LAPORAN KASUS ABSES PARU

PENDAHULUAN
• Abses paru adalah lesi paru berupa supurasi dan nekrosis jaringan. • Pada daerah abses, terdapat suatu daerah lokal nekrosis supurativa di dalam parenkim paru, yang menyebabkan terbentuknya satu atau lebih kavitas yang besar. • Beberapa penelitian menyimpulkan beberapa faktor terkait pendorong terjadinya abses paru, diantaranya para pecandu alkohol, penderita karies gigi, aspirasi saluran pernafasan sampai kelainan saluran pernafasan.

• Pada pemeriksaan foto polos sangat membantu untuk melihat lokasi lesi dan bentuk abses paru. Sedangkan pada CT dapat menunjukkan lesi yang tidak terlihat pada pemeriksaan foto polos dan dapat membantu menentukan lokasi dinding dalam dan luar kavitas abses. • Pemeriksaan radiologik lain seperti ultrasonografi (USG) juga dapat menentukan diagnosis meskipun jarang digunakan. • Dalam penatalaksanaan abses paru, antibiotik tunggal tidak menghasilkan hasil yang memuaskan kecuali pus bisa di drainase dari kavitas abses.

TINJAUAN PUSTAKA • DEFINISI Abses paru adalah infeksi destruktif berupa lesi nekrotik pada jaringan paru yang terlokalisir dengan proses supurasi sehingga membentuk kavitas yang berisi pus dalam parenkim paru pada satu lobus atau lebih. .

Nocardia Species – Jamur : Aspergillus. Escherichia coli. Streptococcus microaerophilic. Haemophilus influenza. Cryptococcus. Fusobacterium nucleatum. Alkoholik (50%) b. Ca Bronkogenik (25%) c. Bacillus intermedius. Miscellaneous (tidak teridentifikasi) 23. Peptostreptococcus species. Penyalahgunaan obat (cth : steroid) 3. Pseudomonas aeroginosa.3% f. Epilepsi (6. Microaerophilc streptococcus – Bakteri aerob : • Gram positif  Staphylococcus aureus. Bacteriodes fragilis. Streptococcus pneumonia • Gram negative  Klebsiella pneumonia. Karies gigi (20%) d. Entamoeba) . Actinomyces Species.3% e. Streptococcus pyogenes . Coccidioides – Parasit (Paragonimus.• FAKTOR PREDISPOSISI a.6%) • ETIOLOGI – Bakteri anaerob. biasanya diakibatkan oleh pneumonia aspirasi  Bacteriodes melaninogenus. Blastomyces.

• PATOFISIOLOGI .

Nyeri Dada  Gejala lain : Lelah.• GEJALA DAN TANDA Gejala klinis yang ada pada abses paru hampir sama dengan gejala pneumonia pada umumnya yaitu:  Demam Dijumpai pada 70% . Bila terjadi hubungan rongga abses dengan bronkus batuknya menjadi meningkat dengan bau busuk yang khas (Foetor ex oroe)  Produksi sputum yang meningkat dan Foetor ex oroe Dijumpai pada 40 – 75% penderita abses paru.80% penderita abses paru.  Batuk Pada stadium awal non produktif. penurunan nafsu makan dan berat badan . Kadang dijumpai dengan temperatur > 40 °C.

• Pada pemeriksaan fisik dapat dijumpai kelainan seperti nyeri tekan lokal. • Apabila abses paru letaknya dekat pleura dan pecah akan terjadi piotoraks (empiema toraks) sehingga pada pemeriksaan fisik ditemukan pergerakan dinding dada tertinggal di tempat lesi. perkusi redup/pekak. mungkin ditambah dengan tanda-tanda efusi pleura. suara bronchial dengan ronki basah atau krepitasi di tempat abses. bunyi nafas menghilang. dan terdapat tanda-tanda pendorongan mediastinum terutama pendorongan jantung kearah kontralateral tempat lesi . • Apabila abses luas dan letaknya dekat dengan dinding dadakadangkadang terdengar suara amforik. tanda-tanda konsolidasi seperti redup pada perkusi. fremitus vocal menghilang. usara nafas bronchial atau amforik terjadi bila kavitasnya besar dan karena bronkus masih tetap dalam keadaan terbuka disertai oleh adanya konsolidasi sekitar abses dan drainase abses yang baik.

Pada terapi peroral diberikan: Penisilin oral 750 mg empat kali sehari. Drainase postural Bronkoskopi Bedah . dan selanjutnya bisa dilanjutkan dengan terapi antibiotik peroral. Respons terapi yang baik akan terjadi dalam 2-4 minggu. 2-3 kali sehari intramuskular.• TERAPI Antibiotik Penisilin merupakan pilihan dengan dosis satu juta unit. Bila diperkirakan terdapat kuman gram negatif dapat ditambahkan kloramfenikol 500 mg empat kali sehari.

Gangguan intelegensia 8.• PROGNOSIS Bila tidak terlambat ditangani prognosisnya baik. . Lesi obstruksi 4. Lebih dari 90% dari abses paru-paru sembuh dengan manajemen medis saja. Immunocompromised 6. Abses yang besar (φ > 5-6 cm) 3. Angka kematian yang disebabkan oleh abses paru terjadi penurunan dari 30 – 40 % pada era preantibiotika dan sampai 15 – 20 % pada era sekarang. Perawatan yang terlambat Angka kematian untuk pasien dengan status yang mendasari immunocompromised atau obstruksi bronkial yang dapat memperburuk abses paru-paru mungkin mencapai 75%. Ada penderita dengan beberapa faktor predisposisi mempunyai prognosis yang lebih jelek dibandingkan dengan penderita dengan satu faktor predisposisi. Beberapa faktor yang memperbesar angka mortalitas pada Abses paru sebagai berikut : 1. kecuali disebabkan oleh obstruksi bronkial sekunder untuk karsinoma. Bakteri aerob 5. Usia tua 7. Anemia dan Hipoalbuminemia 2.

• Abses paru ditandai dengan peradangan di jaringan paru yang menimbulkan nekrosis dengan pengumpulan nanah. .GAMBARAN RADIOLOGI • Abses paru timbul bila parenkim paru terjadi obstruksi. Kemudian akan ditemukan gambaran radioluse dalam bayangan infiltrate yang padat. Perubahan reaksi radang pertama dimulai dari supurasi dan trombosis pembuluh darah lokal. infeksi kemudian menimbulkan proses supurasi dan nekrosis. foto dada hanya menunjukkan gambaran opak dari satu atau lebih segmen paru. Pembentukan jaringan granulasi terjadi mengelilingi abses. melokalisir proses abses dengan jaringan fibrotik. atau hanya berupa gambaran densitas homogeny yang berbentuk bulat. Pada hari-hari pertama penyakit. yang menimbulkan nekrosis dan likuifikasi.

dan menghasilkan batas udara air (air-fluid level) di dalam cavitas pada pemeriksaan radiografik . eksudat yang terkandung di dalamnya mungkin keluar sebagian.• Abses yang terbentuk dari bahan nekrotik akan tampak sebagai jaringan lunak sampai terhubung dengan bronkus. Bahan nekrotik ini akan dibatukkan keluar dan akan menimbulkan gambaran radiologik berupa defek lusen atau kavitas. • Seiring dengan membesarnya fokus supurasi. abses akhirnya akan pecah ke saluran napas. Oleh karena itu. Hubungan ini memungkinkan pengaliran keluar debris nekrotik.

RONTGEN THORAX .

juga sisa-sisa jaringan paru dapat ditemukan di dalam rongga abses • Pemeriksaan USG jarang dianjurkan pada pasien dengan abses paru. Apabila terdapat kavitas. USG juga dapat mendeteksi abses paru.CT-SCAN & USG • Gambaran CT pada abses paru adalah kavitas yang terlihat bulat dengan dinding tebal. tidak tertekan atau berpindah letak. tampak lesi hipoechic bulat dengan batas luar. Namun. didapati adanya tambahan tanda hiperechoic yang dihasilkan oleh gas-tissue interface . • Tampak bronkus dan pembuluh darah paru berakhir secara mendadak pada dinding abses. Sisa-sisa pembuluh darah paru dan bronkhus yang berada dalam abses dapat terlihat dengan CT-Scan. tidak teratur. • Abses paru juga dapat membentuk sudut lancip dengan dinding dada. terletak di daerah jaringan paru yang rusak dan tampak gambaran air-fluid level.

.

207. Nihayatul Amaliyah ( 01. Rokhmad Widiatma.207.ABSES PARU Disusun Oleh : 1.Rad . Ahmad Afianto 2. 5345) ( 01.5537 ) Pembimbing : dr. Sp.

: . Saripan : 75 tahun : Laki2 : Islam : Tidak Bekerja : Desa Mercon 4/8 puncang wangi : Gading : 619800/18221 B. Keluhan Utama Demam.LAPORAN KASUS STATUS PENDERITA I. Identitas Nama Umur Jenis Kelamin Agama Pekerjaan Alamat Ruang No. ANAMNESIS A. CM : Tn.

Setelah dirawat + 3 hari di puskesmas belum ada perbaikan kemudian pasien dirujuk ke RSUD RAA SOEWONDO dengan diagnosa observasi febris dan anemia. sudah pernah berobat tetapi tidak kontrol teratur. Pasien mengaku naik turunya demam tidak dipengaruhi oleh waktu dan tidak berpola. dengan keluhan demam. BAB dan BAK (+) normal. badan terasa lemas. Pasien mengeluh perut terasa kembung sudah 3 hari. Pasien juga mengeluh Batuk (+) bau busuk berdahak sejak 2 bulan ini. pasien juga mengeluhkan mual dan muntah.Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang dengan ke RSUD RAA SOEWONDO PATI. darah(-). . Demam sudah dirasakan 1 minggu dan dirasakan naik turun. Kemudian pasien dibawa keluarganya ke puskesmas terdekat karena demam yang tidak kunjung sembuh dan nafsu makan pasien juga akhir-akhir ini menurun. nyeri dada kanan (+). lendir (+).

Riwayat merokok : Disangkal : Disangkal : Diakui sejak remaja 1 hari Bungkus sampai sebelum sakit ini. Metabolik Riwayat sakit gula Riwayat tekanan darah tinggi Riwayat Asam urat Riwayat Kolesterol Riwayat Kegemukan : Disangkal : Tidak tahu : Tidak tahu : Tidak tahu : Disangkal Jantung Riwayat sakit jantung : Disangkal Sistem pernafasan Riwayat sakit ashma : Disangkal Sistem pencernaan Diare Oncogenik Riwayat terpapar radiasi Riwayat terpapar karsinogenik .A. Pembedahan Riwayat operasi dada : Disangkal : Disangkal Traumatik Trauma dada : Disangkal . Riwayat Penyakit Dahulu Pasien belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya.

kemudian dokter keluarga memutuskan untuk merujuk ke spesialis penyakit dalam.Riwayat Penyakit Keluarga Di keluarga tidak ada yang mengalami keluhan serupa Riwayat tekanan darah tinggi : Ibu Riwayat sakit gula : Disangkal Riwayat asma : Ibu Riwayat sakit jantung : Disangkal Riwayat Sosial Ekonomi Saat ini pasien sudah tidak bekerja. Riwayat Pengobatan Pasien sebelumnya sudah pergi ke Dokter keluarga. pasien berobat dengan biaya dari Jamkesmas. Oleh dokter keluarga diberi obat namun hasilnya tidak membaik. .

parese N V. kesadaran : compos mentis 2. rambut warna hitam. mudah dicabut (-). irama reguler. Kepala Bentuk mesocephal. kulit kering (-). Keadaan Umum Cukup. Kulit Ikterik (-).8° C (peraxiller) . petekie (-). turgor cukup.80 kg/m2 Kesan: under weight 3. moon face (-). kulit hiperemis (-). Tanda Vital Tensi Nadi : 160/90 mmHg : 90 x/menit.II. hiperpigmentasi (-). luka (-) 6. VII (-) : 37. Suhu 4. Status Gizi BB: 45 kg TB: 160 cm BMI= 17. dermatopathy (-). isi dan tegangan cukup Respirasi : 24 x/menit. PEMERIKSAAN FISIK Pemeriksaan fisik dilakukan pada tanggal 10 Desember 2012 : 1. 5. Wajah Simetris.

Mulut Sianosis (-). Mata Konjungtiva pucat (+/+). darah (-/-).IV. sekret (-/-). lidah tremor (-). gangguan fungsi pendengaran (/-) 3. katarak (-/-). fungsi pembau baik 4. Leher Pembesaran kelenjar bening (-) . sclera ikterik (-/-). Telinga Sekret (-/-).1. Hidung Napas cuping hidung (-/-). lidah kotor (-). perdarahan subkonjungtiva (-/-). mata cekung (-/-). nyeri tekan mastoid (-/-). sianosis (-). epistaksis (-/-).N III. bibir kering (-). pupil isokor (3mm/3mm). stomatitis (-). reflek cahaya (+/+) normal. dan VI normal. mukosa basah (-) gusi berdarah (-). 5. arcus senilis (-/-). lidah hiperemis (-). 2.

gallop (-) . spider nevi (-). pernapasan tipe thoraco-abdominal. rambut ketiak rontok (-) Cor Inspeksi Palpasi : Ictus cordis tampak : Ictus cordis kuat angkat di SIC V. sela iga melebar (-). simetris. bising (-). 2 cm ke medial linea midclavicularis sinistra Perkusi : batas jantung : SIC V. retraksi supraternal (-). Thoraks Normochest. retraksi intercostalis (-). reguler BJ I-II reguler. pembesaran kelenjar getah bening aksilla (-).1. 2 cm medial linea midclavicularis sinistra : SIC II linea sternalis sinistra : SIC II linea sternalis dextra : SIC III linea parasternalis sinistra kiri bawah kiri atas kanan atas pinggang jantung Kesan : konfigurasi jantung normal Auskultasi : HR : 90 kali/menit.

Pulmo: Depan Inspeksi: normochest. ronki basah halus(-) . kanan tertinggal. ronki basah kasar (-). retraksi (-) pergerakan paru asimetris. tertinggal Fremitus : fremitus raba kanan<<kiri Perkusi: Kanan Kiri Auskultasi: Kanan : Suara dasar vesikuler (<<). suara tambahan halus : redup di bagian kanan : sonor thorak kanan sedikit wheezing (-). Palpasi: Statis : simetris. retraksi (-). simetris kanan kiri. ronki basah kasar(-). suara tambahan Wheezing (-). tidak ada yang tertinggal Dinamis : Pengembangan paru asimetris. ronki basah (-) Kiri : Suara dasar vesikuler (+) normal. sela iga tidak melebar.

ronki basah halus (-) wheezing(- . retraksi intercostalis (-) Palpasi : Statis : simetris. sela iga tidak melebar. suara tambahan ). ronki basah kasar(-). fremitus raba kanan<<kiri Perkusi: Kanan : redup bagian kanan Kiri : sonor Auskultasi: Kanan : Suara dasar vesikuler (<<).Belakang: Inspeksi: Statis : normochest. asimetris paru kanan tertinggal. ronki basah halus (-) Kiri : suara dasar vesikuler (+). retraksi (-) Dinamis : pergerakan kanan<<kiri. retraksi () Dinamis : pengembangan dada kanan<<kiri. suara tambahan wheezing(-). ronki basah kasar(-).

tanda-tanda radang (-). Bising usus (+) normal : pekak beralih (-). rovsing sign (-). skoliosisi (-). spider nevi (-). Ekstremitas Akral dingin ektremitas atas (-/-) ektremitas bawah (-/-) Oedem ektremitas atas (-/-) ektremitas bawah (-/-) . pekak sisi (-). vegetasi (-) 4. striae (-) Auskultasi Perkusi : peristaltik (N) . lordosis (-). nyeri tekan epigastrik (-). Abdomen Inspeksi : dinding perut cembung. sikatriks (-). nyeri ketok costovertebra (-) 2. Genitourinaria Ulkus (-).1. Kelenjar getah bening inguinal Tidak membesar 5. sekret (-). hepar tidak teraba. timpani di semua kuadran abdomen Palpasi : supel. nyeri menjalar ke punggung (-). lien tidak teraba. Punggung Kifosis (-). turgor kembali cepat 3.

34 L 0.03 5.00 433 20 0.8 – 8 0.9 – 5.II.00 3.8 – 10.8 0.2 0.3 40 – 52 80 – 100 26 – 34 32 – 36 150 – 440 11.9 13.02 1.048 0.44 0 – 0.20 H 72. Laboratorium 03/12/2012 1.90 33.30 L 21.4 19.1 0.16 – 1 2–4 0–1 50 – 70 25 – 40 2–8 . Hematologi Pemeriksaan Lekosit Eritrosit Hemoglobin Hematokrit MCV MCH MCHC Trombosit RDW Eosinofil absolute Basofil absolute Neutrofil absolute Limfosit absolute Monosit absolute Eosinofil Basofil Neutrofil Limfosit Monosit Hasil 9.8 28.42 2.6 4.26 L 6.045 – 0.4 85.2 – 17.5 – 14.30 Nilai Normal 3.5 0. PEMERIKSAAN PENUNJANG A.4 – 5.94 0.

Typhi H S.Serro imunologi Widal S. Paratypi AO S. Typi O S. Paratyphi AH Hasil Negative 1/80 1/160 Neg normal negative negative negative negative .

Foto Thoraks Cor : Tak membesar Pulmo : Corakan broncovaskuler meningkat Tampak kesuraman dengan dinding tebal dan air fluid level didalamnya pada lapangan tengah paru kanan Diafragma dan sinus costofrenicus kanan dan kiri baik KESAN : Abses Paru kanan .

USG Abdoment .

Bila terjadi hubungan rongga abses dengan bronkus batuknya menjadi meningkat dengan bau busuk yang khas (Foetor ex oroe). Dari hasil pemeriksaan ditemukan tekanan darah. dan laju nafas meningkat. . Batuk. dan dari auskultasi paru kanan suara dasar vesikuler melemah. paru kanan perkusi redup. Nyeri Dada kadang disertai Batuk darah.PEMBAHASAN Abses paru mempunyai gejala klinis Demam dijumpai pada 70% 80% penderita abses paru. Surabaya: Airlangga University Press. Kadang dijumpai dengan temperatur > 400C. Tanda dan gejala ini sesuai dengan Alsagaff Dasar-dasar ilmu penyakit paru. Pada stadium awal non produktif. 2005. nadi. sterm fremitus kanan melemah. Dari hasil pemeriksaan thorak ditemukandada kanan tertinggal saat bernafas.

. Maka didapatkan kesimpulan Abses paru kanan. namun Hasil pemeriksaan radiologis didapatkan Tampak kesuraman dengan dinding tebal dan air fluid level didalamnya pada lapangan tengah paru kanan Sesuai dengan teori yang didapat yaitu Terdapat area berbatas tegas transparan. mengetahui penyebabnya .• Untuk memastikan diagnosis. Kavitas diisi oleh cairan dan udara (air-fluid level). Pemeriksaan Penunjang yang dilakukan seperti laboratorium darah dalam batas normal. dan untuk panduan tindak lanjut perlu dilakukan pemeriksaan penunjang.

Ultrasonografi (USG). . sedangkan 43% campuran bakteri anaerob dan aerob. Computed Tomography. 46% abses paru disebabkan hanya oleh bakteri anaerob. Kuman atau bakteri penyebab terjadinya abses paru bervariasi. Pemeriksaan radiologi yang dapat dilakukan antara lain Foto Polos. Untuk memastikan diagnosa dari abses paru maka dilakukan serangkaian pemeriksaan dari anamnesa. pemeriksaan fisik hingga pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan radiologi.KESIMPULAN Abses paru adalah infeksi dekstruktif berupa lesi nekrotik pada jaringan paru yang terlokalisir sehingga membentuk kavitas yang berisi nanah (pus) dalam parenkim paru pada satu lobus atau lebih.

Tampak bronkus dan pembuluh darah paru berakhir secara mendadak pada dinding abses. lebih sering dijumpai pada paru kanan dibandingkan paru kiri. tidak tertekan atau berpindah letak. tidak teratur dengan air-fluid level dan terletak di daerah jaringan paru yang rusak. Abses paru juga dapat membentuk sudut lancip dengan dinding dada. Bila terdapat hubungan dengan bronkus maka didalam kavitas terdapat Air Fluid Level. . Pada pemeriksaan Tomografi Komputer akan dijumpai kavitas terlihat bulat dengan dinding tebal.Dari pemeriksaan Foto dada PA dan lateral pada pasien akan dijumpai kavitas dengan dinding tebal dengan tanda-tanda konsolidasi disekelilingnya. Tetapi bila tidak ada hubungan maka hanya dijumpai tanda-tanda konsolidasi (opasitas).

Pasien dengan beberapa faktor predisposisi abses paru memiliki prognosis yang jelek dibandingkan yang memiliki satu faktor predisposisi. Apabila terdapat kavitas. Sedangkan pasien yang mendapatkan pengobatan antibiotik secara adekuat memilik prognosis yang lebih baik . USG juga dapat mendeteksi abses paru.Pemeriksaan USG jarang dianjurkan pada pasien dengan abses paru. tampak lesi hipoechic bulat dengan batas luar. Namun. didapati adanya tambahan tanda hiperechoic yang dihasilkan oleh gas-tissue interface.

Philadelphia. . W. 2006. Sharma S.com/article/299425overview 4. Alwi I. Sather CC. A Text Book of Radiology and Imaging. Edinburgh. In http://radiopaedia. David. Buku ajar ilmu penyakit dalam. saunders company.DAFTAR PUSTAKA 1. hal. Abhijit et al. Edisi IV. Seventh edition. Pulmonary Emphysema. Abdul(ed). Hodd. editors. Dasar-dasar ilmu penyakit paru. Datir. Alsagaff. Roentgen Signs in Diagnostic Imaging. Michael B Rubens. Lung abscess. Weerakkody. Meschan. Setiati S. 6.B.from: URL: http://emedicine. 5. Isadore. Simadibrata KM. 2003. Jilid II. Setyohadi B. Churchill Livingstone. [online] 2009 Aug 19[cited 2011] . Kamangar N. Hal 136-140 2. Mukty. Jakarta: Balai Penerbit FK UI. Dalam: Sudoyo AW.1052-5. Surabaya: Airlangga University Press.medscape. Sutton. Abses paru. H. 1987. Second edition. Volume 4. Volume 1. 3.org/articles/lung_abscess. Lung Abscess. 2005. Rasyid A. Yuranga.

TERIMA KASIH WASSALAMUALAIKUM wr wb. .