Anda di halaman 1dari 15

Masukan Umum: 1. Sebelum judul Perda perlu dimasukan Lambang Kabupaten 2.

Masih banyak salah penulisan dalam narasi, perlu diperiksa ulang secara keseluruhan 3. Masih ada bab yang tidak ada judulnya 4. Pasal tidak membutuhkan judul pasal, hanya sebagian pasal diberi judul (tidak konsisten) 5. Format tabel tidak dapat dimasukan dalam Batang Tubuh, sehingga perlu ditulis dalam format narasi atau bila tetap ingin menggunakan tabel dapat dilakukan pada lampiran 6. Ketentuan penulisan Dokumen Perda harus sesuai dengan UU 12 tahun 2011

MODEL PERATURAN DAERAH TENTANG BANGUNAN GEDUNG


KONSIDERAN Menimbang: a. Tertib, Fungsi, Persyaratan Administratif dan Teknis, Keselamatan b. Berlandaskan pada RTRW c. Keamanan dan Kenyamanan Mengingat: a. 13 UU b. 4 PP c. 3 Kepres d. 21 Permen e. 3 Perda

RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG BANGUNAN GEDUNG KABUPATEN AGAM


KONSIDERAN Menimbang: a. Sesuai RTRW b. Menjamin keselamatan, tertib, fungsi, persyaratan c. administratif dan teknis Peran masyarakat, upaya pembinaan

MASUKAN Poin-poin pada menimbang dinilai sudah memadai UU --> baru sampai tahun 2004, perlu dilengkapi UU terkait sampai 2012 PP --> baru sampai tahun 2005, perlu dilengkapi PP terkait sampai 2012 Permen --> Permen PU bidang PBL perlu dilengkapi dan ditambahkan Permen Dagri 53 tahun 2011 tentang Pembentukan Produk Hukum Daerah Perda Provinsi --> Perlu dilengkapi dengan Perda Provinsi tentang BG Perda Kab --> Perlu

Mengingat: a. 18 UU b. 16 PP c. 2 Perpres d. 6 Permen & Kepmen e. 1 Perda Provinsi f. 8 Perda

dilengkapi dengan Perda RTRW Kabupaten dan Perda IMB BAB I KETENTUAN UMUM Bagian Kesatu: Pengertian (Pasal 1) Bagian Kedua: Maksud, Tujuan, dan Lingkup Paragraf 1: Maksud (Pasal 2) Paragraf 2: Tujuan (Pasal 3) Paragraf 3: Lingkup (Pasal 4) BAB II ASAS, TUJUAN, DAN RUANGLINGKUP Asas (Pasal 2) Tujuan (Pasal 3) Ruang Lingkup (Pasal 4) BAB I KETENTUAN UMUM Pengertian (Pasal 1) Pengertian disesuaikan dengan terminologi yang digunakan dalam Batang Tubuh Asas, tujuan dan ruang lingkup relatif sudah memadai

BAB II FUNGSI DAN KLASIFIKASI BANGUNAN GEDUNG Pengertian dan macam-macam fungsi bangunan gedung (Pasal 5) Penjelasan setiap fungsi bangunan gedung (Pasal 6) Penetapan dan perubahan fungsi bangunan gedung (Pasal 7) Pengertian dan macam-macam klasifikasi bangunan gedung (Pasal 8) Penentuan dan perubahan fungsi dan/atau klasifikasi bangunan gedung (Pasal 9) Pendataan bangunan gedung (Pasal 10)

BAB III FUNGSI DAN KLASIFIKASI BANGUNAN GEDUNG Fungsi Bangunan Gedung (Pasal 5) Klasifikasi Bangunan (Pasal 6)

Penjabaran fungsi dan klasifikasi dapat dilengkapi dengan acuan pada Model Perda Perlu ditambahkan aturan mengenai penetapan dan perubahan fungsi dan klasifikasi Perlu ditambahkan aturan mengenai Pendataan BG

BAB III PERSYARATAN BANGUNAN GEDUNG Bagian Kesatu: Umum (Pasal 11) Bagian Kedua: Persyaratan Administratif Paragraf 1 Status Kepemilikan Hak Atas Tanah (Pasal 12) Paragraf 2 Status Kepemilikan Bangunan Gedung (Pasal 13) Paragraf 3 Izin Mendirikan Bangunan (IMB) (Pasal 14) Paragraf 4 IMB di Atas dan/atau di Bawah Tanah, Air dan/atau Prasarana/Sarana Umum (Pasal 15) Paragraf 5 Kelembagaan (Pasal 16) Bagian Ketiga: Persyaratan Teknis Bangunan Gedung (Pasal 17 Pasal 65) Paragraf 1 Umum (Pasal 17-19) Paragraf 2 Persyaratan Tata Bangunan dan Lingkungan Persyaratan peruntukan (Pasal 20) Persyaratan intensitas bangunan gedung (Pasal 21) Ketentuan KDB (Pasal 22) Ketentuan KLB (Pasal 23) Ketentuan KDH (Pasal 24) Ketentuan ketinggian bangunan

BAB IV PERSYARATAN BANGUNAN GEDUNG Bagian Pertama - PERSYARAT UMUM (Pasal 7) Bagian Kedua - PERSYARATAN ADMINISTRASI Umum (Pasal 8) Status Hak Atas Tanah (Pasal 9)

Pencantuman UU 28 tahun 2002 pada pasal 8 ayat 1 tidak diperlukan, karena sudah termasuk dalam Konsideran Mengingat.

Dalam Persyaratan Administratif perlu Status Kepemilikan Bangunan Gedung (Pasal 10) ditambahkan aturan IMB di Izin Mendirikan Bangunan (IMB) (Pasal 11) Bagian Ketiga - PERSYARATAN TATA BANGUNAN Paragraf 1 PERUNTUKKAN DAN INTENSITAS BANGUNAN Peruntukkan Lokasi (Pasal 12) Koefisien Dasar Bangunan (KDB) (Pasal 13) Atas dan/atau di Bawah Tanah, Air dan/atau Prasarana/Sarana Umum dan Kelembagaan dalam konteks IMB Persyaratan arsitektur BG perlu diatur lebih detail, dengan acuan pada Model Perda

Koefisien Lantai Bangunan (KLB) (Pasal Persyaratan Keselamatan perlu ditambahkan 14) pengaturan mengenai Koefisien Daerah Hijau ( KDH ) (Pasal Kemampuan bangunan 15) gedung terhadap bahaya petir dan bahaya kelistrikan Ketinggian Bangunan (Pasal 16) Garis Sempadan Bangunan ( GSB ) (Pasal 17) Garis Sempadan Sungai (Pasal 18) Jarak Antar Bangunan (Pasal 19) Persyaratan kenyamanan perlu diatur lebih detail, dengan acuan pada Model Perda

Terkait Persyaratan BG, perlu ditambahkan Ketinggian Pagar Bangunan ( KPB ) pengaturan sesuai kondisi (Pasal 20)

(Pasal 25) Ketentuan GSB (Pasal 26) Ketentuan jarak bebas bangunan (Pasal 27) Paragraf 3 Persyaratan Arsitektur Bangunan Gedung Penjelasan umum (Pasal 28) Persyaratan penampilan bangunan gedung (Pasal 29) Bentuk denah bangunan gedung (Pasal 30) Persyaratan tata ruang dalam bangunan gedung (Pasal 31) Persyaratan keseimbangan, keserasian dan keselarasan bangunan gedung (Pasal 32) Ruang terbuka hijau pekarangan (Pasal 33) Persyaratan ruang sempadan depan bangunan gedung (Pasal 34) Persyaratan tapak besmen (Pasal 35) Daerah hijau bangunan (Pasal 36) Tata Tanaman (Pasal 37) Bagian

Paragraf 2 ARSITEKTUR BANGUNAN GEDUNG Penjelasan Umum (Pasal 21) Ketentuan Tertentu (Pasal 22) Paragraf 3 PERSYARATAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN (Pasal 23) Paragraf 4 RENCANA TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN (Pasal 24) Keempat PERSYARATAN KEANDALAN

lokal mengenai: o Pembangunan Bangunan Gedung di Atas atau di Bawah Tanah, Air atau Prasarana/Sarana Umum, dan pada Daerah Hantaran Udara Listrik Tegangan Tinggi/Ekstra Tinggi/Ultra Tinggi dan/atau Menara Telekomunikasi dan/atau Menara Air o Bangunan Gedung Tradisional / Adat o Bangunan Gedung Semi Permanen dan Bangunan Gedung Darurat o Bangunan Gedung di Lokasi Yang Berpotensi Bencana Alam

BANGUNAN GEDUNG Paragraf 1 PERSYARATAN KESELAMATAN Ketahanan Konstruksi (Pasal 25) Ketahanan Terhadap Bahaya Kebakaran (Pasal 26) Persyaratan Bahan Bangunan (Pasal 27) Paragraf 2 PERSYARATAN KESEHATAN Jaringan Air Bersih (Pasal 28) Jaringan Air Hujan (Pasal 29) Jaringan Air Kotor (Pasal 30) Tempat Pembuangan Sampah (Pasal 31) Penghawaan Dalam Bangunan (Pasal 32) Pencahayaan Dalam Bangunan (Pasal 33) Paragraf 3 PERSYARATAN KEMUDAHAN

Fasilitas parkir (Pasal 38) Pertandaan (Signage) (Pasal 39) Pencahayaan ruang luar bangunan gedung (Pasal 40) Paragraf 4 Pengendalian Dampak Lingkungan (Pasal 41) Paragraf 5 Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (Pasal 42) Paragraf 6 Persyaratan Keandalan Bangunan Gedung Penjelasan umum (Pasal 43) Persyaratan keselamatan bangunan gedung (Pasal 44) Kemampuan bangunan gedung terhadap beban muatan (Pasal 45) Kemampuan bangunan gedung terhadap bahaya kebakaran (Pasal 46) Kemampuan bangunan gedung terhadap bahaya petir dan bahaya kelistrikan (Pasal 47) Paragraf 7 Persyaratan Kesehatan Bangunan Gedung Penjelasan umum (Pasal 48) Sistem penghawaan bangunan

(AKSESIBILITAS) Penjelasan Umum (Pasal 34) Kemudahan hubungan horizontal (Pasal 35) Kemudahan hubungan vertikal (Pasal 36) Akses evakuasi dalam keadaan darurat (Pasal 37) Penyediaan fasilitas dan aksesibilitas bagi penyandang cacat dan lanjut usia (Pasal 38) Kelengkapan (Pasal 39) sarana dan prasarana

Bagian Kelima - PERSYARATAN KENYAMANAN DALAM BANGUNAN (Pasal 40)

gedung (Pasal 49) Sistem pencahayaan bangunan gedung (Pasal 50) Sistem sanitasi bangunan gedung Sistem air minum (Pasal 51) Sistem pengolahan dan pembuangan air limbah/kotor (Pasal 52) Persyaratan instalasi gas medik (Pasal 53) Sistem air hujan (Pasal 54) Sistem pembuangan kotoran, dan sampah (Pasal 55) Bahan bangunan gedung (Pasal 56) Paragraf 8 Persyaratan Kenyamanan Bangunan Gedung Penjelasan umum (Pasal 57) Kenyamanan ruang gerak dan hubungan antarruang (Pasal 58) Kenyamanan kondisi udara di dalam ruang (Pasal 59)

Kenyamanan pandangan (Pasal 60) Kenyamanan terhadap tingkat getaran dan kebisingan (Pasal 61) Paragraf 9 Persyaratan Kemudahan Bangunan Gedung Penjelasan umum (Pasal 62) Kemudahan hubungan ke, dari dan di dalam bangunan gedung (Pasal 63) Kelengkapan sarana dan prasarana dalam pemanfaatan bangunan gedung (Pasal 64) Paragraf 10 Pembangunan Bangunan Gedung di Atas atau di Bawah Tanah, Air atau Prasarana/Sarana Umum, dan pada Daerah Hantaran Udara Listrik Tegangan Tinggi/Ekstra Tinggi/Ultra Tinggi dan/atau Menara Telekomunikasi dan/atau Menara Air (Pasal 65) Bagian Keempat: Bangunan Gedung Adat Paragraf 1 Umum (Pasal 66) Paragraf 2 Kearifan Lokal (Pasal 67) Paragraf 3 Kaidah Tradisional (Pasal 68) Paragraf 4 Pemanfaatan Simbol Tradisional pada Bangunan Gedung Baru (Pasal 69) Paragraf 5 Persyaratan Bangunan Gedung Adat/Tradisional (Pasal 70) Bagian Kelima: Bangunan Gedung Semi Permanen dan

Bangunan Gedung Darurat (Pasal 71) Bagian Keenam : Bangunan Gedung di Lokasi Yang Berpotensi Bencana Alam Paragraf 1 Di Lokasi Pantai (Pasal 72) Paragraf 2 Di Lokasi Jalur Gempa dan Bencana Alam Geologi (Pasal 73) Paragraf 3 Di Lokasi Gunung Berapi (Pasal 74) Tata cara dan persyaratan penyelenggaraan (Pasal 75) BAB IV PENYELENGGARAAN BANGUNAN GEDUNG Bagian Kesatu: Umum (Pasal 76) Bagian Kedua: Kegiatan Pembangunan Paragraf 1 Umum Penjelasan umum (Pasal 77) Penyelenggaraan pembangunan bangunan gedung secara swakelola (Pasal 78) Paragraf 2 Perencanaan Teknis (Pasal 79) Paragraf 3 Dokumen Rencana Teknis (Pasal 80) Paragraf 4 Pengaturan Retribusi IMB Lingkup pengaturan retribusi IMB (Pasal 81) Jenis kegiatan penyelenggaraan bangunan gedung yang dikenakan retribusi (Pasal BAB V PENYELENGGARAAN BANGUNAN GEDUNG Bagian Pertama - U M U M (Pasal 41) Bagian Kedua - P E M B A N G U N A N Penjelasan Umum (Pasal 42) Perencanaan (Pasal 43) Bagian Ketiga - P E M A N F A A T A N (Pasal 44) Bagian Keempat - P E L E S T A R I A N (Pasal 45) Bagian Kelima - P E M B O N G K A R A N (Pasal 46) Bab Perizinan Bangunan dapat digabungkan dalam Bab Penyelenggaraan BG pada Bagian Kedua Pembangunan. Terminologi Izin Penggunaan Bangunan (IPB) merupakan terminologi lama yang sudah tidak digunakan dan sudah diganti dengan Sertifikat Laik Fungsi. BAB VI PERIZINAN BANGUNAN Pengaturan retribusi terkait IMB dalam Bab retribusi Bagian Pertama - IZIN MENDIRIKAN BANGUNAN (Pasal dapat digabungkan dalam 47) Bab Penyelenggaraan pada Bagian Kedua - PERENCANAN BANGUNAN Penjelasan Umum (Pasal 48) Bagian Kedua Pembangunan (lihat acuan Model Perda)

82) Penghitungan besarnya retribusi IMB (Pasal 83) Indeks penghitungan besarnya retribusi IMB (Pasal 84) Harga satuan (tarif) retribusi IMB (Pasal 85) Rujukan penghitungan besarnya IMB (Pasal 86) Paragraf 5 Tata Cara Penerbitan IMB Permohonan IMB (Pasal 87) Pemeriksaan dan penilaian syarat-syarat serta Penerbitan IMB (Pasal 88) Persetujuan, Penundaan, atau Penolakan Permohonan IMB (Pasal 89) Ketentuan penundaan penerbitan IMB (Pasal 90) Ketentuan penolakan permohonan IMB (Pasal 91) Ketentuan pencabutan IMB (Pasal 92) Pekerjaan yang tidak memerlukan IMB (Pasal 93) Paragraf 6 Penyedia Jasa Perencanaan Teknis (Pasal 94) Bagian Ketiga: Pelaksanaan Konstruksi Bagian

Persetujuan IMB (Pasal 49) Penolakan IMB (Pasal 50) Pengecualian Terhadap Izin Mendirikan

Bab Permohonan Banding kepada DPRD merupakan Bab yang tidak standar sesuai Model Perda, apabila ingin dipertahankan mohon agar diperiksa muatannya agar tidak bertentangan dengan ketentuan yang berlaku Susunan Bab, Bagian dan paragraf dalam

Bangunan (Pasal 51) Dilarang Mendirikan Bangunan Apabila (Pasal 52) Ketiga PELAKSANAAN PEKERJAAN

MENDIRIKAN BANGUNAN Sesuai dengan rencana dan IMB (Pasal 53) Pemegang izin dapat menutup lokasi (Pasal 54) Ketentuan Pelaksana Pekerjaan (Pasal 55) Bagian Keempat PEKERJAAN PENGAWAS

Perlu ditambahkan pengaturan mengenai penyelenggaraan BG secara PELAKSANAAN swakelola (lihat acuan Model Perda) Pengaturan Retribusi IMB dapat mengacu pada Model Perda Perlu ditambahkan pengaturan mengenai Tata Cara Penerbitan IMB (lihat acuan Model Perda) Perlu ditambahkan pengaturan mengenai penyedia jasa perencanaan teknis (lihat acuan Model Perda) Perlu ditambahkan pengaturan mengenai

Pengawas Pelaksanaan (Pasal 56) Kewenangan Pengawas (Pasal 57) Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Pasal 58) Bagian Kelima - IZIN PENGGUNAAN BANGUNAN Izin Penggunaan Bangunan (Pasal 59) Ketentuan Perolehan IPB (Pasal 60) Penerbitan IPB (Pasal 61) Perubahan penggunaan bangunan (Pasal 62) Sertifikat Laik Fungsi (Pasal 63) Perubahan penggunaan bangunan (Pasal 64) Pemeriksaan secara Berkala (Pasal 65)

Paragraf 1 Pelaksanaan Konstruksi Lingkup dan syarat pelaksanaan konstruksi serta pelaksana konstruksi (Pasal 95) Lembaran permohonan pelaksanaan bangunan (Pasal 96) Dokumen rencana teknis dan IMB (Pasal 97) Rangkaian kegiatan pelaksanaan konstruksi bangunan gedung (Pasal 98) Paragraf 2 Pengawasan Pelaksanaan Konstruksi Pengawas pelaksanaan konstruksi dan pemeriksaan kelaikan fungsi (Pasal 99) Kewenangan petugas pengawas (Pasal 100) Paragraf 4 Pemeriksaan Kelaikan Fungsi Bangunan Gedung Pelaksanaan pemeriksaan kelaikan fungsi bangunan gedung (Pasal 101) Pemeriksaan kelaikan fungsi oleh pemilik/pengguna bangunan (Pasal 102) Pemeriksaan kelaikan fungsi untuk proses penerbitan SLF (Pasal 103) Pemeriksaan kelaikan fungsi oleh Pemerintah Kabupaten/Kota (Pasal 104) Paragraf 5 Tata Cara Penerbitan SLF Bangunan

Pengawasan Penggunaan Bangunan (Pasal 66)

Pelaksanaan Konstruksi (sesuai Model Perda) yang diambil dari Bagian Ketiga

BAB VII R E T R I B U S I Ketentuan Umum (Pasal 67) Biaya Izin Mendirikan / Mengubah Bangunan (IMB) (Pasal 68)

Pelaksanaan Pekerjaan Mendirikan Bangunan, dengan penambahan muatan dari Model Perda Pengaturan pengawasan pelaksanaan konstruksi relatif sudah cukup

BAB VIII PERMOHONAN BANDING KEPADA DPRD

memadai Pengenaan Permohonan Banding kepada DPRD (Pasal Perlu ditambahkan 69) pengaturan mengenai Ketentuan jangka waktu (Pasal 70) Muatan (Pasal 71) Penyelesaian (Pasal 72) Pemeriksaan Kelaikan Fungsi sesuai acuan Model Perda Perlu ditambahkan pengaturan mengenai Tata Cara Penerbitan SLF sesuai acuan Model Perda Pengaturan mengenai Pemanfaatan BG perlu didetailkan sesuai acuan Model Perda Pengaturan mengenai Pelestarian BG perlu didetailkan sesuai acuan Model Perda Pengaturan mengenai Pembongkaran perlu

Gedung (Pasal 105) Paragraf 6 Pendataan Bangunan Gedung (Pasal 106) Bagian Keempat: Kegiatan Pemanfaatan Bangunan Gedung Paragraf 1 Umum Lingkup pemanfaatan bangunan gedung (Pasal 107) Ketentuan pemanfaatan bangunan gedung (Pasal 108) Paragraf 2 Pemeliharaan (Pasal 109) Paragraf 3 Perawatan (Pasal 110) Paragraf 4 Pemeriksaan Berkala (Pasal 111) Paragraf 5 Perpanjangan SLF Ketentuan perpanjangan SLF (Pasal 112) Tata cara perpanjangan SLF (Pasal 113) Paragraf 6 Pengawasan Pemanfaatan Bangunan Gedung (Pasal 114) Paragraf 7 Pelestarian (Pasal 115) Paragraf 8 Penetapan dan Pendaftaran Bangunan Gedung yang Dilestarikan (Pasal 116) Paragraf 9 Pemanfaatan Bangunan Gedung yang Dilestarikan Ketentuan Pemanfaatan Bangunan

didetailkan sesuai acuan Model Perda

Gedung cagar budaya (Pasal 117) Ketentuan Pemugaran, pemeliharaan, perawatan, pemeriksaan secara berkala bangunan gedung cagar budaya (Pasal 117) Bagian Kelima: Pembongkaran Paragraf 1 Umum (Pasal 119) Paragraf 2 Penetapan Pembongkaran (Pasal 120) Paragraf 3 Rencana Teknis Pembongkaran (Pasal 121) Paragraf 4 Pelaksanaan Pembongkaran (Pasal 122) Paragraf 5 Pengawasan Pembongkaran Bangunan Gedung (Pasal 123) Bagian Keenam: Penyelenggaraan Bangunan Gedung Pascabencana Paragraf 1 Penanggulangan Darurat (Pasal 124) Paragraf 2 Bangunan Gedung Umum Sebagai Tempat Penampungan (Pasal 125) Bagian Ketujuh: Rehabilitasi Pascabencana (Pasal 126 Pasal 127) BAB V TIM AHLI BANGUNAN GEDUNG (TABG) Bagian Kesatu: Pembentukan TABG Penetapan TABG (Pasal 128) Perlu ditambahkan pengaturan mengenai Tim Ahli Bangunan Gedung (TABG) sesuai acuan Model

Keanggotaan TABG (Pasal 129) Bagian Kedua: Tugas dan Fungsi Tugas dan fungsi TABG (Pasal 130) Masa Kerja TABG (Pasal 131) Bagian Ketiga: Pembiayaan TABG (Pasal 132) BAB VI PERAN MASYARAKAT DALAM PENYELENGGARAAN BANGUNAN GEDUNG Paragraf 1 Lingkup Peran Masyarakat Lingkup peran masyarakat (Pasal 133) Ketentuan pemantauan (Pasal 134) Ketentuan penjagaan ketertiban (Pasal 135) Ketentuan pemberian masukan (Pasal 136) Ketentuan Penyampaian pendapat dan pertimbangan (Pasal 137) Paragraf 2 Forum Dengar Pendapat (Pasal 138) Paragraf 3 Gugatan Perwakilan (Pasal 139) Paragraf 4 Bentuk Peran Masyarakat dalam Tahap Rencana Pembangunan (Pasal 140) Paragraf 5 Bentuk Peran Masyarakat dalam Proses Pelaksanaan Konstruksi (Pasal 141) Paragraf 6 Bentuk Peran Masyarakat dalam Pemanfaatan Bangunan Gedung (Pasal 142)

Perda

Perlu ditambahkan pengaturan mengenai Peran Masyarakat dalam Penyelenggaraan BG, sesuai acuan Model Perda

Paragraf 7 Bentuk Peran Masyarakat dalam Pelestarian Bangunan Gedung (Pasal 143) Paragraf 8 Bentuk Peran Masyarakat dalam Pembongkaran Bangunan (Pasal 144) Paragraf 9 Tindak Lanjut (Pasal 145) BAB VII PEMBINAAN Bagian Kesatu: Umum (Pasal 146) Bagian Kedua: Pengaturan (Pasal 147) Bagian Ketiga: Pemberdayaan Penjelasan umum (Pasal 148) Bentuk pemberdayaan masyarakat (Pasal 149) Bentuk dan tata cara pelaksanaan forum dengar pendapat (Pasal 150) Bagian Keempat: Pengawasan (Pasal 151) BAB VIII SANKSI Bagian Kesatu: Bentuk Sanksi Penjelasan umum (Pasal 152) Ketentuan sanksi administratif (Pasal 153) Ketentuan sanksi pidana (Pasal 154) Bagian Kedua: Penyidikan (Pasal 156) BAB IX KETENTUAN PERALIHAN (Pasal 157) BAB X P E N Y I D I K A N (Pasal 77) BAB XI KETENTUAN PERALIHAN (Pasal 78) BAB IX SANKSI TERHADAP PELANGGAR Ketentuan Umum (Pasal 73) Sanksi Administratif (Pasal 74) Sanksi Pidana (Pasal 75-76) Perlu ditambahkan pengaturan mengenai Pembinaan sesuai acuan Model Perda

BAB XII KETENTUAN LAIN-LAIN (Pasal 79)

BAB X KETENTUAN PENUTUP Hal yang belum diatur (Pasal 158) Pemberlakuan Perda (Pasal 160)

BAB XIII KETENTUAN PENUTUP (Pasal 80)

Anda mungkin juga menyukai