Anda di halaman 1dari 24

BAB I PENDAHULUAN Step 1 1. Mesio Versi 2. Bruxism 3. Linea Alba 4. Abrasi 5. Odema 6. Ulser Jawaban 1.

Mesio Versi adalah indikasi penyimpangan dari posisi normal (malposisi) per individual dimana posisi gigi geligi lebih ke mesial dari posisi normal. 2. Bruxism adalah suatu kondisi dimana menggrinding gigi atau menggiling gigi dengan menggeser gigi bolak-balik satu sama lain, menggertakkan (berkontak rapat antara gigi atas dan bawah). Bruxism ini merupakan kebiasan buruk dari individu yang terjadi tanpa sengaja atau tidak disadari. Bisa terjadi pada siang hari tapi umumnya muncul pada malam hari disaat sedang tidur. 3. Linea Alba adalah suatu perubahan yang sering terjadi pada mukosa bukal yang berhubungan dengan adanya penekanan, iritasi friksional akibat gesekan, atau trauma pada bagian muka gigi karena kebiasaan menghisap (sucking trauma). Sesuai dengan namanya, perubahan yang terjadi terdiri atas garis putih yang (biasanya) bilateral. Linea alba terletak pada mukosa bukal setinggi dengan bidang oklusi gigi yang di dekatnya. Garis yang terbentuk lebih terlihat jelas pada mukosa bukal yang berbatasan dengan gigi posterior. 4. Abrasi adalah hilangnya jaringan gigi ataupun tambalan yang bersifat patologis karena pemakaian, oleh faktor diluar kontak gigi. Ausnya jaringan gigi ini akibat proses mekanik, misalnya karena pemakaian pasta

gigi yan abrasif atau sikat gigi yang keras. Abrasi gigi biasanya mengenai bagian serviks gigi sebelah bukal, gigi anterior maupun posterior. 5. Odema adalah pembengkakan yang disebabkan oleh terkumpulnya cairan berlebihan yang terperangkap pada jaringan tubuh. Cairan yang berlebihan ini disebabkan oleh meningkatnya volume cairan ekstraseluler dan ekstravaskuler (cairan interstitium) yang disertai dengan penimbunan cairan abnormal dalam sela-sela jaringan dan rongga serosa (jaringan ikat longgar dan rongga-rongga badan). Oedema dapat bersifat setempat (lokal) dan umum (general). 6. Ulser adalah salah satu lesi jaringan lunak yang paling sering ditemukan di praktek kedokteran gigi. Ulser merupakan suatu luka terbuka dari kulit atau jaringan mukosa yang memperlihatkan disintegrasi dan nekrosis jaringan yang sedikit demi sedikit.

Step 2 (Rumusan Masalah) 1. Bagaimana etiologi iritasi dan trauma pada jaringan lunak rongga mulut? 2. Bagaimana respon tubuh terhadap trauma dan iritasi pada jaringan lunak rongga mulut? 3. Sebutkan dan jelaskan macam-macam lesi pada trauma jaringan lunak rongga mulut? Step 3 Jawaban Rumusan Masalah STEP 3 1. Ada banyak penyebab dari iritasi dan trauma jaringan lunak rongga mulut, yang meliputi: Individu yang memiliki kebiasaan buruk seperti menggigit-gigit mukosa pipi secara tidak sengaja atau tidak sadar.

Iritasi mekanik dari bulu sikat gigi, dimana bulu sikat tersebut memiliki bulu yang kasar dan tidak halus. Gesekan dari makanan ataupun benda yang masuk ke dalam mulut. Berkelahi, saat individu mendapatkan benturan yang hebat dan gigi yang memiliki permukaan yang tajam seperti adanya restorasi, karies klas IV maupun V yang kontak dengan mukosa dan menyebabkan mukosa terluka. Makanan yang memiliki tekstur keras dan tajam. Serta minuman yang terlalu panas. Stress. Gigi yang terletak di luar lengkung rahang yang normal sehingga jaringan lunak selalu tergesek dan tergigit pada saat mengunyah. Kekurangan nutrisi, seperti vitamin B12. Penggunaan gigi tiruan. Paparan radiasi.

2. 3.

Step 4 (Mapping)

TRAUMA

FISIK

TERMA L

ELEKTRI K

KIMIA

RADIASI

PENYAKIT TRAUMA JARINGAN LUNAK RONGGA MULUT

PATOGENESIS

GEJALA KLINIS
Step 5 (Learning Objective)

BAB II PEMBAHASAN

TRAUMA PADA JARINGAN LUNAK RONGGA MULUT Etiologi 1. Trauma Fisik atau Mekanik Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan trauma pada jaringan lunak di rongga mulut, salah satunya adalah trauma fisik atau mekanik. Dimana pada trauma fisik ataupun mekanik terbagi dalam beberapa sebab-sebab lainnya, yaitu: Trauma gigitan Banyak orang menderita luka di dalam mulutnya. Hal tersebut biasanya dilakukan secara tidak disengaja seperti tergigit pada saat makan pada bibir ataupun jaringan lunak yang ada di dalam rongga mulut. Luka gigit pada bibir atau lidah tersebut akibat susunan gigi yang tidak teratur. Sering kali, hal ini dapat menjadi sebuah kebiasaan yang tidak disadari atau dapat terjadi selama tidur. Luka jaringan lunak rongga mulut juga bisa disebabkan karena tertusuk alat ortodonsi atau tepi plat gigi tiruan yang dipasang secara tidak tepat sehingga dapat menimbulkan ulser. Trauma sikat gigi Sikat gigi ternyata adalah salah satu sebab dari trauma jaringan lunak rongga mulut. Cara penggunaan dari sikat gigi yang berlebihan dan cara menyikat gigi yang salah dapat merusak gigi serta melukai jaringan lunak yang ada di dalam rongga mulut. Trauma makanan Banyak jenis makanan yang kita makan dapat menggores ataupun melukai jaringan lunak dalam rongga mulut dan menyebabkan terjadinya ulser. Contohnya adalah keripik singkong yang mempunyai tekstur yang keras dan tajam sehingga saat dimakan dapat melukai jaringan lunak rongga

mulut, selain itu kue kering yang keras, apel dan setelah mengunya permen keras juga dapat melukai jaringan lunak rongga mulut sehingga menimbulkan ulser. 2. Trauma Termal (Panas) Trauma termal atau luka bakar pada rongga mulut sebagian besar disebabkan oleh makanan atau minuman yang panas. Penggunaan microwave meningkatkan angka kejadian luka bakar panas karena dapat membuat makanan yang dingin di bagian luarnya tetapi sangat panas di bagian dalamnya. Pada awal terjadinya trauma termal akan terasa nyeri yang selanjutnya muncul area yang tidak nyeri, hangus, dan kekuningan yang disertai dengan sedikit atau bahkan tidak berdarah. Selanjutnya, area tersebut akan mengalami nekrosis, karena banyak sel yang mati akibat panas, dan mulai mengelupas bahkan bisa mengeluarkan darah. Luka yang melibatkan makanan yang panas biasanya timbul pada palatum atau mukosa lidah bagian posterior berupa area eritema dan ulserasi yang dapat menyisakan epithelium yang nekrosis pada daerah perifer. Selain itu, injuri thermal juga dapat terjadi secara iatrogenik, yaitu overheat instrument yang mengenai mukosa. Efek lebih parah terjadi pada mukosa yang dianestesi, karena pasien tidak dapat merasakan sakit pada mukosa yang berkontak dengan instrumen tersebut.

Lesi luka bakar

3. Trauma kimiawi Trauma kimiawi di dalam rongga mulut biasanya akibat bahan-bahan kedokteran gigi yang digunakan dalam praktek, misalnya aspirin, hidrogen peroksida, silver nitrat, fenol, larutan anestesi, dan bahan perawatan saluran akar. Trauma kimiawi dapat disebabkan karena pemakaian obat-obatan yang bersifat kaustik, seperti obat kumur yang tinggi kandungan alcohol, hydrogen peroksida, atau fenol, dan penggunaan obat aspirin baik tablet maupun topikal pada mukosa sebagai obat sakit gigi. Lesi biasanya terletak pada forniks atau lipatan mukobukal dan gingiva. Area yang terluka berbentuk ireguler, berwarna putih, dilapisi pseudomembran, dan sangat sakit. Area yang terlibat sangat mungkin meluas. Jika kontak dengan agen kimia terjadi cukup singkat, maka lesi yang terbentuk berupa kerut-kerut berwarna putih tanpa nekrosis jaringan. Kontak dalam waktu lama (biasanya dengan aspirin, sodium hipoklorid, dan fenol) dapat menyebabkan kerusakan yang lebih berat dan pengelupasan jaringan yang nekrosis. Mukosa non-keratinisasi yang tidak cekat lebih sering mengalami luka bakar dibandingkan mukosa cekat (Greenberg dan Glick, 2003). Aspirin Acetylsalicylic acid (aspirin) merupakan agen yang biasa menyebabkan trauma kimiawi dalam rongga mulut. Jaringan rongga mulut rusak ketika aspirin diisap pada area lipatan mukobukal dalam jangka waktu yang cukup lama untuk melegakan nyeri gigi. Silver Nitrat Silver nitrat biasa digunakan oleh dokter gigi sebagai agen kauterisasi untuk merawat kasus stomatitis aptosa. Bahan ini mampu meredakan gejala secara instan dengan membakar akhiran saraf pada ulkus. Namun, silver nitrat sering merusak jaringan di sekitarnya dan menghambat penyembuhan atau bahkan dapat menyebabkan nekrosis di lokasi aplikasinya (jarang terjadi). Oleh sebab itu, penggunaan silver nitrat sebaiknya dikurangi.

Sodium Hipoklorid Sodium hipoklorid atau bahan pemutihan gigi, sering digunakan untuk irigasi saluran akar dan dapat menyebabkan ulkus yang cukup parah akibat kontak dengan jaringan lunak di dalam rongga mulut. Hidrogen Peroksida Hidrogen peroksida sering digunakan sebagai bahan irigasi intraoral untuk pencegahan penyakit periodontal. Pada konsentrasi 3%, hidrogen peroksida dapat menyebabkan jaringan nekrosis. Pasta Gigi dan Obat Kumur Beberapa kasus ulserasi dan luka jaringan di dalam mulut telah dilaporkan disebabkan karena salah penggunaan obat kumur dan pasta gigi komersial. Reaksi hipersensitivitas, ulserasi, dan pengelupasan epitel yang tidak biasa terjadi pernah dilaporkan terjadi pada penggunaan pasta gigi yang mengandung kayu manis (cinnamons). Bahan yang menyebabkan reaksi hipersensitivitas diduga adalah kandungan aldehid. Reaksi ini tampak mirip dengan reaksi yang disebabkan oleh bahan kimia lain seperti aspirin dan hidrogen peroksida. Selain itu, ditemukan pula kasus luka bakar di bibir, mulut, dan lidah pada pasien yang menggunakan obat kumur yang mengandung alkohol dan klorheksidin (Greenberg dan Glick, 2003). Smokers Melanosis Individu yang merokok mungkin akan timbul area hiperpigmentasi melanin pada mukosanya tergantung pada jumlah batang rokok sehari-hari. Smokers melanosis paling sering ditemukan di area gingiva anterior pada maksila maupun mandibula. Pigmentasi bervariasi dari warna coklat terang hingga gelap dan tampak difus. Perawatan yang dilakukan adalah biopsi, terutama pada area palatum. Smokers melanosis akan menghilang sedikit demi sedikit selama 3 tahun setelah berhenti merokok (Neville dkk., 2009). Rokok dapat menyebabkan hiperpigmentasi pada melanin di mukosa rongga mulut. Jika dikonsumsi secara terus-menerus, maka derajat pigmentasinya pun semakin meningkat. Pigmentasi bervariasi dari warna

coklat terang hingga gelap dan tampak difus. Hal ini dapat menyebabkan timbulnya trauma kimia dan bisa menyebabkan munculnya lesi. Anesthetic Necrosis Kasus yang jarang terjadi, nekrosis fokal jaringan dapat timbul pada lokasi injeksi anestesi lokal. Predileksi terjadinya lesi pada palatum durum, yang jaringan mukosanya berikatan cekat dengan tulang di bawahnya. Biasanya lesi ini timbul sebagai lesi ulser yang bertepi reguler yang timbul beberapa hari setelah injeksi. Ulser terjadi akibat nekrosis iskemia yang kemungkinan disebabkan karena trauma langsung dari larutan anestesi, vasokonstriksi epinefrin, atau keduanya. Penyembuhan ulser memerlukan waktu beberapa minggu dan terkadang dapat menjadi kronis. Stimulus lokal, misalnya usapan sitologi, cukup untuk merangsang penyembuhan ulser (Neville dkk., 2009). Trauma Radiasi Ulser intraoral juga biasanya muncul selama proses terapi radiasi untuk kanker di area kepala dan leher. Keganasan (paling sering karsinoma sel skuamosa) memerlukan dosis radiasi yang besar (60-70 Gy). Ulser selalu muncul pada daerah yang tersorot sinar radiasi secara langsung. Untuk keganasan seperti lymphoma dengan dosis radiasi lebih rendah (4050 Gy) bersifat tumorisidal, ulser yang muncul serupa namun tidak separah terapi dengan dosis radiasi 60-70 Gy dan durasinya lebih pendek. Ulser akibat radiasi akan bertahan selama proses terapi radiasi. Apabila daerah ulserasi dijaga kebersihannya, spontan healing akan muncul tanpa scar. Sama seperti terapi radiasi, ulser juga akan muncul selama proses kemoterapi, dengan etiologi utama efek samping dari terapi yang mereduksi regenerasi sel basal, sehingga mengakibatkan atrofi mukosa dan ulserasi. Pada kemoterapi, mukosa yang terkena adalah mukosa nonkeratinisasi, seperti mukosa bukal, ventrolateral lidah, palatum mole, dan dasar mulut. Lesi awal berwarna keputihan dengan sedikit deskuamasi pada keratin, yang kemudian menimbulkan atrofi pada mukosa dengan

gambaran edematous dan eritematous. Selanjutnya ulkus akan ditutupi oleh membran fibrinopurulen. Ulkus terasa nyeri dengan sensasi rasa terbakar, serta tidak nyaman Manifestasi oral akibat terapi radiasi adalah oral mucositis yang timbul pada minggu kedua setelah terapi, dan akan sembuh perlahan 2-3 minggu setelah terapi dihentikan. RESPON TUBUH PADA TRAUMA JARINGAN LUNAK RONGGA MULUT Inflamasi merupakan suatu reaksi setempat dari jaringan hidup ata sel terhadap suatu rangsang atau injury (cidera atau jejas). Proses ini diawali dengan kerusakan jaringan yang menyebabkan patogen melewati pertahanan tubuh untuk menginfeksi sel-sel tubuh. Jaringan yang terinfeksi tersebut akan melepaskan histamin dan prostaglandin. Sel yang melepaskan histamin adalah mastosit yang berkembang dari basofil. Histamin yang dilepaskan menyebabkan pelebaran pembuluh darah dan peningkatan kecepatan aliran darah sehingga permeabilitas pembuluh darah meningkat menyebabkan neutrofil, monosit dan eusinifil berpindah dari pembuluh darah ke jaringan yang terinfeksi. Akibatnya, daerah yang terinfeksi akan berwarna kemerahan, panas, bengkak, dan terasa nyeri. Secara mikroskopis, pembulluh darah mengalami konstriksi sementara yang mungkin disebabkan oleh reflek neurogenik setempat yang bisa berkembang tetapi hanya bertahan beberapa menit dan dengan cepat diikuti oleh dilatasi arteriol. Dilatasi arteriol yang berkepanjangan menyebabkan kenaikan aliran darah setempat (hiperemia) dan dilatasi kapiler. Kenaikan permeabilitas kapiler disebabkan oleh dua faktor utama yaitu : a. Dilatasi arteriol menaikkan tekanan hidrostatik kapiler, menyebabkan aliran air lebih besar larut ke dalam cairan intestisial. b. Permeabilitas endotelial venular dan kapiler ditingkatkan, sehingga memungkinkan molekul lebih besar khususnya albumin memasuki jaringan intestisial.

10

Kemudian

terjadi

perlambatan

aliran

darah

kapiler

dan

hemokonsentrasi intravaskuler diikuti hilangnya aliran darah normal. Secara normal, sel-sel darah mengalir ditengah kapiler dengan plasma yang relatif bebas sel menyentuh endotel. Sedangkan sel yang abnnormal akan mengalami penepian leukosit yaitu ke tepi endotel. Pengumpulan selsel merah ke tengah akan membentuk rouleaux. Terjadi perlekatan leukosit pada sel endotel kapiler,diikuti dengan perpindahan aktif oleh gesekan amuboid ke dalam jaringan perivaskuler melalui celah-celah diantara sel endotel. Setelah berada di luar, leukosit berpindah dengan cara kemotaksis, dimana sel tersebut ditarik menuju substansi kimia yang konsentrasinya lebih tinggi. Pergerakan aktif ini menyebabkan akumulasi sejumlah leukosit. Akumulasi ini mudah dilihat dan dikenal secara mikroskopik untuk diagnosa histopatologi radang akut.Fagositosis merupakan fungsi utama leukosit yaitu penelanan, pencernaan dan pembuangan benda-benda asing khususnya bakteri dan sel-sel yang rusak. Setelah terjadinya perubahan permeabilitas pembuluh darah dan akumulasi leukosit, dilanjutkan dengan proses fagositosis. Proses ini memicu sekresi fagosit dengan memicu endogen pirogen yang melepas prostagladin dan merangsang hipotalamus untuk menaikkan suhu. Hal tersebut mengakibatkan adanya demam pada inflamasi. Pembengkakan lokal terjadi karena tekanan osmotik koloid sehingga terjadi peningkatan tekanan darah kapiler. Perbaikan jaringan dilakukan untuk mengganti sel yang hilang atau sel yang mati dengan sel yang hidup. Sel-sel baru ini dapat berasal dari parenkim atau stroma jaringan ikat terjejas. Karena kemampuan regenerasi manusia yang terbatas sehingga hanya pada beberapa jenis sel yang mampu melakukan regenerasi dan hanya pada keadaan tertentu saja. Pemulihan sel yang mati biasanya melibatkan poliferasi jaringan ikat disertai pembentukan jaringan parut. Pembentukan fibroblas dapat meningkatkan sintesis kolagen. Sintesis kolagen yang meningkat mengakibatkan adanya penimbunan

11

kolagen meningkat dan terjadi keloid. Keloid ini tidak bisa hilang dengan sendirinya, sehingga perlu dilakukan pengambilan cairan dalam keloid tersebut. Berbeda dengan jaringan parut, jaringan ini berasal dari pembengkakan permeabilitas pembuluh darah yang kemudian terbentuk fibrin yang menutup luka dan terjadi kalsifikasi sehingga menjadi jaringan parut dan bisa hilang. LESI TRAUMA JARINGAN LUNAK RONGGA MULUT 1. Luka Bakar Akibat Aspirin (Aspirin Burn) Aspirin burn ini disebabkan oleh trauma kimia, dimana berbagai bahan kimia atau obat terutama aspirin yang diletakkan di sulkus untuk mencoba meredakan sakit gigi. Aspirin burn ini diakibatkan oleh pengelupasan mukosa karena koagulasi protein dalam sel epitel superficial. Adapaun gambaran klinis dari aspirin burn ini adalah lesi putih dengan lapisan mukosa yang terlokalisir, biasanya di sulkus bukal dan di dekat mukosa bukal atau seringkali di sepanjang gigi yang mengalami karies.

Gambar 1. Lesi yang disebabkan oleh Aspirin Burn

2. LEUKOPLAKIA

12

Leukoplakia merupakan salah satu kelainan yang terjadi di mukosa rongga mulut. Leukoplakia adalah sebuah kondisi dimana munculnya penebalan, berwarna putih di gusi, di pipi bagian dalam, dan terkadang di lidah. Bentuk bercak putih yang tebal ini tidak bisa dibuang dengan guratan. Faktor-faktor yang berperan adalah iritasi kimia melalui tembakau atau faktor mekanis melalui pemasangan gigi palsu yang tidak baik, alkohol dan infeksi Candida Y3 terkena iritan terusmenerus (penggemar pizza panas) dan Human Papiloma Virus sero tipe 16. ETIOLOGI Etiologi dari leukoplakia sampai sekarang belum diketahui dengan pasti, tetapi predisposisi terdiri dari berbagai faktor yaitu faktor lokal, faktor sistemik dan malnutrisi vitamin. Faktor lokal yang diduga sebagai predisposisi terjadinya leukoplakia diantaranya adalah trauma yang menyebabkan iritasi kronis misal trauma akibat gigitan tepi atau akar gigi yang tajam, iritasi dari gigi yang malposisi, kebiasaan Faktor lokal jelek menggigit-gigit jaringan mulut, pipi, maupun lidah. yang lain adalah kemikal atau termal, misalnya pada

penggunaan bahan-bahan yang kaustik mungkin diikuti oleh terjadinya leukoplakia dan perubahan keganasan. Kemungkinan lain adalah adanya penyakit sistemik, misalnya sipilis. Pada penderita dengan penyakit sipilis pada umumnya ditemukan adanya syphilis glositis. Candidiasis yang kronik dapat menyebabkan terjadinya leukoplakia. Selain faktor-faktor predisposisi yang dikemukakan, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya leukoplakia antara lain tembakau, alkohol dan bakteri. Dalam proses terjadinya iritasi pada jaringan mukosa mulut oleh tembakau tidak hanya disebabkan oleh asap rokok dan panas yang terjadi pada waktu merokok, tetapi dapat juga

13

disebabkan oleh zat-zat yang terdapat di dalam tembakau yang ikut terkunyah. Telah banyak diketahui bahwa alkohol merupakan salah satu faktor yang memudahkan terjadinya leukoplakia, karena pemakaian alkohol dapat menimbulkan iritasi pada mukosa. Leukoplakia juga dapat terjadi karena adanya infeksi bakteri, penyakit periodontal yang disertai higiene mulut yang jelek. GAMBARAN KLINIS Penderita leukoplakia tidak mengeluhkan rasa nyeri, tetapi lesi pada mulut tersebut sensitif terhadap rangsangan sentuh, makanan panas dan makanan yang pedas. Dari pemeriksaan klinis, ternyata oral leukoplakia mempunyai bermacam-macam bentuk. Secara klinis lesi ini sukar dibedakan dan dikenal pasti karena banyak lesi lain yang memberikan gambaran yang serupa serta tanda-tanda yang hampir sama. Lesi ini sering ditemukan pada daerah alveolar, mukosa lidah, bibir, palatum lunak dan keras, daerah dasar mulut, gingival, mukosa lipatan bukal, serta mandibular alveolar ridge. Secara klinis, lesi tampak kecil, berwarna putih, terlokalisir, barbatas jelas, dan permukaannya tampak melipat. Bila dilakukan palpasi akan terasa keras, tebal, berfisure, halus, datar atau agak menonjol. Kadang-kadang lesi ini dapat berwarna seperti mutiara putih atau kekuningan. Pada perokok berat, warna jaringan yang terkena berwarna putih kecoklatan. Ketiga gambaran tersebut di atas lebih dikenal dengan esbutan speckled leukoplakia. Leukoplakia dapat dibagi menjadi 3 stadium, yaitu homogenous leukoplakia, erosif leukoplakia, speckled atau verocuos leukoplakia. Homogenous leukoplakia merupakan bercak putih yang kadang-kadang berwarna kebiruan, permukaannya licin, rata, dan berbatas jelas. Pada tahap ini, tidak dijumpai adanya indurasi. Gambar 2: homogenous leukoplakia

14

Erosif leukoplakia berwarna putih dan mengkilat seperti perak dan pada umumnya sudah disertai dengan indurasi. Pada palpasi, permukaan lesi mulai terasa kasar dan dijumpai juga permukaan lesi yang erosive. Speckled putih, tetapi atau verocuos mengkilat. leukoplakia Timbulnya merupakan indurasi stadium leukoplakia dimana permukaan lesi tampak sudah menonjol, berwarna tidak menyebabkan permukaan menjadi kasar dan berlekuk-lekuk. Saat ini, lesi telah dianggap berubah menjadi ganas. Karena biasanya dalam waktu yang relatif singkat akan berubah menjadi tumor ganas seperti squamus sel karsinoma, terutama bila lesi ini terdapat di lidah dan dasar mulut.

GGambar : leukoplakia pada lidah. GAMBARAN HISTOPATOLOGIS Pemeriksaan histopatologis, akan tampak adanya perubahan keratinisasi sel epitelium, terutama pada bagian superfisial.Secara mikroskopis, perubahan ini dapat dibedakan menjadi 5 bagian, yaitu hiperkeratosis, hiperparakeratosis, akantosis, diskeratosis atau displasia, carcinoma in situ. Pada hiperkeratosis proses ini ditandai dengan adanya suatu peningkatan yang abnormal dari lapisan ortokeratin atau stratum corneum, dan pada tempat-tempat tertentu terlihat dengan jelas. Dengan adanya

15

sejumlah ortokeratin pada daerah permukaan yang normal maka akan menyebabkan permukaan epitel rongga mulut menjadi tidak rata, serta memudahkan terjadinya iritasi. Parakeratosis dapat dibedakan dengan ortokeratin dengan melihat timbulnya pengerasan pada lapisan keratinnya. Parakeratin dalam keadaan normal dapat dijumpai di tempat-tempat tertentu di dalam rongga mulut. Apabila timbul parakeratosis di daerah yang biasanya tidak terdapat penebalan lapisan parakeratin maka penebalan parakeratin disebut sebagai parakeratosis. Dalam pemeriksaan histopatologis, adanya ortokeratin, parakeratin, dan hiperparakeratosis kurang dapat dibedakan antara satu dengan yang lainnya. Meskipun demikian, pada pemeriksaan yang lebih teliti lagi akan ditemukan hiperortokeratosis, yaitu keadaan di mana lapisan granularnya terlihat menebal dan sangat dominan. Sedangkan hiperparakeratosis sendiri jarang ditemukan, meskipun pada kasus-kasus yang parah. Akantosis adalah suatu penebalan dan perubahan yang abnormal dari lapisan spinosum pada suatu tempat tertentu yang kemudian dapat menjadi parah disertai pemanjangan, penebalan, penumpukan dan penggabungan dari retepeg atau hanya kelihatannya saja. Terjadinya penebalan pada lapisan stratum spinosum tidak sama atau bervariasi pada tiap-tiap tempat yang berbeda dalam rongga mulut. Bisa saja suatu penebalan tertentu pada tempat tertentu dapat dianggap normal, sedang penebalan tertentu pada daerah tertentu bisa dianggap abnormal. Akantosis kemungkinan berhubungan atau tidak berhubungan dengan suatu keadaan hiperortikeratosis maupun parakeratosis. Akantosis kadang-kadang tidak tergantung pada perubahan jaringan yang ada di atasnya. Pada diskeratosis, terdapat sejumlah kriteria untuk mendiagnosis suatu displasia epitel. Meskipun demikian, tidak ada perbedaan yang jelas antara displasia ringan, displasia parah, dan atipia yang mungkin dapat menunjukkan adanya suatu keganasan atau berkembang ke arah karsinoma in situ. Kriteria yang digunakan untuk mendiagnosis adanya displasia

16

epitel adalah: adanya peningkatan yang abnormal dari mitosis; keratinisasi sel-sel secara individu; adanya bentukan epithel pearls pada lapisan spinosum; perubahan perbandingan antara inti sel dengan sitiplasma; hilangnya polaritas dan disorientasi dari sel; adanya hiperkromatik; adanya pembesaran inti sel atau nucleus; adanya dikariosis atau nuclear atypia dan giant nuclei; pembelahan inti tanpa disertai pembelahan sitoplasma; serta adanya basiler hiperplasia dan karsinoma intra epitel atau carcinoma in situ. Carsinoma in situ secara klinis tampak datar, merah, halus, dan granuler. Mungkin secara klinis carcinoma in situ kurang dapat dilihat. Hal ini berbeda dengan hiperkeratosis atau leukoplakia yang dalam pemeriksaan intra oral kelainan tersebut tampak jelas. Pada umumnya, antara displasia dan carsinoma in situ tidak memiliki perbedaan yang jelas. 3. DENTURE STOMATITIS Denture stomatitis atau denture sore mouth sering terjadi pada pasien yang menggunakan gigi tiruan dalam jangka waktu lama. Lesi ini biasanya ditemukan pada palatum. Gambaran klinis berupa mukosa yang tertutup plat gigi tiruan edema berwarna merah dengan titik-titik putih yang merupakan akumulasi Candida albicans atau sisa makanan. Beberapa kasus tidak menimbulkan gejala pada pasien, namun ada beberapa yang mengeluhkan sensasi rasa terbakar dan nyeri. Penyebab yang biasa terjadi karena iritasi gigi tiruan, sisa-sisa makanan yang menumpuk di bawah permukaan plat gigi tiruan dan infeksi Candida albicans. Perawatan yang perlu dilakukan adalah memperbaiki gigi tiruan dan menjaga kebersihan mulut dengan baik.

17

Gambar ; Denture Stomatitis (Pocket Atlas of Oral Disease , 2nd revised and enlarged edition) 4. TOOTHBRUSH INJURY Trauma dari sikat gigi disebabkan iritasi mekanis dari bulu sikat gigi pada margin gingival dan gingival cekat. Lokasi lesi ini dapat ditemukan pada seluruh permukaan gingival, namun yang paling sering terjadi pada gingival rahang atas di antara gigi kaninus dan premolar (karena pada lokasi ini biasanya menggunakan tekanan maksimal selama menyikat gigi). Penampakan klinis lesi berupa erosi tunggal dengan area eritematous, berwarna putih atau merah, dan beberapa menyebabkan rasa sakit. Lesi ini tidak memerlukan perawatan, namun mengurangi factor local dengan memperbaiki cara menyikat gigi. 5. ULKUS KEMOTERAPEUTIK Termasuk jesnis lesi ulseratif. Pasien yang menerima obat=obatan imunosupresan untuk berbagai penyakit serius, termasuk transplantasi organ, kondisi autoimun, atau neoplasma, dapat mengalami ulserasi oral dan stomatitis. Efek samping dari obat kemoterapeutik dapat langsung atau tidak langsung berbahasya untuk mukosa mulut. Antimetabolit seperti methotrexate bisa menghambat pembelahan sel-sel yang cepat, termasuk

18

epitel mulut, sedangkan alkaloid seperti cyclophosphamide mengakibatkan leukopenia dan pembentukan ulkus sekunder. Ulkus kemoterapeutik , suatu tanda awal dari keracunan obat, timbul selama minggu kedua dari terapi dan biasanya menetap selama 2 minggu. Ulkus-ulkus ini dapat terjadi pada setiap daerah mukosa mulut. Terjadi paling sering pada bibir, mukosa pipi, lidah, dasar mulut dan palatum. Pada awalnya daerah tersebut memerah dan rasa terbakar. Epitel permukaan hilang dan terbentuknya ulkus yang biasanya besar, dalam, nekrotik, dan sakit. Tepi-tepi ulkus tidak teratur dan seringkali tidak ada tepi radang merah yang khas, karena kurangnya respon radang oleh pasien. Jika sakitnya menjadi parah dan nutrisi serta cairan tidak cukup maka dosis obat harus dikurangi. Kultur sangat dianjurkan untuk semua lesi karena kecenderungannya untuk terinfeksi organisme gram negatid dan jamur, karena kemiripannya. Maka ulkus-ulkus tersebut dapat menyerupai kekambuhan dari virus herpes simplek laten. Anestesi topikal dipai untuk mengurangi gejala , sedangkan tindakan kebersihan mulut, termasuk bahan-bahan antimikrobial seperti klorheksidin penting untuk mencegah sekunder, nekrosis jaringan lunak dan nekrosis tulang. Konsultasi dan komunikasi terbuka antara dokter umum dan dokter gigi dapat membantu mengurangi komplikasi dan meningkatkan kenyamanan mulut.

6. LESI TRAUMATIK Lesi traumatic dapat disebabkan oleh berbagai iritasi fisik dan kimia, seperti trauma gesek, panas maupun penggunaan cairan kaustik yang berlebihan.Trauma geseksering tampak pada gusi cekat, hal itu disebabkan karena penyikatan gigi yang berlebihan. Lama kelamaan mukosa menjadi menebal dengan suatu permukaan putih yang menjadi kasar. Sakit umumnya tidakada dan pemeriksaan histopatologis menggambarkan hyperkeratosis.

19

Trauma hebat dapat mengakibatkan lesi putih karena hilangnya lapisan-lapisan superficial dari epitel mukosa.Di bawah putihnya ada permukaan yang kasar, merah atau berdarah.Secara khas lesi-lesi traumatic akut tampak sebagai bercak-bercak putih dengan tepi-tepi difuse.Mukosa yang dapat digerakkan lebih rawan terhadap trauma daripada mukosa cekat. Sakit yang mengenai lapisan kulit dibagian bawah dapat mengakibatkan suatu respon penyembuhan fibrosa atau jaringan parut. Jaringan-jaringan parut sering kali tanpa gejala, linear, merah muda pucat dan berbatas jelas.Riwayat yang lengkap dapat menunjukkan cedera sebelumnya, penyakit ulseratif yang kambuhan, dan gangguan kejang.

Gambaran lesi traumatik

7. LINEA ALBA BUKALIS Linea alba bukalis (white line) adalah kondisi yang paling sering muncul di sepanjang mukosa bukal setinggi dataran oklusal gigi rahang atas dan rahang bawah yang disebabkan adanya tekanan, iritasi gesekan, dan trauma dari permukaan gigi (Neville dkk., 2009). Linea alba berbentuk garis putih keabuan memanjang di mukosa bukal, biasanya

20

bilateral di kanan dan kiri, berawal dari sudut mulut hingga gigi posterior. Penampakan klinis berupa warna putih keabuan disebabkan hiperkeratosis epitel. Lesi ini tidak berbahaya dan tidak memerlukan perawatan berarti (Neville dkk., 2009).

8. KERATOSIS TRAUMATIK

Keratosis traumatik mengacu pada daerah lokal dengan mukosa mulut yang keputhian danmenebal, yang jelas sekali berhubungan dengan iritan lokal yang dapat diidentifikasi. Secara histologist, lesi ini menunjukkan adanya derajat hiperkeratosis. Keratosis traumatik khususnya, biasa dijumpai dengan cengkeram gigi tiruan, tepi-tepi yang

21

kasar dari gigi tiruan dan gigi yang fraktur, pada bibir perokok berat, dan pada mukosa bukal yang berhadapan dengan gigi molar. Pada keratosis traumatik ini ditandai dengan adanya lesi putih dengan tepi yang difuse. Dimana lesi putih merupakan daerah abnormal pada mukosa mulut yang pada pemeriksaan klinis tampak lebih putih daripada jaringan sekitarnya dan agak lebih tinggi dari sekitarnya, lebih kasar. Lesi ini disebabkan karena adanya peningkatan ketebalan epidermis yang ditutupi dengan peningkatan produksi keratin (hiperkeratosis) atau produksi keratin yang abnormal. 9. MORSICATIO BUCCARUM Lesi putih pada rongga mulut ini disebabkan adanya iritasi kronis akibat mengisap-isap atau menggigit-gigit pipi. Hal tersebut akan menyebabkan area trauma menjadi lebih tebal, luka, dan lebih pucat daripada jaringan di sekitarnya. Lesi ini seringkali muncul pada orang yang sedang mengalami stress tinggi atau orang yang mempunyai kebiasaan menggigit-gigit pipi, bibir maupun lidah . Penampakan klinis dari lesi ini sering ditemukan bilateral pada mukosa bukal, namun ada juga yang unilateral dikombinasikan dengan adanya lesi pada bibir, lidah, atau keduanya. Area putih menebal seperti bekas cabikan didominasi dengan area eritematous dan permukaan yang kasar. Pemeriksaan histopatologis hasil biopsi menyatakan adanya hiperkeratosis yang menyebar dengan jumlah keratin yang banyak. Tidak ada perawatan yang perlu dilakukan selama lesi dirasa tidak mengganggu pasien. Apabila pasien memerlukan perawatan dapat dilakukan dengan membuat cetakan akrilik yang menutupi permukaan fasial gigi untuk menghindari akses mukosa bukal.

22

Sumber : Textbook of Oral Pathology , Sanjay Saraf , halaman 7 , 2006 ,

DAFTAR PUSTAKA

23

Langlais, Robert P. dan Crain S. Miller. 2000. Atlas Bewarna Kelainan Rongga Mulut yang Lazim George Laskaris, M.D., D.D.S., Ph.D. 2006.Pocket Atlas of Oral Disease , 2nd revised and enlarged edition. Thieme . Stuttgart New York Saraf, Sanjay . 2006 . Textbook of Oral Pathology Lynch, Malcolm A. 1992. Ilmu Penyakit Mulut : Diagnosis dan Terapi. Jakarta : Binarupa Aksara.

24

Anda mungkin juga menyukai