Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
Sistem digestivus manusia tidak terhindar dari masalah. Hal tersebut dibuktikan
dengan tidak jarangnya pasien yang datang dengan penyakit pada traktus digestivus.
Salah satunya adalah apendisitis. Apendisitis atau peradangan pada apendiks vermiformis
merupakan salah satu kasus gawat bedah abdomen yang sering terjadi. Berikut ini adalah
skenario yang memacu adanya pembahasan tentang apendisitis.
Laki-laki berusia 35 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan demam dan nyeri
pada perut sebelah kanan bawah, sejak 7 jam yang lalu. Sebelumnya pasien merasakan
nyeri pada ulu hati, sekarang nyeri lebih dominan di daerah perut kanan bawah. Pada
pemeriksaan fisik, pasien tampak sakit sedang, tekanan darah 130/80 mmHg, frekuensi
nadi 92x/menit, frekuensi nafas 22x/menit, dan suhu tubuh 38,3
0
C.
1
BAB II
PEMBAHASAN
Anamnesis
Anamnesis terhadap pasien apendisitis dapat dilakukan secara autoanamnesis atau
langsung dilakukan kepada pasien itu sendiri karena pasien masih bisa berbicara dan
memberikan keterangan tentang dirinya sendiri. Berikut ini adalah hal-hal yang perlu
ditanyakan kepada pasien apendisitis.
Identitas pasien yaitu nama, tempat tanggal lahir, alamat, umur, suku, agama,
pendidikan, dan pekerjaan, serta keadaan sosial ekonomi dan lingkungan tempat
tinggalnya.
Menanyakan keluhan utama.
o Bagian perut mana saja yang sakit ?
o Sejak kapan sakit ini dirasakan ?
o Sakit dirasakan terus-menerus atau hilang timbul ?
o Apakah sebelumnya pernah melakukan pengobatan ?
Menanyakan keluhan tambahan, seperti demam, mual, dan gejala sistemik lainnya.
Menanyakan riwayat penyakit terdahulu, terutama keluhan yang sama.
Menanyakan riwayat penyakit keluarga.
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut.
1
2
Suhu tubuh
Pasien apendisitis biasanya mengalami demam ringan dengan suhu sekitar 37,5
38,5
0
C. Bila suhu lebih tinggi, mungkin sudah terjadi perforasi. Bisa terdapat
perbedaan suhu aksilar dan rektal sampai 1
0
C. Pasien juga merasa mual dan sering
kali muntah.
Inspeksi
Pada inspeksi perut, tidak ditemukan gambaran spesifik. Kembung sering terlihat
pada penderita dengan komplikasi perforasi. Penonjolan perut kanan bawah bisa
dilihat pada massa atau abses periapendikuler.
Auskultasi
Peristaltik usus sering normal tetapi juga dapat menghilang akibat adanya ileus
paralitik pada peritonitis generalisata yang disebabkan oleh apendisitis perforata.
Palpasi
Palpasi abdomen yang lembut kritis dalam membuat keputusan, apakah operasi
diindikasikan pada pasien yang dicurigai apendisitis. Palpasi seharusnya dimulai
dalam kuadran kiri bawah, yang dilanjutkan ke kuadran kiri atas, kuadran kanan
atas dan diakhiri dengan pemeriksaan kuadran kanan bawah.
Pada palpasi, didapatkan nyeri yang terbatas pada regio iliaka kanan, yaitu pada
titik McBurney. Titik McBurney merupakan lateral dari jarak antara umbilikus
dan SIAS kanan.
2
Nyeri ini juga dapat disertai dengan nyeri lepas yang disebut
dengan Blumberg sign dan defans muskular. Nyeri tekan perut kanan bawah ini
merupakan kunci diagnosis. Selain itu, dijumpai juga Rovsing sign yaitu nyeri di
perut kanan bawah yang terasa pada penekanan perut kiri bawah. Pemeriksaan ini
disebut juga pemeriksaan kontra lateral. Blumberg sign dan Rovsing sign
menunjukkan nyeri rangsangan peritoneum tidak langsung. Nyeri perut kanan
3
bawah juga dapat dirasakan bila peritoneum bergerak, seperti napas dalam, berjalan,
batuk, atau mengedan.
Adanya nyeri tekan kuadran kanan bawah dengan spasme otot kuadran kanan
bawah merupakan indikasi untuk operasi, kecuali ada sejumlah petunjuk lain bahwa
apendisitis mungkin bukan diagnosis primer.
Perkusi
Pada perkusi, pekak hati menghilang jika terjadi perforasi usus.
2
Psoas sign
Uji psoas dilakukan dengan rangsangan otot psoas lewat hiperekstensi sendi
panggul kanan atau fleksi aktif sendi panggul kanan, kemudian paha kanan ditahan.
Bila apendiks yang meradang menempel di otot psoas mayor, tindakan tersebut
akan menimbulkan nyeri.
Obturator sign
Uji oturator digunakan untuk melihat bilamana apendiks yang meradang
bersentuhan dengan otot obturator internus yang merupakan dinding panggul kecil.
Gerakan fleksi dan endorotasi sendi panggul pada posisi terlentang akan
menimbulkan nyeri pada apendisitis pelvika.
4
Gambar 1. Titik McBurney
Pemeriksaan uji psoas dan uji obturator lebih ditujukan untuk mengetahui letak
apendiks.
Rectal touche
Pemeriksaan colok dubur menyebabkan nyeri bila daerah infeksi dapat dicapai
dengan jari telunjuk, misalnya pada apendisitis pelvika.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium untuk pasien apendisitis terdiri dari pemeriksaan darah
dan pemeriksaan urin.
3
= Pemeriksaan darah
Pemeriksaan jumlah leukosit membantu menegakkan diagnosis
apendisitis akut. Pada kebanyakan kasus terdapat leukositosis, terlebih
pada kasus dengan komplikasi.
LED akan meningkat pada infiltrat apendikular.
= Pemeriksaan urin
Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat adanya eritrosit, leukosit, dan bakteri
dalam urin. Pemeriksaan ini sangat membantu dalam menyingkirkan
diagnosis banding seperti infeksi saluran kemih atau batu ginjal yang
menunjukkan gejala klinis yang hampir sama dengan apendisitis.
Pemeriksaan radiologis
= USG
Bila pemeriksaan fisik meragukan, dapat dilakukan pemeriksaan USG,
terutama pada wanita, juga bila dicurigai adanya abses. USG dapat digunakan
5
untuk menyingkirkan diagnosis banding seperti kehamilan ektopik, adenisitis,
dan sebagainya.
= Barium enema
Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan X-Ray dengan memasukkan barium
ke colon melalui anus. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan komplikasi dari
apendisitis pada jaringan sekitarnya dan juga untuk menyingkirkan diagnosis
banding.
= CT-Scan
Pemeriksaan CT-Scan dapat menunjukkan tanda-tanda dari apendisitis. Selain
itu juga dapat menunjukkan komplikasi dari apendisitis seperti bila terjadi
abses.
= Laparoscopi
Laparoscopi merupakan tindakan dengan menggunakan kamera fiberoptic
yang dimasukkan ke dalam abdomen sehingga apendiks dapat
divisualisasikan secara langsung. Tekhnik ini dilakukan di bawah pengaruh
anestesi umum. Bila pada saat melakukan tindakan ini didapatkan peradangan
pada apendiks, maka pada saat itu juga dilakukan pengangkatan apendiks
(appendectomy).
Diagnosis Banding
Suatu penyakit terkadang memiliki kemiripan gejala klinik dengan penyakit lain.
Berikut ini adalah beberapa penyakit selain apendisitis yang harus dipertimbangkan
dalam menegakkan diagnosis kerja.
+ Gastroenteritis
Gastroenteritis adalah radang pada lambung dan usus yang memberikan gejala
diare, dengan atau tanpa disertai muntah, dan sering kali disertai peningkatan suhu
tubuh. Diare yang dimaksudkan adalah buang air besar berkali-kali, dengan jumlah
6
yang melebihi 3 kali sehari, dan dengan konsistensi feses yang cair, terkadang dapat
disertai darah atau lendir. Diare dalam kasus ini dapat menimbulkan komplikasi
seperti dehidrasi, baik ringan, sedang atau berat. Selain itu diare juga menyebabkan
berkurangnya cairan tubuh (hipovolemik), kadar natrium menurun (hiponatremia),
dan kadar gula dalam tubuh turun (hipoglikemik), sebagai akibatnya tubuh akan
bertambah lemas dan tidak bertenaga yang dilanjutkan dengan penurunan
kesadaran, bahkan dapat sampai kematian. Kondisi seperti ini akan semakin cepat
apabila diare disertai dengan muntah-muntah, yang artinya pengeluaran cairan tidak
disertai dengan masukkan cairan sama sekali.
Pada keadaan tertentu, infeksi akibat parasit juga dapat menyebabkan perdarahan.
Kuman mengeluarkan racun diaregenik yang menyebabkan hipersekresi
(peningkatan volume buangan) sehingga cairan menjadi encer, terkadang
mengandung darah dan lendir.
Penyebab gastroenteritis antara lain :
Makanan dan minuman
1 Kekurangan zat gizi atau kelaparan (perut kosong) apalagi bila perut
kosong dalam waktu yang cukup lama, kemudian diisi dengan makanan
dan minuman dalam jumlah banyak pada waktu yang bersamaan,
terutama makanan yang berlemak, terlalu manis, atau banyak serat.
1 Tidak tahan terhadap makanan tertentu (protein, hidrat arang, lemak)
yang dapat menimbulkan alergi.
1 Keracunan makanan
Infeksi atau investasi parasit
Vibrio Cholerae, E. coli, Salmonella, Shigella, Compylobacter,
Aeromonas.
Enterovirus (Echo, Coxsakie, Poliomyelitis), Adenovius, Rotavirus,
Astovirus.
7
Beberapa cacing antara lain: Ascaris, Trichurius, Oxyuris,
Strongyloides, Protozoa seperti Entamoeba histolytica, Giardia
lamblia, Tricomonas hominis.
Jamur (Candida albicans)
Infeksi di luar saluran pencernaan yang dapat menyebabkan gastroenteritis
adalah encephalitis (radang otak), OMA (Ortitis Media Akut),
tonsilofaringitis (radang pada leher), bronchopeneumonia (radang paru).
Faktor kebersihan lingkungan
+ Argentaffinoma
Argentaffinoma disebut juga tumor karsinoid atau tumor endokrin.
1
Argentaffinoma
adalah tumor yang mengeluarkan sejumlah besar hormon serotonin (5-hydroxy-
tryptamine). Tumor ini biasanya timbul di saluran pencernaan, di antara perut dan
rektum. Argentaffinoma merupakan maligna carcinoid yang dapat bermetastasis ke
hati. Gejala kliniknya antara lain :
- Flush dan blush pada wajah
- Wajah membengkak terutama pada daerah sekitar mata
- Diare
- Spasme bronkial
- Frekuensi nadi meningkat
- Tekanan darah rendah
- Stenosis katup pulmonal dan trikuspid
- Regurgitasi
+ Divertikulitis
8
Divertikulitis adalah radang akut dalam divertikel tanpa atau dengan perforasi.
5
Biasanya radang disebabkan oleh retensi feses di dalamnya. Divertikulitis jarang
terjadi pada orang yang berumur dibawah 40 tahun. Penyebab terjadinya infeksi
pada divertikula masih belum pasti. Infeksi mungkin terjadi jika tinja atau bakteri
terperangkap di dalam divertikula. Tekanan tinggi di dalam sigmoid yang berperan
pada terjadinya divertikel juga berperan pada terjadinya retensi isi usus di dalam
divertikel. Gejala klinis peritonitis lokal pada divertikulitis menyerupai apendisitis
akut tetapi tempatnya berbeda.
- Serangan akut berupa nyeri lokal kiri bawah atau suprapubik. Mula-mula
berupa sakit perut ringan dan menjadi lebih buruk selama beberapa hari.
- Sering terdapat konstipasi atau diare.
- Gejala mual muntah bergantung pada lokasi dan hebatnya serangan.
- Demam sedang
- Distensi perut sedang. Distensi abdominal merupakan proses peningkatan
tekanan abdominal yang menghasilkan peningkatan tekanan dalam perut dan
menekan dinding perut.
- Massa di daerah pelvis kiri bawah
- Dapat juga disertai rangsangan peritoneal
- Leukositosis sedang
Pemeriksaan foto Roentgen barium tidak dapat dilakukan pada fase akut. Endoskopi
baru dapat dibuat setelah proses akut mereda.
+ Urolithiasis
Urolithiasis merupakan suatu kondisi di mana terbentuk batu pada saluran kemih,
6
dapat berupa batu ginjal atau pun batu ureter. Penyakit batu ureter biasanya terjadi
akibat batu ginjal yang turun ke ureter. Batu dapat terbentuk dari kalsium, fosfat,
atau kombinasi asam urat yang biasanya larut di dalam urine. Apabila batu berada
9
di pelvis renal atau calix renalis, rasa sakit menetap dan kurang intensitasnya. Sakit
pinggang terjadi bila batu yang mengadakan obstruksi berada di dalam ginjal.
Sedangkan, rasa sakit yang parah pada bagian perut terjadi bila batu telah pindah ke
bagian ureter.
Nyeri yang dirasakan penderita batu ureter biasanya lebih berat daripada batu
ginjal. Tidak jarang nyeri hebat yang dirasakan ini menimbulkan reaksi tubuh
berupa mual, muntah hingga pingsan atau tak sadarkan diri. Radang usus buntu
kadang membuat diagnosa batu ureter menjadi sulit karena lokasi nyeri yang
hampir sama.
Nyeri kolik merupakan perwujudan dari nyeri akibat batu ureter. Nyeri kolik
mempunyai karakter sebagai bentuk nyeri yang berulang dan berdenyut. Hal ini
diakibatkan oleh gerak peristaltik yang dilakukan oleh ureter yang berusaha
mengeluarkan batu. Gerak peristaltik ini serupa dengan gerakan usus ketika sedang
diare dimana nyeri perut akibat diare juga dirasakan sebagai berulang dan
berdenyut. Rasa sakit dimulai dari pinggang bawah menuju ke pinggul, kemudian
ke alat kelamin luar.
Diagnosis dapat ditegakkan dengan pemeriksaan urin dan X-Ray dari ginjal, ureter,
dan kandung kemih.
Diagnosis Kerja
Apendisitis akut merupakan salah satu kasus gawat bedah abdomen.
2
Apendisitis
akut sering terjadi dengan gejala khas yang didasari oleh terjadinya peradangan
mendadak pada apendiks yang memberikan tanda setempat, baik disertai maupun tidak
disertai dengan rangsang peritoneum lokal. Gejala klinik pada pasien apendisitis adalah
sebagai berikut.
Gejala klasik apendisitis ialah nyeri samar-samar dan tumpul yang merupakan nyeri
viseral di daerah epigastrium di sekitar umbilikus. Keluhan ini sering disertai mual
dan kadang ada muntah. Umumnya, nafsu makan menurun.
Dalam beberapa jam, nyeri akan berpindah ke kanan bawah, yaitu ke titik
McBurney. Di sini, nyeri dirasakan lebih tajam dan lebih jelas letaknya sehingga
10
merupakan nyeri somatik setempat.
1,2,5
Kadang tidak ada nyeri epigastrium, tetapi
terdapat konstipasi sehingga penderita merasa memerlukan obat pencahar. Tindakan
tersebut dianggap berbahaya karena bisa mempermudah terjadinya perforasi.
Bila terdapat perangsangan peritoneum, biasanya pasien mengeluh sakit perut bila
berjalan atau batuk.
Apendiks terletak retrosekal retroperitoneal, tanda nyeri perut kanan bawah tidak
begitu jelas dan tidak ada tanda rangsangan peritoneal karena apendiks terlindung oleh
sekum. Rasa nyeri lebih ke arah perut sisi kanan atau nyeri timbul pada saat berjalan
karena kontraksi otot psoas mayor yang menegang dari dorsal. Radang pada apendiks
yang terletak di rongga pelvis dapat menimbulkan gejala dan tanda rangsangan sigmoid
atau rektum sehingga peristaltis meningkat dan pengosongan rektum menjadi lebih cepat
serta berulang. Jika apendiks tadi menempel ke kandung kemih, dapat terjadi peningkatan
frekuensi berkemih akibat rangsangan apendiks terhadap dinding kandung kemih.
Pada beberapa keadaan, apendisitis agak sulit didiagnosis sehingga tidak ditangani
pada waktunya dan terjadi komplikasi. Misalnya, pada orang berusia lanjut, gejalanya
sering samar-samar saja sehingga lebih dari separuh penderita baru dapat didiagnosis
setelah perforasi.
Anatomi dan Fisiologi Apendiks Vermiformis
Apendiks vermiformis yang disebut juga umbai cacing merupakan evaginasi dari
usus halus.
7
Apendiks memiliki lipatan peritoneum yang disebut mesenteriolum.
Apendiks berbentuk seperti tabung, panjangnya sekitar 10 cm, dan berpangkal pada
sekum. Organ ini tidak diketahui fungsinya. Istilah usus buntu yang dikenal masyarakat
awam sesungguhnya kurang tepat karena usus buntu yang sebenarnya adalah sekum.
Lumen apendiks sempit di bagian proksimal, melebar di bagian distal, dan sering berisi
debris. Namun pada bayi, apendiks berbentuk kerucut, lebar pada pangkalnya dan
menyempit ke arah ujungnya. Keadaan ini mungkin menjadi sebab rendahnya insidens
apendisitis pada usia itu. Pada lapisan submukosa, terdapat banyak folikel limphoid.
11
Pada 65% kasus, apendiks terletak intraperitoneal. Kedudukan itu memungkinkan
apendiks bergerak dan ruang geraknya itu bergantung pada panjang mesoapendiks
penggantungnya. Pada kasus selebihnya, apendiks terletak retroperitoneal, yaitu di
belakang sekum, di belakang kolon asendens, atau di tepi lateral kolon asendens. Gejala
klinis apendisitis ditentukan oleh letak apendiks.
Persarafan parasimpatis berasal dari cabang nervus vagus yang mengikuti arteri
mesenterika superior dan arteri apendikularis, sedangkan persarafan simpatis berasal dari
nervus torakalis X. Oleh karena itu, nyeri viseral pada apendisitis bermula di sekitar
umbilikus.
Perdarahan apendiks berasal dari arteri apendikularis yang merupakan arteri tanpa
kolateral. Jika arteri ini tersumbat, misalnya karena trommbosis pada infeksi, apendiks
akan mengalami gangren.
12
Gambar 2. Anatomi apendiks
Keterangan gambar :
1. A. ileokolika,
2. Ileum terminale,
3. A. apendikularis yang terletak retroperitoneal (di belakang ileum),
4. A. apendikularis di dalam mesoapendiks,
5. Ujung apendiks terletak agak ke kaudal (posisi pelvika); pada kedudukan ini apendiks
mungkin melekat pada tuba atau ovarium kanan, mungkin terdapat keluhan atau tanda
gangguan organ tersebut,
6. Apendiks terletak intraperitoneal; ujungnya bisa terletak di arah mana saja (lingkaran);
kedudukan ini menentukan letak dan keluhan dan tanda lokal pada apendisitis akut,
7. Pada sekum letak intraperitoneal, kedudukannya dapat pindah ke segala jurusan, paling
sering ke arah kranial karena saat embrio, rotasi usus (sekum) yang kurang sempurna
secara tidak langsung menentukan letak apendiks.
8. Apendiks terletak retroperitoneal di belakang sekum (retrosekal); apendisitis pada letak ini
tidak menimbulkan keluhan atau tanda yang disebabkan oleh rangsangan peritoneum
setempat,
13
Gambar 3. Posisi apendiks
9. Pertemuan tiga tenia menunjukkan pangkal apendiks, umpamanya kerika apendiks tidak
tampak saat operasi akibat kedudukannya yang retrosekal.
Apendiks menghasilkan lendir sebanyak 1 2 mL per hari.
2,7
Lendir itu normalnya
dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum. Hambatan aliran lendir
di muara apendiks tampaknya berperan pada patogenesis apendisitis.
Imunoglobin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (gut associated lymphoid tissue)
yang terdapat di sepanjang saluran cerna, termasuk apendiks, ialah IgA. Imunoglobulin
itu sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi. Namun demikian, pengangkatan
apendiks tidak mempengaruhi sistem imun tubuh karena jumlah jaringan limf di sini kecil
sekali jika dibandingkan dengan jumlahnya di saluran cerna dan di seluruh tubuh.
Etiologi
Apendisitis akut merupakan infeksi bakteri.
2
Berbagai hal berperan sebagai faktor
pencetusnya, di mana faktor pencetusnya adalah sebagai berikut.
- Faktor obstruksi
Sumbatan lumen apendiks merupakan faktor yang diajukan sebagai faktor pencetus.
Di samping itu, hiperplasia jaringan limf, fekalit, tumor apendiks, dan cacing
askaris dapat pula mengakibatkan sumbatan.
- Faktor bakteri
Infeksi enterogen dapat mengakibatkan erosi mukosa apendiks yang disebabkan
oleh parasit seperti E. histolytica.
- Kecenderungan familiar
Hal ini disebabkan oleh adanya malformasi yang herediter dari organ apendiks yang
terlalu panjang, vaskularisasi yang tidak baik dan letaknya yang memudahkan
terjadinya apendisitis.
14
- Faktor ras dan diet
Faktor ras berhubungan dengan kebiasaan dan pola makan sehari-hari. Penelitian
epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makan makanan rendah serat dan
pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendisitis. Konstipasi akan meningkatkan
tekanan intrasekal dan mengakibatkan timbulnya sumbatan fungsional apendiks dan
meningkatnya pertumbuhan kuman flora kolon biasa.
Patogenesis
Apendisitis akut merupakan peradangan akut pada apendiks yang disebabkan oleh
bakteri yang dicetuskan oleh beberapa faktor pencetus. Obstruksi pada lumen apendiks
menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa apendiks mengalami bendungan.
8
Semakin
lama mukus tersebut semakin banyak, namun elastisitas dinding appendiks mempunyai
keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intralumen. Tekanan di dalam
sekum akan meningkat. Kombinasi tekanan tinggi di sekum dan peningkatan flora kuman
di kolon mengakibatkan sembelit. Hal ini menjadi pencetus radang di mukosa apendiks.
Perkembangan dari apendisitis mukosa menjadi apendisitis komplit, yaitu meliputi semua
lapisan dinding apendiks, dipengaruhi oleh berbagai faktor pencetus setempat yang
menghambat pengosongan lumen apendiks atau mengganggu motilitas normal apendiks.
Tekanan yang meningkat tersebut akan menyebabkan apendiks mengalami
hipoksia, menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema, ulserasi mukosa, dan
invasi bakteri. Infeksi menyebabkan pembengkakan apendiks bertambah dan semakin
iskemik karena terjadi trombosis pembuluh darah intramural (dinding apendiks). Pada
saat inilah terjadi apendisitis fokal akuta yang ditandai dengan nyeri epigastrium.
2,5
Dalam 24 36 jam dapat terjadi gangren dan perforasi khas, namun waktu terjadinya
berbeda-beda pada setiap pasien karena ditentukan banyak faktor.
Bila sekresi mukus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut akan
menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan menembus dinding
sehingga peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritoneum yang dapat
menimbulkan nyeri pada abdomen kanan bawah yang disebut apendisitis supuratif
akut.
2
15
16
Bagan 1. Patofisiologi apendisitis
Upaya pertahanan tubuh berusaha membatasi proses radang ini dengan menutup
apendiks dengan omentum, usus halus, atau adneksa sehingga terbentuk massa
periapendikuler yang secara salah dikenal dengan istilah infiltrat apendiks. Di dalamnya,
dapat terjadi nekrosis jaringan berupa abses yang dapat mengalami perforasi. Jika tidak
terbentuk abses, apendisitis akan sembuh dan massa periapendikuler akan menjadi tenang
dan selanjutnya akan mengurai diri secara lambat.
Nyeri somatik terlokalisasi ini menunjukkan ancaman penyediaan darah arteri dan
iskemia menyebabkan infark kecil sepanjang batas antimesenterica apendiks yang diikuti
dengan gangren. Stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. Bila dinding yang
telah rapuh itu pecah, akan terjadi apendisitis perforasi. Apendiks yang pernah
meradang tidak akan sembuh sempurna tetapi akan membentuk jaringan parut yang
menyebabkan perlengketan dengan jaringan sekitarnya. Perlengketan ini dapat
menimbulkan keluhan berulang di perut kanan bawah. Pada suatu saat, organ ini dapat
meradang akut lagi dan dinyatakan mengalami eksaserbasi akut.
Pada anak-anak, karena omentum lebih pendek dan appendiks lebih panjang,
dinding lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih
kurang memudahkan untuk terjadi perforasi, sedangkan pada orang tua mudah terjadi
karena ada gangguan pembuluh darah.
17
Bagan 2. Faktor pencetus
Epidemiologi
Insidens apendisitis akut di negara maju lebih tinggi bila dibandingkan dengan
negara berkembang.
2
Namun dalam tiga-empat dasawarsa terakhir kejadiannya menurun
secara bermakna, yaitu 100 kasus tiap 100.000 populasi mejadi 52 tiap 100.000 populasi.
Kejadian ini mungkin disebabkan oleh perubahan pola makan. Hal ini diduga disebabkan
oleh perubahan pola makan berupa peningkatan penggunaan makanan berserat dalam
menu sehari-hari.
Apendisitis dapat ditemukan pada semua umur, hanya saja pada anak kurang dari
satu tahun jarang dilaporkan. Insidens tertinggi pada kelompok umur 20 30 tahun,
setelah itu menurun. Insidens pada laki-laki dan perempuan umumnya sebanding, kecuali
pada umur 20 30 tahun, yaitu ketika insidens pada laki-laki lebih tinggi dengan rasio
3:2. Angka ini menurun pada usia menjelang dewasa.
Penatalaksanaan
Bila diagnosa klinis sudah jelas, tindakan paling tepat adalah apendektomi. Pada
apendisitis tanpa komplikasi, biasanya tidak perlu diberikan antibiotik, kecuali pada
apendisitis gangrenosa atau apendisitis perforata. Penundaan tindak bedah sambil
memberikan antibiotik dapat mengakibatkan abses atau perforasi. Apendektomi
dilakukan sesegera mungkin untuk menurunkan resiko perforasi.
Apendektomi dilakukan di bawah anestesi umum atau spinal dengan cara
konvensional yaitu irisan kecil di bagian perut kanan bawah, atau dengan menggunakan
laparoskopi yang membutuhkan tiga atau empat irisan kecil.
3
Pada pembedahan, apendiks
hampir selalu diangkat, bahkan jika dijumpai ternyata apendiks dalam keadaan normal.
Hal ini dilakukan agar nyeri perut kanan bawah di masa akan datang tidak lagi ditujukan
pada apendisitis. Dalam melakukan pembedahan, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah
sebagai berikut.
Perawatan pre-operatif
' Antibiotik dan cairan IV diberikan sampai pembedahan dilakukan.
' Analgesik dapat diberikan setelah diagnosa ditegakkan.
18
' Persiapan saluran cerna dengan tujuan :
1. Mengurangi kemungkinan bentuk dan aspirasi selama anestesi
2. Mengurangi kemungkinan obstruksi usus
3. Mencegah infeksi feses saat operasi
Untuk mencegah ketiga hal tersebut, maka dilakukan :
Puasa dan pembatasan makan dan minum.
Pemberian enema jika perlu.
Memasang tube intestine atau gaster jika perlu.
Jika klien menerima anastesi umum, pasien tersebut tidak boleh makan
dan minum selama 8 10 jam sebelum operasi untuk mencegah aspirasi
gaster. Selang gastrointestinal diberikan malam sebelum atau pagi
sebelum operasi untuk mengeluarkan cairan intestinal atau gaster.
Tindakan operasi
Apendektomi (pengangkatan apendiks).
Jika apendiks mengalami perforasi, maka abdomen dicuci dengan garam
fisiologis dan antibiotika.
Bila terjadi abses apendiks, maka terlebih dahulu diobati dengan antibiotika
secara intravena, massanya mungkin mengecil, atau abses mungkin
memerlukan drainase dalam jangka waktu beberapa hari.
Pemulihan setelah operasi apendiktomi konvensional biasanya berlangsung
beberapa minggu. Pasien biasanya diberikan obat pereda nyeri dan diminta untuk
membatasi aktifitas fisik. Sedangkan pemulihan setelah apendiktomi dengan laparoskopi
biasanya berlangsung lebih cepat, tetapi membatasi aktifitas berat tetap diperlukan, yaitu
kurang lebih 4 sampai 6 minggu setelah pembedahan.
Prognosis
19
Sebagian besar pasien apendisitis sembuh dengan baik lewat terapi bedah, namun
komplikasi dapat terjadi jika pengobatan tertunda. Jika terjadi perforasi, maka prognosis
menjadi lebih buruk.
2
Komplikasi
Pada beberapa keadaan, apendisitis akut agak sulit didiagnosis sehingga tidak
ditangani pada waktunya dan terjadi komplikasi. Komplikasi yang paling membahayakan
adalah perforasi, baik berupa perforasi bebas maupun perforasi apendiks yang telah
mengalami pendinginan sehingga berupa massa yang terdiri atas kumpulan apendiks,
sekum, dan lekuk usus halus.
2
Apendisitis perforata
Keterlambatan penanganan merupakan alasan penting terjadinya perforasi.
Perforasi apendiks akan mengakibatkan peritonitis purulenta yang ditandai dengan
demam tinggi, nyeri makin hebat meliputi seluruh perut dan perut menjadi tegang
dan kembung. Nyeri tekan dan defans muskuler di seluruh perut, peristaltik usus
menurun sampai menghilang karena ileus paralitik. Abses rongga peritoneum dapat
terjadi bila pus yang menyebar terlokalisasi di suatu tempat, paling sering di rongga
perlvis dan subdiafragma. Adanya massa intraabdomen yang nyeri disertai demam
harus dicurigai sebagai abses.
Umumnya perforasi tidak terjadi pada 12 jam pertama. Pada apendektomi yang
dilakukan pada pasien dengan usia kurang dari 10 tahun dan lebih dari 50 tahun,
ditemukan 50% di antaranya telah mengalami perforasi. Faktor yang mempengaruhi
tingginya insidens perforasi pada orang tua adalah gejalanya yang samar,
keterlambatan berobat, adanya perubahan anatomi apendiks berupa penyempitan
lumen, dan arteriosklerosis. Insidens tinggi pada anak disebabkan oleh dinding
apendiks yang masih tipis, anak kurang komunikatif sehingga memperpanjang
waktu diagnosis, dan proses pendinginan kurang sempurna akibat perforasi yang
berlangsung cepat dan omentum anak belum berkembang.
20
Peritonitis
Peradangan peritoneum merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam
bentuk akut maupun kronis. Keadaan ini biasanya terjadi akibat penyebaran infeksi
dari apendisitis. Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan
peritoneum menyebabkan timbulnya peritonitis generalisata. Dengan begitu,
aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik, usus kemudian menjadi
atoni dan meregang. Cairan dan elektrolit hilang ke dalam lumen usus
menyebabkan dehidrasi, gangguan sirkulasi, oligouria, dan mungkin syok. Gejala
yang ditimbulkan antara lain demam, leukositosis, nyeri abdomen, muntah,
abdomen tegang, kaku, nyeri tekan, dan bunyi usus menghilang.
Massa periapendikuler
Massa apendiks terjadi bila apendisitis gangrenosa atau mikroperforasi ditutupi atau
dibungkus oleh omentum dan/atau lekuk usus halus. Pada massa periapendikuler
dengan pembentukan dinding yang belum sempurna, dapat terjadi penyebaran pus
ke seluruh rongga peritoneum jika perforasi diikuti oleh peritonitis purulenta
generalisata. Oleh karena itu, massa periapendikuler yang masih bebas (mobile)
sebaiknya segera dioperasi untuk mencegah penyulit tersebut.
Riwayat klasik apendisitis akut yang diikuti dengan adanya massa yang nyeri di
regio iliaka kanan dan disertai demam, mengarahkan diagnosis ke massa atau abses
periapendikuler.
Pencegahan
Pencegahan pada apendisitis yaitu dengan menurunkan resiko obstruksi atau
peradangan pada lumen apendiks.
3

Obstruksi oleh fecalit dapat terjadi dicegah dengan diet tinggi serat.
Perawatan dan pengobatan penyakit cacing juga meminimalkan risiko.
21
Pengenalan yang cepat terhadap gejala dan tanda apendisitis meminimalkan risiko
terjadinya gangren, perforasi, dan peritonitis.
BAB III
PENUTUP
Apendisitis merupakan peradangan pada apendiks vermiformis yang merupakan
salah satu kasus gawat bedah abdomen yang sering terjadi. Apendisitis akut dapat terjadi
akibat infeksi bakteri yang dicetuskan oleh berbagai faktor, di mana faktor pencetus yang
tersering adalah obstruksi.
Gejala klinis yang menjadi tanda khas pada pasien apendisitis akut ialah nyeri pada
awalnya dirasakan pada daerah epigastrium dan nyeri tersebut akan berpindah ke daerah
perut kanan bawah dalam beberapa jam. Pemeriksaan fisik yang khas pada pasien
apendisitis akut adalah nyeri tekan pada titik McBurney yang disertai nyeri lepas. Dapat
juga ditandai dengan tanda Rovsing, yaitu nyeri pada perut kanan bawah yang terasa pada
penekanan perut kiri bawah.
Angka insidens tertinggi didapatkan pada kelompok umur 20 30 tahun, di mana
angka kejadian pada pria lebih tinggi dibandingkan wanita. Penatalaksanaan pada pasien
apendisitis akut biasanya adalah apendektomi yaitu pengangkatan apendiks secara
terbuka atau dengan laparoskopi.
22
DAFTAR PUSTAKA
1. Daldiyono, Syam AF. Ilmu penyakit dalam. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B,
Alwi I, Simadibrata M, Setiati S, penyunting. Nyeri abdomen akut. Edisi ke-5. Jilid
1. Jakarta: Interna Publishing; 2009. h. 474-6.
2. Riwanto, Hamami AH, Pieter J, Tjambolang T, Ahmadsyah I. Buku ajar bedah.
Dalam: sjamsuhidajat R, Karnadihardja W, Prasetyono T, Rudiman R, penyunting.
Usus halus, apendiks, kolon, dan anorektum. Edisi ke-3. Jakarta: EGC; 2010. h.
731-98.
3. Artikel Kesehatan. Apendisitis (radang usus buntu) apendektomi. Edisi Juli 2010.
Diunduh dari http://fkunhas.com/apendisitis-radang-usus-buntu-apendektomi-
20100728426.html, 21 Mei 2011.
4. Leane SM. Gastroenteritis. Edisi Mei 2008. Diunduh dari
http://.koni.or.id/files/documents/journal/2.%20GASTROENTERITIS%20Oleh
%20Leane%20S%20M.pdf, 21 Mei 2011.
5. Morris JA, Sawyers JL. Buku ajar bedah. Dalam: Sabiston DC. Abdomen akuta.
Bagian 1. Jakarta: EGC; 2010. h. 496-500.
23
6. Arifin B. Batu ureter. Edisi September 2010. Diunduh dari
http://annurhospital.com/web/index.php?
option=com_content&view=article&id=125&Itemid=125, 21 Mei 2011.
7. Aryulina D, Muslim C, Manaf S, Winarni EW. Biologi 2. Edisi pertama. Jakarta:
Erlangga; 2007. h. 173.
8. Budhiarta P. Askep apendisitis. Edisi Juni 2010. Diunduh dari
http://nursingbegin.com/askep-apendisitis/, 21 Mei 2010.
24