Anda di halaman 1dari 165

LAPORAN TUGAS AKHIR

PEMBANGUNAN JARINGAN KOMPUTER ANTAR SEKOLAH DENGAN TEKNOLOGI WIRELESS STUDI KASUS SEKOLAH DI KECAMATAN TIRTOMOYO KABUPATEN WONOGIRI

Disusun Oleh :

Nama NIM Program Studi

: Joko Mukti : A11.2002.01221 : Teknik Informatika

FAKULTAS ILMU KOMPUTER UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO SEMARANG 2010

LAPORAN TUGAS AKHIR


PEMBANGUNAN JARINGAN KOMPUTER ANTAR SEKOLAH DENGAN TEKNOLOGI WIRELESS STUDI KASUS SEKOLAH DI KECAMATAN TIRTOMOYO KABUPATEN WONOGIRI
Laporan ini disusun guna memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan program studi Teknik Informatika S-1 pada Fakultas Ilmu Komputer Universitas Dian Nuswantoro

Disusun Oleh :

Nama NIM Program Studi

: Joko Mukti : A11.2002.01221 : Teknik Informatika

FAKULTAS ILMU KOMPUTER UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO SEMARANG 2010

PERSETUJUAN LAPORAN TUGAS AKHIR

Nama NIM Program Studi Fakultas Judul Tugas Akhir

: Joko Mukti : A11.2002.01221 : Teknik Informatika : Ilmu Komputer : Pembangunan Jaringan Komputer antar Sekolah dengan Teknologi Wireless Studi Kasus Sekolah di Kecamatan Tirtomoyo Kabupaten Wonogiri

Tugas Akhir ini telah diperiksa dan disetujui, Semarang, 5 Januari 2010

Menyetujui : Pembimbing

Mengetahui : Dekan Fakultas Ilmu Komputer

Dr. Eng. Yuliman Purwanto, M.Eng

Dr. Eng. Yuliman Purwanto, M.Eng

PENGESAHAN DEWAN PENGUJI

Nama NIM Program Studi Fakultas Judul Tugas Akhir

: Joko Mukti : A11.2002.01221 : Teknik Informatika : Ilmu Komputer : Pembangunan Jaringan Komputer antar Sekolah dengan Teknologi Wireless Studi Kasus Sekolah di Kecamatan Tirtomoyo Kabupaten Wonogiri

Tugas Akhir ini telah diujikan dan dipertahankan dihadapan Dewan Penguji pada sidang tugas akhir tangggal 10 Februari 2010. Menurut pandangan kami, tugas akhir ini memadai dari segi kualitas maupun kuantitas untuk tujuan penganugrahan gelar Sarjana Komputer (S.Kom.) Semarang, 10 Februari 2010 Dewan Penguji :

Ir. Lilik Eko Nuryanto, M.Kom Anggota

Edi Faisal, S.Kom., M.Kom Anggota

M. Arief Soeleman, M.Kom Ketua Penguji

PERNYATAAN KEASLIAN TUGAS AKHIR


Sebagai mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro, yang bertanda tangan di bawah ini saya: Nama NIM : Joko Mukti : A11.2002.01221

Menyatakan bahwa karya ilmiah saya yang berjudul: PEMBANGUNAN JARINGAN KOMPUTER ANTAR SEKOLAH DENGAN TEKNOLOGI WIRELESS STUDI KASUS SEKOLAH DI KECAMATAN TIRTOMOYO KABUPATEN WONOGIRI merupakan karya asli saya (kecuali cuplikan dan ringkasan yang masing-masing telah saya jelaskan sumbernya dan perangkat pendukung seperti peralatan jaringan dll). Apabila dikemudian hari, karya saya disinyalir bukan merupakan karya asli saya, yang disertai bukti-bukti yang cukup, maka saya bersedia untuk dibatalkan gelar saya beserta hak dan kewajiban yang melekat pada gelar tersebut. Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Pada tanggal : Semarang : 10 Februari 2010

Yang menyatakan

(Joko Mukti)

iv

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS


Sebagai mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro, yang bertanda tangan di bawah ini, saya: Nama NIM : Joko Mukti : A11.2002.01221

Demi mengembangkan Ilmu Pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Dian Nuswantoro Hak Bebas Royalti Non-Eksklusif (Non Exclusive Royalty-Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul: PEMBANGUNAN JARINGAN KOMPUTER ANTAR SEKOLAH DENGAN TEKNOLOGI WIRELESS STUDI KASUS SEKOLAH DI KECAMATAN TIRTOMOYO KABUPATEN WONOGIRI Dengan Hak Bebas Royalti Non-Eksklusif ini Universitas Dian Nuswantoro berhak untuk menyimpan, mengcopy ulang (memperbanyak), menggunakan, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data (database), mendistribusikannya dan menampilkan/mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta. Saya bersedia untuk menanggung secara pribadi, tanpa melibatkan Universitas Dian Nuswantoro, segala bentuk tuntutan hukum yang timbul atas pelanggaran Hak Cipta dalam karya ilmiah saya ini. Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Pada tanggal : Semarang : 10 Februari 2010

Yang menyatakan

(Joko Mukti)

UCAPAN TERIMA KASIH


Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir dengan judul Pembangunan Jaringan Komputer antar Sekolah dengan Teknologi Wireless Studi Kasus Sekolah di Kecamatan Tirtomoyo Kabupaten Wonogiri. Penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada : 1. Dr. Ir. Edi Noersasongko, M.Kom, selaku Rektor Universitas Dian Nuswantoro. 2. Dr. Eng. Yuliman Purwanto, M.Eng, selaku Dekan Fasilkom Universitas Dian Nuswantoro dan juga sebagai Pembimbing tugas akhir yang telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan sampai penulisan tugas akhir ini selesai. 3. Ayu Pertiwi, S.Kom.,M.Kom, selaku Ka.Prodi Teknik Informatika

Universitas Dian Nuswantoro dan juga sebagai dosen wali penulis. 4. Dosen-dosen pengampu di Fasilkom Teknik Informatika Universitas Dian Nuswantoro yang telah memberikan ilmu dan pengalamannya, sehingga penulis dapat mengimplementasikan ilmu yang telah disampaikan. 5. Ruri Suko Basuki, S.Kom.,M.Kom selaku ketua umum Forum Komunitas Tirtomoyo Online (FKTO) yang telah melibatkan penulis secara langsung dalam pembangunan jaringan komputer dengan teknologi wireless yang menghubungkan antar sekolah di wilayah kecamatan Tirtomoyo kabupaten Wonogiri. 6. Ayah dan Ibu (Sutarno, S.Pd dan Sri Darini), Kakak dan Adik (Ruri SB, Agustina, Niken Mie Wahyuni) serta seluruh keluarga tercinta di Wonogiri yang telah memberikan dorongan moral dan material serta doa kepada penulis. Semarang, Januari 2010

Penulis

vi

ABSTRAK
Perbedaan fasilitas dan infrastruktur pendidikan antara daerah dengan kota merupakan salah satu faktor penyebab tertinggalnya informasi yang sampai ke daerah menjadi lebih lambat dibandingkan dengan kota, hal ini menyebabkan terjadinya kesenjangan kualitas pendidikan antara daerah dan kota. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan dukungan infrastruktur teknologi informasi yang berfungsi sebagai media tersampaikannya informasi secara up to date. Pembangunan jaringan komputer antar sekolah dengan teknologi wireless di kecamatan Tirtomoyo kabupaten Wonogiri berangkat dari visi, misi dan tujuan dari masyarakat Tirtomoyo yang tergabung dalam Forum Komunitas Tirtomoyo Online (FKTO). Visi FKTO adalah memajukan pendidikan di Tirtomoyo melalui teknologi informasi. Teknologi wireless merupakan salah satu teknologi alternatif yang digunakan untuk menghubungkan jaringan komputer antar sekolah di kecamatan Tirtomoyo. Pembangunan jaringan komputer antar sekolah dengan teknologi wireless ini merupakan percepatan pembangunan infrastrukur untuk mendapatkan informasi yang cepat dan akurat melalui jaringan intranet yang terbentuk maupun jaringan internet untuk koneksi ke jaringan pendidikan nasional. Sekolah-sekolah yang saling terhubung dapat berbagi informasi dengan sekolah lain, dengan adanya komunikasi data antar sekolah ini maka dapat meminimalkan kesenjangan maupun kualitas pendidikan daerah dan kota. Laporan tugas akhir ini akan menguraikan tahap-tahap pembangunan jaringan komputer dengan teknologi wireless di kecamatan Tirtomoyo kabupaten Wonogiri. Tahapan tersebut meliputi site survey, tahap perencanaan jaringan yang terdiri dari pemetaan lokasi, penentuan topologi, penentuan alat dan perhitungan fresnel zone untuk menentukan ketinggian antena, tahap implementasi jaringan yang merupakan proses installasi perangkat jaringan. Pada tahap akhir dilakukan pengujian jaringan untuk memastikan layak tidaknya kualitas koneksi yang dihasilkan. Pengujian menggunakan utility dari perangkat yang digunakan dan dibandingkan dengan perhitungan link budget. Hal-hal yang telah dilakukan dan apa yang belum dilakukan pada pembangunan jaringan akan diulas pada bagian akhir laporan ini. Kata kunci : Jaringan komputer Wireless

xii + 152 halaman, 30 gambar, 29 tabel, 13 lampiran Daftar acuan : 19 (1998-2009)

vii

DAFTAR ISI
Halaman Sampul Dalam ..................................................................................... Halaman Persetujuan ........................................................................................... Halaman Pengesahan .......................................................................................... Halaman Pernyataan Keaslian Tugas Akhir ....................................................... Halaman Pernyataan Persetujuan Publikasi ........................................................ Halaman Ucapan Terima Kasih .......................................................................... Halaman Abstrak ................................................................................................. Halaman Daftar Isi .............................................................................................. Halaman Daftar Tabel ......................................................................................... Halaman Daftar Gambar ..................................................................................... Halaman Daftar Lampiran................................................................................... BAB I. PENDAHULUAN ............................................................................... 1.1. Latar Belakang Masalah .............................................................. 1.2. Rumusan Masalah ....................................................................... 1.3. Batasan Masalah.......................................................................... 1.4. Tujuan Penelitian ........................................................................ 1.5. Manfaat Penelitian ...................................................................... i ii iii iv v vi vii viii x xi xii 1 1 2 3 3 3 4 4 4 5 8 12 12 13 14 16 18 23 24 28 30 30 30 31 31 32

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................... 2.1. Pengertian Jaringan Komputer ................................................... 2.2. Klasifikasi Jaringan Komputer ................................................... 2.3. Topologi Jaringan Komputer ..................................................... 2.4. Protokol Jaringan Komputer ...................................................... 2.5. Jaringan Wireless ....................................................................... 2.6. Klasifikasi Jaringan Wireless ..................................................... 2.7. Protokol IEEE 802.xx ................................................................ 2.8. Standar WLAN 802.11............................................................... 2.9. Topologi Jaringan Wireless ........................................................ 2.10. Komponen-Komponen Jaringan Wireless ................................. 2.11. Media Transmisi Jaringan Wireless ........................................... 2.12. Radio Frequency (RF) ............................................................... 2.13. Wi-Fi (Wireless Fidelity) ........................................................... BAB III. METODE PENELITIAN ................................................................... 3.1. Obyek Penelitian ......................................................................... 3.2. Jenis dan Sumber Data ................................................................ 3.3. Metode Pengumpulan Data ......................................................... 3.4. Materi Penelitian ......................................................................... 3.5. Metode Penelitian........................................................................

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .................................. 35 4.1. Koordinat Lokasi ......................................................................... 35 4.2. Pemetaan Lokasi ......................................................................... 36 viii

4.3. 4.4. 4.5. 4.6.

Line of Sight (LOS) ..................................................................... 37 Perancangan Wireless Network ................................................... 40 Implementasi Wireless Network.................................................. 43 Pengujian Wireless Network ....................................................... 57

BAB V. PENUTUP ........................................................................................... 70 5.1. Kesimpulan ................................................................................ 70 5.2. Saran ........................................................................................... 70 DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 71 LAMPIRAN ........................................................................................................ 73

ix

DAFTAR TABEL
Tabel 2.1. Fungsi dan Karakteristik OSI Layer ............................................ Tabel 2.2. Fungsi dan Karakteristik TCP / IP ............................................... Tabel 2.3. Standar Kategori IEEE 802 .......................................................... Tabel 2.4. Jenis-jenis material yang mempengaruhi Sinyal .......................... Tabel 2.5. Kelebihan dan Kelemahan Sinyal RF .......................................... Tabel 2.6. Spesifikasi dari 802.11 ................................................................. Tabel 3.1. Spesifikasi Peralatan ................................................................... Tabel 4.1. Koordinat Lokasi.......................................................................... Tabel 4.2. Jarak antar Titik Koneksi ............................................................. Tabel 4.3. Hasil Perhitungan Fresnel Zone................................................... Tabel 4.4. Tinggi Tower dan Jenis Antena ................................................... Tabel 4.5. Classless Inter Domain Routing .................................................. Tabel 4.6. Site Detail Jaringan ...................................................................... Tabel 4.7. Deskripsi Perangkat Keras di Kantor kecamatan Tirtomoyo....... Tabel 4.8. Konfigurasi IP Address di Kantor kecamatan Tirtomoyo ........... Tabel 4.9. Deskripsi Perangkat Keras di SMK Sultan Agung ...................... Tabel 4.10. Konfigurasi IP Address di SMK Sultan Agung .......................... Tabel 4.11. Deskripsi Perangkat Keras di SMP Kanisius .............................. Tabel 4.12. Konfigurasi IP Address di SMP Kanisius ................................... Tabel 4.13. Deskripsi Perangkat Keras di SMP Sultan Agung ...................... Tabel 4.14. Konfigurasi IP Address di SMP Sultan Agung........................... Tabel 4.15. Deskripsi Perangkat Keras di SMA Kanisius ............................. Tabel 4.16. Konfigurasi IP Address di SMA Kanisius .................................. Tabel 4.17. Deskripsi Perangkat Keras di SMP Negeri 1 .............................. Tabel 4.18. Konfigurasi IP Address di SMP Negeri 1 ................................... Tabel 4.19. Deskripsi Perangkat Keras di SMK Muhamadiyah 6 ................. Tabel 4.20. Konfigurasi IP Address di SMK Muhamadiyah 6 ...................... Tabel 4.21. Deskripsi Perangkat Keras di SMP Negeri 2 .............................. Tabel 4.22. Klasifikasi SNR Margin .............................................................. 9 10 14 23 25 29 34 35 36 38 39 41 42 44 46 46 48 48 50 51 51 52 53 53 54 55 56 57 60

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1. Topologi Bus ................................................................................ Gambar 2.2. Topologi Ring............................................................................... Gambar 2.3. Topologi Star ............................................................................... Gambar 2.4. Topologi Independent Basic Service Set ...................................... Gambar 2.5. Topologi Basic Service Set ........................................................... Gambar 2.6. Topologi Extended Service Set ..................................................... Gambar 2.7. Access Point ................................................................................. Gambar 2.8. Pigtail dan Wireless Card ............................................................ Gambar 2.9. Antena Omnidirectional ............................................................... Gambar 2.10. Antena Directional Yagi............................................................... Gambar 2.11. Antena Grid Directional .............................................................. Gambar 2.12. Bridge ........................................................................................... Gambar 2.13. Switch / HUB ................................................................................ Gambar 2.14. Router ........................................................................................... Gambar 2.15. Amplitudo, Frekuensi, dan Interval .............................................. Gambar 2.16. Difraksi ......................................................................................... Gambar 2.17. Interfensi Konstruktif dan Destruktif ........................................... Gambar 2.18. Line of Sight (LOS) ...................................................................... Gambar 2.19. Fresnel Zone ................................................................................. Gambar 2.20. Logo Wi-Fi ................................................................................... Gambar 4.1. Pemetaan Lokasi .......................................................................... Gambar 4.2. Topologi Jaringan ......................................................................... Gambar 4.3. Implementasi Wireless AP di Kantor Kecamatan ........................ Gambar 4.4. Implementasi Wireless AP di SMK Sultan Agung ...................... Gambar 4.5. Implementasi Wireless AP di SMP Kanisius ............................... Gambar 4.6. Implementasi Wireless AP di SMP Sultan Agung ....................... Gambar 4.7. Implementasi Wireless AP di SMA Kanisius .............................. Gambar 4.8. Implementasi Wireless AP di SMP Negeri 1 ............................... Gambar 4.9. Implementasi Wireless AP di SMK Muhamadiyah 6 .................. Gambar 4.10. Pointing Antena di SMP Negeri 2 ............................................... 6 6 7 16 17 17 18 19 20 20 21 21 22 22 24 25 26 27 27 28 36 40 45 47 49 50 52 54 55 57

xi

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Lampiran 2. Lampiran 3. Lampiran 4. Lampiran 5. Lampiran 6. Lampiran 7. Lampiran 8. Lampiran 9. Lampiran 10. Lampiran 11. Lampiran 12. Lampiran 13. Perhitungan Fresnel Zone ..................................................... Konfigurasi Access Point (AP) Mikrotik RB 433 dan Router Mikrotik RB 450 di Kantor Kecamatan ................... Konfigurasi Access Point (AP) Mikrotik RB 411 dan PC Router Mikrotik x86 di SMK Sultan Agung .................. Konfigurasi Access Point (AP) Mikrotik RB 411 dan PC Router Mikrotik x86 di SMP Kanisius ........................... Konfigurasi Access Point (AP) Senao dan PC Router Mikrotik x86 di SMP Sultan Agung ..................................... Konfigurasi Access Point (AP) Senao dan PC Router Mikrotik x86 di SMA Kanisius ............................................ Konfigurasi Access Point (AP) Senao dan PC Router Mikrotik x86 di SMP Negeri 1 ............................................. Konfigurasi Access Point (AP) Ubiquity PicoStation2 di SMK Muhamadiyah 6 ...................................................... Konfigurasi PC Router Mikrotik x86 di SMP Negeri 2 ....... Spesifikasi Access Point, Router Board, dan Antena. .......... Estimasi Biaya Pembangunan Jaringan Wireless. ................ Foto-foto Kegiatan Pembangunan Jaringan Wireless. .......... Surat Keterangan ................................................................. 73 77 97 106 112 118 124 129 133 141 148 149 152

xii

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG MASALAH Sektor pendidikan di Indonesia merupakan salah satu sektor penting dan memerlukan perhatian khusus untuk pengembangannya. Pendidikan di Indonesia bertujuan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan lebih baik serta dapat mengembangkan kemampuannya lebih lanjut dalam dunia kerja atau pendidikan yang lebih tinggi. Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dalam hal ini mempunyai peran dalam mengelola dan merencanakan pendidikan di Indonesia, untuk menjalankan perannya Depdiknas membutuhkan suatu pengelolaan dan pengiriman data untuk penyajian informasi secara cepat dan tepat yang berkaitan dengan layanan pendidikan. Perbedaan fasilitas dan infrastruktur pendidikan antara daerah dengan kota merupakan salah satu faktor penyebab tertinggalnya informasi yang sampai ke daerah menjadi lebih lambat dibandingkan dengan kota, hal ini tentunya akan menyebabkan kesenjangan kualitas pendidikan antara daerah dan kota. Hal ini menjadikan beberapa perantau yang sukses dari kecamatan Tirtomoyo, kabupaten Wonogiri, provinsi Jawa Tengah bertemu dan berkumpul melalui media elektronik (internet) sehingga terbentuk Forum Komunikasi Tirtomoyo Online (FKTO) pada bulan Maret 2008. Visi FKTO adalah memajukan pendidikan di Tirtomoyo melalui teknologi informasi agar tidak tertinggal dengan daerah lain terutama di kota. Untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan dukungan informasi yang up to date. Terdapat beberapa kendala untuk mewujudkan tersampaikannya informasi yang up to date yaitu dukungan infrastruktur yang belum memadai, hal ini disebabkan provider telekomunikasi masih sangat terbatas, bahkan Telkom belum masuk di wilayah kecamatan Tirtomoyo. Sementara itu dukungan Depdiknas melalui Jaringan Pendidikan Nasional (Jardiknas) hanya sampai pada

wilayah kota kabupaten. Oleh karena itu FKTO mendorong percepatan pembangunan infrastruktur teknologi informasi dengan membangun jaringan komputer yang menghubungkan antar sekolah dengan menggunakan teknologi wireless dengan biaya swadaya. Awal tahun 2009 penulis beserta team dari FKTO mengadakan survey lapangan dengan objek semua sekolah SLTP dan SLTA di lingkungan kecamatan Tirtomoyo, dari hasil survey digambarkan untuk pembangunannya dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok pertama disebut inner ring dan kelompok 2 disebut dengan outter ring. Kelompok inner ring ini merupakan area prioritas utamanya karena letak geografis cenderung lebih mudah diaplikasikan terlebih dahulu, disamping itu mengingat biaya development bukan dari APBD maka perlu dilakukan secara bertahap. Setelah inner ring jadi maka local contentnya diambilkan dari server Jardiknas, hal ini sudah mendapatkan ijin dari admin Jardiknas. Hal tersebut di atas merupakan gambaran mengapa sekolah-sekolah kecamatan Tirtomoyo perlu membangun infrastruktur jaringan komputer untuk mendapatkan informasi yang up to date. Karena melihat letak geografis antar sekolah yang berjauhan serta provider telekomunikasi yang masih terbatas, maka solusi yang tepat jika komunikasi antar sekolah diimplementasikan dengan teknologi wireless. 1.2. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang yang dijelaskan di atas, maka dapat diambil suatu rumusan masalah yaitu : Tidak terjadi pemerataan Jaringan Pendidikan Nasional (Jardiknas) antar wilayah di daerah dan kota, terutama daerah dengan infrastruktur yang tidak memadai. Bagaimana penerapan suatu jaringan komputer dengan teknologi wireless yang menghubungkan antar sekolah di kecamatan Tirtomoyo, sebagai solusi untuk mempercepat pemerataan jaringan pendidikan nasional.

1.3. BATASAN MASALAH Untuk mengantisipasi pembahasan yang terlalu melebar maka perlu adanya pembatasan masalah yang penulis fokuskan pada implementasi jaringan wireless untuk menghubungkan antar sekolah di kecamatan Tirtomoyo kabupaten Wonogiri. 1.4. TUJUAN PENELITIAN Tujuan dari penelitian ini adalah mendukung program Jardiknas dengan membangun jaringan komputer untuk menghubungkan antar sekolah di kecamatan Tirtomoyo kabupaten Wonogiri menggunakan teknologi wireless. 1.5. MANFAAT PENELITIAN Manfaat dari penelitian ini dapat dirasakan dari berbagai segi yang berbeda : 1.5.1. Bagi Penulis Penulis dapat mengetahui lebih dalam tentang jaringan komputer dengan teknologi wireless, bagaimana menganalisa infrastruktur yang harus dibangun, merancang jaringan dan dapat menerapkan ilmu yang telah didapat di bangku perkuliahan selama menjalankan penelitian. 1.5.2. Bagi Akademik Tugas akhir ini dapat dijadikan sumber acuan dalam melakukan penelitian dengan tema yang hampir sama. 1.5.3. Bagi Dinas Pendidikan Kabupaten Wonogiri Akan membantu mempercepat program Jardiknas dan pengelolaan layanan pendidikan di wilayah kabupaten Wonogiri, khususnya wilayah kecamatan Tirtomoyo.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Jaringan Komputer Jaringan komputer adalah sebuah sistem yang terdiri atas dua atau lebih komputer dan perangkat jaringan lainnya yang bekerja bersama-sama untuk mencapai suatu tujuan yang sama. Tujuan dari jaringan komputer adalah membagi sumber daya, komunikasi dan akses informasi [1]. Jaringan komputer dapat pula diartikan sebagai kumpulan sejumlah terminal komunikasi yang berada di berbagai lokasi yang terdiri dari lebih satu komputer yang saling berhubungan [2]. 2.2. Klasifikasi Jaringan Komputer Klasifikasi jaringan komputer yang dikelompokkan berdasarkan keluasan area dan jumlah komputer yang digunakan terdiri dari Local Area Network (LAN), Medium Area Network (MAN) dan Wide Area Network (WAN) [3]. 2.2.1. Local Area Network (LAN) Local Area Network (LAN) adalah sejumlah komputer yang saling dihubungkan bersama di dalam satu area tertentu yang tidak begitu luas, seperti di dalam satu kantor atau gedung. Secara garis besar terdapat dua tipe jaringan atau LAN, yaitu jaringan peer to peer dan jaringan client server. Pada jaringan peer to peer, setiap komputer yang terhubung ke jaringan dapat bertindak baik sebagai workstation maupun server. Sedangkan pada jaringan client server hanya satu komputer yang bertugas sebagai server dan komputer lain berperan sebagai workstation [4]. 2.2.2. Medium Area Network (MAN) Medium Area Network (MAN) dapat diartikan sebagai arsitektur jaringan yang di dalamnya terdapat dua atau lebih jaringan LAN yang dihubungkan menjadi sebuah jaringan lokal. Pada jaringan jenis MAN

komputer yang berada antar lantai dalam sebuah gedung, antar gedung maupun antar kota dapat saling terhubung [5]. 2.2.3. Wide Area Network (WAN) Wide Area Network (WAN) merupakan arsitektur jaringan yang memiliki cakupan paling luas, jangkauannya mencakup daerah geografis yang luas, seringkali mencakup sebuah negara bahkan benua. WAN terdiri dari kumpulan mesin-mesin yang bertujuan untuk menjalankan program-program (aplikasi) pemakai [3]. Media transmisi yang digunakan dalam jaringan komputer dapat menggunakan kabel untuk LAN maupun MAN yang jaraknya masih berdekatan, sarana telepon, jalur satelit, dan menggunakan teknologi wireless yang jaraknya berjauhan dan tidak memungkinkan menggunakan kabel [5]. 2.3. Topologi Jaringan Komputer Topologi jaringan komputer adalah suatu cara menghubungkan komputer yang satu dengan komputer lainnya sehingga membentuk jaringan. Topologi jaringan yang biasa digunakan adalah bus, ring, dan star. Jenis topologi yang dipilih akan mempengaruhi kecepatan komunikasi. Oleh karena itu perlu dicermati kelebihan dan kekurangan masing-masing topologi berdasarkan karakteristiknya [3]. 2.3.1. Topologi Bus Topologi bus merupakan segmen backbone tunggal melalui kabel lurus panjang, dimana semua host dikoneksikan langsung. Topologi bus menggunakan metode unicast, multicast dan broadcast. Unicast adalah komunikasi antara satu pengirim dengan satu penerima dalam jaringan. Multicast adalah komunikasi antara satu pengirim dengan banyak penerima dalam jaringan. Sedangkan pada Broadcast, setiap titik akan menerima dan menyimpan frame yang disalurkan. Kelebihan jaringan topologi bus adalah harganya lebih murah, karena harga kabel yang digunakan lebih murah dan tidak dibutuhkan konsentrator. Kelemahan jaringan topologi bus adalah apabila terjadi kabel putus, semua

komputer tidak dapat digunakan, serta tidak ada manajemen komunikasi data bila terjadi tabrakan data [3].

Gambar 2.1. Topologi Bus 2.3.2. Topologi Ring Topologi ring menghubungkan komputer satu ke komputer

selanjutnya, dengan komputer terakhir terhubung ke komputer yang pertama. Pada topologi ring setiap komputer terhubung ke komputer selanjutnya dalam ring, dan setiap komputer mengirim pesan yang diterima dari komputer sebelumnya [6].

Gambar 2.2. Topologi Ring Kelebihan jaringan topologi ring adalah tidak ada komputer yang memonopoli jaringan, karena setiap komputer mempunyai hak akses yang sama terhadap jaringan. Kelebihan yang lain adalah data mengalir dalam satu arah sehingga terjadinya collision dapat dihindarkan. Kelemahan topologi ring

adalah apabila ada satu komputer dalam ring yang gagal berfungsi, maka akan mempengaruhi keseluruhan jaringan. Pada topologi ini sulit untuk mengatasi kerusakan dalam jaringan dan ketika menambah atau mengurangi komputer akan mengganggu jaringan. Kelemahan yang lain dalam topologi ring adalah sulit untuk melakukan konfigurasi ulang [6]. 2.3.3. Topologi Star Topologi star menghubungkan semua kabel dari komputer-komputer ke lokasi pusat (central location), dimana semuanya terhubung ke suatu alat yang dinamakan hub. Topologi ini merupakan susunan yang menggunakan lebih banyak kabel daripada bus dan ring karena semua komputer dan perangkat terhubung ke central point. Jadi bila ada salah satu komputer atau perangkat yang mengalami kerusakan maka tidak akan mempengaruhi komputer lain dalam jaringan [6].

Gambar 2.3. Topologi Star Kelebihan dari topologi star adalah sanggup memuat banyak workstation dalam satu jaringan LAN, tabrakan data sangat jarang terjadi sehingga transfer data akan lebih cepat. Kelemahan dari topologi star adalah lebih boros kabel serta memerlukan penanganan khusus dan kontrol terpusat (hub) [5].

2.4. Protokol Jaringan Komputer Protokol merupakan sekumpulan aturan yang mendefinisikan beberapa fungsi yang ada dalam sebuah jaringan komputer seperti pengiriman pesan, data, informasi dan fungsi lain yang harus dipenuhi oleh sisi pengirim (transmitter) dan penerima (receiver) agar komunikasi dapat berlangsung dengan benar. Protokol juga berfungsi untuk memungkinkan dua atau lebih komputer dapat

berkomunikasi dengan bahasa yang sama [2]. 2.4.1. OSI Layer Kompleknya tugas-tugas yang harus disediakan dan dilakukan oleh suatu jaringan komputer, maka tidak cukup dengan hanya satu standard protokol saja. Tugas yang komplek tersebut harus dibagi menjadi bagianbagian yang lebih dapat diatur dan diorganisasikan sebagai suatu arsitektur komunikasi. Menanggapi hal tersebut International Standard Organization (ISO) pada tahun 1977 membentuk suatu komite untuk mengembangkan suatu arsitektur jaringan. Hasil dari komite tersebut adalah model referensi OSI (Open Systems Interconnection) [7]. Lapisan protokol dalam jaringan komputer atau lebih dikenal dengan OSI layer dibagi atas tujuh lapisan. Urutan lapisan dari yang paling bawah ke yang paling tinggi adalah physical layer, link layer, network layer, transport layer, session layer, presentation layer dan application layer. Dari ketujuh lapisan tersebut hanya physical layer yang merupakan perangkat keras selebihnya merupakan perangkat lunak. Physical layer merupakan media penghubung untuk mengirimkan informasi digital dari satu komputer ke komputer lainnya yang secara fisik dapat kita lihat [8]. Lapisan OSI layer masing-masing memiliki tugas yang berbeda satu sama lain. Fungsi dan karakteristik OSI layer mulai dari lapisan yang paling bawah hingga lapisan paling tinggi dapat dilihat dalam Tabel 2.1 [9].

Tabel 2.1. Fungsi dan karakteristik OSI Layer


LAYER NAMA FUNGSI
-

Application

Presentation

Session

Transport

Network

Link

Physical

Menetapkan interface proses user untuk transfer data dan komunikasi dalam jaringan Memberikan layanan standarisasi seperti virtual terminal, transfer file, email dan akses suatu komputer atau layanan. Menangani perbedaan format data diantara sistem-sistem yang tidak sama. Menetapkan arsitektur independen format transfer data. Menyelenggarakan encode dan decode data, encrypt dan decrypt data, compress dan decompress data. Mengelola sesi dan dialog user. Mengontrol pembentukan dan terminasi link logis antar user. Melaporkan error layer lebih tinggi. Mengelola penyampaian pesan end to end dalam jaringan. Menyelanggarakan penyampaian paket yang reliabel dengan memberikan mekanisme recovery error dan flow conrol. Menyelenggarakan penyampaian paket connectionless oriented Menetapkan bagaimana data ditransfer diantara device. Meroutekan paket mengikuti address untuk device. Menyajikan mekanisme flow control dan congestion control untuk mencegah penyusutan resource jaringan. Menetapkan prosedur untuk operasi link komunikasi Menyusun frame untuk paket. Mendeteksi dan mengoreksi error transmisi paket. Memberikan pelayanan fisik dalam pengiriman data melalui device jaringan. Memberikan interface diantara media dan device jaringan. Menetapkan karakteristik optik, elektris dan mekanis. Melakukan komunikasi peer to peer.

10

2.4.2. TCP / IP Selain referensi model arsitektur protokol OSI, terdapat model arsitektur protokol yang umum digunakan yaitu TCP / IP (Transfer Control Protokol / Internet Protocol). Arsitektur TCP / IP lebih sederhana daripada tumpukan protokol OSI, yaitu berjumlah 5 lapisan protokol. Terdapat beberapa lapisan pada model OSI yang dijadikan satu pada arsitektur TCP / IP. Fungsi dan karakteristik TCP / IP dapat dilihat dalam Tabel 2.2 [7]. Tabel 2.2. Fungsi dan Karakteristik Lapisan TCP / IP
NAMA FUNGSI
-

Application

Transport (End-to-End)

Internetwork

Network Access/ Data link Physical

Menyediakan komunikasi antar proses atau aplikasi pada host yang berjauhan namun terhubung pada jaringan. Menyediakan layanan transfer end to end. Lapisan ini juga termasuk mekanisme untuk menjamin kehandalan transmisi datanya. Layanan ini tentu saja akan menyembunyikan segala hal yang terlalu detail untuk lapisan di atasnya. Fokus pada pemilihan jalur (routing) data dari host sumber ke host tujuan yang melewati satu atau lebih jaringan yang berbeda dengan menggunakan router. Mendefinisikan antarmuka logika antara sistem dan jaringan. Mendefinisikan karakteristik dari media transmisi, pensinyalan dan skema pengkodean sinyal

2.4.2.1. Keunggulan TCP / IP TCP / IP memiliki beberapa keunggulan diantaranya adalah : open protokol standar independen terhadap perangkat keras komputer, sistem operasi dan lain-lain; ideal untuk menyatukan mesin-mesin dengan perangkat keras dan lunak yang berbeda walaupun tidak terhubung internet; tidak tergantung pada perangkat keras jaringan tertentu, sehingga cocok untuk berbagai macam jaringan; cara pengalamatan bersama memungkinkan device TCP / IP mengidentifikasi secara unik device yang lain di seluruh jaringan walaupun merupakan jaringan global (dunia); protokol level tinggi

11

yang distandarkan untuk konsistensi, sehingga menyediakan servis user yang luas. 2.4.2.2. Pengalamatan TCP / IP Pengalamatan pada IP dibagi menjadi IP Privat dan IP Public. IP Privat digunakan dalam jaringan lokal saja, IP Privat dibagi dalam tiga kelas antara lain : Kelas A 10 Kelas B 172 Kelas C 192 168 1-255 1-255 16-31 1-255 1-255 1-255 1-255 1-255

IP Public adalah IP yang penggunaanya harus diregistrasikan dahulu, dengan IP Public komputer dapat dikenali di internet. Alamat IP terbagi ke dalam lima kelas yakni : Kelas A 1-126 Kelas B 128-191 Kelas C 192-223 Kelas D 224-239 Kelas E 240-255 1-255 1-255 1-255 1-255 1-255 1-255 1-255 1-255 1-255 1-255 1-255 1-255 1-255 1-255 1-255

Sebuah alamat IP terdiri dari dua bagian yaitu : Network ID dan Host ID. Network ID adalah host yang tersambung dalam satu jaringan fisik atau dapat pula dikatakan sebagai identitas alamat dari sebuah jalur. Semua alat yang terhubung pada jalur fisik yang sama harus memiliki network ID yang sama. Host ID merupakan identitas

12

bagi host. Dengan host ID bisa mengetahui bahwa IP tersebut merupakan bagian dari network mana dan kelas berapa. 2.5. Jaringan Wireless Jaringan wireless adalah jaringan komputer yang menggunakan frekuensi radio sebagai media transmisi data. Jaringan wireless sering juga disebut jaringan nirkabel (jaringan tanpa kabel). Wireless merupakan teknologi yang bertujuan untuk menggantikan kabel yang menghubungkan terminal komputer dengan jaringan, sehingga komputer dapat berpindah dengan bebas dan tetap dapat berkomunikasi dalam jaringan dengan kecepatan transmisi yang memadai [10]. Proses komunikasi tanpa kabel ini dimulai dengan bermunculannya peralatan berbasis gelombang radio, seperti walkie talkie, remote control, ponsel, dan peralatan radio lainnya, serta adanya kebutuhan untuk menjadikan komputer sebagai barang yang mudah dibawa (mobile). Hal-hal tersebut akhirnya mendorong pengembangan teknologi wireless untuk jaringan komputer. Teknologi jaringan wireless memungkinkan untuk berkomunikasi, mengakses aplikasi dan informasi tanpa menggunakan kabel. Teknologi wireless

menyediakan kebebasan mobile dan kemampuan untuk melakukan komunikasi data antar bagian bangunan yang berbeda, antar kota, atau hampir di seluruh tempat dunia [11]. 2.6. Klasifikasi Jaringan Wireless Klasifikasi jaringan wireless dibagi atas empat jenis, yaitu Wireless Personal Area Network (WPAN), Wireless Local Area Network (WLAN), Wireless Metropolitan Area Network (WMAN) dan Wireless Wide Area Network (WWAN). Hal yang membedakan jenis jaringan adalah jangkauan area atau lokasi jaringan tersebut [12]. 2.6.1. Wireless Personal Area Network (WPAN) Wireless Personal Area Network (WPAN) mewakili teknologi personal area network wireless seperti Bluetooth (IEEE 802.15) dan Infrared (IR). Jaringan ini mengizinkan hubungan peralatan personal dalam suatu area

13

berkisar 30 feet (1 feet = 12 inch). Infrared membutuhkan hubungan langsung dan jangkauan yang lebih pendek dibandingkan bluetooth. 2.6.2. Wireless Local Area Network (WLAN) Wireless Local Area Network (WLAN) adalah suatu sistem komunikasi data fleksibel yang dapat menggunakan teknologi inframerah atau frekuensi radio (RF) untuk mentransmisikan dan menerima informasi dengan perantaraan gelombang radio. Biasanya WLAN terdiri atas sebuah access point dan wireless LAN adapter yang diinstall pada personal komputer atau notebook [13]. 2.6.3. Wireless Metropolitan Area Network (WMAN) Teknologi Wireless Metropolitan Area Network (WMAN)

mengizinkan koneksi dari berbagai jaringan dalam suatu area metropolitan seperti bangunan-bangunan yang berbeda dalam suatu kota. 2.6.4. Wireless Wide Area Network (WWAN) Wireless Wide Area Network (WWAN) meliputi teknologi dengan daerah jangkauan yang luas seperti selular 2G, Cellular Digital Packet Data (CDPD), Global System for Mobile Communications (GSM), dan mobitex. 2.7. Protokol IEEE 802.xx Jaringan wireless semakin berkembang dan memiliki perkembangan teknologi yang semakin maju. Beberapa vendor telah menyediakan perangkat jaringan fisik yang semakin beragam dengan tujuan melakukan interkoneksi antar node-node untuk saling bertukar data maupun resource. Protokol yang dikenal dalam Wireless Local Area Network (WLAN) adalah protokol IEEE 802.xx [14]. IEEE 802.xx dengan angka awal 802 merupakan sub-komite yang bekerja untuk melakukan standarisasi jaringan baik lokal maupun metropolitan. Komite ini bertemu pada bulan Februari 1980, sehingga komite ini memeberikan nama proyek ini sebagai nama standar yang mereka bentuk. Angka 80 berasal dari angka tahun sedangkan 2 berasal dari angka pada bulan kedua yaitu Februari. Standar kategori IEEE 802 yang terus berkembang terlihat dalam Tabel 2.3.

14

Tabel 2.3. Standar Kategori IEEE 802 STANDAR 802.1 TOPIK LAN/MAN Management dan Media Acces Control Bridges Standar ini salah satunya menghasilkan algoritma spanning tree untuk bridge jaringan yang berfungsi menghindari loop bridge pada jaringan multibridge Logical Link Control (LLC) Standar ini menentukan operasi sublayer LLC dari layer data link model OSI. Sublayer LLC menyediakan interface antara sublayer MAC dan layer network. Standar 802.2 digunakan pada spesifikasi ethernet 802.3 CSMA/CD Standar ini digunakan pada jaringan dengan topologi bus Token Bus Token Ring Distributed Queue Dual bus (DQDB) Metropolitan Area Network (MAN) Broadband Local Area Network Fiber Optic LAN dan MAN Integrated Service LAN interface LAN/MAN security Wireless LAN Demand Priority Access Method Wireless PAN (Personal Area Network) Broadband Wireless Access

802.2

802.3 802.4 802.5 802.6 802.7 802.8 802.9 802.10 802.11 802.12 802.15 802.16

2.8. Standar WLAN 802.11 Pada tahun 1997 sebuah lembaga independen bernama Institute of Electrical and Electronic Engineers (IEEE) membuat standar WLAN pertama yang diberi kode 802.11. Peralatan yang sesuai standar 802.11 dapat bekerja pada frekuensi 2,4 GHz dan kecepatan transfer data (throughput) teoritis maksimal 2 Mbps. Standar 802.11 merupakan layer fisik yang menggunakan Frequency Hopping Spread Spectrum (FHSS) dan Direct Sequence Spread Spectrum (DSSS), sehingga memungkinkan untuk melakukan tune access point FHSS menjadi 15 pola hopping yang berlainan serta tidak menimbulkan interferensi satu dengan yang lain. Hal ini akan menjadikan 15 FHSS access point tersebut dapat beroperasi dengan efektif pada area yang sama. FHSS digunakan untuk

15

menangani masalah jaringan wireless outdoor dan point to point system karena lebih tahan terhadap interferensi yang biasa terjadi pada lingkungan outdoor [14]. 2.8.1. Standar 802.11a Institute of Electrical and Electronic Engineers (IEEE) pada akhir tahun 1999 membuat spesifikasi 802.11a yang menggunakan teknik berbeda. Frekuensi yang digunakan 5 Ghz, dan mendukung kecepatan transfer data teoritis maksimal sampai 54 Mbps. Keuntungan dari standar 802.11a adalah kapasitas cakupan mencapai 12 channel yang terpisah secara non overlapping, sehingga sangat mendukung aplikasi yang membutuhkan performa tinggi seperti streaming video. Kekurangan dari standar ini adalah terbatasnya cakupan range pancarnya yang disebabkan penggunaan pita frekuensi 5 GHz, cakupannya tidak lebih dari 50 meter, sehingga standar 802.11a memerlukan access point lebih banyak [14]. 2.8.2. Standar 802.11b Pada bulan Juli 1999 IEEE kembali mengeluarkan spesifikasi baru bernama 802.11b. Kecepatan transfer data teoritis maksimal yang dapat dicapai adalah 11 Mbps. Peralatan yang menggunakan standar 802.11b juga bekerja pada frekuensi 2,4 Ghz. Keuntungan dari standar 802.11b adalah mempunyai range lebih panjang dari 802.11a, cakupannya mencapai 100 meter, sehingga sangat efektif digunakan untuk mengembangkan LAN secara wireless. Salah satu kekurangan peralatan wireless yang bekerja pada frekuensi ini adalah kemungkinan terjadinya interferensi dengan cordless phone, microwave oven, atau peralatan lain yang menggunakan gelombang radio pada frekuensi sama [14]. 2.8.3. Standar 802.11g Tahun 2002 IEEE membuat spesifikasi baru yang dapat

menggabungkan kelebihan 802.11b dan 802.11a. Spesifikasi yang diberi kode 802.11g ini bekerja pada frekuensi 2,4 Ghz dengan kecepatan transfer data teoritis maksimal 54 Mbps. Keunggulan dari 802.11g adalah kompatibel dengan 802.11b, sehingga dapat saling dipertukarkan. Kekurangannya adalah adanya interferensi RF secara potensial dan keterbatasan dari tiga channel

16

yang tidak saling overlap pada standar 802.11g karena masih menggunakan frekuensi 2,4 GHz yang sarat dengan interferensi [14]. 2.9. Topologi Jaringan Wireless Standar IEEE 802.11 mendukung tiga topologi dasar untuk WLAN yaitu Independent Basic Service Set (IBSS), Basic Service Set (BSS), dan Extended Service Set (ESS) [15]. 2.9.1. Independent Basic Service Set (IBSS) Independent Basic Service Set (IBSS) juga dikenal sebagai konfigurasi independent atau ad hoc. Topologi IBSS mirip jaringan peer to peer dimana tidak ada satu node yang berfungsi sebagai server. Dalam topologi IBSS sejumlah node wireless akan berkomunikasi secara langsung satu dengan lainnya secara peer to peer [15]. Ad hoc merupakan mode jaringan WLAN yang sangat sederhana, karena tidak memerlukan access point untuk host dapat saling berinteraksi, setiap host cukup memiliki transmitter dan receiver wireless untuk berkomunikasi secara langsung satu sama lain seperti tampak pada Gambar 2.4. Kekurangan dari topologi ini adalah komputer tidak bisa berkomunikasi dengan komputer pada jaringan yang menggunakan kabel, selain itu, daerah jangkauan pada mode ini terbatas pada jarak antara kedua komputer tersebut [16].

Gambar 2.4. Topologi Independent Basic Service Set

17

2.9.2. Basic Service Set (BSS) Topologi Basic Service Set (BSS) disebut juga topologi jaringan infrastruktur. Basic service set setidaknya terdiri dari satu access point (AP) yang bertindak sebagai base station. AP berfungsi untuk sinkronisasi dan koordinasi, melakukan forwarding serta broadcasting paket data.

Gambar 2.5. Topologi Basic Service Set 2.9.3. Extended Service Set (ESS) Topologi Extended Service Set (ESS) merupakan penggunaan beberapa access point untuk memenuhi range area yang lebih luas. Metode ini terdiri dari dua atau lebih Basic Service Set (BSS) yang terhubung dalam satu jaringan kabel. ESS memungkinkan melakukan forwarding dari sebuah sel radio ke sel yang lain melalui jaringan kabel. Kombinasi access point dengan jaringan kabel tersebut akan membentuk Distribution System (DS).

Gambar 2.6. Topologi Extended Service Set

18

2.10. Komponen-Komponen Jaringan Wireless Komponen dalam jaringan wireless yang berupa fisik dan dapat dilihat terdapat dalam layer fisik, layer data link, dan layer network. Komponen yang terdapat dalam layer fisik adalah Access Point (AP), wireless LAN Interface, dan antena external (optional). Peralatan yang terdapat pada layer data link adalah bridge dan switch sedangkan pada layer network terdapat peralatan router. 2.10.1. Access Point (AP) Access Point (AP) merupakan perangkat yang menjadi sentral koneksi dari pengguna (user) ke Internet Service Provider (ISP), atau dari kantor cabang ke kantor pusat jika jaringannya adalah milik sebuah perusahaan. Fungsi dari AP adalah mengirim dan menerima data, sebagai buffer data antara WLAN dengan wired LAN, mengkonversi sinyal frekuensi radio (RF) menjadi sinyal digital yang akan disalukan melalui kabel atau disalurkan ke perangkat WLAN yang lain dengan dikonversi ulang menjadi sinyal frekuensi radio. Satu AP dapat melayani sejumlah user sampai 30 user, dengan semakin banyaknya user yang terhubung ke AP maka kecepatan yang diperoleh tiap user juga akan semakin berkurang [17].

Gambar 2.7. Access Point 2.10.2. Wireless LAN Interface Wireless LAN Interface merupakan peralatan yang dipasang di Mobile / Desktop PC, peralatan yang dikembangkan secara massal adalah dalam bentuk PCMCIA (Personal Computer Memory Card International

19

Association) card, PCI card maupun melalui port USB (Universal Serial Bus). Vendor wireless LAN pada umumnya merancang WLAN card tersebut untuk aplikasi dalam ruangan (indoor), tetapi ada beberapa tipe dan jenis wireless LAN card yang dapat digunakan untuk keperluan komunikasi jarak jauh, biasanya card jenis ini dirancang untuk disambungkan ke antena luar (eksternal) dengan menggunakan adapter yang biasa disebut dengan pigtail [17].

Pigtail

PCI Wireless LAN card.

PCMCIA

USB Wireless LAN

Gambar 2.8. Pigtail dan wireless LAN Card 2.10.3. Antena Antena merupakan media yang sangat vital dalam memaksimalkan coverage radio frequency. Antena mempunyai fungsi utama untuk memperluas cakupan area dan frekuensi radio dalam range 802.11 WLAN. Beberapa NIC radio dan access point mempunyai antena yang menyatu dan terintegrasi, tetapi ada beberapa peralatan WLAN mempunyai antena yang dapat dilepas dan dapat diganti-ganti. Terdapat beberapa tipe antena dalam jaringan wireless yaitu omnidirectional, directional yagi, dan parabolic. Tipe antena akan menentukan pola radiasi gelombang.

20

2.10.3.1. Antena Omnidirectional Tipe antena omnidirectional akan merambatkan sinyal RF ke segala arah dalam bidang horizontal, tetapi jarak daya pancarnya terbatas. Omnidirectional mempunyai range gain hingga 17 dBi, dan memiliki coverage yang luas sehingga dapat terjadi overlapping sel dengan beberapa access point. Penggunaan gain yang tinggi akan menambah range coverage area, hal ini akan mengurangi jumlah access point dalam sebuah kawasan.

Gambar 2.9. Antena Omnidirectional 2.10.3.2. Antena Directional Yagi Antena directional disebut juga antena yagi. Antena yagi hanya mentransmisikan serta menerima energi sinyal RF dalam satu arah. Antena yagi merupakan antena unidirectional dengan gain yang cukup tinggi antara 12 hingga 20 dBi.

Gambar 2.10. Antena Directional Yagi

21

2.10.3.3. Antena Parabolic Antena parabolic disebut juga antena grid directional. Antena parabolic memiliki gain paling tinggi yaitu 24 dBi, namun coverage area menyamping sangat terbatas. Berdasarkan sifatnya antena ini sangat baik digunakan untuk link point to point antar lokasi yang berjauhan.

Gambar 2.11. Antena Grid Directional 2.10.4. Bridge Bridge merupakan peralatan jaringan yang beroperasi pada layer data link. Bridge berfungsi untuk membagi jaringan tunggal ke dalam dua segmen jaringan, tetapi jika dilihat dari layer di atasnya keduanya masih tetap dalam satu jaringan, penggunaan bridge bertujuan untuk menjaga lalu lintas station agar tetap pada satu sisi bridge dan tidak langsung berhubungan dengan sisi yang lain.

Gambar 2.12. Bridge

22

2.10.5. Switch / HUB Switch / HUB merupakan peralatan dalam jaringan yang berfungsi menghubungkan setiap node yang akan terhubung dalam jaringan. Pada dasarnya switch memiliki fungsi sama seperti HUB, perbedaannya adalah HUB memiliki satu collision control untuk semua port, sedangkan switch memiliki collision control sesuai dengan jumlah port.

Gambar 2.13. Switch / HUB 2.10.6. Router Router merupakan peralatan yang berfungsi melakukan koneksi beberapa jaringan, sehingga membentuk internetwork yang sangat besar. Router memberikan pilihan jalur paket terbaik yang akan dikirim ke tujuan melalui jaringan. Router mempunyai fungsi kompleks, router dapat melakukan koneksi baik ke segmen terkecil jaringan atau ke koneksi jaringan yang lebih besar seperti WAN atau internet.

Gambar 2.14. Router

23

2.11. Media Transmisi Jaringan Wireless Media transmisi secara umum dikategorikan dalam dua kelompok yaitu saluran fisik dan non-fisik. Saluran fisik yaitu saluran yang mempunyai bentuk serta ukuran fisik seperti kabel dan serat optik, sedangkan saluran non-fisik yaitu saluran yang tidak berbentuk dan hanya tersedia di alam. Media transmisi yang digunakan dalam jaringan wireless termasuk dalam saluran non-fisik yaitu udara. Pada jaringan wireless, medium udara dibutuhkan untuk mendukung perambatan gelombang radio dan cahaya dari satu titik ke titik yang lain. Udara dapat berfungsi sebagai medium perambatan sinyal komunikasi wireless yang merupakan inti dari jaringan wireless. Udara merupakan saluran yang memungkinkan terjadinya aliran komunikasi antara perangkat komputer dan infrastruktur wireless Kualitas transmisi tergantung pada kuat atau lemahnya sinyal di udara maupun jarak sinyal sendiri. Hambatan yang mengganggu perambatan sinyal komunikai wireless antara lain hujan, salju, kabut, asap, pohon dan gedung yang tinggi. Hambatan tersebut akan memengaruhi perambatan dan performa jaringan wireless. Jenis-jenis hambatan dapat dilihat pada Tabel 2.4 [18]. Tabel 2.4. Jenis-jenis Material yang Mempengaruhi Sinyal Nama Bahan Kayu Bahan-bahan sintetis Asbes Air Tembok bata Keramik Bahan yang memantul Plat besi Hambatan Kecil Kecil Kecil Sedang Sedang Tinggi Sangat tinggi Sangat tinggi Contoh Ruangan dengan partisi kayu atau triplek Partisi dengan bahan plastik Langit-langit Aquarium Dinding Lantai keramik, tembok yang dilapisi keramik Cermin logam Filling cabinet, meja, lift

24

2.12. Radio Frequency (RF) Sinyal Radio Frequency (RF) merupakan gelombang elektromagnetik yang digunakan oleh sistem komunikasi untuk mengirim informasi melalui udara dari satu titik ke titik lain. Sinyal RF juga merupakan sarana umum untuk mengirim data melalui jaringan wireless. Sinyal RF merambat melalui antena pemancar pengirim dan penerima. Sinyal yang dipasok pada antena memiliki amplitudo, frekuensi, dan interval. Amplitudo mengindikasikan kekuatan sinyal. Ukuran untuk amplitudo biasanya berupa energi. Energi dalam konteks sinyal elektromagnetik, menggambarkan jumlah energi yang diperlukan untuk

mendorong sinyal pada jarak tertentu. Saat energi meningkat, jaraknya pun juga bertambah. Hal tersebut seperti yang diilustrasikan pada Gambar 2.15.

Gambar 2.15. Amplitudo, Frekuensi, dan Interval Saat sinyal radio merambat melalui udara, sinyal tersebut kehilangan amplitudo. Jika jarak antara pengirim dan penerima bertambah, amplitudo sinyal menurun secara eksponensial. Pada lingkungan yang terbuka, di mana tidak ada rintangan, sinyal RF mengalamai apa yang disebut para engineer sebagai freespace loss yang merupakan bentuk dari pelemahan. Kondisi tersebut menyebabkan sinyal yang telah dimodulasi melemah secara eksponensial saat sinyal merambat semakin jauh dari antena. Oleh karena itu, sinyal harus memiliki cukup energi untuk mencapai jarak di mana tingkat sinyal bisa diterima sesuai yang dibutuhkan receiver. Kemampuan receiver dalam menerima sinyal

25

tergantung pada kehadiran sinyal-sinyal RF lain yang berada di dekatnya. Frekuensi menyatakan beberapa kali sinyal berulang setiap detiknya. Satuan frekuensi adalah Hertz (Hz) yang merupakan jumlah siklus yang muncul setiap detik. WLAN 802.11 beroperasi pada frekuensi 2,4 GHz yang berarti mencakup 2.400.000.000 siklus per detik. Interval berkaitan dengan seberapa jauh suatu sinyal tetap konstan pada titik acuan. Sinyal RF memiliki kelebihan dan kelemahan yang dapat dilihat pada Tabel 2.5. Tabel 2.5. Kelebihan dan Kelemahan Sinyal RF KELEBIHAN KELEMAHAN Menjangkau jarak yang relatif jauh. Dengan jangkauan Mbps, throughput Garis pandangnya mencapai 20 mil. lebih rendah. Dapat dioperasikan dalam kondisi Sinyal RF mudah terganggu oleh kabur dan berkabut, kecuali hujan sistem berbasis RF eksternal lain. deras yang dapat menyebabkan kinerjanya menjadi lemah

2.12.1. Difraksi Gelombang Gelombang radio akan terpantul jika gelombang tersebut bersentuhan dengan penghalang. Hal tersebut biasa disebut dengan difraksi yaitu pembelokan gelombang pada saat menabrak sebuah objek. Difraksi akan membebani daya dari gelombang yang terdifraksi akan sangat jauh lebih kecil dari barisan gelombang asalnya [19].

Gambar 2.16. Difraksi

26

2.12.2. Interferensi Gelombang Interferensi muncul saat dua sinyal berada pada stasiun penerima dalam waktu yang sama, dengan asumsi bahwa mereka memiliki frekuensi dan interval yang sama. Dalam teknologi wireless, istilah interferensi biasanya digunakan untuk hal yang lebih luas, untuk gangguan dari sumber RF seperti dari chanel lain. Interferensi merupakan salah satu kesulitan utama pada saat membangun jaringan wireless, terutama di lingkungan perkotaan atau ruangan yang tertutup, seperti, ruang seminar atau konferensi dimana banyak jaringan akan saling berkompetisi untuk menggunakan spektrum frekuensi yang ada. Pada saat gelombang dengan amplituda yang sama tapi berbeda fasa saling bersilangan, gelombang akan saling menghilangkan dan tidak akan ada sinyal yang di terima. Sering kali, gelombang akan bergabung satu sama lain membentuk gelombang bersama yang tidak berarti apa-apa sehingga tidak dapat digunakan untuk komunikasi. Teknik modulasi dan menggunakan banyak chanel akan menolong dari masalah interferensi, tapi tidak dapat menghilangkan sama sekali. Dalam gelombang satu tambah satu belum tentu sama dengan dua, hasilnya bisa saja menjadi nol. Pada saat saat puncak bertemu dengan puncak, maka kita akan memperoleh hasil yang maksimum (1 + 1 = 2) yang disebut interferensi konstruktif, tetapi jika puncak bertemu dengan lembah maka akan diperoleh penghilangan dari sinyal ((1 + (-)1 = 0) yang disebut interferensi destruktif [19].

Gambar 2.17. Interferensi Konstruktif dan Destruktif

27

2.12.3. Line of Sight (LOS) Line of Sight (LOS) yaitu keadaan dimana antar point harus saling berhadapan, hal ini bertujuan agar perangkat wireless dapat berkomunikasi dengan baik [18].

Gambar 2.18. Line of Sight (LOS) 2.12.4. Fresnel Zone Fresnel Zone merupakan tempat kedudukan titik-titik sinyal tidak langsung dalam lintasan gelombang radio dimana daerah tersebut dibatasi oleh gelombang tidak langsung yang lain dengan beda panjang lintasan kelipatan dari setengah panjang gelombang langsung [19].

Gambar 2.19. Fresnel Zone

28

2.13. WiFi (Wireless Fidelity) WiFi adalah singkatan dari Wireless Fidelity. WiFi adalah standar IEEE 802.11x, yaitu teknologi jaringan nirkabel yang mampu menyediakan akses internet dengan bandwidth mencapai 11 Mbps (untuk standar 802.11b).

Gambar 2.20. Logo WiFi Hotspot adalah lokasi yang dilengkapi dengan perangkat WiFi sehingga dapat digunakan oleh user yang berada di lokasi tersebut untuk mengakses internet dengan menggunakan notebook / PDA yang sudah memiliki card WiFi. WiFi tidak hanya dapat digunakan untuk mengakses internet, WiFi juga dapat digunakan untuk membuat jaringan lokal tanpa kabel di perusahaan maupun instansi (jaringan intranet). WiFi dapat diakses dengan komputer, laptop, PDA atau hand phone (HP) yang telah dikonfigurasi dengan WiFi certified Radio. Untuk Laptop yang belum include WiFi dapat menginstall wireless cards yang berbentuk kartu PCMCIA di slot yang telah tersedia. Untuk PDA, pemakai dapat menginstall Compact Flash format WiFi radio di slot yang telah tersedia. Bagi pengguna personal komputer / PC dapat dengan memasangkan kartu wireless ke slot yang tersedia. Dengan adanya WiFi, user dapat bekerja dimana saja dan kapan saja sehingga tidak perlu harus selalu terkurung di ruang kerja untuk menyelesaikan setiap pekerjaan. WiFi dirancang berdasarkan spesifikasi IEEE 802.11. Terdapat empat variasi dari 802.11 yaitu: 802.11a, 802.11b, 802.11g, dan 802.11n.

29

Tabel 2.6. Spesifikasi 802.11 SPESIFIKASI KECEPATAN 802.11b 11 Mb/s 802.11a 54 Mb/s 802.11g 54 Mb/s 802.11n 100 Mb/s FREKUENSI 2.4 GHz 5 GHz 2.4 GHz 2.4 GHz SESUAI SPESIFIKASI b a b,g b, g, n

WiFi berdasarkan dalam IEEE 802.11b/g beroperasi pada 2.400 MHz sampai 2.483,50 MHz. Dengan demikian mengijinkan 11 chanel untuk beroperasi (masing-masing 5 MHz), Adapun rinciannya adalah sebagai berikut: Channel 1 2,412 MHz; Channel 2 - 2,417 MHz; Channel 3 - 2,422 MHz; Channel 4 - 2,427 MHz; Channel 5 - 2,432 MHz; Channel 6 - 2,437 MHz; Channel 7 - 2,442 MHz; Channel 8 - 2,447 MHz; Channel 9 - 2,452 MHz; Channel 10 - 2,457 MHz; Channel 11 - 2,462 MHz.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Obyek Penelitian Penelitian mengenai jaringan komputer antar sekolah di kecamatan Tirtomoyo kabupaten Wonogiri dengan menggunakan teknologi wireless dilaksanakan pada bulan Januari sampai Juli 2009 di 4 (empat) Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) yang meliputi SMP Negeri 1 Tirtomoyo, SMP Negeri 2 Tirtomoyo, SMP Kanisius Tirtomoyo, SMP Sultan Agung Tirtomoyo dan 3 (tiga) Sekolah Lanjutan Atas (SLTA) yang meliputi SMK Sultan Agung Tirtomoyo, SMK Muhamadiyah 6 Tirtomoyo, SMA Kanisius Harapan Tirtomoyo. 3.2. Jenis dan Sumber Data Penulis menggunakan metode pengumpulan data dari jenis data dengan cara sebagai berikut : 3.2.1. Data Primer Data primer yaitu data yang diperoleh secara langsung dapat dilakukan melalui wawancara secara langsung dengan bagian yang

terkait. Data primer dapat berupa data hasil penelitian langsung yaitu dalam implementasi jaringan yang penulis lakukan. 3.2.2. Data Sekunder Data sekunder yaitu data yang diperoleh secara tidak langsung yang dapat berupa catatan-catatan, laporan-laporan tertulis, dokumendokumen dan makalah-makalah serta daftar pustaka. Data sekunder dapat berupa pengertian tentang jaringan komputer dan hal-hal berhubungan dengan jaringan komputer. yang

30

31

3.3.

Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang digunakan penulis dalam penulisan tugas

akhir ini adalah sebagai berikut : 3.3.1. Studi Literatur Penulis banyak mengambil bahan sebagai laporan tugas akhir melalui buku disamping pengembangan dan analisa dari penulis sendiri. 3.3.2. Studi Interview Penulis melakukan wawancara dan konsultasi dengan dosen pembimbing maupun dengan team dari Forum Komunitas Tirtomoyo Online (FKTO) sebagai pendukung pembuatan laporan tugas akhir. 3.3.3. Studi Lapangan Penulis melakukan implementasi jaringan dengan teknologi wireless secara langsung di 4 (empat) Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) dan 3 (tiga) Sekolah Lanjutan Atas (SLTA) di kecamatan Tirtomoyo, kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. 3.4 . Materi Penelitian Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pemanfaatan teknologi wireless untuk menghubungkan jaringan komputer antar sekolah di kecamatan Tirtomoyo kabupaten Wonogiri. Objek dari penelitian ini meliputi 4 (empat) Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) dan 3 (tiga) Sekolah Lanjutan Atas (SLTA) di kecamatan Tirtomoyo, dengan titik sentral koneksi di kantor kecamatan Tirtomoyo. Peralatan yang digunakan dalam tahap survey adalah GPS (Global Positioning System) untuk menentukan titik-titik koordinat lokasi dan software Google Earth untuk mengetahui halangan dan jarak antar titik lokasi. Peralatan dalam implementasi jaringan meliputi access point (AP), tower, antena yang meliputi jenis parabolic, omnidirectional dan yagi directional, kabel UTP kategori 5, konektor RJ 45, dan router.

32

3.5. Metode Penelitian 3.5.1. Prosedur Penelitian Kegiatan yang dilakukan sebelum penelitian adalah survey lokasi (site survey). Tujuan dari tahap ini adalah untuk mengetahui koordinat lokasi dengan menggunakan GPS, selanjutnya data koordinat yang diperoleh, dengan menggunakan bantuan google earth digunakan untuk menentukan jarak antar lokasi dan halangan yang menghadang antar titik lokasi. Data-data tersebut adalah sebagai dasar untuk penentuan topologi jaringan dan penentuan tinggi tower berdasarkan perhitungan fresnel zone. Tahap-tahap dalam penelitian meliputi : 1. Perencanaan Jaringan Berdasarkan hasil dari site survey dengan peralatan GPS maka didapatkan titik koordinat masing-masing lokasi dan ketinggian lokasi dari permukaan air laut. Dengan menggunakan bantuan google earth maka akan didapat suatu keputusan dalam menentukan perencanaan jaringan. Pada tahap ini dapat ditentukan berapa ketinggian tower masing-masing lokasi untuk mendapatkan titik LOS (Line of Sight) berdasarkan perhitungan dari radius fresnel zone, topologi jaringan yang digunakan, serta spesifikasi peralatan yang dibutuhkan dalam implementasi jaringan. Menentukan aspek-aspek yang berkaitan berupa elemen-elemen yang berkaitan dengan jaringan baik itu sumber daya manusia, peraturan perundang-undangan, perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), prosedur kerja maupun beragam aspek lainnya, baik yang terkait secara langsung maupun tidak dengan jaringan yang akan dibangun. Fase ini merupakan fase yang sangat penting (essential) untuk mendapatkan gambaran network design untuk pengembangan jaringan selanjutnya. 2. Implementasi jaringan Tahap implementasi jaringan merupakan tahap installasi peralatan dalam jaringan wireless yang berupa perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software). Installasi perangkat keras meliputi pemasangan tower, access point, antena, dan router di masing-masing titik koneksi.

33

Installasi perangkat lunak meliputi konfigurasi dari peralatan di masingmasing titik koneksi. 3. Testing (Uji Coba) Setelah proses tahap implementasi langkah berikutnya berupa proses pengujian atau test jaringan. Pengetesan jaringan ini adalah untuk memastikan bahwa elemen-elemen atau komponen dari jaringan yang di buat telah berfungsi sesuai dengan yang diharapkan. Pengetesan dilakukan untuk mencari kesalahan-kesalahan atau kelemahan-kelemahan yang mungkin masih terjadi. Testing jaringan menggunakan parameter utama signal strength antar titik yang saling terkoneksi. Pengujian menggunakan tools yang terdapat dalam peralatan jaringan. Pengujian ini menggunakan utility dari mikrotik dengan parameter signal strength (kekuatan sinyal) antar titik yang saling terkoneksi, signal to noise ratio (SNR), ping test, dan bandwith test. Hasil pengujian akan dibandingkan dengan pengujian secara teoritis dengan perhitungan link budget. Metode dari perhitungan link budget mengacu pada minimal received signal level (RSL) yaitu sensitivitas dari penerima. Minimum RSL selalu dinyatakan sebagai dBm negatif (-dBm). Minimum RSL biasanya dalam kisaran antara -75 ke -95 dBm. Dengan metode ini dapat diketahui kualitas sambungan antar titik koneksi. 4. Maintenance (Pemeliharaan) Fase ini merupakan fase perawatan terhadap jaringan yang telah diimplementasikan. Cakupan fase ini berupa proses perawatan terhadap jaringan yang berkaitan dengan perawatan berkala dari jaringan maupun proses terhadap perbaikan jaringan manakala jaringan menghadapi kendala dalam operasionalnya akibat masalah teknis dan non teknis.

34

3.5.2. Spesifikasi Peralatan Peralatan yang digunakan seperti terlihat dalam Tabel 3.1. Tabel 3.1. Spesifikasi Peralatan No 1 Lokasi Kantor Kecamatan Spesifikasi Peralatan Antena Parabolic 2,4 GHz, mikrotik RB 133, Antena Omnidirectional 2,4 GHz, mikrotik RB 433, Tower Triangle 30 meter, grounding kit, mikrotik RB 450, PC web server, UTP Cable CAT 5E, PoE Adaptor, konektor RJ 45 AMP. Antena Yagi 2,4 GHz, AP Senau ECB 3220, Mikrotik RB 750, Pipa Pole 6 meter, PoE Adaptor, UTP Cable CAT 5E, konektor RJ 45 AMP Antena Parabolic 2,4 GHz, Mikrotik RB 133, PC Router mikrotik x86, Tower Triangle 30 meter, grounding kit, UTP Cable CAT 5E, PoE Adapter, konektor RJ 45 AMP. Antena Omnidirectional 2,4 GHz, mikrotik RB 411 OS Level 4, PC Router mikrotik x86, Pipa Pole 24 meter, grounding kit, PoE Adapter, UTP Cable CAT 5E, konektor RJ 45 AMP. Antena Parabolic 2,4 GHz, AP Senau ECB 3220, PC Router mikrotik x86, Pipa Pole 6 meter, PoE Adapter, UTP Cable CAT 5E, konektor RJ 45 AMP. Antena Yagi 2,4 GHz, Ubiquiti Pico Station2, Pipa Pole 6 meter, PoE Adapter, UTP Cable CAT 5E, konektor RJ 45 AMP. Antena Yagi 2,4 GHz, AP Senau ECB 3220, PC Router mikrotik x86, PoE Adapter, UTP Cable CAT 5E, konektor RJ 45 AMP. Antena Omnidirectional 2,4 GHz, Mikrotik RB 411 OS Level 4, PC Router mikrotik x86, Tower Triangle 30 meter, grounding kit, PoE Adapter, UTP Cable CAT 5E, konektor RJ 45 AMP.

SMP Negeri 1

SMP Negeri 2

SMP Kanisius

SMP Sultan Agung

SMK Muhamadiyah 6

SMA Kanisius

SMK Sultan Agung

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Koordinat Lokasi Survey lokasi (site survey) dengan peralatan GPS (global Positioning System) didapatkan koordinat lokasi dan ketinggian lokasi dari permukaan air laut (dpl). Data hasil survey ditampilkan pada Tabel 4.1. Tabel 4.1. Koordinat Lokasi Location Kantor Kecamatan SMP Negeri 1 SMP Negeri 2 SMP Kanisius SMP Sultan Agung SMK Muhamadiyah 6 SMA Kanisius SMK Sultan Agung Elevation 193 meter 197 meter 954 meter 195 meter 193 meter 218 meter 213 meter 189 meter Latitude S 7 56 56.79 7o 56 44.51 7o 59 22.92 7o 56 51.55 7o 56 51.63 7o 56 59.31 7o 56 37.56 7o 56 50.47
o

Longitude E 111o 3 58.69 111o 3 27.23 111o 6 23.98 111o 3 27.87 111o 3 24.98 111o 3 54.72 111o 3 21.62 111o 3 22.52

Titik koordinat lokasi yang diperoleh dengan menggunakan peralatan GPS di atas kemudian dengan bantuan google earth didapat pemetaan lokasi yang selanjutnya akan dijadikan acuan untuk topologi jaringan. SMP Negeri 2 yang memiliki lokasi tertinggi (954 meter dari permukaan air laut) berperan penting dalam implementasi jaringan, karena dalam implementasi jaringan lokasi tersebut juga untuk koneksi dengan Internet Service Provider (ISP) yang selanjutnya diarahkan ke kantor kecamatan sebagai pusat koneksi untuk jaringan antar sekolah. Lokasi sekolah berjauhan satu sama lain, sehingga dalam implementasi jaringan antar sekolah tersebut menggunakan teknologi wireless, dengan router dan web server untuk lokal konten terletak di kantor kecamatan Tirtomoyo.

35

36

4.2. Pemetaan Lokasi Hasil dari pemetaan lokasi dengan menggunakan software google earth seperti terlihat pada Gambar 4.1. Hasil dari pemetaan ini merupakan dasar penentuan topologi jaringan dan untuk menentukan titik-titik yang digunakan sebagai repeater atau yang dikenal dengan wireless distribution system (WDS).

Gambar 4.1. Pemetaan Lokasi Berdasarkan hasil dari pemetaan tersebut dapat ditentukan jarak antar titik yang saling terkoneksi. Jarak antar titik yang saling terkoneksi seperti yang tersaji dalam Tabel 4.2. Tabel 4.2. Jarak antar Titik Koneksi Lokasi SMP Negeri 2 SMK Muhamadiyah 6 SMK Sultan Agung SMA Kanisius SMP Sultan Agung SMP Kanisius SMP Negeri 1 Tujuan Koneksi Kantor Kecamatan Kantor Kecamatan Kantor Kecamatan SMK Sultan Agung SMK Sultan Agung SMK Sultan Agung SMP Kanisius Jarak (m) 6295 144 1105 385 113 170 216

37

Titik-titik lokasi yang digunakan sebagai wireless distribution system (WDS) ditentukan berdasarkan jarak terdekat dengan client. Kantor kecamatan Tirtomoyo selain sebagai pusat koneksi juga berfungsi sebagai WDS yang terhubung secara langsung ke SMP Negeri 2, SMK Sultan Agung, dan SMK Muhamadiyah 6. SMK Sultan Agung berfungsi sebagai WDS ke SMA Kanisius, SMP Sultan Agung, dan SMP Kanisius. SMP Kanisius berfungsi sebagai WDS ke SMP Negeri 1 Tirtomoyo. Titik-titik tersebut akan menggunakan jenis antena yang dapat memancarkan sinyal ke segala arah yaitu jenis omnidirectional, sedangkan titik yang lain (client) menggunakan jenis antena parabolic maupun yagi. Pemilihan jenis antena ini berdasarkan pada fungsi, arah rambatan dan jarak lokasi ke titik koneksi yang dituju. 4.3. Line of Sight (LOS) Line of Sight (LOS) dibutuhkan agar dapat terjadi koneksi wireless yang optimal antara titik-titik yang saling terkoneksi, LOS merupakan keadaan dimana antar point harus saling berhadapan. LOS sebetulnya lebih dari sekedar garis lurus yang tipis tetapi berbentuk seperti elips. Lebar elips tersebut dikenal sebagai konsep fresnel zone. Jarak antar koneksi yang didapatkan digunakan untuk perhitungan fresnel zone. Perhitungan tersebut menggunakan rumus : r = 17,31 (d1 x d2) /(f x D)(4-1) dimana r adalah jari-jari dari zone tersebut dalam meter, D adalah jarak total sambungan dalam meter, d1 adalah jarak dari titik koneksi pertama ke halangan, d2 adalah jarak dari titik koneksi kedua ke halangan, f adalah frekuensi dalam MHz. Rumus tersebut akan memberikan jari-jari / radius dari zone. Untuk menghitung ketinggian tower sehingga didapatkan LOS maka perlu mengetahui tinggi halangan di tengah-tengah titik koneksi yang saling berhubungan. Tinggi halangan tersebut ditambahkan dengan radius fresnel zone untuk menentukan tinggi antena. Hasil perhitungan fresnel zone antar titik-titik yang saling terkoneksi terlihat dalam Tabel 4.3.

38

Tabel 4.3. Hasil Perhitungan Fresnel Zone Lokasi 1 Lokasi 2 SMP Negeri 2 Kantor Kec. SMK Muhamadiyah 6 Kantor Kec. SMK Sultan Agung Kantor Kec. SMA Kanisius SMK Sultan Agung SMP Sultan Agung SMK Sultan Agung SMP Kanisius SMK Sultan Agung SMP Negeri 1 SMP Kanisius D(m) f(MHz) 6295 2412 144 2412 1105 2412 385 2412 113 2412 170 2412 216 2412 r (m) 13,98 2,11 5,86 3,46 1,87 2,30 2.60 60% r 8,39 1,25 3,51 2,07 1,12 1,38 1,55

Pada saat membuat koneksi wireless perlu memastikan bahwa wilayah / zone tersebut bebas dari hambatan. Dalam jaringan wireless perlu memastikan bahwa minimal 60% dari radius fresnel zone (r) yang pertama bebas dari penghalang, batas 60% tersebut merupakan batas toleransi penghalang yang menembus radius fresnel zone sebesar 40%, lebih dari 40% halangan yang menembusnya mengakibatkan terganggunya komunikasi data bahkan koneksi tidak stabil atau tidak terjadi koneksi sama sekali. Jarak terjauh dari implementasi jaringan adalah antara kantor kecamatan dengan SMP Negeri 2 yaitu 6,295 km. Berdasarkan perhitungan jari-jari fresnel zone antara kantor kecamatan dengan SMP Negeri 2 dengan frekuensi transmite 2,412 GHz (chanel 1) adalah 13,98 meter. Perhitungan 60% dari radius fresnel zone yang pertama adalah 8,39 meter. Dilihat dari hasil pemetaan halangan yang berada antara kedua lokasi berupa pepohonan dengan ketinggian rata-rata kurang lebih 15 meter, untuk menentukan tinggi tower sehingga didapat LOS, maka tinggi halangan tersebut ditambahkan dengan radius fresnel zone yaitu 15 meter ditambah 13,98 meter adalah 28,98 meter. Tinggi tower yang diimplementasi berdasarkan radius dari fresnel zone adalah 30 meter di kantor kecamatan dan 30 meter di SMP Negeri 2. SMP Negeri 2 dengan ketinggian 954 meter dpl sebenarnya tidak memerlukan tower dengan ketinggian 30 meter, tetapi karena SMP Negeri 2 juga merupakan koneksi ke ISP, maka ketinggian 30 meter tersebut untuk mencapai titik LOS dengan pusat koneksi ISP. Titik tengah koneksi antara SMK Sultan Agung yang terhubung ke kantor kecamatan terdapat halangan bangunan bertingkat dengan ketinggian 20 meter.

39

Ketinggian SMK Sultan Agung dari permukaan air laut lebih rendah 4 meter dari kecamatan. Tinggi tower SMK Sultan Agung untuk mencapai kondisi LOS adalah jumlah dari radius fresnel zone ditambah tinggi halangan dan selisih ketinggian dari permukaan air laut yaitu 5,86 meter ditambah 20 meter ditambah 4 meter (29,86 meter). Tinggi tower yang diimplementasi berdasarkan radius dari fresnel zone adalah 30 meter di SMK Sultan Agung Tirtomoyo. Koneksi antara SMP Kanisius dengan SMK Sultan Agung tidak terdapat halangan yang berarti, tetapi untuk mencapai LOS tinggi tower harus sejajar, karena kedua antena memiliki jenis yang sama yaitu omnidirectional. Ketinggian SMP Kanisius dari permukaan air laut adalah 195 meter, selisih 6 meter lebih tinggi dari SMK Sultan Agung, untuk menentukan tinggi tower di SMP Kanisius supaya sejajar dengan SMK Sultan Agung adalah dengan cara mengurangkan tinggi tower di SMK Sultan Agung dengan selisih ketinggian permukaan air laut. Dari perhitungan tersebut didapatkan tinggi tower untuk implementasi di SMP Kanisius adalah 24 meter (30 meter 6 meter). Penentuan tinggi tower untuk SMP Sultan Agung, SMP Negeri 1, dan SMK Muhamadiyah masing adalah satu pipa pole (6 meter). Penentuan tinggi tersebut berdasarkan jarak untuk ke titik koneksi yang dekat (<400 meter), tidak terdapat halangan dan dapat terlihat oleh mata telanjang serta pemakaian jenis antena yagi maupun parabolic, sehingga untuk mencapai LOS dapat dilakukan dengan pengaturan arah antena (pointing) pada sisi client yang terhubung. Tinggi tower masing-masing titik koneksi seperti terlihat dalam Tabel 4.4. Perhitungan fresnel zone antara titik koneksi terlampir dalam Lampiran 1. Tabel 4.4. Tinggi Tower dan Jenis Antena masing-masing Titik Koneksi Lokasi Kantor Kecamatan SMP Negeri 1 SMP Negeri 2 SMP Kanisius SMP Sultan Agung SMK Sultan Agung SMK Muhamadiyah SMA Kanisius Tinggi Tower 30 meter 6 meter 30 meter 24 meter 6 meter 30 meter 6 meter 6 meter Jenis Antena Parabolic dan omnidirectional Yagi Parabolic Omnidirectional Parabolic Omnidirectional Yagi Yagi

40

4.4. Perancangan Wireless Network Perancangan dilakukan berdasarkan data hasil survey di lapangan dengan titik pusat di kantor kecamatan. Titik-titik yang berfungsi sebagai wireless distribution system (WDS) adalah SMK Sultan Agung dan SMP Kanisius. WDS memungkinkan sebuah client wireless (client I) dapat terhubung dengan node pusat (node A) tanpa harus terhubung langsung dengannya, tetapi cukup terhubung ke node lain (node B) yang terdekat dengan client I yang sudah bekerja sama dengan node A. Node B tersebut berfungsi sebagai relay yang akan meneruskan ke node A. Demikian juga sebaliknya, dimana jika ada client wireless lain (Client II) yang ingin berkomunikasi dengan node A, maka dapat terhubung dengan node tersebut melalui node B. 4.3.1. Topologi Jaringan. Topologi jaringan wireless yang menghubungkan antar sekolah di kecamatan Tirtomoyo seperti terlihat dalam Gambar 4.2.

Gambar 4.2. Topologi Jaringan 4.3.1. IP Address. IP Address yang digunakan dalam implementasi adalah IP address privat kelas B untuk alamat wireless access point (WAP) dan router, IP address privat kelas C untuk IP Hotspot dan IP client. IP address untuk

41

WAP dan router yaitu 172.16.0.1/24, sedangkan IP address untuk hotspot dan client yaitu 192.168.0.0 192.168.255.255. IP public untuk jaringan internet yang diperoleh dari internet service provider (ISP) adalah 121.100.22.227. IP address WAP dan Router 172.16.0.1/24 berarti IP Privat tersebut menggunakan subnet mask 255.255.255.0 yang berarti jumlah mesin yang dapat terhubung maksimal 256 mesin. Penentuan subnet mask tersebut berdasarkan notasi CIDR (Classless Inter Domain Routing). Tabel Classless Inter Domain Routing tersaji dalam Tabel 4.5. Tabel 4.5. Classless Inter Domain Routing CIDR /30 /29 /28 /27 /26 /25 /24 /16 /8 Desimal 255.255.255.252 255.255.255.248 255.255.255.240 255.255.255.224 255.255.255.192 255.255.255.128 255.255.255.0 255.255.0.0 255.0.0.0 Jumlah Mesin 4 8 16 32 64 128 256 65536 16777216

Device jaringan dengan menggunakan IP privat tidak dirutekan melintasi internet, ketika device membutuhkan koneksi ke internet, devicedevice tersebut dapat berbagi menggunakan sebuah IP address public melalui konfigurasi Network Address Translation (NAT) yang akan dilakukan oleh router. Pemberian IP address untuk WAP dan router dilakukan secara statik, alamat IP statik adalah sebuah pemberian alamat yang tidak pernah berubah. Pemberian IP address untuk hotspot dan client dilakukan secara dinamik dengan menggunakan Dynamic Host

Configuration Protocol (DHCP). Site detail dari jaringan komputer antar sekolah di kecamatan Tirtomoyo seperti terlihat dalam Tabel 4.6.

42

Tabel 4.6. Site Detail Jaringan Site Detail Kantor Kecamatan Router WAP (WDS) WAP (to SMP2/ ISP) IP Hotspot Web Server SSID SMP Negeri 1 Router WAP LAN SMP Negeri 2 Router WAP (to kecamatan) WAP (to ISP) LAN SMP Kanisius Router WAP (WDS) LAN SMP Sultan Agung Router WAP LAN SMK Muhamadiyah 6 Router WAP LAN SMA Kanisius Router WAP LAN SMK Sultan Agung Router WAP (WDS) LAN IP Allocation 172.16.0.1 172.16.0.2 121.100.22.227 192.168.1.1/24 172.16.0.7 CyberVillage 172.16.0.17 172.16.0.18 192.168.15.1/24 172.16.0.8 121.100.22.228 121.100.22.xxx 192.168.11.1/24 172.16.0.9 172.16.0.10 192.168.12.1/24 172.16.0.13 172.16.0.14 192.168.17.1/24 172.16.0.16 172.16.0.16 192.168.14.1/24 172.16.0.19 172.16.0.20 192.168.16.1/24 172.16.0.11 172.16.0.12 192.168.13.1/24

Jaringan komputer antar sekolah selain berfungsi sebagai intranet untuk keperluan pendidikan juga dapat untuk melakukan koneksi internet, hal ini dapat dilakukan karena bekerja sama dengan Internet Service Provider (ISP) yang sebelumnya telah bekerjasama dengan kecamatan Tirtomoyo untuk keperluan pembuatan kartu tanda penduduk (KTP) online, untuk jalur internet menumpang dengan jalur kecamatan yang sudah ada sebelumnya, tetapi hal ini tidak berarti antara jaringan untuk keperluan pembuatan KTP online dengan jaringan antar sekolah untuk pendidikan tergabung jadi satu dan saling mengganggu satu sama lain, hal ini tidak akan terjadi karena pembagian jalur data (bandwith) telah diatur

43

oleh router sesuai alokasi dari ISP. Tiap lokasi menggunakan tower yang digunakan untuk penempatan antena dan radio AP yang digunakan sebagai media transmisi data. Hal ini dikarenakan keadaan geografis tirtomoyo yang tidak memungkinkan untuk menggunakan media kabel sebagai media perantara jaringan komputer antar sekolah. Sebagai salah satu solusi maka menggunakan gelombang radio sebagai transmisinya, teknologi ini dikenal sebagai teknologi wireless. Implementasi jaringan yang dibangun adalah jaringan lokal yang mengkover suatu area atau daerah (khususnya lingkungan pendidikan) untuk memajukan dunia pendidikan di wilayah kecamatan Tirtomoyo. Semua komputer yang berada di lingkungan pendidikan tersebut terhubung dalam satu jaringan lokal dan memiliki satu titik gateway, dimana melalui gateway ini semua pengguna komputer yang berada di daerah tersebut dapat juga mengakses jaringan internet maupun intranet. 4.5. Implementasi Wireless Network Implementasi wireless network dilakukan di 8 (delapan) titik koneksi yaitu kantor kecamatan Tirtomoyo, SMP Negeri 1, SMP Negeri 2, SMP Kanisius, SMP Sultan Agung, SMK Muhamadiyah 6, SMA Kanisius, dan SMK Sultan Agung. Proses implementasi terdiri dari installasi perangkat keras (hardware) dan konfigurasi perangkat lunak (software). Tahap paling awal dalam implementasi adalah pemasangan peralatan di kantor kecamatan, hal ini dikarenakan lokasi tersebut sebagai pusat koneksi, sehingga pemasangan harus dilakukan pada tahap paling awal. Installasi hardware meliputi pemasangan access point, router, antena, dan peralatan lain seperti tower serta peralatan pendukung lainnya. konfigurasi perangkat lunak adalah konfigurasi dari access point maupun router untuk dapat saling terkoneksi dalam jaringan antar sekolah. 4.5.1. Kantor Kecamatan Tirtomoyo Installasi peralatan meliputi access point mikrotik RB 433 beserta antena omnidirectional, dan router mikrotik RB 450. Peralatan dari ISP berupa mikrotik RB 133 dan antena parabolic yang menuju ke SMP

44

Negeri 2 sudah terpasang sebelumnya, penulis melakukan pointing ulang untuk peralatan dari ISP untuk mendapatkan kualitas sinyal terbaik. Tower antena sudah tersedia di kantor kecamatan beserta peralatan anti petir dengan ketinggian 30 meter. Dalam implementasi tower tersebut ditempati oleh peralatan dari ISP yang terdiri dari AP RB 133, antena parabolic serta peralatan dari FKTO yang terdiri dari AP RB 433 dan antena omnidirectional. Deskripsi perangkat keras dalam installasi peralatan di kantor kecamatan tersaji dalam Tabel 4.7. Tabel 4.7. Deskripsi Perangkat Keras di Kantor Kecamatan Tirtomoyo Deskripsi Hardware Antenna Omndirectional 2,4 Ghz Antenna Parabolic 2,4 Ghz Mikrotik RB 433 Mikrotik RB 133 Mikrotik RB 450 Tower 30 cm per 5 meter stick, include sling Antenna Mounting Kit Grounding Kit Safety Lamp with Automatic Sensor Networking UTP Cable Categori 5E Konektor RJ45 Tools RJ45 Crimping Tools Cable Tester Jumlah 1 1 1 1 1 6 2 1 1 50 10 1 1 Satuan Unit Unit Unit Unit Unit Stick Buah Buah Buah Meter Buah Buah Buah

Pemakaian antena parabolic di kecamatan untuk koneksi point to point ke SMP Negeri 2, koneksi antara kantor kecamatan dengan SMP Negeri 2 merupakan koneksi terjauh dengan jarak 6,295 km. Jenis antena parabolic memiliki gain paling tinggi yaitu 24 dBi, namun coverage area menyamping sangat terbatas, berdasarkan sifatnya antena ini sangat baik digunakan untuk link point to point antar lokasi yang berjauhan. Pemakaian antena omnidirectional digunakan di kantor kecamatan karena lokasi ini akan saling terkoneksi dengan beberapa client dengan lokasi yang berbeda yaitu SMK Sultan Agung dan SMK Muhamadiyah 6. Lokasi

45

ini juga berfungsi sebagai hotspot area. Tipe antena omnidirectional akan merambatkan sinyal RF ke segala arah dalam bidang horizontal, tetapi jarak daya pancarnya terbatas. Antena omnidirectional mempunyai range gain hingga 17 dBi. Hasil dari pemasangan tersebut seperti terlihat pada Gambar 4.3.

Gambar 4.3. Implementasi Wireless AP di Kantor Kecamatan Mikrotik RB 450 berfungsi sebagai router jaringan, dengan router mikrotik RB 450 konfigurasi jaringan diatur, diantaranya adalah network routing, setting IP Hotspot, setting Network Address Transalation (NAT), dan setting Dynamic Host Configuration Protocol (DHCP). Titik koneksi yang berfungsi sebagai WDS dapat difungsikan pula untuk akses jaringan intranet maupun internet melalui mobile desktop / laptop. IP address yang digunakan untuk WAP sekolah adalah 172.16.0.1/24, IP address yang digunakan untuk hotspot area 192.168.1.1/24. IP address mikrotik AP RB 433 adalah 172.16.0.2, IP address untuk mikrotik router RB 450 172.16.0.1, sedangkan IP address dari ISP adalah 121.100.227 (IP public). Konfigurasi IP address di kantor kecamatan terlihat pada Tabel 4.8.

46

Tabel 4.8. Konfigurasi IP Address di Kantor Kecamatan Tirtomoyo Device Name Mikrotik AP RB 433 (Tio.omni) Mikrotik Router RB 450 (Tio.router) IP Hotspot Area WLAN IP Publik IP Address 172.16.0.2 172.16.0.1 192.168.1.1/24 172.16.1.1/24 121.100.22.227

Detail konfigurasi access point mikrotik RB 433 dan router mikrotik RB 450 di kantor kecamatan terlampir dalam Lampiran 2. 4.5.2. SMK Sultan Agung Tirtomoyo Installasi jaringan di SMK Sultan Agung meliputi installasi tower dengan ketinggian 30 meter, access point mikrotik RB 411 beserta antena omnidirectional, dan PC router mikrotik x86. Peralatan RB 411 dan omnidirectional dipasang pada tower. Koneksi SMK Sultan Agung mengarah ke pusat koneksi yaitu kantor kecamatan. SMK Sultan Agung juga berfungsi sebagai wireless distribution system (WDS) untuk koneksi ke SMP Kanisius, SMP Sultan Agung dan SMA Kanisius. Lokasi ini juga berfungsi sebagai hotspot area. Deskripsi perangkat keras dalam installasi peralatan di SMK Sultan Agung tersaji dalam Tabel 4.9. Tabel 4.9. Deskripsi Perangkat Keras di SMK Sultan Agung Deskripsi Hardware Antena Omndirectional 2,4 Ghz Mikrotik RB 411 PC router x86 Tower 30 cm per 5 meter stick, include sling Antenna Mounting Kit Grounding Kit Safety Lamp with Automatic Sensor Networking UTP Cable Categori 5E Konektor RJ45 Tools RJ45 Crimping Tools Cable Tester Jumlah 1 1 1 6 2 1 1 40 4 1 1 Satuan Unit Unit Unit Stick Buah Buah Buah Meter Buah Buah Buah

47

Seperti

halnya

di

kantor

kecamatan

pemakaian

antena

omnidirectional di SMK Sultan Agung karena lokasi ini akan saling terkoneksi dengan beberapa client dengan lokasi yang berbeda yaitu SMP Sultan Agung, SMP Kanisius, dan SMA Kanisius. Tipe antena omnidirectional akan merambatkan sinyal RF ke segala arah dalam bidang horizontal, tetapi jarak daya pancarnya terbatas. Antena omnidirectional mempunyai range gain hingga 17 dBi. Hasil dari pemasangan tersebut seperti terlihat pada Gambar 4.4.

Gambar 4.4. Implementasi Wireless AP di SMK Sultan Agung Router di SMK Sultan Agung dibuat dengan memanfaatkan PC Pentium III yang sudah tidak terpakai tetapi dapat diinstall mikrotik router OS versi 3.20 (mikrotik x86). Spesifikasi dari PC router mikrotik x86 adalah Intel Pentium III 800 MHz, RAM 128, Harddisk 4 GB, dan 2 buah LAN Card. Dengan PC router mikrotik x86 ini jaringan lokal di SMK Sultan Agung penulis set sebagai Dynamic Host Configuration Protocol (DHCP) Server sehingga konfigurasi IP address menjadi lebih dinamis. IP address yang digunakan untuk WAP SMK Sultan Agung adalah

48

172.16.0.12, IP address yang digunakan untuk PC router adalah 172.16.0.11. IP address untuk Local Area Network (LAN) adalah 192.168.13.1/24. Konfigurasi IP address di SMK Sultan Agung terlihat pada Tabel 4.10. Tabel 4.10. Konfigurasi IP Address di SMK Sultan Agung Device Name IP Address Mikrotik AP RB 411 (smksa.omni) 172.16.0.12 PC router mikrotik x86 (smksa.router) 172.16.0.11 LAN 192.168.13.1/24 Detail konfigurasi access point mikrotik RB 411 dan PC router mikrotik x86 di SMK Sultan Agung terlampir dalam Lampiran 3. 4.5.3. SMP Kanisius Pemasangan peralatan jaringan di SMP Kanisius meliputi installasi tower dengan menggunakan pipa pole dengan ketinggian 24 meter, access point mikrotik RB 411 beserta antena omnidirectional, dan PC router mikrotik x86. Peralatan RB 411 dan omnidirectional dipasang pada pipa pole. Koneksi SMP Kanisius mengarah ke SMK Sultan Agung. SMP Kanisius berfungsi sebagai wireless distribution system (WDS) untuk koneksi ke SMP Negeri 1 serta berfungsi sebagai hostpot area. Deskripsi perangkat keras dalam installasi peralatan di SMP Kanisius tersaji dalam Tabel 4.11. Tabel 4.11. Deskripsi Perangkat Keras di SMP Kanisius Deskripsi Hardware Antena Omndirectional 2,4 Ghz Mikrotik RB 411 PC router x86 Tower Pipa pole per 6 meter, include sling Grounding Kit Networking UTP Cable Categori 5E Konektor RJ45 Tools RJ45 Crimping Tools Cable Tester Jumlah 1 1 1 4 1 40 4 1 1 Satuan Unit Unit Unit Stick Buah Meter Buah Buah Buah

49

Pemakaian antena omnidirectional di SMP Kanisius karena lokasi ini akan saling terkoneksi dengan SMP Negeri 1 dan SMK Sultan Agung, sehingga dengan jarak antar lokasi koneksi yang tidak terlalu jauh (<250 meter) penggunaan antena omnidirectional lebih efisien baik dari sisi teknis maupun biaya. Hasil dari pemasangan tersebut seperti terlihat pada Gambar 4.5.

Gambar 4.5. Implementasi Wireless AP di SMP Kanisius Spesifikasi PC Router yang digunakan di SMP Kanisius adalah Intel Pentium III 800 MHz, RAM 128 MB, Harddisk 20 GB, 2 LAN Card dengan sistem operasi mikrotik x86 versi 3.20. Melalui PC router mikrotik x86 ini jaringan lokal di SMP Kanisius penulis set sebagai Dynamic Host Configuration Protocol (DHCP) Server sehingga konfigurasi IP address menjadi lebih dinamis. IP address yang digunakan untuk WAP SMP Kanisius adalah 172.16.0.10, IP address untuk PC router adalah 172.16.0.9. IP address untuk Local Area Network (LAN) adalah

50

192.168.12.1/24. Konfigurasi IP Address di SMP Kanisius terlihat pada Tabel 4.12. Tabel 4.12. Konfigurasi IP Address di SMP Kanisius Device Name Mikrotik AP RB 411 (smpk.omni) PC router mikrotik x86 (smpk.router) LAN IP Address 172.16.0.10 172.16.0.9 192.168.12.1/24

Detail konfigurasi access point mikrotik RB 411 dan PC router mikrotik x86 di SMP Kanisius terlampir dalam Lampiran 4. 4.5.4. SMP Sultan Agung Installasi peralatan jaringan di SMP Sultan Agung meliputi access point (AP) Senau beserta antena parabolic, dan PC router mikrotik x86. AP senau dan antena parabolic dipasang pada pipa pole dengan ketinggian 6 meter. Koneksi SMP Sultan Agung mengarah ke SMK Sultan Agung. Hasil dari pemasangan tersebut seperti terlihat pada Gambar 4.6.

Gambar 4.6. Implementasi Wireless AP di SMP Sultan Agung Deskripsi perangkat keras dalam installasi peralatan di SMP Sultan Agung tersaji dalam Tabel 4.13.

51

Tabel 4.13. Deskripsi Perangkat Keras di SMP Sultan Agung Deskripsi Hardware Antena parabolic 2,4 GHz AP Senau PC router mikrotik x86 Tower Pipa pole 6 meter Networking UTP Cable Categori 5E Konektor RJ45 Tools RJ45 Crimping Tools Cable Tester Jumlah 1 1 1 1 10 4 1 1 Satuan Unit Unit Unit Stick Meter Buah Buah Buah

Router yang digunakan di SMP Sultan Agung adalah dengan memanfaatkan PC Pentium III yang sudah tidak terpakai tetapi dapat diinstall mikrotik router OS versi 3.20 (mikrotik x86). Dengan PC router mikrotik x86 ini jaringan lokal di SMP Sultan Agung penulis set sebagai Dynamic Host Configuration Protocol (DHCP) Server sehingga

konfigurasi IP address menjadi lebih dinamis. IP Address yang digunakan untuk WAP SMP Sultan Agung adalah 172.16.0.14, IP address yang digunakan untuk PC router adalah 172.16.0.13. IP address untuk Local Area Network (LAN) adalah 192.168.17.1/24. Konfigurasi IP address di SMP Sultan Agung terlihat pada Tabel 4.14. Tabel 4.14. Konfigurasi IP Address di SMP Sultan Agung Device Name AP Senau (smpsa.wap) PC router mikrotik x86 (smpsa.router) LAN IP Address 172.16.0.14 172.16.0.13 192.168.17.1/24

Detail konfigurasi AP Senau dan PC router mikrotik x86 di SMP Sultan Agung terlampir dalam Lampiran 5. 4.5.5. SMA Kanisius Pemasangan peralatan jaringan di SMA Kanisius meliputi access point (AP) Senau beserta antena yagi, dan PC router mikrotik x86. AP

52

senau dan antena Yagi dipasang di bangunan laboratorium komputer, hal ini dilakukan karena tanpa menggunakan pipa sudah didapatkan titik line of sight (LOS) ke koneksi tujuan. Koneksi SMA Kanisius mengarah ke SMK Sultan Agung. Hasil dari pemasangan terlihat pada Gambar 4.7.

Gambar 4.7. Implementasi Wireless AP di SMA Kanisius Deskripsi perangkat keras yang digunakan dalam installasi peralatan di SMA Kanisius tersaji dalam Tabel 4.15. Tabel 4.15. Deskripsi Perangkat Keras di SMA Kanisius Deskripsi Hardware Antena Yagi 2,4 Ghz AP Senau PC router mikrotik x86 Networking UTP Cable Categori 5E Konektor RJ45 Tools RJ45 Crimping Tools Cable Tester Jumlah 1 1 1 10 4 1 1 Satuan Unit Unit Unit Meter Buah Buah Buah

Installasi Router di SMA Kanisius menggunakan PC dengan sistem operasi mikrotik x86 versi 3.20. PC tersebut memiliki spesifikasi Intel Pentium III 800 MHz, RAM 128 MB, Harddisk 20 GB dan 2 LAN card. Untuk jaringan lokal (LAN) penulis set sebagai Dynamic Host

53

Configuration Protocol (DHCP) Server sehingga konfigurasi IP address untuk client menjadi lebih dinamis. IP address yang digunakan untuk WAP SMA Kanisius adalah 172.16.0.20, IP address yang digunakan untuk PC router adalah 172.16.0.19. IP address untuk Local Area Network (LAN) adalah 192.168.16.1/24. Konfigurasi IP address di SMA Kanisius terlihat pada Tabel 4.16. Tabel 4.16. Konfigurasi IP Address di SMA Kanisius Device Name IP Address AP Senau (smak.yagi) 172.16.0.20 PC router mikrotik x86 (smak.router) 172.16.0.19 LAN 192.168.16.1/24 Konfigurasi AP Senau dan PC router mikrotik x86 di SMA Kanisius secara detail terlampir dalam Lampiran 6. 4.5.6. SMP Negeri 1 Installasi peralatan jaringan di SMP Negeri 1 meliputi access point (AP) Senau beserta antena yagi, dan router mikrotik RB 750. AP senau dan antena yagi dipasang pada pipa pole dengan ketinggian 6 meter. Koneksi SMP Negeri 1 mengarah ke SMP Kanisius. Deskripsi perangkat keras dalam installasi peralatan di SMP Negeri 1 tersaji dalam Tabel 4.17. Hasil dari pemasangan tersebut seperti terlihat pada Gambar 4.8. Tabel 4.17. Deskripsi Perangkat Keras di SMP Negeri 1 Deskripsi Hardware Antena Yagi 2,4 Ghz AP Senau Mikrotik RB 750 Tower Pipa pole per 6 meter Networking UTP Cable Categori 5E Konektor RJ45 Tools RJ45 Crimping Tools Cable Tester Jumlah 1 1 1 1 10 4 1 1 Satuan Unit Unit Unit Stick Meter Buah Buah Buah

54

Gambar 4.8. Implementasi Wireless AP di SMP Negeri 1 SMP Negeri 1 menggunakan router mikrotik RB 750. Jaringan lokal penulis set sebagai Dynamic Host Configuration Protocol (DHCP) Server sehingga konfigurasi IP address menjadi lebih dinamis. IP address yang digunakan untuk WAP SMP Negeri 1 adalah 172.16.0.18, IP address yang digunakan untuk RB 750 adalah 172.16.0.17. IP address untuk Local Area Network (LAN) adalah 192.168.15.1/24. Konfigurasi IP address di SMP Negeri 1 terlihat pada Tabel 4.18. Tabel 4.18. Konfigurasi IP Address di SMP Negeri 1 Device Name IP Address AP Senau (smpn1.yagi) 172.16.0.18 Mikrotik router RB 750 (smpn1.router) 172.16.0.17 LAN 192.168.15.1/24 Detail dari konfigurasi AP Senau dan router mikrotik RB 750 di SMP Negeri 1 terlampir dalam Lampiran 7. 4.5.7. SMK Muhamadiyah 6 Installasi jaringan di SMK Muhamadiyah 6 meliputi access point (AP) Ubiquity Picostation2 beserta antena yagi. Access point Ubiquity Picostation2 dan antena yagi dipasang pada pipa pole dengan ketinggian 6

55

meter. Koneksi SMK Muhamadiyah 6 mengarah ke kantor kecamatan. Hasil dari pemasangan tersebut seperti terlihat pada Gambar 4.9.

Gambar 4.9. Implementasi Wireless AP di SMK Muhamadiyah 6 Deskripsi perangkat keras dalam installasi peralatan di SMK Muhamadiyah 6 tersaji dalam Tabel 4.19. Tabel 4.19. Deskripsi Perangkat Keras di SMK Muhamadiyah 6 Deskripsi Hardware Antena Yagi 2,4 Ghz AP Ubiquity PicoStation2 Tower Pipa pole per 6 meter Networking UTP Cable Categori 5E Konektor RJ45 Tools RJ45 Crimping Tools Cable Tester Jumlah 1 1 1 10 4 1 1 Satuan Unit Unit Stick Meter Buah Buah Buah

Pengaturan router di SMK Muhamadiyah 6 dilakukan pada AP ubiquity PicoStation2. Jaringan lokal penulis set sebagai Dynamic Host Configuration Protocol (DHCP) Server sehingga konfigurasi IP address

56

menjadi lebih dinamis. IP address yang digunakan untuk WAP SMK Muhamadiyah 6 adalah 172.16.0.16. IP address untuk Local Area Network (LAN) adalah 192.168.14.1/24. Konfigurasi IP address di SMK Muhamadiyah 6 terlihat pada Tabel 4.20. Tabel 4.20. Konfigurasi IP Address di SMK Muhamadiyah 6 Device Name IP Address AP Ubiquiti (smkmuh.yagi) LAN 172.16.0.16 192.168.14.1/24

Konfigurasi AP Ubiquity PicoStation2 di SMK Muhamadiyah terlampir dalam Lampiran 8. 4.5.8. SMP Negeri 2 Pemasangan peralatan jaringan di SMP Negeri 2 meliputi access point (AP) RB 133 beserta antena parabolic dan PC router mikrotik x86. AP RB 133 dan antena parabolic dipasang pada tower dengan ketinggian 30 meter. Koneksi SMP Negeri 2 mengarah ke kantor kecamatan. Untuk implementasi jaringan di SMP Negeri 2 adalah installasi router dan konfigurasi ulang dengan pihak ISP, karena selain sebagai client SMP Negeri 2 merupakan jalur akses internet yang menuju ke lokasi ISP. Pemberian IP dan konfigurasi peralatan dilakukan oleh administrator dari ISP. Untuk dapat tetap dalam satu jaringan maka di SMP Negeri 2 ditambahkan router dengan PC router mikrotik x86. Spesifikasi PC yang digunakan sebagai router di SMP Negeri 2 adalah Intel Pentium III 800 MHz, RAM 128 MB, Harddisk 20 GB dan 2 LAN card. Konfigurasi router di SMP Negeri 2 terlampir dalam Lampiran 9. Deskripsi perangkat keras dalam installasi peralatan di SMP Negeri 2 tersaji dalam Tabel 4.21. Proses pointing ulang antena parabolic di SMP Negeri 2 seperti terlihat dalam Gambar 4.10.

57

Tabel 4.21. Deskripsi Perangkat Keras di SMP Negeri 2 Deskripsi Hardware Antena Parabolic 2,4 Ghz Mikrotik RB 133 PC Router mikrotik x86 Tower 30 cm per 5 meter , include sling Antenna Mounting Kit Grounding Kit Safety Lamp with Automatic Sensor Networking UTP Cable Categori 5E Konektor RJ45 Tools RJ45 Crimping Tools Cable Tester Jumlah 2 1 1 6 2 1 1 50 10 1 1 Satuan Unit Unit Unit Stick Buah Buah Buah Meter Buah Buah Buah

Gambar 4.10. Pointing Antena di SMP Negeri 2

4.6. Pengujian Wireless Network Setelah proses tahap installasi dan konfigurasi jaringan selesai, langkah berikutnya berupa proses pengujian atau test jaringan. Pengetesan jaringan ini

58

adalah untuk memastikan bahwa elemen-elemen atau komponen dari jaringan yang dibuat telah berfungsi sesuai dengan yang diharapkan. Pengetesan dilakukan dengan utility dari mikrotik operating system maupun bawaan operating system dari access point yang digunakan. Parameter pengetesan meliputi kekuatan sinyal (signal strength) antara titik yang saling terkoneksi, signal to noise ratio (SNR), ping test, dan bandwith test. Pengujian sinyal secara real dengan menggunakan utility dari mikrotik akan dibandingkan dengan perhitungan link budget. Berdasarkan teori, komunikasi yang terjadi antara titik koneksi jika access point dapat memancarkan ataupun menangkap sinyal minimal ke tujuan koneksi. Penentuan sebuah sambungan layak atau tidak untuk komunikasi adalah proses yang disebut perhitungan link budget. Sebuah sinyal dapat atau tidak dilalukan antar access point tergantung pada kualitas dari peralatan yang digunakan dan kehilangan sinyal karena jarak (path loss). Perhitungan link budget menggunakan parameter daya pancar access point, penguatan antena, minimal received signal level (RSL), dan kerugian kabel. Daya pancar dinyatakan dalam milliwatts (mW) atau dBm, daya pancar (Tx) yang diberikan perangkat ditentukan dalam manual yang diberikan oleh pabrik. Perhitungan link budget menggunakan satuan dBm untuk daya Tx, untuk mengkonversi dari mW menjadi dBm dihitung menggunakan rumus : dBm = 10 * Log (P).(4-2) dimana P adalah daya dalam miliwatts (mW). Penguatan antena (gain) adalah rasio yang tidak berdimensi gain diberikan sesuai dengan rujukan kepada antena standar. Antena adalah perangkat pasif yang dapat membuat efek amplifikasi berdasarkan bentuk fisik mereka dan memiliki karakteristik yang sama ketika menerima dan transmisi. Antena parabolic mempunyai penguatan 19-24 dBi, antena omnidirectional memiliki 5-17 dBi, antena yagi memiliki 10-20 dBi. Minimal received signal level (RSL) adalah adalah batasan minimal sinyal yang diterima penerima untuk dapat berkomunikasi dengan baik. Minimum RSL dinyatakan sebagai dBm negatif (- dBm). RSL minimum tergantung kecepatan, dan sebagai standar umum kecepatan terendah (1 Mbps) mempunyai sensitivitas terbesar. Seperti daya TX, spesifikasi RSL disediakan oleh pabrik pembuat

59

peralatan. Kerugian kabel dalam jaringan termasuk konektor yang digunakan berkisar antara 2-3 dB. Perhitungan link budget harus memperhatikan kerugian di udara / ruang (free space loss), redaman dan penyebaran. Persamaan untuk free space loss : Lfsl = 40 + 20 * Log (r).(4-3) Lfsl dinyatakan dalam dB dan r adalah jarak antara pemancar dan penerima, dalam meter. Perhitungan link budget dilakukan dengan menambah semua penguatan (total gain) dari access point (AP) pemancar, antena gain AP pemancar, cable losses AP pemancar, antena gain AP penerima, dan cable losses AP penerima, kemudian total gain yang didapat dikurangi dengan path loss. Hasilnya adalah level sinyal yang diperoleh di salah satu sisi sambungan. Jika sinyal yang dihasilkan lebih besar dari level penerima sinyal minimum, maka sambungan tersebut adalah layak. Sinyal yang diterima cukup kuat bagi radio untuk digunakan. 4.6.1. Kantor Kecamatan dan SMP Negeri 2. Peralatan yang digunakan di kedua lokasi adalah access point mikrotik RB 133 dengan antena parabolic. RB 133 yang digunakan di kedua titik koneksi tersebut menggunakan wireless mini PCI Atheros R52H daya pancar maksimal 350 mW dengan receive sensitivity -92 dBm. Jarak antara kedua titik koneksi 6,295 km, gain antena parabolic adalah 24 dBi, kerugian kabel dan konektor di setiap sisi masing-masing sebesar 2 dB maka diperoleh perhitungan link budget antara kantor kecamatan dengan SMP Negeri 2 sebagai berikut : TX Power AP1 (=10*Log 350) Antenna Gain AP 1 Cable Losses AP 1 Antenna Gain AP 2 Cable Losses AP 2 Total Gain Path Loss = 40 + 20 Log (6295) Signal Strenght =Total Gain- Path Loss = = = = = = = = 25 dBm + 24 dBi - 2 dB + 24 dBi - 2 dB 69 dB 145 dB -76 dBm

60

Berdasarkan perhitungan link budget level sinyal -76 dBm lebih besar daripada sensitifitas penerima minimum dari AP (-92 dBm), level sinyal tersebut cukup untuk klien agar dapat menerima data dari pemancar. Sinyal yang dihasilkan lebih besar dari level penerima sinyal minimum, maka sambungan tersebut adalah layak dengan margin 16 dB (92 dB 76 dB). Hasil pengujian dengan utility dari mikrotik adalah sebagai berikut : signal strength Noise floor signal to noise ratio (SNR) Latency Average (ping test) Send bandwith test average Receive bandwith test average : : : : : : -79 dBm -101 dBm 22 dB 3 ms 20,4 Mbps 18,0 Mbps

Berdasarkan hasil pengujian didapatkan signal strength -79 dBm. Kekuatan sinyal tersebut lebih rendah 3 dBm dibandingkan dengan perhitungan link budget secara teoritis, perbedaan tersebut tidak akan memberikan pengaruh koneksi secara signifikan, karena SNR mencapai 22 dB, sehingga secara otomatis noise floor akan lebih rendah dari signal strength, hal ini berarti koneksi antara kedua lokasi tersebut excellent (bagus). Semakin tinggi angka SNR maka koneksi juga semakin baik, klasifikasi SNR margin seperti terlihat dalam Tabel 4.22. Tabel 4.22. Klasifikasi SNR Margin SNR Margin 29,0 dB ~ ke atas 20,0 dB ~ 28,9 dB 11,0 dB ~ 19,9 dB 07,0 dB ~ 10,9 dB Klasifikasi Outstanding (bagus sekali) Excellent (bagus) Koneksi stabil Good (baik) Fair (cukup) Rentan terhadap variasi perubahan kondisi pada jaringan. Bad (buruk) Sinkronisasi sinyal gagal atau tidak lancar (terputus-putus).

00,0 dB ~ 06,9 dB

61

Pengujian dengan utility ping, rata-rata waktu yang dibutuhkan paket untuk sampai ke host (latency) adalah 3 ms. Hal ini berarti suatu paket dapat dikirimkan dari kantor kecamatan ke SMP 2 dalam waktu 3 mili detik. Dalam pengujian ping test, semakin kecil angka yang didapatkan maka koneksi juga semakin cepat. Rata-rata bandwith rate dalam proses pengiriman adalah 20,4 Mbps, dan rata-rata bandwith rate dalam proses penerimaan sebesar 18,0 Mbps. 4.6.2. Kantor Kecamatan dan SMK Muhamadiyah 6 Peralatan untuk koneksi antara kantor kecamatan dengan SMK Muhamadiyah 6 menggunakan access point mikrotik RB 433 dengan antena omnidirectional di kantor kecamatan. RB 433 yang digunakan tersebut menggunakan wireless mini PCI mikrotik R52H daya pancar maksimal 350 mW dengan receive sensitivity -92 dBm. Antena omnidirectional memiliki gain sebesar 17 dBi. Peralatan di SMK

Muhamadiyah 6 menggunakan access point ubiquity PicoStation2 dengan menggunakan antena yagi dengan gain 15 dBi. Sensitivitas penerimaan ubiquity PicoStation2 adalah -95 dBm. Jarak antara kedua titik koneksi 144 meter, kerugian kabel dan konektor di setiap sisi adalah 2 dB. Perhitungan link budget adalah sebagai berikut : TX Power AP1 (=10*Log 350) Antenna Gain AP 1 Cable Losses AP 1 Antenna Gain AP 2 Cable Losses AP 2 Total Gain Path Loss = 40 + 20 Log (144) Signal Strenght =Total Gain- Path Loss = = = = = = = = 25 dBm + 17 dBi - 2 dB + 15 dBi - 2 dB 53 dB 96 dB -43 dBm

Berdasarkan perhitungan link budget level sinyal -43 dBm lebih besar daripada sensitifitas penerima minimum dari AP (-92 dBm), secara teori level sinyal tersebut sangat bagus, hal ini juga dipengaruhi oleh jarak antar koneksi yang dekat (144 meter). Hasil pengujian real dengan utility dari mikrotik adalah sebagai berikut :

62

signal strength Noise floor signal to noise ratio (SNR) Latency Average (ping test) Send bandwith test average Receive bandwith test average

: : : : : :

-54 dBm -84 dBm 30 dB 1 ms 27 Mbps 28 Mbps

Berdasarkan hasil pengujian didapatkan signal strength -54 dBm. Kekuatan sinyal tersebut lebih rendah 11 dBm dibandingkan dengan perhitungan link budget secara teoritis, perbedaan tersebut tidak akan memberikan pengaruh koneksi secara signifikan, karena SNR mencapai 30 dB, sehingga secara otomatis noise floor akan lebih rendah dari signal strength, hal ini berarti koneksi antara kedua lokasi outstanding (bagus sekali) (Tabel 4.22). Pengujian dengan utility ping, rata-rata waktu yang dibutuhkan paket untuk sampai ke host (latency) adalah 1 ms. Hal ini berarti suatu paket dapat dikirimkan dari kantor kecamatan ke SMK Muhamadiyah 6 dalam waktu 1 mili detik. Dalam pengujian ping test, semakin kecil angka yang didapatkan maka koneksi juga semakin cepat. Rata-rata bandwith rate dalam proses pengiriman adalah 27 Mbps, dan rata-rata bandwith rate dalam proses penerimaan sebesar 28 Mbps. 4.6.3. Kantor Kecamatan dan SMK Sultan Agung SMK Sultan Agung untuk melakukan koneksi ke kantor kecamatan menggunakan peralatan access point mikrotik RB 411 OS level 4 dengan antena omnidirectional. Wireless mini PCI yang digunakan pada RB 411 adalah mikrotik WMIA-166A (CM9) daya pancar 65 mW atau setara dengan 18 dBm. Receive sensitivity dari wireless mini PCI tersebut adalah -95 dBm. Antena omnidirectional yang digunakan memiliki gain sebesar 17 dBi. Jarak antara kedua titik koneksi 1105 meter, dengan kerugian kabel dan konektor di setiap sisi 2 sebesar dB maka didapatkan perhitungan link budget antara kantor kecamatan dengan SMK Sultan Agung sebagai berikut :

63

TX Power AP1 (=10*Log 350) Antenna Gain AP 1 Cable Losses AP 1 Antenna Gain AP 2 Cable Losses AP 2 Total Gain Path Loss = 40 + 20 Log (1105) Signal Strenght =Total Gain- Path Loss

= = = = = = = =

25 dBm + 17 dBi - 2 dB + 17 dBi - 2 dB 55 dB 116 dB -61 dBm

Berdasarkan perhitungan link budget level sinyal -61 dBm lebih besar daripada sensitifitas penerima minimum dari AP (-95 dBm). Secara teori level sinyal tersebut cukup untuk klien agar dapat menerima data dari pemancar. Sinyal yang dihasilkan lebih besar dari level penerima sinyal minimum, maka sambungan tersebut adalah layak dengan margin 34 dB (95 dB 61 dB). Hasil pengujian dengan utility dari mikrotik adalah sebagai berikut : signal strength Noise floor signal to noise ratio (SNR) Latency Average (ping test) Send bandwith test average Receive bandwith test average : : : : : : -79 dBm -103 dBm 24 dB 1 ms 11,5 Mbps 12,6 Mbps

Berdasarkan hasil pengujian dari utility mikrotik didapatkan signal strength -79 dBm. Kekuatan sinyal tersebut lebih rendah 18 dBm dibandingkan dengan perhitungan link budget secara teoritis, perbedaan tersebut tidak akan memberikan pengaruh koneksi secara signifikan, karena SNR mencapai 24 dB, sehingga secara otomatis noise floor akan lebih rendah dari signal strength, hal ini berarti koneksi antara kedua lokasi excellent (bagus) (Tabel 4.22). Pengujian dengan utility ping, rata-rata waktu yang dibutuhkan paket untuk sampai ke host (latency) adalah 1 ms. Hal ini berarti suatu paket dapat dikirimkan dari kantor kecamatan ke SMK Sultan Agung dalam waktu 1 mili detik. Dalam pengujian ping test, semakin kecil angka yang didapatkan maka koneksi juga semakin cepat. Rata-rata bandwith rate

64

dalam proses pengiriman adalah 11,5 Mbps, dan rata-rata bandwith rate dalam proses penerimaan sebesar 12,6 Mbps. 4.6.4. SMK Sultan Agung dan SMA Kanisius Peralatan yang digunakan di SMA Kanisius untuk melakukan koneksi ke SMK Sultan Agung adalah access point senau ECB-3220 dengan daya maksimal 26 dBm atau setara dengan 400 mW. Antena yang digunakan adalah jenis yagi dengan gain 15 dBi. Receive sensitivity dari access point tersebut adalah -94 dBm. Jarak antara kedua titik koneksi 385 meter, dengan kerugian penggunaan kabel dan konektor di setiap sisi sebesar 2 dB maka didapatkan perhitungan link budget antara SMK Sultan Agung dengan SMA Kanisius sebagai berikut : TX Power AP1 (=10*Log 65) Antenna Gain AP 1 Cable Losses AP 1 Antenna Gain AP 2 Cable Losses AP 2 Total Gain Path Loss = 40 + 20 Log (385) Signal Strenght =Total Gain- Path Loss = = = = = = = = 18 dBm + 17 dBi - 2 dB + 15 dBi - 2 dB 46 dB 98 dB -52 dBm

Berdasarkan perhitungan link budget level sinyal -52 dBm lebih besar daripada sensitifitas penerima minimum dari AP (-94 dBm). Secara teori level sinyal tersebut cukup untuk klien agar dapat menerima data dari pemancar. Sinyal yang dihasilkan lebih besar dari level penerima sinyal minimum, maka sambungan tersebut adalah layak dengan margin 42 dB (94 dB 52 dB). Hasil pengujian dengan utility dari mikrotik adalah sebagai berikut : signal strength Noise floor signal to noise ratio (SNR) Latency Average (ping test) Send bandwith test average Receive bandwith test average : : : : : : -65 dBm -94 dBm 29 dB 1 ms 22 Mbps 22.5 Mbps

65

Berdasarkan hasil pengujian dari utility mikrotik didapatkan signal strength -65 dBm. Kekuatan sinyal tersebut lebih rendah 13 dBm dibandingkan dengan perhitungan link budget secara teoritis, perbedaan tersebut tidak akan memberikan pengaruh koneksi secara signifikan, karena SNR mencapai 29 dB, sehingga secara otomatis noise floor akan lebih rendah dari signal strength, hal ini berarti koneksi antara kedua lokasi outsanding (bagus sekali) (Tabel 4.22). Pengujian dengan utility ping, rata-rata waktu yang dibutuhkan paket untuk sampai ke host (latency) adalah 1 ms. Hal ini berarti suatu paket dapat dikirimkan dari SMK Sultan Agung ke SMA Kanisius dalam waktu 1 mili detik. Dalam pengujian ping test, semakin kecil angka yang didapatkan maka koneksi juga semakin cepat. Rata-rata bandwith rate dalam proses pengiriman adalah 22 Mbps, dan rata-rata bandwith rate dalam proses penerimaan sebesar 22,5 Mbps. 4.6.5. SMK Sultan Agung dan SMP Sultan Agung SMP Sultan Agung menggunakan access point senau ECB-3220 dengan daya maksimal 26 dBm atau setara dengan 400 mW. Antena yang digunakan adalah jenis parabolic dengan gain 24 dBi. Receive sensitivity dari access point tersebut adalah -94 dBm. Jarak antara kedua titik koneksi 113 meter, dengan kerugian penggunaan kabel dan konektor di setiap sisi sebesar 2 dB maka didapatkan perhitungan link budget antara SMK Sultan Agung dengan SMP Sultan Agung sebagai berikut : TX Power AP1 (=10*Log 65) Antenna Gain AP 1 Cable Losses AP 1 Antenna Gain AP 2 Cable Losses AP 2 Total Gain Path Loss = 40 + 20 Log (113) Signal Strenght =Total Gain- Path Loss = = = = = = = = 18 dBm + 17 dBi - 2 dB + 24 dBi - 2 dB 55 dB 96 dB -41 dBm

Berdasarkan perhitungan link budget level sinyal -41 dBm lebih besar daripada sensitifitas penerima minimum dari AP (-94 dBm). Secara

66

teori level sinyal tersebut cukup untuk klien agar dapat menerima data dari pemancar. Sinyal yang dihasilkan lebih besar dari level penerima sinyal minimum, maka sambungan tersebut adalah layak dengan margin 53 dB (94 dB 41 dB). Hasil pengujian dengan utility dari mikrotik adalah sebagai berikut : signal strength Noise floor signal to noise ratio (SNR) Latency Average (ping test) Send bandwith test average Receive bandwith test average : : : : : : -55 dBm -85 dBm 30 dB 1 ms 27.5 Mbps 28.5 Mbps

Berdasarkan hasil pengujian dari utility mikrotik didapatkan signal strength -55 dBm. Kekuatan sinyal tersebut lebih rendah 14 dBm dibandingkan dengan perhitungan link budget secara teoritis, perbedaan tersebut tidak akan memberikan pengaruh koneksi secara signifikan, karena SNR mencapai 30 dB, sehingga secara otomatis noise floor akan lebih rendah dari signal strength, hal ini berarti koneksi antara kedua lokasi dalam keadaan outsanding (bagus sekali) (Tabel 4.22). Pengujian dengan utility ping, rata-rata waktu yang dibutuhkan paket untuk sampai ke host (latency) adalah 1 ms. Hal ini berarti suatu paket dapat dikirimkan dari SMK Sultan Agung ke SMP Sultan Agung dalam waktu 1 mili detik. Dalam pengujian ping test, semakin kecil angka yang didapatkan maka koneksi juga semakin cepat. Rata-rata bandwith rate dalam proses pengiriman adalah 27,5 Mbps, dan rata-rata bandwith rate dalam proses penerimaan sebesar 28,5 Mbps. 4.6.6. SMK Sultan Agung dan SMP Kanisius SMP Kanisius untuk melakukan koneksi ke SMK Sultan Agung menggunakan peralatan access point mikrotik RB 411 OS level 4 dengan antena omnidirectional. Wireless mini PCI yang digunakan pada RB 411 adalah mikrotik WMIA-166A (CM9) daya pancar 65 mW atau setara dengan 18 dBm. Receive sensitivity dari wireless mini PCI tersebut adalah -95 dBm. Antena omnidirectional yang digunakan memiliki gain sebesar

67

17 dBi. Jarak antara kedua titik koneksi 170 meter, dengan kerugian penggunaan kabel dan konektor di setiap sisi 2 sebesar dB maka didapatkan perhitungan link budget antara SMK Sultan Agung dengan SMP Kanisius sebagai berikut : TX Power AP1 (=10*Log 65) Antenna Gain AP 1 Cable Losses AP 1 Antenna Gain AP 2 Cable Losses AP 2 Total Gain Path Loss = 40 + 20 Log (170) Signal Strenght =Total Gain- Path Loss = = = = = = = = 18 dBm + 17 dBi - 2 dB + 17 dBi - 2 dB 48 dB 93 dB -45 dBm

Berdasarkan perhitungan link budget level sinyal -45 dBm lebih besar daripada sensitifitas penerima minimum dari AP (-94 dBm). Secara teori level sinyal tersebut cukup untuk klien agar dapat menerima data dari pemancar. Sinyal yang dihasilkan lebih besar dari level penerima sinyal minimum, maka sambungan tersebut adalah layak dengan margin 49 dB (94 dB 45 dB). Hasil pengujian dengan utility dari mikrotik adalah sebagai berikut : signal strength Noise floor signal to noise ratio (SNR) Latency Average (ping test) Send bandwith test average Receive bandwith test average : : : : : : -65 dBm -87 dBm 22 dB 1 ms 23 Mbps 24 Mbps

Berdasarkan hasil pengujian dari utility mikrotik didapatkan signal strength -65 dBm. Kekuatan sinyal tersebut lebih rendah 20 dBm dibandingkan dengan perhitungan link budget secara teoritis, perbedaan tersebut tidak akan memberikan pengaruh koneksi secara signifikan, karena SNR mencapai 22 dB, sehingga secara otomatis noise floor akan lebih rendah dari signal strength, hal ini berarti koneksi antara kedua lokasi dalam keadaan excellent (bagus) (Tabel 4.22).

68

Pengujian dengan utility ping, rata-rata waktu yang dibutuhkan paket untuk sampai ke host (latency) adalah 1 ms. Hal ini berarti suatu paket dapat dikirimkan dari SMK Sultan Agung ke SMP Kanisius dalam waktu 1 mili detik. Dalam pengujian ping test, semakin kecil angka yang didapatkan maka koneksi juga semakin cepat. Rata-rata bandwith rate dalam proses pengiriman adalah 23 Mbps, dan rata-rata bandwith rate dalam proses penerimaan sebesar 24 Mbps. 4.6.7. SMP Kanisius dan SMP Negeri 1 SMP Negeri 1 menggunakan access point senau ECB-3220 dengan daya maksimal 26 dBm atau setara dengan 400 mW. Antena yang

digunakan adalah jenis yagi dengan gain 15 dBi. Receive sensitivity dari access point tersebut adalah -94 dBm. Jarak antara kedua titik koneksi 216 meter, dengan kerugian penggunaan kabel dan konektor di setiap sisi 2 sebesar dB maka didapatkan perhitungan link budget antara SMP Kanisius dengan SMP Negeri 1 sebagai berikut : TX Power AP1 (=10*Log 65) Antenna Gain AP 1 Cable Losses AP 1 Antenna Gain AP 2 Cable Losses AP 2 Total Gain Path Loss = 40 + 20 Log (216) Signal Strenght =Total Gain- Path Loss = = = = = = = = 18 dBm + 17 dBi - 2 dB + 15 dBi - 2 dB 46 dB 93 dB -47 dBm

Berdasarkan perhitungan link budget level sinyal -47 dBm lebih besar daripada sensitifitas penerima minimum dari AP (-94 dBm). Secara teori level sinyal tersebut cukup untuk klien agar dapat menerima data dari pemancar. Sinyal yang dihasilkan lebih besar dari level penerima sinyal minimum, maka sambungan tersebut adalah layak dengan margin 47 dB (94 dB 47 dB). Hasil pengujian dengan utility dari mikrotik adalah sebagai berikut :

69

signal strength Noise floor signal to noise ratio (SNR) Latency Average (ping test) Send bandwith test average Receive bandwith test average

: : : : : :

-67 dBm -92 dBm 25 dB 1 ms 24.5 Mbps 26 Mbps

Berdasarkan hasil pengujian dari utility mikrotik didapatkan signal strength -67 dBm. Kekuatan sinyal tersebut lebih rendah 20 dBm dibandingkan dengan perhitungan link budget secara teoritis, perbedaan tersebut tidak akan memberikan pengaruh koneksi secara signifikan, karena SNR mencapai 25 dB, sehingga secara otomatis noise floor akan lebih rendah dari signal strength, hal ini berarti koneksi antara kedua lokasi dalam keadaan excellent (bagus) (Tabel 4.22). Pengujian dengan utility ping, rata-rata waktu yang dibutuhkan paket untuk sampai ke host (latency) adalah 1 ms. Hal ini berarti suatu paket dapat dikirimkan dari SMP Kanisius ke SMP Negeri 1 dalam waktu 1 mili detik. Dalam pengujian ping test, semakin kecil angka yang didapatkan maka koneksi juga semakin cepat. Rata-rata bandwith rate dalam proses pengiriman adalah 24,5 Mbps, dan rata-rata bandwith rate dalam proses penerimaan sebesar 26 Mbps.

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Proses pembangunan jaringan dengan teknologi wireless dilaksanakan dalam beberapa tahap yang meliputi site survey, perencanaan jaringan, implementasi jaringan, pengujian jaringan dan maintenance jaringan. 2. Hasil dari site survey dengan menggunakan peralatan GPS menghasilkan data koordinat dan ketinggian lokasi dari permukaan air laut dijadikan sebagai acuan dalam penentuan metode koneksi yang akan digunakan, topologi jaringan, ketinggian antena berdasarkan perhitungan fresnel zone dan spesifikasi peralatan yang digunakan dalam implementasi. 3. Kualitas jaringan komputer antar sekolah dengan teknologi wireless yang diketahui berdasarkan parameter kualitas sinyal (signal strength), signal to noise ratio (SNR), ping test dan bandwith test antar titik koneksi dengan utility dari mikrotik, jaringan tersebut layak digunakan sebagai jaringan intranet maupun untuk koneksi internet melalui Internet Service Provider (ISP).

5.2. Saran Saran yang dapat penulis sampaikan kepada institusi pendidikan di wilayah kecamatan Tirtomoyo adalah segera melakukan koordinasi dengan Forum Komunitas Tirtomoyo Online (FKTO) dengan membentuk team untuk mengadakan pelatihan secara rutin, maintenance dan pengembangan jaringan wireless dengan melibatkan siswa maupun masyarakat yang berdomisili di daerah setempat.

70

DAFTAR PUSTAKA
[1] http://www.wikipedia.com akses : April 2009 Kata Kunci : Pengertian Jaringan Komputer. [2] Kristanto, Andi. 2003. Jaringan Komputer. Penerbit Graha Ilmu. Yogyakarta. [3] Supriyadi, Andi dkk. 2007. Memilih Topologi Jaringan dan Hardware dalam Desain Sebuah Jaringan Komputer. Informatika Pertanian Volume 16 No. 2, 2007. [4] Fahrial, Jaka. 2003. Teknik Konfigurasi LAN. [5] Nugroho, Bunafit. 2005. Installasi dan Konfigurasi Jaringan Windows dan Linux. Penerbit Andi. Yogyakarta. [6] Ghazali, M. 2008. Topologi Jaringan. Penerbit Theoneman2480. [7] Proboyekti, Umi. 2008. Pengantar Teknologi Informasi. Jurnal Sistem Informasi. UKDW [8] Purbo, Onno W, 1998. Jaringan Komputer Menggunakan Protokol TCP/IP. Department of Electrical and Computer Engineering University of Waterloo Waterloo, Ontario.CANADA N2L 3G1. [9] Rafiudin, Rahmat. 2006. IP Routing dan Firewall dalam Linux. Penerbit Andi. Yogyakarta. [10] Sutiyadi, M. 2007. Jaringan Wireless LAN (WLAN). Tersedia: http://www.edukasi.net (Akses: Juni 2009). [11] Ross, John. 2003. The Book of Wi-Fi: Install, Configure, and Use 802.11b Wireless Networking. No Starch Press. [12] Windowsnetworking.com. 2009 . Introduction-Wireless-Networking-Part1. http://www.windowsnetworking.com/articles_tutorials/IntroductionWirele ss Networking-Part1.html (akses April 2009) [13] Hillsouth,. 2009. WLAN. www.hillsouth.com/solutions/pdf/WLAN.pdf (akses : Agustus 2009) [14] Mulyanta, Edi S. 2005. Pengenalan Protokol Jaringan Wireless. Penerbit Andi. Yogyakarta.

71

72

[15] Purbo Onno, W. 2001. Jaringan Komputer di Indonesia dan Perangkatnya. Computer Network Research Group Inter University Center on Microelektronics Institut Teknologi Bandung. Bandung. [16] Buettrich, Sabastian. 2005. Basic Wireless Infrastructure And Topologies. http://www.itrainonline.org/itrainonline.org/mmtk/ (akses April 2009). [17] Purbo Onno, W. 2003. Jaringan Komputer di Indonesia, Aplikasi dan Teknologi. Computer Network Research Group Inter University Center on Microeletronics Institute of Technology Bandung. Bandung 40132. [18] Arifta Surya (2009). Perbandingan Media Transmisi Wireless dan Satelit. Skripsi Teknik Informatika. Universitas Sriwijaya. [19] Flickenger, Rob. 2007. Jaringan Wireless di Dunia Berkembang. Hacker Friendly LLC,London

73

Lampiran 1. Perhitungan Fresnel Zone

Data Jarak antar Titik Koneksi dan Frekuensi yang digunakan Lokasi SMP Negeri 2 SMK Muhamadiyah 6 SMK Sultan Agung SMA Kanisius SMP Sultan Agung SMP Kanisius SMP Negeri 1 Tujuan Koneksi Kantor Kecamatan Kantor Kecamatan Kantor Kecamatan SMK Sultan Agung SMK Sultan Agung SMK Sultan Agung SMP Kanisius Jarak (m) 6295 144 1105 385 113 170 216 f (MHz) 2412 2412 2412 2412 2412 2412 2412

Perhitungan Fresnel Zone menggunakan rumus : r = 17,31 (di*d2)/(D*f) atau r = 17,31 (D/4f) dimana r adalah jari-jari dari zone tersebut dalam meter, d1 /d2 jarak dari titik koneksi ke halangan D adalah jarak total sambungan dalam meter, dan f adalah frekuensi dalam MHz. 1. Kantor kecamatan dengan SMP Negeri 2 Diketahui D (meter) F (MHz) r (meter) : 6295 : 2412 : 17,31 (6295/4(2412)) : 17,31 (6295/9648) : 17,31 0,65 : 17.31 x 0,81 : 13,98 meter Radius fresnel zone antara kantor kecamatan dengan SMP Negeri 2 adalah 13,98 meter

74

Lampiran 1 (Lanjutan)

2.

Kantor kecamatan dengan SMK Muhamadiyah 6 Diketahui D (meter) F (MHz) r (meter) : 144 : 2412 : 17,31 (144/4(2412)) : 17,31 (144/9648) : 17,31 0,01 : 17.31 x 0,12 : 2,11 meter

Radius fresnel zone antara kantor kecamatan dengan SMK Muhamadiyah 6 adalah 2,11 meter.

3.

Kantor Kecamatan dengan SMK Sultan Agung Diketahui D (meter) F (MHz) r (meter) : 1105 : 2412 : 17,31 (1105/4(2412)) : 17,31 (1105/9648) : 17,31 0,11 : 17.31 x 0,34 : 5,86 meter

Radius fresnel zone antara kantor kecamatan dengan SMK Sultan Agung adalah 5,86 meter.

4.

SMK Sultan Agung dengan SMA Kanisius Diketahui D (meter) F (MHz) r (meter) : 385 : 2412 : 17,31 (385/4(2412))

75

Lampiran 1 (Lanjutan) : 17,31 (385/9648) : 17,31 0,04 : 17.31 x 0,20 : 3,46 meter Radius fresnel zone antara SMK Sultan Agung dengan SMA Kanisius adalah 3,46 meter. 5. SMK Sultan Agung dengan SMP Sultan Agung Diketahui D (meter) F (MHz) r (meter) : 113 : 2412 : 17,31 (113/4(2412)) : 17,31 (113/9648) : 17,31 0,01 : 17.31 x 0,11 : 1,87 meter Radius fresnel zone antara SMK Sultan Agung dengan SMP Sultan Agung adalah 1,87 meter. 6. SMK Sultan Agung dengan SMP Kanisius Diketahui D (meter) F (MHz) r (meter) : 170 : 2412 : 17,31 (170/4(2412)) : 17,31 (170/9648) : 17,31 0,02 : 17.31 x 0,13 : 2,30 meter Radius fresnel zone antara SMK Sultan Agung dengan SMP Kanisius adalah 2,30 meter.

r (meter)

76

Lampiran 1 (Lanjutan)

7.

SMP Kanisius dengan SMP Negeri 1 Diketahui D (meter) F (MHz) r (meter) : 216 : 2412 : 17,31 (216/4(2412)) : 17,31 (216/9648) : 17,31 0,02 : 17.31 x 0,16 : 2,60 meter

Radius fresnel zone antara SMP Kanisius dengan SMP Negeri 1 adalah 2,60 meter.

77

Lampiran 2. Konfigurasi Access Point (AP) Mikrotik RB 433 dan Router Mikrotik RB 450 di Kantor Kecamatan.

1. Konfigurasi Mikrotik RB 450 sebagai Router. 1. Menghubungkan ujung kabel UTP Access Point RB 133 ke ether1 RB 450, kemudian dari ether3 RB 450 ke ethernet laptop penulis (ether2 dihubungkan AP RB 433). 2. Menghidupkan power AP RB 133, RB 450 dan laptop penulis. 3. Untuk mensetting RB 450 penulis menggunakan tools winbox versi 2.2.15. Tools winbox ini didapatkan secara gratis di website

http://www.mikrotik.co.id. Winbox dapat mendeteksi sistem mikrotik yang digunakan asalkan masih dalam satu network, yaitu dengan mendeteksi MAC address dari ethernet mikrotik. 4. Tampilan pertama kali mengaktifkan winbox adalah seperti berikut :

78

Lampiran 2 (Lanjutan).

5. Memilih MAC address yang sudah terdeteksi dan klik tombol Connect. Maka akan muncul menu konfigurasi seperti di bawah :

79

Lampiran 2 (Lanjutan).

6. Untuk memudahkan mengingat, penulis memberi keterangan pada ethernet yang digunakan, ether1 dengan keterangan G/W, ether2 dengan keterangan WLAN. Cara ini dilakukan dengan masuk menu interface, klik ether1 lalu klik comment dan menuliskan keterangan di comment for interface. 7. Langkah awal yang perlu dilakukan adalah set IP Address, menu konfigurasi - IP Addresses kemudian klik tanda tambah (+).

80

Lampiran 2 (Lanjutan).

8. Set IP DHCP Server untuk WLAN. Masuk ke menu konfigurasi IPDHCP Server DHCP Setup. DHCP Server Interface diarahkan ke ether2 (WLAN). Klik Next sampai pada select DNS Server, untuk IP DNS server yang pertama 192.168.1.1 dan yang kedua 172.16.0.1. kemudian klik next sampai dengan Setup has completed successfully. Rincian langkah-langkah set IP DHCP Server seperti terlihat pada gambar nomor 1-8 di bawah: (1)

(2)

81

Lampiran 2 (Lanjutan).

(3)

(4)

(5)

(6)

82

Lampiran 2 (Lanjutan).

(7)

(8)

9. Set IP Route yaitu dengan cara masuk menu konfigurasi IP - routes. Klik tanda tambah (+) lalu memasukan IP gateway dari ISP 121.100.22.225 di General- Gateway.

83

Lampiran 2 (Lanjutan). 10. Set IP DNS yaitu dengan cara masuk menu konfigurasi IP - DNS, dan klik settings. Primary DNS dari ISP adalah 121.100.20.20 dan secondary DNS adalah 122.200.48.14. cek list Allow Remote Request.

11. Set IP Firewall NAT dengan masuk menu konfigurasi IP Firewall lalu klik NAT dan tanda tambah (+). Pada general chain pilih srcnat dan action pilih masquerade. (1)

84

Lampiran 2 (Lanjutan).

(2)

12. Langkah selanjutnya adalah memberi nama router dan password untuk memudahkan dalam maintenance dan keamanan. Masuk ke menu konfigurasi System Identity untuk memberi nama router, dan masuk ke menu konfigurasi Password untuk memberi password pada router.

2. Konfigurasi Mikrotik RB 433 1. Menghubungkan ujung kabel UTP RB 433 ke PoE, dari PoE terhubung ke laptop penulis (setelah selesai setting, kabel UTP dari RB 433 dihubungkan ke ether2 RB 450, ether1 RB 450 terhubung ke RB 133).

85

Lampiran 2 (Lanjutan).

2. 3.

Menghidupkan power adaptor RB 433. Menjalankan winbox Loader v 2.2.15 dari laptop, Klik pada browse pada Connect To muncul Mac Address, IP Address, Identity dan Version. Pilih MAC address RB 433, default identity-nya MikroTik, username admin, password kosong.

4.

Setelah masuk ke menu konfigurasi, langkah pertama adalah membuat bridge, dengan cara masuk ke menu konfigurasi pilih menu Bridge lalu klik tambah (+). Masuk ke General, dan memberikan nama, dalam implementasi penulis member nama wds-bridge.

5. Set IP address yaitu dengan cara masuk menu konfigurasi IP Addresses, interface diarahkan ke wds-bridge yang telah dibuat. IP Address untuk RB 433 adalah 172.16.0.2.

86

Lampiran 2 (Lanjutan).

6. Masuk ke menu konfigurasi Interface klik pada wlan yang terlihat di interface list.

87

Lampiran 2 (Lanjutan).

7. Masuk ke menu wireless, kemudian untuk mode dipilih ap-bridge, band 2,4 GHz B/G, Frequensi chanel 1 (2412), SSID penulis memberi nama CyberVillage, Radio Name Kec.Tirtomoyo, security profile default, Frequency mode manual tx-power, country Indonesia, antenna mode antenna a, cek list pada Default Authenticate dan Default Forward.

8. Masuk ke menu WDS, kemudian WDS mode dipilih dynamic, dan WDS default bridge diarahkan ke wds-bridge.

88

Lampiran 2 (Lanjutan).

9.

Masuk ke menu Tx Power, kemudian Tx Power Mode dipilih card rates, dan Tx Power 22 dBm.

10.

Set IP Routes, masuk menu konfigurasi IP Routes. Memasukkan IP RB 450 (172.16.0.1) ke Gateway.

89

Lampiran 2 (Lanjutan).

11. Langkah selanjutnya adalah memberi nama RB 433 dan password untuk memudahkan dalam maintenance dan keamanan. Masuk ke menu konfigurasi System Identity untuk memberi nama RB 433, dan masuk ke menu konfigurasi Password untuk memberi password pada RB 433.

3. Konfigurasi RB 450 untuk Hostpot Area Setting hotspot untuk jaringan WLAN melalui mikrotik router RB 450. Sistem autentikasi akan digunakan ketika user ingin terkoneksi internet pada areal hotspot CyberVillage. Ketika membuka halaman web maka user akan diarahkan pada hotspot login page yang mengharuskan mengisi username dan password. Jika informasi login dan password yang dimasukkan sudah benar, maka router akan memasukkan user tersebut ke dalam sistem hotspot dan client sudah bisa mengakses halaman web. Hal ini dilakukan untuk membiasakan hidup tertib dan teratur pada staff pengajar, karyawan maupun masyarakat yang ingin menggunakan layanan hotspot CyberVillage. User yang tidak terautentifikasi masih tetap dapat menikmati akses internet tetapi waktu aksesnya penulis batasi selama 30 menit per hari per MAC Address per user yang tidak terdaftar. Sedangkan untuk client sekolah, konfigurasinya melalui walled garden IP List.

90

Lampiran 2 (Lanjutan).

Langkah-langkah setting mikrotik router RB 450 untuk hotspot adalah sebagai berikut : 1. Menjalankan winbox Loader v2.2.15 dengan dengan laptop penulis yang terhubung ke ether3 RB 450, klik pada browse pada Connect To muncul Mac Address, IP Address, Identity dan Version. Pilih IP 172.16.0.1 identity nya Tio.router, username admin, password ****** ). 2. Setelah masuk menu konfigurasi, masuk ke menu IP Hotspot Servers Hostpot Setup. Langkah-langkahnya seperti terlihat di bawah :

91

Lampiran 2 (Lanjutan).

92

Lampiran 2 (Lanjutan).

3. Langkah selanjutnya adalah masuk ke menu konfigurasi IP-HotspotServer Profile lalu edit profile hsproff1 dengan cara doble klik pada hsprof1. Mengganti Name hsprof menjadi CyberVillage dan HTTP Proxy port menjadi 80.

4. Masuk ke menu konfigurasi IP-Hotspot-Server Profile lalu doble klik pada CyberVillage dan masuk ke login, kemudian seting waktu akses bagi free user yang tidak terdaftar selama 30 menit. Namun bagi guru dan karyawan maupun user yang terdaftar tidak ada batasan waktu akses, bagi user yang terdaftar akan diberi login dan password serta MAC address dari laptop harus didaftarkan di router.

93

Lampiran 2 (Lanjutan).

5. Masuk ke menu konfigurasi IP-Hotspot Users lalu doble klik pada server all name admin untuk memberi password login bagi admin.

94

Lampiran 2 (Lanjutan).

6. Langkah berikutnya adalah menambahkan user untuk dapat login tanpa dibatasi waktu, pada menu konfigurasi IP-Hotspot User klik tanda tambah (+), kemudian memasukkan login dan password serta MAC Address dari user.

7. Langkah selanjutnya adalah membatasi bandwith bagi user hotspot dengan cara masuk ke menu konfigurasi IP-Hotspot-Server Profile doble klik pada CyberVillage. Atas persetujuan pihak sekolah maka penulis membatasi bandwith untuk hotspot area Tx = 64 kb, Rx = 64 kb

95

Lampiran 2 (Lanjutan)

8. Dengan setingan hotspot tersebut maka setiap user yang terkoneksi dengan jaringan wireless dan membuka halaman web browser maka akan otomatis diarahkan pada halaman login page mikrotik seperti tampak pada gambar di bawah.

96

Lampiran 2 (Lanjutan).

9. Untuk client sekolah IP Address dimasukkan dalam walled garden IP List, dengan maksud ketika komputer di tiap-tiap sekolah yang terhubung jaringan WLAN langsung dapat menggunakan akses internet tanpa melalui login. Masuk ke menu konfigurasi IP- hostspot Walled Garden IP List, lalu memasukkan IP Wireless AP dan router masing-masing sekolah.

97

Lampiran 3. Konfigurasi Access Point (AP) Mikrotik RB 411 dan PC Router mikrotik x86 di SMK Sultan Agung.

1. Konfigurasi AP Mikrotik RB 411. 1. Menghubungkan ujung kabel UTP Access Point RB 411 ke laptop penulis. 2. Menghidupkan power AP RB 411. 3. Untuk mensetting RB 411 penulis menggunakan tools winbox versi 2.2.15. 4. Dari winbox masuk menu konfigurasi interface list klik wlan lalu klik scan, di dalam list scan terdapat daftar jaringan wireless kemudian pilih CyberVillage, kemudian klik connect.

5. Masuk ke menu konfigurasi, langkah pertama adalah membuat bridge, dengan cara masuk ke menu konfigurasi pilih menu Bridge lalu klik tambah (+). Masuk ke General, dan memberikan nama, dalam implementasi penulis member nama wds-bridge. 6. Set IP address yaitu dengan cara masuk menu konfigurasi IP Addresses, interface diarahkan ke wds-bridge yang telah dibuat. IP Address untuk RB 411 adalah 172.16.0.12.

98

Lampiran 3 (Lanjutan).

7. Masuk ke menu konfigurasi Interface klik pada wlan yang terlihat di interface list. 8. Masuk ke menu wireless, kemudian untuk mode dipilih ap-bridge, band 2,4 GHz B/G, Frequensi chanel 1 (2412), SSID CyberVillage, Radio Name SMK-SA, security profile default, Frequency mode manual tx-power, country Indonesia, antenna mode antenna a, cek list pada Default Authenticate dan Default Forward.

9. Masuk ke menu WDS, kemudian WDS mode dipilih dynamic, dan WDS default bridge diarahkan ke wds-bridge.

99

Lampiran 3 (Lanjutan).

10. Masuk ke menu Tx Power, kemudian Tx Power Mode dipilih card rates, dan Tx Power 22 dBm.

11. Set IP Routes, masuk menu konfigurasi IP Routes. Memasukkan IP RB 450 (172.16.0.1) ke Gateway.

100

Lampiran 3 (Lanjutan).

12. Langkah selanjutnya adalah memberi nama RB 411 dan password untuk memudahkan dalam maintenance dan keamanan. Masuk ke menu konfigurasi System Identity untuk memberi nama RB 411, dan masuk ke menu konfigurasi Password untuk memberi password pada RB 411.

2. Konfigurasi PC Router mikrotik x86. Spesifikasi PC Router yang digunakan di SMK Sultan Agung Intel Pentium III 800 MHz, RAM 128 MB, Harddisk 4 GB, dan 2 LAN Card. PC tersebut penulis install Mikrotik Router OS versi 3.20. Untuk melakukan konfigurasi penulis menggunakan Win Box versi 2.2.15. Adapun rincian langkahlangkahnya adalah sebagai berikut : 1. Menghubungkan ujung kabel UTP Access Point RB 411 ke ether1 PC Router, ether2 ke ethernet laptop penulis (selanjutnya setelah konfigurasi selesai ether2 dihubungkan ke HUB). 2. Setelah masuk menu konfigurasi dari Win Box, Langkah awal yang penulis lakukan memberi keterangan pada ethernet yang digunakan, ether1 dengan keterangan G/W, ether2 dengan keterangan LAN. Cara ini dilakukan dengan masuk menu interface, klik ether1 lalu klik comment dan menuliskan keterangan di comment for interface.

101

Lampiran 3 (Lanjutan).

3. Langkah awal yang perlu dilakukan adalah set IP Address, menu konfigurasi - IP Addresses kemudian klik tanda tambah (+).

4. Set IP DHCP Server untuk LAN. Masuk ke menu konfigurasi IP- DHCP Server DHCP Setup. DHCP Server Interface diarahkan ke ether2 (LAN). Klik Next sampai pada select DNS Server, untuk IP DNS server yang pertama 192.168.13.1 dan yang kedua 172.16.0.1. kemudian klik next sampai dengan Setup has completed successfully. (1)

102

Lampiran 3 (Lanjutan). (2)

(3)

(4)

(5)

(6)

103

Lampiran 3 (Lanjutan).

(7)

5. Set IP Route yaitu dengan cara masuk menu konfigurasi IP - routes. Klik tanda tambah (+) lalu memasukan IP gateway 172.16.0.1 di GeneralGateway.

6. Set IP DNS yaitu dengan cara masuk menu konfigurasi IP - DNS, dan klik settings. Primary DNS adalah 172.16.0.1. cek list Allow Remote Request.

104

Lampiran 3 (Lanjutan).

7. Set IP Firewall NAT dengan masuk menu konfigurasi IP Firewall lalu klik NAT dan tanda tambah (+). Pada general chain pilih srcnat dan action pilih masquerade.

105

Lampiran 3 (Lanjutan).

8. Langkah selanjutnya adalah memberi nama router dan password untuk memudahkan dalam maintenance dan keamanan. Masuk ke menu konfigurasi System Identity untuk memberi nama router, dan masuk ke menu konfigurasi Password untuk memberi password pada router.

106

Lampiran 4. Konfigurasi Access Point (AP) Mikrotik RB 411 dan PC Router mikrotik x86 di SMP Kanisius.

1. Konfigurasi AP Mikrotik RB 411. 1. Menghubungkan ujung kabel UTP Access Point RB 411 ke laptop penulis. 2. Menghidupkan power AP RB 411. 3. Untuk mensetting RB 411 penulis menggunakan tools winbox versi 2.2.15. 4. Dari winbox masuk menu konfigurasi interface list klik wlan lalu klik scan, di dalam list scan terdapat daftar jaringan wireless kemudian pilih CyberVillage, kemudian klik connect.

5. Langkah selanjutnya adalah membuat bridge, dengan cara masuk ke menu konfigurasi pilih menu Bridge lalu klik tambah (+). Masuk ke General, dan memberikan nama, dalam implementasi penulis member nama wdsbridge. 6. Set IP address yaitu dengan cara masuk menu konfigurasi IP Addresses, interface diarahkan ke wds-bridge yang telah dibuat. IP Address untuk RB 411 adalah 172.16.0.10.

107

Lampiran 4 (Lanjutan).

7. Masuk ke menu konfigurasi Interface klik pada wlan yang terlihat di interface list. 8. Masuk ke menu wireless, kemudian untuk mode dipilih ap-bridge, band 2,4 GHz B/G, Frequensi chanel 1 (2412), SSID CyberVillage, Radio Name SMP-K, security profile default, Frequency mode manual tx-power, country Indonesia, antenna mode antenna a, cek list pada Default Authenticate dan Default Forward.

9. Masuk ke menu WDS, kemudian WDS mode dipilih dynamic, dan WDS default bridge diarahkan ke wds-bridge.

108

Lampiran 4 (Lanjutan).

10. Masuk ke menu Tx Power, kemudian Tx Power Mode dipilih card rates, dan Tx Power 22 dBm.

11. Set IP Routes, masuk menu konfigurasi IP Routes. Memasukkan IP RB 450 (172.16.0.1) ke Gateway.

109

Lampiran 4 (Lanjutan).

12. Langkah selanjutnya adalah memberi nama RB 411 dan password untuk memudahkan dalam maintenance dan keamanan. Masuk ke menu konfigurasi System Identity untuk memberi nama RB 411, dan masuk ke menu konfigurasi Password untuk memberi password pada RB 411.

2. Konfigurasi PC Router mikrotik x86. Spesifikasi PC Router yang digunakan di SMP Kanisius Intel Pentium III 800 MHz, RAM 128 MB, Harddisk 4 GB, dan 2 LAN Card. PC tersebut penulis install Mikrotik Router OS versi 3.20. Untuk melakukan konfigurasi penulis menggunakan Win Box versi 2.2.15. Adapun rincian langkah-langkahnya adalah sebagai berikut : 1. Menghubungkan ujung kabel UTP Access Point RB 411 ke ether1 PC Router, ether2 ke ethernet laptop penulis (selanjutnya setelah konfigurasi selesai ether2 dihubungkan ke HUB). 2. Setelah masuk menu konfigurasi dari Win Box, Langkah awal yang penulis lakukan memberi keterangan pada ethernet yang digunakan, ether1 dengan keterangan G/W, ether2 dengan keterangan LAN. Cara ini dilakukan dengan masuk menu interface, klik ether1 lalu klik comment dan menuliskan keterangan di comment for interface.

110

Lampiran 4 (Lanjutan). 3. Set IP Address, menu konfigurasi - IP Addresses kemudian klik tanda tambah (+).

4. Set IP DHCP Server untuk LAN. Masuk ke menu konfigurasi IPDHCP Server DHCP Setup. DHCP Server Interface diarahkan ke ether2 (LAN). Klik Next sampai pada select DNS Server, untuk IP DNS server yang pertama 192.168.12.1 dan yang kedua 172.16.0.1. kemudian klik next sampai dengan Setup has completed successfully. (Langkah sama dengan set router di SMK Sultan Agung di Lampiran 3). 5. Set IP Route yaitu dengan cara masuk menu konfigurasi IP - routes. Klik tanda tambah (+) lalu memasukan IP gateway 172.16.0.1 di General- Gateway. (Langkah sama dengan set router di SMK Sultan Agung di Lampiran 3).

111

Lampiran 4 (Lanjutan).

6. Set IP DNS yaitu dengan cara masuk menu konfigurasi IP - DNS, dan klik settings. Primary DNS adalah 172.16.0.1. cek list Allow Remote Request. (Langkah sama dengan set router di SMK Sultan Agung di Lampiran 3). 7. Set IP Firewall NAT dengan masuk menu konfigurasi IP Firewall lalu klik NAT dan tanda tambah (+). Pada general chain pilih srcnat dan action pilih masquerade (Langkah sama dengan set router di SMK Sultan Agung di Lampiran 3). 8. Langkah selanjutnya adalah memberi nama router dan password untuk memudahkan dalam maintenance dan keamanan. Masuk ke menu konfigurasi System Identity untuk memberi nama router, dan masuk ke menu konfigurasi Password untuk memberi password pada router.

112

Lampiran 5. Konfigurasi Access Point (AP) Senao dan PC Router mikrotik x86 di SMP Sultan Agung.

1. Konfigurasi Access Point (AP) Senao. 1. Menghubungkan ujung kabel UTP Access Point Senao ke laptop penulis. 2. Menghidupkan power AP Senao. 3. Untuk mensetting AP Senao IP address laptop penulis set terlebih dahulu 192.168.1.2 dan subnet mask 255.255.255.0.

4. Membuka web browser dengan alamat default AP Senao 192.168.1.1. dengan mengetikkan alamat tersebut maka akan muncul user dan password (user default AP Senao : admin, password : kosong) 5. Operating mode cek list pada point to multi point. The SSID diisikan dengan SSID yang dituju untuk melakukan koneksi yaitu CyberVillage dengan frekuensi chanel 1 (2412 MHz), Tranmision rate nya diset automatic, Access Point Desnity : High. Kemudian klik save, lalu restart AP.

113

Lampiran 5 (Lanjutan).

6. Setelah restart masuk lagi ke web browser dan ketikkan alamat IP 192.168.1.1, user dan password. Langkah selanjutnya adalah set IP address untuk AP Senao. Untuk keamanan password default diganti, setelah konfigurasi selesai klik save. 7. Masuk ke AP Senao melalui web browser menggunakan IP 172.16.0.14 dengan password yang telah diset, setelah masuk ke AP maka akan muncul tampilan signal dan link quality, akan kelihatan mac address dan SSID dari AP yang dituju.

114

Lampiran 5 (Lanjutan).

115

Lampiran 5 (Lanjutan).

2. Konfigurasi PC Router mikrotik x86. Spesifikasi PC Router yang digunakan di SMP Sultan Agung Intel Pentium II, RAM 64 MB, Harddisk 4 GB, dan 2 LAN Card. PC tersebut penulis install Mikrotik Router OS versi 3.20. Untuk melakukan konfigurasi penulis menggunakan Win Box versi 2.2.15. Adapun rincian langkah-langkahnya adalah sebagai berikut : 1. Menghubungkan ujung kabel UTP Access Point Senao ke ether1 PC Router, ether2 ke ethernet laptop penulis (selanjutnya setelah konfigurasi selesai ether2 dihubungkan ke HUB). 2. Setelah masuk menu konfigurasi dari Win Box, Langkah awal yang penulis lakukan memberi keterangan pada ethernet yang digunakan, ether1 dengan keterangan G/W, ether2 dengan keterangan LAN. Cara ini dilakukan dengan masuk menu interface, klik ether1 lalu klik comment dan menuliskan keterangan di comment for interface. 3. Set IP Address, menu konfigurasi - IP Addresses kemudian klik tanda tambah (+).

116

Lampiran 5 (Lanjutan).

4. Set IP DHCP Server untuk LAN. Masuk ke menu konfigurasi IPDHCP Server DHCP Setup. DHCP Server Interface diarahkan ke ether2 (LAN). Klik Next sampai pada select DNS Server, untuk IP DNS server yang pertama 192.168.17.1 dan yang kedua 172.16.0.1. kemudian klik next sampai dengan Setup has completed successfully. (Langkah sama dengan set router di SMK Sultan Agung di Lampiran 3). 5. Set IP Route yaitu dengan cara masuk menu konfigurasi IP - routes. Klik tanda tambah (+) lalu memasukan IP gateway 172.16.0.1 di General- Gateway. (Langkah sama dengan set router di SMK Sultan Agung di Lampiran 3). 6. Set IP DNS yaitu dengan cara masuk menu konfigurasi IP - DNS, dan klik settings. Primary DNS adalah 172.16.0.1. cek list Allow Remote Request. (Langkah sama dengan set router di SMK Sultan Agung di Lampiran 3). 7. Set IP Firewall NAT dengan masuk menu konfigurasi IP Firewall lalu klik NAT dan tanda tambah (+). Pada general chain pilih srcnat dan action pilih masquerade (Langkah sama dengan set router di SMK Sultan Agung di Lampiran 3).

117

Lampiran 5 (Lanjutan).

8. Langkah selanjutnya adalah memberi nama router dan password untuk memudahkan dalam maintenance dan keamanan. Masuk ke menu konfigurasi System Identity untuk memberi nama router, dan masuk ke menu konfigurasi Password untuk memberi password pada router.

118

Lampiran 6. Konfigurasi Access Point (AP) Senao dan PC Router mikrotik x86 di SMA Kanisius.

1. Konfigurasi Access Point (AP) Senao. 1. Menghubungkan ujung kabel UTP Access Point Senao ke laptop penulis. 2. Menghidupkan power AP Senao. 3. Untuk mensetting AP Senao IP address laptop penulis set terlebih dahulu 192.168.1.2 dan subnet mask 255.255.255.0.

4. Membuka web browser dengan alamat default AP Senao 192.168.1.1. dengan mengetikkan alamat tersebut maka akan muncul user dan password (user default AP Senao : admin, password : kosong) 5. Pada Operating mode cek list pada point to multi point. The SSID diisikan dengan SSID yang dituju untuk melakukan koneksi yaitu CyberVillage dengan frekuensi chanel 1 (2412 MHz), Tranmision rate nya automatic, Access Point Desnity : High. Kemudian klik save, lalu restart AP.

119

Lampiran 6 (Lanjutan).

6. Setelah restart masuk lagi ke web browser dan ketikkan alamat IP 192.168.1.1, user dan password. Langkah selanjutnya adalah set IP address untuk AP Senao. Untuk keamanan password default diganti, setelah konfigurasi selesai klik save. Lalu restart AP Senao. 7. Masuk ke AP melalui web browser menggunakan IP 172.16.0.20 dengan password yang telah diset, setelah masuk ke AP maka akan muncul tampilan signal dan link quality, akan kelihatan mac address dan SSID dari AP yang dituju.

120

Lampiran 6 (Lanjutan).

121

Lampiran 6 (Lanjutan).

2. Konfigurasi PC Router mikrotik x86. Spesifikasi PC Router yang digunakan di SMA Kanisius Intel Pentium III 800 MHz, RAM 128 MB, Harddisk 20 GB, dan 2 LAN Card. PC tersebut penulis install Mikrotik Router OS versi 3.20. Untuk melakukan konfigurasi penulis menggunakan Win Box versi 2.2.15. Adapun rincian langkah-langkahnya adalah sebagai berikut : 1. Menghubungkan ujung kabel UTP Access Point Senao ke ether1 PC Router, ether2 ke ethernet laptop penulis (selanjutnya setelah konfigurasi selesai ether2 dihubungkan ke HUB). 2. Setelah masuk menu konfigurasi dari Win Box, Langkah awal yang penulis lakukan memberi keterangan pada ethernet yang digunakan, ether1 dengan keterangan G/W, ether2 dengan keterangan LAN. Cara ini dilakukan dengan masuk menu interface, klik ether1 lalu klik comment dan menuliskan keterangan di comment for interface. 3. Set IP Address, menu konfigurasi - IP Addresses kemudian klik tanda tambah (+).

122

Lampiran 6 (Lanjutan).

4. Set IP DHCP Server untuk LAN. Masuk ke menu konfigurasi IPDHCP Server DHCP Setup. DHCP Server Interface diarahkan ke ether2 (LAN). Klik Next sampai pada select DNS Server, untuk IP DNS server yang pertama 192.168.16.1 dan yang kedua 172.16.0.1. kemudian klik next sampai dengan Setup has completed successfully. (Langkah sama dengan set router SMK Sultan Agung di Lampiran 3). 5. Set IP Route yaitu dengan cara masuk menu konfigurasi IP - routes. Klik tanda tambah (+) lalu memasukan IP gateway 172.16.0.1 di General- Gateway. (Langkah sama dengan set router di SMK Sultan Agung di Lampiran 3). 6. Set IP DNS yaitu dengan cara masuk menu konfigurasi IP - DNS, dan klik settings. Primary DNS adalah 172.16.0.1. cek list Allow Remote Request. (Langkah sama dengan set router di SMK Sultan Agung di Lampiran 3). 7. Set IP Firewall NAT dengan masuk menu konfigurasi IP Firewall lalu klik NAT dan tanda tambah (+). Pada general chain pilih srcnat dan action pilih masquerade (Langkah sama dengan set router di SMK Sultan Agung di Lampiran 3).

123

Lampiran 6 (Lanjutan).

8. Langkah selanjutnya adalah memberi nama router dan password untuk memudahkan dalam maintenance dan keamanan. Masuk ke menu konfigurasi System Identity untuk memberi nama router, dan masuk ke menu konfigurasi Password untuk memberi password pada router.

124

Lampiran 7. Konfigurasi Access Point (AP) Senao dan PC Router mikrotik x86 di SMP Negeri 1.

1. Konfigurasi Access Point (AP) Senao. 1. Menghubungkan ujung kabel UTP Access Point Senao ke laptop penulis. 2. Menghidupkan power AP Senao. 3. Untuk mensetting AP Senao IP address laptop penulis set terlebih dahulu 192.168.1.2 dan subnet mask 255.255.255.0.

4. Membuka web browser dengan alamat default AP Senao 192.168.1.1. dengan mengetikkan alamat tersebut maka akan muncul user dan password (user default AP Senao : admin, password : kosong) 5. Pada Operating mode cek list pada point to multi point. The SSID diisikan dengan SSID yang dituju untuk melakukan koneksi yaitu CyberVillage dengan frekuensi chanel 1 (2412 MHz), Tranmision rate nya automatic, Access Point Desnity : High. Kemudian klik save, lalu restart AP.

125

Lampiran 7 (Lanjutan).

6. Setelah restart masuk lagi ke web browser dan ketikkan alamat IP 192.168.1.1, user dan password. Langkah selanjutnya adalah set IP address untuk AP Senao. Untuk keamanan password default diganti, setelah konfigurasi selesai. Klik save dan restart AP . 7. Setelah restart, untuk masuk ke AP menggunakan IP 172.16.0.18 dengan password yang telah diset, setelah masuk ke AP maka akan muncul tampilan signal dan link quality, akan kelihatan mac address dan SSID dari AP yang dituju.

126

Lampiran 7 (Lanjutan).

127

Lampiran 7 (Lanjutan).

2. Konfigurasi PC Router mikrotik x86. Spesifikasi PC Router yang digunakan di SMP Negeri 1 adalah mikrotik RB 750. Untuk melakukan konfigurasi penulis menggunakan Win Box versi 2.2.15. Adapun rincian langkah-langkahnya adalah sebagai berikut : 1. Menghubungkan ujung kabel UTP Access Point Senao ke ether1 PC Router, ether2 ke ethernet laptop penulis (selanjutnya setelah konfigurasi selesai ether2 dihubungkan ke HUB). 2. Setelah masuk menu konfigurasi dari Win Box, Langkah awal yang penulis lakukan memberi keterangan pada ethernet yang digunakan, ether1 dengan keterangan G/W, ether2 dengan keterangan LAN. Cara ini dilakukan dengan masuk menu interface, klik ether1 lalu klik comment dan menuliskan keterangan di comment for interface. 3. Set IP Address, menu konfigurasi - IP Addresses kemudian klik tanda tambah (+).

128

Lampiran 7 (Lanjutan).

4. Set IP DHCP Server untuk LAN. Masuk ke menu konfigurasi IPDHCP Server DHCP Setup. DHCP Server Interface diarahkan ke ether2 (LAN). Klik Next sampai pada select DNS Server, untuk IP DNS server yang pertama 192.168.15.1 dan yang kedua 172.16.0.1. kemudian klik next sampai dengan Setup has completed successfully. (Langkah sama dengan set router SMK Sultan Agung di Lampiran 3). 5. Set IP Route yaitu dengan cara masuk menu konfigurasi IP - routes. Klik tanda tambah (+) lalu memasukan IP gateway 172.16.0.1 di General- Gateway. (Langkah sama dengan set router di SMK Sultan Agung Lampiran 3). 6. Set IP DNS yaitu dengan cara masuk menu konfigurasi IP - DNS, dan klik settings. Primary DNS adalah 172.16.0.1. cek list Allow Remote Request. (Langkah sama dengan set router di SMK Sultan Agung Lampiran 3). 7. Set IP Firewall NAT dengan masuk menu konfigurasi IP Firewall lalu klik NAT dan tanda tambah (+). Pada general chain pilih srcnat dan action pilih masquerade (Langkah sama dengan set router di SMK Sultan Agung Lampiran 3). 8. Langkah selanjutnya adalah memberi nama router dan password untuk memudahkan dalam maintenance dan keamanan. Masuk ke menu konfigurasi System Identity untuk memberi nama router, dan masuk ke menu konfigurasi Password untuk memberi password pada router.

129

Lampiran 8. Konfigurasi Access Point (AP) Ubiquity PicoStation2 di SMK Muhamadiyah 6.

1. Konfigurasi Access Point (AP) Ubiquity PicoStation2 1. Menghubungkan ujung kabel UTP Access Point (AP) Ubiquity PicoStation2 ke laptop penulis. 2. Menghidupkan power Access Point (AP) Ubiquity PicoStation2 3. Untuk mensetting Access Point (AP) Ubiquity PicoStation2 IP address laptop penulis set terlebih dahulu 192.168.1.21 dan subnet mask 255.255.255.0.

4. Membuka web browser dengan alamat default Ubiquity PicoStation2 adalah 192.168.1.20, dengan mengetikkan alamat tersebut maka akan muncul user dan password (user : ubnt, password : ubnt). 5. Klik Link Setup, pada Wireless Mode pilih Station, ESSID klik select, maka akan muncul SSID CyberVillage kemudian klik connect. Country Code pilih Indonesia, IEEE 802 11 Mode pilih B/G mixed, cek list Auto pada Data Rate, kemudian klik change.

130

Lampiran 8 (Lanjutan).

6. Masuk ke Network, pada Network Mode pilih Router, Disabled Network pilih None. Pada WLAN Network Setting cek list pada Static di WLAN IP Address. IP Address 172.16.0.16, Netmask 255.255.255.0, Gateway IP 172.16.0.1, Primary DNS IP 172.16.0.1, cek list pada Auto IP Aliasing. 7. Pada LAN Network Setting, IP Address 192.168.14.1 Netmask 255.255.255.0 kemudian cek list pada Enable NAT dan Enable DHCP Server. Range Start 192.168.14.2, Range End 192.168.14.254 Netmask 255.255.255.0. 8. Pada Multicast Routing Settings cek list Enable Mcast Routing. 9. Klik change.

131

Lampiran 8 (Lanjutan).

10. Untuk mengganti password dan radio name masuk ke System, Hotname diganti dengan SMK-6, password juga diganti untuk keamanan jaringan

132

Lampiran 8 (Lanjutan).

133

Lampiran 9. Konfigurasi PC Router Mikrotik x86 di SMP Negeri 2.

1. Konfigurasi PC Router Mikrotik x86 sebagai router. 1. Menghubungkan ujung kabel UTP Access Point RB 133 ke ether1 PC Router, kemudian dari ether2 PC Router ke ethernet laptop penulis (setelah konfigurasi ether2 dihubungkan ke HUB). 2. Menghidupkan power AP RB 133, PC Router dan laptop penulis. 3. Untuk mensetting PC Router penulis menggunakan tools winbox versi 2.2.15. Tools winbox ini didapatkan secara gratis di website

http://www.mikrotik.co.id. Winbox dapat mendeteksi sistem mikrotik yang digunakan asalkan masih dalam satu network, yaitu dengan mendeteksi MAC address dari ethernet mikrotik. 4. Tampilan pertama kali mengaktifkan winbox adalah seperti berikut :

134

Lampiran 9 (Lanjutan).

5. Memilih MAC address yang sudah terdeteksi dan klik tombol Connect. Maka akan muncul menu konfigurasi seperti di bawah :

135

Lampiran 9 (Lanjutan).

6. Untuk memudahkan mengingat, penulis memberi keterangan pada ethernet yang digunakan, ether1 dengan keterangan G/W, ether2 dengan keterangan LAN. Cara ini dilakukan dengan masuk menu interface, klik ether1 lalu klik comment dan menuliskan keterangan di comment for interface. 7. Langkah awal yang perlu dilakukan adalah set IP Address, menu konfigurasi - IP Addresses kemudian klik tanda tambah (+).

136

Lampiran 9 (Lanjutan).

8. Set IP DHCP Server untuk WLAN. Masuk ke menu konfigurasi IPDHCP Server DHCP Setup. DHCP Server Interface diarahkan ke ether2 (WLAN). Klik Next sampai pada select DNS Server, untuk IP DNS server yang pertama 192.168.11.1 dan yang kedua 172.16.0.1. kemudian klik next sampai dengan Setup has completed successfully. Rincian langkah-langkah set IP DHCP Server seperti terlihat pada gambar no 1-7 (1)

(2)

(3)

137

Lampiran 9 (Lanjutan).

(4)

(5)

(6)

(7)

138

Lampiran 9 (Lanjutan).

9. Set IP Route yaitu dengan cara masuk menu konfigurasi IP - routes. Klik tanda panah (+) lalu memasukan IP gateway 172.16.0.1 di GeneralGateway.

10. Set IP DNS yaitu dengan cara masuk menu konfigurasi IP - DNS, dan klik settings. Primary DNS 172.16.0.1. cek list Allow Remote Request.

139

Lampiran 9 (Lanjutan).

11. Set IP Firewall NAT dengan masuk menu konfigurasi IP Firewall lalu klik NAT dan tanda tambah (+). Pada general chain pilih srcnat dan action pilih masquerade. (1)

(2)

140

Lampiran 9 (Lanjutan).

12. Langkah selanjutnya adalah memberi nama router dan password untuk memudahkan dalam maintenance dan keamanan. Masuk ke menu konfigurasi System Identity untuk memberi nama router, dan masuk ke menu konfigurasi Password untuk memberi password pada router.

141

Lampiran 10. Spesifikasi Access Point, Router Board, dan Antena.

1.

Mikrotik RB 133 Model Wireless card CPU Memory Speaker Data storage Ethernet ports Serial ports LEDs Fan Control RB 133 3 (Mini PCI Type IIIA/IIIB slots) MIPS32 4Kc based 175MHz embedded processor 32MB SDRAM onboard memory Mini PC-speaker 64 or 128 MB onboard NAND memory chip 3 (10/100 Mbit/s Fast Ethernet port supporting AutoMDI/X) One DB9 RS232C asynchronous serial port Power, user LED Two DC fan power output headers with rotation sensor and automatic fan switching (maximum output current500mA total) Power over Ethernet: 10..28V DC (except power over datalines); Power jack: 9..28V DC 11, 7 cm x 10,5 cm (4,61 inch x 4,13 inch), Operational: -20C to +65C (-4F to 149F) Operational: 70% relative humidity (non-condensing) 3-4 watt without extension card, maximum 20W (10W output to extension cards)

Power Option Dimensions Temperature Humidity Power consumption 2. Mikrotik RB 433 Model Wireless card CPU Memory Root loader Data storage Ethernet ports Serial ports LEDs Watchdog Power Option

Dimensions

RB 433 Atheros Min iPCI Wireless 802.11a+b+g 54Mbps 2.4/5GHz 300MHz Atheros CPU 64MB DDR onboard memory chip Router BOOT, 1Mbit Flash chip 64MB onboard NAND memory chip 3 (10/100 Mbit/s Fast Ethernet port supporting AutoMDI/X) One DB9 RS232C asynchronous serial port Power, user LED IDT internal SoC hardware watchdog timer Power over Ethernet: 10..28V DC (except power over datalines); Power jack: 10..28V DC; Overvoltage protection 150 mm x 105 mm (5.90 in x 4.13 in)

142

Lampiran 10 (Lanjutan).

Temperature Humidity supported OS 3. Mikrotik RB 411 Model Wireless card CPU Memory Root loader Data storage Ethernet ports Serial ports LEDs Power Option

Operational: -20C to +70C (-4F to 158F) Operational: 70% relative humidity (non-condensing) Lisensi Mikrotik Router OS AP - Level 4/CF

Dimensions Temperature Humidity supported OS 4. Mikrotik RB 450 Model CPU Memory Root loader Data storage Ethernet ports Serial ports LEDs Watchdog Power Option

RB 411 Atheros Mini PCI Wireless 802.11b+g 54Mbps 2.4/5GHz Atheros AR7130 300MHz 64MB DDR onboard memory chip Router BOOT, 1Mbit Flash chip 64MB onboard NAND memory chip 1 (10/100 Mbit/s Fast Ethernet port supporting AutoMDI/X) One DB9 RS232C asynchronous serial port Power, user LED Power over Ethernet: 10..28V DC (except power over datalines); Power jack: 10..28V DC; Overvoltage protection 105 mm x 105 mm (4,13 inch x 4,13 inch) Operational: -20C to +70C (-4F to 158F) Operational: 70% relative humidity (non-condensing) Lisensi Mikrotik Router OS AP - Level 4/CF

Dimensions Temperature

RB 450 300MHz Atheros CPU 32MB DDR onboard memory chip RouterBOOT, 1Mbit Flash chip 64MB onboard NAND memory chip 5 (10/100 Mbit/s Fast Ethernet port supporting AutoMDI/X) One DB9 RS232C asynchronous serial port Power, user LED IDT internal SoC hardware watchdog timer Power over Ethernet: 10..28V DC (except power over datalines); Power jack: 10..28V DC; Overvoltage protection 150 mm x 105 mm (5.90 in x 4.13 in) Operational: -20C to +70C (-4F to 158F)

143

Lampiran 10 (Lanjutan).

Humidity supported OS 5. Mikrotik RB 750 Model CPU Memory Root loader Data storage Ethernet ports Serial ports LEDs Watchdog Power Option Dimensions Power Consumption supported OS 6.

Operational: 70% relative humidity (non-condensing) Router OS

RB 750 AR7240 300MHz (overclock up to 400MHz) CPU 32MB DDR SDRAM onboard memory RouterBOOT 64MB onboard NAND memory chip Five 10/100 ethernet ports (with switch chip) no serial port Power, NAND activity, 5 Ethernet LEDs IDT internal SoC hardware watchdog timer Power over Ethernet: 9..28V DC (except power over datalines); Power jack: 9..28V DC. 113x89x28mm. Weight without packaging and cables: 130g Up to 3W MikroTik RouterOS v3, Level4 license

Ubiquity Pico Station 2 Processor Specs Frequency Memory Information Networking Interface Wireless Approvals Enclosure Size Weight Enclosure Characteristics Max Power Consumption Power Rating Power Method Atheros MIPS 4KC 180MHz 2412-2462 MHz 32MB SDRAM, 8MB Flash 1 X 10/100 BASE-TX (Cat 5. RJ-45) Ethernet Interface FCC Part 15.247, IC RS210, CE 13.6 cm. length x 2.0 cm. height x 3.9cm. width 0.10kg Outdoor UV Stabalized Plastic 4 Watts 12V, 1A (12 Watts). Supply and injector included Passive Power over Ethernet (pairs 4,5+; 7,8 return)

144

Lampiran 10 (Lanjutan).

Operating Temperature Operating Humidity Shock and Vibration 7. Senao ECB-3220 Data Rates Standards Compatibility Power Requirements

-20C to +70C 5 to 95% Condensing ETSI300-019-1.4

1, 2, 5.5, 6, 9, 11, 12, 18, 24, 36, 48, 54 Mbps IEEE802.11b/g, IEEE802.1x, IEEE802.3, IEEE802.3u IEEE 802.11g/ IEEE 802.11b Power Supply: 90 to 240 VDC +/- 10 (depends on different countries) Device: 12 V/ 1A LAN: Link, WLAN: Link, Power: on/off FCC Part 15/UL, ETSI 300/328/CE 2.4002.484 GHz Carrier Sense Multiple Access with Collision Avoidance (CSMA/CA) Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) DBPSK @ 1Mbps DQPSK @2Mbps CCK @ 5.5 & 11Mbps BPSK @ 6 and 9 Mbps QPSK @ 12 and 18 Mbps 16-QAM @ 24 and 36 Mbps 64-QAM @ 48 and 54 Mbps 11 for North America, 14 for Japan, 13 for Europe, -94dBm @ 1Mbps, -92dBm @ 2Mbps, -89dBm @ 5.5Mbps, -86dBm @ 11Mbps, -92dBm @ 6Mbps, -90dBm @ 9Mbps -88dBm @ 12Mbps, -86dBm @ 18Mbps, -83dBm @ 24Mbps, -79dBm @ 36Mbps, -74dBm @ 48Mbps, -72dBm @ 54Mbps

Status LEDs Regulation Certifications RF Information Frequency Band Media Access Protocol Modulation Technology

Operating Channels Receive Sensitivity (Typical)

145

Lampiran 10 (Lanjutan).

Available transmit power (Typical)

RF Connector Networking Topology Operation Mode Interface Security

25 min dBm @1 ~ 24 Mbps 23 +/- 2dBm @36Mbps 21 +/- 2dBm @48Mbps 20 +/- 2dBm @54Mbps TNC Type (Female Reverse) Ad-Hoc, Infrastructure Point-to-Point/ Point-to-Multipoint Bridge/ AP/ Client Bridge/ WDS One 10/100Mbps RJ-45 LAN Port IEEE802.1x Authenticator / RADIUS Client (EAP-MD5/TLS/TTLS) Support in AP Mode WPA2/ WPA/ Pre-share Key (PSK)/ AES/ TKIP MAC address filtering Hide SSID in beacons DHCP client/server Web-based configuration (HTTP) Telnet configuration SNMP V1(MIBI, MIBII) Upgrade firmware via web-browser Operating: -10C to 50C (14F to 132F Storage: -40Cto 70C (-40F to 158F) 5%~95% Typical

IP Auto-configuration Management Configuration

Firmware Upgrade Environmental Temperature Range Humidity (non-condensing)

8.

Antena Omnidirectional

Model Frequency Gain Polarization Vertical Beam Width Horizontal Beam Width

OM1724 2400-2500 MHz 17 dBi Vertical 6 360

146

Lampiran 10 (Lanjutan).

Impedance Max. Input Power VSWR Connector Weight Length 9. Antena Yagi

50 Ohm 100 Watt < 1.5 N-Female 1.6 kg 1.37 M

Frequency Gain Front to Back ratio Lightning Protection Dimension Support Pole Diameter Beam Wind Resistance Polarization Impedance Max. Input Power VSWR Connector Weight

2300-2500 MHz 15 dBi > 18 dBi Direct Ground 750 mm 38~52 mm 25 x 25 60 m/s Vertical or Horizontal 50 Ohm 100 Watt < 1.5 RPTNC-male 1.0 kg

147

Lampiran 10 (Lanjutan).

9.

Antena Parabolic Frequency Gain Front to Back ratio Beam width Polarization Rated Wind Velocity Impedance Max. Input Power VSWR Connector Weight Dimension-m 2400-2483 MHz 24 dBi 30 dB 10 14 Vertical or Horizontal 60m/ s 50 ohm 100w 1.5 N Female 2.5Kg 0.4m 0.9m

148

Lampiran 11. Estimasi Biaya Pembangunan Jaringan Wireless.

NO 1.

DESKRPSI Hardware Antena Omnidirectional 2,4 Ghz 17 dBi Antena Parabolic 2,4Ghz 24 dBi Antena yagi 2,4 Ghz Mikrotik RB 433 +mini PCI + Box + POE Adapter Mikrotik RB 411+mini PCI + Box + POE Adapter Mikrotik RB 450 Mikrotik RB 133 +mini PCI + Box + Adaptor Senao ECB 3220 + Outdoor Box Ubiquity Pico Station 2 Tower 30 cm per 5mtr, incl. sling and insulator 20 cm per 5mtr, incl. sling and insulator tower sambungan pipa pole per 6 meter x 4, incl sling Pipa Pole 1,75 inch; Ketebalan 3mm; Panjang 6mtr; Semen Cable Twist Aqua Proof + Fiber Antenna Mounting Kit Grounding Kit Networking UTP Cable CAT5 E Connector RJ45 Tools RJ45 Crimping Tools Cable Tester Total

HARGA (RP)

JUMLAH

SATUAN

SUBTOTAL

2,100,000 1,000,000 325,000

3 3 3

Buah Buah Buah

6,300,000 3,000,000 975,000

2,050,000

Unit

2,050,000

1,480,000 2,300,000 2,500,000 1,000,000 900,000

2 1 2 3 1

Unit Unit Unit Unit Unit

2,960,000 2,300,000 5,000,000 3,000,000 900,000

2.

1,000,000 900,000

6 6

Stage Stage

6,000,000 5,400,000

600,000 200,000

Stage Stage

2,400,000 600,000

50,000 10,000 80,000 100,000 1,500,000 980,000 50,000 60,000 50,000

3 5 6 6 9 4 1 2 1 1

sak lsm lsm buah buah roll box buah buah

250,000 60,000 480,000 900,000 6,000,000 980,000 100,000 60,000 50,000 49,765,000

3.

4.

149

Lampiran 12. Foto-foto Kegiatan Pembangunan Jaringan Wireless. 1. Foto Lokasi Pemasangan Jaringan Wireless

150

Lampiran 12 (Lanjutan).

2.

Foto Proses Implementasi Jaringan Wireless dan Pelatihan

151

Lampiran 12 (Lanjutan).

152

SURAT KETERANGAN
Nomor : 001/Project/FKTO/2009 Yang bertandatangan di bawah ini : Nama Jabatan Alamat : Ruri Suko Basuki, S.Kom.,M.Kom : Ketua Umum Forum Komunitas Tirtomoyo Online (FKTO) : Perum Wolter Monginsidi Baru Kav. 14

Menerangkan dengan sesungguhnya, bahwa yang tersebut di bawah ini : Nama Status NIM Alamat : Joko Mukti : Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Dian Nuswantoro : A11.2002.01221 : Puter RT 01/01 , Desa Hargorejo, Kecamatan

Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri

Benar-benar telah melakukan penelitian dan terlibat secara langsung sebagai team teknis FKTO dalam pembangunan jaringan wireless antar sekolah di Kecamatan Tirtomoyo Kabupaten Wonogiri.

Demikian surat keterangan ini kami buat untuk dapat dipergunakan seperlunya.

Semarang, 13 Desember 2009

Ruri Suko Basuki, S.Kom., M.Kom Ketua Umum FKTO