Anda di halaman 1dari 202

I. PENGERTIAN 1.

SURVEY Survey adalah pekerjaan yang paling penting dalam suatu perencanaan SUTT karena survey akan menentukan jalur yang akan dilalui SUTT 2. ROUTE Route adalah jalur yang sudah ditentukan dengan patok patok sepanjang route Jalur yang menghubungkan dua tempat yang paling ekonomis adalah jalur yang lurus , mengingat keadaan tanah gunung , sungai dan tempat-tempat yang tidak boleh dilalui maka jalur tersebut akan berbelok-belok. Dalam praktek untuk memilih route kita akan dihadapkan dengan beberapa masalah , salah satu diantaranya adalah sudut belokan , ini adalah termasuk dalam perhitungan penentuan route Dalam menentukan route kita akan menemukan Danau , Bukit , Batukarang , Sungai , karena pada tempat tersebut tidak mungkin didirikan tower oleh karena itu kita harus mencari tempat yang seekonomis mungkin untuk menempatkan tower sehingga terhindar dari kondisi tersebut, penentuan jalur dengan cara : Pemberian tanda Pemetaan Jarak jarak horisontal Perbedaan tinggi

3. PROFIL PLOTING Menggambarkan secara lengkap keadaan medan Transmissi Keadaan rumah Pepohonan Jalan Persilangan dengan transmissi yang lain Pipa bawah tanah

Rel Kereta api Sungai Batu karang , tebing , bukit yang mungkin dilalui transmisi Perencanaan tinggi tower dan tinggi konduktor

4. TOWER PEGGING Pemberian tanda dimana tower akan didirikan , dalam pemberian tanda ini harus hati hati karena kesalahan dalam pemberian tanda akan menimbulkan banyak kesulitan 5. CROSS DIAGONAL SECTION

Kondisi tanah , letak tiang , datar atau miring Luas tanah yang dibutuhkan Menggambarkan keadaan tanah sehingga dapat menentukan kaki tiang

6. TOWER SCHEDULE Daftar nomor tiang Daftar type tiang Daftar kaki tiang dan tingginya Daftar type pondasi Daftar jenis tiang Daftar isolator Daftar jarak tiang dengan tiang berikutnya
2

Daftar perlengkapan untuk kebutuhan tiap tiap tiang

7. SOIL INVESTIGATION Mengadakan penyelidikan keadaan tanah 8. ROUTE CLEARING Penebangan pohon , pembongkaran rumah Dll . sehingga route tersebut betul-betul bebas untuk SUTT 9. ACCES ROAD Jalan menuju lokasi tiang untuk pengangkutan: Perlengkapan penarikan Material tiang dan ponadsi

10. EXCAVASI Adalah penggalian untuk pondasi

Berapa luas tanah yang dipergunakan untuk keperluan tiang tersebut Menentukan patok-patok untuk ponadsi Menentukan titik-titik patok untuk penggalian tiap pondasi

11. LEG EXTENTION Pada keadaan tanah datar kaki tiang sama panjang tetapi bila keadaan tanah miring maka kaki tiang tidak sama, yang akan mengikuti permukaan tanah dengan referensi senter tower . 12. LEVELLING Level pondasi pada tanah datar adalah sama dengan toleransi maksimum 1 cm tetapi pada tanah yang miring memerlukan ketelitian karena level pondasi tidak sama 13. BASE Dasar tiang bagian bawah

14. STUB Baja yang ditanam dalam pondasi Stub disambung dengan leg extention , leg extention adalah kaki tiang yang disambung dengan seluruh body extention

STUB

15. SETTING LEVELLING Level pemasangan dengan toleransi 1 mm , level leg extention harus sama dengan level stub dengan toleransi 1 mm lebih dari 1 mm tidak baik dan akan mengalami kesulitan dalam erection

LEVEL

LEVEL

Setelah stub betul levelnya maka baru dilaksanakan pengecoran pondasi

16. PONDASI Pondasi adalah bangunan yang menyangga suatu konstruksi yang berada diatasnya. Masalah pondasi kita harus mengetahui lebih dalam, tentang pondasi yang akan dibuat . dan komposisi material yang akan dipergunakan , pasir , semen , dan kerikil , air.

17. FORM WORK CONCRATE ( CETAKAN BETON ) Cetakan beton sesuai dengan type pondasi Tanah urug ( Back Filling ) , setelah 24 jam cetakan bias dibuka dan segera di urug 18. TOWER Tower adalah suatu konstruksi besi siku yang dipergunakan untuk menyangga konduktor. Pekerjaan tower : Transportasi : Pengankutan material tower kelokasi dengan tower yang cukup berat Assembling : Perakitan bagian bawah tower sebelum dipasang (hanya sebagian kecil) Erection : Penyetelan tower pada pondasi setelah selesai dirakit dibawah Stringing : Penarikan kawat Penentuan penempatan aspel konduktor dan aspel kawat tanah yang berpedoman pada profile keadaan tanah sehingga mudah untuk menempatkan mesin penarik , bila tidak memungkinkan maka lokasi harus dirubah.

Pulley Block Insulator : Montage roll yang akan dipasang harus disesuaikan dengan diameter konduktor yang akan ditarik. 19. PULLING OUT Pelaksanaan penarikan konduktor dan kawat tanah untuk pelaksanaan stringing. 20. SAGGING Pengaturan lendutan kawat Jarak dari kawat tersebut bila ditegangkan dan jarak kawat dari tanah sehingga dapat menentukan harus berapa tarikan yang harus dilakukan.

SAG GROUND CLEARANCE

Setelah selesai di sagging kemudian dilakukan Clamping dengan memasang suspension clamp.

21. SPACING Pemasangan spacer untuk mengikat kawat dimaksudkan agar supaya pergerakan kawat bundle dapat bersama-sama ( seirama ) juga berfungsi sebagai peredam getaran kawat . Jumlah spacer tergantung dari jarak gawang . 22. ACCESSORIES Plat nomor tower ( monitoring ) Damper Arcing Horn dan lain-lain

23. REVISION Pengecekan ulang 24. EARTHING Pemeriksaan pentanahan , bila tidak ada agar dipasang . untuk menyalurkan tegangan lebih pada tower ke tanah. 25. FINAL REVISION Pengechekan terakhir dengan perlengkapannya 26. GROUND RESTORAT Pemeriksaan dibawah SUTT harus betul-betul bersih 27. TAKING OVER Penyerahan dari Proyek ke PLN dalam hal ini setelah dilakukan pemeriksaan bersama.

II. BAGIAN BAGIAN DARI TRANSMISSION LINE 1. TOWER Tower adalah konstruksi besi siku dengan syarat-syarat yang dapat memikul beban konduktor yang cukup berat sesuai dengan konduktor yang akan dipergunakan. Jenis-jenis tower : Piramid Tower Portal Tower Guyed tower dimana tower tersebut hanya diperkuat dengan kawat skur 2. CONDUCTOR Konduktor adalah suatu media untuk mengalirkan daya listrik, setiap fasa dapat berupa 1,2,3, konduktor dan apabila untuk setiap fasa terdiri lebih dari dua konduktor maka disebut Bundle Conductor.

Mantel terbuat dari kawat Aluminium

Inti dari kawat baja

Konduktor adalah media yang mampu mengalirkan energi listrik , dalam hal konduktor ACSR energi listrik disalurkan melalui kawat Aluminium , sedangkan inti baja berfungsi sebagai penguat untuk menarik pada konduktor terserbut. Diameter kondotor mulai dari 10 , 50, 100 mm dan seterusnya. Dalam penggunaan konduktor dapat dengan sistem bundle untuk diameter tertentu karena bila menggunakan satu konduktor dengan diameter yang besar akan mengalami kesulitan teknis. 3. INSULATOR Fungsinya adalah sebagai penyekat antara bagian konduktor yang bertegangan dengan tower yang diketanahkan. Permukaan isolator dibuat berlekuk lekuk yang maksudnya untuk menghindarkan air hujan jangan sampai menghubungkan bagian yang bertegangan dengan tower yang ditanahkan akibat dari air hujan. Jumlah isolator tergantung dari tegangan sistem yang dipergunakan. Tegangan semakin tinggi semakin banyak isolator yang dipergunakan dalam satu rangkaian untuk mendapatkan jarak yang cukup untuk menghidarkan terjadinya lompatan api listrik.

10

Untuk daerah yang berkabut misalnya daerah pantai dipergunakan jenis isolator anti fog dan untuk daerah yang kering dipergunakan jenis isolator normal Diameter isolator bermacam-macam tergantung tegangan kerja yang dikenakan makin tinggi tegangan sistem makin besar diameter isolator.

4. FITTING Fitting adalah seluruh material yang dipergunakan untuk mengikat atau memegang sepanjang penghantar yang berhubungan dengan penyaluran tenaga listrik. 5. JOINT Joint adalah penyambungan , mengingat panjang konduktor dalam haspel hanya beberapa meter sedangkan panjang SUTT cukup jauh maka konduktor perlu disambung. Pertama penyambungan antara inti baja dengan inti baja kemudian di press kemudian baru aluminiumnya. 6. SUSPENSION SET Adalah perlengkapan untuk memegang konduktor agar tidak jatuh , suspension klem ini terdiri dari beberapa bagian . 7. SPACER Spacer adalah pengikat antara konduktor dalam satu fasa pada penghantar bundle , jumlah spacer tiap gawang tergantung jarak gawang dan jenis konduktor. 8. DUMPER Dunper berfungsi untuk mengurangi getaran pada suspension clamp akibat tiupan angin , karena apabila getaran tersebut tidak dikurangi akan dapat mengakibatkan kerusakan konduktor pada suspension clamp.

11

9. PROTECTION RING Protection ring adalah untuk menghindarkan terjadinya loncatan api listrik akibat kelebihan muatan sehingga loncatan api listrik terjadi antar protective ring bukan antara konduktor dengan tiang melalui permukaan isolator. 10. JUMPER Jumper adalah konduktor penyambung pada tower tension 11. MONITORING Monitoring adalah terbuat dari suatu plat yang menggambarkan susunan kawat fasa , nomor tower , nilai tahanan tanah , tanda bahaya . 12. EARTHING GROUNDING Earthing grounding adalah konduktor yang menyambungkan antara tower ke tanah pemasangannya mutlak diperlukan karena apabila tower tersambar petir dapat langsung diketanahkan sehingga tidak membahayakan manusia dan tidak menimbulkan gangguan.

Tower Gulungan kawat

pipa

Type Earthing Grounding tergantung pada keadaan tanah , karena setiap jenis tanah mempunyai tahanan tanah yang ber beda-beda,

12

13. TYPE TOWER Untuk jalur yang lurus dipergunakan jenis tower pikul atau suspension tower dan diperbolehkan dengan sudut belokan yang kecil sampai dengan 2 o sedangkan untuk tower penegang atau tension tower dipergunakan untuk belokan dari 0 o s/d 60o tol dan sesuai dengan kebutuhannya. Jenis Dead End Dipergunakan untuk tiang terakhir dimana konduktor berikutnya masuk ke Switch yard . Jenis Special Suspension Tower Jenis tower ini merupakan jenis tower suspension yang diperkuat dan dipergunakan untuk sudut belokan antara 0o s/d 5o . 14. EARTH WIRE Fungsi kawat petir adalah untuk melindungi konduktor dari sambaran petir langsung , sambaran petir yang mengenai kawat petir disalurkan langsung kebumi. Kawat petir dipasang pada bagian paling ujung dari tower , kawat petir terbuat dari kawat baja yang di Galvanis , yang dihubungkan langsung dengan tower , dan tower dihubungkan langsung dengan tanah. Sudut perlindungan petir yang paling ideal adalah 0o dan sudut maksimum adalah 30o . Untuk memperluas daerah perlindungan maka kawat petir diletakan pada bagian tertinggi (ujung tower) D1 / H1 = tan 15 D2 / H2 = tan 15 D3 / H3 = tan 15
o o o

dan

juga dipergunakan untuk jalur yang lurus , misalnya dekat sungai , crossing dengan jalan

13

30 o D1

H1

H H3

H2 D2 D3

30o Daerah perlindungan

15. 1ELECTRICAL CLEARANCE Electrical Clearance adalah jarak paling aman dari konduktor , electrical clearance ini harus dipertimbangkan besarnya simpangan kekiri dan kekanan oleh gaya transversal yang menyebabkan konduktor tersebut bergoyang , simpangan tersebut membentuk sudut simpangan sebesar 15 kekiri dan kekanan , Besarnya electrical clearance juga tergantung dari besarnya tegangan transmisi.
o

14

30 o

III. FOUNDATION Pondasi adalah suatu bangunan untuk membuat suatu tower dapat didirikan Gaya yang bekerja pada pondasi adalah : 1 . Gaya angin 2 . Gaya berat 3. Gaya tarik Konduktor pada pondasi harus dibuat kuat karena kalau tidak kuat tower tersebut akan roboh , pada pondasi akan bekerja tiga macam gaya yaitu : a, Gaya vertikal yang disebabkan oleh berat konduktor dan fitting dan beratnya tower itu sendiri
15

b. Gaya transversal yang disebabkan oleh adanya tiupan angin c. Gaya tarikan konduktor yang dirasakan sepanjang konduktor. Pondasi adalah bangunan yang berada dibawah tanah yang kekuatannya dipengaruhi oleh keadaan tanah dimana pondasi tersebut didirikan, jenis-jenis tanah adalah sebagai berikut tanah normal tanah berlumpur tanah berpasir tanah berbatu

PONDASI

Tradisional Normal

Special

Rock Raft Pondation

Auger

Rock Drilled

Pile Reinforcing Rods

Type pondasi dibuat sesuai keadaan tanah .

16

1. NORMAL FOUNDATION
Chimney Plinth Slub Stub

Pondasi ini digunakan bila keadaan tanahnya normal Keadaan tanah dikatakan normal apabila Bearing Capacity ( Kemampuan tanah menahan berat ) atau sering juga disebut Sigma Tanah adalah kurang lebih 2 Kg /Cm 2 .

17

Ukuran H dan L tergantung dari type tower, juga tergantung dari gaya vertikal. Untuk pondasi tower transmisi tegangan 70 Kv , 150 Kv dan 500 Kv untuk pondasi jenis normal adalah sama hanya ukurannya yang berlainan. 2. SPECIAL FOUNDATION Pondasi ini dipergunakan untuk keadaan tanah yang lembek . Untuk pondasi jenis ini tidak perlu tinggi tinggi namun harus lebar , untuk menjaga agar tower tidak roboh maka Lx L = L2 harus luas

18

Untuk pondasi jenis ini bila keadaan tanahnya lembek yang pada umumnya Bearing Capacitynya rendah sekitar 0,5 Kg / Cm kecil. 3. ROCK FOUNDATION Jenis pondasi ini digunakan pada daerah yang berbatu-batu dimana tanah didaerah tersebut mempunyai bearing capacity > 5Kg / Cm 2 . Untuk pondasi jenis ini H dan L tidak perlu sebesar pondasi normal ( lebih kecil dari pondasi normal ) karena kondisi tanah yang keras maka penggaliannya tidak teratur. Pada pondasi jenis ini Chimney tidak perlu tinggi-tinggi antara 30 s/d 50 Cm hanya untuk membungkus besi Stub agar tidak karatan. Untuk itu semua pondasi dicor.
2

sehingga daya tahan terhadap berat cukup

Perbadingan volume penggalian antara pondasi Normal , Special , Rock

Luas penggalian pondasi Special Luas penggalian pondasi Rock Luas penggalian pondasi Normal

19

4. RAFT FOUNDATION Jenis pondasi ini digunakan untuk daerah yang keadaan tanahnya sangat lembek dan berair , untuk jenis raft ketinggian pondasi kurang lebih 50 Cm namun L x L = L 2 cukup luas dan lebih besar dari pondasi special jadi seperti rakit dan seolaholah pondasi tersebut mengambang.

Kirakira sepuluh tahun terakhir ini sudah dipikirkan bagaimana membuat pondasi untuk tower transmisi yang cukup effisien , hal ini disebabkan karena hal hal sebagai berikut masalah transportasi masalah biaya masalah waktu penyelesaian Jenis pondasi normal kira-kira volumenya 20 m 3 . Jenis pondasi special kira-kira volumenya 60 m 3 .

Karena dari volume pondasi yang cukup besar


-

20

Jenis pondasi rock kira-kira volumenya 10 m 3 . Jenis pondasi raft kira-kira volumenya 100 m 3 , dan dapat lebih besar lagi

Maka diciptakan jenis pondasi yang dinamakan jenis Auger. 5 . AUGER FOUNDATION Jenis pondasi ini diciptakan karena kondisi medan yang cukup sulit sehingga dipikirkan bagaimana caranya agar pondasi tersebut mudah mengerjakannya , rendah biayanya serta cepat penyelesaiannya, pondasi jenis Auger ini sebagai pengganti type normal. Untuk membuat pondasi jenis auger ini dibuat lobang dengan ukuran dalam 1 meter

Slub

Kolom

lebar dan panjang 2 meter , kemudian dibor dengan jumlah lobang pengeboran antara 1,2,3,4,5,6,7 dst, dengan kedalaman antara 8 s/d 10 meter dan diameter lobang antara 30 s/d 40 centi meter , penggalian bagian atas hanya untuk Chimney saja dan pengecoranya sangat kecil kira-kira 2 m3 .

21

Pondasi jenis ini sangat kuat karena adanya gaya gesek antara pondasi dengan tanah disekitarnya , dan ekonomis.

PEMBESIAN PONDASI JENIS AUGER

Untuk menggabungkan semua kolom agar menjadi satu kesatuan maka digabung dengan slub, setelah kolom diadakan pembesian kemudian dilakukan pengecoran kemudian digabungkan menjadi satu dan dicor sehingga terbentuklah slub. 6. ROCK DRILLED FOUNDATION Jenis pondasi ini adalah merupakan perbaikan dari type Rock , pondasi ini dibuat dengan membuat beberapa lobang dengan diameter 10 cm dan kedalaman antara 6 s/d 10 meter cara membuat lobang dengan menggunakan peralatan yang disebut Jack Hammer Setiap lobang diadakan pembesian dan hanya diberi satu batang besi beton dan pada setiap batang diberi cabang-cabang yang dilas untuk menjaga agar batang besi beton tepat ditengah-tengah .

22

Setelah pembesian kemudian dilakukan pengecoran dengan semen cair dan sedikit pasir dan juga menggunakan Vibrator, yaitu alat untuk memadatkan semen agar tidak terjadi rongga , hal ini sangat penting karena diameter lobang hanya 10 cm.

PEMBESIAN PONDASI JENIS ROCK DRILLED

Pengecoran tidak menggunakan concrate karena concrate terdapat kerikil kerikil yang dapat mengakibatkan rongga-rongga , setelah pengecoran kemudian dilakukan penggabungan menjadi satu kesatuan dengan slub, dan Chimneynyapun sangat kecil. Pondasi jenis ini sangat kuat bagaikan pohon dengan akar-akar yang menancap sangat kuatnya disamping itu biayanya sangat ekonomis , mudah pengerjaannya dan transportasinya ringan. Dari keenam jenis pondasi ini semuanya tergantung dari keadaan tanah , sedangkan pada type spesial masih ada pengembangannya yaitu yang disebut Special Pile

23

7. SPECIAL PILE FOUNDATION Jenis pondasi ini merupakan pengembangan dari jenis pondasi special , pondasi ini dibuat dari concrate dan dibuat terlebih dahulu ( dicetak ) dengan penampang bujur sangkar dengan ukuran 30 x 30 atau 40 x 40 atau berpenampang lingkaran dengan diameter 30 s/d 40 cm.

CONCRATE (BETON) CETAKAN

Setelah cukup keras kemudian dipancang kedalam tanah dengan menggunakan hammer. Setelah terpancang semua kemudian digabung menjadi suatu kesatuan oleh slub. Jenis pondasi dibuat demikian karena keadaan tanah yang lembek. Untuk kondisi tanah yang labil jenis pondasi ini juga sering digunakan dengan kedalaman lebih dari 10 meter dengan cara cetakan beton tersebut disambung, yaitu dengan cara setelah batang pertama dipancang sampai masuk semua kedalam tanah kemudian

24

disambung batang berikutnya dengan plat besi dan dilas , dan dipancang lagi sampai mencapai tanah yang stabil

PONDASI JENIS SPECIAL PILE

Banyak macam jenis pondasi sehingga banyak pula jenis stub tergantung dari keadaan tanah dan jenis pondasi , stub mempunyai banyak ukuran , stub adalah bagian paling bawah yang ditanam dalam concrate. IV. PEMBESIAN Untuk semua pondasi dibutuhkan pembesian yang akan dicor, pembesian ini diperlukan terutama pada ukuran sbb : a) Bila a/b < 1

25

b)

Bila sudut kemiringan lebih kecil dari 45o

Pembesian untuk keadaan tersebut diperlukan karena bila tidak diadakan pembesian pondasi tidak akan kuat dan akan membahayakan .

Syarat pembesian :

1. Pembesian pada Special Pondasi

a<1 b a b

< 45 o

Karena H/L < 1 disamping itu juga kemiringan < 45

maka diperlukan pembesian

tanpa pembesian pondasi tersebut akan pecah karena beban yang disangga lebih dari sepuluh ton, untuk pondasi normal dapat tidak menggunakan pembesian karena pada umumnya plinth selalu dibuat lebih besar dari 45 sehingga pondasi tidak pecah, juga a/b > 1
26
o

disamping itu juga slub cukup tebal

2. Pembesian pada Raft foundation

Karena a/b < 1 maka diperlukan pembesian tanpa pembesian pondasi tersebut akan pecah , untuk pondasi jenis Rock dapat dibuat tanpa pembesian karena a/b = 1 sehingga tanpa pembesian pondasi tersebut tidak akan pecah.

27

. 3. Pembesian pada Pondasi Auger

28

Pada pondasi Auger karena diameter kolom antara 30 s/d 40 cm sedangkan panjang kolom adalah antara 800 s/d 1000 cm atau a/b = 30/800 << 1 (kecil ) maka diperlukan pembesian. 4. Pembesian pada Pondasi Rock Drilled

29

Pada pondasi rock drilled perlu dilakukan pembesian karena a/b = 50/100 < 1

Batang besi dengan diameter 20 mm

V. ROUTE Untuk menentukan route suatu transmisi maka dilakukan langkah-langkah sebagai berikut 1. Langkah pertama untuk menentukan route adalah dengan cara memperkirakan letak route dengan melihat pada peta 2. Langkah kedua adalah dengan menghubungi pihak berwenang mengenai route dan juga mengadakan pendekatan kepada masyarakat untuk mendapatkan persetujuan , bila tidak mendapatkan persetujuan maka route harus dipindahkan ( pilih yang lain ) dan merevisi route yang telah direncanakan , dalam menentukan route walaupun berbelok-belok tetapi dipilih route yang paling menguntungkan , Jalur terbaik bagi route suatu transmisi adalah jalur yang lurus , tetapi dikarenakan keadaan medan

30

maka jalur transmisi yang lurus sulit dilaksanakan , oleh karena itu jalur transmisi terbagi menjadi seksi-seksi jalur lurus.

B
A5

A3

A2

A
A4 A1

Dari peta dapat ditentukan route tersebut akan melalui daerah mana karena dari peta dapat diketahui letak kota , jalan raya, rel kereta api , sungai , bandara, transmisi yang sudah ada, dan bangunan penting lainnya.

3. Langkah ketiga adalah setelah mendapat persetujuan

yaitu dengan terjun

kelapangan untuk memberi patok tanda ( Pegging ) sepanjang route yang akan dilalui dimana tower akan didirikan , pemberian tanda patok adalah pada seksi pertama dari T ke A1 dilihat dengan tachometer , satu seksi ini bisa 1 km , 5 km , 10 km dst. Cara pengukuran adalah tentukan patok pertama dilihat dari titik T kemudian pindah ke patok No 1 yang telah ditancapkan untuk menentukan patok berikutnya dengan referensi titik T yaitu dengan melihat kebelakang demikian pula dengan patok No.3 kita pindahkan instrumen ketitik patok No.2 dengan melihat patok No 1 kemudian menentukan patok No.3 dan seterusnya. Tanda harus tetap terlihat , cara penandaan sedemikian karena kita tidak dapat patok de\idepan , maka harus melihat kebelakang agar antara titik T ke A1 tetap lurus.

31

Dalam praktek titik A1 tidak selalu terlihat dari titik T tergantung keadaan medan untuk itu dibedakan menjadi tiga keadaan medan : 1. Titik A1 dapat dilihat langsung dari titik T 2. Titik A1 dapat dapat dilihat dari titik tertinggi yang ada diantara titik T dan A1 3. Titik A1 sama sekali tidak dapat dilihat dari titik T

A1

1 T

10 A1

Jarak antara patok adalah bervariasi antara 100 m , 200 m , 250 m dst.

Kesalahan Pengukuran Dalam pratek pengukuran sering terjadi kesalahan ukur yang disebabkan oleh kesalahan pengukuran maupun kesalahan alat ukur , untuk itu ada cara agar kesalahan itu tidak terjadi , misalkan kesalahan ukur pada alat sebesar 5 cm maka semakin jauh dan semakin banyak patok semakin besar kesalahannya , sehingga makin banyak patoknya semakin besar kesalahan yang timbul. Untuk mengatasi terjadinya kesalahan tersebut dilakukan cara-cara sebagai berikut : Pertama-tama kita tentukan patok No.1 setelah didapat patok No.1 dari patok No.1 kita melihat kebelakang (T) Kemudian melihat patok No.2 , kesalahan misalkan ada disebelah kanan , beri patok sementara pada titik tersebut , setelah itu instrumen kita putar 180 o sehingga menghadap kebelakang kemudian kita balik menghadap kedepan dan kesalahan

32

pengukuran ada disebelah kiri kemudian diberi patok sementara , dari kedua patok sementara itu kita ambil tengah-tengah yang merupakan letak patok yang sebenarnya (patok yang kita inginkan) Begitulah selanjutnya sehingga kita mendapatkan patok-patok yang lurus .

1 T

A1

5 cm = ( n +1 )nx
2

= kesalahan ukur
x= kesalahan alat ukur n= jumlah patok

10 cm

30cm

4
Patok sementara

A1
5 cm 5 cm

Patok yang diinginkan Patok sementara

1. Bila keadaan medan dapat melihat dari titik T ketitik A1 pengukuran dapat mudah dilakukan tetapi dengan cara-cara seperti diatas agar letak patok tetap lurus 2. Bila keadaan medan tidak memungkinkan untuk melihat langsung maka dicari titik tertinggi agar dapat melihat titik T dan titik A1 Setelah didapat titik tertinggi maka dicari titik-titik yang benar dengan cara memindah-mindah titik tersebut pada satu garis A-B dengan cara dicoba-coba antara kiri kanan titik yang kita inginkan , dalam hal menentukan titik tertinggi ini , bila terjadi kesalahan antara 2 - 3 cm itu tidak menjadi masalah karena kita hanya

33

menentukan satu titik, kemudian menentukan titik-titik ( patok-patok ) seperti cara diatas agar tidak terjadi kesalahan .

T A

A1

A1

3. Bila keadaan medan tidak memungkinkan sama sekali untuk melihat titik T dan A1 maka dibuatlah patok-patok sementara. Dalam praktek keadaan medan 99% ditemui seperti ini

A1

A1

d
d
D

= tg

D A1

kecil sehingga tg sin

34

Biarpun mengalami kesalahan tetap saja patok-patok sementara itu ditancapkan setelah selesai pemberian tanda sementara kemudian diukur besarnya kesalahan antara A1 - A1 (misal 101,25 m) dan jarak antara T A1 = (misal 6345,5 m) dari pengukuran ini dapat kita tentukan sudut . Jadi 101,25 = 6345,5 sin sin = 101,25/6345,5 sehingga = . . . .

Setelah ditentukan sudut kemudian kita tentukan letak titik patok No.1 yang sesungguhnya dari titik awal ini kita dapat melakukan pengkuran dengan tepat seperti cara-cara diatas . Setelah selesai pemberian tanda pada seksi pertama kita lanjutkan keseksi kedua , bila kita ingin memulai seksi berikutnya maka ditentukan besarnya sudut yaitu dengan cara menempatkan instrumen tersebut pada titik A1 kemudian melihat

0 18

A2
180o

A1

35

kebelakang dan putar 180o kemudian ditambah sudut yaitu ( 180 o + ) demikian selanjutnya Perlu diingat instrumen biasanya menggunakan satuan centi cimal ( perseratus) maka dari derajat harus diubah menjadi centi cimal. Pemberian Tanda Pemberian tanda adalah sangat penting sekali karena bila terjadi kesalahan akan berakibat fatal dan juga perlu diperhatikan pemberian nomor pada setiap tanda harus benar-benar teliti karena bila terjadi kesalahan dalam pemberian tanda nomor akan berakibat pula salah dalam pendirian tower.

A3
5 3 2 1 4 6 7

A1

A2
9 10 11

12

13

14

15 16 17 18 19

A4

T
Untuk menjaga agar patok aman maka pada titik-titik tertentuharus digambar dalam monographi agar bila patok tersebut hilang atau ada yang memindahkan dapat ditentu kan kembali letak yang benar. patok Untuk itu diperlukan paling sedikit tiga referensi misal jarak dari pohon 6,5 m , jarak dari sudut rumah 5 m , dan jarak dari tiang listrik 4 m Bila patok tersebut hilang maka kita dengan mudah menentukan kembali letak patok dengan benar.

Untuk menentukan letak patok yang hilang atau dipindah orang maka dilakukan langkahlangkah sebagai berikut : 1 . Kita ukur 6,5 meter dari pohon kemudian dilingkarkan

36

2 . Kita ukur 5 meter dari sudut rumah kemudian dilingkarkan Dari kedua pengukuran yang dilingkarkan akan terdapat dua titik potong lingkaran , dari kedua titik potong tersebut kita belum dapat menentukan titik potong yang mana yang merupakan letak patok yang hilang untuk menentukan maka dilakukan langkah ketiga 3 . Kita ukur 4 meter dari tiang listrik dan dilingkarkan dan akan memotong salah satu dari kedua titik tersebut yang merupakan letak patok yang hilang ( titik yang dipotong oleh ketiga lingkaran )

4m

Tiang listrik

6,5 m

5m

Pohon

Rumah

Patok yang dicari 4m

6,5 m 5m

37

Contoh Monographi patok No.2 :

Jalan raya

M P2
Tiang listrik 4m

6,5 m

5m

Pohon Cemara

Pohon Nangka

S/S

VI. PROFILE Profile adalah bentangan memanjang dari seluruh route yang menggambarkan keadaan medan yang sesungguhnya , dari profile inilah semua pekerjaan bermula.

Dalam pengukuran jarak dan perbedaan ketinggian dengan cara menggunakan sistem koordinat.

38

Untuk menyatakan jarak diukur dari titik terminal pertama titik T1 ( arah sumbu X ) sedangkan untuk menyatakan keadaan ketinggian ( Deferensi level ) diukur dari ketinggian titik T1 ( arah sumbu Y )

+3 200 m 350 m 400 m

+6

+10

+10

+8 -3 -3

595 m

Penggambaran jarak maupun perbedaan ketinggian menggunakan skala , ada dua macam skala yaitu : 1. Untuk skala horisontal ( H ) arah sumbu X misal 1 : 2000 2. Untuk skala Vertikal ( V ) arah sumbu Y misal 1 : 200 Skala untuk horisontal ( H ) lebih besar dari pada skala vertikal ( V ) Biasanya pada setiap Profile dicantumkan skala : SCALES H , 1 : 2000 V , 1 : 200 ( Ini misal ) Untuk skala horisontal tidak perlu teliti sekali akan tetapi untuk skala vertikal harus teliti sekali karena bila tidak teliti akan berpengaruh pada ketinggian konduktor dari tanah pada andongan ( lendutan ). Didalam profile dapat dibuat bermacam-macam skala tetapi untuk satu terminal ( T1 T2 ) hanya dibuat satu skala. Pengukuran horisontal ( lurus ) tanpa perhitungan tapi bila keatas ( miring ) atau miring ke bawah harus diadakan perhitunggan. Pengukuran-pengukuran pada belokan-belokan penggambarannya adalah sebagai berikut: Untuk menyatakan sudut lurus dilihat dari satu arah tidak boleh bolak balik

39

R1 = belok ke kanan sebesar sudut 1 L2 = belok ke kiri sebesar sudut 2 Didalam profile ini juga diukur ketinggian terhadap bangunan-bangunan misal tiang listrik , tiang telepon , dalamnya kanal , tinggi rumah , dan lain-lain juga dilakukan pengukuran lebar jalan , lebar sungai , dan lain-lain . Juga harus diperhatikan kiri kanan Centre Line karena mengingat fasa yang ada dipinggir.

A1
R 35o40

A2

L 46o37

46o37 35o40

Untuk tanah datar tidak ada perbedaan tinggi

40

Perbedaan tinggi antara titik Centre Line dengan kemiringan yang lebih tinggi harus diperhitungkan karena akan mempengaruhi ketinggian konduktor .

Berapa GC ?

Centre Line

Yang lebih tinggi ada disebelah kanan Centre Line Yang lebih tinggi ada disebelah kiri Centre Line

Dalam hal ini cara penggambaran untuk kondisi-kondisi kemiringan yang lebih tinggi dari Centre Line ada dua macam cara yaitu disebelah kanan dan disebelah kiri . Hal ini perlu diperhitungkan karena untuk menentukan ketinggian konduktor dengan tanah sehingga konduktor tersebut berada pada jarak aman ( Electrical Clearance ) Pada profile pada umumnya diberi keterangan-keterangan sebagai berikut :

41

SKALA : 1 : 2000 ( H ) 1 : 200 ( V ) RS LS K-R RA LA

H = Horisontal V = Vertikal RS = Right Slope LS = Left Slope K-R = Menunjukan arah Transmisi ( misal Klaten - Rawalo ) RA = Right Angle ( menunjukan arah belokan kekanan sebesar ) LA = Left Angle ( menunjukan arah belokan kekiri sebesar )

Keterangan lainnya pada profile misalnya 500 KV Klaten - Rawalo O. S = 11 meter T1-A1 = P0 P6 A1-A2 = P6 P11 Dst Survey dimaksudkan untuk mengumpulkan data sehingga dapat ditentukan perencanaan yang matang . Kesalahan pada profile akan berakibat serius maka diperlukan ketelitian dan kecermatan , harus sesuai keadaan yang sebenarnya di lapangan. Survey dibedakan menjadi tiga bagian yaitu : 1. Survey langsung kelapangan untuk menentukan Pegging The Route (pemasangan patok-patok dan lain-lain ) O,S = Outside Line

42

2. Survey lapangan untuk membuat Profile dan diadakan pengukuran-pengukuran. 3. Membuat gambar profile secara lengkap di kantor. Kebutuhan peralatan instrumen yang diperlukan dalam pengukuran adalah Tacheo meter Apa saja yang dapat diukur dengan Tacheo meter : H,A = Horisontal Angle H,D = Horisontal Distance V,A = Vertical Angle

Dari H,D dan V,A dapat ditentukan perbedaan ketinggian ( dihitung ) dalam hal ini dapat positip maupun negatip. Cara pengukuran sudut horisontal sebagai berikut :

Pengukuran sudut Horisontal Dalam 360o atau 400 c Misal = 31o 30 atau = 34c,65

Zenith

Pengukuran sudut Vertical

90o Titik pusat

Meletakan instrumen harus waterpas yaitu pada garis Zenith ( garis vertikal yang menuju titik bumi ) bila tidak pada garis Zenith maka hasil pengukurannya akan salah. Pada peralatan tersebut sudah dilengkapi dengan pengatur posisi sehingga benar-benar tegak lurus. Cara pengukuran Jarak :

43

= 90o - x = D tan y = h = 1,95 ( misal ) c = 1 meter

T1-a = x + y - c = D tan+ h - 1 meter

c x
a T1-a

c d

A1

3 2 2
a

T1 T1

A1

S/2d adalah sudah tertentu yang merupakan konstanta didalam instrumen tersebut ( C ) konstanta adalah f/2d = 100

44

Pengukuran jarak dan pengukuran perbedaan tinggi

misal antara

T1 ke peg No.2

diletakan stup dititik a, b, c, d dst, Setelah itu kemudian instrumen diletakan pada peg No.2 dan melihat kebelakang sebagai koreksi ( rechek ) , a, b , c, d, adalah titik peg sementara .
= 90o - x = D tan y = h = 1,95 ( misal ) c = 1 meter
T1-a = x + y - c = D tan+ h - 1 meter

c x
a T1-a

c d

A1

3 2 2
a

T1 T1

A1

x
1,50 0,75

-
D

0,50

D = S sin 2 x 100 = S sin 2 (180 - ) x 100

b c a

= x + 0,75 - h

P,A

45

Hasil-hasil dilapangan diisikan kedalam daftar yang disebut Survey Field Book sedangkan perhitungannya dilakukan dikantor

S
T1 T1 2 2 2 2 3 3 3 3 3 4 4 4 4

h
1,50 1,50 1,52 1,52 1,52 1,52 1,42 1,42 1,42 1,42 1,42 1,51 1,51 1,51 1,51

p
a 2 T1 a b 3 2 a b c 4 3 a b 5

Reading a 1,00 1,00 1,00 0,50 0,75 0,50 0,50 0,75 1,00 1,00 0,50 1,00 0,75 0,50 0,25 c 1,75 2,25 2,25 1,75 1,25 1,25 1,25 1,25 1,50 1,75 1,25 2,00 1,25 1,25 1,00

b
2,50 3,50 3,50 3,00 1,75 2,00 2,00 1,75 2,00 2,00 2,00

88,20 87,20 91,45 86,30 86,20 87,20 87,23

D
144,86 249,45

Average P T 4,44 4,44 11,63 10,63 249,6 -7,65 -8,61 16,10 6,30 7,32 7,24

Progress H V

249,75 249,06 99,59 149.67 149,65

149,66

dst

3,00 1,75 2,00 1,75 89,00 22.32

S = Station dimana Instrumen ditempatkan P = Partial Deferensi Level T= Total Deferensial level T1 = P + h c Progressive yang berdasar dari titik awal baik horisontal maupun vertikal P = D ctg D = S sin 2

46

VII. PENEMPATAN TOWER Penempatan tower adalah dengan referensi Centre Line. Tower adalah bagian atas bangunan menara yang memikul beban konduktor. Tower dibagi menjadi dua macam jenis tower :

TOWER

TENSION (STRAIN)

SUSPENSION MAX 2O S/D 5O

LINE( 0O) TOWER

ANGLE TOWER

TERMINAL TOWER

1. Tension Tower Tension tower adalah type tower penegang yaitu konduktor diputus kemudian disambung dengan jumper, gaya yang dialami oleh tower ada dua arah 2 . Suspension Tower Suspension tower berfungsi hanya untuk memikul beban konduktor , arah gaya hanya satu arah ( arah kebawah ) dan konduktor tidak dipotong.

47

Line Tower Line tower adalah tower yang dipasang pada jalur yang lurus ( 0 menggunakan jenis tower Suspension maupun tower tension. Angle tower
o o

) ini dapat

Angle tower ini dipergunakan untuk pada belokan jalur antara 1 juga sampai 90 o untuk keadaan yang khusus , type suspension

s/d 60

tetapi dapat

tower hanya dapat dipergunakan untuk tower dengan sudut belok antara 0 sedangkan type tension tower dipergunakan antara 0 o s/d 60 o Terminal Tower

s/d 5

Terminal tower dipergunakan pada tower akhir dari suatu transmisi ( Dead End Tower ) tower yang dipergunakan hanya tower tension. Tower yang dipergunakan untuk tower 500 KV single circuit adalah sebagai berikut: 0 s/d 2 o type A = tower suspension 5o < type A = tower suspension yang diperkuat

0 o s/d 10 o type B = tower tension 0 o s/d 30 o type C = tower tension 0 o s/d 45 o type D = tower tension 0 o s/d 60 o type E = tower tension 0 o s/d 45 o type FF = tower tension ( Special Tower ) Toff Deviasion F/90 o = tension tower

48

Toff deviasion F/90 o dipergunakan pada tower khusus untuk pencabangan


Tower F / 90o

Cara penempatan tower berdsar Centre Line


C C D D

T1
B A B

A1
A

T2

A2

Perjanjian : 1. Pemberian nomor adalah : yang kecil dibelakang dan yang besar didepan
1

2 3

...........

> 15 16 17

2. Pemberian tanda A, B, C, D : Harus melihat arah dari Centre Line ( CL ) - Depan kanan A - Belakang kanan B - Belakang kiri C - Depan kiri D
C D

CL

49

Perjanjian ini harus disepakati bersama , dan ini hanya perjanjian dan siapa saja dapat membuat perjanjian dengan penamaan yang berbeda. LINE TOWER

Konduktor C D

CL
B A

Konduktor CL

ANGLE TOWER

Kedudukan konduktor sejajar Centre Line Cara penempatan tower adalah menggunakan garis bagi sudut belokan jadi tower tegak lurus garis bagi sudut belok maupun jenis tension. seperti gambar baik untuk jenis suspension

TERMINAL TOWER

Terminal tower adalah tower yang pada ujung terakhir dari transmisi yang berada pada lokasi dekat dengan Gardu Induk atau lazim disebut Dead end tower.

50

Pada tower ini harus mampu menahan tarikan dari sebelah saja yaitu arah keluar sedangkan arah yang menuju ke Gardu Induk tidak boleh ada tarikan. Terminal tower yang paling baik adalah yang tidak mempunyai simpangan sudut, Centre Line ( 0o ) dan tegak lurus gelagar. Tetapi kadang-kadang terminal tower juga mengalami belokan akan tetapi belokan maksimum adalah 45
o

tetapi penempatan konduktor selalu sejajar dengan tower

tidak berdasar Centre Line. Mengapa tower diharapkan tegak lurus gelagar , karena mengingat peralatan yang berada di Gardu Induk dan juga estetikanya. TERMINAL TOWER ( DEAD END TOWER )

C S/S

D CL

Gantry Gardu induk

Konduktor

51

C S/S
9o

CL Gantry Gardu induk 45O Konduktor

Konduktor

CL Gantry

Dalam keadaan yang memaksa kadang-kadang Centre Line membuat belokan yang lebih besar dari 45 misalkan 49 karena melebihi 45 maka dibuatlah tower khusus dengan Arrangemant special yang dimiringkan 9 .
o o o o

Dalam hal kejadian demikian ini diakibatkan oleh kesalahan pada saat suvey, seharusnya pada saat menentukan survey diusahakan Centre line masuk ke GI membuat sudut maksimum 45 karena kesalahan tersebut mengakibatkan biaya menjadi lebih mahal , masalah lain yang timbul adalah Electrical Clearance.
o

52

Special Arrangement ini kurang bagus bila sudut sampai 50 ada gaya. VIII. GAYA GAYA YANG TIMBUL PADA TOWER.

keatas baik dari segi

estetika maupun electrical clearance juga konduktor yang masuk ke FI tidak boleh

Gaya yang bekerja pada tower ada beberapa macam tergantung posisi tower dan jenis tower yang dipergunakan. Pada tower suspension yang bekerja hanya gaya berat dari konduktor dan perlengkapannya yaitu gaya hanya satu arah , arah kebawah Pada tower tension gaya yang bekerja adalah gaya tarik dari kiri dan kanan tower pada konduktor , dan juga memikul gaya berat konduktor dan perlengkapannya arah kebawah. Pada tower tension yang dipasang sebagai Dead End Tower gaya yang bekerja adalah gaya tarik hanya sebelah oleh konduktor ( satu arah ) karena yang masuk ke GI tidak boleh mengalami gaya dan gaya berat oleh kondukor

Tower Tension

Tower Suspension

F2 R W

F1 W Dead End Tower

F W

dan perlengkapannya .

Apabila pada salah satu tower akan diadakan pencabangan maka diperlukan Special Special tower F/90 tension. Cartenery adalah bagian lengkungan dari konduktor.
o

53

F = Ground Clearance ( jarak minimum konduktor dari tanah yang ditentukan oleh PLN )

H=F+S

S
ten Ca r ery

H F

S = Sagging adalah jarak antara horisontal dengan titik terendah pada lendutan H = Tinggi Tower ( H = F + S ) Gruond clearance berbeda-beda untuk setiap negara dan kondisi lingkungan disuatu tempat. Besarnya sagging ditentukan oleh 3 faktor : 1. Span ( C ) Jarak antara tower horisontal , makin panjang jarak antara tower makin besar saggingnya. 2. Tarikan ( Tension ) ( T ) makin besar tarikan T makin kecil saggingnya namun harus diperhitungkan faktor keamanannya. 3. Berat konduktor per meter ( P ) saggingnya. Berat konduktor ini tergantung dari ukuran konduktor makin besar konduktor makin berat sehingga makin besar pula

T S C/4 W C/2 T T

C P = berat konduktor / meter

54

Berat konduktor dapat diketahui ( kg/m ) - Jarak tower dapat diketahui ( misal 300m , 350m , 400m , 450m , 500m ) - Tarikan adalah tarikan yang cukup aman terhadap konduktor ( Pada pengujian merusak yaitu konduktor ditarik sampai putus misal 4000 Kg maka tarikan 1500 Kg adalah tarikan yang cukup aman ) Tarikan T ini akan dirasakan sepanjang konduktor Misalkan pada titik tengah konduktor kita potong maka konduktor akan terayun menuju tower karena beratnya konduktor , Dari sini beratnya W berada pada titik C/4 sehingga menimbulkan berat konduktor sebesar P x C/4 Uuntuk keseimbangan maka diperlukan gaya tarikan sebesar T x S sebagai momen lawan pada titik terendah sagging maka

P = berat konduktor / meter W= berat konduktor pada titik C/4 S = Sagging T = Tarikam pada C/2 S C/4 W C/2 Untuk keseimbangan maka mpmen putar = momen lawan P x C/2 x C/4 = T x S S=
_________

P x C/2 x C/4 = Momen putar T x S = Momen lawan T

C2P

8T

persamaan menjadi P x C/2 x C/4 = T x S atau S = C2P/8T Contoh : Berat konduktor / meter P = 1kg/m

55

Jarak tower ( Span ) C = 500 meter Tarikan T = 1500 kg Tentukan Saggingnya S = C2P / 8T = 500 2 x 1 / (8 x 1500) = 20,83 meter Dalam hal ini yang dapat diubah adalah Span ( jarak antar tower ) dengan berubahnya span berati juga merubah tinggi tower sedangkan P dan T tidak dapat dirubah lagi .

S = 20,83 m S0

S1

S2

H = 15 + 20,83 = 38,83 m C1

F = 15 m C2 C3

56

S = 20,83 m S0

S1

S2

H = 15 + 20,83 = 38,83 m C1

F = 15 m C2 C3

Untuk transmisi 500 Kv jarak span rata-rata adalah 500 meter Span sepanjang 500 meter selalu adalah tidak mungkin berhubung dengan keadaan medan yang tidak datar . Untuk di Indonesia Body Extention adalah 3 meter artinya tower bisa ditambah

500

500

500

500

500

500

Span dengan panjang 500 m terus adalah tidak mungkin

500

350

600

450

600

500

500

ketinggiannya adalah tiga meteran. Misalnya tower dengan type A tingginya 35 meter maka

57

A 0 = 35 meter A 3 = 38 meter A 6 = 41 meter Dst Umpamanya tower bertambah tinggi 3 meter maka sagging juga bertambah tinggi tiga meter . Jadi S = 20,83 + 3 = 23,83 meter , maka berapakah jarak spannya, S = C2P / 8 T sehingga C = ( 8T/P ) C = (8 x 1500 x 23,83 ) = 534,75 meter Maka panjang span adalah 534,75 meter dengan ketinggian tower 35,3 + 3 = 38,83 m Satu macam konduktor hanya mempunyai satu macam Cartenery untuk S = C2P / 8 T Setiap perubahan span maka harus dirobah ketinggian towernya, dalam teori span dapat semakin panjang tetapi tower juga semakin tinggi sehingga menjadi mahal , untuk di Indonesia ketinggian tower transmisi 500 KV dibatasi + 18 meter A 0 s/d A 18

AR 0 s/d AR 18 B0 C 0 D 0 E0 s/d B 12 s/d C 12 s/d D 9 s/d E 3

Cara penggambaran Cartenery atau sagging adalah sebagai berikut : Untuk menggambar adalah dengan cara menghubungkan titik-titik dengan nomor yang sama , hubungkan antara titik-titik tengah antara crossing

58

500 m
7 6 5 3 2 1 1

S = 20,83 m
3 4 4

20,83 m

5 6 7

Skala Panjang : 1 : 2000 Skala tinggi : 1 : 200

Tabel ketinggian tower 0 35 35 35 35 35 35 35 3 38 38 38 38 38 38 6 41 41 41 41 41 41 9 44 44 44 44 44 44 12 47 47 47 47 15 50 50 50 18 53 53

Type A AR B C D E FF

59

Tabel yang dipakai di Indonesia -3 32 32 32 32 32 32 0 35 35 35 35 35 35 35 3 38 38 38 38 38 38 6 41 41 41 41 41 41 9 44 44 12 47 47 15 50 50

Type A AR B C D E FF

Semakin tinggi tower adalah semakin mahal biayanya sedangkan pertambahan span hanyalah kecil saja . Karena tinggi tower tidak berbanding lurus dengan panjang span tetapi berbanding kwadratis. Dapat juga tinggi tower lebih rendah dari normal ( - 3 meter ) tetapi jarak span juga semakin kacil . Tinggi tower diukur dari kedudukan konduktor sampai ketanah , penambahan tinggi selalu ditambahkan pada bagian bawah body tower bukan dari atas , makin tinggi tower makin lebar tanah yang dipergunakan untuk tapak tower. Untuk tower jenis piramide tinggi tower diukur sampai konduktor paling bawah.

60

S =
9 6 3 0 -3

________

C2P 8T

Tinggi tower untuk tower Suspension (A dan AR )

H-3
H0 H3 H6 H9 H 12

H 15

Tinggi tower untuk tower tension ( B , C , D , E )

61

H-3

H-3
H0

H0

H3

H3

H6

H6

Untuk tower tension pengukuran tinggi tower dari tanah sampai Cross Arm ( Travers) Penambahan tinggi ( Extention Body ) sebesar 3 meter adalah desain dari pabrik sedangkan dipabrik lain panambahan tinggi ( Extention Body ) mungkin 1 meter atau 2 meter dan lain-lain. Tower jenis tension penggunaannya sedikit untuk suatu transmisi sedangkan tower jenis suspension paling banyak digunakan. Untuk jenis tower FF hanya mempunyai ketinggian normal yaitu H 0
o o

Untuk Tower jenis F / 90 adalah dirancang untuk sudut belokan 90 tower ini didesain khusus untuk percabangan T sistem. Bila pencabangan akan dilakukan maka konduktor diantara kedua tower dihilangkan .

62

Tower jenis AR banyak dipakai karena banyak belokan dengan sudut kecil sedangkan bila menggunakan jenis tower type B, C , D , E adalah terlalu mahal IX. CARTENERY Cartenery dibuat untuk menentukan tinggi tower berdasarkan keadaan lokasi , ketinggian tower berdasarkan keadaan lokasi dengan ketentuan tingginya Ground Clearance. Setiap Konduktor hanya mempunyai satu Cartenery

H-3

H0

F
H 0

H+3 H+ 6 A0 A-3 F A0 A-3

63

C C
Carteney tidak dapat dirubah

C S

Cartenery dapat dibuat berdasarkan sagging bila diketahui : C = Jarak span rata-rata misal 500 meter P = Berat konduktor per meter misal 1 Kg /m T = Tarikan dengan faktor keamanan misal 2000 Kg C2 P Maka sagging :
__________

8T 5002 x 1.3 __________ : = 20,3125 m 8 x 2000

64

Setelah diukur dengan skala Vertikal Kemudian dibuat template ( Pola )

: 1 : 200

Horisontal : 1 : 2000

Penggunaan template pada profile sebagai berikut :


B+6 C+3 A+6 A 0 A0 FF0 A0 A-3 C0 A+6 A+3 A0 A0 A0 B0 B-3

T1
1 2 3 4

A1
30o

10o

A2

Setiap jenis konduktor diberi nama misal Dove

dengan

karakteristiknya misal

P = 1,3 Kg/m , T = 2000 Kg , C = 500 m maka dari data tersebut dapat dibuat Cartenery . Dari cartenery ini dapat digunakan untuk menentukan bermacam-macam kedudukan tower, seperti contoh diatas diantara titik T1 s/d A2 untuk dapat dipilih beberapa alternatif letak tower yang semuanya memenuhi Ground Clearance. 1 . FF 0 ; A + 6 ; C + 3 ; A + 6 ; B + 6 2. FF 0 ; A - 3 ; A0 ; C 0 ; A+3 ; A 0 ; B0

3. FF 0 ; A 0 ; A 0 ; C 0 ; A 0 ; A 0 ; B 3

65

Penggunaan template Cartenery harus benar yaitu sejajar dengan sumbu horisontal . Dari semua titik-titik tempat lokasi tiang itu harus dipilih yang benar-benar menguntungkan ditinjau dari segala macam faktor. Misalnya pemilihan tempat kedudukan tower telah ditentukan , seperti contoh dibawah ini kemudian dilakukan exavasi.

B+3 C+3 A+3 FF0 A0 A0 A0

30 o

10 o

3 4

X. SPAN Span adalah jarak horisontal antara tower ke tower Span dibagi menjadi enam jenis span : 1. Span normal 2. Wight Span 3. Wind Span 4. Ideal Span 5. Virtual Span 6. Equivalent Span
66

1. Span normal adalah jarak horisontal antara dua tower. 2. Weight Span adalah jarak horisontal antara dua titik terendah dari konduktor dikiri dan kanan, Jarak diambil horisontal karena lengkungan ( Sag ) yang sebetulnya hanyalah kecil maka dianggap horisontal. Tw1 = ( x + y ) P = . . . . . . . Kg Tw2 = ( a+ b) P = . . . . . . . Kg Tw3 = ( c + d ) P = . . . . . . . Kg Tw = Total beban yang diderita oleh tower , berat total yang diderita oleh tower adalah : Tw = ( a+b ) P x K x F ( a + b ) = Weight Span P = berat konduktor per meter K = Jumlah konduktor per fasa F = Jumlah fasa

c a x y b

Tw3 Tw2

Tw1

Weight span ( a + b )

67

3. Wind Span adalah jarak kedua titik tengah antara span normal horisontal dikiri kanan tower , yang terkena tiupan angin yang dirasakan oleh tower yang datangnya transversal ( memotong konduktor ) sedangkan angin yang datangnya searah dengan konduktor diabaikan Misalkan konduktor mempunyai diameter 2 cm sedangkan panjang wind span 550 m maka luas konduktor yang terkena angin adalah 0,02 x 550 = 1,1 m2. Luas konduktor bundle empat kawat tiga fasa adalah : A = 0,02 x 550 x 4 x 3 = 132 m2

A = 600 m

B = 500 m

A Wind Span

B (A+B)

( A + B ) = ( 600 + 500 ) = 550 m

68

Misalkan gaya angin persatuan luas adalah 100 Kg / m ( angin topan ) maka gaya transversal

yang

dirasakan oleh tower adalah : 132 m2 x 100 Kg = 13200 Kg. Jadi dalam hal ini gaya angin yang dirasakan oleh tower sangat membahayakan sekali. Oleh karena itu tower harus tahan terhadap gaya berat yang ditimbulkan oleh konduktor dan perlengkapannya serta juga harus tahan terhadap gaya angin yang arahnya transversal memotong konduktor. 4. Ideal Span adalah jarak horisontal antara tower ke tower standard normal = 500 m. 5. Virtual Span sama dengan ideal span. 6. Equivalent Span adalah harga rata-rata span yang dilihat hanya satu section. Satu section adalah jarak antara tower tension ke tower tension berikutnya. Simple Average = ( S1 + S2 + S3 + S4 ) / 4 = S A Tetapi bentuk persamaan Curva adalah merupakan persamaan Kwadrat, oleh karena itu Equivalent Span dihitung dari pangkat tiga dibagi Equivalent Simple Average . karena persamaan yang kita inginkan persamaan kwadrat maka persamaan menjadi : (S13 + S23 + S33 + S43) E S = _________________________________ = (S1 + S2 + S3 + S4) S = L = Panjang satu section ( S3)
__________

( S)

S T
a1 b1 c1

S
d1 e1

S
f1

b c d e f

S1

S2

S3

S4

T = Tower Tension S = Tower Suspension

69

Wind Span : S1 + S2
__________

S2+ S3

S3 + S4

__________

__________

Weight Span Maximum Temperatur a+b ; c+d ; e+f

Weight Span Minimum Temperatur a1 + b1 ; c1 + d1 ; e1 + f1

Sedangkan Template dibuat dari Ideal / Virtual Span 500 m , sedangkan equivalent span panjangnya tidak sama dengan ideal span akan tetapi perbedaan curva antara span 500 m dan 550 m , 450 m adalah sedikit sekali oleh karena itu dibuatlah dua macam template cartenery yaitu : Template Cartenery standard dengan span 500 m Template Catenery Chek dengan span 350 m Template cartenery dengan span 350 m dipergunakan untuk memeriksa apabila kita dapatkan equivalent span kurang dari 450 m karena template 350m adalah baik untuk span antra 300m s/d 400 m. Sebagai contoh misalkan kita dapatkan equivalent span 350 m sedangkan tower ploting menggunakan Cartenery template ideal 500 m dan Ground Clearance cukup tapi bila kita chek dengan template cartenery 350 m maka ground clearancenya tidak mencukupi maka tower plotting harus diulang dan mempergunakan cartenery template 350 m Ratio untuk suspension tower juga menggunakan catenery template .

70

Catenery template Template ratio

OK

Tidak OK Limit a Tidak OK

B 2a A+B

Ratio =

a
A+B 2 R =

= 0,35

Tower yang akan dichek rationya berada ditengah-tengah antara dua tower dikiri kanannya. Puncak tower yang dichek bila berada diatas catenery berarti memenuhi syarat tapi bila berada diatas catenery tidak memenuhi syarat.

71

XI. ROAD CROSS Bila terjadi Transmision lines crossing dengan jalan maka harus ditentukan type tower yang akan dipasang dalam satu section , yang jelas tower T1 harus type C
30OR

45OL

7m

11m

T1

30O 11m

16 m

T2

T3
13 m

T4

45O

H= 20 m Building

H=8m

dan T4 harus type D sedangkan tower T2 dan T3 adalah type A Kita inginkan T1 = Type C 0 T4 = Type D 0 Karena antara T2 dan T3 terjadi crossing dengan jalan maka perlu diperhatikan ground clearancenya dengan memperhatikan tinggi tower dan letaknya, kita tentukan tinggi tower normal = 35 meter , misal jarak section tersebut 1500 meter maka bila dengan ideal span 1500 meter kita dapatka 3 span Cara Plotting Tower Pertama dari T1 kita tempatkan letak konduktor dengan ground clearance minimum 15 m kemudian dari T4 kita tempatkan konduktor dengan memperhatikan ground clearance minimum 15 meter kemudian diantara dua posisi konduktor kita tempatkan satu posisi

72

lagi dengan memperhatikan Road clearance 20 meter maka didapat dua titik potongan dari sini dapat ditentukan posisi tower dengan ketinggiannya . Bila telah didapat posisi tower harus diperhatikan juga posisi itu terhadap jalan , bila jaraknya mencukupi berarti OK , kemudian di chek persyaratan lainnya . seperti : Ratio . Wind Span dan Weight Span , Ground Clearance bila semuanya OK berarti tower Plotting sudah benar. Cara yang lain adalah dengan mengambil patokan road clearance 21 meter maka Sag S = H 21 = 35 21 = 14 meter , Bila T = 1800 Kg maka S = C2 p / 8T C = ( 8 TS / p ) = (8 x 21x1800 / 1,25 ) = 418 meter Tetapi bagaimana dengan span dikiri dan kanannya , maka sagnya akan besar dan ground clearance tidak memenuhi syarat. Kemudian dipilih dengan meninggikan tower menjadi A +3 maka H = 35 + 3 = 38 meter Kemudian dicoba dengan span 460 meter dan didapat S = 16,89 meter Sehingga ground clearancenya = 38 16,89 = 21,11 meter Ternyata setelah di chek ground clearancenya di span kiri dan kanan tidak memenuhi syarat yaitu 13,41 meter , tetapi karena span tidak rata karena tinggi sebelah +3 maka ground clearance menjadi 13,41 + 1,5 = 14,91 . 1,5 adalah perkiraan adalah extension Body dalam hal ini sudah mendekati betul. Dibuat lebih tepat lagi maka span dibuat 465 meter maka didapat S = 17,26 meter Sehingga road clearance = 20,74 meter berarti OK Ground Clearance 13,62 + 1,5 = 15,12 meter ( OK ) Span dikiri dan kanan = 517,5 meter ( OK ) Kemudian dichek Wind Span T1 , T2 , T3 , T4 ( OK ) Weight Span T1 , T2 , T3 , T4 ( OK ) Ratio T2 , T3 (OK ) Kemudian di chek House Clearance misal tinggi rumah 7 meter maka HC = RC 7 = 20,74 7 > 8,5 meter ( OK ) Kemudian chek Building (OK) begitu juga pohon-pohon bila OK berarti benar. XII.PEMBACAAN PADA TACHEO METER Pembacaan pada tacheo meter harus diperhatikan tiga kondisi sebagai berikut :
73

1. Arah vertikal harus benar-benar diperhatikan , titik tengah harus benar-benar berada dititik tengah tepat diatas centre peg.

90o

2. Posisi titik nol (0) harus benar-benar terletak pada arah garis Zenith ( Z ) karena bila tidak pembacaan sudut inklinasi tidak akan benar.
Z
0

3. Posisi peralatan harus benar-benar rata air ( Water Pas ) diatur diantara tiga arah ( bidang datar dan harus rata air )

74

90o

90o

Dari ketiga syarat tersebut harus dipenuhi karena bila tidak dipenuhi pembacaan tidak akan betul. Pada pembacaan sudut inklinasi dilakukan dua kali diputar 180 o kemudian dibalik hasil pembacaan kalau dijumlahkan harus 400 , 1 + 2 = 400 . Dalam hal ini peletakan titik nol ( 0 ) harus benar-benar pada garis Zenith bila tidak pembacaan akan salah.
c c

1 + 2 = 400 C

75

Miasl 1 = 32 dan 2 = 342 maka 1 + 2 = 374 bukan 400


c

sehingga pembacaan tidak 374

Pada pengukuran horisontal ( Jarak ) kesalahan ukur 2 cm untuk setiap 100 m , bila terlalu jauh maka diatur pada pengatur lensa.

CONTOH PEMBUATAN PROFILE Data yang didapat dari lapangan kemudian diadakan perhitungan

st p
1 1

Reading a b c

D rata rata

p
18,73

T
19,23 59,02

rata rata

a 2
1 a 3

1,5 1,00 2,00 3,00 94 1,5 0,00 1,75 3,00 89 1,54 0,50 2,25 4,00 110 1,54 2,00 2,50 3,00 94 1,54 1,00 2,00 3,00 93

200 198,22 350 339,65 350 342,43 100 99,11 200 197,59

340,50 59,27

56,11

2 2 2 3

54,07 -54,78 9,36 8,4

197,75

21,81 21,23 20,27 19,76

20,55

2 1,49

1,00 2,00 3,00 106,5 200 197,92

PROFILE
8,4 20,55

198,22 396,5 459,61 657,53

Scales : H ==> 1 : 2000 V ==> 1 : 200

19,23

76

56.11

XIII. PERSYARATAN TOWER Tower dibuat sesuai dengan kondisi yang harus memenuhi segala persyaratan , oleh karena itu pembuatan profile harus benar-benar teliti sesuai dengan keadaan medan . Syarat-syarat yang harus dipenuhi antara lain : Ground Clearance Kemampuan atau daya dukung Tinggi tower Lokasi dimana tower akan didirikan Keadaan lokasi ( miring , datar , dll. )

Dan masih banyak lagi faktor-faktor yang menentukan pendirian tower. Ketinggian tower ditentukan oleh lendutan ( Sag ) dan Ground Clearance ( F ) H=S + F Dalam preaktek ketinggian tower ditentukan oleh keadaan tanah ( naik , turun , datar ) oleh karena itu tinggi tower mulai dari normal , lebih rendah atau lebih

F F F

77

Bila terjadi perobahan tinggi tower maka tower base keatas tetap ( tidak berobah ) sedangkan perobahan dilakukan dibagaian bawah dari tower , yaitu dengan perobahan standard : -3 , 0 , +3 , +6 , +9 , +12 , . . . . Bila terjadi perobahan tinggi yang kurang atau lebih dari tiga meter diadakan pengaturan pada tinggi kaki tower dimana pengaturan kaki tower dimulai dari : -2 , -1 , 0 , +1 , +2 , +3 , +4 . Bila pengaturan kaki tower melebihi dari -2 s/d +4 maka harus diadakan pembuangan tanah ( dikepras ) untuk penimbunan tidak diijinkan. Untuk tower type FF tidak boleh ada perobahan harus standard yaitu FF 0 XIV. EXCAVASI (PENGGALIAN)

-3 -1 0 +1 +3 -1 +6

+9

A0 A0 A+6

78

Dengan berobahnya letak kaki tower maka berobah pula letak penggalian tetapi posisi penggalian masih dalam sepanjang garis diagonal. Besarnya penambahan atau pengurangan panjang kaki tower ditentukan pula oleh besarnya sudut kemiringan kaki tower ( sudut inklinasi ) Penambahan atau pengurangan panjang kaki tower ditulis dalam tabel sebagai berikut : Misalnya kaki tower makin pendek 1 meter maka jarak titik kaki tower ke centre tower
T 235 A 0 B 0 C 0 A0 D 0 A +1 T 235 B +1 C -1 A0 D -1

T 235 A -1 B -1 C

A+6 D +3

+3

sejauh

tan

Misalnya kaki tower makin panjang 3 meter maka penggeseran titik kaki tower

T 235 A0
A B C D 0 0 0 0

T 236 A+6
A -1 B -1 C D +1 +1

dari centre tower sepanjang Y = 3m tan

79

Misal = 3

==== > tan = 0,052 = 5 tan 3


o

X = ( 6 - 1 ) tan

= 5 x 0,052 = 0,26 m Y = ( 6 + 1 ) tan 3


o

= 7 x 0,052 = 0,364 m

A0

A0
x
10 m 10 m 10 m 10 m 10 m 10 m

A+6

10 m

10 m

Y =0,364m

x = 0,26 m

Tiga hal yang harus diperhatikan : Sudut inklinasi stub dari setiap jenis tower adalah berbeda dilihat dari diagonal Pengukuran adalah selalu sepanjang diagonal dari tower. Pengukuran selalu horisontal dari titik pusat tower.

80

Cross Diagonal Section Dibuat gambar mal dengan skala 1 : 100 H dan V sama sesuai dengan type tower kemudian diletakan diatas profile , dari sini dapat diketahui berapa kaki tiang ditambah atau dikurangi dan gambar mal ini dapat digeser sejajar garis horisontal sesuai dengan type tower dengan penambahannya , penggeseran disebut

-2 -1

geser

+1 +2

Model ini diletakan diatas profile tower sehingga langsung dapat diketahui perobahan kaki tower seperti pada contoh : Titik kaki A dikurang 1 meter ( -1 ) Titik kaki B dikurang 1 meter ( -1 ) Titik kaki C ditambah 1 meter ( +1 ) Titik kaki D ditambah 1 meter ( +1 ) Pada name card dapat ditulis : T 235 A+3

81

A -1

B -1

C +1

D +1

Model ini dapat digeser disesuaikan dengan ketinggian tower yang diperlukan cara penggeseran harus selalu garis horisontal sejajar , perobahan kaki tower tersebut adalah

sehingga pada kartu identitas ditambah

, hal ini untuk menentukan hasil akhir, A+3 C +1

yaitu untuk menentukan tinggi tower , tinggi konduktor dsb. A -1 Kemudian dalam tabel dapat ditulis : Type A AR B C D E FF -3 33 33 33 33 33 33 --0 36 36 36 36 36 36 36 +3 39 39 39 39 +6 42 42 42 42 +9 45 45 ---------------+12 48 48 Legs -2 -1 -2 -1 -1 -1 -1 -1 --- 0 0 0 0 0 0 0 +1 +1 +1 +1 +1 +1 ---+2 +2 +2 +2 +2 +2 ---+3 +3 +3 +3 +3 +3 ---+4 +4 +4 +4 +4 +4 ---5o 6o 8o T 235 B -1 D +1

---- -2 ----- -2 ---- -2 ---- -2 ----- ---

39 42 39 42 ---- ----

82

36m 36m 0 0 +3 +6 +9 +12 Type tower : A , AR


Berdasarkan Catenery letak-letak tower dapat ditentukan sepanjang route , penempatan tower ditentukan banyak faktor antara lain : Ground clearance Faktor teknik Faktor ekonomi Lokasi tanah Span horisontal Weight sapan Wind span Sudut posisi Tinggi tower dan lain-lain

+3 +6

Type tower : B , C , D , E , FF

Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah : 1. Profile sepanjang route untuk menentukan posisi tower, tinggi tower , right slope , left slope. 2. Dibutuhkan profile dari cross diagonal section untuk menentukan perbedaan tinggi kaki tower juga untuk menentukan letak posisi kaki tower.
83

Contoh 1 kartu identitas : T235 A + 6 A -1 - 0,5 B -1 C +1 D +1

A + 6 = 48 meter = 0,5 maka tinggi tower adalah = 42 0,5 = 41,5 meter Karena dalam hal ini pengaturan kaki tower dari - 2 s/d +4 dan tidak ada perpanjangan kaki sebesar 0,5 meter maka pilihan satu-satunya adalah menurunkan centre tower sebesar 0,5 meter Contoh 2 pada kartu identitas tertulis : T236 A + 3 A -1 A +3 + 0,5 adalah 39,5 meter Dengan adanya perobahan tinggi kaki tower maka berobah pula jarak titik kaki tower dari centre tower , misal sudut kemiringan : Sudut inklinasi adalah = 5 o maka pertambahan jarak adalah : Kaki D = ( 4+3+3 )tan 5 o = 10 x 0,08 = 0,8 meter Kaki C = ( 4+3+1 )tan 5 o = 8 x 0,08 = 0,64 meter Kaki B = ( 4+3-2 )tan 5 o = 5 x 0,08 = 0,40 meter Kaki A = ( 4+3-1 )tan 5 o = 6 x 0,08 = 0,48 meter + 0,5 B -2 C +1 D +1

84

0
-2 -1 +0,5

+3
+1

+3

C B
10 ,40
,6 10 4

,4 8 10

10 ,80

A D

Keterangan : misal dalamnya galian adalah 4 meter maka masing-masing ditambah 4 meter , +3 adalah A +3 , dan +3 , +1 , -2 , -1 adalah tambahan panjang kaki tower. Dalam contoh 3 adalah dalamnya penggalian untuk tower normal , Centre peg dinaikan 0,5 meter dalam hal ini perhitungan dilaksanakan secara vertikal , misalnya jarak centre tower degan centre penggalian. Penambahan ( perubahan ) adalah vertikal dengan memperhatikan : Type tower Sudut inklinasi

85

Perpanjangan tower Perpanjangan kaki Panjang stub

Menentukan Letak Excavasi Menentukan letak titik kaki tower dimana harus dilakukan penggalian , jarak dari centre tower ketitik excavasi arah diagonal adalah tergantung dari type tower ( sudut inklinasi ), extention of leg , extention of body. Excavasi harus dilakukan tepat pada posisinya

10 m

86

5 2

0,20 m

3,80 m 3,80 m

Level Excavasi Tentukan letak titik excavasi dan levelnya , bila pertambahan panjang vertikal 1 meter pertambahan panjang horisontal 0,1 meter Tentukan letak titik excavasi dan levelnya , bila pertambahan panjang vertikal 1 meter pertambahan panjang horisontal 0,1 meter T. 246 A +3 +1 +1 -1 SF SF Kaki A dan B Normal Tower Extention body = +3 Extention leg = +1 Stub ( SF ) = 4 Jumlah -0,30 -1

= 7,07 meter

3 x ( 0,1 ) = 0,3 meter 1 x ( 0,1 ) = 0,1 meter 4 x ( 0,1 ) = 0,4 meter = 7,87 meter

Kaki C dan D

Normal Tower Extention body = +3

= 7,07 meter 3 x ( 0,1 ) = 0,3 meter

87

Extention leg = -1 Stub ( SF ) = 4 Jumlah

- 1 x ( 0,1 ) = - 0,1 meter 4 x ( 0,1 ) = 0,4 meter = 7,67 meter

Tidak mempengaruhi jarak horisontal dari titik centre tower , karena adanya = - 0,30

-1 1m
0,30

+1

3m

5m
0,30

0,30

B
2 5
7,8 7m

10 m

m 67 7, m

maka galian diperdalam 0,30 meter karena peg centre tower diturunkan 0,30 meter Problem real yang terjadi antara line Cirebon Bandung terdapat tower dengan dua kaki dengan Pile foundation dan dua kaki dengan Standard foundation Data pada identitas Card adalah sebagai berikut :

A+3 A -1 B -1

+0,50 C D +2 +2

88

S.F

P.F

+3

-1

2.5 m

+3

2.5 m

7,67 m 7,67 m

Kaki A dan B Extention body = +3 Extention leg = -1 Stub ( SF ) = 4 Normal Tower Jumlah 3 x ( 0,1 ) = 0,3 meter -1 x ( 0,1 ) =- 0,1 meter 4 x ( 0,1 ) = 0,4 meter = 7,07 meter = 7,67 meter

Kaki C dan D Extention body = +3 Extention leg = +2 Stub ( PF ) = 1

3 x ( 0,1 ) = 0,3 meter +2 x ( 0,1 ) = 0,2 meter 1 x ( 0,1 ) = 0,1 meter

89

Normal tower Jumlah

= 7,07 meter = 7,67 meter

Level A/B = 4 0,50 1 = 2,50 meter

Menentukan Excavasi adalah : 1. Tentukan letak titik galian arah diagonal dari centre tower 2. Tentukan level ( dalamnya galian ) diukur dari centre tower Contoh menentukan Excavasi A 0 A B 0 0 C +2 D +2

A
c 3m b 3m d a

CT

CL

Z
p 3m q 3m

Jarak antara kaki = 10 meter Panjang Stub = 4 meter Sudut inklinasi = 5


o o

Untuk kaki A dan B jarak antara titik penggalian ke CT x = 52 + tan 5

90

Panjang diagonal dari luas tanah yang akan digali bila ukuran 3 x 3 m antara a ke c = Y Y = 3 2 Jarak antara titik a ke CT adalah X Y = 52 + 4 tan5 (32) Jarak antara titik c ke CT = X + Y = 52 + 4 tan 5 + (32) Untuk menentukan titik b dan d adalah dengan benang sepanjang 6 meter diikatkan pada titik a dan c dan diambil tengah tengahnya kemudian ditarik kekanan kita dapatkan titik b kemudian kita tarik kekiri kita dapatkan titik d Untuk kaki C dan D karena leg extention +2 maka jarak titik penggalian ke CT adalah : Z = 52 + ( 4 + 2 ) tan 5
o o o

Panjang diagonal p r = 32 Jarak p ke CT = 52 Jarak r ke CT = 52 + ( 4 + 2 ) tan 5 - (32) + ( 4 + 2 ) tan 5 + (32)


o o

Untuk menentukan titik q dan s caranya adalah sama seperti menentukan titik b dan d

91

XV. PELAKSANAAN SURVEY

SURVEY
ROUTE PEGGING TOWER DATA PROFILE SURVEY TOWER PLOTTING
FIELD BOOK

PROFILE DRAWING CODUCTOR DATA

TYPES OF TOWER TOWER HEIGHT BODY EXTENS LEG EXTENS MAX.WIND S. MAX. WEIGHT S. RATIO WH/WI > 0,5 ANGELS BASE TEMPLATE

TOWER.H TEMPLATE BASE DIAG TEMPLATE

MIN & MAX CATENERY TEMPLATE

DIAMETER UNIT WEIGHT TYPE + NAME E.D. TENSION VIRTUAL SPAN VIRTUAL SAG GROUND CLEAR MIN TEMPERATURE MAX TEMPERATURE RATIO WH/WI FOR S

TOWER PEGGING CROSS DIAG. SECTION LEG EXTENSION OF TOWER

SOIL INVESTIG FOUND TYPE FONDATION TEST

STRUCTURE LIST

Survey merupakan pekerjaan mula dari suatu pembuatan transmission lines, biarpun sulit pekerjaan ini harus dilakukan karena tanpa survey, pembangunan transmisi tidak dapat dilaksanakan. Dari mulai route pegging dan melaksanakan profile survey yang dicatat dalam field book dapat dilaksanakan bersama-sama .

92

Setelah didapatkan data kemudian diadakan profile drawing dari sinilah diadakan tower ploting sehingga profile merupakan profile yang lengkap. Setelah itu kemudian membuat tower pegging dilapangan sekalian membuat cross diagonal section dan dari sini dibuat tower identification dan stucture list untuk setiap tower sepanjang route. Pada stucture list dimasukan antara lain : Sudut deviasi dari Transmission lines Keadaan posisi Centre Tower Type , Leg , Height , Pondasi , Type tanah dari setiap tower dan sebagainya. Profile drawing ( Plotted profile ) Structure List

Sebagai hasil didapat dua dokumen penting yaitu : -

Tanpa hal-hal tersebut diatas kita tidak dapat membangun suatu transmisi. 1. PEGGING OF THE ROUTE Pegging of the route adalah menentukan letak patok sesuai route yang ada di peta . - Menentukan letak patok yang baik adalah yang dari beton supaya jangan hilang dan dibuat monographi dengan tiga refernsi untuk patok-patok tertentu , untuk menemukan kembali bila ada patok yang hilang atau dipindah orang. - Patok harus diberi nama dan nomor. - Menentukan section atau titik belokan ( T1 A1 ) dan diantara patok-patok tersebut harus ditempatkan patok-patok yang lurus. Setiap section merupakan line yang lurus dan pada titik-titik deviasi harus diberi nomor patok progressive. 2. MARKING OF THE ROUTE Untuk memudahkan menemukan patok harus diberi tanda untuk line-line yang lurus , misalnya dengan jalan , pohon , rumah dan lain-lain, makin banyak tanda makin baik dan tanda tersebut diberi cat warna merah jangan diganti-ganti. Setelah didapatkan patok-patok pada route yang benar maka patok-patok sementara harus dibuang .

93

Kesalahan menentukan pegging biasanya terjadi bila tidak dapat melihat satu saction sehingga hanya memperkirakan sehingga terjadi deviasi.

Tanda-tanda sepanjang route

2 cm

Error =42 cm

= 2cm = 2 + 2(6+5+4+3+2 ) = 42 cm Error =+ ( n + ( n-1 ) + ( n-2 ) + ( n - 3 ) .. + n- ( n - 2 ) n = jumlah patok

3. PROFILE DRAWING Toleransi untuk horisontal adalah 1 meter untuk setiap 1000 meter dan toleransi untuk vertikal adalah 10 cm untuk setiap 1000 meter. Bila dalam penentuan route kita menemukan transmission lines yang lain atau bangunanbangunan , maka benda-benda tersebut harus diukur ketinggiannya , ketinggian bendabenda tersebut harus digambarkan dalam profile , pada profile juga harus dicantumkan keadaan tanah disekitar kiri kanan Centre Line , sehingga ground clearance konduktor yang dipinggir dapat dipenuhi Slope kanan - - - - Slope kiri - . - . - . Yang dicatat adalah tanah miring yang lebih tinggi dari Centre Line

94

1 : 200
1 a b 2 a 3 a b c 4 5 a a 7 a b 8

100 s/d 200 m

1 : 2000
11 m 1 11 m 2 3 4 5 1R 6 7 8

2L

CL

SECTION

SECTION

4. FIELD BOOK
Dari data yang didapat dicatat dalam field book menggambarkan medan. dibalik halaman setiap lembar dibuat sket untuk

Staff Point Peg

Reading b c

progressive H V

Hb

Hb = tinggi benda-benda lainnya.

SKET

1 2 3 4

95

Data ini semuanya digunakan untuk membuat design dari profile dan untuk menentukan tower plotting. Dalam pembuatan profile ini harus benar karena bila tidak benar akan mengakibatkan kesulitan dalam pelaksanaannya. 5. TOWER PLOTTING Tower plotting adalah berdasarkan dari dua karakteristik yaitu : Konduktor Karakteristik Tower Karakteristik

Konduktor Karakteristik - Diameter konduktor ( = 22,5 mm ) P/m = 1.25 Kg / m ( berat konduktor per meter ) Breake Tension ( B/T ) = 7000 Kg Safety Tension ( S / T ) = 2000 Kg Span = 500 meter Ground Clearance = 15 meter Temperature Maximum Temperature Minimum

Dari data diatas dapat dibuat Catenery Template. Catenery Template untuk -Suhu Maximum -Suhu Minimum -Ground Clearance Diameter = 22,5 mm karena tegangan yang digunakan adalah 500 KV adalah syarat minimum agar tidak terjadi Corona. Tower Karakteristik - Hight diukur dari Centre Line Type ( A , AR , B , C , D , E , FF ) Extension Body ( -3 , 0 , +3 , +6 , +9 , )

96

Extension Leg ( -2 ,-1 , 0 , +1 , +2 , +3 , +4 ) Tension atau Suspension Angle Tower atau Line Tower Nomor Tower Weight Span Wind Span Ratio dalam persen ( % ) Wh/Wi > 0,5 ( Khusus untuk suspension tower ) Angle Inclination ( Stub angle ) H

Dalam pembuatan catenery harus menggunakan tegangan tarik rata-rata atau everyday tension ( EDT ) Besarnya EDT = 2000 X ( 0,7 0,8 0.9 ) 2000 Kg adalah Tension yang diijinkan , bila menggunakan tension yang diijinkan ( 2000 Kg ) maka bila terjadi penurunan suhu ( dingin ) akan terjadi penyusutan yang berarti tension akan naik T > 2000 Kg ini akan melebihi tegangan tarik yang diijinkan.

Everyday Tension = 1700 Kg pada suhu maximum 45o C

Safety Tension pada suhu minimum = 15 oC

500 m

F = 15 m

97

Wind span tidak akan pernah berubah , tidak terpengaruh oleh perubahan temperature karena jarak span tidak berubah. Sedangkan untuk Weight span akan berubah karena terpengaruh oleh perubahan temperature , yang diambil sebagai syarat adalah yang paling besar antara Weight span pada temperature maximum atau Weight span pada temperature minimum, dan ini tergantung pada posisi tower makin tinggi atau makin rendah. Hal-hal khusus pada weight span : 1. Dalam keadaan horisontal weight span tidak berubah yang berubah hanya sagnya.

Wh

t1 5o C

t4

Wh
Wh

5o C

t1 5o C

t1 5o C

Wh = Wh

t4 5o C

Wh

Wh15oC

>

Wh45oC

2. Dalam keadaan tower lebih tinggi dari yang lain maka weight span lebih besar pada suhu minimum

98

t4 5o C

t1 5o C

t4 5

oC

Wh

t1

5o C

t1

5o C

t4 5

oC

t4

5o C

Wh

Wh15oC

>

Wh45oC

3. Dalam keadaan tower lebih rendah dari yang lain maka weight span lebih besar pada suhu maximum

Wh

5 t1

t1

oC

oC

Dalam keadaan tower lebih tinggi lagi dari tower dikiri kananya maka weight span lebih besar pada temperature minimum dan letaknya akan melampaui tower dikiri kananya.

5 t4

oC

t4

oC

Wh

Wh15oC

<

Wh45oC

99

Wh 45oC

Wh 15oC

Wh 15oC > Wh 45oC

5. Dalam keadaan tower lebih rendah lagi dari tower dikiri dan kananya maka Wh pada suhu minimum akan berubah diluar span dan hasilnya adalah negatif
_

Wh

45oC

=0

-Wh 15oC

Wh 15oC = Negatip

Dalam keadaan seperti ini Wh15oC menjadi negatip akibatnya adalah gaya akan mengarah keatas pada suhu rendah oleh karena itu tower harus type tension bukan suspension.

100

6. Keadaan tower yang berturut-turut lebih tinggi dari yang lain dan letak titik terendahnya berada diluar tower berikutnya , maka weight span akan bergeser ketower yang lebih rendah.
_

Wh2 1 Wh3 2 Wh2


Wh 45oC = 0

Wh4 3
-Wh 15oC

Wh 15oC = NegatipWh3

4 Wh4 5
Dalam keadaan seperti ini maka Cross Arm harus benar-benar diperhitungkan kekuatannya , dalam keadaan khusus seperti ini harus diperhatikan pemasangan isolatornya.

101

BETUL

SUSPENSION

SALAH

BETUL

TENSION

SALAH

XVI. TOWER PLOTTING Tower plotting adalah merencanakan dimana tower akan didirikan , yang di plotkan pada gambar profile, untuk menentukan harus diperlukan beberapa informasi yaitu : Karakteristik Tower Karakteristik Konduktor yang diperlukan untuk membuat catenery template

Penenpatan tower dapat dimana saja dengan memperhatikan type tower dan ground clearance , misalkan tower No. 2 kita pilh type A 0 kemudian dilihat Weight span dan Wind spannya kemudian dihitung rationya, batas span antara tower No.1 dan tower No. 2 adalah 1000 meter ini adalah batas tidak boleh lebih karena pada type wind span adalah 500 meter , dari sini tower No.2 dapat ditentukan posisi dan tingginya.

102

580 m

A 0 FF 0
15 m 500 m 15 m

210 m

A+ 0 A 0
250 m 15 m 15 m

2 1
1000 m

4
1000 m

T1

10

Ditinjau dari segi ekonomis jarak wind span yang paling ideal adalah yang mendekati kurang dari 500 meter , misalnya 495 meter bila melebihi 500 meter kita harus merubah type tower , ini kurang ekonomis. Misalkan tower No.2 kita tempatkan tower A 0 wind span 500 meter memenuhi syarat tapi pada temperature minimum Wh.Max = 580 meter untuk ini tidak mungkin ditempatkan tower A 0 , karena Wh Max yang diijinkan adalah 500 meter. Misalkan kita menambah tinggi tower No.3 dalam hal ini ground clearancenya terlalu tinggi sehingga kurang ekonomis , satu-satunya jalan adalah merubah type tower menjadi AR 0 yang mempunyai Wh Max yang diijinkan 600 meter, sehingga memenuhi syarat untuk Wh max 580 meter, setelah ditetapkan tower No.2 adalah type AR 0 maka kita Chek tower No. 3 dengan melihat tower No.2 dan tower No. 4 Misalkan kita pilih tower No. 3 adalah type A 0 kemudian kita ukur Wh pada temperature Max misal 250 meter dan Wh pada temperature Minimum misal 210 meter kemudian kita chek rationya Wh/Wi = 210/500 = 0,4 , untuk ratio Wh yang diambil adalah yang kecil sedangkan Wi adalah 500 meter untuk ini ratio tidak memenuhi syarat karena untuk suspension tower Wh/Wi > 0,5 ( dalam proyek ini Wh/Wi > 0,7 ) Maka harus dicari penyelesaian dengan menambah tinggi tower menjadi A + 3 sehingga Wh berubah menjadi 300 meter untuk temperature minimum sehingga Wh/Wi = 300/500 = 0,6 memenuhi syarat tetapi ground clearancenya menjadi

103

besar , pilihan kedua merubah type tower menjadi B 0 karena type B adalah tension tower tidak ada masalah dengan ratio , dari kedua pilihan itu kemudian kita bandingkan harganya dalam hal ini harga dari type B 0 > A + 3 ( misal harga B 0 = Rp 10 juta sedangkan A+3 = Rp 9 juta )untuk itu dipilih type A + 3 dengan ground clearance yang lebih besar. Dengan perubahan tower No.3 dar A 0 menjadi A+3 maka tower No. 2 akan terpengaruh karena Wh nya akan berubah misalnya dari 580 meter menjadi 500 meter maka pada keputusan pertama untuk tower No.2 dengan tower type AR 0 dapat dirubah kembali menjadi A 0 setelah ditentukan type tower No.2 dan No. 3 kita tentukan type tower No.4 dengan melihat tower No.3 dan No. 5. Misalkan Wh/Wi = 390/500 > 0,5 OK, ( dalam proyek ini Wh/Wi > 0,7 ) ground Clearance OK, jarak antara Tower No.3 ke No.5 = 1000 meter OK, maka dapat ditentukan tower type A , penentuan selanjutnya adalah sama. Hal-hal yang harus di Chek untuk setiap tower adalah : Wind span harus mendekati kurang dari harga wind span yang diijinkan , dalam hal ini wind span berbeda untuk masing-masing type tower. Weight span pada temperature maximum kita pilih mana weight span yang paling besar dan dipilih harga yang mendekati kurang dari harga maximum yang diijinkan. Chek ratio Wh/Wi > 0,5 untuk tower suspension , Wh diambil yang paling kecil . Formula yang perlu diketahui 1. Makin tinggi tower makin berat beban yang dipikulnya dan makin rendah tower makin ringan beban yang dipikulnya 2. Perubahan weight span dipengaruhi oleh perubahan temperature tergantung posisi tower. 3. Perubahan weight span pada suatu tower akan mempengaruhi weight span pada tower disampingnya ( dikiri dan kanannya ) Catatan : Untuk pemasangan isolator pada suspension tower yang tegak lurus kebawah berbentuk I harga ratio Wh/Wi > 0,5 pada suhu rendah konduktor akan terangkat sehingga dapat mengakibatkan Flashover.

104

Contoh lainnya
280m 570m 570m C0 A+3 A 0 310m 700m 720m 625m

2 3

11 m

4 15 o

33 o 9

10

11

T1

2
11 m

T2

T3

T4

T5

4o

Tower No.1 adalah type FF 0 , tower No.2 adalah type C karena deviasi 15 dan berada diantara 0 30 untuk menentukan Wh nya maka di chek berapa Wh yang diijinkan untuk deviasi 15 setelah di chek Wh yang diijinkan adalah 680 meter untuk deviasi 15
o o o o

30o

15o

500

680

800

Sedangkan Wh max pada temperature rendah adalah 650 meter sehingga type C memenuhi syarat dan setelah diukur ketinggian tower adalah C 0 kemudian di chek tower No.3 dengan melihat tower No, 2 dan No.4 karena pada line lurus kita tentukan type A kemudian di chek Wh Max nya setelah diukur adalah 310 meter pada suhu maximum sedangkan Wh minimum adalah 280 meter dibandingkan dengan Wh Max
105

dengan Wh yang diijinkan 310 <500 ( memenuhi syarat ) kemudian dilihat rationya Whmin/Wh = 280/500 > 0,5 memenuhi syarat . Dari sini dapat ditentukan bahwa tower No.3 dapat ditentukan dengan type A dan setelah diukur tinggi tower adalah A 0. Kemudian menentukan tower type D untuk tower No. 4 karena sudut deviasi 33 ( type D antara 0 45 )
o o o

45o 30o

500

630

900

Di chek Wh yang diijinkan untuk deviasi 33 setelah dichek ternyata Wh nya 630 meter dalam hal ini tower tidak memenuhi syarat karena Wh max lebih besar dari pada Wh yang diijinkan maka pilihan supaya memenuhi syarat adalah meninggikan tower No.3 menjadi A + 3 sehingga Wh Max nya menjadi 625 meter, sehingga Wh max lebih kecil dari Wh yang diijinkan sehingga tower type D memenuhi syarat begitu selanjutnya . Setelah tower plotting selesai maka didapat data sebagai berikut : Jarak tower dari titik awal Jarak tower dari peg-peg sebelum dan sesudahnya Jarak ground clearance minimum Level pada ground clearance minimum Span antara tower dengan tower sesudahnya .

Kemudian setelah didapat data tersebut diadakan tower Pegging.

106

XVII. TOWER PEGGING

FF 0

3m

15m

310m

37m

250m

4m
450m 500m 600m

4 5

20m 6 1 2 LP 3 4 LP 5

25o

30o

10

Misal kita dapatkan tower No.2 adalah type A datanya adalah : Tinggi tower = 37 meter Span = 450 meter Jarak ground clearance minimum dari tower 2 adalah 310 meter perbedaan level adalah 3 meter dan letak tower Peg adalah +20 meter dari peg No. 3 kemudian dari data tersebut kita kelapangan untuk mencari lokasi tower peg, pertama kita berjalan dimulai dari titik T1 sampai menemukan peg No.3 kemudian kita tempatkan instrument di peg No.3 kita lihat peg No.4 dan dibalik untuk melihat peg No.2 , begitu diulang sehingga kita dapatkan line yang lurus kemudian kita ukur sejauh 20 meter dari Peg No.3 setelah didapat instrument kita pindahkan ke peg tower No.T2 dari sini kita lihat peg No. 2 dan dibalik melihat Peg No.4 agar tower peg berada pada line yang lurus , stelah didapat peg tower T2 maka : Chek span T2 ke T1 bila jaraknya 450meter berarti betul ( OK )

107

Chek levelnya bila perbedaan level = 3 meter berarti betul ( OK ) pada ground clearance minimum Chek jarak titik ground clearance minimum bila jaraknya 310 meter dari T2 berarti betul ( OK )

Bila ukuran-ukuran diatas sudah cocok berarti letak tower peg sudah betul , bila salah satu tidak cocok berarti terjadi kesalahan . Setelah lokasi tower peg betul kemudian kita ukur sejauh 50 meter kedepan dan 50 meter kebelakang , kita tempatkan peg baru pada kedua titik tersebut dan warnanya dibuat berbeda dari peg-peg sebelumnya, kemudian kita membuat sket untuk cross diagonal section pada lokasi tower tersebut kemudian dibuat profile.

A B

LP

LP

CL

D A

Skala : H : 1 : 100 V : 1 : 100

Dari cross diagonal ini dapat kita tentukan extension legnya , yaitu dengan menempatkan model tower type A diatas cross diagonal section tersebut dan dari sini dapat dibaca , karena type tower A 0 , sedangkan tinggi tower adalah 37 meter ,maka model ditempatkan 1 meter lebih tinggi diatas centre peg , kemudian dibaca extension legnya , misalnya A = -1 ; B = -1 ; C = +1 ; D = +1 , setelah data tower didapat maka dibuatlah structure list, setelah itu baru dilakukan axcavasi.

108

Setelah selesai tower No.2 kita lanjutkan ke tower No.3 yaitu tower sudut dengan deviasi 30 yang ber ada tepat di peg No.5 kemudian kita tempatkan instrument pada peg No.5 kemudian kita lihat peg No.6
o

BP

CT
BP
5 180o-30o 4 6 30o

BP

CL

CL
BP

Dan digeser kekiri sejauh 30 kemudian dibalik melihat peg No.4 dan digeser sejauh 150 kekanan kita tempatkan peg instrument kita balik sehingga didapatkan garis bagi sudut 30 dan kita tempatkan bay sector peg dikedua titik tersebut , kemudian instrument kita putar sejauh 90 kekiri kita tempatkan peg didapat bay sector untuk sudut 180 -30 Dari profile kita dapat : Jarak span = 500 meter Jarak ground clearance minimum = 250 meter Level 4 meter Tower type C dengan ketinggian C +3
o o o o o

109

Dari data diatas kita chek dan kita cocokan , setelah cocok kita buat cross diagonal section , setelah dibuat cross diagonal section kita plotkan model tower C+3 dan dapat diketahui extension legnya. Setelah model diplotkan diatasnya ternyata leg-legnya tidak tepat sehingga kita geser
A B

T3

CL

A
+1 +2

-2 -1

-2

B
-1 +1

+2

sejauh 0,5 meter kebawah dan kita dapatkan leg tepat untuk A=-1 ; B=-1 ; C= +1 ; D= +1 dan - = 0,50meter Catatan : Bila data tidak cocok misal level pada ground clearance , misal dari profile 3 meter tetapi kenyataannya 5 meter maka bila terus dilaksanakan ground clearance akan terganggu

110

Akibat = -0,50 meter maka ketinggian tower akan berkurang 0,50 meter dan ground clearancenya pun berkurang oleh karena itu pada waktu tower plotting ground clearance minimum dilebihkan antara 20 50 centi meter. Bila extension leg melebihi dari 4 meter ( +4 ) misalnya +5 atau +6 , karena design leg untuk lebih besar dari +4 tidak ada maka harus dibuatkan special leg atau tanah ditalud ( dibenteng ) sehingga leg dapat dikurangi menjadi +4.

XVIII. SOIL INVESTIGATION DAN GAYA YANG BEKERJA PADA TOWER Soil investigation adalah penyelidikan keadaan tanah . Untuk mendirikan tower kita harus mengetahui keadaan tanah yang akan menentukan jenis pondasi yang sesuai dengan keadaan tanahnya , apakah keadaan tanah itu lembek, normal , atau keras berbatu . Kita selidiki bearing capacity dari tanah yaitu dalam setia 1 cm luas tanah dapat menahan berapa Kg , dalam hal ini biasa kita sebut dengan Sigma tanah , harga sigma tanah berkisar antara 0,01 300 Kg/cm
2 2

Dari sini kita dapat menentukan berapa luas pondasi yang disangga oleh tanah.

S L

L adalah luas tanah yang menyangga pondasi


111

1. Angle of Friction Angle of friction adalah untuk mengetahui besarnya sudut friction dari tanah , harga angle of friction berkisar antara = 0 45 .
Tanah urug

Tanah yang ikut terangkat bila pondasi dicabut

Untuk mengetahui angle of friction dari tanah harus dilakukan pengujian yaitu dengan mencabut pondasi tersebut dan akan terjadi tanah disekitar pondasi akan ikut terangkat diluar tanah urugan , banyaknya tanah yang ikut terangkat adalah tergantung besarnya sudut yang terbentuk ( angle of friction of soil berkisar antara = 0 45 ).
o o

2. Diagram of Force ( Diagram gaya )


F
90O 45O

F1 = F2 R = (F12+F22) R = F1 2 = F2 2 F

90O

R F1 R

F2
/2 /2

F1 F2 R = F1/Cos = F2/Sin R = (F12+F22)

F R
1

F1 = F2 R = 2FSin /2

1 + 2 + =180O = 200C

F2

F1

F1/Sin2 = F2/ Sin1 = R/Sin R = F1 X Sin / Sin2 = F2 X Sin / Sin1

112

3. Gaya-gaya Yang Bekerja Pada Tower Untuk setiap tower akan bekerja 3 gaya baik untuk angle tower , line tower , suspension tower maupun tension tower. 1. Gaya berat , gaya berat ini arahnya kebawah vertikal , gaya berat ini adalah merupakan berat total dari - Konduktor - Kawat tanah - Isolator dan fitting - Berat tower sendiri 2. Gaya angin , gaya angin ini arahnya horisontal transversal , yaitu gaya angin yang menabrak dari - Konduktor - Kawat tanah - Isolator dan fitting - Toernya sendiri 3. Gaya tension , gaya ini disebabkan oleh adanya tarikan kawat , gaya tarikan kawat ini dirasakan terutama pada tower angle , sedangkan pada line tower karena saling berlawanan maka saling meniadakan , gaya tension yang bekerja sepanjang transmisi adalah sama. Contoh gaya-gaya yang bekerja pada tower : 1. Gaya yang bekerja pada line tower

V
Misal V = 6000 Kg W = 4000 Kg R = ( 60002 + 40002 )

113

Gaya tension berlawanan arah dan besarnya sama maka saling meniadakan yang bekerja pada tower tersebut adalah gaya berat vertikal kebawah dan gaya angin transversal horisontal dari kedua gaya tersebut dapat dicari resultantenya. 2. Gaya yang bekerja pada engle tower , misalkan pada tower suspension dengan sudut deviasi 2o , misalkan gaya horisontal T = 2000 Kg dan berat W = 5000 Kg Gaya horisontal yang disebabkan oleh angin misalnya V = 6000 Kg maka total gaya horisontal adalah : gaya angin + gaya tension akibat deviasi = 6000 + 70 = 6070 Kg.

2o

T = 2000 kg

T = 2000 kg

W = 5000 kg

2o

2o
2

T R Gaya tension akibat deviasi 2o R = 2 x F Sin 2o/2 = 2 x 2000 Sin 1o = 4000 Sin 1o = 70 Kg

Gaya yang diperhitungkan adalah gaya maximum yaitu yang searah dengan arah gaya karena deviasi. Resultante gaya adalah antara gaya horisontal akibat angin dan tension dengan gaya berat.

114

Perhitungan untuk gaya yang bekerja pada angle tension adalah sama

6070 Kg 6070 Kg

5000 Kg 5000 Kg

2+ 2) R = ( 6070 R = 2 (+ 6070 5000 5000 2 )

= 7864= Kg 7864 Kg

3. Gaya yang bekerja untuk tower yang gaya beratnya negatip ( arak keatas ) Kita ambil contoh dengan deviasi 45
o

T = 2000 Kg
W =300

T = 2000 Kg

V = 500 Kg

115

Gaya horisontal dengan deviasi 45

V = 500 Kg

45o 22,5o T = 2000 Kg T = 2000 Kg

R = 1530 Kg

R = 2 x F Sin /2 R = 2 x 2000 Sin 22,5 R = 1530 Kg Gaya karena angin = 500 x 1Kg/m = 500 Kg Total gaya horisontal = 1530 + 500 = 2030 Kg Gaya karena berat konduktor , karena Weight span berada diluar span maka arahnya negatip ( Keatas ) W = 300 x 1 Kg/m = - 300 Kg Jadi resultante gaya antara gaya horisontal dan gaya vertikal adalah :
o

300 Kg

R = 2052 Kg

2030 Kg R = ( 3002 + 20302 ) = 2052 Kg

116

4. Gaya yang bekerja pada terminal tower.

T W 250 m

2000 Kg

R 250 Kg

R = (20002 + 2502 ) = 2015 Kg

Misal : T = 2000 Kg W = 250 x 1 Kg/m V = 250 x 1 Kg/m ( Weight span dan wind span sama ) Gaya horisontal adalah

2000 Kg R 250 Kg

R =(20002 + 2502) = 2015 Kg

Resultante antara gaya horisontal dan gaya vertkal adalah : 2015 Kg R 250 Kg R =(20152 + 2502) = 2030 Kg

117

Dari contoh-contoh diatas adalah untuk tiap konduktor , untuk 12 konduktor maka harus dikalikan 12 dan untuk kawat tanah pun harus diperhitungkan. Sebagai akibat dari gaya-gaya tersebut maka pada tower akan dirasakan tiga macam gaya yaitu : 1. Gaya Compression ( tekanan ) yang dirasakan oleh pondasi pada setiap kaki tower. 2. Gaya Uplift ( gaya angkat ) gaya angkat dirasakan oleh dua buah kaki tower. 3. Gaya Moment adalah Gaya X jarak ( M = F X H ).
F GAYA COMPRESSION

F GAYA UPLIFT

GAYA MOMENT H M=FXH

Gaya berat diakibatkan oleh berat konduktor , berat kawat tanah , berat isolator dan fitting , berat tower sendiri , yang merupakan berat total yang didistribusikan pada keempat kaki tower , sehingga setiap kaki menerima gaya tekan akibat berat sebesar W/4 ( Gaya Compression ). Gaya yang ditimbulkan oleh tiupan angin yang mengenai konduktor V , isolator dan fitting dan tower sendiri , gaya angin ini menimbulkan moment dan yang diperhitungkan adalah tiupan angin yang mengenai konduktor setinggi H dari tanah sihingga M = V X H, agar tower tetap berdiri maka harus ada moment lawan yaitu gaya yang dirasakan oleh kaki B dan C karena

118

V
W

V
W

V
W

H
Y

L A
C = W/4

B X

C = W/4

L L

D
C = W/4

C
C = W/4

apabila tidak ada moment lawan pondasi akan terangkat ( Uplift )

Sebagai referensi adalah kaki A dan D , misal moment lawan adalah MX besarnya adalah MX = X x L X = gaya lawan arah kebawah L = jarak antara kaki tower Untuk tetap seimbang maka M = MX sehingga : VxH =XxL X = VH/L , bila V , H , dan L diketahui maka X dapat dihitung.

119

Akibat kedua adalah timbulnya gaya tekan ( Compression ) yang disebabkan oleh moment M yang dirasakan oleh kaki A dan D karena adanya gaya tekan ini maka pada kaki A dan D harus ada gaya lawan keatas agar pondasi tidak ambles dan tower tidak roboh kita sebut moment My dan sebagai referensi adalah kaki B dan C . My = y x L untuk tower tetap berdiri maka M = MY . V x H = Yx L W/4 + Y/2 . Y = Gaya tekan lawan akibat gaya yang ditimbulkan oleh angin , yang dirasakan oleh dua kaki A dan D , jadi untuk setiap kaki adalah Y/2 . Untuk kaki B dan C akan merasakan gaya Uplift yang besarnya adalah W/4 X/2 . X/2 adalah gaya lawan ( arah kebawah / minus ) yang dirasakan oleh kaki B dan C akibat moment yang disebabkan oleh angin , jadi gaya Uplift yang dirasakan setiap kaki adalah X/2. Contoh 1 : perhitungan gaya yang bekerja pada tower : Y = VH/L. Jadi akibat gaya-gaya tersebut kaki A dan D akan merasakan gaya Compression sebesar

V =6000 Kg

W = 5000 Kg

H
Y

L A
C w = 1250 Kg Cv = 11700 Kg + 12950 Kg

B X
C w = 1250 Kg Cv = -11700 Kg = -10450 Kg

L L

C w = 1250 Kg Cv = 11700 Kg + D = 1290 Kg

C w = 1250 Kg Cv = -11700 Kg = -10450 Kg

120

H = A 0 = 36 meter L = 10 meter ( Jarak kaki ) Gaya Compression yang dirasakan setiap kaki akibat berat adalah = 1250 Kg. Moment akibat angin M = H x V , moment lawan MX = X x L ( pada kaki B dan C ) Agar seimbang maka M = Mx = H x V -- X = HV/L = 36 x 6000 = 23400 Kgm sehingga gaya uplift yang dirasakan kaki B dan C = 23400/2 = 11700 Kg. Moment lawan akibat gaya tekan pada kaki A dan D adalah sama dengan gaya angkat pada kaki B dan C = 11700 Kg. Gaya total yang dirasakan setiap kaki : Kaki A dan D akan menderita gaya compression sebesar W/4 + Y/2 = 1250 + 11700 = 12950 Kg Kaki B dan C akan menderita gaya sebesar W/4 X/2 = ( gaya angkat dikurangi gaya uplift ) = 1250 11700 = - 10450. Karena arah angin berubah-ubah maka untuk setiap kondisi kaki tower harus tahan terhadap gaya tekan (compression) sebesar 12950 kg dan tahan terhadap gaya angkat (Uplift) sebesar 10450 Kg. Dari sinilah sigma tanah diperlukan , sigma tanah berkisar antara = 0,01 300 Kg/cm . Misalkan = 1 Kg/ cm maka luas tanah yang harus menyangga pondasi adalah: Untuk menahan beban sebasar 12950 Kg diperlukan luas tanah selebar : L = 12950 Kg/1Kg/cm .
2 2 2 2 2 2

W/4 = 5000/4

L = (12950 ) = 1,13 m .

atau diambil lebih besar 1,3

m , dan bagaimana dengan gaya uplift ? Misal gaya Uplift sebesar 10450 Kg maka harus ditinjau : 1. Berat pondasi 2. Tanah urugan diatas pondasi 3. Angle of friction dari tanah. Berat pondasi /m = 2000 Kg / m3 ( misal ) Berat tanah / m = 1000 Kg ( misal )
3 3

121

Perhitungan sebagai berikut : Volume slub = 1,3 x 1,3 x 0,5 = 0,85 m . Volume Plinth = h ( a + b + ab )
2 2 3

= x 0,5 ( 1,3 + 0,3 + 1,3x0,5 ) = 0,4 m . Volume Chimney = 0,3 x 0,3 x 3 = 0,27 m . Total volume pondasi = 0,845 + 0,4 + 0.27 = 1,515 m . Berat total dari pondasi = 1,515 x 2000 = 3030 Kg. Volume tanah diatas pondasi = (1,3 x 1,3 x 4) - 1.56 = 5,2 m . Berat tanah diatas pondasi = 5,2 x 1000 = 5200 Kg Berat tanah yang ikut terangkat apabila pondasi dicabut misalnya 7 m atau 7000 Kg Maka berat total = 3030 + 5200 + 7000 = 15320 Kg. Berhubung gaya Uplift sebesar = -10450 dan angka keamanan misal diambil 2 maka pondasi harus tahan terhadap gaya uplift sebesar = - 10450 x 2 =- 20900 Kg. Karena yang dipenuhi baru 15320 Kg berarti masih kurang sebesar 20900 15320 = 5670 Kg, maka harus diadakan tambahan untuk pondasi yaitu merubah luas slub dan plinth dari pondasi. Data real yang dipakai untuk transmisi 500 KV Ungaran Cirebon dan Cirebon Ba ndung .
3 3 3 3

122

EAL CONDUCTOR DATA LINE Ungaran - Cirebon NAME ACSR DOVE DIAMETER 23,55 mm BERAT/ METER 1,15 Kg/m Tension pada 25O C 19130 N EDT 25 O C Temperature Min 15 O C Ground Clearance Minimum Road Clearance Minimum House Clearance Minimum REAL TOWER DATA IDEAL SPAN IDEAL SAG IDEAL HIGHT MAX.SPAN ANGLE O 5 O 5 O 10 O 30 O 45 O 60 TYPE A AR B C D E VS 550 550 550 550 550 550 DOVE 500 Meter 21 Meter 36 Meter 850 Meter WS 1500 1080 1000 1000 1000 1000 W/V min 0,35 0,35 VS 495 495 495 495 495 495 GANNET 500 Meter 21 Meter 36 Meter 850 Meter WS 1250 1250 990 990 990 990 W/V min 0,35 0,35 Cirebon - Bandung ACSR GANNET 25,76 mm 1,37 Kg/m 22900 N 25 O C 15 O C 15 meter 21 meter 8,5 meter

123

Contoh 2 : Contoh 2 :
Max. W = 400m Max. W = 400m
w 450 m 450 m

550 m 550 m B B

Min. W = 350m w Min. W = 350m A A


V V

T=2000 Kg T=2000 Kg

T=2000 Kg T=2000 Kg

D D

C C

CL CL

Gaya-gaya yang bekerja pada kaki A dan B : Cw = + 1200 Kg U-L = - 7875 Kg U-L = - 16301 Kg Total Gaya = - 22976 Kg ( Uplift ) Cw = + 1200 Kg U-L = + 7875 Kg U-L = + 16301 Kg Total Gaya = + 25376 Kg ( Compression ) . Apabila arah angin berlawanan dengan arah semula maka gaya yang bekerja pada : Kaki A dan B = 1200 + 7875 16301 = - 7226 Kg ( Uplift ) Kaki C dan D = 1200 7875 + 16301 = 9326 Kg ( Compression ) Gaya-gaya yang bekerja pada kaki C dan D :

124

Gaya-gaya yang harus diperhitungkan adalah gaya-gaya yang paling besar atau paling kritis dalam hal ini adalah : Kaki A dan B = - 22976 Kg ( Uplift ) Kaki C dan D = + 25376 Kg ( Compression )

Dan masih perlu diingat faktor keamanan K = 2 3 Apa akibat gaya uplift sebesar 22976 Kg terhadap pondasi A dan B ? Misal sudut Inklinasi = 10 ( sudut stub ) , gaya kita urai menjadi dua komponen arah sumbu x dan y .
y

Gaya yang bekerja pada sumbu y Uplift Y Y = 22976 Cos 10O = 22627 Kg

x S

Gaya yang bekerja pada sumbu x S = 22976 Sin 10O = - 3989 Kg Gaya yang bekerja pada sumbu x ini kita sebut gaya Shear ( S ) gaya ini cukup berbahaya terhadap pondasi

Apa akibat dari gaya compression sebesar 25376 Kg terhadap pondasi C dan D Seperti pada gaya uplift gaya kita urai menjadi dua komponen kearah sumbu x dan y

Compression Gaya yang bekerja pada sumbu y x S Y Y = 25376 Cos 10O = 24990Kg Gaya yang bekerja pada sumbu x S = 25376 Sin 10O = 4406 Kg Gaya yang bekerja pada sumbu x ini kita sebut gaya Shear ( S ) gaya ini cukup berbahaya terhadap pondasi

125

Dari contoh diatas dapat diambil kesimpulan bahwa untuk setiap tower akan bekerja tiga gaya yaitu : 1. Gaya berat ( Vertikal ) 2. Gaya angin ( Horisontal transversal ) 3. Gaya tension ( Horisontal Longitudinal dengan centre line ) Akibat ketiga gaya tersebut akan timbul tiga efek gaya yaitu : 1. Compression ( positip ) Vertikal arah kebawah 2. Uplift ( negatip ) Vertikal arah keatas 3. Shear ( positip / negatip ) arah horisontal Gaya shear akan menjadi positip bila disebabkan oleh gaya Compression dan arahnya keluar menjauhi tower, dan gaya shear akan menjadi negatif bila disebabkan oleh gaya uplift dan arahnya kedalam.

U-L(Max)

S(Max)

S(Max)

C (Max)

Oleh karena itu untuk setiap tower pondasinya harus mampu mengimbangi ketiga efek gaya tersebut , dan masih perlu diperhitungkan faktor keamanannya. Untuk setiap tower walaupun typenya sama akan berbeda pondasinya bila jenis tanahnya berbeda , pondasi selalu berkait dengan pondasi disekelilingnya.

126

Untuk menahan gaya compression harus bearing capacity , bearing capacity adalah berapa Kg daya sangga tanah seluas 1 cm
2

, untuk setiap jenis tanah akan berbeda

bearing capacitynya ( = sigma ). Misal sigma tanah = 1,2 Kg/cm2 sedangkan

gaya compression yang harus disangga adalah 20.000 Kg maka luas tanah yang diperlukan adalah : S = L2 1,29 m. Untuk menahan gaya Uplift harus diperhitungkan Berat pondasi dan berat tower yang disangga oleh satu kaki ditambah back filling ( urugan tanah diatas pondasi ) dan angle of friction , besarnya angle of friction tergantung dari jenis tanah , makin lembek tanah makin kecil harga makin keras jenis tanah makin besar , harga berkisar antara = 0O 45O. L2 = 20.000/1,2 = 16.666 cm2 L = 16.666 =

127

Cara pengujian bearing capacity


Diberi gaya Compression makin lama makin besar sehingga sampai pada keadaan tanah mulai berobah ( ambles )

1m 1m 1m

Beton

Penambahan gaya dihentikan dan dilihat berapa Kg berat tersebut , misalkan 12500 Kg , sehingga dapat dihitung bearing capacity dari tanah yaitu : = 12500/ ( 1m x 1m ) = 12500/10000 = 1,25 Kc/ cm2.
Setelah itu kemudian dilakukan pengujian yang disebut STANDARD PENETRATION TEST , Pengujian ini yaitu dengan cara : batang dengan penampang 1cm dipukul masuk kedalam tanah dan dicatat jumlah pukulan serta dalamnya batang masuk kedalam tanah , pemukulan dilakukan dengan berat

tertentu dan ketinggian tertentu.

10 cm 20 cm 30 cm 40 cm

128

Pemukulan harus dilakukan dengan W yang tetap dan H yang tetap , pemukulan dilakukan dengan mesin , kemudian dari data yang didapat kemudian dibuat curva antara jumlah pukulan VS dalamnya batang masuk kedalam tanah.

Misal hasil pengujian adalah sebagai berikut.

160 1400 120 100 80 60 40 20 10 1 2 3 4 5 10 15 20

Misal 0,6 Kg/cm2

1,25 Kg/cm2

Misal 5 Kg/cm2

25

30

Dan curva ini diambil sebagai standard untuk mengadakan pengujian ditempat lain dimana setiap tower akan didirikan . Daerah yang berada diatas kurva adalah daerah yang bearing capacitynya dibawah 1,25 Kg /cm2 sedangkan daerah yang berada dibawah curva adalah daerah yang bearing capacitynya diatas 1,25 Kg/ cm2 . Untuk pengujian angle of friction ( ) harus diambil sampel tanah yaitu dengan cara mengebor tanah , sampel tanah diambil misalnya pada kedalaman 1m , 2m , 3m , 4m dan seterusnya.

129

Setelah didapat sampel tanah kemudian dibawa ke laboratorium untuk dilakukan pengujian dan ditentukan besarnya .

CAROT = Sampel tanah

1020 cm

35 cm

dst
Nomor Tower Type Tower Jenis Pondasi Type Tower Jenis Pondasi Type Tower Jenis Pondasi B C 1 0,5 1O A 1A B 1B 2 1 2O A 2 B 3 1,5 3O A 3 B 4 0,5 1O A 1A B 5 0,5 1O A 1A B 6 0,5 1O A 1A B 7 1,5 3O A 4 B 4B 8 2 4O A

Misalnya untuk type tanah dibedakan dalam kelas :

130

C1 = Very Soft Soil C2 = Low Soft Soil C3 = Normal Soil C4 = Hard Soil TYPE OF SOIL C2 C3 1,0 2,0 2O 3O TYPE PONDASI F2 F1 F1 F1 F1 F1 F1 F2 F2 F2 F2 F3 F3 F3 -

Type Tower Class A AR B C D E FF F1 C1 0,5 1O

C4 2,5 5O F4 -

F1 . F2 , F3 . F4 adalah type pondasi yang sesuai dengan type tanah Dari data diatas dapat diambil kesimpulan yaitu : Untuk setiap type tower efek gaya yang ditimbulkan adalah sama Untuk type pondasi maka jenis pondasinya adalah sama Untuk type tower yang berbeda tapi jenis tanahnya sama maka jenis pondasinya adalah sama tetapi ukuranya yang berbeda Pondasi untuk type tower A jenis pondasi F1 lebih kecil ukuranya dibanding dengan type tower B dengan jenis pondasi F1 karena efek gaya yang ditimbulkan oleh type tower A lebih kecil dibanding efek gaya yang ditimbulkan oleh type tower B. Pemilihan type pondasi ditentukan oleh bermacam-macam faktor : Biaya material Biaya buruh Biaya transportasi Keadaan lokasi Peralatan

131

Dan sebagainya Standard normal Special Pilled

Pada proyek EHV 500 KV pondasi yang digunakan adalah 3 macam : -

Oleh karena itu jenis tanah hanya dibedakan menjadi 3 kelas yaitu C1 , C2 , C3
Dan dapat dibuat tabel :

Type tower A AR B C D E FF

C1 N N N N N N N

C2 S S S S -

C3 P P P P P -

Untuk dimensi dari pondasi harus dilihat efek gaya yang ditimbulkan oleh setiap type tower sehingga ukuranya dapat ditentukan. Setelah didapat datanya kemudian dibuat structure list. A B

CL

D No, Tower 1 2 Type Tower FF A+3 Angle Span 475 455

C Calculate Span W V 300 590 237,5 465 Type Pond. N N A Leg Extension B C D 0 +1 0 0 0 0

0 +1

0 +0,30

132

3 4

AR+6 B 0

2O30 9O30

510

390 450

482,5 527,5

S P

0 +1

+1 +2

+1 +2

0 +1

+0,20 +0,50

Dst. Pengujian Pondasi Pondasi setelah selesai dibangun maka diadakan pengujian dengan peralatan khusus yaitu untuk : Compression diuji pada gaya compression maximum yang telah ditentukan Uplift diuji pada gaya uplift yang telah ditentukan

Bila terjadi perobahan lebih besar dari 2,5 mm maka pondasi itu tidak baik dan harus diganti

Pondasi dan titik Excavasi Untuk setiap tower akan bekerja tiga gaya yang akan menimbulkan tiga efek gaya pada pondasi yaitu Compression , Uplift dan Shear. Untuk setiap type tower dimana tower itu dipasang dan berapa tingginya efek yang ditimbulkan akan tetap sama. Chek apakah betul untuk tower dengan type sama menimbulkan efek gaya yang sama .

133

Misal Type twer A 0 = 10 m lebar kaki.

H = 36 m H1 C +s C +s C +s C +s C +s
A= 10m

U-L -s -s -s -s -s U-L U-L U-L U-L

H2 H3 H4

A1 A2 A3 A4

Sebagai contoh tower type A dengan lebar kaki 10 m dan tinggi tower 36 meter

Chek untuk weight span ( W ). Weight akan selalu sama dibag 4 untuk weight span yang bekerja untuk setiap kaki yang lebar maupun yang sempit. Compression yang ditimbulkan akan tetap sama C1 = W/4 Chek untu wind span ( V ) Misal Compression yang disebabkan oleh wind span adalah C2 Maka V H = C2 A untuk setiap kaki C2 = VH/A V = Constan VH1 = C2 A1 VH2 = C2A2 C2 = VH1/A1 C2 = VH2/A2

VH3 = C2 A3 C2 = VH3/A3 Ratio dari H/A = H1/A1 = H2/A2 = H3/A3 dst Constan Karena sudut inclinasi dari stub adalah tetap

134

Misal A = 10 ; h = 36 H/A = 36/10 = 3,6 Untuk A+3 = 39 39/A1 = 3,6 Untuk A + 9 = 42 A1 = 39/3,6 = 10,8

42/A2 = 3,6 A2 = 42/3,6 = 11,6

Extension body = 3 meter , pertambahan lebar = 0,8m Untuk satu sisi = 0,8/2 = 0,4 m Jadi tan = 0,4/3
10/2 = 5 m (5 + 0,8/2) m

= 7,6O.

Stub

Jadi terbukti efek gaya yang ditimbulkan akan tetap sama biarpun terjadi extension body maupun extension leg karena ratio constan dan sudut inclinasi sama. Tower dengan type yang berbeda maka efek gaya yang ditimbulkan akan berbeda pula . Efek dari type A < B < C < D < E Oleh karena itu sudut kemiringan stub akan berbeda pula A < B < C < D < E Contoh perhitungan : Tower type A0 H = 36 m dan A = 10 m V = 7000 Kg W = 4000 Kg C1 = 4000/4 = 1000 Kg ( tidak begitu penting ) Yang berbahaya akibat angin X1 = 36 x 7000/10 = 25200 Kg C2 = 25200/2 = 12600 Kg A + 3 H = 39 m X2 = 39 x 7000 / A1 = 25200 A1 = 10,83 Tan = ( 0,83/2 ) / 3 = 7,52 O.

135

Misal untuk type B lebar kaki = 11 meter Akibat deviasi misalkan menghasilkan resultante R = 1000 Kg Maka gaya horisontal total = 7500 + 100 = 8500 Kg Moment = 8500 x 36 = X x 11 C2 = 27800/2 = 13900 Kg Berapa jarak A1 bila tinggi tower type B + 3 H = 39 m A1 = ( 8500 x 39 )/27800 = 11,95 meter Tan B = {( 11,95 11 ) 2 }/3 = B = 8 O 41 Jadi A < B = 7,52 O < 8 O 41 . X = 27800 Kg

Excavasi , foundation and Soil


( REAL SOIL AND FOUNDATION DATA UNGARAN CIREBON BANDUNG ) Jenis tanah dan pondasi dibedakan menjadi beberapa kelas
Tanah normal kering ( Normal dry soil )

H1 H2 a C 1A b C2A c C3 A C 4A H4
Rock Fondation tanah berbatu ( Rock )

H3

Tanah basah wet soil

C 5A

d
136

Tanah normal kering ( Normal Dry Soil ) Kelas tanah dibedakan menjadi : 1. Tanah normal kering ( Normal dry soil ) yang digolongkan menjadi tiga jenis dengan perbedaan bearing capacity C1 = 1,3 Kg / Cm C2 = 0,7 Kg / Cm C3 = 5 Kg / Cm a< b <c H1 < H2 < H3 1 > 2 > 3

2. Tanah berbatu ( Rock soil ) C4 R 3. Tanah basah ( Wet soil ) C5 ( Normal Special ) H4 > H3 c>c tetapi 4 > 3

Jenis tanah yang kondisinya seperti ini diperlukan pondasi jenis normal special dengan pembesian 4. Tanah sangat basah dan berlumpur ( Soft Wet Soil ) untuk jenis tanah seperti ini menggunakan jenis pondasi Special dan pilled

C6 ( Soft Wet Soil )

C6 A

30 O

Atau

C6 P

137

Ada satu jenis tanah yang jenisnya berada diantara C3 dan C6 yaitu kita namakan C3M yaitu jenis tanah yang bearing capacitynya seperti kelas C5 tetapi keadaan tanahnya kering
C6 ( Soft Wet Soil )

C3 M

H3 + X

45o

C+X

Pondasi yang digunakan jenis normal tetapi ukuranya diatas C3 jenis pondasi ini menggunakan sedikit pembesian XIX. STUB SETTING Setelah dilakukan excavasi kemudian dilakukan stub setting . Perlu diingat bahwa dalam melakukan excavasi harus hati-hati dan teliti jangan sampai penggalian kelebihan dalamnya bila hal ini terjadi maka tidak boleh diurug dengan tanah tetapi harus dicor dengan beton , dalam melaksanakan penggalian harus selalu diukur kedalamannya dengan ukuran batang kayu , setelah selesai excavasi kemudian dilakukan stub setting. Dalam melakukan stub setting bila tidak ada peralatan maka dipergunakan tower bagian bawah , yaitu bagian base dari tower dirakit sementara ( Temporer ) Dibagian bawah dari stub harus dipasang beton ganjal sebagai penyangga stub . Setelah bagian bawah base dirakit kemudian dilakukan pengechekan : 1. Centre tower harus berada di centre line ditengah-tengah , batang yang memotong centre line dilot tegak lurus pada centre line 2. Chek horisontal diagonal harus sama panjangnya. 3. Chek level harus sama . Toleransi ke centre line = 1 cm

138

Toleransi panjang diagonal = 0,5 cm Toleransi level = 1 2 mm

Beton kecil sebagai penyangga stub


1 3 4 5 6

Ditengah batang harus di lot ke centre line

Dapat juga menggunakan V Block , V Block ini pada prinsipnya hanya sebagai pemegang stup supaya tidak bergerak dan mengatur kemiringan dari stubsedang pengukuranya tetap menggunakan instrument , Vee Block ini dipergunakan untuk setiap kaki. Yang perlu diperhatikan dalam excavasi Batas limit yang harus diperhatikan dalam excavasi :

139

1. Excact posisi leg ( Presisi ) Harus diperhatikan perbedaan kaki dan perbedaan posisi excavasi. 2. Excact level botom of excavasi. Dalam praktek bagaimana membuang tanah bekas galian , yaitu harus dibuang searah diagonal arah keluar agar tidak mengganggu pekerjaan , disamping itu mengganggu peg-peg yang berada di centre line karena peg-peg tersebut setiap saat masih dipergunakan , penggalian ini dapat dilakukan dengan tenaga manusia maupun dengan tenaga mesin. Level diukur dengan instrument dan dicocokan pada model. XX. VOLUME PONDASI Setelah selesai excavasi dan stub setting maka dibuat pondasi. Material yang dibutuhkan untuk membuat pondasi adalah : 1. Grvel ( koral ) 2. Sand ( pasir ) 3. Cement ( semen ) 4. Air 5. Form Work ( cetakan / bekisting ) dibuat dari besi Material-material tersebut harus memenuhi syarat-syarat Qualitas dan Quantitas . 1. Kuantitas Misal jenis pondasi adalah normal kelas C2

140

Untuk mengetahui jumlah material yang akan dipakai maka harus dihitung volumenya.
0,5

C2
2,75

0,75

0,5

2m

2m

Volume slub : 2 x 2 x 0,5 = 2 m 3 Volime Plinth: (1/3) h ( a2 + b2 + ab ) = (1/3) 0,75 ( 22 + 0,52 + 2 x 0,5 ) = 1,1325 m3

Volume Chimney :
0,5 x 0,5 x 2,75 = 0,7 m3 . Total volume untu satu kaki = 2 + 1,3125 + 0,7 = 4,0125 m3 . Total volume untuk 4 kaki adalah = 4 x 4,0125 = 16,05 m3 .

141

Kemudian dihitung masing-masing volume materialnya , volume koral akan lebih besar karena koral tidak dapat homogen ( solid ) dan masih berongga. Volume -

koral pasir

= 0,8 x 16,05 = 12,84 m 3 . = 0,4 x 16,05 = 6,92 m 3 .

semen = 300 Kg x 16,05 = 0,4 m 3 5250 Kg air = 100 Kg x 16,05 = 1,6 m 3 1750 Kg
_________________________________________

Total Volume kekurangan dalam pelaksanaan pekerjaan .

= 21,26 m 3 .

Karena material tidak solid maka masing-masing material ditambah agar jangan terjadi Koral + 0,5 m3 , pasir + 0,3 m3 , semen + 50 Kg dan air dibuat 2000 Kg Penempatan material dilokasi harus tepat karena jangan sampai mengganggu pekerjaan yang lain. 2. Kualitas Kualitas dari koral adalah tergantung dari jenis pondasi dan ukuranya : 2 5 cm untuk normal pondasi . 1 2 cm untuk Reinforcing foundation ( Pondasi dengan pembesian ) 0,5 1 cm untuk Pilled foundation ( pondasi pancang ) Koral harus dicuci bersih Pasir harus dicuci bersih dengan air karena adanya organik soil akan mengganggu perekatan material satu sama lainnya. Kualitas semen ada bermacam-macam yaitu Quick Hard dan Slow Hard , serta Hight Compression dan Low Compression Yang paling baik adalah Hight Compression dan slow Hard ( ini yang kita pilih ) Kualitas air harus bersih jernih , semen harus disimpan dalam ruangan yang tertutup dan kering tidak boleh kena hujan .

142

Setelah syarat kuantitas dan kualitas dipenuhi maka kemudian di mixer , kita tidak bisa mixer 16,05 m3 sekaligus tetapi harus bertahap, untuk itu dibuatlah takaran dari kayu berupa kotak dengan ukuran panjang , lebar , tinggi 0,5 meter.

0,5 m 0,5 m

0,5 m

Sehingga mempunyai volume 0,125 m3 . Perbandingan 0,8 koral 2 kotak + 04 pasir 1 kotak mendapatkan volume 2 kotak atau = 0,125 x 2 = 0,25 m3 . Kebutuhan semen 300 Kg untuk 1 m3 jadi untuk 0,25 m3 dibutuhkan semen 300 x 0,25 = 75 Kg atau kurang lebih 2 zag. Untuk total beton yang akan terbentuk = 0,25 m3 . Setelah itu kemudian diadakan pengecoran, misal ditentukan tebal slib 0,5 m maka pada waktu pengecoran harus diukur dengan batang besi sepanjang 0,5 meter dan ditancapkan pada slub yang sedang dicor , setelah sampai ketinggian yang diinginkan kemudian diratakan dan dipadatkan , setelah selesai kemudian diatasnya diletakan Form Work untuk Plinth. Form work adalah cetakan beton dari besi , setelah dipasang dan dibaut kemudian diadakan pengecoran dan digunakan Vibrator untuk memadatkan , setelah padat dan penuh , kemudian dipasang Form work untuk Chimney , harus diperhatikan kedudukan-kedudukan stub harus benar-benar berada di centre dari chimney , toleransi 2 3 cm.

143

Form work untuk chimney agar tidak berobah maka harus dipegang dengan batangbatang kayu, sudut kemiringan chimney harus disesuaikan dengan kemiringan stub sesuai dengan type tower yang akan didirikan. Pengecoran beton harus dilakukan nonstop tidak boleh ditunda-tunda , oleh karena itu persiapan material harus cukup , jangan sampai ditengah-tengah pengecoran material habis. Pada saat ditengah-tengah pengecoran diambil dua sampel untuk keperluan pengujian dilaboratorium , sampel dimasukan kedalam box besi yang ukurannya 20x20x20 cm . Pada sampel diberi tanggal dan nomor tower.

20 cm

Tower No : Tanggal :

20 cm

20 cm

Sampel kemudian dibawa dan dibiarkan ditempat teduh hingga kering , tidak boleh di jemur dalam terik matahari , karena bila dijemur hasil pengujian tidak menggambarkan yang sebenarnya. Setelah satu hari kemudian dilepas dari box besi , kemudian setelah 28 hari dan sampel sudah kering dan keras kemudian dilakukan pengujian compression hingga sampel pecah. Pengujian dilakukan dengan hydrolik test yang dilengkapi dengan manometer dan hasil pengujian dicatat dalam daftar . Luas permukaan yang ditest adalah 20x20cm = 400 cm2 . Misalkan tekanan sampai 90000 Kg baru beton tersebut pecah maka daya tahan beton/cm2 adalah 90000/400 = 225 Kg/cm2 .
144

Kemudian dibuat daftar hasil pengujian untuk setiap tower. Setelah selesai pada daftar tersebut ditandatangani oleh ketiga pihak Misalnya Nomor Tower Pemborong ( rekanan ) Konsultan Pemilik proyek ( PLN ) Sampel 1 ( Kg/cm ) 1 2 3 4 5 6 Pemborong ( ) ( 225 240 245 215 115 95 Konsultan ) (
2

Date 2 ( Kg/cm ) 230 220 210 230 250 125


2

Tanggal diambil sampel Tgl : . . . . . . . . .

PLN )

Misalnya terjadi kasus seperti tower NO, 5 , kemungkinan pengambilan sampel yang kurang baik , dan misalnya terjadi seperti kasus tower No.6 harus dilakukan pengujian ulang, karena batas minimum adalah 200 Kg/cm2 .

CAROT

2cm

4 cm

Untuk itu maka pada tower No. 6 pondasinya harus dibor untuk diambil sampelnya yaitu CAROT dengan ukuran panjang 4 cm dan diameter 2 cm

145

Setelah diadakan pengujian misalnya didapat 110Kg/cm maka pondasi tersebut harus dibongkar dan diganti , bila didapat 250Kg/cm maka pondasi tersebut dapat dipakai . Pengujian CAROT dilakukan dengan peralatan lain dan Khusus. Form work dapat dibuka setelah 24 jam lebih baik setelah 24 jam , setelah form work dibuka maka secepatnya dilakukan pengurugan ( Back Filling ) agar pondasi tidak terkena sinar matahari , pengurugan setiap ketebalan 30 cm dipadatkan sampai selesai , tanah yang tersisa ditimbun ditengah tower karena bila kena hujan setelah 6 bulan akan turun dan akhirnya menjadi rata , mengapa daerah sekitar pondasi diratakan karena kita akan berkali-kali datang untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan lain seperti : Erection , insulator fitting , stringing dan lain-lain. Setelah minimum umur Pondasi 14 hari pekerjaan berikutnya dapat dilaksanakan namun pada umumnya setelah 1 bulan. Letak titik untuk Pilled foundation Pilled foundation digunakan pada type tanah kelas C6 Tower A 0 Lebar kaki = 11 meter Maka jarak stub ke centre tower (CT ) b = 11/2 2 = 5,5 2 = 7,77 m c = b e e = ( 1 2 )/2 = 0,7 m c = 7,77 0,7 = 7,07 m

146

2m 0.5 m 1m 0.5 m

b d c= = 6, 3 7 7,

a= 7, 7 7

9,

18

07

e = g = 0,7 m f = 2 2 m

g e

g = ( f 2 e ) /2 = ( 2 2 2 ) /2 = 0,7 m d = c f = 7,07 0,7 = 6,37 m a = b + f / 2 = 7,77 + 22 / 2 = 9,18 m tan = 0,7 / 7,77 = 5O 8

h = 7,77 / Cos 5O 8 = 7,8 m Stub harus diletakan pada centre excavasi yaitu pada titik tengah pada bagian bawah ( centre bottom excavasi ). Kemiringan pilled sama dengan kemiringan stub . Dalam melakukan pilling harus presisi karena bila tidak presisi akan mengalami banyak kesulitan , sebagai contoh pillet untuk A + 3 dibuat A + 0 karena kesalahan membaca pada file sehingga pilled yang sudah di cor tidak akan ada gunanya. Pilled foundation dengan 6 Pilled

147

Untuk 6 pilled foundation excavasinya berbeda , untuk tower standard A 0 jarak kaki = 11m setengah diagonal = 5,5 2 = 7,77 m

1m 1m

3m

2m

45o
0 8,2 m 2 7. m
d= 7m 7,2
d= 8 ,2 6m

= 6o57

7m 7.7

= 7o54

Untuk bottom excavasi bila tinggi stub = 1 m dengan inclinasi 6O maka penggeseran excavasi dibawah adalah 1 tan 6 O = 0,1 m , jadi cebtre tower excavasi dari cebtre tower adalah 7,77 + 0,1 = 7,87 m. Untuk pondasi pilled beton yang diuji ( Sample ) adalah hanya beton pillednya saja , sedangkan kapnya tidak diuji. Pengujian pada pilled foundation untuk pengujian compression Peralatan yang digunakan adalah : Mesin hydrolik

148

Dinamo meter Fleksi meter

Mesin hydrolik dipergunakan untuk memberikan gaya pada pondasi yang akan diuji. Dinamo meter dipergunakan untuk mengetahui beban compression yang diberikan , sedangkan fleksi meter dipergunakan untuk mengetahui deformasi yang terjadi, misalnya pada tekanan 40 ton terjadi deformasi 1 mm dan pada 50 ton terjadi deformasi 2 mm dan pengujian melebihi toleransi 2,4 mm adalah tidak baik , biasanya pengujian sampai terjadi deformasi setelah 15 menit jarum deformasi akan menuju titik nol kembali karena deformasi hanya disebabkan oleh adanya elastisitas.

1 mm 2 mm 3 mm

Dinamo meter
10t 20t 30t

4 mm

40t

Fleksi meter

50t

Mesin hydrolik

XXI. RIGHT OF WAY ( ROW ) Setelah selesai dilakukan tower plotting kemudian menentukan lokasi tower dilapangan dan menemui pemilik tanah untuk mendapatkan persetujuan dimana letak

149

tower akan didirikan dan memberikan ganti rugi kepada pemilik tanah , agar dalam pekerjaan selanjutnya tidak mengalami hambatan., setelah mendapatkan persetujuan kemudian dilakukan tower pegging , dan excavasi. Antara tower pegging dengan excavasi interval waktunya jangan lama-lama untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan , seperti pembuangan peg atau ada yang memindahkan . XXII. ROUTE CLEARANCE DAN SWUNG OUT Route clearing adalah daerah dibawah konduktor sejauh 11 m kekiri dan kekanan dari centre line ( CL ) harus terbuka dan bersih dari pepohonan dan rumah , semua pohon diatas 7 meter harus ditebang karena ground clearance adalah 15 meter dan house clearance adalah 8,5 meter hal ini untuk menjaga keamanan . Berhubung adanya hembusan angin pada konduktor maka akan terjadi simpangan yang akan mengakibatkan route clearance tidak 22 meter lurus tetapi akan melebar ditengah-

angin

11 meter

11 meter

angin

Max = 5 meter

150

tengah antara satu span karena adanya simpangan karema hembusan angin. Simpangan yang diijinkan adalah maximum 5 meter besarnya simpangan maximum adalah tergantung dari jarak span dan sag , besarnya sudut simpangan maximum adalah 15O kekiri dan kekanan

15O

X = 360 15O 2S XC

x b a

15O

Pengaruh Simpangan Akibat Swung Out Terhadap Ground Clearance Pengaruh simpangan karena swung out terhadap ground clearance , bila tanah datar hal ini tidak ada masalah tetapi bila ada side slope , akibat simpangan ini perlu diperhatikan karena akan mempengaruhi ground clearance Side slope yang perlu diperhatikan adalah sise slope yang lebih tinggi diukur dari centre line sedangkan yang lebih rendah dibanding centre line tidak menimbulkan masalah.

151

Min GC

GC

SS E

SS

152

H = S + SS + GC
15O

d = S sin 15O
xc

XC = S - S cos 15O = S ( 1 - cos 15O ) XG = d tan XG = S sin 15O tan tan =


SS

E
SS

XG

SS

XG = S sin 15O

XG < XC agar GC Memenuhi syarat

Hal ini berlaku untuk side slope yang reguler ( teratur ) tetapi pada tempat-tempat tertentu terdapar side slope yang tidak teratur ( irregular ) oleh karena itu pada profile harus dibuat dua macam side slope yaitu : 1. Side slope normal regular di ukur 11 m untu R SS dan L SS 2. Side slope irregular atau special side slope di ukur sejauh 11 + 11 = 22 m baik kekiri atau kekanan.

SS special SS normal 11m 153 11m

Pohon Yang Harus Ditebang Pohon yang harus ditebang adalah pohon yang sejauh X dan setinggi H , bila ketinggianya melebihi H harus ditebang karena bila pohon tersebut tumbang akan mengenai konduktor . Elektrical clearance adalah 8,5 meter Ground Clearance = 15 meter X = ( H + 15 ) d = S sin 15O E = 11 meter
2 2

154

15O

H
H
15m

11 m

CL

11 m

STRIP Harus bersih dari segala hal

Pada umumnya yang kita jumpai dilapangan adalah sebagai berikut

155

d = ( h2 - GC2 ) D=d+E D > ( h2 - GC2 ) + E S

8,5

m
H

m 8,5
8,5
GC

m 8,5

GC

E D = 15 meter

Dalam menyelesaikan persoalan route clearing maka harus mecakup segala kondisi antara lain : Ground clearance minimum 15 meter Road clearance minimum 20 meter House clearance minimum 8,5 meter Dan juga harus dipertimbangkan masalah ekonomisnya

156

Untuk keadaan tanah yang miring :

15O

GC b e d D a E = 11 m

d = S sin 15o . a = Side Slope b d+11 c e+d+11


=

a b 11
=

a (d + 11 ) 11
=

a 11

a (e+d + 11 ) 11

e = D ( d + 11 ) X = { e2 + ( GC + b c ) 2 } H = D ctg c Bila H > X maka pohon harus ditebang XXIII. ACCESS ROADS Access roads adalah jalan sementara menuju lokasi tower , hal ini sangat diperlukan karena menyangkut pengangkutan material : - Material Konduktor - Material Earth wire

157

- Material Tower - Material Insulator dan Fitting - Material Pondasi - Dan material-material tersebut yang jumlahnya hampir mencapai 66 ton diangkut dengan kendaraan khusus bukan oleh manusia .
= CL Access Roads = Main Access Roads = Main Roads

MAIN ROADS

Untuk memudahkan pengangkutan material dari tower ke tower maka diperlukan main access roads dan Centre Line Access roads . Centre Line Access roads diwaktu-waktu pemeliharaan . Untuk mendapatkan Access roads karena menyangkut tanah masyarakat maka jauh sebelum excavasi harus dilakukan pendekatan terhadap masyarakat, untuk mendapatkan persetujuan dengan memberikan ganti rugi pada daerah yang akan dilalui. XXIV. JENIS-JENIS TOWER TRIANGLE ARRANGEMENT kemudian dipergunakan untuk

158

Dengan konduktor 2 x 3 fasa dan 2 earth wire

SINGLE CIRCUIT 3 FASA SATU EARTH WIRE Dipergunakan untuk tegangan 30 KV 70 KV 150 KV

HORISONTAL ARRANGEMANT 3 x 3 fasa dan 2 earth wire


DELTA ( HORISONTAL ARRANGEMENT )

SINGLE CIRCUIT 3 FASA DUA EARTH WIRE Dipergunakan untuk tegangan 220 KV 330 KV 380 KV 400 KV 500 KV

VERTICAL ARRANGEMANT 3 x 4 fasa dan 2 earth wire

159

PIRAMIDE ( VERTICAL ARRANGEMENT )

DOUBLE CIRCUIT 2 X 3 FASA SATU EARTH WIRE Dipergunakan untuk tegangan 30 KV 70 KV 150 KV 330 KV 380 KV

Dengan konduktor sampai 2 x 3 fasa + 2 x 3 fasa denga satu earth wire.

PIRAMIDE ( VERTICAL ARRANGEMENT )

DOUBLE CIRCUIT 2 X 3 FASA DUA EARTH WIRE Dipergunakan untuk tegangan 70 KV 150 KV 330 KV 380 KV 400 KV 500 KV

160

Dengan konduktor sampai 4 x 3 fasa + 4 x 3 fasa denga dua earth wire

30 KV 70 KV 150 KV 30 KV 70 KV 150 KV 220KV 380 KV

70 KV 150 KV 220KV 380 KV 400 kv 500 kv

FAMILI PIRAMIDE

220 KV 330 KV 380 KV 400 KV 500 KV

Single Circuit Double Earth Wire

161

GUYED TOWER Jenis tower Guyed ini dapat digunakan untuk jenis tower piramide mauoun delta Untuk jenis tower ini cukup bagus dan harganya murah tetapi sangat berbahaya karena apabila ada yang memotong salah satu guyednya tower tersebut akan roboh. Tower jenis ini hanya dipergunakan untuk daerah yang tidak ada penduduknya dapat dipakai untuk sampai dengan tegangan 380 KV

162

Cara penarikan tali skur adalah membentuk sudut 60 O .


CL

O 60O 60

60O 60O

60O 60O

TOWER PORTAL

Single Circuit Duoble Earth Wire ( Jarang dipakai )

163

BAGIAN-BAGIAN DARI TOWER


E.W. PEAKS

TRAVE

CROSS ARM

DELTA

BODY (AND EXTENS)

BASE

LEG (AND EXTENS) STUB

JENIS-JENIS CROSS ARM


<5o

>30o b a a

b>a

>10o

Line Tower

c>a

164

BASE

SQUARE BASE (Untuk Tension Tower)

CL 45O

RECTANGULAR BASE (Untuk Suspension Tower ) CL

a = 2/3b

b
. Rectangular Base dipergunakan untuk menahan gara angin karena momen lawan akan lebih besar.

165

XXV. SECTION Satu section adalah antara tension tower sampai dengan tension tower berikutnya.

S
SECTION 2

SECTION 1

S
SECTION

S
SECTION

S
SECTION 2

SECTION 1

Equivalent Span dihitung untuk setiap section

E.S =

( S3 ) S

>

S No.S

E.S =

-50 +50 -50 +50

VS = 500 m ( Virtual Span ) 550 ES VS = 500 m VS = 350 m 450 ES 400 ES 300 ES

E.S =

-50 E.S = +50

] ]

166

Dalam penggunaannya misalnya kita dapatkan ES = 400 450 m maka bila menggunakan VS = 500 m tidak tepat karena sebenarnya Ground Clearance kurang dari 15 m , oleh karena itu kita menngunakan VS = 350 m dengan konsekwensi Ground Clearance lebih sedikit dari 15 m ini lebih baik. Di Indonesia Template Catenery hanya menggunakan dua model yaitu VS untuk 450 550 m VS untuk 300 400 m Karena di Indonesia perbedaan Yaitu : VS 350 350 - 450 VS450 450 550 VS 550 550 650 VS 650 650 750 VS 350 dst Karena di Eropa perbedaan temperatur cukup jauh berkisar 70 O C yaitu antara 30O C sampai +35O C . suhu minimum dan maksimum berkisar antara 15O -- 35 OC , sedangkan di Eropa menggunakan Template catenery sampai 5 model

S S1

H2-H1

H1 C2 C C1

H2 S=

C2P 8T

C1 = C2 S1 - S = X S1 = C1 2 P 8T

Jadi biarpun levelnya tidak sama cara menghitung sag tetap sama tidak berubah sama seperti perhitungan pada level yang sama dan hasilnya pun tidak berubah

167

H2 - H1 C C1 C X = S1 - S tan = H2 - H 1 C1 X = C . tan X C

S1 - S = C . tan H2 - H 1 = C C 1 S1 = S + C . H2 - H1 C1

Dalam pratek ini dipergunakan untuk pengecekan sag karena sag dan ground clearance harus benar karena pada kenyataannya medan transmisi tidak selamanya datar. OFFICE MAP
MEREDIANS ( BUJUR )

PARALLELS ( LINTANG )

J
A1

C U

Transmisi 500 KV adalah line utama dan merupakan proyek besar oleh karena itu harus diberi tanda pada tempat-tempat khusus di peta terutama pada titik-titik deviasi dan ini sangat penting.
168

Oleh karena itu posisi dari terminal tower dan titik-titik deviasi harus tahu ordinatnya yang menggunakan ordinat Meredians ( Bujur dan Lintang ) Misalnya pada gambar peta letak transmission lines Jakarta ( J ) Bandung Cirebon ( C ) Ungaran ( U ) dan diantara kota-kota tersebut juga digambarkan letak titik-titik deviasi. Bagaimana menentukan arah utara , menggunakan kompas kurang tepat karena kompas menuju kekutub , tidak tepat keutara tetapi bergeser , cara yang terbaik adalah dengan menggunakan matahari.
Pertama kita tempatkan teodolit diatas senter tower kemudian tempatkan peg sejauh 50 meter sebagai referensi kemudian arahkan instrument ke peg referensi dan putar kearah matahari ( antara jam 08.00 09.00 pagi ) sebesar sudut , posisi instrument dengan peg referensi membuat sudut horisontal dan sudut vertikal ( inklinasi ) , kemudian putar kearah matahari ( antara 15.00 16.00 sore ) ditunggu sampai posisinya pas matahari lurus dengan instrument dengan sudut inklinasi tidak berubah

Z
8-9 pagi 3-4 sore


6 pagi 6 sore

Peg referensi

169

Arah utara adalah diputar sebesar sudut NOTE :

= ( 1+ 2 )/2 dari peg referensi .

Untuk melihat matakari tidak boleh langsung karena retina mata akan terbakar , oleh karena itu teodolit harus diberi filter yang berbentuk prisma sehingga matahari terlihat menjadi 4 buah dan persinggungan matahari terlihat gelap titik inilah yang kita ambil sebagai titik tengah matahari.

Setelah didapatkan garis arah utara yang tepat kemudian ditempatkan peg sebagai referensi , arah utara untuk menentukan sudut yaitu arah dari transmission lines ( Centre Lines ).
N
peg

R
2 1 3

-180

L FORMULA - 180O = 1+2 + 3 + 4 + 5 + 6 - 180O = 1 n Dengan perjanjian - Deviasi angle kekanan - Deviasi angle kekiri - 180O = -1+2 - 3 + 4 - 5 + 6

Toleransi perbedaan sudut adalah 1O bila terjadi kesalahan lebih dari 1O maka pada waktu survey pasti terjadi kesalahan , oleh karena itu harus diulang.

170

Kesalahan pengukuran sudut berakibat besar maka untuk mengoreksi harus dichek dikedua terminal sehingga bila terjadi kesalahan akan terlihat . Bila terjadi selisih 1O ( toleransi 1O ) maka setiap sudut deviasi harus diadakan kompensasi sebesar sudut 1O / No,angle. Contih : Misal pada suatu transmission lines mempunyai dua sudut deviasi ( dua tempat ) Misal 1 = 30 O kekiri 1 = 27 O kekanan sedangkan = +180 O . = - 282 O . - 180 O = + 100 O 282 O + 180 O = - 2 O . 1 + 2 = -30 O + 27 O = - 3 O.

Error = -1 O .
Compensation = -1O / 2 = - 0 O.30 Karena kompensasi = - 0 O.30 maka untuk setiap sudut deviasi harus ditambah 0
O

.30 , maka 1 menjadi = - 30 O + 0 O.30 = -29 O.30


2 menjadi = 27 O + 0 O.30 = 27 O 30 Total = - 2 O

27o

27o30

- 180o

30o

29o30

171

COORDINATES Dua macam koordinat 1. Polar Coordinates - ( Azimut ) L ( Distance )

2. Cartesius Coordinates ( X , Y ) PARTIAL COORDINATES

T1

YA2
L

YA1
L2

A2

A1

XA1

XA2

Ubtuk titik A1 sebagai referensi adalah titik T1 maka : XA1 = L1 cos ( - 90 O ) YA1 = L1 sin ( - 90 O ) XA2= XA1 + L2 sin ( 1 + 2 ) YA2 = YA1 + L2 cos ( 1 + 2 )

172

CONTOH

N 2
A3 YA 3

4
A2 TXA2 TXA3 TXA4 TXA5 A4 YA4 A5 YA5

YA2

A1

REFERENSI A1 X A2 = D2 sin Y A2 = D2 cos TOTAL X A3 Y A3 X A4 Y A4 X A4 Y A4

REFERENSI A2 X A3 = D3 sin Y A3 = D3 cos

REFERENSI A3 X A4 = D4 sin Y A4 = D4 cos

REFERENSI A4 X A5 = D5 sin Y A5 = D5 cos

= T X A 2 + X A3 = T Y A 2 + Y A3 = T X A 3 + X A4 = T Y A 3 + Y A4 = T X A 4 + X A5 = T Y A4 - Y A5 ( Karena
> 90 O )

173

KEDUDUKAN LOKASI TRANSMISIION LINES TERHADAP GARIS BUJUR ( GREEN WICH ) DAN GARIS LINTANG ( EQUATOR ) Untuk mengetahui lokasi Transmission Lines harus berlaku secara internasional yaitu diukur dari jarak garis Green wich dan garis Equator , sehingga umum dapat mengetahui dimana lokasi koordinat transmission lines tersebut terhadap garis Green wich (Bujur) dan terhadap garis Equator ( Lintang ) . Yang harus diketahui lebih dahulu adalah titik Terminal tower kemudian setiap sudut deviasinya dengan referensi koordinat terminal tower. Untuk mengetahui geografi koordinat terminal tower maka titik terminal tower tersebut harus menggunakan salah satu titik referensi yang sudah diketahui geografi koordinatnya seperti Gunung , Menara TV, dan lain-lain , dari titik ini kita tinggal menambah atau mengurangkan saja .

EQUATOR GY T1 GY59 PX T1 GREEN WICH PY T1


L

GX 59

P.XA1

A1 P.YA1

GX T1

T1 P.XA1 dan P.YA1 Partial coordinates titik A1

Partial Coordinates ( PX T1 dan P Y T1 ) PX T1 = L sin

174

PYT1 = L cos Sehingga geografi koordinat terhadap garis green wich dan Equator untuk titik T1 adalah : G.X T1 = G.X 59 + P.X T1 ( Terhadap Green Wich ) G.Y T1 = G.Y 59 + P.Y T1 ( Terhadap Equator ) Setelah didapat letak geografi koordinat titik T1 maka untuk setiap sudut deviasi sepanjang transmisi dapat ditentukan dengan referensi titik T1. XXVI. ERECTION TOWER Steel Tower terdiri dari banyak potongan-potongan besi siku dengan ukuran sesuai dengan posisinya yang sudah digalvanisir . Untuk memudahkan penyusunan tower ( konstruksi tower ) maka setiap potongan besi siku harus diberi tanda sebagai identifikasi yaitu : type tower , nomor posisi dan letaknya dikiri L dan dikanan R
A. 2.R

A.1.L

A.1.R

2. A. L
A. 1 32 . L

13 A.

2.

A.944

175

Identifikasi mulai dari ujung tower ( Earth Wire ) sampai ke Stub

A.132.R

A.132.L

Untuk memudahkan erection harus dibuat Composision List untuk setiap type tower berikut extens body dan extens legnya , juga untuk kebutuhan bautnya. Composision list harus benar dan teliti. Contoh : COMPOSISION LIST FOR TOWER TYPE A No. posisi L R Quantity Ext. A+3 1 1 1 2 2 2 2 4 3 2 2 4 4 5 . . 56 8 . . 944 4 No. Posisi 56 dan 944 dapat dipasang dikiri atau dikanan. COMPOSISION LIST OF BOLT TOWER TYPE A Ext A+6 Ext A+9

20

S 16

QUANTITY 3 X4

176

18 16 Dst

20 18

2X4 4X8

= diameter
S = panjang baut STEEL YARD ( STEEL DEPO ) Cara penempatan potongan-potongan bagian tower adalah penting sekali , pengelompokan untuk setiap type tower harus teliti dan benar , ada dua sistem . pengaturan penempatan potongan-potongan bagian tower : 1. Pengelompokan berdasarkan Nomor posisi untuk setiap type tower dalam satu tempat sehingga bila diperlukan tinggal mengambil kebutuhan yang diperlukan sesuai dengan komposisi list nya. Karena tower type merupakan mayoritas dari jumlah semua tower , hampir 90 % tower type A maka diperlukan tempat yang luas sedang type tower yang lain tergantung prosentase tower yang diperlukan , misal type tower A.R = 5 % Tower Type B = 2 %, Tower type C = 1 % dan seterusnya. Cara pengaturan penempatan potongan dibuat teratur adalah untuk memudahkan pengambilan , sehingga bila diperlukan sebuah tower type A dapat dilayani selama satu jam dan tidak terjadi kesalahan.

177

1 R . 1 L . 2R . 2L . . . . . . . . . . .

2R

1L

1R

TOWER TYPE AR

TOWER TYPE B 2L

3R

A.5.R TOWER TYPE C

3L

TOWER TYPE A

TOWER TYPE D

TOWER TYPE E
TOWER TYPE FF TOWER TYPE F/90O

2. Cara kedua adalah sistem bundle yaitu beberapa bagian dari satu type tower diikat menjadi satu dan ini juga masih dikelompokan menurut typenya sehingga bila diperlukan tinggal mengambil beberapa bundle sesuai dengan composision list untuk setiap type tower misal keperluan satu tower diperlukan : 2 bundle top 2 bundle trave 2 bundle cross arm 2 bundle delta 2 bundle body 2 bundle stub dst

178

Sedangkan pengelompokan mur-baut harus di pisah-pisah dikelompokan menurut ukurannya, setiap ukuran mur-baut ditempatkan dalam suatu peti dan diberi kode nomor ukuran mur-baut tidak boleh dicampur karena akan 20 x 60

No.256 24 x 20

No. 231

18 x 40

No.562

Dan seterusnya . . . . . membuat bingung. Pada waktu pengiriman mungkin terjadi kesalahan maka harus dichek mana yang rusak, dan dibuat daftar untuk dimintakan ke pabriknya demikian juga untuk bagian-bagian yang hilang.

XXVII. STRINGING Stringing adalah pemasangan konduktor pada tower. Sebelum stringing dilakukan perlu persiapan yaitu : Pengecekan untuk setiap tower mengenai keadaan pondasi, dan bagian-bagian tower apakahada yang hilang atau masih kurang atau masih ada kesalahan , dan keadaan bautnya apakah masih lengkap hal ini dinamakan Revision. Bila ada kekurangan ambil di steel yard dan segera dipenuhi kekurangan tersebut. Dalam pekerjaan ini konstruksi oleh Pelaksana dalam negeri ( WK ) dan Supervision oleh Suplyer luar negeri ( SAE ) .

179

Pada waktu stringing konduktor tidak boleh menyentuh tanah , karena akan menyebabkan luka dan kotor , bila tegangan kerja sudah dikenakan akan menimbulkan efek korona. Bila keadaan tower sudah lengkap kemudian dipasang isolator dan pulley block untuk tower suspension dan pulley block untuk tower tension.

Pemasangan Pulley Block untuk Suspension Tower

Pemasangan Pulley Block untuk Tension Tower

Setelah pulley block dan isolator terpasang kemudian dengan tenaga manusia memasang pilot wire dari tali nylon dengan memanjat untuk setiap tower dengan diameter tali = 5cm , setelah tali nylon terpasang pada pulley block kemudian disambung dengan steel pilot wire dengan diameter = 10 cm , kemudian tali nylon digulung untuk menarik steel pilot wire = 10 cm , setelah pilot wire = 10 cm terpasang kemudian disambung dengan pilot wire dengan diameter = 20 cm , setelat pilot wire dengan diameter = 20 cm terpasang pada pulley block , kemudian pilot wire dengan diameter = 20 cm disambung dngan konduktor , penarikan konduktor dilakukan per fasa yaitu untuk empat konduktor sekali gus.

180

steel rope
10 mm

steel rope yoke


20 mm

nylon rope 5 mm

Karena konduktor tidak boleh menyentuh tanah maka diperlukan tension , oleh karena itu diperlukan alat pengerem yaitu Brake Machine.

Drum Conductor

Brake Machine

Ditarik oleh Winch machine

Tension

Setelah selesai pemasangan konduktor pada pulley block kemudian dipasang camelong untuk memasang angker sementara agar konduktor tidak merosot ketanah. Setelah selesai dipasang angker skur sementara kemudian dipasang Deadend Clamp setelah selesai kemudian ditarik pelan-pelan , untuk dipasang pada pada isolator tension tower kemudian pelan-pelan dilepas , dengan alat komunikasi memberitahu petugas winch.

181

Tension Tower

Deadend Clamp

Suspension Tower

Suspension Tower

Winch

Camelong

Konduktor

Camelong

Skur darurat Anker Pemberat

Skur Anker Pemberat

Cara penarikan setiap 3000 meter, setelah selesai berikutnya adalah sama 3000 meter setelah selesai kemudian konduktor disambung , setelah selesai penyambungan angker darurat dilepas konduktor telah tersambung. 1. Drum Station dan Winch Terminal Dalam stringing yang paling sulit adalah menentukan drum station dan winch terminal , karena diperlukan tempat yang datar dan luas dan memungkinkan dalam transportasi peralatan dan material , karena untuk stringing 300 meter diperlukan 12 drum konduktor, 2 drum earth wire , brake machine dan lain-lain, yang semuanya itu cukup besar dan berat, dalam hal ini penempatan drum station dan winch terminal dapat dilihat dari gambar profile. 2. Pekerjaan stringing Urutan pekerjaan striging adalah sebagai berikut : 2.1. Transportasi material yang diperlukan ke lokasi drun station : Earth wire drum Conductor drum Insulator Pulley block Winch Dan peralatan stringing lainnya.

Karena jumlah material cukup berat dan besar maka perencanaan untuk penempatan harus benar dan tepat.
182

2.2. Penarikan ( pull out ) dari drum earth wire dan conductor ke puncak tower , dan bila penarikan lebih dari single pulled ( 3000 meter ) maka diperlukan jointing 2.3. Tensioning dan Sagging Tensioning adalah memberikan tegangan tarik pada konduktor pada porsinya ( benar ) yaitu sesuai dengan EDT tension Sagging adalah pengaturan sag untuk setiap span harus benar, tensioning dan sagging dilakukan untuk setiap section. 2.4. Sectioning dan Clamping Sectioning adalah stringing untuk tower tension ke tower tension Clamping adalah memindahkan konduktor dari pulley block ke suspension clamp. Tension dilakukan untuk setiap section untuk tension sementara sebelum clamping kurang dari 1800 kg dan sagging mendekati betul (temporary sagging) untuk final paling sedikit adalah setelah dua hari karena kemungkinan masih tertjadi perubahan pada konduktor dan final tension dilakukan untuk setiap section.
S T S S T S S S S T S S

section
3000 m

section
Temporary tension

Winch terminal

Drum station

Drum station

Pada waktu mau memotong konduktor harus diberi tanda , juga saat memindahkan dari pilley block ke suspension klem harus diberi tanda. 2.5. Pemasangan spacer dan pentanahan konduktor

183

Karena konduktor telah diisolasi dari tanah maka harus ditanahkan , karena adanya muatan elektro statis konduktor akan bertegangan , oleh karena itu konduktor harus ditanahkan untuk keamanan pekerja. Pemasangan spacer menggunakan sepeda dan jumlah spacer tergantung dari panjang span, spacer mempunyai ukuran 40 x 40 cm 2.6. pemasangan fitting , final revision , dan melepas pentanahan. Fitting : - Anti panjat Monotoring ( tanda peringatan) Damper anti getaran Final number of tower Posisi fasa

Dalam proyek ini tidak menggunakan damper karena pada spacer sudah dilengkapi dengan karet peredam getaran.

Karet peredam

Setelah pemasangan fitting selesai kemudian melepas pentanahan. 2.7. Pengukuran tahanan tanah kaki tower Tahanan tanah diukur karena tahanan tanah berbeda-beda , bila tidak cukup dengan pipa maka dibuat dengan plat strip yang ditanam dalam tanah yang dihubungkan antara tower dengan tower, tahanan tanah > 20 Ohm adalah tidak baik

Pipa

Plat strip

184

Ada kalanya menggunakan plat strip diputarkan disekeliling tower

Pentanahan dilakukan sebelum stringing. 3. Cara Pelaksanaan Stringing Pertama kita tarik tali nylon dengan tenaga manusia memanjat setiap tower ( fasa 1 ) setelah selesai kemudian diputar ke fasa 2 sekalian menarik steel rope setelah selesai nylon diputar pada fasa 3 dan steel rope 2sekaligus menarik steel rope

=10 mm

=10 mm diputar pada fasa

=20 mm setelah selesai kemudian disambung

dengan konduktor yang akan ditarik setelah selesai penarikan konduktor fasa 1 dam
Fasa 3

Fasa 2

Nylon

Steel = 10 mm
Fasa 1

Konduktor

Steel = 20 mm

posisi steel rope =20 mm pada fasa 2 dam steel rope

=10 mm pada fasa 3 kemudian dapat dilakukan

penarikan konduktor fasa 2 dan sekali gus steel rope dan siap untuk menarik konduktor fas 3.

=20 mm diputar untuk fasa 3

185

Brake machine juga digunakan untuk steel rope untuk menghindari rumah atau benda-benda lain.

=10 mm dan =20 mm karena

Penarikan dapat dilakukan : - single pulley 3000 meter - double pulley 6000 meter ( satu sambungan ) - triple pulley 9000 meter ( dua sambungan ) Penyambungan dilakukan di drum station , dalam penarikan harus dilengkapi dengan alat telekomunikasi antara drum station dengan winch terminal untuk memberitahu tarik , kendor , brake dan lain-lain. Pentanahan : Pentanahan sepanjang 1 km dari Substation (GI) harus dibuat continuous yaitu antara

1 km

1 km

tower ke tower sepanjang 1 km Pengukuran tahanan tanah sebelum stringing karena setelah stringing pengukuran bukan harga yang sebenarnya karena sudah ada earth wire , batas tertinggi tahanan tanah adalah 20 ohm . Bila tahanan tanah lebih dari 20 ohm harus ditambah elektroda pentanahan sedangkan bila kurang dari 2 ohm pentanahan dengan stub sudah cukup tanpa elektroda pentanahan . Dalam proyek ini harga tahanan tanah 80 % adalah 2 Ohm, bila tahanan tanah lebih dari 20 Ohm dibuat pentanahan radial.

186

4. Section Yang dikatakan section adalah antara tower tension ketower tension kerikutnya karena : Tension sama Equivalent span sama Virtual span pada cartenery sama

5. Sagging Pengaturan saggging yaitu dengan pengaturan tension , pengukuran sagging dilakukan pada suhu kerja , sedangkan curva diambil pada suhu maximum 45 O C , sedangkan penarikan adalah pada suhu kerja 30 O C sagging berarti diambil antara suhu 15 O C s/d 45 O C, perbedaan suhu mengakibatkan perbedaan sag .

15o C

30o C 45o C

Misal maximum temperature S = 21,1 m Minimum temperature S = 17,9 m Perbedaan sag = 3,2 m

187

Toleransi sag adalah satu kali diameter konduktor atau maximum t = 2 x untut setiap derajat kenaikan suhu Oleh karena itu penentuan sag dengan menggunakan list. Stringing table of sagging Span toC 15oC 16oC 17oC 18oC 19oC : : 30oC 45oC 1-2 17.9 18.1 18.25 18.32 2-3 3-4

konduktor

19.00 21.11

Perbedaan sag dipengaruhi oleh perbedaan suhu maka harus diperhitungkan untuk setiap derajat untuk setiap span . Untuk satu section cukup diukur satu span saja dengan sendirinya yang lainpun betul ,

Min G. C . 300 m 700 m 300 m

misal kita dapatkan span yang cukup banyak maka pengukuran dilakukan untuk beberapa span untuk koreksi. Pengukuran span tidak pernah dilakukan pada span dekat tension tower karena konduktor masih berubah pada saat ditarik Bila menjumpai span seperti dibawah ini

188

Berat konduktor cenderung menjurus ke span terbesar sehingga pengukuran sag dilakukan pada sag dengan span terbesar , sehingga ground clearance minimum tidak kurang dari 15 meter , akan tetapi pada span terkecil tidak diperlukan pengukuran lagi karena sag menjadi kecil dan gground clearance menjadi lebih besar dan akan lebih aman , Pada waktu melakukan pulling out conduktor tension dibuat lebih dari EDT yaitu sebesar 20 % dari EDT selama 15 menit , ini adalah bagus untuk sag yang akan datang , kemudian dikendorkan dibawah sedikit dari EDT. Penarikan konduktor over tension selama 15 menit dimaksudkan agar strand ( puntiran bagian-bagian konduktor ) agar mapan , setelah itu dikendorkan dan dibiarkan selama paling tidak dua hari kemudian baru dapat dilakukan sagging. Misal EDT = 1800 kg , 20 % EDT = 2160 kg selama 15menit kemudian dikendorkan sedikit dari EDT misal = 1700 Kg salama dua hari baru disagging. 6. Pengukuran sagging : Instrument untuk mengukur sagging adalah teodolit khusus yaitu teodolit kakatua yang dapat dibautkan pada besi tower ( Parot Theodolit) . Petugas sagging dilengkapi dengan sarana telekomunikasi untuk meminta pada petugas winch terminal untuk mengendorkan atau menarik konduktor sampai didapat sagging yang tepat dalam keadaan balanche , kemudian pada tension diberi tanda untuk pemotongan , begitu juga pada suspension insulator juga diberi tanda untuk memindahkan dari pulley block ke suspension clamp.

Cara pengkuran sagging : 1. Bila kita dapatkan satu span yang dapat melihat sag diantara tower ke tower : Contoh : Misal pada saat pengukuran sagging suhu menunjuk 30o C pada thermometer dari tabel dapat dilihat , masal pada span 2-3 dibaca sagging 19 m

189

t = 15 o C x x 19 m 19 m 19 m

t = 30 o C
Instriment dilengkapi dengan telekomunikasi

t = 45 o C

Staff yang dipasang horisontal sebagai sasaran ( target )

2. bila kita dapatkan lokasi yang tidak rata dimana dari satu tower tidak dapat melihat tower yang lainnya. ( 2.a. ) 2.b ( Cara yang lebin baik )
A-3 = 36,5m Misal pada suhu 29 C didapat S = 34 m
o

S + X = 36,5 m

A + 3 + X = 42,5m
1m

X = 3,5 m 34 m

d = D/2 - x x = D/2 - d x=T/pD

Harus didapatkan untuk pengukuran sag Cara ini terlalu repot

S + X = 37,5 m

= perbedaan tinngi tower diketahui S

s
d d

instrument

x D/2
tg = D

D/2 D

3. Reduced Horisontal Sag x=T./p.D d = D/2 ( T /p.D )

190

s = d2p / 8T

atau

a = { D/2 - ( T /p.D )} 2.p 8T

T = Tension = Defferensi level p = Berat konduktor / meter Untuk pengukuran sag yang kita butuhkan adalah s ( sag dengan span 2d ) yaitu dengan menempatkan unstrument sejauh s dari posisi konduktor dengan sudut 90 inklinasi Bila ingin mengetahui RS ( Reduced Sag ) adalah : T / ( D/2 x ) = / D t = { ( D/2 x ) } / D RS = s + t
o

Cheks formula

191

a
a 2 a 2
=

= 0

a 2
=

T. p. a

a 2

a/2

a
= S = a2p
8T

. T p.a/2 a2p
8T
=

= S =

a/2

a2p

p.a/2

8T

a =a 8
2

a =0
4

Formula untuk bermacam-macam sag

S1 = m . n . p
s1 s

2T

C
Pada saat sag maximum adalah m = n sehungga m = C n=C

S1 = m . n . p
2T

S = C . C. p
2T

S1 =

C2p 8T

4. Dengan Menentukan Target & Instrument Horisontal Menyinggung Catenery

192

Offset
A + 6 + 0,30 H = 41,30

A + 3 - 0,20 +1,+1,+1,+1 H= 39,80 =45-39,80 = 5,2 m 45 m

=45-41,30 = 3,70 m

target instrument Cara ini kurang tepat tetapi sewaktu waktu dapat digunakan

Berdasarkan pengalaman maka pada saat selesai sagging kemudian diberi tanda kemudian pada saat clamping , suspension clamp tidak dipasang persis pada tanda tetapi bergeser kurang lebih 25 cm sehingga pada saat suhu dingin isolator tidak miring. Penyebab miring ini tiada seorangpun tahu,

193

Besarnya pergeseran dari tanda adalah tergantung dari deferensi level dari tower tension , penentuan Mark offset berdasar pada list. 5. Dengan menempatkan instrument kira-kira ditengah-tengah span yang akan membentuk dua garis singgung pada catenery dengan sudut 1 dan 2 Pengukuran sagging maximum Pengukuran sagging maximum adalah jarak vertikal antara dua garis sejajar yaitu satu garis antara dua tempat kedudukan konduktor pada tower dan garis yang lain adalah garis singgung cartenery.

T H

S
S Max

instrument

Tg = - 4S + 8S [ H + {D/4S(.H + DT) - H(D-H )}] D D2 Tg = - 4S + 8S [ H - {D/4S(.H + DT) - H(D-H )}] D D2

7. Clamping.

194

Sebelum diakukan clamping pada suspension tower yaitu setelah pengukuran sagging kemudian pada konduktor diberi tanda untuk menempatkan konduktor pada suspension clamp jamgan sampai salah atau bergeser . Untuk section yang datar hal ini tidak menjadi masalah karena posisi pada suhu dingin atau panas tidak berubah , tetapi bila pada span yang berturut-turut mempunyai perbedaan level yang cukup besar maka bila sagging selesai kemudian dilakukan clamping pada suhu dingin kedudukan konduktor akan berubah sehingga isolator akan kelihatan miring. 8. Joint Joint adalah penyambungan antara konduktor dengan konduktor , joint paling baik adalah ditempatkan ditengah tengah span karena getaran ditengah span adalah yang

paling kecil. Joint tidak boleh dilakukan pada :


Compreesion joint untuk steel

No Joint

0,1 D

0,1 D

Steel Conductor

Compression joint untuk ACSR

Conductor

Dekat dengan tension Clamp ( span yang ada tensionya ) Dekat dengan sepersepuluh dari suspension clamp ( 0,1 D )

195

Pada span yang crossing dengan : Jalan Rel kereta api Transmission line yang lain Kabel telepon Bangunan lainnya.

Joint merupakan titik terlemah dari sepanjang konduktor.

Arah pengepresan

Arah pengepresan

Di pres dari tengah kepinggir

Pengujian sambungan dipotong kemudian dilihat penampangnya bila penampangnya masif tidak ada celah berarti sambungan baik tapi bila masih ada celah sambungan tidak baik

Penampang sambungan yang baik

Penampang sambungan yang tidak baik

Penyambungan konduktor harus diperhatikan cara pengepresan yaitu dari tengah kearah keluar , kemudian diambil satu sampel untuk dilakukan pengujian , yaitu dengan cara dipotong kemudian dilihat penampangnya , bila penampangnya masif tidak ada celah berarti hasil penyambungan baik tetapi bila penampang sambungan masih terdapat celah-celah kecil atau masih terlihat bentuk-bentuk urat konduktor berarti penyambungan tidak baik. 9. Jumper

196

Panjang Jumper :
4m x 4m X= 4 180 L=4-X-Y D S tg = 2S D/2 L Y Y= 4 180

4m

4m

4m L 2 4m tg = D x tg = 2S D/2 4m

L = 4

4m 2 8S2 L=D+ x + 2D 3D

L X = 4 180 L = 4 - 2X L = 4 - 2 [ X= 4X 180 4X 180 ]

S1 S

3.2S ( jumper dengan sedikit tension ) 197 ( 2S )2 . P S1 = 8T

L1 = 2S +

8S1

L= S {jumper tanpa tension)

Ditambah 2/2D bila ada deferensi level sedangkan bila tidak ada deferensi level dapat menggunakan rumus XXVIII. CROSSING Crossing adalah apabila suatu transmosi sampai pada persilangan dengan sesuatu : Crossing dengan : Jalan - Transmisi lain - Rel kereta api - Telepon - Sungai - Pipa Oleh karena itu bila menjumpai crossing dalam penggambaran profile harus teliti dan hati-hati , harus diperhatikan bahwa : - Lebar transmission line adalah 22 meter Side slope tanah 11 meter dari Centre Line

198

ss

ss

Tinggi H diukur dari Centre Line Level crossing diukur dari Centre Line Kedalaman diukur dari Centre line Side slope dari puncak H untuk transmisi lain dan telephon Clearance dari side slope Sudut crossing Lateral norisontal clearance

199

Minimum clearance tergantung dari sudut crossing juga tergantung dari side slope

D 11m

11 m CL

Min . E.C ss H

Lateral horisontal clearance

Clearance

11 m 11 m

d = D sin d = Horisontal lateral clearance XXIX. FINAL REVISION Final revision adalah dimana keadaan transmisi siap di energized ( dioperasikan ) untuk itu perlu dilakukan :
200

1. Melepas semua temporary earthing 2. Cheking semua elektrical clearance ( harus baik / safe ) jumper dan suspension asemble pada building , menara dan lain-lain

3. Cheking semua ground clearance untuk setiap span 4. Harus bersih sepanjang route dari sisa sisa pekerjaan , bekas haspel , kotak dan lain-lain. Setelah selesai kemudian dilakukan serah terima XXX. MAINTENANCE Untuk transmisi EHV sebetulnya tidak ada pemeliharaan , tetapi hal-hal yang perlu diperhatikan atau yang harus mendapat perhatian adalah : 1. Transmission lines harus bebas dari pepohonan (pemeliharaan memotong pohon) 2. Insulator harus bersih tidak kotor , karena di Indonesia cuaca cukup bagus banyak hujan dan angin dengan sendirinya insulator tercuci ( tidak perlu pemeliharaan insulator ) 3. Pemeriksaan konduktor secara kontinyu apakah ada yang mekar , bila ada yang mekar maka perbaikannya dilakukan dengan repair sleeve 4. Route harus dilakukan inspection secara Continu 5. Bila ada konduktor yang mekar perbaikannya dilakukan diatas , konduktor tidak diturunkan yaitu dengan menggunakan sepeda. 6. Bila ada konduktor yang putus penyambungannya dilakukan dengan menurunkan konduktor beberapa span dan perbaikannya dilakukan dibawah. 7. Pemeriksaan baut tower harus sering dilakukan , apakah ada yang kendor atau hilang. 8. Bila ada karat atau korosi dan ada bagian-bagian yang luka (galvanis mengelupas) harus segera dilapis dengan galvanis cair 9. Periksa semua pentanahan tower masih baik atau tidak dan apakah ada yang hilang.

201

10. Periksa daerah ( lokasi ) disekitar tower apakah ada bagian tanah yang longsor atau terkena erosi , hal ini harus selalu diperiksa karena sangat berbahaya.

202