Anda di halaman 1dari 23

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Persalinan prematur adalah persalinan yang terjadi kurang dari 37 minggu (20-37 minggu atau 259 hari terhitung sejak HPHT) atau dengan berat janin kurang dari 2500 gram. Penyebab persalinan preterm sering dapat dikenali dengan jelas. Namun, pada banyak kasus penyebab pasti tidak dapat diketahui. Beberapa faktor mempunyai andil dalam terjadinya persalinan preterm seperti faktor pada ibu, faktor janin dan plasenta, ataupun faktor lain seperti sosioekonomik. Dari data yang diketahui penyebab persalinan prematur yaitu iatrogenik (20%), infeksi (30%), ketuban pecah dini saat preterm (20-25%), dan persalinan preterm spontan (2025%). Secara teoritis faktor risiko premature dibagi menjadi 4 faktor, yaitu faktor iatrogenik, faktor maternal, faktor janin, dan faktor perilaku. Faktor iatrogenik merupakan faktor dari kesehatan medis. Faktor maternal meliputi riwayat prematur sebelumnya, umur ibu, paritas ibu, plasenta previa, kelainan serviks (serviks inkompetensi), hidramnion, infeksi intra-amnion, hipertensi dan trauma. Faktor janin meliputi kehamilan kembar (gemelli), janin mati (IUFD), dan cacat bawaan (kelainan kongenital). Faktor perilaku meliputi ibu yang merokok dan minum alkohol. Persalinan prematur merupakan penyebab utama yaitu 60-80% morbiditas dan mortalitas neonatal di seluruh dunia. Indonesia memiliki angka kejadian prematur sekitar 19% dan merupakan penyebab utama kematian perinatal. Kelahiran di Indonesia diperkirakan sebesar

5.000.000 orang per tahun, maka dapat diperhitungkan kematian bayi 56/1000 KH, menjadi sekitar 280.000 per tahun yang artinya sekitar 2,2-2,6 menit bayi meninggal. Berdasarkan uraian di atas, angka persalinan prematur di Indonesia cukup tinggi, termasuk di NTT. Oleh karena itu, penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian dengan Gambaran Faktor Resiko Persalinan Prematur di RSUD Prof.DR.W.Z.Johannes Kupang Tahun 2012.

1.2 Perumusan Masalah a) Berapa jumlah persalinan prematur di RSUD Prof.dr.W.Z. Johannes Kupang tahun 2012? b) Bagaimana gambaran faktor resiko persalinan prematur di RSUD

Prof.dr.W.Z.Johannes Kupang tahun 2012?

1.3 Tujuan Penelitian a) Mengetahui jumlah persalinan prematur di RSUD Prof.dr.W.Z.Johannes Kupang tahun 2012 b) Mengetahui gambaran faktor resiko persalinan prematur di RSUD

Prof.dr.W.Z.Johannes Kupang tahun 2012

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi Peneliti Sebagai wahana bagi peneliti untuk mengembangkan ilmu dan pengetahuan tentang faktor-faktor resiko terjadinya persalinan prematur.

1.4.2 Bagi Pemerintah dan RSUD Prof.dr.W.Z.Johannes Kupang Sebagai bahan masukan bagi pemerintah dan pihak rumah sakit untuk menurunkan angka kejadian persalinan prematur dan meningkatkan mutu pelayanan terutama upaya pencegahan persalinan prematur. 1.4.3 Bagi Pembaca Sebagai bahan informasi bagi pembaca,khususnya perempuan usia produktif untuk menambah wawasan dan kewaspadaan terhadap faktor resiko dan penyebab persalinan prematur.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Persalinan prematur adalah persalinan yang terjadi kurang dari 37 minggu (20-37 minggu atau 259 hari terhitung sejak HPHT) atau dengan berat janin kurang dari 2500 gram.

2.2 Epidemiologi Sampai saat ini mortalitas dan morbiditas neonates pada bayi preterm/prematur masih sangat tinggi. Hal ini berkaitan dengan maturitas organ pada bayi lahir seperti paru, otak, dan gastrointestinal. Di Negara Barat sampai 80% dari kematian neonates adalah akibat prematuritas, dan pada bayi yang selamat 10% mengalami permasalahan dalam jangka panjang. Penyebab persalinan preterm sering dapat dikenali dengan jelas. Namun, pada banyak kasus penyebab pasti tidak dapat diketahui. Beberapa factor mempunyai andil dalam terjadinya persalinan preterm seperti factor pada ibu, factor janin dan plasenta, ataupun factor lain seperti sosioekonomik. Pendekatan obstetric yang baik terhadap persalinan preterm akan memberikan harapan terhadap ketahanan hidup dan kualitas hidup bayi preterm. Di beberapa Negara maju Angka Kematian Neonatal pada persalinan premature menunjukkan penurunan, yang umumnya disebabkan oleh meningkatnya peranan neonatal intensive care dan akses yang lebih baik dari pelayanan ini. Di Amerika Serikat bahkan menunjukkan kemajuan yang dramatis berkaitan dengan meningkatnya umur kehamilan , dengan 50% neonates selamat pada persalinan usia kehamilan 25 minggu, dan lebih dari 90% pada usia 28-29 minggu. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi dapat berperan banyak dalam keberhasilan persalinan bayi preterm.

2.3 Etiologi Persalinan prematur merupakan kelainan proses yang multifaktorial. Kombinasi keadaan obstetric, sosiodemografi, dan faktor medik mempunyai pengaruh terhadap terjadinya persalinan premature. Kadang hanya risiko tunggal dijumpai seperti distensi berlebih uterus, ketuban pecah dini, atau trauma. Banyak kasus persalinan premature sebagai akibat proses patogenik yang merupakan mediator biokimia yang mempunyai dampak terjadinya kontraksi rahim dan perubahan serviks, yaitu : 1. aktivasi aksis kelenjar hipotalamus hipofisi adrenal baik pada ibu maupun janin, akibat stress pada ibu atau janin. 2. Inflamasi desidua-korioamnion atau sistemik akibat infeksi asenden darii traktus genitourinaria atau infeksi sistemik. 3. Perdarahan desidua. 4. Peregangan uterus patologik. 5. Kelainan pada uterus atau serviks.

2.4 Faktor Risiko Kondisi selama kehamilan yang berisiko terjadinya persalinan preterm adalah : 2.4.1 Janin dan plasenta - perdarahan trimester awal - perdarahan antepartum (plasenta previa, solusio plasenta, vasa previa) - ketuban pecah dini (KPD) - pertumbuhan janin terhambat - cacat bawaan janin

- kehamilan ganda/gemeli - polihidramnion 2.4.2 Ibu - penyakit berat pada ibu - diabetes mellitus - preeclampsia/hipertensi - usia - infeksi saluran kemih/genital/intrauterine - penyakit infeksi dengan demam - stress psikologik - kelainan bentuk uterus/serviks - plasenta previa - riwayat persalinan preterm/ abortus berulang - inkompetensi serviks (panjang serviks kurang dari 1 cm) - pemakaian obat narkotik - trauma - perokok berat - kelainan imunologi/kelainan resus

2.5 Cara persalinan Bila janin presentasi kepala, maka diperbolehkan partus pervaginam. Seksio sesarea tidak memberi prognosis yang lebih baik bagi bayi, bahkan merugikan ibu. Seksio sesarea hanya dilakukan atas indikasi obstetrik.

Pada kehamilan letak sungsang 30-34 minggu, seksio sesarea dapat dipertimbangkan. Setelah kehamilan lebih dari 34 minggu, persalinan diperbolehkan karena morbiditas dianggap sama dengan kehamilan aterm.

2.6 Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi pada kehamilan prematur adalah : 1. Masalah pernapasan 2. Kesulitan dalam pencernaan 3. Cerebral palsy 4. Developmental delay 5. Masalah penglihatan 6. Gangguan pendengaran

A. Terhadap ibu a. Tidak terlalu berbahaya b. Kemungkinan kehamilan prematur kembali terulang B. Terhadap janin a. Mudah terkena infeksi b. Perkembangan dan pertumbuhannya sering terlambat.

2.7 Penatalaksanaan 2.7.1 Tokolitik Pemberian tokolisis perlu dipertimbangkan bila terjadi kontraksi uterus yang reguler dengan adanya perubahan serviks. Alasan pemberian tokolisis pada persalinan prematur adalah: Mencegah mortalitas dan morbiditas pada bayi prematur. Memberi kesempatan bagi terapi kortikosteroid untuk menstimulasi surfaktan paru janin. Memberi kesempatan transfer intrauterin pada fasilitas yang lebih lengkap

Beberapa macam obat yang digunakan sebagai tokolisis adalah : Kalsium antagonis : Nifedipin 10 mg/oral diulang 2-3 kali/jam, dilanjutkan tiap 8 jam sampai kontraksi hilang. Obat dapat diberikan lagi jika timbul kontraksi berulang. Obat -mimetik : seperti terbutalin, ritrodin, isoksuprin dan salbutamol dapat digunakan, tetapi nifedipin mempunyai efek samping lebih kecil. Sulfas magnesium dan anti prostaglandin (endometasin) : jarang dipakai karena efek samping pada ibu maupun janin. Untuk menghambat proses persalinan prematur selain pemberian tokolisis, adalah dengan membatasi aktivitas atau tirah baring. 2.7.2 Kortikosteroid Tujuan pemberian terapi kortikosteroid adalah untuk pematangan surfaktan paru janin, menurunkan insidens RDS, menccegah perdarahan intraventrikular, yang akhirnya menurunkan angka kematian neonatus. Kortikosteroid perlu diberikan pada usia kehamilan kurang dari 35 minggu. Obat yang diberikan adalah deksametason atau

betametason. Pemberian steroid ini tidak diulang karena merupakan resiko terjadinya pertumbuhan janin terhambat. Pemberian siklus tunggal kortikosteroid adalah: Betametason 2 x 12 mg i.m dengan jarak pemberian 24 jam Deksametason 4 x 6 mg i.m dengan jarak pemberian 12 jam

2.7.3 Antibiotik Antibiotik diberikan pada kasus kehamilan dengan risiko terjadinya infeksi seperti pada kasus KPD. Obat diberikan per oral, yang dianjurkan adalah : eritromisin 3 x 500 mg selama 3 hari. Obat pilihan lain adalah ampisilin 3 x 500 mg selama 3 hari, atau dapat menggunakan antibiotik lain seperti klindamisin. Tidak dianjurkan pemberian koamoksiklaf karena risiko NEC. Beberapa hal yang harus diperhatikan pada pemeriksaan pasien dengan KPD/PPROM (Preterm premature rupture of the membrane) adalah : Semua alat yang digunakan untuk periksa vagina harus steril. Periksa dalam vagina tidak dianjurkan, tetapi dilakukan dengan pemeriksaan spekulum. Pada pemeriksaan USG jika didapat penurunan indeks cairan amnion (ICA) tanpa adanya kecurigaan kelainan ginjal dan tidak adanya IUGR mengarah pada kemungkinan KPD. Persiapan persalinan prematur perlu pertimbangan berdasarkan : Usia gestasi o Usia gestasi 34 minggu atau lebih : dapat melahirkan di tingkat layanan primer, mengingat prognosis relatif baik.

o Usia gestasi kurang dari 34 minggu : harus dirujuk ke rumah sakit dengan fasilitas perawatan neonatus yang memadai. Keadaan selaput ketuban Bila didapat KPD dengan usia kehamilan kurang dari 28 minggu, maka ibu dan keluarga dipersilahkan untuk memilih cara pengelolaan setelah diberi konseling dengan baik.

2.8 Perawatan neonates Untuk perawatan bayi preterm baru lahir perlu diperhatikan keadaan umum, biometri, kemampuan bernapas, kelainan fisik dan kemampuan minum. Keadaan kritis bayi prematur yang harus dihindari adalah kedinginan, pernapasan yang tidak adekuat, atau trauma. Suasana hangat diperlukan untuk mencegah hipotermia pada neonatus, bila mungkin sebaiknya bayi dirawat dengan cara kanguru untuk menghindari hipotermia. Kemudian dibuat perencanaan pengobatan dan asupan cairan. ASI diberikan lebih sering, tetapi bila tidak mungkin, diberikan dengan sonde atau dipasang infus. Semua bayi baru lahir harus mendapat nutrisi sesuai dengan kemampuan dan kondisi bayi. Sebaiknya persalinan bayi terlalu muda atau terlalu kecil berlangsung pada fasilitas yang memadai, seperti pelayanan perinatal dengan personel dan fasilitas yang adekuat termasuk perawatan perinatal intesif.

10

2.9 Prognosis Prognosis persalinan prematur: a. Prematuritas merupakan faktor kematian yang terkait mortalitas dan morbiditas sebagian bayi meninggal pada 28 hari pertama mempunyai bobot kurang dari 2500 g saat lahir. b. Hipotermia c. Anoksia 12 kali lebih sering pada bayi yang baru lahir. d. Gangguan respirasi menyebabkan 44% bayi meningggal pada bayi kurang 1 bulan jika bayi kurang dari 1000 g angka kematian sebesar 74%. e. Rentan terhadap kompresi kepala karena lunaknya tulang tengkorak dan immaturitas jaringan otak. f. Perdarahan intra cranial 5x lebih sering g. Cerebral Palsy h. Prognosis untuk kesehatan fisik dan intelektual bayi belum diketahui dengan pasti tampaknya insiden kerusakan otak organik otak lebih tinggi pada bayi prematur.

2.10 Pencegahan Pencegahan persalinan premature : 1. Cervical cerclage Untuk pasien dengan cervical incompetence tetapi tidak boleh likakukan pada pasien dengan placenta previa, infeksi serviks atau vagina, perdarahan uterus, fetal malformations, IUVD, gawat janin, dan perubahan jumlah cairan amnion. Cervical cerclage digunakan pada pasien yang ada riwayat persalinan premature sebelumnya.

11

2. Cervical pessary Pemasangan cervical pessary biasa pada pasien premature tanpa gejala dengan

kehamilan tunggal, dan pasien dengan serviks yang pendek yaitu kurang dari 25 mm, pada usia kehamilan 2024 minggu tanpa cervical incompetence. Tapi pemasanagan cervical pessary, meningkatkan ririko dan insiden infeksi intrauterine. 3. Progesteron : sebelum pemberian progesterone, sebaiknya dilakukan USG transvaginal

untuk mengukur panjang serviks. a. Pencegahan pada pasien dengan panjang serviks < 15 mm pada usia kehamilan 22-26 minggu diberikan progesterone 200 mg mg/hari per vaginal. b. Pencegahan pada pasien dengan riwayat persalinan premature sebelumnya: 17 alphahydroxyprogesterone 250 mg IM/minggu atou progesterone 100 mg/hari per vaginal. Jika menurut umur kehamilan maka pemberian progesterone sebagai berikut : a. Pada wanita hamil dengan tanpa riwayat persalinan premature sebelumnya, progesterone profilaksis yang diberikan progesterone 200 mg/vaginal atau 17 alpha-

hydroxyprogesterone 250 mg IM/minggu, mulai diberikan mulai trimester kedua. b. Pada wanita nullipara dengan panjang serviks < 15 mm pada usia kehamilan 22-26 minggu diberikan progesterone 200 mg mg/hari per vaginal. Pada pasien dengan kehamilan ganda, baik gameli, triplet, dll, progesterone baik 17 alpha-hydroxyprogesterone maupun microionized progesterone tidak dapat digunakan sebagai pencegahan.

12

Tabel 1. Perkiraan Harapan Hidup Bayi Prematur

2.10 Kerangka Konsep Penelitian

Usia

Tingkat pengetahuan

Riwayat penyakit Faktor Kelainan yang didapat dari pemeriksaan USG risiko Persalinan prematur

Konsumsi alkohol merokok

13

BAB 3 TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Rancangan Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yaitu mendeskripsikan angka persalinan prematur yang terjadi pada tahun 2012 di RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang pada tanggal 15 20 April 2013.

3.3 Populasi dan Sampel Populasi yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah semua persalinan prematur di RSUD Prof. W. Z. Johannes Kupang tahun 2012 berjumlah 276 orang. Sampel penelitian ditentukan dengan cara penarikan acak dari populasi sejumlah 40 orang.

3.4 Bahan dan Alat Bahan dan alat yang dipergunakan dalam penelitian ini yaitu data sekunder persalinan prematur di RSUD Prof. W. Z. Johannes Kupang tahun 2012 dan kuisioner persalinan prematur. Selain itu juga dipergunakan alat bantu laptop untuk proses pengolahan data dan printer untuk penyajian hasil.

14

3.5 Cara Kerja Prosedur kerja dalam penelitian ini adalah dengan melakukan analisis data dengan melihat data-data rekapan statistik persalinan prematur tahun 2012 di RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang sebagai gambaran dalam penelitian ini.

3.6 Analisis Data Jenis analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini yaitu deskriptif dengan metode pendekatan retrospektif. Data yang dikumpulkan akan diolah dan diedit untuk melihat gambaran persalinan prematur di RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang tahun 2012.

15

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil 4.1.1 Karakteristik Tempat Penelitian RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes merupakan rumah sakit rujukan provinsi dengan kelas Tipe B Non Pendidikan berdasarkan SK Menkes No. 94/Menkes/ SK/95 tentang RSUD Prof. W. Z. Johannes Kupang sebagai RS Tipe B Non Pendidikan. Rumah sakit ini berdiri sejak tahun 1941 pada zaman penjajahan Belanda dan resmi menjadi rumah sakit milik dareah tingkat provinsi pada tanggal 05 Juli 1954. Rumah sakit ini berada di jalan Moch. Hatta no. 19 Kupang. Rumah sakit ini memiliki luas lahan sekitar 51.670 m2 dengan luas bangunannya sendiri sekitar 42.418 m2. Rumah sakit ini memiliki akreditasi 12 standar pelayanan dan memiliki kapasitas tempat tidur sekitar 375 tempat tidur. Rumah sakit ini memiliki sekitar 1177 pegawai termasuk di dalamnya tenaga medis maupun non medis. Berdasarkan data sekunder RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang, tidak kurang dari 1000 kasus persalinan dilakukan di rumah sakit ini dengan angka persalinan normal menempati urutan pertama. Untuk angka persalianan prematur sendiri memiliki angka yang cukup signifikan setiap tahunnya dengan penyebab-penyebab yang beragam pula.

16

4.1.2 Gambaran Persalinan Prematur Tabel 4.1 Gambaran kasus persalinan prematur di RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes tahun 2012 f (orang) Sampel Total persalinan prematur 40 (14,50%) 276 (100%)

Berdasarkan data di atas, dapat dilihat jumlah persalinan tahun 2012 sebanyak 276 orang dengan 40 orang yang menjadi sampel penelitian untuk diteliti.

4.1.3 Gambaran Usia Ibu Pada Persalinan Prematur Tabel 4.2 gambaran usia ibu pada persalinan prematur di RSUD Prof. W. Z. Johannes tahun 2012

Berdasarkan data di atas, dapat dilihat bahwa paling banyak usia ibu yang mengalami persalinan prematur adalah rentang usia 36-40 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tua usia seseorang semakin besar risiko pasien tersebut untuk mengalami persalinan prematur.

17

4.1.4 Gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu berdasarkan Pendidikan Terakhir Tabel 4.3 gambaran pendidikan terakhir ibu pada persalinan prematur di RSUD Prof. W. Z. Johannes tahun 2012 Frequency Valid tidak tamat SD SD SMP SMA D3-S2 Total 2 8 20 8 2 40 Percent 5,0 20,0 50,0 20,0 5,0 100,0 Valid Percent 5,0 20,0 50,0 20,0 5,0 100,0

Berdasarkan data di atas, dapat dilihat bahwa tingkat pengetahuan yang paling banyak pada penelitian ini adalah ibu dengan tingkat pendidikan terakhir SMP. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar ibu masih kurang pengetahuan dalam mempersiapkan kehamilan.

4.1.5 Gambaran Riwayat Obstetri dan Ginekologi Tabel 4.4 gambaran riwayat obstetri dan ginekologi ibu yang mengalami persalinan prematur di RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes tahun 2012

18

Berdasarkan data di atas, dapat dilihat bahwa angka kejadian persalinan prematur lebih banyak terjadi pada primigravida dan ibu dengan riwayat abortus. Hal ini sesuai dengan sumber yang mengatakan bahwa salah satu penyebab terjadinya persalinan prematur adalah riwayat abortus. Selain riwayat abortus, riwayat persalinan prematur sebelumnya dapat meningkatkan risiko persalinan prematur pada kehamilan selanjutnya.

19

4.1.6 Riwayat USG Abdomen Tabel 4.5 gambaran hasil pemeriksaan USG abdomen pada persalinan prematur di RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes tahun 2012

Berdasarkan data di atas, didapatkan 23 orang melakukan pemeriksaan USG

selama

kehamilannya dan 17 orang tidak. Dari 23 orang yang melakukan pemeriksaan USG, 11 orang di antaranya normal, 5 orang plasenta previa totalis, 3 orang kelainan anatamis uterus dan insuffisiensi plasenta dan oligohidramnion masing-masing 2 orang. Salah satu penyebab persalinan prematur adalah plasenta previa yang merupakan terbanyak dalam hasil penelitian ini. Selain itu didapatkan kelainan anatomis yang juga merupakan salah satu penyebab dari persalinan prematur.

20

4.1.7 Riwayat penyakit yang pernah diderita Tabel 4.6 gambaran riwayat penyakit yang pernah diderita ibu yang mengalami persalinan prematur di RSUD Prof. W. Z. Johannes tahun 2012. Frequency Percent Valid percent Cumulative percent Valid tidak ada Hipertensi Trauma fisik Total 33 6 1 40 82,5 15,0 2,5 100 82,5 15,0 2,5 100 82,5 15,0 2,5 100

Berdasarkan data di atas, didapatkan 6 orang mempunyai penyakit hipertensi yang menjadi salah satu faktor risiko untuk persalinan prematur. Selain itu trauma fisik juga merupakan salah satu penyebab persalinan prematur dan pada penelitian ini didapatkan 1 orang. Hal ini sesuai dengan sumber yang mengatakan bahwa hipertensi meningkatkan risiko terjadinya persalinan prematur pada ibu.

4.1.8 Riwayat merokok dan mengkonsumsi alkohol Tabel 4.7 gambaran riwayat merokok dan alkohol yang dikonsumsi ibu yang mengalami persalinan prematur di RSUD Prof. W. Z. Johannes tahun 2012.

21

Berdasarkan data di atas, didapatkan bahwa tidak terdapat ibu yang merokok dan mengkonsumsi alkohol pada ibu yang mengalami persalinan prematur di RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang. Salah satu faktor risiko dalam terjadinya persalinan prematur adalah kebiasaan merokok dan mengkonsumsi alkohol.

22

BAB 5 PENUTUP 5.1 Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang dilakukan tentang Gambaran Faktor Resiko Persalinan Prematur di RSUD Prof dr.W.Z.Johannes Kupang tahun 2012, maka dapat disimpulkan: a. Jumlah kasus persalinan prematur di RSUD Prof.dr.W.Z. Johannes Kupang tahun 2012 sebanyak 276 orang. b. Faktor-faktor resiko terjadinya persalinan prematur di RSUD Prof dr.W.Z. Johannes di Kupang tahun 2012 adalah faktor usia 36-40 tahun (30%), tingkat pengetahuan ibu setingkat SMP (50%),primigravida (47,5%), abortus (15%), Plasenta Previa Totalis (12,5%), Hipertensi (15%), merokok dan konsumsi alkohol (0%).

5.2 Saran a. Bagi pemerintah daerah agar tetap menggalakkan dan meningkatkan kinerja programprogram, khususnya sosialisasi dan konseling- konseling bagi ibu-ibu hamil dalam upaya menurunkan angka kejadian persalinan prematur di Kupang. b. Bagi ibu hamil, diharapkan agar senantiasa berupaya memeriksakan kehamilannya

secara teratur sehingga persalinan secara prematur dapat dicegah secara dini. c. Bagi peneliti lain, diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat mengembangkan permasalahan yang ada dengan meneliti faktor resiko lain yang berperan dalam terjadinya persalinan prematur di NTT, khususnya kota Kupang.

23