Makalah DHF

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG DHF (Dengue Haemorraghic Fever) pada masyarakat awam sering disebut sebagai demam berdarah. Menurut para ahli, demam berdarah dengue disebut sebagai penyakit (terutama sering dijumpai pada anak) yang disebabkan oleh virus Dengue dengan gejala utama demam, nyeri otot, dan sendi diikuti dengan gejala pendarahan spontan seperti; bintik merah pada kulit,mimisan, bahkan pada keadaan yang parah disertai muntah atau BAB berdarah. Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue Famili Flaviviridae,d engan genusnya adalah flavivirus. Virus ini mempunyai empat serotipe yang dikenal dengan DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4. Selama ini secara klinik mempunyai tingkatan manifestasi yang berbeda, tergantung dari serotipe virus Dengue. Morbiditas penyakit DBD menyebar di negara-negara Tropis dan Subtropis. Disetiap negara penyakit DBD mempunyai manifestasi klinik yang berbeda. Di Indonesia Penyakit DBD pertama kali ditemukan pada tahun 1968 di Surabaya dan sekarang menyebar keseluruh propinsi di Indonesia. Timbulnya penyakit DBD ditenggarai adanya korelasi antara strain dan genetik, tetapi akhir-akhir ini ada tendensi agen penyebab DBD disetiap daerah berbeda. Hal ini kemungkinan adanya faktor geografik, selain faktor genetik dari hospesnya. Selain itu berdasarkan macam manifestasi klinik yang timbul dan tatalaksana DBD secara konvensional sudah berubah. Infeksi virus Dengue telah menjadi masalah kesehatan yang serius pada banyak negara tropis dan sub tropis. B. TUJUAN PENULISAN 1. Tujuan Umum Mahasiswa dapat memahami asuhan keperawatan anak pada klien DHF (Dengue Haemorraghic Fever). 2. Tujuan Khusus Mahasiswa dapat menjelaskan : 1. Definisi penyakit DHF pada anak. 2. Etiologi penyakit DHF pada anak. 3. Manifestasi klinik penyakit DHF pada anak. 4. Patofisiologi penyakit DHF pada anak. 5. Komplikasi penyakit DHF pada anak. 6. Klasifikasi penyakit DHF pada anak. 7. Pemeriksaan Penunjang DHF pada anak. 8. Penatalaksanaan penyakit DHF pada anak.

BAB II KONSEP DASAR A. DEFINISI Dengue haemoragic fever adalah penyakit demam akut yang disertai dengan adanya manifestasi perdarahan, yang bertendensi mengakibatkan renjatan yang dapat menyebabkan kematian (Arief Mansjoer &Suprohaita; 2000; 419). Demam berdarah dengue adalah penyakit yang terutama terdapat pada anak dengan gejala utama demam, nyeri otot dan sendi, dan biasanya memburuk pada dua hari pertama (Soeparman; 1987; 16). Dari beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty yang terdapat pada anak dan orang dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan nyeri sendi yang disertai ruam atau tanpa ruam. B. ETIOLOGI 1. Virus dengue Virus dengue yang menjadi penyebab penyakit ini termasuk ke dalam Arbovirus (Arthropodborn virus) group B, tetapi dari empat tipe yaitu virus dengue tipe 1,2,3 dan 4 keempat tipe virus dengue tersebut terdapat di Indonesia dan dapat dibedakan satu dari yang lainnya secara serologis virus dengue yang termasuk dalam genus flavivirus ini berdiameter 40 nonometer dapat berkembang biak dengan baik pada berbagai macam kultur jaringan baik yang berasal dari sel – sel mamalia misalnya sel BHK (Babby Homster Kidney) maupun sel – sel Arthropoda misalnya sel aedes Albopictus. (Soedarto, 1990; 36). 2. Vektor Virus dengue serotipe 1, 2, 3, dan 4 yang ditularkan melalui vektor yaitu nyamuk aedes aegypti, nyamuk aedes albopictus, aedes polynesiensis dan beberapa spesies lain merupakan vektor yang kurang berperan.infeksi dengan salah satu serotipe akan menimbulkan antibodi seumur hidup terhadap serotipe bersangkutan tetapi tidak ada perlindungan terhadap serotipe jenis yang lainnya (Arief Mansjoer &Suprohaita; 2000; 420). Nyamuk Aedes Aegypti maupun Aedes Albopictus merupakan vektor penularan virus dengue dari penderita kepada orang lainnya melalui gigitannya nyamuk Aedes Aegyeti merupakan vektor penting di daerah perkotaan (Viban) sedangkan di daerah pedesaan (rural) kedua nyamuk tersebut berperan dalam penularan. Nyamuk Aedes berkembang biak pada genangan Air bersih yang terdapat bejana – bejana yang terdapat di dalam rumah (Aedes Aegypti) maupun yang terdapat di luar rumah di lubang – lubang pohon di dalam potongan bambu, dilipatan daun dan genangan air bersih alami lainnya ( Aedes Albopictus). Nyamuk betina lebih menyukai menghisap darah korbannya pada siang hari terutama pada waktu pagi hari dan senja hari. (Soedarto, 1990 ; 37). 3. Host Jika seseorang mendapat infeksi dengue untuk pertama kalinya maka ia akan mendapatkan imunisasi yang spesifik tetapi tidak sempurna, sehingga ia masih mungkin untuk terinfeksi virus

yang akan merangsang PGE2 di Hipotalamus sehingga terjadi termo regulasi instabil yaitu hipertermia yang akan meningkatkan reabsorbsi Na+ dan air sehingga terjadi hipovolemi. Bersamaan dengan berlangsung demam. Pathways D. 39). 38). Demam Demam terjadi secara mendadak berlangsung selama 2 – 7 hari kemudian turun menuju suhu normal atau lebih rendah. Masa virus dengue inkubasi 3-15 hari. trombin. Asidosis metabolik juga disebabkan karena kebocoran plasma yang akhirnya tejadi perlemahan sirkulasi sistemik sehingga perfusi jaringan menurun jika tidak teratasi terjadi hipoxia jaringan. Virus hanya dapat hidup dalam sel yang hidup.sebagai reaksi terhadap infeksi terjadi (1) aktivasi sistem komplemen sehingga dikeluarkan zat anafilaktosin yang menyebabkan peningkatan permiabilitas kapiler sehingga terjadi perembesan plasma dari ruang intravaskular ke ekstravaskular. sehingga harus bersaing dengan sel manusia terutama dalam kebutuhan protein. Adanya komplek imun antibodi – virus juga menimbulkan Agregasi trombosit sehingga terjadi gangguan fungsi trombosit. 1990 . nyeri tulang dan persediaan. Hipovolemi juga dapat disebabkan peningkatkan permeabilitas dinding pembuluh darah yang menyebabkan kebocoran palsma. Hal tersebut menyebabkan pengaktifan complement sehingga terjadi komplek imun Antibodi – virus pengaktifan tersebut akan membetuk dan melepaskan zat (3a. (2) kelainan hemostasis. (Soedarto. Nyeri punggung . 2. Ketiga hal tersebut menyebabkan perdarahan berlebihan yang jika berlanjut terjadi shock dan jika shock tidak teratasi terjadi Hipoxia jaringan dan akhirnya terjadi Asidosis metabolik. (2) agregasi trombosit menurun. C5a. nyeri kepala dan rasa lemah dapat menyetainya. C. Persaingan tersebut sangat tergantung pada daya tahan tubuh manusia. 1990 . 2000. apabila kelainan ini berlanjut akan menyebabkan kelainan fungsi trombosit sebagai akibatnya akan terjadi mobilisasi sel trombosit muda dari sumsum tulang dan (3) kerusakan sel endotel pembuluh darah akan merangsang atau mengaktivasi faktor pembekuan. Ketiga faktor tersebut akan menyebabkan (1) peningkatan permiabilitas kapiler. yang disebabkan oleh vaskulopati. trombositopenia. bradikinin. serotinin. (Soedarto. Perdarahan Perdaran biasanya terjadi pada hari ke 2 dan 3 dari demam dan umumnya terjadi pada kulit dan . gejala – gejala klinik yang tidak spesifik misalnya anoreksia. rata-rata 5-8 hari. dan kuagulopati (Arief Mansjoer &Suprohaita. coagulopati. PATOFISIOLOGI Virus dengue yang telah masuk ketubuh penderita akan menimbulkan virtemia(adanya virus di dalam darah).dengue yang sama tipenya maupun virus dengue tipe lainnya. 419). Dengue Haemoragic Fever (DHF) akan terjadi jika seseorang yang pernah mendapatkan infeksi virus dengue tipe tertentu mendapatkan infeksi ulangan untuk kedua kalinya atau lebih dengan pula terjadi pada bayi yang mendapat infeksi virus dengue untuk pertama kalinya jika ia telah mendapat imunitas terhadap dengue dari ibunya melalui plasenta. Histamin). trombositopeni. MANIFESTASI KLINIS INFEKSI VIRUS DENGUE 1.

1990 . splenomegali 4. c) Derajat III Penderita syok ditandai oleh gejala kegagalan peredaran darah seperti nadi lemah dan cepat (> 120 / menit) tekanan nadi sempit (< 20 mmHg) tekanan darah menurun (120 / 80 mmHg) sampai tekanan sistolik dibawah 80 mmHg. Demam tinggi dan mendadak dan terus menerus selama 2-7 hari Manifestasi perdarahan : uji rumpeleede positif. Hepatomegali Pada permulaan dari demam biasanya hati sudah teraba. ( Soedarto. jari kaki serta sianosis disekitar mulut. Rontgen thorax : Efusi pleura. (Nelson. epistaksis. 39). berkeringat dan kulit tampak biru.tekanan darah tidak terukur (denyut jantung > . epistaksis. F. Uji test tourniket (+) . hepatomegali. 39). Bila syok terjadi pada masa demam maka biasanya menunjukan prognosis yang buruk. 1995 . muntah – muntah. melena 2. Dengue Haemoragic Fever (DHF) dibagi menjadi 4 tingkat (UPF IKA. ekimosa. d) Derajat IV Nadi tidak teraba. (Soederita. KLASIFIKASI DHF Menurut derajat ringannya penyakit. 1993 . diare maupun obstipasi dan kejang – kejang. 201) yaitu : a) Derajat I Panas 2 – 7 hari . melena. ptekiae. uji taniquet hasilnya positif b) Derajat II Sama dengan derajat I di tambah dengan gejala – gejala pendarahan spontan seperti petekia. Perdarahan ringan hingga sedang dapat terlihat pada saluran cerna bagian atas hingga menyebabkan haematemesis. Nyeri sendi . dingin pada ujung hidung. rasa sakit di daerah belakang bola mata (retro orbita).140 mmHg) anggota gerak teraba dingin. 3. (soedarto . perdarahan gusi. 296). nyeri kepala. 1994 . gejala umum tidak khas.dapat berupa uji tocniguet yang positif mudah terjadi perdarahan pada tempat fungsi vena. diare atau konstipasi. muntah. 39). haematemesis. Gejala klinik lain yaitu nyeri epigasstrium. 349). TANDA DAN GEJALA 1. epimosa. petekia dan purpura. 1) 2) PEMERIKSAAN PENUNJANG Darah Trombosit menurun. G. anoreksia. (Ngastiyah. HB meningkat lebih 20 % HT meningkat lebih 20 % Leukosit menurun pada hari ke 2 dan ke 3 Protein darah rendah Ureum PH bisa meningkat NA dan CL rendah Serology : HI (hemaglutination inhibition test). hematemesis. meskipun pada anak yang kurang gizi hati juga sudah. 1995 . (Soedarto. perdarahan gusi telinga dan sebagainya. 1995 . nyeri ulu hati 3. Perdarahan gastrointestinat biasanya di dahului dengan nyeri perut yang hebat. E. Kadang ditemui keluhan batuk pilek dan sakit menelan. Keluhan pada saluran pencernaan : mual. ekimosis. 39). A. nyeri otot. 4. 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) B. jari tangan. Renjatan (Syok) Permulaan syok biasanya terjadi pada hari ke 3 sejak sakitnya penderita. Bila terjadi peningkatan dari hepatomegali dan hati teraba kenyal harus di perhatikan kemungkinan akan tejadi renjatan pada penderita . dimulai dengan tanda – tanda kegagalan sirkulasi yaitu kulit lembab.

tensi. nadi. J. 4) Pemberian cairan intravena (biasanya ringer laktat. 9) Pemberian antibiotik bila terdapat kekuatiran infeksi sekunder. NaCl Faali) merupakan cairan yang paling sering digunakan. PENCEGAHAN Vaksin pencegahan DBD hingga saat ini belum tersedia. pemberian cairan merupakan hal yang paling penting bagi penderita DHF. perubahan tanda-tanda vital. 3) Anemia aplastik . Mengubur atau menyingkirkan barang – barang bekas yang dapat menampung air Pemberantasan vector: Fogging ( penyemprotan ) Kegiatan ini dilakukan bila hasil penyelidikan epidemiologis memenuhi kriteria Abatisasi Semua tempat penampungan air di rumah dan bangunan yang ditemukan jentik Aedes aegypti ditaburi bubuk abate dengan dosis 1 sendok makan peres (10 gram) abate untuk 100 liter air. 2) Hematokrit yang cenderung mengikat. 10) Monitor tanda-tanda dan renjatan meliputi keadaan umum. oleh sebab itu pencegahan dititik beratkan pada pemberantasan nyamuk dengan penyemprotan insektisida dan upaya membasmi jentik nyamuk yang dilakukan dengan 3 M. teh manis. 5) Monitor tanda-tanda vital tiap 3 jam (suhu. Infus diberikan pada pasien DBD tanpa renjatan apabila : 1) Pasien terus menerus muntah. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan penderita dengan DHF adalah sebagai berikut : 1) Tirah baring atau istirahat baring.5 liter/24 jam) dapat berupa : susu. pernafasan) jika kondisi pasien memburuk. 11) Bila timbul kejang dapat diberikan Diazepam. adanya leukopenia. 7) Pemberian obat antipiretik sebaiknya dari golongan asetaminopen. sirup dan beri penderita sedikit oralit.H. bradikardi relatif. Ht dan trombosit setiap hari. Dimana serangan demam lebih mendadak dan lebih pendek tapi suhu di atas 400C disertai ruam dan infeksi konjungtiva ada rasa nyeri sendi dan otot. 2) Demam tyfoid Biasanya timbul tanda klinis khas seperti pola demam. limfositosis relatif. DIAGNOSA BANDING Gambaran klinis DHF seringkali mirip dengan beberapa penyakit lain seperti : 1) Demam chiku nguya. 6) Periksa Hb. hasil pemeriksaan laboratorium yang memburuk. observasi ketat tiap jam. Pada kasus dengan renjatan pasien dirawat di perawatan intensif dan segera dipasang infus sebagai pengganti cairan yang hilang dan bila tidak tampak perbaikan diberikan plasma atau plasma ekspander atau dekstran sebanyak 20 – 30 ml/kg BB. Gerakan 3 M Menguras tempat – tempat penampungan air secara teratur sekurang – kurangnya sekali seminggu atau penaburan bubuk abate ke dalamnya. 3) Minum banyak (2 – 2. 8) Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut. Pada DBD tanpa renjatan hanya diberi banyak minum yaitu 1½-2 liter dalam 24 jam. Menutup rapat tempat penampungan air. 2) Diet makan lunak. Cara pemberian sedikit demi sedikit dengan melibatkan orang tua. tidak dapat diberikan minum sehingga mengancam terjadinya dehidrasi. I.

Kondisi ini terjadi semenjak empat hari yang lalu.E Tgl Lahir : 9 Juli 1995 Umur : 28 tahun Jenis Kelamin : laki-laki Jenis Kelamin : Laki-laki Suku/bangsa : Jawa/Indonesia Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia Agama : Islam Agama : Islam Pendidikan : TK pendidikan : SLTA Pekerjaan : Pekerjaan : Karyawan Alamat : Gubeng Jaya Sby 2) RIWAYAT KEPERAWATAN a) Riwayat Penyakit Sekarang Klien masuk rumah sakit dengan dibawa oleh keluarga/orang tua setelah sebelumnya mengalami demam semenjak hari rabu siang (sepulang sekolah)/telah lima hari demam. demam lebih cepat menghilang. demam tidak berkurang dengan pemberian obat-obatan turun panas dan kompres. Ibu tidak menderita penyakit demam. campak. d) Riwayat Penyakit Keluarga Orang tua tidak ada yang menderita penyakit jantung. timbul juga perdarahan pada stadium lanjut. Reg.. atau perdarahan serta mules yang berlebihan. Y. Med : 1005905 Pengkajian : 11 Juni 2001. Panjang badan 45 Cm. Bayi menangis spontan kuat. Demam yang dialami klien tidak berkurang (relatif menetap). Berat badan saat lahir 3200 gram.Penderita tampak anemis. Penyebab demam tidak diketahui keluarga. penyakit kencing manis e) Riwayat Imunisasi Klien telah mendapatkan Imunisasi lengkap.09. Sutomo. Ibu juga tidak pernah mengalami trauma fisik selama kehamilan. c) Riwayat Persalinan Persalinan spontan dalam kondisi aterm. Klien dan keluarga mengatakan tidak tahu penyebab tidak nafsu makan. PENGKAJIAN Tanggal masuk : 10 Juni 2001 Jam Masuk : 09. Berat placenta tidak diketahui. Saat ini klien kurang nafsu makan. b) Riwayat Kehamilan Selama kehamilan ibu tidak pernah menderita penyakit. pemeriksaan darah tepi menunjukkan pansitopenia. demam timbul karena infeksi sekunder. Y Nama Orang Tua : Tn. Selama kehamilan ibu selalu memeriksakan dirinya ke Puskesmas.00 WIB 1) IDENTITAS Nama Klien : An.00 WIB Ruang : Menular Anak No. Bayi/klien tidak mengalami Cyanosis/icterus. Pada hari minggu pagi anak mengalami epistaksis dan kemudian dibawa ke RS Dr. Dengan kondisinya saat ini klien merasa badannya agak lemas. 4) Purpura trombositopenia idiopati (ITP) Purpura umumnya terlihat lebih menyeluruh. tidak terjadi hemokonsentrasi. BAB III LAPORAN KASUS ASUHAN KEPERAWATAN DHF A. Klien selalu merasa kenyang setelah makan 2-3 sendok makan dan mengatakan perutnya terasa penuh. belum pernah mendapatkan booster (imunisasi .

simetris . Keluarga biasa mengantung baju di belakang pintu. diatasi dengan obat-obatan yag dibeli keluarga f) Riwayat Tumbuh Kembang Klien mampu tersenyum umur 1 bulan. duduk dan merangkak 11 bulan dan berjalan 14 bulan. klien memiliki banyak teman. pada jarak 10 meter dari rumah klien terdapat tetangga yang terjangkit penyakit Demam Berdarah.Tekanan darah : 100/70 mmHg .Suhu : 37. Status Present . simetris Rambut : Hitam. lurus.8 b. ibu juga menyatakan tidak ada tetangganya yang menderita penyakit yang sama dengan yang diderita An.Keadaan umum : Tampak sakit sedang . Tempat penampungan air yang ada dirumah adalah bak mandi yang setiap hari digunakan dan tempat minuman burung yang biasa diganti tiap dua hari sekali. tengkurap umur 6 bulan. g) Riwayat Kesehatan Lingkungan Klien dan keluarga tinggal di daerah yang berpenduduk padat dengan tingkat sosial ekonomi menengah kebawah. tidak mudah dicabut Muka : Bulat.Respirasi : 24 x/menit .Nadi : 80 x/menit .Kesadaran : Compos mentis .ulangan). Penyemprotan nyamuk sering dilakukan dan terakhir kali sekitar 2 ½ bulan yang lalu.C. Riwayat demam pada pemberian vaksin DPT.Klien mampu sekolah dan mengikuti pelajaran dengan baik. 3) RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA Ibu mengatakan tidak ada keluarga yang mempunyai penyakit seperti klien. Genogram Keterangan: : Laki-laki : Perempuan : Klien : Laki-laki meninggal : Perempuan meninggal : Tinggal serumah 4) PEMERIKSAAN FISIK a. 1. Status Generalis Kepala Bentuk : Normal. distribusi merata.

Porsi d. Aktifitas Sehari-Hari No.Trakhea : Di tengah .1 porsi habis . nyeri tekan (-) .Auskultasi : Bunyi jantung I – II normal.Inspeksi : Bentuk dan pergerakan hemitoraks kiri sama dengan kanan .Palpasi : Hepar dan lien tidak teraba. buah-buahan . Kesulitan 2. Frekuensi c.Retraksi interkostal : (-) 4. Frekuensi c.Telinga : Liang telinga lapang.Palpasi : Iktus kordis teraba sela iga IV garis midlavikula kiri . . gusi tidak ada perdarahan. Ekstremitas . Abdomen .Perkusi : Batas atas sela iga II garis parasternal kiri .. wheezing (-/-) 6.2-3 x/hari .Retraksi suprasternal : (-) .Perkusi : Sonor .Auskultasi : Bising usus (+) normal 7.Hidung : Septum tidak deviasi.Bentuk : Normal. kue .Mulut : Bibir tidak kering. Kesulitan .JVP : Tidak meningkat 3.KGB : Tidak membesar . Thoraks . faring tidak hiperemis 2. sklera anikterik. ronkhi (-/-).Perkusi : Timpani . reflek cahaya (+/+).Nasi.Superior : Akral hangat. Paru . Jantung .Inspeksi : Datar. uji tourniqet (+). lidah tidak kotor. tidak ada kelainan 8. Leher .Auskultasi : Suara nafas vesikuler (+/+).Batas kiri sela iga IV garis midklavikula .Batas kanan sela iga IV garis parasternal kanan .sekret (-) . Jenis Aktifitas Di Rumah Di RSU 1. sekret (-) . Makan a.Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat .Inferior : Akral hangat c.Palpasi : Fremitus taktil dan vokal hemitoraks kiri sama dengan kanan . sianosis (-). simetris . Genitalia Eksterna . Jenis Makanan b. Nutrisi 1. Jenis Minuman b.kering. simetris . reguler. serumen (-).Mata : Konjungtiva ananemis.Kelamin : Laki-laki. lauk pauk. Minum a. pernapasan cuping hidung (-). petekie (+) . murmur (-) 5.

.. Eliminasi 1.00 WIB.30 WIB-05.Klien mengeluh mual dan tidak nafsu makan .Air putih. Kesulitan 2.3 x/hari . Siang a. Waktu b.Kuning.Padat . Kesulitan 2. BAK a.00 WIB suka terbangun 2-3 kali ..Belum BAB . Warna c. BAB a.. susu . Kesulitan .Bubur nasi.4-5 gelas/hari .Klien mengeluh mual 2..Kuning.00 WIB-05.5-7 x/hari . sayur. susu.11. Istirahat Tidur 1.Air putih.1 porsi tidak habis .1-2 x/hari . .00 WIB .. Kesulitan . Konsistensi c.3.8 gelas /hari..22.21.00 WIB-12.Sering . Malam a.. buah-buahan . Waktu b..minuman biasa . Frekuensi b.. Frekuensi b. lauk pauk..

20 mm/jam) .9 % ( 38 – 47 %) .8 % 2.Diff. Magtrai 3x1 tablet ac . Mandi a. count : 1.Leukosit : 5700 /µl ( 4.000/µl ) 2.Hb : 15.16 gr/dl ) .500 .000-400. Frekuensi 2.3 gr% ( 12 .LED : 50 mm/jam ( 0 .1x/minggu . Laboratorium Darah Rutin . Gunting Kuku a.Ht : 47. Cefotaxim 3x1gr iv c. Lymfosit : 31.000 /µl (150.1x/hari . Cuci Rambut a.Belum cuci rambut .2x/hari . Personal Hygine 1.Belum gunting kuku 1.2x/hari .10.700/µl ) . Infus RL 2. Granulosit : 54.500cc/24 jam b.1x/hari diseka . Gosok Gigi a Frekuensi 4.0 % 3. Frekuensi . Monosit : 14. Ibuprofen 3x400 mg e. Therapy a. Trombosit : 34.Belum gosok gigi . Frekuensi 3. Sanmol 3x500 mg d..Klien mengeluh suah tidur 4. Ozn 2x1 tablet f.2 % 4.

Nadi= 108 x/mnt Proses penyakitnya  Infeksi dengue  Nyeri Nyeri Tgl.gelisah nyeri tekan pada epigastrium.ANALISA DATA DATA KEMUNGKINAN PENYEBAB MASALAH Tgl.8 . 8 – 8 .Mual-muntah  Asupan nutrisi inadekuat Perubahan nutrisi : Kurang dari kebutuhan Tgl.2001 S: Ibu mengatakan klien tidak mau makan dan minum bila sedang sakit. wajah merah. Suhu= 39.akral hangat. ba-dan teraba panas. nafsu makan menurun.akan menurun  Nyeri menelan.2001 S: Ibu mengatakan anaknya terlihat se-sak & napasnya cepat O: Pernapasan cuping hidung. 6 – 8 . warna muntah kemerah-an.2001 S: Klien mengatakan sakit perut bagian atas. O:Panas sejak 3 hari sebelum MRS kemu-dian mendadak tinggi disertai mimis-an dan muntah. menolak setiap kali disu-ruh/disuap makan.2001 S: Ibu mengeluh badan anak panas & tidak mau turun O: Panas tinggi.2001 S: Ibu mengatakan anaknya berkeringat dingin.retraksi intercostalis servikal-ronkhi -/+ kering ha-lus. 6 – 8 .Hematokrit= 0.TD=90/60 mmHg. O:Klien rewel & cengeng.20c Proses penyakit  Infeksi dengue  Demam Hiperthermia Tgl. 6 . 6 – 8 .Mual-muntah saat peng-kajian 1 x ± 30 cc Nafsu . juga saat menelan O: anak cengeng-berkeringat.44 % Proses penyakit  Infeksi dengue  Trombositopeni & vaskulitis  Perdarahan Resiko tejadi syok hipovolemikPermiabilitas pembuluh darah meningkat Tgl.mukosa mulut kering.mengeluh sakit me-nelan.-Trombosit= 108 x 109/L.RR= 64 x/mnt Infeksi dengue  Vaskulitis + Reaksi imunologik  Permeabilitas vaskuler meningkat  Kebocoran plasma .

anoreksia & sakit saat menelan. . perubahan TTV.terjadi penurunan ekspansi paru  sesak Ketidak efektifan pola napas. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN No & Tgl Dx TUJUAN & KRITERIA HASIL INTERVENSI RASIONAL 1 6/8/01 1 Tidak terjadi syok hipovolemik. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual. B. .Keadaan umum baik . 3.Monitor trombosit dan penurunan yg di sertai tanda kli-nis setiap hari. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. . Resiko terjadi syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan hebat/ekstravasasi.Monitor keadaan umum.Tanda-tanda vital dalambatas normal . C. 2. Efusi serosa Cairan menumpuk dirongga pleural pa-ru. serta anjurkan u/ segera melapor-kannya. . Kriteria hasil : . 5. Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit (viremia).Keterlibatan klg & klien sgt membantu penanganan sedini mungkin serta diharapkan klien & klg lebih kooperatif. Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan mekanisme patologis (proses penya-kit) 4.Menganjurkan klien u/banyak istirahat/Bedrest.Jelaskan pada keluarga ttg tanda-tanda perdarahan yg mungkin dialami klien. tanda-tanda vital & perdarahan tiap 2 – 3 jam.muntah.Memantau kondisi. Ketidak efektifan pola pernapasan berhubungan dengan penurunan ekspansi paru. . .Mengantisipasi tanda terjadinya perdarahan. serta perdarahan sedini mungkin shg dpt sege-ra diatasi & klien tdk jatuh pada keadaan presyok/ syok. .

Menjelaskan ttg penyebab peningka-tan suhu tubuh pada klg.Aktivitas klien yg tdk terkontrol dapat me-nyebabkan terjadinya perdarahan.Klien tdk lagi me-ngeluh kesakitan. .Pemberian terapi cairan sgt penting bagi klien dng peningkatan suhu tubuhn yg tinggi 3 6/8/01 3 Nyeri berkurang dlm waktu 4 x 24 jam.Pasien bebas de-mam kurang dari 7 hari . Klien untuk berkomunikasi dng org terdekat ..Mengobservasi TTV tiap 3 jam lebih sering.Untuk mengetahui .Klien rileks & te-nang.Obat analgesik dpt menghentikan nyeri dng segera. respon klien dan lamanya serta lokasi nyeri . .Anjurkan klien untuk banyak minum terutama yang manis-manis ± 1 – 2 liter/24 jam. .Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat shg perlu diimbangi dg asupan cairan yg banyak . tidur 8 – 10 jam. Kriteria hasil : . 2 6/8/01 2 Hipertermia menu-run/tidak terjadi lagi. . alihkan perhatian klien dengan melihat buku/majalah anak.Berikan terapi pengobatan sesuai program.Berikan terapi cairan & pengobatan sesuai program .Mencegah tjdnya perdarahan lebih lanjut. . Kriteria hasil : . intensitas.Kaji tingkat nyeri yg dialami klien dengan skala 0 – 10.Berikan kesempatan pd. .Dengan trombosit yg terpantau setiap hari dpt diketahui tingkat kebocoran pembuluh darah & dpt menjadi acuan dalam melakukan tindakan. . .Suhu tubuh normal (360c – 370c). . kepala/dahi & lipat paha.Kompres dingin diharapkan membantu menurunkan suhu tubuh . . .Berikan suasana gembira.TTV merupakan acuan u/ mengetahui KU klien . . .Anjurkan klg u/ memberikan klien kompres dingin pd ketiak.Keterlibatan klg sgt berarti dlm proses ke sembuhan klien .

5 8/8/01 5 Pola napas efek-tif dalam 2 X 24 jam.Dpt berhubungan dng org yg terdekat bisa membuat klien merasa aman. .U/menghindari mual & muntah. tim dan susu. muntah. meningkat. .U/menetapkan cara mengatasi kebutuhan nutrisi. . .Kx. 4 6/8/01 4 Nutrisi terpenuhi dlm 4 X 24 jam Kriteria hasil : . diit di habiskan.tuhkan klien ter utama jika intake peroral-nya sgt kurang. .tdk lemah. .Nutrisi parenteral sgt bermanfaat/dibu. gembira & bahagia shg dpt melupakan sakit/ nyeri yang dialaminya.Lakukan pemeriksaan GDA & lainnya. sakit saat menelan. . .Diketahuinya fak-tor penyebab keti-dakefektifan pola napas.Berikan O2 2 – 4 liter/mnt. . .kan frekuensi perna-pasan yang efektip dan mengalami pertukar-an gas pada paru.Kaji keluhan mual.Akan sgt membantu bila klien mau ma-kan/minum tanpa menggunakan sonde. .Membantu mengurangi kelelahan klien & membantu meningkatkan asupan makanan.Tetap bersama klien & latih untuk bernapas perlahan-lahan berna pas lebih efektif. . . Kriteria hasil : .Obsevasi terhadap pernapasan cuping hidung.Nafsu makan kx. retraksi atau sianosis. . .Kx.Pasang sonde untuk memberikan nutrisi parenteral.Bujuk klien agar mau makan & minum. . .Dengan memberikan aktivitas lain klien dpt melupakan sakit/nyeri yg dialaminya.Memberikan makan porsi kecil dan sering.seberapa berat keluhan klien & efek terapi yg di berikan sebe-lumnya.Berikan makanan yang mudah ditelan seperti bubur. .memperlihat. .

45 08.50c.. Nadi = 100 x/mnt.Meraba ekstrimitas klien sambil mejelaskan tanda-tanda perdarahan dan tindak yang harus dilakukan pd ibu klien.Terapi pengobatan diperlukan/diindi-kasikan bila terjadi bronko spasme.Oksigen yg diberikan sebagai maintenan-ce sebelum penyebab sesak napas diketa-hui scr pasti.U/mengetahui sedini mungkin adanya sesak napas shg dpt dilakukan tindakan secepat mungkin . . 15 07.Mengambil specimen darah u/ pemeriksaan: .Memberikan rasa aman kepada klg & klien serta mengajarkan klien untuk ber-napas scr efektif. TD= 90/70 mmHg. .RR= 44 x/mnt . . . .15 .05 09.Untuk mengetahui penyebab sesak napas shg dapat dilakukan tindakan yang tepat.Mengobsevasi TTV : suhu= 38. TINDAKAN KEPERAWATAN DAN EVALUASI DIAGNOSA TGL/JAM IMPLEMENTASI EVALUASI 1 7/8/01 07. D.Berikan terapi sesuai program.55 09.

Menganjurkan ibu klien u/ banyak min-um terutama yg manis manis. . 4 2 7/8/01 07. O: Suhu= 37. akral hangat. mukosa mulut ke-ring.2.25 09.Memberikan kompres dingin pada dahi.30 07.Memberikan penjelas-an pada ibu ttg penye-bab nyeri .sihan mulut klien dng menggunakan sikat gi-gi lunak .45 . TD= 100/70 mmHg. .4 5 3 7/8/01 08. S: Ibu klien menga takan tubuh anak nya panas sudah turun.Menekan luka bekas tusu -kan ± 5 – 10 mnt.20 .20 08. O: Klien gelisah. 4 08.nyeri tekan epigastrium. A: Masalah belum teratasi P: Lanjutkan ren-cana intervesi 1. S: Klien masih merintih kesakitan & tdk bisa tidur.Mengalihkan perhati-an klien dng melihat gambar buku cerita dan mengajak bicara.cengeng. A: Masalah belum teratasi P Teruskan rencana intervensi 1.35 07.Mengoff infus karena sudah dipasang sonde.Memberikan paraceta-mol 160 mg (puyer) .klien kehaus-an.000. S: Ibu mengatakan kondisi anaknya masih lemah.Trombosit = 155.00 10. . trombosit.10 08.minum. .Menganjurkan klien u/ istirahat/bedrest ma-kan.55 08.axilla & lipat paha.BAB/BAK dibantu.DL. A: Masalah belum teratasi seluruhnya P: Terukan renca-na intervensi 1.3.hematokrit elektrolit.RR =44 x/mnt. O: Mimisan tdk lagi.05 .4.20c.Memberikan antasida 1 cth .2.Menganjurkan ibu kli-en u/menjaga keber.Nadi= 102 x/mnt.Memberikan penjelas an pd ibu klien penye-bab panas yg tdk sege ra turun .3.

Menimbang BB= 16 Kg . RR= 44 x/mnt.Nadi= 132 x/ mnt.05 09. TD= 110/70 mmHg. Nadi= 124 x/mnt. P: Teruskan renca na intervensi 2 8/8/01 07.Membujuk klien agar mau makan & minum .10 13.akral hangat.2.muntah 1x sedikit A: Masalah belum teratasi selu-ruhnya P: Teruskan rencana intervensi 1.Menjelaskan prosedur pemeriksaan radiologi thorak foto S: O: Perdarah tdk ada.08.Memberikan bubur 100 cc .20 07.45 .Mengambil specimen urine u/ periksaan UL & kultur .00 . makan peroral belum mau BB=6 kg.Mengobservasi TTV : Suhu : 390c.Membantu memasang sonde lambung . .4 1 8/8/01 07. perdarahan tidak ada. akral hangat. .30 08. Nadi= 102 x/mnt.35 . akral. TD= 110/70 mm-Hg.10 08.20c.RR=64 x/mnt pernapasan cu-ping hidung.Meng-observasi TTV : Suhu=37. TD=100/70 mmHg. hangat. perdarahan tidak ada. muntah 1 x sedikit S: Ibu klien mengatakan bila sakit klien memang sulit makan O: Diit diberikan tiap 2 jam.Mengingat ibu mem-berikan klien minum yg manis bila tdk mau air putih .retraksi intercostalis servical A: Masalah teratasi sebagian timbul masalah pola napas.50 09.Memberikan kompres dingin.

. habis masih menolak bila diberikan makan/minumperoral.18 .Mengalihkan perhati-an klien terhadap nyeri dng mengajak melihat gambar di buku cerita. A: Masalah teratasi sebagian P: Tetap teruskan rencana inter-vensi 1.55 08. O: Diit diberikan tiap 2 jam.55 10.mukosa mulut ke-ring.Mengkaji tingkat nyeri klien dng skala 4.45 08.40 07.10 10.20 . mun cul kadang ± 2 – 3 me nit diperut bagian atas /epigastrium. A: Masalah belum teratasi selu-ruhnya..3. O: Klien masih cengeng. badan panas A: Masalah belum teratasi seluruhnya 3 8/8/01 08.mukosa mulut kering.Menganjurkan ibu sela lu berada dekat dng klien S: Klien masih merintih kesakitan & memegang perut bagian atas.Menanyakan apakah klien masih tdk mau makan dan minum ? masih tdk mau.muntah tdk ada.4. .2. . P: Teruskan rencana interrvensi 1.Membujuk klien untuk makan dan minum yg manis serta mendo-rong ibu untuk terus mencobanya.30 09.-nyeri tekan epigastrium.Menanyakan apakah klien masih mual mun tah & sakit menelan. S: Ibu klien mengatakan klien be lum mau makan tapi diit personde dihabiskan/diberikan. .20 .Memberikan puyer pa-racetamol 160 mg. 5 8/8/01 09.2.Memberikan susu per-sonde 100 cc.3 4 8/8/01 07.gelisah.mual ada. . S: Ibu mengatakan badan anaknya ma sih panas O:Suhu= 380c.15 08.

S: Ibu mengatakan anaknya masih terlihat sesak.13. RR= 56 x/mnt.Menjelaskan penyebab terjadinya sesak napas pada klien.klien tetap perlu observasi ketat. perdarahan tidak ada. Nadi=132 x/mnt. widal & gaal kultur .Memberikan O2 2 lt/mnt . akral hangat.Mengobservasi TTV : Suhu= 380c. O: RR= 64 x/mnt. retraksi dada & sianosis . TD= 110/ 70 mmHg.Mengambil specimen darah u/ periksaan DL. retraksi intercostalis servikal. TD= 110/70 mmHg.20 08. A: Masalah teratasi P: Tetap teruskan rencana inter-vensi. RR= 48 x/mnt. 2 9/9/01 07. akral hangat. . perdarahan tdk ada. TD= 110/70 mmHg.15 .Menganjurkan klien u/ bernapas scr perlahan-lahanTerus mengobservasi adanya pernapasan cuping hidung. Nadi= 132 x/mnt pernapasan cuping hidung.muntah tdk ada.30 . A: Masalah belum teratasi P: Teruskan rencana intervensi 1 s/d 5 1 9/9/01 07.15 09.Mengobservasi TTV : Suhu : 370c.30 . S: O: Perdarahan tdk ada. Nadi= 128 x/ mnt. akral hangat. keringat dingin. Nadi= 124 x/mnt.

Mengkaji tingkat nyeri klien dng skala 4.30 11. keringatan. badan hangat.20 11. .Mengalihkan perhati-an klien terhadap nyeri dng mengajak melihat gambar di buku cerita. . .Mengingat ibu mem-berikan klien minum yg manis bila tdk mau air putih .alas tempat tidur klien yg basah o/ keringat. A: Masalah belum teratasi semua P: Tetap teruskan rencana inter-vensi 3 9/9/01 08.00 08. nyeri tekan epigastrium tdk ada A: Masalah teratasi P: Rencana intervensi tdk lanjut-kan tetapi tetap awasi & per-hatikan keluhan klien 4 9/9/01 11.cengeng kurang. demam hari ke 8.Menganjurkan ibu sela lu berada dekat dng kli en bila pergi hendak-nya dititipkan. mun cul kadang ± 2 – 3 me nit diperut bagian atas /epigastrium. .30 10.40 . .Memberikan sirop an-tasida 1 cth S: Klien tdk mengeluh kesakitan O: Klien diam. O: Suhu= 36.Mengingatkan ibu ag-ar tetap memperhati-kan peningkatan suhu tubuh anaknya S: Ibu mengatakan suhu tubuh anak normal.Menganti pakaian.08.40 .25 09.15 .45 12.10 12.80c.Memberikan susu per-sonde 100 cc.

.Menanyakan apakah klien masih mual mun tah & sakit menelan.55 08. Ibu mengatakan anak masih belum mau makan minum.35 12. O:RR= 54 x/mnt. retraksi dada & sianosis . retraksi intercostalis servikal.Terus mengobservasi adanya pernapasan cu-ping hidung.lewat sonde diberikan.Mengobservasi TTV : Suhu= 380c. O: Diit sonde habis.Nadi= 132 x/mnt pernapasan cuping hidung. -mual-muntah tdk ada. .Membujuk klien u/ makan/minum yg manis S..Menanyakan apakah klien masih tdk mau makan/minum ? masih tdk mau. . A: Masalah belum teratasi P: Teruskan rencana intervensi 1 s/d 5 2 10/8/01 07.Memberikan O2 2 lt/m .15 .Menganjurkan klien untuk bernapas secara perlahan-lahan .00 08. Nadi=132 x/mnt.Mengobservasi TTV : .20 07. RR= 54 x/mnt akral hangat. makan/ minim peroral masih tdk mau/ menolak. TD= 110/ 70 mmHg.55 13. perdarahan tdk ada S: Ibu mengatakan anaknya masih terlihat sesak. A: Masalah teratasi sebagian P: Tetap teruskan rencana inter-vensi 5 9/9/01 08.Mengingat ibu mem-berikan klien minum yg manis bila tdk mau air putih.10 09.20 .

Menanyakan apakah klien masih tdk mau makan & minum ? mau sedikit.alas tempat tidur klien yg basah o/ keringat. retraksi dada & sianosis . TD= 100/ 70 mmHg. Ibu mengatakan anak masih belum mau makan minum.Menganti pakaian. . perdarahan tdk ada . Akral hangat. O: Suhu=36.20 . makan/minum peroral masih tdk mau/menolak.Memberikan susu per-sonde 200 cc.10 11. demam hari ke 9. .45 09.45 . keri ngatan.Menganjurkan klien untuk bernapas secara perlahan-lahan .00 09. .Membujuk klien untuk makan/minum yg manis S. A: Masalah teratasi sebagian P: Tetap teruskan rencana inter-vensi 5 10/8/01 09. badan hangat. . O: Diit sonde habis.Suhu: 370c.40c.50 10.30 13.20 08. RR=48 x/mnt. A: Masalah teratasi P: Tetap teruskan rencana inter-vensi 4 & 5 walaupun masalah su-dah teratasi. .Mengobservasi TTV : Suhu= 36.40c.Mengingatkan ibu ag-ar tetap memperhatikan peningkatan suhu tubuh anaknya S: Ibu mengatakan suhu tubuh anak normal.Menanyakan apakah klien masih mual mun tah & sakit menelan.lewat sonde diberikan.Terus mengobservasi adanya pernapasan cu-ping hidung.Memberikan O2 2 liter/mnt K/P . mual-muntah tdk ada. Nadi= 120 x/mnt. 4 10/8/01 08.

Saran Penulis berharap semoga penyusunan makalah tentang Askep pada anak/bayi dengan DHF ini dapat memberikan ilmu dan pengetahuan dalam bidang pendidikan dan praktik keperawatan.1.2 dan 3 teratasi walau masih perlu observasi karena ada komplikasi Bronkho pneumoni dan efusi pleural. 2001. arif. EVALUASI AKHIR Diagnosa keperawatan No. O: RR= 44 x/mnt. A: Masalah belum teratasi P: Teruskan rencana intervensi 1 s/d 5 E. Jakarta : Media Aesculapius. 2. Nadi= 120 x/mnt pernapasan cuping hidung tdk tampak.TD= 110/ 70 mmHg. maka ada beberapa hal yang sebaiknya dilaksanakan untuk memutuskan rantai penyakit: 1. . b) Menutup penampungan air rapat.bejana tempat penampungan air bersih dengan dosis 1 gram Abate SG 1% per 10 liter air. b) Abate untuk membunuh jentik nyamuk denan cara ditabur pada bejana.tempayan. c) Membersihkan pekarangan dari kaleng bekas. RR= 54 x/mnt . Dengan insektisida: a) Malathion untuk membunuh nyamuk dewasa: biasanya dengan fogging/pengasapan. BAB III PENUTUP A. retraksi intercostalis servikal. perdarahan tdk ada S: Ibu mengatakan anaknya masih terlihat sesak.dll minimal seminggu sekali. Karena vektor dari DHF adalah nyamuk Aedes a. 1. Kapita Selekta Kedokteran Edisi III vol. Tanpa insektisida: a) Menguras bak mandi. Kesimpulan Banyak cara untuk menurunkan insiden terjadinya DHF.botol bekas yang memungkinkan nyamuk bersarang. Nadi= 132 x/mnt.drum. B. Dan juga dengan makalah ini dapat menjadi acuan untuk tindakan proses keperawatan. DAFTAR PUSTAKA Mansjoer.rapat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful