Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FARMAKOTERAPI III PMDD

Disusun Oleh Kelas A/Kelompok 3 Rara Amalia Fadiah (G1F010003) Ifa Muttiatur R (G1F010011) Tika Pratiwi (G1F010019) Adibah (G1F010027) Anisa Dewi R (G1F010037) Yurissa Karimah (G1F010049) Desy Nawangsari (G1F010067) Taufik Hidayat (G1F010073) Diah Nurhidayati (G1F010077) Aldi Permadi (G1F010079)

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN FARMASI PURWOKERTO 2013

PRAKTIKUM 2 IMA Anterior + OMI Inferior pro DCA+PCI

I.

Dasar Teori Hipotiroid adalah suatu kondisi yang dikarakteristikan oleh produksi hormon tiroid yang rendah. Ada banyak kekacauan-kekacauan yang berakibat pada hipotiroid. Kekacauan-kekacauan ini mungkin langsung atau tidak langsung melibatkan kelenjar tiroid. Karena hormon tiroid mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan, dan banyak prosesproses sel, hormon tiroid yang tidak memadai mempunyai konsekuensikonsekuensi yang meluas untuk tubuh (Brunner, 2001). Hipotiroid adalah suatu kondisi yang sangat umum. Diperkirakan bahwa 3% sampai 5% dari populasi mempunyai beberapa bentuk hipotiroid. Kondisi yang lebih umum terjadi pada wanita dari pada pria dan kejadiankejadiannya meningkat sesuai dengan umur (Brunner, 2001).. Dibawah adalah suatu daftar dari beberapa penyebab-penyebab umum hipotiroid pada orang-orang dewasa diikuti oleh suatu diskusi dari kondisi-kondisi ini. a. Hashimoto's thyroiditis b. Lymphocytic thyroiditis (yang mungkin terjadi setelah hipertiroid) c. Penghancuran tiroid (dari yodium ber-radioaktif atau operasi) d. Penyakit pituitari atau hipotalamus e. Obat-obatan f. Kekurangan yodium yang berat (Brunner, 2001). Lebih dari 95% penderita hipotiroid mengalami hipotiroid primer atau tiroidal yang mengacu kepada disfungsi kelenjar tiroid itu sendiri. Apabila disfungsi tiroid disebabkan oleh kegagalan kelenjar hipofisis, hipotalamus atau keduanya hipotiroid sentral (hipotiroid sekunder) atau pituitaria. Jika sepenuhnya disebabkan oleh hipofisis hipotiroid tersier. a. Primer 1. Goiter: Tiroiditis Hashimoto, fase penyembuhan setelah tiroiditis, defisiensi yodium

2. Non-goiter: destruksi pembedahan, kondisi setelah pemberian yodium radioaktif atau radiasi eksternal, agenesis, amiodaron b. Sekunder: kegagalan hipotalamus ( TRH, TSH yang berubah-ubah, T4 bebas) atau kegagalan pituitari ( TSH, T4 bebas) (Brunner, 2002). Tidak seperti PMS, PMDD memiliki gejala yang lebih spesifik dan gangguan ini dapat terdiagnosis. Hanya 5% perempuan mengalami gejalagejala yang cukup berat dan terganggunya aktivitas sehari-hari untuk diagnosis PMDD. Gangguan PMDD secara spesifik memiliki gejala fisik yang berbeda dari gangguan depresi, dianggap sebagi suatu gejala PMDD pada wanita, ketika sudah terjadi berulang sedikitnya 5 dari 11 gejala selama seminggu sebelum menstruasi. Gejala-gejala tersebut adalah: 1) perasaan sedih atau putus asa 2) tegang atau perasaan cemas 3) perubahan mood yang fluktuatif 4) mudah marah dan terjadi peningkatan konflik interpersonal 5) motivasi menurun 6) kurang konsentrasi 7) kekurangan energi/ lesu 8) berkurangnya nafsu makan 9) insomnia atau sebaliknya, mudah mengantuk 10) perasaan subyektif menjadi kewalahan atau di luar kendali 11) gejala fisik lainnya, seperti: payudara bengkak, sakit kepala, nyeri otot, adanya sensasi kembung atau meningkatnya berat badan. Sama seperti PMS, penyebab pasti PMDD belum diketahui dan masih menjadi kontroversi (Guyton et al., 1997).

II.

Patofisiologi a. Hipotiroid Iodium merupakan semua bahan utama yang dibutuhkan tubuh untuk pembentukan hormon tyroid. Bahan yang mengandung iodium diserap usus, masuk ke dalam sirkulasi darah dan ditangkap paling banyak oleh kelenjar tyroid. Dalam kelenjar, iodium dioksida menjadi bentuk yang aktif yang distimuler oleh Tiroid Stimulating Hormon kemudian disatukan menjadi molekul tiroksin yang terjadi pada fase sel koloid. Senyawa yang terbentuk dalam molekul diyodotironin

membentuk tiroksin (T4) dan molekul yoditironin (T3). Tiroksin (T4) menunjukkan pengaturan umpan balik negatif dari sekresi Tiroid Stimulating Hormon dan bekerja langsung pada tirotropihypofisis, sedang tyrodotironin (T3) merupakan hormon metabolik tidak aktif. Beberapa obat dan keadaan dapat mempengaruhi sintesis, pelepasan dan metabolisme tyroid sekaligus menghambat sintesis tiroksin (T4) dan melalui rangsangan umpan balik negatif meningkatkan pelepasan TSH oleh kelenjar hypofisis. Keadaan ini menyebabkan pembesaran kelenjar tyroid (Rumahorbo, 1999). Patofosiologi hipotiroidisme brdasarkan atas masing-masing penyebab yang dapat menyebabkan hipotiroidisme, yaitu: 1. Hipotiroidisme sentral (HS) Apabila gangguan faal tiroid terjadi karena adanya kegagalan hipofisis, maka disebut hipotiroidisme sekunder, sedangkan apabila kegagalan terletak di hipothalamus disebut hipotiroidisme tertier. 50% HS terjadi karena tumor hipofisis. Keluhan klinis tidak hanya karena desakan tumor, gangguan visus, sakit kepala, tetapi juga karena produksi hormon yang berlebih (ACTH penyakit Cushing, hormon pertumbuhan akromegali, prolaktin galaktorea pada wanita dan impotensi pada pria). Urutan kegagalan hormon akibat desakan tumor hipofisis lobus anterior adalah gonadotropin, ACTH, hormon hipofisis lain, dan TSH (Rumahorbo, 1999).

2. Hipotiroidisme Primer (HP) Hipogenesis atau agenesis kelenjar tiroid. Hormon berkurang akibat anatomi kelenjar. Jarang ditemukan, tetapi merupakan etiologi terbanyak dari hipotiroidisme kongenital di negara barat. Umumnya ditemukan pada program skrining massal. Kerusakan tiroid dapat terjadi karena operasi, radiasi, tiroiditis autoimun, karsinoma, tiroiditis subakut, dishormogenesis dan atrofi (Rumahorbo, 1999). b. PMDD

(Dipiro, 2005).

Meningkatnya menyebabkan gejala

kadar estrogen dalam depresi dan

darah,

yang

akan mental.

khususnya

gangguan

Kadar estrogen yang meningkat akan mengganggu proses kimia tubuh termasuk vitamin B6 (Piridoksin) yang dikenal sebagai vitamin anti depresi karena berfungsi mengontrol produksi serotonin. Serotonin penting sekali bagi otak dan syaraf, dan kurangnya persediaan zat ini dalam jumlah yang cukup dapat mengakibatkan depresi. Saat kadar serotonin rendah, otak mengirim sinyal ke tubuh untuk makan karbohidrat, dimana untuk merangsang produksi serotonin dari yang alami dengan asam amino building block (Hacker et al., 2001; Brunner and Suddarth, 2001). Batas tertentu estrogen menyebabkan retensi garam dan air serta berat badannya bertambah. Mereka yang mengalami akan menjadi mudah tersinggung, tegang dan perasaan tidak enak. Gejala-gejala dapat dicegah bila pertambahan berat badan dicegah. Peranan estrogen pada PMDD PMDD tidak nyata, sebab ketegangan ini timbul terlambat pada siklus tidak pada saat ovulasi waktu sekresi estrogen berada pada saat puncaknya. Kenaikan sekresi vasopresin kemungkinan berperan pada retensi cairan pada saat premenstruasi (Ganong, 2003). PMDD terjadi pada fase luteal pada siklus menstruasi. Fase ini terjadi segera setelah sebuah telur dilepaskan dari ovarium, dan terjadi mulai dari hari 14 sampai hari ke 28 pada siklus menstruasi normal (hari pertama haid dihitung sebagai hari 1). Pada fase luteal ini, hormon dari ovarium menyebabkan lapisan rahim akan menebal dan membentuk seperti sponge. Pada waktu yang sama, telur akan dilepaskan dari ovarium. Jika saat itu ada hubungan seksual, maka telur dapat bertemu sperma yang masuk, dan telur yang sudah dibuahi ini akan menempel di lapisan uterus yang sudah menebal dan spongy tadi untuk tumbuh menjadi janin. Pada saat itu, kadar hormon progesteron akan meningkat, sebaliknya estrogenmulai menurun. Jika pada masa itu tidak ada hubungan seksual yang menyebabkan pembuahan, maka lapisan rahim

yang sudah siap tadi menjadi luruh, menjadi darah haid. Pergeseran keberadaan hormon dari estrogen menjadi progesteron inilah yang menyebabkan beberapa gejala PMDD. Perubahan kadar progesteron dalam tubuh ini yang menyebabkan perubahan mood, perilaku, dan fisik pada wanita pada fase luteal ini. Progesteron berinteraksi dengan bagian tertentu otak yang terkait dengan relaksasi. Pada seseorang itu ada hormon tertentu di sistem saraf pusat yang disebut endorfin. Endorfin ini hormon yang menyebabkan perasaan senang, happy mood, dan sekaligus juga membuat orang kurang sensitif terhadap nyeri (obat seperti heroin dan morfin beraksi seperti endorfin). Hormon ini dapat turun kadarnya pada fase luteal dalam siklus haid. Karenanya, pada fase luteal ini kadang wanita merasakurang happy dan nyeri-nyeri, seperti nyeri haid atau sakit kepala (Ganong, 2003). Jumlah prolaktin yang terlalu banyak yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisis dan dapat mempengaruhi jumlah estrogen dan progesteron yang dihasilkan pada setiap siklus. Jumlah prolaktin yang terlalu banyak dapat mengganggu keseimbangan mekanisme tubuh yang mengontrol produksi kedua hormon tersebut. Wanita yang

mengalami PMDD kadar prolaktin dapat tinggi atau normal. Wanita yang mempunyai kadar prolaktin cukup tinggi dapat disembuhkan dengan menekan produksi prolaktin (Hacker et al., 2001; Brunner and Suddarth, 2001).

III. Guideline Terapi a. GUIDELINE TERAPI PMDD

(Dipiro, 2009).

b.

GUIDELINE TERAPI HIPOTIROID

(Dipiro, 2005).

IV. Kasus dan DFP a. Kasus Kasus ini membahas tentang Ny. JS yang didiagnosa oleh dokter mengalami PMDD (Premenstrual Distress Disorder). Adapun keluhan yang dialami oleh pasien antara lain : Nyeri kepala, cemas, depresi, lemas, insomnia, kembung, nyeri perut bagian bawah pada awal mignngu menstruasi, menjadi seseorang yang berbeda, mengganggu hubungan dengan suaminya, tidak optimal alam pekerjaan, tidak dapat mengontrol emosi dan putus asa. Riwayat penyakit yang pernah diderita adalah hipotiraoid dan asma. Riwayat keluarga: kakak perempuan mengalami depresi yang terkontrol dengan baik, ayah :

hipertensi,hiperlipid, ibu : hipotiroid riwayat pengobatan : ibu profen. Riwayat sosial : sudah menikah selama 5 tahun namun belum memiliki anak. b. Data Klinik Tidak terdapat data klinik dalam kasus. c. Data Laboratorium Parameter K Na Cl Ca CO2 GDS BUN SCr SGPT SGOT albumin TSH Kolesterol total Satuan mEq/L mEq/L mEq/L Mg/dL mEq/L Mg/dL mEq/L Mg/dL IU/L IU/L g/dL mIU/L mg/dl Nilai Normal 3,5-5 135-147 95-110 8,6-10,3 35-45 <200 8-25 0,5-1,7 7-53 11-47 3,6-5 0,35-6,2 <200 Hasil 4,4 137 102 9,5 27 87 14 0,9 20 17 3,7 0,74 177

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

14 15 16 17 18 19 20 21 22 23

Trigliserida LDL HDL Leukosit Hb Hct MCV MCH MCHC Plt

mg/dl Mg/dL Mg/dL /L g/dl % Mm3

<200 <130 <35 3,8-9,8x109 12,1-15,3 36-44,6 126 27-33

71 111 52 7,89 13,9 40,6 92,8 31,7 34,2 249

g/dl /mm3

33-36 150-450

Keterangan : Semua data lab normal kecuali nilai CO2 turun dan nilan HDL naik. d. Jadwal Penggunaan Obat dari Dokter Yasmin Salbutamol MDI Levothyroxine Lorazepam Analsik 250/50 2x sehari 2x sehari bila perlu 137 mcg 1x sehari per oral 1 mg per oral bila perlu 1 tablet tiap 4 jam jika perlu

e. Jadwal Penggunaan Obat Rekomendasi Kelompok

No

Nama Obat dan Regimen Dosis Salbutamol MDI (2x1) Levotiroksin 137mcg (1x1) Analsik 1 tab (4x1) Fluoxetin 20mg (1x1) 1

Tanggal Pemberian Obat 2 3


k/p

2 3 4

k/p

k/p

k/p

k/p

f. Monitoring No 1 2 3 4 5 6 Parameter TSH Free T3 Free T4 RR CO2 O2 Gejala PMDD a.Timbul nyeri 7 menjelang haid b. depresi nyeri kepala Tidak timbul 16-20 35-45 80-105 Nilai normal 0,35-3,2 interval 1 bulan sekali 1 bulan sekali 1 bulan sekali

Keterangan: Monitoring TSH, Free T3 dan T4 berhubungan dengan penyakit hipotiroid yang diderita pasien, dilakukan monitorig agar jumalhnya tetap dalam batas normal. Monitoring RR, O2 dan CO2 berhubungan dengan asma yang diderita pasien, dilakukan monitoring agar elalu berada dalam jumalh normal.

V.

Pembahasan Kasus ini membahas tentang Ny. JS (31 tahun) dengan berat badan 66 kg dan tinggi badan 157 cm, mengeluhkan nyeri kepala, cemas, depresi, lemas, insomnia, kembung dan nyeri pada perut bagian bawah. Gejala dirasakan pasien selama awal minggu saat mengalami haid setiap bulan, merasa seperti menjadi seseorang yang berbeda dan mempengaruhi hubungan dengan suami, merasa tidak optimal dalam pekerjaannya saat gejala menyerang, merasa tidak dapat mengontrol emosi, mengeluh muncul

jerawat saat menggunakan kontrasepsi oral, lelah, overweight. Sebelumnya pasien telah menggunakan pengobatan ibuprofen namun tidak banyak menolong. Pasien memiliki riwayat penyakit hipotiroid dan asma. Riwayat keluarga kakak perempuannya mengalami depresi, Bapak: hipertensi, ibu:
hipotiroid terkontrol dengan baik. Riwayat sosial: sudah menikah selama 5

tahn, blm punya anak, tidak merokok, tidak minum alkohol, bekerja sebagai karyawan swasta di sebuah perusahaan. Pasien didiagnosis PMDD, hipotiroid terkontrol, asma terkontrol dan jerawat. Terapi sebelumnya dari dokter pasien mendapatkan yasmin, seretide 250/50 2x sehari, salbutamol MDI 2x sehari, levothyroxine 137 mcg 1x sehari PO, lorazepam 1 mg PO sprn, Analsik 1 tab/4 jam sprn. Pasien melakukan pemerikasaan laboratorium. Semua nilai di data laboratorium pasien tidak ada yang merujuk ke diagnosa atau riwayat penyakit. Data lab yang tidak normal hanya pada nila PCO2 yang menurun hal ini disebabkan karena pasien mengalami asma, dimana pada kondisi asma terjadi ketidak seimbangan antara tekanan O2 dan CO2 sehingga nilainya akan menurun. Selain itu data lab yang menunjukan nilai tidak normal adalah kadar HDL yang meningkat hal ini tidak ada hubungannya dengan kondisi maupun patofisiologi penyakit yang dialami pasien. Pasein memiliki riwayat penyakit hipotiroid tetapi nilai TSH pasein masih dalam batas normal, hal ini bisa terjadi karena hipotiroid yanf dialami pasien merupakan hipotiroid terkontrol, jadi nilai TSH tidak harus menunujukan nilai yang selalu menurun. Pada kasus ini pasien tidak melakukan pemeriksaan klinik seperti nilai RR yang dapat menunjukan pasien memiliki sesak atau tidak untuk lebih menegakan diagnosa dari dokter. Drug Related Problem 1. Problem : Penggunaan Seretide Seretide mengandung fluticasone 250 g & salmeterol 50 g. Salmeterol (2 agonis) digunakan untuk maintenance asma jangka panjang. Sedangkan pasien menderita asma terkontrol, sehingga tidak

perlu menggunakan terapi long acting, dan hanya diberikan terapi short acting saja karena terapi short acting ini memberikan efek yang cepat pada pasien sehingga kami menyarankan hanya memakai satu obat asma saja yaitu salbutamol inhaler karena salbutamol ini bekerja secara short acting. 2. Problem : penggunaan lorazepam dan analsik Analsik mengandung metampiron 500 mg dan diazepam 2 mg. Obat ini dipakai untuk indikasi sakit/nyeri pada bagian perut bawah, sakit kepala pasien & utk penenang. Lorazepam & diazepam merupakan 1 golongan yaitu golongan benzodiazepin yang merupakan golongan obat yang paling banyak digunakan sebagai obat anxiolitik. Lorazepam dan diazepam merupakan golongan benzodiazepin yang bersifat ansiolitik dan tidak mempunyai efek hipnotik. Sehingga kami menyarankan untuk memakai terapi analsik saja dan menghilangkan terapi lorazepam. 3. Problem : Dosis analsik yang berlebih Dosis analsik diberikan 4 jam sekali (6xsehari) hal ini dirasa terlalu berlebihan karena dosis lazim analsik adalah 6-8 jam sekali sehingga dosis analsik diturunkan intervalnya menjadi 4 x sehari atau 6 jam sekali dan pada hari keempat diberikan bila perlu (sprn). 4. Problem : penggunaan Salbutamol Dosis salbutamol yang tadinya diberikan 2x sehari bila perlu kami ganti menjadi pada hari pertama diberikan 2xsehari dan pada hari ke 2 sampai 7 diberikan 2 x sehari bila perlu karena disini pasien didiagnosis mengalami asma yang terkontrol sehingga penggunaan inhaler salbutamol ini kami ganti dosisnya dengan dosis maintenance dan diberikan jika pasien terkena serangan asma. 5. Problem : pemilihan obat yang tidak tepat Penggunaan yasmine. Yasmine merupakan kontrasepsi oral yang mengandung ethinylestradiol dan drospirenone yang akan mencegah kehamilan pada pasien, sedangkan di dalam kasus disebutkan bahwa pasien sudah menikah selama 5 tahun namun belum

dikarunia seorang anak sehingga kami menyarankan pengobatan PMDD yang dialami oleh pasien diganti dengan obat golongan SSRI yaitu fluoxetine, selain itu obat golongan SSRI ini juga merupakan first line terapi bagi pasien PMDD, dan FDA juga menyebutkan bahwa fluoxetine merupakan salah satu obat golongan SSRI yang bisa digunakan untuk pengobatan pada pasien PMDD (Dipiro, 2009). Informasi Obat 1. Fluoxetine Fluoxetine merupakan obat golongan SSRI (Selective

Serotonine Reuptake Inhibitor) yang merupakan golongan obat antidepresan dalam pengobatan depresi, gangguan kecemasan dan beberapa gangguan kepribadian. Mekanisme kerja obat golongan SSRI ini adalah meningkatkan neurotransmitter serotonin di tingkat ekstraseluler dengan jalan menghambat reuptakenya kedalam sel presynaptic, meningkatkan tingkat serotonin di celah sinaptik untuk berikatan dengan reseptor postsynaptic (Ikawati, 2005). Fluoxetine diindikasikan untuk mengobati PMDD pada pasien, sesuai dengan patofisiologi dari PMDD sendiri yaitu adanya ketidakseimbangan hormon serotonin pada pasien sehingga pasien mengalami keluhankeluhan yang sudah disebutkan diatas, penggunaan obat golongan SSRI ini diharapkan akan mengembalikan kembali keseimbangan hormon serotonin pada tubuh pasein, karena pada pasien PMDD ini hormon serotoninnya menurun. Dosis fluoxetine yaitu 20 mg diminum 2 x sehari dipakai selama 3 hari dan dilakukan monitoring pada saat penggunaan obat ini, jika selama dalam pengobatan fluovetine ini pasien sudah memberikan tanda-tanda kesembuhan atau tidak mengalami keluhan-keluhan yang dialami pasien sebelumnya maka pengobatan dapat dihentikan. 2. Salbutamol Salbutamol diindikasikan untuk kejang bronkus pada semua jenis asma bronkial, bronkitis kronis dan emphysema. Salbutamol

merupakan suatu senyawa yang selektif merangsang reseptor B2 adrenergik terutama pada otot bronkus. Golongan B2 agonis ini merangsang produksi AMP siklik dengan cara mengaktifkan kerja enzim adenilat siklase (Ikawati, 2005). Efek utama setelah pemberian peroral adalah efek bronkodilatasi yang disebabkan terjadinya relaksasi otot bronkus. Salbutamol merupakan golongan b2 agonis yang bersifat short acting sehingga dapat memberikan efek cepat pada pasien. Salbutamol diberikan secara inhalasi selama 2 x sehari pada hari pertama dan diikuti dengan pemberian jika perlu maksudnya pemberian salbutamol inhalasi ini diberikan jika pasien mengalami serangan asma saja, mengingat asma pada pasien merupakan asma yang terkontrol. 3. Analsik Analsik adalah kombinasi Metampiron dan Diazepam. Metampiron merupaka obat analgesikantipiretik sedangkan

Diazepam mempunyai kerja sebagai antiansietas, juga memiliki sifat relaksasi otot rangka. Kombinasi ini dimaksudkan untuk

menghilangkan rasa nyeri dan spasme organ visceral. Gunanya untuk meringankan rasa nyeri sedang sampai berat, ter-utama nyeri kolik dan nyeri setelah operasi dimana di -perlukan kombinasi dengan tranquilizer (Tatro, 2003). Pada kasus ini pasien mengeluhaknan nyeri pada perut bagian bawah dan nyeri kepala serta mengalami depresi sehingga sering menyababkan insomnia, pasien juga pernah medapatkan terapi ibuprofen sebelumnya tapi tidak banyak menolong sehingga pemilihan analsik ditujukan untuk menolong pasien mengurangi keluhan yang dideritanya. Pemberian dosis pada pasien sebanyaknya 4 kali sehari s.p.r.n saat keadaan pasien saat kondisi memburuk. Efek samping yang ditimbulkan gangguan & perdarahan saluran pencernaan, ulkus peptikum, sakit kepala, gugup, insomnia (sulit tidur), biduran/kaligata, kemerahan pada kulit, pembengkakan wajah.

4.

Levothyroxin Levothyroxin diindikasikan untuk terapi pada hipotiroidisme, penekanan TSH (pada kanker tiroid, nodul, gondok dan pembesaran tiroiditis kronis), bekerja dengan meningkatkan tingkat metabolisme jaringan tubuh, yang dibutuhkan untuk pertumbuhan normal dan pematangan (Tatro, 2003). Levothyroxin merupakan first line therapy pada pasien hipotirod, dalam kasus ini pemberian dosisnya sebanyak 137 mcg, hal menandakan bahwa pasien telah menggunakan maintenance dose karena penghentian obat-obat hormonal tidak mungkin secara langsung, melainkan bertahap. Penggunaan obat ini diharapkan memberikan keadaan kesetimbangan pada hormon pasien. Efek samping umum pengggunaan levithyroxine seperti gatal-gatal, kesulitan bernapas. demam, perubahan dalam periode menstruasi, insomnia, rambut rontok ringan.

Terapi Non Farmakologi Terapi non farmakologi memegang peranan penting dalam penanganan PMS berupa edukasi penderita, terapi suportif dan modifikasi gaya hidup. Perubahan pola nutrisi memiliki efek yang bermakna karena berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh dr. Guy Abraham, penambahan nutrisi tertentu disertai perubahan pola makan 1-2 minggu menjelang menstruasi dapat mengurangi gejala PMS. Komposisi nutrisi yang dianjurkan bagi penderita PMS adalah diet rendah lemak dan garam, mengandung protein, vitamin, mineral (vitamin B, vitamin C, vitamin E, Ca, Mg, Zn) yang seimbang, serta dianjurkan untuk mengurangi konsumsi kafein (kopi, teh). Para penderita PMS sebaiknya melakukan olah raga secara teratur serta menghindari stres berkepanjangan. Terapi suportif seperti hipnoterapi, terapi warna, meditasi dan lainnya dapat membantu mengurangi gejala yang dirasakan. Secara singkat, berikut tips-tips untuk mengurangi gejala PMS : - Pola nutrisi yang sehat (rendah lemak dan garam, tinggi protein, vitamin dan mineral).

Perbanyak porsi buah-buahan, sayur mayur, gandum yang tinggi serat. Jika diperlukan, dapat ditambahkan makanan kesehatan (food supplement) yang berupa multivitamin seperti kalsium yang dapat mengurangi rasa kram, Vitamin E untuk mengurangi rasa nyeri pada payudara, keletihan dan insomnia serta Vitamin B6 untuk mengatasi keletihan. 1. Hindari makanan dengan kadar garam tinggi, makanan manis, kafein dan alcohol. 2. Selalu melakukan olahraga rutin. 3. Tidur cukup minimal 8 jam/hari. 4. Hindari merokok. 5. Hindari stress berkepanjangan. 6. Terapi relaksasi (hipnoterapi, terapi warna, meditasi, aromaterapi, dsb). (Agustini, 2013).

VI. Jawaban Pertanyaan 1. Pada data laboratorium TSH normal, tetapi mengapa diberi terapi Levotiraksin? Pemberian obat hormonal tidak dapat diberikan secara tiba-tiba, pasien sebelumnya juga memiliki riwayat hipotiroid, jadi terapi untu hipotiroid (Levotiroksin) tetap diberikan. 2. Hubungan antara T3 dan T4 dengan PMDD itu apa? T3 dan T4 tidak ada hubungannya dengan PMDD. T3 tidak dapat dikonversi dari T4 karena mengalami hipotiroid. PMDD karena ketidakseimbangan serotonin. 3. Data Laboratorium yang menunjukkan hipotiroid? Tidak ada, pada data laboratorium nilai TSH normal, pasien mengalami hipotiroid terkontrol.

VII. Kesimpulan 1. Pasien didiagnosis PMDD, hipotiroid terkontrol, asma terkontrol dan jerawat. 2. Obat-obat yang direkomendasikan: R/ Fluoxetine Salbutamol 1 x 20 mg 2x1

Levothyroxine 1 x 137 mg Analsik 4 x 1 tab

DAFTAR PUSTAKA

Agustini,

Sheila, 2013, Pre Menstruasi Syndrome/Sindroma http://www.medikaholistik.com, diakses tanggal 14 April 2013.

Pra

Haid,

Brunner dan Suddarth, 2001, Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Volume 2, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta. Dipiro, Joseph T. Barbara G Wells, et al., 2005, Pharmacotherapy Handbook 7th ed, The McGraw-Hill Companies Inc, USA. Dipiro, Joseph T. Barbara G Wells, et al., 2009, Pharmacotherapy Handbook 7th Edition. McGraw Hill Companies, USA. Ganong, 2003, Fisiologi Kedokteran, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Guyton, Arthur C. and Hall, John E., 1997, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9, Editor: Irawati Setiawan, EGC, Jakarta. Hacker, et al., 2001, Essential Obstetri dan Ginekologi, Hipokrates, Jakarta. Ikawati, Z., 2005, Pengantar Farmakologi Molekuler, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Rumahorbo, Hotma, 1999, Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Endokrin, EGC, Jakarta. Tatro, David S., Pharm D, 2003, A to Z Drug Facts, 5th edition, Wolters Kluwer Health, Inc., USA.