Anda di halaman 1dari 14

PENGARUH PENANAMAN MODAL ASING DAN PENANAMAN MODAL DALAM NEGERI TERHADAP PDRB DI PROVINSI DKI JAKARTA PERIODE

2002-2012 NILAM NURLAELA (Mahasiswi Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) Email : nilamnurlaela14@yahoo.com

Pembimbing : Tony S. Chendrawan, ST., SE., M.Si

ABSTRACT
The reaserch aims to analyze the effect of foreign investment and domestic investment on regional gross revenue. Samples taken as many as 11 years in 2002-2012. Based on this research, regretion formula had found as : Y = 2,540E8 + 7,945PMA + 13,052PMDN ; 5% . The regression formula can be interpreted that foreign investment and regional investment regression coefficient showed a positive direction means the increase in foreign investment and regional investment will raise regional gross revenue and thus that H0 rejected whereas H1 eccepted. That is Conclusion from this research describe that statistical result. Adjusted R value on this research is 0,525, this mean that 52,5% of regional gross revenue variable could be explained by independent variables foreign investment and domestic investment and 47,5% remnant of these explained by variables outside not listed in the formula. Keyword : Foreign investment, Domestic investment, Regional gross revenue.
2

I.

Setiap Negara atau wilayah di berbagai belahan dunia pasti melakukan kegiatan pembangunan ekonomi, dimana pembangunan tersebut bertujuan untuk mencapai kemakmuran bersama serta menghapus kemiskinan atau paling tidak mengurangi tingkat kemiskinan di Negara atau wilayah tersebut. Dalam pembangunan ekonomi suatu Negara untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang dikehendaki maka diperlukan sejumlah investasi tertentu yang dibiayai dengan tabungan nasional. Di negara-negara yang sedang berkembang seperti Indonesia tidak mempunyai sumber dana yang cukup guna membiayai pembangunan negerinya.

PENDAHULUAN

Terbatasnya akumulasi berupa capital tabugan di dalam negeri. Selain itu karena rendahnya produktivitas, dan tingginya konsumsi dari masyarakat itu sendiri. Karakteristik pertumbuhan ekonomi yang dikemukakan oleh kuznet salah satunya adalah produktifitas yang tinggi. Dengan produktifitas yang tinggi akan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi pula. Akibat pertumbuhan ekonomi positif tersebut akan mendorong masyarakat untuk berinvestasi. Menurut Mankiw N. Gregory (2003) persediaan modal adalah determinan output perekonomian yang penting, karena persediaan modal bisa berubah sepanjang waktu, dan perubahan

itu bisa mengarah ke pertumbuhan ekonomi. Biasanya, terdapat dua kekuatan yang mempengaruhi persediaan modal : investasi dan depresiasi. Investasi mengacu pada pengeluaran untuk perluasan usaha dan peralatan baru dan hal itu menyebabkan persedian modal bertambah. Depresiasi mengacu pada penggunaaan modal dan hal itu menyebabkan persediaan modal berkurang. Pertumbuhan ekonomi bagi suatu daerah merupakan tolak ukur untuk melihat seberapa besar keberhasilan pembangunan ekonomi di daerah tersebut dan penentu kebijakan pembangunan selanjutnya. Suatu Negara dapat dikatakan mengalami pertumbuhan ekonomi apabila terjadi kenaikan pendapatan nasional. Kenaikan pendapatan nasional ini dapat dilihat dari Produk Domestik Bruto (PDB), sedangkan bagi suatu daerah untuk melihat pendapatan daerahnya dapat dilihat dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Seperti yang dijelaskan oleh Zaris (1987) bahwa tingginya tingkat pertumbuhan ekonomi yang ditunjukkan dengan tingginya nilai PDRB menunjukkan bahwa daerah tersebut mengalami kemajuan dalam perekonomian. Setiap daerah mempunyai corak pertumbuhan ekonomi yang berbeda-beda dengan daerah lain. Oleh sebab itu perencanaan pembangunan ekonomi suatu daerah pertama-tama perlu mengenali karakter ekonomi, social dan fisik daerah itu sendiri. Dengan demikian tidak ada strategi pembangunan ekonomi daerah yang dapat berlaku untuk semua daerah. Selain itu setiap daerah juga mempunyai sumber daya alam yang berbeda-beda, maka dari itu harus ada keinginan kuat dari pemerintah daerah untuk mendorong masyarakat untuk dapat ikut serta dalam memanfaatkan dan mengembangkan sumber daya tersebut guna membentuk bangun ekonomi daerah yang dicitacitakan. Karena Sumber daya alam ini merupakan salah satu faktor pendorong pertumbuhan daerah, selain pola investasi,

teknologi dan perkembangan prasarana transportasi (Zaris,1987). Namun kondisi objektif menunjukkan bahwa daerahdaerah biasanya mengalami kesulitan dalam membangun perekonomian karena beberapa hambatan diantaranya masalah kekurangna modal. Alternative yang dapat dilakukan oleh pemerintah dalam rangka pembentukan modal adalah dengan meningkatkan investasi. Membicarakan masalah investasi, investasi telah disepakati menjadi salah satu kata kunci dalam setiap pembicaraan tentang konsep ekonomi, penciptaan lapangan kerja, penanggulangan kemiskinan bahkan investasi mejadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi. Investasi (Penanaman Modal) di Indonesia terdapat Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA). Investasi menghimpun akumulasi modal dengan membangun sejumlah gedung dan peralatan yang berguna bagi kegiatan produktif, maka output potensial suatu bangsa akan bertambah dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang juga akan meningkat. Jelas dengan demikian bahwa investasi memainkan peranan penting dalam menentukan jumlah output dan pendapatan (Dadang Firmansyah:2008). Dalam jurnal ini akan diteliti apakah terdapat pengaruh penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) terhadap pertumbuhan ekonomi yang dapat dilihat dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terutama di Provinsi DKI Jakarta. Peneliti memilih Provinsi DKI Jakarta karena merupakan masalah yang menarik seiring dengan eksistensi DKI Jakarta sebagai ibu kota Negara Indonesia. Berikut ini merupakan data tiga tahun terakhir mengenai penanaman modal asing, penanaman modal dalam negeri dan PDRB DKI Jakarta berdasarkan harga konstan tahun 20102012 yang disajikan dalam tabel berikut:

Penanaman Modal Asing (PMA), Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan PDRB DKI Jakarta periode 2010-2012

Tabel 1

terhadap PDRB di Provinsi Jakarta Periode 2002-2012.

DKI

II. %
a.

KERANGKA TEORITIS DAN TINJAUAN PUSTAKA

Ta hu n

20 10 20 11

102 25, ,24 34 % % 4.10 8.50 20 0.00 14, 0.00 8,6 12 0 58 0 0% % Sumber : bps.go.id bkpm.go.id (data diolah kembali)

PM A (Jut aan Rp) 6.42 9.27 0 4.80 0.00 0

0%

PM DN (Jut aan Rp) 4.59 8.52 0 9.30 0.00 0

PDRB (Jutaa n Rp)

0%

395.63 0 3.574,6 % 4 422.16 6,7 2.570,8 1 2 % 449.82 0.800 6,5 5 %

Berdasarkan tabel 1 dapat dilihat bahwa ketika penanaman modal asing (PMA) periode 2010-2012 mengalami kenaikan, PDRB DKI Jakarta mengalami penurunan. Pergerakan angka PMA pada tahun 2011 sebesar -25,34% menjadi 14,58% pada tahun 2012 dimana terdapat pengaruh negatif terhadap PDRB yang mengalami penurunan dari tahun 2011 sebesar 6,71% menjadi 6,55% pada tahun 2012. Sedangkan dari tahun 2010 sampai 2012 PMDN mengalami penurunan, yaitu dari 102,24% menjadi 8,60%. Jika terjadinya perbedaan tersebut mungkin disebabkan oleh faktor lain yang mempengaruhinya. Hal ini menunjukan bahwa terdapat ketidakkonsistenan antara teori atau konsep yang ada dengan kenyataan yang berada di lapangan. Maka, penelitian ini mengambil judul Pengaruh Penanaman Modal Asing dan Penanaman Modal Dalam Negeri

Penanaman Modal Asing Investasi swasta di Indonesia dijamin keberadaaannya sejak dikeluarkannya Undang-Undang No.1 tahun 1967 tentang penanaman modal asing dan Undangundang No.6 tahun 1968 tentang penanaman modal dalam negeri yang kemudian dilengkapi dan disempurnakan dengan Undang-undang No.11 tahun 1970 tentang penanaman modal asing dan Undang-undang No.12 tahun 1970 tentang penanaman modal dalam negeri. Pada Pasal 1 pengertian penanaman modal asing (PMA) adalah penanaman modal asing yang dilakukan untuk menjalankan perusahaan di Indonesia dan menanggung segala resiko penanaman modal tersebut secara langsung . Sedangkan pada Pasal 2 modal asing adalah alat pembayaran luar negeri yang tidak berasal dari kekayaan devisa Indonesia. Termasuk alat perusahaan dan penemuan baru milik orang asing yang diimpor. United Nations Coference on Trade and Development (UNCTAD) mendefinisikan penanaman modal asing sebagai investasi yang dilakukan suatu perusahaan di suatu Negara kepada perusahaan di Negara lain dengan tujuan mengendalikan operasi perusahaan di Negara lain tersebut. Sedangkan menurut Krugman dan Obstfeld (2003) penanaman modal asing adalah arus modal internasional dimana suatu perusahaan di satu Negara menciptakan cabang di Negara lain. Ada beberapa teori yang di kemukakan oleh beberapa ahli untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi penanaman modal asing. a. Alan M. Rugman (1981) Menyatakan bahwa penanaman modal asing dipengaruhi oleh variable lingkungan dan variable internalisasi.variable lingkungan

sering kali di sebbut keunggulan spesifik negara atau faktor spesifik.sedangkan variable internalisasi atau keunggulan spesifik perusahaan merupakan keunggulan internal yang dimiliki perusahaan multinasional. b. Vernon (1966) Menjelaskan penanaman modal asing dengan model yang disebut model siklus produk.dalam model ini introduksi dan pengembangan produk baru di pasar melalui tiga tahap. Dalam tahap satu,pada waktu produk pertama kali di kembangkan dan di pasarkan,di perlukan suatu hubungan yang erat antara kelompok desain,produksi dan pemasaran dari perusahaan dan pasar yang akan di layani oleh produk itu. Dalam tahap dua,pada waktu pasar di negara lain mengembangkan karakteristik serupa dengan yang di pasar dalam negeri,produk tersebut akan di ekspor ke luar negeri. Dalam tahap tiga,produk telah terbuat lebih baik dengan desain yang di standardisasi.

c. John Dunning (1977) Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi penanaman modal asing melalui teori ancangan eklektis.teori ekletis menetapkan suatu set yang terdiri dari tiga persyaratan yang di butuhkan bila sebuah perusahaan akan berkecimpung dalam penanaman modal asing, yaitu,keunggulan spesifik perusahaan,keunggulan internalisasi,keunggulan spesifik negara. d. Robbock & Simmonds (1989) Menjelaskan penanaman modal asing melalui pendekatan global. Pendekatan pasar yang tidak sempurna, pendekatan internalisasi, model siklus produk, produksi internasional, model imperalisasi marxiz.

Definisi investasi menurut Frank Reilly (2003) adalah komitmen satu dollar dalam satu periode tertentu, akan mampu memenuhi kebutuhan investor di masa yang akan datang dengan: (1) waktu dana tersebut akan digunakan, (2) tingkat inflasi yang terjadi, (3) ketidakpastian kondisi ekonomi di masa yang akan datang. Adam Smith menyatakan bahwa investasi dilakukan karena para pemilik modal mengharapkan untung dan harapan masa depan keuntungan bergantung pada iklim investasi pada hari ini dan pada keuntungan nyata. Smith yakin keuntungan cenderung menurun dengan adanya kemajuan ekonomi. Pada waktu laju pemupukan modal meningkat, persaingan yang meningkat antar pemilik modal akan menaikkan upah dan sebaliknya menurunkan keuntungan. Keuntungan yang dapat diperoleh dengan adanya penanaman modal asing antara lain (G. Kartasappoetra dkk, 1985: 91) : a. Produksi-produksi beberapa produk kebutuhan rakyat banyak dan maksud untuk diekspor (dengan penggunaan bahan baku yang umumnya terdapat di Indonesia) akan jauh meningkat baik kuantitas maupun kuanlitas. b. Jika produksi mengalami kegagalan, seluruh risiko ditanggung penanam dalam direct investment dan sebagian besar ditanggung penanam dalam joint enterprise atau joint venture. c. Para pekerja Indonesia memperoleh kesempatan kerja dan dapat membiasakan diri dengan pekerjaan-pekerjaan mutakhir (alih teknologi). Selain itu, Investasi asing (Foreign Investment) dibagi ke dalam dua kelompok komponen. Pertama, investasi langsung (Direct Investment) yang melalui para investor berpartisipasi dalam manajemen perusahaan untuk memperoleh imbalan dari modal yang mereka tanamkan. Kedua, investasi portofolio (Portofolio Investment), yakni pembelian saham dan obligasi yang semata-mata tujuannya untuk meregug hasil dari dana yang ditanamkan. Investasi asing langsung adalah kepemilikan dan kendali asset asing. Dalam prakteknya, investasi asing langsung biasanya melibatkan kepemilikan, sebagian atau keseluruhannya perusahaan di sebuah Negara asing.

Menurut Sukirno (1981) Penanaman modal asing langsung bentuknya dapat berupa cabang perusahaan multinasional, lisensi, joint venture, atau lainnya. Selain itu penanaman modal asing jenis portofolio merupakan penanaman modal dalam bentuk pemilikan surat-surat pinjaman jangka panjang dan sahamsaham dari perusahaan-perusahaan yang terdapat di Negara-negara berkembang. Jadi hanyalah berupa penyertaan dalam kepemilikan perusahaan dan bukan penguasaan kegiatan perusahaan sehar0-hari (Thomas Budiman Syah:2005) b. Penanaman Modal Dalam Negeri Berdasarkan Undang-undang No. 6 tahun 1968 tentang penanaman modal dalam negeri yang dilengkapi dan disempurnakan dengan Undang-undang No. 12 tahun 1970, pengertian penanaman modal dalam negeri adalah penanaman modal dalam negeri baik secara langsung atau tidak untuk menjalankan usaha (Pasal 2). Sedangkan modal dalam negeri adalah modal yang berasal dari kekayaan masyarakat Indonesia baik yang dimiliki Negara swasta nasional, atau swasta asing. Pihak swasta yang dimaksud dapat berupa perorangan atau badan hukum (Pasal 1). Menurut Sadono Sukirno (2006) penanaman modal dalam negeri adalah usaha pengerahan modal untuk pembangunan yang berasal dari tiga sumber, diantaranya tabungan sukarela masyarakat, tabungan pemerintah dan tabungan paksa. Menurut Mankiw (2000) tabungan dan investasi dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan. Menurut Paul A. Samuelson dan William D.Nordhaus, investasi adalah pengeluaran yang dilakukan oleh para penanam modal yang menyangkut penggunaan sumber-sumber seperti peralatan, gedung, peralatan produksi dan mesin-mesin baru lainnya atau persediaan yang diharapkan akan memberikan keuntungan dari investasi tersebut. Pratama rahardja dan Mandala Manurung (2008:270) menjelaskan juga bahwa yang

tercakup dalam investasi barang modal (capital goods)dan bangunan (construction) adalah pengeluaran-pengeluaran untuk pembelian pabrik-pabrik, mesin-mesin, peralatan-peralatan produksi dan bangunanbangunan atau gedung-gedung yang baru. Karena daya tahan barang modal dan bangunan umumnya lebih dari setahun, seringkali investasi ini disebut sebagai investasi dalam bentuk harta tetap (fixed investment). Dalam model Harrod-Domar menjelaskan bahwa produksi sangat ditentukan oleh factor modal dan akumulasi modal tergantung pada pendapatan atau output. Semakin tinggi tingkat tabungan domestik maka semakin tinggi pula tingkat output nasional yang diakibatkan oelh investai produktif. Penanaman modal dalam negeri memberikan peranan dalam pembangunan ekonomi di Negara-negara sedang berkembang hal ini terjadi dalam berbagai bentuk. Modal investasi mampu mengurangi kekurangan tabungan dan melalui pemasukan peralatan modal dan bahan mentah, dengan demikian menaikkan laju pemasukkan modal. Selain itu tabungan dan investasi yang rendah mencerminkan kurangnya modal di Negara keterbelakangan teknologi. Bersamaan dengan modal uang dan modal fisik, modal investasi yang membawa serta keterampilan teknik, tenaga ahli, pengalaman organisasi, informasi pasar, teknik-teknik produksi maju, pembaharuan produk dan lain-lain. Selain itu juga melatih tenaga kerja setempat pada keahlian baru. Semua ini pada akhirnya akan mempercepat pembangunan ekonomi negara terbelakang. Perusahaan penanaman Modal negeri mendapatkan fasilitas dalam bentuk: Pajak penghasilan melalui netto sampai tingkat tertentu terhadap jumlah penanaman modal yang dilakukan dalam waktu tertentu. Pembebasan atau keringanan bea masuk atas impor barang modal, mesin, atau peralatan untuk keperluan produksi yang belum dapat diproduksi di dalam negeri.

Pembebasan atau keringanan bea masuk bahan baku dan bahan penolong untuk keperluan produksi untuk jangka waktu tertentu dan persyaratan tertentu. Pembebesan atau penangguhan Pajak Pertambahan Nilai atas impor barang modal atau mesin atau peralatan untuk keperluan produksi yang belum dapat diproduksi di dalam negeri selama jangka waktu tertentu Kriteria Perusahaan Penanaman Modal Negeri yang mendapatkan fasilitas antara lain menyerap banyak tenaga kerja, termasuk skala prioritas tertinggi, melakukan alih teknologi, melakukan industri pionir, menjaga kelestarian lingkungan hidup. c. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai perkembangan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksi dalam masyarakat bertambah dan kemakmuran masyarakat meningkat (Sukirno: 10). Pertumbuhan ekonomi mengukur prestasi dari perkembangan suatu perekonomian. Dari periode ke periode lainya kemampuan suatu Negara untuk menghasilkan barang dan jasa akan meningkat. Menurut Suryana,2000:5 Pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai kenaikan GNP (Gross Domestic Product) tanpa memandang bahwa kenaikan itu lebih besar atau lebih kecil dari pertumbuhan penduduk dan tanpa memandang apakah ada perubahan dalam struktur ekonominya. Pertumbuhan ekonomi disangkut-paut dengan proses peningkatan produksi barang dan jasa dalam kegiatan ekonomi masyarakat. Dapat dikatakan bahwa pertumbuhan menyangkut perkembangan yang berdimensi tunggal dan diukur dengan meningkatnya hasil produksi dan pendapatan. Dalam pertumbuhan ekonomi, biasanya ditelaah proses produksi yang melibatkan sejumlah

jenis produksi dengan menggunakan sejumlah sarana produksi tertentu. (Sumitro Djojohadikusumo,1994:1) Menurut Zaris (1987:82) pertumbuhan ekonomi adalah sebagian dari perkembangan kesejahteraan masyarakat yang diukur dengan besarnya pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto perkapita (PDRB per kapita). Prof. Simon Kuznets dalam Todaro (2006) mendifinisikan pertumbuhan ekonomi itu adalah kenaikan jangka panjang dalam kemampuan suatu Negara untuk menyediakan banyak barang ekonomi kepada penduduknya. Kemampuan ini tumbuh sesuai dengan kemajuan teknologi, penyesuaian kelembagaan dan ideologi yang diperlukannya. Menurut Todaro (2000) ada tiga factor atau komponen yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi : 1. Akumulasi modal Akumulasi modal terjadi apabila sebagian dari pendapatan ditabung dan diinvestasikan dengan tujuan memperbesar output dan pendapatan di kemudian hari. Demikian pula investasi dalam sumberdaya manusia dapat meningkatkan kualitasnya dan dengan demikian akan menghasilkan efek yang sama terhadap produksi, bahkan akan lebih besar lagi bertambahnya jumlah manusia 2. Pertumbuhan penduduk dan tenaga kerja Pertumbuhan penduduk dan tenaga kerja merupakan faktor positif dalam merangsang pertumbuhan ekonomi. Jumlah tenaga kerja yang lebih besar akan menambah jumlah tenaga produktif, sedangkan pertambahan penduduk yang lebih besar akan menambah luasnya pasar domestik.

3. Kemajuan Teknologi Kemajuan teknologi bagi para ahli ekonomi merupakan sumber pertumbuhan ekonomi yang lebih penting, karena kemajuan teknologi dapat meningkatkan nilai tambah yang tinggi. PDRB menurut Badan Pusat Statistik (2004:8) yaitu jumlah nilai tambah yang dihasilkan untuk seluruh wilayah usaha dalam suatu wilayah atau merupakan jumlah seluruh nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan seluruh unit ekonomi di suatu wilayah. PDRB merupakan penjumlahan dari semua barang dan jasa akhir atau semua nilai tambah yang dihasilkan oleh daerah dalam periode waktu tertentu (1 tahun). Produk Domestik suatu wilayah merupakan nilai seluruh produk dan jasa yang diproduksi di wilayah tersebut tanpa memperhatikan apakah faktor produksinya berasal dari wilayah tersebut atau tidak. Pendapatan yang timbul oleh adanya kegiatan produksi tersebut merupakan pendapatan domestik. Sedangkan yang dimaksud dengan wilayah domestik atau region adalah meliputi wilayah yang berada di dalam wilayah geografis region tersebut. Perhitungan PDRB dapat dilakukan dengan menggunakan cara sebagai berikut : a. Pendekatan Produksi Dalam pendekatan ini PDRB adalah jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi di suatu wilayah dalam jangka waktu tertentu (satu tahun). Unit produksi dalam penyajiannya dikelompokkan dalam beberapa sektor atau lapangan usaha yaitu pertanian, pertambangan atau penggalian, industri pengolahan, listrik, gas, bangunan, perdagangan, hotel,restoran, pengangkutan,

komunikasi, jasa keuangan, persewaan, dan jasa Perusahaan, dan lain-lain. b. Pendekatan Pendapatan Dalam perhitungan ini pendapatan nasional diperoleh dengan menjumlahkan pendapatan yang diterima oleh faktor-faktor produksi yang digunakan untuk mewujudkan pendapatan nasional. (Sukirno,1994:32). Selain itu, menurut pendekatan pendapatan, PDRB adalah penjumlahan semua komponen permintaan terakhir, yaitu pengeluaran konsumsi rumah tangga dan lembaga swasta yang tidak mencari untung, konsumsi pemerintah, pembentukan modal tetap domestik bruto, perubahan stok, ekspor neto, dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun). Ekspor neto adalah ekspor dikurangi impor. c. Pendekatan Pengeluaran Menurut pendekatan pengeluaran, PDRB merupakan jumlah balas jasa yang diterima oleh faktor produksi yang ikut serta dalam proses produksi di suatu wilayah dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun). Balas jasa faktor produksi yang dimaksud adalah upah dan gaji, sewa tanah, bunga modal dan keuntungan. Semua hitungan tersebut sebelum dipotong pajak penghasilan dan pajak langsung lainnya.

Dalam pengertian PDRB kecuali faktor pendapatan, termasuk pula komponen penyusutan dan pajak tidak langsung neto. Jumlah semua komponen pendapatan ini menurut sektor disebut sebagai nilai tambah bruto sektoral. Produk domestik bruto merupakan jumlah dari nilai tambah bruto seluruh sektor (lapangan usaha). PDRB juga dibagi menjadi PDRB atas dasar harga berlaku dan PDRB atas dasar harga konstan. PDRB atas dasar harga berlaku adalah

jumlah nilai produksi atau pendapatan atau pengeluaran yang dinilai sesuai dengan harga yang berlaku pada tahun yang bersangkutan. Sedangkan PDRB atas dasar harga konstan adalah jumlah nilai produksi atau pendapatan atau pengeluaran yang dinilai atas dasar harga

tetap (harga pada tahun dasar) yang digunakan selama satu tahun. d. Kerangka Pemikiran

Gambar 1 Diagram Kerangka pemikiran

Variabel Independent (X1) Penanaman Modal Asing Variabel Independent (X2) Penanaman Modal Dalam Negeri Variabel Dependent (Y) PDRB di Provinsi DKI Jakarta Hipotesis

Hasil Uji Regresi dengan SPSS Kesimpulan

e.

Hipotesis Pengaruh realisasi penanaman modal asing dan penanaman modal dalam negeri terhadap PDRB di Provinsi DKI Jakarta , hipotesis yang dapat diajukan diantaranya adalah: H0 : 1 = 2 = 0 : Tidak terdapat pengaruh penanaman modal asing dan penanaman modal dalam negeri terhadap PDRB di Provinsi DKI Jakarta periode 2002-2012 H0 : 1 = 2 0 : Terdapat pengaruh penanaman modal asing dan penanaman modal dalam negeri terhadap PDRB di Provinsi DKI Jakarta periode 2002-2012

III.

a.

METODE PENELITIAN Metode Analisis Data Teknik pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan secara kuantitatif dan menggunakan data sekunder yang bersumber dari Badan Pusat Statistik dan Badan Koordinasi Penanaman Modal. Penulis melakukan pencarian data dengan membuka website bps.go.id dan bkpm.go.id serta website pendukung lainnya (internet research). Data yang digunakan bersifat tahunan dan meliputi kurun

waktu 2002-2012 di Provinsi DKI Jakarta. Selain itu landasan dan teori yang kuat sangat dibutuhkan dalam jurnal ini, sehingga penulis melakukan penelitian kepustakaan dengan menggunakan buku-buku, jurnal, dan sumber dokumentasi lainnya yang berhubungan dengan penelitian (library research). Dalam penelitian ini variable independent (bebas) X1 adalah penanaman modal asing dan variable independent (bebas) X2 adalah penanaman modal dalam negeri. Sedangkan variable dependen (terikat) adalah PDRB DKI Jakarta. Data yang dianalisis berdasarkan data time series dan dikorelasikan menggunakan SPSS. Metode penelitian yang digunakan adalah metode regresi linear berganda. Untuk menganalisis data yang diperoleh, maka peneliti melakukan beberapa pengujian diantaranya uji statistik yang terdiri dari uji t, uji f serta pengujian asumsi klasik seperti uji normalitas, multikolinearitas, uji heteroskedastisitas, uji autokorelasi dan uji determinasi. b. Operasional Variabel Tabel 2 Operasional Variabel Variabel Definisi Skala Penanam Berdasarkan Rasio an UndangModal undang No.11 Asing tahun 1970 (X1) Penanaman modal asing (PMA) adalah penanaman modal asing yang dilakukan untuk menjalankan perusahaan di Indonesia dan menanggung

segala resiko penanaman modal tersebut secara langsung (Pasal 1). Serta sebagai alat pembayaran luar negeri yang tidak berasal dari kekayaan devisa Indonesia (Pasal 2). Termasuk alat perusahaan dan penemuan baru milik orang asing yang diimpor. Penanam an Modal Dalam Negeri (X2) Menurut Sadono Sukirno (2006) penanaman modal dalam negeri adalah usaha pengerahan modal untuk pembangunan yang berasal dari tiga sumber, diantaranya tabungan sukarela masyarakat, tabungan pemerintah dan tabungan paksa. Menurut Mankiw (2000) tabungan dan investasi Rasio

dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkesinambu ngan. Produk Domesti k Regional Bruto (Y) PDRB menurut Badan Pusat Statistik (2004:8) yaitu jumlah nilai tambah yang dihasilkan untuk seluruh wilayah usaha dalam suatu wilayah atau merupakan jumlah seluruh nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan seluruh unit ekonomi di suatu wilayah. PDRB merupakan penjumlahan dari semua barang dan jasa akhir atau semua nilai tambah yang dihasilkan oleh daerah dalam periode waktu tertentu (1 tahun). Rasio

PDRB = 0 + 1PMA + 2 PMDN + error, 5% Keterangan : PDRB = Produk Domestik Regional Bruto DKI Jakarta PMA = Penanaman Modal Asing DKI Jakarta PMDN= Penanaman Modal Dalam Negeri DKI Jakarta 0 = Konstanta 1,2 = KoefisienVariabel independen e = Error IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang merupakan data time series atau data runtun waktu sebanyak 11 tahun, yaitu mulai tahun 2002 sampai dengan tahun 2003. Data diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Badan Koordinasi Penanaman Modal. Penelitian ini menggunakan dua variable independen, yaitu Penanaman Modal Asing dan Penanaman Modal Dalam Negeri. Sedangkan variable dependennya adalah PDRB DKI Jakarta. Bedasarkan model regresi yang telah dijelaskan bedasarkan analisis menggunakan SPSS, hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan tingkat suku bunga deposito berjangka terhadap indeks harga saham gabungan dipasar modal indonesia dapat disimpulkan persamaan garis regresi dari table coefficienta sebagai berikut : Y = 2,540E8 + 7,945PMA + 13,052PMDN ; 5% Dalam penelitian ini akan dipaparkan hasil analisis yang telah dilakukan. Hasil analisis data sekunder yang telah diolah yaitu :

c. Model Fungsi PDRB = (penanaman modal asing, penanaman modal dalam negeri) Sedangkan rumus statistik adalah sebagai berikut:

A. Uji Statistik Selanjutnya untuk mengetahui keakuratan data maka perlu dilakukan beberapa pengujian, diantaranya : a. Uji t Uji t dilakukan untuk melihat hubungan atau pengaruh antara variable independen secara individual terhadap variable dependen. Table 3 Coefficientsa Standa Unstandardiz rdized ed Coeffici Coefficients ents Model 1 B Std. Error Beta t Sig.

2. Nilai t-hitung pada PMDN sebesar 2,388 dengan tingkat signifikan 0,44. Karena nilai signifikansi lebih besar dari 5% maka tidak terdapat pengaruh signifikan antara variabel PMDN terhadap PDRB. b. Uji F Pengujian ini akan memperlihatkan hubungan atau pengaruh antara variable independen secara bersama-sama terhadap variable dependen,yaitu dengan cara sebagai berikut : Table 4 ANOVAb Sum of Square s Mean Square

Model 1

df

Sig.

Regre 2.699E ssion 16 Resid ual Total 1.652E 16 4.351E 16

2 1.349E 6.53 .021a 16 4 8 2.065E 15 10

(Con 2.540 3.152 stant) E8 E7 PMA PMD N 7.945 9.836 13.05 5.465 2

8.05 .000 7 .217 .808 .443 .641 2.38 .044 8

a. Predictors: (Constant), PMDN, PMA b. Dependent Variable: PDRB


Sumber : diolah dengan SPSS 17

a. Dependent Variable: PDRB


Sumber : diolah dengan SPSS 17

Hasil hipotesis penelitian pengaruh penanaman modal asing dan penanaman modal dalam negeri terhadap PDRB secara parsial adalah sebagai berikut : 1. Nilai t-hitung pada PMA sebesar 0,808 dengan tingkat signifikan 0,443. Karena nilai signifikansi lebih besar dari 5% maka tidak terdapat pengaruh signifikan antara variabel PMA terhadap PDRB.

Dapat dilihat bahwa nilai signifikan sebesar 0,21 dan nilai F hitung 6,534. Karena nilai signifikan dan F hitung lebih besar dari 5%, maka tidak ada pengaruh antara PMA dan PMDN terhadap PDRB. B. Pengujian Asumsi Klasik Pengujian ini digunakan untuk melihat apakah model yangditeliti akan mengalami asumsi klasik atau tidak, maka pengadaan pemeriksaan terhadap penyimpangan asumsi klasik tersebut harus dilakukan.

a. Uji Normalitas Gambar 2

demikian tidak terdapat masalah multikolonieritas dalam model regresi. Jadi dapat disimpulkan tidak terdapat korelasi antara variabel-variabel independent. c. Uji Heteroksedastisitas Gambar 3

Sumber : diolah dengan SPSS 17

Bedasarkan gambar 2, dapat dilihat bahwa titik-titik menyebar disekitar garis diagonal dan penyebarannya mengikuti garis diagonal. Dengan demikian penyebaran data PDRB mengikuti asumsi normalitas. b. Uji Multikolinearitas Tabel 5 Coefficientsa Collinearity Statistics Model 1 (Constant) PMA .659 1.518 1.518 Tolerance VIF

Sumber : diolah dengan SPSS 17

Dengan melihat gambar tersebut tidak terdapat pola yang jelas serta titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka 0, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedestisitas pada model regresi ini. d. Uji Autokorelasi Tabel 6 Model Summaryb Std. Error of R Adjuste the Squa d R Estimat Durbinre Square e Watson

PMDN .659 a. Dependent Variable: PDRB


Sumber : diolah dengan SPSS 17

Mo del 1

Bedasarkan tabel 5 tersebut diperoleh bahwa semua variabel bebas memiliki nilai tolerance diatas 0,1 dan nilai VIF kedua variabel independent adalah 1,518 lebih besar dari 5%. Dengan

.525 4.54436 1.328 E7 a. Predictors: (Constant), PMDN, PMA b. Dependent Variable: PDRB
Sumber : diolah dengan SPSS 17

.788a .620

Bedasarkan table 6 diperoleh nilai Durbin-Watson sebesar 1,328 dengan derajat kepercayaan 5%, berarti tidak terdapat kesimpulan autokorelasi. e. Uji Determinasi Dalam uji determinasi dapat dilihat pada tabel 6 model summeryb dengan melihat adjusted R2. Nilai adjusted R2 adalah 0,525, hal tersebut berarti 52,5% variabel PDRB dapat dijelaskan oleh variabel independentnya yaitu PMA dan PMDN. Sisanya sebesar 47,5% dijelaskan oleh variabel-variabel lain diluar persamaan. C. KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini mengkaji mengenai pengaruh penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) terhadap PDRB DKI Jakarta periode 2002-2012. Bedasarkan analisis yang telah dilakukan pada penelitian ini menyimpulkan bahwa: 1. Dari hasil estimasi dengan menggunakan regresi linier berganda menyimpulkan bahwa tidak ada variable penelitian yang signifikan mempengaruhi laju PDRB di DKI Jakarta. Ketidaksesuaian hasil penelitian dengan teori ini diasumsikan karena PDRB sebagai suatu fenomena ekonomi makro bersifat sangat mudah berubah yang tidak hanya disebabkan oleh variable-variabel ekonomi belaka tetapi juga disebabkan oleh variable sosial ekonomi politik. 2. Berdasarkan hasil uji klasik diketahui bahwa model yang digunakan terbebas dari gangguan autokorelasi, heteroskedastisitas melainkan mengikuti asumsi normalitas.

Sehingga model dalam penelitian ini dapat digunakan mengestimasi secara valid. 3. Berdasarkan uji F menunjukkan bahwa variable independent PMA dan PMDN secara bersama-sama tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependenPDRB dengan nilai F hitung 6,534. 4. Berdasarkan pengujian secara parsial dengan menggunakan uji t dapat disimpulkan bahwa variable PMA dan PMDN tidak berpengaruh signifikan terhadap PDRB DKI Jakarta. Diasumsikan bahwa PDRB DKI Jakarta kurang menciptakan daya tarik bagi masuknya modal asing/ penanam modal. Kesimpulan penelitian diatas memberikan implikasi/saran sebagai berikut: a. Sebagai indikator pertumbuhan ekonomi regional PDRB tetap perlu ditingkatkan untuk meningkatkan daya tarik penanam modal dalam melakukan penanaman modal asing (PMA) dan dalam negeri. Karena dengan laju penanaman modal yang wajar, sector riil akan tetap bergairah dalam meningkatkan mutu kesejahteraan masyarakat. b. Keikutsertaan Pemerintah juga dibutuhkan, diataranya mendukung dan mengayomi mayarakat setempat untuk memanfaatkan sumber daya alam yang dimiliki di daerah tersebut agar tercapainya kesejahteraan yang dicitacitakan. c. Dalam penyelenggaraaan penanaman modal di Indonesia, tidak jarang mengalami berbagai masalah, salah satunya berkaitan dengan perizinan. Alangkah

baiknya jika masalah tersebut segera ditangani karena banyak pihak investor asing sering mempermasalahkan mengenai birokrasi pengurusan perizinan yang kurang efisien dan kurangnya fasilitas-fasilitas berkaitan hal tersebut sehingga mengakibatkan ketidakefektifan baik dari segi waktu dan maupun biaya yang tinggi bagi investor dalam menanamkan modalnya di Indonesia. D. REFERENSI - Rahardja, Prathama dan Mandala Manurung. 2008.Pengantar Ilmu Ekonomi (Mikroekonomi & Makroekonomi). Lembaga Penerbit FEUI:Jakarta Sukirno, Sadono.2007. Ekonomi Pembangunan Edisi Kedua. Kencana:Jakarta Sukirno, Sadono.2000. Makroekonomi Modern. PT RajaGrafindo Persada:Jakarta Djojohadikusumo, Sumitro.1994. Perkembangan Pemikiran Ekonomi Dasar Teori Ekonomi Pertumbuhan dan Ekonomi Pembangunan. LP3ES:Jakarta Wahdah, Siti Fadhilah. Pengaruh Angkatan Kerja yang Bekerja, Investasi PMA, Investasi PMDN dan Pendapatan Asli Daerah terhadap Pertumbuhan Ekonomi Regional. Skripsi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.2011

Adianto, Tio. Analisis Pengaruh Penanaman Modal Asing (PMA), Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Ekspor Total Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia. Skripsi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2011 Syaharani, Febrina Rizki. Pengaruh Penanaman Modal Dalam negeri, PMA dan Utang Luar Negeri terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia Periode 1985-2009. Skripsi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2011 Budiman Syah, Thomas. Analisis Penanaman Modal Asing di Indonesia tahun 19832003. Skripsi, Fakultas Ekonomi, Universitas Islam Yogyakarta. 2005 http://archella.blogspot.com/201 2/03/penanaman-modalasing.html http://galihpangestu14.wordpres s.com/2011/05/08/penanamanmodal-dalam-negeri/ http://yolandafransiska.blogspot.com/2012/03 /penanaman-modal-dalamnegeri.html http://angelinasinaga.wordpress. com/2013/05/31/penanamanmodal-asing-dan-penanamanmodal-dalam-negeri/ http://bps.go.id/ http://www.bkpm.go.id/