Anda di halaman 1dari 23

STATUS PASIEN ANAK RSUD KABUPATEN BEKASI BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI

I.

IDENTITAS Nama Jenis kelamin Alamat Masuk RS Tanggal diperiksa Nama Ayah / Ibu Umur : An. C : Perempuan : Kp. Bojong Koneng RT 003/002 Telaga Murni Cikarang Barat : 11 Desember 2012 : 14 Desember 2012 : Ny. M : Empat Tahun Tujuh Bulan

Tempat /tanggal lahir : Bekasi, 22 05-2008

Pendidikan/Pekerjaan : Belum sekolah II. ANAMNESIS

Riwayat penyakit Keluhan utama : Bintik-bintik merah di kulit sejak 1 hari SMRS Keluhan tambahan : Panas, batuk, pilek, mata merah. Riwayat perjalanan penyakit 5 hari SMRS, pasien panas tinggi mendadak. Panas tersebut timbul terus menerus terutama pada malam hari. Pasien diberikan paracetamol tiap hari sebanyak 3x1 sendok selama 4 hari. Panas sempat turun namun naik kembali. Panas tidak disertai dengan kejang dan tidak terdapat penurunan kesadaran. Pasien juga batuk dengan dahak yang sulit dikeluarkan. Selain
1

itu juga terdapat pilek dengan lendir encer, tidak disertai sesak napas. Pasien juga mengeluh mata merah disertai dengan nafsu makan menurun dan lemas. 1 hari SMRS timbul bintik bintik merah pada tubuh pasien. Bintik-bintik tersebut muncul pertama kali di wajah, lalu ke leher dan ke seluruh tubuh pasien. Bintik-bintik tersebut terasa gatal. Ibu pasien belum memberikan obat untuk mengurangi bintik-bintik merah tersebut. Riwayat Penyakit Dahulu :

Pasien tidak pernah dirawat di rumah sakit sebelumnya. Riwayat asma, atopi, alergi obat, kejang disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga

Di lingkungan tempat tinggal ada yang menderita penyakit seperti ini.

Riwayat Kehamilan

Ibu G3P1A0 usia 32 tahun, tidak pernah kontrol kehamilan. Riwayat muntah - muntah diawal kehamilan,perdarahan, trauma, bengkak anggota gerak, dan sakit selama kehamilan disangkal. Riwayat DM dan hipertensi disangkal. Riwayat Persalinan :

Ibu melahirkan di rumah dibantu oleh paraji, cukup bulan (9 bulan), lahir secara spontan, BL 3000 gram, begitu lahir langsung menangis, dan tidak ada riwayat bayi kuning atau biru, ibu sehat. Riwayat Pasca Persalinan Ibu mengaku tidak pernah membawa anaknya ke posyandu untuk ditimbang dan mengaku tidak pernah diimunisasi. Kesimpulan : Riwayat kehamilan buruk,

Riwayat persalinan buruk, Pasca persalinan buruk. Riwayat makanan ASI diberikan sejak lahir sampai sekarang. Anak makan 2x sehari dan makan selalu habis. Riwayat Vaksinasi Tidak pernah mendapatkan imunisasi. III. PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan Umum 1. Kesadaran umum 2. Kesadaran 3. Tanda-tanda Vital Frekuensi nadi Frekuensi nafas Suhu Tekanan darah Status Interna Pemeriksaan Kepala Kepala Wajah Mata Hidung Mulut : Simetris, bentuk normochepal, rambut hitam diatribusi merata : Pipi kanan/kiri tidak bengkak dan tidak ada tanda-tanda radang. : Conjungtiva hiperemis, Sklera tidak ikterik : Tidak ada deviasi septum, ada sekret, nafas cuping hidung (+) : Tidak sianosis, lidah tidak kotor ,tidak hiperemis, faring : 100x/menit : 58x/menit : 38,50C : tidak dilakukan pemeriksaan : tampak sakit sedang : compos mentis

hiperemis, bibir tidak kering, dan bercak koplik (+) pada mukosa buccal. Telinga : tidak ada discharge, pendengaran normal.

Pemeriksaan Leher Tidak terdapat pembesaran KGB Pemeriksaan Khusus Thoraks : dinding dada simetris kanan dan kiri, tidak ada ketinggalan gerak saat bernapas. Jantung : Inspeksi Palpasi Perkusi Batas jantung: Kanan atas Kiri atas Kiri bawah Auskultasi Paru : : SIC III LPS dex : SIC III LMC sin : SIC V LMC sin : Bentuk normal, simetris, ictus cordis tidak terlihat. : Simetris, iktus cordis teraba. : redup

Kanan bawah : SIC V LPS dex : S1/S2 reguler, bising (-)

Depan : Inspeksi : simetris, tidak ada ketinggalan gerak, retraksi (+) Palpasi : vokal fremitus kanan = kiri Perkusi : sonor seluruh lapangan paru Auskultasi : suara dasar vesikuler, suara tambahan ronkhi (+), wheezing (-) Belakang : Inspeksi retraksi Palpasi Perkusi : vokal fremitus kanan = kiri : sonor seluruh lapangan paru : simetris, tidak ada ketinggalan gerak, tidak ada

Auskultasi wheezing (-) Pemeriksaan Abdomen Inspeksi

: suara dasar vesikuler, suara tambahan ronkhi (-),

: datar pada dinding perut, tidak tampak massa dan tidak ada sikatrik, tidak tampak hematom.

Auskultasi : Peristaltik (+) normal Perkusi Palpasi Anogenital Perempuan Aksila Payudara : belum tumbuh rambut : normal, terlihat : Timpani, hepar lien redup, pekak beralih tidak ada : Supel, tidak teraba massa, hepar dan lien tidak teraba, turgor elastisitas baik

Rambut pubis : belum tumbuh rambut Kulit : ruam makula pd belakang telinga,leher, dan badan. Anggota gerak atas Motorik Pergerakan Kekuatan Tonus Atropi Refleks fisiologis Patella Achilles : (+/+) : (+/+) : 5 5 : (-) : +/+ : +/+ 5 5

: flaksid

Pemeriksaan Rangsang Meningeal Kaku Kuduk Brudzinky I Brudzinky II Kernig Sign


5

: (-) : (-) : (-) : (-)

Refleks patologis Babinsky Chaddock Openhaeim Gordon : (-/-) : (-/-) : (-/-) : (-/-) : (-/-) : (-/-)

Klonus paha Klonus kaki IV. DATA LABORATORIUM 11 desember 2012 Hemoglobin Hematokrit Lekosit Trombosit Eritrosit : 11,6 g/dl : 30,3 : 6.200/mm : 281 ribu/mm3 : 4,7 jl/mm3

V. RINGKASAN DATA BESAR Anamnesis : 5 hari SMRS, pasien panas tinggi mendadak, terus menerus, tidak disertai dengan kejang dan tidak terdapat penurunan kesadaran. Pasien juga batuk dengan dahak yang sulit dikeluarkan, pilek dengan lendir encer, mata merah, disertai dengan penurunan nafsu makan dan lemas. 1 hari SMRS timbul bintik bintik merah pada tubuh pasien. Bintik-bintik tersebut pertama muncul di wajah, lalu ke leher dan ke seluruh badan pasien dan terasa gatal. Pemeriksaan fisik Kesadaran umum 2. Kesadaran 3. Tanda utama
6

: : tampak sakit sedang : compos mentis

Frekuensi nadi Frekuensi nafas Suhu a. Kepala -

: 100x/menit : 28x/menit : 38,50C ikterik, konjungtiva

Mata : Kelopak mata simetris, sklera tidak hiperemis.

Hidung : mukosa hiperemis, sekret +/+, nafas cuping hidung (+) Mulut : langit-langit utuh, bercak koplik pd mukosa bukal. Tonsil : T1-T1 hiperemis, membran putih (-) Faring : hiperemis

b. - Dinding toraks : pergerakan simetris - Paru : Ins: pergerakan dinding dada simetris, Pal: Vokal Fremitus kanan=kiri Per: Sonor kanan=kiri, Aus:suara dasar vesikuler, ronki (+/+). c. Kulit : ruam makula pd belakang telinga, leher, dada, perut dan ekstrimitas

Pemeriksaan penun jang: Hemoglobin Hematokrit Lekosit Trombosit Eritrosit : 11,6 g/dl : 30,3 : 6.200/mm : 281 ribu/mm3 : 4,7 jl/mm3

VI. DIAGNOSA KERJA Morbili + bronkopneumonia VII. DIAGNOSIS KERJA Rubella

VIII. RENCANA PENGELOLAAN Rawat inap di ruangan isolasi Diet : bubur IVFD : Asering 10gtt/menit Obat : - ceftriaxon 1x1g - novalgin 175mg/4jam - elkana 2x1 cth - puyer isiprinol + vit A 1x1 - puyer batuk 3x1 - inhalasi 2x1 ventolyn 1 amp + nacl 5cc - bedak salicyl

IX. PROGNOSIS a. Quo ad vitam b. Quo ad functionam c. Quo ad sanationam : ad bonam : ad bonam : ad bonam

FOLLOW UP Tanggal 12 Desember 2012 Subjektif: o Demam o Batuk dan pilek o Ruam merah di leher dan badan o Makan sedikit Objektif: Tanda-tanda vital : o Nadi :106 x/menit

o RR o Suhu

:48 x/menit :37,5 0C

- Mata : Kelopak mata simetris, tidak cekung, sklera tidak ikterik, konjungtiva hiperemis. - Hidung : mukosa hiperemis, sekret +/+, warna kuning agak kental. - Mulut : tonsil : T1-T1 hiperemis, faring hiperemis, bercak koplik pada mukosa bukal. - Leher : KGB tdk teraba - Toraks : - Dinding toraks : pergerakan simetris -Paru : Ins: pergerakan dinding dada simetris, Pal: Vokal Fremitus kanan=kiri Per: Sonor kanan=kiri, Aus: suara dasar vesikuler, ronki (+/+). - Jantung : BJ I/II murni, murmur (-) - Abdomen : DBN - Ekstremitas : hangat - Kulit: ruam makula pd belakang telinga, leher, dada, dan badan Assessment: Morbilli + bromkopneumonia Planning: - Rawat inap di ruangan isolasi Diet : bubur IVFD : Asering 10gtt/menit Obat : - ceftriaxon 1x1g - novalgin 175mg/4jam - elkana 2x1 cth - puyer isiprinol + vit A 1x1 - puyer batuk 3x1

- inhalasi 2x1 ventolyn 1 amp + nacl 5cc - bedak salicyl

Tanggal 13 Desember 2012 Subjektif: o Batuk o Ruam merah di wajah di seluruh tubuh, tangan dan kaki Objektif: Tanda-tanda vital : o Nadi :100 x/menit o RR o Suhu :28 x/menit :36,5 0C

- kepala : normocepal - Mata : Kelopak mata simetris, tidak cekung, sklera tidak ikterik, konjungtiva hiperemis. - Hidung : mukosa hiperemis, sekret +/+, warna kuning agak kental. - Mulut : tonsil : T1-T1 hiperemis, faring hiperemis, bercak koplik pada mukosa bukal. - Leher : KGB tdk teraba - Toraks : - Dinding toraks : pergerakan simetris -Paru : Ins: pergerakan dinding dada simetris, Pal: Vokal Fremitus kanan=kiri Per: Sonor kanan=kiri, Aus: suara dasar vesikuler, ronki (+/+). - Jantung : BJ I/II murni, murmur (-) - Abdomen : DBN - Ekstremitas : hangat - Kulit: ruam makula pd belakang telinga, leher, dada, perut, punggung ekstrimitas

10

Assessment: Morbilli + bronkopneumonia Planning: - Terapi lanjut - Obat panas stop Tanggal 14 Desember 2012 Subjektif o Batuk o Ruam menghitam di seluruh tubuh, tangan dan kaki Objektif: Tanda-tanda vital : o Nadi :108 x/menit o RR o Suhu :24 x/menit :36,3 0C

Kes/KU : Sadar, tampak sakit sedang - Kepala : Normocephali - Mata : Kelopak mata simetris, sklera tidak ikterik, konjungtiva tidak hiperemis. - Hidung : mukosa tidak hiperemis, sekret -/-. - Mulut : tonsil : T1-T1 hiperemis, faring hiperemis, bercak koplik pada mukosa bukal (-). - Leher : KGB tdk teraba - Toraks : - Dinding toraks : pergerakan simetris -Paru : DBN. - Jantung : DBN - Abdomen : DBN - Ekstremitas : hangat - Kulit: ruam terjadi hiperpimentasi pd belakang telinga, leher, dada, perut, punggung, ekstermitas.

Assessment: Morbilli
11

Planning: - BLPL

MORBILI Campak atau morbili adalah suatu infeksi virus akut yang memiliki 3 stadium yaitu (1)Stadium inkubasi yang berkisar antara 10 sampai 12 hari setelah pajanan pertama terhadap virus dan dapat disertai gejala minimal maupun tidak bergejala, (2)Stadium prodromal yang menunjukkan gejala demam, konjungtivitis, pilek, dan batuk yang meningkat serta ditemukannya enantem pada mukosa (bercak Koplik), dan (3)Stadium erupsi yang ditandai dengan keluarnya ruam makulopapular yang didahului dengan meningkatnya suhu badan (Phillips, 1983) Angka kejadian campak di Indonesia sejak tahun 1990 sampai 2002 masih tinggi sekitar 3000-4000 per tahun demikian pula frekuensi terjadinya kejadian luar biasa tampak meningkat dari 23 kali per tahun menjadi 174. Namun case fatality rate telah dapat diturunkan dari 5,5% menjadi 1,2%. Transmisi campak terjadi melalui udara, kontak langsung maupun melalui droplet dari penderita saat gejala yang ada minimal bahkan tidak bergejala. Penderita masih dapat menularkan penyakitnya mulai hari ke-7 setelah terpajan hingga 5

12

hari setelah ruam muncul. Biasanya seseorang akan mendapat kekebalan seumur hidup bila telah sekali terinfeksi oleh campak (Rampengan, 1997). Etiologi Virus campak merupakan virus RNA famili paramyxoviridae dengan genus Morbili virus. Sampai saat ini hanya diketahui 1 tipe antigenik yang mirip dengan virus Parainfluenza dan Mumps. Virus bisa ditemukan pada sekret nasofaring, darah dan urin paling tidak selama masa prodromal hingga beberapa saat setelah ruam muncul. Virus campak adalah organisme yang tidak memiliki daya tahan tinggi apabila berada di luar tubuh manusia. Pada temperatur kamar selama 3-5 hari virus kehilangan 60% sifat infektifitasnya. Virus tetap aktif minimal 34 jam pada temperatur kamar, 15 minggu di dalam pengawetan beku, minimal 4 minggu dalam temperatur 35C, beberapa hari pada suhu 0C, dan tidak aktif pada pH rendah (Soegeng Soegijanto, 2002). Patologi Lesi pada campak terutama terdapat pada kulit., membran mukosa nasofaring, bronkus, saluran pencernaan, dan konjungtiva. Di sekitar kapiler terdapat eksudat serosa dan proliferasi dari sel mononuklear dan beberapa sel polimorfonuklear. Karakteristik patologi dari Campak ialah terdapatnya distribusi yang luas dari sel raksasa berinti banyak yang merupakan hasil dari penggabungan sel. Dua tipe utama dari sel raksasa yang muncul adalah (1) sel Warthin-Findkeley yang ditemukan pada sistem retikuloendotel (adenoid, tonsil, appendiks, limpa dan timus) dan (2) sel epitel raksasa yang muncul terutama pada epitel saluran nafas. Lesi di daerah kulit terutama terdapat di sekitar kelenjar sebasea dan folikel rambut. Terdapat reaksi radang umum pada daerah bukal dan mukosa faring yang meluas hingga ke jaringan limfoid dan membran mukosa trakeibronkial. Pneumonitis intersisial karena virus campak menyebabkan terbentuknya sel raksasa dari Hecht. Bronkopneumonia yang terjadi mungkin disebabkan infeksi sekunder oleh bakteri (Cherry, 2004). Pada kasus encefalomyelitis terdapat demyelinisasi vaskuler dari area di otak dan medula spinalis. Terdapat degenerasi dari korteks dan subsdtansia alba dengan

13

inclusion body intranuklear dan intrasitoplasmik pada subacute sclerosing panencephalitis (Phillips, 1983). Patogenesis Campak merupakan infeksi virus yang sangat menular, dengan sedikit virus yang infeksius sudah dapat menimbulkan infeksi pada seseorang. Lokasi utama infeksi virus campak adalah epitel saluran nafas nasofaring. Infeksi virus pertama pada saluran nafas sangat minimal. Kejadian yang lebih penting adalah penyebaran pertama virus campak ke jaringan limfatik regional yang menyebabkan terjadinya viremia primer. Setelah viremia primer, terjadi multiplikasi ekstensif dari virus campak yang terjadi pada jaringan limfatik regional maupun jaringan limfatik yang lebih jauh. Multiplikasi virus campak juga terjadi di lokasi pertama infeksi. Selama lima hingga tujuh hari infeksi terjadi viremia sekunder yang ekstensif dan menyebabkan terjadinya infeksi campak secara umum. Kulit, konjungtiva, dan saluran nafas adalah tempat yang jelas terkena infeksi, tetapi organ lainnya dapat terinfeksi pula. Dari hari ke-11 hingga 14 infeksi, kandungan virus dalam darah, saluran nafas, dan organ lain mencapai puncaknya dan kemudian jumlahnya menurun secara cepat dalam waktu 2 hingga 3 hari. Selama infeksi virus campak akan bereplikasi di dalam sel endotel, sel epitel, monosit, dan makrofag (Cherry, 2004). Daerah epitel yang nekrotik di nasofaring dan saluran pernafasan memberikan kesempatan serangan infeksi bakteri sekunder berupa bronkopneumonia, otitis media, dan lainnya. Dalam keadaan tertentu, adenovirus dan herpes virus pneumonia dapat terjadi pada kasus campak (Soedarmo dkk., 2002). Tabel 1. Patogenesis infeksi campak tanpa penyulit Hari 0 Manifestasi Virus campak dalam droplet kontak dengan permukaan epitel nasofaring

atau kemungkinan konjungtiva Infeksi pada sel epitel dan multiplikasi virus 1-2 2-3 Penyebaran infeksi ke jaringan limfatik regional Viremia primer

14

3-5 5-7 7-11 nafas

Multiplikasi virus campak pada epitel saluran nafas di tempat infeksi Viremia sekunder Manifestasi pada kulit dan tempat lain yang bervirus, termasuk saluran

pertama, dan pada RES regional maupun daerah yang jauh

11-14 Virus pada darah, saluran nafas dan organ lain 15-17 Viremia berkurang lalu hilang, virus pada organ menghilang Sumber :Feigin et al.2004.Textbook of Pediatric Infectious Diseases 5th edition Manifestasi klinis Stadium inkubasi Masa inkubasi campak berlangsung kira-kira 10 hari (8 hingga 12 hari). Walaupun pada masa ini terjadi viremia dan reaksi imunologi yang ekstensif, penderita tidak menampakkan gejala sakit. Stadium prodromal Manifestasi klinis campak biasanya baru mulai tampak pada stadium prodromal yang berlangsung selama 2 hingga 4 hari. Biasanya terdiri dari gejala klinik khas berupa batuk, pilek dan konjungtivitis, juga demam. Inflamasi konjungtiva dan fotofobia dapat menjadi petunjuk sebelum munculnya bercak Koplik. Garis melintang kemerahan yang terdapat pada konjungtuva dapat menjadi penunjang diagnosis pada stadium prodromal. Garis tersebut akan menghilang bila seluruh bagian konjungtiva telah terkena radang Koplik spot yang merupakan tanda patognomonik untuk campak muncul pada hari ke-101 infeksi. Koplik spot adalah suatu bintik putih keabuan sebesar butiran pasir dengan areola tipis berwarna kemerahan dan biasanya bersifat hemoragik. Tersering ditemukan pada mukosa bukal di depan gigi geraham bawah tetapi dapat juga ditemukan pada bagian lain dari rongga mulut seperti palatum, juga di bagian tengah bibir bawah dan karunkula lakrimalis. Muncul 1 2 hari sebelum timbulnya ruam dan menghilang dengan cepat yaitu sekitar 12-18 jam kemudian. Pada akhir masa prodromal, dinding posterior faring biasanya menjadi hiperemis dan penderita akan mengeluhkan nyeri tenggorokkan. Stadium erupsi

15

Pada campak yang tipikal, ruam akan muncul sekitar hari ke-14 infeksi yaitu pada saat stadium erupsi. Ruam muncul pada saat puncak gejala gangguan pernafasan dan saat suhu berkisar 39,5C. Ruam pertama kali muncul sebagai makula yang tidak terlalu tampak jelas di lateral atas leher, belakang telinga, dan garis batas rambut. Kemudian ruam menjadi makulopapular dan menyebar ke seluruh wajah, leher, lengan atas dan dada bagian atas pada 24 jam pertama. Kemudian ruam akan menjalar ke punggung, abdomen, seluruh tangan, paha dan terakhir kaki, yaitu sekitar hari ke-2 atau 3 munculnya ruam. Saat ruam muncul di kaki, ruam pada wajah akan menghilang diikuti oleh bagian tubuh lainnya sesuai dengan urutan munculnya (Phillips, 1983). Saat awal ruam muncul akan tampak berwarna kemerahan yang akan tampak memutih dengan penekanan. Saat ruam mulai menghilang akan tampak berwarna kecokelatan yang tidak memudar bila ditekan. Seiring dengan masa penyembuhan maka muncullah deskuamasi kecokelatan pada area konfluensi. Beratnya penyakit berbanding lurus dengan gambaran ruam yang muncul. Pada infeksi campak yang berat, ruam dapat muncul hingga menutupi seluruh bagian kulit, termasuk telapak tangan dan kaki. Wajah penderita juga menjadi bengkak sehingga sulit dikenali (Phillips, 1983). Diagnosis Diagnosis campak biasanya cukup ditegakkan berdasarkan gejala klinis. Pemeriksaan laboratorium jarang dilakukan. Pada stadium prodromal dapat ditemukan sel raksasa berinti banyak dari apusan mukosa hidung. Serum antibodi dari virus campak dapat dilihat dengan pemeriksaan Hemagglutination-inhibition (HI), complement fixation (CF), neutralization, immune precipitation, hemolysin inhibition, ELISA, serologi IgM-IgG, dan fluorescent antibody (FA). Pemeriksaan HI dilakukan dengan menggunakan dua sampel yaitu serum akut pada masa prodromal dan serum sekunder pada 7 10 hari setelah pengambilan sampel serum akut. Hasil dikatakan positif bila terdapat peningkatan titer sebanyak 4x atau lebih (Cherry, 2004). Serum IgM merupakan tes yang berguna pada saat munculnya ruam. Serum IgM akan menurun dalam waktu sekitar 9 minggu, sedangkan serum IgG akan menetap kadarnya seumur hidup. Pada pemeriksaan

16

darah tepi, jumlah sel darah putih cenderung menurun. Pungsi lumbal dilakukan bila terdapat penyulit encephalitis dan didapatkan peningkatan protein, peningkatan ringan jumlah limfosit sedangkan kadar glukosa normal (Phillips, 1983). Diagnosis Banding Diagnosis banding morbili diantaranya : 1. Roseola infantum. Pada Roseola infantum, ruam muncul saat demam telah menghilang. 2. Rubella. Ruam berwarna merah muda dan timbul lebih cepat dari campak. Gejala yang timbul tidak seberat campak. 3. Alergi obat. Didapatkan riwayat penggunaan obat tidak lama sebelum ruam muncul dan biasanya tidak disertai gejala prodromal. 4. Demam skarlatina. Ruam bersifat papular, difus terutama di abdomen. Tanda patognomonik berupa lidah berwarna merah stroberi serta tonsilitis eksudativa atau membranosa (Alan R. Tumbelaka, 2002). Campak yang termodifikasi Penyakit campak yang termodifikasi muncul pada orang yang hanya memiliki setengah daya tahan terhadap campak. Hal tersebut dapat diakibatkan riwayat penggunaan serum globulin maupun pada anak usia kurang dari 9 bulan karena masih terdapatnya antibodi campak transplasental dari ibu. Ditandai dengan gejala penyakit yang lebih ringan. Stadium prodromal akan menjadi lebih pendek. Batuk, pilek dan demam lebih ringan. Bercak Koplik lebih sedikit dan kurang jelas, namun dapat juga tidak muncul sama sekali. Ruam yang muncul sama dengan infeksi campak klasik, tetapi tidak bersifat konfluens. Pada beberapa orang, infeksi campak yang termodifikasi ini dapat tidak memberikan gejala apapun (Cherry, 2004). Campak atipikal Didefinisikan sebagai sindroma klinik yang muncul pada orang yang sebelumnya telah kebal akibat terpajan pada infeksi campak alamiah. Biasanya muncul pada orang yang telah mendapat vaksin dari virus campak yang dimatikan

17

Masa inkubasi dari campak atipikal sama seperti pada campak yang tipikal yaitu sekitar 7 hingga 14 hari. Stadium prodromal ditandai dengan demam tinggi yang mendadak (39,5C sampai 40,6C) dan biasanya sakit kepala. Bisa juga didapatkan gejala nyeri perut, mialgia, batuk non-produktif, muntah, nyeri dada dan rasa lemah. Bercak Koplik jarang ditemui. Dua atau tiga hari setelah onset penyakit muncullah ruam yang dimulai dari distal ekstremitas dan menyebar ke arah kepala. Ruam sedikit berwarna kekuningan, terlihat jelas pada pergelangan tangan dan kaki serta terdapat juga pada telapak tangan dan kaki. Ruam dapat berbentuk vesikel dan terasa gatal. Pada campak atipikal dapat muncul efusi pleura, sesak nafas, hepatosplenomegali, hiperestesia, rasa lemah maupun paresthesia. Diagnosis dari campak atipikal dapat ditegakkan melalui tes serologis. Bila sampel serum awal diambil sebelum atau pada saat onset ruam, CF dan titer HI biasanya kurang dari 1:5. Pada hari ke-10 infeksi kedua titer akan meningkat mencapai 1:1280 atau lebih. Pada campak yang tipikal, di hari ke-10 infeksi titer jarang melebihi 1:160 (Cherry, 2004). Penyulit Campak menjadi berat pada pasien dengan gizi buruk dan anak berumur lebih kecil. Kebanyakan penyulit campak terjadi bila ada infeksi sekunder oleh bakteri. Beberapa penyulit campak adalah : a) Bronkopneumonia Merupakan salah satu penyulit tersering pada infeksi campak. Dapat disebabkan oleh invasi langsung virus campak maupun infeksi sekunder oleh bakteri (Pneumococcus, Streptococcus, Staphylococcus, dan Haemophyllus influenza). Ditandai dengan adanya ronki basah halus, batuk, dan meningkatnya frekuensi nafas. Pada saat suhu menurun, gejala pneumonia karena virus campak akan menghilang kecuali batuk yang masih akan bertahan selama beberapa lama. Bila gejala tidak berkurang, perlu dicurigai adanya infeksi sekunder oleh bakteri yang menginvasi mukosa saluran nafas yang telah dirusak oleh virus campak. Penanganan dengan antibiotik diperlukan agar tidak muncul akibat yang fatal. b) Encephalitis

18

Komplikasi neurologis tidak jarang terjadi pada infeksi campak. Gejala encephalitis biasanya timbul pada stadium erupsi dan dalam 8 hari setelah onset penyakit. Biasanya gejala komplikasi neurologis dari infeksi campak akan timbul pada stadium prodromal. Tanda dari encephalitis yang dapat muncul adalah : kejang, letargi, koma, nyeri kepala, kelainan frekuensi nafas, twitching dan disorientasi. Dugaan penyebab timbulnya komplikasi ini antara lain adalah adanya proses autoimun maupun akibat virus campak tersebut. c) Subacute Slcerosing Panencephalitis (SSPE) Merupakan suatu proses degenerasi susunan syaraf pusat dengan karakteristik gejala terjadinya deteriorisasi tingkah laku dan intelektual yang diikuti kejang. Merupakan penyulit campak onset lambat yang rata-rata baru muncul 7 tahun setelah infeksi campak pertama kali. Insidensi pada anak laki-laki 3x lebih sering dibandingkan dengan anak perempuan. Terjadi pada 1/25.000 kasus dan menyebabkan kerusakan otak progresif dan fatal. Anak yang belum mendapat vaksinansi memiliki risiko 10x lebih tinggi untuk terkena SSPE dibandingkan dengan anak yang telah mendapat vaksinasi (IDAI, 2004). d) Konjungtivitis Konjungtivitis terjadi pada hampir semua kasus campak. Dapat terjadi infeksi sekunder oleh bakteri yang dapat menimbulkan hipopion, pan oftalmitis dan pada akhirnya dapat menyebabkan kebutaan. e) Otitis Media Gendang telinga biasanya hiperemi pada fase prodromal dan stadium erupsi. f) Diare Diare dapat terjadi akibat invasi virus campak ke mukosa saluran cerna sehingga mengganggu fungsi normalnya maupun sebagai akibat menurunnya daya tahan penderita campak (Soegeng Soegijanto, 2002) g) Laringotrakheitis Penyulit ini sering muncul dan kadang dapat sangat berat sehingga dibutuhkan tindakan trakeotomi. h) Jantung Miokarditis dan perikarditis dapat menjadi penyulit campak. Walaupun jantung seringkali terpengaruh efek dari infeksi campak, jarang terlihat gejala kliniknya.

19

i) Black measles Merupakan bentuk berat dan sering berakibat fatal dari infeksi campak yang ditandai dengan ruam kulit konfluen yang bersifat hemoragik. Penderita menunjukkan gejala encephalitis atau encephalopati dan pneumonia. Terjadi perdarahan ekstensif dari mulut, hidung dan usus. Dapat pula terjadi koagulasi intravaskuler diseminata (Cherry, 2004). Imunitas Struktur antigenik Imunoglobulin kelas IgM dan IgG distimulasi oleh infeksi campak. Kemudian IgM menghilang dengan cepat (kurang dari 9 minggu setelah infeksi) sedangkan IgG tinggal tak terbatas dan jumlahnya dapat diukur. IgM menunjukkan baru terkena infeksi atau baru mendapat vaksinasi. IgG menandakan pernah terkena infeksi. IgA sekretori dapat dideteksi dari sekret nasal dan hanya dapat dihasilkan oleh vaksinasi campak hidup yang dilemahkan, sedangkan vaksinasi campak dari virus yang dimatikan tidak akan menghasilkan IgA sekretori (Soegeng Soegijanto, 2002). Imunitas transplasental Bayi menerima kekebalan transplasental dari ibu yang pernah terkena campak. Antibodi akan terbentuk lengkap saat bayi berusia 4 6 bulan dan kadarnya akan menurun dalam jangka waktu yang bervariasi. Level antibodi maternal tidak dapat terdeteksi pada bayi usia 9 bulan, namun antibodi tersebut masih tetap ada. Janin dalam kandungan ibu yang sedang menderita campak tidak akan mendapat kekebalan maternal dan justru akan tertular baik selama kehamilan maupun sesudah kelahiran (Phillips, 1983). Imunisasi Imunisasi campak terdiri dari Imunisasi aktif dan pasif. Imunisasi aktif dapat berasal dari virus hidup yang dilemahkan maupun virus yang dimatikan. Vaksin dari virus yang dilemahkan akan memberi proteksi dalam jangka waktu yang lama dan protektif meskipun antibodi yang terbentuk hanya 20% dari antibodi yang terbentuk karena infeksi alamiah. Pemberian secara sub kutan dengan dosis 0,5ml. Vaksin tersebut sensitif terhadap cahaya dan panas, juga harus disimpan pada

20

suhu 4C, sehingga harus digunakan secepatnya bila telah dikeluarkan dari lemari pendingin. Vaksin dari virus yang dimatikan tidak dianjurkan dan saat ini tidak digunakan lagi. Respon antibodi yang terbentuk buruk, tidak tahan lama dan tidak dapat merangsang pengeluaran IgA sekretori. Indikasi kontra pemberian imunisasi campak berlaku bagi mereka yang sedang menderita demam tinggi, sedang mendapat terapi imunosupresi, hamil, memiliki riwayat alergi, sedang memperoleh pengobatan imunoglobulin atau bahan-bahan berasal dari darah (Soegeng Soegijanto, 2001). Imunisasi pasif digunakan untuk pencegahan dan meringankan morbili. Dosis serum dewasa 0,25 ml/kgBB yang diberikan maksimal 5 hari setelah terinfeksi, tetapi semakin cepat semakin baik. Bila diberikan pada hari ke 9 atau 10 hanya akan sedikit mengurangi gejala dan demam dapat muncul meskipun tidak terlalu berat. Penatalaksanaan Pengobatan bersifat suportif dan simptomatis, terdiri dari istirahat, pemberian cairan yang cukup, suplemen nutrisi, antibiotik diberikan bila terjadi infeksi sekunder, anti konvulsi apabila terjadi kejang, antipiretik bila demam, dan vitamin A 100.000 Unit untuk anak usia 6 bulan hingga 1 tahun dan 200.000 Unit untuk anak usia >1 tahun. Vitamin A diberikan untuk membantu pertumbuhan epitel saluran nafas yang rusak, menurunkan morbiditas campak juga berguna untuk meningkatkan titer IgG dan jumlah limfosit total (Cherry, 2004). Indikasi rawat inap bila hiperpireksia (suhu >39,5C), dehidrasi, kejang, asupan oral sulit atau adanya penyulit. Pengobatan dengan penyulit disesuaikan dengan penyulit yang timbul (IDAI, 2004) Pencegahan Pencegahan terutama dengan melakukan imunisasi campak. Imunisasi Campak di Indonesia termasuk Imunisasi dasar yang wajib diberikan terhadap anak usia 9 bulan dengan ulangan saat anak berusia 6 tahun dan termasuk ke dalam program pengembangan imunisasi (PPI). Imunisasi campak dapat pula diberikan bersama

21

Mumps dan Rubela (MMR) pada usia 12-15 bulan. Anak yang telah mendapat MMR tidak perlu mendapat imunisasi campak ulangan pada usia 6 tahun. Pencegahan dengan cara isolasi penderita kurang bermakna karena transmisi telah terjadi sebelum penyakit disadari dan didiagnosis sebagai campak (IDAI, 2004). Prognosis Campak merupakan penyakit self limiting sehingga bila tanpa disertai dengan penyulit maka prognosisnya baik (Rampengan, 1997).

DAFTAR PUSTAKA Alan R. Tumbelaka. 2002. Pendekatan Diagnostik Penyakit Eksantema Akut dalam: Sumarmo S. Poorwo Soedarmo, dkk. (ed.) Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak Infeksi & Penyakit Tropis. Edisi I. Jakarta. Balai Penerbit FKUI. Hal. 113 Cherry J.D. 2004. Measles Virus. In: Feigin, Cherry, Demmler, Kaplan (eds) Textbook of Pediatrics Infectious Disease. 5th edition. Vol 3. Philadelphia. Saunders. p.2283 2298 Phillips C.S. 1983. Measles. In: Behrman R.E., Vaughan V.C. (eds) Nelson Textbook of Pediatrics. 15th edition. Japan. Igaku-Shoin/Saunders. p.743 Soegeng Soegijanto. 2001. Vaksinasi Campak. Dalam: I.G.N. Ranuh, dkk. (ed) Buku Imunisasi di Indonesia. Jakarta. Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia. Hal. 105

22

Soegeng Soegijanto. 2002. Campak. dalam: Sumarmo S. Poorwo Soedarmo, dkk. (ed.) Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak Infeksi & Penyakit Tropis. Edisi II. Jakarta. Balai Penerbit FKUI. Hal. 109 T.H. Rampengan, I.R. Laurentz. 1997. Penyakit Infeksi Tropik pada Anak. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hal. 90

23