Anda di halaman 1dari 18

makalah tanin

BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG MASALAH Dalam metabolisme sekunder yang terjadi pada tumbuhan akan menghasilkan beberapa senyawa yang tidak digunakan sebagai cadangan energi melainkan untuk menunjang kelangsungan hidupnya seperti untuk pertahanan dari predaptor. Beberapasenyawa seperti alkaloid, triterpen dan golongan phenol merupakan senyawasenyawayang dihasilkan dari metabolisme skunder. Golongan fenol dicirikan oleh adanyacincin aromatik dengan satu atau dua gugus hidroksil. Kelompok fenol terdiri dari ribuan senyawa, meliputi flavonoid, fenilpropanoid, asam fenolat, antosianin, pigmen kuinon, melanin, lignin, dan tanin, yang tersebar luas di berbagai jenis tumbuhan. Tanin merupakan salah satu jenis senyawa yang termasuk ke dalam golongan polifenol. Senyawa tanin ini banyak di jumpai pada tumbuhan. Tanin dahulu digunakan untuk menyamakkan kulit hewan karena sifatnya yang dapat mengikat protein. Selain itu juga tanin dapat mengikat alkaloid dan glatin. Tanin secara umum didefinisikan sebagai senyawa polifenol yang memiliki berat molekul cukup tinggi (lebih dari 1000) dan dapat membentuk kompleks denganprotein. Berdasarkan strukturnya, tanin dibedakan menjadi dua kelas yaitu tanin terkondensasi (condensed tannins) dan tanin-terhidrolisiskan (hydrolysabletannins) Tanin memiliki peranan biologis yang kompleks. Hal ini dikarenakan sifat tanin yang sangat kompleks mulai dai pengendap protein hingga pengkhelat logam. Maka dari itu efek yang disebabkan tanin tidak dapat diprediksi. Tanin juga dapat berfungsi sebagai antioksidan biologis. Maka dari itu semua penelitian tentang berbagai jenis senyawa tanin mulai dilirik para peneliti sekarang. Dalam makalah ini akan dibahas berbagai hal tentang tanin yaitu klasifikasinya dan contoh senyawanya, sifat umumnya, cara identifikasi serta contoh pemurnian senyawa tanin.

BAB II

PEMBAHASAN II.1 PENGERTIAN TANIN Tanin secara umum didefinisikan sebagai senyawa polifenol yang memiliki berat molekul cukup tinggi (lebih dari 1000) dan dapat membentuk kompleks dengan protein. Senyawa-senyawa kompleks yang tersebar luas dalam dunia tumbuh-tumbuhan terdapat dalam jumlah besar pada daun, buah dan batang Campuran senyawa polifenol, semakin banyak jumlah gugus fenolik maka semakin besar ukuran molekul tanin Tanin berikatan kuat dengan protein & dapat mengendapkan protein dari larutan. Tannin terdapat luas dalam tumbuhan berpembuluh, dalam angiospermae terdapat khusus dalam jaringan kayu. Menurut batasannya, tannin dapat bereaksi dengan protein membentuk kopolimer mantap yang tak larut dalam air. Dalam industry, tannin adalah senyawa yang berasal dari tumbuhan, yang mampu mengubah kulit hewan yang mentah menjadi kulit siap pakai karena kemampuannya menyambung silang protein. II.2 PENGGOLONGAN TANIN Secara kimia terdapat dua jenis tannin yang tersebar tidak merata dalam dunia tumbuhan. Tannin-terkondensasi hampir terdapat semesta di dalam paku-pakuan dan gimnospermae, serta tersebar luas dalam angiospermae, terutama pada jenis tumbuhan berkayu. Sebaliknya, tannin yang terhidrolisiskan penyebarannya terbatas pada tumbuhan berkeping dua, di Inggris hanya terdapat pada suku yang nisbi sedikit. Tetapi kedua jenis tannin itu dijumpai bersamaan dalam tumbuhan yang sama seperti yang terjadi pada kulit dan daun ek, Quercus. tanin terkondensasi (condensed tannins) Tanin jenis ini biasanya tidak dapat dihidrolisis, tetapi dapat terkondensasi meghasilkan asam klorida. Tanin jenis ini kebanyakan terdiri dari polimer flafonoid yang merupakan senyawa fenol dan telah dibahas pada bab yang lain.Nama lain dari tanin ini adalah Proanthocyanidin. Proanthocyanidin merupakan polimer dari flavonoid yang dihubungan dengan melalui C 8 dengan C4. Salah satu contohnya adalah Sorghum procyanidin, senyawa ini merupakan trimer yang tersusun dari epiccatechin dan catechin.

Jika terkondensasi maka akan menghasilkan flavanoid jenis flavan dengan bantuan nuklofil berupa floroglusinol

terdiri dari molekul-molekul katekin dan epikatekin yang dihubungkan dengan ikatan C-C

katekin, epikatekin monomer 2 4 monomer prosianidin oligomerik (OPC) Bobot molekul 1000-3000 Lebih tahan terhadap penguraian Lebih mudah teroksidasi warna merah muda keunguan Penyimpanan flobafen (=flobatanin) tanin terhidrolisiskan(hydrolysable tannins) Hydrolysable Tannin = Pirogalol tanin Terdiri dari molekul gula pusat yang terikat pada molekul-molekul asam galat (galitanin) atau asam heksahidroksidifenat (elagitanin) Merupakan glikosida sehingga mudah terhidrolisis asam fenolat (asam/enzim) + gula Berat molekul galitanin1000-1500,sedangkan Berat molekul Ellaggitanin 1000-3000 Tanin ini biasanya berikatan dengan karbohidrat dengan membentuk jembatan oksigen, maka dari itu tanin ini dapat dihidrolisis dengan menggunakan asam sulfat atau asam klorida. Salah satu contoh jenis tanin ininadalah gallotanin yang merupakan senyawa gabungan dari krbohidrat denganasam galat. Senyawa SISTEM PENOMORAN PADA FLAVANOID Flavonoid sering terdapat sebagai glikosida. Golongan terbesar flavonoid berciri mempunyai piran yang menghubungkan rantai tiga-karbon dengan salah satu dari cincin benzene. Sistem penomoran untuk turunan flavonoid diberikan dibawah: Di antara flavonoid khas yang mempunyai kerangka seperti diatas berbagai jenis dibedakan tahanan oksidasi dan keragaman pada rantai C3. II.3 SIFAT-SIFAT TANIN SIFAT KHUSUS Tidak dapat dikristalisasi Bila ditambah air larutan koloidal, reaksi asam, rasa astringen Mengendapkan larutan gelatin, protein dan alkaloid dalam larutan + garam Fe (III) senyawa biru tua / hitam kehijauan (larut) + K-ferisianida + NH4OH warna merah tua Mengendap dengan garam-garam Cu, Pb, Sn, lar. K-bikromat kuat / asam kromat 1 % dalam larutan basa mudah mengabsorbsi oksigen SIFAT UMUM 1. Dalam air membentuk larutan koloidal yang bereaksi asam dan sepat .

2. Mengendapkan larutan gelatin dan larutan alkaloid. 3. Tidak dapat mengkristal. 4. Larutan alkali mampu mengoksidasi oksigen. 5. Mengendapkan protein dari larutannya dan bersenyawa dengan protein tersebut sehingga tidak dipengaruhi oleh enzim protiolitik II.4 FUNGSI TANIN Di dalam tumbuhan letak tannin terpisah dari protein dan enzim sitoplasma, tetapi bila jaringan rusak, misalnya bila hewan memakannya, maka reaksi penyamakan dapat terjadi. Reaksi ini menyebabkan protein lebih sukar dicapai oleh cairan pencernaan hewan. Pada kenyataanya, sebagian besar tumbuhan yang banyak bertanin dihindari oleh hewan pemakan tumbuhan karena rasanya yang sepat. Kita menganggap salah satu fungsi utama tannin dalam tumbuhan ialah sebagai penolak hewan pemakan tumbuhan. Fungsi tanin pada tanaman biasanya sebagai senjata pertahanan untuk menghindari terjadinya over grazing oleh hewan ruminansia dan menghindari diri dari serangga. Penyamak kulit. Pembuatan tinta (+ garam besi(III) senyawa berwarna tua). Reagen untuk deteksi gelatin, protein, alkaloid (karena sifat mengendap). Antidotum keracunan alkaloid (membentuk tannat yang mengendap) . Inflamasi saluran pencernaan bagian atas. Diare karena inflamasi saluran GI. Topikal : lesi terbuka, luka, hemoroid. II.5 CARA IDENTIFIKASI TANIN KUALITATIF Galotanin, Elagitanin + garam Feri warna + hitam kebiruan Tanin terkondensasi + garam Feri coklat kehijauan Galotanin + K-iodat warna rosa Asam galat bebas + K-iodat warna jingga Elagitanin + asam nitrit mula2 rosa, kemudian ungu, lalu biru Tanin terkondensasi + vanilin + HCl merah KUANTITATIF PENGUJIAN TANNIN METODE VOLUMETRIK Pereaksi : 1. Kalium Permanganat 0,1 N 2. Larutan indigokarmin : Larutkan 0,375 g dalam 250 ml air yang mengandung 12,5 ml H2SO4 pekat. 3. Larutan gelatin : Larutkan 6,25 g dalam NaCl jenuh selama 1hari, panaskan sampai gelatin larut, dinginkan dan encerkan dengan NaCl jenuh sampai 250 ml. 4. Larutan natrium klorida : Pada 975 ml larutan NaCl jenuh campur dengan 25 ml H2SO4 pekat. Cara kerja Pada sample setara dengan 0,01 g tannin, tambah 20 ml larutan indigokarmin dan sekitar 500 750 ml air. Tambah KMnO4 0,1 N dengan menggunakan buret, saat 1 ml dengan

pengocokkan, warna berubah menjadi hijau terang. Kemudian tambah setetes demi setetes sampai warna berubah menjadi kuning terang atau pink gelap (Volume KMnO4 sebagai A). Pada 50 ml larutan tersebut, tambah 25 ml larutan gelatin dan larutan natrium klorida sampai volume 250 ml. Saring larutan tersebut (kaolin, Kieselguhr atau Supercel), kocok selama 15 menit dan saring. Pada 50 ml hasil saringan, tambah 20 ml larutan indigokarmin dan 500 750 ml air. Titrasi dengan KMnO4 0,1 N (Sebagai B). Perhitungan A : Total semua senyawa termasuk tannin B : Non senyawa tannin A B : Tannin 1 ml KMnO4 0,1 N ~ 0,0042 Tannin II.6 BIOSINTESA TANIN Biosintesis tannin 1. Tannin-terkondensasi atau flavolan secara biosintesis dapat dianggap terbentuk dengan cara kondensasi katekin tunggal (atau galotanin) yang membentuk senyawa dimer dan kemudian oligomer yang lebih tinggi. Ikatan karbon-karbon menghubungkan satu satuan flavon dengan satuan berikutnya melalui ikatan 4-8 atau 6-8. Kebanyakan flavolan memiliki 2 sampai 20 satuan flavon. Nama lain untuktanin-terkondensasi adalah proantosianidin karena bila direaksikan dengan asam panas, beberapa ikatan karbonkarbon penghubung satuan terputus dan dibebaskanlah monomer antosianidin. Kebanyakan proantosianidin adalah prosianidin, ini berarti bila direaksikan dengan asam akan menghasilkan sianidin. 2. Tannin-terhidrolisiskan terutama terdiri atas dua kelas, yang paling sederhana adalah depsida galoilglukosa. Pada senyawa ini, inti yang berupa glukosa dikelilingi oleh lima gugus ester galoil atau lebih. Pada jenis kedua, inti molekul berupa senyawa dimer asam galat, yaitu asam heksahidroksidifenat, di sini pun berikatan dengan glukosa. Bila dihidrolisis elagitanin ini menghasilkan asam elagat. Tannin terhidolisiskan ini pada pemanasan dengan asam klorida atau asam sulfat menghasilkan gallic atau ellagic. Hydrolyzable tanin yang terhidrolisis oleh asam lemah atau basa lemah untuk menghasilkan karbohidrat dan asam fenolat. Contoh gallotannins adalah ester asam gallic glukosa dalam asam tannic (C76H52O46), ditemukan dalam daun dan kulit berbagai jenis tumbuhan. II.7 EFEK TANIN DALAM SALURAN PENCERNAAN 1. Efek terhadap diare terbentuk lapisan protektif dari protein yang mengendap pada mukosa sepanjang dinding saluran perncernaan menghilangkan rasa ujung-ujung syaraf sensoris & mengurangi rangsang terhadap aktivitas peristaltik yang meningkat 2. Efek terhadap ulkus peptikum tanin terikat secara selektif pada protein-protein yang terekspos pada dasar ulser barier yang terbentuk melindungi bawah ulser dari isi lambung Pada permukaan berdarah (Lokal) Efek hemostatik karena :

Vasokonstriksi lokal Peningkatan kecepatan koagulasi Pembentukan gumpalan artifisial Efek antioksidan berkaitan dengan OPC contoh tanaman yang banyak mengandung OPC : - biji anggur, kulit batang Pinus pinaster . Reaksi yang Tidak Diinginkan: Hanya berlaku untuk yang jumlahnya signifikan dan digunakan dalam dosis relatif tinggi. Pemakaian kronis dalam dosis tinggi : Astringensi berlebihan pada jaringan mukosa Konstipasi Menghambat enzim- enzim pencernaan terutama dari usus kecil Membentuk kompleks dengan ion logam misalnya dengan Fe jadi menghambat absorpsi Suntikan s.c karsinogenik Hydrolysable tannin bila diabsorpsi ke dalam aliran darah hepatotoksik II.8 BAHAN-BAHAN YANG MENGANDUNG TANIN 1. Daun teh berasal dari Thea sinensis (Theaceae) Teh hijau : epigalokatekin (EGC), epigalokatekin galat (EGCG) Teh hitam (fermentasi + pemanasan) : Eksperimen dengan manusia (dosis oral) : Teh hijau dan teh hitam meningkatkan aktivitas antioksidan plasma Teh hijau lebih kuat sekitar 50% dari teh hitam (In vitro lebih kurang 5X lebih kuat) Efek cepat : teh hijau 30 menit ; teh hitam sesudah 50 menit Susu menghilangkan efek ini.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Penggunaan obat tradisional pada masyarakat pada umumnya masih sebatas dalam bentuk jamu, yang cara penyajiannya dengan cara direbus atau diseduh, sehingga kurang disukai penggunaannya. Selain itu sediaan jamu masih mempunyai kekurangan seperti penyajian yang kurang praktis, bentuk sediaan yang kurang stabil dan takaran

dosis yang tidak tepat. Salah satu usaha untuk mengatasi hal tersebut dikembangkan pembuatan dalam bentuk sediaan farmasetis yang lebih baik dari bahan alam, yaitu dengan membuatnya dalam bentuk sediaan tablet dari ekstrak tanaman. Daun jambu biji (Psidium guajava L) adalah salah satu obat tradisional yang masih sering digunakan sampai sekarang. Daun jambu biji sebagai obat tradisional digunakan untuk pengobatan diare, radang lambung, sariawan, keputihan, kencing manis. Secara alamiah daun jambu biji yang diketahui berkhasiat dan aman dikonsumsi (Dalimartha, 2001). Salah satu zat yang terkandung dalam tananaman jambu biji (Psidium guajava L) adalah tanin yang dapat digunakan sebagai obat anti diare. Tanin merupakan senyawa fenolik larut air dengan BM 500-3000, memberikan reaksi umum senyawa fenol dan memiliki sifat-sifat khusus seperti presipitasi alkaloid, gelatin, dan protein-protein lain. Tanin banyak tedapat di dalam tumbuhan berpembuluh, khususnya dalam jaringan kayu, selain itu banyak terdapat pada bagian daunnya. Senyawa aktif pada daun yang berfungsi sebagai anti diare adalah tannin. Ekstrak daun jambu biji dapat digunakan untuk membasmi bakteri/mikroba penyebab diare (Salmonella typhii, E. coli, Shigella dysentriae). Komposisi kimia di dalam daun jambu biji adalah tannin 9 - 12%, minyak atsiri, minyak lemak dan asam malat, asam ursolat, asam psidiolat, asam kratogolat, asam oleanolat, asam guajavarin dan vitamin. Tanin merupakan komponen zat organik derivat polimer glikosida yang terdapat dalam bermacam-macam tumbuhan, terutama tumbuhan berkeping dua (dikotil). Monomer tannin adalah digallic acid dan D-glukosa. Ekstrak tanin terdiri dari campuran senyawa polifenol yang sangat kompleks dan biasanya tergabung dengan karbohidrat rendah. Oleh karena adanya gugus fenol, maka tannin akan dapat berkondensasi dengan formaldehida. Tanin terkondensasi sangat reaktif terhadap formaldehida dan mampu membentuk produk kondensasi, berguna untuk bahan perekat termosetting yang tahan air dan panas. Tanin diharapkan mampu mensubsitusi gugus fenol dari resin fenol formaldehid guna mengurangi pemakaian fenol sebagai sumberdaya alam tak terbarukan. Tanin merupakan metabolit sekunder tanaman yang bersifat astrigen dengan rasa khas yang sepat. Secara umum tannin terbagi atas tannin (proanthocyanidins) hidrolisis dan tannin kondensasi. Tannin hidrolisis diprekursor oleh asam dehydroshikimic sedangkan tannin kondensasi disintesis dari prekursor flavonoid. Tingginya kandungan

tannin dari kalus yang dihasilkan secara in vitro dapat dipahami karena produksi metabolit sekunder pada kalus in vitro dipengaruhi oleh berbagai faktor di antaranya komposisi media yang digunakan dan zat pengatur tumbuh yang diaplikasikan. Tanin terhidrolisis terdiri atas dua kelas, yang paling sederhana ialah depsida galoiglukosa. Pada senyawa ini, inti yang berupa glukosa dikelilingi oleh lima atau lebih gugus ester galoil. Pada jenis yang kedua, inti molekul berupa senyawa dimer asam galat yaitu asam heksahidroksidifenat, yang berikatan dengan glukosa. Bila dihidrolisis, elagitanin ini menghasilkan asam elagat. Tanin secara ilmiah didefinisikan sebagai senyawa polipenol yang mempunyai berat molekul tinggi dan mempunyai gugus hidroksil dan gugus lainnya (seperti karboksil) sehingga dapat membentuk kompleks dengan protein dan makromolekul lainnya di bawah kondisi lingkungan tertentu. Penyakit diare atau juga sering disebut gastroenteritis merupakan salah satu penyakit yang masih banyak dijumpai di masyarakat,. Adapun tanaman obat yang dapat digunakan untuk membantu mengatasi diare diantaranya mempunyai efek sebagai adstringen (pengelat) yaitu dapat mengerutkan selaput lendir usus sehingga mengurangi pengeluaran cairan, diare dan disentri, selain itu juga mempunyai efek sebagai antiradang, dan antibakteri. BAB II PEMBAHASAN II.1. Definisi Tanin Tanin merupakan substansi yang tersebar luas dalam tanaman , seperti daun, buah yang belum matang , batang dan kulit kayu. Pada buah yang belum matang ,tanin digunakan sebagai energi dalam proses metabolisme dalam bentuk oksidasi tannin. Tanin yang dikatakan sebagai sumber asam pada buah. Berikut adalah gambar struktur tanin Sifat-sifat Tanin : 1. Dalam air membentuk larutan koloidal yang bereaksi asam dan sepat. 2. Mengendapkan larutan gelatin dan larutan alkaloid. 3. Tidak dapat mengkristal. 4. Larutan alkali mampu mengoksidasi oksigen.

5. Mengendapkan protein dari larutannya dan bersenyawa dengan protein tersebut sehingga tidak dipengaruhi oleh enzim protiolitik. Sifat kimia Tanin : 1. Merupakan senyawa kompleks dalam bentuk campuran polifenol yang sukar dipisahkan sehingga sukar mengkristal. 2. Tanin dapat diidentifikasikan dengan kromotografi. 3. Senyawa fenol dari tanin mempunyai aksi adstrigensia, antiseptic dan pemberi warna. Identifikasi Tanin dapat dilakukan dengan cara : 1. Diberikan larutan FeCl3 berwarna biru tua / hitam kehijauan. 2. Ditambahkan Kalium Ferrisianida + amoniak berwarna coklat. 3. Diendapkan dengan garam Cu, Pb, Sn, dan larutan Kalium Bikromat berwarna coklat. Kegunaan Tanin : 1. Sebagai pelindung pada tumbuhan pada saat masa pertumbuhan bagian tertentu pada tanaman, misalnya buah yang belum matang, pada saat matang taninnya hilang. 2. Sebagai anti hama bagi tanaman sehingga mencegah serangga dan fungi. 3. Digunakan dalam proses metabolisme pada bagian tertentu tanaman. 4. Efek terapinya sebagai adstrigensia pada jaringan hidup misalnya pada gastrointestinal dan pada kulit. 5. Efek terapi yang lain sebagai anti septic pada jaringan luka, misalnya luka bakar, dengan cara mengendapkan protein. 6. Sebagai pengawet dan penyamak kulit. 7. Reagensia di Laboratorium untuk deteksi gelatin, protein dan alkaloid. 8. Sebagai antidotum (keracunan alkaloid) dengan cara mengeluarkan asam tamak yang tidak larut. Hidrolisa Tanin : Tanin apabila dihidrolisa akan menghasilkan fenol polihidroksi yang sederhana. Hidrolisa : 1. Asam Gallat terurai pirogalol 2. Asam Protokatekuat Katekol 3. Asam Ellag dan Tenol-fenol lain. (Asam Ellag dapat disamak kulit bentuk bunga) II.2. Klasifikasi Tanin

Senyawa tanin termasuk kedalam senyawa poli fenol yang artinya senyawa yang memiliki bagian berupa fenolik. Senyawa tanin dibagi menjadi dua yaitu tanin yang terhidrolisis dan tanin yang terkondensasi. 1. Tanin Terhidrolisis (hydrolysable tannins) Tanin ini biasanya berikatan dengan karbohidrat dengan membentuk jembatan oksigen, maka dari itu tanin ini dapat dihidrolisis dengan menggunakan asam sulfat atau asam klorida. Salah satu contoh jenis tanin ini adalah gallotanin yang merupakan senyawa gabungan dari karbohidrat dengan asam galat. Selain membentuk gallotanin, dua asam galat akan membentuk tanin terhidrolisis yang bisa disebut Ellagitanins. Berat molekul galitanin 1000-1500,sedangkan Berat molekul Ellaggitanin 1000-3000. Ellagitanin sederhana disebut juga ester asam hexahydroxydiphenic (HHDP). Senyawa ini dapat terpecah menjadi asam galic jika dilarutkan dalam air. Asam elagat merupakan hasil sekunder yang terbentuk pada hidrolisis beberapa tanin yang sesungguhnya merupakan ester asam heksaoksidifenat. 2. Tanin terkondensasi (condensed tannins). Tanin jenis ini biasanya tidak dapat dihidrolisis, tetapi dapat terkondensasi meghasilkan asam klorida. Tanin jenis ini kebanyakan terdiri dari polimer flavonoid yang merupakan senyawa fenol. Oleh karena adanya gugus fenol, maka tannin akan dapat berkondensasi dengan formaldehida. Tanin terkondensasi sangat reaktif terhadap formaldehida dan mampu membentuk produk kondensasi Tanin terkondensasi merupakan senyawa tidak berwarna yang terdapat pada seluruh dunia tumbuhan tetapi terutama pada tumbuhan berkayu. Tanin terkondensasi telah banyak ditemukan dalam tumbuhan paku-pakuan. Nama lain dari tanin ini adalah Proanthocyanidin. Proanthocyanidin merupakan polimer dari flavonoid yang dihubungan dengan melalui C 8 dengan C4. Salah satu contohnya adalah Sorghum procyanidin, senyawa ini merupakan trimer yang tersusun dari epiccatechin dan catechin. II.3. Biosintesis Tanin Biosintesa dari Tanin secara umum : Biosintesa asam galat dengan precursor senyawa fenol propanoid Contoh : - Asam gallat merupakan hasil hidrolisa tannin

- Dari jalur asam siklimat melalui asam 5-D-hidroksisiklimat - Dengan precursor senyawa fenol propanoid. (Rhus thypina) - Katekin dibentuk dari 3 molekul as. Asetat , as. Sinamat & as. Katekin 1) Tannin-terkondensasi atau flavolan secara biosintesis dapat dianggap terbentuk dengan cara kondensasi katekin tunggal (atau galotanin) yang membentuk senyawa dimer dan kemudian oligomer yang lebih tinggi. Ikatan karbon-karbon menghubungkan satu satuan flavon dengan satuan berikutnya melalui ikatan 4-8 atau 6-8. Kebanyakan flavolan memiliki 2 sampai 20 satuan flavon. Nama lain untuktanin-terkondensasi adalah proantosianidin karena bila direaksikan dengan asam panas, beberapa ikatan karbonkarbon penghubung satuan terputus dan dibebaskanlah monomer antosianidin. Kebanyakan proantosianidin adalah prosianidin, ini berarti bila direaksikan dengan asam akan menghasilkan sianidin. 2) Tannin-terhidrolisiskan terutama terdiri atas dua kelas, yang paling sederhana adalah depsida galoilglukosa. Pada senyawa ini, inti yang berupa glukosa dikelilingi oleh lima gugus ester galoil atau lebih. Pada jenis kedua, inti molekul berupa senyawa dimer asam galat, yaitu asam heksahidroksidifenat, disini pun berikatan dengan glukosa. Bila dihidrolisis elagitanin ini menghasilkan asam elagat. Tannin terhidolisiskan ini pada pemanasan dengan asam klorida atau asam sulfat menghasilkan gallic atau ellagic. Hydrolyzable tanin yang terhidrolisis oleh asam lemah atau basa lemah untuk menghasilkan karbohidrat dan asam fenolat. Contoh gallotannins adalah ester asam gallic glukosa dalam asam tannic (C76H52O46), ditemukan dalam daun dan kulit berbagai jenis tumbuhan. Salah satu contoh tanaman yang mengandung senyawa tannin adalah jambu biji. II.4. Uraian Tanaman Jambu Biji Divisio : Spermatophyta Subdivisio: Angiospermae Classis : Dicotyledoneae Ordo : Myrtales Familia : Myrtaceae

Genus : Psidium Species : Psidium guajava L Jambu biji (Psidium guajava L) tersebar meluas hingga Asia Tenggara termasuk Indonesia, Asia Selatan, India dan Srilanka. Jambu biji termasuk tanaman perdu yang memiliki banyak cabang dan ranting serta batang pohonnya keras. Permukaan kulit luarnya berwarna coklat dan licin. Bila kulit kayu jambu biji dikelupas akan terlihat permukaan batang kayunya basah. Bentuk daunnya bercorak bulat telur dengan ukuran agak besar dan bunganya kecil-kecil berwarna putih dan muncul dari ketiak daun. Tanaman ini dapat tumbuh subur di daerah dataran rendah sampai ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Pada umur 2-3 tahun jambu biji sudah mulai berbuah dan bijinya banyak terdapat pada daging buahnya. Daun jambu biji (Psidium guajava L) merupakan daun tunggal bertangkai pendek dengan letak berhadapan dan panjang tangkai daun 0,5-1 cm. Helaian daun bulat memanjang agak jorong, ujung tumpul, pangkal membulat, tepi rata agak menekuk ke atas, pertulangan menyirip dengan panjang 6-14 cm dan lebar 3- 6 cm berwarna hijau. Ibu tulang daun dan tulang cabang menonjol pada permukaan bawah, bertulang menyirip. II.5. Manfaat senyawa tannin pada tanaman jambu biji Senyawa tannin bersifat sebagai astringent, yaitu melapisi mukosa usus, khususnya usus besar dan menciutkan selaput lendir usus, misalnya asam samak. Serta sebagai penyerap racun dan dapat menggumpalkan protein. Oleh Karena itu senyawa tannin dapat membantu menghentikan diare. II.6. Kandungan Dari Tanaman Jambu Biji Pada Tanin Senyawa aktif pada daun jambu biji yang berfungsi sebagai anti diare adalah tannin. Ekstrak daun jambu biji dapat digunakan untuk membasmi bakteri/mikroba penyebab diare (Salmonella typhii, E. coli, Shigella dysentriae). Komposisi kimia di dalam daun jambu biji adalah tannin 9 - 12%, minyak atsiri, minyak lemak dan asam malat, asam ursolat, asam psidiolat, asam kratogolat, asam oleanolat, asam guajavarin dan vitamin. II.7. Efek Farmakologi dan hasil penelitian pada Jambu Biji Secara in vitro, infus daun jambu biji dengan bermacam-macam kepekatan menunjukkan perbedaan yang nyata pada diameter daerah hambatan pertumbuhan kuman

Shigella Flexneri dan Shigella Sonnei, sebagai penyebab disentri basiler. (Imam Subagyo, Wahjo Dyatmiko dan Abdul Karim, UNAIR 1981) Secara in vitro, rebusan daun jambu biji kadar ccdapat mengurangi kontraksi usus halus terpisah marmut, yang sebanding dengan atropin sulfat 2,5 mcg/ml. Kekuatan relaksasi antara rebusan 5%, 10% dan 20% b/v tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. (Natsir P. Djunaid, JF FMIPA UNHAS, 1986) Secara in vitro, infus daun jambu biji dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dengan perkiraan kadar terendah sebesar 2% b/v, tetapi tidak menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli sampai batas 10% b/v (prima Yuniarti, FF UGM, 1991) Infus buah jambu biji pada kelinci memiliki efek hipoglikemik (menurunkan kadar glukosa darah). Sebagai pembanding digunakan tolbutamida (Letty Puspitawati, Fakultas Farmasi UNTAG 193). Hasil penelitian efek infus daun jambu biji dalam upaya pencegahan asfiksia setelah penyemprotan histami sebagai berikut; Waktu timbulnya asfiksia lebih panjang pada kelompok yang mendapat infus daun jambu biji 5% dibandingkan pada kelompok yang mendapatkan NaCi fisiologis dan antropin sulfat (P<0,05). Waktu tumbulnya asfiksia antara infus daun jambu bij dengan fenilhidramin HCI tidak berbeda nyata (P>0,05). Asfiksida tidak terjadi pada kelompok yang mendapatkan infus daun jambu biji 10%, efedrin dan aminofilin (Aznan Lelo, Yineldi Anwar, M. Iskandar Lubis, dkk., Bagian Farmakologi FKL USU dan Jurusan Farmasi FMIPA USU). II.8. Mekanisme Penyembuhan Diare Oleh Tanin Jambu biji atau jambu batu (Psidium guajava L.) termasuk tanaman yang mudah didapat. Selain buahnya sebagai sumber vitamin C, hampir semua bagian tanaman ini, terutama daun dan buah muda, dapat mengobati mencret lantaran sifat mengelat yang dimilikinya. Hasil penelitian in vitro terhadap kontraksi usus dengan menggunakan usus marmut menunjukkan, rebusan daun jambu biji konsentrasi 5%, 10%, dan 20% dapat mengurangi kontraksi usus halus (Natsir, 1986). Sedang penelitian terhadap kemampuan rebusan daun jambu biji dalam menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia colli dan

Staphylococcus

aureus

menunjukkan,

kadar

terendah

2% dapat

menghambat

pertumbuhan S. aureus dan dalam kadar 10% dapat menghambat pertumbuhan E. colli. Hasil penelitian itu dapat digunakan sebagai dasar penggunaan daun jambu biji sebagai obat diare akibat infeksi Zat aktif dalam daun jambu yang dapat mengobati diare adalah tanin. Dalam penelitian terhadap daun kering jambu biji yang digiling halus diketahui, kandungan taninnya sampai 17,4%. Makin halus serbuk daunnya, makin tinggi kandungan taninnya. Senyawa itu bekerja sebagai astringent, yaitu melapisi mukosa usus, khususnya usus besar. Tanin juga menjadi penyerap racun dan dapat menggumpalkan protein. Untuk memanfaatkan jambu biji sebagai obat diare dapat dilakukan dengan merebus 15 30 g daun kering jambu biji dalam air sebanyak 150 300 ml. Perebusan dilakukan selama 15 menit setelah air mendidih. Hasil rebusan disaring dan siap untuk diminum sebagai obat diare. Bila ingin memanfaatkannya dalam bentuk segar, diperlukan 12 lembar daun segar, dicuci bersih, ditumbuk halus, ditambah cangkir air masak dan garam secukupnya. Hasil tumbukan diperas, disaring, lalu diminum. Supaya terasa enak, ke dalamnya bisa ditambahkan madu.

BAB III PENUTUP IV.1. Kesimpulan Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan maka dapat ditarik kesimpulan : Tannin merupakan senyawa kimia yang kompleks terdiri dari senyawa polifenol yang tersebar luas pada daun dan buah yang belum masak. Senyawa tanin terbagi atas dua yaitu tannin terhidrolisis dan tanin terkondesasi. Salah satu tanaman yang mengandung

senyawa tannin ialah daun jambu biji yang bersifat astringent yang bermanfaat untuk membantu pengobatan diare. Efek farmakologi dari daun jambu biji dalam membantu pengobatan diare sudah terbukti melalui beberapa penelitian yang dilakukan.

annin berasal dari kata tanning, yang berarti proses mengubah kulit hewan menjadi kain (leather) dengan menggunakan ekstrak tumbuhan, yang didasarkan pada kemampuan tannin dalam berinteraksi dan mempresipitasi protein, termasuk protein pada kulit hewan. Sedangkan Tannin dalam bahasa celtic kuno adalah pohon oak, yang biasa digunakan untuk membuat kain (leather). Definisi Tannin menurut Bate-Smith : water soluble phenolics compound having molecular weights between 500 and 3000 (giving) the useful phenolic reactions(and having) special properties such as the ability to precipiate alkaloid, gelatin and other proteins. Sedangkan definisi Tannin menurut HORVARTH (1981) : Any phenolic compound of sufficiently high molecular weight containing sufficient hydroxyls and other suitable groups (i.e. carboxyls) to form effectively strong complexes with protein and other macromolecules under the particular environmental conditions being studied. Pada tahun 1830an, Tannin diperoleh dari isolasi asam salisilat (Tannin sederhana) yang bersal dari tanaman Salix sp dan pada tahun 1897 seorang kimiawan Bayer menemukan manfaat Tannin sebagai penyembuh rasa sakit seperti aspirin. Tannin, disebut juga asam tanat, merupakan zat amorf dan kristalin yang diperoleh dari tumbuhan tertentu. Tannin terdapat pada berbagai jenis pohon, namun sumber utamanya adalah oak galls dan kulit kayu sumac. Ekstraksi dengan air, atau air dan alkohol, adalah langkah pertama untuk preparasi tannin.Ampasnya, dengan evaporasi pada suhu rendah menghasilkan suatu produk komersial. Tannin merupakan salah satu metabolit sekunder tanaman yang mengandung inti fenol (golongan polifenol) yang dapat mengendapkan protein. Kelompok fenolik tannin merupakan pendonor hidrogen terbaik karena adanya ikatan hidrogen dengan gugus karboksil dari protein. Pengendapan protein oleh tanin maksimum terjadi pada pH isoelektrik dari protein. Dalam pH basa, hidroksi fenol akan terionisasi sedangkan protein pada pH tersebut akan bermuatan negatif, hal ini mengakibatkan adanya tolak menolak sehingga tidak terjadi pengendapan. Interaksinya dengan protein spesifik tergantungstruktukturnya.Adapun karakteristik antara ikatan Tannin dengan protein adalah :

? Karakteristik Protein yang disukai untuk berikatan Ukuran molekul besar, Struktur molekul yang flexible, Kaya akan proline. ? Karakteristik Tannin yang disukai untuk berikatan Bobot molekul tinggi, Konformasi dan mobilitas yang tinggi. Tannin berwarna putih kekuningan sampai coklat, dan memiliki bau khas yang lemah. Pemaparan cahaya dapat mempertajam warnanya. Tannin memiliki rasa pahit dan bersifat sebagai astringent. Air, aseton, dan alcohol dapat melarutkan tannin, tetapi benzene, eter, dan kloroform tidak dapat. Pemanasan sampai 210 C menyebabkan dekomposisi, kemudian terbentuk pyrogallol dan karbon dioksida. Sifat kimia itulah yang menjadi dasar penggunaan tannin untuk mempresipitasi albumin, gelatin, dan banyak alkaloid, serta garam garam logam. Kemampuan tannin mengubah protein menjadi produk yang tidak larut menyebabkan tannin digunakan sebagai tanning agent. Garam Ferri bereaksi dengan tannin menghasilkan produk yang berwarna biru-hitam yang berguna sebagai tinta. Tannin juga berguna sebagai mordan pada pewarna pakaian, sebagai ukuran untuk kertas atau sutra, dan sebagai koagulan pada karet. Kemampuan presipitasi pada tannin ini juga digunakan untuk menilai atau membersihkan anggur dan bir. Tannin dimanfaatkan sebagai obat eksternal karena sifatnya yang astringent dan styptic. Tannin banyak ditemukan pada tumbuhan berpembuluh. Dalam angiospermae, tannin terdapat khusus dalam jaringan kayu. Tannin terletak pada tempat yang terpisah dari protein dan enzim sitoplasma, tetapi bila jaringan rusak (misalnya bila hewan memakannya), maka reaksi penyamakan dapat terjadi. Reaksi ini menyebabkan protein lebih sukar dicapai oleh cairan pencernaan hewan. Faktanya, sebagian besar tumbuhan yang banyak mengandung tannin dihindari oleh hewan pemakan tumbuhan karena rasanya yang sepat. Hal ini juga sesuai dengan fungsi utama tannin dalam tumbuhan, yaitu sebagai penolak hewan pemakan tumbuhan.Dalam industri, tannin yang merupakan senyawa yang berasal dari tumbuhan, digunakan untuk mengubah kulit hewan yang mentah menjadi kulit siap pakai karena kemampuannya menyambung silang protein. Tannin mempresipitasi protein dari larutan dan dapat dikombinasikan dengan protein, yang menyebabkan tannin resisten terhadap enzim proteolitik. Jika digunakan pada jaringan hidup, tannin mempunyai efek sebagai astringent dan menjadi dasar aplikasi terapetik dari tannin. Obat yang mengandung tannin, seperti hamamelis dan nutgall, seperti juga tannin murni (asam tanat) dan derivatnya (asam asetiltanat), digunakan dalam obat sebagai astringent pada saluran pencernaan dan pada abrasi kulit. Pada perawatan

akibat terbakar, protein pada jaringan yang terlihat dipresipitasi dan membentuk antiseptik untuk melindungi kulit yang ada di bawahnya di mana regenerasi dari jaringan baru berlangsung

Anda mungkin juga menyukai