Anda di halaman 1dari 24

Diabetes Melitus Tipe II

Ira Mutia 10100104031

Case Report Session

I.Keterangan Umum Nama : Ny.NH Jenis kelamin : Wanita Umur : 55 tahun Alamat : Subang Status : Menikah Pekerjaan : Ibu Rmh Tangga Pendidikan terakhir : tidak diketahui Tanggal masuk (IGD) : 11 Desember 2008 Tanggal Pemeriksaan : 11 desember 2008

Anamnesis Keluhan utama : 3 jam yll pasien tiba-tiba pingsan dan tidak sadar. Riwayat Penyakit :
Sejak 3 jam yang lalu pasien tiba-tiba pingsan dan tidak sadar,lalu dibawa ke IGD. Kejadian ini tidak didahului oleh keluhan apapun sebelumnya dan terjadi secara mendadak. Terdapat gangrene di pergelangan+lutut kaki kiri.Selain itu juga terdapat luka di mukosa vagina. Sejak 3 bulan yll pasien mengeluh adanya luka kecil di pergelangan kaki kiri yg semakin dalam dan besar, luka tsb meluas ke lutut kiri.Pasien lalu dtg ke dokter utk mengobati luka dan dilakukan pemeriksaan oleh dokter kemudian di Dx DM tipe II.

Riwayat pengobatan : Luka diberi betadine (tapi tdk membaik). Riwayat penyakit terdahulu : Hipertensi

Pemeriksaan Fisik
A. Keadaan Umum Kesan sakit : sakit berat Gizi : lebih (obesitas) Kesadaran : sopor B. Keadaan sirkulasi (diobservasi setiap 1 jam) * Jam 08.00 (ketika dtg di IGD) TD : 100/60 mmHg Nadi : 100x Corak pernafasan : retraksi otot pernapasan abdomen Respi : 32x/menit T : 37,2 djrt C

* Jam 09.30 (pindah ke ICU) TD : 100/70 mmHg Nadi : 92x Respi : 20x/menit T : 36,8 djrt C * Jam 10.30 TD : 90/60 mmHg

Pemeriksaan Khusus A. Kepala Tengkorak : simetris, distribusi rambut merata Wajah : twitching Mata : letak simetris, tidak terdapat edema palpebra, kornea dbn, pupil bulat isokor, sklera tidak ikterik dan konjungtiva anemik. Refleks cahaya +, pupil +, reaksi konvergen tidak dapat dilakukan Telinga tidak terdapat kelainan, terlihat adanya cerumen. Hidung : tidak terlihat hiperemis, tidak terdapat pernafasan cuping hidung Bibir : kering, sedikit cyanosis Gigi dan gusi : tidak dapat dilakukan Lidah : tidak dapat dilakukan Rongga mulut : tidak dapat dilakukan Faring dan tonsil : tidak dapat dilakukan Kelenjar parotis : tidak dapat dilakukan

B. Leher *Inspeksi - Kel tiroid : tdk trdpt pembesaran - Tidak terlihat pembesaran vena, terlihat pulsasi vena, tidak terlihat JVP *Palpasi tidak dapat dilakukan C. Thorax Anterior *Inspeksi - Pergerakan dada simetris - Terdapat pernapasan dgn otot aksesori abdomen - Tidak terdapat deformitas skeletal - Tidak terlihat ictus cordis - Tidak terlihat adanya massa atau tumor - Kulit : t.a.k - Tidak terlihat pembesaran vena *Palpasi,Perkusi,Auskultasi tidak dapat dilakukan

D. Abdomen *Inspeksi - Bentuk datar - Terdapat pergerakan pernapasan tambahan dengan otot abdomen - Kulit : t.a.k *Palpasi tidak dapat dilakukan *Perkusi tidak dapat dilakukan *Auskultasi tidak dapat dilakukan E. Lipat paha Tidak dapat dilakukan F. Ekstremitas atas dan bawah Acral : dingin Bentuk : t.a.k Terdapat gangrene di pergelangan kaki dan lutut sebelah kiri Pergerakan : normal

Pemeriksaan Lab. Penunjang


A.Darah *Jam 11.30 GDS = 835 *Jam 13.00 GDS = 696 *Jam 14.00 GDS = 655 *Jam 16.00 GDS = 597 Darah rutin : Leukosit= 32300 (n=6.000-11.000) Hb=10,2 (n= 12-14) Trombosit = 224.000 Eritrosit = 4,01

*Profil lipid : Kolesterol total = 84 (n= <200) Trigliserida = 145 ( n=40-155) HDL = 37 (n= >55) LDL = 18 (n=<150) *Asam urat Asam urat= 14,25 ( n=3-6) *Fungsi hati : SGOT = 20 (n=10-34) SGPT = 9 (n=8-43)

Usulan Pemeriksaan
Darah : HbA1C HbA1C = 11,6% (n=5-8) Ureum Ureum = 175 ( n=10-50) Kreatinin Kreatinin = 1,28 ( n=0,9-1,15) Albumin darah Albumin darah = 2,54 ( n=4-5,2) Glukosa darah observasi tiap jam

Foto rontgen ( X ray dada ) Konsul ke spesialis bedah, kulit & kelamin, saraf Urinalisis :

BGA

Albumin = + Keton = + Darah = +++ Nitrit = + Epitel = +

Pembahasan Kasus
Pasien menderita DM Tipe II : 1. 3 Bulan yg lalu pasien dtg ke dokter utk mengobati luka yg tidak membaik keluhan asymptomatis khas DM. 2. Stlh diDx DM Tipe II pasien tidak pernah kontrol. 3. Datang ke IGD dgn keadaan tidak sadarkan diri. 4. Dilakukan pemeriksaan GDS pd jam 11.30 835. 5. Faktor resiko obesitas, usia > 40 tahun, uncontrolled DM Tipe II.

DM Tipe II

1.

2.

DM Tipe II : Keadaan hiperglikemic persisten yg pd umumnya disebabkan faktor genetik dan lifestyle yg kurang baik. WHO faktor resiko yg paling berperan adl obesitas distribusi lemak mempengaruhi terjadinya resistensi insulin. 2 karakteristik defek metabolik yg terjadi pd DM Tipe II : Penurunan kemampuan jar.perifer utk merespon hormon insulin utk metabolisme dan storage glukosa insulin resistance. Disfungsi sel langerhans sekresi insulin inadekuat.

Patokan Diagnosis
Kadar glukosa darah sewaktu dan puasa sebagai patokan diagnosis DM + Normal glukosa darah = 70-120 mg/dl. Keluhan khas DM: poliuria, polidipsia, polifagia, dan BB tanpa sebab yang jelas.

Kadar glukosa Glukosa darah sewaktu (mg/dl) Glukosa darah puasa (mg/dl) Glukosa darah 2 jam pp (mg/dl)

DM 200 126

200

Patofisiologi DM Tipe II
Genetic Predispotion factors Obesity & Lifestyle

Insulin resistance Compensatory cell Normoglycemia

Failure cell (early) Tolerance

Impaired Glucose

Failure cell (late)

Diabetes

Hiperglikemic meningkatkan AGE formation (vasokonstriksi) supply menurun ke berbagai organ.

Komplikasi pd pasien

1. 2.

3.

Perubahan bentuk yg paling penting berbagai macam komplikasi sistemik tahap lanjut. Tergantung variasi dari : Waktu dan onset Tingkat keparahan Organ dan sistem organ yg terkena

Komplikasi pd pasien (contd)


Pasien mengalami komplikasi akut on kronik : pre koma (penurunan kesadaran). Mekanisme :
Hiperglikemic Diuresis osmotik Deplesi vol intravaskular

Impaired renal blood flow


Kidney gagal mengekresi glukosa Hiperosmolaritas yg semakin buruk Depresi CNS dan coma

Komplikasi pd pasien (contd)

Pasien telah mengalami komplikasi kronik yaitu : 1. Hiperglikemi (GDS = yg blm mencapai nilai normal) 2. Microvascular diseases :

Albuminuria indikator 1st adanya insufisiensi renal (diabetic nephropathy) - Ketonuria adanya metabolisme asam lemak berlebih ketoasidosis diabetikum - Metabolic acidosis adanya Kussmaul Respiration yg dapat mempengaruhi sistem saraf pusat - Gangrene diawali dengan ulkus yg basah dan bernanah di pergelangan kaki kiri yg meluas ke lutut kiri - Diabetic neuropathies terutama diawali di bag.distal tubuh akibat hiperglikemic yg menyebabkan penurunan aliran darah ke saraf dan peningkatan sorbitol ICF yg menyebakan nerve edema altered sensory motorfunction

Komplikasi pd pasien (contd)


3. Rentan thd infeksi Berbagai macam kuman pathogen akan mudah bermultiplikasi pd keadaan glukosa darah yg tinggi sbg sumber energi yg potensial. - Infeksi telinga (OMP) : ditandai dgn keluarnya cairan kuning dan berbau. - Infeksi saluran nafas : ditandai dengan mukus ketika batuk, tp tidak dpt keluar. - Infeksi vagina oleh jamur : candidiasis vulva vagina, shg di pemeriksaan urin ditemukan jamur.

DIABETES MELITUS

Penyakit pembuluh darah perifer

Neuropati otonomik
Arterioskl erosis obliterans Emboli kolesterol Penurunan pengiriman oksigen, antibiotik &nutrisi

Neuropati perifer Autosy mphath ectomi Sensorik Hilangnya sensasi Painless


trauma: -Mekanik: benda asing di sepatu, tekanan sepatu, stres berulang karena jalan - Suhu - Kimia

Penurunan flare reaction

Penurunan perspirasi

Motorik Atropati intraoss eous

Kulit pecahpecah & kering


Gangguan penyembuhan luka

Meningkatn ya aliran darah Meningkatnya reabsorsi tulang Kolaps sendi Deformitas kaki (Charcot)

Jari kaki terangkat, penipisan lemak diatas metatarsal

Patogenesis Infeksi Kaki Diabetik


Sindrom jari kaki biru

Titik tekan baru

Infeksi

Ulserasi

Gangren Gangren mayor

Amputasi

Gambar 1. Skema patogenesis lesi kaki diabetik

Diagnosa Banding Depresi susunan saraf pusat Diagnosa Kerja

1.

2. 3. 4. 5.

Pre Koma Hiperglikemic et causa uncontrolled DM tipe II. Insufisiensi renal. Gangrene diabeticum cruris sinistra. Kandidiasis vulva vagina. Otitis Media Purulent (OMP).

Terapi yang diberikan


1. 2.

3.
4. 5. 6.

7.
8. 9. 10.

11.
12.

Cefotaxime Phenitoin Movileps Osteocal Vit B dan C KSR Mucin Mucopect Tarivid (tetes telinga) Diflucan pervaginam Humulin R Plataal Octalbin

Prognosis
Quo ad vitam : dubia ad malam Quo ad functionam : dubia ad malam