Anda di halaman 1dari 16

I

DASAR-DASAR UMUM ETIKA KEDOKTERAN Etika berasal dari kata yunani ethos, berarti yang baik. Etika yaitu kajian mengenai moralitas terhadap moral secara sistematik dan analisis terhadap keputusan moral dan perilaku baik pada masa lampau atau masa sekarang, dan masa yang akan datang.1 Etika merupakan filsafat aik atau yang layak.
1

praksis perilaku manusia, tindakan mana yang harus dikerjakan dan tindakan mana yang seyogyanya dihindari. Sikap menanggung jawab perbuatan dipelari, baik sikap tanggung jawab terhadap masyarakat maupun sikap tanggung jawab terhadap diri sendiri, yaitu tanggung jawab terhadap der Ruf kommt aus mir und doch uber mich, suatu kesadaran akhlak atas dasar nilainilai mumi yang terkandung dalam budimurni.2 Etika kedokteran adalah norma-norma tinggi dari moral yang menjadi pegangan dalam menjalankan profesi. Pelanggaran terhadap etika kedokteran tidak berarti merupakan suatu pelanggaran hukum. Etik kedokteran merupakan prinsip-prinsip moral atau asas-asas akhlak yang harus diterapkan oleh para dokter dalam hubungannya dengan pasien, teman sejawatnya dan masyarakat umumnya.1

1 2

M.Jusuf Hanafiah. (1999), Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan, EGC : 2-4. http://www.idionline.com/etika kedokteran di alam indonesia

II. KODE ETIK KEDOKTERAN INDONESIA Kode etik adalah sistem norma, nilai, dan aturan profesional tertulis, yang menyatakan apa yang benar dan baik dan apa yang tidak benar dan tidak baik bagi professional. Di Indonesia kode etik kedokteran berlandaskan etik dan normanorma yang mengatur hubungan antar manusia, yang berasaskan pancasila sebagai landasan idil dan UUD 1945 sebagai landasan structural.1 Untuk kepentingan praktek kedokteran di Indonesia telah disusun berbagai kesepakatan yang tertuang dalam Kode Etik Kedokteran Indonesia. Kesepakatan ini diperoleh melalui Muktamar Ikatan Dokter Indonesia, dan dikumpulkan melalui berbagai cara yang diatur oleh organisasi. Perangkat yang berupa kode etik ini merupakan pengejawantahan makna profesi kedokteran, yaitu kewenangan mengatur anggotanya melalui prinsip otonomi profesi. Kode Etik Kedokteran Indonesia adalah produk dari sifat otonom profesi Kedokteran Indonesia.2 Pada umumnya dokter yang melanggar nilai moral tidak mengalami ancaman sanksi hukum. Tetapi nilai etika pada dasamya mewajibkan secara moral untuk mematuhi dan melaksanakan kode etik kedokteran. Sanksi moral akan diderita sendiri oleh dokter, sedang pelanggaran nilai sosial akan dikecam oleh masyarakat. Sumpah Dokter merupakan suatu kewajiban etis-profesional yang imperatif bagi para dokter dalam menjalankan ketrampilan profesional untuk kesejahteraan pasien, dalam hubungan yang sangat personal dan konfidensial.3

1 2

M.Jusuf Hanafiah. (1999), Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan, EGC : 15-26. http://www.pdpersi.co.id/perkembangan etik kedokteran masa kini dan permasalahannya 3 http://www.idionline.com/etika kedokteran di alam indonesia

III. PERSETUJUAN TINDAKAN MEDIS Informed consent adalah persetujuan atau izin oleh pasien atau keluarga yang berhak kepada dokter untuk melakukan tindakan medis pada pasien, seperti pemeriksaan fisik dan pemeriksaan lain-lain untuk menegakkan diagnosis, memberi obat, melakukan suntikan, melakukan pembedahan, melakukan tindaklanjut jika terjadi kesulitan, dan sebagainya. Mendapat penjelasan lengkap tentang hal tersebut adalah salah satu hak pasien yang diakui oleh undang-undang. Di Indonesia terdapat ketentuan informed consent yang diatur antara lain pada Peraturan Pemerintah No 18 tahun 1981 dan Surat Keputusan PB IDI No 319/PB/A4/88.1 Informasi yang harus diberikan oleh dokter dengan lengkap kepada pasien berdasarkan UU No. 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran, Pasal 45, ayat (3) mengatakan, bahwa penjelasan sekurang-kurangnya mencakup: Diagnosis dan tata cara tindakan medis, Tujuan tindakan medis yang dilakukan, Alternatif tindakan lain dan risikonya, Risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi, dan Prognosis (perkiraan hasil) dari tindakan yang dilakukan.2 Syarat pasien yang berhak memberikan keputusan diantaranya: pasien tersebut sudah dewasa, pasien dalam keadaan sadar, dan pasien dalam keadaan sehat akal. Dalam keadaan gawat darurat, proses pemberian informasi dan permintaan persetujuan rencana tindakan medis bisa saja tidak dilaksanakan oleh dokter apabila situasi pasien tersebut dalam kondisi gawat darurat. Dokter bisa mendahulukan tindakan untuk penyelamatan nyawa pasien. Prosedur penyelamatan nyawa ini tetap harus dilakukan sesuai dengan standar pelayanan / prosedur medis yang berlaku disertai profesionalisme yang dijunjung tinggi. Setelah masa kritis terlewati dan pasien sudah bisa berkomunikasi, maka pasien berhak untuk mendapat informasi lengkap tentang tindakan medis yang sudah dialaminya tersebut.3

1
2

http://www.duniaesai.com http://www.sinarharapan.co.id/informed consent 3 http://www.ranocenter.blogspot.com/ informed consent

IV. REKAM MEDIS Rekam medis adalah kumpulan keterangan tentang identitas, hasil, anamnesis, pemeriksaan dan catatan segala kegiatan para pelayan kesehatan atas pasien dari waktu ke waktu. Di rumah sakit terdapat 2 jenis rekam medis yaitu rekam medis untuk pasien rawat jalan dan rekam medis untuk pasien rawat inap.1 Asal mula terbentuknya rekam medis yaitu adanya dugaan malpraktek yang dilaporkan oleh pasien karena pihak rumah sakit tidak mau memberikan catatan medis. Rekam medis adalah catatan dan dokumen yang berisikan tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan yang diberikan kepada pasien. Manfaat dari rekam medis adalah: 1. Menjamin kelengkapan administrasi keuangan pasien 2. Memudahkan perencanaan dan penilaian pelayan medis 3. Melindungi kepentingan hukum berbagai pihak sebagai bukti tertulis 4. Membantu memperlancar administrasi keuangan pasien 5. Sumber data penelitian 6. Bahan rujukan pendidikan dan pelatihan 7. Kelengkapan dokumentasi 8. Memperlancar komunikasi antara petugas kesehatan Isi rekam medis yaitu: 1. Data dasar keluarga: 1

Data demografi Riwayat kesehatan Data biologis Tanggal kedatangan Masalah kesehatan Hasil pemeriksaan diagnosa

2. Data klinik:

M.Jusuf Hanafiah. (1999), Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan, EGC : 56-65.

V. RAHASIA JABATAN Rahasia jabatan adalah rahasia dari pejabat struktural, sedangkan rahasia pekerjaan adalah rahasia dari dan pada waktu menjalankan prakteknya. Lafal sumpah dokter Indonesia berdasarkan peraturan pemerintah no.26 tahun 1960 berbunyi saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya dan karena keilmuan saya sebagai dokter . 1 Rahasia jabatan adalah rahasia dari pejabat struktural, sedangkan rahasia pekerjaan adalah rahasia dari dan pada waktu menjalankan prakteknya. Salah satu ayat lafal sumpah dari sumpah dokter indonesia berbunyi saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya dan karena keilmuan saya. Dan dalam Bab II KODEKI tentang kewajiban dokter terhadap pasien berbunyi Seorang dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien karena kepercayaan yang diberikan kepadanya bahkan juga setelah pasien meninggal dunia. dokter terutama karena kewajiban moral.1 Untuk itu dokter dalam menentukan sikapnya yang pertama-tama didahulukan adalah rahasia jabatan

M.Jusuf Hanafiah. (1999), Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan, EGC : 74 - 78.

VI. AWAL KEHIDUPAN Masalah etis yang muncul dalam etika kedokteran sebagian besar berhubungan dengan masalah di awal kehidupan. Setiap masalah yang muncul telah menjadi bahan analisis yang luas dari organisasi kedokteran, lembaga penasehat pemerintah dan etik, dan di banyak negara terdapat hukum, regulasi, dan kebijakan yang menyangkut masalah tersebut. Antara lain permasalahan kontrasepsi,reproduksi buatan bagi pasangan atau pribadi yang tidak bisa menjadi hamil secara alami dengan bantuan seperti insemenasi buatan dengan fertilisasi in vitro dan transfer embrio, yang mudah didapat di pusat kesehatan utama, prenatal genetic screening dengan tes-tes genetik untuk melihat apakah embrio atau fetus menderita suatu abnormalitas genetik dan untuk melihat apakah laki-laki atau perempuan. Tergantung dari penemuannya, dapat diambil keputusan apakah terus meneruskan kehamilan atau tidak, aborsi yang telah lama menjadi salah satu masalah dalam etika kedokteran yang paling beraneka ragam, neonatus dengan kelainan berat yang karena prematuritas ekstrim atau abnormalitas kongenital, beberapa janin mempunyai prognosis yang buruk untuk dapat bertahan. Keputusan yang sulit kadang harus diambil apakah mencoba untuk memperpanjang hidup ataukah membiarkannya meninggal serta mengenai

penelitian termasuk produksi embrio baru atau penggunaan suku cadang embrio (yang tidak dimaksudkan untuk tujuan reproduksi) untuk mendapatkan stem cell yang potensial digunakan dalam aplikasi terapi, percobaan teknik baru dalam reproduksi buatan, dan eksperimentasi terhadap janin.1

http://www.wma.net/e/ethicsunit/pdf/manual/ethics_manual_indonesian.pdf

VII. EUTHANASIA Berdasarkan Euthanasia Study Group dari KNMG (Ikatan Dokter Belanda), Euthanasia adalah dengan sengaja tidak melakukan sesuatu untuk memperpanjang hidup seorang pasien atau sengaja melakukan sesuatu untuk memperpendek hidup atau mengakhiri hidup seorang pasien, dan ini dilakukan untuk kepentingan pasien sendiri.1 Pada dasarnya euthanasia dibedakan menjadi Euthanasia aktif, yaitu tindakan mengakhiri kehidupan, misalnya dengan memberikan obat dengan dosis lethal kepada pasien dan Euthanasia pasif, yaitu tindakan atau perbuatan membiarkan pasien meninggal, dengan cara misalnya tidak melakukan intervensi medik atau menghentikannya seperti pemberian infuse, makanan lewat sonde, alat bantu pernafasan, tidak melakukan resusitasi, penundaan operasi dsb.2 Dalam mengamalkan Pasal 7d KODEKI, yang berbunyi Setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk insani, maka yang jelas dilarang baik oleh Kode Etik Kedokteran, juga dilarang oleh Agama maupun Undang-undang Negara adalah perbuatan-perbuatan : 1. 2. Mengugurkan kandungan (abortus) tanpa indiksi yang benar. Mengakhiri kehidupan seseorang pasien dengan alasan bahwa menurut ilmu kedokteran penyakit yang dideritanya tidak mungkin lagi bisa disembuhkan (euthanasia). Pasal 7d yang mnegharuskan dokter untuk senantiasa melindungi hidup makhluk insani bersumber dari Sumpah Dokter, khususnya lafal sumpah yang ke 6, 7, 8, ialah: (6) Saya tidak akan mempergunakan pengetahuan dokter saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan perikemanusiaan, sekalipun diancam. (7) Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan, dan (8) Saya akan senantiasa mengutamakan kesehatan pasien. Jelas bahwa permohonan euthanasia, dengan alasan apa pun tidak dapat dibenarkan secara moral karena hal
1 2

M.Jusuf Hanafiah. (1999), Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan, EGC : 104 - 109. http//www.idionline.com

tersebut sama dengan pembunuhan langsung bahkan disamakan dengan tindakan pidana pembunuhan.2

VIII. PENELITIAN KLINIK ETIKA Uji klinik penuh dengan masalah etika karena berhubungan erat sekali dengan eksperimentasi pada manusia sakit maupun sehat. Suatu pelanggaran etik jika dalam penelitian klinik tidak mengikuti prosedur yang berlaku. Etika dalam uji klinik dapat dibedakan procedural dan substantive ethics (3); keduanya harus dipenuhi sebelum suatu uji klinik dianggap etis untuk dilaksanakannya. Procedural ethics (etika yang menyangkut prosedur pelaksanaan uji klinik) pada umumnya berkisar pada hak azasi manusia, Deklarasi Helsinki, Good Clinical (trial) Practice (GCP), dan consent. Ia berhubungan dengan bagaimana suatu controlled trial dilakukan, sedangkan etika substantif mempertanyakan apakah studi itu layak dikerjakan atau tidak.1

http//www.idionline.com

IX. TRANSPLANTASI ORGAN Transplantasi organ adalah suatu tindakan medik yang sangat bermanfaat untuk pasien dengan gangguan fungsi organ tubuh berat. Transplantasi adalah pergantian organ atau jaringan tubuh yang tidak lagi berfungsi dengan organ atau jaringan sehat yang berasal dari tubuh sendiri atau orang lain. Jenis-jenis transplantasi organ pada saat ini yaitu autograft, allograft, isograft dan xenograft.1 Tindakan medik ini tidak dapat dilakukan begitu saja karena masih harus mempertimbangkan dari segi non medik, yaitu segi agama, hukum, budaya, etika dan moral. organ atau jaringan yang dapat diambil dari donor hidup yaitu kulit, sumsum tulang, ginjal, dan darah sedangkan organ atau jaringan yang diambil dari jenazah yaitu jantung, hati, ginjal, kornea, pancreas, paru-paru dan sel otak.1 Problem terbesar dalam transplantasi adalah rejeksi atau penolakan seperti terhadap kuman atau benda asing yang masuk tubuh, tubuh penerima akan mengembangkan berbagai reaksi penolakan atau rejeksi terhadap organ dan jaringan yang baru dicangkokkan tersebut. Dari segi etik kedokteran tindakan transplantasi wajib dilakukan jika ada indikasi berlandaskan pasal-pasal dalam KODEKI yaitu pasal (2) Setiap dokter harus senantiasa melakukan profesinya menurut ukuran tertinggi, pasal (10) Setiap dokter harus senantiasa mengingat dan kewajibannya melindungi hidup insani, dan pasal (11) Setiap dokter wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan segala ilmu dan ketrampilannya untuk kepentingan penderita.1

M.Jusuf Hanafiah. (1999), Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan, EGC : 111-115.

X. SANKSI PELANGGARAN ETIKA Dalam LSDI dan KODEKI tercantum secara garis besar perilaku atau tindakan-tindakan yang layak dan tidak layak dilakukan seorang dokter dalam menjalankan profesinya. Pelanggaran etik tidak selalu berarti pelanggaran hukum sebaliknya pelanggaran hukum tidak selalu merupakan pelanggaran etik kedokteran. Pelanggaran etik kedokteran yang merupakan pelanggaran etik murni diantaranya: menarik imbalan yang tidak wajar terhadap pasiennya, mengambil alih pasien tanpa persetujuan sejawatnya, memuji diri sendiri di depan pasien, tidak pernah mengikuti pendidikan kedokteran berkesinambungan dan dokter mengabaikan kesehatannya sendiri. Sedangkan pelanggaran etikolegal diantaranya: pelayanan kedokteran dibawah standar, menerbitkan surat keterangan palsu, membuka rahasia jabatan atau pekerjaan dokter, abortus provokatus dan pelecehan seksual.1 Bentuk sanksi pelanggaran etik dapat berupa: 1. Teguran dan tuntunan secara lisan atau tulisan 2. Penundaan kenaikan gaji atau pangkat 3. Penurunan gaji atau pangkat setingkat lebih rendah 4. Dicabut izin praktek dokter untuk sementara atau selamanya Pada kasus etik kolegal diberikan hukum sesuai peraturan kepegawaian yang berlaku dan diproses ke pengadilan.1

M.Jusuf Hanafiah. (1999), Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan, EGC : 171-179.

10

XI. ETIKA KESEHATAN MASYARAKAT, PENELITIAN BIOMEDIK, ETIKA TEKNOLOGI PENELITIAN BIOMEDIK Suatu nanoteknologi yang hingga saat ini masih menimbulkan kontroversi di masyarakat adalah kloning dan modifikasi genetika. Aplikasi bioteknologi dalam bidang genomik pada awalnya ditujukan untuk memperoleh organisme yang identik demi kepentingan riset dan produksi, seperti tanaman pangan dan hewan riset. Modifikasi gen dilakukan dengan memanipulasi kode genetik tumbuhan dan hewan serta merekayasa sifat-sifat tertentu dari kedua makhluk hidup tersebut agar diperoleh organisme yang lebih baik. Pengaruh dan dampak yang timbul dari bioteknologi untuk bidang genomik adalah kepemilikan dan privasi atas hasil pendataan gen. 1 Analisis DNA dapat menimbulkan masalah privasi dan pemantauan yang berlebihan terhadap data DNA yang digunakan dalam penyelidikan kasus kriminal, penolakan klaim asuransi dan diskriminasi pegawai. Karena itu, perlu diatur kebijakan yang mengatur penggunaan data DNA dalam asuransi dan kepegawaian. Kemajuan dalam mengetahui kemampuan kognitif dan kesehatan manusia secara genetika membantu pendidikan dan program penyembuhan, tetapi dapat disalahgunakan untuk mendiskriminasi manusia dengan keterbatasan tertentu dan memperuncing permasalahan sosial. Modifikasi terhadap organisme juga dapat mengarah pada pembuatan senjata biologi. Sedangkan aplikasi dalam bidang biomedik untuk menghasilkan jaringan dan organ organik maupun tiruan. Kemajuan dalam merekayasa dan memperbaiki jaringan dan organ digunakan untuk mengganti bagian tubuh manusia dalam usaha mengatasi masalah kesehatan.
1

http:www.nano.lipi.go.id/Nanoteknologi, Peluang Atau Pilihan

11

Aplikasi therapi sel untuk mengganti sel-sel yang rusak pada otak atau organ tubuh manusia yang lain dilakukan dengan menggunakan sel yang terdapat pada awal pembentukan embrio atau jaringan janin. Tentu saja riset di bidang ini menimbulkan perdebatan moral dan etika, Dampak global dari tren riset dunia tersebut, baik secara langsung maupun tidak langsung akan melanda seluruh dunia, termasuk Indonesia. Kehidupan dan budaya masyarakat Indonesia akan berubah dengan pengaruh teknologi-teknologi tersebut dalam semua segi kehidupan, baik sosial, politik, ekonomi, lingkungan etika maupun moral, terlepas dari pilihan negara untuk memilih maupun tidak memilih berpartisipasi dalam teknologi-teknologi tersebut. Pengkajian terhadap dampaknya, para pakar ilmu sosial humaniora berperan penting dalam memilih dan memilah aplikasi teknologi yang akan berkembangkan di Indonesia. Karena, di samping dampak-dampak yang bersifat umum, terdapat dampak yang bersifat khusus untuk suatu negara yang bergantung pada situasi, kondisi dan sumber daya negara tersebut. Hal itu sesuai dengan amandemen keempat UUD 1945 Pasal 31 ayat 5 yang menyatakan bahwa "Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia. Dengan demikian jelaslah bahwa tidak semua teknologi, walaupun baik dan bermanfaat, dapat dikembangkan di Indonesia jika tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dipegang masyarakat.1

http:www.nano.lipi.go.id/Nanoteknologi, Peluang Atau Pilihan

12

XII. PEMERATAAN KESEHATAN Rendahnya kualitas, pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan. Pada tahun 2002, rata-rata setiap 100.000 penduduk baru dapat dilayani dilayani oleh 3,5 Puskesmas. Selain jumlahnya yang kurang, kualitas, pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan di Puskesmas masih menjadi kendala. Walaupun rumah sakit terdapat di hampir semua kabupaten/kota, namun kualitas pelayanan sebagian besar RS pada umumnya masih dibawah standar. Terbatasnya tenaga kesehatan dan distribusi tidak merata. Dalam hal tenaga kesehatan, Indonesia mengalami kekurangan pada hampir semua jenis tenaga kesehatan yang diperlukan. Rendahnya kualitas kesehatan penduduk miskin. Angka kematian bayi pada kelompok termiskin adalah 61 dibandingkan dengan 17 per 1.000 kelahiran hidup pada kelompok terkaya. Data SDKI 2002-2003 menunjukkan bahwa 48,7 persen masalah dalam mendapatkan pelayanan kesehatan adalah karena kendala biaya, jarak dan transportasi.1 Sasaran meningkatnya pembangunan derajat kesehatan pada tahun melalui 2004-2009 peningkatan adalah akses

kesehatan

masyarakat

masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang antara lain tercermin dari: Meningkatnya umur harapan hidup dari 66,2 tahun menjadi 67,9 tahun, Menurunnya angka kematian bayi dari 35 menjadi 25 per 1000 kelahiran hidup,Menurunnya angka kematian ibu melahirkan dari 307 menjadi 226 per 100.000 kelahiran hidup dan Menurunnya prevalensi gizi-kurang pada anak balita dari 25,8 persen menjadi 20 persen. Untuk mencapai sasaran tersebut, kebijakan pemerataan pembangunan kesehatan diarahkan pada: Peningkatan jumlah jaringan dan kualitas Puskesmas, Peningkatan kualitas dan kuantitas tenaga medis,

13

Pengembangan jaminan kesehatan bagi penduduk miskin, Peningkatan sosialisasi kesehatan lingkungan dan pola hidup sehat, Peningkatan pendidikan kesehatan pada masyarakat sejak usia dini, Pemerataan dan peningkatan kualitas fasilitas kesehatan dasar.1

XIII. STEMCELL RESEARCH Stemcell research adalah pengobatan dengan cara regenerasi sel pada organ tubuh yang sakit sehingga dapat berfungsi kembali. Riset stem cell (sel induk) menjanjikan terapi yang sangat mengagumkan. Bahkan, banyak orang optimistis riset ini akan merombak total cara pengobatan yang ada sekarang. Akan tetapi, riset stem cell, khususnya sel induk dari embrio, masih berhadapan dengan permasalahan etis yang sangat besar.2 Sel induk memiliki kemampuan untuk berdiferensiasi menjadi berbagai jenis sel matang, misalnya sel saraf, sel otot jantung, sel otot rangka, dan sel pankreas. Sel induk juga mampu meregenerasi dirinya sendiri. Menurut The Official National Institute of Health Resource for Stem Cell Research, sel induk ini ditemukan dalam berbagai jaringan tubuh. Keuntungan sel induk dari embrio di antaranya ia mudah didapat dari klinik fertilitas, bersifat pluripoten sehingga dapat berdiferensiasi menjadi segala jenis sel dalam tubuh, berumur panjang karena dapat berpoliferasi beratus kali lipat pada kultur, reaksi penolakan juga rendah. Namun, sel induk ini berisiko menimbulkan kanker jika terkontaminasi, berpotensi menimbulkan penolakan, dan secara etika sangat kontroversial.

1 2

http//www.bappenas.go.id http//:www.idionline.com/terapi sel induk dibayangi masalah etika

14

XIV.EBM Evidence Base Medicine (EBM) menggunakan segala pertimbangan bukti ilmiah (evidence) yang sahih yang diketahui hingga kini untuk menentukan pengobatan pada penderita yang sedang kita hadapi. Merupakan penjabaran bukti ilmiah lebih lanjut setelah obat dipasarkan dan seiring dengan pengobatan rasional. EBM sebenarnya merupakan cara yg biasa dilakukan dalam proses penilaian suatu obat baru yg akan dipasarkan. Disini malah diperlukan juga penilaian animal dan in-vitro studies.1 Penilaian obat pra-pemasaran mempertimbangkan seluruh masyarakat, EBM menimbang untuk satu pasien. Evidence perlu diterapkan pada penderita dengan segala penyakit/komplikasinya. Evidence berubah menurut perkembangan ilmu. EBM menjembatani Ilmu KedokteranEBM mulai dibutuhkan juga oleh seorang hakim menentukan apakah suatu pengobatan tertentu sudah benar dalam persidangan. Diperlukan ilmu (evidence) di belakang pertimbangan suatu testimoni seorang saksi ahli.2 Proper drug use should be promoted nationally. Education on drugs and EBM must take a different approach (not education by coercive, pharmaceutical marketing needs). The cause of irrationalism is linked with a perpetuating error in a larger (health) system. Health and DrugUsePolicy must be established. If the Health Department is failing, universities and the profession should - morally take initiative.1

1 2

http://www.geocities.com/iwandarmansjah JAMA Vol. 283 No.21, June 2000.

15

XV. GMO GMO adalah organisme yang telah mengalami modifikasi genome (rangkaian gen dalam chromosome) sebagai akibat ditransformasikannya satu atau lebih gen asing yang berasal dari organisme lain yang akhirnya dapat menghasilkan suatu zat yang asalnya zat tersebut tidak bisa atau tidak biasa dihasilkan dalam jumlah yang meningkat. Gen yang ditransformasikan diharapkan dapat mengeluarkan atau mengekspresikan suatu produk yang bermanfaat bagi manusia. Secara sederhana Rekayasa GMO sudah dimulai sejak tahun 1970-an, diawali dengan aplikasinya pada tanaman sehingga sampai kini tidak kurang dari 30 juta ladang tanaman yang ditanami GMO.1 Seiring dengan penggunaan bioteknologi modern didalam rekayasa genetika yang telah diakui memiliki potensi besar dalam menghasilkan produk biologi untuk memenuhi kebutuhan bahan pangan yang lebih berpotensi, berkualitas serta mempunyai keunggulan-keunggulan positif lainnya dan memberikan harapan dalam pengembangan dan pemanfaatannya, telah muncul pula sikap dan tanggapan masyarakat Internasional yang pro dan kontra yang mendasarkan kepada kaidah antara manfaat yang diperoleh dengan kekhawatiran-kekhawatiran terhadap dampak negatif yang ditimbulkan terhadap keamanan dan keanekaragaman hayati (bio safety), keamanan lingkungan dan eko sistem (environment safety), keamanan pangan (food safety), daya saing produk pertanian serta nilai subyektivitas sosial.2 1.
1 2

http//www.halalmui.or.id http//www.deptan.go.id

16