Anda di halaman 1dari 7

REFLEKSI KASUS

Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Program Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Disusun oleh : Muflihatur Rasyidah Vicka 20070310036 Diajukan Kepada : dr. Mulyo Hartana, Sp.PD

BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM RS JOGJA FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA 2011

TERAPI PADA PASIEN DENGAN ASMA BRONCHIAL I. Kasus Kasus diambil dari Bed Site Teaching tentang asma bronchial. Berikut kasus dipaparkan : OS, seorang perempuan 64 tahun datang dengan keluhan sesak nafas yang dirasakannya sejak 3 hari yang lalu, disertai batuk dahak, dan tidak dapat tidur. Sudah minum obat
Salbutamol tapi sesak tetap dirasakan. Makan minum sedikit, badan kurus dan lemas. BAB dan BAK baik. Sesak napas tersebut dirasakan semakin memberat. Sesak napas memang sudah sering sekali dikeluhkan pasien sejak 3 tahun yang lalu, dan kali ini sesak napas pasien tersebut datang kembali dan sangat mengganggu aktivitas pasien. Sesak napas disertai dengan batuk berdahak, kental, dan agak sulit untuk dikeluarkan. Pasien tidak bisa berbaring, karena akan semakin sesak, dan merasa lebih baik jika duduk atau membungkuk.

II.

Permasalahan Terapi yang tepat untuk penanganan asma bronkial.

III.

Pembahasan Asma bronchiale adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respon trakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya penyempitan jalan nafas yang luas dan derajatnya dapat berubah-ubah, baik secara spontan maupun sebagai hasil pengobatan.

Asma dibagi dalam 3 kategori, yaitu : 1. Asma ekstrinsik atau alergik

Ditemukan pada sejumlah kecil pasien dewasa, dan disebabkan oleh alergen yang diketahui. Bentuk ini dimulai pada masa kanak-kanak dengan riwayat keluarga yang mempunyai penyakit atopik termasuk ekzeme, dermatitis dan asma sendiri. Asma alergik disebabkan karena kepekaan individu terhadap alergen, biasanya protein, dalam bentuk serbuk sari yang dihirup, bulu halus binatang, kain pembalut, atau yang lebih jarang, terhadap makanan seperti susu atau coklat. Paparan terhadap alergen, meskipun hanya dalam jumlah yang sangat kecil, dapat menyebabkan serangan asma.

2. Asma intrinsik atau idiopatik

Sering tidak ditemukan faktor-faktor pencetus yang jelas. Faktor-faktor yang non spesifik seperti flu biasa, latihan fisik, atau emosi dapat memicu serangan asma. Asma intrinsik ini lebih sering timbul sesudah usia 40 tahun, dengan serangan yang timbul sebuah infeksi sinus hidung atau pada percabangan trakeobronkial. Makin lama makin sering dan makin hebat, sehingga akhirnya keadaan ini berkelanjutan menjadi bronkhitis kronik dan kadang-kadang emfisema.

3. Asma campuran

Bentuk asma yang paling banyak menyerang pasien, dimana terdiri dari komponenkomponen asma intrinsik dan ekstrinsik. Kebanyakan pasien dengan asma intrinsik akan berlanjut menjadi bentuk campuran, anak-anak yang menderita asma ekstrinsik sering sembuh sempurna pada saat dewasa muda. Manifestasi Klinis Gejala yang timbul biasanya berhubungan dengan beratnya derajat hiperaktivitas bronkus. Obstruksi jalan nafas dapat reversibel secara spontan maupun dengan pengobatan. Gejala-gejala asma antara lain : 1. Bising mengi (wheezing) yang terdengar dengan atau tanpa stetoskop. 2. Batuk produktif, sering pada malam hari. 3. Sesak nafas dada seperti tertekan. Gejalanya bersifat paroksismal, yaitu membaik pada siang hari dan memburuk pada malam hari. Klasifikasi derajat asma
Derajat asma Intermitten mingguan Gejala - Gejala < 1x/minggu - Tanpa gejala di luar serangan - Serangan singkat - Fungsi paru asimtomatik dan normal luar serangan - Gejala > 1x/minggu tapi < 1x/hari - Serangan dapat mengganggu aktivitas dan tidur - Gejala harian - Menggunakan obat setiap hari - Serangan mengganggu aktivitas dan tidur - Serangan 2x/minggu, bisa berhari-hari - Gejala terus-menerus - Aktivitas fisik terbatas - Sering serangan Gejala malam 2 kali seminggu Fungsi paru VEPI atau APE 80%

Persisten ringan mingguan

> 2 kali seminggu

VEPI atau APE 80% normal

Persisten sedang harian

> sekali seminggu

VEPI atau APE > 60% tetapi 80% normal

Persisten berat kontinu

VEPI atau APE < 80% normal sering

Pemeriksaan Penunjang : Laboratorium Spirometri

Tes provokasi bronkial Pemeriksaan tes kulit Pemeriksaan kadar IgE total dan spesifik dalam serum Pemeriksaan radiologi Analisis gas darah Pemeriksaan eosinofil dalam darah dan pemeriksaan sputum.

Diagnosis : Diagnosis asma berdasarkan : 1. Anamnesis : riwayat perjalanan penyakit, faktor-faktor yang berpengaruh terhadap asma, riwayat keluarga dan riwayat alergi, serta gejala klinis. 2. Pemeriksaan fisik 3. Pemeriksaan laboratorium : darah (terutama eosinofil, IgE total, IgE spesifik), sputum (eosinofil, spiral curshman, kristal chartot-leyden). 4. Tes fungsi paru dengan spirometri atau peak flow meter untuk menentukan adanya obstruksi jalan nafas. Diagnosis Banding : 1. Bronkitis kronik 2. Emfisema paru 3. Gagal jantung kiri akut 4. Emboli paru. Komplikasi asma : 1. Pneumothoraks 2. Pneumomediastinum dan emfisema subkutis 3. Atelektasis 4. Aspergilosis bronkopulmonar alergik 5. Gagal nafas 6. Bronkitis 7. Fraktur iga. Penatalaksanaan : Tujuan terapi asma yaitu : 1. Menyembuhkan dan mengendalikan gejala asma 2. Mencegah kekambuhan 3. Mengupayakan fungsi paru senormal mungkin serta mempertahankannya 4. Mengupayakan aktivitas harian pada tingkat normal termasuk melakukan exercise. 5. Menghindari efek samping obat asma. 6. Mencegah obstruksi jalan nafas yang irreversibel.

Yang termasuk obat anti asma : 1. Bronkodilator a. Agonis 2 Obat ini mempunyai efek bronkodilatasi. Terbutalin, salbutamol, dan fenetrol memiliki lama kerja 4-6 jam, sedang agonis 2 long action bekerja lebih dari 12 jam, seperti salmeterol, formoterol, bambuterol, dan lain-lain. Bentuk aerosol dan inhalasi memberikan efek bronkodilatasi yang sama dengan dosis yang jauh lebih kecil yaitu sepersepuluh dosis oral dan pemberiannya lokal. b. Metilxantin Teofilin termasuk golongan ini. Efek bronkodilatornya berkaitan dengan konsentrasinya di dalam serum. Efek samping obat ini dapat ditekan dengan pemantauan kadar teofilin serum dalam pengobatan jangka panjang. c. Antikolinergik Golongan ini menurunkan tonus vagus intrinsik dari saluran nafas. 2. Anti inflamasi Antiinflamasi menghambat inflamasi jalan nafas dan mempunyai efek supresi dan profilaksis. a. Kortikosteroid b. Natrium kromolin (sodium cromoglycate) merupakan antiinflamasi non steroid. Terapi awal, yaitu : 1. Oksigen 4-6 liter/menit 2. Agonis 2 (salbutomol 5 mg atau feterenol 2,5 mg atau terbutalin 10 mg) inhalasi nebulasi dan pemberiannya dapat diulang setiap 20 menit sampai 1 jam. Pemberian agonis 2 dapat secara subkutan atau iv dengan dosis salbutamol dekstrosa 5% dan diberikan perlahan. 3. Aminofilin bolus iv 5-6 mg/kgBB, jika sudah menggunakan obat ini dalam 12 jam sebelumnya maka cukup diberikan setengah dosis. 4. Kortikosteroid hidrokarbon 100-200 mg iv jika tidak ada respon segera atau pasien sedang menggunakan steroid oral atau dalam serangan sangat berat. Respon terhadap terapi awal baik, jika didapatkan keadaan berikut : 1. Respon menetap selama 60 menit setelah pengobatan. 2. Pemeriksaan fisik normal. 3. Arus puncak ekspirasi (APE) > 70% 4. Jika respon tidak ada atau tidak baik terhadap terapi awal maka pasien sebaiknya dirawat di Rumah Sakit. Pengobatan asma jangka panjang berdasarkan berat penyakit 0,25 mg atau terbutalin 0,25 mg dalam larutan

Derajat asma Asma persisten

Obat pengontrol Tidak perlu

Asma persisten ringan

Asma persisten sedang

Asma persisten berat

- Inhalasi kortikosteroid (beklometason, budesonida, flutikason) 200-500 g - Bila perlu ditingkatkan sampai 800 g atau ditambahkan bronkodilator aksi lama (teofilin lepas lambat) terutama untuk mengontrol asma malam dapat diberikan agonis 2 aksi lama inhalasi atau oral teofilin lepas lambat. - Inhalasi kortikosteroid (beklometason, budesonida) 8002000 g. - Bronkodilator aksi lama terutama untuk mengontrol asma malam, berupa agonis 2 aksi lama inhalasi atau oral teofilin lepas lambat. - Inhalasi kortikosteroid (beklometason, budesonida) 8002000 g atau lebih. - Bronkodilator aksi lama, berupa agonis 2 inhalasi atau oral teofilin lepas lambat. - Kortikosteroid oral jangka panjang

Obat pelega - Bronkodilator aksi singkat yaitu inhalasi agonis 2 (sabutamol, fenoterol, terbutalin,prokaterol) - Intensitas pengobatan tergantung berat eksaserbasi - Inhalasi agonis 22 atau kromolin dipakai sebelum aktivitas atau pajanan alergen. - Inhalasi agonis 2 (kerja pendek) bila perlu dan melebihi 3-4 x sehari (sabutamol, fenoterol, terbutalin,prokaterol)

- Inhalasi agonis 2 (kerja pendek) bila perlu dan tidak melebihi 3-4 x sehari. (sabutamol, fenoterol, terbutalin,prokaterol) - Inhalasi agonis 2 (kerja pendek) bila ada gejala.

Kortiko steroid inhalasi: 1. Becotide, Beconase (Beklometason dipropionat) Becotide sediaan: aerosol 100 mcg/dosis Beconase sediaan: aerosol 50 mcg/dosis

2. Pulmicort, Rhinocort (Budesonida) Pulmicort sediaan: aerosol 200 mcg/dosis Rhinocort sediaan: aerosol 50 mcg/dosis

3. Flixotide (flutikason propiat) Flixotide sediaan: cairan inhalasi 50 mcg/dosis, 125 mcg/dosis, 250 mcg/dosis

DAFTAR PUSTAKA

1. Harrison. 1991. Penyakit Asma. Dalam Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam, Edisi 13. Jakarta :EGC 2. W.M, Lorraine. 2006. Penyakit Pernafasan Obstruktif, dalam A.P Sylvia, dkk, Patofisiologi, Jilid II, Edisi 4. Jakarta : EGC 3. Mansjoer, A, dkk. 2005. Asma Bronkial. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid I, Edisi 3. Jakarta: Media Aesculapius FKUI 4. Sukamto, Sundaru Heru. 2006. Asma Bronkial.Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I Edisi 4. Jakarta: FKUI

Yogyakarta, Oktober 2011 Diperiksa dan disahkan oleh

Dr. Mulyo Hartana, Sp. PD