Gambaran Darah Rutin pada penderita Demam Tifoid di Rumah Sakit Umum Daerah Dr.

Pirngadi Medan Tahun 2010
Oleh : Desi Novita Sari 081001046

Dosen Pembimbing : dr. H.Ryani Susan Bt.Hasan,MKT

BAB 1 PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Indonesia sebagai Negara Berkembang masih banyak menghadapi masalah kesehatan terutama akibat penyakit infeksi salah satunya ialah Demam Tifoid, yang bila penanganan pelayanan kesehatan kurang baik dapat menimbulkan tingginya morbiditas dan mortalitas.

Demam Tifoid adalah infeksi akut pada saluran pencernaan yang disebabkan oleh Salmonella typhi dengan gejala demam lebih dari tujuh hari dan disertai gangguan kesadaran

Berdasarkan WHO secara global bahwa insiden Demam Tifoid adalah 21 juta setiap tahunnya. Angka kematian insidensi global tersebut 1-4% dan 90% kematian tersebut terjadi di Asia. Survei tahun 2001 di Indonesia menunjukkan bahwa Demam Tifoid menempati urutan ke-3 dari sepuluh penyakit utama penyebab kematian dengan prevalensi 9,4% dengan kasus 170.324 kasus.

519 penderita . insidensi penyakit Demam Tifoid menduduki urutan kedua dari pola penyakit terbanyak penderita rawat inap pada seluruh RSU di Indonesia yaitu sebanyak 182.Menurut laporan data surveilans yang dilakukan oleh Sub Direktorat Surveilans Departemen Kesehatan RI pada tahun 2002.

5%) dan leukosit normal (65.9%).5%) dan limfositosis (91%). lekopenia terdapat pada 4.46.soetomo Surabaya mendapatkan hasil pemeriksaan darah penderita demam tifoid berupa leukositosis (12.3% .Berdasarkan penelitian oleh Darmowandowo (1998) di RSU Dr. sedangkan Penelitian Zainal (1992) dan Kaur (1992) melaporkan hasil penelitian di Malaysia.6 .8% penderita. lekositosis (3.trombosit didapatkan pada 39% penderita. Sedangkan berdasarkan penelitian Herawati (1999) melakukan penelitian di RSHS Bandung mendapatkan lekopenia (29%).

sebab gambaran klinis penyakit ini amat bervariasi dan umumnya tidak khas untuk demam tifoid. Dengan demikian peran laboratorium dalam membantu menegakan diagnosis amat penting.Diangnosis demam tifoid sukar untuk dapat ditegakan hanya atas dasar gejala klinis saja. salah satu nya dengan pemeriksaan profil darah rutin .

maka peneliti dapat merumuskan masalah sebagai berikut : Bagaimana Gambaran Profil Darah Rutin pada Penderita Demam Tifoid di Rumah di Rumah Sakit Umum Daerah Daerah Dr.RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang diatas.Pirngadi Medan Tahun 2010 .

Tujuan Umum Tujuan Khusus 1. Untuk mengetahui Gambaran leukosit normal. Untuk mengetahui peranan tes widal sebagai pendamping tes darah rutin dalam menegakkan diagnosa Demam Tifoid. 3. Leukopenia.Tujuan Penelitian Bagaimana Gambaran Profil Darah Rutin pada Penderita Demam Tifoid di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. 2. . Trombositopenia pada Penderita Demam Tifoid. Leukositosis pada Penderita Demam Tifoid. Pirngadi Medan Tahun 2010. Untuk mengetahui Gambaran Limfopenia .

Sebagai bahan bacaan dan pertimbangan untuk penelitian selanjutnya. Hasil penelitian dapat digunakan untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang Gambaran Profil Darah Rutin pada Penderita Demam Tifoid. 3. masukan dan referensi kepada mahasiswa/i Fakultas Kedokteran UISU Medan tentang Gambaran Profil Darah Rutin pada Penderita Demam Tifoid. Sebagai bahan bacaan. Sebagai bahan masukan kepada pihak rumah sakit untuk memudahkan mendiagnosa Demam Tifoid dengan cara pemeriksaan darah rutin. .Manfaat Penelitian 1. 4. 2.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA .

. Penyakit ini disebabkan oleh Salmonella typhosa.Definisi Demam Tifoid merupakan penyakit infeksi akut pada usus halus dengan gejala lebih satu minggu atau lebih disertai gangguan pada saluran pencernaan dengan atau tanpa gangguan kesadaran.

dan tidak menghasilkan spora. motil. serta mati pada suhu 70o C ataupun oleh antiseptik. Sampai saat ini.Etiologi Penyakit ini disebabkan infeksi kuman Salmonella typhosa/Eberthella typhosa yang merupakan kuman gram negatif. Kuman ini dapat hidup baik sekali pada suhu tubuh manusia maupun suhu yang sedikit lebih rendah. diketahui bahwa kuman ini hanya menyerang manusia .

kepadatan penduduk. sumber air minum dan standar hygiene industri pengolahan makanan yang masih rendah .Epidemiologi Demam tifoid merupakan penyakit infeksi yang dijumpai secara luas di daerah tropis dan subtropis terutama di daerah dengan kualitas sumber air yang tidak memadai dengan standar hygiene dan sanitasi yang rendah. Beberapa hal yang mempercepat terjadinya penyebaran demam tifoid di negara sedang berkembang adalah urbanisasi.

Patogenesis Salmonella typhosa  manusia  lambung  respon imun  sel epitel &lamina propria (di lamina propria kuman berkembang biak & difagosit oleh sel-sel fagosit terutama makrofag) duktus torasikusaliran darah (hati & limpa)  kuman meninggalkan sel-sel fagositberkembang biakbakterimiademam tifoid .

• Mingggu ketiga : demam terus menerus. distensi abdomen. diare. nyeri kepala. • Minggu kedua : demam terus menerus. delirium. malaise. apatis. • Minggu keempat : perbaikan bertahap pada semua gejala .Gejala klinis • Minggu pertama : demam yang semakin meningkat.

000 sel/mm 3 kemudian dapat berkembang menjadi leukopenia (< 2000 sel per mikroliter) dapat terjadi tetapi jarang.000-25.Pemeriksaan laboratorium •Pemeriksaan darah : Pada demam tifoid biasa didapatkan anemia. Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang digunakan untuk diagnosis demam tifoid •Kultur darah : Hasil biakan darah yang positif memastikan demam tifoid. Aglutinin H (flagella kuman). akan tetapi hasil negatif tidak dapat menyingkirkan demam tifoid . jumlah leukosit normal. Aglutinin Vi (simpai kuman). bisa leukosikositosis 20. Dan biasanya juga dijumpai trombositopenia •Pemeriksaan serologis (tes widal) : Uji Widal untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum penderita tersangka demam tifoid yaitu : Aglutinin O (dari tubuh kuman).

Penatalaksanaan • Istirahat dan perawatan. karena makanan yang kurang akan menurunkan keadaan umum dan gizi penderita akan semakin turun dan proses penyebuhan akan menjadi lama. ampisin. tiamfenikol. amoksilin. kotrimoksazol. Tujuan mengembalikan rasa nyaman dan kesehatan pasien secara optimal. Tujuan menghentikan dan mencegah penyebaran kuman. Obat-obat antimikroba yang digunakan untuk mengobati demam tifoid adalah kloramfenikol yang merupakan obat pilihan utama untuk mengobati demam tifoid. • Pemberian antimikroba. Diet merupakan hal yang cukup penting dalam proes penyembuhan penyakit demam tifoid. Tujuan mencegah komplikasi dan mempercepat penyembuhan • Diet dan terapi penunjang (simtomatik dan suportif). .

• Perdarahan usus. Bila luka menembus lumen usus dan mengenai pembuluh darah maka terjadi perdarahan. Bila pada gambaran foto polos abdomen ditemukan udara pada rongga peritoneum atau subdiafragma kanan. Perdarahan hebat dapat menyebabkan syok • Bronkitis dan bronkopneumonia. Bronkitis terjadi pada akhir minggu pertama dan perjalan penyakit. Pada plak Peyeri usus yang terinfeksi dapat terbentuk tukak/luka berbentuk lonjong dan memenjang terhadap sumbu usus. Pada kasus yang berat. penderita demam tifoid dengan perforasi mengeluh nyeri perut hebat pada kuadran kanan. dapat terjadi bronkopnemonia. .Komplikasi • Perforasi usus. hal ini lah yang menentukan terdapatnya perforasi usus pada demam tifoid.

derajat kekebalan tubuh penderita. gizi.Prognosis Prognosis tergantung pada umur. Di negara berkembang. dan pengobatan . cepat dan tepatnya pengobatan serta komplikasi yang ada. perawatan. angka mortalitasnya > 10%. biasanya karena keterlambatan diagnosi.

pemanasan sampai suhu 57o C beberapa menit dan secara merata juga dapat mematikan kuman Salmonella typhi . maka setiap individu harus memperhatikan kualitas makanan dan minuman yang mereka konsumsi. Untuk makanan.typhi.Pencegahan Secara umum. Salmonella typhi di dalam air akan mati apabila dipanasi setinggi 57o C untuk beberapa menit. Penurunan endemitas suatu negara/daerah tergantung pada baik buruknya pengadaan sarana air dan pengaturan pembuangan sampah serta tingkat kesadaran individu terhadap hygiene pribadi . untuk memperkecil kemungkinan tercemar S.

BAB III Metode Penelitian .

Lekosit normal. 2.l eukopenia. Limfositosis 3.Kerangka konsep Rumah Sakit Pirngadi Medan Rekam Medis Tahun 2010 Demam Tifoid Gambaran darah rutin: 1.leukositosis. Trombositopenia .

000-11. Leukosit normal : jumlah sel darah pitih dalam batas normal dengan nilai 4.000-450.000/µL Trombositopenia : Terjadi penurunan trombosit dari batas normal yang tercantum dalam rekam medis di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Pirngadi 2010 dengan nilai normal leukosit 4.000-11. Pirngadi tahun 2010 dengan nilai normal trombosit 150.000/µL Leukositosis : Terjadi peningkatan sel darah putih dari batas normal yang tercantum dalam rekam medis Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Pirngadi tahun 2010. . Pirngadi tahun 2010 dengan nilai normal leukosit 4.000-11.000/µL Leukopenia : Terjadinya penurunan sel darah putih dari batas normal yang tercantum dalam rekam medis di Rumah Sakit Umum Daerah Dr.000 /µL Demam tifoid : Penyakit infeksi akut pada saluran pencernaan dengan gejala demam lebih satu minggu atau lebih disertai dengan atau tanpa gangguan kesadaran.Definisi operasional Penderita : Orang yang menderita penyakit demam tifoid tercantum dalam rekam medis di Rumah Sakit Umum Daerah Dr.

Rancangan penelitian Deskriptif Gambaran Profil Darah Rutin pada Penderita Demam Tifoid di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Pirngadi Medan Tahun 2010 .

Pirngadi Medan.31 September 2011 . Lokasi penelitian Waktu penelitian bulan 1 Juli.Lokasi dan waktu penelitian Poliklinik Penyakit Dalam RSUD Dr.

Populasi dan sampel penelitian Populasi adalah semua data Hasil Laboratorium penderita Demam Tifoid yang tercatat dalam rekam medis di Poliklinik Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Daerah Pirngadi Medan Tahun 2010. .

dan diagram batang . Pirngadi Medan Tahun 2010 Pengolahan data menggunakan program manual Analisis data melihat presentase data yang terkumpul dan disajikan dalam bentuk diagram pie.Metode pengumpulan data menggunakan data sekunder yang diperoleh dari kartus status atau rekam medis di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD Dr.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .

HASIL PENELITIAN ditemukan 256 penderita Demam Tifoid di Rumah Sakit Umum Daerah Dr.Pirngadi Medan Tahun 2010 .

Leukosit Normal Leukopenia Leukositosis jumlah .50% 40.63% 21. 2.1Distribusi Proporsi Gambaran Profil Leukosit Pada Penderita Demam Tifoid di RSUD Dr.Pirngadi Tahun 2010 No Darah Rutin Distribusi Proporsi Jumlah Penderita 96 104 56 256 Presentase 37.1.87% 100% 1. 3.Tabel IV.

63%% Leukosistosis .50% Leukosit Normal Leukopenia 40.87% 37.Distribusi Proporsi Gambaran Profil Leukosit Pada Penderita Demam Tifoid di RSUD Dr.Pirngadi Medan Tahun 2010 21.

78% 100% .2 Distribusi Proporsi Gambaran Profil Limfosit Pada Penderita Demam Tifoid di RSUD Dr.1.Tabel IV.Pirngadi Tahun 2010 No Darah rutin Distribusi proporsi Jumlah penderita presentase 1 Limfosit normal Limfositosis Jumlah 126 49.22% 2 130 256 50.

78% 49.Pirngadi Medan Tahun 2010. 50.22% Limfosit Normal Limfositosis .Distribusi Proporsi Gambaran Profil Limfosit Pada Penderita Demam Tifoid di RSUD Dr.

Pirngadi Tahun 2010 No Trombosit Distribusi Proporsi Jumlah penderita 1 2 Trombosit normal Trombositopenia Jumlah 134 122 256 presentase 52.1.3 Distribusi Proporsi Gambaran Profil Trombosit Pada Penderita Demam Tifoid di RSUD Dr.34% 47.Tabel IV.66% 100% .

34%% Trombosit Normal Trombositopenia .Distribusi Proporsi Gambaran Profil Trombosit Pada Penderita Demam Tifoid di RSUD Dr.Pirngadi Tahun2010 47.66% 52.

43%) mengalami leukopenia.50%) didapati leukosit normal.5%). Menurut hasil penelitian Herawati (1999) yang melakukan penelitian serupa di RSHS Bandung mendapatkan leucopenia (29%) dan leukositosis (3. 104 0rang (60. . 56 orang (21.2.PEMBAHASAN IV.87%) mengalami leukositositosis.1 Berdasarkan Gambaran Profil Leukosit Berdasarkan Penelitian yang telah dilakukan pada 256 penderita demam tifoid diperoleh sebanyak 96 orang (37.

5%).Soetomo. Dari beberapa hasil penelitian yang dilakukan terdapat perbedaan yang mungkin terjadi akibat jumlah sample yang berbeda.5%) dan leukositosis (12.3% .8% penderita. . sedangkan menurut penelitian Zainal (1992) dan Kaur (1992) pada 92 penderita demam tifoid didapati leucopenia sekitar 4.46.Dan menurut penelitian Darmowandowo (1998) di RSU Dr. Surabaya mendapatkan hasil pemeriksaan darah penderita demam tifoid leukosit normal (65.

22%) dan 130 orang (50.IV.2.78%).2 Berdasarkan Gambaran Profil Limfosit Dari hasil data penelitian yang didapat bahwa distribusi frekuensi gambaran profil limfosit pada penderita demam tifoid di Rumah Sakit Daerah Umum Dr. Menurut penelitian Zainal (1992) dan Kaur (1992) melaporkan hasil penelitian nya mengenai hitung jenis biasanya normal atau sedikit bergeser ke kiri memungkinkan adanya limfositosis relatif terutama pada fase lanjut .Pirngadi Medan didapati limfosit normal 126 orang (49.

Sedangkan menurut penelitian Herawati (1999) yang melakukan penelitian serupa di RSHS Bandung mendapatkan limfositosis 91% penderita. . Dari beberapa hasil penelitian di atas yang dilakukan terdapat perbedaan yang mungkin terjadi akibat jumlah sample yang berbeda.

34%) dan trombositopenia 122 orang (47. Dari hasil penelitian yang dilakukan terdapat perbedaan yang mungkin terjadi akibat jumlah sample yang berbeda .Pirngadi Medan didapati trombosit normal 134 orang (52.2.66%).IV. Menurut penelitian Zainal (1992) dan Kaur (1992) pada 92 penderita demam tifoid didapati trombositopenia sekitar 39%.3 Berdasarkan Gambaran Profil Trombosit Dari hasil data penelitian yang didapat bahwa distribusi frekuensi gambaran profil trombosit pada penderita demam tifoid di Rumah Sakit Daerah Umum Dr.

leucopenia 104 orang penderita (40.63%).Pirngadi Medan Tahun 2010 ditemukan sebanyak 256 orang penderita. Jumlah penderita demam tifoid di Rumah Sakit Daerah Umum Dr. dan leukositosis 56 orang penderita (21. Hasil penelitian yang dilakukan mengenai gambaran profil darah rutin pada penderita demam tifoid berdasarkan gambaran profil leukosit nya yaitu leukosit normal 96 orang penderita (37.KESIMPULAN a.87%). b.50%). .

78%). dan limfositosis 130 orang penderita (50.c. . dan trombositopenia 122 orang penderita (47. Hasil penelitian yang dilakukan mengenai gambaran profil darah rutin pada penderita demam tifoid berdasarkan gambaran profil trombosit nya yaitu trombosit normal 134 orang penderita (52. d. Hasil penelitian yang dilakukan mengenai gambaran profil darah rutin pada penderita demam tifoid berdasarkan gambaran profil limfosit nya yaittu limfosit normal 126 orang penderita (49.34%).66%).22%).

adanya leucopenia dan limfositosis relative menjadi dugaan kuat diagnosis demam tifoid .e.spesifitas dan nilai ramal yang cukup tinggi untuk dipakai dalam membedakan antara penderita demam tifoid atau bukan. Tetapi. Uji darah rutin adalah tes yang hanya sebagai pelengkap diagnose dimana pada beberapa penelitian hitung jumlah dan jenis leukosit tidak mempunyai sensitivitas.

Diharapkan kepada peneliti untuk dapat menambah wawasan.SARAN a. Untuk mendapatkan hasil yang optimal diperlukan penelitian dengan jumlah sampel yang lebih besar dengan mengambil data dari duaatau tiga rumah sakit. sehimgga dianggap cukup mewakili populasi yang ada. b. pengetahuan dan kemampuannya sendiri serta dapat mengembangkannya dengan memberikan ilmu yang telah didapat selama meneliti gambaran penderita demam tifoid kepada masyarakat luas yang membutuhkannya. .

Pirngadi Medan agar dapat melengkapi data pasien dalam melakukan rekam medik (medical record) agar semua data pasien dapat diketahui secara lengkap. d. .c. Diharapkan kepada pihak Rumah Sakit Daerah Umum Dr. Diharapkan bagi Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatra Utara agar dapat memperbanyak refeerensinya mengenai gambaran profil darah rutin pada penderita demam tifoid sehingga mahasiswa dan mahasiswi dapat mengetahui informasi terkini mengenai gambaran profil darah rutin demam tifoid.

agar dapat mengetahui peranan uji tes darah rutin pada penderita demam tifoid. .e. Bagi penelitian selanjutnya dengan masalah yang sama. diharapkan agar tidak hanya menggunakan rekam medic tetapi juga lebih memperdalam pendekatan diri terhadap pasien dan bagian laboratorium.

Ilmu Penyakit Anak Diagnosa & Penatalaksanaan. Lucianus J. Accessed September 5. Jurnal Kedokteran Maranatha. 2. 2005: 3. Ismoedijanto. Darinowandowo W. . editor. Angelia. Medika Kartika. 25-7 Widoyono. 2001: 22. 34 Saputra K. Demam Tifoid. Jurnal Kedokteran Trisakti. Jakarta: Erlangga.Daftar pustaka 1. 2002. 5. 2011 Pawitro UE. http://www. 22 Prasetyo RV. Hatta M. Firdaus. Meditek.Metode Diagnostik Demam Tifoid. Penyakit tropis. Noorvitry M. 6.com/buletin/06224114418-f53zji. Santoso M. 83 4. Ernawati A.doc. Jakarta: Salemba Medika. Chandra D. Perbandingan Tes Serologi Dipstik dengan Widal untuk Diagnosis Demam Tifoid. 2.20-7 Sabir M. Nilai Diagnostik Pemeriksaan Widal Tunggal Berdasarkan Waktu Pengambilan Sampel Darah pada Penderita Tersangka Demam Tifoid. 7. In: Soegijanto S. Pola Pengobatan pada Pasien Demam tifoid di RSUD Koja Periode 2001 Juni 2005. 2009: 9. 3. 2006: 4. 1 Saktiadi RS. 2008. Deteksi Mutasi pada Quinolone Resistant Determinimg Regions (QRDRs) Gen pada Salmonella typhi Isolat Klinik dan Galur Khas Indonesia.pediatrik. Yadi.

Wilkins EGL. Buku Ajar Infeksi & Pediatri Tropis. Demam Tifoid. Penyakit Infeksi. 339. K Simadibrata M. Setiati S. 2008.Widodo D. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Penyakit Infeksi. editors. Setiyohadi B. 2008. White RTM. 2010.Mandal BK. 2800-2 11.8. 342-5 10.Garna H. Hadinegoro SRS. Satari HI. 2009.Jakarta: FKUI. Soedarmo SSP. Penyakit Infeksi Tropis pada Anak. editors. 50-7. Jakarta: FKUI. Ed 6 . Ed 2. Jakarta: EGC. In: Sudoyo AW. Rampengan TH. 62 9. 46. 161 . 2797. Dunbar EM. Jakarta: Erlangga.

Naskah Lengkap Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Penyakit Dalam 2006. 132 16. 2001. editors. Salmonelosis. et al. 69 15. Jakarta:FKUI. editor. Ismail S. Imunodiagnosis Demam Tifoid. 39-40 13. 2007 . Tumberlaka AR. Keusch GT. In: Akib AAP. Ed 13. Setiati S. 2000. In: Sumaryono. Retnosari S. In: Asdie AH.. Lydia A. Bramantono. Demam Tifoid: Perkembangan Terbaru dalam Diagnosis dan Terapi. Zulkarnain I. Imunodiagnosis. Harrison PrinsipPrinsip Penyakit Dalam Vol 2. editors. Surabaya: Airlangga University. Nasronudin. dan Penatalaksanaan Demam Tifoid Masa Kini. Sastroasmor S.12. 2008. Gustaviani R. Ed 3. Erwin AT. Vitanata. Imunopatogenesis. Jakarta: EGC. Jakarta: Sagung Seto. Pendekatan Imunologis Berbagai Penyakit Alergi dan Infeksi. et al. Sukrisman L. Matondang CS. Penyakit Infeksi di Indonesia. In: Nasronudin.. editors. Dasar-Dasar Metodelogi Penelitian Klinis. Hadi U. Tumbelaka AR. 756 14. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 2006. 313 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful