Anda di halaman 1dari 3

KLASIFIKASI Diabetes diklasifikasikan sebagai tipe 1 (bergantung insulin) atau tipe 2 (tidak bergantung insulin) berdasarkan apakah pasien

memerlukan insulin eksogen untuk mencegah ketoasidosis.Diabetes tipe 1 adalah jenis yang diperantai oleh system imun dan timbul pada orang yang secara genetic rentan. Predisposisi ini lebih bersifat premisif daripada kausal dan penyakit mungkin dipacu oleh suatu infeksi virus. Terjadi insulitis inflamatorik disertai sebukan limfositik pada islet. Kemudian terjadi stimulasi imunologik antibody terhadap sel-B. Membrane sel kemudian menjadi rentan terhadap antibody sitotoksik autoimun, yang menyebabkan kerusakan sel dan timbulnya diabetes. Genetika diabetes tipe 1 bersifat kompleks,tetapi terdapat kesepakatan umum bahwa dijumpai seuatu keterkaitan dengan kompleks histokompatibilitas HLA-D yang terletak di kromosom 6. Pada diabetes tipe 1,angka penularan vertical rendah. Selain itu, angka kejadian bersama untuk diabetes pada kembar monozigot kurang dari 50 persen, dan bukan mendekati 100 persen seandainya diabetes hanya disebabkan oleh factor genetic (Foster,1998) Diabetes tipe 2 yang tidak bergantung insulin tidak memiliki keterkaitan HLA. Penyakit memperlihatkan kejadian familial dan angka kejadian bersama pada kembar monozigot adalah 100 persen. Hampir 40% saudara kandung dan sepertiga keturunannya akan mengalami gangguan toleransi glukosa atau diabetes yang nyata (Foster,1998). Patofisiologinya adalah kelainan sekresi insulin dan resistensi jaringan sasaran terhadap insulin. Sebagian besar pasien mengalami kegemukan,dan terdapat spekulasi bahwa resistensi insulin perifer yang dipicu oleh kegemukan menyebabkan kelelahan sel-B. Diabetes adalah penyulit medis tersering pada kehamilan. Pasien dapat dipisahkan menjadi mereka yang diketahui mengidap diabetes sebelum hamil (overt nyata) dan mereka yang didiagnosis saat hamil (gestasional). Pada tahun 1998,total 103.691 wanita Amerika mengalami kehamilan dengan penyulit diabetes,yang mencerminkan 2,6% dari seluruh kelahiran hidup (Ventura dkk,2000). Diperkirakan bahwa 90% dari semua kehamilan yang mengalami penyulit diabetes disebabkan oleh diabetes gestasional. Dengan demikian, pada tahun 1998,sekitar 10.000 wanita Amerika dengan diabetes overt,dan 90.000 dengan diabetes gestasional melahirkan janin hidup. KLASIFIKASI SELAMA KEHAMILAN Pake klasifikasi white yang di dmg_kebidanan DIAGNOSIS DIABETES OVERT SELAMA KEHAMILAN Wanita dengan kadar glukosa plasma yang tinggi,glukosuria,dan ketoasidosis tidak menimbulkan masalah dalam diagnosis. Demikian pula,wanita dengan kadar glukosa plasma sewaktu lebih dari 200mg/dl plus tanda dan gejala klasik seperti polidipsi,poliuri,dan penurunan berat yang tidak jelas sebabnya atau glukosa puasa 126 mg/dl atau lebih,harus dianggap

mengalami diabetes overt ( American Diabetes Association,1999b). Nilai ambang diagnostic (cutoff value) yang baru untuk glukosa plasma puasa adalah 126 mg/dl atau lebih berdasarkan data yang menunjukkan bahwa resiko retinopati meningkat secara drastis pada kadar puasa tersebut. Wanita di ujung spectrum lain,dengan gangguan metabolic minimal mungkin sulit diidentifikasi. Kemungkinan gangguan metabolisme karbohidrat meningkat secara bermakna pada wanita dengan riwayat diabetes pada keluarga,pernah melahirkan bayi besar,memperlihatkan glukosuria persisten,atau pernah mengalami kematian jain yang sebabnya tidak diketahui. Zat-zat pereduksi yang sering dijumpai di dalam urin wanita hamil. Dipstick yang tersedia di pasaran dapat digunakan untuk mengidentifikasi glukosuria sekaligus menghindari reaksi positif dari laktosa. Walaupun demikian, glukosuria umumnya tidak mencerminkan ganguan toleransi glukosa,tetapi lebih mecerminkan peningkatan filtrasi glomerulus. Bagaimanapun,deteksi adanya glukosuria selama kehamilan mengisyaratkan perlunya pemeriksaan lebih lanjut (Gribble dkk,1995). DETEKSI DIABETES GESTASIONAL Diabetes mellitus gestasional didefinisikan sebagai intoleransi karbohidrat dengan keparahan bervariasi dan awitan atau pertama kali diketahui saat hamil. Definisi ini berlaku tanpa memandang apakah digunakan terapi insulin atau tidak. Tak diragukan lagi, sebagian wanita dengan diabetes gestasional sudah menderita diabetes overt yang belum terdeteksi. Sheffield dkk (2000) mempelajari hasil pada 1190 wanita diabetic yang melahirkan di Parkland Hospital antara tahun 1991 dan 1995. Mereka mendapatkan bahwa wanita dengan hiperglikemia puasa yang didiagnosis sebelum gestasi 24 minggu memperlihatkan hasil kehamilan yang serupa di kelas B sampai F-R. Temuan ini menunjukkan bahwa hiperglikemia puasa pada awal kehamilan mungkin lebih mencerminkan diabetes overt daripada diabetes gestasional. Bertha dkk. (2000) juga mendapatkan wanita yang didiagnosis diabetes gestasional pada awal kehamilan adalah subkelompok beresiko tinggi. DIABETES GESTASIONAL Diabetes gestasional mengisyaratkan bahwa gangguan ini dipicu oleh kehamilan, mungkin akibat perubahan-perubahan fisiologis berlebihan pada metabolisme glukosa. Penjelasan alternative adalah bahwa diabetes gestasional adalah diabetes yang didapat pertama kali saat dewasa atau tipe 2 yang terungkap atau muncul selama kehamilan. Sebagai contoh, Harris (1988) mendapatkan bahwa prevalensi intoleransi glukosa yang tidak terdiagnosis pada wanita tidak hamil antara usia 20 dan 44 tahun hampir identik dengan prevalensi diabetes gestasional. Cetalano dkk. (1999) mengevaluasi perubahan-perubahan longitudinal dalam kepekaan terhadap insulin,respon insulin,dan produksi glukosa endogen pada wanita dengan uji toleransi glukosa normal dan pada mereka yang mengalami diabetes gestasional sebelum dan selama kehamilan. Mereka mendapatkan bahwa wanita dengan diabetes gestasional mengalami kelainan-kelainan dalam metabolisme glukosa yang khas untuk diabetes tipe 2. Pemakaian istilah diagnostic diabetes gestasional dianjurkan untuk mengomunikasikan perlunya peningkatan surveilans dan

untuk meyakinkan wanita yang bersangkutan tentang perlunya pemeriksaan lebih lanjut postpartum. Kemungkinan kematian janin pada diabtes gestasional yang diterapi dengan benar tampaknya tidak berbeda dengan kemungkinan tersebut pada populasi umum (Metzger dan Coustan,1998). Kekhawatiran perinatal terpenting adalah pertumbuhan janin yang berlebihan,yang dapat menyebabkan trauma lahir. Yang paling penting,lebih dari separuh wanita dengan diabetes gestasional akhirnya mengalami diabetes overt dalam 20 tahun berikutnya, dan semakin banyak bukti bahwa anak-anak mereka rentan mengalami diabetes dan kegemukan di kemudian hari. EFEK PADA IBU DAN JANIN Telah terjadi pergeseran penting dalam focus mengenai efek merugikan diabetes gestasional pada janin. Yang utama, tidak seperti pada wanita dengan diabetes overt,anomali janin tidak meningkat (Reece dan Hobbins,1986). Demikian juga,meski kehamilan pada wanita dengan diabetes overt lebih beresiko mengalami kematian janin,bahaya ini tidak tampak pada mereka yang hanya mengalami hiperglikemia postprandial; yaitu kelas A1 (Lucas dkk,1993). Sebaliknya,diabetes gestasional dengan peningkatan glukosa puasa (kelas A2) dilaporkan berkaitan dengan janin lahir-mati yang tidak diketahui sebabnya seperti pada diabetes overt (Johnstone dkk,1990). American Diabetes Association (1999a) menyimpulkan bahwa hiperglikemia puasa (>105 mg/dl) mungkin berkaitan dengan peningkatan resiko kematian janin selama 4 sampai 8 minggu terakhir gestasi. Efek merugikan pada ibu mencakup peningkatan frekuensi hipertensi dan perlunya seksio sesarea. DIABETES OVERT Tidak seperti diabetes gestasional, diabetes overt jelas menimbulkan dampak yang bermakna pada hasil kehamilan. Bahkan mudigah, serta janin dan ibunya,dapat mengalami penyulit serius yang merupakan akibat langsung dari diabetes. Kemungkinan kesuksesan hasil kehamilan bagi janin-bayi dan ibu dengan diabetes sedikit banyak berkaitan dengan derajat pengendalian diabetes, tetapi yang lebih penting,dengan intensitas semua penyakit kardiovaskular atau ginjal yang dialami ibu. EFEK PADA JANIN Perbaikan surveilans janin,perawatan intensif neonatus,dan pengendalian metabolic ibu telah mengurangi kematian perinatal pada diabetes overt menjadi 2 sampai 4 persen. Angka ini tampaknya sudah mendatar karena dua penyebab utama kematian janin- malformasi congenital dan kematian janin yang tidak dapat dijelaskan (Garner,1995)

Anda mungkin juga menyukai