Anda di halaman 1dari 20

PERKEMBANGAN EMBRIO AYAM (WHOLEMOUNT)

Oleh: Nama NIM Rombongan Kelompok Asisten : Tochirun : B1J009180 : III :4 : Andrian Putra Bahari

LAPORAN PRAKTIKUM STRUKTUR PERKEMBANGAN HEWAN II

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2010

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Wholemount merupakan metode untuk melihat stuktur-struktur yang berhubungan dengan organ embrio seluruhnya, tingkat kesukaran dalam metode ini yaitu menentukan lokasi pemotongan yang tepat. Hal yang harus diperhatikan ke dalam skema umum organ yang tampak dalam wholemount. Ayam sering digunakan dalam mempelajari embriologi di laboratorium. Hal itu karena proses diferensiasi awal dari system organ dan proses dasar pembentukan tubuh mudah dimengerti. Telur ayam mewakili karakteristik pembelahan telur dengan yolk banyak. Prosesnya merupakan bentuk intermediet antara pisces dan ampibhia. Wholemount dapat diartikan sebagai sediaan mikroteknik keseluruhan dari suatu obyek. Semua jenis telur mempunyai struktur yang sama. Telur terdiri dari enam bagian yaitu: kerabang telur (shell), selaput kerabang, putih telur (albumin), kuning telur (yolk), tali kuning telur (chalaza) dan sel benih (germ plasm). Masing-masing bagian memiliki fungsi khas. Kerabang telur berfungsi sebagai pelindung embrio dari gangguan luar yang tidak menguntungkan. Kerabang juga berfungsi melindungi putih telur dan kuning telur agar tidak keluar dan terkontaminasi dari benda-beda yang tidak diinginkan. Kerabang telur memiliki pori-pori sebagai tempat lalu lintas gas oksigen (O2) dan karbondioksida (CO2) selama proses penetasan. Oksigen diperlukan embrio untuk proses pernafasan dan perkembangannya. Putih telur merupakan tempat penyimpanan zat makanan dan air dalam telur yang digunakan embrio untuk pertumbuhannya. Kuning telur merupakan bagian telur yang bulat bentuknya, berwarna kuning sampai jingga dan terdapat di tengah-tengah telur. Kuning terlur mengandung zat lemak yang penting bagi pertumbuhan embrio. Di dalam kuning telur terdapat sel benih betina dan sekaligus tempat berkembangnya

embrio. Bagian ujung yang tumpul dari telur terdapat rongga udara yang berguna untuk bernafas bagi embrio selama penetasan. Reptil, aves dan mamalia tergolong pada hewan amniota, karena janinnya mempunyai Selaput embrional yang dinamakan amnion. Tipe telur burung adalah telolesital, tetapi karena detoplasmanya banyak sekali maka dinamakan megalesital. Bagian yang aktif pada pembelahan sel telur adalah keeping lembaganya (blastodiscnya). Pembelahan sudah dimulai sewaktu telur melalui oviduk, di oviduk inilah telur mendapat albumen dan selaput-selaput lainnya. Albumen kental yang berputar karena telur waktu melalui oviduk jalannya berputar-putar sehingga albumennya turut berputar-putar, ini disebut sebagai khalaza yang berfungsi untuk menjaga agar sel telur tetap terletak sentral di dalam albumen dan keeping lembaganya selalu menghadap ke atas. Cangkang kapur di dapat pada bagin posterior dari oviduk, dan rongga udara di antara selaput cangkang telur mula-mula sempit sekali tetapi selama pertumbuhan embrio rongga tersebut makin bertambah besar. Reptil, burung dan mamalia perkembangannya terpisah dari Cyclostomata (ikan dan amphibi), karena telah memiliki perkembangan embrionik spesial, yaitu membran fetal, diantaranya amnion. Membran- membran ini sangat penting, selain menjaga kelembaban embrio juga mencegah kerusakan embrio. Amnion dibentuk sebagai hasil evolusi reptil untuk menyesuaikan tempat hidupnya yang baru, yaitu habitat darat dan udara. Telur pada bangsa burung, dilengkapi dengan yolk yang sangat banyak, yang memungkinkan untuk mengantisipasi kebutuhan bahan makanan embrio, yang secara keseluruhan harus dipenuhi oleh telur tempat ia berkembang, terkecuali kebutuhan oksigen. Kebutuhan nutrisi pada embrio ikan dapat diserap dari medium air

sekitarnya sedangkan pada amfibi, kekurangan kandungan makanan di dalam telur dipenuhi melalui kehidupan fase larva. Praktikum pembuatan sediaan embrio ayam (sediaan wholemount) digunakan telur ayam yang telah dierami selama 1-3 hari. Karena pada usia tersebut tahap awal pembentukan embrio telah dimulai. Saat itulah blastodiskus pada embrio ayam telah terlihat.

B. Tujuan Tujuan dari praktikum kali ini adalah mahasiswa dapat membuat sediaan embrio ayam (sediaan wholemount) dan melihat serta mengikuti tahapan perkembangan awal ayam.

II. TINJAUAN PUSTAKA Proses perkembangan embrio ayam dimulai setelah terjadi fertilisasi yang membentuk zigot. Perkembangan awal adalah terjadinya pembelahan segmentasi (cleavage), kemudian morulasi, blastulasi, gastrulasi, neurulasi, dan organogenesis. Fase gastrula terbentuk tiga lapisan dasar embrio yang menentukan perkembangan embrio selanjutnya, yaitu endoderm, mesoderm dan ektoderm (Huettner, 1961). Periode pertumbuhan awal sejak zigot mengalami pembelahan berulang kali sama saat embrio memiliki bentuk primitif ialah bentuk dan susunan tubuh embrio yang masih sederhana dan kasar. Bentuk dan susunan tubuh embrio itu umum terdapat pada jenis hewan vertebrata. Periode ini terdiri atas empat tingkat yaitu tingkat pembelahan, tingkat blastula, tingkat gastrula, dan tingkat tubulasi (Yatim,1982). Menurut Patten (1958), faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan embrio ayam adalah suhu, keberhasilan gastrulasi dan kondisi lingkungan. Semakin tinggi suhu maka semakin cepat proses perkembangan embrio ayam berlangsung. Namun, perkembangan embrio ayam juga memiliki suhu optimal inkubasi. Apabila suhu telalu tinggi maka akan merusak embrio tersebut. Keberhasilan perkembangan embrio selanjutnya karena gastrulasi merupakan proses yang paling menentukan dalam perkembangan embrio. Kondisi lingkungan yang buruk mengganggu perkembangan embrio ayam. Embrio di dalam telur, mengembangkan mekanisme khusus untuk memobilisasi vitamin dan mineral yang sebelumnya disimpan dengan cara transport protein. Kekurangan sedikit dapat secara signifikan mempengaruhi beberapa ayam dalam kawanan, tetapi tidak yang lain, menyebabkan angka kematian embrio lebih tinggi pada akhir inkubasi. Tingkat kematian tinggi terjadi pada minggu kedua

inkubasi embrio ayam menunjukkan kekurangan nutrisi pada ayam, sebagai tingkat kematian normal dalam periode ini sangat rendah. Kelebihan serta kekurangan dapat mempengaruhi perkembangan embrio dan dapat mengganggu produksi telur ayam. Kekurangan nutrisi atau kelebihan memberi efek terhadap perkembangan embrio (SL Vieira, 2007).

III. MATERI DAN METODE

A. Materi Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah mangkuk dari plastik, gunting, gelas arloji, kertas saring, pinset, jarum, pipet tetes, pensil dan tissue. Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah telur ayam kampung fertil yang telah diinkubasi selama 24, 48, 60 dan 72 jam, larutan garam fisiologi, larutan alkohol 70% dan larutan Bouin.

B. Metode 1. Larutan garam fisiologis dalam temperature hangat dimasukkan ke dalam mangkok plastik secukupnya. 2. Telur yang telah dierami dimasukkan ke dalam mangkok sampai tenggelam, ditunggu sampai mengambang dan diam tidak bergerak-gerak lagi. 3. Permukaan cangkang telur yang tidak terendam air ditandai dengan pensil. 4. Ujung cangkang yang tumpul ditusuk dengan jarum penusuk agar udara di dalam rongga udara telur keluar. 5. Permukaan telur yang ditandai digunting dan cangkang yang tergunting diambil dengan pinset. 6. Embrioblas diambil dengan cara menggunting blastodiskus, kemudian dijepit dengan pinset dan dipindahkan ke dalam gelas arloji dengan hati-hati. 7. Yolk yang terbawa dibersihkan dengan meneteskan larutan garam fisiologis berkali-kali sampai bersih. 8. Sediaan kertas sering, lipat menjadi dua, kemudian dilipat lagi tegak lurus lipatan pertama. Lipat lagi hasil lipatan kedua pada diagonalnya sehingga membentuk segitiga. Ujung yang lancip dipotong sehingga ketika dibuka hasil guntingan membentuk lingkaran.

9. Tempatkan kertas saring sedemikian rupa sehingga embrio tepat berada di tengatengah lubang. 10. Embrio yang berada di tengah-tengah kertas saring dimasukkan ke dalam fiksatif dengan larutan bouin.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Gambar Hasil Praktikum Embrio Ayam Umur 48 Jam

Gambar 1.1 Embrio Ayam setelah Cangkang dibuka

Gambar 1.2 Embrio Ayam setelah diletakkan di gelas arloji

Gambar 1.3 Embrio Ayam yang didapatkan

Gambar 2.1 Mikroskopis Embrio Ayam Umur 24 Jam

Gambar 2.2 Mikroskopis Embrio Ayam Umur 48 Jam

Gambar 2.3 Mikroskopis Embrio Ayam Umur 60 Jam

Gambar 2.4 Mikroskopis Embrio Ayam Umur 72 Jam

B. Pembahasan Pembelahan atau cleavage atau disebut juga segmentasi, terjadi setelah pembuahan. Zigot membelah berulang kali sampai terdiri dari berpuluh sel kecil, ynag disebut blastomer. Pembelahan itu bisa meliputi seluruh bagian, bisa pula hanya pada sebagian kecil zigot. Ada tiga macam pembelahan, yaitu holoblastik yang merupakan pembelahan mengenai seluruh daerah zigot. Tipe pembelahan ini terdapat pada telur homolecithal dan mediolecithal. Tipe yang kedua yaitu meroblastik yang merupakan pembelahan hanya pada sebagian zigot, yakni didaerah germinal disc. Pembelahan yang ketiga adalah pembelahan perantara holo dan meroblastik, yaitu pembelahan yang tidak seluruhnya mencapai ujung daerah kutub vegetal, terdapat pada telur megalicithal yang berlapisan yolk (Yatim, 1982). Tipe pembelahan pada telur ayam merupakan tipe meroblastik yang

pembelahan pertamanya melewati bidang meridian. Pembelahan kedua melewati bidang meridian, tegak lurus pada bidang pembelahan pertama. Pembelahan ketiga lewat bidang-bidang vertikal, melintang bidang merindian pembelahan pertama. pembelahan keempat melewati bidang-bidang vertikal, melintang bidang

pembelahan meridian kedua. Terbentuklah tumpukan sel di daerah yang terdiri dari sekitar 8 sel di tengah dan 12 sel dipinggir. Sel-sel tengah masih berhubungan dengan yolk di bawah, sedang sel-sel pinggir sebagian besar sudah terlepas dari yolk kecuali daerah tepi sekali. Telur mencapai uterus dan sudah dilapisi oleh albumen dan shell (Yatim, 1982). Embrio ayam umur 24 jam khorda timbul di bawah lipatan neural pada sumbu tengah embrio. Khorda ini tidak timbul karena delaminasi mesoderm, asalnya adalah dari sel-sel yang tidak mengalami diferensiasi di antara kedua lapisan mesoderm. Hal ini disebabkan pula karena perbanyakan sel-sel di muka daerah

nodus Hensen. Mesoderm tumbuh ke samping dan ke belakang primitive shreak dan juga tumbuh ke muka kiri dan kanan dari keping neural, sesudah terbentuk lipatan kepala, mesoderm tumbuh pada kanan dan kiri notokhorda.

Gambar 3. Embrio Ayam Umur 24 Jam Menurut Djuhanda (1981), somit-somit mesoderma adalah tanda yang seksama dari tingkat pertumbuhan, embrio dengan jumlah somit yang sama, merupakan tingkat pertumbuhan yang sama. Embrio dengan tingkat pengeraman 24 jam, mesoderma telah membentuk 4-5 pasang somit mesoderma yang keduanya di kiri-kanan notokhor di bagian tengah embrio. Mesoderma dapat dibentuk tiga bagian, yaitu mesoderma dorsal atau mesoderma segmental membentuk somit, mesoderma intermedier tidak bersegmen tetapi membentuk nefrotom yang bersegmen-segmen dan mesoderma lateral yang dibangun oleh lapisan somatis dan splankhnis yang melebar jauh di luar embrio sehingga pada solom dapat dibedakan dua daerah yaitu intra dan ekstra embrional solom. Embrio ayam umur 48 jam memiliki 27 pasang somit. Embrio pada stadium ini mengalami pelekukan kepala sehingga mesencephalon tampak di sebelah dorsal, sedangkan prosencephalon dan rhombenchepalon tampak sejajar. Badan embrio

memutar sepanjang sumbu sehingga bagian kiri menjadi di atas kunir sedangkan pandangan dari dorsal tampak kepala bagian kanan, badan bagian posterior masih menunjukkan bagian dorsal. Bagian badan sebelah tengah telah menunjukkan adanya lipatan lateral, sedangkan di daerah ekor telah telah terjadi tail fold. Lama-kelamaan seluruh badan embrio berada dalam selubung amnion, setelah semua lipatan-lipatan bertemu (Syahrum et al, 1994). Perkembangan embrio ayam 48 jam menurut Djuhanda (1981), adalah sebagai berikut : 1. Neurulasi Otak dan sum-sum tulang belakang merupakan yang paling terkemuka dari semua organ. Ketiga bagian otak tadi mengalami diferensiasi-diferensiasi, prosensefalon menjadi telensefalon dan diensefalon. Vesikula optik menyempit dan memanjang, dan membentuk tangkai optik yang tumbuh ke arah lateral dan menginduksi primordia lensa pada ektoderm. Vesikula optik berinvaginasi membentuk cawan optik, di hadapan mulut cawan terjadi kantong lensa yang kelak berdiferensiasi menjadi lensa. 2. Sistem pembuluh darah Jantung terjadi dari penebalan-penebalan mesoderma splankhnis. Jantung mula-mula berupa suatu bumbung yang letaknya di bawah rhombensefalon. Bagian anterior menjadi akar-akar aorta ventral dan bagian posterior berhubungn dengan vena omfalomesentrika yang datang dari yolk. Sinus venosus dan atrium dibentuk dari vena omfalomesentrika yang bersatu. Fleksura jantung menonjol ke kanan menjadi ventrikel. Sistem peredaran darah embrio dapat dibedakan sistem peredaran intra embrional yang terdapat di dalam embrio itu sendiri dan sistem peredaran darah

ekstra embrional yang dibangun oleh sirkulasi vitelina pada kantong yolk dan sirkulasi alantois.

Gambar 4. Embrio Ayam Umur 48 jam Organ-organ yang terbentuk pada umur 48 jam yaitu otak dan sumsum tulang belakang. Selanjutnya ketiga bagian otak mengalami deferensiasi , prosensefalon menjadi telensefalon dan diensefalon. Vesikula optik menyempit dan memanjang kemudian terbentuk tangkai optik yang tumbuh ke arah lateral menuju ke ekloderma luar dan menginduksi primordial lensa pada ectoderm yang merupakan suatu penebalan ekstra (Djuhanda, 1981). Embrio ayam yang telah diinkubasi selama 72 jam memiliki 35 pasang somit. Embrio mengalami pelekukan servikal, sehingga daerah rhombencephalon berada di sebelah dorsal dan telencephalon mendekati perkembangan jantung. Lipatan kepala makin berkembang ke arah posterior, sebaliknya dengan amniotic tail fold (berkembang ke arah anterior), dan lateral body fold semakin menutup. Mata terletak lebih ke arah kaudal dari pada otosis. Daerah ventro-lareral

rhombencephalon berkembang derivat neural crest berupa pasangan ganglion saraf-

saraf kranial. Di daearah setinggi AIP, terjadi penebalan mesoderm yang akan berkembang menjadi upper limb bud atau wing bud, merupakan primordia sayap. Sedangkan di daerah kauda dibentuk lower bud yaitu primordia kaki (Syahrum et al, 1994). Arteri-arteri ompalomesentri yang dipersiapkan untuk mengalirkan darah dari aorta dorsalis ke flexus vitelinus tumbuh dalam embrio saluran vitelina efferent menguasai asal mula ganda. Saluran bagian proksimal ke flexus vitelinus tumbuh dalam embrio sebagai cadangan-cadangan aorta dorsalis dan meluas ke perifer. Saluran bagian distal tibul dalam area vasikuler akstra embrional dan meluas kearah embrio. Sirkulasio vitelina tidak dapat dimulai sampai kedua perangkat saluran ini bertemu. Hubungan satu sama lain awalnya melalui suatu jaringan saluran-saluran kecil. Saluran-saluran pemula ini terbentuk secara bebas, yang meluas dari aorta untuk diteruskan ke lateral dengan flexus ekstraembrional. Saluran ini akan bertemu dan yang lain mengelilingi serta perlahan-lahan akan menjadi pembuluh darah yang utama, sehingga tersusunlah vena ompalomesentri. Arteri-arteri ompalomesentri berasal dari flexus saluran-saluran kecil dan timbul dari aorta melalui rediks yang banyak (Djuhanda, 1981).

Gambar 5. Embrio Ayam Umur 72 Jam

Keterangan : 1. Cerebral hemisphere of telencephalon 2. Pineal gland

9. Auditory vesicle 10. Cervical flexsure 11. Wing bud 12. Caudal intestinal portal 13. Tail bud 14. Vitelline arteries 15. Sinus venosus 16. Bulbus cordis 17. Ventricle

3. Diencephalon 4. Mesencephalon 5. Isthmus 6. Metencephalon 7. Myelencephalon 8. Endolymphatic duct

Penetasan pada jam ke 72 pada kedua sisi embrio ayam terbentuk dua bubung yang menandakan pembentukkan kaki. Perkembangan selanjutnya membentuk tunas kaki yang jelas, kemudian berangsur-angsur diferensiasi dari bagian-bagian kaki belakang dan depan, tulang rawan, tulang dan otot. Penempatan yang tepat dari tunas kaki, diferensiasi beberapa sel tunas kaki menjadi tulang rawan dan sel lain menjadi otot, pemebentukan tunas kaki depan menjadi sayap dan tunas kaki belakang menjadi kaki dan pencerminan perkembangan semua struktur ini di bagian tubuh yang berlawanan, semuanya terpusat pada regulasi morfogenesis dan diferensiasi dalam perkembangan embrio (Ville et al., 1988). Perlakuan pada praktikum embrio ayam yang berusia 1-3 hari, yaitu pertamatama telur ayam diteropong terlebih dahulu, lalu telur ayam dimasukkan ke dalam larutan garam fisiologis. Hal ini dilakukan agar embrio dapat mengapung di atas permukaan air. Selain itu larutan garam fisiologis juga dapat digunakan untuk membersihkan blastodiskus yang masih mengandung yolk sehingga warna kuning hilang. Cangkang bagian tumpul telur ditusuk dengan jarum preparat hingga tembus

agar adara di dalam ruang udara telur keluar sehingga ketika telur ditenggelamkan dalam posisi horizontal, permukaan kuning telur tidak lagi menempel pada cangkang telur di atasnya, tetapi menjadi lebih rendah. Proses penempelan embrio pada kertas saring berlubang yaitu untuk melekatkan embrio di tengah-tengah lubang, sedemikian sehingga embrio tepat berada ditengah-tengah lubang dan diusahakan agar larutan fisiologis belum kering sekali. Bagian yang ditandai digunting, lalu embrio dikeluarkan secara hati-hati. Embrio yang telah dikeluarkan tersebut kemudian diletakkan pada gelas arloji. Telur dimasukkan dalam larutan garam fisiologis maka berat jenis telur sama dengan berat jenis air garam, sehingga telur melayang. Larutan yang digunakan untuk memfiksasi adalah larutan bouin, sedangkan tujuan dari fiksasi adalah untuk meningkatkan afinitas sel (daya gabung) terhadap zat warna menjadi lebih besar atau zat warna lebih melekat. Larutan fiksasi tersebut dihilangkan dengan menggunakan alkohol 70%. Penggunaan dengan kertas saring adalah untuk menyerap larutan bouin (Huttner, 1961).

V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan sebelumnya dapat diambil kesimpulan bahwa: 1. Wholemount dapat diartikan sebagai sediaan mikroteknik keseluruhan dari suatu obyek untuk melihat stuktur-struktur yang berhubungan dengan organ embrio seluruhnya. 2. Tahapan perkembangan embrio ayam dimulai setelah terjadi fertilisasi yang membentuk zigot. Perkembangan awal adalah terjadinya pembelahan segmentasi (cleavage), kemudian morulasi, blastulasi, gastrulasi, neurulasi, dan

organogenesis.

B. Saran Kesulitan dalam pelaksanaan praktikum yaitu saat mencari embrio dengan ukuran yang sangat kecil dan hampir tidak bisa dilihat kalau kita tidak mengamatinya secara teliti, embrio ayam ini bercampur dengan yolk kuning dan yolk putih sehingga belum bisa dibedakan antara embrio dan yolk. Pengambilan embrio ayam untuk dipindahkan ke gelas arloji. Sarannya mahasiswa harus lebih banyak belajar bagaimana cara mengambil embrio ayam yang benar dan saat membersihkan embrio dari yolk lebih berhati-hati karena dapat menyebabkan embrio rusak bahkan ikut tersedot dengan pipet.

DAFTAR REFERENSI Djuhanda, T.1981. Embriologi Perbandingan. CV. Amrico, Bandung.

Huettner, A.F. 1961. Fundamentals of Comparative Embryology of The Vertebrates. The Mc Millan Company, New York. Patten, B.M. 1971. Early Embriology of Chick. Mc Graw-Hill Publishing Company, New York. SL Vieira, 2007. Chicken Embryo Utilization of Egg Micronutrients. Brazilian Journal of Poultry Science. Vol 9 (1): 01 08. Syahrum, M. H, et al. 1994. Reproduksi dan Embriologi: Dari Satu Sel Menjadi Organisme. Fakultas Kedokteran UI, Jakarta. Ville, C. A., F. W. Warren and D. Robert. 1988. General Zoology. W. B. Saunders Company, Philadelphia. Yatim,W. 1982. Embriologi dan Reproduksi. Tarsito. Bandung.