Anda di halaman 1dari 5

Trousseau Sign

Secara sederhana dijelaskan, tanda Trousseau adalah spasme karpopedal yang terjadi setelah beberapa menit setelah pemasangat manset sfigmomanometer pada tekanan darah sistolik. Oklusi arteri brakialis pada saat fleksi pergelangan tangan dan sendi metacarpophalangeal, hiperekstensi jari-jari, dan fleksi ibu jari ke telapak, menghasilkan postur karakteristik utama yang disebut main d'accoucheur. Tanda Trousseau dianggap sensitif dan spesifik untuk kejang hipokalsemia. Selain itu, tanda visual yanng jelas, pasien dengan tanda Trousseau positif mungkin mengalami parestesia dari jari-jari, fasikulasi otot atau kedutan jari-jari, dan sensasi kram otot atau kaku.

Penemu Armand Trousseau adalah seorang dokter Prancis yang tinggal 1801-1867. Trousseau dididik di Paris, lulus tahun 1825, dan segera menjadi tokoh penting dalam kedokteran Paris, baik sebagai seorang dokter ahli dan guru luar biasa. Trousseau adalah orang pertama di Perancis untuk melakukan trakeostomi, dan dia memperkenalkan torakosentesis sebagai medis prosedu. Di samping itu dengan deskripsi tentang tanda Trousseau, dokter ini juga dikreditkan dengan menggambarkan Trousseau sindrom, atau tromboflebitis disebabkan oleh kanker viseral. Patofisiologi Mekanisme tanda Trousseau adalah meningkatnya rangsangan saraf di tangan dan lengan atas, disebabkan oleh hipokalsemia, yang pada gilirannya, menyebabkan kontraksi otot. Kondisi-kondisi ini diperburuk oleh iskemia diproduksi oleh sfigmomanometer, sehingga menghasilkan kedutan otot sebagai tanda. Uji Trousseau-von Bonsdorff Tes Trousseau-von Bonsdorff dikorelasikan dengan tanda Trousseau. Tes Trousseauvon Bonsdorff dilakukan segera setelah mengempiskan sphygmomanometer tersebut. Pasien diinstruksikan untuk bernapas dalam-dalam pada kecepatan 40 napas / menit dan diamati untuk spasme karpopedal. Satu studi menemukan tes Trousseau-von Bonsdorff menjadi tambahan yang berguna untuk tanda Trousseau ketika mengevaluasi keadaan hipokalsemia.

Diagnosa Banding Hipokalsemia bukan satu-satunya kondisi yang dapat menghasilkan tanda Trousseau positif ini. Keadaan klinis yang telah diketahui menyebabkan tanda Trousseau positif adalah hipomagnesemia. Karena kondisi ini sering terjadi berbarengan dengan hipokalsemia, penentuan kelainan elektrolit yang bertanggung jawab menyebabkan dua respon positif terpisah cukup sulit. Signs of Hypocalcemia: Chvosteks andT rousseaus Signs Series Editor and Author: Frank L. Urbano, MD Copyright 2000 by Turner White Communications Inc., Wayne, PA. All rights reserved.

DEPOLARISASI DAN REPOLARISASI


Dalam sisten saraf terdapat istilah polarisasi, depolarisasi, dan repolarisasi. Polarisasi adalah keadaan dimana saraf sedang istirahat atau keadaan dimana saraf tidak sedang menjalankan rangsang. Pada keadaan ini muatan yang lebih negatif berada di sisi dalam membran sedangkan muatan yang lebih positif berada di sisi luar membran. Membran sel saraf bersifat impermeabel terhadap ion natrium dan permeabel terhadap ion kalium. Potensial yang dapat diterima membran saraf dalam keadaan istirahat berbeda-beda tergantung pada jenis selnya. Hal ini menunjukkan keadaan elektrolis antara sisi dalam membran dengan sisi luar membran. Perbedaan potensial tersebut disebabkan oleh adanya distribusi ion natriun dan kalium yang tidak seimbang di antara kedua sisi membran sel saraf. Besarnya potensial membran yang diukur saat sel dalam keadaan istirahat ini disebut potensial membran. Depolarisasi adalah keadaan dimana saraf sedang menjalankan rangsang. Pada keadaan ini muatan yang lebih negatif berada di sisi luar membran sedangkan muatan yang lebih positif berada di sisi dalam membran. Membran sel saraf bersifat impermeabel terhadap ion kalium dan permeabel terhadap ion natrium sehingga ion (Na) berdifusi dan ion (K) ditahan. Dalam keadaan ini pula dikenal istilah potensial aksi, yaitu potensial membran yang diukur pada saat sel terdepolarisasi. Proses ini terjadi jika terdapat rangsangan yang akan menjadi impuls bagi saraf. Impuls dapat dikatakan sebagai aliran listrik yang merambat pada serabut saraf. Impuls dapat dihantarkan melalui sel saraf dan sinapsis. Impuls melalui sel saraf terjadi karena adanya perbedaan potensial listrik antara bagian luar dan bagian dalam serabut saraf sehingga impuls merambat sesuai aliran listrik. Impuls melalui sinapsis terjadi karena adanya neurontransmiter, yaitu senyawa kimia yang menghantarkan impuls di dalam sinapsis. Impuls diterima neurontransmiter di membran presinapsis kemudian neurontransmiter menyebrangi celah sinapsis menuju membran postsinapsis. Membran postsinapsis mengalami depolarisasi dan impuls diteruskan ke serabut saraf berikutnya. Perjalan impuls melalui sinaps disebut trasmisi. Terdapat dua jenis perjalan impuls melalui sinapsis, pertama melalui sinaps elektrik sehingga disebut transmisi elektrik dan kedua melalui sinaps kimia sehingga disebut trasmisi kimiawi. Repolarisasi disebut juga sebagai periode penyembuhan setelah saraf mengalami depolarisasi. Repolarisasi merupakan tahapan yang paling penting bagi sel. Diantara

depolarisasi dan repolarisasi terdapat satu periode yang disebut sebagai periode refrakter, yaitu periode waktu tertentu saat sel saraf tidak dapat menanggapi rangsang yang diberikan untuk kedua kalinya. Terdapat dua jenis periode refrakter, yaitu: 1. Periode refrakter absolut ialah jangka waktu tertentu saat sel saraf benar-benar tidak dapat menanggapi rangsang yang diberikan untuk kedua kalinya, apapun jenis rangsangnya dan berapa pun kekuatan rangsang yang diberikan. Periode ini biasanya berlangsung pada awal repolarisasi. 2. Periode refrakter relatif ialah jangka waktu pada akhir repolarisasi, yang mana sel saraf kemungkinan sudah dapat kembali menanggapi rangsang, asalkan rangsang yang diberikan lebih kuat daripada rangsang sebelumnya atau jenis rangsangnya berbeda. Mekanisme Potensial Aksi Potensial membran disebabkan oleh perbedaan konsentrasi ion antara isi sel dengan cairan ekstra seluler. Permeabilitas selektif membran plasma mempertahankan perbedaan ionik tersebut. Prinsip potensial membran pada umumnya adalah : Cairan intraseluler dan ekstraseluler mempunyai komposisi ionik yang berbeda. Ion tersebut adalah kalium, natrium dan klorida. K+ berdifusi keluar sel menuruni gradien konsentrasinya, akan tetapi anion A- tidak dapat mengikutinya, sehingga bagian dalam sel meningkatkan muatan neto negatifnya. Terdapat difusi K+ yang stabil keluar dari sel dan difusi Na+ yang stabil ke dalam sel Sejalan dengan waktu difusi menyebabkan gradien ionik menjadi hilang. Kehilangan gradien dicegah oleh pompa natrium- kalium dengan m sel. Potensial aksi adalah peristiwa elektris (listrik) yang terlokalisir menggunakan ATP secara aktif untuk mengangkut Na+ keluar dari sel dan K+ masuk ke dalam, yaitu depolarisasi membran pada titik perangsangan yang spesifik. Potensial aksi timbul karena membran plasma sel- sel yang dapat dirangsang, mempnyai saluran ion bergerbang voltase, mempunyai gerbang yang membuka dan menutup sebagai respon terhadap perubahan potensial membran serta adanya peningkatan permeabilitas membran terhadap ion Na secara transien (dalam rentang fraksi dari satu milidetik) kemudian diikuti oleh peningkatan permeabilitas membran terhadap ion K secara transien serta penurunan drastis pada permeabilitas membran terhadap ion Na.

Mekanisme perambatan potensial aksi : Potensial aksi pertama : Potensial aksi dibangkitkan ketika ion natrium mengalir ke dalam melintasi membran pada satu lokasi, membran mengalami repolarisasi ketika K+ mengalir keluar. Potensial aksi kedua : Depolarisasi potensial aksi pertama telah menyebar ke wilayah yang bersebelahan pada membran tersebut, mendepolarisasi wilayah itu dn memulai potensial aksi kedua. Potensial aksi ketiga : Merambat secara berurutan saat repolarisasi berlangsung. Melalui mekanisme ini aliran ion lokal menembus membran plasma dan menghasilkan impuls saraf yang menghambat di sepanjang akson itu.

Besarnya potensial aksi tidak bergantung pada kekuatan stimulus pendepolarisasi yang menyebabkan potensial aksi tersebut. Selama fase depolarisasi, polaritas membran berbalik sebentar, bagian dalam sel lebih positif dibandingkan bagian luar. Depolarisasi yang kuat dari suatu potensial aksi akan menyebabkan daerah di sekitar titik membran yang mengalami depolarisasi itu juga terdepolarisasi di atas harga ambang, yang memicu potensial aksi baru pada posisi tersebut dan demikian seterusnya sampai ke ujung akson.