Anda di halaman 1dari 9

ISHIKAWA DIAGRAM FOR QUALITY CONTROL 1.

Kontrol Kualitas Kontrol kualitas, atau Quality Control, adalah proses dimana entitas meninjau kualitas semua faktor yang terlibat dalam produksi. Pendekatan ini menempatkan penekanan pada tiga aspek : 1. Unsur seperti kontrol, manajemen pekerjaan, proses yang telah ditentukan dan dikelola dengan baik, kinerja dan kriteria integritas, dan identifikasi catatan 2. Kompetensi, seperti pengetahuan, keterampilan, pengalaman, dan kualifikasi 3. Elemen lunak, seperti personil integritas , kepercayaan , budaya organisasi , motivasi , semangat tim , dan hubungan kualitas. Kontrol meliputi produk inspeksi , di mana setiap produk diperiksa secara visual, dan sering menggunakan mikroskop stereo untuk detail halus sebelum produk dijual ke pasar eksternal. Inspektur akan diberikan dengan daftar dan deskripsi produk tidak dapat diterima cacat seperti retak atau permukaan noda misalnya. Kualitas output adalah beresiko jika salah satu dari ketiga aspek kekurangan dengan cara apapun. Kontrol kualitas menekankan pengujian produk untuk mengungkap cacat dan pelaporan kepada manajemen yang membuat keputusan untuk mengizinkan atau menolak pelepasan produk, sedangkan jaminan kualitas mencoba untuk meningkatkan dan menstabilkan produksi (dan proses yang terkait) untuk menghindari, atau paling tidak meminimalkan, masalah yang menyebabkan cacat di tempat pertama. Untuk pekerjaan kontrak, terutama bekerja diberikan oleh instansi pemerintah, masalah kualitas kontrol adalah salah satu alasan utama untuk tidak memperbarui kontrak. 2. Diagram Fishbone untuk Kontrol Kualitas Dr. Kaoru Ishikawa seorang ilmuwan Jepang, merupakan tokoh kualitas yang telah memperkenalkan user friendly control, Fishbone cause and effect diagram, emphasised the internal customer kepada dunia. Ishikawa juga yang pertama memperkenalkan 7 (seven) quality tools: control chart, run chart, histogram, scatter diagram, pareto chart, and

flowchart yang sering juga disebut dengan 7 alat pengendali mutu/kualitas (quality control seven tools). Diagram Fishbone dari Ishikawa menjadi satu tool yang sangat populer dan dipakai di seluruh penjuru dunia dalam mengidentifikasi faktor penyebab problem/masalah. Alasannya sederhana. Fishbone diagram tergolong praktis, dan memandu setiap tim untuk terus berpikir menemukan penyebab utama suatu permasalahan. Diagram tulang ikan ini dikenal dengan cause and effect diagram. Diagram Ishikawa juga disebut dengan tulang ikan karena memang kalau diperhatikan rangka analisis diagram Fishbone bentuknya ada kemiripan dengan ikan, dimana ada bagian kepala (sebagai effect) dan bagian tubuh ikan berupa rangka serta duri-durinya digambarkan sebagai penyebab (cause) suatu permasalahan yang timbul. Masalah-masalah klasik di industri manufaktur seperti: >> keterlambatan proses produksi >> tingkat defect (cacat) produk yang tinggi >> mesin produksi yang sering mengalami trouble >> output lini produksi yang tidak stabil yang berakibat kacaunya plan produksi >> produktivitas yang tidak mencapai target >> complain pelanggan yang terus berulang Diagram Ishikawa (disebut juga diagram tulang ikan, atau cause-and-effect matrix) adalah diagram yang menunjukkan penyebab-penyebab dari sebuah even yang spesifik. Pemakaian diagram Ishikawa yang paling umum adalah untuk mencegah defek serta mengembangkan kualitas produk. Diagram Ishikawa dapat membantu mengidentifikasi faktor-faktor yang signifikan dan memberi efek terhadap sebuah even. Bagian-bagian dari Diagram Fishbone : 1. Bagian Kepala Ikan Kepala ikan biasanya selalu terletak di sebelah kanan. Di bagian ini, ditulis even yang dipengaruhi oleh penyebab-penyebab yang nantinya di tulis di bagian tulang ikan. Even ini sering berupa masalah atau topik yang akan di cari tahu penyebabnya.

2. Bagian Tulang Ikan Pada bagian tulang ikan, ditulis kategori-kategori yang bisa berpengaruh terhadap even tersebut. Kategori yang paling umum digunakan: Orang : Semua orang yang terlibat dari sebuah proses. Metode : Bagaimana proses itu dilakukan, kebutuhan yang spesifik dari poses itu, seperti prosedur, peraturan dll. Material : Semua material yang diperlukan untuk menjalankan proses seperti bahan dasar, pena, kertas dll. Mesin : Semua mesin, peralatan, komputer dll yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan. Pengukuran : Cara pengambilan data dari proses yang dipakai untuk menentukan kualitas proses. Lingkungan : Kondisi di sekitar tempat kerja, seperti suhu udara, tingkat kebisingan, kelembaban udara, dll. Dengan menerapkan diagram Fishbone ini dapat menolong kita untuk dapat menemukan akar penyebab terjadinya masalah khususnya di industri manufaktur dimana prosesnya terkenal dengan banyaknya ragam variabel yang berpotensi menyebabkan munculnya permasalahan. Apabila masalah dan penyebab sudah diketahui secara pasti, maka tindakan dan langkah perbaikan akan lebih mudah dilakukan. Dengan diagram ini, semuanya menjadi lebih jelas dan memungkinkan kita untuk dapat melihat semua kemungkinan penyebab dan mencari akar permasalahan sebenarnya.

Contoh sederhana pemilahan sebab dengan pendekatan tertentu adalah pada gambar di atas. Langkah-langkah menerapkan diagram tulang ikan adalah :

Langkah 1: Menyepakati pernyataan masalah Sepakati sebuah pernyataan masalah (problem statement). Pernyataan masalah ini diinterpretasikan sebagai effect, atau secara visual dalam fishbone seperti kepala ikan. Tuliskan masalah tersebut di tengah media di sebelah paling kanan. Gambarkan sebuah kotak mengelilingi tulisan pernyataan masalah tersebut dan buat panah horizontal panjang menuju ke arah kotak.

Langkah 2: Mengidentifikasi kategori-kategori Dari garis horisontal utama, buat garis diagonal yang menjadi cabang. Setiap cabang mewakili sebab utama dari masalah yang ditulis. Sebab ini diinterpretasikan sebagai cause, atau secara visual dalam fishbone seperti tulang ikan.

Kategori sebab utama mengorganisasikan sebab sedemikian rupa sehingga masuk akal dengan situasi. Kategori-kategori ini antara lain:
o

Kategori 6M yang biasa digunakan dalam industri manufaktur:


Machine (mesin atau teknologi), Method (metode atau proses), Material (termasuk raw material, consumption, dan informasi), Man Power (tenaga kerja atau pekerjaan fisik) / Mind Power (pekerjaan pikiran: kaizen, saran, dan sebagainya),

Measurement (pengukuran atau inspeksi), dan Milieu / Mother Nature (lingkungan).

Kategori 8P yang biasa digunakan dalam industri jasa:


Product (produk/jasa), Price (harga), Place (tempat), Promotion (promosi atau hiburan), People (orang), Process (proses), Physical Evidence (bukti fisik), dan Productivity & Quality (produktivitas dan kualitas).

Kategori 5S yang biasa digunakan dalam industri jasa:


Surroundings (lingkungan), Suppliers (pemasok), Systems (sistem), Skills (keterampilan), dan Safety (keselamatan).

Langkah 3: Menemukan sebab-sebab potensial dengan cara brainstorming Setiap kategori mempunyai sebab-sebab yang perlu diuraikan melalui sesi brainstorming. Saat sebab-sebab dikemukakan, tentukan bersama-sama di mana sebab tersebut harus ditempatkan dalam fishbone diagram, yaitu tentukan di bawah kategori yang mana gagasan tersebut harus ditempatkan, misal: Mengapa bahaya potensial? Penyebab:

Karyawan tidak mengikuti prosedur! Karena penyebabnya karyawan (manusia), maka diletakkan di bawah Man. Sebab-sebab ditulis dengan garis horisontal sehingga banyak tulang kecil keluar dari garis diagonal. Pertanyakan kembali Mengapa sebab itu muncul? sehingga tulang lebih kecil (sub-sebab) keluar dari garis horisontal tadi, misal: Mengapa karyawan disebut tidak mengikuti prosedur? Jawab: karena tidak memakai APD. Satu sebab bisa ditulis di beberapa tempat jika sebab tersebut berhubungan dengan beberapa kategori.

Langkah 4: Mengkaji dan menyepakati sebab-sebab yang paling mungkin Setelah setiap kategori diisi carilah sebab yang paling mungkin di antara semua sebab-sebab dan sub-subnya. Jika ada sebab-sebab yang muncul pada lebih dari satu kategori, kemungkinan merupakan petunjuk sebab yang paling mungkin. Kaji kembali sebab-sebab yang telah didaftarkan (sebab yang tampaknya paling memungkinkan) dan tanyakan , Mengapa ini sebabnya? Pertanyaan Mengapa? akan membantu kita sampai pada sebab pokok dari permasalahan teridentifikasi. Tanyakan Mengapa ? sampai saat pertanyaan itu tidak bisa dijawab lagi. Kalau sudah sampai ke situ sebab pokok telah terindentifikasi. Lingkarilah sebab yang tampaknya paling memungkin pada fishbone diagram.

Gambar diatas adalah contoh hasil dari pembuatan diagram tulang ikan. Berkisah mengenai pencarian jawaban mengapa produk sebuah mobil di industri manufaktur tidak bisa berjalan. Sebab-sebab dipilah sesuai dengan pendekatan jenis kelamin operator perakitan (pria atau wanita), lingkungan, metode dan bahan. Semakin dekat garis sebab dengan akibat, semakin perlu diperhatikan. Faktor lingkungan dipilah lagi menjadi dua sub bagian. Yakni faktor temperatur dan cahaya. Diperkirakan cahaya terlalu banyak dan temperatur terlalu rendah. Demikian seterusnya dilakukan analisis yang sama terhadap sebab-sebab yang ada. Kemudian setelah diketahui betul sebab-sebab yang ada, maka dapat dibuat kerangka pemecahan masalahnya. Misalnya dengan perbaikan lingkungan kerja, metode dan bahan. Diagram ini memang lebih banyak diterapkan oleh departemen kualitas di perusahaan manufacturing atau jasa. Tapi di sektor lain sebenarnya juga bisa, seperti pelayanan masyarakat, sosial dan bahkan politik. Karena sifat metode ini mudah dibuat dan bersifat visual. Walaupun kelemahannya ada pada subjektivitas si pembuat. Contoh yang lain adalah sebagai berikut :

Tabel 1 Rangkuman diskusi pada sesi brainstorming fishbone diagram


Possible Root Cause MAN Kemampuan karyawan melakukan tugas (cedera lama, fisik) Cedera personil teridentifikasi saat briefing K3*. Pelaksanaan tugas tidak tergantung pada fisik. Discussion Root Cause?

Tidak tahu prosedur K3

Awareness training di OJT sudah disediakan

Tidak mengikuti prosedur K3

Karyawan baru di-briefing K3 dan sistem penalti

Tidak menghadiri training K3 MACHINE / TOOLS Tinggi tempat kerja rendah

Pelatihan K3 diberikan dalam orientasi dan OJT

Bukan akar masalah jika metode dapat diubah

Part sudah usang

Tidak ada part usang menyebabkan insiden

Tidak ada tanda bahaya METHOD Prosedur tidak diperbaharui

Tanda bahaya sudah ada

Review prosedur rutin setahun sekali

Tidak ada prosedur K3

Prosedur meliputi prosedur K3 untuk semua kegiatan

Prosedur K3 salah

Prosedur sudah ditinjau oleh supervisor, manajer, dept. head

Prosedur K3 membingungkan

Prosedur sudah ditinjau oleh supervisor, manajer, dept. head

Prosedur terlalu manual

Bag dipegang operator, perlu memastikan tidak ada kebocoran oli, dll.

Tidak ada komunikasi K3 MATERIAL APD** yang salah

Disertakan dalam OJT

Verifikasi dengan vendor sebelum membeli

Material yang tidak bisa diandalkan bahan (bag kimia)

Bag plastik rentan robek bila menyentuh objek tajam

Kualitas rendah (pipa, APD, bag kimia)

Verifikasi dengan vendor sebelum membeli

Material yang digunakan salah (pipa, APD, bag kimia)

Verifikasi dengan vendor sebelum membeli

Tidak ada APD yang disediakan

APD sudah disediakan untuk semua aktivitas berbahaya

*) K3 = Kesehatan dan Keselamatan Kerja **) APD = Alat Pelindung Diri

Dari contoh di atas, fishbone diagram dapat menemukan akar permasalahan, yaitu kabut oli selama ini dibersihkan dengan ditampung di bag plastik yang rentan robek dan selama tidak ada bag plastik ada kemungkinan oli menetes jika kran rusak, solusi bisa dengan menambahkan containment tray atau safety cabinet yang permanen menempel pada pipa. Jika masalah rumit dan waktunya memungkinkan, kita bisa meninggalkan fishbone diagram di dinding selama beberapa hari untuk membiarkan ide menetas dan membiarkan orang yang lalu lalang turut berkontribusi. Jika fishbone diagram terlihat timpang atau sempit, kita bisa mengatur ulang fishbone diagram dengan kategori sebab utama yang berbeda. Kunci sukses fishbone diagram adalah terus bertanya Mengapa?, lihatlah diagram dan carilah pola tanpa banyak bicara, dan libatkan orang-orang di grass root yang terkait dengan masalah karena biasanya mereka lebih mengerti permasalahan di lapangan.