Anda di halaman 1dari 12

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Kedudukan filsafat dalam pendidikan adalah suatu hal yang sangat asasi sekaligus strategis. Asasi, karena filsafat merupakan suatu dasar atau landasan dalam pembentukan ide atau asumsi-asumsi dasar dalam menentukan, persepsi dasar, prinsip dan tujuan asasi pendidikan. Stategis, karena dengan filsafat tersebut akan sangat ditentukan terhadap arah, warna sekaligus corak dari pendidikan yang akan dilaksanakan. Tanpa asas atau landasan filsafat, pendidikan akan rapuh, goyah dan tidak jelas arah dan tujuannya. Ada banyak corak dan ragam filsafat yang dapat mendasari pendidikan dengan berbagai ide, gagasan dan kritiknya. Salah satu filsafat tersebut diantaranya adalah filsafat perenial atau perenialisme. Filsafat ini, walaupun secara umum pada awalnya tidak berkaitan dengan kontesk kedisiplinan secara khusus, namun kemudian pada tahap perkembangan selanjutnya, perenialisme banyak dan senantiasa dihubungkan dengan kedisiplinan.

B. Rumusan Masalah 1. Apa Yang Dimaksud dengan Perenialisme? 2. Bagaimana Asal Lahirnya Perenialisme? 3. Siapa Sajakah Tokoh-Tokoh Perenialisme dan Pandangannya? 4. Bagaimana Pendidikan Perenialisme? 5. Apa Tujuan Pendidikan Perenialisme? 6. Bagaimana Metode Pendidikan Perenialisme? 7. Bagaimana Pandangan Perenialisme? 8. Apa Teori Dasar Perenialisme?

C. Tujuan 1. Untuk Mengetahui Tentang Peenialisme? 2. Untuk Mengetahui Asal Lahirnya Perenialisme? 3. Untuk Mengetahui Tokoh-Tokoh Perenialisme Dan Pandangannya? 4. Untuk Mengetahui Pendidikan Perenialisme? 5. Untuk Mengetahui Tujuan Pendidikan Perenialisme? 6. Untuk Mengetahui Metode Pendidikan Perenialisme? 7. Untuk Mengetahui Pandangan Perenialisme? 8. Untuk Mengetahui Teori Dasar Perenialisme?

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Perenialisme Istilah perenialisme berasal dari bahasa latin, yaitu dari akar kata perenis atau perenial (bahasa Inggris) yang berarti tumbuh terus melalui waktu, hidup terus dari waktu ke waktu atau abadi. Maka pandangan selalu mempercayai mengenai adanya nilai-nilai, norma-norma yang bersifat abadi dalam kehidupan ini. Atas dasar itu perenialis memandang pola perkembangan kebudayaan sepanjang zaman adalah sebagai pengulangan dari apa yang ada sebelumnya sehingga perenialisme sering disebut sebagai dengan istilah tradisionalisme. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi dan solusi terhadap pendidikan progresif dan atas terjadinya suatu keadaan yang mereka sebut sebagai proses kebudayaan dalam kehidupan manusia modern. Perenialisme menentang pandangan progresifisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Jalan yang ditempuh oleh kaum perenialis adalah dengan jalan mundur, dengan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kuat, kukuh pada zaman kuno, dan abad pertengahan. Kaum perenialis melawan kegagalan-kegagalan dan tragedi-tragedi dalam abad modern ini dengan mundur kembali kepada kepercayaankepercayaan yang aksiomatis, yang telah teruji tangguh, baik mengenai hakikat realitas, pengetahuan, maupun nilai, yang telah memberi dasar fundamental bagi abad-abad sebelumnya. Perenialisme mempunyai kesamaan dengan esensialisme dalam hal menentang progresivisme, tetapi perenialisme juga memiliki perbedaan dengan esensialisme antara lain dalam hal prinsip perenialisme yang religius (tyheologis), yang berorientasi pada agama. Dikatakan demikian, sebab sekalipun ada perenialist yang sekuler, namun mereka merupakan minoritas dalam Perenialisme.

B. Asal Lahirnya Perenialisme Perenialisme merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh. Perenialisme lahir menjadi suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Mereka menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Perenialisme memandang situasi dunia dewasa ini penuh dengan kekacauan, ketidakpastian, dan ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan moral, intelektual dan sosiokultural. Oleh karena itu, perlu ada usaha untuk mengamankan ketidakberesan tersebut, yaitu dengan jalan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kukuh, kuat, dan teruji. Beberapa tokoh pendukung gagasan ini antara lain adalah Robert Maynard Hutchins dan Mortimer Adler. Di Amerika, misalnya, penekanan pendidikan pada subjek didik, paham kekinian, dan penyesuaian hidup telah membuat manusia terkendalikan oleh hal-hal yang bersifat pragmatis dan temporal. Hidup kemudian bergerak menjadi patahan-patahan kesadaran yang berlangsung dengan begitu pendek dan singkat. Menurut para perenialis, progresivisme telah membawa manusia pada pola kehidupan dangkal dan bersifat remeh. Manusia semakin jauh dari penghayatan-penghayatan nilai hidup yang subtil dan mendalam. Robert Maynard Hutchins dan Mortimer Adler yang menggulirkan kampanye mereka dari Universitas Chicago, tempat Hutchins menjabat sebagai rektor pada 1929 di usia ketiga puluh tahun. Pada waktu itu, keduanya adalah dosen muda yang aktif dan juga penulis produktif yang berjuang membuat opini publik agar sejalan dengan perenialisme selama lebih dari empat puluh tahun. Hutchins dan Adler telah memberikan pengaruh yang besar bagi kalangan perenialis ketika mereka bekerja mengedit karangan yang dikenal sebagai Great Books of Western World. Kumpulan karangan itu memuat seratus tulisan tentang dunia Barat yang berisi ide-ide pemikiran terbaik. Pemikiran pendidikan ini secara murni diimplementasikan di perguruan tinggi

St. John di Annapolis, Marland, ketika Presiden Stringfellow Barr menjadikan karya besar tersebut sebagai referensi utama tingkat sarjana. Perenialisme pada dasarnya berakar pada pemikiran neoskolastik. Oleh karena itu, ia cenderung bersifat aristotelian. Meski di Amerika, perenialisme umumnya dikembangkan dalam pendidikan sekuler, bersamaan ketika pemikiran Thomas Aquinas tereksplorasi secara berlimpah ke dalam berbagai sekolah dan perguruan tinggi. John Maritain termasuk di dalamnya yang kemudian mengembangkan perenialisme dalam konteks khusus

pengembangan pendidikan yang bersifat gerejawi.

C. Tokoh-Tokoh Perenialisme dan Pandangannya Perenialisme berkembang sebagai reaksi dan solusi yang ditawarkan atas terjadinya krisis kebudayaan dalam kehidupan manusia modern. Aliran filsafat ini didukung oleh idealsime (Plato), realisme (Aristoteles), humanisme rasional dan supernaturalisme (Thomas Aquinas). Asas-asas filsafat perenialisme bersumber pada filsafat kebudayaan yang mempunyai dua sayap, yaitu perenialisme yang teologis yang ada dalam pengayoman supremasi gereja Katolik, khususnya menurut ajaran dan interpretasi Thomas Aquinas, dan perenialisme sekular, yaitu yang berpegang kepada ide dan cita-cita filosofis Plato dan Aristoteles.

D. Pendidikan Perenialisme Kaum perenialis berpandangan bahwa dalam dunia yang tidak menentu dan penuh kekacauan, serta membayangkan yang ditimbulkan akibat terjadinya krisis di berbagai dimensi kehidupan manusia (dalam pendidikan khususnya), tidak ada satupun yang lebih bermanfaat daripada kepastian tujuan pendidikan serta kestabilan dalam perilaku pendidik. Dalam pemikiran itu, untuk mengatasi dan mengembalikan keadaan krisis yang terjadi sekarang ini, perenialisme memandang bahwa jalan keluar tidak lain adalah kembali pada kebudayaan masa lampau yang dianggap cukup ideal dan teruji ketangguhannya.

Untuk itulah, pendidikan sekarang harus lebih banyak mengarahkan pusat perhatiannya kepada kebudayaan masa lampau yang ideal serta telah teruji dan tangguh. Dengan kata lain, perenialisme memiliki pandangan yang bertolak (anti-) terhadap modernistik yang telah menjauh dari tradisi (kebiasaan-kebiasaan yang telah teruji ketangguhannya) dan terlalu mengedepankan logika dan rasio modernistik daripada sumber pengetahuan lainnya serta terlalu memandang sesuatu berdasarkan materi (materialistik). Jelaslah jika dikatakan bahwa pendidikan yang ada sekarang ini perlu kembali pada masa lampau karena dengan mengembalikan keapaan (apa yang ada, apa yang terjadi, serta apa yang menjdi tujuan) pada masa lampau, kebudayaan yang dianggap krisis ini dapat teratasi melalui perenialisme karena ia dapat mengarahkan pusat perhatiannya pada pendiidkan zaman dahulu dengan sekarang.

E. Tujuan Pendidikan Perenialisme Bagi perenialis, nilai-nilai kebenaran bersifat universal dan abadi. Inilah yang menjadi tujuan pendidikan yang sejati. Oleh karena itu, tujuan pendidikan adalah membantu peserta didik menyiapkan dan

menginternalisasikan nilai-nillai kebenaran dan kebaikan dalam hidup. Sekolah adalah sebuah institusi khusus yang berupaya mencapai misi yang amat penting ini. Sekolah tidak terlalu berkepentingan dengan persoalan semacam pekerjaan, hiburan, dan rekreasi manusia. Ketiga hal tersebut mempunyai tempat dalam kehidupan manusia, tetapi berada di luar lingkup aktivitas pendidikan.. Sekolah adalah lembaga yang berperan mempersiapkan peserta didik atau orang muda untuk terjun ke dalam kehidupan. Sekolah bagi perenialis merupakan peraturan-peraturan yang artifisial tempat peserta didik

berkenalan dengan hasil yang paling baik dari warisan sosial budaya.

F. Metode Pendidikan Perenialisme Metode pendidikan atau metode belajar utama yang digunakan oleh perenialis adalah membaca dan diskusi, yaitu membaca dan mendiskusikan karya-karya yang tertuang dalam The Greats Book dalam rangka mendisiplinkan pikiran. Peranan guru bukan sebagai perantara antara dunia anak dan jiwa anak, melainkan guru juga sebagai murid yang mengalami proses belajar sementara mengajar. Guru mengembangkan potensi-potensi self discovery. Ia juga melakukan moral authority (otoritas moral) atas murid-muridnya karena ia seorang profesional dan qualified dan superior dibandingkan dengan muridnya. Guru harus mempunyai aktualitas yang lebih, dan pengetahuan yang sempurna.

G. Pandangan Perenialisme 1. Pandangan Ontologi Perenialisme Ontologi paranealisme terdiri dari pengertian-pengertian, seperti benda individual, esensi, aksiden, dan subtansi. Paranealisme

membedakan realitas dalam aspek-aspek perwujudannya dalam tipologi istilah ini. Benda individual di sini adalah benda sebagaiamana tampak di hadapan manusia dan dapat ditangkap panca indera, seperti batu, lembu, rumput, orang dalam bentuk, ukuran, warna, dan aktivitas tertentu. Esensi dari sesuatu adalah kualitas yang menjadikan atau menyebabkan benda itu lebih intrinsik daripada halnya. Misalnya bila manusia ditinjau dari esensinya adalah berpikir. Esensi adalah lebih penting daripada halnya. Aksiden adalah keadaan-keadaan khusus yang dapat berubah-ubah dan yang sifatnya kurang penting dibandingkan dengan yang esensial sebagai contoh misalnya, orang suka bermain sepatu roda, suka berpakaian bagus.

Substansi adalah kesatuan dari tiap-tiap individu, misalnya partikular dan universal, material dan spiritual. Menurut Plato, perjalanan suatu benda dalam fisika menerangkan ada empat kausa : a. Kausa materialis, yaitu bahan yang menjadi susunan suatu benda misalnya, telur, tepung, dan gula untuk roti. b. Kausa formalis, yaitu sesuatu dipandang dari formnya, bentuknya, atau modelnya, misalnya bulat, gepeng, dan lain-lain. c. Kausa efisien, yaitu gerakan yang digunakan dalam pembuatan sesuatu cepat, lambat, atau teregsa-gesa. d. Kausa finalis, adalah tujuan atau akhir dari sesuatu, katakanlah tujuan pembuatan sebuah patung. 2. Pandangan Epistemologis Perenialisme Perenialisme berpendapat bahwa segala sesuatu yang dapat diketahui dan merupakan kenyataan adalah apa yang terkandung pada kepercayaan. Kebenaran adalah sesuatu yang menunjukkan kesesuaian antara berpikir dengan benda-benda. Benda-benda disini maksudnya adalah hal-hal yang adanya bersendikan atas prinsip-prinsip keabadian. Ini berarti bahwa pengertian mengenai kebenaran adalah perhatian mengenai esensi dan sesuatu. Kepercayaan terhadap kebenaran itu akan terlindung apabila segala sesuatu dapat diketahui dan nyata jelaslah bahwa pengetahuan itu merupakan hal yang sangat penting karena ia merupakan pengolahan akal pikiran yang konsekuen. Menurut perenialisme penguasaan pengetahuan mengenai prinsipprinsip pertama adalah modal bagi seseorang untuk mengembangkan pikiran dan kecerdasan. Prinsip-prinsip pertama mampu mempunyai peranan sedemikian, karena telah memiliki evidensi diri sendiri. Anak didik yang diharapkan menurut perenialisme adalah mampu mengenal dan mengembangkan karya-karya yang menjadi landasan pengembangan disiplin mental. Karya-karya ini merupakan buah pikiran tokoh-tokoh besar pada maasa lampau. Berbagai buah pikiran mereka

yang oleh zaman telah dicatat menonjol dalam bidang-bidang seperti bahasa dan sastra, sejarah, filsafat, politik, ekonomi, matematika, ilmu pengetahuan alam, dan lain-lainnya, telah banyak yang mampu memberikan ilmunisasi zaman yang sudah lampau. Tugas utama pendidikan adalah mempersiapkan anak didik ke arah kemasakan. Masak dalam arti hidup akalnya. Jadi akal inilah yang perlu mendapat tuntunan kearah kemasakan tersebut. Sekolah rendah memberikan pendidikan dan pengetahuan serba dasar. Dengan

pengetahuan yang tradisional seperti membaca, manulis dan berhitung anak didik memperoleh dasar penting bagi pengetahuan-pengetahuan yang lain. Sekolah sebagai tempat utama dalam pendidikan yang

mempersiapkan anak didik kearah kemasakan melalui akalnya dengan memberikan pengetahuan. Sedangkan sebagai tugas utama dalam pendidikan adalah guru-guru, dimana tugas pendidikanlah yang memberikan pendidikan dan pengajaran (pengetahuan) kepada anak didik. Jadi keberhasilan anak dalam akalnya sangat tergantung kepada guru, dalam arti orang yang telah mendidik dan mengajarkan. 3. Pandangan Aksiologi Perenialisme Perenialisme memandang masalah nilai berdasarkan azas-azas supernatural, yakni menerima universal yang abadi. Hakikat manusia itu yang pertama-tama adalah pada jiwanya. Oleh karena itulah hakikat manusia itu juga menentukan hakikat perbuatan-perbuatannya, dan persoalan yang lain adalah persoalan spiritual. Dalam aksiologi, prinsip pikiran itu bertahan dan tetap berlaku. Secara etika, tindakan itu ialah yang bersesuaian dengan sifat rasional seorang manusia, karena manusia itu secara alamiah condong kepada kebaikan. Perenialisme itu menghendaki agar pendidikan disesuaikan dengan keadaan manusia yang mempunyai maksut kemauan dan pikiran sebagaimana yang dimiliki secara kodrat. Dengan memperhatikan hal ini maka pendididkan yang berorientasi pada potensi dan masyarakat akan dapat terpenuhi.

Menurut Robert Hutchkins bahwa manusia adalah animal rasionale, maka tujuan pendidikan adalah mengembangkan akal budi supaya anak didik dapat hidup penuh kebijaksanaan demi kebaikan hidup itu sendiri, oleh karenanya tujuan pendidikan di sekolah perlu sejalan dengan pandangan dasar di atas, mempentingkan kemampuan anak untuk memiliki akal sehat. Dapat dismpulkan bahwa tujuan daripada pendidikan yang hendak dicapai oleh para ahli tersebut adalah untuk mewujudkan agar anak diidk dapat hidup berbahagia demi kebaikan hidupnya sendiri. Jadi dengan akalnya dikembangkan maka dapat memeprtinggi kemampuan akal pikirnya. Dari prinsip-prinsip pendidikan perenialisme tersebut maka perkembangannya telah memepngaruhi sistem pendidikan modern, seperti pembagian kurikulum untuk sekolah dasar, menengah, perguruan tinggi, dan pendidikan orang dewasa.

H. Teori Dasar Perenialisme Penganut perenialisme sependapat bahwa latihan dan pembinaan berpikir (mental disiplin) merupakan bagian dari salah satu kewajiban tertinggi dalam belajar atau keutamaan dalam proses belajar. Oleh karena itu, teori dan program pendidikan pada umumnya dipusatkan kepada pembinaan kemampuan berpikir dan disiplin. Asas berpikir dan kemerdekaan harus menjadi tujuan utama pendidikan. Otoritas berpikir harus disempurnakan sesempurna mungkin. Di sini, makna kemerdekaan pendidikan berarti membantu manusia menjadi dirinya, sebagai essensial self yang berbeda dari spesies manapun. Sementara, fungsi belajar diabadikan guna mendukung aktualitas manusia sebagai makhluk rasional independen. Learning to reason demikian menurut istilah para perenialis. Pendiidkan tidak lain ialah belajar dalam berpikir. Perenialisme percaya bahwa asas pembentukan kebiasaan dalam permulaan pendidikan anak. Kecakapan membaca, menulis, dan berhitung merupakan landasan dasar.

10

Berdasarkan penahapan itu, learning to reason menjadi hal pokok pendidikan menengah ataupun pendidikan tinggi. Selain belajar berpikir, pendidikan menurut para perenialis, juga sebagai persiapan hidup. Pandangan ini kerap disandarkan pada pemikiran Thomisme yang menyadari bahwa belajar untuk berpikir dan belajar demi persiapan hidup (dalam masyarakat) adalah dua langkah pada jalan yang sama dalam memperoleh kesempurnaan hidup, baik dunia ataupun surgawi. Kerap dikatakan bahwa pendidikan tidak lain adalah learning through teaching (belajar melalui pengajaran). Adler membedakan antara learning by instruction dan learning by discovery, penyelidikan tanpa bantuan guru. Sebenarnya, learning by discovery digunakan sebagai pembelajaran diri.

11

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Perenialisme adalah suatu aliran yang memandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses kembali manusia sekarang ke dalam kebudayaan masa lampau yang dipandang sebagai kebudayaan ideal. Pendidikan bersifat universal dan abadi. Pendidikan adalah persiapan untuk hidup. Tujuan pendidikan adalah membantu peserta didik menyingkap dan

menginternalisasi nilai-nilai kebenaran yang abadi agar mencapai kebaikan dalam hidup. Perenialisme berkembang sebagai reaksi dan solusi yang ditawarkan atas terjadinya krisis kebudayaan dalam kehidupan manusia modern. Aliran filsafat ini didukung oleh Idealisme (Plato), Realisme (Aristoteles). Humanisme Rasional dan Supernaturalisme (Thomas Aquinas).

B. Saran Sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan kita hendaknya pandai menjadikan berbagai aliran filsafat pendidikan tersebut sebagai sebuah pandangan yang dapat kita implementasikan dalam membimbing anak didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Membawa anak didik menuju arah kemasakan serta membantu peserta didik menyiapkan dan menginternalisasikan nilai-nillai kebenaran dan kebaikan dalam hidup.

12