Anda di halaman 1dari 43

Status Gizi Balita di Sulawesi Selatan

Status gizi balita merupakan salah satu indikator yang menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Salah satu cara penilaian status gizi pada Balita adalah dengan anthropometri yang diukur melalui indeks Berat Badan menurut umur (BB/U) atau berat badan terhadap tinggi badan (BB/TB). Kategori yang digunakan adalah: gizi lebih (z-score>+2 SD); gizi baik (z-score-2 SD sampai +2 SD); gizi kurang (z-score<-2 SD sampai -3 SD) dan gizi buruk (z-score<-3 SD). Sejak tahun 1992 untuk mengukur keadaan gizi anak balita digunakan standar WHO-NCHS untuk index berat badan menurut umur. Namun dari beberapa studi/survei yang melakukan pengukuran berat badan dan tinggi badan (BB/TB), pada umumnya, pengukuran BB/TB menunjukkan keadaan gizi kurang yang lebih jelas, dan sensitif/peka dibandingkan prevalensi berdasarkan pengukuran berat badan menurut umur seperti hasil dari pengukuran prevalensi gizi kurang menurut BB/TB (wasting) sesudah tahun 1992 berkisar antara 10 &ndash; 14 %. Klik judul untuk membaca selengkapnya Masalah gizi kurang pada anak balita dikaji kecenderungannya menurut Susenas dan survei atau pemantauan lainnya. Secara nasional, menurut Susenas tahun 1989, prevalensi gizi buruk dan kurang pada balita adalah 37,5 % menurun menjadi 24,7 % tahun 2000, yang berarti mengalami penurunan sekitar 34 %. Dari hasil Susenas 2001 di Indonesia, persentase Balita yang bergizi baik adalah sebesar 64,14%, yang bergizi sedang 21,51% dan sisanya 9,35% adalah Balita bergizi kurang/ buruk atau yang dikenal dengan istilah Kurang Kalori Protein (KKP). Bila dibandingkan menurut jenis kelamin, persentase balita perempuan bergizi baik relatif lebih tinggi daripada balita laki-laki, demikian pula gizi kurang/buruk lebih tinggi pada balita laki-laki dibandingkan balita perempuan. Di Sulawesi Selatan, untuk menanggulangi masalah gizi atau untuk memperoleh gambaran perubahan tingkat konsumsi gizi di tingkat rumah tangga dan status gizi masyarakat dilaksanakan beberapa kegiatan seperti Pemantauan Konsumsi Gizi (PKG) dan Pemantauan Status Gizi (PSG) di seluruh kabupaten/kota. Hasil Pemantauan Status Gizi yang dilaksanakan pada tahun 2001 menggambarkan 84,7 % anak yang berstatus gizi baik, 11,3 % anak yang berstatus gizi kurang, 1,0 % anak yang berstatus gizi buruk dan 3,1 % anak yang berstatus gizi lebih. Sedangkan untuk tahun 2004, menurut laporan yang diterima oleh Subdin Bina Kesehatan Keluarga dan KB Dinkes Prov. Sulsel tercatat bahwa jumlah KEP sebesar 13,48% (PSG, 2004). Menurut hasil Survey Gizi Mikro Tahun 2006 balita gizi buruk tercatat sebesar 9%, sedangkan KEP total sebesar 28,5%. Secara umum prevalensi gizi buruk di Sulawesi Selatan menurut hasil Riskesdas adalah 5,1% dan gizi buruk 12,5% dari 23 kab./kota terdapat delapan kab./kota yang diatas angka provinsi dan Sulawesi Selatan sudah mencapai target pencapaian program perbaikan gizi pada RPJM 2015 sebesar 20% Pada kasus gizi buruk di Sulawesi Selatan pada tahun 2008 dengan adanya gejala klinis terbagi atas 3 jenis, yaitu marasmus, kwashiorkor, dan gabungan marasmik-kwashiorkor. Jumlah kasus gizi buruk berdasarkan ke tiga jenis tersebut di Sulsel pada tahun 2008 sebanyak 95 kasus, empat kabupaten/kota dengan kasus terbanyak antara lain Bone (16 kasus), Pinrang (15 kasus), Wajo (11 kasus), dan Jeneponto sebanyak (8 kasus). Kasus gizi buruk yang sebanyak 95 itu terdiri dari marasmus (48 kasus), kwashiorkor (25 kasus), dan marasmikkwashiorkor (22 kasus). Marasmus adalah gizi buruk yang disertai tanda-tanda seperti badan sangat kurus (kulit membungkus tulang), wajah seperti orang tua (pipi kempot,

mata terlihat cekung), cengeng dan rewel, iga gambang, perut cekung, tulang belakang terlihat menonjol, kulit keriput, jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada dan sering disertai penyakit infeksi serta diare. Kasus gizi buruk jenis marasmus di Sulsel pada tahun 2008 sebanyak 48 kasus, empat kabupaten/kota terbanyak antara lain Pinrang 12 kasus, Bone 11 kasus, Luwu Timur 7 kasus dan Jeneponto sebanyak 6 kasus. Kwashiorkor adalah keadaan gizi buruk yang disertai tanda-tanda klinis seperti edema di seluruh tubuh, rambut tipis, wajah membulat dan sembab. Kasus gizi buruk jenis kwashiorkor ditemukan terbanyak pada Kab. Wajo (5 kasus), Soppeng, Pinrang, Selayar, Bulukumba dan Bantaeng masing-masing (3 kasus). Sedangkan gizi buruk jenis marasmik- kwashiorkor (M+K) adalah gizi buruk dengan gambaran klinis yang merupakan campuran dari beberapa gejala klinis kwashiorkor dan marasmus dengan BB/U <60% baku median WHO-NCHS disertai edema yang tidak mencolok. Kasus M+K di Sulsel pada tahun 2008 terbanyak di Kab. Enrekang (7 kasus), Pangkep (6 kasus), dan Bone (5 kasus). CFR gizi buruk di Sulawesi Selatan pada tahun 2008 sebesar 1,1%, artinya setiap 100 kasus gizi buruk meninggal 1 orang. Kematian dengan kasus gizi buruk dapat dilihat pada peta dengan tanda titik, satu mewakili 3 kematian. Situasi gizi buruk di Sulsel pada tahun 2009 berdasarkan profil kesehatan Kab./Kota tercatat sebanyak 2.825 orang (24,92% yang mendapat perawatan). DINKES SULAWESI SELATAN http://dinkes-sulsel.go.id/new Powered by Joomla! Generated: 6 February, 2012, 15:09

Cara menghitung berat badan yang ideal

Overweight atau berat badan berlebih berbeda dari obesitas. Seseorang dikatakan Overweight jika berat tubuhnya 10% berada di atas berat idealnya. Sedangkan obesitas adalah berat tubuh yang 20% lebih daripada berat idealnya, dan lebih ditandai oleh lemak tubuh yang berlebihan. Banyak orang yang bekerja dengan duduk setiap hari, tidak aktif olahraga secara rutin dan tidak Overweight, tetapi tubuhnya mengandung terlalu banyak lemak.

Konsep modern tentang berat tubuh ideal menyatakan bahwa berat tubuh yang ideal bagi seorang wanita pada umur 22 tahun, harus dipertahankan seumur hidupnya. Sedangkan untuk pria, berat tubuh ideal pada umur 25 tahunlah yang harus tetap dipertahankan. Ada tiga cara yang praktis walaupun tidak ilmiah untuk mencari tahu apakah Anda Overweight atau tidak. 1. Tes Cermin: Jika semakin bercermin Anda kelihatan gemuk, kemungkinan Anda memang kegemukan.

2. Tes Cubit:

Cobalah cubit kulit di belakang lengan atas Anda. Berat badan Anda normal jika tebal lemakpun adalah antara 1,02,5 cm. Kurang atau lebih dari itu menunjukkan bahwa Anda terlalu kurus atau terlalu gemuk.

3. Tes Loncat: Cobalah meloncat di tempat. Jika ada bagian tubuh Anda yang seharusnya tidak ikut berguncang tapi ikut berguncang maka yang ikut berguncang itu adalah lemak. Cara yang lain adalah dengan mengurangi tinggi badan Anda (cm) dengan 100 dan hasilnya dikurangi 10%-nya. Contoh: Seorang yang mempunyai tinggi badan 166 cm, memiliki berat badan yang ideal sebesar: (166 = 100) (166 = 10% 100) (166 (10/100 = x 100) 66) 6,6 59,4.

66

Jadi, berat badan ideal untuk orang yang mempunyai tinggi badan 166 cm adalah 59,4 kg. Akan tetapi, ini pun tidak mutlak sebab ini adalah berat rata-rata. Dan, boleh saja seseorang tidak terlalu tinggi tapi berotot besar sehingga perhitungannya dapat menunjukkan bahwa dia overweight akan tetapi tubuhnya tidak terlalu berlemak. Atau mungkin tulang-tulangnya besar dan berat, atau mungkin juga sebaliknya dimana tulang-tulangnya lebih kecil daripada ukuran rata-rata. Inilah sebabnya mesti diperlukan satu tabel yang telah mempertimbangkan hal-hal itu.

Tabel berikut ini adalah tabel tinggi-berat badan yang dibuat dengan mempertimbangkan hal-hal di atas dan yang telah dicocokkan dengan tubuh orang-orang Asia Tenggara. Jadi, cocokkanlah tinggi tubuh Anda dengan berat badan Anda. Contoh: Jika tinggi Anda (pria) 166 cm, maka berat ideal 10% di atas 64,4 kg atau sekitar 71 kg ke atas. Sedangkan obesitas adalah di atas 77,3 kg ( 20% di atas 64,4 kg).

Pertahankanlah berat tubuh Anda agar tetap berada dalam kisaran ukuran berat badan yang ideal. Jangan tergoda untuk mempercayai sebutan populer yang mengatakan: Gemuk berarti makmur. Tubuh yang gemuk boleh jadi berarti makmur dari segi kandungan lemaknya, namun belum tentu makmur dari segi kesehatannya.

Read more: http://www.suriansyah.com/2012/12/cara-menghitung-berat-badan-yangideal.html#ixzz2Vb2hrpMc Related Content

Lihat Foto

It's Not Just About the ScaleWhen losing weight, you really want to be losing BMI atau body mass index seseorang, diukur berdasarkan berat dan tinggi badan. Perhitungan ini dilakukan untuk mengetahui apakah berat badan seseorang underweight (di bawah normal), normal, overweight (di atas normal), atau obese (jauh di atas normal). BMI tidak diukur berdasarkan jenis kelamin ataupun usia. BMI juga tidak bisa dihitung jika orang tersebut dalam keadaan hamil, pada olahragawan, dan anak-anak, karena mereka masih dalam tahap tumbuh kembang. Rumus perhitungan BMI adalah:
berat badan : (tinggi badan/100)2 Sebagai contoh, jika berat badan seseorang 50 kg dan tinggi badannya 160 cm, cara menghitung BMInya sebagai berikut: BMI = 50 dibagi (160/100)2 = 50:2,56 = 19,53

Jika hasil perhitungannya di bawah 17, orang tersebut dikatakan underweight. Jika angkanya antara 18 hingga 21, maka indeks massa tubuhnya normal. Jika angkanya di atas 25, orang tersebut overweight, dan jika di atas 29 artinya orang tersebut sudah mengalami obesitas. Underweight Underweight atau berat badan dibawah normal bisa disebabkan oleh beberapa hal, seperti faktor genetik, mengalami penyakit tertentu (misalnya diabetes), kekurangan nutrisi, atau mengalami gangguan pola makan seperti anoreksia ataupun bulimia. Agar berat badan bisa kembali normal, hal pertama yang harus dilakukan ialah mencari apa yang menjadi penyebabnya, misalnya jika ternyata orang tersebut mengalami anoreksia atau diabetes, gangguan tersebut harus disembuhkan lebih dulu. Normal weight Pertahankan berat badan yang normal dengan menjaga asupan Anda. Konsumsilah protein, lemak dan karbohidrat secukupnya, perbanyak makan sayuran, buah, dan banyak minum air putih, setidaknya 8 gelas sehari. Air amat dibutuhkan, karena 90% tubuh terdiri dari air. Dengan jumlah air yang cukup, lambung akan merespon dengan memberikan rasa kenyang, sehingga bisa membantu menekan selera makan. Olahraga dan istirahat yang cukup juga diperlukan. Istirahat yang baik ialah dengan tidur nyenyak 5-8 jam di malam hari. Jika Anda mendengkur saat tidur atau sering terbangun, artinya tidur Anda kurang berkualitas. Hindari begadang karena justru akan membuat tubuh menjadi gemuk, karena metabolisme tubuh Anda yang seharusnya beristirahat, malah bekerja. Overweight dan obese Kegemukan diawali dengan pola makan yang tidak sehat, misalnya terlalu banyak mengonsumsi makanan yang mengandung protein hewani (seperti daging merah) dan yang tinggi karbohidrat (seperti nasi, mi, dan pasta). Lemak yang menumpuk, terutama di sekitar pinggang, bisa memicu banyak penyakit, seperti diabetes, tekanan darah tinggi, gangguan kolesterol, dan asam urat. Penyakit-penyakit tersebut bisa menyebabkan terbentuknya plak pada pembuluh darah yang akan memicu penyakit jantung koroner, ujar dr. Witri Rahmania. Jika Anda mengalami kelebihan berat badan, segera turunkan secara perlahan dan bertahap. Yang paling penting adalah dengan menjaga pola makan, yaitu mengurangi karbohidrat, mengonsumsi lebih banyak serat, banyak minum air putih, dan berolahraga secara teratur.

LAPORAN PRAKTIKUM PENILAIAN STATUS GIZI ANTROPOMETRI


(IMT, WHR, %BODY FAT, LILA, LINGKAR PERUT DAN PREDIKSI TINGGI BADAN)

OLEH : RUKAYAH K21111002 KELOMPOK B1

PROGRAM STUDI ILMU GIZI FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2012
BAB I PENDAHULUAN

I. 1 Latar Belakang Antropometri merupakan ilmu yang mempelajari berbagai ukuran tubuh manusia. Dalam bidang ilmu gizi digunakan untuk menilai status gizi. Ukuran yang sering digunakan adalah berat badan dan tinggi badan. Selain itu juga ukuran tubuh lainnya seperti lingkar lengan atas, lapisan lemak bawah kulit, tinggi lutut, dan lingkar perut. Ukuran-ukuran antropometri tersebut bisa berdiri sendiri untuk menentukan status gizi disbanding baku atau berupa indeks dengan membandingkan ukuran seperti BB/U, BB/TB, TB/U1[1]

1[1] Sandjaja, dkk. 2010. Kamus Gizi.

Antropometri merupakan bidang ilmu yang berhubungan dengan dimensi tubuh manusia. Dimensi-dimensi ini dibagi menjadi kelompok statistika dan ukuran persentil. Jika seratus orang berdiri berjajar dari yang terkecil sampai terbesar dalam suatu urutan, hal ini akan dapat diklasifikasikan dari 1 percentile sampai 100 persentil. Data dimensi manusia ini sangat berguna dalam perancangan produk dengan tujuan mencari keserasian produk dengan manusia yang memakainya.2[2] Antropometri adalah pengukuran dimensi fisik tubuh manusia pada usia yang berbeda Antropometri adalah kesehatan anak yang efektif dan sering dilakukan dan gizi skrining nilai procedure.The data pertumbuhan fisik tergantung pada akurasi dan reliabilitas, bagaimana mereka dicatat dan diinterpretasikan, dan apa tindak lanjut upaya yang dilakukan setelah identifikasi gangguan pertumbuhan.3[3] Antropometri adalah ilmu pengukuran dan seni aplikasi yang menetapkan geometri fisik, massa sifat dan kemampuan kekuatan tubuh manusia (Leilanie dan Prado, 2007). The antropometri Data memberikan informasi penting dalam produk / peralatan dan tempat kerja / workstation desain (Hanson et al, 2009.; Tayyari, 2000).4[4] Data antropometri dianggap lebih kritis dalam merancang untuk sekelompok penduduk yang beragam seperti di Malaysia di mana ia melibatkan tiga kelompok etnis utama. Serupa dengan Lin et al. (2004) studi, itu akan menarik untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan dalam berarti dimensi tubuh dan proporsi tubuh ini tiga etnis. Namun, ada kekurangan yang cukup Data antropometrik yang melibatkan para etnis di Malaysia. Hal ini mungkin karena alasan pengeluaran tinggi dan waktu mengkonsumsi aspek dalam menjalankan data antropometri proses pengumpulan. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan data antropometri di Malaysia. Itu Tujuan dari studi ini adalah untuk mengembangkan antropometrik database untuk Melayu, Cina dan India dewasa di Malaysia. Tujuan kedua adalah untuk identitas statistik signifikan antara sarana antropometri dimensi antara ketiga etnis dan tujuan ketiga

2[2] Nugroho, Adi. 2002. Pengaruh Faktor Usia, Status Gizi dan Pendidikan Terhadap International Prostat Symptom pada Penderita Hiperplasia. 3[3]Deniz Nazire, 2007. Antrhropometric measurements and body composition without metabolic syndrome. analysis of obese adolescents with and

4[4] Karmegam, dkk., 2011. Antropometrik studi di kalangan orang dewasa yang berbeda etnis di Malaysia.

adalah untuk mengidentifikasi mana perbedaan berbohong dan tingkat signifikansi dalam tiga etnis.4 Bidang antropometri meliputi berbagai pengukuran tubuh manusia, seperti berat, tinggi badan, dan ukuran, termasuk ketak ketebalan, keliling, panjang, dan breadths. Antropometri adalah komponen kunci dari penilaian status gizi pada anak-anak dan orang dewasa (1). Antropometrik data untuk anak mencerminkan status kesehatan umum, kecukupan makanan, dan pertumbuhan dan perkembangan dari waktu ke waktu. Pada orang dewasa, tubuh data pengukuran yang digunakan untuk mengevaluasi status kesehatan dan diet, risiko penyakit, dan perubahan komposisi tubuh yang terjadi selama umur dewasa. Laporan ini menyediakan data referensi antropometrik untuk anak-anak AS dan orang dewasa dari segala usia dilakukan di pusat-pusat pemeriksaan mobile. Pusat-pusat penelitian yang dikelola oleh penuh-waktu personil, termasuk teknisi kesehatan yang memperoleh pengukuran tubuh dari peserta survei. Semua teknisi kesehatan NHANES menyelesaikan pengukuran tubuh program pelatihan komprehensif yang digunakan rekaman video, demonstrasi, dan latihan praktek dengan pemeriksa ahli. Kesehatan kinerja teknisi dipantau dengan cara pengamatan langsung, review data, dan penilaian para ahli pemeriksa.4 Evaluasi yang akurat dari status gizi harus termasuk perkiraan kompartemen tubuh (massa lemak bebas dan massa lemak) dengan metode instrumental seperti bioelectrical impedansi analisis dan dual X-ray absorptiometry (Enzi et al. 1997). Namun demikian, dalam praktek klinis dan survei epidemiologi, komposisi tubuh dapat tidak langsung diperkirakan oleh pengukuran antropometri, yang non-invasif, mudah dan murah untuk mengumpulkan.5[5] Proses pengumpulan melibatkan modifikasi dalam gizi dan fisiologis status, seperti penurunan berat badan dan tinggi (Dey et al. 1999), dan pengurangan massa lemak bebas terkait dengan peningkatan massa lemak. Selain itu, redistribusi jaringan adiposa terjadi dengan akumulasi di batang dan situs visceral (Steen, 1988; Schwartz, 1998). Tubuh terjadi perubahan komposisi berbeda pada pria dan perempuan dan dalam berbagai tahapan penuaan, mempengaruhi antropometri. Akibatnya, standar antropometrik nilai-nilai yang berasal dari populasi orang dewasa mungkin tidak berlaku untuk orang tua.5

5[5] Perisinotto, dkk., 2002. Anthropometric measurements in the elderly: age and gender differences.

Non-patologis faktor yang mempengaruhi distribusi antropometrik karakteristik, seperti usia, jenis kelamin dan wilayah geografis, harus diperhitungkan. WHO Komite Ahli Status Fisik menekankan perlunya lokal gender dan nilai-nilai referensi usia tertentu untuk lansia.5

1.2 Tujuan Percobaan 1.2.1 Tujuan Umum Adapun tujuan umum dari percobaan ini adalah untuk mengetahui status gizi perseorangan dengan pengukuran antropometri 1.2.2 Tujuan Khusus Adapun tujuan khusus dari percobaan ini adalah : 1. Untuk menentukan dan mengetahui status gizi perseorangan dengan perhitungan Indeks Massa Tubuh (IMT) 2. Untuk menentukan dan mengetahui status gizi perseorangan dengan perhitungan Waist to Hip Ratio (WHR) 3. Untuk menentukan dan mengetahui status gizi perseorangan dengan perhitungan persentase Body Fat (%BF) 4. Untuk menentukan dan mengetahui status gizi perseorangan dengan pegukuran Lingkar Lengan Atas (LILA) 5. Untuk menentukan dan mengetahui status gizi perseorangan dengan pegukuran lingkar Perut

1.3 Manfaat Percobaan Adapun manfaat dari percobaan ini adalah agar dapat mengetahui status gizi seseorang melalui pengukuran antropometri dengan perhitungan Indeks Massa Tubuh (IMT), Waist to Hip Ratio (WHR), persentase Body Fat (%BF), Lingkar Lengan Atas (LILA), pengukuran lingkar Perut.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1. Indeks Massa Tubuh (IMT) Penilaian status gizi terbagi atas dua yakni penilaian status gizi secara langsung yang dibagi menjadi empat penilaian yaitu antropometri, klinis, biokimia, dan biofisik. Dan penilaian status gizi secara tidak langsung yakni, survey konsumsi makanan, statistik vital, dan faktor ekologi. Pengukuran antropometri relatif mudah dilaksanakan. Akan tetapi untuk berbagai cara, pengukuran antropometri ini membutuhkan keterampilan, peralatan dan keterangan untuk pelaksananya.6[6] Parameter antropometri merupakan dasar dari penilaian status gizi. Kombinasi antara beberapa parameter disebut Indeks Antropometri. Dalam pengukuran indeks antropometri sering terjadi kerancuan, hal ini akan mempengaruhi interpretasi status gizi yang keliru. Beberapa indeks antropometri yang sering digunakan yaitu BB/U, TB/U, BB/TB. Perbedaan penggunaan indeks tersebut akan memberikan gambaran prevalensi status gizi yang berbeda.6 Perlu ditekankan bahwa pengukuran antropometri hanyalah satu dari sejumlah teknik-teknik yang dapat untuk menilai status gizi. Pengukuran dengan cara-cara yang baku dilakukan beberapa kali secara berkala pada berat dan tinggi badan, lingkaran lengan atas, lingkaran kepala, tebal lipatan kulit (skinfold) diperlukan untuk penilaian pertumbuhan dan status gizi pada bayi dan anak.1 Istilah Antropometri berasal dari kata Anthro yang berarti manusia dan metri yang berarti ukuran. Secara definitif antropometri dapat dinyatakan sebagai suatu studi yang berkaitan dengan pengukuran bentuk, ukuran (tinggi, lebar) berat dan lain-lain yang berbeda satu dengan lainnya (Sutalaksana,1996). Menurut Nurmianto (1991), antropometri adalah satu kumpulan data numerik yang berhubungan dengan karakteristik fisik tubuh manusia, ukuran, bentuk dan kekuatan serta penerapan dari data tersebut untuk penanganan masalah desain. Antropometri

6[6] Supariasa, dkk. 2001. Penilaian Status Gizi.

secara lebih luas digunakan sebagai pertimbangan ergonomis proses perencanaan produk maupun sistem kerja yang memerlukan interaksi manusia.2 Data antropometri yang berhasil diperoleh akan diaplikasikan secara lebih luas antara lain dalam hal perancangan areal kerja (work station), perancangan alat kerja seperti mesin, equipment, perkakas (tools), perancangan produk-produk konsumtif seperti pakaian, kursi, meja, dan perancangan lingkungan fisik. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa data antropometri akan menentukan bentuk, ukuran, dan dimensi yang tepat berkaitan dengan produk yang akan dirancang sesuai dengan manusia yang akan mengoperasikan atau menggunakan produk tersebut.2 Secara umum, antropometri artinya ukuran tubuh manusia. Penilaian secara antropometri adalah suatu pengukuran dimensi tubuh dan komposisi dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Antropometri digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi. Pengertian istilah Nutritional Anthropometry mula-mula muncul dalam Body Measurements and Human Nutrition yang ditulis oleh Brozek pada tahun 1966 yang telah didefinisikan oleh Jelliffe (1966) sebagai pengukuran pada variasi dimensi fisik dan komposisi besaran tubuh manusia pada tingkat usia dan derajat nutrisi yang berbeda. Pengukuran antropometri ada 2 tipe yaitu: pertumbuhan dan ukuran komposisi tubuh yang dibagi menjadi pengukuran lemak tubuh dan massa tubuh yang bebas lemak. Pengukuran berat badan menurut umur pada umumnya untuk anak merupakan cara standar yang digunakan untuk menilai pertumbuhan. Kurang berat tidak hanya menunjukkan konsumsi pangan yang tidak cukup tetapi dapat pula mencerminkan keadaan sakit yang baru dialami.3 Antropometri merupakan bidang ilmu yang berhubungan dengan dimensi tubuh manusia. Dimensi-dimensi ini dibagi menjadi kelompok statistika dan ukuran persentil. Kenyamanan menggunakan alat bergantung pada kesesuaian ukuran alat dengan ukuran manusia. Jika tidak sesuai, maka dalam jangka waktu tertentu akan mengakibatkan stress tubuh antara lain dapat berupa lelah, nyeri, pusing. Penelitian yang dilakukan Chang terhadap 30 orang laki-laki sebegai operator pneumatic screwdriver usia 22 tahun panjang lengannnya rata-rata 18,2 cm dan tinggi tubuh rata-rata 168,5 cm, ternyata yang melakukan kerja pada posisi duduk lebih menerima getaran pneumatic screwdriver dan otot lengan depannya mengalami stress dibanding yang posisi kerja berdiri.3

Penggunaan IMT hanya berlaku untuk orang dewasa berumur diatas 18 tahun. IMT tidak dapat diterapkan pada bayi, anak-anak, remaja, ibu hamil, dan olahragawan. Disamping itu, IMT tidak bisa diterapkan pada keadaan khusus lainnya seperti edema, asites, dll. IMT/U merupakan yang terutama bermanfaat untuk penapisan kelebihan berat badan dan kegemukan. Biasanya IMT tidak meningkat dengan bertambahnya umur. Rumus perhitungan IMT:

IMT merupakan alat yang sangat sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa khususnya yang berkaitan kekurangan dan kelebihan berat badan, maka mempertahankan berat badan normal memungkinkan seseorang dapat mencapai usia harapan hidup lebih panjang. Indikator IMT/U hampir sama dengan BB/PB atau BB/TB. Ketika melakukan interpretasi resiko kelebihan berat badan, perlu mempertimbangkan berat badan orang tua.1 Tabel 2: Kategori ambang batas IMT untuk Indonesia:7[7] Kategori Kurus Normal Kelebihan BB tingkat ringan Gemuk Kelebihan BB tingkat moderat (Obes I) Kelebihan BB tingkat berat (Obes II) Kekurangan BB tingkat berat Kekurangan BB tingkat ringan IMT < 17,0 17,0 - < 18,5 18,5 22,9 23 24,9 > 25 29,9 > 30,0

Sumber. Sirajuddin 2012. Indeks massa tubuh telah digunakan dalam beberapa penelitian populasi internasional untuk menilai risiko penyakit di antara orang dewasa. BMI meningkat jelas terkait dengan risiko yang lebih tinggi dari tekanan darah tinggi, diabetes mellitus tipe 2, faktor risiko kardiovaskular penyakit lainnya, dan mortalitas meningkat. Memang, risiko relatif untuk faktor risiko penyakit kardiovaskular kejadian penyakit kardiovaskular meningkat dinilai dengan peningkatan BMI pada semua kelompok populasi. Selain itu, asosiasi antara gangguan muskuloskeletal, gangguan dalam fungsi pernapasan dan fisik, dan kualitas hidup. Akibatnya, dalam studi epidemiologi, BMI digunakan untuk mengetahui kelebihan berat badan atau obesitas pada orang dewasa dan

7[7] Sirajuddin, Saifuddin. 2012. Penuntun Praktikum Penilaian Status Gizi Secara Biokimia dan Antropometri.

untuk memperkirakan risiko terkena penyakit. Perluh diketahui bahwa anak yang pendekpun dapat mengalami kelebihan berat badan. Maka perluh mempertahankan berat badan normal.7 Berat badan merupakan ukuran antropometri terpenting dan paling sering digunakan pada bayi baru lahir (neonatus). Digunakan untuk mendiagnosa bayi normal atau BBLR (dibawah 2500 gram). Pada masa bayi atau balita, berat badan dapat dipergunakan untuk melihat laju pertumbuhan fisik maupun status gizi, kecuali terdapat kelainan klinis (dehidrasi, asites, edema, atau adanya tumor). Dapat digunakan sebagai dasar perhitungan dosis obat dan makanan. Berat badan menggambarkan jumlah protein, lemak, air dan mineral pada tulang. Pada remaja, lemak cenderung meningkat dan protein otot menurun. Pada klien edema dan asites, terjadi penambahan cairan dalam tubuh. Adanya tumor dapat menurunkan jaringan lemak dan otot, khususnya terjadi pada orang kekurangan gizi.6 Penimbangan (berat badan) adalah pengukuran antropometri yang umum digunakan dan merupakan kunci yang memberi petunjuk nyata dari perkembangan tubuh yang baik maupun yang buruk. Berat badan merupakan suatu pencerminan dari kondisi yang sedang berlaku dan ukuran yang paling baik mengenai konsumsi kalori protein dan karbohidrat.8[8] Alasan mengapa pengukuran berat badan merupakan pilihan utama:6 - Parameter yang paling baik, mudah terlihat perubahan dalam waktu singkat karena perubahan konsumsi makanan dan kesehatan. Memberikan gambaran status gizi sekarang, jika dilakukan periodik memberikan gambaran pertumbuhan. Umum dan luas dipakai di Indonesia. Ketelitian pengukuran tidak banyak dipengaruhi oleh keterampilan pengukur. KMS yang digunakan sebagai alat yang baik untuk pendidikan dan memonitor kesehatan anak menggunakan juga berat badan sebagai dasar pengisiannya. Karena masalah umur merupakan faktor penting untuk penilaian status gizi, berat badan terhadap tinggi badan sudah dibuktikan dimana-mana sebagai indeks yang tidak tergantung pada umur. Alat ukur dapat diperoleh di pedesaan dengan ketelitian tinggi dengan menggunakan dacin yang juga sudah dikenal oleh masyarakat.

8[8] Gibson, Rosalind S. 2005. Principle Nutritional Assement.

Penentuan berat badan dilakukan dengan cara menimbang. Alat yang digunakan di lapangan sebaiknya memenuhi beberapa persyaratan:6 a. Mudah digunakan dan dibawa dari suatu tempat ke tempat yang lain. b. Mudah diperoleh dan relatife murah harganya. c. Ketelitian penimbangan sebaiknya maksimum 0,1 kg. d. Skalanya mudah dibaca. e. Cukup aman untuk menimbang anak balita. Tinggi badan merupakan parameter paling penting bagi keadaan yang telah lalu dan keadaan sekarang, jika umur tidak diketahui dengan tepat. Merupakan ukuran kedua yang penting, karena dengan menghubungkan BB terhadap TB (quac stick) factor umur dapat dikesampingkan.6

Mengukur Berat Badan 2. Prediksi Tinggi Badan

Mengukur Tinggi Badan

Mengukur Tinggi Lutut instrumen portabel pengukuran perangkat tinggi lutut (KHMD), juga dirancang untuk mengukur pertumbuhan jangka pendek dari kaki bagian bawah. Perangkat ini lebih murah dan lebih mudah digunakan daripada knemometer tersebut. Sekali lagi, pengukuran yang diambil pada saat anak duduk. Kursi yang digunakan dengan perangkat ini harus memiliki ketinggian kursi 33 cm dan panjang 26 cm kursi. Tinggi lutut sangat berkorelasi dengan tinggi dan dapat digunakan untuk memperkirakan tinggi badan pada orang dengan kelengkungan tulang belakang yang parah atau yang tidak mampu untuk berdiri. Tinggi lutut diukur dengan kaliper yang terdiri dari tongkat pengukur disesuaikan dengan pisau melekat pada masing-masing dan pada sudut 90O C.9[9] Faktor tambahan yang harus dipertimbangkan ketika memilih indeks atau kombinasi dari indeks, termasuk ketersediaan equitment pengukuran yang akurat, pelatihan penguji untuk Cellect informasi yang akurat dan menafsirkan hasilnya benar, dan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pengukuran. Akhirnya, sering diabaikan adalah biaya tidak mengidentifikasi anakanak kekurangan gizi atau salah mengidentifikasi anak-anak cukup gizi seperti kurang gizi.9 Perkiraan parameter farmakokinetik dan evaluasi status gizi bergantung pada pengukuran yang akurat tidak, hanya berat badan tetapi juga tinggi badan. Namun, sejumlah penyakit dapat
9[9] Fatmah. 2005. Persamaan (Equation) tinggi Badan Manusia Usia Lanjut (Manula) Berdasarkan Usia dan etnis.

menyebabkan kesulitan dalam pengukuran tinggi badan secara akurat. Oleh karena itu, berbagai rumus berdasarkan tulang yang tidak berubah panjang telah dikembangkan. Metode-metode termasuk tinggi lutut, panjang lengan dan setengah rentang tangan.7 Tinggi lutut diukur dari bawah maleolus lateral fibula ke tumit. Langkah ini digunakan untuk individu yang 60 tahun atau tidak dapat berdiri atau memiliki kelainan bentuk tulang belakang.7 Rumus nya yaitu :7 Female: Height in cm = 84.88- 0.24 x age) + (1.83 x knee height) x 1,2 Male : Heigt in cm = 64.19 (0.04 x age) + (2.02 x knee height). 3. WHR (Rasio lingkar pinggang dan panggul) Pengukuran rasio lingkar pinggang dan panggul yang menghasilkan indeks tinggi harus memperhatikan penyebabnya karena simpanan lemak atau otot torso yang berkembang. Jadi perlu diukur tebal lipatan kulit abdomen untuk mengetahuinya. Tujuan pengukuran lingkar pinggang dan pinggul adalah untuk mengetahui resiko tinggi terkena penyakit DM II, kolesterol, hipertensi, dan jantung. Lingkar pinggang diukur di indentasi terkecil lingkar perut antara tulang rusuk dan krista iliaka, subjek berdiri dan diukur pada akhir ekspirasi normal dengan ketelitian 0,6 cm menggunakan pitameter. Lingkar pinggul diukupenonjolan terbesar pantat, biasanya di sekitar pubic sympisis, subjek berdiri diukur menggunakan pitameter dengan ketelitian 0,1 cm.10[10] Banyaknya lemak dalam perut menunjukkan ada beberapa perubahan metabolisme, termasuk terhadap insulin dan meningkatnya produksi asam lemak bebas, dibanding dengan banyaknya lemak bawah kulit pada kaki dan tangan. Perubahan metabolisme memberikan gambaran tentang pemeriksaan penyakit yang berhubungan dengan perbedaan distribusi lemak tubuh ukuran umur yang digunakan adalah rasio lingkar pinggal-pinggul. Pengukuran lingkar pinggang dan lingkar pinggul harus dilakukan oleh tenaga terlatih dan posisi pengukuran harus tetap, karena perbedaan posisi pengukuran memberikan hasil yang beerbeda.7 Suatu studi prospektif menunjukkan rasio pinggang-pinggul berhubungan dengan penyakit kardiovaskular.7 Rumus Menghitung Nilai WHR:7

10[10] Kristanti. 2010. Penakit Akibat Kelebihan dan Kekurangan Vitamin, Mineral dan Elektrolit.

Tabel 4: Standar resiko penyakit degeneratif berdasarkan pengukuran WHR pada jenis kelamin dan kelompok umur:7 Kelompok umur 20-29 Pria 30-39 40-49 20-29 Wanita 30-39 40-49 Sumber. Sirajuddin 2012. 4. Lingkar Perut (LP) Cara lain yang biasa dilakukan untuk memantau resiko kegemukan adalah dengan mengukur lingkar perut. Ukuran lingkar perut yang baik yaitu tidak lebih dari 90 cm untuk laki-laki dan tidak lebih dari 80 cm untuk perempuan.8 Pengukuran lingkar perut lebih memberikan arti dibandingkan IMT dalam menentukan timbunan lemak di dalam rongga perut (obesitas sentral) karena peningkatan timbunan lemak di perut tercermin dari meningkatnya lingkar perut.8 Pengukuran lingkar perut dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya obesitas abdominal atau sentral. Jenis obesitas ini sangat berpengaruh terhadap kejadian penyakit kardiovaskular dan diabetes mellitus.1 Tabel 5: Standar Obesitas sentral berdasarkan Lingkar Perut.1 Klasifikasi WHO 2000 Eropa Asia Pasifik Sumber: WHO 5. Lingkar Lengan Atas Laki-laki 94 cm 102 cm 90 m Wanita 80 cm 88 cm 80 m Jenis kelamin Low < 0,83 < 0,84 < 0,88 < 0,71 < 0,72 < 0,73 Resiko Moderate High 0,83-0,88 0,89-0,94 0,84-0,91 0,92-0,96 0,88-0,95 0,96-1,00 0,71-0,77 0,78-0,82 0,72-0,78 0,79-0,84 0,73-0,79 0,80-0,87 Very high > 0,94 > 0,96 > 1,00 > 0,82 > 0.84 > 0,87

Lingkar lengan atas merupakan salah satu pilihan untuk penentuan status gizi, karena mudah, murah dan cepat. Tidak memerlukan data umur yang terkadang susah diperoleh. Memberikan gambaran tentang keadaan jaringan otot dan lapisan lemak bawah kulit.7 Tabel 1: Ambang Batas Pengukuran LiLA:7 Klasifikasi Wanita Usia Subur KEK Normal Bayi Usia 0-30 hari KEP Normal Balita KEP Normal Sumber: Sirajuddin, 2012. LiLA mencerminkan cadangan energi, sehingga dapat mencerminkan:8 1. Status KEP pada balita 2. KEK pada ibu WUS dan ibu hamil: risiko lahir bayi BBLR Kelemahan dari pengukuran LILA:6 Baku LLA yang sekarang digunakan belum mendapat pengujian yang memadai untuk digunakan di Indonesia. Kesalahan pengukuran relatif lebih besar dibandingkan pada TB. Sensitif untuk suatu golongan tertentu (prasekolah), tetapi kurang sensitif untuk golongan dewasa. 6. Tebal Lipatan Kulit Semua pengukuran tebal lemak bawah kulit sebaiknya konsisten di sisi kanan badan dan diukur tiga kali. Tebal lemak bawah kulit merupakan salah satu indeks antropometri yang digunakan dalam pengukuran status indeks antropometri untuk mengukur status gizi. Pengukuran tebal lemak bawah kulit biasanya digunakan untuk memperkirakan jumlah lemak < 12,5 cm 12,5 cm < 9,5 cm 9,5 cm < 23,5 cm 23,5 cm Batas Ukur

dalam tubuh. Persentase kandungan lemak tubuh dapat dipakai untuk menilai status gizi dengan pengukuran tebal lemak bawah kulit terdiri dari beberapa tempat, yakni trisep, bisep, subskapular, suprailiaka, supraspinale, abdominal, paha depan, betis medial, dan mid aksla.1 Persentase body fat dapat diestimasi dari skinfold menggunakan persamaan secara umum atau kelompok tertentu.1 Lemak dapat diukur secara absolut (dalam kg) dan secara relatif (%) terhadap berat tubuh total. Jumlah lemak tubuh sangat bervariasi ditentukan oleh jenis kelamin dan umur. Ketebalan lipatan kulit adalah suatu pengukuran kandungan lemak tubuh karena sekitar separuh dari cadangan lemak tubuh total terdapat langsung dibawah kulit. Pengukuran tebal lipatan kulit merupakan salah satu metode penting untuk menentukan komposisi tubuh serta presentase lemak tubuh dan tubuh untuk menentukan status gizi cara antropometri.7 Rumus menghitung tebal lemak bawah kulit:7 Laki-laki 18-27 tahun Db = 1,0913 0,00116 (trisep + scapula) % BF = [(4,97/Db) 4,52] x 100 Wanita 18-23 tahun Db = 1,0897 0,00133 (trisep + scapula) % BF = [(4,76/Db) 4,28] x 100 Tabel 3: Klasifikasi Standar Pengukuran Tebal Lemak Bawah Kulit:7 Klasifikasi Lean Optimal Slightly overfat Fat Obesitas Sumber. Sirajudin 2012. Laki-laki <8% 8 15 % 16 20 % 21 24 % 25 % Wanita < 13 % 14 23 % 24 27 % 28 32 % 33 %

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN

III.I Tempat dan Waktu Praktikum Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Terpadu Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin pada tanggal 08 November 2012.

III.2 Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah timbangan digital Seca, microtoice, alat ukur tinggi lutut, pita LiLA, pita circumference, dan skinfold caliper.

III.3 Prosedur Kerja a. Pengukuran Barat Badan (BB) 1. Responden mengenakan pakaian biasa (usahakan dengan pakaian yang minimal). Responden tidak menggunakan alas kaki. 2. Dipastikan timbangan berada pada penunjukan skala dengan angka 0,0. 3. Responden diminta naik ke alat timbang dengan berat badan tersebar merata pada kedua kaki dan posisi kaki tepat di tengah alat timbang tetapi tidak menutupi jendela baca. 4. Diperhatikan posisi kaki responden tepat di tengah alat timbang, usahakan agar responden tetap tenang dan kepala tidak menunduk (memandang lurus kedepan). 5. Angka di kaca jendela alat timbang akan muncul, dan ditunggu sampai angka tidak berubah (statis). 6. Dibaca dan dicatat berat badan pada tampilan dengan skala 0.1 terdekat. 7. Responden diminta turun dari alat timbang.

b. Pengukuran Tinggi Badan (TB)

1. Responden tidak mengenakan alas kaki (sandal/sepatu), topi (penutup kepala). Posisikan responden tepat di bawah microtoice. 2. Reponden diminta berdiri tegak, persis di bawah alat geser. 3. Posisi kepala dan bahu bagian belakang, lengan, pantat dan tumit menempel pada dinding tempat microtoise di pasang. 4. Pandangan lurus ke depan, dan tangan dalam posisi tergantung bebas dan menghadap paha. 5. Responden diminta menarik nafas panjang untuk membantu menegakkan tulang rusuk. Usahakan badan tetap santai. 6. Gerakan alat geser sampai menyentuh bagian atas kepala responden. Pastikan alat geser berada tepat di tengah kepala responden. Dalam keadaan ini bagian belakang alat geser harus tetap menempel pada dinding. 7. Dibaca angka tinggi badan pada jendela baca ke arah angka yang lebih besar (ke bawah). Pembacaan dilakukan tepat di depan angka (skala) pada garis merah, sejajar dengan mata petugas. 8. Apabila pengukur lebih rendah dari yang diukur, pengukur harus berdiri di atas bangku agar hasil pembacaannya benar. Catat tinggi badan pada skala 0,1 cm terdekat. c. Pengukuran Tinggi Lutut 1. Responden duduk dengan salah satu kaki ditekuk hingga membentuk sudut 900 proximal hingga patella. 2. Kaki diletakkan di atas alat pengukur tinggi lutut dan pastikan kaki responden membentuk sudut 900 dengan melihat kelurusannya pada tiang alat ukur. 3. Dibaca dengan sedikit menjongkok sehingga mata pembaca tepat berada pada angka yang ditunjukkan oleh alat ukur. Catat tinggi badan pada skala 0,1 cm terdekat.

d. Pengukuran Lingkar Pinggang 1. Responden menggunakan pakaian yang longgar (tidak menekan) sehingga alat ukur dapat diletakkan dengan sempurna. Sebaiknya pita pengukur tidak berada di atas pakaian yang digunakan. 2. Responden berdiri tegak dengan perut dalam keadaan rileks.

3. Pengukur menghadap ke subjek dan meletakkan alat ukur melingkar pinggang secara horizontal dimana merupakan bagian paling kecil dari tubuh atau pada bagian tulang rusuk paling terakhir. Seorang pembantu diperlukan untuk meletakkan alat ukur dengan tepat. 4. Pengukuran dilakukan di akhir dari ekspresi yang normal dan alat ukur tidak menekn kulit. 5. Dibaca dengan teliti hasil pengukuran pada pita hingga 0,1 cm terdekat e. Pengukuran Lingkar Panggul 1. Responden mengenakan pakaian yang tidak terlaku menekan 2. Responden berdiri tegak dengan kedua lengan berada pada kedua sisi tubuh dan kaki rapat 3. Pengukur jongkok di samping responden sehingga tingkat maksimal dari penggul terlihat 4. Alat pengukur dilingkarkan secara horizontal tanpa menekan kulit. Seorang pembantu diperlukan untuk meletakkan alat ukur dengan tepat 5. Dibaca dengan teliti hasil pengukuran pada pita hingga 0,1 cm terdekat f. Pengukuran Lingkar Perut 1. Mintalah dengan cara yang santun pada responden untuk membuka pakaian bagian atas atau menyingkapkan pakaian bagian atas dan raba tulang rusuk terakhir responden untuk menetapkan titik pengukuran. 2. Ditetapkan titik batas tepi tulang rusuk paling bawah. 3. Ditetapkan titik ujung lengkung tulang pangkal paha/panggul. 4. Ditetapkan titik tengah di antara di antara titik tulang rusuk terakhir titik ujung lengkung tulang pangkal paha/panggul dan tandai titik tengah tersebut dengan alat tulis. 5. Responden diminta untuk berdiri tegak dan bernafas dengan normal (ekspirasi normal). 6. Dilakukan pengukuran lingkar perut dimulai/diambil dari titik tengah kemudian secara sejajar horizontal melingkari pinggang dan perut kembali menuju titik tengah diawal pengukuran. 7. Pengukuran juga dapat dilakukan pada bagian atas dari pusar lalu meletekkan dan melingkarkan alat ukur secara horizontal 8. Apabila responden mempunyai perut yang gendut ke bawah, pengukuran mengambil bagian yang paling buncit lalu berakhir pada titik tengah tersebut lagi. 9. Pita pengukur tidak boleh melipat dan ukur lingkar pinggang mendekati angka 0,1 cm. g. Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LiLA) 1. Penentuan Titik Mid Point Pada Lengan 1. Responden diminta berdiri tegak.

2. Responden dminta untuk membuka lengan pakaian yang menutup lengan kiri atas (bagi yang kidal gunakan lengan kanan). 3. Tekukan tangan responden membentuk 900 dengan telapak tangan menghadap ke atas. Pengukur berdiri dibelakang dan menentukan titik tengah antara tulang rusuk atas pada bahu kiri dan siku. 4. Ditandai titik tengah tersebut dengan pena. 2. Mengukur Lingkar Lengan Atas (LILA) 1. Dengan tangan tergantung lepas dan siku lurus di samping badan, telapak tangan menghadap ke bawah. 2. Diukur lingar lengan atas pada posisi mid point dengan pita LILA menempel pada kulit dan dilingkarkan secara hotizontal pada lengan. Perhatikan jangan sampai pita menekan kulit atau ada rongga antara kulit dan pita. 3. Lingkar lengan atas dicatat pada skala 0,1 cm terdekat h. Penentuan Tebal Lipatan Kulit (TLK) 1. Petunjuk Umum 1. Ibu jari dan jari telunjuk dari tangan kiri digunakan untuk mengangkat kedua sisi kulit dan lemak subkutan kurang lebih 1 cm proximal dari daerah yang diukur. 2. Lipatan kulit diangkat pada jarak kurang lebih 1 cm tegak lurus arah garis kulit. 3. Lipatan kulit tetap diangkat sampai pengukuran selesai. 4. Caliper dipegang oleh tangan kanan. 5. Pengukuran dilakukan dalam 4 detik setelah penekanan kulit oleh caliper dilepas. 2. Pengukuran TLK Pada Tricep 1. Responden berdiri tegak dengan kedua lengan tergantung bebas pada kedua sisi tubuh. 2. Pengukuran dilakukan pada titik mid point (sama pada LILA). 3. Pengukur berdiri di belakang responden dan meletakkan telapak tangan kirinya pada bagian lengan kearah tanda yang telah dibuat dimana ibu jari dan telunjuk menghadap ke bawah. Tricep skinfold diambil dengan menarik pada 1 cm dari proximal tanda titik tengah tadi. 4. Tricep skinfold diukur dengan mendekati 0,1 mm. 3. Pengukuran TLK Pada Subscapular 1. Responden berdiri tegak dengan kedua lengan tergantung bebas pada kedua sisi tubuh. 2. Tangan diletakkan kiri ke belakang.

3. Untuk mendapatkan tempat

pengukuran,

pemeriksa

meraba scapula dan mencarinya ke

arah bawah lateral sepanjang batas vertebrata samapi menentukn sudut bawah scapula. 4. Subscapular skinfold ditarik dalam arah diagonal (infero-lateral) kurang lebih 450 ke arah horizontal garis kulit. Titik scapula terletak pada bagain bawah sudut scapula. 5. Caliper diletakkan 1 cm infero-lateral dari ibu jari dan jari telunjuk yang mengangkat kulit dan subkutan dan ketebalan kulit diukur mendekati 0,1 mm.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

V.1 Hasil No Tabel V.1. Hasil Pengkuran Antropometri Kelompok B1 Nama J.K Umu BB TB r (kg) (cm) FLORINA YULINDA P 19 54,5 RUKAYAH P 19 43,5 TRISNA AWALIAH M P 19 36,1 WIDYA AYU PUTRI P 19 51 ANDIS ISNA ARIANTI P 20 45,7 DIAN ANGGRAENI P 19 49,9 IRNA DEWI YUNINGSI P 19 47,5 NAZLA M. ALBAAR P 19 55,3 NUR SAKINAH P 19 63,5 Sumber: Data Primer 2012 Keterangan: J.K = Jenis Kelamin = Laki-laki / Perempuan BB = Berat Badan TB = Tinggi Badan TL = Tinggi Lutut Atas 157,3 148 146 160,5 152 148,4 163 150,4 148,5 TL (cm) LPi (cm) LPa (cm) 87,5 80 76 82 80,5 84,4 84 84 78 Lp (cm) 74 69 63,5 70 72 70 71 70,4 93

T (

1 2 3 4 5 6 7 8

49 46,9 46,3 49,3 48,4 48,4 48,7 46,9 47,5

69,5 61 60 65,3 66 68 63,1 70,5 81

2 1 1 2 1 2 1 2 2

LPi LPa Lp Lila

= Lingkar Pinggang = Lingkar Panggul = Lingkar perut = Lingkar Lengan

No 1 2 3

Tabel V.2 Hasil Perhitungan Antropometri Kelompok B1 Nama IMT WHR Nilai Ket Nilai Ket FLORINA 22,02 Normal 0,79 High YULINDA RUKAYAH 19,85 Normal 0,76 Moderate TRISNA AWAL 16,93 Under weigh 0,78 High

Lingkar Perut Nilai Ket 74 Normal 69 63,5 Normal Normal

% Body Fat Nilai Ket 31, Healthy 82% Range 21,32 Healthy % Range 23,13 Healthy % Range

LILA Nilai 25 22,5 19,3

4 5 6

7 8 9

WDYA AYU PUTRI ANDI ISNA ARIANTI DIAN ANGGRAEN I IRNA DEWI YUNINGSI NAZLA M. ALBAAR NUR SAKINAH

19,79 19,78 22,71

Normal Normal Normal

0,79 0,81 0,80

High High High

70 72 70

Normal Normal Normal

27,72 % 28,01 % 34,20 % 24, 27% 39,02 % 43,33 %

Healthy Range Healthy Range Over Waigh Healthy Range Obesitas Obesitas

23,7 23,2 24,9

17,85 24,44 28,79

Under Weigh Atrisk Obesitas 1

0,CF 0,83 1,03

Moderate Very Haigh Very Haigh

71 70,4 93

Normal Normal Obesita s Center

21,6 30,2 32

Sumber: Data Primer 2012 Keterangan: IMT = Indeks Massa Tubuh WHR = Waist Hip to Rasio TB/TL = Tinggi Badan Berdasarkan hasil perhitungan tinggi lutu

V.3Pembahasan A. IMT Indeks masa tubuh atau body mass indeks merupakan alat atau cara sederhana untuk menentukan status gizi orang dewasa. Berat badan kurang dapat meningkatkan resiko terhadap penyakit infeksi sedangkan berat badan lebih akan meningkatkan resiko terhadap penyakit degeneratif.7 Parameter yang penting digunakan dalam pengukuran IMT adalah tinggi badan 148 cm dan berat badan 43,5 kg. Sehingga diperoleh hasil dari pengukuran dan perhitungan dengan menggunakan rumus yang telah ditetapkan yaitu 22,02, kg/m2. Dan berdasarkan kategori IMT menurut Riskesdas 2007 kategori normal IMT adalah 18,50-24,99. jadi IMT saya

termasuk dalam kategori Normal. Berat badan normal atau IMT normal adalah idaman bagi setiap orang agar mencapai tingkat kesehatan yang optimal. Yang terdapat beberapa keuntungan yang diberikan adalah penampilan bail, lincah dan resiko sakit rendah.7 Menurut june steven, dkk (1998). Menyatakan bahwa untuk pria dan wanita di atas 75 tahun usia, tingkat kematian kasar tidak meningkat dengan body mass indeks. Misalnya, di antara 75-ke-84-tahun wanita, ada 5259 100.000 orang tahun dalam kelompok kematian akibat kardiovaskular Penyakit per dengan indeks massa tubuh dari 19,0-21,9,

dibandingkan dengan 5227 per 100.000 orang-tahun di kelompok dengan indeks dari 29,031,9. Distribusi dari beberapa karakteristik terkait dengan indeks umur panjang dan massa tubuh bervariasi dengan usia. Subyek yang lebih muda yang lebih berpendidikan, lebih mungkin untuk melaporkan tingkat tinggi aktivitas fisik, dan lebih mungkin untuk meminum minuman beralkohol dibandingkan subyek yang lebih tua. Yang relatif risiko kematian dari semua penyebab kematian akibat penyakit kardiovaskular sesuai untuk massa tubuh indeks kategori diperkirakan dalam model yang meliputi umur, pendidikan, fisik kegiatan, dan

konsumsi alkohol sebagai kovariat. Terpisah analisis dilakukan untuk enam kelompok usia, dengan kategori body-mass index-19,0-21,9 digunakan sebagai kategori referensi.11[11]

11[11] Junestevens, Ph.D., Jianwencai, Ph,D., Elsier. Pamuk, Ph.D., Df. Williamson, Ph.D.,Michaelj. Thun, M.D.,& Joy L. Wood,
M.S.. (1998) . The Effect Of Age On The Association Between Body-Mass Index And Mortality.

Salah satu yang harus dianjurkan pada remaja adalah mengonsumsi susu sebagai minuman utama, karena susu merupakan sumber utama kalsium yang diperlukan untuk kesehatan tulang. Menurut Heaney dan Whiting (2004), masa remaja merupakan saat yang sangat penting dalam pencapaian puncak kepadatan tulang. Pada saat ini, khususnya pada saat remaja akhir, sekitar 90% hingga 95% kepadatan tulang telah tercapai.11 Dari hasil penelitian-penelitian ini membuktikan bahwa pemberian susu pada remaja berpengaruh positif terhadap perubahan IMT seseorang. Pada pengukuran antropometri dengan indikator IMT secara umum dilakukan dengan pengukuran tinggi badan dan berat badan, jadi berat badan normal adalah idman bagi setiap orang agar mencapai tingkat kesehatan yang optimal. Dan terdapat beberapa keuntungan yang diberikan adalah penampilan baik, lincah dan resiko sakit rendah. B. Prediksi Tinggi Badan (Tinggi Lutut) Tinggi lutut direkomendasi oleh World Health Organization (WHO) untuk digunakan sebagai prediktor dari tinggi badan pada seseorang yang berusia 60 tahun (lansia). Proses bertambahnya usia tidak berpengaruh terhadap tulang yang panjang seperti lengan dan tungkai, tetapi sangat berpengaruh terhadap tulang belakang. Tinggi lutut diukur dari bawah maleolus lateral fibula ke tumit. Langkah ini digunakan untuk individu yang 60 tahun atau tidak dapat berdiri atau memiliki kelainan bentuk tulang belakang.11 Dengan menggunakan parameter pengukuran prediksi tinggi badan, dilakukan pengamatan pengukuran pada lutut saya dan diperoleh hasil bahwa tinggi lutut saya 46,3 cm, dari tinggi badan 148 cm. serta dilakukan perhitungan prediksi tinggi badan dengan menggunakan rumus yang telah ditetapkan dan diperoleh hasil pengukuran tinggi lutut saya yaitu 130.96. Jadi selisih antara tinggi lutut-tinggi badan adalah 8,9, ini berarti cara atau alat ini dapat dilakukan untuk memprediksi tinggi badan. Menurut jurnal dan pengarangnya bernama Esmaillzadeh, dkk., (2004), menyatakan bahwa Cara melakukan pengukuran pada beberapa subjek, mengemukakan bahwa tinggi lutut merupakan faktor prediktor tinggi badan terbaik pada lansia laki-laki dan perempuan. Sedangkan usia juga merupakan faktor prediktor tinggi badan pada lansia perempuan. Koefisien regresi

faktor prediktor usia yang negatif pada lansia perempuan konsisten dengan studi sebelumnya.12[12] Menurut Campbell, 2002. Hal ini bisa menunjukkan bahwa kurang gizi pasien juga tidak memiliki ketinggian dan bobot direkam. Seperti kondisi pelacak kami adalah stroke akut dan gagal jantung akut, kegagalan ini untuk merekam berat badan dan tinggi itu mungkin karena imobilitas. Namun, pasien cenderung lebih besar di risiko kekurangan gizi dibandingkan penerimaan bedah elektif. Tinggi juga dapat diperkirakan dalam bergerak pasien dari lenganspan atau lutut height.19, 20 Meskipun tidak mungkin untuk mempertimbangkan semua pasien masuk karena sakit parah dan mobilitas, ini biasanya menjadi mungkin pada beberapa waktu saat pengakuan. Pasien yang menjalani operasi mungkin lebih cenderung memiliki berat badan mereka dan tinggi dicatat sebagai bagian dari pra operasi rutin pekerjaan-up. Hal ini juga dapat menunjukkan bahwa pasien lebih cenderung memiliki berat badan mereka dan tinggi diperiksa karena mereka lebih bugar.13[13] C. WHR (Rasio lingkar pinggang-pinggul) Jumlah lemak dalam perut menunjukkan ada beberapa perubahan metaolisme, termasuk terhadap insulin dan miningkatnya produksi asam lemak bebas, dibanding dengan banyaknya lemak bawah kulit pada kaki dan tangan. Ukuran yang umur digunakan adalah rasio lingkar pinggang-pinggul. Pengukuran lingkar pinggang dan pinggul harus dilakukan oleh tenaga terlatih dan posisi pengukuran harus tepat karena perbedaan posisi pengukuran memberikan hasil yang berbeda.7 Pada pengukuran rasio lingkar pinggang-pinggul, dilakukan dengan dua cara yaitu mengukur lingkar pinggang sehingga diperoleh hasil dari lingkar pinggang saya yaitu 61 cm dan lingkar panggul 80 cm, serta dilakukan dengan perhitungan lingkar pinggang (LPi) dibagi dengan lingkar panggul (LPa) jadi diperoleh WHR saya yaitu 0,76 cm. Dalam interpretasi hasil pengukuran lingkar pinggang dan panggul pada wanita umur 60-69 tahun apabila terdapat pada 0.76-0.83 ini menunjukkan bahwa WHR saya masih bisa terkena penyakit kardiovaskular, dan apabila < 0.76 berarti kemungkinan terkena penyakit ini lumayan tinggi.
12[12] Esmaillzadeh, A., Mirmiran, P., & Azizi, F. (2004) Waist-To-Hip Ratio Is A Better Screening Measure For Cardiovascular
Risk Factors Than Other AnthropometricIndicators In Tehranian Adult Men International Journal Of Obesity.

13[13] S.E. Campbell, A. Avenell And A.E. 2002. Walker For The Tempest Group. Assessment Of Nutritional Status In Hospital
In-Patients.

Jadi prospektif menunjukkan rasio pinggang-pingggul berhubungan dengan penyakit kardiovaskular. Dapat disimpulkan bahwa hasil pengukuran menunjukkan interpretasinya moderate yang artinya saya beresiko terkena penyakit kardiovaskula. Menurut A Esmaillzadeh dkk (2012) menyatakan bahwa, WHR menjadi prediktor yang lebih baik kardiovaskular faktor risiko dari lingkar pinggang dan BMI. Selanjutnya Lakka et dalam prospektif studi tentang pria Finlandia berusia 42-60 tahun menyarankan WHR sebagai Indeks yang lebih baik untuk memprediksi penyakit jantung koroner dibandingkan lingkar pinggang dan BMI.12 Menurut dobbelsteyn et dalam jurnal A Esmaillzadeh dkk (2012) menyatakan bahwa pria dewasa Kanada dan perempuan menunjukkan bahwa WHR dapat memprediksi faktor risiko kardivaskular lebih akurat daripada BMI dan mampu sebagai mengidentifikasi subyek beresiko untuk faktor risiko penyakit kardivaskular. Dan ini berkembang dan diteliti di berbagai Negara.12

D. Lingkar Perut Dalam memantau resiko kegemukan adalah dengan mengukur lingkar perut. Ukuran lingkar perut yang baik yaitu tidak lebih dari 90 cm untuk laki-laki dan tidak lebih dari 80 cm untuk perempuan, pengukuran ini dilakukan untuk mengetahui penyakit obesitas sentral pada lingkar perut seseorang.7 Parameter pengukuran yang digunakan adalah lingkar perut, dari hasil pengukuran lingkar perut saya yaitu 69 cm, ini menunjukkan bahwa saya memiliki lingkar perut yang normal. Dan resiko untu terkena penyakit obesitas sentral sangat rendah. Meurut A Esmaillzadeh dkk (2012) menyatakan bahwa, lingkar pinggang adalah indikator yang paling banyak digunakan untuk mengetahui obesitas perut dalam suatu populasi. Setelah penyesuaian untuk usia dan BMI, dikaitkan dengan lemak visseral meningkat, serta diperkirakan untuk berkontribusi pada resiko pengembangan penyakit yang berhubungan dengan distribusi lemak sentral.12 E. LILA LILA merupakan salah satu cara untuk mengetahui keadaan gizi Wanita Usia Subur (WUS) yang paling sederhana dengan cara melingkarkan pita lila di bagian lengan kiri ibu. Dalam pengamatan dengan menggunakan parameter LILA (lingkar lengan atas) menunjukkan ukuran LILA saya yang berada di bawah ukuran normal yaitu 22,5cm sedangkan angka atau batas

normal untuk LILA yaitu 23,5 cm dan ini membuktikan bahwa saya termasuk dalam keadaan KEK (kekurangan energ kronik). LILA menurut Afif dan ardiani (2012) menunjukkan adanya fenomena yaitu terdapat 3 responden dengan status KEK tetapi bayinya lahir normal dan responden yang normal tetapi bayinya lahir BBLR. Hal ini dikarenakan tidak hanya LILA yang mempengaruhi terjadinya BBLR. BBLR juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti kesehatan ibu dan gizi saat hamil. Berat badan lahir dipengaruhi oleh berbagai faktor salah satunya Hemoglobin. Anemia gizi akibat kekurangan zat besi sering terjadi karena meningkatnya volume darah selama hamil, di samping zat besi diperlukan untuk pembentukan darah dalam tubuh janin. Anemia pada ibu hamil dapat meningkatkan resiko berat bayi lahir menjadi rendah.14[14] Menurut Nega Assefa1,dkk (2012), menyatakan bahwa LLA pada ibu yang kurang dari 23cm dianggap menjadi tanda miskin nutrisi. LLA tidak berbeda jauh selama kehamilan dan karena itu merupakan langkah yang tepat status gizi daripada BMI atau berat badan. Bayi yang lahir dari ibu yang miskin, gizi, kekerasan fisik dialami selama kehamilan akan mengalami BBLR. Dalam komunitas ini sebagian besar miskin di mana cakupan ANC rendah, untuk mengurangi kejadian BBLR, adalah penting untuk meningkatkan akses untuk perawatan kesehatan ibu. Keterlibatan suami dan masyarakat luas untuk mencari tindakan kolektif pada BBLR sangat penting.15[15] F. % Body Fat Berdasarkan pengukuran ketebalan lapisan kulit pada daerah trisep kiri dan subskapula kiri, kemudian menggunakan rumus persentase lemak tubuh, dapat diketahui banyaknya lemak tubuh. Dalam pengukuran secara antropometri dengan parameter persen body fat (TLK) saya memiliki 21,23%. Adapun klasifikasi persen body fat berdasarkan umur dan jenis kelamin yaitu untuk umur 20-40 adalah < 21,33 % sedangkan hasil dari pengukuran saya terdapat 21,23 %. Hal ini berarti persen body fat saya tergolong Healthy Range.

14[14] Afif maulidiyah & adiani sulistiani. 2012. Jurnal kebidanan Hungan lingkar lengan atas (LILA) dan kadar hemoglobin
dengan berat lahir.

15[15] Assefa, N,. Berhane, Y. & Worku, A. (2012). Wealth Status, Mid Upper Arm Circumference (MUAC) and Antenatal Care
(ANC) Are Determinants for Low Birth Weight in Kersa, Ethiopia

Hasil studi WHO (1984) pada orang lanjut usia ditemukan sebanyak 4,6%-8% mempunyai kekuatan otot kurang, fleksibilitas rendah, tidak mampu menaiki tangga, kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari dan kemandirian. Penelitian epidemiologi lain menyebut-kan bahwa usia lanjut, jenis kelamin wanita, kekuatan otot kurang dan flek-sibilitas sendi rendah merupakan faktor risiko terjatuh.15 Menurut goulding A (2003), menetapkan dalam penenelitiannya adalah kami menetapkan bahwa wanita berusia 4-5 tahun relatif tinggi adipositas cenderung mempertahankan lintasan jauh lebih tinggi keuntungan lemak, dibandingkan anak perempuan yang lebih ramping pada awal. Namun demikian, adalah meyakinkan untuk dicatat bahwa tidak setiap anak dengan tinggi adipositas awal memperoleh sejumlah besar lemak. Dengan demikian, meskipun memburuk adipositas lebih mungkin sebagai kemajuan masa kanak-kanak, maka bukan merupakan konsekuensi tak terelakkan dari memiliki lemak tinggi Persentase pada 5 y usia. Apakah atau tidak adipositas yang berlebihan menjadi lebih parah dari waktu ke waktu akan tergantung pada keseimbangan setiap anak mencapai antara asupan energi dan mereka pengeluaran energi. Pengukuran longitudinal kami menunjukkan bahwa anak perempuan dari kelompok persentase lemak rendah adalah mendapatkan rata-rata 2 g lemak per hari, sedangkan yang dari Persentase kelompok lemak tinggi yang mengumpulkan sekitar 6 gram lemak sehari-hari.16[16]

BAB V PENUTUP

16[16] Goulding, A., Taylor, RW., Jones, IE., Barned, N.L., & Williams, SM. (2003). Body composition of 4- and 5-year-old New Zealand girls: a DXA study of initial adiposity and subsequent 4-year fat change International Journal of Obesity.

V.1 Kesimpulan 1. Untuk Indeks Massa Tubuh (IMT) saya melalui pengukuran berat badan dan tinggi badan adalah 19,85 dimana BB 43,5 kg dan TB 148 cm. 2. Untuk Rasio Lingkar Pinggang-Panggul (WHR) saya melalui pengukuran lingkar pinggang dan lingkar panggul adalah 0,76 dimana L.Pi 61 dan L.Pa 80. 3. 4. Untuk lingkar perut saya adalah 69 (normal) jadi saya tidak tergolong dalam obesitas sentral. Untuk persen Body Fat (%BF) saya adalah 21,32 (Healthy Range) dengan hasil pengukuran tricep 11,8 dan subscapula 11. 5. Untuk pengukuran lingkar lengan atas (LILA) adalah 22,5 cm (KEK), berarti mengalami Kekurangan Energi Kronik (KEK). 6. Untuk pengukuran TB/TL adalah 130,96 dimana tinggi badan (TB) = 148 cm dan tinggi lutut (TL) = 46,3 sehingga diperoleh hasil 130,96 dengan selisih 8,9. beresiko

V.2 Saran a. Kepada Dosen Mohon agar kiranya para dosen masuk sesuai jadwal yang telah ditetapkan. b. Kepada Asisten Semoga tetap dan akan selalu bersahabat dengan praktikan sehingga proses praktikum yang akan dilakukan dapat berjalan dengan baik. c. Laboratorium Mohon agar laboratoriumnya lebih diperbesar lagi agar praktikum yang dilakukan lebih maksimal dan efektif. d. Kegiatan Praktikum Agar kiranya praktikum dilakukan tepat pada waktu yang telah ditentukan. DAFTAR PUSTAKA 1. Sandjadja dkk. 2010. Kamus Gizi Pelengkap Kesehatan Keluarga. Jakarta : Kompas.

2. Nugroho, Adi. 2002. Pengaruh Faktor Usia, Status Gizi dan Pendidikan Terhadap International Prostat Symptom pada Penderita Hiperplasia. Cermin Dunia Kedokteran. XI : 678-745. 3. Deniz Nazire. 2007. Antropometrik pengukuran dan analisis komposisi tubuh

remaja obesitas dengan dan tanpa sindrom metabolik.

4. Karmegam, dkk., 2011. Antropometrik studi di kalangan orang dewasa yang berbeda etnis di Malaysia. 5. Perisinotto, dkk., 2002. Anthropometric measurements in the elderly: age and gender differences. 6. Supariasa, dkk. 2001. Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC. 7. Sirajuddin, Saifuddin. 2011. Penuntun Praktikum Penilaian Status Gizi Secara Biokimia dan Antropometri. Makassar: Universitas Hasanuddin. 8. Gibson, Rosalind S. 2005. Principles Nutritional Assesment. Oxford: University Press. 9. Fatmah. 2005. Persamaan (Equation) tinggi Badan Manusia Usia Lanjut (Manula) Berdasarkan Usia dan etnis pada 6 Panti terpilih di DKI Jakarta dan Tangerang tahun 2005. Jurnal UI. X :ISSN 1693-6728. 10. Kristanti. 2010. Penakit Akibat Kelebihan dan Kekurangan Vitamin, Mineral dan Elektrolit. Yogyakarta : Citra Pustaka. 11. Steven, june., Jianwencai., Pamuk, E., Williamson, Df., Michaelj. Thun, M.D.,& Joy L. Wood, M.S.. (1998) . The Effect Of Age On The Association Between Body-Mass Index And Mortality. The New England Journal Of Medicine Vol. 338 Januari 1, 1998no.1. 12. Esmaillzadeh, A., Mirmiran, P., & Azizi, F. (2004) Waist-To-Hip Ratio Is A Better Screening Measure For Cardiovascular Risk Factors Than Other AnthropometricIndicators In Tehranian Adult Men International Journal Of Obesity (2004) 28,13251332. 13. Campbell., Avenel. A & A.E. Walker. (2002). Assessment Of Nutritional Status In Hospital InPatients. Q J Med 2002; 95:8387. 14. Afif maulidiyah & adiani sulistiani. 2012. Jurnal kebidanan, vol. IV. No.01, Juni 2012. Hungan lingkar lengan atas (LILA) dan kadar hemoglobin dengan berat lahir. 15. Assefa, N,. Berhane, Y. & Worku, A. (2012). Wealth Status, Mid Upper Arm Circumference (MUAC) and Antenatal Care (ANC) Are Determinants for Low Birth Weight in Kersa, Ethiopia. PLoS ONE www.plosone.org June 2012, Vol. 7 Issue 6 e39957. 16. Goulding, A., Taylor, RW., Jones, IE., Barned, N.L., & Williams, SM. (2003). Body composition of 4- and 5-year-old New Zealand girls: a DXA study of initial adiposity and subsequent 4-year fat change International Journal of Obesity (2003) 27, 410415.

LAMPIRAN 1. IMT (Berat Badan dan Tinggi Badan) Pengukuran Berat Badan dengan menggunakan alat digital seca Pengukuran Tinggi Badan dengan menggunakan alat ukur microtoice

2. Pengukuran Tinggi Lutut Pengukuran Tinggi lutut dengan menggunakan alat ukur yang dirancang khusus

3. WHR (Pengukuran Lingkar Pinggang dan Lingkar Panggul) Pengukuran Lingkar Pinggang dengan menggunakan pita circumference Pengukuran Lingkar Panggul dengan menggunakan pita circumference

4. Pengukuran Lingkar Perut Pengukuran Lingkar Panggul dengan menggunakan pita circumference

5. Pengukuran LiLA Pengukuran LiLA dengan menggunakan pita circumference Pengukuran mid point sebelum menentukan ukuran LiLA menggunakan pita circumference 6. %BF (Pengukuran Tricep dan Sunscapular) Pengukuran tricep dengan menggunakan subscapular skinfold Pengukuran tricep dengan menggunakan tricep skinfold

Seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa diantara kelompok umur yang rentan terhadap penyakitpenyakit kekurangan gizi adalah kelompok bayi dan anak balita. Oleh sebab itu, indikator yang paling baik untuk mengukur status gizi masyarakat adalah melalui status gizi balita (bayi dan anak balita). Selama ini telah banyak dihasilkan berbagai pengukuran status gizi tersebut dan masing-masing ahli mempunyai argumentasi sendiri dalam mengembangkan pengukuran tersebut.

Studi-studi telah menguji berbagai pengukuran status gizi dan membuat berbagai rekomendasi. Waterlow (1973) menyarankan untuk pengukuran status gizi pada saat ini digunakan ukuran berat badan per tinggi badan. Sedangkan ukuran tinggi badan per umur hanya cocok untuk mengukur status gizi pada saat yang lalu. Ia menyebutkan pula bahwa berat badan per umur berguna bagi pengukuran seri untuk anak dibawah 1 tahun.

Throwbridge F. (1970) dari hasil studinya menyimpulkan bahwa ukuran berat badan per umur tidak atau kurang mampu dapat membedakan antara malnutrisi akut dan malnutrisi kronik. Oleh sebab itu ia menyarankan bahwa berat badan per tinggi badan dan lingkar lengan atas adalah indikator yang paling baik untuk mengetahui prevalensi malnutrisi akut pada anak. Sedangkan untuk prevalensi malnutrisi kronik dipergunakan ukuran tinggi badan per umur.

Zeitlin, MF. (1973) menyarankan untuk anak berumur kurang dari 2 tahun sebagai indikator pertumbuhan anak, cukup menggunakan ukuran berat badan per umur saja. Dari hasil pengamatan, untuk anak berumur 2-5 tahun yang mempunyai berat badan rendah menunjukkan adanya gejala malnutrisi yang berat. Selanjutnya ia menyarankan bahwa berat badan per umur saja sudah dapat dipergunakan untuk mengukur status gizi pada anak dibawah 5 tahun bahkan anak yang lebih tua pun dapat mempergunakan ukuran tersebut.

Morley D. (1971) membahas bahwa pengukuran berat badan dan tinggi badan mempunyai beberapa kelemahan, antara lain kurang akuratnya dalam pelaksanaan pengukuran oleh para petugas. Tetapi ia menyatakan bahwa ukuran lain pun tidak mempunyai nilai yang dinamis untuk pertumbuhan anak. Akhirnya ia berkesimpulan bahwa berat badan dan tinggi badan per umur dapat mencerminkan status gizi anak, baik pada waktu yang lampau maupun status pada saat ini.

Dan akhirnya untuk berat dan tinggi per umur sebagai indikator status gizi anak, pada umumnya para peneliti cenderung mengacu kepada standar harvard dengan berbagai modifikasi. Dibawah ini akan diuraikan 4 macam cara pengukuran yang sering dipergunakan di bidang gizi masyarakat serta klasifikasinya :

1. Berat Badan Per Umur

Berdasarkan klasifikasi dari Universitas Harvard, keadaan gizi anak diklasifikasikan menjadi 4 tingkat, yakni : a. Gizi lebih (over weight) b. Gizi baik (well nourished) c. Gizi kurang (under weight) yang mencakup kekurangan kalori dan protein (KKP)

tingkat I dan II.

Untuk negara-negara sedang berkembang pada umumnya menggunakan klasifikasi dari Harvard (Standard Harvard) tersebut dengan berbagai modifikasi. Oleh karena standar Harvard tersebut dikembangkan untuk mengukur status gizi anak dari negara-negara barat maka prinsip utama dalam modifikasi adalah disesuaikan dengan kondisi anak-anak dari negara-negara Asia dan Afrika. Sehingga untuk negara-negara sedang berkembang, termasuk Indonesia, klasifikasi status gizi anak didasarkan pada 50 percentile dari 100% standar Harvard.

Klasifikasi dari standar Harvard yang sudah dimodifikasi tersebut adalah sebagai berikut : a. Gizi baik adalah apabila berat badan bayi / anak menurut umurnya lebih dari 89% standar Harvard. b. Gizi kurang adalah apabila berat badan bayi / anak menurut umur berada diantara 60,1-80 % standar Harvard. c. Gizi buruk adalah apabila berat badan bayi / anak menurut umurnya 60% atau kurang dari standar Harvard.

Secara terperinci, pengukuran status gizi bayi / anak balita berdasarkan berat dan tinggi badan adalah menggunakan tabel seperti dibawah.

Tabel Berat dan Tinggi Badan Menurut Umur (0-5 Tahun, Jenis Kelamin Tidak Dibedakan)

-------------------------------------------------------------------------------------Umur Berat (Kg) Tinggi (Cm)

-------------------------------------------------------------------------------------Normal Kurang Buruk Normal Kurang Buruk

Tahun Bulan ---------------------------------------------------------------------Baku 80% Baku 60% Baku Baku 80% Baku 60% Baku

-------------------------------------------------------------------------------------0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 1 0 3 6 9 2 0 3 6 9 3 0 3 6 9 3,4 4,3 5,0 5,7 6,3 6,9 7,4 8,0 8,4 8,9 9,3 9,6 9,9 10,6 11,3 11,9 12,4 12,9 13,5 14,0 14,5 15,0 15,5 16,0 2,7 3,4 4,0 4,5 5,0 5,5 5,9 6,3 6,7 7,1 7,4 7,7 7,9 8,5 9,0 9,6 9,9 10,5 11,2 11,7 11,9 12,0 12,4 12,9 2,0 2,5 2,9 3,4 3,8 4,2 4,5 4,9 5,1 5,3 5,5 5,8 6,0 6,4 6,8 7,2 7,5 7,8 8,1 8,4 8,7 9,0 9,3 9,6 60,5 65,0 68,0 60,0 62,0 64,5 66,0 67,5 62,0 70,5 72,0 73,5 74,5 78,0 81,5 84,5 87,0 88,5 92,0 94,0 96,0 98,0 99,5 101,5 43,0 46,0 49,0 51,0 53,5 54,5 56,0 57,5 52,0 60,0 61,5 63,0 54,5 65,5 70,0 72,0 74,0 76,0 78,0 80,0 82,0 83,5 84,5 85,5 35,0 38,0 40,5 42,0 43,5 45,0 46,0 47,0 48,5 42,5 50,5 51,5 52,5 54,5 57,0 60,0 61,0 62,5 64,0 66,5 67,0 88,5 70,0 71,0

0 3 6 9

16,5 17,0 17,4 17,9 18,4

13,2 13,6 14,0 14,4 14,7

9,9 10,2 10,6 10,8 11,0

103,5 105,0 107,0 108,0 109,0

87,5 89,5 90,0 91,5 92,5

72,0 73,5 74,5 75,5 76,0

-------------------------------------------------------------------------------------Sumber : Puslitbang Gizi, Depkes RI

2. Tinggi Badan Menurut Umur

Pengukuran status gizi bayi dan anak balita berdasarkan tinggi badan menurut umur, juga menggunakan modifikasi standar Harvard dengan klasifikasinya adalah sebagai berikut : a. Gizi baik yakni apabila panjang / tinggi badan bayi / anak menurut umurnya lebih dari 80% standar Harvard. b. Gizi kurang, apabila panjang / tinggi badan bayi / anak menurut umurnya berada diantara 70,1-80 % dari standar Harvard. c. Gizi buruk, apabila panjang / tinggi badan bayi / anak menurut umurnya kurang dari 70% standar Harvard.

3. Berat Badan Menurut Tinggi

Pengukuran berat badan menurut tinggi badan itu diperoleh dengan mengkombinasikan berat badan dan tinggi badan per umur menurut standar Harvard juga. Klasifikasinya adalah sebagai berikut : a. Gizi baik, apabila berat badan bayi / anak menurut panjang / tingginya lebih dari 90% dari standar Harvard. b. Gizi kurang, bila berat bayi / anak menurut panjang / tingginya berada diantara

70,1-90 % dari standar Harvard. c. Gizi buruk apabila berat bayi / anak menurut panjang / tingginya 70% atau kurang dari standar Harvard.

4. Lingkar Lengan Atas (LLA) Menurut Umur

Klasifikasi pengukuran status gizi bayi / anak berdasarkan lingkar lengan atas yang sering dipergunakan adalah mengacu kepada standar Wolanski. Klasifikasinya sebagai berikut : a. Gizi baik apabila LLA bayi / anak menurut umurnya lebih dari 85% standar Wolanski. b. Gizi kurang apabila LLA bayi / anak menurut umurnya berada diantara 70,1-85 % standar Wolanski. c. Gizi buruk apabila LLA bayi / anak menurut umurnya 70% atau kurang dari standar Wolanski.

Pengukuran status gizi bayi / anak berdasarkan lingkar lengan atas secara terperinci adalah menggunakan tabel seperti dibawah.

Tabel Standar Baku Lingkar Lengan Atas (LLA) Menurut Umur

-------------------------------------------------------------Umur ----------Standar (Cm) 85% (Cm) 70% (Cm)

Tahun Bulan -------------------------------------------------------------0 6-8 14,75 12,50 10,50

0 1 2 3 4 5

9-11 -

15,10 16,00 16,25 16,50 16,75 17,00

13,25 13,50 13,75 14,00 14,25 14,50

11,00 11,25 11,50 11,60 11,75 12,00

-------------------------------------------------------------Sumber : Pedoman Ringkas Pengukuran Antropometri, hal. 18

Update : 21 Juli 2006

Sumber :

Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Cet. ke-2, Mei. Jakarta : Rineka Cipta. 2003.