembungkus kulit (epidermis) atau membrana mukosa yang diakibatkan oleh tekanan pada benda keras, benda tumpul, benda kasar ataupun senjata dengan peluru tumpul. Ciri-ciri lainnya : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Bentuk tidak teratur. Batas luka tidak jelas. Tepi luka tidak rata. Kadang-kadang ditemukan perdarahan kecil. Permukaan tertutup oleh krusta (serum yang telah mengering). Warna kemerahan atau kecoklatan. Pada pemeriksaan mikroskopis terlihat adanya beberapa bagian yang masih ditutupi epitel dan reaksi jaringan (inflamasi).

TIPE LUKA LECET 1. Luka lecet garukan atau goresan

Disebabkan berbagai faktor, seperti : Goresan horizontal/ mendatar atau miring (dari segala benda yang berujung agak runcing). Gesekan tegak lurus/ sejajar dengan didahului oeleh tekanan miring (seperti cakaran kuku).

2.

Luka lecet gesekan Terjadi karena gesekan secara sejajar/ miring antara epidermis dan bagian kasar

sebuah benda tumpul/ permukaan benda (terjatuh dan terseret di aspal pada kecelakaan lalu lintas). 3. Luka lecet tekanan (luka lecet cetak) Terjadi akibat tekanan yang tegak lurus mengarah pada permukaan tubuh. Ukuran dan bentuk dari luka lecet ini tergantung pada bagian/ jenis senjata/ alat yang mengenai tubuh, (pada kasus gantung diri/ dicekik/ terjerat) atau dipukul benda yang mencetak gambar dan bentuk benda tersebut seperti cincin.

Perkiraaan waktu terjadinya luka lecet Baru (1-2 jam) : luka masih segar, warna merah dan ditemukan sedikit darah dan serum. 8-24 jam Hari ke 2 dan ke 3 Hari ke 4 dan ke 5 Hari ke 6 : luka mengering dengan warna merah tua : luka berwarna kecoklatan : luka warna coklat tua : luka warna hitam dan luka yang kering mulai mengelupas.

Untuk luka yang luas, memerlukan beberapa hari lagi agar kudis/ keropeng lepas dari luka. No. Penilaian atas 01. 02. Letak Getah kelenjar lymph Antemortem Setiap tubuh Ada Postmortem Bagian tertentu Tidak ada

03.

Kudis / keropeng

Ada

Tidak ada

04.

Perubahan warna

Ada

Tidak ada, umumnya agak kekuningan tanpa perubahan warna berarti

05

Kulit ari

Ada

Tidak ada

(Kontusi, Hematom, Bruise, Contusion) Luka memar Luka yang mengakibatkan perdarahan pada jaringan di bawah kulit (sub kutis), dimana pembuluh darah pecah dan memasuki jaringan ikat yang diakibatkan oleh kekerasan benda tumpul. WARNA DAN PERUBAHAN Merah (bengkak) Kebiru-biruan Kecoklatan (karena pigmen hemosiderin) Kehijauan (karena pigmen hematoidin) Kekuningan (karena bilirubin) Normal WAKTU Baru (1-2 jam) Beberapa jam sampai 3 hari Hari ke-4 atau hari ke-5 Hari ke-5 atau hari ke-6 Hari ke-6 sampai hari ke-12 2 minggu

Laceration Luka robek Merupakan keadaan luka dimana permukaan tubuh yang terkena benda tumpul mengalami kondisi tertarik dan tegang, hingga melampaui batas elastisitasnya dan tekanan benda tersebut menyebabkan ke dasar kulit (bahkan ke otot) dan akan robek tepat dimulai pada daerah yang tergenting.
4

Tipe-Tipe Dari Pada Luka Robek : 1. Luka robek terbelah

Hancurnya/ robeknya jaringan, dengan dasar biasanya tulang dan membentuk luka pada kulit biasanya berbentuk pecah/ terbelah, karena benturan dengan benda keras 2. Luka Robek Tercabik

Tipe ini diakibatkan gesekan dengan benda yang kasar dan menyebabkan tercabiknya jaringan dari kulit, sering dijumpai jembatan luka. 3. Luka Robek Meluas Dan Meregang

Luka robek ini akibat tekanan yang sangat keras pada kulit. (Pada kasus leher tergantung atau tangan tergantung/ terikat kuat dengan tali. 4. Luka Robek Lepas

Luka ini merupakan yang lebih dalam lagi yang menyebabkan jaringan di bawah kulit otot bahkan lemak dapat ikut terlepas. 5. Luka Robek Potong

Jenis robekan seperti ini dikarenakan benda yang tidak terlalu tajam dengan tepi sedikit bergerigi yang memotong jaringan. Luka sering kelihatan seperti luka sayatan namun sebenarnya tepi luka tidak rata (sebaiknya gunakan kaca pembesar/ lup /suryakanta) dan ada ditemukan luka lecet dari luka robek tersebut.

Kwalifikasi Luka
Pada pembuatan kesimpulan luka yang bersifat subjektif, sebaiknya dokter juga menentukan derajat keparahan luka yang dialami korban atau disebut derajat kwalifikasi luka. Ini sebagai usaha untuk membantu yudex facti dalam menegakkan keadilan. Perlu diigat bahwa pengertian kwalifikasi luka disini semata-mata menurut pengertian medis yang dihubungkan dengan beberapa ketentuan hukum yang telah dijelaskan sebelumnya.
5

Penganiayaan merupakan istilah hukum dan tidak dipakai dalam laporan tertulis dalam visum oleh dokter. Dengan hanya melihat keadaan luka korban, dokter tidak mungkin menentukan apakah itu karena perbuatan penganiayaan atau tidak, apalagi menentukan penganiayaan ringan atau berat. Ini adalah istilah hukum artinya, yang dapat menentukan itu penganiayaan atau bukan, adalah hakim dengan menghubungkannya dengan alat bukti yang lain. Yang diharapkan dari dokter adalah dari sudut pandang ilmu kedokteran. Dokter dapat membantu kalangan hukum dalam menilai berat ringan luka yang dialami korban pada waktu atau selama perawatan yang dilakukannya. Kualifikasi luka yang dapat dibuat dokter adalah menyatakan pasien mengalami luka ringan, sedang atau berat. Yang dimaksud dengan luka ringan (pasal 351dan pasal 352) adalah luka yang tidak menimbulkan halangan dalam menjalankan mata pencaharian, tidak mengganggu kegiatan sehari-hari. Sedangkan luka berat harus disesuaikan dengan ketentuan dalam undang-undang yaitu yang diatur dalam KUHP pasal 90. Luka sedang adalah keadaan luka diantara luka ringan dan luka berat. Ketentuan hukum ini perlu dipahami dengan baik oleh dokter, karena ini merupakan jembatan untuk menyampaikan derajat kwalifikasi luka dari sudut pandang medik untuk penegak hukum. Penerapan penyampaian pendapat dokter dalam VeR tentang luka yang menimbulkan bahaya maut, misalnya bila seorang korban mendapat luka seperti tikaman di perut yang mengenai hati, yang menyebabkan perdaraan hebat sehingga dapat mengancam jiwanya. Walaupun pasien akhirnya sembuh tetapi didalam VeR dokter dapat menggambarkan keadaan ini dalam kata- kata: korban mengalami luka tikam di perut mengenai jaringan yang menyebabkan perdarahan banyak yang dapat mengancam jiwa pasien. Ungkapan ini akan mengingatkan para penegak hukum bahwa korban telah mengalami luka berat. Demikian juga penerapannya dengan cacat berat, gugur atau matinya kandungan seorang perempuan, gangguan ingatan, tidak dapat lagi melihat dan lain-lain. Seorang penyanyi yang rusak kerongkongannya sehingga tidak dapat menyanyi selama-lamanya itu termasuk luka berat. Suatu hal yang penting diingat di dalam menentuka ada atau tidaknya luka akibat kekerasan, adalah bahwa pada kenyataan tidak selamanya kekerasan itu akan meninggalkan bekas atau luka. Oleh karena itu di dalam kesimpulan VeR
6

sebaiknya ditulis tidak ditemukan tanda- tanda kekerasan. Usaha menjembatani kedua aspek inilah yang dapat dilakukan dokter.(1)

Aspek Medikolegal Dan Undang-Undang


Di dalam melakukan pemeriksaan terhadap orang yang menderita luka akibat kekerasan, pada hakekatnya dokter diwajibkan untuk dapat memberikan kejelasan dari permasalahan sebagai berikut : a) Jenis luka apakah yang terjadi. b) Jenis kekerasan/ senjata apakah yang menyebabkan luka. c) Bagaimanakah kualifikasi luka itu. d) Bagaimana membedakan luka tersebut merupakan upaya bunuh diri, pembunuhan atau kecelakaan. e) Berapa lama usia luka tersebut. f) Bagaimanakah membedakan luka tersebut sewaktu masih hidup atau setelah mati.(4) Pengertian kualifikasi luka sangat diperlukan dalam ilmu kedokteran forensik yang dapat dipahami setelah melihat kitab undang-undang hukum pidana pasal 90 (tentang luka berat) dan pasal 351 (tentang penganiayaan luka sedang), pasal 352 (tentang luka ringan).

Pasal 351 1. Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau denda paling banyak 4.500 rupiah. 2. Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah dikenakan pidana penjara paling lama lima tahun. 3. Jika mengakibatkan mati, dikenakan pidana penjara paling lama tujuh tahun. 4. Dengan sengaja merusak kesehatan orang disamakan dengan

penganiayaan. 5. Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.


7

Pasal 352 1. Kecuali yang tersebut dalam pasal 353 dan 356, maka penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian, diancam sebagai penganiayaan ringan, dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau denda paling banyak 4.500 rupiah. Pidana dapat ditambah sepertiga bagi orang yang melakukan kegiatan itu terhadap orang yang bekerja padanya atau menjadi bawahannya. 2. Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.

Pasal 90 Luka berat berarti : 1. Jika sakit atau mendapat luka, yang tidak memberi harapan atau sembuh sama sekali, atau yang menimbulkan bahaya maut. 2. Tidak mampu terus-menerus untuk menjalankan tugas jabatan atas pekerjaan pencaharian. 3. Kehilangan salah satu panca indra. 4. Mendapat cacat berat. 5. Menderita sakit lumpuh. 6. Terganggunya daya pikir selama empat minggu lebih. 7. Gugurnya atau matinya kandungan seorang perempuan. Sedangkan sangsi hukuman dari tindak pidana berdasarkan klasifikasi luka (rngan/ sedang/ berat) yang direncanakan atau suatu kealpaan atau yang mendatangkan akibat kematian diatur pada KUHP BAB XX pasal 351- pasal 358. Dari pasal-pasal tersebut dapat dibedakan empat jenis tindak pidana yaitu: 1. Penganiayaan ringan. 2. Penganiayaan. 3. Penganiayaan yang menyebabkan luka berat.
8

4. Penganiayaan yang menyebabkan kematian. Oleh karena istilah penganiayaan merupakan istilah hukum, yaitu: dengan sengaja melukai atau menimbulkan perasaan nyeri pada seseorang maka didalam VeR yang dibuat dokter tida boleh mencantumkan istilah penganiayaan, oleh karena dengan sengaja atau tidak itu merupakan urusan Hakim. Demikian pula dengan menimbulkan perasaan nyeri sukar sekali untuk dapat dipastikan secara objektif, maka kewajiban dokter dalam membuat VeR hanyalah menentukan secara objektif adanya luka, dan bila ada luka, dokter harus menentukan derajatnya. Derajat luka tersebut harus disesuaikan dengan salah satu dari ketiga jenis tindak pidana yang telah disebutkan tadi, yaitu: 1. 2. 3. Penganiayaan ringan. Penganiayaan. Penganiayaan yang mengakibatkan luka berat. Penganiayaan ringan, yaitu penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian di dalam ilmu Kedokteran Forensik pengertiannya menjadi ; luka yang tidak berakibat penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian. Luka ini dinamakan Luka derajat pertama. Bila sebagai akibat penganiayaan seseorang itu mendapat luka atau menimbulkan penyakit atau halangan di dalam melakukan pekerjaan jabatan atau pencaharian, aka tetapi hanya untuk sementara waktu saja, maka luka ini dinamakan luka derajat kedua. Apabila penganiayaan tersebut mengakibatkan luka berat seperti yang dimaksud dalam pasal 90 KUHP, luka tersebut dinamakan luka derajat ketiga. Dengan demikian didalam penulisan kesimpulan VeR kasus-kasus perlukaan, penulisan kualifilasi luka adalah sebagai berikut: 1. Luka yang tidak mengakibatkan penyakit atau halangan dalam menjalankan pekerjaan atau jabatan (luka ringan). 2. Luka yang mengakibatkan penyakit atau halangan dalam menjalankan pekerjaan atau jabatan untuk sementara waktu (luka sedang). 3. Luka yang termasuk dalam pengertian hukum (luka berat) penjelasan pada pasal 90 KUHP.(1,2,3)
9

LAPORAN KASUS

A. Anamnese Seorang laki-laki berinisial H, dewasa, datang ke RSU Pirngadi Medan pada tanggal 25 Agustus 2012 sekitar pukul 17.00 WIB. Didampingi oleh 2 orang petugas kepolisian dari Poltabes Medan dengan membawa surat permintaan visum et repertum. Korban mengaku telah mengalami penganiayaan oleh 2 orang yang tidak dikenal. Menurut keterangan korban yang berprofesi sebagai petugas penjaga keamanan, korban dipukul dibagian kepala oleh 2 orang yang tidak dikenal ketika sedang mengendarai sepeda motor sewaktu pulang bekerja sekitar pukul 18.30 WIB. Selanjutnya korban tidak sadarkan diri dan siuman sekitar pukul 02.00 WIB keesokan harinya dan mendapati dirinya sudah dirawat di rumah sakit. Sebelum diperiksa untuk pembuatan VER, korban sudah dirawat di rumah sakit selama 5 hari. Korban mengeluh sakit pada kepala terutama pada daerah yang mengalami luka, yaitu pada daerah kepala bagian belakang serta pada kaki kanan pada saat berjalan. B. Fisik Diagnostik Pada pemeriksaan fisik diagnostik terhadap korban, didapati kesadaran penuh (CM), raut wajah lemah, tekanan darah 120/80 mmHg, pernafasan 24x/menit, pemeriksaan auskultasi pernafasan dada dan perut (abdomen) terdengar normal, palpasi (perabaan) pada seluruh organ tampak normal. C. Visum et Repertum Berdasarkan surat permintaan tertulis Kepolisian Kota Besar (Poltabes) Medan tertanggal 25 Agustus 2012, No. R/287/2012/Tabes-Ms, yang ditandatangani oleh Neneng Armayanti, NRP 71070129, pangkat IPDA dan diterima di RSU Pirngadi Medan pada tanggal 25 Agustus 2012, pukul 17.00 WIB, maka dilakukan pemeriksaan medik terhadap orang berinisial H berusia 50 tahun, jenis kelamin laki-laki, pekerjaan petugas keamanan, beralamat di Jl.SM Raja Bendungan Hilir III Medan. Dengan keterangan dalam visum et

10

repertum bahwa orang tersebut mengalami penganiayaan yang terjadi pada hari Sabtu, 20 Agustus 2012 sekitar pukul 18.30 WIB. D. Pemeriksaan 1. Kepala: cDijumpai luka yang sudah mulai mengalami penyembuhan berupa jaringan parut pada kepala belakang sebelah kiri dengan panjang 12 cm, jarak dari belakang telinga kiri 7 cm, jarak dari garis tengah tubuh 13,5 cm. Pada bagian atas, tengah, dan bawah luka dijumpai jahitan dengan menggunakan benang berwarna hitam. Bentuk luka tidak

teratur, permukaan luka berwarna coklat kekuningan, sekitar luka dijumpai memar, dan pada perabaan teraba kasar serta sekeliling luka meninggi.

Dijumpai memar pada kelopak mata luar atas dan bawah mata kiri, panjang 3,5 cm, lebar 4,5 cm, garis batas memar tidak begitu tegas, bentuk tidak teratur, warna merah kecoklatan.

11

2. Anggota gerak bawah: Dijumpai luka TERBUKAyang sudah mulai mengalami penyembuhan pada sela jari ke4 dan ke-5 bagian punggung kaki kanan, panjang 5 cm, lebar 0,3 cm, jarak dari ujung jari ke-5 kaki kanan 3 cm, jarak dari pergelangan kaki kanan 13,5 cm. Pada luka masih dijumpai 3 buah jahitan dengan menggunakan benang berwarna hitam. Bentuk luka tidak teratur, tepi luka tidak rata, permukaan luka terdapat nanah yang mengering berwarna kuning, sekitar luka dijumpai memar berwarna merah kecoklatan, dan pada perabaan teraba kasar.

3. Pemeriksaan tambahan CT Scan Head Kesimpulan : tidak tampak tanda-tanda intra cranial bleeding.

12

4. Ringkasan pemeriksaan Raut wajah lemah. Dijumpai luka yang mulai mengalami penyembuhan pada kepala belakang sebelah kiri dan sela jari ke-4 dan ke-5 bagian punggung kaki kanan. Dijumpai memar pada kelopak mata luar atas dan bawah mata kiri.

Kesimpulan visum Dari fakta-fakta yang saya temukan sendiri dari pemeriksaan luar, dijumpai luka yang mulai mengalami penyembuhan pada kepala belakang sebelah kiri dan sela jari ke-4 dan ke-5 bagian punggung kaki kanan, memar pada kelopak mata luar atas dan bawah mata kiri disebabkan persentuhan dengan benda tumpul yang menimbulkan penyakit atau halangan dalam menjalankan pekerjaan mata pencahariannya sebagai petugas keamanan untuk

sementara waktu. Penutup Demikianlah visum et repertum ini dibuat dengan sejujur-jujurnya berdasarkan sumpah jabatan sesuai dengan perundang-undangan untuk dipergunakan bila mana perlu.

E. Pembahasan Pada kasus ini dilaporkan seorang laki-laki yang bekerja sebagai petugas keamanan, korban mengalami penganiayaan oleh orang yang tidak dikenal, akibatnya korban mengalami luka dikepala dan kaki serta memar pada mata sebelah kiri. Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan, maka saya simpulkan bahwa korban mengalami trauma tumpul dengan dijumpai : Luka robek yang mulai mengalami penyembuhan pada bagian kepala dan kaki yang ditandai dengan bentuk luka tidak teratur, tepi luka tidak rata, dan pada perabaan teraba kasar, bahwa luka tersebut diakibatkan trauma tumpul. Pada permukaan luka terdapat nanah yang mengering berwarna kuning, sekitar luka dijumpai memar berwarna merah kecoklatan menandakan luka telah berkisar 4-5 hari.
13

Luka memar pada kelopak mata berwarna kecoklatan menunjukkan bahwa luka timbul akibat trauma tumpul dan luka berkisar 4-5 hari. Luka yang dijumpai pada kepala, kaki, dan mata korban merupakan derajad kualifikasi luka sedang, karena menimbulkan penyakit/halangan menjalankan

pekerjaanya/pencahariannya untuk sementara waktu sebagai peugas penjaga keamanan.

14

DAFTAR PUSTAKA
1. Dahlan S, Ilmu Kedokteran Forensik Pedoman bagi Dokter dan Penegak Hukum, Cetakan Ke 3, Universitas Diponegoro Semarang 2000. Hal 67-92 2. Amir. A. Kapita Selekta Kedokteran Forensik, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Medan, 1995. Hal.101-9. 3. Gani MH. Catatan Materi Kuliah Ilmu Kedokteran Forensik, Bagian Pertama, Bagian Kedokteran Forensik. Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Padang, 1997, Hal. 4660. 4. Petty Cs, Death by trauma : Blunt and sharp instruments and firearms. In : Currtan WJ, Mc.Garry AL, Petty Cs (Eds). Modern Legal Medicine, Psychiatry and forensic science., F.A. Davis Company, Philadelphia, 1980 : 363-75. 5. Nandy A, Principles of Forensic Medicine, New Central Book Agency (P). Ltd, Calcuta, 1996. p. 204-20. 6. Hamdani N. Ilmu Kedokteran Kehakiman, Edisi II, PT. Gramedia, Jakarta, 1992. Hal. 102-8. 7. Franklin CA ( Ed ). Modis Textbook of Medical Jurisprudence and Toxicology, 21st edition, NM.Tripathi Private Limited Bombay, 1988 : Hal 250-4. 8. Alpatih Muhammad II . Luka memar (contusio). Available from: URL Google http://www.klinikindonesia.com/forensik-lukatusuk.php 9. Purba DM, Syarif HN. Trauma tumpul dan trauma tajam. Dalam : Amri A. (Ed). Ilmu Kedokteran Kehakiman, Edisi II, Balai Penerbit Universitas Sumatera Utara Press, Medan, 1989. Hal. 29-35. 10. Alpatih Muhammad II . Luka lecet (abration). Available from: URL Google http://www.klinikindonesia.com/forensik-lukalecet .php http://www.freewebs.com/traumatologi2/traumatologi.htm 11. Knight B, Simpsons Forensic Medicine, 11th edition, Oxford University Press. Inc, New York, 1977. p. 104-14. 12. Chadha PV. Catatan Kuliah Ilmu Forensik dan Toksikologi, Edisi V, alih bahasa

J.Hutauruk, Widya Medika, Jakarta, 1995. Hal. 66-70.


15