Anda di halaman 1dari 36

PENGKAJIAN BAYI BARU LAHIR (BBL) BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Bayi baru lahir normal adalah bayi yang baru lahir dengan kehamilan atau masa gestasinya dinyatakan cukup bulan (aterm) yaitu 36 40 minggu. Bayi baru lahir normal harus menjalani proses adaptasi dari kehidupan di dalam rahim (intrauterine) ke kehidupan di luar rahim (ekstrauterin). Pemahaman terhadap adaptasi dan fisiologi bayi baru lahir sangat penting sebagai dasar dalam memberikan asuhan. Perubahan lingkungan dari dalam uterus ke ekstrauterin dipengaruhi oleh banyak faktor seperti kimiawi, mekanik, dan termik yang menimbulkan perubahan metabolik, pernapasan dan sirkulasi pada bayi baru lahir normal. Penatalaksanaan dan mengenali kondisi kesehatan bayi baru lahir resiko tinggi yang mana memerlukan pelayanan rujukan/ tindakan lanjut. Salah satu masalah yang sering ditemukan pada bayi yaitu bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Bayi berat badan lahir rendah ( BBLR ) maupun bayi kurang bulan (BKB ) merupakan masalah utama di negara berkembang termasuk Indonesia. BBLR sampai saat ini masih merupakan masalah di Indonesia, karena merupakan penyebab kesakitan dan kematian pada masa neonatal. Menurut SKRT 2001, 29 % kematian neonatal karena BBLR. Secara umum bayi BBLR ini berhubungan dengan usia kehamilan yang belum cukup bulan (prematur) disamping itu juga disebabkan dismaturitas. Artinya bayi lahir cukup bulan (usia kehamilan 38 minggu), tapi berat badan (BB) lahirnya lebih kecil ketimbang masa kehamilannya, yaitu tidak mencapai 2.500 gram. Biasanya hal ini terjadi karena adanya gangguan pertumbuhan bayi sewaktu dalam kandungan yang disebabkan oleh penyakit ibu seperti adanya kelainan plasenta, infeksi, hipertensi dan keadaan-keadaan lain yang menyebabkan suplai makanan ke bayi jadi berkurang. Masalah yang sering timbul sebagai penyulit BBLR adalah hipotermi, hiperbilirubinemia, hipoglikemi, infeksi / sepsis dan ganguan minum. Dengan banyaknya penyulit pada BBLR, kita harus dapat mencegahnya mulai dari meningkatkan pengetahuan ibu tentang BBLR dan langkah langkah untuk mencegah hal tersebut. Bayi baru lahir atau neonatus meliputi umur 0 28 hari. Kehidupan pada masa neonatus ini sangat rawan, karena memerlukan penyesuaian fisiologik agar bayi di luar kenadungan dapat hidup sebaik baiknya. Hal ini dapat dilihat dari tingginya angka kesakitan dan angka kematian neonatus. Diperkirakan 2/3 kematian bayi di bawah umur satu tahun terjadi pada masa neonatus. Peralihan dari kehidupan intrauterine ke ekstrauterin memerlukan berbagai perubahan biokimia dan fungsi. B. Tujuan

1. Tujuan Umum Untuk mengetahui gambaran secara umum tentang asuhan keperawatan pada bayi baru lahir serta pada bayi dengan berat badan lahir rendah. 2. Tujuan Khusus a. Mampu memahami tentang bayi baru lahir serta gangguan yang mungkin terjadi pada bayi baru lahir. b. Mampu mengidentifikasi penilaian awal dan langkah esensial bayi baru lahir. c. Mampu melaksanakan pengkajian terkait dengan bayi baru lahir.

BAB II ISI A. Tinjauan Teoritis 1. Defenisi bayi baru lahir normal Bayi baru lahir normal (BBLN) adalah bayi yang baru lahir dengan usia kehamilan atau masa gestasinya dinyatakan cukup bulan (aterm) yaitu 36 40 minggu. Bayi baru lahir normal harus menjalani proses adaptasi dari kehidupan di dalam rahim ke kehidupan di luar rahim. Pemahaman terhadap adaptasi dan fisiologi bayi baru lahir sangat penting sebagai dasar dalam memberikan asuhan. Perubahan lingkungan dari dalam uterus ke luar rahim dipengaruhi oleh banyak faktor seperti kimiawi, mekanik, dan termik yang menimbulkan perubahan metabolik, pernapasan dan sirkulasi pada bayi baru lahir. 2. Penilaian awal dan langkah esensial bayi baru lahir a. Penilaian awal bayi baru lahir Penilaian awal dilakukan pada bayi baru lahir untuk menilai kondisi bayi apakah : - Bayi dinyatakan cukup bulan jika usia gestasinya lebih kurang 36 40 minggu. Maturitas bayi mempengaruhi kemampuannya untuk beradaptasi di luar rahim (uterus) - Air ketuban jernih, tidak bercampur mekonium. Tinja bayi pada 24 jam pertama kelahiran hingga 2 atau 3 hari berbentuk mekonium yang berwarna hijau tua yang berada di dalam usus bayi sejak dalam kandungan ibu. Mekonium mengandung sejumlah cairan amnion, verniks, sekresi saluran pencernaan, empedu, lanugo dan zat sisa dari jaringan tubuh. - Bayi menangis atau bernapas. Sebagian besar bayi bernapas spontan. Perhatikan dalamnya pernapasan, frekuensi pernapasan, apnea, napas cuping hidung, retraksi otot dada. Dapat dikatakan normal bila frekuensi pernapasan

bayi jam pertama berkisar 80 kali permenit dan bayi segera menangis kuat pada saat lahir. - Tonus otot bayi baik atau bayi bergerak aktif. Pada saat lahir otot bayi lembut dan lentur. Otot otot tersebut memiliki tonus, kemampuan untuk berkontraksi ketika ada rangsangan, tetapi bayi kurang mempunyai kemampuan untuk mengontrolnya. Sistem neurologis bayi secara anatomi dan fisiologis belum berkembang sempurna, sehingga bayi menunjukkan gerakan gerakan tidak terkoordinasi, control otot yang buruk, mudah terkejut, dan tremor pada ekstremitas. - Warna kulit bayi normal. Perhatikan warna kulit bayi apakah warna merah muda, pucat, kebiruan, atau kuning, timbul perdarahan dikulit atau adanya edema. Warna kulit bayi yang normal, bayi tampak kemerah merahan. Kulit bayi terlihat sangat halus dan tipis, lapisan lemak subkutan belum melapisi kapiler. Kemerahan ini tetap terlihat pada kulit dengan pigmen yang banyak sekalipun dan bahkan menjadi lebih kemerahan ketika bayi menangis. b. Diagnosis bayi baru lahir Diagnosis bayi baru lahir pada dasarnya berguna untuk mencari atau mendeteksi sedini mungkin adanya kelainan pada janin. Kegagalan untuk mendeteksi kelainan janin dapatt menimbulkan masalah pada jam jam pertama kehidupan bayi diluar rahim. Dengan mengetahui kelainan pada janin dapat membantu untuk mengambil tindakan serta memberikan asuhkan keperawatan yang tepat sehingga dapat membantu bayi baru lahir sehat untuk tetap sehat sejak awal kehidupannya. Penilaian bayi pada kelahiran adalah untuk mengetahui derajat vitalitas fungsi tubuh. Derajat vitalitas adalah kemampuan sejumlah fungsi tubuh yang bersifat essensial dan kompleks untuk kelangsungan hidup bayi seperti pernapasan, denyut jantung, sirkulasi darah dan refleks refleks primitive seperti menghisap dan mencari putting susu. Bila tidak ditangani secara tepat, cepat dan benar keadaan umum bayi akan menurun dengan cepat dan bahkan mungkin meninggal. Pada beberapa bayi mungkin dapat pulih kembali dengan spontan dalam 10 30 menit sesudah lahir namun bayi tetap mempunyai resiko tinggi untuk cacat. Umumnya penilaian pada bayi baru lahir dipakai nilai APGAR (APGAR Score). Pertemuan SAREC tahun 1985 menganjurkan penggunaan parameter penilaian bayi baru lahir dengan cara sederhana yang disebut SIGTUNA (SIGTUNA Score) sesuai dengan nama tempat terjadinya konsensus. Penilaian cara ini terutama untuk tingkat pelayanan kesehatan dasar karena hanya menilai dua parameter yang essensial. Penilaian derajat vitalitas bayi baru lahir dapat juga digunakan penilaian secara APGAR. Pelaksanaannya cukup kompleks karena pada saat bersamaan penolong persalinan harus menilai lima parameter yaitu denyut jantung, usaha napas, tonus otot, gerakan dan warna kulit. Dari hasil

penelitian di Amerika Serikat nilai APGAR sangat bermanfaat untuk mengenal bayi resiko tinggi yang potensial untuk kematian dan kecacatan neurologis jangka panjang. Dari lima variable nilai APGAR hanya pernapasan dan denyut jantung yang berkaitan erat dengan terjadinya hipoksia dan anoksia. Ketiga variabel lain lebih merupakan indicator maturitas tumbuh kembang bayi. Penilaian APGAR skor ditemukan oleh Dr. Virginia Apgar (1950). Penilaian APGAR skor ini dilakukan pada menit pertama kelahiran untuk member kesempatan kepada bayi memulai perubahan kemudian menit ke-5 serta pada menit ke-10. Penilaian dapat dilakukan lebih sering jika ada nilai yang rendah dan perlu tindakan resusitasi. Penilaian menit ke-10 memberikan indikasi morbiditas pada masa mendatang, nilai yang rendah berhubungan dengan kondisi neurologis.

SKOR APGAR

TANDA 0 1 2 Appearance Biru,pucat Badan pucat,tungkai biru Semuanya merah muda Pulse Tidak teraba < 100 > 100 Grimace Tidak ada Lambat Menangis kuat Activity Lemas/lumpuh Gerakan sedikit/fleksi tungkai Aktif/fleksi tungkai baik/reaksi melawan Respiratory Tidak ada Lambat, tidak teratur Baik, menangis kuat

Prosedur penilaian APGAR Pastikan pencahayaan baik Catat waktu kelahiran, nilai APGAR pada 1 menit pertama dg cepat & simultan. Jumlahkan hasilnya Lakukan tindakan dg cepat & tepat sesuai dg hasilnya Ulangi pada menit kelima Ulangi pada menit kesepuluh Dokumentasikan hasil & lakukan tindakan yg sesuai Penilaian o Setiap variabel dinilai : 0, 1 dan 2 o Nilai tertinggi adalah 10 Nilai 7-10 menunjukkan bahwa by dlm keadaan baik Nilai 4 - 6 menunjukkan bayi mengalami depresi sedang & membutuhkan tindakan resusitasi Nilai 0 3 menunjukkan bayi mengalami depresi serius & membutuhkan resusitasi segera sampai ventilasi

c. Melakukan pemeriksaan fisik pada bayi baru lahir normal Dalam waktu 24 jam setelah bayi lahir lakukan pemeriksaan fisik pada bayi. Ketika melakukan pemeriksaan fisik pada bayi lahir normal hal- hal yang harus diperhatikan oleh petugas adalah informasikan prosedur terlebih dahulu pada orang tua, gunakan tempat yang hangat dan bersih untuk pemeriksaan, cuci tangan sebelum dan sesudah pemeriksaan, gunakan sarung tangan dan bertindak lembut pada saat menangani bayi, lepaskan pakaian hanya pada area yang diperiksa, untuk mencegah kehilangan panas, lakukan prosedur yang mengganggu seperti menguji refleks pada tahap akhir, lakukan secara cepat untuk menghindari stress pada bayi. Petugas dapat melihat, mendengarkan dan merasakan tiap tiap daerah yang akan diperiksa yang dimulai dari kepala dan berlanjut secara sistematik menuju kaki. Jika ditemukan faktor resiko atau masalah, petugas dapat meminta bantuan yang memang diperlukan. Rekam dan catatlah hasil pengamatan setiap hasil pemeriksaan dan setiap tindakan yang diperlukan lebih lanjut.

Tujuan Pemeriksaan Fisik pada bayi baru lahir (1) Mengidentifikasi riwayat kesehatan bayi (2) Mengobservasi karakteristik bayi (3) Memperkirakan usia gestasi (4) Mengkaji perilaku bayi (5) Mengkaji integritas neuromuscular (6) Mengidentifikasi masalah kesehatan (7) Merencanakan tindakan (8) Menggunakan hasil pengkajian untuk mengajarkan orang tua tentang bayinya Langkah langkah dalam pemeriksaan fisik pada bayi : (1) Pemeriksaan umum Pemeriksaan umum dilakukan pada bayi baru lahir adalah pengukuran Anthopometri yaitu pengukuran lingkar kepala yang dalam keadaan normal berkisar 33 35 cm, lingkar dada 30,5 33 cm, panjang badan 45 50 cm, berat badan bayi 2500 gram 4500 gram. (2) Pemeriksaan tanda tanda vital Suhu tubuh, nadi, pernapasan bayi baru lahir bervariasi dalam berespon terhadap lingkungan. (a) Suhu tubuh Pada saat lahir suhu tubuh bayi hampir sama dengan suhu tubuh ibunya. Namun demikian bayi memiliki sedikit lemak, luas permukaan tubuh yang besar dan sirkulasi pernapasan yang belum sempurna, sehingga bayi mudah jatuh dalam kondisi hipotermi. Suhu bayi dalam keadaan normal berkisar antara 36,5 derajat celcius - 37,5 derajat celcius pada pengukuran diaksila.

(b) Nadi Denyut nadi bayi tergantung dari aktivitas bayi. Nadi dapat menjadi tidak teratur karena adanya rangsangan seperti menangis, perubahan suhu yang tiba tiba. Denyut nadi bayi yang normal berkisar 120 140 kali permenit. (c) Pernapasan Pernapasan pada bayi baru lahir tidak teratur kedalaman, kecepatan, iramanya. Pernapasannya bervariasi dari 30 sampai 60 kali permenit. Pernapasan juga dipengaruhi oleh aktivitas bayi seperti menangis, serta perubahan suhu yang tiba-tiba. (d) Tekanan darah Tekanan darah bayi baru lahir rendah dan sulit untuk diukur secara akurat. Meskipun tidak secara rutin diukur pada waktu lahir, tekanan darah yang dilakukan dengan ultrasonografi Doppler merupakan metode yang paling akurat pada bayi. Metode ini mengukur sistolik dan diastolik serta tekanan arteri rata rata tekanan darah pada waktu lahir adalah 80/ 46 mmHg. (3) Pemeriksaan fisik secara sistematik (head to too) Pemeriksaan fisik secara sistematik pada bayi baru lahir dimulai dari : (a) Kepala Raba sepanjang garis sutura dan fontanel, apakah ukuran dan tampilannya normal. Sutura yang berjarak lebar mengindikasikan bayi preterm, moulding yang buruk atau hidrosefalus. Pada kelahiran spontan letak kepala, sering terlihat tulang kepala tumpang tindih yang disebut moulding atau moulase. Keadaan ini normal kembali setelah beberapa hari sehingga ubun ubun mudah diraba. Perhatikan ukuran dan ketegangannya. Fontanel anterior harus diraba, fontanel yang besar dapat terjadi akibat prematuritas atau hidrosefalus, sedangkan yang terlalu kecil terjadi pada mikrosefali. Jika fontanel menonjol, hal ini diakibatkan peningkatan tekanan intracranial, sedangkan yang cekung dapat terjadi akibat dehidrasi. Terkadang teraba fontanel ketiga antara fontanel anterior dan posterior, hal ini terjadi karena adanya trisomi 21. Periksa adanya trauma kelahiran misalnya : caput suksedaneum, sefalhematoma, perdarahan subaponeurotik/ fraktur tulang tengkorak. Perhatikan adanya kelainan congenital seperti : anensefali, mikrosefali, kraniotabes dan sebagainya. (b) Telinga Periksa dan pastikan jumlah, bentuk dan posisinya pada bayi cukup bulan, tulang rawan sudah matang. Daun telinga harus berbentuk sempurna dengan lengkungan yang jelas dibagian atas. Perhatikan letak daun telinga. Daun telinga yang letaknya rendah (low set ears) terdapat pada bayi yang mengalami sindrom tertentu (Pierre robin). Perhatikan adanya kulit tambahan atau aurikel hal ini dapat berhubungan dengan abnormalitas ginjal.

(c) Mata Hipertelorisme okular, mata dengan jarak lebar, jarak lebih dari 3 cm antara kantus mata bagaian dalam dapat dideteksi. Periksa jumlah, posisi atau letak mata. Periksa adanya strabismus yaitu koordinasi mata yang belum sempurna. Periksa adanya glaukoma kongenital, mulanya akan tampak sebagai pembesaran kemudian sebagai kekeruhan pada kornea. Katarak congenital akan mudah terlihat yaitu pupil berwarna putih. Pupil harus tampak bulat. Terkadang ditemukan bentuk seperti lubang kunci (kolobama) yang dapat mengindikasikan adanya defek retina. Periksa adanya trauma seperti palpebra, perdarahan konjungtiva atau retina, adanya secret pada mata, konjungtivitis oleh kuman gonokokus dapat terjadi panoftalmia dan menyebabkan kebutaan. Apabila ditemukan epichantus melebar kemungkinan bayi mengalami sindrom down. (d) Hidung dan mulut Bibir bayi baru lahir harus kemerahan dan lidahnya harus rata dan simetris. Bibir dipastikan tidak adanya sumbing, dan langit langit harus tertutup. Refleks hisap bayi harus bagus, dan berespons terhadap rangsangan. Kaji bentuk dan lebar hidung, pada bayi cukup bulan lebarnya harus lebih dari 2,5 cm. Bayi harus bernapas dengan hidung, jika melalui mulut harus diperhatikan kemungkinan ada obstruksi jalan napas karena atresia koana bilateral, fraktur tulang hidung atau ensefalokel yang menonjol ke nasofaring. Periksa adanya sekret yang mukopurulen yang terkadang berdarah, hal ini kemungkinan adanya sifilis congenital. Periksa adanya pernapasan cuping hidung, jika cuping hidung mengembang menunjukkan adanya rangsangan pernapasan. (e) Leher Ukuran leher normalnya pendek dengan banyak lipatan tebal. Leher berselaput berhubungan dengan abnormalitas kromosom. Periksa kesimetrisannya. Pergerakannya harus baik. Jika terdapat keterbatasan pergerakan kemungkinan ada kelainan tulang leher. Periksa adanya trauma leher yang dapat menyebabkan kerusakan pada fleksus brakhialis. Lakukan perabaan untuk mengidentifikasi adanya pembengkakan. Periksa adanya pembesaran kelenjar tiroid dan vena jugularis. Adanya lipatan kulit yang berlebihan di bagian belakang leher menunjukkan adanya kemungkinan trisomi 21. (f) Dada Kontur dan simetrisitas dada normalnya adalah bulat dan simetris. Payudara baik pada laki laki maupun perempuan terlihat membesar karena pengaruh hormone wanita dari darah ibu. Periksa kesimetrisan gerakan dada saat bernapas. Apabila tidak simetris kemungkinan bayi mengalami pneumotoraks, paresis diafragma atau hernia diafragmatika. Pernapasan yang normal dinding dada

dan abdomen bergerak secara bersamaan. Tarikan sternum atau interkostal pada saat bernapas perlu diperhatikan. (g) Bahu, lengan dan tangan Gerakan normal, kedua lengan harus bebas bergerak, jika gerakan kurang kemungkinan adanya kerusakan neurologis atau fraktur. Periksa jumlah jari. Perhatikan adanya polidaktili atau sidaktili. Telapak tangan harus dapat terbuka, garis tangan yang hanya satu buah berkaitan dengan abnormalitas kromosom, seperti trisomi 21. Periksa adanya paronisia pada kuku yang dapat terinfeksi atau tercabut, sehingga menimbulkan luka dan perdarahan. (h) Perut Bentuk, penonjolan sekitar tali pusat pada saat menangis, perdarahan tali pusat. Perut harus tampak bulat dan bergerak secara bersamaan dengan gerakan dada saat bernapas. Kaji adanya pembengkakan, jika perut sangat cekung kemungkinan terdapat hernia diafragmatika, perut yang membuncit kemungkinan karena hepato-splenomegali atau tumor lainnya. Jika perut kembung kemungkinan adanya enterokolitis vesikalis, omfalokel atau duktus omfaloentriskus persisten. (i) Kelamin Pada wanita labia minora dapat ditemukan adanya verniks dan smegma (kelenjer kecil yang terletak di bawah prepusium mensekresi bahan yang seperti keju) pada lekukan. Labia mayora normalnya menutupi labia minora dan klitoris. Klitoris normalnya menonjol. Menstruasi palsu kadang ditemukan, diduga pengaruh hormon ibu disebut juga psedomenstruasi. Normalnya terdapat umbai himen. Pada bayi laki-laki rugae normalnya tampak pada skrotum dan kedua testis turun kedalam skrotum. Meatus urinarius normalnya terletak pada ujung glands penis. Epispadia adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan kondisi meatus berada dipermukaan dorsal. Hipospadia untuk menjelaskan kondisi meatus berada dipermukaan ventral penis. (j) Ekstremitas atas dan bawah Ekstremitas bagian atas normalnya fleksi dengan baik, dengan gerakan yang simetris. Refleks menggenggam normalnya ada. Kelemahan otot parstial atau komplet dapat menandakan trauma pada pleksus brakhialis. Nadi brakhialis normalnya ada. Ekstremitas bagian bawah normalnya pendek, bengkok dan fleksi dengan baik. Nadi femoralis dan pedis normalnya ada. (k) Punggung Periksa spina dengan cara menelungkupkan bayi, cari adanya tanda-tanda abnormalitas seperti spina bifida, pembengkakan atau cekungan, lesung atau bercak kecil berambut yang dapat menunjukkan adanya abnormalitas medulla spinalis atau kolumna vertebra. (l) Kulit Verniks (tidak perlu dibersihkan karena adanya untuk menjaga kehangatan tubuh bayi), warna,

pembengkakan atau bercak-bercak hitam, tanda tanda lahir. Perhatikan adanya lanugo, jumlah yang banyak terdapat pada bayi kurang bulan. (m) Refleks Refleks berkedip, batuk, bersin, dan muntah ada pada waktu lahir dan tetap tidak berubah sampai masa dewasa. Beberapa refleks lain normalnya ada waktu lahir, yang menunjukkan imaturitas neurologis, refleks refleks tersebut akan hilang pada tahun pertama. Tidak adanya refleks refleks ini menandakan masalah neurologis yang serius.

Refleks Respons Normal Respons abnormal Rooting dan mengisap Bayi baru lahir menolehkan kepala kearah stimulus, membuka mulut dan mulai mengisap bila pipi, bibir, atau sudut mulut disentuh dengan jari atau putting susu. Respons yang lemah atau tidak ada respon terjadi pada prematuritas, penurunan atau cidera neurologis, atau depresi sistem saraf pusat (SSP). Sekunder karena menelan obat maternal (misalnya narkotik) Menelan Bayi baru lahir menelan berkoordinasi dengan mengisap bila cairan ditaruh dibelakang lidah Muntah, batuk atau regurgitasi cairan dapat terjadi, kemungkinan berhubungan dengan sianosis sekunder karena prematuritas, defisit neurologis, atau cedera, terutama terlihat setelah laringoskopi. Ekstrusi Bayi baru lahir menjulurkan lidah keluar bila ujung lidah disentuh dengan jari atau puting susu Ekstrusi lidah secara kontiniu atau menjulurkan lidah yang berulang ulang terjadi pada kelainan SSP dan kejang. Moro Ekstensi simetris bilateral dan abduksi seluruh ekstremitas, dengan ibu jari dan jari telunjuk membentuk huruf C diikuti dengan aduksi ekstremitas dan kembali ke fleksi relaks jika posisi bayi berubah tiba-tiba atau jika bayi diletakkan telentang pada permukaan yang datar. Respons asimetris terlihat pada cidera saraf perifer (plesus brakhialis) atau fraktur klavikula atau fraktur tulang panjang lengan dan kaki. Tidak ada respons terjadi pada kasus kasus cedera SSP yang berat. Melangkah Bayi akan melangkah dengan satu kaki dan kemudian kaki lainnya dengan gerakan berjalan bila satu kaki disentuh pada permukaan rata bayi akan berusaha untuk merangkak ke depan dengan kedua tangan dan kaki bila diletakkan telungkup pada permukaan datar. Respons asimetris terlihat pada cedera saraf SSP atau perifer atau fraktur tulang panjang kaki. Respons asimetris terlihat pada cedera saraf SSP atau perifer atau fraktur tulang panjang. Tonik leher atau flencing Ekstremitas pada satu sisi dimana kepala ditolehkan akan ekstensi, dan ekstremitas yang berlawanan akan fleksi bila kepala bayi ditolehkan ke satu sisi selagi beristirahat.

Respons ini dapat tidak ada atau tidak lengkap segera setelah lahir. Respons persisten setelah bulan keempat dapat menandakan cedera neurologis. Respons menetap tampak pada cedera SSP dan gangguan neurologis Terkejut Bayi melakukan abduksi dan fleksi seluruh ekstremitas dan dapat mulai menangis bila mendapat gerakan mendadak atau suara keras Tidak adanya respons menandakan defisit neurologis atau cedera. Tidak adanya respons secara lengkap dan konsisten terhadap bunyi keras dapat menandakan ketulian. Respon dapat menjadi tidak ada atau berkurang selama tidur dalam. Ekstensi silang Kaki bayi yang berlawanan akan fleksi dan kemudian ekstensi dengan cepat seolah olah berusaha untuk memindahkan stimulus ke kaki yang lain bila diletakkan telentang bayi akan mengekstensikan satu kaki sebagai respon terhadap stimulus pada telapak kaki. Respon yang lemah atau tidak ada respon terlihat pada cedera saraf perifer atau fraktur tulang panjang. Glabellar blink Bayi akan berkedip bila dilakukan 4 atau 5 ketuk pertama pada batang hidung pada saat mata terbuka. Terus berkedip dan gagal untuk berkedip menandakan kemungkinan gangguan neurologis. Palmar graps Jari bayi akan melekuk disekeliling benda dan menggenggamnya seketika bila jari diletakkan di telapak tangan bayi. Respon ini berkurang pada prematuritas. Asimetris terjadi pada kerusakan saraf perifer (pleksus brakhialis) atau fraktur humerus. Tidak ada respon terjadi pada defisit neurologis yang berat. Plantar graps Jari jari bayi akan melekuk kebawah bila jari diletakkan di dasar jari jari kaki Respon ini berkurang pada prematuritas. Tanda Babinski Jari jari kaki bayi akan hiperekstensi dan terpisah seperti kipas dari dorsifleksi ibu jari kaki bila satu sisi kaki digosok dari tumit ke atas melintasi bantalan kaki Tidak ada respon terjadi pada defisit SSP

d. Mencegah terjadinya infeksi pada bayi baru lahir Pencegahan infeksi merupakan upaya untuk mencegah transmisi silang dan diterapkan dengan mengacu pada kewaspadaan standar. Proses peralatan atau instrument harus dilakukan secara benar dan mengikuti standar yang ada agar diperoleh hasil maksimal dan memenuhi syarat. Pencegahan infeksi tidak selalu berarti penambahan biaya, yang penting adalah terbangunnya budaya bersih, menjamin rasa aman dan kesungguhan untuk memberikan pelayanan berkualitas. Infeksi yang paling sering terjadi pada bayi baru lahir normal adalah melalui tali pusat. Tali pusat dalam istilah medis disebut umbilical cord. Ini merupakan saluran kehidupan bagi janin selama di dalam kandungan. Semasa dalam rahim, tali pusat inilah yang menyalurkan oksigen dan makanan dari plasenta ke janin yang berada di dalamnya, karena janin sudah dapat bernapas sendiri melalui

hidungnya. Karena sudah tidak diperlukan lagi maka saluran ini harus dipotong dan dijepit atau diikat. Infeksi dapat terjadi pada saat pemotongan tali pusat yang tidak menggunakan alat alat steril dan pada saat penyembuhan tali pusat. Ketika bayi baru lahir tali pusat biasanya masih terdapat pada abdomennya dengan beberapa tipe penjepitan atau pengikat tali pusat. Segera setelah lahir pembuluh umbilikus masih dapat menyebabkan perdarahan yang fatal bila penjepit atau pengikatnya kendur. Kadang- kadang bakteri memasuki area tersebut sebelum terjadi penyembuhan, hal inilah yang dapat menyebabkan infeksi pada tali pusat.

Pencegahan infeksi pada saat pemotongan tali pusat dan mengikat tali pusat dapat dilakukan dengan cara : 1. Bersihkan tangan yang masih menggunakan sarung tangan kedalam larutan clorin 0,5 % untuk membersihkan darah dan sekresi tubuh lainnya. 2. Klemlah tali pusat dengan dua buah klem yang steril kira kira 2 dan 3 cm dari pangkal tali pusat, kemudian potonglah tali pusat diantara kedua klem sambil melindungi bayi dari gunting dengan tangan kiri. 3. Pertahankan kebersihan pada saat memotong tali pusat, ganti sarung tangan jika telah kotor. 4. Bilas tangan dengan air matang atau disinfeksi tingkat tinggi (DTT). 5. Keringkan tangan dengan handuk atau kain bersih yang kering. 6. Ikat puntung tali pusat sekitar 1 cm dari pusat bayi dengan menggunakan benang disinfeksi tingkat tinggi atau klem plastik tali pusat yang steril. Pemotongan tali pusat pada bayi lahir normal dilakukan sekitar 2 menit setelah bayi lahir atau setelah menyuntikan oksitoksin 10 IU intra muscular kepada ibu dengan alasan untuk memberi cukup waktu bagi tali pusat untuk mengalirkan darah kaya besi kepada bayi. Jangan mengoleskan salep apapun, atau zat lain ke tampuk tali pusat. Hindari pembungkusan tali pusat atau jika dibungkus tutupi dengan kassa steril dalam keadaan longgar, tampuk tali pusat yang tidak tertutup agar terkena udara akan mongering dan puput lebih cepat dengan komplikasi yang lebih sedikit. Popok bayi dilipat dibawah tali pusat, jika tali pusat terkena kotoran atau tinja bayi, cuci dengan air bersih serta keringkan betul betul. Tanda tanda tali pusat mengalami infeksi yang perlu diwaspadai dengan cepat pada bayi lahir normal adalah : Tali pusat berwarna merah Daerah sekitar tali pusat bengkak Keluar cairan berbau busuk dari daerah sekitar tali pusat

Cairan kadang kadang disertai dengan darah jika infeksi terjadi pada bayi lahir normal akan terjadi peningkatan suhu berkisar diatas 37,5 C, bayi menangis terus menerus tidak bisa tenang, kejang halus dan lemas. Pencegahan infeksi pada saat pemulihan tali pusat : Cuci tangan sebelum memegang bayi dan setelah menggunakan toilet untuk buang air kecil maupun air besar. Jaga tali pusat bayi dalam keadaan bersih selalu dan letakkan popok di bawah tali pusat. Jika tali pusat kotor cuci dengan air bersih dan sabun. Bayi dimandikan setiap hari dengan membersihkan seluruh badan bayi terutama tali pusat dibersihkan dengan air bersih, hangat, dan sabun. Jaga bayi dari orang orang yang menderita infeksi dan pastikan setiap orang yang memegang bayi selalu cuci tangan terlebih dahulu. Pengendalian infeksi nasokomial Untuk mengendalikan infeksi nasokomial pada bayi baru lahir dan neonates diperlukan suatu prosedur standar yang harus dipatuhi oleh petugas yang terlibat didalamnya. Prosedur standar ini berbeda untuk setiap bangsal perawatan. Misalnya prosedur di bangsal bayi baru lahir yang sehat tidak sama dengan prosedur perawatan di bangsal perawatan intensif. Secara umum berbagai prosedur dibawah ini harus dikerjakan di bangsal perawatan bayi, yaitu : 1. Prosedur pada mata Pencegahan ophthalmia neonatorum adalah satu cara yang praktis dilakukan untuk mengontrol infeksi pada bayi baru lahir. Untuk ini dapat dipakai obat mata topical seperti setetes larutan Perak Nitrat 1 % ; salep mata eritromisin 0,5 % atau Tetrasiklin 1 %. Kedua salep mata ini juga dapat mencegah Klamidia trakomatis. Berikan dalam 1 jam pertama kelahiran. Setelah pemberian profilaksis infeksi mata, kembalikan bayi pada ibunya untuk disusukan dan bergabung kembali. 2. Perawatan kulit dan tali pusat Dianjurkan untuk merawat kulit neonates dengan teknik dry skin care, maksudnya membuat kulit agar tetap kering dengan mengatur suhu kamar, mengurangi trauma pada kulit dan mencegah pemberian obat obat topikal yang mempunyai efek samping terhadap kulit. Dalam hal ini termasuk membersihkan bayi hendaknya setelah temperaturnya stabil dan tidak menggunakan antiseptik. Kemudian untuk menghilangkan darah dan mekonium dari wajah, kepala dan badan dipakai spons katuun yang steril dengan air hangat. Untuk perawatan tali pusat, tidak satupun yang lebih baik dari pada yang lainnya untuk membatasi kolonisasi bakteri. Yang penting ialah membuat tali pusat kering. Untuk itu dapat dipakai obat obat topikal seperti : Triple dye Salep Bacitracin Krem Silver sulfadiazine

Betadine 10 % Semua obat diatas dapat memperlambat atau mengurangi kolonisasi bakteri di tali pusat, terutama Stafilokokkus aureus. Alkohol, yang sering dipakai di rumah sakit maupun setelah pulang dari rumah sakit mempercepat keringnya tali pusat dan lepasnya tali pusat. Akan tetapi obat ini efektif untuk membatasi kolonisasi bakteri. 3. Staf perawatan Oleh karena banyaknya bayi dalam satu bangsal dan kurangnya staf, akan meningkatkan terjadinya infeksi nasokomial. American Academy of Pediatrics menganjurkan pada bangsal bayi baru lahir yang sehat rasio perawat : bayi adalah 1 perawat : 6 8 bayi; sedangkan bangsal bayi dengan rawat gabung parsial membutuhkan 1 perawat untuk 4 5 pasangan ibu bayi. Disini dianjurkan agar perawat mencuci tangan terlebih dulu sebelum kontak dengan bayi. Di bangsal bayi baru lahir dengan perawatan intensif yang sederhana diperlukan rasio 1 : 3 4, maksudnya satu perawat untuk 3 4 bayi, dan pada bangsal perawatan intensif (NICU) 1 perawatan untuk 1 2 bayi. 4. Desain ruang perawatan Jarak yang adekuat antara tempat tidur bayi dengan peralatan lainnya dapat mencegah kepadatan dan mengurangi resiko kontaminasi yang tidak disengaja antara bayi dengan petugas. Luas lantai yang di rekomendasikan untuk satu tempat tdr bayi bervariasi tergantung intensitas perawatannya. Untuk level 1 : 20- 25 tempat tidur; level II : 30 50 feet dan level III : 80 100. 5. Rawat gabung Banyak rumah sakit melakukan rawat gabung untuk merawat bayi normal. Dari berbagai penelitian terlihat bahwa tidak ada kenaikan insiden infeksi nasokomial pada bayi bayi yang dirawat gabung bila dibandingkan pada bayi bayi yang dirawat gabung bila dibandingkan pada bayi bayi yang dirawat di bangsal perawatan bayi normal. Jika program ini adalah suatu cara yang potensial untuk mengurangi resiko kepadatan dan menurunkan kontaminasi silang di bangsal perawatan bayi normal. Setiap orang yang masuk ke kamar bayi harus memakai sandal khusus dan mencuci tangan. 6. Air susu ibu Air susu ibu adalah makanan standar bagi semua bayi. Menggalakkan penggunaan air susu ibu adalah sangat penting karena ASI member perlindungan alamiah terhadap problema saluran cerna yang sering timbul pada neonatus. Clavano (1982) dengan cara rawat gabung dan penggunaan ASI berhasil menurunkan kejadian diare, moniliasis mulut dan sepsis. Sedangkan Narayan (1981) dengan penggunaan ASI pada BBLR berhasil pula menurunkan kejadian infeksi. 7. Mencuci tangan Oleh karena cara penularan infeksi yang utama di bangsal bayi adalah melalui tangan petugas (bakteri transien), maka mencuci tangan merupakan salah satu cara yang efektif untuk

melaksanakan program mengkontrol infeksi. Dengan mencuci tangan maka mikroba yang berada di tangan petugas akan hilang. Mencuci tangan dengan memakai sabun selama 15 detik akan menghilangkan mikroba yang berada di tangan (bakteri transien). Sedangkan untuk membersihkan bakteri residen diperlukan waktu yang lebih lama dan harus memakai detergen anti bakteri. 8. Pakaian Dulu pemakaian gaun dianjurkan. Akan tetapi ternyata pemakaian gaun ini tidak mengurangi penularan bakteri atau tidak menurunkan insiden infeksi nasokomial di bangsal bayi baru lahir. 9. Isolasi Diperlukan pada kasus yang menular seperti penyakit karena stafilokokkus, konjungtivitis bakterialis, dan diare. Perlindungan fisik (isolasi) adalah suatu cara untuk mengendalikan penyebaran infeksi di rumah sakit. 10. Pengunjung Harus dibatasi masuk ke bangsal perawatan bayi untuk mencegah timbulnya infeksi, terutama pengunjung yang sakit. 11. Pengontrolan terhadap epidemic Yaitu dengan pemeriksaan epidemiologi mendata prosedur dan teknik yang selama ini digunakan untuk merawat bayi seperti perawatan kulit dan tali pusat, cara cara desinfeksi dan sterilisasi alat alat. Hal ini dilakukan dengan cara : Survey kultur dari pasien pasien yang disangkakan untuk mendeteksi karier asimptomatik (misalnya tali pusat lubang hidung pada epidemi stafilokokkus). Kultur bagian bagian tubuh petugas yang selalu berhubungan dengan perawatan bayi untuk mengetahui sumber dan cara penularan. Memperhatikan bayi bayi yang dirawat. Memperhatikan kesehatan petugas. Merubah prosedur perawatan kulit dan tali pusat. Merubah cara membersihkan tangan dan antiseptik yang digunakan. Antimikroba profilaksis, seperti penisilin pada epidemi streptokokkus. e. Menjaga temperatur dan mencegah kehilangan panas tubuh Tubuh bayi baru lahir belum mampu untuk melakukan regulasi temperature tubuh sehingga jika penanganan pencegahan kehilangan panas tubuh dan lingkungan sekitar tidak disiapkan dengan baik, bayi tersebut dapat mengalami hipotermi yang dapat mengakibatkan bayi menjadi sakit atau mengalami gangguan fatal. Mekanisme kehilangan panas tubuh yang dapat dialami oleh bayi dapat melalui 4 mekanisme yaitu :

(1) Mekanisme kehilangan panas secara evaporasi. Mekanisme kehilangan panas secara evaporasi adalah proses kehilangan panas tubuh bayi dengan penguapan cairan pada permukaan tubuh bayi. Ketika bayi telah lahir, tubuh yang basah akan terpapar ke udara yang dingin diruang bersalin, kedinginan yang tiba tiba ini menyebabkan bayi akan kehilangan panas tubuhnya dengan cepat, karena permukaan kulit tubuh sangat luas sehingga suhu dapat turun dengan cepat. (2) Mekanisme kehilangan panas secara konduksi. Tubuh bayi bersentuhan dengan permukaan yang temperaturnya lebih rendah. Contoh ke instrument yang dingin. (3) Mekanisme kehilangan panas secara konveksi. Tubuh bayi terpapar udara atau lingkungan bertemperatur dingin. Contoh seperti ke aliran udara yang dingin oleh kipas angin. (4) Mekanisme kehilangan panas secara radiasi. Pelepasan panas akibat adanya benda yang lebih dingin di dekat tubuh bayi. Contoh kedinding ruangan yang dingin. Mencegah kehilangan panas tubuh bayi : Pastikan bayi tersebut tetap dalam keadaan hangat dan terjadi kontak antara kult bayi dengan kulit ibu. Mengganti handuk atau kain basah serta bungkus bayi dengan selimut dan jangan lupa memastikan bahwa kepala telah terlindung dengan baik untuk mencegah keluarnya panas tubuh. Tempatkan bayi pada suhu lingkungan yang hangat dan tidak banyak hembusan angin dengan batasan normal suhu ruangan berkisar 36,5 C sampai 37 C. Jangan segera menimbang bayi tanpa penutup tubuh dan jangan segera memandikan bayi, tunggu minimal 6 jam setelah bayi lahir dengan suhu minimal 36,5 C. f. Memahami manfaat kontak dini (termasuk asupan dini atau inisiai dini ASI) dan rawat gabung ibu dan bayi. Pemberian inisiasi menyusu dini pada bayi baru lahir. Seringkali ibu mengalami kesulitan untuk menyusui bayinya. Hal ini salah satunya adalah dikarenakan kegagalan atau tidak adanya IMD atau Inisiasi Menyusui Dini pada bayi yang baru lahir. Bidan dan dokter penolonglah yang seharusnya memiliki inisiatif ini. Selama ini kesalahan yang dilakukan adalah bahwa bayi yang baru lahir langsung dibersihkan, dibungkus dengan pakaian baru disusukan ke ibunya. Padahal sebenarnya bukan seperti itu cara yang tepat. Definisi : Memberikan kesempatan bayi menyusu sendiri segera setelah lahir dengan meletakkan bayi di dada

atau perut ibu dan kulit bayi melekat pada kulit ibu (skin to skin contact) setidaknya selama 1 2 jam sampai bayi menyusu sendiri. Proses ini dapat menghindari kematian bayi dan juga penyakit penyakit yang menyerangnya selama hidupnya. Menyusui dini sangat berpengaruh terhadap keselamatan, pertumbuhan dan perkembangan bayi. Menyusu secara eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan, dengan makanan tambahan yang tepat dan terus menyusu dari usia 6 bulan sampai 2 tahun, dapat mengurangi sedikitnya 20% seluruh kematian bayi dan balita. Menyusu mencegah malnutrisi pada anak, suatu faktor yang mempengaruhi lebih dari setengah kematian bayi secara global, sehingga harus diupayakan perbaikan praktek menyusui agar dapat mengurangi kejadian malnutrisi dan kematian bayi secara efektif. Inisiasi menyusu dini merupakan kontak kulit ibu dan bayi segera setelah lahir selama paling sedikit satu jam. Dalam tindakan inisiasi menyusu dini ini bayi menggunakan naluri alamiahnya untuk melakukan inisiasi menyusu dini dan ibu tau bayinya siap untuk menyusui. Dalam istilah yang lain, inisiasi menyusui dini disebut juga sebagai proses Breast Crawl. Dalam sebuah publikasi yang berjudul Breast Crawl : A Scientific Overview beberapa hal yang menyebabkan bayi mampu menemukan sendiri putting susu ibunya, dan mulai menyusui disebabkan oleh : (1) Sensory inputs atau indera yang terdiri dari penciuman ; terhadap bau khas ibunya setelah melahirkan, penglihatan ; karena bayi baru lahir dapat mengenal pola hitam putih, bayi akan mengenali puting dan wilayah areola ibunya karena warna gelapnya. Berikutnya adalah indera pengecap; bayi mampu merasakan cairan amniotic yang melekat pada jari jari tangannya, sehingga bayi pada saat baru lahir suka menjilati jarinya sendiri. Kemudian, dari indera pendengaran; sejak dari dalam kandungan suara ibu adalah suara yang paling dikenalnya. Dan yang terakhir dari indera perasa dengan sentuhan; sentuhan kulit ke kulit antara bayi dengan ibu adalah sensasi pertama yang member kehangatan, dan rangsangan lainnya. (2) Central Component. Otak bayi yang baru lahir sudah siap untuk segera mengeksplorasi lingkungannya, dan lingkungan yang paling dikenalnya adalah tubuh ibunya. Rangsangan ini harus segera dilakukan, karena jika terlalu lama dibiarkan, bayi akan kehilangan kemampuan ini. Inilah yang menyebabkan bayi yang langsung dipisah dari ibunya, akan lebih sering menangis dari pada bayi yang langsung ditempelkan ke tubuh ibunya. (3) Motor Outputs. Bayi yang merangkak di atas tubuh ibunya, merupakan gerak yang paling alamiah yang dapat dilakukan bayi setelah lahir. Selain berusaha mencapai puting ibunya, gerakan ini juga memberi banyak manfaat untuk sang ibu, misalnya mendorong pelepasan plasenta dan mengurangi perdarahan pada rahim ibu. Melakukan IMD pada bayi merupakan pengalaman yang hanya terjadi sekali seumur hidup, dan

menentukan keberhasilan ASI Eksklusif selama 6 bulan. Sebaiknya pemberian praktek inisiasi dini dilakukan terlebih dahulu dengan menunda beberapa prosedur lain untuk bayi baru lahir normal seperti pemberian antibiotika salep mata, vitamin K1, menimbang, dan lain lain, sehingga inisiasi menyusu dini selesai. Praktek inisiasi dini menyusu dini tidak hanya dilakukan pada pertolongan persalinan normal, tetapi juga persalinan dengan Caesar. Dibawah ini adalah tata laksana inisiasi menyusu dini di kamar operasi : (a) Menjelaskan kepada ibu dan ayah mengenai inisia menyusu dini dan mengenali tanda tanda dan perilaku sebelum menyusu sehingga ayah akan mendukung dan membantu meningkatkan percaya diri ibu. (b) Dianjurkan ada keluarga mendampingi ibu saat operasi. (c) Dalam menolong persalinan, sebaiknya menggunakan anaestesi epidural. (d) Suhu dikamar operasi sebaiknya tidak terlalu dingin. Jika mungkin, diusahakan suhu ruangan 20 C sampai 25 C. (e) Bayi dikeringkan secepatnya, kecuali kedua tangan dan menghilangkan verniks. (f) Bayi ditengkurapkan di dada ibu supaya terjadi kontak kulit bayi dengan kulit ibu. Keduanya diselimuti dari atas. Bayi diberi topi untuk mengurangi pengeluaran panas dari kepala. (g) Bayi dibiarkan mencari sendiri puting susu Ibu. Ibu dapat merangsang bayi dengan sentuhan lembut bila bayi telah menunjukkan kesiapan (misalnyaterlihat menggerakkan kepala mendorong kaki, atau mengeluarkan air liur. Tetapi tidak memaksakan bayi ke puting ibu. (h) Bila inisiasi menyusu dini belum terjadi dikamar operasi, bayi tetap diletakkan di dada ibu waktu dipindahkan kekamar pemulihan. Usaha menyusu dini dilanjutkan dikamar perawatan bayi. (i) Bayi baru dipisahkan dari ibu untuk ditimbang, diukur, dicap, setelah menyusu awal selesai. Prosedur invasif, seperti suntikan vitamin K1 dan meneteskan mata bayi ditunda. (j) Ibu dan bayi tetap tidak dipisahkan selama 24 jam, dirawat gabung, serta pemberian minum prelakteal dihindarkan. Keuntungan praktek inisiasi menyusu dini pada bayi baru lahir diantaranya adalah : 1. Mengurangi infeksi dengan member kekebalan pasif maupun aktif pada bayi. 2. Kolostrum akan lebih cepat keluar dan ASI merupakan makanan dengan kualitas dan kuantitas optimal sesuai dengan kebutuhan bayi. 3. Segera memberikan kekebalan pasif pada bayi karena kolostrum merupakan imunisasi pertama pada bayi. Cairan ini dinamakan the gift of life. 4. Memudahkan pelaksanaan ASI ekslusif yang akan meningkatkan kecerdasan. Bayi yang diberikan kesempatan menyusu dini lebih berhasil menyusui eksklusif dan akan lebih lama disusui. 5. Membantu bayi mengkoordinasikan kemampuan menghisap, menelan dan bernapas. Pernapasan

dan detak jantung bayi lebih stabil. Bayi akan lebih jarang menangis sehingga mengurangi pemakaian energi. 6. Meningkatkan jalinan kasih sayang antara ibu dan bayinya. Bounding (ikatan kasih sayang) antara ibu dan bayi akan lebih baik karena pada 1 2 jam pertama, bayi dalam keadaan siaga. Setelah itu biasanya bayi tidur dalam waktu yang lama. 7. Mencegah kehilangan panas tubuh bayi. Dada ibu menghangatkan bayi dengan tepat selama bayi merangkak mencari payudara ibu. Ini akan menurunkan kematian karena kedinginan (hipotermi). 8. Ibu dan bayi merasa lebih tenang. Pernapasan dan detak jantung bayi lebih stabil. Bayi akan lebih jarang menangis sehingga mengurangi pemakaian energi. 9. Hentakan kepala bayi di dada ibu, sentuhan tangan bayi di puting susu dan sekitarnya, emutan dan jilatan bayi pada puting susu ibu merangsang pengeluaran hormone oksitosin. 10. Ibu dan ayah akan merasa sangat bahagia bertemu dengan bayinya untuk pertama kalinya dalam kondisi seperti ini. Bahkan, ayah mendapatkan kesempatan mengazankan bayinya di dada ibunya. Suatu pengalaman batin bagi ketiganya yang amat indah.

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Diagnosis bayi baru lahir pada dasarnya berguna untuk mencari atau mendeteksi sedini mungkin adanya kelainan pada janin. Kegagalan untuk mendeteksi kelainan janin dapat menimbulkan masalah pada jam jam pertama kehidupan bayi diluar rahim. Dengan mengetahui kelainan pada janin dapat membantu untuk mengambil tindakan serta memberikan asuhan keperawatan yang tepat sehingga dapat membantu bayi baru lahir sehat untuk tetap sehat sejak awal kehidupannya. Pemahaman terhadap adaptasi dan fisiologi bayi baru lahir sangat penting sebagai dasar dalam memberikan asuhan. Perubahan lingkungan dari dalam uterus ke ekstrauterin dipengaruhi oleh banyak faktor seperti kimiawi, mekanik, dan termik yang menimbulkan perubahan metabolik, pernapasan dan sirkulasi pada bayi baru lahir normal. Penatalaksanaan dan mengenali kondisi kesehatan bayi baru lahir resiko tinggi yang mana memerlukan pelayanan rujukan/ tindakan lanjut.

B. Saran 1. Setelah memahami tentang bayi baru lahir tentunya bisa dilakukan penerapan yang baik untuk

dapat melakukan pemeriksaan yang spesifik pada bayi baru lahir sehingga dapat menetapkan diagnosis yang benar agar dapat dilakukan perawatan yang lebih intensif jika ditemukan adanya masalah. 2. semua tenaga kesehatan dapat bekerja sama untuk dapat memberikan perawatan yang benar terkait dengan bayi baru lahir.

DAFTAR PUSTAKA

Behrman,dkk.(2000).Ilmu kesehatan Anak Nelson Vol 3.Jakarta: EGC Farrer, Helen.(1999). Perawatan Maternitas: Ed. 2. Jakarta : EGC. Winknjsastro, Hanifa.(2005).Ilmu Kebidanan Ed 3. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwon Prawirohardjo Ngastiyah, (1997). Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC Staf Pengajar IKA-FKUI, (1985). Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : Infomedika

Askeb BBL
1. Pengertian Masa Neonatal Bayi baru lahir umur 0 - 4 minggu sesudah lahir. Terjadi penyesuaian sirkulasi dengan keadaan lingkungan, mulai bernafas dan fungsi alat tubuh lainya. Berat badan dapat turun sampai 10 % pada minggu pertama kahidupan yang dicapai lagi pada hari ke empat belas. (FKUI, 2005). 2. Penanganan Bayi Baru Lahir Menurut Mochtar, Rustam. 1998 a Mulai melakukan pembersihan lendir pada saat kepala keluar dengan pembersihan mulut, hidung, dan mata dengan kapas atau kasa steril. b c Jam lahir dicatat dengan stop-watch. Lendir dihisap sebersih mungkin sambil bayi ditidurkan dengan kepala lebih rendah dari kaki dalam posisi sedikit ekstensi, supaya lendir mudah keluar.

d Tali pusat diikat dengan baik dan bekas luka diberi antiseptik kemudian dijepit dengan klem jepit plastik atau diikat dengan pita atau benang tali pusat. e Segera setelah lahir, bayi yang sehat akan menangis kuat, bernapas, serta menggerakkan tangan dan kakinya, kulit akan bewarna kemerahan. f Bayi dimandikan dan dibersihkan dengan air hangat-hangat kuku dari lumuran darah, air ketuban, mekonium, dan vernik kaseosa. Adapula yang membersihkannya dengan minyak kelapa atau minyak zaitun. g h Jangan lupa menilai bayi dengan nilai Apgar. Bayi ditimbang berat badanya dan diukur panjang badan lahirnya kemudian dicatat dalam status. i Perawatan mata bayi : mata bayi dibersihkan, kemudian diberikan obat untuk mencegah Blenorrhoe. j Diperiksa juga anus, genetalia eksterna, dan jenis kelamin pada bayi. Pada bayi laki-laki, periksa apakah ada femosis dan apakah descensus testiculorum telah lengkap. Di beberapa Negara barat, pada bayi laki-laki segera dilakukan sirkumsisi, apalagi jika terdapat fimosis. 3. Tanda-Tanda Bayi Baru Lahir Normal Menurut Prawiroharjo, sarwono. 2002 a. Bunyi jantung dalam menit pertama kira-kira 180/menit yang kemudian turun sampai 140/menit 120/menit pada waktu bayi berumur 30 menit. b. Pernapasan cepat pada menit-menit pertama (kira-kira 80/menit) disertai dengan pernapasan cuping hidung, retraksi suprastenal dan intercostals, serta rintihan hanya berlangsung 10 sampai 15 menit. c. Nilai apgar 7-10 (Lihat tabel Apgar Score). d. Berat badan 2500 gram- 4000 gram. e. Panjang badan lahir 48-52 cm. f. Lingkar kepala 33-35cm. g. Lingkar dada 30-38 cm. h. Reflek isap dan menelan sudah terbentuk dengan baik. i. Reflek moro sudah baik, apabila dikagetkan akan memperlihatkan gerakan memeluk. j. Grasping reflek sudah baik, apabila diletakan suatu benda di atas telapak tangan, bayi akan mengengam.

. Genatalia : labia mayora sudah menutupi labia minora ( pada perempuan). Testis sudah turun di scortum (pada laki-laki).

Eliminasi : baik urin, mekonium akan keluar dalam 24 jam pertama.mekonium bewarna coklat kehijauan. Tabel Nilai Apgar

Skor 1. Apperence color/warna kulit 2. Pulse/frekuensi jantung 3. Grimace/reaksi terhadap rangsangan

0 Pucat

1 Badan

2 merah, Seluruh tubuh

ektrimitas biru tidak ada Dibawah 100

kemerah-merahan Di atas 100

tidak ada

Sedikit mimik

gerakan Menangis, bersin

batuk

4. Activity / tonus lumpuh otot 5. Respiratori/usaha nafas tidak ada

Ekstrimitas dalam Gerakan aktif fleksi sedikit Lemah, teratur tidak Menangis kuat

4.

Perubahan-Perubahan Yang Segera Terjadi Sesudah Kelahiran Menurut Prawiroharjo, sarwono. 2002

Gangguan metabolisme karbohidrat. Oleh karena kadar gula darah tali pusat yang 65 mg/100 ml akan menurun menjadi 50 mg / 100 ml dalam waktu 2 jam sesudah lahir, energi tambahan yang diperlukan neonatus pada jam pertama sesudah lahir di ambil dari hasil metabolisme asam lemak sehingga kadar gula darah dapat mencapai 120 mg/ 100 ml. Bila hal tersebut tidak terpenuhi, maka kemungkinan besar bayi akan menderita hipoglikemi.

Gangguan umum. Sesaat sesudah bayi lahir suhu tubuh akan turun 20 c dalam waktu 15 menit melalui evaporasi, konvensi dan radiasi. Suhu lingkungan yang tidak baik ( bayi tidak dapat

mempertahankan suhu tubuhnya sekitar 360 c 370 c) akan menyebabkan bayi menderita hipotermi. c Perubahan System Pernapasan.

Pernapasan pada bayi normal terjadi dalam 30 detik sesudah kelahiran. Pernapasan ini timbul sebagai akibat aktivitas normal susunan saraf pusat dan perifer yang dibantu oleh beberapa rangsangan lainya. Seperti sentuhan dan perubahan suhu di dalam uterus dan di luar uterus. Tekanan rongga dada bayi pada waktu melalui jalan lahir pervaginam mengakibatkan bahwa paru-paru yang pada janin normal cukup bulan mengandung 80 sampai 10 ml cairan, kehilangan 1/3 dari cairan ini. Sesudah bayi lahir cairan yang hilang diganti dengan udara. Paruparu berkembang, sehingga rongga dada kembali pada bentuk semula. d Perubahan System Sirkulasi. Dengan berkembangnya paru-paru, tekanan 02 dalam alveoli meningkat, co2 turun sehingga aliran darah ke paru meningkat. Ini menyebabkan darah dari arteri pulmonalis mengalir ke paruparu dan duktus arterious menutup. Dengan dipotongnya tali pusat, aliran darah dari plasenta melalui vena kava inferior dan foramen ovale ke atrium kiri terhenti. Dengan diterimanya darah oleh atrium kiri dari paru-paru, tekanan di atrium kiri menjadi lebih tinggi daripada tekanan di atrium kanan. Ini menyebabkan foramen ovale menutup. Sirkulasi janin sekarang berubah menjadi sirkulasi bayi yang hidup di luar badan ibu. e Perubahan Lain. Alat-alat pencernaan, hati, ginjal dan alat-alat lain mulai berfungsi. 5. Penilaian Bayi Untuk Tanda-Tanda Kegawatan. Menurut Saifudin. 2002 semua bayi baru lahir harus dinilai adanya tanda-tanda kegawatan / kelainan yang menunjukan suatu penyakit. Bayi baru lahir dinyatakan sakit apabila mempunyai salah satu atau beberapa tanda-tanda berikut. a. Sesak nafas. b. Frekuensi pernapasan 60 kali / menit. c. Gerak retraksi di dada. d. Malas minum. e. Panas atau suhu badan bayi rendah. f. Kurang aktif. g. Berat lahir rendah ( 1500-2500 gram) dengan kesulitan minum. 6. Perawatan Bayi Sehari-hari. Menurut Prawiroharjo, Sarwono. 2002 a Mata bayi harus selalu diperiksa untuk melihat tanda-tanda infeksi

mata dan muka sebaiknya diseka dengan air steril. Muka sebaiknya diseka setiap sesudah minum susu. b Mulut diperiksa untuk melihat kemungkinan infeksi kandida ( oral trus). Bila ditemukan, hendaknya segera diobati dengan larutan gentian violet 1% yang baru dibuat atau dengan larutan Nystatin yang langsung diteteskan ke mulut bayi. c Kulit, terutama di lipatan (paha, leher, belakang telingga, ketiak),harus selalu bersih dan kering.

d Tali pusat, pada umumnya tali pusat akan puput pada waktu bayi berumur 6-7 hari. Bila tali pusat belum puput maka setiap sesudah mandi tali pusat harus dibersihkan dan dikeringkan dengan betadine atau alcohol 70 %. e Kain popok harus segera diganti setiap kali basah karena air kencing/ tinja. Pantat bayi dibersihkan dengan air bersih dan dikeringkan. Bila pantat terinfeksi, sebaiknya air pembersih pantat ditambah dengan zat septik. f Sebelum tali pusat lepas, debaiknya bayi diseka dengan air bersih tapi karena kepercayaan, adat bayi harus dimandikan sejak lahir, maka sebaiknya ia dimandikan pada waktu berumur 6 jam. 7. Praktik Memandikan Bayi Menurut pelatihan Asuhan Persalinan Normal. 2007, yaitu: a b Tunggu sedikitnya 6 jam setelah lahir sebelum memandikan bayi. Sebelum memandikan bayi, periksa bahwa suhu tubuh bayi stabil ( suhu aksila antara 36,5 0c 37,5oc). jika suhu tubuh bayi masih dibawah 36,5 c, selimuti kembali tubuh bayi dan tempatkan bersama ibunya. Tunda memandikan bayi hingga suhu tubuh bayi tetap stabil dalam waktu satu jam. c Tunda untuk memandikan bayi jika bayi mengalami masalah pernapasan .

d Pastikan ruangan hangat. e f g h 8. Mandiakna bayi secara tepat dengan air bersih dan hangat. Segera keringkan bayi dengan handuk bersih dan kering. Selimuti tubuh bayi secara longgar. Pastikan kepala bayi diselimuti dengan topi bayi. Ibu dan bayi disatukan ditempat dan anjurkan ibu untuk menyusukan bayinya. Merawat Tali Pusat

Menurut Pelatihan Asuhan Persalinan Normal. 2007 a. Jangan membungkus puting tali pusat atau perut bayi atau mengoleskan cairan atau bahan apapun ke putung tali pusat.

b. Menggoleskan alkohol atau bethadine (terutama jika memotong tali pusat terjamin DTT atau steril ) masih diperkenankan tetapi tidak dikompreskan karena menyebabkan tali pusat basah / lembab. c. Lipat popok di bawah putung tali pusat. d. Jika putung tali pusat kotor, bersuhkan hati-hati dengan air DTT dan sabun segera keringkan secara seksama dengan menggunakan kain bersih. e. Nasehati hal yang sama bagi ibu dan keluarganya. f. Jika pangkal tali pusat ( pusat bayi ) menjadi merah, mengeluarkan nanah atau darah, segera rujuk bayi ke fasilitas yang dilengkapi perawatan untuk bayi baru lahir . 9. Konsep Inisiasi menyusui dini. Inisiasi menyusui dini ( IMD ) merupakan program yang sangat gencar dianjurkan pemerintah. Menyusu atau bukan menyusui merupakan gambaran bahwa IMD bukan program ibu menyusui bayi tetapi bayi yang harus aktif menemukan sendiri putting susu ibu. Program ini dilakukan dengan cara langsung meletakan bayi yang baru lhir di dada ibunya dan membiarkan bayi ini merayap untuk menemukan putting susu ibu untuk menyusu. IMD harus dilakukan langsung saat lahir, tanpa boleh ditunda dengan kegiatan menimbang atau mengukur bayi. Bayi juga tidak boleh dibersihkan, hanya dikeringkan kecuali tangannya. Proses ini harus berlangsung skin to skin antara bayi dan ibu. Tahapanya adalah setelah bayi diletakan, dia akan menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya, maka kemungkinan saat pertama kali di dada ibu, bayi belum bereaksi. Kemudian berdasarkan bau yang dicium dari tanganya, ini membantu dia menemukan putting susu ibu. Dia akan merangkak naik dengan menekankan kakinya pada perut ibu. Bayi akan menjilati kulit ibunya yang mengandung bakteri baik sehingga kekebalan bayi dapat bertambah. Dalam IMD ini bayi tidak boleh diberikan bantuan, bayi dibiarkan menyusu sendiri. Manfaat inisiasi menyusu dini (Paramita, rahadian.2008) Untuk ibu : 1. 2. 3. Meningkatkan hubungan khusus ibu dan bayi. Merangsang kontraksi otot rahim sehingga mengurangi resiko perdarahan sesudah melahirkan. Memperbesar peluang ibu untuk memantapkan dan melanjutkan kegiatan menyusui selama masa bayi. 4. Mengurangi stess ibu setelah melahirkan. Untuk bayi : 1. Mempertahankan suhu bayi agar tetap hangat.

2. Menenangkan ibu dan bayi serta meregulasi pernapasan dan detak jantung. 3. Kolonisasi bakterial di kulit dan usus bayi dengan bakteri badan ibu yang normal. 4. Mengurangi bayi menanggis sehingga mengurangi stress dan tenaga yang dipakai bayi. 5. Memungkinkan bayi untuk menemukan sendiri payudara ibu untuk mulai menyusu. 6. Mengatur tingkat kadar gula dalam darah dan biokimia lain dalam tubuh bayi. 7. Mempercepat keluarnya mekonium ( kotoran bayi bewarna hijau agak kehitaman yang pertama keluar dari bayi karena meminum air ketuban ). 8. Bayi akan terlatih motoriknya saat menyusu, sehingga menggurangi kesulitan menyusu. 9. Membantu perkembangan persarafan bayi ( nervous sistem ). 10. Memperoleh kolotrum yang sangat bermanfaat bagi sistem kekebalan bayi. 11. Mencegah terlewatnya puncak reflek menghisap pada bayi yang terjadi 20-30 menit setelah lahir. Jika bayi tidak disusui, reflek akan berkurang cepat, dan hanya muncul kembali dalam kadar secukupnya 40 jam kemudian. B. Landasan Teori Askeb

1. Pengertian Manajemen asuhan kebidanan atau penatalaksanaan kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan, ketranpilan dalam rangkaian atau tahapan yang logis untuk pengambilan suatu keputusan yang berfokus pada klien(varney, 1997 dalam Pusdiknakes, 2003). 2. Manajemen kebidanan menurut varney Manajemen asuhan kebidanan terdiri dari tujuh langkah yang berurutan, sistematis dan saling berkesinambungan. Ketujuh langkah yang dirumuskan oleh Varney (1997) tersebut antara lain : a. Tahap pengumpulan data dasar Pada langkah pertama ini dikumpulkan semua informasi yang akurat dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien. Untuk memperoleh data dapat dilakukan dengan cara : 1) Identitas atau biodata a) Nama bayi b) Nama orang tua c) Tanggal lahir d) Jam lahir

e) Jenis kelamin f)Alamat 2) Riwayat kehamilan a) GPA b) Umur kehamilan c) ANCkali di d) Imunisasi TTkali e) Kenaikan berat badankg 3) Riwayat penyakit keluarga a) Jantung b) Hipertensi c) Diabetes melitus d) Asthma e) Epilepsy f)Hepatitis g) TBC h) Penyakit Menular Seksual 4) Riwayat persalinan a) Kala I b) Kala II c) DJJ d) TBJ e) Warna air ketuban f)Kaput g) Lahir jam h) Nilai pagar 5) Pemeriksaan fisik a) Keadaan umum b) Vital sign c) Berat badan d) Panjang badan e) Lingkar kepala f)Lingkar dada

g) Pemeriksaan Kepala, muka, ubun-ubun, mata, telingga, mulut, hidung, leher, ekstrimitas, genetalia, anus 6) Reflex a) Moro b) Rooting c) Sucking d) Grasping e) Walking f)Tonic neck 7) Eliminasi a) Miksi b) Mekonium 8) Pemeriksaan penunjang laboratorium dada, tali pusat, punggung,

b. Interpretasi data Pada langkah kedua ini data dasar yang telah dikumpulkan di interpretasikan sehingga ditemukan masalah utama dan masalah penyerta. Hasil perumusan masalah merupakan keputusan yang ditegakan oleh bidan yang disebut diagnose kebidanan. Pada langkah ini, bidan mengidentifikasikan diagnose kebidanan berdasarkan data / kondisi terbaru dari pasien yang bersifat gawat daruat ( kemungkinan terburuk yang dapat terjadi pada pasien berdasarkan keadaan sekarang Contoh : 1) Diagnose Contoh : Seorang bayi baru lahir umur, lahir spontan, normal,kondisi baik. Dasar : Jam lahir bayi Jenis persalinan Nilai apgar Pemeriksaan fisik 2) Masalah : Dasar : Apa yang dikeluhkan ibu

3) Kebutuhan : apa yang dibutuhkan ibu

c. Diagnose potensial Pada langkah ini, bidan mengidentifikasi diagnosa potensial berdasarkan diagnose yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, apabila memungkinkan, maka dilakukan pencegahan, sehingga langkah ini sangat penting dalam melakukan asuhan yang aman. d. Tindakan segera Langkah keempat ini mencerminkan kesinambungan dari proses penatalaksanaan

kebidanan, dimana bidan mengidentifikasi perlunya tindakan segera untuk dikonsultasikan atau ditanggani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien. e. Rencana tindakan Menurut Asuhan Persalinan Normal (APN) tahun 2007, rencana asuhan kepada bayi baru lahir antara lain : 1) Lakukan penilaian selintas. 2) Keringkan tubuh bayi . 3) Setelah dua menit, jepit tali pusat dengan klem 3 cm dari pusat bayi, dorong isi tali pusat ke arah ibu dan jepit kembali tali pusat pada 2 cm dari klem pertama. 4) Pegang tali pusat yang telah dijepit dengan satu tanggan dan lakukan pengguntingan tali pusat diantara dua klem tersebut. 5) Ikat tali pusat dengan benang DTT atau steril. 6) Lakukan Inisiasi Menyusu Dini. a) Letakkan bayi tengkurap di dada ibu, luruskan bahu bayi dan usahakan kepala bayi berada diantara payudara ibu dengan posisi lebih rendah dari puting payudara ibu. b) Selimuti bayi dengan kain hangat dan pasang topi di kepala bayi. c) Biarkan bayi merayap untuk menemukan putting susu ibu untuk menyusu. d) Biarkan bayi melakukan kontak kulit ke kulit di dada ibu paling sedikit selama satu jam. 7) Setelah satu jam, lakukan pengukuran antropometri bayi, beri tetes mata antibiotik profilaksis dan vitamin K1 1 mg di paha kiri anterolateral. 8) Periksa kembali bayi untuk pastikan bahwa bayi bernapas dengan baik (40-60 kali per menit) serta suhu tubuh normal (36,50c -37,50c). 9) Berikan Imunisasi Hb1. 10) Lakukan perawatan sehari-hari. f. Implementasi

Merupakan pelaksanaan atas rencana tindakan yang dilaksanakan oleh bidan bersama pasien dan keluarga secara efisien dan aman. g. Evaluasi Mengevaluasi keefektifan asuhan yang diberikan dengan mengulang kembali

penatalaksanaan proses untuk aspek-aspek asuhan yang tidak efektif. Tahap evaluasi digunakan untuk mengukur kemajuan dari hasil tindakan yang telah dilakukan. Semakin banyak hasil dari implementasi dalam evaluasi yang sesuai dengan criteria merupakan indikasi semakin dekatnya keberhasilan yang diharapkan.

Dalam setiap memberikan asuhan kebidanan , kondisi atau keadaan klien harus senantiasa dipantau dengan menggunakan catatan perkembangan sampai klien pulang. Dalam catatan perkembangan, metode pendokumentasian yang digunakan adalah SOAP (Subjektif, Objektif, Analisa, Plan). Soap adalah catatan yang bersifat sederhana, jelas, logis, dan tertulis yang terdiri dari empat langkah, antara lain : a S (Subjektif) Apa yang dikatakan klien tersebut dan atau apa yang dikatakan orang lain atau tim medis yang sebelumnya mengetahui serta mengamati keadaan klien. b O (Objektif) Apa yang dilihat dan dirasakan oleh bidan saat melakukan pemeriksaan. c A (Analisa) Kesimpulan dari data-data subjektif dan objektif tersebut. d P (Plan) Apa yang direncanakan dan dilaksanakan dalam pemberian asuhan sesuai keadaan klien serta mengevaluasi keefektifan dari tindakan yang telah dilakukan.

BAB III TINJAUAN KASUS DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN KASUS I. PENGKAJIAN Tanggal Jam Tempat A. Identitas 1. Nama bayi : Bayi Ny. W : 15 Januari 2009 : 23.15 WIB : Bps.Amanah. Keden, Pedan Klaten

2. Nama orang tua : Ny.W 3. Tanggal lahir 4. Jam lahir 5. Jenis kelamin 6. Alamat : 15 Januari 2009 : 23.10 : laki-laki : Jetis wetan, Pedan

B. Riwayat kehamilan 1. G1PoA0. 2. Umur kehamilan 39 minggu 4 hari. 3. ANC 12 kali di bidan. 4. Imunisasi TT 2 kali. 5. Kenaikan berat badan 10 kg.

C. Riwayat penyakit keluarga 1. Jantung 2. Hipertensi : tidak ada : tidak ada :tidak ada

3. Diabetes mellitus 4. Asthma : tidak ada 5. Epilepsy : tidak ada 6. Hepatitis : tidak ada 7. TBC : tidak ada

D. Riwayat persalinan 1. Kala I 2. Kala II 3. DJJ 4. TBJ : mulai jam 18.00 : mulai jam 23.00 : 144 x/menit, teratur : (31-12)x155 = 2850 gram : jernih

5. Warna air ketuban 6. Kaput 7. Lahir jam

: tidak ada : 23.10

8. Bayi menangis keras. 9. Bayi bergerak aktif. E. Pemeriksaan fisik a. Keadaan umum : baik Kesadaran b. Vital sign Denyut jantung : 120x/menit c. Berat badan d. Panjang badan : 2800 gram : 49 cm S : 36,80C R : 40 x/mnt : CM

e. Lingkar kepala : 34 cm f. Lingkar dada g. Pemeriksaan Kepala tidak ada benjolan, muka tidak odema, konjugtiva tidak anemi, sklera tidak ikterik, telinga tidak ada sekret, tidak ada celah pada bibir, ada lubang hidung, dada simetris, abdomen ada peristaltik, tali pusat segar, lubang anus ada, jari tangan kaki lengkap. Reflex 1. Moro : bayi memeluk ibu saat dilaksanakan Inisiasi Menyusu Dini. : 33 cm

2. Rooting : bayi mencari putting ibu saat dilakukan Inisiasi Menyusu Dini. 3. Sucking : bayi menghisap kuat pada putting. 4. Grasping : tangan bayi bisa mengengam jari ibu. 5. Walking : jari kaki bayi bergerak-gerak saat dipegang. 6. Tonic neck F. Eliminasi : leher bayi menengok kanan-kiri saat dilakukan IMD. : BAB : 1x BAK : 2x

G. Pemeriksaan penunjang laboratorium Tidak dilakukan.

II. INTERPRETASI DATA A. Diagnosa : Bayi Ny.W lahir dengan berat badan 2800 gram, umur 1 hari lahir spontan, masa kehamilan 40 minggu. Dasar : Bayi lahir spontan tanggal 15 januari 2009 jam 23.10 Jenis kelamin : laki-laki Bayi menangis keras dan bergerak aktif BB B. C. : 2800 gram : tidak ada : Lingkungan yang hangat PB : 49 cm

Masalah Kebutuhan

Nutrisi yang cukup

III. DIAGNOSA POTENSIAL Tidak ada IV. TINDAKAN SEGERA Tidak ada V. PERENCANAAN a. b. c. d. e. f. g. h. i. Lakukan penilaian selintas pada bayi. Beritahu ibu dan keluarga keadaan bayi. Pertahankan suhu tubuh bayi agar tetap hangat. Potong dan rawat tali pusat. Lakukan IMD pada bayi. Lakukan penimbagan/pengukuran pada bayi. Berikan salep mata. Injeksi vit,K Intramuskular di paha kiri anterolateral. Imunisasi Hepatitis B Intramuskular di paha kanan anterolateral.

VI. PELAKSANAAN Tanggal 15 januari jam 23.15 Wib

a. b. c. d.

Melakukan penilaian selintas apakah bayi menangis kuat dan bergerak aktif. Memberitahu ibu dan keluarga keadaan bayi. Meletakan bayi di dada ibu. Mengeringkan tubuh bayi dengan halus tanpa membersihkan vernik, mulai dari muka, kepala, dan bagian tubuh bayi yang lainya kecuali bagian telapak tangan.

e. f. g. h.

Memakaikan topi dan menyelimuti tubuh bayi agar tetap hangat. Menganjuran ibu mendekap bayinya. Memotong tali pusat dan membungkus dengan kasa steril. Melakukan IMD.

Tanggal 15 Januari jam 00.15 i. j. k. l. Menimbang berat badan bayi. Mengukur tingggi badan, lingkar kepala dan lingkar lengan bayi. Memberikan salep mata oxytetrasiklin. Menginjeksi vit.K (1 mg) Intramuskular di paha kiri.

m. Tanggal 16 januari jam 01.15 n. o. Menggedong bayi. Memberikan Imunisasi Hepatitis B Intramuskular di paha kanan.

VII. EVALUASI Tanggal 15 Januari jam 01.20 Wib a. b. c. Ibu dan keluarga mengetahui bahwa keadaan bayinya sehat. Bayi berada di dada ibu, diselimuti dan dipakaikan topi untuk dilakukan IMD. Tali pusat sudah dipotong dan dibungkus kasa steril. Tanggal 15 Januari jam 00.15 Wib d. e. f. g. Bb : 2800 gram Pb : 50 cm Lk/Ld : 33/34

Salep mata sudah diberikan. Vit. K dan imunisasi Hepatitis sudah diinjeksikan.

Bayi di gedong dan diletakan disamping ibu.

CATATAN PERKEMBANGAN Tanggal 16 Januari jam 08.00 Wib S : ibu mengatakan bayinya sudah menyusu kuat. BAB : 1x BAK : 2x

Bayi tidak rewel. O : bayi terlihat puas saat menyusu ibu. Suhu : 36.90c pernafasan : 30x/menit

A : Bayi Ny.W umur 1 hari dengan berat lahir 2800 gram, sehat. P : Tanggal 16 Januari 2009 jam 08.00 Wib Anjurkan ibu untuk tetap memberikan ASI kepada bayinya tanpa Berikan informasi kepada ibu tentang ASI Eksklusif. Mandikan bayi I : Tanggal 16 januari 2009 jam o8.05 Menganjurkan ibu untuk tetap menyusui bayinya minimal tiap 2 jam. Memberikan informasi kepada ibu tentang ASI Eksklusif. Memandikan bayi. E : Tanggal 16 Januari 2009 jam 08.15 Ibu bersedia memberikan ASI minimal tiap 2 jam. Ibu paham dan mampu mengulang manfaat ASI Eksklusif. Bayi sudah dimandikan, digedong dan disusui ibu. jadwal..

PEMBAHASAN

Pada bab ini akan dibandingkan antara teori yang ada tentang bayi baru lahir dan manajemen asuhan kebidanan pada bayi baru lahir di BPS. Amanah, keden, Pedan. Dalam

pembahasan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir ini, penulis membahas sesuai tahapan kebidanan 7 langkah menurut Varney. 1. Pengkajian Pengkajian merupakan tahap awal dalam memberikan asuhan kebidanan. Pengkajian dibuat secara teliti dan sistematis untuk menegakan diagnosa, masalah dan kebutuhan. Dalam pengkajian, pemeriksaan. Dari pengkajian di atas, penulis tidak menggunakan penilaian Apgar Score melainkan hanya mengunakan penilaian selintas yaitu bayi menangis keras dan bergerak aktif. Penilaian selintas digunakan agar lebih efektif dan efisien. Bayi menangis kuat menunjukan bahwa paruparunya telah bekerja. Dan bayi yang bergerak aktif menunjukan refleknya baik. Hasil observasi dan pemeriksaan bayi Ny.W sesuai dengan teori menurut Prawiroharjo, sarwono. 2002 tentang tanda-tanda bayi baru lahir normal. Hal ini menunjukan bahwa bayi Ny. W tidak terjadi kegawatan. 2. Interpretasi data Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosa dan masalah berdasarkan interpretasi yang benar atas data yang dikumpulkan. Pada asuhan kebidanan bayi baru lahir ini dapat dirumuskan diagnose Bayi Ny.W lahir dengan berat badan 2800 gram, umur 1 hari lahir spontan, masa kehamilan 40 minggu. Tidak ditemukan adanya masalah. Kebutuhan bayi baru lahir adalah lingkungan yang hangat untuk mencegah hipotermi pada bayi. Nutrisi yang cukup untuk mencegah hipoglikemi. 3. Diagnose potensial Diagnose kegawatan. 4. Tindakan segera Tindakan segera tidak dilakukan. 5. Perencanaan Merencanakan asuhan merupakan penanganan dari diagnosa, masalah dan kebutuhan yang ada sesuai dengan data yang diperoleh. Dalam penanganan bayi baru lahir terdapat perbedaan antara teori Mochtar, Rustam. 1998 dan asuhan bayi baru lahir di Bps. Amanah diantaranya yaitu tentang perawatan bayi baru lahir. tidak ditegakan karena tidak ada yang menunjukan adanya data diambil berdasarkan wawancara dengan keluarga, observasi dan

Menurut Asuhan Persalinan Normal 2008, pembersihan lendir pada mulut, hidung, dan mata saat kepala keluar tidak dilaksanakan lagi karena penghisapan lendir di dalam mulut dapat merusak selaput lendir hidung dan dapat meningkatkan resiko infeksi pernapasan. Mengeringkan tubuh bayi tanpa membersihkan vernik akan membantu menghangatkan tubuh. Sedangkan bau cairan amnion pada tangan bayi juga membantu bayi mencari putting ibunya yag berbau sama. Menurut Mochtar, Rustam. 1998 bayi dimandikan dan dibersihkan dengan air hangathangat kuku dari lumuran darah, air, ketuban, mekonium, dan vernik kaseosa segera setelah lahir. Hal ini berbeda dengan APN 2008 yaitu memandikan bayi 6-24 jam setelah bayi lahir untuk mencegah terjadinya hipotermia. Sedangkan menurut Prawiroharjo, Sarwono 2002 bila tali pusat belum puput pada waktu bayi berumur 6-7 hari, maka setiap sesudah mandi tali pusat harus dibersihkan dan dikeringkan dengan betadin atau alcohol 70 %. Hal ini berbeda dengan penanganan bayi baru lahir menurut APN 2008, yakni tidak dianjurkan mengoles ataupun menggompres putung tali pusat dengan betadin iodium atau alcohol 70 %. Karena pengunaan antiseptik menyebabkan tali pusat semakin lembab. 7. Pelaksanaan Pada tahap ini penulis melaksanakan semua rencana asuhan kebidanan dan rencana yang sesuai dengan kebutuhan pada bayi baru lahir 6. Evaluasi Evaluasi merupakan bagian dari proses asuhan kebidanan untuk melaksanakan penilaian apakah asuhan kebidanan telah tercapai keseluruhan, sebagian atau sama sekali Setelah penulis melaksanakan asuhan kebidanan bayi baru lahir di atas kemudian diperoleh evaluasi bahwa keseluruhan rencana asuhan kebidanan telah tercapai.