Anda di halaman 1dari 35

GANGGUAN OBSESIF-KOMPULSIF

BAB I PENDAHULUAN

Gangguan obsesif-kompulsif merupakan sebuah gangguan kecemasan di mana orang memiliki keinginan yang tidak diinginkan dan diulang, perasaan, ide, sensasi (obsesi) atau tingkah laku yang membuat mereka selalu ingin melakukan sesuatu (kompulsif).1 Istilah obsesi menunjuk pada suatu ide atau bayangan mental yang mendesak ke dalam pikiran secara berulang. Pikiran atau bayangan obsesi dapat kekhawatiran yang biasa tentang apakah pintu sudah dikunci atau belum sampai fantasi aneh dan menakutkan tentang bertindak kejam terhadap orang yang disayangi. Istilah kompulsi menunjuk pada dorongan atau impuls yang tidak dapat ditahan untuk melakukan sesuatu. Sering suatu pikiran obsesif mengakibatkan suatu tindakan kompulsif. Tindakan kompulsif dapat berupa berulang kali memeriksa pintu yang terkunci, kompor yang sudah mati atau menelepon orang yang dicintai untuk memastikan keselamatannya.2

BAB II PEMBAHASAN

A. DEFINISI Gangguan obsesif-kompulsif adalah suatu contoh dari efek positif dimana penelitian moderen telah menemukan gangguan di dalam waktu singkat. Pada awal tahun 1980-an gangguan obsesif-kompulsif dianggap sebagai gangguan yang jarang dan berespon buruk terhadap terapi. Sekarang diketahui bahwa gangguan obsesif-kompulsif adalah sering ditemukan dan sangat responsif terhadap terapi.3 Suatu obsesi adalah pikiran, perasaan, ide, atau sensasi yang mengganggu (intrusif). Suatu kompulsi adalah pikiran atau perilaku yang disadari, dibakukan dan rekuren, seperti menghitung, memeriksa atau menghindari. Obsesi meningkatkan kecemasan seseorang sedangkan melakukan kompulsi menurunkan kecemasan seseorang tetapi jika seseorang memaksa untuk melakukan suatu kompulsi, kecemasan adalah meningkat. Seseorang dengan gangguan obsesifkompulsif biasanya menyadari irasionalitas dari obsesi dan merasakan bahwa obsesi dan kompulsi sebagai ego-distonik. Gangguan obsesif-kompulsif dapat merupakan gangguan yang menyebabkan ketidakberdayaan karena obsesi dapat menghabiskan waktu dan dapat mengganggu secara bermakna pada rutinitas normal seseorang, fungsi pekerjaan, aktivitas sosial yang biasanya atau hubungan dengan teman dan anggota keluarga.3

B. EPIDEMIOLOGI Prevalensi seumur hidup gangguan obsesif-kompulsif pada populasi umum diperkirakan adalah 2 sampai 3 persen dimana pria dan wanita memiliki resiko sama. Beberapa peneliti telah memperkirakan bahwa gangguan obsesif-kompulsif ditemukan pada sebanyak 10 persen pasien rawat jalan di klinik psikiatrik. Angka tersebut menyebabkan gangguan obsesif-kompulsif sebagai diagnosis psikiatrik tersering yang keempat setelah fobia, gangguan berhubungan zat, dan gangguan depresif berat. Penelitian epidemiologis di Eropa, Asia, dan Afrika telah menegakkan angka tersebut melewati ikatan kultural.3,4

Untuk orang dewasa, laki-laki dan wanita sama mungkin terkena; tetapi untuk remaja, laki-laki lebih sering terkena gangguan obsesif-kompulsif dibandingkan perempuan. Usia onset rata-rata adalah kira-kira 20 tahun walaupun laki-laki memiliki onset usia yang agak lebih awal (rata-rata sekitar usia 19 tahun) dibandingkan wanita (rata-rata sekitar 22 tahun). Secara keseluruhan, kira-kira duapertiga dari pasien memiliki onset gejala sebelum usia 25 tahun, dan kurang dari 15 persen pasien memiliki onset gejala setelah usia 35 tahun. Gangguan obsesif-kompulsif dapat memiliki onset pada remaja atau masa anak-anak pada beberapa kasus dapat pada usia 2 tahun. Orang yang hidup sendirian lebih banyak terkena gangguan obsesif-kompulsif dibandingkan orang yang menikah, walaupun temuan tersebut kemungkinan mencerminkan kesulitan yang di miliki pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif dalam mempertahankan suatu hubungan. Gangguan obsesif-kompulsif ditemukan lebih jarang diantara golongan kulit hitam dibandingkan kulit putih walaupun tersedianya jalur ke pelayanan kesehatan dapat menjelaskan sebagian besar variasi tersebut ketimbang perbedaan prevalensi antara ras-ras. 3 Pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif umumnya dipengaruhi oleh gangguan mental lain. Prevalensi seumur hidup untuk gangguan depresif berat pada pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif adalah kira-kira 67 persen dan untuk fobia sosial adalah 25 persen. Diagnosis psikiatrik komorbid lainnya pada pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif adalah gangguan pengaruh alkohol, fobia spesifik, gangguan panik, dan gangguan makan.3 Pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif biasanya merupakan orangorang yang sukses, pemalu, keras kepala, perfeksionis, suka menghakimi, sangat berhati-hati, kaku, dan pencemas yang kronis yang menghindari keintiman dan hanya menikmati sedikit kesenangan dalam hidupnya. Mereka suka bimbang dan banyak permintaannya dan sering kali dianggap sebagai orang yang dingin, pendiam, dan tidak ramah. 5

C. ETIOLOGI 1. Faktor Biologis a. Neurotransmiter Banyak uji coba kinis yang telah dilakukan terhadap berbagai obat mendukung hipotesis bahwa suatu disregulasi serotonin adalah terlibat di dalam pembentukan gejala obsesi dan kompulsi dari gangguan. Data menunjukkan bahwa obat

serotonergik lebih efektif dibandingkan obat yang mempengaruhi sistem neurotransmiter lain. Tetapi apakah serotonin terlibat di dalam penyebab gangguan obsesif-kompulsif adalah tidak jelas pada saat ini. Penelitian klinis telah mengukur konsentrasi metabolit serotonin sebagai contohnya, 5-hydroxyndoleacetic acid (5-HIAA) di dalam cairan serebrospinal dan afinitas sertai jumlah tempat ikatan trombosit pada pemberian imipramine(yang

berikatan dengan tempat ambilan kembali serotonin) dan telah melaporkan berbagai temuan pengukuran tersebut pada pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif. Beberapa penelitian telah mengatakan bahwa sistem neurotransmiter kolinergik dan

dopaminergik pada pasien gangguan obsesif-kompulsif adalah dua bidang penelitian riset untuk di masa depan.3

b. Penelitian pencitraan otak Berbagai penelitian pencitraan otak fungsional, sebagai contoh PET (positron emission tomography), telah menemukan peningkatan aktifitas (sebagai contoh, metabolisme dan aliran darah) di lobus frontalis, ganglia basalis (khususnya kaudata), dan singulum pada pasien dengan gangguan obsesif kompulsif. Baik tomografi komputer (CT scan) dan pencitraan resonansi magnetik (MRI) telah menemukan adanya penurunan ukuran kaudata secara biateral pada pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif. Baik penelitian pencitraan otak fungsional maupun struktural konsisten

dengan pengamatan bahwa prosedur neurologis yang melibatkan singulum kadang-kadang efektif dalam pengobatan pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif. Suatu penelitian MRI baru-baru ini melaporkan peningkatan waktu relaksasi T1 di korteks frontalis. 3

c. Genetika Penelitian kesesuaiaan pada anak kembar untuk gangguan obsesif-kompulsif telah secara konsisten menemukan adanya angka kesesuaian yang lebih tinggi secara bermakna pada kembar monozigotik dibandingkan kembar dizigotik. Penelitian keluarga pada pasien gangguan obsesif kompulsif telah menemukan bahwa 35 persen sanak saudara derajat pertama pasien gangguan obsesifkompulsif juga menderita gangguan. 3

d. Data biologis lainnya Penelitian elektrofisiologis, penelitian elektroensefalogram (EEG) tidur, dan penelitian neuroendokrin telah menyumbang data yang menyatakan adanya kesamaan antara gangguan depresif dan gangguan obsesif-kompulsif. Suatu insidensi kelainan EEG nonspesifik yang lebih tinggi dari biasanya telah ditemukan pada pasien gangguan obsesif-kompulsif. Penelitian EEG tidur telah menemukan kelainan yang mirip dengan yang terlihat pada gangguan depresif, seperti penurunan latensi REM (rapid eye movement). Penelitian neuroendokrin juga telah menemukan beberapa kemiripan dengan gangguan depresif, seperti nonsupresi pada dexamethasone-suppression test pada kira-kira sepertiga pasien dan penurunan sekresi hormon pertumbuhan pada infus clonidine (catapres). 3

2. Faktor Perilaku Menurut ahli teori belajar, obsesi adalah stimuli yang dibiasakan. Stimulus yang relatif netral menjadi disertai dengan ketakutan atau kecemasan melalui proses pembiasaan responden dengan

memasangkannya dengan peristiwa yang secara alami adalah berbahaya atau menghasilkan kecemasan. Jadi, objek dan pikiran yang sebelumnya netral menjadi stimuli yang terbiasakan yang mampu menimbulkan kecemasan atau gangguan. 3 Kompulsi dicapai dalam cara yang berbeda. Seseorang menemukan bahwa tindakan tertentu menurunkan kecemasan yang berkaitan dengan pikiran obsesional. Jadi, strategi menghindar yang aktif dalam bentuk perilaku kompulsif atau ritualistik dikembangkan untuk mengendalikan kecemasan. Secara bertahap, karena manfaat perilaku tersebut dalam menurunkan dorongan sekunder yang menyakitkan (kecemasan), strategi menghindar menjadi terfiksasi sebagai pola perilaku kompulsif yang dipelajari. 3

3. Faktor Psikososial a. Faktor kepribadian Gangguan obsesif-kompulsif adalah berbeda dari gangguan kepribadian obsesif-kompulsif. Sebagian besar pasien gangguan obsesif-kompulsif tidak memiliki gejala kompulsif pramorbid. Dengan demikian, sifat kepribadian tersebut tidak diperlukan atau tidak cukup untuk perkembangan gangguan obsesif-kompulsif. Hanya kira-kira 15 sampai 35 persen pasien gangguan obsesifkompulsif memiliki sifat obsesional pramorbid.3

b. Faktor psikodinamika Sigmund Freud menjelaskan tiga mekanisme pertahanan psikologis utama yang menentukanbentuk dan kualitas gejala dan

sifat karakter obsesif-kompulsif; isolasi, meruntuhkan (undoing), dan pembentukan reaksi. 3 1) Isolasi Isolasi melindungi adalah mekanisme dari afek pertahanan dan impuls yang yang

seseorang

mencetuskan kecemasan. Jika terjadi isolasi, afek dan impuls yang didapatkan darinya adalah dipisahkan dari komponen idesional dan dikeluarkan dari kesadaran. Jika isolasi berhasil sepenuhnya, impuls dan afek yang terkait seluruhnya terepresi, dan pasien secara sadar hanya menyadari gagasan yang tidak memiliki afek yang berhubungan dengannya. 3

2) Undoing Karena adanya ancaman terus-menerus bahwa impuls mungkin dapat lolos dari mekanisme primer isolasi dan menjadi bebas, operasi pertahanan sekunder diperlukan untuk melawan impuls dan menenangkan kecemasan yang mengancam keluar ke kesadaran. Tindakan kompulsif menyumbangkan manifestasi permukaan operasi defensif yang ditujukan untuk menurunkan kecemasan dan

mengendalikan impuls dasar yang belum diatasi secara memadai oleh isolasi. Operasi pertahanan sekunder yang cukup penting adalah mekanisme meruntuhkan (undoing). Seperti yang disebutkan sebelumnya, meruntuhkan adalah suatu tindakan kompulsif yang dilakukan dalam usaha untuk mencegah atau meruntuhkan akibat yang secara irasional akan dialami pasien akibat pikiran atau impuls obsesional yang menakutkan. 3

3) Pembentukan reaksi Pembentukan reaksi melibatkan pola perilaku yang bermanifestasi dan sikap yang secara sadar dialami yang jelas berlawanan dengan impuls dasar. Seringkali, pola yang terlihat oleh pengamat adalah sangat dilebih-lebihkan dan tidak sesuai. 3

4) Faktor psikodinamik lainnya Pada teori psikoanalitik klasik, gangguan obsesifkompulsif dinamakan neurosis obsesif-kompulsif dan merupakan suatu regresi dari fase perkembangan oedipal ke fase psikoseksual anal. Jika pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif merasa terancam oleh kecemasan tentang pembalasan dendam atau kehilangan objek cinta yang penting, mereka mundur dari fase oedipal dan beregresi ke stadium emosional yang sangat ambivalen yang

berhubungan dengan fase anal. Adanya benci dan cinta secara bersama-sama kepada orang yang sama

menyebabkan pasien dilumpuhkan oleh keragu-raguan dan kebimbangan. Suatu ciri yang melekat pada pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif adalah derajat dimana mereka terpaku dengan agresi atau kebersihan, baik secara jelas dalam isi gejala mereka atau dalam hubungan yang terletak di belakangnya. Dengan demikian, psikogenesis gangguan obsesif-kompulsif, mungkin terletak pada gangguan dan perkembangan pertumbuhan normal yang berhubungan dengan fase perkembangan anal-sadistik. 3

5) Ambivalensi Ambivalensi adalah akibat langsung dari perubahan dalam karakteristik kehidupan impuls. Hal ini adalah ciri

yang penting pada anak normal selama fase perkembangan anal-sadistik; yaitu anak merasakan cinta dan kebencian kepada suatu objek. Konflik emosi yang berlawanan tersebut mungkin ditemukan pada pola perilaku melakukantidak melakukan pada seorang pasien dan keragu-raguan yang melumpuhkan dalam berhadapan dengan pilihan. 3 6) Pikiran magis Pikiran magis adalah regresi yang mengungkapkan cara pikiran awal, ketimbang impuls; yaitu fungsi ego, dan juga fungsi id, dipengaruhi oleh regresi. Yang melekat pada pikiran magis adalah pikiran kemahakuasaan. Orang merasa bahwa mereka dapat menyebabkan peristiwa di dunia luar terjadi tanpa tindakan fisik yang

menyebabkannya, semata-mata hanya dengan berpikir tentang peristiwa tersebut. Perasaan tersebut menyebabkan memiliki suatu pikiran agresif akan menakutkan bagi pasien gangguan obsesif-kompulsif. 3

D. GEJALA KLINIS Obsesif dan kompulsi memiliki ciri tertentu secara umum: 1. Suatu gagasan atau impuls yang memaksakan dirinya secara bertubi-tubi dan terus-menerus ke dalam kesadaran seseorang. 2. Suatu perasaan ketakutan yang mencemaskan yang menyertai manifestasi sentral dan seringkali menyebabkan orang

melakukan tindakan kebalikan melawan gagasan atau impuls awal. 3. Obsesi dan kompulsi adalah asing bagi ego (ego-alien), yaitu dialami sebagai suatu yang asing bagi pengalaman seseorang tentang dirinya sendiri sebagai makhluk psikologis.

4. Tidak peduli bagaimana jelas dan memaksanya obsesi atau kompulsi tersebut, orang biasanya menyadarinya sebagai mustahil dan tidak masuk akal. 5. Orang yang menderita akibat obsesi dan kompulsi biasanya merasakan suatu dorongan yang kuat untuk menahannya. 3

Gambaran obsesi dan kompulsi adalah heterogen pada dewasa, pada anak-anak dan remaja. Gejala pasien individual mungkin bertumpang tindih dan berubah dengan berjalannya waktu, tetapi gangguan obsesif-kompulsif memiliki empat pola gejala yang utama. Pola yang paling sering ditemukan adalah suatu obsesi tentang kontaminasi, diikuti oleh mencuci disertai penghindaran obsesif terhadap objek yang kemungkinan terkontaminasi. Objek yang ditakuti seringkali sukar untuk dihindari, sebagai contoh feses, urin, debu atau kuman. Pasien mungkin secara terus-menerus menggosok kulit tangannya dengan mencuci tangan secara berlebihan atau mungkin tidak mampu pergi keluar rumah karena takut akan kuman. Walaupun kecemasan adaloah respon emosional yang paling sering terhadap objek yang ditakuti, rasa malu dan rasa jijik yang obsesif juga sering ditemukan. Pasien dengan obsesi kontaminasi biasanya percaya bahwa kontaminasi ditularkan dari objek ke objek atau orang ke orang oleh kontak ringan. 3 Pola kedua yang sering adalah obsesi keragu-raguan, diikuti oleh pengecekan yang kompulsi. Obsesi seringkali melibatkan suatu bahaya kekerasan, seperti lupa mematikan kompor atau tidak mengunci pintu. Pengecekan tersebut mungkin menyebabkan pasien pulang beberapa kali ke rumah untuk memeiksa kompor. Pasien memiliki keragu-raguan terhadap diri sendiri yang obsesional, saat mereka selalu merasa bersalah karena melupakan atau melakukan sesuatu. 3 Pola ketiga yang tersering adalah pola dengan pikiran semata-mata pikiran obsesional yang mengganggu tanpa suatu kompulsi. Obsesi tersebut biasanya berupa pikiran berulang akan suatu tindakan seksual atau agresi yang dicela oleh pasien. 3

10

Pola keempat yang tersering adalah kebutuhan akan simetrisitas atau ketepatan, yang dapat menyebabkan perlambatan kompulsi. Pasien secara harfiah menghabiskan waktu berjam-jam untuk makan atau mencukur wajahnya. Penumpukan obsesi dan kompulsi religius adalah sering pada pasien obsesifkompulsif. Trichotillomania (menarik rambut kompulsif) dan menggigit kuku mungkin merupakan kompulsi yang berhubungan dengan gangguan obsesifkompulsif. 3 Terdapat juga beberapa gangguan yang biasa merupakan bagian merupakan bagian dari atau dengan kuat dihubungkan dengan spectrum GOK (gangguan gangguan obsesif-kompulsif) 1. Gangguan dismorfik tubuh (body Dysmorphic Disorder) Pada gangguan ini orang terobsesi dengan keyakinan bahwa mereka buruk rupa atau bagian tubuh mereka berbentuk tidak normal. 2. Trikhotilomania Orang dengan Trikhotilomania terus menerus mencabuti rambut mereka sehingga timbul daerah-daerah botak. 3. Sindrom Tourettes Gejala sindrom Tourettes meliputi gerakan yang pendek dan cepat, tik dan ucapan kata-kata kotor yang tak terkontrol. 2

E. DIAGNOSIS Kriteria diagnostik untuk gangguan obsesif-kompulsif menurut DSM IV: 1. Salah satu obsesi atau kompulsi Obsesi seperti yang didefinisikan sebagai berikut: a. Pikiran, impuls, atau bayangan-bayangan yang rekuren dan persisten yang dialami, pada suatu saat dimana selama gangguan, sebagai intrusif dan tidak sesuai, dan menyebabkan kecemasan dan

penderitaan yang jelas.

11

b. Pikiran, impuls, atau bayangan-bayangan tidak semata-mata kekhawatiran yang berlebihan tentang masalah kehidupan yang nyata. c. Orang berusaha untuk mengabaikan atau

menekan pikiran, impuls, atau bayangan-bayangan tersebut untuk mentralkannya dengan pikiran atau tindakan lain. d. Orang menyadari bahwa pikiran, impuls, atau bayangan-bayangan obsesional adalah keluar dari pikirannya sendiri (tidak disebabkan dari luar seperti penyisipan pikiran).

Kompulsi seperti yang didefinisikan sebagai berikut: a. Perilaku (misalnya, mencuci tangan,

mengurutkan, memeriksa) atau tindakan mental (misalnya berdoa, menghitung, mengulangi katakata dalam hati) yang berulang yang dirasakannya mendorong untuk melakukannya sebagai respon terhadap suatu obsesi, atau menurut dengan aturan yang harus dipatuhi secara kaku. b. Perilaku atau tindakan mental ditujukan untuk mencegah mencegah atau suatu menurunkan kejadian penderitaan atau situasi atau yang

menakutkan, tetapi perilaku atau tindakan mental tersebut tidak dihubungkan dengan cara yang realistik dengan apa mereka dianggap untuk menetralkan atau mencegah, atau jelas berlebihan.

2. Pada suatu waktu selama perjalanan gangguan, orang telah menyadari bahwa obsesi atau kompulsi adalah berlebihan atau tidak beralasan. Catatan: ini tidak berlaku bagi anak-anak

12

a. Obsesi atau kompulsi menyebabkan penderitaan yang jelas, menghabiskan waktu (menghabiskan lebih dari satu jam sehari), atau secara bermakna mengganggu rutinitas normal orang, fungsi pekerjaan (atau akademik) atau aktivitas atau hubungan sosial yang biasanya. b. Jika terdapat gangguan aksis I lainnya, isi obsesi atau kompulsi tidak terbatas padanya (misalnya preokupasi dengan makanan jika terdapat gangguan makan, menarik rambut jika terdapat trikotilomania, permasalahan pada penampilan jika terdapat gangguan dismorfik tubuh, preokupasi dengan obat jika terdapat suatu gangguan penggunaan zat, preokupasi dengan menderita suatu penyakit serius jika terdapat hipokondriasis, preokupasi dengan dorongan atau fanatasi seksual jika terdapat parafilia, atau perenungan bersalah jika terdapat gangguan depresif berat). c. Tidak disebabkan oleh efek langsung suatu zat (misalnya obat yang disalahgunakan, medikasi) atau kondisi medis umum. Sebutkan jika: Dengan tilikan buruk: jika selama sebagian besar waktu selama episode terakhir, orang tidak menyadari bahwa obsesi dan kompulsi adalah berlebihan atau tidak beralasan. 3

Pedoman diagnosis menurut PPDGJ III: 1. Untuk menegakkan diagnosis pasti, gejala-gejala obsesif atau tindakan kompulsif, atau kedua-duanya, harus ada hampir setiap hari selama sedikitnya dua minggu berturut-turut. 2. Hal tersebut merupakan sumber penderitaan (distress) atau mengganggu aktivitas penderita. 3. Gejala-gejala obsesif harus mencakup hal-hal berikut: a. Harus disadari sebagai pikiran atau impuls diri sendiri.

13

b. Sedikitnya ada satu pikiran atau tindakan yang tidak berhasil dilawan meskipun ada lainnya yang tidak lagi dilawan oleh penderita. c. Pikiran untuk melakukan tindakan tersebut di atas bukan merupakan hal yang memberi kepuasan atau kesenangan (sekedar perasaan lega dari ketegangan atau anxietas, tidak dianggap sebagai kesenangan seperti dimaksud di atas. d. Gagasan, bayangan pikiran, atau impuls tersebut harus merupakan pengulangan yang tidak menyenangkan

(unpleasantly repetitive).

4. Ada kaitan erat antara gejala obsesif, terutama pikiran obsesif, dengan depresi. penderita gangguan obsesif kompulsif seringkali juga menunjukkan gejala depresif, dan sebaliknya penderita gangguan depresi berulang dapat menunjukkan pikiran-pikiran obsesif selama episode depresifnya. Dalam berbagai situasi dari kedua hal tersebut, meningkat atau menurunnya gejala depresif umumnya dibarengi secara paralel dengan perubahan gejala obsesif. Bila terjadi episode akut dari gangguan tersebut, maka diagnosis diutamakan dari gejala-gejala yang timbul lebih dahulu. Diagnosis gangguan obsesif kompulsif ditegakkan hanya bila tidak ada gangguan depresif pada saat gejala obsesif kompulsif tersebut timbul. Bila dari keduanya tidak adayang menonjol, maka baik menganggap depresi sebagai diagnosis yang primer. Pada gangguan menahun maka prioritas diberikan pada gejala yang paling bertahan saat gejala yang lain menghilang. 5. Gejala obsesif sekunder yang terjadi pada gangguan skizofrenia, sindrom Tourette, atau gangguan mental organk, harus dianggap sebagai bagian dari kondisi tersebut. 6

14

F42.0 Predominan Pikiran Obsesif atau Pengulangan Pedoman Diagnostik 1. Keadaan ini dapat berupa gagasan, bayangan pikiran, atau impuls (dorongan perbuatan), yang sifatnya mengganggu (ego alien) 2. Meskipun isi pikiran tersebut berbeda-beda, umumnya hampir selalu menyebabkan penderitaan (distress) 6

F42.1 Predominan Tindakan Kompulsif (obsesional ritual) Pedoman Diagnostik 1. Umumnya tindakan kompulsif berkaitan dengan kebersihan (khususnya mencuci tangan), memeriksa berulang untuk

meyakinkan bahwa suatu situasi yang dianggap berpotensi bahaya terjadi, atau masalah kerapian dan keteraturan. Hal tersebut dilatarbelakangi perasaan takut terhadap bahaya yang mengancam dirinya atau bersumber dari dirinya, dan tindakan ritual tersebut merupakan ikhtiar simbolik dan tidak efektif untuk menghindari bahaya tersebut. 2. Tindakan ritual kompulsif tersebut menyita banyak waktu sampai beberapa jam dalam sehari dan kadang-kadang berkaitan dengan ketidakmampuan mengambil keputusan dan kelambanan. 6

F42.2 Campuran Pikiran dan Tindakan Obsesif Pedoman Diagnostik 1. Kebanyakan dari penderita obsesif kompulsif memperlihatkan pikiran obsesif serta tindakan kompulsif. Diagnosis ini digunakan bialmana kedua hal tersebut sama-sama menonjol, yang umumnya memang demikian. 2. Apabila salah satu memang jelas lebih dominan,sebaiknya dinyatakan dalam diagnosis F42.0 atau F42.1. hal ini berkaitan

15

dengan respon yang berbeda terhadap pengobatan. Tindakan kompulsif lebih respondif terhadap terapi perilaku. 6

F42.8 Gangguan Obsesif Kompulsif Lainnya F42.9 Gangguan Obsesif Kompulsif YTT 6

F. TERAPI 1. Farmakoterapi a. Penggolongan 1) Obat Anti-obsesif kompulsif trisiklik Contoh: Clomipramine. 2) Obat Anti-obsesif kompulsif SSRI (Serotonin Reuptake Inhibitors) Contoh: Sertraline, Paroxetine, Fluvoxamine, Fluoxetine, Citalopram.7

b. Indikasi Penggunaan Gejala sasaran (target syndrome): Sindrom Obsesif Kompulsif. Butir-butir diagnostik Sindrom Obsesif Kompulsif: 1) Selama paling sedikit 2 minggu dan hampir setiap hari mengalami gejala-gejala obsesif kompulsif yang memiliki ciri-ciri berikut: a) Diketahui/disadari sebagai pikiran, bayangan atau impuls dari diri individu sendiri; b) Pikiran, bayangan, atau impuls tersebut harus merupakan pengulangan yang tidak menyenangkan (ego-distonik); c) Melaksanakan tindakan sesuai dengan pikiran, bayangan atau impuls tersebut diatas bukan merupakan hal yang memberi kepuasan atau kesenangan (sekedar perasaan lega dari ketegangan atau ansietas);

16

d) Sedikitnya ada satu pikiran atau tindakan yang masih tidak berhasil dilawan/dielakkan, meskipun ada lainnya yang tidak lagi dilawan/dielakkan oleh penderita;

2) Gejala-gejala tersebut merupakan sumber penderitaan (distress) atau menggangu aktivitas sehari-hari (disability)

Respon penderita gangguan obsesif kompulsif terhadap farmakoterapi seringkali hanya mencapai pengurangan gejala sekitar 30%-60% dan kebanyakan masih menunjukkan gejala secara menahun. Namun demikian, umumnya penderita sudah merasa sangat tertolong. Untuk mendapatkan hasil pengobatan yang lebih baik, perlu disertai dengan terapi perilaku (behavior therapy). 7 Clomipramine. Clomipramine biasanya dimulai dengan dosis 25

sampai 50 mg sebelum tidur dan dapat ditingkatkan dengan peningkatan 25 mg sehari setiap dua sampai tiga hari, sampai dosis maksimum 250 mg sehari atau tampak efek samping yang membatasi dosis. Karena Clopramine adalah suatu obat trisiklik, obat ini disertai dengan efek samping berupa sedasi, hipotensi, disfungsi seksual dan efek samping antikolinergik, seperti mulut kering.3 SSRI. Penelitian tentang Fluoxetine dalam gangguan obsesif-kompulsif menggunakan dosis sampai 80 mg setiap hari untuk mencapai manfaat terapeutik. Walaupun SSRI mempunyai efek seperti overstimulasi, kegelisahan, nyeri kepala, insomnia, mual, dan efek samping gastrointestinal, SSRI dapat ditoleransi dengan lebih baik daripada obat trisiklik. Dengan demikian, kadang-kadang SSRI digunakan sebagai obat lini pertama dalam pengobatan gangguan obsesif kompulsif. 3 Obat lain. Jika pengobatan dengan Clomipramine atau SSRI tidak berhasil, banyak ahli terapi menambahkan lithium (Eskalith). Obat lain yang dapat digunakan dalam pengobatan gangguan obsesif kompulsif adalah inhibitor monoamin oksidase (MAOI = monoamine oxidase inhibitor), khususnya Phenelzine (Nardil). 3

17

2. Terapi perilaku Walaupun beberapa perbandingan telah dilakukan, terapi perilaku sama efektifnya dengan farmakoterapi pada gangguan obsesif-kompulsif. Dengan demikian, banyak klinisi mempertimbangkan terapi perilaku sebagai terapi terpilih untuk gangguan obsesif-kompulsif. Terapi perilaku dapat dilakukan pada situasi rawat inap maupun rawat jalan. Pendekatan perilaku utama pada gangguan obsesif-kompulsif adalah pemaparan dan pencegahan respon. Desensitisasi, menghentikan pikiran, pembanjiran, terapi implosi, dan pembiasaan tegas juga telah digunakan pada pasien gangguan obsesif kompulsif. Dalam terapi perilaku pasien harus benarbenar menjalankannya untuk mendapatkan perbaikan. 3

3. Psikoterapi Psikoterapi suportif jelas memiliki bagiannya, khususnya untuk pasien gangguan obsesif-kompulsif, walaupun gejalanya memiliki berbagai derajat keparahan, adalah mampu untuk bekerja dan membuat penyesuaian sosial. Dengan kontak yang kontinu dan teratur dengan tenaga yang profesional, simpatik, dan mendorong, pasien mungkin mampu untuk berfungsi berdasarkan bantuan tersebut, tanpa hal tersebut gejalanya akan menyebabkna gangguan. Kadang-kadang jika ritual dan kecemasan obsesional mencapai intensitas yang tidak dapat ditoleraansi, perlu untuk merawat pasien di rumah sakit sampai tempat penampungan institusi dan menghilangkan stres lingkungan eksternal menurunkan gejala sampai tingkat yang dapat ditoleransi. 3 Anggota keluarga pasien seringkali menjadi putus asa karena perilaku pasien. Tiap usaha psikoterapik harus termasuk perhatian pada anggota keluarga melalui dukungan emosional, penentraman, penjelasan dan nasihat tentang bagaimana menangani dan berespons terhadap pasien. 3

18

4. Terapi lain Terapi keluarga seringkali berguna dalam mendukung keluarga, membantu menurunkan percekcokan perkawinan yang disebabkan gangguan, dan membangun ikatan terapi dengan anggota keluarga untuk kebaikan pasien. Terapi kelompok berguna sebagai sistem pendukung bagi beberapa pasien. 3

5. Cognitive Behavior Therapy


Cognitive Behavior Therapy untuk mengatasi gangguan ObsesifKompulsif. Mendasarkan pada perspektif kognitif dan perilaku, teknik yang

umumnya diterapkan untuk mengatasi gangguan obsesif-kompulsif adalah exposure with response prevention. Pasien dihadapkan pada situasi dimana ia memiliki keyakinan bahwa ia harus melakukan tingkah laku ritual yang biasa dilakukannya namun mereka cegah untuk tidak melakukan ritual itu. Jika klien dapat mencegah untuk tidak melakukan ritual tersebut dan ternyata sesuatu yang mengerikannya tidak terjadi. Hal ini dapat membantu dalam mengubah keyakinan individu akan tingkah laku ritual. Teknik lain berupa terapi kognitif dimana mengajarkan jalan terbaik dan efektif untuk merespon pikiran obsesif tanpa perlu sampai ke kompulsif. 8

G. DIAGNOSIS BANDING 1. Kondisi medis Gangguan neurologis utama yang dipertimbangkan dalam

diagnosis banding adalah gangguan Tourette, gangguan tik lainnya, epilepsi lobus temporalis, dan kadang-kadang komplikasi trauma dan pascaensefalitik. Gejala karakteristik dari gangguan Tourette adalah tik motorik dan vokal yang sering dan hampir setiap hari terjadi. 3 2. Kondisi psikiatrik Pertimbangan psikiatrik utama di dalam diagnosis banding gangguan obsesif-kompulsif adalah skizofrenia, gangguan kepribadian obsesif-kompulsif, fobia, dan gangguan depresif. Gangguan obsesif

19

kompulsif biasanya dapat dibedakan dari skizofrenia oleh tidak adanya gejala skizofrenik lain, oleh kurang kacaunya sifat gejala, dan oleh tilikan pasien terhadap gangguan mereka. Gangguan kepribadian obsesifkompulsif tidak memiliki derajat gangguan fungsional yang berhubungan dengan gangguan obsesif-kompulsif. Fobia dibedakan dengan tidak adanya hubungan antara pikiran obsesif dan kompulsi. Gangguan depresif berat kadang-kadang dapat disertai oleh gagasan obseisf, tetapi pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif saja tidak memenuhi kriteria diagnostik untuk gangguan depresif berat. 3 Kondisi psikiatrik lain yang dapat berhubungan erat dengan gangguan obsesif-kompulsif adalah hipokondriasis, gangguan dismorfik tubuh, dan kemungkinan gangguan impuls lainnya, seperti kleptomania dan judi patologis. Pada semua gangguan tersebut pasien memiliki pikiran yang berulang, sebagai contoh permasalahan tentang tubuhnya, atau perilaku yang berulang sebagai contoh mencuri. 3

H. PROGNOSIS Gangguan obsesif-kompulsif merupakan penyakit yang kronik dengan perode dari gejala-gejala yang seiring dengan berjalannya waktu akan mengalami peningkatan. Penderita gangguan ini tidak biasanya sembuh sempurna atau bebas dari gejala. Walaupun demikian dengan pengobatan, banyak orang yang mengalami perbaikan. Perbaikan tersebut berupa gejala yang berbeda seperti cara merealisasikan suatu obsesif yang berbeda. Diagnosis awal dan terapi yang dilakukan secepatnya akan memberikan hasil yang lebih baik di mana penekanan onset usia dini adalah hal yang patut untuk segera didiagnosis. Selain itu, mereka yang bergerak di bidang kesehatan mesti memahami perbedaan antara gangguan obsesif-kompulsif dengan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif yang mana untuk jenis gangguan kepribadian biasanya dimulai pada saat dewasa muda, yaitu umur di atas 20 tahun sedangkan untuk gangguan obsesif kompulsif biasanya dimulai pada usia anak-anak.1,9,10

20

BAB III KESIMPULAN Gangguan obsesifkompulsif merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan adanya pengulangan pikiran obsesif atau kompulsif, dimana

membutuhkan banyak waktu (lebih dari satu jam perhari) dan dapat menyebabkan penderitaan (distress). Untuk menegakkan diagnosis pasti, gejalagejala obsesif atau tindakan kompulsif atau keduaduanya harus ada hampir setiap hari selama sedikitnya 2 minggu berturutturut. Beberapa faktor berperan dalam terbentuknya gangguan obsesif-kompulsif diantaranya adalah faktor biologi seperti

neurotransmiter, pencitraan otak, genetika, faktor perilaku dan faktor psikososial, yaitu faktor kepribadian dan faktor psikodinamika. Ada beberapa terapi yang bisa dilakukan untuk penatalaksanaan gangguan obsesifkompulsif antara lain terapi farmakologi (farmakoterapi) dan terapi tingkah laku. Prognosis pasien dinyatakan tidak bisa sembuh sempurna. Dengan pengobatan bisa memberikan pengurangan gejala.

21

DAFTAR PUSTAKA

1. Berger FK. Obsessive-Compulsive Disorder. MedlinePlus. 2012 Jul 03. Diakses pada tanggal 19 Mei 2013 di http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000929.htm 2. Maramis WF, Maramis AA. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. 2rd rev. ed. Surabaya: Airlangga University Press; 2009, 312-313 p. 3. Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Kaplan dan Sadock Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis. 2rd rev. ed. Kusuma M, translator. Jakarta: Erlangga; 2010, 56-67 p. 4. Katona C, Cooper C, Robertson M. At a Glance Psikiatri. 4th rev. ed. Noviyanti C dan Hartiansyah Vidya, translator. Jakarta: Erlangga; 2012, 31 p. 5. Tomb DA. Buku Saku Psikiatri (Psychiatry). 6th rev. ed. Nasrun MWS, translator. Yogyakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2004, 238-239 p. 6. Maslim R. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ III. 1st ina. ed. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK UNIKA Atmajaya; 2001, 76-77 p. 7. Maslim R. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik (Psychotropic Medication). 3rd rev. ed. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK UNIKA Atmajaya; 2001, 47-48 p. 8. Robinson L, Smith M, Segal J. Obsessive-Compulsive Disorder (OCD). Helpguide. 2013 Apr. Diakses pada tanggal 19 Mei 2013 di http://www.helpguide.org/mental/obsessive_compulsive_disorder_ocd.htm 9. National Colaborating Centre for Mental Health, National Institute for Health and Clinical Excellence. Obsessive-Compulsive Disorder: Core interventions in the treatment of obsessive-compulsive disorder and body dysmorphic disorder. National Clinical Practice Guideline. 2006; 31: 19-20. 10. Rogge T. Obsessive-Compulsive Personaliy Disorder. MedlinePlus. 2012 Nov 11. Diakses pada tanggal 19 Mei 2013 di http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000942.htm

22

EPISODE DEPRESIF SEDANG DENGAN GEJALA SOMATIK (F32.11)

IDENTITAS PASIEN Nama Umur Jenis Kelamin Status Perkawinan Agama / Suku Bangsa Pekerjaan Pendidikan Terakhir Alamat Masuk ke poli HUH : Tn. A : 43 tahun : Pria : Menikah : Islam / Bugis : PNS : S1 : Jalan Poros Sidrap, Makassar : 22 Mei 2013

LAPORAN PSIKIATRIK

1. RIWAYAT PENYAKIT A. Keluhan Utama : Nyeri anggota tubuh tertentu B. Riwayat Gangguan Sekarang 1) Keluhan dan Gejala: Keluhan pasien ini mulai tampak kira-kira 2 bulan yang lalu dan dirasakan setiap hari. Nyeri dirasakan berpindah-pindah dari satu anggota tubuh ke anggota tubuh yang lain seperti di tangan, kaki, mata, dan anggota tubuh lainnya. Nyeri dirasakan seperti digigit semut atau nyamuk juga menjalar. Sejak 2 bulan yang lalu, pasien juga mengeluhkan adanya perasaan dingin di ujung jari-jari kaki dan tangan diiringi rasa lengket di ujung jari-jari tangannya. Pasien merasa bersalah karena sudah tidak bekerja sejak September 2012 dan merasa masa depannya suram. Pada Juli 2012 pasien juga mengeluhkan nyeri punggung serta sulit tidur dan telah berobat di Interna dan didiagnosis

23

myalgia juga mendapat pengobatan Na diklofenak dan Omeprazole. Saat itu juga pasien dikonsul ke Neurologis dan diberi pemeriksaan berupa foto lumbal dan USG abdomen. Hasilnya adalah normal. Pasien didiagnosis myalgia kemudian diberikan Paracetamol dan Ranitidin. Pasien mengonsumi obat teratur tetapi merasa belum memiliki perbaikan berarti malah pasien merasa dirinya sesak napas serta nyeri ulu hati. Pasien kembali mengunjungi Interna pada bulan April 2013 dan oleh Interna pasien kemudian dikonsul ke psikiatri terkait ragam keluhannya. Untuk keluhan tersebut pasien sudah mendapat pengobatan berupa Apazol dan Kalxetin serta mengaku baru bisa tidur bila mengonsumi obat tersebut. 2) Hendaya / Disfungsi: Hendaya sosial (-) Hendaya pekerjaan (+) sejak September 2012 di mana pasien sudah berhenti bekerja sejak saat itu terkait penyakitnya. Hendaya waktu senggang (-) 3) Faktor stressor psikososial: Anak tunggal pasien yang berjenis kelamin perempuan dengan umur sekitar 20 tahun tidak penurut, sering keluar malam, dan pasien begitu mencemaskannya. Selain itu pasien sudah tidak bekerja sejak September 2012. 4) Hubungan gangguan sekarang dengan riwayat penyakit fisik dan psikis sebelumnya: Tidak ada. C. Riwayat Gangguan Sebelumnya 1) Riwayat penyakit fisik (trauma) terdahulu: Tidak ada riwayat penyakit terdahulu. 2) Riwayat penggunaan NAPZA: Tidak ada riwayat penggunaan NAPZA. 3) Riwayat gangguan psikiatri sebelumnya:

24

Pasien pernah menemui dokter psikiatrik pada bulan April 2013 dengan keluhan sulit tidur, nyeri punggung, nyeri ulu hati, dan sesak napas serta mendapat pengobatan Kalxetin dan Apazol. D. Riwayat kehidupan pribadi 1) Riwayat prenatal dan perinatal Pasien lahir normal di rumah ditolong oleh bidan, cukup bulan. Selama masa kehamilan, keadaan ibu pasien normal. 2) Riwayat masa kanak-kanak awal (1-3 tahun) Pertumbuhan dan perkembangan normal, sama dengan anak-anak lainnya. 3) Riwayat masa kanak-kanak pertengahan (4-11 tahun) Pasien bersekolah di SD. Prestasi pasien di sekolah biasa saja. Pasien mudah bergaul dengan teman-teman sebayanya. 4) Riwayat masa remaja (12-17 tahun) Pasien bersekolah di SMP. Prestasi pasien di sekolah biasa saja. Pasien tidak memiliki masalah dengan teman sekolahnya. 5) Riwayat pekerjaan Pasien merupakan seorang karyawan kantor sebelum memutuskan untuk berhenti bekerja terkait keluhan fisiknya saat ini. 6) Riwayat pernikahan Pasien sudah menikah dan memiliki 1 orang anak (). E. Riwayat kehidupan keluarga Pasien merupakan anak tunggal. Hubungan pasien dengan seluruh anggota keluarganya baik. Riwayat anggota keluarga dengan kelainan jiwa tidak ada. F. Situasi sekarang Pasien sekarang tinggal dengan istri dan anaknya. G. Persepsi pasien terhadap diri dan kehidupannya Pasien sadar kalau dirinya sakit dan ingin mendapat pengobatan. Pasien menganggap kalau keluarga serta orang-orang di sekitarnya baik terhadap dia.

25

2. AUTOANAMNESIS TANGGAL 22/05/2013 DI POLIKLINIK HUH DM : Selamat pagi pak, perkenalkan saya dokter muda Meyke. Boleh saya bertanya-tanya sedikit? A : Selamat pagi. Boleh.

DM : Apa keluhannya sekarang pak? A : Rasa nyeri.

DM : Rasa nyerinya seperti apa, Pak? A : Rasa nyeri seperti digigit semut atau nyamuk. Menusuk dan menjalar.

DM : Apakah memang ada semut atau nyamuk yang gigit? A : Kadang ada. Kadang tidak. Kebanyakan tidak ada.

DM : Di bagian mana dirasakan nyerinya itu, Pak? A : Di mana-mana. Kadang di tangan. Kadang di kaki. Kadang di mata.

DM : Sejak kapan rasa nyerinya dirasakan? A : Dari April 2013.

DM : Apakah rasa nyerinya dirasakan setiap hari? A : Ya.

DM : Apakah ada waktu tertentu baru rasa nyerinya muncul? A : Tidak. Bisa pagi, siang, dan malam.

DM : Apakah ada keluhan lain yang bapak rasakan saat nyeri? A : Ada. Banyak.

DM : Apa itu? A : Rasa lengket jari-jariku kalau ditemukan antarjari. Juga rasa dingin di jari-jari tangan dan kakiku. Nyeri punggungku juga masih ada sedikit. Saya juga masih sulit tidur tanpa obat. Setelah minum obat dari dokter baru bisa tidur. DM : Bapak sudah pernah periksa di dokter sebelumnya? A : Saya sudah dari Neurologi dan Interna.

DM : Apa yang dikatakan dokter di sana? A : Di Interna saya dikasih obat terus dikonsul ke Neurologi. Di situ saya disuruh foto dan USG. Hasilnya normal. Saya bahkan sudah direkam jantung dan normal juga hasilnya.

26

DM : Apakah setelah pemberian obatnya bapak merasa baikan? A : Agak baikan, tapi tidak hilang seratus persen. Masih ada sekarang kurasa. Malah tambah keluhanku. Sesak napas dan nyeri ulu hati. Saya kembali berobat lagi bulan April 2013 ke Interna dan disuruh ke psikiatrik. Hanya waktu itu saya lupa melapor kalau mulai ada rasa nyeri kayak digigir semut atau nyamuk. Saya dikasih obat Apazol dan Kalxetin. Agak enak tidur setelah minum itu obat. Tapi, kalau tidak kuminum, susah lagi tidurnya. DM : Bapak di rumah bagaimana hubungannya dengan keluarga? A : Baik.

DM : Tidak pernah ada masalah? A : Kalau ada masalah paling hanya dengan anakku saja.

DM : Bisakah bapak cerita masalahnya seperti apa ke saya? A : Bisa. Anakku nakal. Sering pulang malam. Bangunnya juga nanti beberapa kali dipanggil bangun baru mau bangun. Orangku itu kalau sekali dipanggil maunya langsung bangun. DM : Anaknya bapak satu saja? A : Ya. Itu barangkali terlalu dimanja makanya begitu.

DM : Umur berapa, Pak? A : 20 tahun.

DM : Apakah Bapak merasa tingkah laku anak bapak mengganggu perasaan dan pikiran Bapak? A : Sepertinya begitu. Saya sering emosi karena dia. Tapi, kutahan karena dilarang istri kalau saya kerasi anaknya. DM : Apakah nyeri punggung dan segala keluhan Bapak ini munculnya sebelum atau sesudah bermasalah dengan anaknya? A : Lebih dulu masalah dengan anakku. Mungkin karena begitu saya jadi sakit begini. Padahal saya ini olahragawan. Saya heran mengapa saya jadi banyak penyakitnya padahal rajin olahraga. Mungkin karena saya stres makanya banyak muncul keluhan begini. Makanya saya datang berobat.

27

DM : Apa pekerjaannya Bapak? A : PNS. Tapi, berhenti bekerja sejak September 2012 karena penyakitku ini. DM : Bagaimana perasaan Bapak setelah berhenti bekerja? A : Tidak enak perasaannya. Istri saja yang bekerja. Istri saya itu guru. Sekarang dia saja yang bekerja. DM : Apakah penyakit yang Bapak rasakan ini sampai mengganggu keseharian Bapak seperti nonton, makan, dan waktu senggang Bapak? A : Tidak. Saya masih bisa sholat, makan, mandi, nonton, mengobrol dengan keluarga, dan tetangga. DM : Apakah Bapak pernah kecelakaan seperti jatuh dan kepalanya terbentur atau dipukul orang? A : Tidak pernah.

DM : Apakah Bapak merokok? A : Tidak.

DM : Apakah ada obat-obatan yang Bapak konsumsi yang tidak dari resep dokter? A : Tidak.

DM : Apakah Bapak mengonsumsi alkohol? A : Tidak juga.

DM: Bagaimana dengan napsu makan Bapak? A : Baik.

DM : Saya nanti sebut 3 buah benda. Coba diulangi yah. Pulpen, televisi, hp. A : Pulpen, televisi, hp. Kenapa ditanya seperti ini?

DM : Untuk tes saja ingatannya Bapak. Bapak ke sini dengan siapa, Pak? A : Dengan istri dan anak saya. Anak saya di mobil menunggu.

DM : Seratus dikurang tujuh berapa, Pak? A : Sembilan puluh tiga.

DM : Bapak masih ingat dulu sekolah di mana saja? A : Masih. Saya sekolahnya dari SD, SMP, SMA dan semuanya tuntas sampai sarjana terus bekerja jadi PNS.

28

DM : Bapak dulu kerja di mana? A : Saya kerja di kantor. PNS.

DM : Kalau misalnya dapat dompet di jalan, mau diapakan itu dompet? A : Yah, dikembalikan ke yang punya atau kasih ke polisi.

DM : Oh, iya, Pak. Terima kasih atas jawabannya. A : Sama-sama.

3. STATUS MENTAL A. Deskripsi umum 1) Penampilan: Tampak seorang pria berkulit sawo matang, berambut lurus pendek berwarna hitam, memakai baju kaos berwarna hitam dan celana panjang dari jeans warna biru. Perawatan diri cukup. Wajah terlihat sesuai dengan umurnya. 2) Kesadaran: Baik 3) Perilaku dan aktivitas psikomotor: Tenang. 4) Pembicaraan: Spontan, lancar, intonasi jelas dan biasa. 5) Sikap terhadap pemeriksa: Kooperatif

B. Keadaan afektif (mood), perasaan, empati, dan perhatian 1) Mood: Cemas 2) Afek: Depresi 3) Empati: Dapat dirabarasakan C. Fungsi intelektual (kognitif) 1) Taraf pendidikan, pengetahuan umum, dan kecerdasan: Sesuai dengan taraf pendidikan 2) Daya konsentrasi: Baik 3) Orientasi (waktu, tempat, dan orang): Baik 4) Daya ingat (jangka pendek, panjang, segera): Baik 5) Pikiran abstrak: Baik 6) Bakat kreatif: Tidak ada 7) Kemampuan menolong diri sendiri: Baik

29

D. Gangguan Persepsi 1) Halusinasi: Tidak ada 2) Ilusi: Tidak ada 3) Depersonalisasi: Tidak ada 4) Derealisasi: Tidak ada E. Proses berpikir 1) Arus pikiran: a. Produktivitas: Cukup. Pasien berbicara secara spontan b. Kontinuitas: Relevan, koheren c. Hendaya berbahasa: Tidak ada 2) Isi pikiran: a. Preokupasi: Tidak ada b. Gangguan isi pikiran: Tidak ada F. Pengendalian Impuls: Tidak terganggu G. Daya Nilai 1) Norma sosial: Tidak terganggu 2) Uji daya nilai: Baik 3) Penilaian realitass: Baik H. Tilikan (insight): Pasien sadar bila dirinya sakit dan perlu pengobatan. (tilikan VI) I. Taraf dapat dipercaya: Dapat dipercaya

4. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT Status internus: Tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 92x/menit, pernafasan 21x/menit, suhu 36,6 oC. Keadaan umum: GCS E4M6V5, compos mentis. Pupil bulat isokor.

5. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA Seorang laki-laki berumur 43 tahun berkunjung ke poliklinik jiwa HUH dengan keluhan utama nyeri berpindah-pindah yang dirasakan di seluruh

30

anggota tubuhnya. Pasien juga mengeluhkan rasa dingin dan lengket di ujung jarinya. Pasien memiliki riwayat berkunjung ke psikiatrik 2 bulan yang lalu bersama keluhan sulit tidurnya, nyeri punggung, nyeri ulu hati serta sesak napas yang ketika berobat di interna dan neurologi dikatakan tidak ada kelainan. Saat itu pasien diberi pengobatan Kalxetin dan Apazol. Riwayat minum obat teratur dan mengakui sulit tidur bila tidak minum obat. Didapatkan adanya hendaya pekerjaan. Didapatkan pula adanya gangguan persepsi berupa depersonalisasi berupa rasa nyeri yang menjalar dan menusuk seperti digigit semut atau nyamuk. Pada pemeriksaan status mental diperoleh penampilan seorang ptia dengan kulit sawo matang, berambut lurus pendek berwarna hitam, memakai baju kaos berwarna hitam dan celana panjang dari jeans dengan warna biru, perawatan diri cukup, dan wajah tampak sesuai dengan umur. Kesadaran baik, perilaku dan aktivitas psikomotor tenang, pembicaraan spontan dengan lancar serta intonasi yang biasa juga jelas, dan sikap terhadap pemeriksa kooperatif. Mood gelisah, afek depresi, dan empati dapat dirabarasakan. Ungsi intelektual (kognitif) baik, tidak terdapat gangguan persepsi, proses berpikir,

pengendalian impuls, dan daya nilai. Pasien masuk pada tilikan VI (pasien sadar bila dirinya sakit dan perlu pengobatan) dan dapat dipercaya. Pada pemeriksaan status internus dan neurologis didapatkan dalam batas normal.

6. EVALUASI MULTIAKSIAL (SESUAI PPDGJ III) Aksis I : Berdasarkan autoanamnesis didapatkan adanya gejala klinis berupa keluhan variatif dari nyeri punggung, nyeri ulu hati, sesak napas, rasa dingin dan lengket di jari hingga sulit tidur. Keadaan ini menimbulkan penderitaan (distress) pada pasien dan keluarganya serta menimbulkan disabilitas dalam aktivitas kehidupan sehari-hari terutama hendaya pekerjaan sehingga dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami gangguan jiwa. 31

Pada pasien tidak didapatkan adanya hendaya berat dalam menilai realitas sehingga dapat didiagnosis sebagai gangguan jiwa nonpsikotik. Dari hasil pemeriksaan status internus dan status neurologis pasien, tidak didapatkan adanya kelainan sehingga diagnosis gangguan jiwa organik dapat disingkirkan. Dengan adanya afek depresif, menurunnya aktivitas, perasaan bersalah kepada keluarga karena tidak bekerja, memikirkan masa depan yang suram, dan tidur yang terganggu maka diagnosis episode depresif sedang dapat ditegakkan. Dengan timbulnya keluhan pasien berupa nyeri punggung, nyeri ulu hati, sesak napas, rasa dingin, nyeri tertentu dari anggota tubuh yang berpindah-pindah, dan lengket di jari hingga sulit tidur yang tidak mengalami perbaikan berarti dengan pengobatan maka menurut PPDGJ III, diagnosis pasien diarahkan ke episode depresif sedang dengan gejala somatik (F32.11). Aksis II : Ciri kepribadian tidak khas. Aksis III : Tidak ada kelainan yang ditemukan. Aksis IV: Anak tunggal pasien yang berjenis kelamin perempuan dengan umur sekitar 20 tahun tidak penurut, sering keluar malam, dan pasien begitu mencemaskannya. Aksis V: GAF Scale 70-61 (beberapa gejala ringan dan menetap, disabilitas ringan dalam fungsi, secara umum masih baik).

7. DAFTAR PROBLEM - Organobiologik: Status internus dan neurologis tidak didapatkan adanya kelainan tetapi terdapat ketidakseimbangan neurotransmitter sehingga pasien memerlukan farmakoterapi. - Psikologik: Tidak ditemukan adanya hendaya dalam menilai realitas. Pasien memiliki banyak keluhan fisik berupa berupa nyeri punggung, nyeri ulu hati, sesak napas, rasa dingin, nyeri seperti tertusuk di tubuhnya,

32

dan lengket di jari hingga sulit tidur yang tidak mengalami perbaikan berarti dengan pengobatan sehingga pasien memerlukan psikoterapi. Sosiologik: Ditemukan adanya hendaya dalam pekerjaan di mana pasien sudah tidak bekerja sejak September 2012 karena penyakitnya sehingga pasien memerlukan sosioterapi.

8. PROGNOSIS Bonam. Beberapa faktor yang mempengaruhi prognosis dari penyakit pasien: 1) Faktor penghambat Tidak ada. 2) Faktor pendukung Keluarga mendukung kesembuhan pasien (ada dukungan dari istri) Tidak ada riwayat anggota keluarga dengan keluhan yang sama Tidak ada kelainan organik Tingkat pendidikan pasien yang cukup. Stressor psikososial jelas. Pasien memiliki keinginan yang kuat untuk sembuh.

9. PEMBAHASAN / TINJAUAN PUSTAKA Berdasarkan PPDGJ III, diagnosis depresi (F 32) dapat ditegakkan jika memenuhi kriteria berikut: Gejala utama (pada derajat ringan, sedang, dan berat): a) Afek depresif, b) Kehilangan minat dan kegembiraan, dan c) Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah (rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya aktivitas. Gejala lainnya: a) Konsentrasi dan perhatian berkurang;

33

b) Harga diri dan kepercayaan diri berkurang; c) Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna; d) Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis; e) Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri; f) Tidur terganggu; g) Napsu makan berkurang. Untuk episode depresif dari ketiga tingkat keparahan tersebutdiperlukan masa sekurang-kurangnya 2 minggu untuk penegakkan diagnosis, akan tetapi periode yang lebih pendek dapat dibenarkan bila gejala luar biasa beratnya dan berlangsung cepat. Kategori diagnosis episode depresif ringan (F32.0), sedang (F32.1), dan berat (F32.2) hanya digunakan untuk episode depresi tunggal (yang pertama). Episode depresif berikutnya harus diklasifikasi di bawah salah satu diagnosis gangguan depresif berulang (F33.-). Untuk episode depresif sedang sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi seperti tersebut di atas ditambah sekurang-kurangnya 3 (dan sebaiknya 4) dari gejala lainnya. Lama seluruh episode berlangsung minimum sekitar 2 minggu. Menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan dan urusan rumah tangga. Tanpa gejala somatik digolongkan diberikan kode F32.00 untuk episode depresif ringan atau F32.10 untuk episode depresif sedang dan dengan gejala somatik diberikan kode F32.01 untuk episode depresif ringan atau F32.11 untuk episode depresif sedang.

Pada pasien ini didapatkan gejala, yaitu terdapat afek depresif, menurunnya aktivitas, perasaan bersalah kepada keluarga karena tidak bekerja, memikirkan masa depan yang suram, dan tidur yang terganggu, maka diagnosis depresif dapat ditegakkan. Dengan timbulnya keluhan pasien berupa nyeri punggung, nyeri ulu hati, sesak napas, rasa dingin, nyeri yang seperti ditusuk-tusuk pada tubuh, dan lengket di jari hingga sulit tidur yang tidak mengalami perbaikan berarti dengan pengobatan

34

maka menurut PPDGJ III, diagnosis pasien diarahkan ke episode depresif sedang dengan gejala somatik (F32.11).

10. RENCANA TERAPI Farmakoterapi: a. Kalxetin 20 mg 1-0-0 b. Apazol 0,5 mg --1 Psikoterapi suportif: a. Ventilasi: memberi kesempatan kepada pasien untuk mengungkapkan isi hati dan keinginannya sehingga pasien merasa lega. b. Konseling: memberikan penjelasan dan pengertian kepada pasien tentang penyakitnya agar pasien memahami kondisi dirinya dan memahami cara menghadapinya, serta memotivasi pasien agar tetap minum obat secara teratur. c. Sosioterapi: memberikan penjelasan kepada keluarga dan orang-orang terdekat pasien tentang gangguan yang dialami oleh pasien, sehingga tercipta dukungan sosial dalam lingkungan yang kondusif sehingga membantu proses penyembuhan pasien serta melakukan kunjungan berkala.

11. FOLLOW UP Memantau keadaan umum pasien dan perkembangan penyakitnya serta efektivitas terapi dan efek samping dari obat yang diberikan.

35