Anda di halaman 1dari 11

PERAN ANTIOKSIDAN PADA EKSTRAK TEPUNG DAUN KELOR (Moringa oleifera) TERHADAP KADAR MDA (HEPAR) PADA TIKUS

Rattus novergicus strain wistar YANG DIPAPARI ASAP ROKOK AKUT Sumarno*, Theresia Puspita**, Retno Wahyuningsih***

Abstrak
Radikal bebas merupakan molekul oksigen dengan atom pada orbit terluarnya memiliki elektron tidak berpasangan, bersifat liar, tidak stabil, dan radikal. Asap rokok merupakan salah satu sumber radikal bebas. Peningkatan aktivitas radikal bebas dapat ditandai dengan peningkatan kadar MDA. Radikal bebas dapat diproteksi dengan antioksidan. Salah satu bahan makanan alami yang mengandung antioksidan adalah tepung daun kelor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak tepung daun kelor (Moringa oleifera) sebagai antioksidan terhadap penurunan kadar MDA (hepar) pada tikus Rattus novergicus strain wistar yang dipapari asap rokok akut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pemberian ekstrak tepung daun kelor terhadap penurunan kadar MDA hepar (Anova, p = 0,047). Uji lanjut Tukey menunjukkan hanya kelompok paparan asap rokok tanpa pemberian ekstrak tepung daun kelor dan kelompok paparan asap rokok dengan pemberian dosis 400 mg/hari yang berbeda secara nyata (p < 0,05). Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat pengaruh pemberian ekstrak tepung daun kelor (Moringa oleifera) terhadap penurunan kadar MDA (hepar) pada tikus yang dipapari asap rokok akut. Hasil lainnya yaitu; pemberian ekstrak tepung daun kelor efektif pada dosis 400 mg/hari dibandingkan pemberian dosis 100 mg/hari dan 200 mg/hari. Kata Kunci : Antioksidan, Ekstrak Tepung Daun Kelor (Moringa oleifera), Kadar MDA (Hepar), Asap Rokok Akut

Abstract Free Radical represent molecule of oxygen with atom which is external orbit have unpaired electron, wild, unstable, and the radical. Smoke is one of the source of free radical. Increasing of free radical activity can be marked with increase of MDA level. Free Radical can be protect with antioxidant. One of natural food element containing antioxidant is flour of kelor leaf. This research aim to know influence of gift of extract flour of kelor leaf (Moringa Oleifera) as antioxidant to decrease of MDA (hepar) level of mouse 'Rattus Novergicus strain wistar' what to get smoke of acute cigarette. The result of research indicated that influence of gift of flour extract of kelor leaf to decrease of MDA level in hepar (Anova, p = 0,047). The Tukey next test, indicate only group of smoke without gift of flour extract of kelor leaf and at group of smoke with gift of dose 400 mg/day different according to significant (p < 0,05). The conclusion of this research is there are influence of gift flour extract of kelor leaf as

antioxidant to decrease of MDA (hepar) level at mouse what to get smoke of acute cigarette. This research is also obtained by result that gift of flour extract of leaf kelor is effective at dose 400 mg/day compared to by gift 100 mg/day and 200 mg/day. Key words : Antioxidant, Flour Extract of Kelor Leaf (Moringa oleifera), MDA (Hepar) Level, Smoke of Acute Cigarette.
* *

Laboratorium Biomedik FKUB Malang ** Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Malang ***Mahasiswa Program Studi Ilmu Gizi Kesehatan Malang

PENDAHULUAN

Radikal bebas diterjemahkan dari reactive oxygen species (ROS),

merupakan suatu

molekul oksigen dengan atom pada orbit terluarnya memiliki elektron tidak berpasangan. Elektron yang kehilangan pasangan memiliki molekul yang bersifat liar, tidak stabil, dan radikal, sehingga selalu mencari pasangan elektron dengan cara merebut elektron dari molekul lain (Sadikin, 2003). Oksigen yang kita hirup akan diubah oleh sel tubuh secara konstan menjadi senyawa yang sangat reaktif, yaitu reactive oxygen species (ROS). ROS berasal dari ROS endogen dan ROS eksogen. ROS endogen berasal dari proses fisiologis. ROS eksogen berasal dari radiasi ionisasi, polutan lingkungan (asap rokok, asbes, emisi kendaraan bermotor dan industri), ozon, infeksi bakteri, jamur, virus, serta paparan zat kimia (pestisida, obat) yang bersifat sebagai oksidator (Sauriasari, 2006 ; Tuminah, 2000). Asap rokok merupakan salah satu sumber radikal bebas. Radikal bebas pada asap rokok diperkirakan dalam satu kali hisap sebanyak 1014 molekul radikal bebas akan masuk ke dalam tubuh. Oksidan yang dihasilkan oleh asap rokok dan oksidan yang dihasilkan oleh makrofag dan neutrofil yang aktif serta kandungan H2O2 yang tinggi pada asap rokok akan mempermudah propagasi radikal bebas (Widodo, 1995). Berdasarkan penelitian Ali, dkk (2004) diketahui bahwa terdapat hubungan antara lama pemaparan rokok kretek dengan peningkatan kadar MDA (salah satu parameter peningkatan aktifitas radikal bebas dalam tubuh). Indonesia merupakan salah satu negara konsumen tembakau terbesar yang menempati urutan kelima di dunia. Konsumsi tembakau di Indonesia dalam 30 tahun terakhir mengalami peningkatan tajam dari 33 milyar per tahun pada tahun 1970 menjadi 217 milyar pada tahun 2000. Prevalensi merokok orang dewasa meningkat dari 26,9% pada tahun 1995 menjadi 31,5% pada tahun 2001. Titin (2003) dalam penelitiannya diketahui bahwa lebih banyak laki-laki di pedesaan yang merokok (67,0%) dibandingkan di perkotaan (58,3%). Laporan GAPPRI (Gabungan Persatuan Pabrik Rokok Indonesia) menunjukkan pangsa pasar rokok kretek mendominasi sebanyak 88% dan 12% rokok putih (Jawa Pos, 2000). Asap rokok sebagai salah satu sumber radikal bebas dikaitkan dengan

ketidakseimbangan antara oksidan dengan antioksidan (Widodo, 1995), dengan prognosa menyebabkan kelainan pada berbagai organ. Beberapa sel tubuh yang telah terbukti mengalami kerusakan akibat radikal bebas adalah paru, sel endotel pembuluh darah, jantung (Halliwell, 1987). Sejauh ini belum banyak dibahas peran radikal bebas pada hepar khususnya

pemicu terbentuknya radikal bebas oleh rokok. Hepar merupakan organ detoksifikasi untuk obat, bahan kimia, bahan toksik yang produk diantaranya adalah radikal bebas. Dalam keadaan normal, produk radikal bebas tidak akan menyebabkan kerusakan hepar, oleh karena hepar memiliki sifat protektor/antioksidan yang terbaik dibanding organ lain (Ali, 1997). Asap rokok diketahui merupakan senyawa kimia kompleks yang mengandung 4700 bahan kimia dengan konsentrasi oksidan dan radikal bebas yang tinggi baik pada fase gas maupun fase tar. Radikal bebas dapat diproteksi oleh sistem protektor radikal bebas. Sistem tersebut berupa proteksi enzimatik dan non enzimatik (Subandi, 1999). Potensi antioksidan yang lemah atau apabila peningkatan oksidan dalam jumlah tinggi maka akan terjadi efek oksidan yang luas sehingga dapat terjadi kerusakan sel yang irreversibel. Integritas jaringan akan berfungsi baik jika terdapat keseimbangan antara produksi radikal bebas dengan sistem antioksidan. Antioksidan didefinisikan sebagai zat yang anti terhadap zat lain yang bekerja sebagai oksidan dan merupakan zat bioaktif yang mampu mereduksi radikal bebas menjadi suatu molekul stabil (Mayes, 1995). Antioksidan dapat berupa antioksidan enzim dan vitamin. Antioksidan enzim meliputi superoksida dismutase, katalase dan glutation peroksidase, sedangkan antioksidan vitamin terdiri vitamin A, C, dan E. Beberapa contoh bahan makanan sumber antioksidan yaitu apel, tomat, teh hijau, daun kelor, dan sebagainya. Daun kelor sebagai salah satu alternatif bahan makanan sumber antioksidan belum banyak diteliti kegunaannya dalam menurunkan aktifitas radikal bebas di dalam tubuh. Di Indonesia kelor dikenal sebagai jenis tanaman sayuran yang sudah dibudidayakan. Penyebaran tanaman kelor banyak ditemukan di Aceh, Kalimantan, Ujung Pandang, Kupang dan Jawa (Dinas Informasi dan Komunikasi, 2005). Daun kelor berdasarkan berat keringnya mengandung protein sekitar 27% dan kaya vitamin A dan C, kalsium, besi, dan phosphorus (Winarno, 2005). Berdasarkan data yang telah diuraikan di atas, maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui sejauh mana manfaat bahan makanan alami (daun kelor) sebagai salah satu antioksidan dalam upaya pencegahan terhadap resiko peningkatan radikal bebas dalam tubuh, dengan cara penilaian parameter ROS adalah MDA (Malondialdhyde).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak tepung daun kelor (Moringa oleifera) sebagai antioksidan terhadap penurunan kadar MDA (hepar) pada tikus Rattus novergicus strain wistar yang dipapari asap rokok akut. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan secara experiment dengan menggunakan desain penelitian rancangan acak lengkap (RAL) dan Post Test-Only Control Group. Variabel yang diukur adalah aktivitas radikal bebas dengan parameter kadar MDA di hepar, dengan menggunakan metode TBA dari Uchiyama dan Mihara. Penelitian (pemeliharaan tikus dan pemeriksaan kadar MDA) dilakukan di Laboratorium Farmakologi dan pembacaan spektrofotometri di Lab. Faal Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang. Penelitian dilakukan selama 14 hari. Sampel penelitian ini adalah tikus Rattus novergicus strain wistar, dengan kriteria inklusi : tikus jantan sehat, aktif, umur 8-12 minggu, berat badan 160 200 gram. HASIL PENELITIAN Pemeriksaan kadar MDA diambil dari jaringan hepar yang dilakukan pada akhir penelitian. Hasil pemeriksaan kadar MDA hepar dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Hasil Kadar MDA (Hepar)


Kelompok MDA (x SD) 0.3665 0.2445 0.1671 0.0437 0.1723 0.01718 0.0898 0.0200 Anova

P1 P2 P3 P4
Sumber : Data Diolah, 2007

p= 0.047

Keterangan : Kadar MDA diolah dengan uji Anova menunjukkan p = 0,047 (p < 0,05)

Berdasarkan Tabel 1, dapat diketahui bahwa hasil rata-rata kadar MDA menunjukkan nilai tertinggi terdapat pada kelompok paparan asap rokok tanpa pemberian ekstrak tepung daun kelor (P1). Rata-rata kadar MDA menunjukkan nilai terendah pada kelompok paparan asap

rokok dengan pemberian dosis 400 mg/hari (P4). Pengaruh pemberian ekstrak tepung daun kelor terhadap kadar MDA dapat dilihat pada Gambar 1.
0.5 0.45 0.4 0.35 0.3 0.25 0.2 0.15 0.1 0.05 0 0.3665

Kadar MDA Hepar

0.1671 a ab

0.1723 0.0898 ab b

Taraf Perlakuan

Gambar 1 Grafik Pengaruh Pemberian Ekstrak Tepung Daun Kelor Terhadap Kadar MDA di Hepar Keterangan : Notasi a, b, dan ab menunjukkan letak beda pada tiap taraf perlakuan dengan makna ; notasi yang berbeda (a dan b) menyatakan terdapat perbedaan kadar MDA dan notasi yang sama (ab) menyatakan tidak terdapat perbedaan kadar MDA (p < 0,05).

Gambar 1. menunjukkan bahwa rata-rata kadar MDA hepar memiliki nilai tertinggi pada kelompok paparan asap rokok tanpa pemberian ekstrak tepung daun kelor (kolom a) dan terendah pada kelompok paparan asap rokok dengan pemberian dosis 400 mg/hari (kolom b). Hasil uji Anova menunjukkan adanya pengaruh pemberian ekstrak tepung daun kelor terhadap penurunan kadar MDA hepar (p < 0,05). Dari hasil uji lanjut Tukey menunjukkan hanya kelompok paparan asap rokok tanpa pemberian ekstrak tepung daun kelor (kolom a) dan pada kelompok paparan asap rokok dengan pemberian dosis 400 mg/hari (kolom b) yang berbeda secara nyata (p < 0,05). PEMBAHASAN MDA digunakan sebagai indikator stres oksidatif. Pada penelitian ini menggunakan pemeriksaan kadar MDA di hepar sebagai indikator aktivitas radikal bebas. MDA terbentuk apabila terjadi peroksidasi lemak (lipid peroxidation) pada membran sel. Peroksida lemak adalah reaksi radikal bebas (radikal hidroksil) dengan polyunsaturated fatty acid (PUFA) pada membran sel. Hasil penelitian menunjukkan terjadi penurunan kadar MDA di hepar secara bermakna (p < 0.05). Kelompok dengan paparan asap rokok tanpa pemberian ekstrak tepung daun kelor (kontrol) memiliki kadar MDA tertinggi dibandingkan dengan kelompok paparan asap rokok dengan pemberian dosis 100 mg/hr, 200 mg/hr dan 400 mg/hr. Hal ini dapat dijelaskan bahwa paparan asap rokok bertindak sebagai inducer terbentuknya radikal bebas pada hepar. Radikal

bebas yang terdapat dalam rokok termasuk dalam radikal eksogen. Radikal eksogen merupakan radikal bebas yang sumbernya berasal dari luar sistem tubuh (Widodo, 1997). Sumber radikal eksogen berasal dari polutan lingkungan (asap rokok, emisi kendaraan bermotor dan industri, asbes), radiasi ionisasi, sinar ultraviolet, infeksi bakteri, jamur dan virus, serta paparan zat kimia (termasuk obat) yang bersifat mengoksidasi (Tuminah, 2000 ; Sauriasari, 2006). Komponen asap rokok seperti nikotin, tar, dan hidrokarbon mampu memicu terbentuknya radikal bebas pada berbagai sel tubuh dan menyebabkan terjadinya reaksi berantai yang dapat menyebar ke seluruh tubuh (Southorn dan Powis, 1998 ; Isnaeni, 1998). Radikal bebas yang terdapat dalam asap rokok jumlahnya sangat banyak, dalam satu kali hisapan diperkirakan masuk 1014 molekul radikal bebas. Kandungan H2O2 yang tinggi pada asap rokok akan mempermudah terjadinya kerusakan sel serta mempermudah propagasi radikal bebas (Widodo, 1995). Hasil penelitian Ali dkk (2004) menunjukkan bahwa lama pemaparan asap rokok menyebabkan aktivitas radikal bebas semakin meningkat. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya kadar MDA dan menurunnya kadar SOD pada hepar tikus. Peningkatan aktivitas radikal bebas di hepar disebabkan oleh adanya paparan asap rokok. Rokok terdiri dari komponen gas (nitrogen, NO, CO, CO2, O), fase asap (terdiri dari sejumlah molekul organik yang mudah menguap) dan fase particulate (tar dan nikotin yang membuat asap rokok terlihat). Fase gas dan fase asap disebut sebagai fase gas, sedangkan fase particulate disebut sebagai fase tar (Uddin, 1995). Fase gas didefinisikan sebagai kandungan asap rokok yang dapat melewati filter 0,1 mm. Hasil penelitian Thomas (1995) dalam Ali (2004) menunjukkan bahwa fase gas terbukti menginisiasi autooksidasi in vitro dari PUFA sehingga terjadi peroksidasi lemak. Menurut Halliwel dan Gutteridge (1989), fase tar mengandung komplek hidrokarbon yang akan bereaksi dengan nitrogen oksida (NO) dan membentuk senyawa radikal lain. Nitrogen oksida yang terdapat pada rokok dapat menginisiasi PUFA dan mengakibatkan pembentukan peroksidasi lemak. Hidrokarbon pada asap rokok mempunyai ikatan rangkap yang akan bereaksi dengan nitrogen monoksida untuk membentuk senyawa radikal bebas lain yaitu radikal peroksida. Radikal peroksida tersebut dapat melalui aliran darah dan memulai reaksi peroksidasi pada lokasi yang jauh dari asalnya. Pembakaran kertas rokok juga menghasilkan radikal bebas. Kerusakan jaringan akibat radikal bebas dapat dicegah apabila sistem proteksi enzimatik dalam sel dan sistem proteksi nonenzimatik dalam tubuh cukup untuk menghambat

terjadinya reaksi propagasi radikal bebas dan dapat mendetoksikasi radikal bebas yang terbentuk (Widodo, 1997). Proteksi terhadap radikal bebas disebut sebagai antioksidan. Penelitian ini menggunakan tepung daun kelor sebagai antioksidan. Antioksidan adalah inhibitor yang bekerja menghambat oksidasi dengan cara bereaksi dengan radikal bebas reaktif membentuk radikal bebas tak reaktif yang relatif stabil (Sofia, 2003). Kandungan antioksidan yang terdapat pada tepung daun kelor adalah vitamin C, beta karoten dan tokoferol. Kandungan vitamin C banyak terdapat pada daun kelor (220 mg/100 gram bahan) dan mengalami penurunan pada tepung daun kelor (17,3 mg/100 gram bahan) (Fuglie, 2001). Hal ini dikarenakan kandungan vitamin C pada tepung daun kelor hilang akibat proses pemanasan. Menurut Sunita (2002), vitamin C mudah rusak karena proses pemanasan, oksidasi, dan pemasakan dengan suhu tinggi. Dalam penelitian ini tepung daun kelor mengalami proses pengeringan secara tradisional (penjemuran di bawah sinar matahari dengan menggunakan suhu 30C selama 4 jam). Proses pengeringan pada suhu 65C akan menyebabkan kehilangan nutrisi (Fellows, 1996). Suhu pemanasan 65C selama 30 menit dan suhu pemanasan 80C selama 5 detik akan menyebabkan kehilangan vitamin C sebanyak 25% dan pemanasan dengan suhu tinggi (140C selama 2 detik) akan menyebabkan kehilangan vitamin C sebanyak 10-20% (Mark, 1997). Kandungan beta karoten pada tepung daun kelor yaitu sebesar 16,3 mg/100 gram bahan. Beta karoten merupakan zat yang di dalam tubuh akan diubah menjadi vitamin A dan berfungsi sebagai antioksidan. Beta karoten diketahui berfungsi sebagai scavenger (pemungut) radikal bebas. Beta karoten melindungi membran lipid dari peroksidasi, dan sekaligus menghentikan reaksi rantai dari radikal bebas. Beta karoten dapat menangkap O2 karena adanya 9 ikatan rangkap pada rantai karbonnya. Energi untuk reaksi ini dibebaskan dalam bentuk panas sedemikian rupa sehingga sistem regenerasi tidak diperlukan. Beta karoten juga bereaksi dengan senyawa radikal peroksil. Pertama-tama membentuk radikal karoten peroksil dan kemudian membentuk karoten peroksida. Mekanisme beta karoten dalam bereaksi dengan radikal bebas sebagai berikut : -Carotene* + ROO* inactive products Kandungan ekstrak tepung daun kelor lain yang dapat menangkal radikal bebas adalah tokoferol (vitamin E). Kandungan tokoferol pada tepung daun kelor sebesar 113 mg/100 gram bahan. Vitamin E sebagai vitamin larut lemak dimanfaatkan sebagai basis dari pertahahan

terhadap proses peroksidase asam lemak tidak jenuh ganda yang terdapat dalam fosfolipid membran selluler dan subselluler. Fosfolipid pada mitokondria, retikulum endoplasmik, serta membran plasma mempunyai afinitas terhadap -tokoferol dan vitamin E terkonsentrasi pada tempat-tempat ini. Fungsi utama vitamin E adalah sebagai antioksidan yang larut dalam lemak dan mudah memberikan hidrogen dari gugus hidroksil (OH) pada struktur cincin ke radikal bebas (Sunita, 2002). Kerja antioksidan yang dilakukan tokoferol efektif pada konsentrasi O2 yang tinggi, misalnya membran eritrosit dan membran traktus respiratoris. Mekanisme vitamin E dalam bereaksi dengan radikal bebas sebagai berikut : ROO + TocOH ROOH + TocO* ROO* + TocOH* ROOH + Produk bukan radikal bebas Reaksi di atas menunjukkan bahwa aktivitas vitamin E adalah dengan cara memutuskan rantai yang dimiliki tokoferol (TocOH) terhadap rantai peroksil (ROOH) (Mayes, 1995). Vitamin E juga berfungsi sebagai penetrasi membran dari peningkatan PUFA (Tarr, Samson, et al, 1993). Vitamin C (asam askorbat), vitamin A (beta karoten), dan vitamin E (tokoferol) bertindak sebagai antioksidan pemutus reaksi rantai. Vitamin C bersifat hidrofilik dan berperan dalam sitosol dan cairan ekstrasel. Sebaliknya beta karoten dan tocoferol bersifat lipofilik sehingga dapat berperan pada membran sel untuk mencegah peroksidasi lipid. Karena keberadaannya dalam membran, vitamin E dapat bereaksi dengan radikal lipid (L.) dan radikal peroksilipid (LOO.), dengan reaksi ; Toc.H + L. Tox. + LH Toc.H + LOO. Toc. + LOOH Radikal vitamin E (Toc.) tidak terlalu reaktif karena terjadinya peristiwa resonansi. Vitamin E hanya dapat berperan bila tekanan oksigennya tinggi. Pada tekanan oksigen yang rendah peran vitamin E digantikan oleh beta karoten agak stabil karena adanya resonansi dalam molekulnya (Tjokroprawiro, 1993). KESIMPULAN Terdapat pengaruh pemberian ekstrak tepung daun kelor (Moringa oleifera) sebagai antioksidan terhadap penurunan kadar MDA (hepar) pada tikus Rattus novergicus strain wistar yang dipapari asap rokok akut. Disamping itu pada penelitian ini juga diperoleh hasil bahwa pemberian ekstrak tepung daun kelor efektif pada dosis 400 mg/hari dibandingkan dengan pemberian 100 mg/hari dan 200 mg/hari.
*

Saran Perlu dilakukan penelitian mengenai dosis pemberian maksimal ekstrak daun kelor dan lama pemberian sehingga efektif menurunkan kadar MDA, penelitian lanjut mengenai kerusakan jaringan lain akibat radikal bebas dari asap rokok dengan pemberian antioksidan ekstrak tepung daun kelor, dan penelitian mengenai kadar toksisitas dari pemberian ekstrak tepung daun kelor. DAFTAR PUSTAKA Ali, Mulyohadi, Yuyun Yueniwati, 2004. Pengaruh Paparan Asap Rokok Kretek terhadap Peroksidasi Lemak dan System Proteksi Superoksid Dismutase Hepar Tikus Wistar. Jurnal Kedokteran YARSI. Dinas Informasi dan Komunikasi, 2005. Cegah Gizi Buruk Konsumsi Daun Kelor www.jatim.go.id. Diakses pada tanggal 14-11-2005. Fellows, PJ, 1996. Food Processing Technology : Principles and Practice. Ellis Horwood Limited : England. Fuglie, Lowell. 2001. Dried Moringa Leaves. www.fuglie@telecomplus.sn. Gutteridge, John MC Haliwell Bary. 1996. Antioxidant in Nutrition, Health, and Disease. London Oxford University Press. P.125. Haliwell, 1991. ROS in Living System : Source, Biochemistry, and Role Human Disease. The American Journal Medicine. Isnaeni, 1998. Tesis ; Efek Pemaparan Asap Rokok pada Circulating Endotel Tikus Diabetes. Program Sarjana Universitas Brawijaya Malang : Malang. Laporan GAPPRI, 2000. Ancam Kubur 730 Pabrik Rokok Kretek. Jawa Pos. Mark, L Wahlqvist, 1997. Food and Nutrition : Australasia, Asia and The Pacific. Published by Allen Unwin : Australia Inc. P. 89. Mayes PA, 1995. Lipid dengan Makna Fisiologis yang Penting. Terjemahan oleh DH Ronardy dan J Oswari (Eds). Buku Kedokteran EGC : Jakarta. P. 174 Sadikin, 2003. Antioksidan, Radikal Bebas, dan Penuaan. www.chem-is.try.com. Sauriasari, Rani. 2006. Mengenal-dan-Menangkal-Radikal-Bebas. http://www.beritaiptek.com/zberita-beritaiptek-2006-01-22-.shtml as retrieved on 20 Apr 2006 00:58:30 GMT.Ahad, 22 Januari 2006 Sofia, Dinna, 2006. Antioksidan dan Radikal. www.chem-is.try.com.

Southorn, and Powis, 1988. Free Radical in Medicine II. Involvement in Human Disease Mayo Clinic Press. Subandi, 1995. Efek Antioksidan (vitamin C) terhadap Jumlah dan Fungsi Makrofag Alveoli serta Kadar SOD Jaringan Paru Tikus yang Dipapar Asap Rokok. FKUB: Malang. Sunita Almatsier, 2002. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Gramedia Pustaka Utama : Jakarta. Tarr, Merril, Samson Freed, et al, 1993. Oxygen Free Radicals In Tissue Damage. Birkhauser Boston : Basel. Titin, 2003. Konsumsi Tembakau dan Prevalensi Merokok di Indonesia. titin@litbang.depkes.go.id / jkpkbppk-gdl-res-2002-anna-837-merokok. Research Report dari JKPKBPPK / 2003-02-27 11:14:00.

Tjokroprawiro A, Pranawa, Subagyo Ali, 1993. Oksidan dan Antioksidan Peranannya Dalam Mencegah Progresivitas Kelainan Pembuluh Darah ; Disampaikan Dalam Simposium Persatuan Ahli Penyakit Dalam Cabang Surabaya (Surabaya, 28 Agustus, 1993). Surabaya. Tuminah, Sulistyowati, 2000. Radikal Bebas dan Antioksidan Kaitannya dengan Nutrisi dan Penyakit Kronis. Pusat Penelitian Penyakit Tidak Menular ; Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI : Jakarta. Uchiyama M, Mihara, 1978. Determination of Malondialdehyde Precursor in Tissue by Thibarbiturat Acid Test. Anal Biochemic. Uddin, J. 1995, Tobacco Smokes, Blessing or Course ?. Jurnal Kedokteran YARSI Volume 3 No 2. Widodo, MA, 1995. Efek Pemicu Radikal Bebas dan Vitamin E pada Diabetes Komplikasi Pembuluh Darah Tikus Diabetes. Laporan Penelitian Hibah Bersaing 1992-1995 ; Malang. Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya : Malang. Winarno, 2005. Moringa oleifera. www.google.com. Diakses tanggal 12 Desember 2005.