Anda di halaman 1dari 4

RIWAYAT NEHEMIA Dalam naskah-naskah bahasaIbrani paling awal Kitab Nehemia adalah kelanjutan dari Kitab Ezra.

Kitab inimemiliki gaya biografi diri yang menunjukkan kemungkinan bahwa Nehemia adalah penulisnya. Kitab ini mencakup sejarah orang-orang Yahudidari kira-kira tahun 446 sampai tahun 405 S.M. - periode terakhir darikitab-kitab sejarah dalam Perjanjian Lama. Nehemia adalah orang Yahudi yangmemegang kedudukan yang dipercaya sebagai juruminuman raja bagi Artahsasta, rajaPersia, yang bererti dia melindungi makanan dan minuman raja dari semua jenispencemaran.[1]Juruminuman raja juga adalah jabatan terhormat dan mendapat kepercayaan raja,jabatan yang amat besar kekuasaannya.[2]Artahsasta mengizinkan dia pergi ke Yerusalem dan membina kembali tembok kota(Nehemia 2:16:15). Dia melayani sebagai bupati (pemangku raja) di Yerusalemselama 12 tahun, kemudian kembali ke Babel, di mana dia menetap di sana selama beberapawaktu sebelum kembali ke Yerusalem untuk kedua kalinya (Nehemia 5:1415; 13:6;13:731). Nehemia memperlihatkan tingkat pengabdian dan keberanian yangtertinggi dalam hal-hal yang praktis mengenai pembangunan tembok-tembokYerusalem dan dalam hal-hal rohani mengenai pembangunan kehidupan keagamaan masyarakatnya.[3] Nehemia adalah salah seorangpemimpin yang menginsipirasikan dalam Alkitab. Kadangkala kaedah-kaedahnya sepertitidak masuk akal, namun kaedah tersebut digunakan oleh Tuhan untuk menghasilkanreformasi dalam kehidupan bangsa Israel dalam waktu yang singkat. Analisa ataskeperibadian dan kaedah-kaedahnya mengungkapkan bahwa kaedah yang dipakainyaefektif hanya kerana kualiti karakternya sendiri. Nehemia seorang yang tekun berdoa dimana hal tersebut menunjukkan kerendahan hati. Nehemia juga seorang yangmemiliki keberanian dalam menghadapi bahaya, peduli dan bertanggung jawabkepada kesejahteraan orang lain, memiliki visi, dan dapat mengambil keputusandengan jelas serta seorang yang realis. Dalam kitab Nehemia, tercatatbeberapa kemahiran atau kecekapannya sebagai seorang pemimpin yangberintegriti. Tiga kecekapan atau kemahirannya yang menonjol adalah:Juruminum raja/Pembuat minuman raja (1:1-2:10)Pembina dinding tembok kota Yerusalem (2:11-6:19) Seorang gabenor Yehuda (fasal 7-13)[4]

Saat Nehemia sedang berada di puri di Susan, dia mendapat kunjungan oleh saudaranya,yang baru saja kembali dari Yerusalem, yang memberitahukan Nehemia, mengenai kabar bahwa orang Yahudi berada dalam bencana yang besar, Nehemia mendapat kabar bahwa tembok kota Yerusalem dipecah dan gerbang yang terbakar dengan api. Hal ini menyebabkan kepedihan besar di hati Nehemia. Riwayat Nehemia bin Hakhalya. Pada bulan Kislew tahun kedua puluh, ketika aku ada di puri Susan, datanglah Hanani, salah seorang dari saudara-saudaraku dengan beberapa orang dari Yehuda. Aku menanyakan mereka tentang orang-orang Yahudi yang terluput, yang terhindar dari penawanan dan tentang Yerusalem. Kata mereka kepadaku: "Orang-orang yang masih tinggal di daerah sana, yang terhindar dari penawanan, ada dalam kesukaran besar dan dalam keadaan tercela. Tembok Yerusalem telah terbongkar dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar." Nehemia 1:1-3

Reaksi Nehemia Berbalik Kepada Allah dan Berdoa Syafaat Ketika mendengar berita yang menyakitkan tersebut, yang dilakukan Nehemia pertama kali adalah: Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit, kataku: "Ya, TUHAN, Allah semesta langit, Nehemia 1:4

Nehemia memberikan reaksi yang luar biasa positif, yang disertai dengan sikap empati terhadap bangsanya, dia segera berbalik kepada Allah dan berdoa syafaat, serta melakukan masa perkabungan. Adapun didalam proses berbalik kepada Allah dan berdoa syafaat tersebut Nehemia memberikan kepada kita beberapa teladan yang baik bagi kita, jika kita sedang berdoa syafaat untuk sebuah krisis didalam kehidupan kita. Keteladanan tersebut dapat kita temukan didalam komposisi doa syafaat Nehemia, yang dapat kita kelompokkan seperti dibawah ini : Pengagungan dan penyembahan kepada Allah Hal pertama yang dilakukan dalam doa Nehemia adalah dengan melakukan pengagungan kepada Allah dan karakter-karakterNya yang luar biasa itu. Allah yang maha besar dan dahsyat, yang berpegang pada perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan tetap mengikuti perintah-perintah-Nya, Nehemia 1:5

Mengaku Dosa-dosa Setelah memberikan pengagungannya kepada Allah, Nehemia mengaku dosa-dosa dan pelanggaran bangsanya terhadap perjanjian mereka dengan Allah. berilah telinga-Mu dan bukalah mata-Mu dan dengarkanlah doa hamba-Mu yang sekarang kupanjatkan ke hadirat-Mu siang dan malam bagi orang Israel, hamba-hamba-Mu itu, dengan mengaku segala dosa yang kami orang Israel telah lakukan terhadap-Mu. Juga aku dan kaum keluargaku telah berbuat dosa. Kami telah sangat bersalah terhadap-Mu dan tidak mengikuti perintah-perintah, ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan yang telah Kauperintahkan kepada Musa, hamba-Mu itu. Nehemia 1: 6-7

Sering kita memiliki kecenderungan untuk mempersalahkan orang lain, ketika kita diijinkan Allah masuk kedalam masa-masa krisis, kita tidak mau melakukan instropeksi diri, melainkan lebih menyukai mencari kambing hitam terlebih dahulu.

Mengingat dan memegang kembali janji-janji Allah Didalam doa-doanya, Nehemia sepertinya mengingatkan Allah yang sedang lupa akan segala janji-janjinya dan status umat Israel dihadapan-Nya. Akan tetapi perlu digaris bawahi oleh kita semua, bahwa Allah Israel adalah Allah yang tidak pernah lupa dengan janji-janji-Nya5, dalam kasus ini dapat kita katakan, bahwa Nehemia-lah yang sebenarnya sebagai seorang Israel sejati yang beruaha untuk selalu mengingat janji-janji Allah tersebut, dan dia datang kepada Allah dengan sikap seperti seorang yang sedang menagih janji-janji tersebut. Ingatlah akan firman yang Kaupesan kepada Musa, hamba-Mu itu, yakni: Bila kamu berubah setia, kamu akan Kucerai-beraikan di antara bangsa-bangsa. Tetapi, bila kamu berbalik kepada-Ku dan tetap mengikuti perintah-perintah-serta melakukannya, maka sekalipun orang-orang buanganmu ada di ujung langit, akan Kukumpulkan mereka kembali dan Kubawa ke tempat yang telah Kupilih untuk membuat nama-Ku diam di sana. Nehemia 1:8-9

Mengajukan permohonan dan rencana kepada Tuhan Setelah melakukan ketiga hal yang tersebut diatas, Nehemia selanjutnya mengajukan permohonan dan rencana hatinya kepada Tuhan. Bukankah mereka ini hamba-hamba-Mu dan umat-Mu yang telah Kaubebaskan dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan tangan-Mu yang kuat? Ya, Tuhan, berilah telinga kepada doa hamba-Mu ini dan kepada doa hamba-hamba-Mu yang rela takut akan nama-Mu, dan biarlah hamba-Mu berhasil hari ini dan mendapat belas kasihan dari orang ini." Ketika itu aku ini juru minuman raja. Nehemia 1:10-11 Aksi Awal Nehemia Menyampaikan Visi Dan Perencanaan kepada Raja Menindak lanjuti doa syafaatnya, Nehemia menunggu jawaban dan saat yang tepat. Beberapa waktu kemudian atas penentuan Allah, Nehemia mendapatkan kesempatan dan waktu yang tepat untuk menyampaikan isi hatinya kepada Raja Arthasasta, yang dicatat sebagai berikut : Pada bulan Nisan tahun kedua puluh pemerintahan raja Artahsasta, ketika menjadi tugasku untuk menyediakan anggur, aku mengangkat anggur dan menyampaikannya kepada raja. Karena aku kelihatan sedih, yang memang belum pernah terjadi di hadapan raja, bertanyalah ia kepadaku: "Mengapa mukamu muram, walaupun engkau tidak sakit? Engkau tentu sedih hati." Lalu aku menjadi sangat takut. Jawabku kepada raja: "Hiduplah raja untuk selamanya! Bagaimana mukaku tidak akan muram, kalau kota, tempat pekuburan nenek moyangku, telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbangnya habis dimakan api?" Nehemia 2:1-3

Ketika mendapat kesempatan, Nehemia tidak tergesa-gesa dalam menyampaikan isi hatinya, bahkan ketika ditanya oleh Raja, mengenai apa yang dikehendakinya, Nehemia segera kembali kepada Allah untuk berdoa dan mendapatkan hikmat, untuk dapat memberikan jawaban yang tepat dengan sasaran. Lalu kata raja kepadaku: "Jadi, apa yang kauinginkan?" Maka aku berdoa kepada Allah semesta langit, kemudian jawabku kepada raja: "Jika raja menganggap baik dan berkenan

kepada hambamu ini, utuslah aku ke Yehuda, ke kota pekuburan nenek moyangku, supaya aku membangunnya kembali."Nehemia 2:4-5