Anda di halaman 1dari 6

NAMA NIM FAKULTAS/JURUSAN MATA KULIAH

: ZULFIKAR TITO ENGGARTIARSO : F1I012003 : FAKULTAS ILMU SOSIAL ILMU POLITIK / HI 2012 : SISTEM HUKUM INDONESIA

ANALISIS KASUS PERBATASAN NEGARA DAN PENYELESAIAN MASALAH WARGA NEGARA INDONESIA KHUSUSNYA TENAGA KERJA INDONESIA DI LUAR NEGERI Dewasa ini banyak sekali ketegangan-ketegangan yang terjadi diantara negara-negara ASEAN khususnya. Border-state atau batas negara sering sekali menjadi masalah yang tidak ada habisnya karena banyak sekali batasan-batasan yang sampai sekarang pun masih diperdebatkan. Selat Malaka, Sipadan-Ligitan yang sudah diambil Malaysia, Ambalat dan lain-lain. Indonesia merupakan negara yang sangat luas dengan jumlah pulau yang ribuan, ada saatnya negara lain ingin menguasai negara kita sedikit demi sedikit. Dengan luas wilayah 1.919.440 km persegi dan berbatasan dengan banyak negara seperti Timor Leste, Papua Nugini, Malaysia, Filipina, Brunei Darussalam, Singapura serta Australia. Membuat pemerintah Indonesia harus bekerja ekstra keras untuk menjaga keutuhan tanah dan air ibu pertiwi. Kita akan fokus kepada ASEAN, karena ASEAN adalah kawasan yang sebenarnya mempunyai potensi konflik cukup besar. Konflik yang terjadi bukan hanya internal suatu negara di ASEAN tetapi juga konflik antar negara. Bisa kita lihat konflik Indonesia-Malaysia yang tidak ada habisnya dari mulai konflik soal perbatasan dan ketenagakerjaan. Lalu konflik perbatasan Thailand dan Kamboja yang memperebutkan Kuil Preah Vihear sehingga pada awal Februari 2011, militer kedua negara terlibat dalam konflik bersenjata. Ini merupakan masalah serius bagi ASEAN dan juga dunia yang menaruh perhatian pada kasus sengketa perbatasan ini. United Nations, International Maritime Organization, International Court of Justice dan organisasi internasional lain sudah pernah menangani kasus-kasus perbatasan di ASEAN. Kesimpulannya adalah kasus perbatasan ataupun ketenagakerjaan yang terjadi di ASEAN, bukan lagi masalah regional tetapi sudah menjadi masalah internasional.

PERBATASAN NEGARA, KASUS DAN SOLUSI Perbatasan suatu negara memang selalu menjadi masalah apalagi di regional ASEAN yang batasan negaranya dekat. Malaysia bagian Sabah berbatasan langsung dengan Kalimantan Barat. Kepulauan Riau di Indonesia sangat dekat sekali dan bahkan bisa melihat dengan mata telanjang negara Singapura. Padahal menurut ketentuan 3rd UNCLOS (3rd United Nations Conference on Law on the Sea) terkait dengan Exclusive Economic Zones atau Zona Ekonomi Eksklusif yang menyatakan bahwa negara diperkenankan untuk mengeksploitasi laut dan kekayaan alamnya dengan batas 200 mil, jadi tidak mengherankan bahwa banyak negara bersengketa memperebutkan wilayah entah itu lautan atau daratan karena banyak hal seperti faktor historis dan sumber daya alam. Konflik atau permasalahan banyak dan sering kali muncul karena ketidaksepahaman banyak negara disekitarnya terkait dengan batas-batas wilayah. Singapura dan Malaysia mengklaim Pisang Island dan Pulau Batu Puteh. Cina, Taiwan dan Vietnam mengklaim the Paracel Islands. Dan yang terbaru adalah Spratly Islands diklaim oleh 6 negara yaitu Cina, Taiwan, Vietnam, Filipina, Malaysia dan Brunei. Dari masalah diatas, banyak kasus yang tidak hanya melibatkan sesame negara ASEAN tetapi juga negara non ASEAN seperti Taiwan dan Cina. Kita masuk kedalam kasus yang spesifik yaitu sengketa kepemilikan pulau Sipadan dan Ligitan. Kasus ini terjadi sejak tahun 1969 dan fase penyelesaiannya sangat berlarut-larut karena banyak perundingan alot yang terjadi selama tahun 1970an sampai tahun 2002. Pada tahun 1998, kasus ini mulai dibawa ke ranah internasional, masuk ke Mahkamah Internasional dan dimana pada tanggal 17 Desember 2002, Mahkamah Internasional menyatakan bahwa kedua pulau tersebut adalah milik Malaysia. Eskalasi konflik yang dikhawatirkan yang tadinya bersifat regional menjadi internasional memang terjadi, ini yang kita takutkan untuk kedepannya. Sengketa ini dimulai ketika Pemerintah Malaysia yang meratifikasi UNCLOS membuat mereka memproklamirkan penambahan wilayah lautnya dan membuat pulau Sipadan dan Ligitan masuk kedalam wilayah Malaysia. Bahkan Pemerintah Malaysia membuat Peta Baru pada tahun 1979 dan memasukkan pulau Sipadan & Ligitan dalam wilayah Malaysia. Indonesia memprotes

aksi sepihak Malaysia ini. Tetapi Malaysia dan Indonesia bersikukuh untuk mempertahankan pulau Sipadan & Ligitan. Soeharto sebagai Presiden Indonesai dan Husein Onn sebagai PM Malaysia menyepakati bahwa penyelesaian sengketa harus dilakukan dengan cara negosiasi. Namun dengan demikian tidak menyurutkan tensi yang ada di perbatasan. Pada tahun 1982, patrol AL Indonesia menengarai kehadiran tentara asing di pulau Sipadan, walau tidak disebutkan secara detail tetapi banyak yang mengira bahwa itu adalah tentara Malaysia. Pertemuan kembali dilakukan oleh PM Malaysia Mahathir Mohammad dan Jenderal TNI Benny Moerdani pada 1985 di pulau Natuna. Tahun 1991, Malaysia mendirikan fasilitas pariwisata di Pulau Sipadan. Hal ini memancing reaksi keras dari Indonesia dengan menangkap kapal ikan Malaysia dengan muatan 100 ton yang sedang melintas di perairan pulau Sipadan. Setelah itu beberapa pertemuan dilakukan untuk mencari penyelesaian seperti pada tahun 1992, 1993 dan 1994 yang dihadiri pejabat-pejabat tinggi negara seperti Presiden Soeharto dan PM Mahathir Mohammad. Kedua pihak sepakat untuk membentuk Joint Working Group atau JWG yang akan mencari solusi untuk konflik Sipadan & Ligitan. Sayangnya sampai tahun 1994, hampir tidak ada kemajuan dari JWG ini. Pada 31 Mei 1997 kedua negara mencapai Special Agreement for the submission to the International Court of Justice, the dispute between Indonesia and Malaysia concerning the sovereignty over Pulau Sipadan and Pulau Ligitan. Special Agreement ini merupakan syarat prosedural untuk Mahkamah Internasional memutuskan dan mempunyai hak untuk memiliki kewenangan jurisdiksi. International Court of Justice memutuskan memakai asas administrasi efektif dimana pertimbangan tersebut berdasar pada kegiatan-kegiatan yang membuktikan adanya tindakan nyata untuk mewujudkan kedaulatan di pulau tersebut. Berdasarkan penguasaan efektif, pada 17 Desember 2002, ICJ memutuskan Pulau Sipadan dan Ligitan menjadi milik Malaysia. Sengketa perbatasan akan selalu ada, negara-negara akan selalu mengklaim daerah negara lain berdasarkan banyak faktor dari mulai historis sampai ekonomi. Perkuat pertahanan negara, hubungan luar negeri juga perlu untuk ditingkatkan. Yang menjadi masalah pun banyak duta besar kita kurang cakap dalam berhubungan dengan negara lain karena latar belakangnya

bukan dari Ilmu Hubungan Internasional atau yang berhubungan dengan itu. Tetap hormati kedaulatan negara lain walaupun kita perkuat militer kita di perbatasan. Tujuan negara kita adalah juga ikut menjaga ketertiban dunia sebagaimana yang tertuang dalam Preambule UUD 1945, hormati hukum yang berlaku tapi jangan diam jika kita dilecehkan atau ada negara yang berlaku semena-mena. Walaupun kita semisal mengeluarkan nota protes tetapi harus tetap dalam fase-fase yang berlaku secara nasional maupun internasional. Peran ASEAN sebagai regional juga tidak boleh dihilangkan, jika ini bisa diselesaikan secara bilateral, kita tidak perlu bawa ini ke kancah internasional seperti PBB, IMO atau Mahkamah Internasional. Yang terpenting lagi adalah nasionalisme masyarakat kita harus dijaga, yang jadi masalah adalah sense of belonging terhadap negara apalagi atensi terhadap perbatasan masih sangat kurang sekali. Kita harus bangun kesadaran kita, nasionalisme kita, perasaan memiliki kita terhadap bangsa dan negara sehingga kita dengan cara apapun akan melindungi kedaulatan dan kehormatan bangsa dan negara kita, Indonesia. KEMELUT KETENAGAKERJAAN DAN SOLUSI Dari bidang ketenagakerjaan pula, negara-negara ASEAN sering menuai konflik yang belum bisa diselesaikan sampai sekarang. Terutama Indonesia dan Malaysia, dua negara serumpun yang masih mempunyai potensi konflik yang cukup tinggi ini mempunyai beberapa masalah ketenagakerjaan. Banyak kasus yang terjadi yang melibatkan tenaga kerja Indonesia khususnya dalam banyak kasus di Malaysia, entah TKI disana menjadi korban atau pelaku. Banyak kasus dari mulai ada kasus TKI di Malaysia diiklankan di koran layaknya barang dagangan yang didiskon, TKI diperkosa, dianiaya, dibunuh tetapi ada juga warga negara Indonesia yang tertangkap mencuri di Malaysia. Sangat banyak sekali kemelut yang terjadi dan sangat kompleks. Longgarnya peraturan yang ada, lemahnya pengawasan, kurangnya kekuatan regulasi, hampir tidak adanya atensi dari kedua pemerintahan juga menjadi faktor kenapa kemelut ini tidak pernah selesai. Seharusnya ada kebijakan-kebijakan yang jelas untuk bidang ketenagakerjaan khususnya para TKI dan TKW yang bekerja di luar negeri. Dari dalam negeri, PJTKI (Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia) juga harus terdata secara rapi dan terawasi secara baik oleh pemerintah khususnya kementrian terkait seperti Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Harus ada rule

yang harus ditaati, pembersihan oknum-oknum nakal yang sering memasukkan TKI atau TKW secara ilegal ke Malaysia atau negara-negara tujuan lain. Ketika kebijakan atau, misalnya, Peraturan Pemerintah atau Keputusan Presiden atau Undang-undang tentang ketenagakerjaan ini jelas maka saya yakin kemelut ketenagakerjaan khususnya yang akan ke luar negeri akan terminimalisir. Pemerintah harus menaruh perhatian khusus terhadap kasus ini karena ini juga berkaitan dengan harga diri Indonesia pula. Dari sisi eksternal, banyak yang bisa dilakukan sebenarnya oleh Indonesia. Terus lakukan konsolidasi dan koordinasi dengan negara-negara tujuan tenaga-tenaga kerja tersebut. Banyak agreement yang seharusnya bisa dilakukan, tinggal pemerintah dari kedua negara saja mengawasi apakah agreement tadi berjalan dengan baik atau tidak. Khususnya dari Kementrian Luar Negeri untuk terus berkoordinasi dengan pihak dari Malaysia, yang saya lihat adalah Kedutaan Besar Indonesia di Malaysia kurang sigap dalam menghadapi kasus-kasus seperti ini padahal kasus-kasus seperti ini tidak sekali atau dua kali terjadi. Saya tidak melihat adanya kebijakan-kebijakan atau langkah-langkah kongkrit yang dihasilkan oleh baik Kemenlu atau Kedubes Indonesia di Malaysia. Seperti prinsip ASEAN bahwa ada persamaan kedudukan dalam keanggotaan atau equality lalu saling membantu atau solidarity, Indonesia dan Malaysia seharusnya mampu untuk saling bahu membahu menyelesaikan permasalahan ketenagakerjaan khususnya pada kasuskasus TKI dan TKW. Sekali lagi seperti pada kasus batasan negara pula, kasus ketenagakerjaan ini bukan hanya menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah Indonesia saja. Kita juga harus melakukan aksi-aksi atau movement sehingga apa yang kita kritisi, ide-ide dan aspirasi-aspirasi kita bisa didengar oleh pemerintah. Kita tidak hanya diam melihat warga negara Indonesia, saudara kita sendiri, satu tanah air dan satu bangsa dengan kita dilecehkan dan ini bukan hanya soal pelecehan individu tetapi juga pelecehan harga diri Indonesia. Sebagai mahasiswa juga banyak yang bisa kita lakukan seperti menulis artikel atau esai sehingga bisa menggugah perasaan teman-teman kita lain untuk lebih membangun sense of belonging-nya terhadap Indonesia. Lagi-lagi ini soal nasionalisme, dan nasionalisme kita harus terus menerus menebal hari demi hari.

DAFTAR PUSTAKA Tim Penyusun Buku ASEAN SELAYANG PANDANG 2007 Edisi ke-17, ASEAN SELAYANG PANDANG 2007. Jakarta: Dirjen Kerjasama ASEAN Departemen Luar Negeri RI, 2007. Delegates Handbook PNMHII XXIV Upaya Resolusi Konflik dan Bina Damai di Asia Tenggara, Yogyakarta: Universitas Gajah Mada, 2012.

Anda mungkin juga menyukai