Anda di halaman 1dari 57

KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN

Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan diatur dalam Undang - Undang No.28 tahun 2007 yaitu perubahan ketiga atas Undang-Undang No.16 tahun 2000 A. KETENTUAN UMUM (Pasal 1 UU No. 28 Tahun 2007) 1. Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. 2. Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. 3. Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah dengan nama dan dalam bentuk apa pun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi lainnya, lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap. 4. Pengusaha adalah orang pribadi atau badan dalam bentuk apa pun yang dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya menghasilkan barang, mengimpor barang, mengekspor barang, melakukan usaha perdagangan, memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar daerah pabean, melakukan usaha jasa, atau memanfaatkan jasa dari luar daerah pabean. 5. Pengusaha Kena Pajak adalah Pengusaha yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang dikenai pajak berdasarkan Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai 1984 dan perubahannya. 6. Nomor Pokok Wajib Pajak adalah nomor yang diberikan kepada Wajib Pajak sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya. 7. Masa Pajak adalah jangka waktu yang menjadi dasar bagi Wajib Pajak untuk menghitung, menyetor, dan melaporkan pajak yang terutang dalam suatu jangka waktu tertentu sebagaimana ditentukan dalam Undang-Undang ini. 8. Tahun Pajak adalah jangka waktu 1 (satu) tahun kalender kecuali bila Wajib Pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun kalender. 9. Bagian Tahun Pajak adalah bagian dari jangka waktu 1 (satu) Tahun Pajak. 10. Pajak yang terutang adalah pajak yang harus dibayar pada suatu saat, dalam Masa Pajak, dalam Tahun Pajak, atau dalam Bagian Tahun Pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

11. Surat Pemberitahuan adalah surat yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk melaporkan penghitungan dan/atau pembayaran pajak, objek pajak dan/atau bukan objek pajak, dan/atau harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. 12. Surat Pemberitahuan Masa adalah Surat Pemberitahuan untuk suatu Masa Pajak. 13. Surat Pemberitahuan Tahunan adalah Surat Pemberitahuan untuk suatu Tahun Pajak atau Bagian Tahun Pajak. 14. Surat Setoran Pajak adalah bukti pembayaran atau penyetoran pajak yang telah dilakukan dengan menggunakan formulir atau telah dilakukan dengan cara lain ke kas negara melalui tempat pembayaran yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan. 15. Surat ketetapan pajak adalah surat ketetapan yang meliputi Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, Surat Ketetapan Pajak Nihil, atau Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar. 16. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar adalah surat ketetapan pajak yang menentukan besarnya jumlah pokok pajak, jumlah kredit pajak, jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak, besarnya sanksi administrasi, dan jumlah pajak yang masih harus dibayar. 17. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan adalah surat ketetapan pajak yang menentukan tambahan atas jumlah pajak yang telah ditetapkan 18. Surat Ketetapan Pajak Nihil adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah pokok pajak sama besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak. 19. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran pajak karena jumlah kredit pajak lebih besar daripada pajak yang terutang atau seharusnya tidak terutang. 20. Surat Tagihan Pajak adalah surat untuk melakukan tagihan pajak dan/atau sanksi administrasi berupa bunga dan/atau denda. 21. Surat Paksa adalah surat perintah membayar utang pajak dan biaya penagihan pajak. 22. Kredit Pajak untuk Pajak Penghasilan adalah pajak yang dibayar sendiri oleh Wajib Pajak ditambah dengan pokok pajak yang terutang dalam Surat Tagihan Pajak karena Pajak Penghasilan dalam tahun berjalan tidak atau kurang dibayar, ditambah dengan pajak yang dipotong atau dipungut, ditambah dengan pajak atas penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri, dikurangi dengan pengembalian pendahuluan kelebihan pajak, yang dikurangkan dari pajak yang terutang. 23. Kredit Pajak untuk Pajak Pertambahan Nilai adalah Pajak Masukan yang dapat dikreditkan setelah dikurangi dengan pengembalian pendahuluan kelebihan pajak atau setelah dikurangi dengan pajak yang telah dikompensasikan, yang dikurangkan dari pajak yang terutang.

24. Pekerjaan bebas adalah pekerjaan yang dilakukan oleh orang pribadi yang mempunyai keahlian khusus sebagai usaha untuk memperoleh penghasilan yang tidak terikat oleh suatu hubungan kerja. 25. Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan menghimpun dan mengolah data, keterangan, dan/atau bukti yang dilaksanakan secara objektif dan profesional berdasarkan suatu standar pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan/atau untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. 26. Bukti Permulaan adalah keadaan, perbuatan, dan/atau bukti berupa keterangan, tulisan, atau benda yang dapat memberikan petunjuk adanya dugaan kuat bahwa sedang atau telah terjadi suatu tindak pidana di bidang perpajakan yang dilakukan oleh siapa saja yang dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara. 27. Pemeriksaan Bukti Permulaan adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk mendapatkan bukti permulaan tentang adanya dugaan telah terjadi tindak pidana di bidang perpajakan. 28. Penanggung Pajak adalah orang pribadi atau badan yang bertanggung jawab atas pembayaran pajak, termasuk wakil yang menjalankan hak dan memenuhi kewajiban Wajib Pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. 29. Pembukuan adalah suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk mengumpulkan data dan informasi keuangan yang meliputi harta, kewajiban, modal, penghasilan dan biaya, serta jumlah harga perolehan dan penyerahan barang atau jasa, yang ditutup dengan menyusun laporan keuangan berupa neraca, dan laporan laba rugi untuk periode Tahun Pajak tersebut. 30. Penelitian adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk menilai kelengkapan pengisian Surat Pemberitahuan dan lampiran-lampirannya termasuk penilaian tentang kebenaran penulisan dan penghitungannya. 31. Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh penyidik untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana di bidang perpajakan yang terjadi serta menemukan tersangkanya. 32. Penyidik adalah pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak yang diberi wewenang khusus sebagai penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 33. Surat Keputusan Pembetulan adalah surat keputusan yang membetulkan kesalahan tulis, kesalahan hitung, dan/atau kekeliruan penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan perpajakan yang terdapat dalam surat ketetapan pajak, Surat Tagihan Pajak, Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Surat Keputusan Pengurangan Sanksi Administrasi, Surat Keputusan Penghapusan Sanksi Administrasi, Surat Keputusan Pengurangan Ketetapan Pajak, Surat Keputusan Pembatalan Ketetapan Pajak, Surat Keputusan

Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak, atau Surat Keputusan Pemberian Imbalan Bunga. 34. Surat Keputusan Keberatan adalah surat keputusan atas keberatan terhadap surat ketetapan pajak atau terhadap pemotongan atau pemungutan oleh pihak ketiga yang diajukan oleh Wajib Pajak. 35. Putusan Banding adalah putusan badan peradilan pajak atas banding terhadap Surat Keputusan Keberatan yang diajukan oleh Wajib Pajak. 36. Putusan Gugatan adalah putusan badan peradilan pajak atas gugatan terhadap halhal yang berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan dapat diajukan gugatan. 37. Putusan Peninjauan Kembali adalah putusan Mahkamah Agung atas permohonan peninjauan kembali yang diajukan oleh Wajib Pajak atau oleh Direktur Jenderal Pajak terhadap Putusan Banding atau Putusan Gugatan dari badan peradilan pajak. 38. Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak adalah surat keputusan yang menentukan jumlah pengembalian pendahuluan kelebihan pajak untuk Wajib Pajak tertentu. 39. Surat Keputusan Pemberian Imbalan Bunga adalah surat keputusan yang menentukan jumlah imbalan bunga yang diberikan kepada Wajib Pajak. 40. Tanggal dikirim adalah tanggal stempel pos pengiriman, tanggal faksimili, atau dalam hal disampaikan secara langsung adalah tanggal pada saat surat, keputusan, atau putusan disampaikan secara langsung. 41. Tanggal diterima adalah tanggal stempel pos pengiriman, tanggal faksimili, atau dalam hal diterima secara langsung adalah tanggal pada saat surat, keputusan, atau putusan diterima secara langsung. B. NOMOR POKOK WAJIB PAJAK a. Fungsi NPWP Sebagai tanda pengenal / identitas Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan. b. Format NPWP NPWP terdiri dari 15 digit, contoh: 01 . 234 . 456 . 7 . 888 . 000

Kode Cabang

Kode Wajib Pajak

Kode KPP

c. Siapa Yang Wajib NPWP 1. Wajib Pajak Orang Pribadi Yang menjalankan usaha atau melakukan pekerjaan bebas

Tidak menjalankan usaha / pekerjaan bebas tapi penghasilan sampai dengan suatu bulan lebih besar dari PTKP Wanita Kawin Pisah Harta 2. Wajib Pajak Badan 3. Wajib Pajak Pemungut atau Pemotong d. Pendaftaran NPWP Berdasarkan sistem self assessment semua Wajib Pajak harus mendaftarkan diri pada Kantor Pelayanan Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Wajib Pajak untuk langsung dicatat sebagai Wajib Pajak dan sekaligus mendapatkan NPWP. e. Penghapusan NPWP dilakukan jika : 1. Wajib Pajak orang pribadi meninggal dunia dan tidak meninggalkan warisan. 2. Wanita kawin tidak dengan perjanjian pemisahan harta dan penghasilan. 3. Wajib Pajak orang pribadi yang tidak memenuhi syarat lagi sebagai Wajib Pajak. 4. Wajib Pajak badan yang telah dibubarkan secara resmi berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 5. Bentuk Usaha Tetap yang karena sesuatu hal kehilangaan statusnya sebagai bentuk usaha tetap.

PAJAK PENGHASILAN UMUM DAN NORMA PERHITUNGAN PAJAK PENGHASILAN


A. UNDANG-UNDANG PAJAK PENGHASILAN Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (PPh) yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1994 dan terakhir diubah dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000 mengatur mengenai Pajak atas penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi atau badan. Pajak Penghasilan dikenakan terhadap Subjek Pajak atas penghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam tahun pajak (Pasal 1). B. Penghasilan dapat dikelompokan menjadi 4 kelompok, yaitu : 1. Penghasilan dari pekerjaan, jasa dan kegiatan 2. Penghasilan dari usaha dan kegiatan 3. Penghasilan dari modal, jasa dan sewa atau penggunaan harta 4. Penghasilan lain-lain C. SUBJEK PAJAK PENGHASILAN (Pasal 2) Subjek Pajak Penghasilan terdiri dari Subjek Pajak Dalam Negeri (Orang pribadi yang berada di Indonesia lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan) dan Subjek Pajak Luar Negeri (Orang pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan), yang meliputi : Orang Pribadi Warisan Yang Belum Terbagi Badan Bentuk Usaha Tetap D. TIDAK TERMASUK SUBJEK PAJAK PENGHASILAN (Pasal 3) Badan Perwakilan Negara Asing Pejabat-Pejabat perwakilan diplomatik, dan konsulat atau pejabat-pejabat lain dari negara asing, dan orang-orang yang diperbantukan kepada mereka yang bekerja pada dan bertempat tinggal bersama-sama mereka, dengan syarat bukan warga negara Indonesia dan di Indonesia tidak menerima atau memperoleh penghasilan lain diluar jabatan atau pekerjaannya, serta negara yang bersangkutan memberikan perlakuan timbal balik. Organisasi Internasional yang ditetapkan Menteri Keuangan, dengan syarat : 1. Indonesia menjadi anggota tersebut. 2. Tidak menjalankan usaha atau kegiatan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia. Pejabat-pejabat perwakilan organisasi internasioanal yang ditetapkan Menteri Keuangan dengan syarat bukan warga negara Indonesia dan tidak menjalankan usaha atau kegiatan atau pekerjan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia.

E. PENGHASILAN YANG TERMASUK KEDALAM PENGHASILAN (Pasal 4 ayat 1) Gaji, Upah, Honorarium, Komisi, Bonus, Uang Pensiun Hadiah dari undian dan penghargaan Laba Usaha Keuntungan dari penjualan atau pengalihan harta Penerimaan kembali dari pembayaran pajak Bunga, Royalti, Sewa Deviden yang diterima wajib pajak pribadi, Firma dan CV Keuntungan karena pembebasan utang Selisih kurs mata uang asing Premi Asuransi

OBJEK

PAJAK

F. PENGHASILAN YANG TIDAK TERMASUK KEDALAM OBJEK PAJAK PENGHASILAN (Pasal 4 ayat 3) Bantuan / Sumbangan, Harta Hibahan Warisan yang sudah dibagikan Natura / Kenikmatan dalam bentuk fasilitas Penggantian dari perusahaan asuransi Deviden yang diterima PT sebagai WPDN, Koperasi, Yayasan, BUMN / BUMD G. PENGHASILAN KENA PAJAK / PKP (Pasal 6) Bagi Wajib Pajak Dalam Negeri (WPDN), pada dasarnya terdapat 2 (dua) cara untuk menentukan besarnya Penghasilan Kena Pajak, yaitu : 1. Cara biasa (Cara Pembukuan), yaitu penghasilan bruto dikurangi dengan biayabiaya yang diperkenankan antara lain : Biaya untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan. Biaya Penyusutan dan Amortisasi. Iuran kepada dana Pensiun yang pendiriannya disahkan oleh Menteri Keuangan. Kerugian karena penjualan atau pengalihan harta. Kerugian karena selisih kurs mata uang asing. Natura di daerah tertentu. Biaya lain, seperti biaya perjalanan, biaya administrasi, biaya litbang yang dilakukan di Indonesia, magang, dan pelatihan. 2. Dengan Norma Penghasilan Neto Besarnya porsentase norma ditentukan berdasarkan keputusan dirjen pajak, norma perhitungan penghasilan neto boleh digunakan wajib pajak yang peredaran brutonya kurang dari Rp 1.800.000.000 setahun. H. PENGHASILAN TIDAK KENA PAJAK / PTKP (Pasal 7) Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) merupakan pengurang penghasilan neto, yang hanya diberikan oleh Wajib Pajak Orang Pribadi (WPOP) sebagai WPDN. Besarnya PTKP yang berlaku mulai tahun 2006 adalah :

No. Jenis PTKP A Untuk Wajib Pajak Sendiri B Tambahan Untuk Wajib Pajak Kawin C Tambahan untuk istri yang penghasilannya digabung dengan suami D Tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah, semenda dalam garis keturunan lurus (vertikal), serta anak angkat yang menjadi tanggungan sepenuhnya, paling banyak 3 (tiga) orang

Setahun Rp 13.200.000 Rp 1.200.000 Rp 13.200.000 Rp 1.200.000

Sebulan Rp 1.100.000 Rp 100.000 Rp 1.100.000 Rp 100.000

Catatan : Dalam hal karyawati kawin (bekerja pada satu pemberi kerja), PTKP yang dikurangkan adalah hanya untuk dirinya sendiri (asumsi suami memiliki penghasilan). Dalam hal tidak kawin pengurang PTKP selain untuk dirinya ditambah dengan PTKP yang menjadi tanggungan sepenuhnya yaitu untuk setiap anggota sedarah, semenda dalam garis keturunan lurus (vertikal) serta anak angkat yang menjadi tanggungan sepenuhnya paling banyak 3 (tiga) orang yang masing-masing besarnya Rp 1.200.000 setahun atau Rp 100.000 sebulan. Bagi karyawati kawin yang menunjukkan keterangan tertulis dari pemerintah daerah setempat (serendah-rendahnya dari kecamatan) bahwa suaminya tidak menerima atau memperoleh penghasilan, diberikan tambahan PTKP sebesar Rp 1.200.000 setahun atau Rp 100.000 sebulan, dan ditambah PTKP untuk keluarga yang menjadi tanggungannya, paling banyak 3 (tiga) orang, masing-masing Rp 1.200.000 setahun atau Rp 100.000 sebulan. Penghitungan besarnya PTKP ditentukan menurut keadaan wajib pajak pada awal tahun pajak atau pada awal bagian tahun pajak. Contoh : 1. Wajib Pajak yang bernama Nona Yeni (K/2), maka cara mendapatkan besarnya PTKP (K/2) dalam setahun adalah : (K/2) (K) status Kawin dan (2) memliki 2 tanggungan PTKP : Wajib Pajak sendiri Rp 13.200.000 Status Kawin Rp 1.200.000 Tanggungan 2 orang Rp 2.400.000 + PTKP Rp 16.800.000 Untuk tanggungan sebesar Rp 2.400.000 di dapat dari hasil perkalian 2 orang (tanggungan) x Rp 1.200.000. Apabila tanggungan tersebut lebih dari 3 orang maka yang diperhitungkan hanya 3 orang saja atau bisa kita simpulkan maksimal untuk tanggungan adalah sebesar Rp 3.600.000. 2. Pada tanggal 1 Januari 2007 Wajib Pajak Tn. Firman berstatus kawin dengan tanggungan satu orang anak (K/1), apabila anak yang kedua lahir setelah tanggal 1 Januari 2007, maka besarnya PTKP yang diberikan kepada Wajib Pajak Tn. Firman untuk tahun pajak 2007 tetap dihitung berdasarkan status kawin dengan 1 (satu) orang anak / tanggungan.

I. TARIF PEMUNGUTAN PAJAK PENGHASILAN Dalam Penghitungan Pajak yang harus dipotong / dipungut digunakan tarif pajak : 1. Tarif Progresif Adalah Tarif pajak yang prosentasenya semakin besar apabila penghasilannya juga semakin besar. Dasar pengenaan sesuai dengan Undang-undang Pajak Penghasilan Nomor 17 Tahun 2000 (Pasal 17) yaitu dengan lapisan-lapisan pengenaan pajak penghasilan sebagai berikut : a. Untuk Wajib Pajak Orang Pribadi Lapisan Pengenaan Pajak Sampai dengan Rp 25.000.000 Diatas Rp 25.000.000 s/d Rp 50.000.000 Diatas Rp 50.000.000 s/d Rp 100.000.000 Diatas Rp 100.000.000 s/d Rp 200.000.000 Diatas Rp 200.000.000 b. Untuk Wajib Pajak Badan Lapisan Pengenaan Pajak Sampai dengan Rp 50.000.000 Diatas Rp 50.000.000 s/d 100.000.000 Diatas Rp 100.000.000 J. CARA MENGHITUNG PAJAK PENGHASILAN 1. Cara Biasa (Cara Pembukuan) a. Untuk Wajib Pajak Orang Pribadi Peredaran Usaha Rp XXX Harga Pokok Penjualan Rp XXX Penghasilan Bruto Rp XXX Biaya yang diperkenankan Rp XXX Penghasilan Neto Usaha Rp XXX Penghasilan Lain-lain Rp XXX Penghasilan Netto Dalam Negeri Rp XXX Penghasilan Netto Luar Negeri Rp XXX Penghasilan Netto Rp XXX Kompensasi Kerugian (Max 5 Thn) Rp XXX Penghasilan Netto setelah Kompensasi Rp XXX PTKP Rp XXX PKP Rp XXX PPh Terutang : PKP x Tarif Pasal 17 b. Untuk Wajib Pajak Badan Peredaran Usaha Harga Pokok Penjualan Penghasilan Bruto Biaya yang diperkenankan

Tarif 5% 10% 15% 25% 35%

Tarif 10% 15% 30%

+ + -

Rp XXX Rp XXX Rp XXX Rp XXX -

Penghasilan Neto Usaha Penghasilan Lain-lain Penghasilan Netto Dalam Negeri Penghasilan Netto Luar Negeri Penghasilan Netto Kompensasi Kerugian (Max 5 Thn) PKP PPh Terutang : PKP x Tarif Pasal 17

Rp XXX Rp XXX + Rp XXX Rp XXX + Rp XXX Rp XXX Rp XXX

a. Untuk Perhitungan wajib Pajak Orang Pribadi Contoh Bapak Doni (K/2) seorang pengusaha ukiran di Jepara, data penjualan ukiran di tahun 2007 menurut pembukuan yang dibuat adalah sebesar Rp 650.000.000, Harga Pokok Penjualan sebesar Rp 300.000.000. Biaya-biaya untuk memproduksi ukiran meliputi biaya operasional Rp 15.000.000, biaya administrasi Rp 17.500.000. Pada tahun 2007 Bapak Doni juga menerima penghasilan dari sewa mesin yang disewakannya sebesar Rp 20.000.000. Hitunglah berapa besarnya pajak penghasilan yang terutang apabila masih terdapat sisa kerugian tahun 2003 sebesar Rp 25.000.000 ? Penghitungan dengan cara biasa / pembukuan : Peredaran Usaha Harga Pokok Penjualan Penghasilan Bruto Biaya yang diperkenankan (Biaya Opr dan Adm) Penghasilan Neto Usaha Penghasilan Lain-lain Penghasilan Netto Dalam Negeri Penghasilan Netto Luar Negeri Penghasilan Netto Kompensasi Kerugian (Max 5 Thn) Penghasilan Netto setelah Kompensasi PTKP PKP Pajak Penghasilan Terhutang : 5 % x Rp 25.000.000 10 % x Rp 50.000.000 15% x Rp 50.000.000 25% x Rp 100.000.000 35% x Rp 95.700.000

Rp 650.000.000 Rp 300.000.000 Rp 350.000.000 Rp 32.500.000 Rp 317.500.000 Rp 20.000.000 Rp 337.500.000 Rp 0 Rp 337.500.000 Rp 25.000.000 Rp 312.500.000 Rp 16.800.000 Rp 295.700.000 + + -

= Rp 1.250.000 = Rp 2.500.000 = Rp 7.500.000 = Rp 25.000.000 = Rp 33.495.000 + Rp 69.745.000

b. Untuk Perhitungan Wajib Pajak Badan PT. DITA KOMP adalah perusahaan yang bergerak pada jual beli sparepart komputer, berdasarkan pembukuan tahun 2007 diketahui data-data sebagai berikut : Penerimaan bruto sebesar Rp 4.500.000.000, persediaan per 1 Januari 2007 sebesar Rp 1.000.000.000, pembelian selama tahun 2007 Rp 2.500.000.000 dan persediaan per 31 Desember 2007 Rp 500.000.000, sedangkan biaya administrasi dan operasional Rp 450.000.000 dan masih terdapat sisa kerugian tahun 2003 Rp 125.000.000. Hitunglah berapa besarnya pajak penghasilan terutang yang harus dibayar ? Penghitungan dengan cara biasa / pembukuan : Peredaran Usaha Harga Pokok Penjualan Penghasilan Bruto Biaya yang diperkenankan (Biaya Opr dan Adm) Penghasilan Neto Usaha Penghasilan Lain-lain Penghasilan Netto Dalam Negeri Penghasilan Netto Luar Negeri Penghasilan Netto Kompensasi Kerugian (Max 5 Thn) PKP Pajak Penghasilan Terhutang : 10 % x Rp 50.000.000 15% x Rp 50.000.000 30% x Rp 825.000.000

Rp 4.500.000.000 Rp 3.000.000.000 Rp 1.500.000.000 Rp 450.000.000 Rp 1.050.000.000 Rp 0 Rp 1.050.000.000 Rp 0 Rp 1.050.000.000 Rp 125.000.000 Rp 925.000.000 + + -

= Rp 5.000.000 = Rp 7.500.000 = Rp 247.500.000 + Rp 260.000.000

2. Dengan Cara Norma Perhitungan Penghasilan Netto Contoh Dokter Sigit (K/3) yang bertempat tinggal di Jakarta, membuka praktek di rumahnya. Selain itu dia juga memiliki bisnis perdagangan komputer. Selama tahun 2007 diketahui penghasilan bruto sebagai seorang dokter sebesar Rp 85.000.000 dan atas bisnis penjualan komputer sebesar Rp 55.000.000. Hitung Pajak Penghasilan yang terutang, dengan menggunakan norma perhitungan jika diketahui prosentase norma untuk dokter 40% dan penjualan komputer 12,5%. Penghitungan dengan norma perhitungan penghasilan neto : Penghasilan Neto : Dari Dokter : 40 % x Rp 85.000.000 = Rp 34.000.000 Penjualan Komputer : 12,5 % x Rp 55.000.000 = Rp 6.875.000 + Jumlah Penghasilan Neto = Rp 40.875.000 PTKP = Rp 18.000.000 Penghasilan Kena Pajak = Rp 22.875.000 Pajak Penghasilan Yang Terutang : 5 % x Rp 22.875.000 = Rp 1.143.750

PAJAK PENGHASILAN PASAL 21


A. Pajak Penghasilan Pasal 21 Adalah pajak penghasilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa, dan kegiatan yang dilakukan oleh wajib pajak orang pribadi, yaitu pajak atas penghasilan berupa gaji, upah, honorarium, tunjangan dan pembayaran lain dengan nama apapun sehubungan dengan pekerjaan atau jabatan, jasa dan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 21 Undang-Undang No 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang No. 17 tahun 2000. B. PEMOTONG PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 Pemberi kerja terdiri dari orang pribadi atau badan, baik induk maupun cabang. Bendaharawan Pemerintah, termasuk bendaharawan pada pemerintah pusat, pemerintah daerah, instansi atau lembaga pemerintah, lembaga-lembaga lainnya dan Kedutaan Besar RI di luar negeri yang membayarkan gaji, upah, honorarium, tunjangan dan pembayaran lain dengan nama apapun sehubungan dengan pekerjaan. Dana pensiun, Badan Penyelenggara JAMSOSTEK, serta badan-badan lain yang membayar uang pensiun, Tabungan Hari Tua atau Tunjangan Hari Tua (THT). Yayasan, Lembaga, Perhimpunan, Organisasi dalam segala bidang kegiatan. BUMN / BUMD, Perusahaan / badan pemberi imbalan kepada wajib pajak luar negeri. C. DIKECUALIKAN SEBAGAI PEMOTONG PAJAK (PPh Pasal 21) Badan perwakilan negara asing dengan asas timbal balik memberikan perlakuan yang sama bagi perwakilan Indonesia di negara tersebut. Organisasi internasional yang ditentukan oleh Menteri Keuangan sebagai contoh IMF, ILO dan lain sebagainya. D. WAJIB PAJAK PPh Pasal 21 Pegawai, Karyawan Tetap, Komisaris, dan Pengurus Pegawai Lepas Penerima Pensiun, yaitu orang pribadi atau ahli warisnya yang menerima atau memperoleh imbalan untuk pekerjaan yang dilakukan di masa lalu. Penerima Honorarium, yaitu orang pribadi yang menerima atau memperoleh imbalan sehubungan dengan jasa, jabatan atau kegiatan yang dilakukannya; Komisi atau imbalan lainya, Uang saku, Beasiswa atau Hadiah Penerima Upah harian, mingguan, borongan, satuan. Catatan : PPh Pasal 21 dipotong atas penghasilan yang diperoleh Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri (WPDN), yaitu WNI dan WNA yang tinggal di Indonesia > 183 hari. Sedangkan untuk Wajib Pajak Orang Pribadi Luar Negeri (WPLN) dipotong PPh Pasal 26.

E. YANG TIDAK TERMAKSUD WAJIB PAJAK PPh Pasal 21 Pejabat perwakilan diplomatik atau pejabat negara asing, Konsulat. Orang-orang yang diperbantukan kepada pejabat tersebut yang bekerja dan bertempat tinggal bersama mereka. Pejabat perwakilan organisasi internasional dengan keputusan Menteri Keuangan dengan syarat : a) Bukan warga negara Indonesia. b) Tidak menerima / memperoleh penghasilan lain diluar jabatannya di Indonesia. c) Negara yang bersangkutan memberikan perlakuan timbal balik. F. PENGHASILAN YANG DIPOTONG PPh Pasal 21 (Obyek PPh Pasal 21) 1. Penghasilan teratur, terdiri dari : Gaji, Upah, Honorarium Uang Pensiun Bulanan Premi Asuransi Bulanan yang dibayarkan oleh pemberi kerja Tunjangan-tunjangan Hadiah, Beasiswa Uang lembur, uang sokongan, uang tunggu Penghasilan teratur lainnya dengan nama apapun. 2. Penghasilan Tidak Teratur, terdiri dari : Bonus, diberikan dengan maksud untuk memotivasi kerja karyawan Gratifikasi, sejumlah uang yang diberikan kepada komisaris atas jasanya Tantiem, diberikan pada saat perusahaan mendapat laba Jasa Produksi Tunjangan Hari Raya, Tunjangan Cuti Premi Tahunan Penghasilan sejenis lainnya yang sifatnya tidak teratur. 3. Penerima upah terdiri dari : Upah Harian Upah Mingguan Upah Satuan Upah Borongan 4. Penghasilan yang bersifat Final, terdiri dari : Tenaga ahli seperti pengacara, akuntan, arsitek, dokter, konsultan Pemain musik, MC, penyanyi, bintang film, pelukis, pemahat, crew film Olahragawan Penasehat, pengajar, pelatih, penceramah, moderator, dll Agen iklan Peserta perlombaan Petugas dinas luar asuransi Petugas penjaja barang dagangan (sales)

Peserta pendidikan, pelatihan dan pemagangan bukan pegawai atau bukan sebagai calon pegawai; Distributor perusahaan MLM direct selling.

G. YANG TIDAK TERMAKSUD PENGHASILAN YANG DIPOTONG PPh Pasal 21 1. Pembayaran asuransi dari perusahaan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna dan asuransi beasiswa; 2. Penerimaan dalam bentuk natura dan kenikmatan kecuali, penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21 termaksud pula penerimaan dalam bentuk natura dan kenikmatan lainnya dengan bentuk apapun yang diberikan oleh bukan Wajib Pajak; 3. Iuran pensiun yang dibayarkan kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan Menteri Keuangan dan penyelenggara Taspen dan Jamsostek yang dibayar oleh pemberi kerja; 4. Zakat yang diterima oleh orang pribadi yang berhak dari badan atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah. H. PENGURANG PENGHASILAN BRUTO Untuk menentukan berapa besarnya penghasilan netto pegawai tetap, maka penghasilan bruto dikurangai : 1. Biaya Jabatan, yang besarnya 5% dari penghasilan bruto, dengan jumlah maksimum yang diperkenankan Rp 1.296.000 setahun atau Rp 108.000 sebulan. 2. Iuran yang terkait dengan Gaji yang dibayar oleh pegawai kepada badan dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan Menteri Keuangan dan badan penyelenggara Tabungan Hari Tua (THT), atau Jaminan Hari Tua (JHT), yang dipersamakan dengan dana pensiun. Catatan : Untuk menentukan besarnya penghasilan netto penerima pensiun, maka penghasilan bruto berupa uang pensiun dikurangi biaya pensiun yang besarnya 5% dari penghasilan bruto pensiun dengan jumlah maksimum Rp 432.000 setahun atau Rp 36.000 sebulan. Untuk menentukan besarnya penghasilan kena pajak (PKP) dari seorang pegawai, maka penghasilan nettonya terlebih dahulu dikurangi dengan penghasilan tidak kena pajak (PTKP). Contoh Perhitungan Pemotongan PPh Pasal 21 A. Pegawai / Karyawan Tetap Yang memperoleh Gaji / Upah Bulanan : Contoh Kasus 1 Anggoro (K/2) bekerja pada PT. Kimia Jaya sejak tahun 2007. PT. Kimia Jaya setiap bulan membayar gaji untuk Anggoro sebesar Rp 2.000.000, tunjangan transpor dan tunjangan makan masing-masing Rp 750.000 dan Rp 750.000. Premi asuransi kecelakaan kerja dan premi asuransi kematian dibayar oleh pemberi kerja masingmasing sebesar Rp 50.000 dan Rp 30.000. PT. Kimia Jaya menanggung iuran THT

setiap bulannya sebesar Rp 250.000 sedangkan Anggoro membayar Rp 125.000 setiap bulannya. PT Kimia Jaya membayar iuran pensiun ke badan dana pensiun tiap bulannya sebesar Rp 200.000 sedangkan Anggoro membayar Rp 100.000 tiap bulannya. Berapakah besarnya PPh Pasal 21 yang terutang atas penghasilan Anggoro di tahun 2007 tiap bulannya? Perhitungan PPh Pasal 21 untuk pegawai tetap yang memperoleh gaji bulanan Penghasilan gaji sebulan Rp 2.000.000 Tunjangan makan Rp 750.000 Tunjangan Transport Rp 750.000 Premi asuransi Kecelakaan Kerja Rp 50.000 Premi Asuransi Kematian Rp 30.000 + Total Penghasilan Bruto Rp 3.580.000 Pengurang : Biaya Jabatan (5% x Rp 3.580.000) (maksimal diperkenankan) Rp 108.000 Iuran THT Rp 125.000 Iuran Pensiun Rp 100.000 + Jumlah pengurang Rp 333.000 Penghasilan neto sebulan Rp 3.247.000 Penghasilan neto setahun Rp 38.964.000 PTKP (K/2) Wajib Pajak = Rp 13.200.000 Status Kawin = Rp 1.200.000 Tanggungan 2 = Rp 2.400.000 + Rp 16.800.000 Penghasilan Kena Pajak Rp 22.164.000 PPh Pasal 21 setahun : 5 % x Rp 22.168.000 PPh Pasal 21 sebulan : Rp 1.108.200 / 12 = Rp 1.108.200 = Rp 92.350

Catatan : Untuk kasus seorang karyawan Indonesia (WPDN) yang memiliki kewajiban subjektifnya sejak awal tahun, tetapi baru mulai atau berhenti bekerja pada pertengahan tahun atau dalam tahun berjalan maka perhitungan PPh pasal 21 atas penghasilannya tidak perlu disetahunkan, tetapi hanya dikalikan dengan banyaknya bulan bekerja dari karyawan yang bersangkutan. Sementara untuk karyawan asing (WPLN) yang memiliki kewajiban subjektifnya sejak awal tahun, tetapi baru mulai atau berhenti bekerja pada pertengahan tahun atau dalam tahun berjalan maka atas penghasilannya tersebut harus disetahunkan terlebih dahulu. Untuk lebih jelasnya lihat contoh berikut ini !

Contoh kasus 2 Tn Riadi (K/3) bekerja pada PT. Kimia Jaya pada bulan April 2007. PT. Kimia Jaya setiap bulan membayar gaji untuk Tn Riadi sebesar Rp 2.000.000, tunjangan transpor dan tunjangan makan masing masing Rp 250.000 dan Rp 1.500.000. Premi asuransi kecelakaan kerja dan premi asuransi kematian dibayar oleh pemberi kerja masingmasing sebesar Rp 45.000 dan Rp 30.000. Tn Riadi membayar iuran THT setiap bulannya sebesar Rp 100.000, dan membayar iuran pensiun sebesar Rp 125.000 tiap bulannya. Berapakah besarnya PPh Pasal 21 yang terutang atas penghasilan Tn Riadi tiap bulannya? Perhitungan PPh Pasal 21 untuk pegawai tetap yang mulai / berhenti pada pertengahan tahun Penghasilan gaji sebulan Rp 2.000.000 Tunjangan makan Rp 250.000 Tunjangan Transport Rp 1.500.000 Premi asuransi Kecelakaan Kerja Rp 45.000 Premi Asuransi Kematian Rp 30.000 + Total Penghasilan Bruto Rp 3.825.000 Pengurang : Biaya Jabatan (5% x Rp 3.825.000) (maksimal diperkenankan) Rp 108.000 Iuran THT Rp 125.000 Iuran Pensiun Rp 100.000 + Jumlah pengurang Rp 333.000 Penghasilan neto sebulan Rp 3.492.000 Penghasilan neto setahun 9 x Rp 3.492.000 Rp 31.428.000 PTKP (K/3) Wajib Pajak = Rp 13.200.000 Status Kawin = Rp 1.200.000 Tanggungan 3 = Rp 3.600.000 + Rp 18.000.000 Penghasilan Kena Pajak Rp 13.428.000 PPh Pasal 21 selama 9 bulan PPh Pasal 21 sebulan : 5 % x Rp 13.428.000 : Rp 671.400 / 9 = Rp 671.400 = Rp 74.600

Contoh Kasus 3 Mr. Vince McMahon (K/3) adalah warga negara USA mulai bekerja di Indonesia tanggal 2 Mei 2007 pada PT. SUBARU, dan mendapat gaji sebulan Rp 2.000.000, tunjangan jabatan Rp 25.000 dan tunjangan keluarga Rp 100.000. Perusahaan menanggung premi asuransi kecelakaan kerja dan premi kematian masing-masing sebesar Rp 10.000 dan Rp 12.000, sementara itu setiap bulan Mr. Vince membayar iuran THT sebesar Rp 5 % dari gaji pokok dan iuran pensiun sebesar Rp 100.000. Berapakah PPh Pasal 21 yang terutang atas penghasilan Mr. Vince di tahun 2007?

Perhitungan PPh Pasal 21 untuk pegawai yang menerima gaji bulanan bagi orang asing yang menjadi WPDN yang mulai / berhenti bekerja pada pertengahan tahun Penghasilan gaji sebulan Rp 2.000.000 Tunjangan Jabatan Rp 25.000 Tunjangan Keluarga Rp 100.000 Premi asuransi Kecelakaan Kerja Rp 10.000 Premi Asuransi Kematian Rp 12.000 + Total Penghasilan Bruto Rp 2.147.000 Pengurang : Biaya Jabatan (5% x Rp 2.147.000) Rp 107.350 (maksimal diperkenankan Rp 108.000) Iuran THT Rp 100.000 Iuran Pensiun Rp 100.000 + Jumlah pengurang Rp 307.350 Penghasilan neto sebulan Rp 1.839.650 Penghasilan neto setahun 12 x Rp 1.839.650 Rp 22.075.800 PTKP (K/3) Wajib Pajak = Rp 13.200.000 Status Kawin = Rp 1.200.000 Tanggungan 3 = Rp 3.600.000 + Rp 18.000.000 Penghasilan Kena Pajak Rp 4.075.800 PPh Pasal 21 selama setahun PPh Pasal 21 sebulan : 5 % x Rp 4.075.800 : Rp 203.790 / 12 = Rp = Rp 203.790 17.000

Catatan : Ada beberapa perusahaan yang menanggung PPh Pasal 21 dari penghasilan karyawannya dan ada yang memberikan tunjangan pajak. Perbedaannya adalah : Bila perusahaan memberikan tunjangan pajak, maka tunjangan pajak tersebut merupakan penghasilan karyawan yang bersangkutan dan harus ditambahkan kedalam penghasilan brutonya sebelum dilakukan perhitungan PPh Pasal 21 atas penghasilan karyawan tersebut. Bila perusahaan menanggung PPh Pasal 21 dari karyawannya, maka PPh Pasal 21 yang ditanggung perusahaan tersebut bukan merupakan penghasilan dari karyawan yang bersangkutan sehingga tidak ditambahkan kedalam penghasilan bruto karyawan tersebut. Dengan syarat bahwan PPh Pasal 21 karyawan yang ditanggung perusahaan itu juga tidak boleh dianggap sebagai biaya bagi perusahaan. Contoh Kasus 4 Tn. Aziz masih bujangan bekerja pada PT. ABS dengan gaji perbulan sebesar Rp 4.000.000, kepada Tn. Aziz diberikan tunjangan Pajak sebesar Rp 40.000 sebulan, Iuran pensiun yang dibayar Tn. Aziz perbulan sebesar Rp 100.000. Berapa PPh Pasal 21 yang harus di tanggung Tn. Aziz?

Perhitungan PPh Pasal 21 atas karyawan yang memperoleh gaji bulanan dan tunjangan Pajak Penghasilan gaji sebulan Tunjangan Pajak Total Penghasilan Bruto Pengurang : Biaya Jabatan (5% x Rp 4.040.000) (maksimal diperkenankan) Iuran Pensiun Rp 4.000.000 Rp 40.000 + Rp 4.040.000

Rp 108.000 Rp 100.000 + Rp 208.000 Rp 3.832.000 Rp 45.984.000 Rp 13.200.000 Rp 32.784.000

Penghasilan neto sebulan Penghasilan neto setahun 12 x Rp 3.832.000 PTKP (Bujangan) Wajib Pajak Penghasilan Kena Pajak PPh Pasal 21 selama setahun : 5 % x 25.000.000 = Rp 1.250.000 10 % x 7.784.000 = Rp 778.400 + Rp 2.028.400

PPh Pasal 21 sebulan : Rp 2.208.400 / 12 = Rp169.000 Selisih pajak terutang dengan tunjangan pajak sebesar Rp 129.000 (Rp 169.000 Rp 40.000), ditanggung oleh pegawai tersebut dengan dipotongkan dari penghasilannya perbulan. Contoh Kasus 5 Tn. Reza (K/3) bekerja pada PT. ABS dengan gaji perbulan sebesar Rp 4.000.000, pajak penghasilan ditanggung oleh pemberi kerja. Iuran pensiun yang dibayar Tn Reza perbulan sebesar Rp 100.000. Berapa PPh Pasal 21 yang harus di tanggung Tn Reza? Perhitungan PPh Pasal 21 atas karyawan PPh Pasal 21-nya ditanggung pemberi kerja Penghasilan gaji sebulan Total Penghasilan Bruto Pengurang : Biaya Jabatan (5% x Rp 4.000.000) (maksimal diperkenankan) Rp 108.000 Iuran Pensiun Rp 100.000 + Jumlah pengurang Penghasilan neto sebulan Penghasilan neto setahun 12 x Rp 3.792.000 PTKP (K/3) Wajib Pajak = Rp 13.200.000 Status Kawin = Rp 1.200.000 Tanggungan 3 = Rp 3.600.000 + Rp 4.000.000 Rp 4.000.000

Rp 208.000 Rp 3.792.000 Rp 45.504.000

Rp 18.000.000 -

Penghasilan Kena Pajak PPh Pasal 21 selama setahun : 5 % x 25.000.000 = Rp 1.250.000 10 % x 2.504.000 = Rp 250.400 + Rp 1.500.400

Rp 27.504.000

PPh Pasal 21 sebulan : Rp 1.500.400 / 12 = Rp125.000 PPh Pasal 21 sebesar Rp 125.000 ini bukan merupakan penghasilan bagi pegawai (Tn. Reza) sehingga tidak boleh mengurangi penghasilan dari pemberi kerja. B. Pegawai / Karyawan Yang memperoleh Gaji / Upah Bulanan dan mendapat Bonus Perhitungan Pajak penghasilan atas bonus, gratifikasi, THR dan pemberian lain yang bersifat tidak tetap dan biasanya diberikan sekali dalam setahun dapat dilihat pada contoh kasus dibawah ini : Contoh Kasus 6 Bapak Mickael (K/3) memperoleh gaji sebulan sebesar Rp 1.000.000 dan mendapat tunjangan jabatan serta tunjangan keluarga masing-masing Rp 250.000 dan 250.000. Premi asuransi dan premi kecelakaan kerja dibayarkan oleh pemberi kerja masingmasing Rp 350.000 dan Rp 150.000. Setiap bulan Bapak Mickael harus membayar iuran THT dan iuran pensiun masing-masing sebesar Rp 10.000 dan Rp 40.000. Pada bulan Juli ia mendapat bonus sebesar Rp 10.000.000. Berapa besarnya pajak yang terutang atas gaji dan bonus yang diterima Bapak Mickael? Perhitungan PPh Pasal 21 atas pegawai yang memperoleh Gaji dan Bonus a. Perhitungan PPh Pasal 21 atas Gaji dan Bonus Penghasilan gaji sebulan Rp 1.000.000 Tunjangan Jabatan Rp 250.000 Tunjangan Keluarga Rp 250.000 Premi asuransi Kecelakaan Kerja Rp 350.000 Premi Asuransi Kematian Rp 150.000 + Penghasilan Bruto Sebulan Rp 2.000.000 Penghasilan Bruto Setahun Rp 24.000.000 Bonus Rp 10.000.000 + Penghasilan Bruto Gaji dan Bonus Rp 34.000.000 Pengurang : Biaya Jabatan (5% x Rp 34.000.000) (maksimal diperkenankan) Rp 1.296.000 Iuran THT (12 x 10.000) Rp 120.000 Iuran Pensiun (12 x 40.000) Rp 480.000 + Jumlah pengurang Penghasilan neto setahun

Rp 1.896.000 Rp 32.104.000

PTKP (K/3) Wajib Pajak Status Kawin Tanggungan 3 Penghasilan Kena Pajak

= Rp 13.200.000 = Rp 1.200.000 = Rp 3.600.000 + Rp 18.000.000 Rp 14.104.000

PPh Pasal 21 yang terutang atas Gaji dan Bonus : 5 % x 14.104.000 = Rp 705.200 b. Perhitungan PPh Pasal 21 atas Gaji Penghasilan gaji sebulan Rp 1.000.000 Tunjangan Jabatan Rp 250.000 Tunjangan Keluarga Rp 250.000 Premi asuransi Kecelakaan Kerja Rp 350.000 Premi Asuransi Kematian Rp 150.000 + Penghasilan Bruto Sebulan Rp 2.000.000 Penghasilan Bruto Setahun Rp 24.000.000 Pengurang : Biaya Jabatan (5% x Rp 24.000.000) Rp 1.200.000 (maksimal diperkenankan Rp 1.296.000) Iuran THT (12 x 10.000) Rp 120.000 Iuran Pensiun (12 x 40.000) Rp 480.000 + Jumlah pengurang Rp 1.800.000 Penghasilan neto setahun Rp 22.200.000 PTKP (K/3) Rp 18.000.000 Penghasilan Kena Pajak Rp 4.200.000 PPh Pasal 21 yang terutang atas Gaji: 5 % x 4.200.000 =Rp 210.000 c. Perhitungan PPh Pasal 21 atas Bonus PPh Pasal 21 atas Gaji dan Bonus = Rp 705.200 PPh Pasal 21 atas Gaji = Rp 210.000 PPh Pasal 21 atas Bonus = Rp 495.200

Pegawai yang menerima Gaji / Upah Bulanan dan Pensiun


Wajib Pajak yang menerima penghasilan dari pensiun tetap dikenakan pajak penghasilan atas uang pensiun yang diterimanya. Untuk menentukan penghasilan kena pajak maka penghasilan bruto hanya dikurangi dengan Biaya Pensiun sebesar 5 % dari penghasilan bruto dan setinggitingginya Rp 36.000 sebulan atau Rp 432.000 setahun serta dikurangi dengan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP).

Contoh Kasus 7 Tn. Niko (K/3) bekerja pada perusahaan tekstil di Jakarta dengan gaji sebulan sebesar Rp 3.000.000, tunjangan keluarga dan tunjangan jabatan masing-masing sebesar Rp 30.000 dan Rp 100.000. Perusahaan membayarkan premi asuransi kematian dan premi kecelakaan kerja yang masing-masing besarnya Rp 20.000 dan Rp 25.000, Tn. Niko sendiri setiap bulannya membayar iuran THT dan iuran Pensiun sebesar Rp 10.000 dan Rp 15.000. Pada tanggal 1 September 2007 ia pensiun dan menerima uang pensiun setiap bulannya sebesar Rp 1.800.000. Berapakah PPh Pasal 21 terutang atas gaji dan pensiun yang diterimanya? Perhitungan PPh Pasal 21 atas penghasilan Gaji dan Pensiun dari Badan Dana Pensiun a. Perhitungan PPh Pasal 21 atas Gaji 8 bulan (tahun 2007) Penghasilan gaji sebulan Rp 3.000.000 Tunjangan Jabatan Rp 100.000 Tunjangan Keluarga Rp 30.000 Premi asuransi Kecelakaan Kerja Rp 25.000 Premi Asuransi Kematian Rp 20.000 + Total Penghasilan Bruto Gaji Rp 3.175.000 Pengurang : Biaya Jabatan (5% x Rp 3.175.000) (maksimal diperkenankan) Rp 108.000 Iuran THT Rp 10.000 Iuran Pensiun Rp 15.000 + Jumlah pengurang Rp 133.000 Penghasilan neto Gaji sebulan Rp 3.042.000 Penghasilan neto Gaji 8 Bulan 8 x Rp 3.042.000 Rp 24.336.000 PTKP (K/3) Wajib Pajak = Rp 13.200.000 Status Kawin = Rp 1.200.000 Tanggungan 3 = Rp 3.600.000 + Rp 18.000.000 Penghasilan Kena Pajak Rp 6.336.000 PPh Pasal 21 atas gaji 8 bulan: 5 % x 6.336.000 = Rp 316.800

b. Perhitungan PPh Pasal 21 atas Gaji 8 bulan dan Pensiun 4 bulan Penghasilan Pensiun sebulan Rp 1.800.000 Pengurang : Biaya Pensiun (5 % x Rp 1.800.000) Maksimal diperkenankan Rp 36.000 Penghasilan neto pensiun sebulan Rp 1.764.000 Penghasilan neto pensiun 4 bulan Rp 7.056.000 Penghasilan neto Gaji 8 bulan Rp 24.336.000 + Penghasilan neto Gaji dan Pensiun Rp 31.392.000 PTKP (K/3) Rp 18.000.000 Penghasilan Kena Pajak Rp 13.392.000 PPh Pasal 21 atas Gaji dan Pensiun : 5 % x Rp 13.392.000 = Rp 669.600 c. Perhitungan PPh Pasal 21 atas Pensiun PPh Pasal 21 atas Gaji dan Pensiun = Rp 669.600 PPh Pasal 21 atas Gaji = Rp 316.800 PPh Pasal 21 atas Pensiun = Rp 352.800 d. Perhitungan PPh Pasal 21 atas pembayaran uang pensiuan bulanan mulai Januari 2008 Penghasilan Pensiun sebulan Rp 1.800.000 Pengurang : Biaya Pensiun (5 % x Rp 1.800.000) Maksimal diperkenankan Rp 36.000 Penghasilan neto pensiun sebulan Rp 1.764.000 Penghasilan neto pensiun setahun Rp 21.168.000 PTKP (K/3) Rp 18.000.000 Penghasilan Kena Pajak Rp 3.168.000 PPh Pasal 21 terutang selama setahun 5 % x 3.168.000 = Rp 158.400 PPh Pasal 21 terutang selama sebulan Rp 158.400 / 12 = Rp 13.200 D. Perhitungan PPh Pasal 21 atas Penghasilan Tenaga Ahli Pemotongan Pajak Penghasilan atas penghasilan sehubungan dengan pekerjaan tenaga ahli atau persekutuan tenaga ahli, antara lain : * Pengacara * Notaris * Akuntan * Penilai * Arsitek * Aktuaris * Dokter * Konsultan

* Tenaga ahli lain pemberi jasa profesi Sebagai imbalan atas jasa yang dilakukan di Indonesia, diterapkan tarif sebesar 15 % (lima belas persen) dari perkiraan penghasilan neto dari masing-masing tenaga ahli dengan menggunakan norma perhitungan sebesar 50% untuk semua jenis pekerjaan tenaga ahli. Contoh kasus 8 PT. Cita Rasa membayar honorarium kepada Akuntan Publik Choirul, Ak, BAP sebesar Rp 45.000.000 sebagai imbalan atas jasa pembukuan dan penyusunan laporan keuangan perusahaan, maka berapakah besarnya pajak penghasilan yang harus dipotong oleh perusahaan atas imbalan yang diberikan? Perhitungan PPh Pasal 21 atas Penghasilan yang dibayarkan kepada tenaga ahli Jenis Tenaga Ahli : Akuntan Publik Penghasilan yang diterima : Rp 45.000.000 Pajak yang dikenakan atas Akuntan tersebut : 15 % x 50 % x 45.000.000 = Rp 3.375.000 E. Perhitungan PPh Pasal 21 atas penghasilan berupa uang tebusan Pensiun dan Uang Pesangon Pegawai / karyawan yang berhenti pada saatnya (pensiun) atau berhenti (dengan hormat) dapat diberikan uang tebusan pensiun / pesangon yang dibayarkan sekaligus sebagai pengganti gaji atau upah yang diterima dimasa-masa berikutnya. Atas penghasilan berupa uang pesangon, uang tebusan pensiun yang dibayar oleh dana pensiun yang disahkan oleh Menteri Keuangan dan tunjangan hari tua dipotong pajak penghasilan yang bersifat final dengan ketentuan sebagai berikut : Penghasilan Bruto Sampai dengan Rp 25.000.000 Diatas Rp 25.000.000 s/d Rp 50.000.000 Diatas Rp 50.000.000 s/d Rp 100.000.000 Diatas Rp 100.000.000 s/d Rp 200.000.000 Diatas Rp 200.000.000 Tarif Dikecualikan dari pemotongan 5% 10% 15% 25%

Contoh Kasus 9 Anton bekerja pada PT. ACER selama 15 tahun. Pada bulan Agustus ia berhenti bekerja dan mendapat uang pesangon Rp 100.000.000. Hitunglah berapa besarnya pajak yang dipotong atas pesangon tersebut! Perhitungan PPh Pasal 21 atas pembayaran uang pesangon / tebusan pensiun Penghasilan bruto Dikecualikan dari pemotongan Penghasilan Kena Pajak (PKP) PPh Pasal 21 terhutang 5 % x 25.000.000 Rp 100.000.000 Rp 25.000.000 Rp 75.000.000 Rp 1.250.000

10 % x 50.000.000

Rp 5.000.000 + Rp 6.250.000

Catatan Apabila uang pesangon dibayarkan dalam dua tahap, pertama dibayarkan sebagai uang muka dan kedua dibayarkan setelah karyawan sudah benar-benar tidak bekerja lagi, maka penghitungan PPh Pasal 21 atas uang pesangon adalah dengan cara mengenakan tarif final sesuai dengan Pasal 2 ayat (1) Keputusan Menteri Keuangan diatas, setelah dikurangi jumlah yang dikecualikan dari pemotongan pajak sebesar Rp 25.000.000. Sedangkan atas pembayaran tahap kedua atau sisanya dikenakan PPh Final langsung tanpa mengulangi pengurangan yang dikecualikan sebesar Rp 25.000.000 dengan tarif yang merupakan kelanjutan dari perhitungan PPh Final tahap pertama sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan.

PAJAK PENGHASILAN PASAL 22


A. Pengertian PPh Pasal 22 Pajak yang dipungut atas penyerahan barang / jasa, impor dan bidang usaha lain. B. Pemungut PPh Pasal 22 1. Dirjen Anggaran, Bendaharawan Pemerintah (Pusat dan daerah) BUMN & BUMD yang melakukan pembayaran atas pembelian barang dan dananya berasal dari belanja negara dan / atau daerah. PPh Pasal 22 = 1,5 % x Harga Pembelian Mekanisme Pemungutan : PPh Pasal 22 disetor oleh pemungut menggunakan SSP atas nama Wajib Pajak yang dipungut (penjual). PPh Pasal 22 tersebut harus disetor oleh pemungut pada hari yang sama saat pembayaran dengan menggunakan SSP atas nama Wajib Pajak yang dipungut (penjual). Pemungut juga wajib melaporkan atas seluruh pemungutan yang dilakukan paling lambat 14 hari sejak masa pajak berakhir. 2. Bank devisa dan Direktorat Jendral Bea dan Cukai atas barang impor. Subjek PPh Pasal 22 Impor : Setiap Wajib Pajak yang melakukan impor, kecuali yang mendapat fasilitas pembebasan (memperoleh surat keterangan bebas). Tarif PPh Pasal 22 Impor : Yang menggunakan Angka Pengenal Impor (API), sebesar 2,5% dari Nilai Impor. PPh Pasal 22 = 2,5 % x Nilai Impor Yang tidak menggunakan API, sebesar 7,5% dari Nilai Impor. PPh Pasal 22 = 7,5 % x Nilai Impor Yang tidak dikuasai 7,5% dari Harga Jual Lelang. PPh Pasal 22 = 7,5 % x Harga Jual Lelang

Catatan : Nilai Impor: Nilai Impor adalah : Nilai yang berupa uang yang menjadi dasar penghitungan Bea Masuk yaitu Cost Insurance and Freight (CIF) ditambahkan dengan Bea Masuk dan Pungutan Lainnya yang dikenakan berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan pabean bidang Impor. Untuk menghitung Nilai Impor digunakan Kurs berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan. Tidak Dikenakan PPh Pasal 22: Impor barang / penyerahan barang di dalam negeri yang berdasarkan peraturan perundang undangan tidak terutang pajak penghasilan. Impor barang yang dibebaskan dari Bea Masuk dan atau Pajak Pertambahan Nilai, yaitu terdiri dari (dilaksanakan oleh DJBC), contoh : Barang perwakilan negara asing dan pejabatnya yang bertugas di Indonesia berdasarkan asas timbal balik. Impor sementara yang sematamata untuk diekspor kembali (dilaksanakan oleh DJB). Pembayaran yang jumlahnya paling banyak Rp 1.000.000 dan tidak merupakan pembayaran yang terpecahpecah (tanpa SKB). Pembayaran untuk pembelian bahan bakar minyak, listrik, gas, air minum / PDAM dan bendabenda pos (tanpa SKB). Saat Terutangnya Pajak : Pajak penghasilan Pasal 22 atas impor barang terutang dan dilunasi bersamaan dengan saat pembayaran Bea Masuk : dalam hal pembayaran Bea Masuk ditunda atau dibebaskan, maka Pajak Penghasilan Pasal 22 terutang dan dilunasi pada saat penyelesaian dokumen Pemberitahuaan Impor Barang (PIB). Dirjen Bea dan Cukai akan menghitung dan menetapkan PPh Pasal 22 atas impor yang dilakukan oleh importir, kecuali bagi yang mendapatkan fasilitas pembebasan. Atas perhitungan tersebut importir membayar PPh Pasal 22 ke Bank Persepsi. SSP yang diterima merupakan Kredit Pajak diakhir Tahun Pajak. Mulai tahun 2003 setoran Pajak dan Bea Cukai bisa dijadikan satu (digabung) dengan menggunakan SSPBC (Surat Setoran Pajak dan Bea Cukai).

3. Badan Usaha Lainnya Atas Penyerahan ProdukProduk Tertentu : Badan Usaha yang bergerak dalam bidang usaha industri Semen, Rokok, Industri Kertas, Industri Baja, dan Industri Otomotif, yang ditunjuk oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak, atas penjualan hasil produksinya di dalam negeri.

Pertamina serta badan usaha lainnya yang bergerak dalam bidang bahan bakar minyak jenis premix, super TT dan gas atas penjualan hasil produksinya. Industri dan eksportir yang bergerak dalam sektor perhutanan, perkebunan, dan perikanan yang ditunjuk oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak, atas pembeliaan bahan bahan untuk keperluan industri atau ekspor mereka dari pedagang pengumpul.

Tarif PPh Pasal 22


No 1 2 3 4 5 Transaksi / Objek Besarnya Pungutan Penjualan barang kepada pemerintah yang dibayar 1.50 % x Harga Jual dengan APBN /APBD Impor dengan API / Non API 2.5% / 7.5% x Nilai Impor Penjualan Kertas di Dalam 0.10 % x DPP PPN Negeri oleh industri Kertas Penjualan Semen di Dalam 0.25 % x DPP PPN Negeri oleh industri Semen Penjualan Baja di Dalam 0.30 % x DPP PPN Negeri oleh industri Baja Penjualan Otomotif oleh industri otomotif termasuk 0.45 % x DPP PPN ATPM, APM importir kendaraan umum dalam negeri Penjualan Rokok di Dalam 0.15 x Harga Banderol Negeri oleh industri Rokok Penjualan Premium, Solar 0.30 % / 0.25 % x Premix, Super TT oleh Penjualan Pertamina kepada SPBU Swasta / Pertamina Penjualan Minyak Tanah / Gas 0.30 % x Penjualan LPG, Pelumas Penjualan Barang kepada BI, BPPN, BULOG, TELKOM, PLN, PT Garuda Indonesia, PT Indosat, PT Krakatau Steel, 1.5 % x Harga Jual Pertamina, dan Bank BUMN yang dibayar dengan APBN maupun non-APBN. Pembelian bahanbahan untuk kebutuhan industri / ekspor dari pedagang pengumpul oleh industri & eksportir yang bergerak dalam sektor Pemungut / Penyetor Sf Bendaharawan Pem, Ditjen Anggaran, TF BUMN / BIMD Bank Devisa, DJBC TF Industri Kertas TF Industri Semen Industri Baja TF TF

Industri Otomotif termasuk ATPM, TF APM importir kendaraan umum Industri Rokok F Pertamina F Pertamina

10

BI, BPPN, BULOG , TELKOM, PLN, PT Garuda Indonesia, PT Indosat, PT Krakatau TF Steel, Pertamina, dan Bank BUMN

11

1.5% x Harga Beli

Industri Eksportir yang bergerak dalam sektor perhutanan, perkebunan, pertanian dan

TF

perhutanan, perkebunan, pertanian dan perikanan.

perikanan ditunjuk KPP

yang

Contoh Perhitungan
A. PPh Pasal 22 Bea Cukai Seorang importir pada awal tahun 2007 memasukkan barang ke wilayah pabean Indonesia dengan Cost sebesar US$ 80,000. Biaya angkut dari luar negeri ke pelabuhan tujuan sebesar US$ 5,000 dan premi asuransi perjalanan yang dibayar dari luar negeri ke pelabuhan tujuan sebesar US$ 1,000. Bea Masuk yang dibebankan sebesar Rp 34.200.000 dan pungutan pabean lain yang rsemi sebesar Rp 16.000.000, kurs yang berlaku saat terjadinya import adalah US$ 1.00 = Rp 10.000. Hitunglah Pajak penghasilan Pasal 22 Bea Cukai, dalam kondisi baik importir memiliki API/APIS/APIT dan jika importir belum memiliki API/APIS/APIT ? Perhitungan PPh Pasal 22 Bea Cukai Kurs yang berlaku =Rp 10.000 Harga import US$ 80,000 x Rp 10.000 Biaya Angkut US$ 5,000 x Rp 10.000 Biaya Asuransi US$ 1,000 x Rp 10.000 Bea Masuk Pungutan Pabean dan lain-lain Nilai Import

= Rp 800.000.000 = Rp 50.000.000 = Rp 10.000.000 = Rp 34.200.000 = Rp 16.000.000 + = Rp 910.200.000

Pajak Penghasilan Pasal 22 Bea Cukai bila importir memiliki API/APIS/APIT : 2.5 % x 910.200.000 = Rp 22.755.000 Pajak Penghasilan Pasal 22 Bea Cukai bila importir tidak memiliki API/APIS/APIT : 7.5 % x 910.200.000 = Rp 68.265.000 B. PPh Pasal 22 yang dipungut oleh Bendaharawan Contoh Kasus 1 : Sebuah perusahaan melakukan penyerahan barang kena pajak kepada suatu instasi pemerintah seharga Rp 990.000.000 yang pembayarannya melalui Kantor pembendaharaan negara. Berapakah Pajak Penghasilan Pasal 22 Bendaharawan yang harus dipotong bila : 1. Harga barang tidak termasuk PPN dan PPnBM. 2. Harga barang termasuk PPN (10%) tapi bukan Barang Mewah. 3. Harga barang termasuk PPN (10%) dan PPnBM (20%). Perhitungan Pajak Penghasilan Pasal 22 Bendaharawan 1. Harga barang tidak termasuk PPN dan PPnBM

Harga barang yang diserahkan Pajak Penghasilan pasal 22 1.5 % x Rp 990.000.000 Jumlah uang yang diterima

Rp 990.000.000 Rp 14.850.000 Rp 975.150.000

2. Harga barang termasuk PPN (10%) tapi bukan Barang Mewah Harga barang termasuk PPN (10%) Rp 990.000.000 PPN (10%)=Rp 990.000.000 x 10/110 Rp 90.000.000 Harga barang tidak termasuk PPN Rp 900.000.000 Pajak Penghasilan pasal 22 1.5 % x Rp 900.000.000 Rp 13.500.000 Jumlah uang yang diterima Rp 886.500.000 3. Harga barang termasuk PPN (10%) dan PPnBM (20%) Harga barang termasuk PPN (10%) dan PPnBM(20%) Rp 990.000.000 PPN (10%)=Rp 990.000.000 x 10/130 Rp 76.153.000 PPnBM (20%) = Rp 990.000.000 x 20/130 Rp 152.307.000 Harga barang tidak termasuk PPN dan PPnBM Rp 761.540.000 Pajak Penghasilan pasal 22 1.5 % x Rp 761.540.000 Rp 11.423.100 Jumlah uang yang diterima Rp 750.116.900 Contoh Kasus 2 : Nn. Adel menerima pembayaran atas penjualan meja tulis seharga Rp 750.000 ke Pemda DKI. Berapakah PPh Pasal 22 yang dipotong atas penjualan tersebut ? Jawab : Atas transaksi penerimaan pembayaran penjualan penjualan meja tulis sebesar Rp 750.000 ke pemda DKI tidak terutang PPh Pasal 22, disebabkan berdasarkan KMK Nomor 254/KMK.03/2001 atas pembayaran dari penyerahan barang (bukan merupakan jumlah yang dipecah-pecah) meliputi jumlah kurang dari Rp 1.000.000 dikecualikan dari pemungutan PPh Pasal 22.

PAJAK PENGHASILAN PASAL 24


A. Pajak Penghasilan Pasal 24 Adalah Pajak yang dipungut di luar negeri atas penghasilan wajib pajak di luar negeri. Pajak yang dibayar di luar negeri atas penghasilan luar negeri yang diperoleh wajib pajak dalam negeri (WPDN) boleh dikreditkan dengan pajak yang terutang dalam tahun pajak yang sama, sebesar pajak yang dibayarkan diluar negeri tersebut tetapi tidak boleh melebihi penghitungan pajak yang terutang berdasarkan UU No. 10 Tahun 1994. Untuk itu harus dicari batas maksimum kredit pajak luar negeri (KPLN). . B. Batas maksimum kredit pajak luar negeri (KPLN) diambil yang terendah dari ketiga unsur berikut 1. Jumlah Pajak yang dibayar / terutang di luar negeri 2. Penghasilan Luar Negeri x PPh Terutang yang biasa digunakan Penghasila Kena Pajak 3. Jumlah PPh terutang untuk seluruh penghasilan kena pajak, dalam hal penghasilan kena pajaknya lebih kecil dari penghasilan luar negerinya. Catatan 1. Jika Pajak Penghasilan Luar Negeri yang diminta untuk dikreditkan itu ternyata dikembalikan maka jumlah pajak yang terutang menurut undang-undang ini harus ditambah dengan jumlah tersebut pada tahun pengembalian tersebut dilakukan. 2. Jika Penghasilan Luar Negeri berasal dari beberapa negara maka jumlah maksimum KPLN dihitung untuk masing-masing negara. 3. Untuk kerugian yang diderita di luar negeri tidak diperhitungkan dalam menghitung penghasilan kena pajak. Penghasilan dari Luar Negeri untuk tahuntahun berikutnya dapat dikompensasikan dengan kerugiaan tersebut. 4. Dalam hal pajak dibayarkan di luar negeri lebih besar dari kredit pajak yang diperkenankan (PPh Pasal 24), maka kelebihan tersebut tidak dapat : Diminta Kembali Di Kompensasikan Sebagai Pengurang Penghasilan. C. Cara mencari pajak penghasilan pasal 24 yang dapat dikreditkan di dalam negeri 1. Cari Penghasilan Kena Pajak (PKP) PKP = PNDN(Penghasilan Netto Dalam Negeri) + PNLN (Penghasilan Netto Luar Negeri) Catatan : Jika DN (Dalam Negeri) rugi diperhitungkan sebagai pengurang dalam menghitung PKP Jika LN (Luar Negeri) rugi tidak diperhitungkan sebagai pengurang dalam menghitung PKP (diabaikan)

2. Cari Pajak Penghasilan Terutang (PPh Terutang) Dari Penghasilan Kena Pajak (PKP) 3. Cari Pajak yang telah dibayar di Luar Negeri (%Pjk yang dikenakan di Luar Negeri x Besarnya penghasilan di Luar Negeri) 4. Cari Kredit Pajak Luar Negeri (KPLN) : KPLN = Penghasilan Luar Negeri x PPh terutang Penghasilan Kena Pajak 5. Bandingkan antara Pajak yang telah dibayar di Luar Negeri (poin 3) dengan kredit Pajak Luar Negeri (poin 4), lalu pilih yang terendah. 6. Jumlahkan poin 5 untuk mencari besarnya PPh Pasal 24 yang dapat dikreditkan. Catatan : Jika PKP < PNLN dicari sampai langkah ke dua. Contoh Kasus PT. Seventeen yang berlokasi di Jakarta, selama tahun 2006 memperoleh penghasilan baik dari usahanya dari dalam negeri ataupun beberapa cabangnya yang berada di luar negeri. Penghasilan Netto dari dalam negeri Rp 150.000.000.000 sedangkan usahanya di luar negeri, seperti Jepang memperoleh penghasilan Rp 300.000.000 dan di Korea memperoleh penghasilan Rp 400.000.000 sedangkan di China mengalami rugi Rp 100.000.000. Pajak yang telah dibayar diluar negeri sebesar 25% untuk Jepang, 30% untuk Korea dan 20% untuk China. Berapa PPh Pasal 24 yang diperkenankan untuk dikreditkan dengan pajak penghasilan yang harus dibayar di dalam negeri? Perhitungan Pajak Penghasilan Pasal 24 yang dapat dikreditkan di dalam negeri. 1. Mencari Penghasilan Kena Pajak (PKP) : Penghasilan Neto Dalan Negeri Rp 150.000.000 Penghasilan Neto Luar Negeri Jepang Rp 300.000.000 Korea Rp 400.000.000 Jumlah Penghasilan Neto Luar Negeri Rp 700.000.000 + Penghasilan Kena Pajak (PKP) Rp 850.000.000 2. Mencari Pajak Penghasilan Terutang dari jumlah PKP Sebesar Rp 850.000.000 : 10% X 50.000.000 = Rp 5.000.000 15% X 50.000.000 = Rp 7.500.000 30% X 750.000.000 = Rp 225.000.000 + Rp 237.500.000 3. Mencari Pajak Yang Telah Dibayar Atas Penghasilan Di Luar Negeri : Jepang : 25% x 300.000.000 = Rp 75.000.000 Korea : 30% x 400.000.000 = Rp 120.000.000 4. Mencari Kredit Pajak Luar Negeri (KPLN) : KPLN Jepang : 300.000.000 / 850.000.000 x 237.500.000 = Rp 83.823.500 KPLN Korea : 400.000.000 / 850.000.000 x 237.500.000 = Rp 111.764.700

5. PPh Pasal 24 yang dapat dikreditkan di Indonesia atas penghasilan di Jepang sebesar : Rp 75.000.000 (Pilih yang terendah) PPh Pasal 24 yang dapat dikreditkan di Indonesia atas penghasilan di Korea sebesar : Rp 111.764.700 (Pilih yang terendah) 6. Jumlah PPh Pasal 24 yang dapat dikreditkan di dalam negeri : Rp 75.000.000 + Rp 111.764.700 = Rp 186.764.700

PAJAK PENGHASILAN PASAL 23


A. Pengertian PPh Pasal 23 Pajak yang dipotong atas penghasilan yang berasal dari deviden, bunga, royalty, sewa dan penghasilan lain atas penggunaan harta dan imbalan jasa teknik /manajemen dan jasa lainnya. B. Subjek PPh Pasal 23 Wajib Pajak Dalam Negeri atau Warga Negara Asing yang berada di Indonesia lebih dari 6 bulan atau lebih dari 183 hari. C. Pemotong PPh Pasal 23 Badan Pemerintah BUMN / BUMD Badan Hukum Lainya (PT, Fa, Yayasan, Koperasi, Perhimpunan Kongsi (Perhimpunan Kerja Sama), BUT / Badan Usaha Tetap, dll) Perseroan yang ditunjuk oleh Direktorat Jenderal Pajak. D. Objek PPh Pasal 23 Deviden yang diterima oleh orang pribadi, Yayasan, CV, Firma dan Kongsi. Bunga : Premium, Diskonto, Imbalan sehubungan dengan pengembalian hutang Sewa Atas Penggunaan Harta dalam PPh Pasal 4 ayat 2 Royalti (Imbalan berupa royalty hak atas harta berwujud, hak atas harta tidak berwujud dan informasi yang belum diungkapkan secara umum) Hadiah / Penghargaan selain yang telah dipotong PPh Pasal 21 Bunga Simpanan yang dibayarkan oleh Koperasi, sepanjang jumlahnya melebihi Rp. 144.000,- setiap bulannya. Imbalan Jasa Teknik, Jasa Manajemen, Jasa Kontruksi, dan jasa lainnya selain yang telah dipotong PPh Pasal 21. E. Tidak Dipotong PPh Pasal 23 Penghasilan yang dibayar atau terutang kepada Bank, berdasarkan PP No.51 Thn 1994 Sewa yang dibayarkan atau terutang sehubungan dengan sewa guna usaha dengan hak opsi, hal ini didasarkan atas UU PPh Pasal 23 ayat 4 huruf b. Deviden yang diterima oleh : Perseroan terbatas WPDN Koperasi Yayasan Organisasi sejenis

Bunga obligasi yang diterima / diperoleh perusahaan reksa dana selama 5 tahun pertama sejak pendirian perusahaan atau pemberian ijin usaha (UU PPh Pasal 4 ayat 3 huruf j) Bagian yang diterima / diperoleh perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham-saham, persekutuan, perkumpulan, firma, kongsi. Sisa Hasil Usaha Koperasi yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggotanya, yang bunganya kurang dari Rp. 240.000 / bulan. Berdasarkan KMK No. 522/KMK.04/1998 Bunga simpanan yang tidak melebihi batas yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggotanya. F. Tarif PPh Pasal 23 Tarif 15% x jumlah bruto atas : 1. Deviden, termasuk deviden dari Perusahaan Asuransi kepada pemegang polis dan pembagian sisa hasil usaha koperasi 2. Bunga selain bunga tabungan, termasuk premium, diskonto dan imbalan karena jaminan pengembalian hutang 3. Royalti 4. Hadiah dan penghargaan selain yang telah dipotong PPh 21 5. Tarif bunga tabungan sebesar 20%, dengan syarat : tabungan / deposito harus melebihi Rp. 7.500.000,Tarif 15% x Perkiraan Penghasilan Netto Perkiraan Penghasilan Netto atas Sewa dan Penghasilan Lain Sehubungan dengan Penggunaan Harta (Pajak Penghasilan Bersifat Tidak Final) Perkiraan No. Jenis Penghasilan Penghasilan Neto 10% dari Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan Jumlah bruto penggunaan harta khusus kendaraan angkutan darat untuk tidak termasuk 1 jangka waktu tertentu berdasarkan kontrak atau perjanjian PPN tertulis ataupun tidak tertulis. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta selain kendaraan angkutan darat untuk jangka waktu tertentu berdasarkan kontrak atau perjanjian tertulis ataupun tidak tertulis, kecuali sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan persewaan tanah dan atau bangunan yang telah dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat final. 30% dari Jumlah bruto tidak termasuk PPN

Perkiraan Penghasilan Netto Atas Imbalan Jasa Teknik, Jasa Manajemen, Jasa Konstruksi, Jasa Konsultasi dan Jasa Lain.

No. I 1. 2. 3. 1. 2.

Jenis Penghasilan Jasa teknik Jasa manajemen Jasa konsltansi kecuali konsultansi konstruksi Jasa pengawasan konstruksi Jasa perencanaan konstruksi

II

Perkiraan Penghasilan Neto 30% dari jumlah imbalan jasa tidak termasuk PPN 26 % dari jumlah imbalan yang dibayarkan seluruhnya termasuk pemberian jasa dan pengadaan material/barang, tidak termasuk PPN

III

Jasa lain : 1. Jasa penilai 2. Jasa aktuaris 3. Jasa akuntansi 4. Jasa perancang 5. Jasa pengeboran (jasa drilling) di bidang penambangan minyak dan gas bumi (migas), kecuali yang dilakukan oleh bentuk usaha tetap. 6. Jasa penunjang di bidang penambangan migas 7. Jasa penambangan dan jasa penujang di bidang penambangan selan migas. 8. Jasa penunjang di bidang penerbangan dan bandar udara. 9. Jasa penebangan hutan 10. Jasa pengolahan limbah 11. Jasa penyedia tenaga kerja 12. Jasa perantara 13. Jasa di bidang perdagangan surat-surat berharga, kecuali yang dilakukan oleh Bursa Efek, KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia) dan KPEI (Kliring Penjaminan Efek Indonesia) 14. Jasa kustodian/ penyimpanan / penitipan, kecuali yang dilakukan oleh KSEI 15. Jasa pengisian suara 16. Jasa mixing film (translate ke bahasa lain) 17. Jasa sehubungan dengan software komputer, termasuk perawatan, pemeliharaan dan perbaikan. 18. Jasa instalasi / pemasangan : mesin, lisrik/ telepon/ air/ gas/ AC/ TV kabel peralatan

30% dari jumlah imbalan jasa tidak termasuk PPN

kecuali yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang ruang lingkup pekerjaannya di bidang konstruksi da mempunyai izin/sertifikasi sebagai pengusaha konstruksi. 19. Jasa perawatan / pemeliharaan / perbaikan : mesin, lisrik/ telepon/ air/ gas/ AC/ TV kabel peralatan alat-alat transportasi / kendaraan bangunan, kecuali yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang ruang lingkup pekerjaannya di bidang konstruksi da mempunyai izin/sertifikasi sebagai pengusaha konstruksi. 20. Jasa pelaksanaan konstruksi, termasuk : Jasa perawatan / pemeliharaan / perbaikan bangunan Jasa instalasi / pemasangan peralatan, mesin/listrik/telepon/air/gas/AC/TV kabel; sepanjang jasa tersebut dilakukan oleh Wajib Pajak yang mempunyai izin / sertifikasi sebagai pengusaha konstruksi. 21. Jasa maklon (Perantara jasa antar usaha sejenis) 22. Jasa penyidikan dan keamanan 23. Jasa penyelenggara kegiatan / event organizer 24. Jasa pengepakan 25. Jasa penyediaan tempat dan/atau waktu dalam media massa, media luar ruang atau media lain untuk penyampaian informasi 26. Jasa pembasmian hama 27. Jasa kebersihan / cleaning service 28. Jasa catering 13 % dari jumlah imbalan yang dibayarkan seluruhnya termasuk pemberian jasa dan pengadaan material/barang tidak termasuk PPN 20% dari jumlah imbalan jasa tidak termauk PPN

10% dari jumlah imbalan jasa tidak termauk PPN

10% dari jumlah imbalan yang dibayarkan seluruhnya termasuk pemberian jasa dan pengadaan material/barang tidak termasuk PPN

v PPh Pasal 23 Bersifat FINAL

q q

Bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi : 15% x jumlah bruto Persewaan Tanah dan Bangunan : 10% x Nilai Bruto Persewaan Nilai Persewaan adalah jumlah biaya yang dibayarkan, biaya perawatan, keamanan dan fasilitas lainnya

PAJAK PENGHASILAN PASAL 26


A. Pengertian PPh Pasal 26 Pajak yang dipotong atas penghasilan yang berasal dari deviden, bunga, royalti, sewa, dan penghasilan lain atas penggunaan harta dan imbalan jasa teknik / manajemen dan jasa lainnya termasuk juga premi asuransi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi luar negeri. Atau pajak yang dipotong dari wajib pajak luar negeri atas pembayaran dari Indonesia atau atas penghasilan yang bersumber dari Indonesia selain BUT di Indonesia B. Wajib Pajak Luar Negeri Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau Warga Negara Asing yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan, dan Badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia. C. Pemotong PPh Pasal 26 Badan Hukum Lainnya ( PT, Fa, Yayasan, Perhimpunan, Kongsi, BUT, dll) Perseroan Yang Ditunjuk Oleh DJP D. Objek PPh Pasal 26 Deviden Bunga termasuk premium, diskonto, premi SWAP / premi untuk menjamin selisih kurs, dan imbalan sehubungan dengan jaminan pengembalian utang Royalti, sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta Imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan dan kegiatan Hadiah dan Penghargaan Pensiun dan pembayaran berkala lainnya Penghasilan dari penjualan harta di Indonesia, kecuali pengalihan harta berupa tanah dan / bangunan Premi asuransi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi luar negeri. E. Tarif PPh Pasal 26 (Bersifat final) a. PPh Pasal 26 sebesar 20% dari Penghasilan Bruto Deviden Bunga termasuk premium, diskonto, premi SWAP, dan imbalan sehubungan dengan jaminan pengembalian utang Royalti, sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta Imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan dan kegiatan Hadiah dan Penghargaan

Pensiun dan pembayaran berkala lainnya

b. PPh Pasal 26 sebesar 20% dari Perkiraan Penghasilan Netto Penghasilan dari penjualan harta di Indonesia, kecuali pengalihan harta berupa tanah dan / bangunan Premi asuransi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi luar negeri (Keputusan Menteri Keuangan No.624/KMK.04/1994) yaitu : - 20% x 50% x Premi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi di luar negeri

20% x 10% x Premi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi LN oleh perusahaan asuransi yang berkedudukan di Indonesia 20% x 5% x Premi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi LN oleh perusahaan reasuransi yang berkedudukan di Indonesia

F. Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B) Perjanjian Pajak antara dua negara (bilateral) yang mengatur mengenai pembagian hak pemajakan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh oleh penduduk dari salah satu atau kedua negara pihak pada persetujuan (Both Contracting State), dimana pembagian hak pemajakan tersebut diatur dengan tujuan untuk mencegah seminimal mungkin terjadinya pengenaan pajak berganda. Catatan : Dalam hal telah dilakukan perjanjian penghindaran pajak berganda antara pemerintah RI dan negara lain (Treaty Partner / Perjanjian), penghitungan besarnya PPh 26 didasarkan pada tax treaty tersebut (dibebaskan dari pengenaan PPh Pasal 26 atau dikenakan PPh Pasal 26 dengan tarif yang lebih rendah). Contoh Perhitungan PPh Pasal 23 dan Pasal 26 1. PT Sukses membayar tagihan sewa bus (untuk jemputan karyawan) kepada PO. Lancar Terus sebesar Rp 3.300.000 (termasuk PPN 10%). Hitung PPh Pasal 23 yang harus dipotong oleh PT. Sukses! Pajak Penghasilan atas Sewa sebesar : = 15% x 10% x Penghasilan bruto (Tanpa PPN) = 1,5% x (100/110 x 3.300.000) = Rp 45.000 Yang melakukan kewajiban pemotongan PPh Pasal 23 adalah PT. Sukses 2. Seorang wajib pajak pada tahun 2007 menerima penghasilan yang berasal dari jasa perancang interior dan pertanaman sebesar Rp 75.000.000. Berapakah besarnya PPh Pasal 23 atas jasa yang diberikan tersebut? PPh Pasal 23 : 15 % x 30% x Rp 75.000.000 = Rp 3.375.000 3. PT. Coca cola Indonesia membayarkan Royalti kepada PT. Coca cola yang ada di USA atas licency yang diberikan sebesar Rp 1.000.000.000. Berapa PPh dipotong atas royalty tersebut?

PPh Pasal 26 yang dipotong : 20% x 1.000.000.000= Rp 200.000.000

PAJAK PENGHASILAN PASAL 25


A. Pengertian PPh Pasal 25 Angsuran yang harus dibayar sendiri oleh wajib pajak dalam tahun berjalan setiap masa pajak (bulanan).

B. Cara mencari angsuran pajak penghasilan Pasal 25 PPh Terutang Menurut SPT Tahunan Kredit Pajak 12 Kredit Pajak adalah suatu jumlah yang merupakan angsuran pajak, baik yang telah dipungut / dipotong maupun dibayar pada tahun pajak yang bersangkutan yang meliputi PPh Pasal 21, 22, 23, 24, dan termasuk juga PPh Pasal 25, yang telah dibayar dalam tahun pajak. C. Cara Mencari Angsuran PPh Pasal 25 Penghasilan Neto Rp XXX Penghasilan Tidak Teratur Rp XXX Penghasilan Teratur Rp XXX Kompensasi Kerugian (Max 5 Thn) Rp XXX Penghasilan Neto Usaha Rp XXX Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) Rp XXX Penghasilan Kena Pajak (PKP) Rp XXX Penghasilan Terutang : PKP X Tarif Pasal 17 Rp XXX Kredit Pajak Penghasilan (yang sudah dibayarkan ke kas Negara) : PPh Pasal 21 Rp XXX PPh Pasal 22 Rp XXX PPh Pasal 23 Rp XXX PPh Pasal 24 Rp XXX + Jumlah kredit Pajak Rp XXX Pajak yang masih harus dibayar sendiri Rp XXX PPh Pasal 25 yang telah dibayar Rp XXX Lebih bayar / Kurang bayar Rp XXX

(A) (B)

Catatan: 1. Lebih bayar atau kurang bayar didapat dengan membandingkan antara pajak yang masih harus dibayar sendiri (A) dengan PPh Pasal 25 yang sudah dibayar (B). 2. Terjadi Lebih Bayar jika (B > A) dan Kurang Bayar jika (A > B) 3. Jika Lebih Bayar maka (B / 12), jika Kurang Bayar maka (A / 12).

Contoh Kasus Tn. Boy Candra (K/1) mempunyai data penjualan tahun 2007 dengan penghasilan neto sebesar Rp 95.000.000 sedangkan ditahun 2003 menderita kerugian Rp 15.000.000. Pajak yang telah dibayar antara lain PPh Pasal 21 Rp 2.000.000, PPh Pasal 22 Rp 100.000, PPh Pasal 23 Rp 500.000 dan PPh Pasal 24 yang dapat dikreditkan sebesar Rp 1.500.000 serta angsuran PPh Pasal 25 yang telah dibayar sebesar Rp 9.500.000. Berapakah Angsuran PPh Pasal 25 tahun 2008 dan berapakah pajak lebih / kurang bayar ditahun 2007? Perhitungan Angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 : Penghasilan Neto Penghasilan Tidak teratur Penghasilan Teratur Kompensasi Kerugian tahun (2003) Penghasilan Neto Usaha PTKP (K/1) Penghasilan Kena Pajak Pajak Penghasilan Terhutang : 5 % x Rp 25.000.000 = Rp 1.250.000 10% x Rp 25.000.000 = Rp 2.500.000 15% x Rp14.440.000 = Rp 2.160.000 + Jumlah Pajak Penghasilan Terhutang Kredit Pajak Penghasilan PPh Pasal 21 = Rp 2.000.000 PPh Pasal 22 = Rp 100.000 PPh Pasal 23 = Rp 500.000 PPh Pasal 24 = Rp 1.500.000 + Jumlah kredit Pajak Pajak Yang Masih Harus Dibayar Sendiri PPh Pasal 25 yang sudah dibayar Lebih Bayar

Rp 95.000.000 Rp 0 Rp 95.000.000 Rp 15.000.000 Rp 80.000.000 Rp 15.600.000 Rp 64.400.000

Rp 5.910.000

Rp 4.100.000 Rp 1.810.000 Rp 9.500.000 Rp 7.690.000

Angsuran PPh Pasal 25 Untuk Tahun 2008 : Rp 9.500.000 / 12 = Rp 791.000

PPN dan PPnBM


A. Undang-Undang PPN adalah UU No.8 Tahun 1983 telah diubah oleh UU No. 8 Tahun 2000, sebagai dasar hukum PPN adalah tetap UU No. 8 Tahun 1983 yang dalam Pasal 20-nya.Ditentukan bahwa UU ini dapat disebut Undang Undang Pajak Pertambahan Nilai 1984. Definisi PPN : Pajak atas konsumsi dalam negeri. Definisi PPnBm : Pajak penjualan atas barang mewah. Perbedaan PPN dan PPnBm Tarif Pemungutannya PPN Import : 10 % Eksport : 0 % Dipungut berkali-kali PPnBm 10-75 % Dipungut hanya sekali

B. Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai : 1. Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai Secara Umum : Adapun mekanisme ini diatur dalam Pasal 9 dan 13 UU PPN 1984, sebagai berikut : a) Setiap Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang menyerahkan Barang Kena Pajak (BKP) atau Jasa Kena Pajak (JKP) diwajibkan membuat Faktur Pajak untuk memungut Pajak yang terutang. Pajak yang dipungut dinamakan Pajak Keluaran / PK (Output Tax). Hal ini sesuai dengan basis akrual (Accrual Bassis) yang digunakan oleh UU PPN 1984. b) Pada saat Penguasaha Kena Pajak tersebut diatas membeli Barang Kena Pajak atau menerima Jasa Kena Pajak dari Pengusaha Kena Pajak lain, juga membayar pajak yang terutang, yang dinamakan Pajak Masukan / PM (Input Tax). Jadi PM adalah pajak yang dibayar pada saat membeli barang, sedangkan PK adalah pajak yang dipungut pada saat menjual barang. c) Pada akhir masa Pajak, Pajak masukan tersebut dikreditkan dengan pajak keluaran sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dalam hal jumlah Pajak Keluaran lebih besar dari pada jumlah Pajak Masukan, maka kekuranganya dibayar ke kas negara selambat lambatnya tanggal 15 bulan berikutnya. (PK > PM = Kurang Bayar). d) Bila Jumlah Pajak Masukan lebih besar dari pada Pajak Keluaran, maka kelebihan pembayaran pajak masukan ini dapat dikompensasikan dengan utang pajak dalam masa pajak berikutnya atau diminta kembali (Restitusi). (PM > PK = Lebih Bayar) e) Pada akhir masa pajak, setiap Pengusaha Kena Pajak wajib melaporkan pemungutan dan pembayaran Pajak yang terutang kepada Kepala Kantor

Pelayanan Pajak (KPP) setempat, selambat lambatnya tanggal 20 setelah akhir masa Pajak. 2. Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai Yang Bersifat Khusus : Mekanisme ini diatur dalam Pasal 16A UU PPN Tahun 1984, sebagai berikut : a) Instansi Pemerintah, badan atau orang yang ditunjuk sebagai Pemungut PPN. b) Pengusaha Kena Pajak Yang menyerahkan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak kepada pemungut PPN, wajib membuat Faktur Pajak. c) Pada saat pemungut pajak tersebut melakukan pembayaran Harga Jual atau penggantian, memungut pajak yang terutang, kemudian menyetorkan dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP) atas nama Pengusaha Kena Pajak tersebut pada butir (b) dan melaporkan kepada KPP setempat. d) SSP tersebut pada butir (c) kemudiaan diserahkan kepada Pengusaha Kena Pajak yang bersangkutan. Mekanisme pemungutan PPN : 1. Transaksi antar PKP (Pengusaha Kena Pajak)

2. Transaksi antar PKP dengan Pemungut

3. Transaksi antar Pemungut PPN

C. Pengertian Penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) : a) Penyerahan hak atas BKP karena suatu perjanjian. b) Pengalihan BKP oleh karena suatu perjanjian sewa beli dan perjanjian leasing. c) Penyerahan BKP kepada pedagang perantara atau melalui juru lelang. d) Pemakaiaan sendiri atau pemberiaan cumacuma. e) Persediaan BKP dan Aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan, yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan sepanjang PPN atas perolehan aktiva tersebut menurut ketentuaan dapat dikreditkan. f) Penyerahan BKP dari Pusat ke Cabang atau sebaliknya dan penyerahan BKP antar Cabang. g) Penyerahan BKP secara konsinyasi. h) Penyerahan BKP antar Divisi atau unit dalam suatu perusahaan terpadu sepanjang Divisi / Unit tersebut terletak di wilayah KPP berbeda. D. Penyerahan BKP Yang Tidak Di Kenakan PPN : a) Penyerahan BKP kepada makelar sebagaimana dimaksud dalam KUHD. b) Penyerahan BKP untuk jaminan hutang. c) Penyerahan BKP dari Pusat ke Cabang dan antar Cabang bagi PKP yang memperoleh izin melakukan pemusatan tempat pajak terutang dari Dirjen Pajak. d) Penyerahan BKP dalam rangka perubahan bentuk usaha atau penggabungan usaha atau pengalihan seluruh aktiva perusahaan yang diikuti dengan perubahan pihak yang berhak atas BKP. E. Yang Bukan Merupakan Barang Kena Pajak (Penjelasan Pasal 4A UU PPN 1984)

a) Barang hasil pertammbangan atau hasil pengeboran yang diambil langsung dari sumbernya, seperti : minyak mentah, gas bumi, panas bumi, pasir, kerikil, biji timah, biji emas. b) Barangbarang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak, seperti : beras, gabah, sagu, gandum, kedelai, garam baik yang beryodium atau tidak. c) Makanan dan minuman yang disajikan di Hotel., Restoran (masuknya kepajak pendapatan daerah), Rumah Makan, Warung dan sejenisnya, tidak termasuk makanan dan minuman yang diserahkan oleh usaha jasa boga atau catering (karena tidak menyediakan tempat). d) Uang, Emas Batangan, dan Suratsurat beharga. F. Yang Tidak Termasuk Jasa Kena Pajak : a) Jasa dibidang pelayanan kesehatan medik. b) Jasa dibidang pelayanan social. c) Jasa dibidang pengiriman surat dan perangko. d) Jasa dibidang perbankan, asuransi, dan sewa guna usaha dengan hak opsi. e) Jasa dibidang keagamaan. f) Jasa dibidang pendidikan. g) Jasa dibidang kesenian dan hiburan yang telah dikenakan pajak tontonan. h) Jasa dibidang penyiaran yang bukan bersifat iklan. i) Jasa dibidang angkutan umum di darat dan di air. j) Jasa dibidang tenaga kerja. k) Jasa dibidang perhotelan. l) Jasa yang disediakan oleh pemerintah dalam rangka menjalankan pemerintah secara umum. G. Kewajiban PKP (Pasal 3A ayat (1) UU PPN 1984) a) Memiliki Nomor Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (NPPKP) Melaporkan usaha untuk dikukuhkan sebagai pengusaha kena pajak / PKP (Pasal 2 ayat (2) UU KUP) b) Memungut Pajak Terutang Membuat Faktur Pajak / FP (Pasal 13 UU PPN 1984) c) Menyetor Pajak terutang Wajib mencatat sejumlah perolehan dan penyerahan BKP/JKP dalam pembukuan dan pengkreditan PM sesuai dengan ketentuan (Pasal 6 dan 9 UU KUP) d) Melaporkan Pajak terutang Mengisi dan menyampaikan SPT Masa PPN (Pasal 3 UU KUP) H. Saat Pembuatan Faktur Pajak : 1) Selambatlambatnya akhir bulan berikutnya jika penyerahan mendahului pembayaran, kecuali sebelum akhir bulan tersebut telah diterima pembayaran. 2) Pada saat penerimaan pembayaran, dalam hal pembayaran dilakukan mendahului penyerahan.

3) Pada saat penerimaan pembayaran termin dalam hal penyerahan sebagian tahap pekerjaan. 4) Pada saat penagihan, untuk penyerahan BKP dan JKP kepada pemungut PPN. 5) Pada saat penyerahan, untuk faktur pajak sederhana.

I. Syarat Pajak Masukan Dapat Dikreditkan : 1) Pengusaha yang melakukan pengkreditan telah berstatus PKP (sudah dikukuhkan). 2) Adanya bukti Pajak Masukan dalam bentuk Faktur Pajak Standar / Khusus yang sah, benar dan lengkap. 3) Dilakukan dalam masa pajak yang sama, namun masih memungkinkan pada masa pajak berikutnya, sepanjang tidak melampaui bulan ketiga setelah berakhirnya tahun buku dan belum dibebankan sebagai biaya serta belum dilakukan pemeriksaan. 4) Pajak Makan yang dikreditkan berhubungan langsung dengan kegiatan usaha yaitu pengeluaran untuk kegiatan produksi, distribusi, pemasaran dan manajemen dengan syarat ada kaitannya dengan penyerahan yang terutang PPN dan sifatnya tidak untuk tujuan konsumtif Direksi, Dewan Komisaris, Karyawan, dan Pemegang Saham. J. Pajak Masukan Yang Tidak Dapat Dikreditkan : 1) Yang dibayar untuk perolehan BKP / JKP atau untuk pemanfaatan BKP / JKP dari luar daerah pabean, sebelum pengusaha dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak. 2) Yang dibayar untuk perolehan BKP / JKP yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan kegiatan usaha. 3) Yang dibayar untuk perolehan dan pemeliharaan kendaraan bermotor jenis sedan, jeep, station wagon, van dan kombi kecuali jika barang tersebut adalah untuk persediaan barang dagangan atau untuk digunakan langsung sesuai dengan bidang usahanya, misalnya usaha persewaan kendaraan bermotor. 4) Yang dibayar untuk pembelian yang sifatnya mempunyai tujuan konsumtif Direksi, Dewan Komisaris, Karyawan dan Pemegang Saham. 5) Yang dibayar untuk perolehan BKP / JKP yang berhubungan langsung dengan kegiatan usaha yang menghasilkan penyerahan BKP / JKP yang PPN-nya ditanggung Pemerintah (DTP), dibebaskan dari pengenaan PPN. 6) Bukti pungutan Pajaknya berupa Faktur Pajak sederhana. 7) Yang Faktur Pajaknya tidak memenuhi persyaratan. 8) Yang ditagih dengan penerbitan ketetapan Pajak. 9) Yang ditemukan pada saat pemeriksaan tetapi belum dilaporkan dalam SPT Masa PPN. 10) Faktur Paja Standarnya cacat. K. Tarif Pajak dan Cara Menghitung Pajak (Pasal 7 UU PPN) 1) Tarif Pajak Pertambahan Nilai adalah 10% (sepuluh persen).

2) Tarif Pajak Pertambahan Nilai atas Ekspor Barang Kena Pajak adalah 0% (nol persen). 3) Dengan Peraturan Pemerintah, tarif pajak sebagai mana dimaksud dapat diubah menjadi serendahrendahnya 5% (lima persen) dan setinggitingginya 15% (lima belas persen). L. Objek Pajak (Pasal 4 UU PPN) 1) Penyerahan Barang Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh Pengusaha 2) Impor Barang Kena Pajak 3) Penyerahan Jasa Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh Pengusaha 4) Pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar Daerah Pabean di dalam daerah Pabean 5) Pemanfaatan Jasa Kena Pajak tidak berwujud dari luar Daerah Pabean di dalam daerah Pabean 6) Ekspor Barang Kena Pajak Oleh Pengusaha Kena Pajak M. Pajak Penjualan atas Barang Mewah Dikenakan Pada : 1) Penyerahan Barang Kena Pajak yang tergolong Mewah yang dilakukan oleh pengusaha yang menghasilkan Barang Kena Pjak yang tergolong Mewah tersebut didalam daerah Pabean dalam kegiatan usaha atau pekerjaanya. 2) Impor Barang Kena Pajak yang tergolong mewah. 3) Pajak Penjualan atas Barng Mewah dikenakan hanya satu kali pada waktu penyerahan Barang Kena Pajak yang tergolong Mewah oleh Pengusaha yang menghasilkan atau pada waktu impor. N. Tarif Pajak Penjualan atas Barang Mewah : 1) Tarif Pajak atas Penjualan Barang Mewah adalah paling rendah 10% (sepuluh persen) dan paling tinggi 75% (Tujuh Puluh Lima Persen) 2) Atas Ekspor Barang Kena Pajak yang tergolong Mewah dikenakan Pajak dengan Tarif 0% (Nol Persen) 3) Dengan Peraturan Pemerintah ditetapkan kelompok Barang Kena Pajak yang tergolong Mewah yang dikenakan Pajak Penjualan atas Barang Mewah dengan Tarif sebagai mana dimaksud diatas 4) Jenis Barang yang dikenakan Pajak Penjualan atas Barang Mewah atas Barang Kena Pajak yang tergolong Mewah sebagaimana dimaksud diatas ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan. O. Faktur Pajak : Faktur Pajak adalah bukti pungutan pajak yang dibuat oleh PKP yang melakukan penyerahan BKP/JKP karena Import BKP. Jenis-jenis Faktur Pajak :

1) Faktur Pajak Standart : Faktur pajak yang harus dibuat dengan ketentuan tertentu berisi data penjual dan pembeli, merupakan suatu faktur pajak resmi. Contohnya : Pembayaran telepon dan air. 2) Faktur Pajak sederhana : Faktur pajak yang harus dibuat dengan ketentuan tertentu berisi data penjual saja yang diberikan kepada konsumen akhir. Contohnya : tiket bioskop. 3) Faktur Pajak Gabungan : Faktur pajak standart yang isinya lebih dari satu transaksi dalam satu masa bulan untuk pembeli yang sama. 4) Dokumen-dokumen tertentu yang diperlakukan sebagai faktur Pajak standart. Contohnya : PIB (Pemberitahuan Import Barang) dan PEB (Pemberitahuan Eksport Barang)

PAJAK BUMI DAN BANGUNAN


A. Dasar Hukum Undangundang No.12 tahun 1985, diperbaharui melalui Undang-undang No.12 tahun 1994 B. Pengertian Bumi dan Bangunan Menurut Ketentuan Umum UU No. 12 Tahun 1985 Pasal 1 Bumi : adalah permukaan bumi (tanah dan perairan) dan tubuh bumi yang ada dibawahnya. Contoh : Sawah, Ladang, Kebun, Tanah, Perkarangaan, Tambang. Bangunan : adalah kontruksi teknik yang ditanamkan atau dilekatkan secara tetap pada tanah dan / perairan diwilayah Republik Indonesia. Contoh : Rumah tempat tinggal, bangunan, gedung, jalan tol, kolam renang, anjungan minyak lepas pantai, pusat perbelanjaan. C. Objek Pajak Bumi dan Bangunan Yang menjadi objek pajak adalah Bumi dan Bangunan (yang telah diatur oleh Menteri Keuangan dan dituangkan dalam UU No. 12 Tahun 1985 Pasal 27). D. Objek Pajak yang tidak dikenakan Pajak Bumi & Bangunan adalah objek pajak yang : a. Digunakan untuk melayani kepentingan umum yang tidak dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan. b. Digunakan untuk pemakaman, peninggalan purbakala atau yang sejenis dengan itu. c. Objek pajak tersebut merupakan hutan lindung, hutan suaka alam, hutan wisata, taman nasional, tanah penggembalaan yang dikuasai oleh desa, dan tanah negara yang belum dibebani suatu hak. d. Digunakan oleh perwakilan diplomatik, konsulat berdasarkan asas perwakilan diplomatik. e. Digunakan oleh badan atau perwakilan organisasi internasional yang ditentukan oleh Menteri Keuangan. E. Subjek Pajak Bumi dan Bangunan Yang menjadi subjek pajak adalah orang atau badan yang secara nyata mempunyai suatu hak atas bumi dan atau memperoleh manfaat atas bumi dan / atau memiliki, menggunakan dan memperoleh manfaat atas bangunan.

F. Dasar Pengenaan dan Cara Menghitung Pajak a. Dasar Pengenaan Pajak adalah Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) adalah didasarkan pada : Harga rata-rata yang diperoleh dari transaksi jual beli yang terjadi secara wajar Perbandingan harga dengan objek lain yang sejenis yang letaknya berdekatan dan fungsinya sama dan telah diketahui harga jualnya. Nilai Perolehan Baru Nilai Jual Objek Pajak Pengganti. b. Dasar Penghitungan Pajak adalah Nilai Jual Kena Pajak (NJKP) : Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 46 tahun 2000 berlaku mulai 1 Januari 2001 besarnya NJKP yang ditetapkan adalah 20% dan 40 %. Untuk Nilai Jual Objek Pajak Bumi dan Bangunan (NJOP Dasar Sebagai Perhitungan) lebih besar atau sama dengan Rp 1.000.000.000 (1 Milyar) maka NJKP nya sebesar 40% X NJOPKP. NJOPKP = NJOP NJOPTKP Kecuali bagi wajib pajak pegawai negeri sipil, ABRI dan para pensiun termasuk janda dan dudanya yang penghasilannya semata-mata berasal dari gaji atas uang pensiun. Untuk Objek Pajak lainya dan yang NJOP Bumi dan Bangunannya kurang dari Rp 1.000.000.000 (1 Milyar) maka NJKP nya sebesar 20% x NJOPKP. G. Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NJOPTKP) NJOPTKP adalah batas NJOP atas bumi dan / atau bangunan yang tidak kena pajak. Besarnya NJOPTKP berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan No. 201 / KMK.04 / 2000 adalah setinggi-tingginya Rp 12.000.000 dengan ketentuan sebagai berikut : Setiap Wajib Pajak memperoleh pengurang NJOPTKP sebanyak 1 kali tahun pajak Apabila Wajib Pajak mempunyai lebih dari satu Objek Pajak, maka yang mendapat pengurang NJOPTKP hanya satu objek pajak yang nilainya terbesar dan tidak bisa digabungkan objek pajak lainnya. H. Tarif PBB Tarif PBB Sebesar 0.5% dari NJKP I. Pembagian hasil penerimaan PBB Pembagian penerimaan PBB antara Pemerintah Pusat dalam peraturan pemerintah sebagi berikut: - Pemerintah Pusat - Biaya Pungutan : 10% x 90% - Pemerintah Daerah : 90% x 9% - Pemerintah Daerah TK. I : 20% x (90% - 9%) - Penerintah Daerah TK.II: 80% x (90% - 9%)

dan Pemerintah Daerah diatur = 10% = 9% = 81% = 16,2% = 64.8%

Contoh kasus 1 Jaka Laksamana memiliki sebidang tanah dan sebuah bangunan berupa rumah di daerah Kebayoran baru dengan data sebagai berikut : Tanah seluas 1000 m2 dengan NJOP Rp 5.500.000.000 Bangunan seluas 300 m2 dengan NJOP Rp 2.000.000.000 Taman seluas 200 m2 dengan NJOP Rp 30.000.000 Kolam renang 250 m2 dengan NJOP Rp 300.000.000 Dengan NJOPTKP yang telah ditetapkan sebesar Rp 12.000.000 Jawaban kasus 1 ( Dalam Ribuan ) NO. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Uraian Nil. Jual per m2 Kelas Konversi NJOP Rp Rp Rp Rp 5,625 6,950 162 1,200 Luas per m2 1,000 300 200 250 Jumlah NJ 5,625,000 2,085,000 32,400 300,000 8,042,400 12,000 8,030,400 3,212,160 16,060.8

Tanah Rp 5,500 B 45 Bangunan Rp 6,666 B 10 Taman Rp 150 A 13 Kolam Renang Rp 1,200 A1 Jumlah NJOP Dasar Sebagai Perhitungan NJOPTKP NJOPKP NJKP ( 40 % x NJOPKP ) PBB ( 0.5% x NJKP )

Contoh kasus 2 Aziz mempunyai sebuah rumah yang terletak di Depok dan memiliki sebuah toko yang terletak di daerah Ciganjur, dan memiliki rincian sebagai berikut : Rumah di Depok : Tanah seluas 500 m2 dengan nilai jual Rp 3.500.000 per m2 Bangunan seluas 300 m2 dengan nilai jual Rp 1.500.000 per m2 Toko Di Ciganjur : Tanah seluas 500 m2 dengan nilai jual Rp 4.500.000 per m2 Bangunan seluas 400 m2 dengan nilai jual Rp 1.800.000 per m2 Berapakah PBB yang terutang atas masingmasing objek pajak yang dimiliki Aziz jika ditetapkan untuk NJOPTKP di Depok Rp 12.000.000 dan di Ciganjur Rp 10.000.000 ? Jawaban Kasus 2 Rumah di Depok : Ribuan) (Dalam

NO. 1 2 3 4 5 6 7

Uraian

Nil. Jual per m2

Kelas

Konversi NJOP 3,375 1,516

Luas per m2 500 300

Jumlah NJ 1,687,500 454,800 2,142,300 2,142,300 856,920 4,284.6

Tanah Rp 3,500 B 50 Rp Bangunan Rp 1,500 A 20 Rp Jumlah NJOP Dasar Sebagai Perhitungan NJOPTKP NJOPKP NJKP ( 40 % x NJOPKP ) PBB ( 0.5% x NJKP )

Rumah di Ciganjur : Ribuan) NO. 1 2 3 4 5 6 7 Uraian Nil. Jual per m2 Kelas Konversi NJOP 4,605 1,833

(Dalam Luas per m2 500 400

Jumlah NJ 2,302,500 733,200 3,035,700 10,000 3,025,700 1,210,280 6,051.4

Tanah Rp 4,500 B 47 Rp Bangunan Rp 1,800 A 19 Rp Jumlah NJOP Dasar Sebagai Perhitungan NJOPTKP NJOPKP NJKP ( 40 % x NJOPKP ) PBB ( 0.5% x NJKP )

BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN


A. Dasar hukum : Undangundang No. 21 tahun 1997 yang telah diubah dengan Undangundang No. 20 Tahun 2000 yang mulai berlaku tanggal 1 Januari 2001. B. Pengertian Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan (BPHTB)
Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah pajak yang dikenakan atas perolehan hak atas tanah dan bangunan. Adapun pengertian perolehan hak atas tanah dan atau bangunan adalah perbuatan atau peristiwa hukum yang mengakibatkan diperolehnya hak atas tanah dan atau bangunan oleh orang pribadi atau badan.

C. Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan tersebut meliputi : a. Pemindahan hak karena : Jual beli Tukar menukar Hibah Hibah wasiat Penggabungan usaha Waris Hibah Pemasukan dalam perseroan / Badan hukum lain Pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan Penunjukan pembeli dalam lelang Peleburan usaha Pemekaran usaha Pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap b. Pemberiaan hak baru karena : Kelanjutan pelepasan hak Diluar pelepasan hak D. Hak Atas Tanah Sebagai Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan a. Hak milik b. Hak guna usaha c. Hak guna bangunan d. Hak pakai

e. Hak milik atas satuan rumah susun f. Hak pengelolaan E. Subjek Pajak BPHTB Adalah orang pribadi atau badan yang memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan. F. Objek Pajak BPHTB Yang menjadi objek pajak adalah perolehan hak atas tanah dan atau bangunan yang dapat berupa: a. Tanah termasuk tanaman diatasnya b. Tanah dan Bangunan c. Bangunan G. Objek Pajak yang Tidak Dikenakan Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan Objek pajak yang tidak dikenakan BPHTB ditetapkan dalam Pasal 3 UU No. 21 tahun 1997 Jo UU No. 20 tahun 2000,yaitu : a. Objek pajak yang diperoleh perwakilan diplomatik, konsulat berdasarkan asas perlakuan timbal balik b. Objek pajak yang diperoleh negara untuk menyelenggarakan pemerintahan dan atau untuk pelaksanaan pembangunan guna kepentingan umum, dan yang sematamata tidak digunakan untuk mencari keuntungan. c. Objek pajak yang diperoleh badan atau perwakilan organisasi internasional yang ditetapkan dengan keputusan menteri keuangan dengan syarat tidak melakukan atau menjalankan kegiatan lain diluar fungsi dan tugas badan / perwakilan organisasi tersebut. d. Objek pajak yang diperoleh orang pribadi atau badan karena konversi hak atau karena perbuatan hukum lain dengan tidak ada perubahan nama. e. Objek pajak yang diperoleh orang pribadi / badan karena wakaf. f. Objek pajak yang diperoleh orang pribadi / badan yang digunakan untuk kepentingan ibadah. H. Tarif BPHTB : Tarif BPHTB adalah sebesar 5 % I. Dasar Pengenaan Pajak Dasar pengenaan pajak adalah Nilai Perolehan Objek Pajak yang ditetapkan dalam Pasal 6 UU No. 21 tahun 1997. Yang dimaksud Nilai Perolehan Objek Pajak adalah, dalam hal : a. Jual beli adalah harga transaksi b. Tukar menukar adalah nilai pasar c. Hibah adalah nilai pasar d. Hibah wasiat adalah nilai pasar e. Waris adalah nilai pasar f. Peralihan hak karena pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum adalah nilai pasar.

Apabila Nilai Perolehan Objek Pajak tidak diketahui atau lebih rendah daripada Nilai Jual Objek Pajak yang digunakan dalam pengenaan PBB pada tahun terjadinya perolehan dasar pengenaan pajak yang dipakai adalah Nilai Jual Objek Pajak Bumi dan Bangunan. Apabila Nilai Jual Objek Pajak Bumi dan Banguan belum ditetapkan, besarnya nilai jual Objek Pajak Bumi dan Bangunan ditetapkan oleh menteri.

J. Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP) Nilai Objek Pajak Tidak Kena Pajak ditetapkan secara regional setinggitingginya Rp 60.000.000,- kecuali dalam hak perolehan hak karena waris atau hibah wasiat yang diterima orang pribadi yang masih dalam hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunuan harus satu derajat keatas dan kebawah dengan pemberi hibah wasiat termasuk suami/istri, maka nilai NPOPTKP ditetapkan secara regional setinggitingginya Rp 300.000.000,-. K. Untuk BPHTB yang Terutang dari Waris, Hibah Waris Sebesar 50% dari BPHTB yang Seharusnya Terutang. Catatan : Jika didalam kasus terdapat dua nilai yaitu nilai perolehan dan nilai jual,maka yang dipakai sebagai dasar pengenaan pajak adalah nilai yang terbesar. Contoh Kasus 1 Bapak Jali membeli tanah dan bangunan dengan nilai perolehan objek pajak (harga transaksi) Rp 65.000.000,-. NPOPTKP yang ditetapkan pemerintah daerah setempat adalah Rp 60.000.000,-. Berapakah besarnya BPHTB terutang oleh bapak Jali ? Nilai Perolehan Objek Pajak Rp 65.000.000,NPOPTKP Rp 60.000.000,- NPOPKP Rp 5.000.000,BPHTB terutang 5% x 5.000.000 = Rp 250.000,Contoh kasus 2 Seorang anak memperoleh warisan dari ayahnya sebidang tanah dan bangunan diatasnya dengan nilai pasar sebesar Rp 500.000.000,-. Berapa BPHTB terutang atas warisan tersebut jika ditetapkan NPOPTKP sebesar Rp 300.000.000,- ? Nilai Perolehan Objek Pajak NPOPTKP NPOPKP BPHTB yang seharusnya terutang Rp 500.000.000 Rp 300.000.000 Rp 200.000.000 : 5% x 200.000.000 = Rp 10.000.000

BPHTB terutang

: 50% x 10.000.000 = Rp 5.000.000

L. Surat ketetapan BPHTB Kurang Bayar Ketentuan tentang surat ketetapan BPHTB kurang bayar ditetapkan dalam Pasal 11 UU No. 21 Tahun 1997 tentang BPHTB jo UU No. 20 tahun 2000, adalah sebagai berikut : a. Dalam jangka waktu 5 tahun sesudah ayat terutang pajak, Dirjen Pajak dapat menerbitkan surat ketetapan BPHTB kurang bayar apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lainnya ternyata jumlah pajak yang terutang kurang bayar. b. Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam surat ketetapan BPHTB kurang bayar ditambah dengan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% sebulan, jangka waktu 24 bulan, dihitung mulai saat terutangnya pajak sampai dengan diterbitkannya surat ketetapan BPHTB kurang bayar. Contoh Kasus 3 Seorang wajib pajak memperoleh tanah dan bangunan pada tanggal 29 maret 2001 Nilai Perolehan Wajib Pajak : Rp 110.000.000 NPOPTKP : Rp 60.000.000 NPOPKP : Rp 50.000.000 BPHTB Terutang 5% x 50.000.000 = Rp 2.500.000 Berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan pada tanggal 30 Desember 2001 ternyata ditemukan data yang belum lengkap yang menunjukan bahwa Nilai Perolehan Objek Pajak sebenarnya adalah sebagai berikut : Nilai Perolehan Objek Pajak : Rp 160.000.000 NPOPTKP : Rp 60.000.000 NPOPKP : Rp 100.000.000 BPHTB yang seharusnya terutang 5% x 100.000.000 = Rp 5.000.000 BPHTB yang telah dibayar = Rp 2.500.000 BPHTB yang kurang bayar = Rp 2.500.000 Sanksi Administrasi berupa bunga dari 29 Maret 2001 sampai 30 Desember 2001 : 10 Bulan x 2% x Rp 2.500.000 = Rp 500.000 Jadi jumlah pajak yang harus dibayar sebesar : Rp 2.500.000 + Rp 500.000 = Rp 3.000.000 Catatan Sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% sebulan dikenakan untuk jangka waktu maksimal 24 bulan. Jadi jika ditemukan data baru dalam jangka waktu lebih dari 24 bulan maka sanksi administrasinya sebesar 2% tetap dikalikan dengan 24 bulan. Contoh Kasus 1 Bapak Jali membeli tanah dan bangunan dengan nilai perolehan objek pajak (harga transaksi) Rp 65.000.000. NPOPTKP yang ditetapkan pemerintah daerah setempat adalah Rp 60.000.000. Berapakah besarnya BPHTB terutang oleh bapak Jali? Nilai Perolehan Objek Pajak Rp 65.000.000

NPOPTKP Rp 60.000.000 NPOPKP Rp 5.000.000 BPHTB terutang 5% x 5.000.000 = Rp 250.000 Contoh kasus 2 Seorang anak memperoleh warisan dari ayahnya sebidang tanah dan bangunan diatasnya dengan nilai pasar sebesar Rp 500.000.000. Berapa BPHTB terutang atas warisan tersebut jika ditetapkan NPOPTKP sebesar Rp 300.000.000 ?

Nilai Perolehan Objek Pajak NPOPTKP NPOPKP BPHTB yang seharusnya terutang BPHTB terutang M.

Rp 500.000.000 Rp 300.000.000 Rp 200.000.000 : 5% x 200.000.000 = Rp 10.000.000 : 50% x 10.000.000 = Rp 5.000.000

Surat Ketetapan BPHTB Kurang Bayar Ketentuan tentang surat ketetapan BPHTB kurang bayar ditetapkan dalam Pasal 11 UU No. 21 tahun 1997 tentang BPHTB jo UU No. 20 tahun 2000, adalah sebagai berikut : a. Dalam jangka waktu 5 tahun sesudah ayat terutang pajak, Dirjen Pajak dapat menerbitkan surat ketetapan BPHTB kurang bayar apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lainnya ternyata jumlah pajak yang terutang kurang bayar. b. Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam surat ketetapan BPHTB kurang bayar ditambah dengan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% sebulan, jangka waktu 24 bulan, dihitung mulai saat terutangnya pajak sampai dengan diterbitkannya surat ketetapan BPHTB kurang bayar.

Contoh Kasus 3 Seorang wajib pajak memperoleh tanah dan bangunan pada tanggal 29 maret 2001 Nilai Perolehan Wajib Pajak : Rp 110.000.000 NPOPTKP : Rp 60.000.000 NPOPKP : Rp 50.000.000 BPHTB Terutang 5% x 50.000.000 = Rp 2.500.000 Berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan pada tanggal 30 Desember 2001 ternyata ditemukan data yang belum lengkap yang menunjukan bahwa Nilai Perolehan Objek Pajak sebenarnya adalah sebagai berikut : Nilai Perolehan Objek Pajak : Rp 160.000.000 NPOPTKP : Rp 60.000.000 NPOPKP : Rp 100.000.000 BPHTB yang seharusnya terutang 5% x 100.000.000 = Rp 5.000.000 BPHTB yang telah dibayar = Rp 2.500.000 BPHTB yang kurang bayar = Rp 2.500.000

Sanksi Administrasi berupa bunga dari 29 Maret 2001 sampai 30 Desember 2001 : 10 Bulan x 2% x Rp 2.500.000 = Rp 500.000 Jadi Jumlah Pajak yang harus dibayar sebesar : Rp 2.500.000 + Rp 500.000 = Rp 3.000.000 Catatan Sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% sebulan dikenakan untuk jangka waktu maksimal 24 bulan. Jadi jika ditemukan data baru dalam jangka waktu lebih dari 24 bulan maka sanksi administrasinya sebesar 2% tetap dikalikan dengan 24 bulan.