Anda di halaman 1dari 115

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Demam Berdarah (DB) atau Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit demam akut yang ditemukan di daerah tropis dengan penyebaran geografis yang mirip dengan malaria. Demam berdarah disebarkan kepada manusia oleh nyamuk Aedes aegypti

(Kalyanamitra, 2012). Sekitar 2,5 milyar orang (2/5 penduduk) mempunyai resiko untuk terkena infeksi virus dengue. Lebih dari 100 negara tropis dan subtropis pernah mengalami letusan dengue dan demam berdarah dengue, lebih kurang 50.000 kasus setiap tahun dirawat di rumah sakit dengan ribuan orang diantaranya meninggal dunia. Nyamuk Aedes aegypti yang merupakan vektor yang berperan dalam penularan penyakit DBD ini hidup di dalam rumah, di kloset, di tempat-tempat yang gelap, dan di luar rumah (Misnadiarly, 2009). Data dari seluruh dunia menunjukkan Asia menempati urutan pertama dalam jumlah penderita DBD setiap tahunnya. Sementara itu, terhitung sejak tahun 1968 hingga tahun 2009, World Health Organization (WHO) mencatat negara Indonesia sebagai negara dengan kasus DBD tertinggi di Asia Tenggara (Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi Kemenkes RI, 2010). Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia.

Jumlah penderita dan luas daerah penyebarannya semakin bertambah seiring dengan meningkatnya mobilitas dan kepadatan penduduk. Di Indonesia Demam Berdarah pertama kali ditemukan di kota Surabaya pada tahun 1968, dimana sebanyak 58 orang terinfeksi dan 24 orang diantaranya meninggal dunia (Angka Kematian (AK) : 41,3 %). Sejak saat itu, penyakit ini menyebar luas ke seluruh Indonesia (Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi Kemenkes RI, 2010). Tahun-tahun berikutnya kasus demam berdarah berfluktuasi jumlahnya setiap tahun dan cenderung meningkat. Demikian pula wilayah yang terjangkit bertambah luas. Menurut Suroso dan Umar penyebab meningkatnya jumlah kasus dan semakin menyebar luasnya penyakit demam berdarah itu antara lain karena semakin

meningkatnya arus transportasi (mobilitas) penduduk dari satu daerah ke daerah lain. Sedangkan nyamuk penularnya masih tersebar dan banyak terdapat baik di rumah, sekolah maupun tempat umum lainnya (Hadinegoro dan Satari, 2002). Hampir setiap tahun terjadi KLB (Kejadian Luar Biasa) di beberapa daerah yang biasanya terjadi pada musim penghujan, namun sejak awal tahun 2011 ini sampai bulan Agustus 2011 tercatat jumlah kasus relatif menurun. Program pencegahan dan

pemberantasan DBD telah berlangsung lebih kurang 43 tahun dan berhasil menurunkan angka kematian dari 41,3% pada tahun 1968 menjadi 0,87 % pada tahun 2010, tetapi belum berhasil menurunkan

angka

kesakitan.

Jumlah

penderita

cenderung

meningkat,

penyebarannya semakin luas, menyerang tidak hanya anak-anak tetapi juga golongan umur yang lebih tua. Pada tahun 2011 sampai bulan Agustus tercatat 24.362 kasus dengan 196 kematian (CFR: 0,80 %) (Ditjen PP & PL Depkes RI, 2011). Penyakit Demam Berdarah Dengue di Sulawesi Selatan juga merupakan jenis penyakit yang banyak menimbulkan kematian. Hal ini dapat dilihat bahwa pada tahun 2009 jumlah penderita DBD sebanyak 3553 penyakit dengan jumlah kematian 24 orang, pada tahun 2010 jumlah penyakit DBD sebanyak 3999 penderita dengan jumlah kematian 28 orang (Dinkes Prov. Sulsel, 2010). Sekitar 30 daerah yang rawan penyebaran penyakit DBD di Makassar. Kelurahan yang rawan penyebaran DBD di antaranya Kelurahan Sudiang Raya, Daya, Tamalanrea Jaya, Tamalanrea Indah, Parangloe, Tamalanrea, Mariso, Lette, Barombong, Pattingaloang Baru, dan Pattingaloang. Daerah rawan penyebaran penyakit DBD tersebut tersebar di 10 Kecamatan. Identifikasi daerah penyebaran DBD terbanyak ditemukan di Kecamatan Biringkanaya, Tamalanrea, Wajo, Ujung Pandang, Mamajang, Panakkukang, Ujung Tanah, Makassar, Mariso dan Tamalate. Kerawanan suatu daerah terhadap penyebaran penyakit DBD diukur berdasarkan angka bebas jentik. Suatu daerah dikatakan rawan terjangkit penyakit DBD bila angka bebas jentik masih < 75%. Padahal agar penularan DBD dapat

dicegah Depkes RI menargetkan angka bebas jentik di setiap daerah mencapai minimal 95%. Nilai ABJ yang relatif rendah (kurang dari 95% memperbesar peluang terjadinya transmisi virus DBD (Fajar, 2011). Banyak faktor yang mengakibatkan tingginya keberadaan larva nyamuk Aedes aegypti. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Damyanti (2009) di Magetan dan Triwinasis (2010) di Yogyakarta yang menunjukkan bahwa ada hubungan antara praktek menguras tempat penampungan air dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti. Dalam penelitian Sulistyawati (2011) menjelaskan bahwa ada hubungan antara jenis dan kondisi Tempat Penampungan Air (TPA) dengan kepadatan larva Aedes aegypti di Kelurahan Rappocini Kota Makassar. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Yudhastuti dan Vidiyani (2005) yang menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara jenis container dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti di Kelurahan Wonokusumo. Karakteristik TPA dapat mempengaruhi tingginya kepadatan jentik . Bahan, warna, jenis, dan letak tempat penampungan air dapat mempengaruhi nyamuk Aedes aegypti betina dalam memilih tempat bertelur (Sari, et. al., 2012). Monitoring kepadatan larva Aedes aegypti sangat penting untuk membantu dalam mengadakan evaluasi adanya ancaman infeksi virus dengue agar tindakan pemberantasan nyamuk dapat

ditingkatkan. Untuk menentukan investasi Aedes aegypti di suatu

daerah sebaiknya diadakan survey terhadap semua sarang atau tempat perindukan dan wadah yang berisi air bersih yang diduga sebagai tempat bersarangnya nyamuk pada sejumlah rumah di suatu daerah (Sulistyawati, 2011). Wilayah kerja Puskesmas Sudiang Raya yang terletak di Kelurahan Sudiang Raya merupakan salah satu daerah yang rawan dengan kejadian DBD. Berdasarkan data Puskesmas Sudiang Raya, tersangka DBD pada tahun 2011 sebanyak 394 orang. Sementara data mulai Januari sampai September tahun 2012, tersangka DBD meningkat menjadi 403 orang. Adapun data tentang pemantauan jentik di salah satu wilayah kerja Puskesmas Sudiang Raya yaitu Kelurahan Paccerakkang yang dilaksanakan pada bulan Mei tahun 2011 yaitu ABJ 80%. Sementara data pemantauan jentik yang dilaksanakan pada bulan November tahun 2011 yaitu ABJ menurun menjadi 62% (Puskesmas Sudiang Raya, 2012). Dari data pematauan jentik dapat disimpulkan bahwa ABJ di Kelurahan Paccerakkang masih < 75 %. Hal ini merupakan salah satu faktor yang mempermudah transmisi virus dengue. Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk meneliti faktor yang berhubungan dengan keberadaan jentik Aedes aegypti di Kelurahan Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar Tahun 2012.

B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana hubungan antara karakteristik Tempat Penampungan Air (TPA) dengan keberadaan jentik Aedes aegypti di Kelurahan Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar tahun 2012? 2. Bagaimana hubungan antara menguras Tempat Penampungan Air (TPA) dengan keberadaan jentik Aedes aegypti di Kelurahan Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar tahun 2012? 3. Bagaimana hubungan antara kondisi Tempat Penampungan Air (TPA) dengan keberadaan jentik Aedes aegypti di Kelurahan Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar tahun 2012? 4. Bagaimana hubungan antara kondisi rumah dengan keberadaan jentik Aedes aegypti di Kelurahan Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar tahun 2012? 5. Bagaimana hubungan antara jenis jentik dengan keberadaan jentik Aedes aegypti di Kelurahan Paccerakkang Kecamatan

Biringkanaya Kota Makassar tahun 2012?

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan keberadaan jentik Aedes aegypti di Kelurahan Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar tahun 2012. 2. Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui hubungan antara karakteristik Tempat Penampungan Air (TPA) dengan keberadaan jentik Aedes aegypti di Kelurahan Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar tahun 2012. b. Untuk mengetahui hubungan antara menguras Tempat

Penampungan Air (TPA) dengan keberadaan jentik Aedes aegypti di Kelurahan Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar tahun 2012. c. Untuk mengetahui hubungan antara kondisi Tempat

Penampungan Air (TPA) dengan keberadaan jentik Aedes aegypti di Kelurahan Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar tahun 2012. d. Untuk mengetahui hubungan antara kondisi rumah dengan keberadaan jentik Aedes aegypti di Kelurahan Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar tahun 2012.

e. Untuk mengetahui hubungan antara jenis jentik dengan keberadaan jentik Aedes aegypti di Kelurahan Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar tahun 2012. D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Instansi Puskesmas dan Dinas Kesehatan Dapat dijadikan landasan dalam intervensi dan pemecahan masalah kesehatan yang terjadi di masyarakat agar ABJ semakin meningkat sehingga kasus DBD tidak terjadi lagi. 2. Bagi Masyarakat Membantu memecahkan masalah yang ada di masyarakat, terutama untuk meningkatkan ABJ dan mencegah penularan DBD. 3. Bagi Penulis Menambah dan memperluas pengetahuan penulis mengenai beberapa faktor yang berhubungan dengan keberadaan jentik Aedes aegypti dan rendahnya ABJ di wilayah kerja Puskesmas Sudiang Raya khususnya Kelurahan Paccerakkang Kota Makassar Tahun 2012.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang DBD (Demam Berdarah Dengue) 1. Pengertian DBD Demam berdarah (DB) atau demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit demam akut yang ditemukan di daerah tropis, dengan penyebaran geografis yang mirip dengan malaria. Demam berdarah disebarkan kepada manusia oleh nyamuk Aedes aegypti (Kalyanamitra, 2012). Menurut Suroso dan Umar penyakit demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti. Penyakit ini dapat menyerang semua orang dan dapat mengakibatkan kematian terutama pada anak, serta sering menimbulkan kejadian luar biasa atau wabah (Hadinegoro dan Satari, 2002). Vektor DBD atau penyebar/pembawa penyakit atau pembawa virus penyebab DBD adalah nyamuk Aedes aegypti, sedangkan penyebab DBD adalah virus dengue. Mengenai penularan penyakit DBD dapat dijelaskan bahwa penyakit demam berdarah dengue adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk tersebut. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular berbahaya yan disebabkan oleh virus Dengue, menyebabkan

10

gangguan pada pembuluh darah kapiler dan sistem pembekuan darah sehingga mengakibatkan pendarahan, dapat menimbulkan kematian (Misnadiarly, 2009) Darah penderita sudah mengandung virus, yaitu sekitar 1-2 hari sebelum terserang demam. Virus berada dalam darah selama 5-8 hari. Jika daya tahan tubuh tidak cukup kuat melawan virus , maka orang tersebut mengalami berbagai jenis gejala DBD (Satari dalam Nugroho, 2009). Demam berdarah dengue/DBD (dengue haemorrhagic fever/DHF) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot dan/atau nyeri sendi yang disertai lekopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia dan diathesis hemoragik. Pada DBD terjadi perembesan plasma yang ditandai oleh peningkatan hemtokrit atau penumpukan cairan di rongga tubuh. Sindrom renjatan dengue adalah demam berdarah dengue yang ditandai oleh renjatan/syok (Sudoyo, et al., 2006). Penyakit ini disebabkan oleh virus Dengue dari genus Flavivirus, famili Flaviviridae. DBD ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue. Virus Dengue penyebab Demam Dengue (DD), Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Dengue Shock Syndrome (DSS) termasuk dalam kelompok B Arthropod Virus (Arbovirosis) yang sekarang dikenal sebagai genus Flavivirus, famili Flaviviride, dan mempunyai

11

4 jenis serotipe, yaitu: Den-1, Den-2, Den-3, Den-4 (Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi Kemenkes RI, 2010). 2. Tanda dan Gejala DBD Gejala Klinik utama pada DBD adalah demam dan manifestasi pendarahan baik yang timbul secara spontan maupun setelah uji torniquest. WHO (dalam Soegijanto, 2004) menentukan beberapa patokan untuk menegakkan diagnosis klinik DBD yaitu: a) Demam tinggi mendadak yang berlangsung selama 2-7 hari b) Manifestasi pendarahan: 1) Uji torniquest positif 2) Pendarahan spontan berbentuk peteki (pendarahan pada kulit), purpura (pendarahan kecil di dalam kulit), ekimosis, epistakis (pendarahan hidung), pendarahan gusi,

hematemesis (muntah darah), melena (BAB darah). 3) Hepatomegali (pembesaran hati) 4) Renjatan, nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menurun (< 20 mmHg) atau nadi tak teraba, kulit dingin, dan anak gelisah. Banyak penderita atau keluarga penderita mengalami kondisi fatal karena menganggap ringan gejala-gejala tersebut. Sesudah masa tunas/inkubasi selama 3 - 15 hari orang yang tertular dapat mengalami/menderita penyakit ini dalam salah

12

satu dari 4 bentuk. Empat bentuk tersebut yaitu (dalam Kalyanamitra, 2012): 1) Bentuk abortif, penderita tidak merasakan suatu gejala apapun. 2) Dengue klasik, penderita mengalami demam tinggi selama 4-7 hari, nyeri-nyeri pada tulang, diikuti dengan munculnya bintik-bintik atau bercak-bercak perdarahan di bawah kulit. 3) Dengue Haemorrhagic gejalanya Fever sama (Demam dengan berdarah klasik

dengue/DBD)

dengue

ditambah dengan perdarahan dari hidung (mimisan), mulut, dubur, dsb. 4) Dengue Syok Sindrom, gejalanya sama dengan DBD ditambah dengan syok / presyok. Bentuk ini sering berujung pada kematian. Lama demam berdarah pada umumnya sekitar enam atau tujuh hari dengan puncak demam yang lebih kecil terjadi pada akhir masa demam. Secara klinis, jumlah trombosit akan jatuh hingga pasien dianggap afebril. Menurut WHO (dalam Misnadiarly, 2009), derajat beratnya DBD dibagi menjadi empat tingkatan: 1) Derajat I: demam yang disertai gejala klinis tidak khas, satu-satunya gejala pendarahan adalah hasil uji torniquest yang positif.

13

2) Derajat II: gejala yang timbul pada DBD derajat 1 ditambah pendarahan spontan biasanya dalam bentuk pendarahan kulit dan atau bentuk pendarahan lainnya. 3) Derajat III: kegagalan sirkulasi yang ditandai dengan denyut nadi yang cepat dan lemah, menyempitnya tekanan nadi 20 mmHg atau kurang atau hipotensi ditandai dengan kulit dingin dan lembab serta pasien menjadi gelisah. 4) Derajat IV: syok berat dengan tidak terabanyan denyut nadi maupun tekanan darah. 3. Penularan Penyakit DBD Penyakit ini ditularkan orang yang dalam darahnya terdapat virus dengue. Orang ini biasa menunjukkan gejala sakit, tetapi biasa juga tidak sakit, yaitu jika mempunyai kekebalan yang cukup terhadap virus dengue. Jika orang digigit nyamuk Aedes aegypti maka virus dengue masuk bersama daerah yang diisapnya. Di dalam tubuh nyamuk itu, virus dengue akan berkembang biak dengan cara membelah diri dan menyebar di seluruh bagian tubuh nyamuk. Sebagian besar virus itu berada dalam kelenjar liur nyamuk. Dalam tempo 1 minggu jumlahnya dapat mencapai puluhan atau bahkan ratusan ribu sehingga siap untuk

ditularkan/dipindahkan kepada orang lain. Selanjutnya pada waktu nyamuk itu menggigit orang lain, maka setelah alat tusuk nyamuk (probosis) menemukan kapiler darah, sebelum darah orang itu

14

diisap, terlebih dahulu dikeluarkan air liur dari kelenjar liurnya agar darah yang diisap tidak membeku (Hadinegoro dan Satari, 2002). Bersama dengan liur nyamuk inilah, virus dengue

dipindahkan kepada orang lain. Tidak semua orang yang digigit nyamuk Aedes aegypti yang membawa virus dengue itu, akan terserang penyakit demam berdarah. Orang yang mempunyai kekebalan yang cukup tehadap virus dengue, tidak akan terserang penyakit ini, meskipun dalam darahnya terdapat virus itu. Sebaliknya pada orang yang tidak mempunyai kekebalan yang cukup terhadap virus dengue, dia akan sakit demam ringan atau bahkan sakit berat, yaitu demam tinggi disertai pendarahan bahkan syok, tergantung dari tingkat kekebalan tubuh yang dimilikinya (Hadinegoro dan Satari, 2002). Di dalam proses memenuhi kebutuhan protein untuk proses pematangan telurnya ditentukan oleh frekuensi kontak antara vektor dengan inang. Frekuensi kontak tersebut dapat dipengaruhi oleh jenis dan kepadatan inang. Ada perbedaan perilaku makan darah antara imago yang belum dan sudah terinfeksi virus DBD. Perbedaan itu berimpilkasi terhadap frekuensi kontak nyamuk dengan inang. Imago betina terinfeksi lebih sering kontak dengan inang untuk mendapatkan cairan darah untuk produksi dan proses pematangan telurnya. Kejadian itu

15

meningkatkan frekuensi kontaknya dengan inang sehingga peluang penularan virus DBD semakin cepat dan singkat (Supartha, 2008). B. Tinjauan Umum Tentang Nyamuk Aedes aegypti Menurut riwayatnya nyamuk penular penyakit demam

berdarah yang disebut nyamuk Aedes aegypti itu, pada awal mulanya berasal dari Mesir yang kemudian menyebar ke seluruh dunia, melalui kapal laut dan udara. Nyamuk hidup dengan subur di belahan dunia yang mempunyai iklim tropis dan subtropis seperti Asia, Afrika, Australia dan Amerika. Penyakit demam berdarah dengue mengenai seseorang melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk yang menularkan penyakit adalah nyamuk betina dewasa. Nyamuk betina memerlukan darah manusia atau binatang untuk hidup dan

berkembang biak (Misnadiarly, 2009). 1. Ciri-ciri Nyamuk Aedes aegypti Nyamuk Aedes aegypti betina suka bertelu di atas permukaan vertikal bagian dalam tempat-tempat yang berisi sedikit air. Air harus jernih dan terlindung dari cahay matahari. Tempat air yang dipilih ialah tempat air di dalam dan dekat rumah. Ae. Aegypti dewasa berukuran kecil dengan warna dasar hitam. Probosis bersisik hitam, palpi pendek dengan ujung hitam bersisik putih perak. Oksiput bersisik lebar, berwarna putih terletak memanjang. Femur bersisik putih pada permukaan posterior dan setengah basal, anterior dan tengan bersisik putih memanjang. Tibia

16

semuanya hitam. Tarsi belakang berlingkaran putih pada segmen basal kesatu sampai keempat dan segmen kelima berwarna putih. Sayap berukuran 2,5-3,0 mm, bersisik hitam (Soedarmo, 2005). 2. Bionomik Nyamuk Aedes aegypti a. Kebiasaan Mengigit Aedes aegypti bersifat antropofilik (senang sekali kepada manusia) dan hanya nyamuk betina yang menggigit. Nyamuk betina biasanya menggigit di dalam rumah, kadangkadang di luar rumah, di tempat yang agak gelap (Soedarmo, 2005). Nyamuk jantan tertarik juga pada manusia bila melakukan perkawinan, tetapi tidak menggigit. Setelah kawin, nyamuk betina memerlukan darah untuk bertelur. Nyamuk betina menghisap darah manusia setiap 23 hari sekali. Menghisap darah pada pagi hari sampai sore hari, dan lebih suka pada jam 08.0012.00 dan jam 15.0017.00. Untuk mendapatkan darah yang cukup, nyamuk betina sering menggigit lebih dari satu orang. Jarak terbang nyamuk sekitar 100 meter. Umur nyamuk betina dapat mencapai sekitar 1 bulan (Ditjen P2M & PL Depkes RI, 2004). Nyamuk ini mempunyai kebiasaan mengigit berulang (multiple bitters), yaitu menggigit beberapa orang secara bergantian dalam waktu singkat. Hal ini disebabkan karena

17

nyamuk Aedes aegypti sangat sensitive dan mudah terganggu. Keadaan ini sangat membantu Aedes aegypti dalam

memindahkan virus ke beberapa orang sekaligus sehingga dilaporkan adanya beberapa penderita demam dengue atau DHF di satu rumah (Soedarmo, 2005). b. Kebiasaan Beristirahat Pada malam hari nyamuk beristirahat dalam rumah pada benda-benda yang digantung, seperti pakaian, kelambu, pada dinding dan di bawah rumah dekat tempat berbiaknya, biasanya di tempat yang gelap. Nyamuk Aedes aegypti yang merupakan vektor yang berperan dalam penularan penyakit DBD ini hidup di dalam rumah, di kloset, di tempat-tempat yang gelap, dan di luar rumah. Nyamuk tersebut hidup di tempat lembab dan terlindung dari matahari (Misnadiarly, 2009). Tempat istirahat yang disukainya adalah benda-benda yang tergantung yang ada dalam di dalam rumah, seperti gordyn, kelambu dan baju/pakaian di kamar yang gelap dan lembab. Kepadatan nyamuk ini akan meningkat pada waktu musim hujan, dimana terdapat banyak genangan air bersih yang dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti (Hadinegoro dan Satari, 2002).

18

c. Jangkauan Terbang Di Indonesia nyamumuk Aedes aegypti tersebar luas di di seluruh pelosok tanah air, baik di kota-kota maupun di desadesa, kecuali di wilayah yang ketinggiannya lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut. Kemampuan terbangnya berkisar antara 40-100 m dari tempat perekembang-biakannya.

Pergerakan nyamuk ditentukan oleh kemampuan terbang nyamuk. Pada waktu terbang, nyamuk memerlukan oksigen lebih banyak sehingga penguapan dalam tubuhnya menjadi lebih besar. Akibatnya, jarak terbang nyamuk terbatas sehingga penyebarannya tidak akan jauh dari tempat perindukan, tempat mencari mangsa dan tempat istirahat, terutama di daerah yang padat penduduknya. Jarak terbang rata-rata nyamuk Aedes aegypti 200 meter (Sulistyawati, 2011). d. Siklus hidup nyamuk Aedes aegypti Perkembangan hidup nyamuk Aedes aegypti dari telur hingga dewasa memerlukan waktu sekitar 10-12 hari. Hanya nyamuk betina yang menggigit dan menghisap darah serta memilih darah manusia untuk mematangkan telurnya.

Sedangkan nyamuk jantan tidak bias menggigit/menghisap darah, melainkan hidup dari sari-sari bunga tumbuhan.

19

Umur nyamuk Aedes aegypti betina berkisar antara 2 minggu sampai 3 bulan atau rata-rata 1 bulan, tergantung dari suhu kelembaban udara disekelilingnya. 1) Telur Nyamuk betina bertelur di dalam air yang tergenang di dalam dan sekitar rumah dan daerah pemukiman lainnya. Telur-telur berkembang menjadi larva dan kemudian

berubah manjadi bentuk dewasa dalam waktu 10 hari. Telur tidak berpelampung. Sekali bertelur nyamuk betina

menghasilkan 100 butir. Telur kering dapat tahan 6 bulan. Telur akan menjadi jentik setelah sekitar 2 hari (Ditjen P2M & PL Depkes RI, 2004). Karakteristik telur Aedes adalah berbentuk bulat pancung yang mula-mula berwarna putih kemudian berubah menjadi hitam. Telur tersebut diletakkan secara terpisah di permukaan air untuk memudahkannya menyebar dan berkembang menjadi larva di dalam media air. Media air yang dipilih untuk tempat peneluran itu adalah air bersih yang stagnan (tidak mengalir) dan tidak berisi spesies lain sebelumnya (Mortimer dalam Supartha 2008). Telur Aedes aegypti berwarna hitam seperti sarang tawon, diletakkan satu demi satu di permukaan atau sedikit di bawah permukaan air dalam jarak 2 cm dari dinding tempat perindukan. Telur dapat bertahan berbulan-bulan

20

pada suhu 20C sampai 420C. Namun bila kelembaban terlampau rendah, maka telur akan menetas dalam waktu 4 hari. Dalam keadaan optimal, perkembangan telur sampai menjadi nyamuk dewasa berlangsung selama sekurangkurangnya 9 hari (Soedarmo, 2005). 2) Larva/jentik Larva Aedes aegypti memiliki siphon besar dan pendek dengan satu kumpulan rambut yang terletak pada ujung bawah abdomen. Toraks larva lebih besar dari kepala dan memiliki duri yang panjang dengan bentuk kurva. Kepala memiliki antena dan mata majemuk serta sikat mulut yang menonjol. Abdomen terdiri dari 10 ruas dan hanya 9 ruas yang menonjol serta terdapat comb scale. Pada waktu

istirahat membentuk sudut dengan permukaan air dan 6 8 hari menjadi pupa (Ditjen P2M & PL Depkes RI, 2004). Larva nyamuk semuanya hidup di air yang

stadianya terdiri atas empat instar. Keempat instar itu dapat diselesaikan dalam waktu 4 hari2 minggu tergantung keadaan lingkungan seperti suhu air persediaan makanan. Pada air yang agak dingin perkembangan larva lebih lambat, demikian juga keterbatasan persediaan makanan juga menghambat perkembangan larva. Setelah melewati

stadium instar keempat larva berubah menjadi pupa. Ada

21

empat tingkat (instar) jentik sesuai dengan pertumbuhan larva Aedes aegypti tersebut, yaitu: a) Instar I: berukuran paling kecil, yaitu 1-2 mm b) Instar II: 2,5-3,8 mm c) Instar III: lebih besar sedikit dari larva instar II d) Instar IV: berukuran paling besar 5 mm. 3) Pupa Sebagian kecil tubuhnya kontak dengan permukaan air. Bentuk terompet panjang dan ramping dan 12 hari menjadi nyamuk Aedes aegypti. Sebagaimana larva, pupa juga membutuhkan lingkungan akuatik (air). Pupa adalah fase inaktif yang tidak membutuhkan makan, namun tetap membutuhkan oksigen untuk bernafas. Untuk keperluan pernafasannya pupa berada di dekat permukaan air. Lama fase pupa tergantung dengan suhu air dan spesies nyamuk yang lamanya dapat berkisar antara satu hari sampai beberapa minggu (Supartha, 2008). 4) Nyamuk Dewasa Panjang 34 mm. Bintik hitam dan putih pada badan dan kepala, dan punya ring putih di kakinya (Ditjen P2M & PL Depkes RI, 2004). Nyamuk betina dewasa yang mulai menghisap darah manusia, 3 hari sesudahnya sanggup bertelur sebanyak 100 butir. Dua puluh empat jam kemudian

22

nyamuk itu sanggup bertelur sebanyak 100 butir. Dua puluh empat jam kemudian nyamuk itu menghisap darah lagi, selanjutnya kembali bertelur (Soedarmo, 2005). Siklus hidup nyamuk Aedes aegypti dapat dilihat pada gambar di bawah ini (dalam Ditjen P2M & PL Depkes RI, 2004):

1)Telur

4)Nyamuk Dewasa

2)Larva/jentik

3)Pupa

Gambar 2.1. Siklus Hidup Nyamuk Aedes aegypti

23

C. Tinjauan Umum Tentang Keberadaan Jentik Menurut Sodarmo (2005), Populasi nyamuk diukur dengan cara melakukan pemeriksaan terhadap semua tempat air di dalam dan di luar rumah akan larva Ades aegypti dengan memeriksa 100 rumah di suatu daerah. 1. Survey Jentik Menurut Depkes RI (2005) (dalam Nugroho, 2009), survey jentik dilakukan dengan cara sebagai berikut: a. Semua tempat atau bejana yang dapat menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti diperiksa (dengan mata telanjang) untuk mengetahui ada tidaknya jentik. b. Untuk memeriksa TPA yang berukuran besar, seperti: bak mandi, tempayan, drum, dan bak penampungan air lainnya. Jika pada pandangan (penglihatan) pertama tidak menemukan jentik, tunggu kira-kira 1 menit unutk memastikan bahwa benar jentik tidak ada. c. Untuk memeriksa tempat-tempat perkembangbiakan yang kecil, seperti: vas bunga atau pot tanaman air atau botol yang airnya keruh, seringkali airnya perlu dipindahkan ke tempat lain. d. Untuk memeriksa jentik di tempat yang agak gelap, atau airnya keruh, biasanya digunakan senter.

24

2. Metode Survey Jentik Metode survey jentik dapat dilakukan dengan cara (dalam Widiyanto, 2007): a. Metode singgle larva: Survai ini dilakukan dengan mengambil satu jentik disetiap tempat genangan air yang ditemukan ada jentiknya untuk dilakukan identifikasi lebih lanjut jenis jentiknya. b. Metode visual: Survai ini dilakukan dengan melihat ada atau tidaknya jentik di setiap tempat genangan air tanpa mengambil jentiknya. Dalam program pemberantasan penyakit demam berdarah dengue, survai jentik yang biasa digunakan adalah cara visual. Ukuran yang dipakai untuk mengetahui kepadatan jentik yaitu : 1) Angka Bebas Jentik (ABJ) x100% 2) Indeks rumah (HI) : persentase rumah ditemukannya larva Aedes aegypti x 100% 3) Indeks container (CI): persentase container yang positif dengan larva Aedes aegypti

25

4) Indeks breteau (BI): jumlah container yang positif dengan larva Aedes aegypti dalam 1 rumah.

Angka

bebas

jentik

dan

house

indeks

lebih

menggambarkan luasnya penyebaran nyamuk di suatu wilayah. Tidak ada teori yang pasti berupa angka bebas jentik dan house indeks yang dipakai standart, hanya berdasarkan kesepakatan, disepakati house indeks minimal 5 % yang berarti persentase rumah yang diperiksa jentiknya positif tidak boleh melebihi 5 % atau 95 % rumah yang diperiksa jentiknya harus negatif. Pengukuran Breteau Indeks merupakan indikator yang baik untuk menyatakan kepadatan nyamuk sedangkan House Indeks menunjukkan luas penyebaran nyamuk dalam suatu wilayah. Melalui hasil pengukuran kepadatan Aedes aegypti dapat digunakan untuk mengetahui angka ambang kritis yang merupakan suatu indikator adanya ancaman wabah penyakit demam berdarah. Oleh para ahli WHO telah menetapkan bahwa Breteau Indeks diatas 50 pada suatu daerah, besar

kemungkinan terjadinya transmisi penyakir demam berdarah (Soedarmo, 2005).

26

Kepadatan populasi nyamuk (Density Figure) diperoleh dari gabungan dari HI, CI dan BI dengan kategori kepadatan jentik penetuannya adalah sebagai berikut: a) DF= 1 = kepadatan rendah

b) DF= 2-5 = kepadatan sedang c) DF= 6-9 = kepadatan tinggi Tingkat kepadatan larva Aedes menurut WHO (1972) dalam Santoso (2008) dapat dilihat pada table dibawah ini: Tabel 2.1 Tingkat Kepadatan Larva Aedes Berdasarkan Beberapa Indikator Density HI CI BI Figure 1 1-3 1-3 1-4 2 4-7 4-5 5-9 3 8-17 6-9 10-19 4 18-28 10-14 20-34 5 29-37 15-20 35-49 6 38-49 21-27 50-74 7 50-59 28-31 75-99 8 60-76 32-40 100-199 9 77+ 41+ 200+ Sumber: WHO 1972 D. Faktor Yang Berhubungan Dengan Keberadaan Jentik 1. Tinjauan Umum Tentang Menguras Tempat Penampungan Air (TPA) Cara fisik Pemberantasan terhadap jentik nyamuk Aedes aegypti yang dikenal dengan istilah Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN DBD) dilakukan dengan kegiatan 3-M yaitu menguras bak mandi, bak wc, dan lain-lain.

27

Menutup tempat penampungan air rumah tangga (tempayan, drum, dan lain-lain). Mengubur, menyingkirkan atau memusnahkan barang-barang bekas (seperti kaleng, ban, dan lain-lain) (Nugroho, 2009). Namun yang akan dibahas pada penelitian ini adalah menguras bak mandi, bak wc, dan lain-lain yang meliputi cara dan frekuensi pengurasan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Damyanti (2009) di Magetan dan Triwinasis (2010) di Yogyakarta yang menunjukkan bahwa ada hubungan antara praktek menguras tempat penampungan air dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti. Pengurasan tempat-tempat penampungan air perlu

dilakukan secara teratur sekurang-kurangnya seminggu sekali agar nyamuk tidak dapat berkembangbiak di tempat itu. Pada saat ini telah dikenal pula istilah 3M plus, yaitu kegiatan 3M yang diperluas. Bila PSN DBD dilaksanakan oleh seluruh masyarakat, maka populasi nyamuk Aedes aegypti dapat ditekan serendahrendahnya, sehingga penularan DBD tidak terjadi lagi (Depkes RI, 2004). Kemauan dan tingkat kedisiplinan untuk menguras

kontainer pada masyarakat memang perlu ditingkatkan, mengingat bahwa kebersihan air selain untuk kesehatan manusia juga untuk menciptakan kondisi bersih lingkungan. Dengan kebersihan

lingkungan diharapkan dapat menekan terjadinya berbagai penyakit

28

yang timbul akibat dari lingkungan yang tidak bersih.Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Wati (2009) menunjukkan bahwa Ada hubungan antara frekuensi pengurasan kontainer dengan kejadian DBD di Kelurahan Ploso Kecamatan Pacitan Tahun 2009 (Wati, 2009). 2. Tinjauan Umum Tentang Kondisi Tempat Penampungan Air (TPA) Larva Aedes aegypti umumnya ditemukan di drum, tempayan, gentong atau bak mandi di rumah keluarga Indonesia yang kurang diperhatikan kebersihannya. Di daerah yang sumurnya berair asin atau persediaan air minumnya tidak terdapat secara teratur, seperti di daerah pantai, penduduk biasanya menyimpan air hujan dalam drum berkapasitas 200 liter. Besarnya kontainer dan lamanya air disimpan di dalamnya mengakibatkan banyak nyamuk yang dapat berasal dari drum itu. Tempat air yang tertutup longgar lebih disukai oleh nyamuk betina sebagai tempat bertelur, dibandingkan dengan tempat air yang terbuka. Karena tutupnya jarang dipasang secara baik dan sering dibuka mengakibatkan ruang didalamnya relatif lebih gelap dibandingkan dengan tempat air yang terbuka (Soedarmo, 2005) Hasyimi, et. al menyatakan bahwa penggunaan TPA di daerah pemukiman dimana keperluan air sehari-hari dikelola PAM, sering menimbulkan masalah bagi perindukan vektor disebabkan

29

penduduk banyak menampung air di suatu tempat (TPA). Dengan alasan ini maka tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti cenderung menjadi banyak sehingga memperluas terjadinya transmisi virus dengue (Salim et. al, 2009). Para dokter & ahli kesehatan telah sepakat bahwa, menutup wadah (tempat) makanan & minuman merupakan salah satu upaya menjaga kesehatan, sekaligus sarana pencegahan penyakit yang mudah untuk dilaksanakan. Makanan ataupun minuman yang tersimpan dalam wadah tertutup rapat dan rapi, tak mudah dihinggapi kuman penyebab penyakit. Sejak berabad-abad yang lalu, Rasulullah telah

memberikan banyak petunjuk berkaitan dengan upaya preventif dalam pencegahan penyakit. Ini sudah berjalan jauh sebelum para dokter menemukan mikroba dan kuman penyebab penyakit dengan berbagai macam jenisnya. Dibalik itu semua, ada sisi lain yang tak dapat diketahui oleh dokter manapun di dunia ini, sehingga, sudah seyogyanya sebagai seorang muslim memperhatikan dan

mengamalkan tuntunan ini karena aplikasi dari Sunnah Nabi, pasti mendatangkan banyak kemaslahatan bagi kita.

30

Hadits dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwasanya beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

. : .
(HR. Muslim) Terjemahan: Tutuplah bejana, ikatlah kantung air, kuncilah pintu, & padamkanlah lampu. Sesungguhnya setan tak bisa membuka kantung air, tak bisa membuka pintu, & tak pula bisa membuka bejana. Jika salah seorang dari kalian tak mendapatkan (penutup) kecuali hanya dgn membentangkan sebatang ranting pohon kemudian ia menyebut nama Allah, hendaklah ia lakukan itu. ABJ yang rendah dipengaruhi oleh beberapa faktor. Dalam penelitian Sulistyawati (2011) menjelaskan bahwa ada hubungan antara kondisi tempat penampungan air dengan keberadaan larva Aedes aegypti di Kelurahan Rappocini Kota Makassar. 3. Tinjauan Umum Tentang Karakteristik Tempat Penampungan Air (TPA) Telur, larva, dan pupa nyamuk Aedes aegypti tumbuh dan berkembang di dalam air. Genangan yang disukai sebagai tempat perindukan nyamuk ini berupa genangan air yang tertampung di suatu wadah yang disebut kontainer atau tempat penampungan air (TPA) bukan genangan air di tanah. Terdapat beberapa faktor yang

31

mempengaruhi peletakan telur nyamuk Aedes sp antara lain jenis TPA, warna TPA, bahan dasar TPA, letak TPA, air, suhu, kelembaban, dan kondisi lingkungan setempat. Identifikasi TPA dapat digunakan untuk keperluan pemberantasan penyakit DBD (Sari, et al., 2005). Namun yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah jenis TPA, warna TPA, dan bahan dasar TPA. Jenis-jenis tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti dapat dikelompokkan sebagai berikut: a. Tempat penampungan air (TPA), untuk keperluan sehari-hari, seperti: drum, tangki reservoir, tempayan, bak mandi/WC, ember dan lain-lain. b. Tempat penampungan air bukan untuk keperluan sehari-hari seperti tempat minum burung, vas bunga, perangkap semut dan barang-barang bekas (ban, kaleng, botol, plastic dan lain-lain). c. Tempat penampungan air alamiah seperti: lubang pohon, lubang batu, pelepah daaun, tempurun kelapa, pelepah pisang, potongan bambu dan lain-lain. Penelitian yang dilakukan Sari (2005) menunjukkan persentase positif jentik tertinggi ditemukan pada TPA dengan bahan dasar semen (44,8%). Banyak sedikitnya larva Aedes aegypti yang ditemukan kemungkinan ada hubungannya dengan makanan larva yang tersedia, karena kesediaan makanan ada hubungannya dengan bahan dasar TPA. Hal ini terjadi, mungkin

32

disebabkan mikroorganisme yang menjadi makanan larva lebih mudah tumbuh pada dinding TPA yang kasar seperti semen. Selain itu, pada kontainer yang berdinding kasar, nyamuk betina lebih mudah mengatur posisi tubuh waktu meletakan telur, dimana telur diletakan secara teratur di atas permukaan air (Sari, et al., 2005). Penelitian yang dilakukan oleh Novelani (2007)

menunjukkan bahwa wadah yang positif larva lebih banyak dijumpai pada wadah berwarna biru (41,7%). Kondisi yang lembab dan warna TPA yang gelap memberikan rasa aman dan tenang bagi nyamuk untuk bertelur, sehingga telur yang diletakkan lebih banyak dan jumlah larva yang terbentuk lebih banyak pula. Selain itu suasana gelap menyebabkan larva menjadi tidak terlihat sehingga tidak bisa diciduk atau dibersihkan (Salim dan Febriyanto, 2005). Keberadaan kontainer atau TPA sangat berperan dalam keberadaan vektor nyamuk Aedes, karena semakin banyak kontainer akan semakin banyak tempat perindukan dan akan semakin padat populasi nyamuk Aedes. Semakin padat populasi nyamuk Aedes, maka semakin tinggi pula risiko terinfeksi virus DBD dengan waktu penyebaran lebih cepat sehingga jumlah kasus penyakit DBD cepat meningkat yang pada akhirnya mengakibatkan terjadinya KLB penyakit DBD (Fathi, et al., 2005). Menurut Focks dan Cladee (1997) jenis-jenis tempat penampungan air yang paling sering ditemukan larva yakni

33

tempayan, drum dan bak mandi dalam memfasilitasi perolehan larva Aedes. Ketiganya termasuk tempat penampungan air berukuran besar yang sulit untuk mengganti airnya, sehingga keberhasilan perkembangbiakan nyamuk Aedes didukung oleh ukuran tempat penampungan air yang cukup besar dan air yang berada didalamnya cukup lama. Kemampuan jenis-jenis tempat penampungan air sebagai tempat tersedianya organisme air dapat bertindak sebagai sumber makanan, kompetitor, predator dan parasit yang di prediksi akan mempengaruhi perkembangan larva menjadi dewasa, baik dalam kualitas maupun kuantitasnya (Novelani, 2007). Masing-masing masyarakat di wilayah tertentu mempunyai kesenangan akan tempat penampungan air yang berbeda-beda baik dalam jenis, bahan dasar dan warna yang digunakan. Di perkirakan dapat mempengaruhi prosentase perolehan larva pada setiap wilayah tersebut. 4. Tinjauan Umum Tentang Kondisi Rumah Rumah merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga. Jenis rumah, pencahayaan, dan bentuk rumah secara tidak langsung akan mempengaruhi

perkembangbiakan jentik Aedes aegypti dan penularan DBD. Kualitas pemukiman yang jelek akan mempengaruhi terutama bila

34

banyak benda-benda yang bisa menjadi tempat perindukan nyamuk seperti kaleng, botol, ban dan semua yang dapat menjadi tempat nyamuk bersarang (Arman, 2008). Rumah yang sehat menurut Winslow dan APHA harus memenuhi syarat salah satunya adalah memenuhi kebutuhan fisiologis meliputi sistem penghawaan (ventilasi), pencahayaan, dan suhu ruangan. Namun kondisi rumah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah pencahayaan, ventilasi, dan kebiasaan menggantung pakaian. Pencahayaan mengurangi berguna untuk menerangi serangga ruangan, dapat

kelembaban,

mengusir

dan

membunuh benih/kuman penyakit menular. Lingkungan biologi yang mempengaruhi kehidupan nyamuk Aedes aeypti adalah banyaknya tanaman hias dan tanaman pekarangan, karena dapat mempengaruhi pencahayaan dan kelembaban di dalam rumah. Kelembaban yang tinggi dan pencahayaan yang kurang di dalam rumah merupakan tempat yang disukai nyamuk untuk hinggap dan beristirahat . Pencahayaan alami adalah penerangan dengan

memanfaatkan cahaya matahari. Tiga faktor yang mempengaruhi jumlah cahaya siang masuk ke dalam ruangan, yaitu: cahaya langsung melalui lubang cahaya, cahaya yang dipantulkan oleh permukaan benda di dalam ruangan. Kesehatan ruangan dapat

35

tercapai bila intensitas cahaya yang masuk ruangan minimal 50 lux bila diukur dari bidang datar setinggi 84 cm dari atas lantai. Intensitas pencahayaan merupakan faktor linkungan fisik yang berpengaruh terhadap Aedes aegypti. Habitat Aedes aegypti baik yang dewasa maupun larvanya adalah tempat-tempat yang tidak terkena cahaya matahari langsung. Pencahayaan alami dalam rumah diukur dengan menggunakan luxmeter. Mengacu pada Permenkes No: 829/Menkes/VII/1999 batasan pencahayaan alam di dalam ruangan yang memenuhi syarat kesehatan apabila 60 lux sedangkan yang tidak memenuhi syarat kesehatan apabila < 60 lux (Muslim, 2004). Pakaian yang manggantung dalam ruangan merupakan tempat yang disenangi nyamuk aedes aegypti untuk beristirahat setelah menghisap darah manusia. Setelah beristirahat pada saatnya akan menghisap darah manusia kembali sampai nyamuk tersebut cukup darah untuk pematangan sel telurnya. Jika nyamuk yang beristirahat pada pakaian menggantung tersebut menghisap darah penderita demam berdarah dan selanjutnya pindah dan menghisap darah orang yang sehat maka dapat tertular virus demam berdarah dengue. Penelitian yang dilakukan oleh

Sukowinarsih dan Cahyati (2010) menunjukkan bahwa besar resiko kejadian DBD 4,405 kali lebih besar pada rumah yang terdapat

36

pakaian yang menggantung dalam ruang kamar di banding rumah yang tidak terdapat pakaian menggantung dalam ruang kamar. E. Cara Pemberantasan Jentik Aedes aegypti Program pemberantasan penyakit DBD di berbagai negara pada umumnya belum berhasil karena masih tergantung pada penyemprotan dengan insektisida untuk membunuh nyamuk dewasa. Penyemprotan membutuhkan pengoperasian yang khusus dan biaya yang tinggi. Untuk mencapai kelestarian program pemberantasan vektor DBD sangat penting untuk memusatkan pada pembersihan sarang larva dengan dilaksanakan secara bersama-sama antara pemerintah dan masyarakat. Untuk itu perlu diterapkan pendekatan terpadu dalarn pengendalian nyamuk dengan menggunakan semua metode yang tepat baik secara pengelolaan lingkungan, biologi dan kimiawi (Sukamto, 2007). Pemberantasan terhadap jentik nyamuk Aedes aegypti dikenal dengan istilah Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN DBD) dilakukan dengan cara: 1. Fisik Cara ini dikenal dengan kegiatan 3M, yaitu: Menguras (dan menyikat) bak mandi, bak WC, dan lain-lain; Menutup tempat penampungan air rumah tangga (tempayan, drum, dan lain-lain); dan Mengubur barang-barang bekas (seperti kaleng, ban, dan lainlain). Pengurasan tempat-tempat penampungan air perlu dilakukan

37

secara teratur sekurang-kurangnya seminggu sekali agar nyamuk tidak dapat berkembangbiak di tempat itu. Pada saat ini telah dikenal pula istilah 3M plus, yaitu kegiatan 3M yang diperluas. Bila PSN DBD dilaksanakan oleh seluruh masyarakat, maka populasi nyamuk Aedes aegypti dapat ditekan serendah-rendahnya,

sehingga penularan DBD tidak terjadi lagi. Untuk itu upaya penyuluhan dan motivasi kepada masyarakat harus dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan, karena keberadaan jentik nyamuk berkaitan erat dengan perilaku masyarakat. 2. Kimia Cara memberantas jentik Aedes aegypti dengan

menggunakan insektisida pembasmi jentik (larvasida) ini antara lain dikenal dengan istilah larvasidasi. Larvasida yang biasa digunakan antara lain adalahtemephos. Formulasi temephos yang digunakan adalah granules (sand granules). Dosis yang digunakan 1 ppm atau 10 gram (1 sendok makan rata) untuk tiap 100 liter air. Larvasida dengan temephos ini mempunyai efek residu 3 bulan. 3. Biologi Pemberantasan jentik nyamuk Aedes aegypti secara biologi dapat dilakukan dengan memelihara ikan pemakan jentik (ikan kepala timah, ikan gupi, ikan cupang atau tempalo, dan lainlain). Dapat juga digunakan Bacillus thuringiensis var israeliensis (BTI).

38

BAB III KERANGKA KONSEP

A. Dasar Pemikir Variabel Penelitian Penyakit demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti. Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan secara teoritis pada dasar teori, maka dapat diidentifikasi beberapa variabel yang terlibat secara langsung terhadap keberadaan jentik Aedes aegypti. Selain itu juga telah diidentifikasi hubungan antara variabel yang terlibat berupa variabel dependen yaitu keberadaan jentik Aedes aegypti maupun variabel independen yaitu karakteristik TPA, menguras TPA, kondisi TPA, kondisi rumah dan jenis jentik. Untuk dapat memberantas nyamuk Aedes aegypti secara efektif diperlukan pengetahuan tentang pola perilaku nyamuk tersebut yaitu perilaku mencari darah, istirahat dan berkembang biak, sehingga diharapkan akan dicapai Pemberantasan Sarang Nyamuk dan jentik Nyamuk Aedes aegypti yang tepat. Namun dalam penelitian ini difokuskan pada perkembangbiakan jentik nyamuk Aedes aegypti sehingga diharapkan dapat memutus mata rantai penyakit Demam Berdarah Dengue.

39

Hubungan antara variabel dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Keberadaan jentik Aedes aegypti Keberadaan larva (jentik) nyamuk Aedes aegypti

diobservasi pada rumah dan penampungan air dengan memakai semua tempat atau wadah yang dapat mejadi tempat

perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti diperiksa (dengan mata telanjang) dengan menggunakan senter untuk mengetahui ada atau tidaknya larva, untuk memeriksa tempat penampungan air yang berukuran besar seperti: bak mandi, tempayan, drum, jika pandangan (penglihatan) pertama tidak menemukan larva tunggu kira-kira 1 menit untuk memastikan bahwa benar larva tidak ada. Menurut Depkes bahwa larva Aedes aegypti dalam air dapat dikenali dengan ciri-ciri antara lain: berukuran 0,5-1 cm dan selalu bergerak aktif dalam air. Gerakan berulang-ulang dari bawah ke atas permukaan air dimaksudkan untuk bernafas. Pada waktu istirahat, posisinya hamper tegak lurus dengan permukaan air. 2. Karakteristik Tempat Penampungan Air (TPA) Karakteristik TPA meliputi jenis, bahan dan warna TPA. Identifikasi TPA dapat digunakan untuk keperluan pemberantasan penyakit DBD. Banyak sedikitnya larva Aedes aegypti yang ditemukan kemungkinan ada hubungannya dengan makanan larva yang tersedia, karena kesediaan makanan ada hubungannya dengan bahan dasar TPA. Hal ini terjadi, mungkin disebabkan

40

mikroorganisme yang menjadi makanan larva lebih mudah tumbuh pada dinding TPA yang kasar seperti semen. Kondisi yang lembab dan warna TPA yang gelap memberikan rasa aman dan tenang bagi nyamuk untuk bertelur, sehingga telur yang diletakkan lebih banyak dan jumlah larva yang terbentuk lebih banyak pula. Selain itu suasana gelap

menyebabkan larva menjadi tidak terlihat sehingga tidak bisa diciduk atau dibersihkan. Masing-masing masyarakat di wilayah tertentu mempunyai kesenangan akan tempat penampungan air yang berbeda-beda baik dalam jenis, bahan dasar dan warna yang digunakan. Diperkirakan dapat mempengaruhi prosentase

perolehan larva pada setiap wilayah tersebut. 3. Menguras Tempat Penampungan Air (TPA) Menguras TPA meliputi cara dan frekuensi pengurasan TPA. Kegiatan ini merupakan salah satu upaya fisik PSN DBD. TPA yang jarang dibersihkan merupakan salah satu faktor yang mendukung perkembangbiakan jentik Aedes aegypti. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Damyanti (2009) di Magetan dan Triwinasis (2010) di Yogyakarta yang menunjukkan bahwa ada hubungan antara praktek menguras tempat penampungan air dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti.

41

4. Kondisi Tempat Penampungan Air (TPA) Kondisi tempat penampungan air yang tertutup tidak rapat lebih disenangi nyamuk betina sebagai tempat bertelur

dibandingkan dengan tempat penampungan air yang terbuka, karena tutupnya yang jarang dirapatkan dengan baik sering dibuka membuat ruang didalamnya lebih gelap dibandingkan tempat air yang terbuka. Ini menunjukkan sangat pentingnya menilai kondisi tempat penampungan air baik di dalam keadaan tertutup atau terbuka dan berpengaruh terhadap keberadaan jentik Aedes aegypti. 5. Kondisi Rumah Secara umum rumah dikatakan sehat apabila memenuhi beberapa kriteria, diantaranya adalah bebas jentik nyamuk. Bebas jentik nyamuk terutama bebas jentik nyamuk aedes aegypti yang merupakan vektor penyakit demam berdarah dengue. Kebiasaan menggantung pakaian, pencahayaan, dan ventilasi yang tidak berkasa secara tidak langsung akan mempengaruhi

perkembangbiakan jentik Aedes aegypti dan penularan DBD. 6. Jenis Jentik Pemeriksaan jentik dalam penelitian ini sangat diperlukan dalam menentukan jenis jentik yang ada di rumah warga sehingga dapat diketahui rumah yang positip jentik Aedes aegypti.

42

B. Gambaran Variabel yang Diteliti Berdasarkan konsep pemikiran variabel seperti yang diuraikan di atas, maka dibuatlah gambaran variabel yang akan diteliti sebagai berikut: Karakteristik TPA Menguras TPA

Kondisi TPA

Keberadaan jentik Aedes aegypti

Kondisi Rumah

Jenis Jentik

Keterangan: = Variabel Independen

= Variabel Dependen

Gambar 3.1. Faktor yang berhubungan dengan keberadaan jentik Aedes aegypti

43

C. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif 1. Keberadaan jentik Aedes aegypti adalah keberadaan jentik Aedes aegypti yang ditemukan pada setiap jenis wadah penampungan air bersih yang menjadi sampel penelitian. Kepadatan larva Aedes aegypti dapat diukur dengan rumus Container Indeks (CI), House Indeks (HI), Breteau Indeks (BI). CI =

HI =

x 100%

BI = Kepadatan Aedes aegypti dikategorikan (WHO) a. Kepadatan rendah = JIka Density figure yang diperoleh 1 b. Kepadatan sedang = JIka Density figure yang diperoleh 2-5 c. Kepadatan tinggi = JIka Density figure yang diperoleh 6-9 Kriteria Objektif : Positif : Jika ditemukan jentik Aedes aegypti di tempat penampungan air. Negatif : Jika tidak ditemukan jentik Aedes aegypti di tempat penampungan air. 2. Karakteristik Tempat Penampungan Air (TPA) dalam penelitian ini meliputi jenis, bahan dasar, dan warna TPA.

44

a. Jenis TPA adalah jenis tempat penampungan air yang digunakan oleh setiap rumah tangga dalam keperluan seharihari. Kriteria Objektif: TPA Sehari-hari: Tempat penampungan air yang

digunakan untuk keperluan sehari-hari seperti drum, bak mandi, bak WC, gentong. Non TPA sehari-hari: Tempat penampungan air yang bukan untuk keperluan sehari-hari seperti vas bunga, ban bekas, tempat minum hewan peliharaan, tempat sampah. b. Bahan dasar TPA adalah bahan dasar dari tempat

penampungan air sehari-hari untuk kepentingan rumah tangga di sekitar rumah responden. c. Warna TPA adalah warna dari tempat penampungan air seharihari untuk kepentingan rumah tangga di sekitar rumah responden. 3. Menguras Tempat Penampungan Air (TPA) yang dimaksud dalam penelitian ini adalah TPA yang dikuras dengan menggunakan sikat dan atau alat pembersih lainnya serta frekuensi pengurasan yang dilakukan minimal 1 kali seminggu.

45

Kriteria objektif Memenuhi syarat: Tempat penampungan air yang dikuras dengan menggunakan sikat dan atau alat pembersih lainnya yang dilakukan minimal 1 kali

seminggu. Tidak memenuhi syarat: Tempat penampungan air yang tidak dikuras minimal 1 kali seminggu. 4. Kondisi Tempat Penampungan Air (TPA) adalah kondisi tempat penyimpanan air bersih dalam keadaan tertutup rapat dan terbuka. Kriteria Objektif Tertutup: Tempat penampungan air yang memiliki penutup atau tertutup rapat. Terbuka: Tempat penampungan air yang terkena udara langsung, tidak tertutup rapat. 5. Kondisi rumah adalah kondisi rumah responden seperti

pencahayaan, ventilasi, dan kebiasaan menggantung pakaian. Kriteria objektif: Memenuhi syarat: jika rumah memiliki penutup ventilasi pada

ventilasi rumah dan pencahayaan 60 lux serta tidak ditemukan pakaian yang menggantung di dalam rumah (bukan di dalam almari). Tidak memenuhi syarat: jika rumah tidak memiliki penutup ventilasi pada ventilasi rumah dan pencahayaan < 60 lux serta

46

ditemukan pakaian yang menggantung di dalam rumah (bukan di dalam almari) atau jika salah satu syarat tidak terpenuhi. 6. Jenis jentik adalah pemeriksaan jentik yang dilakukan di

laboratorium untuk menentukan jenis jentik yang ditemukan di rumah warga. D. Hipotesis 1. Hipotesis Nol (Ho): a. Tidak ada hubungan antara karakteristik Tempat Penampungan Air (TPA) dengan keberadaan jentik Aedes aegypti di Kelurahan Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar tahun 2012. b. Tidak ada hubungan antara menguras Tempat Penampungan Air (TPA) dengan keberadaan jentik Aedes aegypti di Kelurahan Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar tahun 2012. c. Tidak ada hubungan antara kondisi Tempat Penampungan Air (TPA) dengan keberadaan jentik Aedes aegypti di Kelurahan Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar tahun 2012. d. Tidak ada hubungan antara kondisi rumah dengan keberadaan jentik Aedes aegypti di Kelurahan Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar tahun 2012.

47

e. Tidak ada hubungan antara jenis jentik

dengan keberadaan

jentik Aedes aegypti di Kelurahan Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar tahun 2012. 2. Hipotesis Alternatif (Ha) a. Ada hubungan antara karakteristik Tempat Penampungan Air (TPA) dengan keberadaan jentik Aedes aegypti di Kelurahan Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar tahun 2012. b. Ada hubungan antara meguras tempat penampungan air dengan keberadaan jentik Aedes aegypti di Kelurahan

Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar tahun 2012. c. Ada hubungan antara kondisi Tempat Penampungan Air (TPA) dengan keberadaan jentik Aedes aegypti di Kelurahan

Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar tahun 2012. d. Ada hubungan antara kondisi rumah dengan keberadaan jentik Aedes aegypti di Kelurahan Paccerakkang Kecamatan

Biringkanaya Kota Makassar tahun 2012. e. Ada hubungan antara jenis jentik Aedes aegypti di Kelurahan dengan keberadaan jentik Paccerakkang Kecamatan

Biringkanaya Kota Makassar tahun 2012.

48

BAB IV METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah metode observasional dengan jenis penelitian cross sectional study melalui pendekatan untuk melihat hubungan antara pengurasan TPA, kondisi TPA, karakteristik TPA, kondisi rumah, dan jenis jentik dengan keberadaan jentik Aedes aegypti. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan survei langsung ke lapangan, melakukan observasi dan wawancara dengan

menggunakan lembar observasi. B. Lokasi dan Waktu Penelitian 1. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian dilaksanakan di Kelurahan

Paccerakkang. Penetuan lokasi tersebut berdasarkan data dari Puskesmas Sudiang Raya bahwa Kelurahan Paccerakkang salah satu daerah yang memiliki ABJ < 75%. Batas Kelurahan Paccerakkang Sudiang/Pai, sebelah sebelah utara timur berbatasan berbatasan dengan dengan Kelurahan Kelurahan

Mandai/Maros, sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Tamalanrea, dan sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan Bira. Kelurahan Paccerakkang dengan luas wilayah 780 Ha terdiri dari 21 Rukun Warga (RW) dan 119 Rukun Tetangga (RT) yang memiliki 14.672 KK.

49

2. Waktu Penelitian Waktu penelitian dilaksanakan pada 15 Desember sampai 25 Desember tahun 2012. C. Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh rumah yang berada di wilayah kerja Puskesmas Sudiang Raya Kecamatan Biringkanayya Kota Makassar yaitu sebanyak 31.203 KK. 2. Sampel Sampel dalam penelitian ini adalah RW VII RT B sebanyak 88 KK. Penentuan sampel dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampel. Purposive sampel yaitu pengambilan sampel dilakukan hanya atas dasar pertimbangan penelitinya saja yang menganggap unsur-unsur yang dikehendaki telah ada dalam anggota sampel yang diambil (Nasution, 2003). Penentuan sampel ini dengan melihat beberapa kriteria sebagai berikut: a. ABJ yang paling rendah di wilayah kerja Puskesmas Sudiang Raya yaitu Kelurahan Paccerakkang RW VII RT B yaitu sebanyak 88 KK. Berdasarkan hasil pemantauan jentik yang dilakukan oleh petugas Puskesmas Sudiang Raya menunjukkan bahwa dari 40 rumah yang dijadikan sampel terdapat 39 rumah yang positip jentik.

50

b. Beberapa rumah menyimpan barang bekasnya di depan rumah yang berpotensi untuk menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti dan sebagian rumah memiliki pot bunga di pekarangan yang juga dapat menjadi tempat

perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti. c. Apabila responden bersedia rumahnya diobservasi. D. Sumber Data 1. Data Primer Untuk mendapatkan data primer dilakukan dengan metode wawancara dengan menggunakan kuesioner dan melakukan observasi atau pengamatan langsung untuk melihat keberadaan jentik Aedes aegypti pada Tempat Penampungan Air (TPA) di rumah responden. 2. Data Sekunder Data sekunder diperoleh melalui penulusuran literatur dan semua data yang diperoleh dari instansi terkait seperti Kantor Dinas Kesehatan Kota Makassar, Puskesmas Sudiang Raya yaitu jumlah penduduk dan penulusuran literatur-literatur. E. Pengolahan Data dan Analisis Data 1. Pengolahan Data Pengolahan data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan komputer melalui program (SPSS 17,0) yang sesuai. Analisis dilakukan dengan menguji hipotesis Nol (Ho). Uji statistik

51

yang digunakan adalah Chi Square (x2) atau dengan menggunakan 0,05 dengan tabel 2 x 2. Untuk uji hipotesis rumus yang digunakan:
(| | )

X2 =

2. Analisis Data Analisis data dalam penelitian ini yaitu analisis univariat dan bivariat. a. Analisis univariat dilakukan untuk mendapatkan gambaran umum dengan cara mendeskripsikan setiap variabel yang digunakan dalam penelitian yaitu dengan melihat gambaran distribusi frekuensi yaitu dalam bentuk tabel. Data yang dianalisis adalah hubungan kondisi temperatur, kelembaban udara, kondisi tempat penampungan air, abatisasi dengan keberadaan jentik Aedes egypti di wilayah kerja Puskesmas Sudiang Raya Kota Makassar. b. Analisis bivariat dilakukan untuk melihat adanya hubungan pengurasan tempat penampungan air, kondisi tempat

penampungan air, karakteristik tempat penampungan air, kondisi rumah, dan jenis jentik dengan keberadaan jentik Aedes egypti di wilayah kerja Puskesmas Sudiang Raya Kota Makassar. Analisis ini digunakan dengan pengujian statistik dan

52

uji Chi Square (x2) atau dengan menggunakan = 0,05 dengan tabel 2 x 2. Untuk uji hipotesis rumus yang digunakan adalah: 1) Jika data berbentuk nominal dan sampelnya besar, jika tidak ada nilai harapan kurang dari 5 digunakan Chi Square dengan Yates correction, menggunakan tabel kontingensi 2 x 2 dengan rumus:
(| | )

X = Keterangan: X = Nilai Chi Square n = Besar Sampel 2) Jika terdapat nilai harapan kurang dari 5 digunakan Fisher Exact p= Adapun interpensi dari kedua rumus di atas adalah: a) Ho ditolak atau ada hubungan yang bermakna apabila X2 hasil perhitungan > X2 tabel atau p value < 0,05. b) Ho diterima atau tidak ada hubungan yang bermakna apabila X2 hasil perhitungan < X2 tabel atau p value 0,05.

53

F. Pengolahan dan Penyajian Data 1. Pengolahan Data Data yang diperoleh dari penelitian ini akan diolah dengan menggunakan komputer melalui program SPSS.Tahap-tahap

pengelolahan data adalah sebagai berikut: a. Editing, yaitu memeriksa data yang telah dikumpulkan untuk diteliti kelengkapan, kejelasan makna jawaban, konsistensi maupun kesalahan antar jawaban pada kuesioner. b. Coding, yaitu memberikan kode-kode untuk memudahkan proses pengolahan data. c. Entry, yaitu memasukkan data untuk diolah menggunakan komputer. 2. Penyajian Data Data yang telah diolah akan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan crosstab yang disertai dengan penjelasanpenjelasannya masing-masing.

54

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Paccerakkang Kota Makassar, tepatnya di Perumahan Mangga Tiga RW VII RT B yang dilaksanakan sejak tanggal 15 Desember 2012 sampai dengan 25 Desember 2012. Rumah tangga yang dijadikan sampel sebanyak 88 KK, namun terdapat 11 KK yang rumahnya tidak dapat diobservasi, dengan beberapa alasan yaitu beberapa responden tidak menetap di rumah tersebut atau rumah dalam keadaan kosong dan ada juga responden tidak berkenan rumahnya diobservasi. Jadi sampel yang berhasil diobservasi sebanyak 77 KK dengan jumlah kontainer penampungan air yang diperiksa sebanyak 624 buah. 1. Keadaan Geografi Kelurahan Paccerakkang dengan luas wilayah 780 Ha terletak di Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar. Batas

Kelurahan Paccerakkang yaitu sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Sudiang/Pai, sebelah timur berbatasan dengan

Kelurahan Mandai/Maros, sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Tamalanrea, dan sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan Bira.

55

2. Keadaan Demografi Kelurahan Paccerakkang terdiri dari 21 Rukun Warga (RW) dan 119 Rukun Tetangga (RT) yang memiliki 14.672 KK. 3. Angka Bebas Jentik (ABJ) Kelurahan Paccerakkang Kelurahan Paccerakkang merupakan wilayah kerja

Puskesmas Suding Raya. Berdasarkan data Puskesmas Sudiang Raya, data pemantauan jentik yang dilaksanakan pada bulan Mei 2011 yaitu ABJ 80%. Sementara data pemantauan jentik yang dilaksanakan pada bulan November 2011 yaitu ABJ menurun menjadi 62%. Berdasarkan data tersebut ABJ Kelurahan

Paccerakkang < 75%. B. Hasil Penelitian Pengambilan data dilakukan dengan wawancara dan

observasi langsung kepada responden yang ditemui di lokasi penelitian dengan menggunakan kuesioner dan lembar observasi untuk mengetahui keberadaan jentik. Data yang diperoleh kemudian diolah dengan menggunakan computer program SPSS dan disajikan dalam bentuk frekuensi. Hasil analisis data kemudian ditampilkan dalam bentuk tabel disertai narasi. Adapun hasil penelitian yang diperoleh sebagai berikut:

56

1. Analisis Univariat Variabel Penelitian Analisis univariat hasil penelitian ini disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi variabel independen dan variabel

dependen yang disertai dengan tabel. Pada penelitian ini untuk mengetahui besarnya variabel independen dan variabel dependen. Variabel independen meliputi karakteristik TPA, menguras TPA, kondisi TPA, kondisi rumah dan jenis jentik. Adapun variabel dependen dalam penelitian ini adalah keberadaan jentik Aedes aegypti. Berikut ini analisis univariat variabel yang diteliti: a. Distribusi Responden Berdasarkan Sumber Air Bersih Distribusi responden berdasarkan sumber air bersih dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Sumber Air Bersih di Kelurahan Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar Tahun 2012 Sumber Air Bersih n (%) Sumur Bor 77 100 PDAM 0 0 Total 77 100 Sumber: Data Primer Tabel 5.1 menunjukkan sumber air bersih yang digunakan dalam keperluan sehari-hari di daerah tersebut adalah sumur bor sebesar 77 KK (100%). b. Distribusi Responden Berdasarkan Kualitas Air Bersih Kualiatas air bersih dapat dilihat secara fisik yaitu memenuhi syarat (jernih, tidak berbau, dan tidak berasa) dan

57

tidak memenuhi syarat (keruh, berbau, dan berasa). Distribusi responden berdasarkan kualitas air bersih dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Kualitas Air Bersih Secara Fisik di Kelurahan Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar Tahun 2012 Kualitas Air Bersih N (%) Secara Fisik Jernih, tidak berbau, dan 77 100 tidak berasa Keruh, berbau, dan 0 0 berasa Total 77 100 Sumber: Data Primer Tabel 5.2 menunjukkan di Kelurahan Paccerakkang ditemukan seluruh KK memiliki kualitas air bersih yang jernih, tidak berbau, dan tidak berasa yaitu sebanyak 77 KK (100%). c. Karakteristik Tempat Penampungan Air (TPA) Karakteristik tempat penampungan air meliputi jenis, bahan dasar, dan warna TPA. Distribusi frekuensi karakterisktik tempat penampungan air di Kelurahan Paccerakkang dapat dilihat pada tabel berikut:

58

Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Karakteristik Tempat Penampungan Air di Kelurahan Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar Tahun 2012 Karakteristik TPA n % Jenis TPA TPA sehari-hari: a. Ember 182 29,2 b. Baskom 127 20,3 c. Gentong 36 5,8 d. Dispenser 35 5,6 e. Bak Mandi 34 5,4 f. Panci 1 0,2 415 66,5 Non TPA sehari-hari a. Pot Bunga 208 33,3 b. Tpt Minum Hewan 1 0,2 Jumlah Bahan Dasar TPA 209 624 378 36 1 415 90 61 82 81 62 17 7 11 2 2 415 33,5 100 91,1 8,7 0,2 100 21,7 14,7 19,7 19,5 14,9 4,2 1,7 2,6 0,5 0,5 100

Plastik Semen Aluminium Putih Biru Hijau Hitam Merah Kuning Merah muda Abu-abu Ungu Cokelat

Jumlah

Warna TPA

Jumlah Sumber: Data Primer

Tabel 5.3 menunjukkan bahwa jenis TPA sehari-hari yang paling banyak digunakan adalah ember sebanyak 182 buah (29,2%), sedangkan untuk Non TPA sehari-hari yang paling banyak ditemukan adalah pot bunga sebanyak 208 buah (33,3%). Untuk bahan dasar tempat penampungan air yang

59

paling banyak adalah plastik sebanyak 378 TPA (91,1%). Sedangkan bahan dasar tempat penampungan air dari

aluminium hanya 1 TPA (0,2%). Sementara warna tempat penampungan air yang paling banyak digunakan adalah putih sebanyak 90 TPA (21,7%). Sedangkan tempat penampungan air yang berwarna ungu dan cokelat hanya 2 TPA (0,5%). d. Pengurasan Tempat Penampungan Air (TPA) Distribusi frekuensi pengurasan tempat penampungan air di Kelurahan Paccerakkang dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Pengurasan Tempat Penampungan Air di Kelurahan Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar Tahun 2012 Pengurasan TPA n (%) Memenuhi syarat 365 87,9 Tidak memenuhi syarat 50 12,1 Total 415 100 Sumber: Data Primer Tabel 5.4 di Kelurahan Paccerakkang menunjukkan bahwa dari 77 KK dengan 415 TPA terdapat 365 TPA (87,9%) yang pengurasannya memenuhi syarat, sedangkan 50 TPA (12,1%) yang pengurasannya tidak memenuhi syarat. e. Kondisi Tempat Penampungan Air (TPA) Distribusi frekuensi kondisi TPA di Kelurahan

Paccerakkang dapat dilihat pada tabel berikut:

60

Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Kondisi Tempat Penampungan Air di Kelurahan Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar Tahun 2012 Kondisi TPA N (%) Terbuka 355 85,5 Tertutup 60 14,5 Total 415 100 Sumber: Data Primer Tabel 5.5 menunjukkan bahwa dari 415 TPA terdapat 355 TPA (85,5%) dalam kondisi terbuka, sedangkan 60 TPA (14,5%) dalam kondisi tertutup. f. Kondisi Rumah Distribusi frekuensi kondisi rumah di Kelurahan

Paccerakkang dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi Kondisi Rumah di Kelurahan Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar Tahun 2012 Kondisi Rumah n (%) Memenuhi syarat 9 11,7 Tidak memenuhi syarat 68 88,3 Total 77 100 Sumber: Data Primer Tabel 5.6 menunjukkan bahwa dari 77 KK terdapat 68 rumah (88,3%) yang kondisi rumahnya tidak memenuhi syarat, sedangkan terdapat 9 rumah (11,7%) yang kondisi rumahnya memenuhi syarat.

61

g. Jenis Jentik Pemeriksaan jentik nyamuk Aedes aegypti dilakukan dengan metode single larva pada perindukan baik yang ada di dalam rumah maupun di luar rumah. Hasil penelitian jenis jentik dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 5.7 Distribusi Frekuensi Jenis Jentik Aedes sp. Berdasarkan Rumah di Kelurahan Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar Tahun 2012 Jenis Jentik Aedes sp. n (%) Aedes aegypti 35 45,4 Aedes albopictus 4 5,2 Aedes aegypti dan Aedes 5 6,5 albopictus Tidak ada jentik 33 42,9 Total 77 100 Sumber: Data Primer Tabel 5.7 menunjukkan bahwa dari 77 KK terdapat 44 rumah yang positif jentik yaitu 35 rumah (45,4%) yang positif Aedes aegypti, 4 rumah (5,2%) yang postif Aedes albopictus, dan 5 rumah (6,5%) yang positif Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Sedangkan 33 rumah (42,9%) tidak ada jentik. Tabel 5.8 Distribusi Frekuensi Jenis Jentik Aedes sp. Berdasarkan Kontainer di Kelurahan Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar Tahun 2012 Jenis Jentik N (%) Aedes aegypti 48 7,7 Aedes albopictus 9 1,4 Tidak ada jentik 567 90,9 Total 624 100 Sumber: Data Primer

62

Tabel 5.8 menunjukkan bahwa dari 624 kontainer terdapat 57 kontainer yang postif jentik yaitu 48 kontainer (84,2%) yang positif jentik Aedes aegypti dan 9 kontainer yang positif Aedes albopictus. Sementara 567 kontainer (90,9%) tidak ada jentik. h. Keberadaan Jentik Aedes aegypti Distribusi frekuensi jentik Aedes aegypti di Kelurahan Paccerakkang dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 5.9 Distribusi Frekuensi Keberadaan Jentik Aedes aegypti Berdasarkan Rumah dan Kontainer di Kelurahan Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar Tahun 2012 Keberadaan Jentik Jumlah Variabel Positif Negatif n % n % N % Kontainer 48 7,7 576 92,3 624 100 Rumah 40 51,9 37 48,1 77 100 Sumber: Data Primer Tabel 5.9 menunjukkan bahwa dari 624 kontainer yang diperiksa terdapat 48 kontainer (7,7%) yang positif Aedes aegypti dan dari 77 rumah yang diobservasi terdapat 40 rumah (51,9%) yang positif jentik Aedes aegypti, maka kepadatan jentik Aedes aegypti dapat dihitung dengan menggunakan rumus HI, CI, dan BI sebagai berikut:

63

1) House Index (HI) =

x 100%

= 51,9% 2) Container Index (CI) = x 100%

x 100%

= 7,7 % 3) Breteau Index (BI) =

x 100%

= 62,3% Kepadatan jentik Aedes aegypti yang diperoleh dari hasil perhitungan angka indeks dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 5.10 Kepadatan Jentik Aedes aegypti di Kelurahan Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar Tahun 2012 Density Figure Kepadatan Jentik % House Index (HI) Container Index (CI) Breteau Index (BI) Sumber: Data Primer 51,9 7,7 62,3 7 3 6

Tabel 5.10 menunjukkan hasil perhitungan angka indeks yang diperoleh, berdasarkan tabel diketahui CI berada pada kategori 6-9% dengan DF= 3 menunjukkan kepadatan

64

jentik masuk dalam kategori kepadatan sedang sementara HI berada pada kategori 50-59% dengan DF= 7 dan BI berada pada kategori 50-74% dengan DF= 6 masuk dalam kategori kepadatan tinggi. Menurut WHO, dikatakan memiliki kepadatan larva yang tinggi dan berisiko tinggi untuk penularan DBD jika HI dan CI 5% serta nilai BI 20%. Tingginya kepadatan populasi akan mempengaruhi distribusi penyebaran penyakit DBD. Hal ini karena ada asumsi bahwa kurang dari 5% dari suatu populasi nyamuk yang ada pada musim penularanakan menjadi vektor. Disamping itu, kepadatan nyamuk akan berpengaruh terhadap ketahanan hidupnya terutama hubungannya dengan ancaman musuh/predator. Dari ketiga indeks larva tersebut diatas breteau indeks merupakan prioritas terbaik yang digunakan untuk

memperkirakan densitas karena sudah mengkombinasikan keduanya baik rumah dan wadah, jadi kepadatan jentik Aedes aegypti di Kelurahan Paccerakkang masuk dalam kategori

padat sehingga mempunyai resiko transmisi nyamuk yang cukup tinggi untuk terjadi penularan penyakit DBD.

65

2. Analisis Dependen

Bivariat

Variabel

Independen

dengan

Variabel

Analisis bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen. Variabel

independen yaitu karakteristik TPA, menguras TPA, kondisi TPA, kondisi rumah, dan jenis jentik dengan variabel dependen yaitu keberadaan jentik Aedes aegypti. Uji bivariat dilakukan dengan menggunakan uji Chi Square dengan p=0,05 atau tingkat kepercayaan 95%. Hubungan

dinyatakan bermakna apabila p value hasil uji menunjukkan nilai kurang dari 0,05. Hasil analisis variabel dependen dengan masingmasing variabel dependen sebagai berikut: a. Hubungan Karakteristik Tempat Penampungan Air dengan Keberadaan Jentik Aedes aegypti Karakteristik tempat penampungan air pada penelitian ini meliputi jenis TPA, bahan dasar TPA, dan warna TPA. Analisis hubungan karakteristik tempat penampungan air dengan keberadaan jentik Aedes aegypti disajikan dalam bentuk tabulasi silang dengan persentase baris.

66

Tabel 5.11 Hubungan Karakteristik Tempat Penampungan Air dengan Keberadaan Jentik Aedes aegypti di Kelurahan Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar Tahun 2012 Karakteristik TPA Keberadaan Jentik Total Positif Negatif n 1. Jenis TPA TPA sehari-hari: a. Ember b. Baskom c. Bak Mandi d. Gentong e. Dispenser f. Panci Non TPA sehari-hari: a. Pot bunga b. Tempat minum hewan Jumlah 2. Bahan Plastik dasar Semen TPA Aluminium Jumlah Putih Biru Hijau Hitam 3. Warna Merah TPA Kuning Merah muda Abu-abu Ungu Cokelat Jumlah Sumber: Data Primer 6 2 15 8 17 0 0 0 48 31 17 0 48 10 15 3 9 8 1 1 1 0 0 48 % n % n % 29,2 20,4 5,4 5,8 5,6 0,2

12,5 176 30,6 182 4,2 125 21,7 127 31,3 19 3,3 34 16,7 28 4,9 36 35,3 18 3,1 35 0 1 0,2 1 0 0 100 64,6 35,4 0 100 20,8 31,3 6,3 18,8 16,7 2,1 2,1 2,1 0 0 100 208 36,2 1 576 347 19 1 367 80 46 79 72 54 16 6 10 2 2 367 0,2 100 94,6 5,2 0,2 100 21,8 12,5 21,5 19,6 14,7 4,4 1,6 2,7 0,5 0,5 100

0,000 208 33,3 1 624 378 36 1 415 90 61 82 81 62 17 7 11 2 2 415 0,2 100 91,1 8,7 0,2 100 21,7 14,7 19,8 19,5 14,9 4,1 1,7 2,7 0,5 0,5 100

0,000

0,058

Tabel 5.11 menunjukkan bahwa TPA jenis TPA yang positif jentik Aedes aegypti adalah TPA sehari-hari sebanyak 48 TPA. Jenis tempat penampungan air sehari-hari yang positif jentik Aedes aegypti yang paling banyak adalah

67

dispenser sebanyak 17 TPA (35,4%) dan bak mandi sebanyak 15 TPA (31,3%), sedangkan non TPA sehari-hari tidak ditemukan jentik Aedes aegypti. Hasil uji statistik menunjukkan dengan menggunakan uji chi square diperoleh p = 0,000. Hal ini berarti p < (0,05). Dengan demikian, Ho ditolak yang berarti bahwa terdapat hubungan antara jenis tempat

penampungan air dengan keberadaan jentik Aedes aegypti di Kelurahan Paccerakkang. Untuk bahan dasar TPA menunjukkan bahwa dari 48 TPA yang positif jentik Aedes aegypti terdapat 31 TPA (64,6%) yang memiliki bahan dasar plastik dan 17 TPA (35,4%) yang berasal dari bahan semen sedangkan yang berasal dari bahan dasar aluminium tidak ditemukan jentik. Hasil uji statistik menunjukkan dengan menggunakan uji chi square p = 0,000. Hal ini berarti p < (0,05). Dengan

demikian, Ho ditolak yang berarti bahwa terdapat hubungan antara bahan dasar tempat penampungan air dengan keberadaan Paccerakkang. Sementara untuk warna TPA menunjukkan bahwa dari 48 TPA, TPA berwarna gelap yang positif jentik yaitu 15 TPA (31,3%) berwarna biru, 9 TPA (18,8%) berwarna hitam, dan 1 TPA (2,1%) berwarna abu-abu. Sementara TPA jentik Aedes aegypti di Kelurahan

68

berwarna terang yang positif jentik Aedes aegypti yaitu 10 TPA (20,8%) berwarna putih, 8 TPA (16,7%) berwarna merah, 3 TPA (6,3%) berwarna hijau, dan masing-masing 1 TPA (2,1%) berwarna merah muda dan kuning. Hasil uji statistik menunjukkan dengan menggunakan uji chi square p = 0,058. Hal ini berarti p < (0,05). Dengan demikian, Ho ditolak yang berarti bahwa terdapat hubungan antara warna tempat penampungan air dengan keberadaan jentik Aedes aegypti di Kelurahan Paccerakkang. Berdasarkan hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada hubungan antara karakteristik tempat penampungan air dengan keberadaan jentik Aedes aegypti. b. Hubungan Menguras Tempat Penampungan Air (TPA) dengan Keberadaan Jentik Aedes aegypti Hubungan antara menguras TPA dengan

keberadaan jentik Aedes aegypti dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 5.12 Hubungan Menguras Tempat Penampungan Air dengan Keberadaan Jentik Aedes aegypti di Kelurahan Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar Tahun 2012 Keberadaan Jentik Total Menguras TPA p Positif Negatif n % n % n % Tidak memenuhi syarat 47 97,9 3 0,8 50 12 Memenuhi syarat 1 2,1 364 99,2 365 88 0,000 Jumlah 48 100 367 100 415 100 Sumber: Data Primer

69

Tabel 5.12 menunjukkan bahwa dari 48 TPA terdapat 47 TPA (97,9%) yang pengurasannya tidak memenuhi syarat positif jentik Aedes aegypti, sedangkan terdapat 1 TPA (2,1%) yang pengurasannya memenuhi syarat namun positif jentik Aedes aegypti. Hasil uji statistik menunjukkan dengan

menggunakan uji chi square diperoleh p = 0,000. Hal ini berarti p < (0,05). Dengan demikian, Ho ditolak yang berarti bahwa terdapat hubungan antara menguras tempat penampungan air dengan keberadaan jentik Aedes aegypti di Kelurahan Paccerakkang. c. Hubungan Kondisi Tempat Penampungan Air (TPA)

dengan Keberadaan Jentik Aedes aegypti Hubungan antara kondisi TPA dengan keberadaan jentik Aedes aegypti dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 5.13 Hubungan Kondisi Tempat Penampungan Air dengan Keberadaan Jentik Aedes aegypti di Kelurahan Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar Tahun 2012 Keberadaan Jentik Total p Kondisi Positif Negatif TPA n % n % N % Terbuka 48 100 307 83,7 355 85,5 Tertutup 0 0 60 16,3 60 14,5 0,000 Jumlah 48 100 367 100 415 100 Sumber: Data Primer Tabel 5.13 menunjukkan bahwa terdapat 48 TPA (100%) yang positif jentik Aedes aegypti dalam kondisi terbuka, sementara TPA yang kondisi tertutup tidak ditemukan jentik.

70

Hasil uji statistik menunjukkan dengan menggunakan uji chi square diperoleh p = 0,000. Hal ini berarti p < (0,05). Dengan demikian, Ho ditolak yang berarti bahwa terdapat hubungan antara kondisi tempat penampungan air dengan keberadaan jentik Aedes aegypti di Kelurahan Paccerakkang. d. Hubungan Kondisi Rumah dengan Keberadaan Jentik Aedes aegypti Hubungan antara kondisi rumah dengan keberadaan jentik Aedes aegypti dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 5.14 Hubungan Kondisi Rumah dengan Keberadaan Jentik Aedes aegypti di Kelurahan Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar Tahun 2012 Keberadaan Jentik Total Kondisi Rumah p Positif Negatif N % n % n % Tidak memenuhi syarat 36 90 32 86,5 68 83,3 Memenuhi syarat 4 10 5 13,5 9 11,7 0,731 Jumlah 40 100 37 100 77 100 Sumber: Data Primer Tabel 5.14 menunjukkan bahwa dari rumah yang

diobservasi terdapat 36 rumah (90%) yang positif jentik Aedes aegypti memiliki kondisi rumah yang tidak memenuhi syarat, sementara terdapat 4 rumah (10%) yang memenuhi syarat positif jentik Aedes aegypti. Hasil uji statistik menunjukkan dengan menggunakan uji statistik fisher exact diperoleh p = 0,731. Hal ini berarti p > (0,05). Dengan demikian, Ho diterima yang berarti bahwa tidak terdapat hubungan antara

71

kondisi rumah dengan keberadaan jentik Aedes aegypti di Kelurahan Paccerakkang. e. Hubungan Jenis Jentik dengan Keberadaan Jentik Aedes aegypti Hubungan antara jenis jentik dengan keberadaan jentik Aedes aegypti dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 5.15 Hubungan Jenis Jentik dengan Keberadaan Jentik Aedes aegypti di Kelurahan Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar Tahun 2012 Keberadaan Jentik Total Jenis jentik p Positif Negatif n % n % n % Aedes aegypti 48 84,2 0 0 48 7,7 Aedes albopictus 9 15,8 0 0 9 1,4 0,000 Tidak ada jentik 0 0 567 100 567 90,9 Jumlah 57 100 567 100 624 100 Sumber: Data Primer Tabel 5.15 menunjukkan bahwa dari 624 kontainer yang diobservasi terdapat 48 kontainer (84,2%) yang positif jentik Aedes aegypti dan 9 kontainer (15,8%) yang positif jentik Aedes albopictus. Hasil uji statistik menunjukkan dengan menggunakan uji chi square diperoleh p = 0,000. Hal ini berarti p < (0,05). Dengan demikian, Ho ditolak yang berarti bahwa terdapat hubungan antara jenis jentik dengan keberadaan jentik Aedes aegypti di Kelurahan Paccerakkang.

72

C. Pembahasan Pembahasan hasil penelitian ini didasarkan pada landasan teoritis yang digunakan didalam penyusunan kerangka konsep peneltian sebelumnya. 1. Hubungan Karakteristik Tempat Penampungan Air (TPA) dengan Keberadaan Jentik Aedes aegypti Karakteristik tempat penampungan air dalam penelitian ini meliputi jenis, bahan dasar, dan warna TPA. a) Jenis TPA Tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti umumnya berupa tempat-tempat teduh di mana air tergenang. Air tempat nyamuk bertelur harus jernih, bukan air kotor, atau air yang langsung bersentuhan dengan tanah, melainkan air jernih yang berada dalam wadah dan tergenang tenang tak terusik. Keberadaan tempat perindukan sangat berperan dalam

kepadatan vektor nyamuk Aedes aegypti, karena semakin banyak tempat perindukan maka akan semakin padat populasi nyamuk Aedes aegypti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis TPA yang positif jentik Aedes aegypti adalah TPA sehari-hari sebanyak 48 TPA. Jenis tempat penampungan air sehari-hari yang positif jentik Aedes aegypti yang paling banyak adalah dispenser sebanyak 17 (48,6%) dan bak mandi sebanyak 15 (44,1%),

73

sementara non TPA sehari-hari tidak ditemukan jentik Aedes aegypti. Hal ini disebabkan karena non TPA sehari-hari ditemukan di luar rumah dan digenangi oleh air kotor, sementara breeding place Aedes aegypti kebanyakan di dalam rumah dan lebih suka berekmbang biar digenangan air yang bersih. Hasil uji statistik menunjukkan dengan menggunakan uji chi square diperoleh p = 0,000. Hal ini berarti p < (0,05). Dengan demikian, Ho ditolak yang berarti bahwa terdapat hubungan antara jenis tempat penampungan air dengan keberadaan jentik Aedes aegypti di Kelurahan Paccerakkang. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Badrah (2010) yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara jenis TPA lainnya dengan keberadaan jentik di kelurahan Penajam Kecamatan Penajam Tahun 2010. Berdasarkan hasil penelitian jenis TPA sehari-hari yang paling banyak ditemukan postif jentik Aedes aegypti adalah dispenser dan bak mandi. Pada bagian bawah dispenser terdapat wadah untuk menampung air yang tumpah dari gelas. Wadah penampungan ini memiliki celah bagi nyamuk untuk beristirahat. Kurangnya perhatian terhadap air yang tergenang dalam wadah ini yang menyebabkan wadah tersebut menjadi tempat yang baik bagi perkembangbiakan jentik. Membuang air

74

dalam wadah dispenser secara berkala akan membuat wadah tersebut bebas dari jentik nyamuk. Sementara bak mandi merupakan tempat yang potensial untuk perkembangan nyamuk Aedes aegypti karena ukuran wadah yang besar dan air yang jarang digunakan dan dibersihkan. Hal ini menjadi lebih buruk lagi dengan perilaku responden yang tidak menutup tempattempat penampungan air. Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Novelani (2007) yang menyatakan bahwa perolehan larva tertinggi pada jenis bak mandi sebesar (50%). Penelitian yang dilakukan oleh Yudhastuti (2005) di Kelurahan Wonokusumo, dari 252 kontainer ditemukan TPA sehari-hari yang positif larva sebanyak 82 kontainer. Dari 82 kontainer terdapat 38 bak mandi yang positif larva Aedes aegypti. Perbedaan hasil penentuan jenis wadah yang

memfasilitasi larva Aedes aegypti tertinggi pada lokasi penelitian dan pembanding, disebabkan masing-masing wilayah tertentu mempunyai kesenangan akan pemilihan jenis tempat

penampungan air yang digunakan. Tetapi dari pengamatan di lokasi penelitian dan pembanding dari angka-angka yang diperoleh jenis wadah yang paling banyak ditemukan larva adalah bak mandi yang merupakan jenis wadah dengan volume air yang besar (Novelani, 2007).

75

b) Bahan Dasar TPA Banyak sedikitnya larva Aedes aegypti yang ditemukan kemungkinan ada hubungannya dengan makanan larva yang tersedia, karena kesediaan makanan ada hubungannya dengan bahan dasar TPA. Hal ini terjadi, mungkin disebabkan mikroorganisme yang menjadi makanan larva lebih mudah tumbuh pada dinding TPA yang kasar seperti semen. Selain itu, pada kontainer yang berdinding kasar, nyamuk betina lebih mudah mengatur posisi tubuh waktu meletakan telur, dimana telur diletakan secara teratur di atas permukaan air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 48 kontainer yang positif jentik Aedes aegypti terdapat 31 kontainer (64,6%) yang memiliki bahan dasar plastik dan 17 kontainer (35,4%) yang berasal dari bahan semen. Berdasarkan hasil penelitian bahan dasar TPA yang positif jentik Aedes aegypti adalah plastik dan semen. Hal ini dikarenakan TPA yang paling banyak digunakan oleh warga di lokasi penelitian adalah ember, baskom, dispenser dan bak mandi yang kebanyakan terbuat dari plastik dan semen. Banyaknya TPA berbahan dasar plastik yang ditemukan dikarenakan saat ini banyak alat-alat untuk kebutuhan seharihari yang terbuat dari plastik. Bahan dasar tersebut merupakan bahan dasar yang paling banyak dan mudah ditemukan di

76

pasar, harganya yang cenderung lebih murah juga menjadi pertimbangan dalam memilih TPA berbahan dasar plastik. Selain itu kebanyakan TPA berbahan dara plastik kurang diperhatikan kebersihannya sehingga member peluang untuk Aedes aegypti berkembang biak. Hasil uji statistik menunjukkan dengan menggunakan uji chi square diperoleh p = 0,000. Hal ini berarti p < (0,05). Dengan demikian, Ho ditolak yang berarti bahwa terdapat hubungan antara bahan dasar tempat penampungan air dengan keberadaan jentik Aedes aegypti di Kelurahan Paccerakkang. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Salim (2005), dari 36 TPA yang postif jentik Aedes aegypti terdapat 19 TPA yang memiliki bahan dasar plastik, 12 TPA dari semen, dan 5 TPA dari keramik. Sementara hasil penelitian yang dilakukan oleh Novelani (2007) di Kelurahan Utan Kayu Jakarta menyatakan bahwa sebagian besar di lokasi penelitian ditemukan larva pada wadah yang terbuat dari bahan dasar plastik (55,6%), keramik (25,0%) dan paling sedikit pada bahan dasar semen (19,4%). Di lokasi penelitian tersebut sebagian besar masyarakat menggunakan wadah dengan bahan dasar plastik untuk bak, tempayan, drum dan ember sehingga perolehan larva dengan bahan dasar ini lebih tinggi dari pada yang lainnya.

77

Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sari (2012) yang menyatakan bahwa dominan TPA yang banyak ditemukan berasal dari bahan dasar plastik namun TPA yang positif jentik Aedes aegypti lebih banyak ditemukan pada TPA yang berasal dari bahan dasar semen (44,8%). Hal ini terjadi, mungkin disebabkan mikroorganisme yang menjadi makanan larva lebih mudah tumbuh pada dinding TPA yang kasar seperti semen. Sementara pada kontainer berbahan

dasar plastik (sebagian besar adalah ember dan dispenser), banyaknya jentik yang terdapat pada kontainer tersebut lebih dikarenakan kondisi sekitar kontainer yang gelap, lembab dan jarang dibuang airnya serta warna kontainer yang menunjang perkembangan jentik. c) Warna TPA Kondisi yang lembab dan warna TPA yang gelap memberikan rasa aman dan tenang bagi nyamuk untuk bertelur, sehingga telur yang diletakkan lebih banyak dan jumlah larva yang terbentuk lebih banyak pula. Selain itu suasana gelap menyebabkan larva menjadi tidak terlihat sehingga tidak bisa diciduk atau dibersihkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 48 TPA, TPA berwarna gelap yang positif jentik yaitu 15 TPA (31,3%) berwarna biru, 9 TPA (18,8%) berwarna hitam, dan 1 TPA

78

(2,1%) berwarna abu-abu. Sementara TPA berwarna terang yang positif jentik Aedes aegypti yaitu 10 TPA (20,8%) berwarna putih, 8 TPA (16,7%) berwarna merah, 3 TPA (6,3%) berwarna hijau, dan masing-masing 1 TPA (2,1%) berwarna merah muda dan kuning. Berdasarkan hasil penelitian warna TPA yang paling banyak positif jentik Aedes aegypti adalah warna biru. Kepadatan larva Aedes aegypti dalam suatu TPA juga dipengaruhi oleh warna TPA. TPA yang berwarna gelap memberikan rasa aman dan tenang pada waktu bertelur sehingga telur yang diletakkan lebih banyak dan jumlah larva yang terbentuk juga lebih banyak. Sebaliknya pada TPA yang berwarna terang jumlah telur yang diletakkan lebih sedikit. Selain itu, TPA yang berwarna gelap kebanyakan dalam kondisi terbuka dan kurang dijaga kebersihannya sehingga memberi peluang terhadap nyamuk Aedes aegypti berkembang biak. Hasil uji statistik menunjukkan dengan menggunakan uji chi square p = 0,058. Hal ini berarti p < (0,05). Dengan demikian, Ho ditolak yang berarti bahwa terdapat hubungan antara warna tempat penampungan air dengan keberadaan jentik Aedes aegypti di Kelurahan Paccerakkang. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Novelani (2007) yang menyatakan bahwa

79

ternyata wadah yang positif larva lebih banyak dijumpai pada wadah berwarna biru (41,7%). Namun berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Sari (2012) yang menyatakan bahwa tempat penampungan air yang berwarna biru merupakan TPA yang paling banyak ditemukan di lokasi penelitian yaitu sebanyak 222 buah (28,2%) tetapi tempat penampungan air dengan warna merah muda memiliki persentase paling besar (38,8%) positif jentik. Penelitian lain di Buenos Aires, Argentina menemukan tempat penampungan air dari bahan dasar plastik berwarna hitam banyak mengandung larva Aedes aegypti 82,1% (Vezzani et al.dalam Novelani, 2007). Perbedaan hasil perolehan antara peneliti dan pembanding karena masing-masing masyarakat di wilayah tertentu mempunyai kesenangan akan tempat

penampungan air yang berbeda-beda baik dalam jenis, bahan dasar dan warna yang digunakan. Di perkirakan dapat mempengaruhi prosentase perolehan larva pada setiap wilayah tersebut. 2. Hubungan Menguras Tempat Penampungan Air dengan

Keberadaan Jentik Aedes aegypti Menguras tempat penampungan air dalam penelitian ini meliputi cara dan frekuensi pengurasan TPA. Pengurasan tempattempat penampungan air perlu dilakukan secara teratur sekurang-

80

kurangnya

seminggu

sekali

agar

nyamuk

tidak

dapat

berkembangbiak di tempat itu. Pada saat ini telah dikenal pula istilah 3M plus, yaitu kegiatan 3M yang diperlu as. Bila PSN DBD dilaksanakan oleh seluruh masyarakat, maka populasi nyamuk Aedes aegypti dapat ditekan serendah-rendahnya, sehingga penularan DBD tidak terjadi lagi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 48 kontainer terdapat 47 TPA (97,9%) yang positif jentik Aedes aegypti karena tidak memenuhi syarat dalam menguras TPA. Sementara 3 TPA (0,8%) yang pengurasannya tidak memenuhi syarat namun tidak ditemukan jentik di dalamnya dikarenakan air dalam TPA cepat habis dan tidak memungkinkan nyamuk Aedes betina untuk meletakkan telurnya di TPA tersebut. Sedangkan dari 365 TPA yang pengurasannya memenuhi syarat terdapat 1 TPA (2,1%) yang postif jentik Aedes aegypti karena kondisi TPA dalam keadaan kondisi tidak tertutup rapat sehingga tidak menutup kemungkinan nyamuk betina untuk bertelur di wadah tersebut. Kebersihan TPA berkaitan dengan kegiatan pengurasan yang dilakukan minimal seminggu sekali. Pengurasan dimaksud adalah membersihkan TPA dengan cara menyikat bak dan TPA yang lain dan mengganti air didalamnya dengan air yang bersih. Menyikat dinding tempat penampungan air dimaksudkan untuk menghilangkan telur-telur nyamuk jika ada menempel pada dinding

81

TPA. Pengurasan tempat penampungan air dengan mengosongkan dan mengganti dengan air yang baru saja tidak cukup karena tidak dapat membersihkan dinding dari kotoran yang menempel, termasuk telur nyamuk yang kemungkinan besar masih menempel di dinding TPA. Telur yang masih menempel tersebut nantinya akan dapat berkembang menjadi jentik dan nyamuk dewasa. Sehingga menguras tempat penampungan air dengan menyikat dinding TPA dapat memperkecil kesempatan telur nyamuk untuk berkembang menjadi nyamuk dewasa. Hasil uji statistik menunjukkan dengan menggunakan uji chi square diperoleh, p = 0,000. Hal ini berarti p < (0,05). Dengan demikian, Ho ditolak yang berarti bahwa terdapat hubungan antara menguras tempat penampungan air dengan keberadaan jentik Aedes aegypti di Kelurahan Paccerakkang. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Badrah (2011) yang menyatakan bahwa ada hubungan antara kebersihan TPA dengan keberadaan jentik dengan p=0.045 (p<0,05). Penelitian yang dilakukan oleh Wati (2009) menyatakan bahwa terdapat hubungan antara frekuensi pengurasan kontainer dengan kejadian DBD di Kelurahan Ploso Kecamatan Pacitan Tahun 2009. Penelitian yang dilakukan oleh Sari (2012) menyatakan bahwa ada hubungan antara praktik PSN dengan kejadian DBD

82

pada sekolah tingkat dasar di Kota Semarang (p value = 0,005). Salah satu praktik PSN adalah menguras tempat penampungan air. Salah satu tempat yang paling potensial sebagai tempat

perindukan nyamuk Aedes sp adalah tempat penampungan air. Kebiasaan menguras tempat penampungan air lebih dari seminggu sekali dapat memberikan kesempatan telur Aedes sp menjadi nyamuk dewasa mengingat pertumbuhan telur menjadi nyamuk dewasa berkisar antara 7-14 hari. 3. Hubungan Kondisi Tempat Penampungan Air dengan

Keberadaan Jentik Aedes aegypti Wadah penyimpanan air sebaliknya menggunakan

penutup rapat serta mudah dibersihkan. Dengan menggunakan tutup yang rapat pada setiap penampungan air akan mencegah nyamuk untuk bersarang dan bertelur. Wadah yang terbuka akan memungkinkan nyamuk berkembang biak dengan mudah. Penyimpanan air bersih dirumah, umumnya menggunakan gentong dan ember plastik. Gentong dan ember plastik harus mempunyai tutup yang rapat dan wadah paling sedikit dua kali seminggu harus dibersihkan / dikuras. Gentong dan ember plastik diletakkan ditempat yang tidak mudah dicemari, lebih tinggi dari lantai, jauh dari tempat sampah dan selalu tutup rapat. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 48 kontainer (100%) yang positif jentik Aedes aegypti dalam kondisi

83

terbuka atau tidak tertutup rapat dan terkena udara langsung. Sementara terdapat 307 TPA dalam keadaan terbuka, namun tidak terdapat jentik di dalamnya. Hal ini dapat terjadi karena responden membersihkan TPA secara rutin (1 minggu sekali) atau TPA berukuran kecil, sehingga air dalam TPA cepat habis dan tidak memungkinkan nyamuk Aedes betina untuk meletakkan telurnya di TPA tersebut. Hasil uji statistik menunjukkan dengan menggunakan uji chi square diperoleh p = 0,000. Hal ini berarti p < (0,05). Dengan demikian, Ho ditolak yang berarti bahwa terdapat hubungan antara kondisi tempat penampungan air dengan keberadaan jentik Aedes aegypti di Kelurahan Paccerakkang. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Badrah (2011) yang menyatakan bahwa ada hubungan antara kondisi TPA dengan keberadaan jentik dengan p=0.000 (p<0.05). Penelitian yang dilakukan oleh Sulistyawati (2011) juga menyatakan bahwa ada hubungan kondisi tempat penampungan air dengan kepadatan jentik Aedes aegypti di Kelurahan Rappocini. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Salim (2007) yang menyatakan dari hasil survei kontainer dengan penutup justru lebih banyak dibandingkan dengan yang tidak berpenutup. Ini disebabkan karena kontainer/TPA tanpa penutup

84

lebih sering digunakan penduduk sehingga arus air di dalam kontainer menjadi tidak kondusif bagi perkembangan jentik. Sementara kontainer yang berpenutup digunakan penduduk sebagai tampungan air cadangan yang jarang digunakan sehingga jarang dibersihkan. Bisa juga disebabkan penutupnya tidak rapat atau ada bagian yang berlubang pada penutup kontainer tersebut. Oleh sebab itu, dalam penggunaan air dianjurkan untuk sesegera mungkin menutup kembali TPA setelah digunakan. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir kesempatan nyamuk Aedes Aegypti betina dalam metetakkan telurnya pada TPA. 4. Hubungan Kondisi Rumah dengan Keberadaan Jentik Aedes aegypti Faktor yang dapat mempengaruhi indeks jentik DBD yang berkaitan dengan kondisi perumahan adalah sistem ventilasi, pencahayaan, dan kebiasaan menggantung pakaian (bukan dalam almari). Ventilasi yang memenuhi syarat kesehatan antara lain ventilasi yang berkasa atau penutup ventilasi lainnya karena selain tetap berfungsi sebagai tempat keluar masuknya udara dan tetap mendapatkan udara yang segar. Dengan menggunakan ventilasi berkasa berarti telah mengurangi jalan masuk bagi nyamuk Aedes aegypti ke dalam rumah sehingga dapat mengurangi terjadinya kontak antara nyamuk dan manusia.

85

Intensitas

cahaya

merupakan

faktor

utama

yang

mempengaruhi biomonik nyamuk aedes aegypti yang merupakan penular demam berdarah yaitu dalam perilaku nyamuk di suatu tempat. Intensitas cahaya yang rendah (< 60 lux ) merupakan kondisi yang baik yang bagi nyamuk. di Dengan demikian faktor sangat

pencahayaan

kurang

dalam

rumahrumah

mendukung kelangsungan siklus hidup nyamuk aedes aegypti sebagai penular demam berdarah sehingga memungkinkan

terjadinya KLB demam berdarah. Pengukuran cahaya dalam penelitian ini adalah pengukuran cahaya kamar mandi. Pakaian yang manggantung dalam ruangan merupakan tempat yang disenangi nyamuk Aedes aegypti untuk beristirahat setelah menghisap darah manusia. Setelah beristirahat pada saatnya akan menghisap darah manusia kembali sampai nyamuk tersebut cukup darah untuk pematangan sel telurnya. Jika nyamuk yang beristirahat pada pakaian menggantung tersebut menghisap darah penderita demam berdarah dan selanjutnya pindah dan menghisap darah orang yang sehat maka dapat tertular virus demam berdarah dengue. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 77 rumah yang diobservasi terdapat 36 rumah (90%) yang positif jentik Aedes aegypti memiliki kondisi rumah yang tidak memenuhi syarat. Sementara 32 rumah (86,5%) yang kondisi rumahnya tidak

86

memenuhi

syarat

tidak

ditemukan

jentik

karena

menjaga

kebersihan TPA nya dan bisa juga karena kondisi TPA yang tetutup. Selain itu jenis TPA yang paling banyak digunakan adalah ember yang menampung air dalam jumlah kecil sehingga setiap air habis langsung diisi lagi dengan air baru yang bersih. Hal ini memperkecil peluang Aedes aegypti untuke bertelur, sedangkan dari 9 rumah yang kondisi rumahnya memenuhi syarat terdapat 4 rumah yang postif jentik dikarenakan tidak menjaga kebersihan TPA nya dan kemungkinan penyebab lainnya adalah kondisi TPA dalam keadaan terbuka sehingga tidak menutup kemungkinan nyamuk Aedes aegypti dapat berkembang biak dalam TPA tersebut. Hasil uji statistik menunjukkan dengan menggunakan uji chi square diperoleh p = 0,731. Hal ini berarti p > (0,05). Dengan demikian, Ha ditolak yang berarti bahwa tidak terdapat hubungan antara kondisi rumah dengan keberadaan jentik Aedes aegypti di Kelurahan Paccerakkang. Hal ini mungkin disebabkan karena kurang menjaga kebersihan TPA dan juga dari segi kondisi TPA yang terbuka sehingga member peluang untuk nyamuk Aedes agypti berkembang biak. Hasil penelitian sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sukowinarsih (2011) yang menyatakan bahwa Tidak ada hubungan antara intensitas pencahayaan dengan kejadian DBD

87

pada

penelitian

yang

dilakukannya,

sehingga

intensitas

pencahayaan bukan merupakan faktor risiko kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas Sekaran. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Dardjito (2008) menyatakan bahwa dari hasil uji Chi Square untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan gantung pakaian dengan kejadian DBD di Kecamatan Purwokerto Timur diperoleh p value sebesar 0,295. Hal ini dapat diartikan bahwa tidak ada hubungan antara kebiasaan menggantung pakaian dengan kejadian DBD di Kecamatan Purwokerto Timur. Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Wati (2009) yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara kebiasaan menggatung pakaian dengan kejadian DBD di

Kelurahan Ploso Kecamatan Pacitan Tahun 2009. Sementara hasil penelitian penelitian yang dilakukan oleh Intang (2008) yang menyatakan sebagian besar memiliki kondisi rumah yang memenuhi syarat yaitu 88 rumah dari 85 rumah yang tidak memenuhi syarat. Dari sejumlah rumah yang memenuhi syarat ditemukan hanya 12 rumah yang positif terdapat jentik Aedes aegypti, sedangkan dari sejumlah rumah yang tidak memenuhi syarat ditemukan 47 rumah yang positif jentik Aedes aegypti, juga tidak mempunyai ventilasi yang berkasa sehingga nyamuk bisa keluar masuk.

88

Hasil penelitian yang berbeda dengan skripsi pembanding disebabkan karena adanya faktor-faktor lain seperti menjaga kebersihan TPA dan kondisi TPA yang dalam keadaan tertutup serta jenis TPA yang paling banyak digunakan di lokasi penelitian. 5. Hubungan Jenis Jentik dengan Keberadaan Jentik Aedes aegypti Pemeriksaan jentik dalam penelitian ini sangat diperlukan dalam menentukan jenis jentik yang ada di rumah warga sehingga dapat diketahui rumah yang positip jentik Aedes aegypti. Nyamuk Aedes aegypti merupakan vektor utama (primer) dalam penularan penyakit DBD karena tempat hidupnya yang biasanya berada di dalam ataupun dekat lingkungan rumah sedangkan nyamuk Aedes albopictus merupakan vektor sekunder dikarenakan habitat aslinya biasanya berada di kebun-kebun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari kontainer yang diobservasi terdapat 48 kontainer (84,2%) yang positif jentik Aedes aegypti. Sementara 9 kontainer (15,6%) positif Aedes albopictus. Berdasarkan hasil penelitian jenis jentik yang paling banyak ditemukan adalah Aedes aegypti. Hal ini dikarenakan tempat perindukan Aedes aegypti lebih banyak di dalam rumah dan lebih suka dengan genangan air yang bersih, sedangkan kontainer yang postif Aedes albopictus ditemukan di luar rumah dan digenangi air yang keruh.

89

Hasil uji statistik menunjukkan dengan menggunakan uji chi square diperoleh p = 0,000. Hal ini berarti p < (0,05). Dengan demikian, Ho ditolak yang berarti bahwa terdapat hubungan antara jenis jentik dengan keberadaan jentik Aedes aegypti di Kelurahan Paccerakkang. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian survei jentik yang dilakukan oleh Salim (2005) yang menyatakan bahwa prosentase jentik Aedes aegypti yang ditemukan sebesar 94,45% sedangkan jentik Aedes albopictus sebesar 5,55%. Penelitian yang dilakukan oleh Novelani (2007)

menyatakan bahwa jentik Aedes aegypti lebih banyak ditemukan di sekitar rumah, sedangkan Aedes albopictus lebih banyak

ditemukan di sekitar sekolah. Sebagian besar Aedes aegypti bersifat endofagik atau menghisap darah di dalam rumah, sedangkan Aedes albopictus bersifat eksofagik atau menghisap darah diluar. 6. Keberadaan Jentik Aedes aegypti Jumlah rumah yang diperiksa pada penelitian ini sebanyak 77 rumah dan kontainer yang diperiksa sebanyak 624 buah. Dari 77 rumah yang diperiksa terdapat 40 rumah yang positif jentik Aedes aegypti sedangkan dari 624 kontainer yang diperiksa sebanyak 48 kontainer yang positif jentik Aedes aegypti. Dengan

90

diketahuinya jumlah rumah dan kontainer yang positif jentik maka kepadatan jentik dapat dihitung. Perhitungan kepadatan jentik dapat dilakukan dengan menghitung House Index (HI), Container Index (CI), dan Breteau Index (BI). Selanjutnya indeks tersebut dikorelasikan dengan angka Density Figure (DF) yang telah ditetapkan oleh WHO. Hasil perhitungan jentik menunjukkan bahwa HI pada Kelurahan Paccerakkang sebesar 51,9% dengan Density Figure 7 (kepadatan tinggi), CI pada Kelurahan Paccerakkang sebesar 7,7% dengan Density Figure 3 (kepadatan sedang), BI pada Kelurahan Paccerakkang sebesar 62,3% dengan Density Figure 6 (kepadatan tinggi). Angka CI yang merupakan angka keberadaan jentik

nyamuk dibandingkan terhadap jumlah seluruh wadah yang diperiksa yang ada dalam rumah responden, namun angka BI merupakan pengukuran terbaik yang digunakan untuk

memperkirakan densitas jentik, karena sudah mengkombinasikan keduanya baik rumah maupun wadah. Angka BI pada penelitian ini masuk dalam kategori kepadatan tinggi. D. Keterbatasan Peneliti 1. Beberapa rumah responden tidak dapat diobseravasi karena tidak menetap di rumah tersebut atau rumah dalam keadaan kosong. 2. Beberapa responden tidak berkenan rumahnya diobservasi karena rumahnya sedang direnovasi.

91

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan 1. Ada hubungan antara karakteristik tempat penampungan air (p = 0,000, p < 0,05) dengan keberadaan jentik Aedes aegypti di Kelurahan Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar Tahun 2012. 2. Ada hubungan antara menguras tempat penampungan air (p = 0,000, p < 0,05) dengan keberadaan jentik Aedes aegypti di Kelurahan Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar Tahun 2012. 3. Ada hubungan antara kondisi tempat penampungan air (p = 0,000, p < 0,05) dengan keberadaan jentik Aedes aegypti di Kelurahan Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar Tahun 2012. 4. Tidak ada hubungan antara kondisi rumah (p = 0,731, p > 0,05) dengan keberadaan jentik Aedes aegypti di Kelurahan

Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar Tahun 2012. 5. Ada hubungan antara jenis jentik (p = 0,000, p < 0,05) dengan keberadaan jentik Aedes aegypti di Kelurahan Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar Tahun 2012.

92

B. Saran 1. Perlu adanya survei jentik dilakukan sekali dalam 3 bulan secara rutin di wilayah Kelurahan Paccerakkang untuk mengetahui tingkat kepadatan jentik Aedes aegypti sehingga dapat dilakukan upaya pemberantasan dengan cepat. 2. Sebaiknya masyarakat mengetahui karakateristik tempat

penampungan air yang disenangi oleh jentik Aedes aegypti sehingga dapat mengurangi tempat perindukan jentik. 3. Sebaiknya masyarakat setempat meningkatkan kedisiplinan dalam membersihkan tempat penampungan air. Pengurasan TPA harus dilakukan minimal 1 minggu sekali secara terus-menerus. 4. Diharapkan agar setiap tempat penampungan air disediakan penutup untuk dapat meminimalisir jentik. 5. Sebaiknya masyarakat mengurangi tempat peristirahatan nyamuk Aedes aegypti di dalam rumah seperti menghilangkan kebiasaan menggantung pakaian (bukan dalam almari), pencahayaan kamar mandi sebaiknya > 60 lux, dan memberi kasa pada ventilasi rumah agar nyamuk tidak gampang masuk ke dalam rumah.

93

DAFTAR PUSTAKA Arman. 2008. Analisis Faktorfaktor Yang Berhubungan Dengan Kontainer Indeks Jentik Nyamuk Aedes aegypti Di Kota Makassar. Jurnal Kesehatan Masyarakat Madani, ISSN.1979228X,Vol.01 No.02, Tahun 2008. (online) (http://journal.umi.ac.id/pdf, Diakses 1 November 2012) Badrah & Hidayah. 2011. Hubungan Antara Tempat Perindukan Nyamuk Aedes Aegypti Dengan Kasus Demam Berdarah Dengue di Kelurahan Penajam Kecamatan Penajam Kabupaten Penajam Paser Utara. J. Trop. Pharm. Chem. (Indonesia), 2011. Vol 1. No. 2. (online) (http://isjd.lipi.go.id/admin/jurnal/1211153160_20877099.pdf, Daikses 12 November 2012). Damyanti, R. 2009. Hubungan Pengetahuan, Sikap Dan Praktek 3M Dengan Keberadaan Jentik Aedes aegypti Pada Daerah Endemis Demam Berdarah Dengue Di Kelurahan Kepolorejo Kecamatan Magetan Kabupaten Magetan. Skripsi Dipublikasikan. Semarang SI Kesehatan Masyarakat. Universitas Diponegoro. Dardjito, et. al. 2008. Beberapa Faktor Risiko Yang Berpengaruh Terhadap Kejadian Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Kabupaten Banyumas. Media Litbang Kesehatan Volume XVIII Nomor 3 Tahun 2008. (online) (http://ejournal.litbang.depkes.go.id, Diakses 12 November 2012). Departemen Kesehatan RI. 2004. Bulletin Harian (Newsletter) Tim Penanggulangan DBD Departemen Kesehatan R.I., (online) (www.depkes.go.id, Diakses 6 Oktober 2012). Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan. 2010. Warga Suspect Demam Berdarah. (online) (http://www.dinkes-sulsel.go.id/index.php, Diakses 12 November 2012). Ditjen P2M & PL Depkes RI. 2004. Perilaku Dan Siklus Hidup Nyamuk Aedes Aegypti Sangat Penting Diketahui Dalam Melakukan Kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk Termasuk Pemantauan Jentik Berkala. (online) (ww.depkes.go.id, Diakses 6 Oktober 2012)

94

Ditjen PP dan PL Depkes RI. 2011. Informasi Umum Demam Berdarah Dengue, (online) (www.pppl.depkes.go.id/_.../INFORMASI_UMUM_DBD_2011.pdf, Diakses 6 Oktober 2012). Fajar Harian. 2011. Waspadai Kasus DBD, Januari Tertinggi. (online) (http://www.fajar.co.id/read-20111209224415-waspadai-kasusdbd-januari-tertinggi, Diakses 30 September 2012) Fakultas Kesehatan Masyarkat UMI. 2004. Pedoman Penulisan Skripsi. Makassar. Fathi, et. al. 2005. Peran Faktor Lingkungan Dan Perilaku Terhadap Penularan Demam Berdarah Dengue Di Kota Mataram. Jurnal Kesehatan Lingkungan, vol. 2, no. 1, juli 2005 : 1 10. (online) (http://210.57.222.46/index.php/JKL/article/view/689, Diakses 12 November 2012). Gama, T.A. & Betty, R.F. 2010. Analisis Faktor Risiko Kejadian Demam Berdarah Dengue Di Desa Mojosongo Kabupaten Boyolali. Eksplanasi, Volume 5, Nomor 2, (Online) (http://Faizah Betty, A Gama - Eksplanasi, 2012 - kopertis6.or.id, Diakses 6 Oktober 2012). Hadi, et al. 2006. SebaranJentik Nyamuk Aedes aegypti (Diptera: Culicidae) di Desa Cikarawang, Kabupaten Bogor (Online) (http://ejournal.litbang.depkes.go.id, Diakses 13 Oktober 2012). Hadinegoro & Satari. 2002. Demam Berdarah Dengue. Balai Penerbit FK UI: Jakarta. Kalyanamitra, 2012. Demam Berdarah, Gejala, Pencegahan, dan Pengobatannya. Pusat Komunikasi dan Informasi Perempuan, (online) (http://www.kalyanamitra.or.id/wp-content, Diakses 13 Oktober 2012). Misnadiarly. 2009. Demam Berdarah Dengue. Pustaka Populer Obor: Jakarta. Muslim. 2004. Faktor Lingkungan Yang Berpengaruh Terhadap Kejadian Infesi Virus Dengue. Tesis Dipublikasikan. Semarang Magister Epidemiologi. Universitas Diponegoro.

95

Nasution R. 2003. Teknik Sampling, (online) (http://www.google.co.id/url, Diakses 6 November 2012). Novelani. 2007. Studi Habitat Dan Perilaku Menggigit Nyamuk Aedes Serta Kaitannya Dengan Kasus Demam Berdarah Di Kelurahan Utan Kayu Utara Jakarta Timur. Tesis Dipublikasikan. Bogor Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Nugroho, S.F. 2009. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Keberadaan Jentik Aedes Aegypti Di RW IV Desa Ketitang Kecamatan Nogosari Kabupaten Boyolali. Skripsi Dipublikasikan. Surakarta SI Kesehatan Masyarakat. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Oktaviani, N. 2008. Faktor - Faktor yang Berpengaruh Terhadap Keberadaan Larva Nyamuk Aedes aegypti di Kota Pekalongan, (online) (http://N Oktaviani - Pena Medika Jurnal Kesehatan, 2010 - journal.unikal.ac.id, Diakses 6 Oktober 2012). Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi Kementerian Kesehatan RI. 2010. Demam Berdarah Dengue. Buletin Jendela Epidemiologi, Volume 2, (Online) (www.depkes.go.id/downloads/.../buletin/BULETIN%20DBD.pdf, Diakses 6 Oktober 2012). Puskesmas Sudiang Raya. 2012. Profil Puskesmas Sudiang Raya. Makassar. Puskesmas Sudiang Raya. 2011. Pemantauan Jentik Puskesmas Sudiang Raya. Makassar. Puskesmas Sudiang Raya. 2012. Data Kejadian Demam Beradarah Dengue Puskesmas Sudiang Raya. Makassar. Riyadi, et al. 2007. Hubungan Kondisi Sanitasi Lingkungan Rumah Tangga Dengan Keberadaan Jentik Vektor Dengue (Aedes aegypti Dan Aedes albopictus) Di Daerah Rawan Demam Berdarah Dengue Kota Libuklinggau Tahun 2006. Jurnal Ekologi Kesehatan Vol. 6 No. 2, Agustus 2007: 594-601. (online) (http://isjd.pdii.lipi.go.id, Diakses 12 November 2012).

96

Salim, M. 2007. Survey Jentik Aedes aegypti Di Desa Saung Naga Kab. Oku Tahun 2005. Jurnal Ekologi Kesehatan Vol. 6 No. 2, Agustus 2007: 602-607. (online) (http://ejournal.litbang.depkes.go.id, Diakses 12 November 2012). Salim, et al. 2011. Efektivitas Malathion Dalam Pengendalian Vektor DBD Dan Uji Kerentanan Larva Aedes Aegypti Terhadap Temephos Di Kota Palembang. Buletin Penelitian Kesehatan, Vol. 39, No 1: 10 21, (Online) (http://ejournal.litbang.depkes.go.id, Diakses 13 Oktober 2012). Salim dan Febriyanto Survei Jentik Aedes aegypti Di Desa Saung Naga Kab. Oku. Jurnal Ekologi Kesehatan, Vol. 6, No 2: 602-607, (Online) (http://ejournal.litbang.depkes.go.id, Diakses 13 Oktober 2012). Santoso, et al. 2008. Hubungan Pengetahuan Sikap Dan Perilaku (PSP) Masyarakat Terhadap Vektor DBD di Kota Palembang Provinsi Sumatera Selatan. Jurnal Ekologi Kesehatan, Vol 7, No 2: 732 739, (Online) (http://eprints.undip.ac.id/16497/, Diakses 20 Oktober 2012). Sari, et. al. 2012. Hubungan Kepadatan Jentik Aedes sp Dan Praktik PSN Dengan Kejadian DBD Di Sekolah Tingkat Dasar Di Kota Semarang. JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT, Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012, Halaman 413 422. (online) (http://ejournals1.undip.ac.id/index.php/jkm, Diakses 12 November 2012). Soedarmo. 2005. Demam Berdarah (Dengue) Pada Anak. Penerbit Universitas Indonesia: Jakarta. Soegijanto, S. 2004. Demam Berdarah Dengue. Penerbit Universitas Airlangga: Surabaya. Sudoyo, et al. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi IV Jilid III. Pusat Penerbit Dep. Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: Jakarta. Sukamto. 2007. Studi Karakteristik Wilayah Dengan Kejadian DBD Di Kecamatan Cilacap Selatan Kabupaten Cilacap. Tesis Dipublikasikan. Semarang Magister Kesehatan Lingkungan. Universitas Diponegoro.

97

Sukowinarsih & Cahyati. 2011. Hubungan Sanitasi Rumah Dengan Angka Bebas Jentik Aedes aegypti. KEMAS 6 (1) (2011) 30-35. (online) (http://journal.unnes.ac.id/index.php/kemas, Diakses 12 November 2012). Sulistyawati, I.H. 2011. Hubungan Letak, Jenis, Dan Kondisi Tempat Penampungan Air (TPA) Dengan Kepadatan Larva Aedes Aegypti Di Kelurahan Rappocini Kecamatan Rappocini Kota Makassar. Skripsi tidak dipublikasikan. Makassar SI Kesehatan Masyarakat. Ubiversitas Hasanuddin. Supartha. 2008. Pengendalian Terpadu Vektor Virus Demam Berdarah Dengue, Aedes aegypti (Linn.) dan Aedes albopictus (Skuse)(Diptera: Culicidae), (online) (http://dies.unud.ac.id/wpcontent/uploads/2008/09/makalah-supartha-baru.pdf, Diakses 13 Oktober 2012). Triwinasis, S. 2010. Hubungan Antara Praktik Pemberantasan Sarang Nyamuk Dengan Keberadaan Jentik Aedes aegypti Pada Daerah Endemis Demam Berdarah Dengue. Di Kelurahan Keparakan Kecamatan Mergangsan Kota Yogyakarta. Skripsi Dipublikasikan. Semarang SI Kesehatan Masyarakat. Universitas Diponegoro. Wati, E.W. 2009. Beberapa Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Kelurahan Ploso Kecamatan Pacitan Tahun 2009. Skripsi Dipublikasikan. Surakarta SI Kesehatan Masyarakat. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Widiyanto, T. 2007. Kajian Manajemen Lingkungan Terhadap Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Purwokerto Jawa Tengah. Tesis Dipublikasikan. Semarang Magister Kesehatan Lingkungan. Universitas Diponegoro. Yudhastuti & Vidiyani. 2005. Hubungan Kondisi Lingkungan, Kontainer, Dan Perilaku Masyarakat Dengan Keberadaan Jentik Nyamuk Aedes aegypti Di Daerah Endemis Demam Berdarah Dengue Surabaya. Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.1, No.2. (online) (http://210.57.222.46/index.php, Diakses 12 November 2012).

98

LAMPIRAN

99

1. Lampiran Kuesioner

FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEBERADAAN JENTIK Aedes aegypti DI KELURAHAN PACCERAKKANG KECAMATAN BIRINGKANAYA KOTA MAKASSAR TAHUN 2012 No. Responden: Hari/Tanggal: A. Identitas Responden 1. Nama 2. Alamat 3. RW/RT 4. Pendidikan: B. Cara Penyimpanan Air Bersih 1. Sumber air bersih: a. PDAM b. Sumur gali 2. Kualitas air bersih yang diperoleh (dilihat secara fisik): a. Jernih, tidak berbau, tidak berasa b. Keruh, berbau, dan berasa 3. Kebiasaan masyarakat dalam penyimpanan air bersih: a. Tidak menyimpan b. Menyimpan 4. Lama penyimpanan air bersih a. 1 hari b. 3 hari c. 1 minggu d. Lainnya : : :

100

C. Lembar Observasi Keberadaan Larva Aedes aegypti No Karakteristik TPA Jenis Warna Bhn dasar Pengurasan TPA Cara Frekuen si Kondisi TPA ventila si Kondisi Rumah Pencaha yaan Kebiasaan gantung pakaian Jenis jentik Positif

101

2. Lampiran Dokumentasi Penelitian Gambar 1 Pemeriksaan Jentik Gambar 2 Pengambilan Jentik

Gambar 3. Wawancara Responden

Gambar 4 Pemeriksaan Pencahayaan

Gambar 5 Kebiasaan Menggantung Pakaian

102

3. Lampiran Frequency Table


SUM BER AIR BERSIH Frequenc y 77 Percent 100.0 V alid Percent 100.0 Cumulativ e Percent 100.0

V alid

SUMUR BOR

JENIS T PA Frequenc y 415 209 624 Percent 66.5 33.5 100.0 V alid Percent 66.5 33.5 100.0 Cumulativ e Percent 66.5 100.0

V alid

TPA NON TPA Total

KUAL IT AS AIR BERSIH SECARA FISIK Frequenc y 77 Percent 100.0 V alid Percent 100.0 Cumulativ e Percent 100.0

V alid

MEMENUHI SY A RA T

KONDISI RUM AH Frequenc y 68 9 77 Percent 88.3 11.7 100.0 V alid Percent 88.3 11.7 100.0 Cumulativ e Percent 88.3 100.0

V alid

TDK MEMENUHI SY A RAT MEMENUHI SY A RA T Total

NAM A TPA Frequenc y 182 1 127 34 208 36 35 1 624 Percent 29.2 .2 20.4 5.4 33.3 5.8 5.6 .2 100.0 V alid Percent 29.2 .2 20.4 5.4 33.3 5.8 5.6 .2 100.0 Cumulativ e Percent 29.2 29.3 49.7 55.1 88.5 94.2 99.8 100.0

V alid

EMBER TEMPA T MINUM HEWA N BASKOM BAK MANDI POT BUNGA GENTONG DISPENSER PA NCI Total

KEBERADAAN JENT IK OLBOPICT US Frequenc y 9 615 624 Percent 1.4 98.6 100.0 V alid Percent 1.4 98.6 100.0 Cumulativ e Percent 1.4 100.0

V alid

POSITIF NEGA TIF Total

103

JENIS JENTIK Frequenc y 48 9 567 624 Percent 7.7 1.4 90.9 100.0 V alid Percent 7.7 1.4 90.9 100.0 Cumulativ e Percent 7.7 9.1 100.0

V alid

A EDES AEGYPTI A LBOPICTUS TDK A DA JENTIK Total

WARNA TPA Frequenc y 90 61 82 81 62 17 7 11 2 2 415 209 624 P ercent 14.4 9.8 13.1 13.0 9.9 2.7 1.1 1.8 .3 .3 66.5 33.5 100.0 V alid Percent 21.7 14.7 19.8 19.5 14.9 4.1 1.7 2.7 .5 .5 100.0 Cumulativ e P ercent 21.7 36.4 56.1 75.7 90.6 94.7 96.4 99.0 99.5 100.0

V alid

Mis sing Total

P UTIH BIRU HIJA U HITA M ME RA H KUNING ME RA H JA MBU A BU-A BU UNGU COKE LA T Total System

BAHAN DASAR TPA Frequenc y 378 36 1 415 209 624 Percent 60.6 5.8 .2 66.5 33.5 100.0 V alid Percent 91.1 8.7 .2 100.0 Cumulativ e Percent 91.1 99.8 100.0

V alid

Mis sing Total

PLA STIK SEMEN BESI Total System

KONDISI TPA Frequenc y 355 60 415 209 624 Percent 56.9 9.6 66.5 33.5 100.0 V alid Percent 85.5 14.5 100.0 Cumulativ e Percent 85.5 100.0

V alid

Mis sing Total

TERBUKA TERTUTUP Total System

PENGURASAN T PA Frequenc y 50 365 415 209 624 Percent 8.0 58.5 66.5 33.5 100.0 V alid Percent 12.0 88.0 100.0 Cumulativ e Percent 12.0 100.0

V alid

Mis sing Total

TDK MEM ENUHI SYA RA T MEMENUHI SY A RAT Total System

JENIS JENTIK Frequenc y 35 4 5 33 77 Percent 45.5 5.2 6.5 42.9 100.0 V alid Percent 45.5 5.2 6.5 42.9 100.0 Cumulativ e Percent 45.5 50.6 57.1 100.0

V alid

A EDES AEGYPTI A LBOPICTUS A EDES AEGYPTI & A LBOPICTUS TIDA K ADA JENTIK Total

104

KEBERADAAN JENTIK AEDES AEGYPTI Frequenc y 48 576 624 Percent 7.7 92.3 100.0 V alid Percent 7.7 92.3 100.0 Cumulativ e Percent 7.7 100.0

V alid

POSITIF NEGA TIF Total

CROSSTAB KONDISI RUMAH * KEBERADAAN JENTIK ATAU LARVA AEDES AEGYPTI


Cross tab KEBERADA A N JENTIK A TA U LA RV A AEDES A EGY PTI POSITIF NEGA TIF 36 32 35.3 32.7 52.9% 90.0% 4 4.7 44.4% 10.0% 40 40.0 51.9% 100.0% 47.1% 86.5% 5 4.3 55.6% 13.5% 37 37.0 48.1% 100.0%

KONDISI RUMA H

TDK MEMENUHI SY A RAT

MEMENUHI SY A RA T

Total

Count Ex pected Count % w ithin KONDISI RUMA H % w ithin KEBERA DA A N JENTIK A TAU LA RV A A EDES AEGYPTI Count Ex pected Count % w ithin KONDISI RUMA H % w ithin KEBERA DA A N JENTIK A TAU LA RV A A EDES AEGYPTI Count Ex pected Count % w ithin KONDISI RUMA H % w ithin KEBERA DA A N JENTIK A TAU LA RV A A EDES AEGYPTI

Total 68 68.0 100.0% 88.3% 9 9.0 100.0% 11.7% 77 77.0 100.0% 100.0%

Chi-Square Te s ts V alue .230 b .015 .230 df 1 1 1 A sy mp. Sig. (2-s ided) .632 .901 .632 Ex ac t Sig. (2-s ided) Ex ac t Sig. (1-s ided)

Pearson Chi-Square a Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by -Linear A ss ociation N of V alid Cas es

.731 .227 77 1 .634

.449

a. Computed only f or a 2x 2 table b. 2 cells (50.0%) hav e expec ted count les s than 5. The minimum ex pec ted count is 4.32.

105

KEBERADAAN JENTIK ATAU LARVA AEDES AEGYPTI * KEBERADAAN LARVA/JENTIK


Cr o s s tab KE BE RADA A N LA RV A /JENTI K P OSI TI F NE GA TIF 40 0 22 .9 17 .1 10 0.0% 90 .9 % 4 21 .1 10 .8 % 9.1% 44 44 .0 57 .1 % 10 0.0% .0% .0% 33 15 .9 89 .2 % 10 0.0% 33 33 .0 42 .9 % 10 0.0%

KE BE RADA A N JENTI K A TAU LA RVA AE DE S AEGYPTI

P OSI TI F

NE GA TIF

To ta l

Coun t E x pe cted Coun t % w ith in KE BE RA DA A N JENTI K A TAU LA RVA AE DE S AEGYPTI % w ith in KE BE RA DA A N LA RV A /JENTI K Coun t E x pe cted Coun t % w ith in KE BE RA DA A N JENTI K A TAU LA RVA AE DE S AEGYPTI % w ith in KE BE RA DA A N LA RV A /JENTI K Coun t E x pe cted Coun t % w ith in KE BE RA DA A N JENTI K A TAU LA RVA AE DE S AEGYPTI % w ith in KE BE RA DA A N LA RV A /JENTI K

To ta l 40 40 .0 10 0.0% 51 .9 % 37 37 .0 10 0.0% 48 .1 % 77 77 .0 10 0.0% 10 0.0%

Chi-Squ ar e Te s ts V alue 62.432 b 58.844 79.820 df 1 1 1 A sy m p. Sig. (2-s ided) .000 .000 .000 E x ac t Sig. (2-s ided) E x ac t Sig. (1-s ided)

P earson Chi-Square a Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by -Linear A ss ociation N of V alid Cas es

.000 61.622 77 1 .000

.000

a. Computed only f or a 2x 2 table b. 0 cells (.0%) hav e ex pec ted count less than 5. The minimum expected c ount is 15.86.

JENIS JENTIK * KEBERADAAN LARVA


Cr o ss tab KEBERADA A N LARV A POSITIF NEGA TIF 48 0 4.4 43.6 100.0% .0% 84.2% 9 .8 100.0% 15.8% 0 51.8 .0% .0% 57 57.0 9.1% 100.0% .0% 0 8.2 .0% .0% 567 515.2 100.0% 100.0% 567 567.0 90.9% 100.0%

JENIS JENTIK

A EDES AEGYPTI

A LBOPICTUS

TDK A DA JENTIK

Total

Count Ex pected Count % w ithin JENIS JENTIK % w ithin KEBERADA A N LARV A Count Ex pected Count % w ithin JENIS JENTIK % w ithin KEBERADA A N LARV A Count Ex pected Count % w ithin JENIS JENTIK % w ithin KEBERADA A N LARV A Count Ex pected Count % w ithin JENIS JENTIK % w ithin KEBERADA A N LARV A

Total 48 48.0 100.0% 7.7% 9 9.0 100.0% 1.4% 567 567.0 100.0% 90.9% 624 624.0 100.0% 100.0%

106

Chi-Square Te s ts Value 624.000a 381.440 611.915 624 df 2 2 1 Asy mp. Sig. (2-s ided) .000 .000 .000

Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by -Linear Ass ociation N of Valid Cases

a. 2 cells (33.3%) hav e ex pec ted count less than 5. The minimum ex pec ted count is .82.

NAMA TPA * KEBERADAAN JENTIK AEDES AEGYPTI


Cr o s s tab KE BE RADA A N JENTIK AE DE S A EGYPTI P OSI TI F NE GA TI F 6 17 6 14 .0 16 8.0 3.3% 96 .7 % 12 .5 % 0 .1 .0% .0% 2 9.8 1.6% 4.2% 15 2.6 44 .1 % 31 .3 % 0 16 .0 .0% .0% 8 2.8 22 .2 % 16 .7 % 17 2.7 48 .6 % 35 .4 % 0 .1 .0% .0% 48 48 .0 7.7% 10 0.0% 30 .6 % 1 .9 10 0.0% .2% 12 5 11 7.2 98 .4 % 21 .7 % 19 31 .4 55 .9 % 3.3% 20 8 19 2.0 10 0.0% 36 .1 % 28 33 .2 77 .8 % 4.9% 18 32 .3 51 .4 % 3.1% 1 .9 10 0.0% .2% 57 6 57 6.0 92 .3 % 10 0.0%

NAMA TPA

E MBE R

TEMP A T MI NUM HE WA N

BASKOM

BAK MANDI

P OT BUNGA

GE NTONG

DI SP E NSE R

P A NCI

To ta l

Coun t E x pe cted Coun t % w ith in NA MA TP A % w ith in KE BE RA DA A N JENTI K AE DE S AE GY P TI Coun t E x pe cted Coun t % w ith in NA MA TP A % w ith in KE BE RA DA A N JENTI K AE DE S AE GY P TI Coun t E x pe cted Coun t % w ith in NA MA TP A % w ith in KE BE RA DA A N JENTI K AE DE S AE GY P TI Coun t E x pe cted Coun t % w ith in NA MA TP A % w ith in KE BE RA DA A N JENTI K AE DE S AE GY P TI Coun t E x pe cted Coun t % w ith in NA MA TP A % w ith in KE BE RA DA A N JENTI K AE DE S AE GY P TI Coun t E x pe cted Coun t % w ith in NA MA TP A % w ith in KE BE RA DA A N JENTI K AE DE S AE GY P TI Coun t E x pe cted Coun t % w ith in NA MA TP A % w ith in KE BE RA DA A N JENTI K AE DE S AE GY P TI Coun t E x pe cted Coun t % w ith in NA MA TP A % w ith in KE BE RA DA A N JENTI K AE DE S AE GY P TI Coun t E x pe cted Coun t % w ith in NA MA TP A % w ith in KE BE RA DA A N JENTI K AE DE S AE GY P TI

To ta l 18 2 18 2.0 10 0.0% 29 .2 % 1 1.0 10 0.0% .2% 12 7 12 7.0 10 0.0% 20 .4 % 34 34 .0 10 0.0% 5.4% 20 8 20 8.0 10 0.0% 33 .3 % 36 36 .0 10 0.0% 5.8% 35 35 .0 10 0.0% 5.6% 1 1.0 10 0.0% .2% 62 4 62 4.0 10 0.0% 10 0.0%

107

Chi-Squ ar e Te s ts V alue 185.753a 131.832 28.843 624 df 7 7 1 A sy m p. Sig. (2-s ided) .000 .000 .000

P earson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by -Linear A ss ociation N of V alid Cases

a. 7 cells (43.8%) hav e ex pec ted count less than 5. The minimum ex pec ted count is .08.

WARNA TPA * KEBERADAAN JENTIK AEDES AEGYPTI


Cro ss tab KEBERADA A N JENTIK A EDES A EGY PTI POSITIF NEGA TIF 10 80 10.4 79.6 11.1% 88.9% 20.8% 15 7.1 24.6% 31.3% 3 9.5 3.7% 6.3% 9 9.4 11.1% 18.8% 8 7.2 12.9% 16.7% 1 2.0 5.9% 2.1% 1 .8 14.3% 2.1% 1 1.3 9.1% 2.1% 0 .2 .0% .0% 0 .2 .0% .0% 48 48.0 11.6% 100.0% 21.8% 46 53.9 75.4% 12.5% 79 72.5 96.3% 21.5% 72 71.6 88.9% 19.6% 54 54.8 87.1% 14.7% 16 15.0 94.1% 4.4% 6 6.2 85.7% 1.6% 10 9.7 90.9% 2.7% 2 1.8 100.0% .5% 2 1.8 100.0% .5% 367 367.0 88.4% 100.0%

WA RNA TPA

PUTIH

BIRU

HIJA U

HITA M

MERA H

KUNING

MERA H JA MBU

A BU-A BU

UNGU

COKELA T

Total

Count Ex pec ted Count % w ithin WARNA TPA % w ithin KEBERA DA A N JENTIK A EDES A EGY PTI Count Ex pec ted Count % w ithin WARNA TPA % w ithin KEBERA DA A N JENTIK A EDES A EGY PTI Count Ex pec ted Count % w ithin WARNA TPA % w ithin KEBERA DA A N JENTIK A EDES A EGY PTI Count Ex pec ted Count % w ithin WARNA TPA % w ithin KEBERA DA A N JENTIK A EDES A EGY PTI Count Ex pec ted Count % w ithin WARNA TPA % w ithin KEBERA DA A N JENTIK A EDES A EGY PTI Count Ex pec ted Count % w ithin WARNA TPA % w ithin KEBERA DA A N JENTIK A EDES A EGY PTI Count Ex pec ted Count % w ithin WARNA TPA % w ithin KEBERA DA A N JENTIK A EDES A EGY PTI Count Ex pec ted Count % w ithin WARNA TPA % w ithin KEBERA DA A N JENTIK A EDES A EGY PTI Count Ex pec ted Count % w ithin WARNA TPA % w ithin KEBERA DA A N JENTIK A EDES A EGY PTI Count Ex pec ted Count % w ithin WARNA TPA % w ithin KEBERA DA A N JENTIK A EDES A EGY PTI Count Ex pec ted Count % w ithin WARNA TPA % w ithin KEBERA DA A N JENTIK A EDES A EGY PTI

Total 90 90.0 100.0% 21.7% 61 61.0 100.0% 14.7% 82 82.0 100.0% 19.8% 81 81.0 100.0% 19.5% 62 62.0 100.0% 14.9% 17 17.0 100.0% 4.1% 7 7.0 100.0% 1.7% 11 11.0 100.0% 2.7% 2 2.0 100.0% .5% 2 2.0 100.0% .5% 415 415.0 100.0% 100.0%

108

Chi-Squ are Te s ts V alue 16.449 a 16.479 1.044 415 df 9 9 1 A sy m p. Sig. (2-s ided) .058 .058 .307

Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by -Linear A ss ociation N of V alid Cases

a. 7 cells (35.0%) hav e ex pec ted count less than 5. The minimum ex pec ted count is .23.

BAHAN DASAR TPA * KEBERADAAN JENTIK AEDES AEGYPTI


Cr o ss tab KEBERADA A N JENTIK A EDES AEGYPTI POSITIF NEGA TIF 31 347 43.7 334.3 8.2% 64.6% 17 4.2 47.2% 35.4% 0 .1 .0% .0% 48 48.0 11.6% 100.0% 91.8% 94.6% 19 31.8 52.8% 5.2% 1 .9 100.0% .3% 367 367.0 88.4% 100.0%

BAHA N DASA R TPA

PLA STIK

SEMEN

BESI

Total

Count Ex pected Count % w ithin BA HA N DA SAR TPA % w ithin KEBERA DA A N JENTIK A EDES A EGY PTI Count Ex pected Count % w ithin BA HA N DA SAR TPA % w ithin KEBERA DA A N JENTIK A EDES A EGY PTI Count Ex pected Count % w ithin BA HA N DA SAR TPA % w ithin KEBERA DA A N JENTIK A EDES A EGY PTI Count Ex pected Count % w ithin BA HA N DA SAR TPA % w ithin KEBERA DA A N JENTIK A EDES A EGY PTI

Total 378 378.0 100.0% 91.1% 36 36.0 100.0% 8.7% 1 1.0 100.0% .2% 415 415.0 100.0% 100.0%

Chi-Squ ar e Te s ts V alue 49.062 a 33.063 42.430 415 df 2 2 1 A sy m p. Sig. (2-s ided) .000 .000 .000

P earson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by -Linear A ss ociation N of V alid Cases

a. 3 cells (50.0%) hav e ex pec ted count less than 5. The minimum ex pec ted count is .12.

109

PENGURASAN TPA * KEBERADAAN JENTIK AEDES AEGYPTI


Cro ss tab KEBERADA A N JENTIK A EDES AEGYPTI POSITIF NEGA TIF 47 3 5.8 44.2 94.0% 97.9% 1 42.2 .3% 2.1% 48 48.0 11.6% 100.0% 6.0% .8% 364 322.8 99.7% 99.2% 367 367.0 88.4% 100.0%

PENGURA SA N TPA

TDK MEMENUHI SY A RAT

MEMENUHI SY A RA T

Total

Count Ex pected Count % w ithin PENGURA SA N TPA % w ithin KEBERA DA A N JENTIK A EDES A EGY PTI Count Ex pected Count % w ithin PENGURA SA N TPA % w ithin KEBERA DA A N JENTIK A EDES A EGY PTI Count Ex pected Count % w ithin PENGURA SA N TPA % w ithin KEBERA DA A N JENTIK A EDES A EGY PTI

Total 50 50.0 100.0% 12.0% 365 365.0 100.0% 88.0% 415 415.0 100.0% 100.0%

Chi-Squ are Te s ts V alue 377.680b 368.572 260.806 df 1 1 1 A sy mp. Sig. (2-s ided) .000 .000 .000 Ex ac t Sig. (2-s ided) Ex ac t Sig. (1-s ided)

Pearson Chi-Square a Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by -Linear A ss ociation N of V alid Cas es

.000 376.770 415 1 .000

.000

a. Computed only f or a 2x 2 table b. 0 cells (.0%) hav e ex pec ted count less than 5. The minimum expected c ount is 5.78.

110

KONDISI TPA * KEBERADAAN JENTIK AEDES AEGYPTI


Cr o ss tab KEBERADA A N JENTIK A EDES AEGYPTI POSITIF NEGA TIF 48 307 41.1 313.9 13.5% 86.5% 100.0% 0 6.9 .0% .0% 48 48.0 11.6% 100.0% 83.7% 60 53.1 100.0% 16.3% 367 367.0 88.4% 100.0%

KONDISI TPA

TERBUKA

TERTUTUP

Total

Count Ex pected Count % w ithin KONDISI TPA % w ithin KEBERA DA A N JENTIK A EDES A EGY PTI Count Ex pected Count % w ithin KONDISI TPA % w ithin KEBERA DA A N JENTIK A EDES A EGY PTI Count Ex pected Count % w ithin KONDISI TPA % w ithin KEBERA DA A N JENTIK A EDES A EGY PTI

Total 355 355.0 100.0% 85.5% 60 60.0 100.0% 14.5% 415 415.0 100.0% 100.0%

Chi-Squ ar e Te s ts V alue 9.174b 7.899 16.016 df 1 1 1 A sy m p. Sig. (2-s ided) .002 .005 .000 Ex ac t Sig. (2-s ided) Ex ac t Sig. (1-s ided)

Pearson Chi-Square a Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by -Linear A ss ociation N of V alid Cas es

.001 9.152 415 1 .002

.000

a. Computed only f or a 2x 2 table b. 0 cells (.0%) hav e ex pec ted count less than 5. The minimum expected c ount is 6.94.

111

4. Lampiran Macam- macam Jentik

Jentik Aedes aegypti

Jentik Aedes albopictus

Jenis Jentik

112

5. Lampiran Mapping Lokasi Penelitian RW VII

LAPANGAN

KANTOR LURAH

JL. PACCERAKKANG
PASAR DAYA

DAYA RS. DAYA

113

DAFTAR RIWAYAT HIDUP Nama Tempat/Tanggal Lahir Jenis kelamin Suku/Bangsa Agama Status Perkawinan Jumlah Bersaudara Alamat Rumah Riwayat Pendidikan Tahun 1996 1997 Tahun 1997 2001 Tahun 2001 2003 Tahun 2003 2006 Tahun 2006 2009 Tahun 2009 2013 : TK Kemala Bahayangkari Pabaeng-baeng : SD Inpres Pabaeng-baeng : SD Neg. 02 Terang-terang Kab. Bulukumba : SMPN 07 Makassar : SMA Islam Athirah : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia : Andi Merliani Syahrir : Ujung Pandang, 7 Januari 1992 : Perempuan : Bugis / Indonesia : Islam : Belum menikah : 4 Orang : Jl. Tinumbu Lr. 165 C No. 36

114

115