Anda di halaman 1dari 14

APPENDICITIS KRONIS

Laporan Pendahuluan dan Asuhan Keperawatan ini disusun untuk memenuhi tugas Clinical Study 2 Departemen Surgikal yang dibimbing oleh Ns. Endah Panca, S.Kep.

Disusun Oleh : NAMA : ALIEFIA DITHA K NIM : 0910720022 PSIK A 2009

KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS KEDOKTERAN JURUSAN KEPERAWATAN MALANG 2013

1. Pengertian Appendisitis adalah peradangan pada appendiks periformis. Appendisitis akut adalah keadaan yang disebabkan oleh peradangan yang mendadak pada suatu appendiks 2. Anatomi dan Fisiologi Embriologi appendiks berhubungan dengan caecum, tumbuh dari ujung inferiornya. Tonjolan appendiks pada neonatus berbentuk kerucut yang menonjol pada apek caecum sepanjang 4,5 cm. Pada orang dewasa panjang appendiks rata-rata 9 10 cm, terletak posteromedial caecum kira-kira 3 cm inferior valvula ileosekalis. Posisi appendiks bisa retrosekal, retroileal,subileal atau dipelvis, memberikan gambaran klinis yang tidak sama. Persarafan para simpatis berasal dari cabang nervus vagus yang mengikuti arteri mesenterika superior dari arteri appendikkularis, sedangkan persarafan simpatis berasal dari nervus torakalis x, karena itu nyeri viseral pada appendiks bermula sekitar umbilikus. Perdarahan pada appendiks berasal dari arteri appendikularis yang merupakan arteri tanpa kolateral. Jika arteri ini tersumbat, misalnya trombosis pada infeksi maka appendiks akan mengalami gangren.

Fungsi appendiks tidak diketahui, kadang-kadang apendiks disebut tonsil abdomen karena ditemukan banyak jaringan limfoid sejak intrauterine akhir kehamilan dan mencapai puncaknya pada kira-kira umur 15 tahun, yang kemudian mengalami atrofi serta praktis menghilang pada usia 60 tahun. Dengan berkurangnya jaringan limfoid, terjadi fibrosis dan pada kebanyakan kasus timbul konstriksi lumen atau obliterasi. 2

Appendiks menghasilkan lendir 1 2 ml perhari yang bersifat basa mengandung amilase, erepsin dan musin. Lendir itu secara normal dicurahkan ke dalam bumen dan selanjutnya mengalir ke caecum. Hambatan aliran lendir di muara appendiks berperan pada patofisiologi appendiks. Imunoglobulin sekretor yang dihasilkan oleh GALT (Gut Associated Lymphoid Tissue) yang terdapat disepanjang saluran cerna termasuk appendiks, ialah Ig A. Imunglobulin itu sangat efektif sebagai perlindungan terhadap infeksi tapi pengangkatan appendiks tidak mempengaruhi sistem Imunoglobulin tubuh sebab jaringan limfe kecil sekali jika dibandingkan dengan jumlah disaluran cerna dan seluruh tubuh. 3. Klasifikasi 1. Appendicitis Akut a. Appendicitis akut focalis atau segmentalis Biasanya hanya bagian distal yang meradang tetapi seluruh anggota appendiks 1/3 distal berisi nanah. Untuk diagnosis yang penting adalah ditemukannya nanah dalam lumen bagian itu. Kalau radangnya menjalar maka dapat terjadi appendiks purulrenta. b. Appendicitis akut purulenta diffusa Disertai pembentukan nanah yang berlebihan. Jika radangnya lebih mengeras, dapat terjadi nekrosis dan pembusukan disebut appendicitis gangrenosa atau pheegmonosa. Pada appendicitis gangrenosa dapat terjadi perforasi akibat nekrosis ke dalam rongga perut dengan akibat peritonitis. 2. Appendicitis Kronis a. Appendicitis kronik focalis Secara mikroskopi tampak fibrosis setempat yang melingkar sehingga dapt menyebabkan stenosis. b. Appendicitis kronik obliterativa Terjadi fibrosis yang luas sepanjang appendik pada jaringan submukosa dan serosa, hingga terjadi obliterasi (hilangnya lumen), terutama di bagian distal dengan menghilangnya selaput lender pada bagian itu.

4. Penyebab a. Predisposisi Hiperplasia folikel limfoid Fecolith dalam lumen apendiks Infeksi yang disebabkan oleh kuman E.Coli (80%) dan selebihnya streptococcus dan jarang-jarang kuman lain. b. Presipitasi Benda asing Tumor Cacing Parasit lain Stenosis Perlekatan

5. Patofisiologi Keadaan yang merupakan apendiksitis adalah obstruksi, disebabkan oleh fecolith (feaces yang mengeras), benda asing, tumor apendiks, cacing, stenosis, perlekatan, hiperplasia folikel limfoid. Obstruksi ini menghambatkan pembengkakan jaringan limfoid. Oleh karena itu sekresi mukus yang di hasilkan terus menerus tidak dapat keluar, sehingga menimbulkan peregangan apendiks. Hal ini akan meningkatkan tekanan intraluminal, bila tekanannya melebihi tekanan vena mengakibatkan apendiks mengalami hipoksia dan selanjutnya terjadi ulcerasi serta invasi. Disamping itu tekanan terhadap pembuluh itu akan mengakibatkan edema dinding apendik sehingga resistensi selaput lendir berkurang dan mudah diserang kuman. Hal ini diperkuat oleh adanya bakteri di dalam usus seperti E. Coli (80%) dan selebihnya terutama streptococcus, yang akan mempercepat terjadi infeksi dan pembengkakan bertambah.

Peradangan ini dapat terjadi sebagian atau seluruh lapisan dinding apendiks dalam waktu 24-48 jam pertama. Jika radangnya mengeras dapat terjadi nekrosis dan pembusukan, disebut apendiksitis gangrenosa atau phlegmososa. Pada apendiksitis gangrenosa/phlegmonosa dapat terjadi perforasi akibat nekrosis ke dalam rongga perut dengan akibat peritonitis yang ditandai dengan demam tinggi, nyeri makin hebat serta meliputi seluruh perut dan perut menjadi tegang dan kembung kemudian peritonitis dapat menjadi kematian. Apendiksitis akut ini juga sering tampil dengan gejala khas yang didasari oleh radang mendadak umbai cacing yang memberikan tanda setempat, disertai 4

maupun tidak disertai rangsang peritonium lokal. Gejala klasik apendiksitis ialah nyeri samar-samar dan tumpul yang merupakan nyeri viceral di daerah epigastrium disekitar umbilikus. Keluhan ini sering disertai mual dan kadang ada muntah, umumnya nafsu makan menurun.

idiopatik

Pola makan kurang serat

Kerja fisik keras

Massa feses keras

Obstruksi lumen Suplai aliran darah menurun Mukosa terkikis

Peforasi Abses Peritonotis

Peradangan pada appendiks

Distensi abdomen

Nyeri Appendiktomy Insisi bedah Resiko terjadi infeksi Terputusnya kontinuitas jaringan Peningkatan produksi HCL Mual, muntah Nyeri Kerusakan integritas kulit Resiko kekurangan volume cairan Nutrisi Pembatasan intake cairan Menekan gaster

Elektrolit tubuh Gangguan keseimbangan elektrolit

Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh 5

6. Tanda dan Gejala Nyeri di periumbilikalis atau didaerah abdomen kuadran kanan bawah , regio 9 a. Anoreksia b. Nausea c. Muntah d. Demam derajat rendah e. Abses (nanah) f. Konstipasi

g. Diare h. Nyeri bila berjalan, batuk i. j. Kaki kanan pasien cenderung fleksi Nyeri tekan Mc Buney (titik pada garis antara umbilicus dan SIAS kanan yang berjarak 1/3 dari SIAS kanan) 7. Pemeriksaan Diagnostik a. Hematologi Leukosit di atas 10.000 /ul, peningkatan neutrofil sampai 75% Leukosit normal: 5000-10.000/mm3 Neutrofil normal: 2500-8000/mm3 b. Urinalisis normal Ada kemungkinan eritrosit/leukosit Eritrosit normal: P: 4,5-6,0 juta/cc c. Foto abdomen Dapat menyatakan adanya pengerasan matrerial pada apendiks (fecolith),adanya peradangan pada daerah yang terinfeksi (apendiks) d. CT scan abdomen Dapat menunjukkan terjadinya abses appendikal atau appendicitis akut. e. Foto abdomen: gambaran fekalit, jika perforasi terjadi, gambaran udara, bebas dapat dilihat dari hasil foto. f. USG: ditemukan gambaran appendicitis. 8. Penatalaksanaan a. Pre-operasi Bedrest: untuk observasi dalam 8-12 jam setelah keluhan. Puasa: cairan parenteral jika pembedahan langsung dilakukan W:4,0-5,5 juta/cc

Therapi farmakologik: narkotik dihindari karena dapat menghilangkan tanda dan gejala. Antibiotik: untuk menanggulangi infeksi. Transqualizer: untuk sedasi. NGT: untuk mengeluarkan cairan lambung jika diperlukan. Catatan: enema dan laxantia tidak boleh diberikan karena dapat meningkatkan peristaltik usus dan menyebabkan perforasi.

Pembedahan: Appendictomie: secepatnya dilakukan bila didiagnosanya tepat dan tentunya cara dan reaksi sistemik harus diperhatikan.

b. Post-operasi Observasi TTV, terjadinya perdarahan, syok, hipertermia atau gangguan pernafasan. Pasien dipuasakan sampai fungsi usus kembali normal. Kemudian berikan minum mulai 15 ml/jam selama 4-5 jam lalu naikkan menjadi 30 ml/jam. Keesokan harinya diberikan makanan saring dan hari berikutnya lunak. Aktivitas: satu hari pasca operasi pasien dianjurkan untuk duduk tegak di tempat tidur selama 2x30 menit. Pada hari kedua pasien dapat berdiri dan duduk di luar kamar. Antibiotik dan analgesik setelah post op diberikan. Jahitan diangkat hari ke tujuh.

9. Komplikasi a. Perforasi Perforasi jarang timbul dalam 12 jam pertama tetapi meningkat sesudah 24 jam. Perforasi dapat diketahui pre operatif dengan gambaran klinis yang timbul lebih dari 36 jam sejak sakit, panas lebih dari 38,5oC tampak toksik, nyeri tekan di seluruh perut dan leukositosis akibat perforasi dan pembentukan abses. b. Peritonitis Merupakan peradangan peritoneum yang berbahaya yang sering terjadi akibat penyebaran infeksi dari organ-organ abdomen misalnya appendicitis. Organisme yang sering menginfeksi adalah organisme yang hidup di dalam kolon yaitu pada kasus ruptura appendiks. Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa, kantong-kantong nanah (abses) terbentuk diantara perlekatan fibrinosa yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. 7

c. Obstruksi usus Dapat didefinisikan sebagai gangguan aliran normal isi usus sepanjang saluran usus. Obstruksi usus dapat akut atau kronik, parsial atau total. Obstruksi usus kronik biasanya mengenai kolon sebagai akibat dari karsinoma. Obstruksi total usus halus merupakan keadaan gawat yang memerlukan diagnosis dini dan tindakan pembedahan darurat bila penderita ingin tetap hidup. 10. Asuhan Keperawatan 1. Pengkajian a. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan. Pengetahuan tentang penyebab dan proses penyakit. Riwayat operasi, riwayat sakit berat: obstruksi tumor. Kebiasaan makan rendah serat, makan pedas, makanan yang sulit dicerna (biji-bijian). b. Pola nutrisi metabolik c. d. e. f. Mual Muntah Anoreksia Demam

Pola eliminasi Konstipasi/diare Penurunan bising usus Perut kembung/tidak ada flatus

Pola aktivitas dan latihan Malaise Takikardi, takipnea Imobilisasi

Pola tidur dan istirahat Kebiasaan tidur (berapa lama) Gangguan tidur karena ketidaknyamanan: nyeri

Pola persepsi dan kognitif Keluhan nyeri pada titik Mc. Burney, nyeri tekan pada titik Mc. Burney, nyeri daerah luka operasi

g.

Pola persepsi dan konsep diri

h.

Cemas akan tindakan appendiktomi Gangguan harga diri

Pola koping terhadap stres Persepsi penerimaan sakit Takut/cemas akan tindakan dan perawatan

2. Diagnosa Keperawatan a. Pre Operasi 1) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya sistem

pertahanan tubuh sebagai akibat dari proses inflamasi/peradangan. 2) Nyeri abdomen berhubungan dengan proses peradangan pada appendik. 3) Risiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan hipermetabolik (demam, muntah). 4) Ketidakefektifan manajemen terapeutik berhubungan dengan kurang

pengetahuan tentang proses penyakit, dan pengobatan. b. Post Operasi 1) Nyeri berhubungan dengan insisi pembedahan. 2) Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan pembatasan pasca operasi (puasa), intake kurang. 3) Gangguan integritas kulit berhubungan dengan tindakan pembedahan. 3. Rencana Keperawatan a. Pre Operasi

1. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya sistem pertahanan tubuh sebagai akibat dari proses inflamasi/peradangan. Tujuan: Tidak terjadi infeksi Kriteria hasil: a. suhu dalam batas normal 36-37 0C b. Integritas kulit utuh c. leukosit < 10.000 u/L. Intervensi Monitor TTV terutama suhu tiap 4 jam. Kaji tanda-tanda peritonitis dan Rasional Suhu meningkat menandakan adanya infeksi. Mengetahui adanya komplikasi

laporkan segera bila perlu

seperti peritonitis

Hindari

pemberian

huknah/enema

Penggunaan huknah dapat

enema/pemberian meningkatkan

sebelum operasi.

peristaltik usus dan meningkatkan risiko perforasi Berikan diit lunak dan bila perlu beri Peningkatan nutrisi dapat membantu infus. meningkatkan daya tahan tubuh.

Kolaborasi dengan medik pemberian Mencegah infeksi lebih luas. antibiotik.

2. Nyeri berhubungan dengan proses peradangan pada appendiks. Tujuan:Nyeri berkurang sampai dengan hilang, wajah tampak rileks.

Intervensi

Rasional

Kaji dan catat intensitas, lokasi dan Mengetahui tingkat rasa nyeri, berguna lama nyeri. dalam pengawasan keefektifan obat.

Kaji tanda nyeri baik verbal maupun Bermanfaat mengevaluasi nyeri. non verbal. Ajarkan teknik relaksasi seperti: Membantu kembali pasien untuk memfokuskan dan membantu nyeri/rasa

imajinasi, musik yang lembut.

perhatian untuk

mengatasi

tidak nyaman. Ajarkan teknik nafas dalam dan batuk Nyeri dapat meningkatkan ketegangan efektif otot, nafas dalam dan batuk efektif dapat membantu mengurangi

ketegangan otot abdomen. Berikan posisi yang nyaman. Posisi dapat membantu mengurangi nyeri. Kolaborasi dengan medik pemberian Terapi analgetik dapat mengurangi analgetik. nyeri.

3. Risiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan hipermetabolik (demam, muntah). Tujuan: Tidak terjadi kekurangan volume cairan Kriteria hasil: 10

1. membran mukosa lembab 2. turgor kulit elastis 3. tanda-tanda vital dalam batas-batas normal 4. keseimbangan intake output.

Intervensi Pantau tanda-tanda vital,

Rasional catat Mengevaluasi keefektifan terapi cairan dan respon pada pengobatan

adanya hipotensi dan takikardi

Observasi membran mukosa, turgor Indikator keadekuatan sirkulasi perifer kulit dan hidrasi

Pantau dan catat cairan yang keluar Mengetahui keseimbangan cairan dan dan masuk jumlah yang diperlukan

Anjurkan pasien untuk minum air Air hangat dapat mengurangi mual dan hangat muntah. meningkatkan sehingga Peradangan proses dapat metabolik cairan yang

diperlukan

banyak untuk menurunkan demam Kolaborasi dengan medik untuk Menjaga keseimbangan sirkulasi

pemberian cairan parenteral

cairan elektrolit

4. Ketidakefektifan

manajemen

terapeutik

berhubungan

dengan

kurang

pengetahuan tentang proses penyakit, dan pengobatan. Tujuan: Pasien dapat memahami proses penyakit dan pengobatan dan berpartisipasi dalam program pengobatan. Intervensi Kaji kemampuan dan pengetahuan Membantu Rasional memberikan penjelasan

pasien tentang proses penyakit dan yang tepat dan sesuai kebutuhan. pengobatan Jelaskan kepada pasien mengenai Pasien akan lebih mudah mengingat prosedur persiapan operasi seperti: dan lebih kooperatif waktu pembedahan, lingkungan

kamar operasi Ajarkan pasien untuk melatih nafas Meningkatkan pengajaran dan aktivitas

11

dalam dan latihan otot

pasca operasi

b. Post Operasi 1. Nyeri berhubungan dengan insisi bedah. Tujuan: Nyeri berkurang sampai dengan hilang, wajah tampak rileks. Intervensi Kaji nyeri, intensitas, lokasi dan Berguna Rasional dalam pengawasan

lamanya

keefektifan pengobatan melokalisasi abdomen eksudat ke

Pertahankan istirahat dengan posisi Gravitasi semifowler dalam

bawah

untuk abdomen

mengurangi

ketegangan

yang bertambah jika posisi terlentang Dorong ambulasi dini Meningkatkan normalisasi fungsi

organ, contoh: merangsang peristaltik dan kelancaran flatus Kaji ketidaknyamanan yang Ketidaknyamanan mungkin oleh insisi akibat operasi Melepaskan tegangan emosional dan otot, tingkatkan perasaan kontrol Kolaborasi dengan medik untuk Menurunkan ketidaknyamanan pasien pada peristaltik usus dini dan irigasi gaster Kolaborasi dengan medik untuk Menghilangkan rasa nyeri.

disebabkan post prosedur operasi Dorong penggunaan teknik relaksasi

mempertahankan puasa

pemberian analgetik

2. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan pembatasan pasca operasi (puasa), intake kurang). Tujuan: Tidak terjadi kekurangan volume cairan Kriteria Hasil: 1. tanda-tanda vital dalam batas normal 2. turgor kulit elastic 3. membran mukosa lembab 4. intake dan output seimbang.

12

Intervensi Observasi tanda-tanda vital (TD, Nadi, Hipotensi, RR, Suhu) pernafasan,

Rasional takikardi, peningkatan

mengidentifikasikan

kekurangan volume cairan Pantau intake dan output cairan, dan Penurunan catat warna urine konsentrasi mengidentifikasikan output urine urine atau pekat dehidrasi

membutuhkan peningkatan cairan Catat mual dan muntah Mual yang terjadi selama 12-24 jam pasca operasi umumnya karena efek anastesi Observasi membran mukosa, turgor Kulit kulit, suhu kulit dan palpasi perifer, lemah capillary refill time Kolaborasi dengan medik dingin/lembab, denyut perifer

mengindikasikan

penurunan

sirkulasi perifer untuk Cairan parenteral dapat membantu kebutuhan tubuh cairan yang dibutuhkan

pemberian cairan parenteral

3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan tindakan pembedahan. Tujuan: Luka jahitan bersih, tidak ada tanda-tanda infeksi. Intervensi Rasional

Kaji daerah sekitar luka, apakah ada Deteksi awal jika terjadi gangguan pus, atau jahitan basah. dalam proses penyembuhan

Jaga luka jahitan tetap kering dan Mengurangi resiko infeksi bersih Gunakan teknik aseptik saat merawat Mencegah cross infeksi dan mencegah luka/jahitan transmisi infeksi bakterial pada luka jahitan Perhatikan intake nutrisi klien Penting untuk mempercepat

penyembuhan luka.

13

Daftar Pustaka 1. Indonesia nurse. 2008. Asuhan Keperawatan Appendicitis Akut.

http://www.indonesianurse.com. Diakses pada 17 Maret 2013 2. Hopper, Paula dan Williams, Linda S. 2007. Understanding Medical Surgical Nursing. Philadelpia: Davis Company. 3. Smeltzer C.S & Bare Brenda.(2010). Brunner & Suddarths Textbook of Medical Surgical Nursing. 10th Edition. Philadelphia: Lippincott. 4. Doenges, M., Moorhouse, M.F., Murr, A.C. 2010. Nursing Diagnosis Manual:

Planning, Individualizing, and Documenting Client Care Edition 3. Philadelpia: Davis Company.

14

Anda mungkin juga menyukai