Anda di halaman 1dari 22

Pendahuluan

Latar Belakang
Latar belakang saya membuat laporan kasus gastritis kronik dan hipertensi karena pola makan yang tidak teratur dengan metode kedokteran keluarga ini tentunya untuk mendapatkan nilai ujian skills lab family folder blok community medicine karena laporan ini merupakan salah satu syarat untuk mengikuti ujian. Selain itu, latar belakang saya membuat laporan ini adalah untuk memahami lebih dalam tentang materi yang diajarkan di blok community medicine ini. Dengan membuat laporan ini, saya harapkan kedepannya saya bisa mengerti lebih jelas tentang konsep kedokteran keluarga yang sedang saya pelajari dan nantinya dapat saya terapkan setelah saya lulus dan bekerja menjadi dokter.

Tujuan Penulisan
Tujuan saya membuat laporan kasus gastritis kronik dan hipertensi karena pola makan yang tidak teratur dengan metode kedokteran keluarga ini adalah sebagai syarat untuk mengikuti ujian skills lab family folder blok 26 yaitu blok community medicine. Yang nantinya pada hari ujian saya akan mempresentasikan hasil laporan yang saya dapatkan setelah saya melakukan kunjungan ke rumah pasien yang mempunyai penyakit gastritis kronik dan hipertensi karena pola makan tidak teratur tesebut.

Masalah
Masalah yang pasien saya hadapi dalam kasus ini adalah pasien menderita penyakit gastritis kronik dan hipertensi yang disebabkan karena pola makan pasien yang tidak teratur dan tidk pantang dalam makanan, seperti gemar mengkonsumsi sate kambing. Pasien memiliki riwayat penyakit gastritis kronik dan hipertensi seak tahun 2005 saat pasien bekerja di Bandung sebagai kuli bangunan. Ada kerabat pasien yang membawakan sate kambing, dan pada saat pasien memakannya tiba tiba kepalanya pusing sekali, ternyata setelah di periksa tekanan darahnya 200/100. Sejak saat itu pasien menderita hipertensi. Untuk gastritis kronik dikarenakan pasien makan tidak teratur karena pekerjaannya yang menyebabkan pasien makan tidak teratur.

Pembahasan
Materi
1. Gastritis Definisi Gastritis Adalah proses inflamasi pada mukosa dan submukosa lambung. Gastritis merupakan gangguan kesehatan yang paling sering dijumpai di klinik, karena diagnosinya sering hanya berdasarkan gejala klinis bukan pemeriksaan histopatologi. Pada sebagian besar kasus inflamasi mukosa gaster tidak berkorelasi dengan keluhan dan gejal klinis pasien. Sebaliknya keluhan dan gejala klinis pasien berkorelasi positif dengan komplikasi gastritis. Pada saat ini sudah dikembangkan pembagian gastritis berdasarkan suatu system yang disebut sebagai Update Sydney Sstem. Pembagian gastritis Update Sydney System membagi gastritis berdasarkan pada topografi, mortologi, dan etiologi. Secara garis besar gastritis dibagi menjadi 3 tipe yakni : 1. Monahopik, 2. Atropik, dan 3. Bentuk khusus. Selain pembagian tersebut di atas, terdapat suatu bentuk kelainan pada gaster yang digolongkan sebagai gastropati. Disebut demikian karena secara histopatologik tidak menggambarkan radang. Klasifikasi gastritis sesuai dengan Update Sydney System memerlukan tindakan gastrokospi, pemeriksaan histopatologi dan pemeriksaan

pemeriksaan penunjang untuk menentukan etiologinya. Biopsy harus dilakukan dengan metode yang benar, dievaluasi dengan baik sehingga morfologi dan topografi kelainan mukosa dapat disintesiskan. Banyak tindakan gastrokopi yang mengabaikan topografi saat mengambil specimens untuk pemeriksaan histopatologi. Akibatnya hasil tidak dapat disintesiskan, sehingga klasifikasi gastritis tidak dapat disusun dengan baik. Etiologi Infeksi kuman Helicobacter pylori merupakan kausa gastritis yang amat penting. Di Negara berkembang prevalensi infeksi Helicpbacter pylori pada orang dewasa mendekati 90%, sedangkan pada anak anak prevalensi infeksi Helicobacter pylori lebih tinggi lagi. Hal ini menunjukkan pentingnya infeksi pada masa balita. Di Indonesia, prevalensi

Helicobacte pylori dinilai dengan urea breath test pada pasien dipepsia dewasa, menunjukkan tendensi menurun. Di Negara maju, prevalensi infeksi kuman Helicobacter pylori pada anak sangat rendah. Diantara orang dewasa prevalensi infeksi nkuman Helicobacter pylori lebih tinggi dari pada anak anak tetapi lebih rendah dari pada Negara berkembang yakni sebesar 30%. Penggunaa antibiotic, terutama untuk infeksi paru dicurigai mempengaruhi penularan kuman dikomunitas karena antibiotika tersebut mampu mengeradikasi infeksi Helicobacter pylori. Pada infeksi Helicobacter pylori mukosa lambung akan menunjukkan respons inflamasi akut. Secara endoskopik sering tampak sebagai erosi dan tukak multiple antrum atau lesi hemorogik. Gastritis akut akibat Helicobacter pylori sering diabaikan oleh pasien sehingga penyakitnya berlanjut menjadi kronik. Gangguan fungsi imun dihubungkan dengan gastritis kronik setelah ditemukan autoantibodi terhadap factor instrisik dan terhadap secretory canalicular structure sel parietal pada pasien dengan aneia pernisiosa. Antibody terhadap sel parietal mempunyai korelasi yang lebih baik dengan gastritis kronik korpus dalam berbagai gradasi, dibandingkan dengan antibody terhadap factor intrisik. Pasien gastritis kronik yang mengandung antibody sel parietal dalam serumnya dan menderita anemia pernisiosa, mempunyai ciri ciri khusus sebagai berikut: menderita gastritis krinik secara histopatologik menunjukkan gambaran gastritis kronik atropik, predominasi korpus dan pada pemeriksaan darah menunjukkan hipergastremia, pasien pasien tersebut sering juga menderita penyakit lain yang diakibatkan oleh gangguan fungsi system imun. Terdapat beberapa jenis virus yang apat menginfeksi mukosa lambung misalnya enteric rotavirus dan calicivirus. Kedua jenis virus tersebut dapat menimbulkan gastroenteritis, tetapi secara histopatologi tidak spesifik . hanya cytomegalovirus yang dapat menimbulkan gambaran histopatologik yang khas infeksi pada gaster biasanya merupakan bagian dari infeksi pada banyak orang lain, terutama pada organ muda dan imunocompromized. Jamur candida species, Histoplasma capsulatum dan Mukonaceae dapat menginfeksi mukosa gaster hanya pada pasien immunocompromized. Pasien yang system imunnya baik biasanya tidak dapat terinfeksi oleh jamur, karena mukosa lambung bukan tempat yang mudah terinfeksi jamur.

OAINS merupakan penyebab gastropati yang amat penting. Gastropati akibat OAINS bervariasi sangat luas, dari hanya berupa keluhan nyeri uluhati sampai tukak peptic dengan komplikasi perdarahan saluran cerna bagian atas.

Pemeriksaan
Gastritis didiagnosis melalui satu atau lebih tes-tes medis: Endoskopi saluran pencernaan bagian atas. Dokter mendorong dengan pelan-pelan

suatu endoscope, suatu tabung kecil yang berisi sebuah kamera kecil, melalui mulut anda (atau adakalanya melalui hidung) dan turun kedalam lambung anda untuk melihat pada lapisan perut/lambung. Dokter akan memeriksa peradangan dan mungkin mengeluarkan suatu contoh kecil jaringan untuk pemeriksaan. Prosedur untuk mengangkat suatu contoh jaringan disebut sebuah biopsi. Tes Darah. Dokter mungkin memeriksa jumlah sel darah merah anda untuk melihat

apakah anda mempunyai anemia, yang berarti bahwa anda tidak mempunyai cukup sel-sel darah merah. Anemia dapat disebabkan oleh perdarahan dari lambung. Tes Tinja/Feces. Tes ini memeriksa kehadiran darah dalam feces anda, suatu tanda

perdarahan. Tes feces mungkin juga digunakan untuk mendeteksi kehadiran H. pylori dalam saluran pencernaan. Pemeriksaan Penunjang 1. Endoskopi 2. Biopsi mukosa lambung 3. Analisa cairan lambung 4. Pemeriksaan barium 5. Radiologi abdomen 6. Kadar Hb, Ht, Pepsinogen darah 7. Feces bila melena

Diagnosis
Keluhan yang sering diderit yaitu nyeri panas dan pedih di ulu hati disertai mual kadang kadang sampai muntah. Keluhan keluhan tersebut sebenernya tidak erkorelasi baik dengan gastritis. Keluhan keluhan tersebut juga tidak dapat digunakan sebagai alat evaluasi keberhasilan pengobatan. Pemeriksaan fisis juga tidak dapat memberikan informasi yang dibutuhkan untuk menegakkan diagnosis.

Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan endoskopi dan histopatologi. Sebaiknya biopsy dilakukan dengan sistematis sesuai dengan update Sydney system yang mengharuskan mencantumkan topografi. Gambaran endoskopi yang dapat dijumpai adalah eritema, eksudatif, flat erosion, raised erosion, perdarahan, endematous rugae. Perubahan perubahan histopatologi selain menggambarkan perubahan morfologi sering juga dapat menggambarkan proses yang mendasari, misalnya autoimun atau respon adaptif mukosa lambung. Perubahan perubahan yang terjadi berupa degradasi epitel, hyperplasia foveolar, infiltrasi netrofil, inflamasi sel mononuclear, folikel limpoid, atropi, intestinal metaplasia, hyperplasia sel endokrin, kerusakan sel parietal. Pemeriksaan histopatologi sebaiknya juga menyertakan pemeriksaan kuman Helicobacter pylori.

Differential Diagnosis
1. Tukak Gaster Gambaran klinisnya: Nyeri epigastrium intermiten kronis, hilang setelah makan, timbul lagi setelah 2-3 jam setelah makan dan saat lambung kosong, mual, muntah, anoreksia, penurunan berat badan 2. Diare Gambaran klinisnya : Tergantung penyebab. Gejala gastrointestinal bisa berupa diare, karam perut, dan muntah. Kehilangan air dan elektrolit akan bertambah pada keadaan muntah sedangkan kehilangan air meningkat bila ada panas. Keadaan tersebut berakibat dehidrasi, aidosis metabolik, dan hypokalemia.

Patogenesis
Gastritis kronik akibat infeks Helicobacter pylori secara garis besar dibagi menjadi gastritis kronik non atropi predominasi antrum dan gastritis kronik atropi multifocal. Ciri khas gastritis kronik non atropi predominasi antrum adalah inflamasi moderat samapi berat mukosa antrum, sedangkan inflamasi di korpus ringan atau tidak ada sama sekali. Antrum tidak mengalami atropi atau metaplasia. Pasien pasien seperti ini biasanya asimtomatis, tetapi mempunyai risiko menjadi tukak duodent. Gastritis kronik atropi multifocal mempunyai ciri ciri khusus sebagai berikut: terjadi inflamasi pada hamper seluruh mukosa, seringkali sangat berat berupa atropi atau metaplasia setempat setempat pada daerah antrum da korpus. Gastritis kronik atropi multifocal merupakan factor riiko

penting dysplasia epitel mukosa dan karsinoma gaster. Infeksi Helicobacter pylori juga sering dihubungkan dengan limfoma MALT. Gastritis kronik atrofik predominasi korpus atau sering disebut gastritis kronik autoimun setelah beberap decade kemudian akan diikuti oleh anemia pernisiosa dan defisiensi besi. Hipoklorhida dan gastrinemia yang berlangsung lama merupakan factor risiko metaplasia intestinal dan selanjutnya terjadi dysplasia dan karsinoma gaster tipe intestinal. Gastritis kronik autoimun juga merupakan factor risiko polip gaster dan tumor endokrin. Gejala-Gejala Gastritis Gejala-gejala yang paling umum adalah gangguan atau sakit perut. Gejala-gejala lain adalah: bersendawa, perut kembung, mual dan muntah atau suatu perasaan penuh atau terbakar di perut bagian atas. Darah dalam muntahan anda atau tinja-tinja yang hitam mungkin adalah suatu tanda perdarahan didalam lambung, yang mungkin mengindikasikan suatu persoalan yang serius yang memerlukan perhatian medis yang segera.

Penatalaksanaan
Pengobatan gastritis akibat infeksi Helicobacter pylori bertujuan untuk melakukan eradikasi kuman tersebut. Indikasi yang telah disetujui melakukan eradikasi adalah infeksi kuman yang ada hubungannya dengan tukak peptic dan yang berhubungan dengan low grade B cell lymphoma. Eradikasi dilakukan dengan kombinasi antara berbagai antibiotic dan proton pump inhibitor (PPI). Antibiotic yang dianjurkan adalah Klaritomisin, amoksisilin, metronidazole, dan tetrasiklin. Bila PPI dan kombinasi 2 antibiotika gagal dianjurkan menambahkan bismuth subsalisilat/subsutral. Obat 1 PPI Dosis ganda Obat2 Obat 3 (2 x Obat 4

Klaritomisin (2 x 500 Amoksisilin mg) 1000 mg)

PPI Dosis Ganda

Klaritomisin (2 x 500 Metronidazol (2 x mg) 500 mg)

PPI Dosis Ganda

Tetrasiklin (4 x 500 Metronidazol (2 x Subsalisilat/subsitral mg) 500 mg)

Terapi umum 1.Istirahat Kalau penderita baru saja minum bahan erosif (kurang 4 jam) sebaiknya lambung di bilas

secepatnya dengan garam fisiologis Kalau sudah lama jangan lagi di bilas lambungnya sebab dapat terjadi nekrose atau

perforasi 2.Diet Bahan penyebab di hentikan Di berikan makanan halus, sering kali dalam porsi kecil, dan cukup cairan

3.Medikamentosa Obat pertama : Antasida Inhibitor pompa proton Antikolenergik Sitopretektor (sukralfat, prostaglandin) Kadang-kadang antimikroba

Komplikasi 1. Komplikasi yang timbul pada Gastritis Akut, yaitu perdarahan saluran cerna bagian atas (SCBA) berupa hemotemesis dan melena, berakhir dengan syock hemoragik, terjadi ulkus, kalau prosesnya hebat dan jarang terjadi perforasi. 2. Komplikasi yang timbul Gastritis Kronik, yaitu gangguan penyerapan vitamin B 12, akibat kurang pencerapan, B 12 menyebabkan anemia pernesiosa, penyerapan besi terganggu dan penyempitan daerah antrum pylorus.

2. Hipertensi
Definisi Hipertensi Hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya didefinisikan hipertensi esensial. Beberapa penulis lebih memilih istilah hipertensi primer, untuk membedakannya dengan hipertensi lain yang sekunder karena sebab sebab yang diketahui. Klasifikasi

a. Hipertensi Primer (essensial) Onset hipertensi essensial biasanya muncul pada usia antara 25-55 tahun, sedangkan usia di bawah 20 tahun jarang ditemukan. Patogenesis hipertensi essensial adalah multifaktorial. Faktor-faktor yang terlibat dalam patogenesis hipertensi essensial antara lain faktor genetik, hipertaktivitas sistem saraf simpatis, sistem rennin angiotensin, defek natriuresis, natrium dan kalsium intraseluler, serta konsumsi alkohol secara berlebihan. b. Hipertensi Sekunder Hipertensi sekunder memiliki patogenesis yang spesifik. Hipertensi sekunder dapat terjadi pada individu dengan usia sangat muda tanpa disertai riwayat hipertensi dalam keluarga. Individu dengan hipertensi pertama kali pada usia di atas 50 tahun atau yang sebelumnya diterapi tapi mengalami refrakter terhadap terapi yang diberikan mungkin mengalami hipertensi sekunder. Penyebab hipertensi sekunder antara lain penggunaan estrogen, penyakit ginjal, hipertensi vaskuler ginjal, hiperaldosteronisme primer dan sindroma chusing, feokromsitoma, koarktasio aorta, kehamilan, serta penggunaan obatobatan. c. Hipertensi pada Obesitas Berbagai penelitian epidemiologik telah membuktikan adanya hubungan yang kuat antara obesitas dan hipertensi. Data yang diperoleh dari NHANES pada populasi orang Amerika Serikat memberikan gambaran yang jelas mengenai hubungan linier antara kenaikan IMT dengan tekanan darah sistolik dan diastolik serta tekanan nadi (El-Atat et al., 2003). Farmingham study (2007) melaporkan risiko terjadinya hipertensi sebesar 65% pada wanita dan 78% pada laki-laki berhubungan langsung dengan obesitas dan kelebihan berat badan. Mekanisme penyebab utama terjadinya hipertensi pada obesitas diduga berhubungan dengan kenaikan volume tubuh, peningkatan curah jantung, dan menurunnya resistensi vaskuler sistemik (M. Wahba, 2007). Beberapa mekanisme lain yang berperan dalam kejadian hipertensi pada obesitas antara lain peningkatan sistem saraf simpatik, meningkatnya aktivitas renin angiotensin aldosteron (RAAS), peningkatan leptin,

peningkatan insulin, peningkatan asam lemak bebas (FFA), peningkatan endotelin 1, terganggunya aktivitas natriuretic peptide (NP), serta menurunnya nitrit oxide (NO) Pembagian Hipertensi Berdasarkan asosiasi hipertensi eropa 2003, diklasifikasikan hipertensi sebagai berikut : Katagori Optimal Normal Hipertensi Ringan 140-159 90-99 100-110 Tekanan sistolik (mmHg) < 120 <130 <80 <85 Tekanan diastolik (mmHg)

Sedang 160-180 Berat 180

110

Pemeriksaan Fisik Dalam pemeriksaan fisik dilakukan 2 kali pengukuran tekanan darah atau lebih dengan jarak minimal 2 menit, kemudian diperiksa ulang pada lengan sebelahnya, dengan maksud mendapatkan nilai rata-rata yang tepat. Dikaji perbandingan antara tinggi dan berat badan. Kemudian dilakukan pemeriksaan penunjang untuk melihat komplikasi yang mungkin terjadi dengan cara pemeriksaan mata, jantung, dan darah. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan untuk mengevaluasi adanya kerusakan organ target meliputi : 1. Jantung a. Pemeriksaan fisik b. Foto polos dada (untuk lihat pembesaran jantung, kondisi arteri intratoraks dan sirkulasi pulmoner) c. EKG (deteksi iskemia, gangguan konduksi, aritmia, serta hipertrofi ventrikel kiri)

d. Ekokardiografi 2. Pembuluh Darah a. Pemeriksaan fisis termasuk perhitungan pulse pressure b. USG karotis c. Fungsi endotel 3. Otak a. Pemeriksaan neurologis b. Diagnosis stroke ditegakkan dengan CTscan dan MRI 4. Mata a. Funduskopi 5. Fungsi Ginjal a. Pemeriksaan fungsi ginjal dan penetuan adanya proteinuria.mikro-

makroalbuminuria serta rasio albumin kreatinin urin. b. Perkiraan laju filtrasi glomerulus. Patogenesis Hipertensi esensial adalah penyakit multifactorial yang timbul terutama karena interaksi antara factor factor risiko tertentu. Factor factor risiko yang mendorong timbulnya kenaikan tekanan darah adlaah : 1. Factor risiko, seperti: diet dan asupan garam, stress, ras, obesitas, merokok, genetic. 2. System saraf simpatis a. Tonus simpatis b. Variasi diurnal 3. Keseimbangan antara modulator vasodilatasi dan vasokonstriksi; endotel pembuluh darah berperan utama, tetapi remodeling dari endotel, otot polos dan interstisium juga memberikan kontribusi akhir. 4. Pengaruh system otokrin setempat yang berperan pada system renin, angiotensin, dan aldosterone. Kerusakan Organ Target

Hipertensi dapat menimbulkan kerusakan organ tubuh, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kerusakan organ organ target yang umum ditemui pada pasien hipertensi adalah: 1. Jantung a. Hipertrofi ventrikel kiri b. Angina atau infark miokardium c. Gagal jantung 2. Otak a. Stroke atu transient ischemic attack 3. Penyakit ginjal kronis 4. Penyakit arteri perifer 5. Retinopati Factor risiko penyakit kardiovaskular pada pasie hipertensi antara lain adalah : Merokok Obesitas Kurangnya aktivitas fisik Dyslipidemia Diabetes mellitus Mikroalbuminuria atau LFG <60 ml/menit Umur (laki >55 tahun, perempuan 65 tahun) Riwayat keluarga dengan penyakit jantung kardiovaskular premature (laki <55 tahun, perempuan <65 tahun). Penatalaksanaan Terapi nonmedikamentosa : Menghentikan merokok Menurunkan berat badan berlebih Menurunkan konsumsi alcohol berlebih Latihan fisik

Menurunkan asupan garam Meningkatkan konsumsi buah dan sayur, serta menurunkan asupan lemak

Terapi Medikamentosa : Diuretika, tertuama jenis Tiazide (Tiaz) atau aldostreron antagonis (aldoant) Beta blocker atau bb Calcium channel blocker atau kalsium antagonis (ccb) Angiotensin converting enzyme inhibitor atau ACEI Angiotensin II reseptor blocker atau AT1 reseptor antagonist / blocker (ARB )

Komplikasi Hipertensi Kondisi hipertensi yang berkepanjangan menyebabkan gangguan pembuluh darah di seluruh organ tubuh manusia. Angka kematian yang tinggi pada penderita darah tinggi terutama disebabkan oleh gangguan jantung. 1. Organ Jantung Kompensasi jantung terhadap kerja yang keras akibat hipertensi berupa penebalan otot jantung kiri. Kondisi ini akan memperkecil rongga jantung untuk memompa, sehingga jantung akan semakin membutuhkan energi yang besar. Kondisi ini disertai dengan adanya gangguan pembuluh darah jantung sendiri (koroner) akan menimbulkan kekurangan oksigen dari otot jantung dan menyebabkan nyeri. Apabila kondisi dibiarkan terus menerus akan menyebabkan kegagalan jantung untuk memompa dan menimbulkan kematian. 2. Sistem Saraf Gangguan dari sistem saraf terjadi pada sistem retina (mata bagian dalam) dan sistem saraf pusat (otak). Didalam retina terdapat pembuluh-pembuluh darah tipis yang akan melebar saat terjadi hipertensi, dan memungkinkan terjadi pecah pembuluh darah yang akan menyebabkan gangguan penglihatan. 3. Sistem Ginjal Hipertensi yang berkepanjangan akan menyebabkan kerusakan dari pembuluh darah ginjal, sehingga fungsi ginjal sebagai pembuang zat-zat racun bagi tubuh tidak berfungsi dengan baik, akibatnya terjadi penumpukan zat yang berbahaya bagi tubuh yang dapat merusak organ tubuh lain terutama otak.

Metode
Metode yang saya gunakan untuk mengumpulkan data ini adalah dengan melakukan kunjungan langsung ke rumah pasien dengan mendapat alamat dan data dasar dari Puskesmas Tanjung Duren Utara. Data dan Pembahasan Puskesmas : Tanjung Duren Utara Nomor Register : 6735 Data riwayat keluarga : I. Identitas pasien a. Nama b. Umur : Suparno : 56 tahun

c. Jenis Kelamin : Laki laki d. Pekerjaan e. Pendidikan f. Alamat g. Telepon : Pengangguran : ST / SMP : Jl. Tanjung Duren Utara XI / 1B :-

II. Riwayat Biologis Keluarga :

a. Keadaan kesehatan sekarang

: baik

Pasien dapat dikatakan baik karena pasien dapat bercakap cakap dengan baik dan kesadaran serta daya ingatnya baik. Pasien tidak terlihat kesakitan, lemah dan kurang dapat berkomunikasi atau kesadarannya agak menurun. b. Kebersihan perorangan : baik

Kebersihan pasien dapat dikatakan baik karena yang terlihat dari hygiene rambut, tangan dan kaki tampak bersih. Gigi geligi dan pakaian yang digunakan pun tampak bersih. c. Penyakit yang sering diderita : nyeri perut, nyeri ulu hati, pusing karena hipertensi,lemas. d. Penyakit keturunan : Tidak ada

Karena hipertensi yang diderita karena pola makan yang tidak sehat e. Penyakit kronis / menular : Tidak ada

Di keluarga pasien tidak ditemukan adanya penyakit kronis / menular seperti tuberculosis dan lepra. f. Kecacatan anggota keluarga : Tidak ada Dalam keluarga pasien tidak ada yang menderita cacat fisik dan mental yang diperoleh sejak lahir seperti sumbing, sindrom Down, dan sindrom Turner. g. Pola makan : Baik

Pola makan pasien dapat dikatakan baik karena dari yang terlihat dari pola makan sehari hari teratur yaitu 3 kali sehari dan pada jam jam makan. Pasien setiap hari makan di rumah bersama dengan keluarga dengan waktu yang teratur. Tetapi asupan gizi makan keluarga tidak terlalu baik karena segi ekonomi keluarga pasien termasuk menegah kebawah, dan merak makan seadanya sehingga pola makan pasien tidak pantang terhadap penyakit yang sering dideritanya, h. Pola istirahat : Baik

Pola istirahat pasien dikatakan baik karena pasien tidur sangat cukup, karena pasien seorang pengangguran sehingga pasien punya waktu banyak untuk beristirahat. i. Jumlah anggota keluarga : 7 orang

Di dalam rumah pasien ada 7 orang, yaitu Suparno (pasien) sebagai suami, Sukaesih (istri), Sulastri (putri 1), Supryadi (putra 2), Haryadi (putra 3), Didin Supriadi (menantu), dan Mohammad Rizal Hanib (cucu).

III. Psikologis Keluarga :

a.

Kebiasaan buruk

: Pasien mantan perokok, puasa senin dan kamis.

Pasien adalah seorang mantan perokok yang berat dan pasien sering menjalankan puasa senin dan kamis karena pasien sering menjalakan ritual ritual dari adat jawa (mutih). Dan pasien juga belajar spiritual. b. Pengambilan keputusan : Bapak

Menurut pengakuan pasien, untuk menetukan keputusan yatu kepala keluarga dan bagi anaknya yang sudah menikah, maka pengambilan keputusannya adalah suami dari anaknya. c. Ketergantungan obat : Istri ketergantungan obat pusing. Menurut pasien, istri dari pasien adalah seorang yang sering mengalami pusing pusing dan capai. Sehingga bila istirnya mengeluh pusing dan capai, ia akan mengkonsumsi obat obat warung seperti panadol, paramex, dan lain lain. d. Tempat mencari pelayanan kesehatan : Puskesmas dan Klinik Pasien mengaku, bila anggota keluarga ada yang sakit ringan maka beliau akan membawanya ke puskesmas apabila penyakitnya tetap tidak sembuh biasanya pasien dating ke klinik Napiri, yaitu suatu klinik yayasan social yang ada di daerah Grenvil, Jakarta Barat. e. Pola rekreasi : Baik

Pola rekreasi keluarga pasien dapat dikatakan baik karena keluarga pasien rutin pulang kampong saat ada hari hari besar.

IV. Keadaan Rumah / Lingkungan :

a. Jenis bangunan b. Lantai rumah c. Luas rumah d. Penerangan

: Kontrakan : Keramik : 2,4 x 4 m2 : Kurang

Karena rumah pasien tidak memiliki ventilasi yang cukup, dan letak kontrakannya yang masuk ke gang kecil tidak memungkinakan mendapat penyinaran matahari yang cukup. Dan dirumah pasien pun penerangan lampunya kurang, sehingga tampak gelap. e. Kebersihan : Kurang

Kebersihan rumah pasien dapat digolongkan ke sedang karena rumah pasien yang sempit dan lingkungannya yang tidak mendukung untuk kesehatan rumah. Tidak memiliki halaman, dan rumah yang sempit ditinggali oleh 7 orang dalam 1 rumah. Tidak ada ventilasi untuk keluar masuk udara, sehingga rumah pasien terasa sumpak dan pengap.

f. Ventilasi

: Kurang

Ventilasi untuk keluar masuk cahaya dan udara sangat kurang. Dikarenakan rumah pasien letaknya berada masuk ke gang kecil dan sempit yang tidak memungkinkan untuk adanya sirkulasi udara dan pencahayaan yang baik. g. Dapur : Ada

Dapur berada di dekat kamar mandi / WC h. Jamban keluarga i. Sumber Air minum : Ada kamar mandi dan toilet khusus untuk keluarga pasien. : PDAM / Ledeng

Karena keluarga pasien menggunakan PDAM sebagai sumber air minum. j. Sumber Pencemaran air : Tidak ada. Karena perairan rumah pasien menggunakan jasa PDAM sehingga tidak ada pencemaran air walaupun letak rumah pasien dekat dengan waduk yang tercemar. k. Pemanfaatan pekarangan : Tidak ada Karena rumah pasien letaknya masuk dalam gang kecil sehinggan tidak ada lahan untuk pemanfaatan pekarangan. l. Sistem pembuangan air limbah : Ada Rumah pasien mempunyai saluran pembuangan limbah dan sisa air limbah sisa rumah tangga ke waduk dekat kontrakan pasien. m. Tempat pembuangan sampah : Ada Rumah pasien letaknya dekat dengan TPA (tempat pembuangan akhir), sehingga sampah rumah tangga dibuang di TPA dekat kontrakan. n. Sanitasi lingkungan : Kurang

Sanitasi lingkungan pasien dapat dikatakan kurang karena saat saya melakukan pengamatan ke rumah pasien saya melihat lingkungan depan rumah yang kotor, da nada got kecil yang kotor di depan rumah, serta adanya atap yang bocor.

V. Spiritual Keluarga :

a. Ketaatan beribadah

: Baik

Karena keluarga pasien adalah seorang penganut agama Islam yang cukup taat beribadah.

b. Keyakinan tentang kesehatan : Baik Karena keluarga pasien datang ke puskesmas bila ada anggota keluarga yang sakit.

VI. Keadaan Sosial Keluarga :

a.

Tingkat pendidikan : Sedang Karena pasien tamatan ST/SMP, istri lulusan SD, anak anak pasien tamatan SMK.

b. Hubungan anggota keluarga : Baik karena keluarga pasien selalu makan bersama di rumahnya, dan hubungan antara keluarga juga harmonis dan tidak pernah bertengkar. c. Hubungan dengan orang lain : Baik Karena keluarga pasien cukup di kenal karena pada saat saya mencari alamat rumah pasien dan bertanya pada tetangganya, semua mengenal pasien. d. Kegiatan organisasi social : Baik

Keluarga pasien adalah sangat aktif dalam kegiatan social di lingkungannya, pasien sering mengikuti pengajian, gotong royong sesama tetangga, PKK, pengajian jika ada yang meninggal di lingkungannya. e. Keadaan ekonomi : Kurang

Keadaan ekonomi pasien dikatakan kurang karena pasien hanya seorang pengangguran, dan yang mencari nafkah dari istri yang hanya pembantu rumah tangga, anak pertamanya sebagai guru, anak kedua sebagai pegawai di indomaret.

VII. Kultural Keluarga:

a. Adat yang berpengaruh b. Lain lain

: Jawa Timur sesuai dengan adat jawa lainnya. : Istri asli Sumedang

VIII. Daftar Anggota Keluarga 1. Suparno (Suami) 56 tahun Kepala Keluarga 2. Sukaesih (Istri) 54 tahun

3. Sulastri (Anak) 29 tahun Menikah 4. Supryadi (Anak) 26 tahun 5. Haryadi (Anak) 18 tahun 6. Didin Supriadi (Menantu) 29 tahun 7. Mohammad Rizal Hanib (Cucu) 5 tahun IX. Keluhan Utama Pasien mengeluh sakit perut, pusing, hipertensi. X. Keluhan tambahan Batuk ringan, lemas, sesak napas klo tidur karena ada riwayat trauma dada saat kerja pasien mengalami kecelakaan jatuh dan dadanya terpukul sehingga muntah darah.

XI. Riwayat penyakit dahulu Hipertensi, Trauma dada saat kecelakaan kerja, hipoglikemia

XII. Pemeriksaan fisik Tekanan Darah 130 / 90 Nadi 64 / menit Nafas 20 / menit

XIV. Diagnosis penyakit Gastritis Kronik dan Hipertensi XV. Diagnosis keluarga Kesehatan keluarga pasien pada umumnya baik. Hanya saja pasien menderita hipertensi dan gastritis yang sering kambuh karena konsumsi makanan yang mencetus penyakitnya. Sedangkan untuk kesehatan yang lainnya cukup baik, seperti tidak adanya penyakit menular di keluarga pasien dan menurut pengakuan pasien keluarganya jarang terkena penyakit.

XVI. Anjuran penatalaksanaan penyakit a. Promotif :

Pembuatan ventilasi yang lebih banyak agar bisa terjadi pertukaran udara dan masuknya

sinar matahari. Menyarankan untuk mengkonsumsi buah dan sayur, dan jauhkan asupan garam, lemak,

dan makanan pencetus lainnya. b. Preventif : Sediakan obat maag dan hipertensi selalu dirumah, sehingga jika ada gejala gejala

makan dapat diatasi dengan cepat. hindari makanan yang pedasn dan dapat mencetuskan sakit maag. konsumsi makanan yang berkasiat untuk mengobati penyakitnya, seperti belimbing untuk

menurukan tekanan darah. c. Kuratif : Ranitidin Cimetidin Captopril Klaritomisin Antasida sitoprotektor (sukralfat) PPI

d. Rehabilitatif : Edukasi (tentang penyakit, gejala penyakit, cara menangani dan cara pencegahan) Nutrisi dengan gizi yang lengkap dan makanan pencegah timbulnya asma. Penggunaan obat obat long term control (captopril)

XVII. Prognosis Penyakit : Prognosis penyakit gastritis dan hipertensi baik, karena bersifat ringan dan mudah diatasi penyakitnya. Keluarga : Prognosis penyakit gastritis, hipertensi, dan pusing pusing ringan pada keluarga ini dapat saya katakan baik, karena penyakit keluarga merupaka penyakit yang ringan dan mudah di obati.

Masyarakat : Untuk masyarakat, prognosisnya baik karena di lingkungan kontrakan pasien tidak ada yang mengidap penyakit menular.

XVII. Resume / Kesimpulan Penyakit yang pasien alami adalah gastritis kronik dan hipertensi. Begitu pula hasil yang saya dapatkan saat berkunjung ke rumah pasien dengan melakukan pendekatan kedokteran keluarga. Dari hasil kunjungan saya ke rumah pasien, saya melihat pasien mendertia sakit perut dan mengarah pada gastritis dan dari hasil anamnesa gejala penyakitnya berupa nyeri perut, nyeri ulu hati, pusing. Dari hasil pemeriksaan fisik yang saya lakukan dengan mengukur tekanan darah,

mendapatkan hasil 130 / 90 yang merupakan gejala prehipertensi. Sebetulnya, pasien perlu pemeriksaan lain yang sudah saya jabarkan di bab materi. Namun, dari hasil anamnesis dapat disimpulan bahwa pasien menderita gastritis dan hipertensi dan pasien perlu mengkonsumsi obat obatan untuk terapi gastritis dan hipertensi berupa antasida untuk menetralkan asam lambungnya, antibiotic untuk eradikasi kuman penyebab (Helicobacter pylori), PPI untuk mengurangi produksi asam lambung, serta captopril untuk menurunkan tekanan darah. Saran Saran saya untuk pasien dan keluarga adalah buat ventilasi dalam jumlah yang cukup agar sinar matahari dapat masuk ke dalam rumah. Selain itu, ventilasi juga dapat membuat sirkulasi udara menjadi lebih baik sehingga udara dalam rumah menjadi lebih segar. Pola makan yang teratur dan asupan gizi yang seimbang, serta hindari makanan yang dapat mencetuskan penyakit, seperti garam, pedas, lemak, dan lain lain. Selanjutnya, pasien dapat mengkonsumsi makanan pencegah gastritis dan hipertensi seperti belimbing, jeruk lemon, cincau, dan lain lain yang dapat mengobati penyakitnya.

Daftar Pustaka

1. Sudoyo, W. A; Setiohadi, B; Alwi, I; Simadibrata, M; Setiati, S (Ed). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I. Edisi IV. Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 2006. H. 335 & 399 2. Gastritis. Diunduh dari :
http://www.infokedokteran.com/info-obat/diagnosis-dan-

penatalaksanaan-pada-gastritis-akut-erosif.html. 2011

3. Hipertensi. Diunduh dari : http://www.godiabetescare.com/hipertensi.html. 2011

Lampiran

Foto : bersama pasien (Suparno) 56 tahun dirumahnya