Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIK BELAJAR LAPANGAN PADA KELUARGA ANGKAT DI DESA SAMPLANGAN KABUPATEN GIANYAR TAHUN 2012

Komang Gangga Eka Candra NIM : 0970121034 Semester : VI Nama KK : I Ketut Jimat Banjar : Samplangan Kelurahan : Samplangan

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS WARMADEWA TAHUN 2012

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Program PBL merupakan suatu kegiatan yang menuntun mahasiswa kedokteran dalam memasuki atmosfer praktik dokter keluarga dalam komunitas masyarakat. Pelaksanaan PBL dilakukan selama semester VI dengan tujuan meningkatkan softskill di bidang KIE, pemberdayaan KA dan penelusuran terhadap faktor risiko penyakit dengan pendekatan yang holistik. Dengan demikian pada akhir kegiatan PBL diharapkan KA dapat mengatasi masalah kesehatan yang dihadapi dengan persepsi yang benar tentang kesakitan yang dideritanya sehingga dapat menghindari faktor resiko yang dapat memperburuk kondisi sehingga KA dapat mencapai kualitas hidup yang lebih baik. 1.2 Tujuan a. b. c. d. Memahami sistem kekerabatan dalam satu unit keluarga Menggambarkan denah keluaga angkat Menjelaskan proses komunikasi dan deskripsi keluarga angkat serta kasus Memaparkan masalah kesehatan, persepsi dan hal lain yang mempengaruhi keluarga angkat e. Menjelaskan konseling dan KIE yang telah dilakukan

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Deskripsi KA Tabel. Keterangan Anggota Rumah Tangga Keluarga Angkat Nama Anggota KA Status Jenis Kelamin Umur 1 I Ketut Jimat KK L 55 2 Ketut Mantri Istri KK P 50 3 Pt Wisnu Mhys Anak L 24 4 Md Surya Mhdk Anak L 23 5 Ayu Pramidewi Anak P 18 Sistim Pedigree KA

Pendidikan S1 SMA SMA SMA SMA

Pekerjaan Guru SMK Swasta Mahasiswa Pelajar

Keluarga angkat terdiri dari lima orang anggota keluarga inti. Kepala KA bernama I Ketut Jimat berusia 54 tahun merupakan guru SMK di Bangli dengan pendidikan terakhir S1. Istrinya bernama Ketut Mantri berumur 50 tahun, dahulunya berprofesi sebagai pedagang namun sekarang telah berhenti karena penyakit diabetes yang dideritanya. KA memiliki tiga orang anak yaitu Putu Wisnu Mahayasa (24 tahun), Made Surya Mahadika (23 tahun) dan seorang anak gadis bernama Ayu Pramidewi (18 tahun). Anak pertama sudah memiliki penghasilan sendiri karena telah bekerja sebagai bartender pada salah satu discotique di Legian. Anak kedua sedang menempuh pendidikan sebagai perawat di Denpasar sedangkan anak terakhir baru lulus SMA dan akan melanjutkan pendidikan di Depasar. Secara umum keluarga angkat merupakan keluarga yang secara ekonomi cukup mapan dengan status sosial yang terpandang namun memiliki masalah yang serius pada kesehatan karena kedua suami istri sama-sama menderita diabetes melitus tipe II.

U H A E B

Skema Denah Rumah KA Keterangan: A. Padma Sana B-C. Kamar D. Ruang Tamu E. Halaman F. Banjar Desa Samplangan G. Jalan Raya Samplangan H. Jalan ke Bukit Batu

2.2 Proses Komunikasi dan Deskripsi Kasus Proses komunikasi dengan KA berjalan dengan baik meskipun beberapa kali KA tidak dapat ditemui karena kesibukannya. Pada pertemuan pertama, istri KA dengan ditemani putrinya yang paling kecil menceritakan masalah kesehatan yang dialami oleh suaminya. Suaminya telah menderita diabetes sejak kurang lebih 10 tahunan dengan kadar gula darah sewaktu > 200mg/dL. Sang suami pun kerap kali mengeluhkan mengenai komplikasi hipertensi, tingginya kadar asam urat dan telah dua kali menjalani operasi pembuluh mata retina. Gaya hidup kepala KA cukup baik karena tidak mengkonsumsi minuman beralkohol dan tidak merokok. Namun Pak Ketut Jimat sangat jarang berolahraga. 2.3 Masalah Kesehatan dan Faktor Lain yang Mempengaruhi Bapak Ketut Jimat telah beberapa kali menjalani perawatan medis di RS Puri Raharja dan ditanggung oleh ASKES. Obat yang digunakan adalah golongan insulin-sensitizer dengan tambahan obat-obatan hipertensi dan OAINS (Obat Anti Inflamasi Non Steroid). Pasien tidak pernah menjalani pengobatan alternatif kecuali mengkonsumsi bahan-bahan herbal (air rendaman kulit rambutan, jus mengkudu, dsb) atas anjuran temannya. Dari persepsi Pak Ketut Jimat didapatkan bahwa beliau sangat memahami kondisi kesehatannya yang tidak mungkin pulih kembali seratus persen seperti dahulu namun justru kenyataan pahit inilah yang terkadang menyurutkan semangatnya dalam mengkonsumsi obat secara teratur. Apalagi dengan adanya beberapa masalah keluarga seperti belum jelasnya jurusan yang diinginkan oleh putri semata wayangnya dan mengenai pekerjaan anak tertuanya pada klub malam yang merisaukan dirinya karena rawan akan penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan terjebak dalam glamournya kehidupan kota besar. Dukungan untuk terus menjalani pengobatan didapatkan melalui anak keduanya yang menjalani pendidikan keperawatan. 2.4 Konseling Kesehatan Menimbang kondisi kesehatan KA dangan segala persepsi dan faktor resiko serta latar belakang yang telah dialami maka konseling yang telah diberikan pada KA adalah: 1. Menjalani aktifitas fisik atau olahraga aerobik seperti jalan kaki selama 150 menit perminggu yang dapat dibagi menjadi beberapa hari. 2. Mengevaluasi pola makan atau diet dengan mengurangi konsumsi karbohidrat serta turunannya (gula, sirup, susu, buah yang manis) dan menggantinya dengan makanan kaya serat seperti sayuran karena dapat memberikan sensasi kenyang. 3. Menyarankan untuk berkonsultasi dengan dokter yang menanganinya agar dimulai terapi hormon insulin agar dapat meningkatkan kualitas kesehatan dan menghidari dari komplikasi lain yang lebih parah. 4. Memberi pengertian pentingnya menggunakan pelembab pada daerah kaki yang rawan terjadi gesekan sehingga dapat menimbulkan lecet dan luka.

5. Menyemangati pasien agar tetap semangat dalam menjalani pengobatan karena meskipun diabetes tidak dapat disembuhkan namun dapat diatasi dengan pengobatan teratur 6. Mengenai masalah pendidikan anak seyogyanya dibicarakan dengan baik-baik sesuai bakat dan minat anak itu sendiri serta tidak memaksakan kehendak pribadi. Khusus tentang masalah dengan anak pertamanya, perlu ditanyakan deskripsi pekerjaannya sehingga tidak menimbulkan kecurigaan yang berlebihan. 7. Pentingnya general check up minimal setahun sekali atas rekomendasi dokter untuk mengetahui perkembangan penyakit yang dideritanya. 8. Mengingatkan akan tingginya resiko terkena penyakit diabetes kepada anak-anak karena pola hidup yang diturunkan atau diwarisi dari orang tua.

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Keluarga angkat terdiri dari lima anggota keluarga dengan ayah, ibu, dua anak laki-laki dan seorang anak gadis. Masalah kesehatan yang dihadapi adalah penyakit degeneratif diabetes mellitus tipe II yang diderita oleh kedua ayah dan ibu sehingga sangat penting bagi kedua pasangan tersebut untuk saling memberikan dukungan dalam menjalani terapi dan perawatan kesehatan. Masalah ekonomi bukanlah menjadi masalah bagi keluarga ini karena kemampuan finansial, dukungan asuransi dan posisinya yang terhormat di masyarakat sebagai seorang guru. Namun yang perlu menjadi perhatian bahwa konflik internal dengan anak jangan sampai menjadi beban bagi kondisi kesehatan yang berdampak besar dalam perjalanan penyakit. Adapun gaya hidup yang sehat, seimbang dan dijalankan dengan teratur harus menjadi prioritas agar dapat hidup berdampingan dengan penyakit diabetes kronis yang diderita. Menghindari faktor resiko mutlak dilakuakan agar tidak menambah berat komplikasi yang mungkin dialami. 3.2 Saran a. Menjalani pola hidup yang sehat berimbang dengan mengkonsumsi makanan yang rendah gula dan tinggi serat. b. Melakukan aerobik ringan dengan teratur sehingga menjaga kebugaran tubuh. c. Mendidik anak untuk tidak mengkonsumsi karbohidrat berlebihan dalam diet seharihari serta menghindari minuman beralkohol dan rokok.