Anda di halaman 1dari 32

Sistem Reproduksi II

Mola Hydatidosa

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di Indonesia masalah ibu dan anak merupakan sasaran prioritas dalam pembangunan bidang kesehatan. Angka kematian ibu merupakan salah satu indikasi yang menentukan derajat kesehatan suatu bangsa, oleh sebab itu hal ini merupakan prioritas dalam upaya peningkatan status kesehatan masyarakat yang utama di Negara kita. Upaya kesehatan reproduksi salah satunya adalah menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu hamil dan bersalin. Adapun penyebab langsung dari kematian ibu di Indonesia adalah trias klasik yaitu perdarahan, infeksi, toksemia gravidarum. Salah satu penyebab perdarahan saat kehamilan adalah mola hidatidosa. Mola hidatidosa merupakan penyakit wanita pada masa reproduksi (usia 15-45 tahun) dan pada multipara. Jadi dengan meningkatnya paritas kemungkinan menderita mola hidatidosa dan lebih besar. Dan mola hidatidosa adalah salah satu penyakit trofoblas yang jinak (Manuaba, 1998:424) Insidensi mola hidatidosa dilaporkan Moore dkk (2005) pada bagian barat Amerika Serikat, terjadi 1 kejadian kehamilan mola dari 1000-1500 kehamilan. Mola hidatidosa ditemukan kurang lebih 1 dari 600 kasus abortus medisinalis. Di Asia insidensi mola 15 kali lebih tinggi daripada di Amerika Serikat, dengan Jepang yang melaporkan bahwa terjadi 2 kejadian kehamilan mola dari 1000 kehamilan. Di negara-negara Timur Jauh beberapa sumber memperkirakan insidensi mola lebih tinggi lagi yakni 1:120 kehamilan. Penanganan mola hidatidosa tidak terbatas pada evakuasi kehamilan mola saja, tetapi juga membutuhkan penanganan lebih lanjut berupa monitoring untuk memastikan prognosis penyakit tersebut.

1 Tutor 3 Faculty of Nursing Padjadjaran University

Sistem Reproduksi II

Mola Hydatidosa

Mola Hidatidosa merupakan salah satu penyakit trofoblas gestasional (PTG), yang meliputi berbagai penyakit yang berasal dari plasenta yakni mola hidatidosa parsial dan komplet, koriokarsinoma, mola invasif dan placental site trophoblastic tumors. Para ahli ginekologi dan onkologi sependapat untuk mempertimbangkan kondisi ini sebagai kemungkinan terjadinya keganasan, dengan mola hidatidosa berprognosis jinak, dan koriokarsinoma yang ganas, sedangkan mola hidatidosa invasif sebagai borderline keganasan. Mola Hidatidosa ialah kehamilan abnormal, dengan ciri-ciri tumor jinak (benigna) dari chorion penyebab embrio mati dalam uterus tetapi plasenta melanjutkan sel-sel trophoblastik terus tumbuh menjadi agresif dan membentuk tumor yang invasif, kemudian edema dan membentuk seperti buah anggur, karakteristik mola hidatiosa bentuk komplet dan bentuk parsial, yaitu tidak ada jaringan embrio dan ada jaringan embrio. Sebagian dari villi berubah menjadi gelembung-gelembung berisi cairan jernih. Biasanya tidak ada janin, hanya pada mola parsialis kadang-kadang ada janin. Gelembung itu sebesar butir kacang hijau sampai sebesar buah anggur. Gelembung ini dapat mengisi seluruh cavum uteri. Di bawah mikroskop nampak degenerasi hydrotopik dari stoma jonjot, tidak adanya pembuluh darah dan proliferasi trofoblast. Pada bagian pemeriksaan kromosom didapatkan poliploidi dan hampir pada semua kasus mola susunan sex chromatin adalah wanita. Pada mola hidatidosa, ovaria dapat mengandung kista lutein kadangkadang hanya pada satu ovarium, kadang-kadang pada kedua-duanya. Kista ini berdinding tipis dan berisi cairan kekuning-kuningan dan dapat mencapai ukuran sebesar sarung tinju atau kepala bayi. Kista lutein terjadi karena perangsangan ovarium oleh kadar gonadotropin chorion yang tinggi, kista ini hilang sendiri setelah mola dilahirkan.

2 Tutor 3 Faculty of Nursing Padjadjaran University

Sistem Reproduksi II

Mola Hydatidosa

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian dari mola hidatidosa ? 2. Bagaimana insidensi dari mola hidatidosa? 3. Bagaimana pathogenesis dari mola hidatidosa? 4. Apakah etiologi dari mola hidatidosa ? 5. Bagaimana patofisiologi dari mola hidatidosa ? 6. Bagaimana tanda dan gejala dari mola hidatidosa ? 7. Bagaimana klasifikasi dari mola hidatidosa? 8. Bagaimana komplikasi yang terjadi pada pasien mola hidatidosa? 9. Bagaimana gambaran diagnostik dari mola hidatidosa ? 10. Bagaimana penatalaksanaan pada klien dengan mola hidatidosa ?

C. Tujuan Penulisan 1. Agar mahasiswa mengetahui dan memahami pengertian dari mola hidatidosa 2. Agar mahasiswa mengetahui dan memahami insidensi dari mola hidatidosa 3. Agar mahasiswa mengetahui dan memahami pathogenesis dari mola hidatidosa 4. Agar mahasiswa mengetahui dan memahami etiologi dari mola hidatidosa 5. Agar mahasiswa mengetahui dan memahami patofisiologi atau mekanisme terjadinya mola hidatidosa 6. Agar mahasiswa mengetahui dan memahami tanda dan gejala dari mola hidatidosa

3 Tutor 3 Faculty of Nursing Padjadjaran University

Sistem Reproduksi II

Mola Hydatidosa

7. Agar mahasiswa mengetahui klasifikasi dari mola hidatidosa 8. Agar mahasiswa mengetahui komplikasi dari mola hidatidosa 9. Agar mahasiswa mengetahui gambaran diagnostik dari mola hidatidosa 10. Agar mahasiswa mengetahui penatalaksanaan dari mola hidatidosa

D. Metode Penelitian Metode penulisan yang penulis gunakan yaitu browsing (mencari informasi melalui situs-situs di internet) dan studi pustaka (mencari literatur melalui buku-buku yang relevan).

4 Tutor 3 Faculty of Nursing Padjadjaran University

Sistem Reproduksi II

Mola Hydatidosa

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Mola hidatidosa adalah chorionic villi (jonjotan/gantungan) yang tumbuh berganda berupa gelembung-gelembung kecil yang mengandung banyak cairan sehingga menyerupai buah anggur atau mata ikan. Karena itu disebut juga hamil anggur atau mata ikan. (Mochtar, Rustam, dkk, 1998 : 23) Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal, dengan ciri-ciri stoma villus korialis langka, vaskularisasi dan edematus. Janin biasanya meninggal akan tetapi villus-villus yang membesar dan edematus itu hidup dan tumbuh terus, gambaran yang diberikan adalah sebagai segugus buah anggur. (Wiknjosastro, Hanifa, dkk, 2002 : 339). Mola hidatidosa adalah perubahan abnormal dari villi korionik menjadi sejumlah kista yang menyerupai anggur yang dipenuhi dengan cairan. Embrio mati dan mola tumbuh dengan cepat, membesarnya uterus dan menghasilkan

5 Tutor 3 Faculty of Nursing Padjadjaran University

Sistem Reproduksi II

Mola Hydatidosa

sejumlah besar human chorionic gonadotropin (hCG) (Hamilton, C. Mary, 1995 : 104). Molahidatidosa ialah kehamilan abnormal dengan ciri-ciri Stroma villus korialis langka vaskularisasi dan edematous (Prawirohardjo, 1999). Molahidatidosa adalah kehamilan abnormal dimana hampir seluruh vili korialisnya mengalami perubahan hirofik (Mansjoer, 1999). Mola hidatidosa adalah kehamilan dengan ciri-ciri stroma villi korealis langka vaskularisasi dan edematus (Sarwono, 1997). Mola hidatidosa adalah suatu keadaan patologi dari korion yang ditandai dengan : 1. Degenerasi kistis dari villi disertai pembengkakan hidropik. 2. Avaskularitas atau tidak adanya perubahan darah janin. 3. Proliferasi jaringan trofoblastic (Ben-Zion, 1994). Mola hidatidosa adalah suatu kehamilan dimana setelah fertilisasi hasil konsepsi tidak berkembang menjadi embrio tetapi terjadi proliferasi dari villi korealis disertai dengan degenerasi hidrofik (Saifuddin, 2000).

6 Tutor 3 Faculty of Nursing Padjadjaran University

Sistem Reproduksi II

Mola Hydatidosa

B. Insidensi Frekuensi mola umumnya pada wanita Asia lebih tinggi (1 atas 20 kehamilan) daripada wanita dinegara-negara barat (1 atas 200 kehamilan). Soejones, dkk (1976) melaporkan 1 : 85 kehamilan, RS Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta 1 : 31 persalinan dan 1 : 49 kehamilan, Luat A Siregar (Medan) 1982 : 11-16 per 1000 kehamilan, Soetomo (Surabaya) 1 : 80 persalinan, Djamhoer M (Bandung) : 9-21 per 1000 kehamilan. Tidak ada ras atau etnis khusus yang menjadi predileksi bagi suatu kehamilan mola, meskipun pada negara-negara Asia menunjukan angka 15 kali lebih tinggi dibandingkan Amerika wanita Asia yang tinggal di Amerika tidak menampakan adanya perbedaan angka kehamilan mola dibandingkan dengan grup etnis lainnya. Mola hydatidosa sering terjadi pada wanita usia reproduktif. Wanita dewasa muda atau perimenopause beresiko tinggi untuk kehamilan mola. Wanita dengan usia lebih dari 35 tahun 2 kali lipat lebih beresiko, dan wanita dengan usia lebih dari 40 tahun beresiko 7 kali lipat dibandingkan dengan wanita yang usianya Iebih muda. ( Sarwono Prawirohardjo, 2003 )

7 Tutor 3 Faculty of Nursing Padjadjaran University

Sistem Reproduksi II

Mola Hydatidosa

C. Patogenesis Ada beberapa teori yang dianjurkan untuk menerangkan patogenesis dari penyakit trofoblas. Pertama missed abortion yaitu mudigah mati pada kehamilan 3-5 minggu ( missed abortion ), karena itu terjadi gangguan peredaran darah sehingga terjadi penimbunan eairan dalam jaringan mesenkim dari viii dan akhirnya terbentuklah gelembung-gelembung. Menerut Reynolds, kematian mudigah itu disebabkan kekurangan gizi berupa asam folik dan histidine pada kehamilan hari ke 13 dan 21. Hal ini yang menyebabkan gangguan angiogenesis. Kedua teori Neoplasme dari Park yang menyatakan bahwa yang abnormal adalah sel-sel trofoblas yang mempunyai fungsi yang abnormal pula, dimana terjadi resorpsi cairan yang berlebihan kedalam viii, sehingga timbul gelembung. Hal ini menyebabkan gangguan peredaran darah dan kematian mudigah. Ada juga teori sitogenetika, yaitu mola hidatidosa komplit berasal dari genom paternal (genotype 46xx sering, 46xy jarang, tapi 46xxnya bersal dari reproduksi haploid sperma dan tanpa kromoson dari ovum). Mola parsial mempunyai 69 kromoson terdiri dari kromoson 2 haploid paternal dan 1 haploid maternal (triploid, 69xxx atau 69xxy dari 1 haploid ovum dan lainnya reduplikasi haploid paternal dari satu sperma atau fertilisasi dispermia. (Sayudi, 2004 ) D. Etiologi Penyakit ini sudah dikenal sejak abad keenam, namun sampai sekarang belum diketahui secara pasti penyebabnya. Berbagai teori telah diajukan misalnya teori infeksi, defisiensi makanan, dan teori kebangsaan (Wiknjosastro., 2002, hal.340). Sedangkan menurut Mochtar (1998, hal. 238), faktor-faktor yang dapat menyebabkannya antara lain : 1. Faktor ovum : ovum memang sudah patogenik sehingga mati, tetapi terlambat dikeluarkan. Spermatozoa memasuki ovum yang telah

8 Tutor 3 Faculty of Nursing Padjadjaran University

Sistem Reproduksi II

Mola Hydatidosa

kehilangan nukleusnya atau dua serum memasuki ovum tersebut sehingga akan terjadi kelainan atau gangguan dalam pembuahan. 2. Imunoselektif dari tropoblast. 3. Keadaan sosio-ekonomi yang rendah. Dalam masa kehamilan keperluan zat-zat gizi meningkat. Hal ini diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan janin, dengan keadaan sosial ekonomi yang rendah maka untuk memenuhi zat-zat gizi yang diperlukan tubuh kurang sehingga mengakibatkan gangguan dalam pertumbuhan dan perkembangan janinnya. 4. Paritas tinggi. Ibu multipara cenderung beresiko terjadi kehamilan mola hidatidosa karena trauma kelahiran atau penyimpangan transmisi secara genetic yang dapat diidentifikasikan dan penggunaan stimulan drulasi seperti klomifen atau menotropiris (pergonal). 5. Kekurangan protein. Protein adalah zat untuk membangun jaringan-jaringan bagian tubuh sehubungan dengan pertumbuhan janin, pertumbuhan rahim, dan buah dada ibu, keperluan akan zat protein pada waktu hamil sangat meningkat apabila kekurangan protein dalam makanan mengakibatkan bayi akan lahir lebih kecil dari normal. 6. Infeksi virus dan faktor kromosom yang belum jelas. Infeksi mikroba dapat mengenai semua orang termasuk wanita hamil. Masuk atau adanya mikroba dalam tubuh manusia tidak selalu akan menimbulkan penyakit (desease). Hal ini sangat tergantung dari jumlah mikroba (kuman atau virus) yang masuk virulensinya serta daya tahan tubuh. (Mochtar, Rustam ,1998 : 23) E. Tanda dan Gejala

9 Tutor 3 Faculty of Nursing Padjadjaran University

Sistem Reproduksi II

Mola Hydatidosa

Tanda dan gejala kehamilan dini didapatkan pada mola hidatidosa. Kecurigaaan biasanya terjadi pada minggu ke 14 - 16 di mana ukuran rahim lebih besar dari kehamilan biasa, pembesaran rahim yang terkadang diikuti perdarahan, dan bercak berwarna merah darah beserta keluarnya materi seperti anggur pada pakaian dalam. Berikut ini adalah tanda dan gejala mola : 1. Gejala-gejala hamil muda kadang-kadang lebih dari kehamilan biasa 2. Muka dan badan kadang-kadang kelihatan pucat kekuning-kuningan 3. Pembesaran uterus tidak sesuai (lebih besar) dengan tuanya kehamilan 4. Tidak teraba bagian-bagian janin dan tidak terasa gerakan janin 5. Tidak terdengar bunyi denyut jantung janin, tetapi terdengar bunyi bising. 6. Pada pemeriksaan dalam, uterus terasa lembek, terdapat perdarahan dan jaringan dalam kanalis servikalis dan vagina. 7. Pada USG akan kelihatan bayangan seperti badai salju dan tidak kelihatan janin. 8. Pada Rontgen abdomen tidak terlihat tulang-tulang janin (pada kehamilan 3-4 bulan). (Mochtar, 1998, hal. 239) F. Klasifikasi 1. Mola Hidatidosa Komplet (klasik) Vili korialis berubah menjadi kumpulan gelembung yang jernih. Gelembung-gelembung atau vesikula ini bervariasi ukurannya mulai dari yang mudah terlihat sampai beberapa cm, dan bergantung dalam beberapa kelompok dari tangkai yang tipis. Massa tersebut dapat tumbuh cukup besar sehingga memenuhi uterus, yang besarnya bisa mencapai ukuran uterus kehamilan normal lanjut. Berbagai penelitian sitogenetik terhadap kehamilan mola komplet, menemukan komposisi kromosom yang paling sering (tidak selalu) 46XX, dengan kromosom sepenuhnya berasal dari ayah. Fenomena ini

10 Tutor 3 Faculty of Nursing Padjadjaran University

Sistem Reproduksi II

Mola Hydatidosa

disebut sebagai androgenesis yang khas ovum dibuahi oleh sebuah sperma haploid yang kemudian mengadakan duplikasi kromosomnya sendiri setelah miosis. Kromosom ovum bias tidak terlihat atau tampak tidak aktif. Tetapi semua mola hidatidosa komplet tidak begitu khas dan kadang-kadang pola kromosom pada mola komplet biSA 46XY. Dalam keadaan ini dua sperma membuahi satu ovum yang tidak mengandung kromosom. Variasi lainnya juga pernah dikemukakan misalnya 45X. jadi mola hidatidosa yang secara morfologis komplet dapat terjadi akibat beberapa pola kromosom. 2. Mola Hidatidosa Parsial (inkomplet) Jika perubahan hidatidosa bersifat fokal serta belum begitu jauh dan masih terdapat janin atau sedikitnya kantong amnion, keadaan ini digolongkan sebagai mola hidatidosa parsial. Pada sebagian vili yang biasanya avaskuler terjadi pembengkakan hidatidisa yang berjalan lambat, sementara vili lainnya yang vaskular dengan sirkulasi darah fetus plasenta yang masih berfungsi tidak mengalami perubahan. Hyperplasia trofoblastik yang terjadi, lebih bersifat fokal dari pada generalisata. Katiotipe secara khas berupa triploid, yang biasa 69XXY atau 69XYY dengan satu komplemen maternal tapi biasanya dengan dua komplemen haploid paternal. Janin secara khas menunjukkan stigmata triploidi yang mencakup malformasi congenital multiple dan retardasi pertumbuhan. Karakteristik Mola Hidatidosa bentuk komplet dan parsial :

11 Tutor 3 Faculty of Nursing Padjadjaran University

Sistem Reproduksi II

Mola Hydatidosa

Gambaran Jaringan embrio atau janin Pembengkakan hidatidosa pada vili Hyperplasia Inklusi stroma Lekukan vilosa

Mola parsial (inkomplet) Ada Fokal Fokal Ada Ada

Mola Komplet (klasik) Tidak ada Difus Difus Tidak ada Tidak ada

G. Komplikasi 1. Perdarahan yang hebat sampai syok, kalau tidak segera ditolong dapat berakibat fatal. 2. Perdarahan berulang-ulang yang dapat menyebabkan anemia. 3. Infeksi sekunder. 4. Perforasi karena kegananasan dan Karena tindakan. 5. Menjadi ganas (PTG Penyakit Trofoblast Ganas) pada kira-kira 18%20% kasus akan menjadi mola destruens atau koriokarsinoma. 6. Preeklampsi atau Eklampsia 7. Tirotoksikosis H. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah : 1. Serum -hCG untuk memastikan kehamilan dan pemeriksaan -hCG serial (diulang pada interval waktu tertentu).

12 Tutor 3 Faculty of Nursing Padjadjaran University

Sistem Reproduksi II

Mola Hydatidosa

2. Reaksi kehamilan : karena kadar HCG yang tinggi maka uji biologik dan uji imunologik ( galli mainini dan planotest ) akan positif setelah pengenceran (titrasi): a. Galli mainini 1/300 (+), maka suspek mola hidatidosa. b. Galli mainini 1/200 (+), maka kemungkinan mola hidatidosa atau hamil kembar. Bahkan pada mola atau koriokarsinoma, uji biologik atau imunologik cairan serebrospinal dapat menjadi positif. 3. Pemeriksaan dalam Pastikan besarnya rahim, rahim terasa lembek, tidak ada bagian-bagian janin, terdapat perdarahan dan jaringan dalam kanalis servikalis dan vagina, serta evaluasi keadaan servik. 4. Uji sonde Sonde (penduga rahim) dimasukkan pelan - pelan dan hati - hati ke dalam kanalis servikalis dan kavum uteri. Bila tidak ada tahanan, sonde diputar setelah ditarik sedikit, kemungkinan mola (cara Acosta- Sison). 5. Ultrasonografi (USG) Melalui pemeriksaan USG kita dapat melihat adakah janin di dalan kantung gestasi (kantung kehamilan) dan kita dapat mendeteksi gerakan maupun detak jantung janin. Apabila semuanya tidak kita temukan di dalam pemeriksaan USG maka kemungkinan kehamilan ini bukanlah kehamilan yang normal. Sonogram khas untuk kehamilan mola memperlihatkan multiple diffuse echoes pada uterus yang membesar. Echoes interna merupakan refleksi dari banyak sekat yang terbentuk oleh bila tetap tidak ada tahanan

13 Tutor 3 Faculty of Nursing Padjadjaran University

Sistem Reproduksi II

Mola Hydatidosa

vesikel mola. Struktur janin atau plasenta tidak tampak. Kista uteri dapat diamati pada area kavum Douglasi. 6. Foto thoraks. Untuk melihat adanya gambaran emboli udara atau matastase ke paru. 7. Foto rontgen abdomen : tidak terlihat tulang-tulang janin (pada kehamilan 3-4 bulan). 8. Arteriogram khusus pelvis 9. Tes Acosta Sison, dengan tang abortus gelembung mola dapat dikeluarkan 10. Pemeriksaan T3 dan T4 bila ada gejala tirotoksikosis 11. Pemeriksaan histologik : a. Mola hydatidosa komplit : gambaran proliferasi trofoblas, degenerasi hidrofik viIi khorialis dan berkurangnya vaskularisasi / kapiler dalam stromanya b. Mola hydatidosa parsial : gambaran edema vilinya fokal dan proliferasi trofoblasnya ringan dan terbatas pada lapisan I. Penatalaksanaan Medis 1. Perbaikan keadaan umum Kalau terjadi perdarahan banyak dan keluar jaringan mola, atasi dengan pemberian transfusi darah dan cairan untuk memperbaiki syok atau anemia dan menghilangkan atau mengurangi penyulit seperti preekslampsia dan tirotoksikosa. Preekslampsia diobati seperti pada kehamilan biasa sedangkan tirotoksikosa diobati dengan inderal. 2. Pengeluaran jaringan mola a. Setelah keadaan umum diperbaiki, lakukan kuretase tanpa pembiusan. Jika pembukaan kanalis serviks masih kecil : pasang

14 Tutor 3 Faculty of Nursing Padjadjaran University

Sistem Reproduksi II

Mola Hydatidosa

dextrose 5% yang berisi 10U oksitosin (pitosin atau sitosinon), cabut laminaria, kemudian setelah itu lakukan evakuasi isi ovum uteri dengan hati-hati. Pada kuretase pertama ini, keluarkan jaringan sebanyak mungkin tak usah terlalu bersih. Kalau perdarahan banyak, berikan transfusi darah dan lakukan tampon utero-vaginal selama 24 jam. Berikan obat-obatan; antibiotik, uterus tonika dan perbaiki keadaan umum penderita. 7-10 hari sesudah kuretase pertama dilakukan kuretase kedua untuk membersihkan sisa-sisa jaringan, dan kirim hasilnya untuk pemeriksaan laboratorium. b. Histeroktomi total dilakukan pada mola risiko tinggi : Usia lebih dari 30 tahun Paritas 4 atau lebih Uterus yang sangat besar (mola besar), yaitu setinggi pusat atau lebih. 3. Periksa tindak lanjut (follow up) Lakukan pengawasan berkisar antara satu atau dua tahun. Ibu dianjurkan untuk tidak hamil dulu dengan menggunakan kontrasepsi kondom atau diafragma cup. Selama pengawasan, lakukan pemeriksaan kadar HCG (Human Chorionic Gonadotropin) secara berkala. Cara yang umum dipakai sekarang adalah dengan radioimmunoassay terhadap HCG-B sub unit. 4. Terapi profilaksis dengan sitostatika Terapi profilaksis diberikan pada kasus mola dengan risiko tinggi akan terjadi keganasan misalnya umur tua dan paritas tinggi yang menolak untuk dilakukan histeroktomi atau kasus mola dengan hasil histopatologi yang mencurigakan. Biasanya diberikan methotrexate atau actinamycin D.

15 Tutor 3 Faculty of Nursing Padjadjaran University

Sistem Reproduksi II

Mola Hydatidosa

Ada beberapa ahli yang tidak menyetujui terapi profilaksis ini dengan alasan bahwa jumlah kasus mola yang menjadi ganas tidak banyak dan sitostatika merupakan obat berbahaya. Goldstein berpendapat bahwa pemberian sitostatika profilaksis dapat menghindarkan keganasan dengan metastasis, serta mengurangi korikarsinoma di uterus sebanyak 3 kali. Mola hidatidosa dikatakan sembuh kembali sampai sekarang belum ada kesepakatan, ada yang mengatakan sehat bila HCG dua kali berturut-turut normal, ada pula yang mengatakan bila sudah melahirkan anak yang normal. (Mochtar (1998, hal. 241-243), Wiknjosastro., 2002, hal.346-348) J. Prognosis Ada kebanyakan kasus, mola tidak berkembang menjadi keganasan, namun sekitar 2-3 kasus per 1000 wanita, mola dapat berubah menjadi ganas dan disebut koriokarsinoma. Kemungkinan terjadinya mola berulang berkisar 1 dari 1000 wanita. Kadar hormon yang dihasilkan oleh mola hidatidosa lebih tinggi dari kehamilan biasa. Hampir 20% mola hidatidosa komplet berlanjut menjadi keganasan, sedangkan mola hidatidosa parsial jarang . Mola yang terjadi berulang disertai tirotoksikosis atau kista lutein memiliki kemungkinan menjadi lebih ganas lebih tinggi. Hampir kira-kira 20% wanita dengan kehamilan mola komplet berkembang menjadi penyakit trofoblastik ganas. Penyakit trofoblas ganas saat ini 100% dapat diobati. Faktor klinis yang berhubungan dengan resiko keganasan seperti umur penderita yang tua, kadar hCG yang tinggi (>100.000mIU/mL), eclamsia, hipertiroidisme, dan kista teka lutein bilateral. Kebanyakan faktorfaktor ini muncul sebagai akibat dari jumlah proliferasi trofoblas. Untuk memprediksikan perkembangan mola hidatidosa menjadi PTG masih cukup sulit dan keputusan terapi sebaiknya tidak hanya berdasarkan ada atau tidaknya

16 Tutor 3 Faculty of Nursing Padjadjaran University

Sistem Reproduksi II

Mola Hydatidosa

faktor-faktor risiko ini. Risiko terjadinya rekurensi adalah sangat sekitar 1-2%. Setelah 2 atau lebih kehamilan mola, maka risiko rekurensinya menjadi 1/6,5 sampai 1/17,5 .

K. Patofisiologi (dilampirkan)

L. Asuhan Keperawatan Komponen asuhan keperawatan terdiri dari Pengkajian, Diagnosa, Perencanaan, Pelaksanaan dan Evaluasi (Doenges, 2001, hal. 13). 1. Pengkajian a. Identitas Klien Meliputi nama, usia, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, alamat, diagnosa medis, tanggal masuk, tanggal pengkajian dan identitas penanggung jawab. b. Riwayat Kesehatan Keluhan Utama, umumnya klien dibawa ke rumah sakit karena adanya perdarahan pervaginam (Wiknjosastro., 2002, hal. 344). Riwayat Kesehatan Sekarang, merupakan penjabaran dari keluhan utama melalui teknik PQRST (Paliatife/Provocative, Quality, Region, Scale, dan Time). Adanya perdarahan yang terjadi antara bulan pertama sampai ketujuh dengan rata-rata 12-14 minggu, sifat perdarahan biasanya intermitten, sedikit-sedikit atau sekaligus banyak. Perdarahan yang banyak dapat menyebabkan klien menjadi anemia. Seperti pada kehamilan biasa, mola juga

17 Tutor 3 Faculty of Nursing Padjadjaran University

Sistem Reproduksi II

Mola Hydatidosa

bisa disertai adanya preeklampsia (ekslampsia), bedanya pada mola terjadinya lebih muda daripada kehamilan biasa. Selain itu klien juga dapat mengeluh mual, muntah akibat adanya peningkatan HCG. Mola juga dapat disertai kiste lutein yang terjadi karena perangsangan ovarium oleh HCG yang tinggi (Wiknjosastro., 2002, hal. 344). Riwayat Kesehatan Dahulu, kaji apakah klien mempunyai penyakit infeksi atau mengalami defisiensi protein. Riwayat Kesehatan Keluarga, kaji riwayat kehamilan keluarga. Mola bukan merupakan penyakit keturunan Riwayat Obstetri dan Ginekologi, meliputi riwayat menstruasi, HPHT, riwayat kehamilan ke berapa, kaji tanda-tanda polyhidromnion, gemeli dan mola hidatidosa. Kaji riwayat kehamilan sekarang tentang usia kehamilan, besarnya uterus lebih besar dari usia kehamilan (ditemukan gejala mola), penurunan berat badan selama hamil (mencapai 1 kg/minggu atau lebih). c. Data Aspek Biologis Penampilan Umum : Klien tampak lemah karena adanya perdarahan Sistem Respiratori : pada mola kadang-kadang jumlah trofoblas akan meningkat sehingga dapat menyebabkan emboli pada paruparu (jarang) (Wiknjosastro., 2002, hal. 345). Sistem Kardiovaskular : akibat perdarahan yang banyak maka volume darah berkurang, sehingga cardiac output akan meningkat, tekanan darah meningkat sehingga dapat menyebabkan klien mengalami preeklampsi atau eklampsi. Hemoglobin menurun mengakibatkan ikatan dengan oksigen berkurang, sehingga jumlah

18 Tutor 3 Faculty of Nursing Padjadjaran University

Sistem Reproduksi II

Mola Hydatidosa

oksigen ke otak berkurang. Hal tersebut dapat menyebabkan pusing (Doenges, 2001, hal.105). Sistem Neurologik : meliputi tingkat kesadaran, dan fungsi panca indera. Sistem Gastrointestinal : kaji adanya penurunan berat badan yang mencolok karena muntah yang berlebihan (Doenges, 2001, hal.105). Sistem Urinaria : kaji output dan frekuensi buang air kecil dan buang air besar klien, apakah ada nyeri atau tidak, apakah ada konstipasi atau tidak (Doenges, 2001, hal.105). Sistem Muskuloskeletal : adanya gangguan dalam melakukan aktivitas karena terjadi kelemahan yang diakibatkan oleh nutrisi yang kurang atau karena perdarahan, kelemahan dirasakan pada seluruh tubuh terutama ekstremitas (Doenges, 2001, hal.105). Sistem Endokrin : terjadi penurunan berat badan, kemungkinan terjadi peningkatan hormon tiroksin akibat pengaruh primer hormon estrogen, kemungkinan adanya hipertiroid (Wiknjosastro., 2002, hal. 345). Sistem Integumen : kemungkinan dapat ditemukan adanya peningkatan suhu tubuh (Wiknjosastro., 2002, hal. 345). Sistem Reproduksi : pada pemeriksaan dalam akan ditemukan adanya perdarahan pervaginam, kram pada uterus, uterus terasa lembek, pembesaran uterus yang tidak sesuai dengan umur kehamilan yang sama, adanya jaringan vesikuler yang keluar dari vagina, tidak adanya bunyi jantung janin, tidak ada pergerakan janin. Apabila dilakukan kuretase akan ditemukan perdarahan pervaginam yang banyak, hematuria, bau yang tidak biasanya dari drainase vagina (Tucker, et al.. 1998, hal. 621).

19 Tutor 3 Faculty of Nursing Padjadjaran University

Sistem Reproduksi II

Mola Hydatidosa

d. Data Aspek Psikososial Pola pikir, kaji pengetahuan klien tentang masalah yang dihadapinya. Persepsi diri, kaji persepsi klien tentang penyakit yang dialaminya. Konsep diri Citra tubuh Kaji persepsi klien terhadap tubuhnya, bagian tubuh yang disukai dan tidak disukai. Identitas diri Dapat dikaji tentang status dan posisi klien sebelum dirawat, kepuasan klien terhadap status dan posisinya baik di keluarga maupun di masyarakat. Ideal diri Kaji harapan klien terhadap tubuh, posisi, status tugas dan perannya. Harapan klien terhadap lingkungan, dan harapan klien terhadap penyakitnya. Peran Kaji tugas dan peran klien dalam keluarga dan masyarakat. Kemampuan klien dalam melaksanakan tugas atau peran yang diembannya. Harga diri Kaji hubungan klien dengan orang lain, penilaian dan penghargaan. Hubungan sosial Kaji hubungan klien dengan keluarga, petugas dan klien yang lain. e. Data Aspek Spiritual Kaji tentang keyakinan dan ibadah klien.
20 Tutor 3 Faculty of Nursing Padjadjaran University

Sistem Reproduksi II

Mola Hydatidosa

f. Data pola aktivitas sehari-hari Nutrisi Makan Frekuensi dan porsi makan di rumah dan di rumah sakit, pembatasan diit. Biasanya klien mengeluh mual dan muntah. Minum Frekuensi dan jumlah di rumah dan di rumah sakit, pembatasan diit Eliminasi BAB Pada mola hidatidosa biasanya BAB tidak ada masalah tetapi bisa terjadi konstipasi apabila uterus atau mola lebih besar sehingga menekan rektum. BAK Pada klien dengan mola hidatidosa, BAK lancar tapi bisa terjadi retensi urine apabila uterus atau mola lebih besar sehingga menekan kandung kencing. Personal hygiene, meliputi perubahan personal hygiene di rumah dan di rumah sakit, bantuan selama melakukan personal hygiene, hambatan dalam personal hygiene. Karena adanya kelemahan fisik akibat hemoglobin menurun sehingga klien akan mengalami defisit perawatan diri. Aktivitas dan latihan Aktivitas klien menjadi intoleran karena adanya kelemahan fisik akibat suplai O2 menurun. Istirahat dan tidur

21 Tutor 3 Faculty of Nursing Padjadjaran University

Sistem Reproduksi II

Mola Hydatidosa

Meliputi perubahan kebiasaan istirahat, di rumah dan di rumah sakit, keluhan tidur, gangguan atau kesulitan untuk memulai tidur. 2. Analisa Data NO DATA ETIOLOGI MASALAH

(1) 1

(2) Data Subjektif : Klien mengeluh nafsu makan menurun dan kadang mual

(3) Mola hidatidosa

(4) Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan

HCG

HCL dan peristaltik lambung

Data Objektif : Porsi makan tidak habis Berat badan menurun Klien tampak lemah Perut kembung Hemoglobin turun Data Subjektif : Klien mengatakan pusing bila beraktivitas

Mual

Kembung Anoreksia Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan Perdarahan Volume cairan Hemoglobin Intoleransi aktivitas

Data Objektif : Klien tampak lemah Hemoglobin

O2 dlm darah

Lemah & pusing

22 Tutor 3 Faculty of Nursing Padjadjaran University

Sistem Reproduksi II

Mola Hydatidosa

(1) turun -

(2) Aktivitas klien dibantu keluarga

(3)

(4)

Metabolisme energi terganggu Intoleransi aktivitas

Data Subjektif : Klien mengeluh mulutnya terasa tidak nyaman Klien mengatakan belum mandi Data Objektif : Kuku klien panjang dan kotor Tercium bau mulut Data Subjektif : Klien mengatakan takut dan khawatir terhadap penyakit yang sedang dialaminya Kelemahan fisik Keterbatasan gerak Ketidakmampuan melakukan aktivitas sehari-hari Intoleransi aktivitas Defisit perawatan diri

Defisit perawatan diri

Kuretase Ketidaktahuan klien tentang penyakit dan tindakan yang akan dilakukan Stressor bagi klien Koping individu inefektif

Gangguan rasa aman : cemas

Data Objektif : 5 Klien tampak cemas Data Subjektif :

Cemas

Tindakan kuretase Trauma pada dinding uterus bagian

Risiko terjadi infeksi

23 Tutor 3 Faculty of Nursing Padjadjaran University

Sistem Reproduksi II

Mola Hydatidosa

(1)

(2) Data Objektif : Leukosit tinggi lebih dari 10000 gr/l Terdapat tandatanda infeksi seperti suhu tubuh meningkat/

(3) dalam Sebagai tempat masuknya mikroorganisme

(4)

Risiko terjadi infeksi Perdarahan Hemoglobin berkurang O2 dalam darah berkurang Perubahan perfusi jaringan Perubahan perfusi jaringan

Data Subjektif : Klien mengeluh pusing Data Objektif : Konjungtiva anemis Klien tampak lemah Hemoglobin turun TTV stabil 3. Diagnosa Keperawatan

Kemungkinan diagnosa keperawatan yang mungkin muncul dari kehamilan mola hidatidosa akibat adanya perdarahan yang muncul yaitu: a. b. c. d. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan kurangnya tranfer O2 ke jaringan. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan anoreksia. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik akibat penurunan metabolisme energi. Risiko infeksi berhubungan dengan risiko invasi kuman pada post kuretase.

24 Tutor 3 Faculty of Nursing Padjadjaran University

Sistem Reproduksi II

Mola Hydatidosa

e. f.

Gangguan rasa aman : cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik.

4. NCP a. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan kurangnya tranfer O2 ke jaringan. Tujuan : Perubahan perfusi jaringan tidak terjadi Kriteria : - Tanda-tanda vital stabil - Klien tidak mengeluh pusing - Hb normal (12 14 gr/%) - Konjungtiva tidak anemis NO 1 INTERVENSI Observasi tanda-tanda vital, pengisian kapiler, warna membran mukosa 2 Tinggikan kepala tidur sesuai toleransi RASIONAL kaji Memberikan informasi tentang derajat/ kulit/ keadekuatan membantu intervensi. Meningkatkan memaksimalkan kebutuhan seluler. 3 Selidiki keluhan nyeri dada, palpitasi Ischemia jaringan infark. 4 Kaji untuk respon verbal melambat, Dapat mengindikasi gangguan fungsi mudah terangsang, agitasi, gangguan serebral karena hipoksia memori, bingung. 5 Awasi pemeriksaan laboratorium misal Mengidentifikasi defisiensi dan seluler mempengaruhi risiko miokardial/potensial ekspansi paru dan untuk oksigenisasi perfusi jaringan dan menentukan kebutuhan

25 Tutor 3 Faculty of Nursing Padjadjaran University

Sistem Reproduksi II

Mola Hydatidosa

Hb/Ht dan jumlah sel darah merah. 6

kebutuhan pengobatan/respon terhadap terapi.

Berikan sel darah merah lengkap/ Meningkatkan jumlah sel pembawa packed, produk darah sesuai indikasi. oksigen, memperbaiki defisiensi untuk Awasi transfusi. ketat oksigen untuk komplikasi menurunkan risiko perdarahan. sesuai Memaksimalkan transpor oksigen ke jaringan

Berikan

tambahan

indikasi. Sumber : (Doenges, et.al., 2001, hal. 107) b. Gangguan pemenuhan anoreksia.

kebutuhan nutrisi

berhubungan

dengan

Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi. Kriteria : N O 1 Jelaskan nutrisi. INTERVENSI tentang Berat badan dalam batas normal. Nilai hemoglobin kembali normal. Badan tidak lemah. Nafsu makan meningkat Porsi makan habis RASIONAL

pentingnya Dengan memberikan penjelasan pada klien tentang pentingnya nutrisi, maka pengetahuan klien bertambah sehingga klien termotivasi untuk memenuhi nutrisinya.

Atur posisi fowler/duduk pada Dengan saat makan. dapat

posisi dikurangi

fowler/duduk, sehingga

maka

penekanan isi uterus terhadap lambung membantu mengurangi perasaan mual.

Anjurkan klien untuk makan Untuk mengurangi rasa mual sehingga

26 Tutor 3 Faculty of Nursing Padjadjaran University

Sistem Reproduksi II

Mola Hydatidosa

dalam

keadaan

hangat

dan kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi. Dengan

minum air hangat. Anjurkan porsi sedikit tapi sering maka lambung tidak klien untuk makan dalam porsi cepat penuh, sehingga perasaan mual dapat sedikit tapi sering. 4 diminimalkan terpenuhi. Dampingi klien saat makan dan Untuk memonitor pemenuhan nutrisi dan beri reinforcement positif atas dengan reinforcement positif klien akan kesediaan klien menghabiskan termotivasi untuk meningkatkan pemenuhan porsi makannya. 5 nutrisi. nutrisinya sesuai dengan kebutuhannya mengetahui sejauh mana keseimbangan antara intake dan outputnya, sehingga bila terjadi intake yang kurang dapat segera diantisipasi. Sumber : (Doenges, et.al., 2001, hal. 116) c. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik akibat penurunan metabolisme energi. Tujuan : Klien dapat melakukan aktivitas sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan dasar. Kriteria : NO 1 Klien dapat melakukan aktivitas tanpa bantuan Hemoglobin kembali normal (11-12 gr%) Klien tidak mengeluh pusing bila beraktivitas Observasi intake dan output Untuk dan nutrisi klien dapat

INTERVENSI RASIONAL Anjurkan klien untuk diet dengan Diet secara kontinu dapat membantu pola makan sedikit tapi sering menambah energi/kecukupan kalori dan secara kontinu. protein untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Latih klien secara bertahap dalam Dengan latihan secara bertahap dapat kegiatan sehari-hari miring kanan- mengelastiskan otot-otot yang tegang

27 Tutor 3 Faculty of Nursing Padjadjaran University

Sistem Reproduksi II

Mola Hydatidosa

kiri,

duduk

sampai

mampu setelah klien melakukan tirah baring yang dengan kemampuan klien itu sendiri. vital Untuk mengetahui keadaan umum klien setelah melakukan aktivitas. sangat diperlukan untuk atau membantu semangat kesembuhan klien latihan Dukungan

berjalan dan dapat memenuhi cukup lama dan disesuaikan dengan kebutuhan 3 4 Observasi Beri sehari-hari tanda-tanda dalam kemampuan sendiri. setelah melakukan aktivitas. dukungan tanpa aktivitas menambah menekan

tingkat

cemas/stres dan keinginan untuk mobilisasi.

klien. Sumber : (Doenges, et.al., 2001, hal. 123) d. Risiko terjadinya infeksi berhubungan dengan risiko invasi kuman pada post kuretase. Tujuan : Infeksi tidak terjadi. Kriteria : - TFU normal Tidak terdapat tanda-tanda infeksi (36 370C). Leukosit 5000-10.000 gr/dl RASIONAL Dengan adanya peningkatan tanda-tanda vital pada klien khususnya suhu dapat diketahui adanya infeksi pada tubuh 2 3 4 5 Pantau TFU Lakukan vulva hygiene Catat Hemoglobin dan hematokrit klien. Dengan adanya perubahan TFU, dapat diketahui adanya infeksi Mencegah masuknya mikroorganisme sehingga tidak terjadi infeksi. Penyembuhan terlambat apabila kadar kuman dan

NO INTERVENSI 1 Kaji tanda-tanda infeksi

hemoglobin rendah Berikan antibiotik sesuai dengan Dapat membunuh

28 Tutor 3 Faculty of Nursing Padjadjaran University

Sistem Reproduksi II

Mola Hydatidosa

advis dokter.

melemahkan kuman secara sistemik

e. Gangguan rasa aman : cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit. Tujuan : Rasa cemas hilang. Kriteria : - Klien mengerti tentang penyakit. Klien tampak tenang. RASIONAL Untuk mengetahui tingkat kecemasan dan tindakan selanjutnya. 2 Bantu klien untuk Dengan mengungkapkan perasannya, maka klien akan berbagi rasa dan akan menimbulkan rasa lega. tentang Dengan bertambah selalu memberikan klien penjelasan, tentang dalam maka pengetahuan penyakitnya tindakan mengungkapkan perasaannya. 3 Beri penjelasan penyakitnya NO INTERVENSI 1 Kaji tingkat kecemasan klien

sehingga akan termotivasi untuk proses

kooperatif

keperawatan atau medis. Sumber : (Doenges, et.al., 2001, hal. 121) f. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik Tujuan Kriteria hasil : : Perawatan diri klien terpenuhi Klien melaksanakan hygiene Klien mengungkapkan perasaan nyaman setelah hygiene NO 1 Kaji INTERVENSI RASIONAL kemampuan klien Dengan mengkaji kemampuan klien dalam merawat diri dapat mengetahui tingkat dapat

dalam merawat diri

29 Tutor 3 Faculty of Nursing Padjadjaran University

Sistem Reproduksi II

Mola Hydatidosa

2 3

ketergantungan klien Penuhi kebutuhan perawatan Dapat memenuhi kebutuhan perawatan diri dan hygiene klien Anjurkan tentang perawatan diri klien klien teknik Dengan mengajarkan tantang teknik perawatan diri, klien dapat mengetahui teknik perawatan

diri sehingga dapat mencegah infeksi Berikan kesempatan pada Dapat meningkatkan kemandirian klien klien untuk memenuhi

kebutuhan higienenya Sumber : (Doenges, et.al., 2001) 5. Implementasi Implementasi keperawatan mengacu kepada intervensi yang sudah direncanakan sesuai dengan kebutuhan klien dalam memenuhi kebutuhan dasarnya yang dirumuskan dalam diagnosa keperawatan. 6. Evaluasi Proses keperawatan merupakan rangkaian dari proses keperawatan yang terakhir yang menentukan apakah implementasi yang dilaksanakan dapat mengatasi masalah klien seluruhnya atau sebagian atau semua masalah belum teratasi sehingga dapat menentukan intervensi selanjutnya. Dalam evaluasi dapat menggunakan SOAPIER dan waktu pelaksanaannya dapat dibedakan menjadi evaluasi formatif (evaluasi proses) dan evaluasi sumatif (evaluasi hasil).

30 Tutor 3 Faculty of Nursing Padjadjaran University

Sistem Reproduksi II

Mola Hydatidosa

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Mola Hidatidosa ditandai oleh kelainan vili korialis, yang terdiri dari proliferasi trofoblastik dangan derajat yang bervariasi dan edema sroma vilus. Mola biasanya menempati kavum uteri, tetapi kadang-kadang tumor ini ditemukan dalam tuba falopii dan bahkan dalam ovarium. Perkembangan penyakit trofoblastik ini amat menarik, dan ada tidaknya jaringan janin telah digunakan untuk menggolongkannya menjadi bentuk mola yang komplet (klasik) dan parsial (inkomplet). Kehamilan mola hidatidosa merupakan kelainan kehamilan yang banyak terjadi pada multipara yang berumur 35-45 tahun.Mengingat banyaknya kasus mola hidatidosa pada wanita umur 35-45 tahun sangat diperlukan suatu penanggulangan secara tepat dan cepat dengan penanganan tingkat kegawatdaruratan obstetric. Observasi dini sangat diperlukan untuk memberikan pertolongan penanganan pertama sehingga tidak memperburuk keadaan pasien. Penerapan asuhan keperawatan sangat membantu dalam perawatan kehamilan mola hidatidosa karena kehamilan ini memerlukan perawatan dan pengobatan secara kontinyu sehingga keluarga perlu dilibatkan agar mampu memberikan perawatan secara mandiri.Pendidikan kesehatan sangat diperlukan mengingat masih banyaknya wanita-wanita khususnya yang berumur 35-45 tahun yang kurang mengerti tentang kehamilan mola hidatidosa. B. Saran 1. Harus senantiasa menjaga kesehatan saat kehamilan dan priksa USG rutin. 2. Mengonsumsi makanan bergizi dan seimbang. 3. Periksa kepada tenaga medis yang profesional jika terjadi tanda-tanda kehamilan untuk memastikan hamil anggur atau hamil normal.
31 Tutor 3 Faculty of Nursing Padjadjaran University

Sistem Reproduksi II

Mola Hydatidosa

Daftar Pustaka
Abdullah. M.N. dkk. 1994 .Mola Hidatidosa. Pedoman Diagnosis Dan Terapi Lab/Upf. Kebidanan Dan Penyakit Kandungan. Rsud Dokter Soetomo Surabaya. Doenges, M. and Frances, M. F., 2001, Rencana Perawatan Maternal Bayi, Edisi II, EGC, Jakarta. JNPKKR-POGI. (2000). Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Lukas R. Djuana AA. 1999. Mola Hydatidosa dalam Pedoman Diagnosis dan Terapi Obstretic dan Ginekologi. Ujung Pandang : Bagian obstretric dan ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Mansjoer, A. dkk. 2001. Mola Hidatidosa. Jilid I. Media Aesculapius. Jakarta : Kapita Selekta Kedokteran. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.. Manuaba I. B. G., 1998, Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana, Jakarta : EGC. Mochtar R., 1998, Sinopsis Obstetri, Edisi II, EGC, Jakarta. Safuddin A.B, 2001, Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. JNPKKR POGI dan Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta. Taber, B. 1994, Kapita Selekta Kedaruratan Obstetri dan Ginekologi. Jakarta : EGC. Tucker Susan Martin dkk. 1999. Standar Perawatan Pasien : Proses Keperawatan, Diagnosis dan Evaluasi (volume 4 edisi 5). Jakarta : EGC. Winkjosastro, H. dkk., 2002, Ilmu Kandungan Edisi II, Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

32 Tutor 3 Faculty of Nursing Padjadjaran University

Anda mungkin juga menyukai