Anda di halaman 1dari 3

REVIEW THE INTERPRETER

Oleh: Ezka Amalia (09/283366/SP/23675) Ilmu hubungan internasional tidak melulu dipelajari melalui media kuliah atau buku-buku. Salah satu alternatif untuk mempelajari ilmu hubungan internasional adalah dengan media film. Misalnya saja film The Interpreter. Film ini bermula dengan setting di Afrika, benua yang penuh konflik, di sebuah negara bernama Matobo. Tiga orang lakilaki akan menghadiri pertemuan dengan sesama pemberontak di sebuah lapangan sepakbola. Namun, dua orang dari mereka yang masuk ke dalam lapangan dibunuh oleh anak-anak. Satu orang dari mereka yang bernama Phillipe berhasil melarikan diri. Lalu setting berpindah ke Amerika Serikat dimana markas besar PBB terletak. Seorang interpreter atau penerjemah dengan keahlian bahasa Ku, Silvia Broome, tidak sengaja mendengar sebuah rencana konspirasi pembunuhan terhadap Presiden Matobo Edmund Zuwanie yang diduga telah melakukan tindakan genosida di negaranya 1 di depan seluruh peserta sidang Majelis Umum PBB ketika sedang berada di studio suara. Dengan kalimat Sang Guru tidak akan keluar hidup-hidup, hidup Silvia Broome, sang interpreter, berubah seketika. Hal ini dikarenakan orang yang berbicara diperkirakan dapat melihat Silvia. Oleh karena itu, Silvia yang ketakutan kemudian melaporkan hal tersebut. Kemudian hal ini turut melibatkan agen Secret Service yang bertugas melindungi dan bertanggung jawab atas keselamatan misi diplomatik asing. Meski sempat diragukan oleh Tobin Keller, sang agen Secret Service, namun setelah kejadian lelaki bertopeng di depan jendela apartemennya, Silvia kemudian berada di bawah pengawasan SS. Pihak Amerika Serikat sebagai tuan rumah serta PBB pun mengucurkan seluruh sumber daya yang ada, CIA, FBI, TTF, demi mencegah pembunuhan Presiden Matobo. Penyelidikan yang dilakukan oleh Secret Service menunjukkan bahwa orangorang yang berpotensial membunuh sang Presiden adalah dua lawan utamanya yaitu Ajene Xola, yang sudah meninggal karena dibunuh dan diduga dilakukan oleh KumanKuman, dan Kuman-kuman, serta keluarga yang anggotanya menjadi korban kekejaman
1 Pada awalnya Edmond Zuwanie dinilai sebagai pahlawan karena mampu melawan dan menggulingkan pemerintahan yang korup di Matobo. Namun, ternyata Zuwanie malah bertindak lebih kejam daripada pemerintahan sebelumnya dengan adanya genosida di Matobo.

Zuwanie. Hal ini berarti termasuk Silvia yang kehilangan kedua orang tuanya karena ledakan ranjau darat saat menjemput adiknya sekolah. Masalah semakin pelik ketika terjadi dan pembunuhan Phillipe, teman Silvia yang juga fotografer untuk majalah di Prancis dan pemboman sebuah bus yang ditumpangi oleh Kuman-kuman oleh seseorang bernama Jean Gamma yang juga berniat membunuh Silvia. Namun usaha pembunuhan tersebut gagal karena Silvia sudah melarikan diri dan sebagai akibat Jean Gamma ditembak oleh Tobin Keller. Klimaks dari masalah tersebut adalah ketika Presiden Edmund Zuwanie berpidato di depan sidang majelis umum PBB dan Keller menyadari siapa yang akan menjadi eksekutor pembunuhan Zuwanie. Namun, si eksekutor ternyata sudah ditembak mati oleh kepala keamanan Presiden Zuwanie. Hal ini kemudia berlanjut dengan kenyataan bahwa sang kepala keamanan juga terlibat dalam aksi usaha pembunuhan meskipun bukan pelaku utama. Sang pelaku utama ternyata adalah Silvia Broome yang semalaman bersembunyi di gedung PBB dan menunggu Zuwanie. Namun, aksi pembunuhan tersebut dapat dihentikan sebelum terjadi dengan adanya bujukan dari Keller. Akhirnya, Edmond Zuwanie dinyatakan bersalah atas peristiwa genosida dengan bukti catatan-catatan yang ditulis oleh adik Silvia yaitu Simon Broome yang ikut menjadi korban setelah ditembak mati oleh anak kecil di lapangan sepakbola. Dalam film ini, banyak pelajaran tentang ilmu hubungan internasional, khususnya tentang organisasi internasional, HAM, dan pentingnya interpreter atau juru bahasa. Pertama, tentang organisasi internasional adalah hak veto yang dimiliki oleh Dewan Keamanan PBB. Hal ini ditunjukkan ketika diplomat Amerika Serikat berbicara secara rahasia dengan diplomat dari Matobo. Disebutkan bahwa proposal diplomasi dari Prancis akan diveto. Hal ini menandakan bahwa sepelik apapun masalah yang ada, ketika hak veto dikeluarkan oleh DK PBB, maka tidak ada yang bisa dilakukan. Kedua, PBB hanyalah sebuah organisasi internasional yang tidak memilki otoritas untuk mengatur negara anggota. Hal ini secara eksplisit dikemukakan oleh Kuman-Kuman dalam percakapnnya dengan Silvia Broome. PBB sebagai organisasi internasional dengan banyak negara anggota tidak memiliki kekuasaan penuh untuk mengatur negara anggota. Apalagi dengan adanya kepentingan-kepentingan negara anggota PBB dalam isu yang menyangkut salah satu negara.

Sedangkan mengenai HAM, yang juga menjadi salah satu concern PBB, disebutkan mengenai perbedaan nilai moral, khususnya dalam pembunuhan. Sebagai contoh di suku Ku, dipercaya bahwa ada dua cara dalam pembalasan atas pembunuha anggota keluarga. Pertama adalah melempar pembunuh ke sungai dan membiarkannya tenggelam, dan kedua adalah menyelamatkan si pembunuh. Masing-masing tindakan memiliki konsekuensi sendiri. Jika yang dilakukan adalah cara pertama, maka keluarga korban akan hidup dalam kesedihan, sedangkan jika dilakukan cara kedua maka keluarga korban akan hidup dalam kedamaian. Selain itu, dalam film tersebut juga secara eksplisit dinyatakan bahwa tindak geosida yang dilakukan oleh suatu negara dapat berimplikasi pada kebijakan negara lain, timbulnya protes-protes mengenai hal tersebut, dan pemahaman bahwa hak asasi manusia tidak melulu dilawan dapat ditegakkan tanpa senjata. Hal ini menandakan bahwa HAM sekarang telah menjadi isu yang sangat penting untuk dibahas dan peran penting PBB dalam pembelaan dan perlindungan HAM di dunia. Terakhir mengenai pentingnya seorang interpreter atau juru bahasa. Banyaknya negara yang menjadi anggota PBB juga mengakibatkan banyaknya bahasa yang digunakan oleh masing-masing negara. Di sinilah peran sang juru bahasa di butuhkan untuk menterjemahkan apa yang dikatakan oleh perwakilan negara lain dengan benar. Hal ini dikarenakan negara bisa salah paham hanya karena salah mengartikan apa yang negara lain katakan. Kesimpulan Seperti yang telah dikatakan di atas, ilmu hubungan internasional dapat dipelajari pula melalui media multimedia, khususnya film. Hal ini didukung dengan adanya banyak film yang di dalamnya terdapat pelajran mengenai hubungan internasional. Misalnya saja film The Interpreter ini. Dalam film tersebut, setidaknya ada tiga pelajaran penting yang dapatkita ambil, khususnya mengenai organisasi internasional, yaitu tentang PBB, HAM, sruktur organisasi internasional, dan kepentingan nasional suatu negara.