Anda di halaman 1dari 12

KERJA SAMA BISNIS PENDIRIAN BANK SAMPAH MODEL BARU

A. LATAR BELAKANG Satu RW berpenduduk 1.600 jiwa menghasilkan sampah sekitar 800 kg/hari, 70 % (420 kg) berupa sampah organik, 30 % (jika dilakukan pemilahan di rumah bisa sampai 40%) atau 180 kg 240 kg berupa sampah anorganik. Hampir semuanya dibuang percuma, sebagian dipungut pemulung, bagian terbesar dibuang ke TPS. Bercampur dengan sampah dari RW lain, sampah terangkut menggunung di TPA mencemari tanah sekitarnya entah sampai kapan, setiap ton sampah menghasilkan 50 kg gas metan, membumbung ke udara menyebabkan pemanasan blobal, ditambah polusi udara kotor dan bau. Sampah tak terangkut, tercecer di banyak tempat merusak keindahan, kebersihan dan menjadi sumber penyakit, tertimbun merusak kesuburan tanah, menyumbat saluran drainase dan sungai menyebabkan banjir. Sampah telah menjadi masalah utama di setiap kota di seluruh Indonesia. Padahal, asal warga mau memilah sampah di rumahnya sendiri, dengan menggunakan teknik dan alat yang mudah dan murah, semua sampah yang diroduksi warga satu kawaan bisa dituntaskan di kawasan penghasilnya, tidak sampai dibuang ke TPS. Bahkan menghasilkan pendapatan yang luar biasa : 1. Pendapatan dari sampah anorganik berniai (60 x 240 kg = 144 kg x Rp 1.500 = Rp 216.000/hari atau Rp 6.480.000/bulan) 2. Pendapatan dari usaha produk kreatif berbahan baku sampah plastik tak bernilai 3. Pendapatan dari usaha kerajinan daur ulang sampah plastik Institut Wirausaha Lingkungan Indonesia (IWLI) mengajak warga, Pengurus RW, Pimpinan Kelurahan, Pimpinan Kecamatan sampai Pemda untuk meraih manfaat ekonomis dari sampah yang selama ini dibuang sekaligus mewujudkan RW Bebas Sampah. Agar selaras dengan program pemerintah, aktivitas penanganan berbasis masyarakat bernama Bank Sampah Model Baru. Telah terjadi perubahan pola pikir pada sebagian masyarakat. Sampah bukan lagi benda jelek, kotor, jorok, bau, sumber masalah dan tidak berharga. Sampah adalah Sumber Rezeki. Ditengah euforia semangat pendirian bank sampah yang baru, banyak pula terdengar mulai kendornya semangat para pengelola bank sampah.

B. ANALISIS KEBERADAAN BANK SAMPAH


Data Bank Sampah Perincian Februari 2012 Jml Bank Sampah 471 Jml Nasabah 47.125 orang Volume Sampah 755.600 kg/bl Jml Uang Rp 1.648.320.000/bl Jml Kota 50 Nas/BS 100 Sampah/BS 1.604 kg/bl Rp/BS Rp 3.500.000/bl Sampah/Nas 16 kg/bl Rp/Kg Rp 2.181/kg Rp/Nas Rp 34.978/bl Sumber : Kementerian Lingkungan Hidup Mei 2012 886 84.623 orang 2.001.788 kg/bl Rp 3.182.281.000/bl 50 95 org 2.260 kg/bl Rp 3.591.800/bl 23,6 kg/bl Rp 1.590/kg Rp 37.605 Desember 2012 1.195

Rp 15.000.000.000 ? 55

Data di atas mengungkapkan : 1. Sejak bank sampah mulai dioperasikan pada bulan Mei 2008 sampai Februari 2012 terbentuk sebanyak 471 bank sampah. Terjadi pertumbuhan sekitar 120 bank sampah setahun. Periode Februari 2012 sampai Mei 2012, pertumbuhan melonjak drastis dari 471 buah menjadi 886 buah atau bertambah 415 buah dalam empat bulan di 55 kota atau ekivalen dengan 138 bank sampah perbulan, atau sebanyak 2,8 bank sampah di setiap kota dalam setiap bulannya. Ini kemungkinan terkait dengan besarnya perhatian pemerintah terhadap pendirian bank sampah termasuk bantuan dana 2. Jumlah nasabah setiap bank sampah berkisar 95 100 orang, masih jauh dari target pemerintah sebanyak 500 KK satu bank sampah 3. Jumlah sampah yang bisa dikumpulkan setiap bank sampah pada Mei 2012 sebanyak 1.604 kg/bulan, pada Mei 2012 melonjak drastis menjadi 2.260 kg/bulan atau 53,4 kg 75,3 kg setiap harinya 4. Jumlah sampah yang disetor setiap nasabah setiap harinya berkisar 0,55 0,78 kg. (53,4 kg -75,3 kg /97 nasabah). Menunjukkan bahwa sampah yang disetor berasal dari rumahnya sendiri. Kondisi ini juga menunjukkan nasabah kemungkinan berasal dari golongan ekonomi menengah bawah. Golongan ekonomi menengah atas menghasilkan sampah anorganik sekitar 0,38 kg setiap orang setiap hari (produksi sampah/penduduk/hari x kandungan sampah anorganik dalam total sampah = 0,8 kg x 0,35 = 0,38 kg/hari). Jika satu rumah 5 orsng bersrti dihasilkan sekitar 1,9 kg sampah anorganik/hari 5. Anehnya, meski jumlah sampah terkumpul meningkat, namun tidak berpengaruh pada pendapatan. Pada Februari 2012 diperoleh Rp 3.500.000/bulan sedangkan Mei 2012 hanya Rp 3.591.800/bulan 6. Terjadi peningkatan kemampuan nasabah dalam mengumpulkan sampah, Februari 2012 hanya 16 kg/bl, Mei 2012 melonjak menjadi 23,6 kg/bl. Menunjukkan nasabah bersemangat mengumpulkan sampah 7. Terjadi penurunan drastis harga jual sampah, pada Februari 2012 sampah dijual seharga Rp 2.181/kg, pada Mei menurun drastis menjadi hanya Rp 1.590/kg. Hal ini sangat mengherankan. 8. Perolehan rupiah yang diperoleh setiap nasabah pada Februari 2012 sebesar Rp 34.978/bl kemudian pada Mei 2012 meningkat sedikit menjadi Rp 37.605. Data ini juga
2

menunjukkan bahwa nasabah kebanyakan berasal dari golongan ekonomi menengah bawah, sebab golongan ekonomi menengah atas tidak akan mau bersusah payah memilah sampah rumah tangganya hanya untuk mendapatkan rupiah yang menurut mereka sangat kecil, tidak sampai Rp 2.000/hari. Catatan : Data bulan Desember dianggap tidak valid, jumlah bank sampah 1.195 menghasilkan sebanyak Rp 15.000.000.000 atau Rp 12.552.300 untuk setiap bank sampah. Tidak mungkin terjadi. Kesimpulan : 1. Pertumbuhan bank sampah sangat sedikit, hanya 2,8 buah setiap bulan dalam satu kota, pertumbuhan bank sampah saat ini mungkin berkembang lebih pesat 2. Jumlah nasabah setiap nasabah masih sedikit, berkisar 95 100 orang. Jumlah KK dalam satu RW diperkirakan berkisar 300 400 KK 3. Jumlah sampah yang mampu dikumpulkan oleh setiap bank sampah masih sedikit, berkisar 53,4 kg 75,3 kg setiap harinya. Satu RW berpenduduk 1.200 jiwa diperkirakan menghasilkan sampah anorganik sekitar 180 kg/hari (1.200 x 0,5 x 30% = 180 kg) 4. Pendapatan yang bisa diraih setiap bank sampah masih kecil, sekitar Rp 3.500.000/bulan. Potensi pendapatan yang bisa diraih bisa mencapai Rp 5.400.000/bulan (180 kg x 30 x Rp 1.000) 5. Bank sampah baru bisa menjangkau nasabah yang berasal dari kalangan menengah bawah 6. Sumber pendapatan bank sampah kebanyakan dari satu sumber : penjualan sampah bernilai, karenanya pendapatannya belum banyak. 6. Bank sampah baru bisa memberikan manfaat finansial bagi nasabah, pengelolanya bekerja lebih berlandaskan idealisme, seharusnya bank sampah bisa memberikan pendapatan yang memadai bagi pengelola sehingga bisa bekerja lebih semangat, fokus dan konsisten 7. Sampah yang dikelola semua bank sampah hanya meliputi sampah anorganik bernilai(beling, kaleng, kardus, kertas, logam sebagian jenis plastik), jenis sampah tidak bernilai (bungkus mi, kemasan, kresek, styrofoam, tetrapack) tidak tertangani. Sebagian dibuang ke TPA sebagian lagi tercecer di banyak tempat. Sampah jenis inilah yang menjadi masalah utama di banyak kota dan menimbulkan dampak negatif berkepanjangan, sebab butuh waktu 100 400 tahun untuk bisa terurai kembali. 8. Produktivitas bank sampah sampai Mei 2012 baru mencapai 2.001.238 kg sampah/bulan atau 0,3% dari total produksi sampah yang mencapai 6 juta ton/bulan. 9. Bank sampah yang didirikan dengan bantuan modal cukup besar dan pengelola lebih banyak, masih kalah dibanding pengepul. Seorang pengepul dengan modal Rp 5.000.000 bertempat di rumah yang didirikan di pinggir kali, dalam waktu 6 enam bulan omzetnya bisa naik 3 kali lipat. C. BANK SAMPAH MODEL BARU Bank Sampah Model Baru yang dikembangkan IWLI memiliki kelebihan sbb : 1. Mengajak lebih banyak warga untuk menjadi peserta bank sampah dan bersedia memilah sampah di rumahnya melalui pendekatan yang lebih menyentuh, bukan
3

pendekatan menabung. Tak banyak orang yang mau memilah sampah rumahnya setiap hari hanya untuk mendapatkan Rp 40.000 Rp 50.000/bulan 2. Dengan kesediaan warga memilah sampah, makin banyak sampah yang bisa dimanfaatkan, makin besar pendapatan 3. Dapat menuntaskan semua sampah yang diproduksi warga suatu kawasan di kawasan penghasilnya. Sampah bernilai, dijual, sampah yang masih bisa dimanfaatkan didaur ulang. Sampah residu dibakar dengan insinerator ramah lingkungan. Terbentuk kawasan bebas sampah. Tidak ada sampah yang dibuang ke TPS 4. Setiap bank sampah memiliki lima unit usaha, lebih banyak pendapatan : a. Lapak sampah, menangani sampah bernilai b. Usaha pembuatan produk kreatif berbahan baku sampah plastik tak bernilai yang pemulung pun tak mau memungutnya (bungkus mi, kresek, sachetan, styrofoam, tetrapack) c. Usaha pembuatan kerajinan daur ulang teknik terbaru d. Usaha pupuk cair e. Usaha jasa pengangkutan sampah RW, menarik iuran sampah bulanan 5. Bank sampah bisa dijadikan solusi menjadi mitra bagi perusahaan penghasil sampah kemasan yang diwajibkan mengelola sendiri sampah kemasannya. Sampah kemasan dituntaskan di tempat bank sampah berada. Sumber pemasukan baru D. PROSES KERJA No 1 2. 3 4 5 6 7 Jenis Sampah Sampah organik Sampah organik residu Sampah anorganik residu Sampah anorganik berniai Sampah plastik bernilai Sampah plastik tak bernilai Krsek, bungkus mi, sachetan + PE daun Penanganan kompos, pupuk cair dibakar dengan insinerator ramah lingkungan dibakar dijual dijual Dilelehkan dibuat nomor rumah, jam dinding, nisan dsb disetrika dan dijahit Unit Usaha Pupuk cair Jasa pengangkutan sampah warga sda Usaha Lapak Sampah Usaha Lapak Sampah Usaha produk kreatif Usaha kerajinan daur ulang plastik

E. SOLUSI EPR Undang-Undang No 18/2008 dan PP No 81/2012 mewajibkan kepada setiap perusahaan penghasil sampah kemasan untuk mengolah sampahnya sendiri. Permen LH No 17 Agustus 2012 menerapkan bank sampah sebagai dropping point bagi produsen sampah kemasan untuk mengambil kembali (takeback) sampah kemasannya guna diolah (didaur ulang atau diguna ulang). Pertanyaan : 1. Jika dalam satu bank sampah terdapat banyak sampah berbagai merk dari berbagai perusahaan, apakah satu perusahaan hanya mengambil kemasan produksinya saja. Pemilahan ini membutuhkan biaya sangat besar.
4

2. Setelah diambil, mau diolah dimana, tidak ada pabrik yang mau mengolah sampah plastik tak bernilai, biaya operasinya sangat tinggi dengan hasil yang tidak jelas pasarnya Maka, dengan tungku pengolah sampah plastik tak bernilai, sampah kemasan diolah menjadi barang-barang kreatif bernilai ekonomis tinggi. Sampah kemasan dari semua produsen tertuntaskan di bank sampah berada. Produsen tinggal menyumbang alat dan memberikan kompensasi. Sampah kemasan yang menjadi masalah adalah sampah plastik tidak bernilai (bungkus mi, kresek tertentu, sachetan, styrofoam dan tetrapack), sampah lainnya telah lama bisa didaur ulang dengan sistem pabrikasi. E. TAWARAN KERJA SAMA Kepada siapa pun yang berminat mendirikan bank sampah model baru kami tawarkan kerja sama dengan rincian sbb : A. Pelatihan 1. Tujuan a. Memaparkan sampah adalah sumber rezeki yang sangat kuar biasa b. Menyadarkan pentingnya memilah sampah c. Menyebarluaskan keterampilan mengolah berbagai jenis sampah 2. Materi Pelatihan a. Mengelola Lapak Sampah b. Membuat produk kreatif berbahan baku sampah plastik tak bernilai c. Membuat kerajinan daur ulang sampah plastik d. Mengelola Bank Sampah Model Baru 3. Peserta : 5 7 orang dari tiap RW 4. Waktu Pelatihan : 1 x 8 jam 5. Tempat : Balai RW atau Kelurahan B. Pengadaan Perlengkapan dan bahan baku produksi awal 1. Insinerator ramah lingkungan 2. Tungku pengolah sampah plastik tak bernilai 3. Satu set cetakan produk kreatif (5 jenis) 4. Peralatan pembuatan produk kreatif 5. Dua tabung LPG 3kg beserta regulator 6. Timbangan gantung 7. 1.000 buah kantong/karung sampah C. Kewajiban Mitra Kerja Sama : 1. Menyediakan bangunan 50 70 m2, gerobag dan peralatan tambahan lainnya 2. Melakukan pembayaran biaya kerja sama a. Biaya awal Rp 20.000.000 Rp 15 Jt, selesai transaksi, Rp 5 jt setelah semua peralatan diterima) b. Biaya cicilan Rp 1.000.000/bulan selama 12 bulan dimulai pada bulan kedua (bisa ditutup dari iuran sampah atau penjualan sampah)

Catatan : 1. Nilai pelatihan dan peralatan total Rp 31.000.000 2. Belum termasuk biaya kirim alat 3. Perjanjian kerja sama dituangkan dalam akta perjanjian bermeterai Biaya bisa bersumber dari : a. Kewajiban perusahaan untuk mengolah sampahnya sendiri b. Pemda c. CSR d. Iuran warga Rp 75.000 Rp 100.000 selanjutnya bisa ditutup dari penjualan sampah F. POTENSI PENDAPATAN Satu RW berpenduduk 1.600 jiwa menghasilkan sampah sekitar 800 kg/hari. setelah dipilah, 60% (480 kg) berupa sampah organik, 40 % (320 kg) berupa sampah anorganik. Sampah residu terdiri dari 70 % sampah organik dan 10% sampah anorganik dibakar dengan insinerator ramah lingkungan. Sampah termanfaatkan : 1. 30% sampah organik dibuat pupuk cair @ Rp 20.000/botol 2. 60% sampah anorganik (192 kg/hari) dijual rata-rata Rp 1.500/kg = Rp 288.000/hari atau Rp 8.640.000/bulan 3. 30% sampah plastik tak bernilai (bungkus mi, kresek tertentu, sachetan, styrofoam dan tetrapack) dibuat nomor rumah @ Rp 25.000 4. kresek, bungkus mi, sachetan + plaastik PE daun, dibuat tas belanja @ Rp 40.000/buah 5. Iuran sampah warga 6. Biaya kewajiba perusahaan penghasil sampah kemasan untuk mengolah sendiri sampah kemasannya Hasil : 1. Diperoleh pendapatan sampai belasan juta rupiah/bulan 2. Tercipta banyak lapangan kerja baru 3. Semua sampah produksi warga tertangani tuntas di RW penghasilnya, tidak ada yang dibuang ke TPS D. PENUTUP Dengan mengedepankan aspek ekonomi, Bank Sampah Model Baru ini diharapkan bisa berlangsung dengan semangat dan berkesinambungan. Terjadi pemberdayaan ekonomi masyarakat sekaligus terbentuk kawasan bebas sampah. Semua sampah produksi warga dituntaskan di kawasan penghasilnya. Tangsel, Juni 2013

Asep K. Kusumah Ketua (081286265460)


6

Lampiran 1 :

Lampiran 2 :

Lampiran 3 :

10

Lampiran 4 :

11

Lampiran 5 :

12

Anda mungkin juga menyukai